Pembelajaran Kemahirwacanaan (Literacy Learning) untuk Mengembangkan Kemandirian Belajar (Learning Autonomy)

10  Download (0)

Teks penuh

(1)

Pembelajaran Kemahirwacanaan (Literacy Learning)

untuk Mengembangkan Kemandirian Belajar (Learning Autonomy)

Bismillaahirrahmanirrahiim.

Yang saya hormati

1. Rektor Universitas Negeri Malang selaku Ketua Senat Universitas Negeri Malang, 2. Para anggota Senat Universitas Negeri Malang,

3. Para Pejabat Struktural Universitas Negeri Malang, 4. Para dosen dan mahasiswa Universitas Negeri Malang, 5. Para sejawat akademika yang hadir,

6. Para undangan dan hadirin semuanya.

Assalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh,

Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq, dan hidayahNya sehingga kita dapat melakukan salah satu kegiatan akademik ini, seraya memohon kepada Allah SWT agar kegiatan ini mendapat ridhaNya. Amin. Semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada junjungan kita, Rasulullah SAW, beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya.

Dalam pidato pengukuhan saya sebagai Guru Besar dalam Bidang TEFL (Teaching

English as a Foreign Language – Pembelajaran Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing), perkenankanlah saya menyampaikan sekelumit gagasan tentang pentingnya pembentukan pembelajar bahasa asing yang mandiri (autonomous learners) melalui pengembangan keterampilan kemahirwacanaan, yaitu keterampilan membaca dan menulis, yang sebetulnya juga merupakan upaya mengimplementasikan pendidikan karakter dan budaya bangsa.

Melalui pidato pengukuhan ini, saya berharap dapat memberikan sumbangan pikiran dalam upaya meningkatkan keberhasilan pembelajaran Bahasa Inggris. Secara berturut-turut akan saya paparkan perihal faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemerolehan bahasa kedua atau bahasa asing, kemandirian belajar (learning autonomy) dan konsep pendekatan

(2)

pentingnya pengembangan kemahirwacanaan (literacy), yaitu keterampilan membaca dan menulis, serta strategi dalam pembelajaran membaca dan menulis yang mengupayakan

pergeseran tanggungjawab pengembangan kemahirwacanaan dari guru kepada siswa, sehingga pada akhirnya tercipta perilaku berkarakter berupa kemandirian belajar. Kemandirian belajar dapat mendorong terciptanya proses belajar sepanjang hayat, lifelong learning, sebuah wawasan universal yang juga mengilhami jati diri Universitas Negeri Malang (UM) sebagai The Learning

University.

Dalam bukunya yang berjudul Pendidikan yang Memekarkan Rasa, Sumarta (dalam Supriadi, 2009) mengatakan bahwa pendidikan nasional di negeri ini nampaknya lebih menekankan pada pembentukan kecerdasan berpikir dan akibatnya mengesampingkan pembentukan kecerdasan rasa, kecerdasan budi, bahkan kecerdasan batin. Hal demikian akan melahirkan insan-insan yang penuh ketergantungan, tidak memiliki watak kemandirian. Dan, berkembangnya otonomi belajar adalah sebuah keniscayaan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Pemerolehan Bahasa Kedua Hadirin yang saya muliakan,

Faktor terpenting dalam pembelajaran bahasa kedua atau bahasa asing terletak tidak hanya pada metodologi atau pendekatan pembelajaran, namun juga pada apa yang terjadi dalam diri pembelajar ketika dia sedang mempelajari bahasa baru tersebut. Teori pemerolehan bahasa kedua sangat bermanfaat dalam menjelaskan mengapa seseorang dianggap lebih berhasil dalam belajar bahasa kedua atau bahasa asing dibandingkan teman sejawatnya. Teori ini juga sangat bermanfaat bagi guru dalam memahami hakekat proses pemerolehan bahasa agar dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih tepat kepada siswanya sehingga tujuan pembelajaran kelas bahasa menjadi lebih berhasil.

Pengalaman maupun penelitian menunjukkan bahwa, tidak seperti pada bahasa pertama, keberhasilan dalam pemerolehan bahasa kedua atau bahasa asing sangat bervariasi antara satu pembelajar dengan pembelajar yang lain. Beberapa faktor yang sering dianggap memberikan kontribusi dalam keberhasilan mempelajari bahasa kedua atau bahasa asing adalah faktor

(3)

lingkungan bahasa, faktor bahasa pertama, serta faktor pembelajar (Harmer, 2001; Lightbown dan Spada, 1999), seperti tertuang pada Diagram 1 berikut.

Diagram 1 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemerolehan Bahasa Kedua

Yang dimaksud dengan lingkungan bahasa adalah segala sesuatu dalam bahasa baru yang dapat dilihat dan didengar oleh pembelajar (Dulay, dkk., 1982). Lingkungan bahasa bisa sangat kaya sehingga mampu menyajikan situasi pembelajaran yang bervariasi, baik yang bersifat natural seperti misalnya berbincang di restoran atau toko, bercakap-cakap dengan teman, menonton televisi, membaca rambu-rambu lalu lintas, serta membaca koran dan majalah, maupun yang bersifat semu seperti kegiatan-kegiatan di kelas yang lain. Sebaliknya, dalam situasi tertentu, lingkungan bahasa menjadi sangat miskin; hanya berupa kegiatan-kegiatan yang ada di kelas serta sedikit buku dan sumber belajar.

Sehubungan dengan lingkungan bahasa, sedikitnya dua dari beberapa hipotesis Krashen (1981) dapat dikemukakan untuk menjelaskan keberhasilan atau kegagalan seseorang dalam

Learner Factors Learner

Preferences

Learner Beliefs

Age Intelligence Aptitude

Motivation

Personality

LANGUAGE

ENVIRONMENT Filter Organizer Monitor

LEARNER’S VERBAL PERFORMANCE INTERNAL PROCESSING

(4)

Pemerolehan-Pembelajaran) dan Input Hypothesis (Hipotesis Input). Dalam hipotesisnya tentang pemerolehan dan pembelajaran, Krashen (1981) menyatakan bahwa lingkungan bahasa yang bersifat natural (non-formal environment) akan memungkinkan terjadinya proses

pemerolehan bahasa. Pemerolehan bahasa merupakan proses bawah sadar (subconscious

process) yang berlangsung ketika kita memahami pesan bahasa, sebuah proses yang mirip dengan pemerolehan bahasa pertama pada anak-anak. Karena terjadi dalam lingkungan yang natural, pemerolehan dapat mengarah pada kemampuan seseorang untuk berkomunikasi secara lebih lancar. Sebaliknya, lingkungan yang tidak alami (formal environment) akan lebih banyak mengarah pada proses pembelajaran. Pembelajaran merupakan sebuah proses sadar (conscious

process) dalam mempelajari kaidah-kaidah kebahasaan, seperti yang terjadi di kelas-kelas bahasa, yang ditandai dengan adanya kegiatan seperti penjelasan tatabahasa, latihan-latihan tatabahasa, serta pembetulan kesalahan-kesalahan tatabahasa. Melalui banyak latihan

menggunakan bahasa, sistem bahasa yang sudah dipelajari (learned system) lambat laun bisa meningkat menjadi sistem bahasa yang dipahami (acquired system).

Dalam konteks belajar Bahasa Inggris sebagai bahasa asing seperti di Indonesia,

lingkungan yang dimiliki pembelajar sebagian besar berbentuk pembelajaran. Pajanan terhadap Bahasa Inggris hanya didapatkan pembelajar ketika mereka berada di kelas. Oleh karenanya, menurut Brown (2001), jika seorang pembelajar ingin berhasil dalam proses belajar bahasanya dan jika ingin meningkatkan the learned system menjadi the acquired system, maka dia harus melakukan strategic investment (investasi strategis) berupa penambahan kesempatan

mendapatkan pajanan Bahasa Inggris di luar jam formal di sekolah. Hal ini dapat dilakukan jika pembelajar memiliki kemandirian.

Lingkungan bahasa juga berfungsi sebagai input bahasa. Menurut Krashen (1981) pembelajar bahasa memperoleh bahasa hanya melalui satu cara, yaitu melalui pajanan terhadap input yang dapat dicerna (comprehensible input). Input merupakan sumber pemerolehan bahasa. Semakin banyak input yang didapatkan pembelajar, semakin besar kesempatan dia memperoleh bahasa tersebut. Dengan kata lain, lingkungan bahasa menentukan besar kecilnya kesempatan pembelajar dalam mendapatkan input bahasa. Lingkungan bahasa yang tidak natural (formal

(5)

lagi, penambahan kesempatan mendapatkan pajanan Bahasa Inggris melalui

penumbuhkembangan kemandirian belajar di luar jam formal menjadi sebuah keharusan. Di samping faktor lingkungan, faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan seseorang dalam belajar bahasa kedua adalah faktor bahasa pertama. Dalam bingkai

Contrastive Analysis Hypothesis (Hipotesis Analisis Kontrastif), diprediksikan bahwa jika sistem bahasa pertama itu mirip atau sama dengan sistem bahasa kedua, maka pembelajar akan memperoleh bahasa kedua dengan lebih mudah. Sebaliknya, jika sistem bahasa pertama sangat berbeda dengan sistem bahasa kedua, maka pembelajar akan mengalami lebih banyak kesulitan. Lightbown dan Spada (1999) menyatakan bahwa bahasa pertama memang memiliki pengaruh dalam proses belajar bahasa kedua, namun penelitian menunjukkan bahwa kesalahan-kesalahan bahasa yang ditemukan dalam bahasa kedua bukanlah disebabkan oleh bahasa pertama.

Sebaliknya, kesulitan yang diprediksikan akan muncul karena perbedaan sistem bahasa pertama dan bahasa kedua tidaklah selalu dapat ditemukan.

Faktor lain yang juga memberikan kontribusi dalam menentukan keberhasilan seseorang mempelajari bahasa kedua adalah faktor pembelajar (Lightbown dan Spada, 1999). Faktor pembelajar ini meliputi intelegensi, bakat, kepribadian, motivasi dan sikap, serta gaya belajar. Dibandingkan dengan faktor yang lain, faktor pembelajar memainkan peranan yang sangat penting. Begitu pentingnya faktor ini, sampai bahkan dapat diprediksikan jika faktor yang lain bagus, tetapi faktor pembelajar tidak mendukung, maka keberhasilan pembelajaran bahasa kedua akan sulit dijangkau. Keadaan emosi pembelajar juga memberikan pengaruh dalam proses pemerolehan bahasa kedua. Menurut Dulay, dkk. (1982), tingkat kecemasan yang tinggi menghambat masuknya input bahasa ke dalam filter, yaitu salah satu prosesor kognitif dalam piranti pemerolehan bahasa kedua atau bahasa asing. Input bahasa yang terhambat masuk ini tidak akan dapat diproses lebih lanjut, untuk dapat menghasilkan luaran bahasa berupa kinerja verbal. Keberadaan tingkat kecemasan (anxiety level) menurut Bailey (1983) dapat membawa hasil pada satu di antara dua pilihan tentang kualitas belajar bahasa kedua atau bahasa asing: kegagalan atau kesuksesan, seperti yang digambarkan dalam Diagram 2. Diagram tersebut menunjukkan bahwa keadaan atau sifat kecemasan (anxiety state/trait) dapat disikapi oleh

(6)

oleh kecemasan) atau facilitating anxiety (memberdayakan kecemasan), yang berakibat pada pilihan keadaan berikut: terhentinya proses belajar bahasa atau pesatnya proses belajar bahasa.

Mengingat pentingnya faktor pembelajar dalam proses pemerolehan bahasa kedua, maka faktor ini seharusnya menjadi perhatian pengajar bahasa (Brown, 2007b); pengajar harus selalu bertanya tentang pembelajar: Siapa mereka? Di mana mereka belajar? Mengapa mereka belajar? Semakin banyak diperoleh pengetahuan tentang pembelajar akan semakin memaksimalkan pengajar dalam memfasilitasi proses pemerolehan bahasa kedua.Pengajar bahasa perlu membekali pembelajar bahasa dengan pengetahuan tentang ciri-ciri pembelajar bahasa yang sukses. Dengan mempelajari dan menelaah ciri-ciri pembelajar bahasa yang baik, menurut Brown (2007a) dan Harmer (2001), secara tidak langsung seorang pembelajar akan belajar tentang prinsip-prinsip belajar bahasa kedua atau bahasa asing. Beberapa ciri pembelajar bahasa yang baik menurut Joan Rubin dan Irene Thompson (dalam Brown, 2007a) adalah pembelajar yang Unsuccessful Self-image Anxiety (State/Trait) Debilitating Anxiety Facilitating Anxiety 2LL (temporarily or permanently) avoids contact with source of perceived

failure

Learner increases efforts to improve L2 (with improvement

measured by comparison with other LL’s)- i.e., learner becomes

more competitive L2 learning is impaired or abandoned L2 learning is enhanced Successful Self-image Positive rewards associated with success of L2 learning 2LL continues to participate in milieu of success L2 learning is enhanced

Diagram 2 Model Kecemasan dalam Pembelajar Bahasa Kedua (Bailey 1983::97) Second Language Learner

(2LL) perceives self on a continuum of success when compared to other 2LL’s

(7)

1. bertanggungjawab atas pembelajaran mereka; 2. menata informasi tentang bahasa;

3. kreatif, mengembangkan sebuah rasa bahasa dengan bereksperimen melalui tata bahasa dan kata-katanya;

4. memanfaatkan kesempatan yang ada, baik di dalam maupun di luar kelas bahasa, untuk belajar dan berlatih;

5. suka belajar hidup dengan ketidakpastian, melalui kegiatan berbicara dan mendengar tanpa mengetahui maknanya;

6. menggunakan strategi yang tepat;

7. memanfaatkan kesalahan dan belajar dari kesalahan;

8. memanfaatkan bahasa pertama untuk mempelajari bahasa kedua; 9. memanfaatkan konteks dalam memahami hal baru;

10. belajar menerka dengan cerdas;

11. memanfaatkan pengetahuan yang ada untuk memahami hal yang lebih kompleks; 12. mempelajari cara menjaga agar percakapan tetap berlangsung;

13. mempelajari strategi untuk melengkapi kompetensi mereka; 14. mempelajari gaya bahasa yang bervariasi.

Kegiatan pembelajaran di kelas yang mencerminkan ciri-ciri pembelajar bahasa yang baik seperti tersebut di atas akan dapat membantu pembelajar mengembangkan otonominya (Brown, 2007b).

Hubungan Otonomi Belajar (Learning Autonomy) dan Pendekatan Komunikatif (Communicative Approach) dalam Bidang Pembelajaran Bahasa Asing

Hadirin yang saya hormati,

(8)

Didiklah dan persiapkanlah generasi penerusmu untuk suatu zaman yang bukan zamanmu, karena mereka akan hidup pada suatu zaman yang bukan lagi zamanmu

(Khalifa Ali bin Abi Thalib)

Dalam dunia ‘pendidikan kontemporer’, pesan di atas sering dianalogkan dengan pernyataan Alvin Toffler (dalam Fadjar, 2010), yaitu bahwa pendidikan harus mengacu pada perubahan masa depan. Memasuki era informasi atau gelombang ketiga dalam peradaban manusia, informasi menjadi komoditas setiap hari. Penguasaan informasi menjadi bekal untuk bertahan hidup dalam pentas pertarungan global. Oleh karena itu, agar dapat bersaing di dunia yang selalu berubah dan bergerak maju (a fast-changing world) seperti saat ini, menurut Dickinson (1987), pembelajar memerlukan kemandirian belajar (learning autonomy). Konsep kemandirian atau otonomi belajar kian penting saja, terutama dengan meningkatnya penekanan pedagogis atas pengajaran bahasa yang berpusat pada pembelajar (Wenden, 2002 dalam Brown, 2007a). Tinjauan terhadap sejarah pengajaran bahasa menunjukkan beberapa teori pengajaran yang sudah tidak populer lagi, yaitu metodologi pengajaran bahasa yang berpusat pada guru. Selanjutnya, para pengajar melihat pentingnya otonomi pembelajar dan mulai mendorong pembelajar untuk bertanggungjawab atas pembelajaran mereka sendiri dan menentukan jalan keberhasilannya.

Secara umum, otonomi belajar didefinisikan sebagai sebuah kemampuan seseorang dalam mengarahkan belajarnya (Nunan, 2000). Kemandirian belajar dipandang sebagai hasil dari sebuah pembelajaran yang tujuan, kemajuan, dan penilaiannya diserahkan kepada

pembelajar (Benson, 2001). Melakukan penilaian terhadap belajarnya sendiri merupakan salah satu cara yang menunjukkan bahwa belajar mandiri merupakan belajar yang bertanggungjawab (Chanock, 2004). Pada prinsipnya, menurut Nunan (2000), pembelajar yang otonom memiliki kemampuan untuk

• menentukan sendiri keseluruhan arah belajarnya;

• terlibat secara aktif dalam mengelola proses belajarnya; dan

• memanfaatkan kebebasan dalam memilih sumber dan aktifitas belajar yang tersedia.

(9)

Penelitian dalam pembelajaran bahasa kedua menunjukkan pentingnya kemandirian belajar dan pengarahan diri dalam keberhasilan belajar bahasa. Menurut Brown (2007a), dengan bantuan penelitian peraihan otonomi, program bahasa semakin menekankan kepada pembelajar tentang pentingnya memulai sendiri dan bertanggungjawab atas pembelajarannya sendiri. Sejalan dengan berkembangnya teori dan praktik pengajaran bahasa, tema tentang membantu siswa menjadi pembelajar yang otonom menjadi semakin semarak (Benson, 2001).

Kemandirian merupakan prasyarat untuk pembelajaran yang efektif, karena jika pembelajar mampu mengembangkan kemandirian belajarnya, mereka tidak hanya akan menjadi pembelajar bahasa yang lebih baik, melainkan juga akan menjadi lebih bertanggungjawab dan lebih kritis.

Pembahasan tentang otonomi belajar seringkali disalahtafsirkan sebagai proses belajar yang terisolasi. Kemandirian pembelajar (learner autonomy) sejatinya mengarah pada

pemberdayaan pembelajar untuk mampu menyelaraskan tujuan belajar, materi, dan teknik dengan situasi dan lingkungan yang cenderung berubah ini. Kemandirian pembelajar adalah suatu proses yang memungkinkan pembelajar menyadari dan mengukur kebutuhan mereka sendiri, serta memilih dan mengaplikasikan strategi maupun gaya belajar yang sesuai untuk menuju pengelolaan belajar yang efektif. Pembelajar yang mandiri memiliki beberapa karakteristik, di antaranya adalah pembelajar tersebut mengetahui tujuan pembelajaran, yang berarti mengetahui yang sedang diajarkan oleh guru, mengetahui tujuan belajarnya, memilih strategi belajarnya, memantau kemampuan belajarnya, dan mengevaluasi strategi belajarnya (Dickinson, 1987; Huda, 1999). Dalam konteks pembelajaran bahasa kedua atau bahasa asing, menghasilkan kemandirian pembelajar seharusnya menjadi misi dari setiap pengajar (Brown, 2007b). Pembelajar yang mandiri akan menyediakan investasi strategis (strategic investment) untuk keberhasilannya.

Konsep otonomi ini berasal dari pemikiran tentang pengembangan keterampilan belajar seumur hidup yang muncul pada tahun 1960an (Gardner & Miller, 1999). Konsep belajar mandiri diartikan sebagai situasi di mana pembelajar bertanggungjawab atas semua pengambilan keputusan yang berkenaan dengan belajarnya dan bertanggungjawab atas pelaksanaan keputusan tersebut. Belajar pada dasarnya adalah pengalaman seumur hidup,

(10)

mampu memanfaatkan peluang yang ada, baik di dalam maupun di luar kelas bahasa, untuk selalu belajar dan berlatih.

Konsep otonomi belajar dalam pembelajaran bahasa secara historis dan teoritis berhubungan dengan pendekatan komunikatif (Nunan, 2000). Secara historis, munculnya konsep kemandirian ini tidak bisa dilepaskan dari pudarnya kepercayaan terhadap pandangan Behaviorisme dalam menjelaskan proses pemerolehan bahasa. Para peneliti tentang

perkembangan pendekatan komunikatif (misalnya, Littlewood maupun Nunan dalam Nunan, 2000) telah banyak mengulas hubungan kemandirian dengan kompetensi komunikatif

pembelajar. Pembelajaran bahasa kedua yang efektif sangat tergantung pada usaha pembelajar untuk memproses input bahasa secara mandiri dan terus menerus. Nunan (2000) lebih lanjut menunjukkan bahwa hasil-hasil penelitian nampaknya mengarah pada proposisi bahwa pembelajaran bahasa kedua akan berjalan dengan efektif jika pembelajar diberi kesempatan untuk mengembangkan dan melatih kemandirian belajarnya.

Dalam perspektif pendekatan komunikatif, untuk mencapai kompetensi komunikasi yang memadai, pembelajar dalam konteks belajar formal tidak cukup hanya menghafalkan dialog atau berlatih peran saja, tetapi perlu diberi banyak kesempatan untuk menggunakan bahasa yang sedang dipelajari melalui pemberian konteks komunikasi yang dapat muncul secara alamiah. Selain sebagai subjek yang sedang dipelajari, bahasa target tersebut sebaiknya juga dimanfaatkan sebagai bahasa pengantar dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain, menurut Nunan (2000), pembelajar perlu mengembangkan kemampuan menghubungkan antara isi dan proses pembelajarannya. Hal yang demikian bermakna perlunya orientasi komunikatif dalam belajar bahasa target.

Secara teoritis, pendekatan komunikatif dan otonomi banyak diungkap dalam

hubungannya dengan penelitian tentang tujuan pembelajaran dan efektifitas pengajaran. Teori tentang efektifitas pengajaran menunjukkan bahwa dalam situasi kelas, mungkin saja terjadi ketidakselarasan antara persepsi pengajar dengan persepsi pembelajar tentang hal yang dipelajari. Seperti dikatakan Nunan (1995:135), seringkali terjadi “guru secara serius sibuk mengajarkan satu hal, padahal siswanya berkonsentrasi pada hal yang lain”. Banyak penelitian juga meragukan keefektifan pengajaran langsung (direct instruction), serta menunjukkan bahwa

Figur

Diagram 1 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemerolehan Bahasa Kedua

Diagram 1

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemerolehan Bahasa Kedua p.3

Referensi

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di