• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V SAFEGUARD SOSIAL DAN LINGKUNGAN - DOCRPIJM 1505364851BAB V. Safeguard dan lingk.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB V SAFEGUARD SOSIAL DAN LINGKUNGAN - DOCRPIJM 1505364851BAB V. Safeguard dan lingk."

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB V

SAFEGUARD SOSIAL DAN LINGKUNGAN

5.1. Penilaian Lingkungan

Kabupaten Sarolangun memiliki potensi sumberdaya alam (SDA)

cukup besar, dan sumberdaya tersebut telah dikelola sejak beberapa

dasawarsa. Dalam pengelolaan SDA terlihat belum dibarengi dengan

pengelolaan dampak yang ditimbulkan secara memadai, sehingga muncul

anggapan bahwa SDA dikelola tanpa mempertimbangkan aspek etika, moral,

adat istiadat, dan azas keadilan. Sebagi konsekuensinya kegiatan eksploitasi

SDA di daerah ini belum sepenuhnya memperhatikan aspek

keberlanjutannya. Oleh karena itu, pemanfaatan SDA sering menimbulkan

dampak negatif terhadap lingkungan.

Kerusakan lingkungan secara umum diakibatkan karena ketidak

tahuan, kealpaan, ketidak pedulian, keserakahan, dan kesalahan kebijakan

yang diterapkan dalam kegiata itu. Dalam konteks ini, kerusakan lingkungan

sudah saatnya harus ditangani secara bersama-sama, baik oleh eksekutif,

legislatif, dunia usaha, dan bahkan masyarakat luas.

Isu kritis lingkungan di Kabupaten Sarolangun adalah kerusakan

akibat aktifitas penambangan emas tanpa izin (PETI) yang mencakup luas

lahan sekitar 2.700 hektar, meliputi Kecamatan Limun, Kecamatan

Sarolangun, dan Kecamatan Bathin VIII. Para penambang tersebut dalam

menjalankan kegiatannya telah memanfaatkan air dari aliran sungai untuk

media pembuangan limbah. Di sisi lain, sungai merupakan bagian terpenting

bagi kehidupan masyarakat setempat, terutama untuk mendukung kehidupan

sehari-hari seperti mencuci, mandi, air minum, dan bahkan untuk keramba

ikan. Terkait dengan kegiatan PETI, fungsi lingkungan di sekitar kegiatan

menjadi terganggu, yaitu:

(1) berubahnya lingkungan rona awal lingkungan, berupa lubang-lubang

(2)

(2) Tercemarnya air sungai dan air permukaan yang berpengaruh juga

terhadap biota air.

(3) Rusaknya ekosistem lingkungan sekitar lokasi kegiatan PETI.

Secara rinci masalah lingkungan terdampak oleh PETI dapat

dikelompokkan menjadi 6 (enam) aspek, yaitu:

(1) Ekologi. Kerusakan ekologi diakibatkan oleh terganggunya

ekosistem, kerusakan penutupan vegetasi hutan, vegetasi perdu dan

lahan terbuka, sehingga terjadi penurunan keragaman spesies flora

dan hilangnya habitat yang ada di sekitar lokasi penambangan.

Gangguan ekologis disebabkan pula oleh penggunaan merkuri/air

raksa yang tidak terkontrol, sehingga menyebabkan pencemaran

pada air dan tanah, kondisi ini berdampak pada kesehatan manusia

dan/atau makhluk hidup lainnya.

(2) Sosial Budaya. Praktek PETI membawa dampak sosial seperti

munculnya kegiatan prostitusi, perjudian, penjualan minuman keras

(miras), dan peningkatan kriminalitas.

(3) Hukum. Kegiatan PETI dapat berlangsung dan sulit dihapuskan

karena adanya oknum-oknum dari aparat Pemerintah Daerah yang

turut mendukung (backing) praktek itu. Hal ini tentu menimbulkan

masalah hukum di Kabupaten Sarolangun.

(4) Ekonomi. Pihak-pihak yang paling dirugikan oleh PETI terutama

adalah pemerintah daerah, yaitu dalam bentuk hilangnya royalti,

pajak, dan PAD. Selain itu, masyarakat setempat tidak pula

merasakan manfaat dengan kehadiran PETI.

(5) Kelembagaan. Dampak yang timbul pada lembaga yaitu

ketidakjelasan kewenangan atau tanggungjawab dalam penanganan

PETI, karena kegiatan itu bersifat ilegal.

(6) Manajemen. PETI melakukan kegiatan eksplorasi/eksploitasi secara

amatir, sehingga tidak efesien dan tidak pula dikelola dengan baik,

sebagai akibatnya, PETI tidak memperhitungkan dampak lingkungan

(3)

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dampak negatif

praktek PETI lebih banyak dibandingkan dengan dampak positifnya. Dampak

negatif yang dimaksud antara lain:

(1) suhu tanah meningkat, sehingga terjadi penurunan fertilitas

lahan;

(2) fungsi dan bentuk lahan berubah;

(3) akumulasi senyawa beracun semakin dekat ke permukaan

tanah;

(4) populasi hama meningkat;

(5) jenis biota tertentu menjadi punah;

(6) ekosistem air/sungai semakin rusak;

(7) kualitas air secara umum menurun;

(8) limbah batu/material galian semakin menumpuk.

Dalam rangka mengantisipasi dan mengendalikan kerusakan

lingkungan yang lebih serius, pemerintah daerah telah berupaya menyusun

program-program strategis, antara lain:

(1) Peningkatan kerjasama usaha antar kelompok. Dalam program ini

pemerintah berupaya melaksanakan/mengikuti temu usaha dan

lokakarya di dalam ataupun di luar daerah, mengundang investor,

dan melakukan penyuluhan/sosialisasi kepada masyarakat dan

dunia usaha.

(2) Pamanfaatan SDA secara optimal namun seimbang dan ramah

lingkungan. Program utama di sini mencakup upaya melakukan

penyuluhan kelestarian lingkungan, peningkatan kinerja aparatur

pengelolaan SDA dan lingkungan, pengawasan dan pembinaan

terhadap industri pengelola SDA, inventarisasi perizinan dalam

pengelolaan SDA, reboisasi dan rehabilitasi lingkungan, dan

pemeliharaan lingkungan areal.

(3) Pemberhentian eksploitasi SDA ilegal. Upaya yang telah dilakukan

oleh pemerintah daerah yaitu dengan merazia kegiatan ilegal

(4)

(4) Penanganan dan pemecahan masalah dari kegiatan pembalakan

(illegal logging) dan PETI. Dalam konteks ini, solusi yang diberikan

oleh pemerintah yaitu memberikan bimbingan dan penerangan

lepada para pelaku kegiatan ilegal akan dampak dan bahaya yang

timbal terhadap lingkungan, dan memberikan alternatif dalam

mencari sumber kehidupan.

5.2. Penilaian Dampak Lingkungan dan Sub Proyek

Beranjak dari isu pokok seperti di uraikan di atas, penilaian terhadap

dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh PETI dapat dilakukan pada setiap

komponen lingkungan, termasuk diantaranya adalah komponen sosial

ekonomi dan budaya (sosekbud), komponen kualitas udara, komponen fisika

kimia, dan komponen biologi.

Dampak sosekbud akibat PETI terlihat dengan masuknya masyarakat

pendatang di daerah PETI, sehingga kultur budaya setempat berubah.

Secara spesifik perubahan yang terjadi yaitu munculnya praktek prostitusi

dan kegiatan asusila lainnya, perjudian, dan penggunaan miras. Dalam

mensikapi isu sosial ini, kontrol dari berbagai pihak memegang peranan

penting, diantaranya lembaga adat, tokoh masyarakat, dan aparat

pemerintah. Upaya persuasif perlu juga dilakukan kepada para pelaku

penambang ilegal. Penegakkan hukum secara konsekuen dan konsisten

harus dilakukan oleh pemerintah daerah.

Dampak sosial lain yaitu hilangnya matapencaharian penduduk

setempat, terutama yang berladang/berkebun/bersawah, karena lahan

mereka dijadikan kegiatan PETI. Dalam isu ini, masyarakat memerlukan

matapencaharian alternatif untuk menopang kehidupannya, oleh karena itu

pemerintah perlu melakukan kajian ekonomis dan memfasilitasi masyarakat

untuk mendapatkan sumber pencaharian baru.

Penurunan kualitas udara akibat kegiatan PETI merupakan dampak

negatif yang ditimbulkan oleh pengoperasian mesin dompeng. Alat ini

(5)

peningkatn debu di udara, sehingga kualitas udara menurun. Kebisingan

merupakan dampak lain dari penggunaan alat-alat penambangan tersebut.

Kondisi fisika-kimia sistem hidrologi di daerah PETI merupakan komponen

lingkungan yang juga mengalami degradasi kualitasnya. Perubahan itu dapat

dilihat dari beberapa parameter fisika dan kimia air yang dianalisis dari

conto-conto air Sungai Limun di Dam Kutur (sampel 1), Sungai Batang Asai di

Desa Pulau Pandan (sampel 2), dan Sungai Batang Asai di Desa Lubuk

Sepuh (sampel 3). Analisis dilakukan pula dari conto-conto air yang diambil

dari Sungai Tembesi di Teluk Kecimbung (sampel 1), Sungai Tembesi di

Desa Panti (sampel 2), dan Sungai Tembesi di Pasar Sarolangun. Hasil

analisis sampel-sampel tersebut diperlihatkan pada Tabel 5.1 dan Tabel 5.2.

Tabel 5.1. Hasil analisis kualitas air sungai untuk tiga sample dari Sungai Limun dan Sungai Batang Asai tahun 2005.

No Parameter Satuan Sampel Baku

4 TDS mg/l 165,7 19,1 20,3 1000 KIMIA

1 pH (insitu) - 7,51 7,42 7,48 5-9 2 O terlarut (DO) mg/l <0,01 <0,01 <0,01 <6

3 BOD mg/l 4 3 6 5

4 Sulfactan anion

(MBAS) mg/l 0,288 0,102 0,142 1,0 5 Minyak&lemak mg/l 17,6 18,8 18 Nihil 6 Kesadahan

(CaCO3) mg/l 24 20 18 500 **) 7 Hg mg/l <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 8 Pb mg/l <0,01 <0,01 <0,01 0,1 9 Zn mg/l <0,01 <0,01 <0,01 5 10 Fe mg/l <0,01 <0,01 <0,01 0,1

*) Baku mutu air berdasarkan SK Gubernur Prov. Jambi No. 84 th. 1996 tentang baku mutu lingkungan daerah untuk Prov. Jambi.

(6)

Tabel 5.2. Hasil analisis kualitas air sungai untuk tiga sample dari 2 O terlarut (DO) mg/l <0,01 <0,01 <0,01 <6

3 BOD mg/l 2 2 2 5

4 Sulfactan anion

(MBAS) mg/l 0,045 0,035 0,025 1,0 5 Minyak&lemak mg/l 11,2 8,4 14 Nihil 6 Kesadahan

(CaCO3) mg/l 24 20 18 500 **) 7 Hg mg/l <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 8 Pb mg/l <0,01 <0,01 <0,01 0,1 9 Zn mg/l <0,01 <0,01 <0,01 5 10 Fe mg/l <0,01 <0,01 <0,01 0,1

*) Baku mutu air berdasarkan SK Gubernur Prov. Jambi No. 84 th. 1996 tentang baku mutu lingkungan daerah untuk Prov. Jambi.

**) Baku mutu air menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 907/MENKES/SK/VII/2002 tanggal 29 Juli 2002.

Perubahan kondisi lingkungan di lokasi PETI dan sekitarnya terlihat

juga pada komponen biologi. Pembersihan/pembukaan lahan telah

mengakibatkan hilangnya beberapa jenis vegetasi, dan suksesi alamiah di

daerah ini biasanya sulit terjadi. Terkait dengan kondisi ini, maka diperlukan

upaya revegetasi yang memerlukan studi lanjut guna mendapatkan jenis

tanaman yang sesuai dengan jenis lahan. Selain vegetasi, fauna yang hidup

di daerah itupun terkena dampak langsung dari kegiatan PETI, karena areal

tempat hidupnya semakin berkurang, yang berarti pula lahan tempat mencari

makan semakin menyusut. Akibat jangka panjang dari perubahan kondisi ini

tentu terkait dengan kemampuan fauna untuk mempertahankan generasi

semakin berkurang, sehingga populasi jenis hewan tertentu di masa

mendatang akan mengalami penurunan.

Dampak negatif terhadap kehidupan flora dan fauna tidak hanya

(7)

adanya peningkatan kekeruhan air, padatan tersuspensi, dan kandungan

minyak. Sebagai konsekuensi dari peningkatan unsur-unsur itu, penetrasi

cahaya yang diperlukan untuk proses fotosintesa biota air semakin

berkurang. Kondisi itu menyebabkan tingkat produktifitas perairan semakin

menurun pula. Penurunan tingkat prodktifitas akan berakibat terganggunya

keseimbangan level tropik pada daerah terdampak, sehingga kelimpahan

biota air pada wilayah itu akan menurun. Persoalan lingkungan ini perlu

mendapatkan perhatian ekstra serius dari pemerintah dalam rangka

mendapatkan pemecahan yang tepat dan komprehensif.

5.3. Rencana Mitigasi dari Dampak Lingkungan

Dengan memperhatikan dampak negatif yang ditimbulkan oleh PETI,

Pemerintah Kabupaten Sarolangun, dalam hal ini adalah Dinas Lingkungan

Hidup, Pertambangan dan Energi, telah berupaya melakukan berbagai

kegiatan dalam rangka menangani praktek pertambangan ilegal itu,

diantaranya adalah:

(1) menghibau para pelaku PETI untuk menghentikan kegiatannya;

(2) memantau dan mengawasi secara ketat segala jenis limbah yang

berasal dari kegiatan PETI;

(3) memantau dan melakukan pengecekan badan-badan air secara

periodik untuk memastikan tingkat pencemaran air tidak semakin

serius;

(4) merazia semua bentuk kegiatan ilegal yang mengeksploitasi SDA

secara sembarangan dan tidak peduli dengan dampak negatif

terhadap lingkungan;

(5) memberikan mata pencaharian alternatif bagi para pelaku PETI.

Terkait dengan upaya-upaya penanganan dampak negatif tersebut, maka

(8)

Gambar 5.1. Diagram yang memperlihatkan strategi penanggulangan dampak negatif terhadap lingkungan di daerah PETI.

DAMPAK NEGATIF PETI

Fisik Kimia

Strategi

Rehabilitasi Dampak Kagiatan PETI danPemutusan Rantai Penegakan Hukum

Pemberdayaan

Gambar

Tabel 5.1. Hasil analisis kualitas air sungai untuk tiga sample dari
Tabel 5.2. Hasil analisis kualitas air sungai untuk tiga sample dari
Gambar 5.1. Diagram yang memperlihatkan strategi penanggulangandampak negatif terhadap lingkungan di daerah PETI.

Referensi

Dokumen terkait

Lama kegiatan juga akan memberikan dampak penting terhadap kualitas udara, kebisingan, getaran apabila menggunakan peledak, serta dampak dari limbah cair yang

Khusus untuk investasi pada Sub Bidang Penataan Bangunan Lingkungan, tidak ada program yang bersifat fisik yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap

Apabila suatu program diperkirakan dapat mengakibatkan dampak negatif yang besar terhadap lingkungan, dan dampak tersebut tidak dapat ditanggulangi melalui rancangan dan

Kegiatan investasi harus sudah menentukan batas-batas lahan yang diperlukan, jumlah warga yang terkena dampak, informasi umum mengenai pendapatan serta status

Hidup. Rencana kegiatan yang sudah ditetapkan wajib menyusun AMDAL tidak lagi.. memiliki dokumen pengelolaan lingkungan hidup sehingga dalam operasionalnya.. menyalahi

yang digunakan dalam memantau kegiatan atau aktivitas proyek khususnya. bidang Cipta Karya hanya terbatas pada pemantauan terhadap

Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RIPJM) yang terkait dengan komponen lingkungan adalah pengembangan TPA Gunung Tugel yang secara langsung berdampak terhadap

Sedangkan kegiatan yang tidak diwajibkan menyusun AMDAL dan dampak kegiatan mudah dikelola dengan teknologi yang tersedia tetap menyusun kajian lingkungan berupa