• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Perawat dalam Patien Safety

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peran Perawat dalam Patien Safety"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

 Ibu Nety (bukan nama sebenarnya) yang sedang

dirawat di sebuah rumah sakit ingin buang air kecil. Berulangkali ia pencet bel memanggil

perawat, namun tidak ada respon. Perlahan-lahan Julia bangkit berdiri memaksakan diri sekalipun badannya terasa lemas. Sambil berjalan agak sempoyongan dia menuju kamar mandi. Tetapi belum sempat dia masuk kamar mandi

(3)

 Kasus di atas hanya ilustrasi. Yang jelas dua kata:

patient safety sudah masuk dalam ranah medis paling tidak satu dasawarsa terakhir. Memang kasus kecelakaan pasien bisa terjadi di Negara manapun. Menurut World Health Organization (WHO) Kejadian Tidak Diharapkan dalam rumah sakit pada berbagai Negara menunjukkan angka 3-16 persen. Angka ini bisa naik karena belum

terdata dan terlaporkan. Di beberapa negara berkembang termasuk Indonesia, angka

(4)

 Tidak heran jika kemudian WHO menegaskan

pentingnya keselamatan pelayanan pasien. Menurut WHO “Safety is a fundamental principle of patient care and a critical component of quality

management.” (World Alliance for Patient Safety, Forward Programme WHO, 2004)

 Patient safety sendiri merupakan proses pelayanan rumah sakit secara lebih aman, termasuk assessment

risiko, identifikasi dan manajemen risiko terhadap pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan untuk belajar dan menindaklanjuti insiden serta

penerapkan solusi untuk meminimalisasi risiko.

(5)

 Gerakan nasional keselamatan pasien sudah

disosialisasikan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) yang membentuk

Komite keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKP-RS) pada 1 Juni 2005.

 Kemudian gerakan patient safety ini dicanangkan

Menteri Kesehatan pada Seminar Nasional PERSI pada 21 Agustus 2005 di Jakarta.

 KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit) Depkes

(6)

 Dari pengamatan, selama ini respon rumah

sakit, khususnya swasta sudah sangat baik mengimplementasikan keselamatan pasien. Hanya saja bukan berarti tidak ada kendala.

Pertama, rasio perawat terhadap pasien masih kecil. “Bagaimana mungkin

(7)

Kedua, saat ini belum semua perawat

mempunyai standar kompetensi sesuai ruangan lingkup tugasnya.

Ketiga, kepatuhan perawat terhadap SOP.

“perawat wajib memegang nilai- nilai moral etik. Karena dalam nilai itu ada kejujuran,

(8)

NO INDIKATOR STANDAR

1 Pasien Jtuh < o.4 % 2 Medication Error < 0.6 %

3 Dekubitus < 4 %

4 Plebitis < 3.5 %

(9)

PERAWAT :

 Jumlah tenaga kesehatan terbesar (40-60%) di RS

 Anggota tim kesehatan (inti)

 Aktifitas 24 jam di RS

 Tenaga profesi, mellaui pelayanan

keperawatan mencapai kemandirian pasien

 Pelayanan keperawatan bagian integral dari pelayananKesehatan

(10)

Isu terkini, global, penting (high profile), dlaam pelayanan RS,dimulai sejak “landmark” laporan IOM tahun 2000.

 WHO mulai tahun 2004:

– “Safety is a fundamental principle of patient care and a critical component of quality

management” (World Alliance for PatientSafety, Forward Programme WHO, 2004)

 Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKP-RS) dibentuk PERSI pada 1 Juni 2005

 Menkes bersama PERSI & KKP-RS telah

mencanangkan Gerakan Keselamatan Pasien RS pada seminar nasional PERSI tanggal 21

(11)

 Keselamatan adalah prinsip mendasar dari

(12)

 Seseorang yang telah menyelesaikan program

pendidikankeperawatan baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah RI sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

PRAKTIK KEPERAWATAN:

• Tindakan mandiri perawat melalui kolaborasi dengan sistem klien dan tenaga kesehatan lain dalam memberikan askep sesuai lingkup

wewenang dan tanggung jawabnya pada

(13)
(14)

1. Sebagai pemberi pelayanan keperawatan, perawat mematuhi standar pelayanan dan SOP yang telah ditetapkan

2. Menerapkan prinsip-prinsip etik dalam pemberian pelayanan keperawatan

3. Memberikan pendidikan kepada pasien & keluarga tentang asuhan yang diberikan

4. Menerapkan kerjasama tim kesehatan yang handal dalam pemberian pelayanan kesehatan

5. Menerapkan komunikasi yang baik terhadap pasien dan keluarganya

6. Peka, proaktif dan melakukan penyelesaian masalah terhadap kejadian tidak diharapkan

7. Mendokumentasikan dengan benar semua asuhan

(15)

Keperawatan adalah perlindungan,

promosi dan optimalisasi kesehatan dan kemampuan, pencegahan penyakit dan cedera, pengentasan penderitaan melalui diagnosis dan pengobatan respon manusia, dan advokasi dalam perawatan individu,

(16)

 Metoda keperawatan adalah dasar dari

semua penilaian klinis mencakup semua transaksi yang dilakukan oleh perawat dalam memberikan perawatan kepada pasien.

 Pertimbangnan budaya, keamanan,

pendidikan kesehatan,dan perencanaan untuk jangka panjang pemeliharaan

(17)

Menurut Ebright et al. (2005), beberapa

faktor yang terkait dengan keselamatan yang mempengaruhi seseorang untuk membuat keputusan logis dan akurat : 1. Pengetahuan

2. Perhatian

3. Hambatan untuk peduli 4. Jumlah tugas

5. Hilang informasi penting

(18)

1. Ingat : kompetensi perawat terkait patient safety:

– Implement nosocomial infection (Kes PG 01.003.01)

– Menciptakan dan mempertahankan perawatan yang aman melalui jaminan kualitas

2. Menetapkan standar praktik / pelayanan eperawatan dan SOP serta memastikan penerapannya di area

(19)

3. Pelayanan berorientasi costumer

4. Sistem pemberian pelayanan keperawatan di sarkes perlu dikembangkan dengan

mengoptimalkan sumber-sumber yang ada 5. Bidang keperawatan di setiap sarkes

menyusun renstra pengembangan

(20)

 Pasien safety merupakan upaya dari

seluruhkomponen sarana pelayanan

(21)

NursingLeadership

 External Partnership

 Leadership Competency

 Culture

(22)

 Amerika : AHRQ (Agency for Healthcare

Research and Quality), 2001

 Australia : Australian Council for Safety and

Quality in Health Care, 2000

 Inggeris : NPSA (National Patient Safety

Agency), 2001

 Canada : NSCPS (National Steering

Committee on Patient Safety), CPSI

(23)

 Malaysia : Patient Safety Council, 2004  Denmark : UU Patient Safety, 2003

 Indonesia : KKP-RS, 2005

JCAHO (Joint Comm. On Accreditation for Healthcare Organization)

 Setiap tahun menetapkan “National Patient

Safety Goals” (sejak 2002)

 Juli 2003 : Pedoman “The Universal Protocol for

Preventing Wrong Site, Wrong Procedure, Wrong Person Surgery”

 Maret 2005 mendirikan International Center for

(24)

WHO

 Ditetapkan suatu resolusi yang mendorong negara untuk memberikan perhatian kepada problem Patient Safety meningkatkan

keselamatan dan sistem monitoring

 Mendirikan “World Alliance for Patient Safety” dengan tujuan mengangkat Patient Safety

Goal “First do no harm” dan menurunkan morbiditas, cidera dan kematian yang

(25)

1. Bangun kesadaran akan nilai keselamatan

pasien

2. Pimpin dan dukung staf

3. Integrasikan aktivitas pengelolaan risiko 4. Kembangkan sistem pelaporan

5. Libatkan dan berkomunikasi dengan pasien 6. Belajar & berbagi pengalaman ttg

keselamatan pasien

(26)

 Ciptakan kepemimpinan & budaya yg

terbuka & adil

 Lakukan tindakan pada staf segera setelah

insiden, mengambil langkah dalam

mengumpulkan fakta, memberi dukungan kepada staf, pasien, dan keluarga

 Tingkatkan peran & akuntabilitas individual

 Tumbuhkan budaya pelaporan & belajar dari

insiden

(27)

 Lakukan asesmen dengan menggunakan

survei penilaian KP.

 Anggota mampu berbicara, peduli & berani

lapor bila ada insiden

 Laporan terbuka & terjadi proses

(28)

 Bangunlah komitmen & fokus yang kuat &

jelas tentang KP di RS Anda.

 Ada anggota Direksi yg bertanggung jawab

atas KP

 Prioritaskan KP dalam agenda rapat Direksi /

Manajemen

(29)

 Masukkan KP dalam semua program latihan

staf

 Ada ”penggerak” dalam tim untuk

memimpin Gerakan KP

 Jelaskan relevansi & pentingnya KP, serta

manfaat gerakan KP

 Tumbuhkan sikap kesatria yg menghargai

(30)

 Kembangkan sistem & proses pengelolaan

risiko, serta lakukan identifikasi & asesmen hal yang potensial bermasalah.

 Kembangkan indikator kinerja bagi sistem

pengelolaan risiko

 Gunakan informasi dari sistem pelaporan

(31)

 Diskusikan isu KP dalam forum2, untuk

umpan balik kepada manajemen terkait

 Penilaian risiko pada individu pasien

 Proses asesmen risiko teratur, tentukan

(32)

 Pastikan staf agar dgn mudah dapat

melaporkan kejadian / insiden, serta RS mengatur pelaporan kpd KP-RS.

 Lengkapi rencana implementasi sistem

pelaporan insiden, ke dalam maupun ke luar yg harus dilaporkan ke KKPRS – PERSI

 Dorong anggota untuk melapor setiap insiden

& insiden yg telah dicegah tetapi tetap terjadi juga, sebagai bahan pelajaran yg penting.

(33)

 Kembangkan cara-cara komunikasi yg

terbuka dgn pasien.

 Komunikasi terbuka ttg insiden dgn pasien

& keluarga

 Pasien & keluarga mendapat informasi

bila terjadi insiden

 Dukungan, pelatihan & dorongan semangat

(34)

 Hargai & dukung keterlibatan pasien &

keluarga bila telah terjadi insiden

 Prioritaskan pemberitahuan kpd pasien &

keluarga bila terjadi insiden

 Segera setelah kejadian, tunjukkan empati

(35)

Dorong staf utk melakukan analisis akar

masalah untuk belajar bagaimana & mengapa kejadian itu timbul.

Staf terlatih mengkaji insiden secara tepat,

mengidentifikasi sebab dengan menggunakan metode – metode analisis yang sesuai

Diskusikan dalam tim pengalaman dari hasil

analisis insiden

Identifikasi bagian lain yg mungkin terkena

dampak & bagi pengalaman tsb.

(36)

 Gunakan informasi yang ada tentang

kejadian / masalah untuk melakukan perubahan pada sistem pelayanan.

 Solusi mencakup penjabaran ulang sistem,

penyesuaian pelatihan staf & kegiatan

klinis, penggunaan instrumen yg menjamin KP.

 Sosialisasikan solusi yg dikembangkan oleh

(37)

 Kembangkan asuhan pasien menjadi lebih

baik & lebih aman.

 Telaah perubahan yg dibuat tim & pastikan

pelaksanaannya.

 Umpan balik atas setiap tindak lanjut

(38)

Mutu Pelayanan saja tidak cukup.

Proses hukum di RS sangat meningkat,

RS & Profesi gencar menjadi sasaran

serangan tudingan.

KESELAMATAN PASIEN mengubah

(39)

Sebagian besar profesional adalah

perfeksionis sehingga kegagalan akan

menyebabkan penurunan moril secara

pribadi dengan akibat kinerja yang

menurun yang justru menimbulkan

potensi untuk melakukan kesalahan

Oleh karena itu :

◦ Hindari tuduhan secara pribadi

Referensi

Dokumen terkait

Pelayanan kepada pasien dan keluarga, dalam hal ini melibatkan pasien untuk berpartisipasi aktif untuk menjaga kesehatannya. Budaya berpusat pada pasien mencakup

Perawat merupakan tenaga profesional yang mempunyai kemampuan tanggung jawab, dan kewenangan dalam melaksanakan dan atau memberikan perawatan kepada pasien yang

di Rumah Sakit Paru Kabupaten Jember, akan tetapi untuk memberikan pendidikan kepada pasien, perawat tidak memberikan pendidikan secara detail

Pelaksanaan serah terima pasien pada dasarnya menstransfer perawatan dan tanggung jawab dari satu perawat ke perawat lains sehingga dapat memberikan perawatan yang aman dan

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada perawat dalam memberikan pelayanan yang baik kepada pasien, bukan hanya pada saat pasien datang ke rumah sakit

Perawat memberikan informasi kepada pasien sehingga ia dapat membuat keputusan.. Perawat menunjukkan rasa hormat

1) Pelindung dari pasien: perawat mengenakan sarung tangan untuk prosedur pembedahan, perawatan pasien dengan sistem kekebalan tubuhnya terganggu, prosedur invasif. 2) Sarung

memberikan tindakan medis dan perawatan yang terbaik kepada korban dan orang-orang yang terluka dalam jumlah banyak pada saat kondisi darurat, maka perlu