1
BAB I PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Anak adalah generasi yang akan meneruskan kehidupan berbangsa dan bernegara di dalam suatu negara. Dalam Keputusan Presiden RI no 36 tahun 1990 tentang Pengesahan Konvensi Hak Hak Anak PBB menyatakan bahwa anak adalah potensi sumber daya insani bagi perkembangan dan kemajuan negara terutama dalam pembangunan nasional, sehingga penting untuk dikembangkan dan dibina sedini mungkin untuk dapat berpartisipasi secara optimal dalam pembangunan bangsa dan negara. Sementara itu dalam UU no 4 tahun 1979 menjelaskan pertimbangannya bahwa anak adalah potensi dan penerus cita-cita bangsa sehingga anak-anak perlu mendapatkan perhatian dan prioritas agar mendapatkan kesempatan yang luas untuk tumbuh dan berkembang secara baik. Dapat kita pahami bersama bahwa anak sebagai penentu kehidupan bangsa di masa depan, maka anak-anak sepatutnya perlu mendapatkan prioritas dalam perlindungan dan kesetaraan hak-hak sebagai salah satu elemen bangsa.
Majelis umum PBB telah membuat instrumen hukum yang diperuntukkan melindungi dan menjamin hak-hak anak sebagai generasi penerus dunia dalam konvensi hak anak PBB tanggal 20 November 1989. Kemudian diratifikasi oleh Indonesia pada tahun 1990 dengan keluarnya keputusan presiden no 36 tahun 1990.
Dengan keluarnya keputusan presiden tentang ratifikasi Konvensi Hak Anak ini mengikat Indonesia secara hukum internasionanl untuk menjamin pemenuhan hak anak berdasarkan beberapa prinsip umum dalam Konvensi tersebut. Beberapa prinsip umum pemenuhan hak anak yang tertuang dalam konvensi hak anak PBB adalah; memprioritaskan kepentingan yang paling baik bagi anak, melakukan tindakan non-diskriminasi kepada anak, hak untuk hidup dan berkelangsungan hidup, memberikan apresiasi terhadap pendapat yang dikemukakan oleh anak, serta jaminan pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Setelah itu baru pada tahun 2002 terbit UU yang menjamin keberlangsungan hidup anak yaitu UU no 23 tahun
2 2002 tentang perlindungan anak. Undang-undang ini kemudian pada tahun 2014 dilakukan perubahan dengan penambahan dan modifilasi beberapa pasal yang lebih disesuaikan dengan pemenuhan hak-hak anak. Undang-undang tersebut adalah UU no 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU no 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.
Menurut versi UNFPA, Indonesia memiliki tingkat urgenitas tinggi untuk memperlakukan anak-anak dan remaja. Ini terkait dengan jumlah anak-anak dan remaja yang cukup tinggi di Indonesia yaitu sekitar 67 juta. Pemerintah pun melalui Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) telah membuat program nasional untuk menjamin keberlangsungan tumbuh kembang anak dan hak-hak anak. Program tersebut adalah Program Nasional Bagi Anak Indonesia (PNBAI 2015) yang ditetapkan berdasarkan pada bidang-bidang pokok yaitu; kesehatan anak, pendidikan anak, perlindungan anak dan bidang penanggulanag HIV/AIDS. Berangkat dari sini pemerintah merealisasikan jaminan kehidupan dan hak-hak anak melalui Peraturan Menteri KPPA no 14 tahun 2010, no 11,12,13 dan 14 tahun 2011. Peraturan Menteri Negara PPPA RI tersebut secara berurutan adalah pereaturan tentang Pedoman Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak Tingkst Provinsi, Kebijakan Pengembangan KLA, Indikator KLA, Panduan Pengembangan KLA dan Panduan Evaluasi KLA.
Menurut Permen PPPA no 11 tahun 2011, pengertian dari KLA adalah;
”Kabupaten/Kota Layak Anak yang selanjutnya disingkat KLA adalah kabupaten/kota yang mempunyai sistem pembangunan berbasis hak anak melalui pengintegrasian komitmen dan sumberdaya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha yang terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam kebijakan, program dan kegiatan untuk menjamin terpenuhinya hak anak.”
Inisiatif Kabupaten/Kota Layak Anak ini digunakan sebagai alat untuk memberikan pemenuhan atas hak-hak anak dan perlindungan kepada anak sebagai warga negara. Dengan demikian diharapkan anak sebagai penerus kehidupan bangsa dapat terjamin keberlangsungan hidup dan tumbuh kembangnya sehingga tercipta generasi yang lebih baik dan kompeten. Menurut Hamid Patilima di dalam
3 artikelnya yang berjudul Kota Layak Anak, pada tahun 2006 Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengujicobakan konsep KLA ini kepada 5 Kabupaten/Kota. Kelima Kabupaten/Kota tersebut adalah Kota Jambi, Kota Surakarta, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Gorontalo. Kemudian pada tahun 2007 Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menunjuk 10 Kabupaten/Kota lagi, sayangnya Kota Yogyakarta belum masuk dalam penunjukan menuju Kota Layak Anak ini. Namun, Yogyakarta secara inisiatif sendiri memperkenalkan konsep KLA melalui Pemda setempat.
Kota Yogyakarta sendiri telah mendapatkan beberapa penghargaan dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) terhadap inisiatif dan komitmen Yogyakarta mewujudkan Kota Layak Anak Yogyakarta.
Pada tahun 2009 Kota Yogyakarta mendapatkan penghargaan atas inisiatifnya untuk mewujudkan Kota Yogyakarta sebagai Kota Layak Anak (Muhammad dalam Republika, 2012). Kemudian pada tahun 2010 Yogyakarta kembali mendapatkan penghargaan kategori madya. Setelah itu pada tahun 2012 dan 2013 Kota Yogyakarta berhasil mempertahankan predikat Kota Layak Anak kategori madya dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Administrator, 2013). Berbagai penghargaan tersebut menunjukkan keseriusan Kota Yogyakarta dalam mewujudkan Yogyakarta sebagai Kota Layak Anak.
Seperti yang dikatakan oleh Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti dalam website Portal Jogja (2013) bahwa Pemerintah Kota Yogyakarta bersama masyarakat telah berkomitmen untuk menciptakan Yogyakarta sebagai Kota Layak Anak. Cita-cita dan komitmen untuk mewujudkan Kota Layak Anak ini bertujuan agar generasi anak bangsa terutama di Yogyakarta tumbuh menjadi anak yang berkarakter, berbudaya dan berkualitas. Berangkat dari komitmen pemerintah Kota Yogyakarta untuk menciptakan Kota Yogyakarta yang ramah terhadap anak inilah yang membuat penulis tertarik untuk meneliti seperti apa integrasi komitmen pemerintah dalam penataan ruang Yogyakarta untuk mewujudkan konsep kota yang layak kepada anak.
4 1.2. PERTANYAAN PENELITIAN
Komitmen Pemerintahan Kota Yogyakarta untuk menciptakan Kota Layak Anak di Yogyakarta adalah salah satu wujud keseriusan dalam mewujudkan pemenuhan hak-hak anak. Berawal dari inisiatif Pemerintah Yogyakarta untuk menciptakan Kota Layak Anak dan terus berkomitmen mewujudkannya sehingga kemudian mendapatkan berbagai penghargaan dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Menjadikan penulis tertarik untuk meneliti seperti apa integrasi yang dilakukan pemerintah dalam penataan ruang Yogyakarta?
Berangkat dari pertanyaan utama tersebut, berikut ini adalah pertanyaan yang akan berusaha dijawab dalam penelitian ini.
1. Bagaimana Kota Yogyakarta memasukkan konsep Kota Layak Anak di dalam dokumen recana pembangunan dan penataan ruang di Kota Yogyakarta?
2. Bagaimana implementasi konsep Kota Layak Anak pada ruang permukiman di Kota Yogyakarta?
1.3. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana cara pemerintah memasukkan sebuah konsep Kota Layak Anak ke dalam dokumen rencana pembangunan dan penataan ruang melalui penjabaran dokumen perencanaan pembangunan dan penataan ruang serta aspek kelembagaan yang berkaitan.
Kemudian untuk menggambarkan implementasi bagian fisik akan dinilai seberapa besar proses implementasi yang telah dilaksanakan.
1.4. MANFAAT PENELITIAN
Adapun penelitian ini semoga bermanfaat secara teoritis maupun praktis dan bermanfaat untuk mengembangkan pengintegrasian konsep Kota Layak Anak.
1.4.1. Teoritis
Penelitian ini diharapkan mampu menyumbangkan kontribusi sebagai referensi bagi para akademisi dan pemerintah berkaitan dengan proses perencanaan
5 dan implementasi Kota Layak Anak khususnya di Yogyakarta. Dengan adanya penelitian ini diharapkan mampu memberikan referensi bagi para akademisi untuk melakukan studi pada tingkat lanjutan. Sementara untuk pemerintah penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan mengenai proses perencanaan dan implementasi Kota Layak Anak khususnya di Yogyakarta. Selain itu, penelitian ini bermanfaat bagi penulis sebagai bahan untuk menyusun skripsi untuk syarat memperoleh gelar kesarjanaan S1 pada prodi Perencanaan Wilayah dan Kota, Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada.
Selain itu penelitian ini bermanfaat bagi penulis sebagai sarana untuk mengasah pemikiran kritis, logis dan meningkatkan daya kepekaan terhadap isu-isu perencanaan khususnya yang berkaitan dengan topik dalam penelitian ini.
1.4.2. Secara Praktis
Penelitian ini diharapkan mampu berkontribusi bagi para praktisi sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan alternatif solusi, memecahkan permasalahan terkait dengan proses perencanaan dan implementasi Kota Layak Anak di seluruh Indonesia.
1.5. BATASAN PENELITIAN 1.5.1. Batasan Fokus
Penelitian ini berisi mengenai bagaimana proses-proses yang dilakukan pemerintah dalam mewujudkan Yogyakarta sebagai Kota Layak Anak. Proses- proses yang dimaksud tersebut adalah proses-proses yang berkaitan dengan pembangunan dan penataan ruang di Yogyakarta. Sehingga dalam penelitian ini nantinya akan menggambarkan alur proses dan cara pemerintah memasukkan konsep Kota Layak Anak ke dalam dokumen rencana pembangunan dan penataan ruang Yogyakarta. Selain itu, dalam setiap proses pasti ditemukan sebuah tantangan dan hambatan yang nantinya juga akan diulas dalam penelitian ini. Kemudian sebagai gambaran sejauh mana implementasi komitmen pemerintah Kota Yogyakarta dalam mewujudkan Kota Layak Anak maka akan diambil beberapa contoh lokasi penerapan dokumen perencanaan Kota Layak Anak di Yogyakarta.
6 1.5.2. Batasan Lokasi
Penelitian ini mengambil lokasi penelitian di dalam Kota Yogyakarta secara administrasi. Selanjutnya, lokasi-lokasi ini akan difokuskan pada beberapa tempat yang menjadi alat mewujudkan Kota Yogyakarta sebagai Kota Layak Anak sesuai dengan indikator Kota Layak Anak. Lokasi penelitian tersebut adalah Kota Yogyakarta secara umum dan 2 kampung secara khusus yaitu kampung Badran dan Kampung Pakuncen.
1.5.3. Batasan Temporal
Penelitian ini menggunakan rentang jangka waktu dari terbentuknya buah pemikiran pertama yang mendasari adanya perhatian terhadap hak-hak anak, yaitu Konvensi Hak-hak Anak PBB sampai proses implementasi Kota Layak Anak di Yogyakarta. Batasan temporal penelitian ini adalah tahun 1989 (Konvensi Hak Anak PBB) hingga tahun 2015.
7 1.6. KEASLIAN PENELITIAN
Terdapat beberapa penelitian skripsi dan tesis yang telah dilakukan sebelumnya terkait dengan Kota Layak Anak sebagai berikut;
Tabel 1. Penelitian Terkait Layak Anak
No Penulis – Judul Fokus – Lokus Metode Hasil
1. - Ayatun Nurjanah. 2013.
- Konsep Ruang Terbuka Publik dalam Inisiatif Kota Layak Anak-Anak dan Remaja.
- Skripsi.
- Fokus penelitian ini adalah untuk mengetahui dan merumuskan konsep ruang terbuka publik yang layak bagi kegiatan dan aktifitas anak-anak dan remaja.
- Lokus dari penelitian ini adalah ruang terbuka hijau Alun-alun selatan, Yogyakarta.
Menggunakan metode induktif-kualitatif.
Konsep ruang terbuka yang baik untuk anak-anak dan remaja adalah ruang terbuka yang mengandung unsur (1) keterikatan pada dimensi waktu efektif. (2) Keterjangkauan. (3) Keingin tahuan terhadap ruang dan daya tarik ruang.
(4) Keamanan. (5) Kenyamanan. (6) Kebebasan berinteraksi dan keleluasaan beraktifitas. (7) Adanya rasa penerimaan.
8 Lanjutan Tabel 1
2. - Dwita Widyaningsih. 2012.
- Konsep Perumahan Layak Anak di Wilayah Sub Urban.
- Skripsi.
- Fokus penelitian ini adalah untuk mentransformasikan konsep perumahan layak anak berdasarkan pendapat dan persepsi ibu-ibu dan anak- anak.
- Penelitian ini mengambil lokus di wilayah sub-urban Perkotaan Yogyakarta yaitu Kelurahan Sinduharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman.
Metode yang digunakan adalah dengan metode induktif-kualitatif untuk menemukan sebuah formulasi konsep perumahan layak anak. Penelitian ini dilakukan dengan pengamatan dan wawancara kepada ibu-ibu secara mendalam.
Konsep perumahan layak anak menurut ibu-ibu dan anak-anak di Kelurahan Sinduharjo, Ngaglik, Sleman adalah perumahan yang mengandung unsur keamanan, keselamatan, kesehatan dan kondusif untuk belajar. Sementara itu ditemukan dua aspek yang sangat penting dalam konsep perumahan layak anak. Aspek utamanya adalah orientasi rumah terhadap jalan dan tatanan ruang terbuka. Sementara itu aspek pendukungnya adalah specific safety facilities.
9 Lanjutan Tabel 1
3. - Dina Agustina. 2014
- Kajian Spasial Ruang Publik (Public Space) Untuk Aktifitas Bermain di Kawasan Kampung Ramah Anak Golo, Kota Yogyakarta.
- Skripsi.
- Penelitian ini berfokus pada kajian ruang terbuka yang digunakan untuk bermain anak-anak apakah sudah sesuai dengan kriteria ruang bermain yang layak untuk anak?
- Lokasi penelitian ini berada di kawasan Kampung Ramah Anak Golo, Kota Yogyakarta.
Penelitian ini menggunakan ananlisis data deskriptif kalitatif. Sementara itu untuk mengumpulkan datanya dilakukan dengan metode survey langsung dan wawancara mendalam kepada anak-anak usia sekolah dasar dan key person.
Aktifitas dan kegiatan yang dilakukan anak-anak secara dinamis di ruang publik mengakibatkan terjadinya berbagai fenomena spasial yang sangat beragam. Sementara itu, temuan di Golo, Yogyakarta adalah belum terpenuhinya kriteria ruang publik yang digunakan oleh anak-anak sebagai ruang yang layak untuk bermain anak-anak.
4. - Ika Pasca Himawati.
- Konstruksi Sosial Kampung Ramah Anak.
- Tesis.
- Fokus dari penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur sosial dan memahami makna kampung ramah anak.
Penelitian yang dilakukan oleh Ika Pasca Himawati ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi.
Program pemerintah tentang kampung ramah
anak mengalami
kesenjangan dengan implementasi di lapangan.
10 Lanjutan Tabel 1
- Lokasi penelitian berada di RW 11 Kampung Badran, Yogyakarta.
Implementasi program
pemerintah ini
dikonstruksikan sebagai proses perubahan sosial untuk merubah citra negatif Badran sebagai kampung
“preman”. Sementara itu makna kampung ramah anak sendiri telah dimaknai secara bersama oleh anak- anak, orangtua, pengurus dan pemerintah.
5 - Arni Dewi Boronia
- Karakteristik Ruang Bermain Anak di Kampung Ramah Anak Badran dan Dalem - Skripsi, 2015
- Fokus penelitian ini adalah mengetahui karakteristik ruang bermain, perilaku bermain dan kesesuaian dengan indikator KLA.
- Penelitian ini menggunakan pendekatan induktif dan deduktif
Hasil dari penelitian ini adalah keramahan sebuah ruang bermain tidak tergantung kepada terencana atau tidaknya ruang bermain.
Sumber : Perpustakaan S1 Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik UGM.
11 Berdasarakan penelitian yang telah dilakukan seperti tersebut dalam tabel di atas, berdasarkan informasi internet dan referensi di perpustakaan Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan UGM, sepengetahuan penulis penelitian yang berjudul
“PENGINTEGRASIAN KOMITMEN KOTA LAYAK ANAK DALAM PENATAAN RUANG DI KOTA YOGYAKARTA” ini belum pernah dilakukan dan layak untuk diteliti. Dimana sejauh pengetahuan penulis, penelitian mengenai proses integrasi Kota Layak Anak ke dalam suatu dokumen perencanaan pembangunan dan penataan ruang baik itu instrumen perencanaan, pelaku perencanaan-implementasi dan segala yang terkait dengan integrasi komitmen kota layak anak dalam penataan ruang belum pernah diteliti. Sementara itu lokasi yang diambil dalam penelitian ini adalah Kota Yogyakarta yang sedang berkomitmen untuk mewujudkan Yogyakarta sebagai Kota Layak Anak.
1.7. SISTEMATIKA PENELITIAN
Sistematika penulisan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut;
1.7.1. Bab I Pendahuluan
Pada bab pertama ini berisi penjabaran dan penjelasan mengenai latar belakang penelitian, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan penelitian, dan keaslian penelitian.
1.7.2. Bab II Tinjauan Pustaka
Bab ini menjelaskan mengenai teori-teori yang digunakan sebagai landasan dan pengetahuan dasar penulis sebelum melakukan penelitian.
1.7.3. Bab III Metode Penelitian
Pada bagian ini menjelaskan mengenai metode dan langkah-langkah dalam melakukan penelitian, baik dari metode pengumpulan data dan instrumen penelitian hingga kepada analisis yang digunakan untuk melakukan penelitian ini.
1.7.4. Bab IV Deskripsi Wilayah Penelitian
Pada bagian ini berisi mengenai kondisi dan profil wilayah penelitian, baik kondisi fisik maupun kondisi non fisik.
12 1.7.5. Bab V Hasil Penelitian dan Pembahasan
Pada bagian ini menjelaskan tentang penjabaran berbagai macam temuan penelitian dan analisis terhadap temuan tersebut sehingga menghasilkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan penelitian yang ada pada bab pertama.
1.7.6. Bab VI Kesimpulan dan Saran
Bab ini menjelaskan mengenai pokok intisari dari pembahasan yang telah dijabarkan pada bab sebelumnya. Dalam bab ini juga terdapat rekomendasi dan saran dari penulis terkait dengan hasil temuan penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan.