• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. masyarakat bersama dengan kader dalam pembangunan kesehatan dengan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. masyarakat bersama dengan kader dalam pembangunan kesehatan dengan"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Posyandu

2.1.1 Pengertian Posyandu

Posyandu dilihat dari segi proses maka pengertiannya adalah salah satu wujud

masyarakat bersama dengan kader dalam pembangunan kesehatan dengan

menciptakan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk dalam mewujudkan

derajat kesehatan masyarakat yang optimal (Depkes RI, 1996).

Pengertian lain dari Posyandu bila dipandang dari segi hirarki sistem upaya

pelayanan kesehatan adalah forum yang menjembatani ahli teknologi dan ahli kelola

untuk upaya-upaya kesehatan yang profesional kepada masyarakat sebagai upaya

untuk meningkatkan kemampuan masyarakat agar dapat hidup sehat (Suyono, 1987).

Posyandu merupakan upaya untuk mengatasi kesenjangan-kesenjangan yang

umumnya terjadi di pedesaan, misalnya (Anonim, 2001) :

(a) Kesenjangan geografis dalam memperoleh pelayanan Kesehatan Ibu Anak

(b) Kesenjangan informasi mengenai kesehatan ibu dan anak serta pengetahuan hidup

bersih dan sehat;

(c) Kesenjangan sosio budaya antara petugas kesehatan dan masyarakat yang

dilayaninya;

(d) Kesenjangan ekonomi dalam mendapatkan pelayanan kesehatan dasar dan tarif

yang murah dan bahkan gratis yang semulanya untuk menunjang kelangsungan

hidup anak.

(2)

Tujuan penyelenggaraan Posyandu adalah :

1. Mempercepat penurunan angka kematian bayi, anak balita dan angka kelahiran.

2. Mempercepat penerimaan NKKBS.

3. Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan

kesehatan yang lainnya yang menunjang, sesuai kebutuhan.

2.1.2 Pembentukan Posyandu

Dalam pembentukan Pos Pelayanan Terpadu sebaiknya melayani 100 orang

Balita atau sesuai dengan kemampuan petugas dan keadaan setempat. Sedangkan

lokasi tempat penyelenggaraan Posyandu sebaiknya pada tempat yang mudah

didatangi oleh masyarakat itu sendiri. Posyandu juga dapat dibentuk bila pada suatu

wilayah terdapat 120 Kepala Keluarga atau dengan jumlah penduduk sebanyak 700

jiwa (Depkes, 1984).

Pada tahun 1983, berdasarkan Insrtuksi bersama Menteri Kesehatan dan

Kepala BKKBN No. 06/Menkes/Inst/1981-22/HK.010/1981 dan No. 264/Menkes/

Inst/VI/1983-26/HK.011/E.3/1983, kegiatan keterpaduan Keluarga Berencana –

Kesehatan mulai dioperasikan. Di tingkat desa, kegiatan keterpaduan KB – Kesehatan

diwujudkan dalam bentuk pos pelayanan terpadu atau lebih dikenal dengan Posyandu.

2.1.3 Penyelenggaraan Posyandu

Penyelenggaraan Posyandu dilaksanakan dalam 1 bulan 1 kali kegiatan. Hari

buka Posyandu disesuaikan dengan hasil kesepakatan. Tempat penyelenggaraan

kegiatan Posyandu sebaiknya berada pada lokasi yang mudah dijangkau masyarakat.

(3)

Baik disalah satu rumah warga, halaman rumah, balai desa / kelurahan, balai

RW/RT/dusun, salah satu kios di pasar, salah satu ruangan perkantoran, atau tempat

khusus yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat yang dapat disebut dengan

nama ”Wisma Posyandu” atau sebutan lainnya (Depkes RI, 2000).

Kegiatan rutin Posyandu diselenggarakan dan dimotori oleh Kader Posyandu

dengan bimbingan teknis dari Puskesmas dan sektor terkait. Jumlah minimal kader

untuk setiap Posyandu adalah 5 (lima) orang (Depkes RI, 2000).

Penyelenggaraan Posyandu tingkat kecamatan adalah pelaksana program

terpadu yang terdiri dari :

1. Camat dan Staf

Sebagai Koordinator perencanaan, penggerakan, pengawasan, pengendalian dan

penilaian.

2. Petugas Puskesmas

Membantu Camat dalam mengkoordinir dan berperan sebagai pimpinan dalam

melakukan penggerakan, pengawasan, pengendalian dan penilaian.

3. Petugas KB

Membantu Camat dalam melakukan perencanaan, penggerakan, pengawasan,

pengendalian dan penilaian.

4. Tim Pembina LKMD

Merumuskan dukungan sumber daya dan sektor yang terkait dalam hubungan

desa dan koordinator yang terkait dalam desa dan koordinator bimbingan terhadap

LKMD.

(4)

5. Tim Penggerak PKK

Berusaha untuk memberikan motivasi, penyuluhan dan menggerakkan

pengetahuan masyarakat.

Tim Penggerak Posyandu pada tingkat desa antara lain :

1. Kepala desa

Sebagai koordinator penyelenggaraan Posyandu di desa

2. Kader Kesehatan

Tenaga pelaksana Posyandu di desa

3. Pos KB desa

Wahana pelaksana Posyandu

4. LKMD

Wahana dan pusat pergerakan partisipasi masyarakat

5. Anggota PKK

Memberikan bantuan kepada pelaksana program Posyandu.

Pelaksanaan kegiatan Posyandu dilakukan dengan pola lima meja yaitu :

Meja 1 : Pendaftaran

Meja 2 : Penimbangan bayi dan anak Balita

Meja 3 : Pencatatan (Pengisian KMS)

Meja 4 : Penyuluhan perorangan

a. Mengenai Balita berdasarkan hasil penimbangan, berat badannya

naik/tidak naik, dapat diikuti dengan pemberian makanan

tambahan, oralit dan vitamin A dosis tinggi.

(5)

b. Terhadap ibu hamil dengan resiko tinggi, diikuti dengan pemberian

tablet tambah darah.

c. Terhadap Pasangan Usia Subur (PUS) agar menjadi peserta KB

lestari, dengan mengikuti pemberian kondom, pil ulang.

Meja 5 : Pelayanan oleh tenaga profesional meliputi pelayanan KIA, KB,

imunisasi serta pelayanan lain sesuai dengan kebutuhan setempat.

Dengan sistem Pelayanan 5 meja di Posyandu, maka masing-masing

Posyandu harus mempunyai kader sebanyak 5 orang, sehingga semua kegiatan

Posyandu dapat berjalan dengan baik. Meja 5 sebagai meja pelayanan gizi kader pun

sangat besar pengaruhnya, karena dapat memberikan paket pertolongan gizi berapa

vitamin A, tablet Fe, oralit, kapsul iodium dan alat kontrasepsi seperti pil, kondom

pada akseptor KB. Kader yang masih dikatakan melaksanakan kegiatan Posyandu

dalam 3 bulan terakhir dapat dikatakan masih aktif, sedangkan kalau sudah 4 bulan

lebih tidak ikut dalam kegiataan Posyandu, maka tidak dikatakan aktif lagi.

Kegiatan Upaya Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) di Posyandu bertujuan

untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak dan kebutaan karena kekurangan

vitamin A pada anak Balita, serta anemia gizi pada ibu hamil. Tujuan ini dapat

dicapai secara lebih efektif dan efisien dengan jalan memadukan kegiatan pelayanan

gizi, pelayanan kesehatan dasar dan KB di Posyandu. Dengan demikian sasaran

pelayanan gizi di Posyandu adalah bayi, anak balita, ibu hamil dan menyusui

(Depkes RI, 2003).

(6)

Adapun kegiatan pelayanan gizi yang dipadukan di Posyandu dengan

prosedur pelaksanaan mencakup (Depkes RI, 1991) :

a. Melakukan pendaftaran peserta

b. Menimbang balita

c. Mencatat hasil penimbangan dalam buku register dan memasukkan kedalam KMS

d. Menilai hasil penimbangan

e. Melakukan penyuluhan sesuai hasil penimbangan

f. Membagikan tablet tambah darah kepada ibu hamil

g. Membagikan kapsul vitamin A kepada anak balita umur 1-5 tahun setiap bulan

Februari dan Agustus.

h. Melakukan penyuluhan bagi ibu hamil

i. Mengkoordinir pemberian PMT (Program Makanan Tambahan)

j. Merujuk Balita ke Puskesmas bagi yang membutuhkan dan

k. Mengerjakan pencatatan kegiatan dan sarana UPGK

2.2 Pelaksanaan Posyandu

2.2.1 Kegiatan Utama

1. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)

a. Ibu Hamil

Pelayanan yang diselenggarakan untuk ibu hamil mencakup :

1. Penimbangan berat badan dan pemberian tablet besi yang dilakukan oleh kader

kesehatan. Pemberian tablet besi pada ibu hamil dapat dibedakan menjadi Fe 1

(7)

yaitu yang mendapat 30 tablet atau 1 bungkus dan Fe 3 mendapat 90 tablet atau 3

bungkus selama masa kehamilan. Cakupan Fe 1 pada tahun 1998 secara nasional

adalah 75,49% sedangkan cakupan Fe 3 nasional adalah 64,85%. Bila dilihat dari

tahun 1995 sampai dengan tahun 1998 terlihat adanya kenaikan cakupan baik

untuk Fe1 maupun Fe 3 (Depkes, 1999).

2. Jika ada petugas Puskesmas ditambah dengan pengukuran tekanan darah dan

pemberian imunisai Tetanus Toksoid. Bila tersedia ruang pemeriksaan, ditambah

dengan pemeriksaan tinggi fundus/ usia kehamilan. Apabila ditemukan kelainan,

segera dirujuk kepuskesmas (Depkes RI, 2006).

3. Untuk lebih meningkatkan kesehatan ibu hamil , perlu diselenggarakan Kelompok

Ibu Hamil pada setiap hari buka Posyandu atau pada hari lain sesuai dengan

kesepakatan. Kegiatan Kelompok ibu hamil antara lain :

1. Penyuluhan : tanda bahaya pada ibu hamil, persiapan persalinan, persiapan

menyusui, KB dan gizi.

2. Perawatan payudara dan pemberian ASI

3. Peragaan pola makan ibu hamil

4. Peragaan perawatan bayi baru lahir

5. Senam ibu hamil.

b. Ibu nifas dan menyusui

Pelayanan yang diselenggarakan untuk ibu nifas dan menyusui mencakup :

1. Penyuluhan kesehatan, KB, ASI dan Gizi ibu nifas, perawatan kebersihan

(8)

2. Pemberian vitamin A dan Tablet besi

a. Pemberian Tablet Besi pada Ibu Hamil

Pemberian tablet besi Fe tidak hanya diberikan pada ibu hamil tetapi juga

diberikan pada ibu nifas dan menyusui (Depkes, 1999).

b. Pemberian Kapsul Vitamin A

Vitamin A merupakan zat gizi yang penting bagi manusia, karena zat gizi

ini tidak dapat dibuat oleh tubuh, sehingga harus dipenuhi. Ibu nifas dan

menyusui memerlukan vitamin A 1 tahun 2 kali, selain pada ibu nifas,

Departemen Kesehatan telah menjalankan usaha pencegahan dan

pengobatan khususnya untuk melindungi balita dengan cara memberikan

kapsul vitamin A dosis tinggi secara periodik yaitu masing-masing satu

kali bagi bayi berumur 6-11 bulan sebanyak 1 kapsul (berwarna biru)

berisi vitamin A 100000 SI dan sebanyak 1 kapsul (berwarna merah) yang

berisi vitamin A 200000 SI pada Balita usia 12-59 bulan setiap 6 bulan

sekali.

3. Perawatan payudara

4. Senam ibu nifas

5. Jika ada tenaga kesehatan Puskesmas dan tersedia ruangan, dilakukan

pemeriksaan kesehatan umum, pemeriksaan payudara, pemeriksaan kesehatan

fundus dan pemeriksaan lochia. Apabila ditemukan kelainan, segera dirujuk

ke Puskesmas.

(9)

c. Bayi dan anak balita

Pelayanan Posyandu untuk balita harus dilaksanakan secara menyenangkan

dan memacu kreativitas tumbuh kembang anak. Jika ruang pelayanan memadai, pada

waktu menunggu giliran pelayanan, anak balita sebaiknya tidak digendong melainkan

dilepas bermain sesama balita dengan pengawasan orang tua di bawah bimbingan

kader. Untuk itu perlu disediakan sarana permainan yang sesuai dengan umur balita

(Depkes, 2006).

Jenis pelayanan yang diselenggarakan Posyandu untuk bayi dan balita

mencakup :

1) Penimbangan Berat Badan Balita

Penimbangan balita adalah salah satu kegiatan yang ada di Posyandu. Dengan

adanya kegiatan penimbangan kita dapat memantau tumbuh kembang balita yang

dapat dilihat berat badannya setiap bulan, yang dicatat dalam Kartu Menuju Sehat

(KMS).

Hasil dalam kegiatan penimbangan semua balita selama satu tahun dicatat di

dalam buku pelaksanaan masing-masing wilayah Posyandu dan diharapkan

kepada semua balita mempunyai (KMS), dan ditimbang sebagaimana yang

diharapkan agar timbangannya naik (Depkes, 1987).

Prosedur penimbangan bayi dan balita adalah sebagai berikut :

a. Pendaftaran Balita

Balita didaftar dalam pencatatan Balita. Bila anak sudah punya KMS, berarti

bulan lalu anak sudah ditimbang, KMS-nya diminta. Namanya dicatat pada secarik

(10)

kertas, diselipkan di KMS. Kemudian, ibu balita diminta membawa anaknya menuju

ke tempat penimbangan.

Bila anak belum punya KMS, berarti ia baru bulan ini ikut penimbangan.

Ambil KMS baru, isi kolomnya secara lengkap, nama anak dicatat pada secarik

kertas. Secarik kertas ini diselipkan di KMS, kemudian ibu balita diminta membawa

anaknya ke tempat penimbangan.

b. Penimbangan Balita

1) Dacin sudah siap, angka pada dacin harus dimulai dari nol, kemudian anak

ditimbang

2) Hasil penimbangan berat anak dicatat pada secarik kertas, selipkan kertas ini

kedalam KMS.

3) Selesai ditimbang, ibu dan anaknya dipersilahkan menuju ke kegiatan 3 untuk

dicatat.

c. Pencatatan

1) Buka KMS balita yang bersangkutan

2) Pindahkan hasil penimbangan dari secarik kertas ke KMS-nya dengan

ketentuan:

a. Pada penimbangan pertama, isilah semua kolom yang tersedia pada KMS

b. Bila ada kartu kelahiran, catatlah bulan lahir anak dari kartu tersebut

c. Bila tidak ada kartu kelahiran tetapi ibu ingat, catatlah bulan lahir anak sesuai

dengan ingatan ibu.

(11)

d. Bila ibu tidak ingat semua dan hanya tahu umur anaknya sekarang, perkirakan

bulan lahir anak dan catat.

e. Cantumkan bulan lahir anak pada kolom

f. Bulan lahir Agustus 2004, maka cantumkan bulan Agustus 2004 pada kolom.

g. Kemudian isilah semua kolom bulan secara berurutan

h. Setelah anak ditimbang, tulislah TITIK berat badannya pada TITIK TEMU

GARIS TEGAK (sesuai dengan bulan penimbangan) dengan GARIS DATAR

(sesuai hasil penimbangan dalam kilogram).

Contoh : Budi dalam penimbangan bulan Mei berat badannya 7.5 kg.Pada

penimbangan selanjutnya Budi pada bulan Juni beratnya menjadi 7.8 kg

sedangkan, bulan Mei sebelumnya berat Budi 7,5 kg maka kedua TITIK

dihubungkan dengan garis. Pada penimbangan selanjutnya, dalam bulan Juli,

Budi tidak hadir untuk ditimbang, kemudian pada bulan Agustus, Budi

ditimbang. Hasil timbangan berat badannya adalah 7,9 kg. Maka titik berat

badan bulan Juni dan Agustus JANGAN DIHUBUNGKAN.

3) Penentuan Status Pertumbuhan

i.

Penyuluhan

Jika ada tenaga kesehatan Puskesmas dilakukan pemeriksaan kesehatan,

imunisasi dan deteksi dini tumbuh kembang. Apabila ditemukan kelainan,

segera dirujuk ke Puskesmas.

(12)

2. Keluarga Berencana (KB)

Pelayanan KB di Posyandu yang dapat diselenggarakan oleh kader adalah

pemberian kondom dan pemberian pil ulangan. Jika ada tenaga kesehatan Puskesmas

dilakukan suntikan KB, dan konseling KB. Apabila tersedia ruangan dan peralatan

yang menunjang dilakukan pemasangan IUD (Depkes RI, 2006).

3. Imunisasi

Pelayanan imunisasi di Posyandu hanya dilaksanakan apabila ada petugas

Puskesmas. Jenis imunisasi yang diberikan disesuaikan dengan program, baik

terhadap bayi dan balita maupun terhadap ibu hamil (Depkes RI, 2006).

Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten.Anak yang

diimunisasi berarti diberikan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu, dalam

imunologi, kuman atau racun kuman (toksin) disebut sebagai antigen. Imunisasi

merupakan upaya pemberian ketahanan tubuh yang dibentuk melalui vaksinasi.

Tujuan imunisasi adalah untuk mencegah penyakit dan kematian Balita yang

disebabkan oleh wabah yang sering berjangkit. Penyakit-penyakit menular yang dapat

dicegah dengan imunisasi adalah tuberculosis, difteri, batuk rejan (pertusis), tetanus

campak, polio dan hepatitis B. Penyakit ini bisa dicegah bila anak diberi imunisasi

sejak umur 2 bulan (Depkes RI, 1990).

Menurut Program Departemen Kesehatan RI (1996), pemberian imunisasi

yang lengkap kepada balita yaitu vaksin BCG 1 kali, DPT 3 kali, polio 4 kali, campak

1 kali dan Hepatitis B 3 kali.

(13)

Tabel 2.1 Jadwal Pemberian Imunisasi yang Wajib di Indonesia (Program

Pengembangan Imunisasi

Jenis Imunisasi

Frekuensi

Jadwal Pemberian

Usia

BCG

DPT

Polio

Campak

Hepatitis B

1x

3x

4x

1x

3x

-

4 minggu

4 minggu

-

1 dan 6 bulan dari

suntikan pertama

0-11 bulan

2-11 bulan

0-11 bulan

9-11 bulan

0-11 bulan

Sumber : Depkes RI, 1996

4. Gizi

Pelayanan gizi di Posyandu dilakukan oleh kader. Sasarannya adalah bayi,

balita, ibu hamil dan WUS. Jenis pelayanan yang diberikan meliputi penimbangan

berat badan, deteksi dini gangguan pertumbuhan, penyuluhan gizi, pemberian PMT,

pemberian vitamin A dan pemberian sirup Fe. Khusus untuk ibu hamil dan ibu nifas

ditambah dengan pemberian tablet besi serta kapsul Yodium untuk yang bertempat

tinggal di daerah gondok endemik. Apabila setelah 2 kali penimbangan tidak ada

kenaikan berat badan, segera dirujuk ke Puskesmas.

Pemberian tablet besi pada ibu hamil dapat dibedakan menjadi Fe 1 yaitu

yang mendapat 30 tablet atau 1 bungkus dan Fe 3 mendapat 90 tablet atau 3 bungkus

selama masa kehamilan. Cakupan Fe 1 pada tahun 1998 secara nasional adalah

75,49% sedangkan cakupan Fe 3 nasional adalah 64,85%. Bila dilihat dari tahun 1995

sampai dengan tahun 1998 terlihat adanya kenaikan cakupan baik untuk Fe maupun

Fe 3 (Depkes RI, 1999).

(14)

Vitamin A merupakan zat gizi yang penting bagi manusia, karena zat gizi ini

tidak dapat dibuat oleh tubuh, sehingga harus dipenuhi dan luar tubuh.

Departemen Kesehatan telah menjalankan usaha pencegahan dan pengobatan

khususnya untuk melindungi balita dengan cara memberikan kapsul vitamin A dosis

tinggi secara periodik yaitu masing-masing satu kali bagi bayi berumur 6-11 bulan

sebanyak 1 kapsul (berwarna biru) berisi vitamin A 100000 SI dan sebanyak 1 kapsul

(berwarna merah) yang berisi vitamin A 200000 SI pada Balita usia 12-59 bulan

setiap 6 bulan sekali.

Makanan tambahan adalah makanan yang diberikan kepada seseorang untuk

membantu mencukupi kebutuhannya akan gizi agar dapat memenuhi fungsinya.

Makanan tambahan harus mengandung zat gizi yang perlu diberikan dan bermutu

baik (Depkes, 1998/1999).

Tujuan pemberian makanan tambahan ini adalah sebagai komplemen terhadap

ASI agar anak memperoleh cukup energi, protein dan zat-zat gizi lain (vitamin dan

mineral) untuk tumbuh dan berkembang secara normal.

Ada dua jenis PMT, yaitu :

a. PMT Pemulihan

Ciri-cirinya :

1) Sebagai sarana pemulihan (kuratif dan rehabilitatif), merupakan suatu bentuk

kegiatan pemberian zat gizi berupa makanan dari luar keluarga.

2) Sebagai sarana pemulihan bertujuan memperbaiki keadaan gizi golongan rawan

gizi yang menderita kekurangan gizi.

(15)

3) Sebagai sarana pemulihan dilaksanakan bersamaan dengan motivasi ke arah

peningkatan keadaan gizi secara swadaya oleh masyarakat dan keluarga.

4) Sebagai sarana pemulihan hendaknya benar-benar sebagai penambahan dan tidak

mengurangi jumlah makanan yang dimakan setiap hari dirumah.

b. PMT Penyuluhan

Ciri-cirinya :

1) Sebagai sarana penyuluhan, salah satu cara penyuluhan gizi khususnya untuk

meningkatkan gizi anak balita, ibu hamil dan ibu menyusui.

2) Sebagai sarana penyuluhan bertujuan memberikan penyuluhan dan menumbuhkan

kesadaran masyarakat kearah perbaikan gizi.

c. Penyuluhan Gizi

Penyuluhan gizi adalah penyampaian pesan-pesan gizi pada masyarakat yang

dapat dilakukan di Posyandu. Penyuluhan gizi ini bertujuan :

1) Meningkatkan pemahaman dan kesadaran keluarga akan pentingnya gizi bagi

kesehatan dan kesejahteraan keluarga.

2) Meningkatkan kesehatan dan upaya keluarga dalam menanggulangi masalah gizi

di lingkungan masing-masing.

Kegiatan yang dilaksanakan dalam penyuluhan gizi adalah :

a. Kegiatan penyuluhan gizi secara teratur dilaksanakan di Posyandu oleh kader

pada ibu-ibu balita, ibu hamil, ibu menyusui dan sasaran lainnya yang

menimbangkan anaknya dengan bimbingan petugas gizi dan petugas lain.

(16)

b. Kegiatan penyuluhan gizi dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan

kelompok dalam setiap kesempatan pertemuan didesa, antara lain Bina Keluarga

Balita (BKB), Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

5. Pencegahan dan Penanggulangan Diare

Pencegahan diare di Posyandu dilakukan antara lain dengan penyuluhan

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Penanggulangan diare di Posyandu

dilakukan antara lain penyuluhan, pemberian larutan gula garam yang dapat dibuat

sendiri oleh masyarakat atau pemberian Oralit yang disediakan.

2.2.2 Kegiatan Pengembangan / Tambahan

Dalam keadaan tertentu masyarakat dapat menambah kegiatan Posyandu

dengan kegiatan baru, di samping 5 kegiatan utama yang telah ditetapkan. Kegiatan

baru tersebut misalnya; perbaikan kesehatan lingkungan, pemberantasan penyakit

menular, dan berbagai program pembangunan masyarakat desa lainnya. Posyandu

yang seperti ini disebut dengan nama Posyandu Plus.

Penambahan kegiatan baru sebaiknya dilakukan apabila 5 kegiatan utama

telah dilaksanakan dengan baik dalam arti cakupannya di atas 50%, serta tersedia

sumber daya yang mendukung. Penetapan kegiatan baru harus mendapat dukungan

dari seluruh masyarakat yang tercermin dari hasil Survey Mawas Diri (SMD) dan

disepakati bersama melalui forum Musyawarah Masyarakat Desa (MMD). Pada saat

(17)

ini telah dikenal beberapa kegiatan tambahan Posyandu yang telah diselenggarakan

antara lain :

1. Bina Keluarga Balita (BKB)

2. Kelompok Peminat Kesehatan Ibu dan Anak (KP-KIA)

3. Penemuan dini dan pengamatan penyakit potensial Kejadian Luar Biasa (KLB),

misalnya : ISPA, DBD, gizi buruk, polio, campak, difteri, pertusis, tetanus

neonatorum.

4. Pengembangan Anak Usia Dini (PAUD).

5. Usaha Kesehatan Gizi Masyarakat Desa (UKGMD).

6. Penyediaan air bersih dan penyehatan lingkungan pemukiman (PAB-PLP).

7. Program diversifikasi tanaman pangan dan pemanfaatan pekarangan, melalui

Taman Obat Keluarga (TOGA).

8. Desa Siaga

9. Pos Malaria Desa (Posmaldes)

10. Kegiatan ekonomi produktif, seperti : Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga

(UP2K), usaha simpan pinjam.

(18)

2.3 Cakupan Program Posyandu

Upaya untuk menurunkan jumlah kekurangan gizi dan protein di Posyandu

yakni dengan adanya kegiatan pemantauan pertumbuhan anak melalui penimbangan

Berat Badan ”anak sehat bertambah umur bertambah berat badan”.

Untuk melihat keberhasilan kegiatan penimbangan di Posyandu ini dilakukan

dengan analisa semua balita yang ada di wilayah kerja Posyandu, semua balita yang

berkunjung ke Posyandu telah mempunyai KMS, semua balita yang berkunjung

ke Posyandu dan ditimbang di Posyandu dan timbangannya naik, menurut indikator

persentase masing-masing diberi target 80% (Depkes RI, 2000), indikator tersebut

adalah sebagai berikut :

a. Hasil liputan

Dapat dihitung dari jumlah balita yang terdaftar di Posyandu dan mempunyai

KMS.

b. Tingkat partisipasi masyarakat

Diperoleh dengan cara membagi angka jumlah balita yang ditimbang pada waktu

itu dengan jumlah seluruh balita yang ada di Posyandu.

c. Tingkat kelangsungan penimbangan

Dihitung dari jumlah balita yang ditimbang pada bulan itu, dibagi dengan jumlah

balita yang terdaftar dan mempunyai KMS.

d. Hasil penimbangan

Diperoleh dengan cara membagi jumlah balita yang naik timbangannya, dengan

jumlah seluruh balita yang ditimbang pada bulan tersebut.

(19)

e. Hasil pencapaian program

Dihitung dari jumlah balita yang baik berat badannya, dibagi dengan jumlah

seluruh balita yang ada di Posyandu.

2.4 Telaah Kemandirian Posyandu

Untuk melakukan telaah kemandirian ini, dikembangkan seperangkat

indikator yang digunakan sebagai penyaring atau penentu tingkat kemandirian

Posyandu berdasarkan strata Posyandu yaitu Pratama, Madya, Purnama, dan Mandiri.

Adapun kriteria yang dilihat dalam tingkat kemandirian Posyandu yaitu :

(Depkes RI, 1998)

1. Frekuensi penimbangan per tahun

Seharusnya Posyandu menyelenggarakan kegiatan setiap bulan, jadi bila teratur

akan ada 12 kali penimbangan setiap tahun. Dalam kenyataannya tidak semua

Posyandu dapat berfungsi setiap bulan, sehingga frekuensinya kurang dari 12 kali

setahun. Untuk ini diambil batasan 8 kali. Posyandu yang frekuensinya sudah 8

kali atau lebih, dianggap sudah cukup mapan.

Frekuensi penimbangan yang dipadukan dengan cakupan hasil program gizi

di Posyandu adalah :

a. Cakupan program (K/S)

Jumlah balita yang memiliki KMS dibagi dengan jumlah balita yang ada

diwilayah Posyandu dan kemudian dikali 100%. Persentase K/S disini

(20)

menggambarkan berapa jumlah balita diwilayah tersebut yang memiliki KMS

dan berapa besar cakupan program didaerah tersebut telah tercapai.

b. Cakupan partisipasi masyarakat (D/S)

Jumlah balita yang ditimbang di Posyandu dibagi dengan jumlah balita yang

ada diwilayah Posyandu kemudian dikalikan 100%. Persentase D/S

menggambarkan berapa besar jumlah partisipasi masyarakat didaerah tersebut

yang telah dicapai.

c. Cakupan kelangsungan penimbangan (D/K)

Jumlah balita yang ditimbang di Posyandu dibagi dengan jumlah balita yang

telah memiliki KMS dikalikan 100%.

d. Cakupan hasil penimbangan (N/D)

Rata-rata jumlah balita yang naik berat badan dibagi dengan jumlah balita

yang ditimbang di Posyandu. Persentase ini menggambarkan persentase berat

badan balita yang naik.

2. Rata-rata jumlah kader tugas pada hari H Posyandu

Jumlah kader yang bertugas pada hari H Posyandu dapat dijadikan indikasi lancar

tidaknya Posyandu. Hari H merupakan puncak kegiatan Posyandu. Oleh karena

itu banyaknya kader yang bertugas pada hari itu amat menentukan kelancaran

Posyandu. Dari pengalaman selama ini menunjukkan bahwa kegiatan Posyandu

bisa tertangani dengan baik bila jumlah kader 5 orang atau lebih. Bila kurang dari

5 orang, biasanya kader kewalahan melayani sasaran yang datang ke Posyandu.

(21)

3. Cakupan

Cakupan dapat dijadikan sebagai tolak ukur kegiatan serta masyarakat dan tokoh

masyarakat dalam menggerakkan masyarakat setempat untuk memanfaatkan

Posyandu, dianggap baik bila dapat mencapai 50% atau lebih, sedangkan bila

kurang dari 50% dapat dikatakan bahwa Posyandu ini belum mantap.

4. Cakupan imunisasi

Cakupan imunisasi dihitung secara kumulatif selama satu tahun. Cakupan

kumulatif dianggap baik bila mencapai 50% keatas, sedangkan bila kurang dari

50% dianggap Posyandu belum mantap.

5. Cakupan ibu hamil

Cakupan pemeriksaan ibu hamil juga dihitung secaraa kumulatif selama satu

tahun. Batas mantap tidaknya Posyandu digunakan angka yaitu 50%.

6. Cakupan KB

Cakupan peserta KB juga dihitung secara kumulatif selama satu tahun.

Pencapaian 50% keatas dikatakan mantap, sedangkan kurang dari 50% berarti

belum mantap.

7. Program tambahan

Posyandu pada mulanya melaksanakan 5 program utama yaitu KB, KIA, Gizi,

imunisasi dan penanggulangan diare.

(22)

Strata Posyandu dibedakan atas 4 yaitu :

1. Posyandu Pratama (warna merah)

Posyandu tingkat pratama adalah Posyandu yang masih belum mantap,

kegiatannya belum bisa rutin tiap bulan dan kader aktifnya terbatas.

2. Posyandu Madya (warna kuning)

Posyandu pada tingkat madya sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8

kali pertahun, dengan rata-rata jumlah kader tugas 5 orang atau lebih. Akan tetapi

cakupan utamanya (KB, KIA, Gizi dan Imunisasi) masih rendah, yaitu < 50%.

3. Posyandu Purnama (warna hijau)

Posyandu pada tingkat purnama adalah Posyandu yang frekuensinya lebih dari 8

kali pertahun, rata-rata jumlah kader tugas 5 orang atau lebih dan cakupan 5

progam utamanya (KB, KIA, Gizi dan Imunisasi) > 50%. Sudah ada program,

taambahan dan dana sehat yang masih sederhana.

4. Posyandu Mandiri (warna biru)

Posyandu ini berarti sudah dapat melakukan kegiatan secara teratur, cakupan 5

program utama sudah bagus, ada program tambahan dan dana sehat telah

menjangkau > 50% KK.

2.5 Kader Posyandu

Kader Posyandu adalah pengurus Posyandu dari anggota masyarakat yang

bersedia, mampu dan memiliki waktu untuk menyelenggarakan kegiatan Posyandu.

Kader Posyandu menyelenggarakan kegiatan Posyandu secara sukarela. Kriteria

kader Posyandu antara lain :

(23)

a. Diutamakan berasal dari anggota masyarakat setempat

b. Dapat membaca dan menulis huruf latin

c. Mempunyai jiwa pelopor, pembaharu dan penggerak masyarakat.

d. Bersedia bekerja secara sukarela, memiliki kemampuan dan waktu luang.

Dalam keadaan tertentu, terutama di daerah perkotaan, karena kesibukan yang

dimiliki, tidak mudah mencari anggota masyarakat yang bersedia aktif secara

sukarela sebagai kader Posyandu. Untuk mengatasinya kedudukan dan peranan kader

Posyandu dapat digantikan oleh tenaga profesional terlatih yang bekerja secara

purna/paruh waktu sebagai kader Posyandu dengan mendapat imbalan khusus dari

dana yang dikumpulkan oleh dan dari masyarakat.

Kriteria tenaga profesional antara lain sebagai berikut :

a. Diutamakan berasal dari anggota masyarakat setempat

b. Berpendidikan sekurang-kurangnya SMP

c. Bersedia dan mau bekerja secara purna/paruh waktu untuk mengelola Posyandu

2.5.1 Prinsip-prinsip Kader

a. Kader yang bertugas di Posyandu harus mampu mempengaruhi masyarakat

terutama ibu-ibu yang mempunyai balita agar membawa balita di hari bukan

Posyandu.

b. Kader yang bertugas di Posyandu harus bisa mengajak ibu hamil dan yang

baru menikah atau Pasangan Usia Subur (PUS) agar bisa mendatangi

Posyandu untuk diberikan vitamin zat besi dan kontrasepsi KB bagi pasangan

usia subur dan penyuluhan kesehatan.

(24)

c. Kader harus bisa meningkatkan pengetahuan tentang pentingnya hidup sehat

bagi masyarakat yang belum mengerti tentang kesehatan.

Prinsip kader yang telah berumah tangga, mempunyai pekerjaan selain sebagai

kader Posyandu menyebabkan terbatasnya kesempatan untuk melaksanakan tugasnya

sebagai kader, permasalahan kader secara ekonomi misalnya penghasilan keluarga

yang tidak mencukupi serta tidak adanya insentif yang diterimanya sebagai kader.

Dari pihak Pemerintah Daerah (Dinas Kesehatan dan Puskesmas). Pelaksanaan

tingkat Posyandu tingkat Kabupaten maupun Kecamatan belum pernah dilakukan

evaluasi tentang pelaksanaan kegiatan Posyandu oleh petugas kesehatan, serta belum

adanya umpan balik yang diberikan sebagai hasil evaluasi pelaksanaan kegiatan

Posyandu. Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan pelayanan Posyandu

kemungkinan terkait dengan aspek hubungan karakteristik kader dengan pelaksanaan

Posyandu.

2.5.2 Tugas Pokok Kader

a. Menyiapkan alat dan bahan yaitu : alat penimbangan bayi dan balita, Kartu

Menuju Sehat (KMS) , obat-obatan yang dibutuhklan (Tablet besi, Vitamin A,

Oralit dan lain-lain sesuai kebutuhan), bahan/materi penyuluhan.

b. Mengundang dan menggerakkan masyarakat yaitu : Memberitahu ibu-ibu

untuk datang ke Posyandu, serta melakukan pendekatan tokoh yang bisa

membantu memotivasi masyarakat untuk datang ke Posyandu.

(25)

c. Menghubungi POKJA posyandu yaitu menyampaikan rencana kegiatan

kepada kantor desa/kelurahan dan meminta mereka untuk memastikan apakah

petugas sektor bisa hadir pada hari buka posyandu.

d. Melaksanakan pembagian tugas yaitu : Menentukan pembagian tugas diantara

kader Posyandu baik untuk persiapan maupun pelaksanaan kegiatan.

2.5.3 Karakteristik Individu

Menurut Kurt Lewin (1951) dalam Brigham (1991), merumuskan

karakteristik seseorang dalam pelaksanaan posyandu antara lain :

1. Fungsi karakteristik individu

2. Lingkungan

3. Karakteristik individu meliputi :

a. Motif nilai

b. Sifat kepribadian

c. Pengetahuan yang saling berinteraksi satu sama lain

d. Umur

Umur adalah usia seseorang yang dihitung sejak lahir sampai dengan batas

akhir masa hidupnya. Faktor umur menentukan kemampuan seseorang untuk

bekerja, termasuk bagaimana ia meresponden stimulus yang dilancarkan

individu/pihak lain (Sofiah, 2008).

(26)

e. Status Perkawinan

Status perkawinan adalah suatu bentuk perkawinan antara laki-laki dan

perempuan secara syah dipandang dari segi agama pernikahan yang

dibuktikan dengan adanya surat nikah atau terdaftar di kantor agama.

Karyawan yang sudah menikah dengan karyawan yang belum/tidak menikah

akan berbeda dalam memaknai suatu pekerjaan. Karyawan yang sudah

menikah menilai pekerjaan sangat penting karena dia sudah memiliki

tanggung jawab terhadap keluarga (Sofian, 2008). Studi Nurhayati (1997)

menyatakan bahwa kader yang telah menikah umumnya mempunyai motivasi

yang tinggi untuk menjadi kader, karena berkeinginan untuk menambah

penghasilan keluarga, namun status perkawinan juga dapat menjadi

penghambat dalam pekerjaan kader, misalnya kemungkinan adanya larangaan

dari suami membuat seorang kader mengabaikan pekerjaannya di Posyandu

Kader di Kelurahan Tegal Sari Mandala II Medan.

f. Pendidikan

Pendidikan adalah suatu jenjang pendidikan formal yang ditempuh seseorang

sampai mendapatkan sertifikat kelulusan/ijazah, baik itu pendidikan dasar,

menengah maupun pendidikan tinggi.

Studi Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (2005) menyatakan tingkat pendidikan

seorang kader posyandu berpengaruh terhadap kemampuan dan

keterampilannya dalam melaksanakan kegiatan posyandu, dimana kader yang

berpendidikan tinggi kemungkinan memiliki pengetahuan yang tinggi.

(27)

g. Pekerjaan

Pekerjaan adalah kegiatan atau aktivitas utama yang dilakukan secara rutin

sebagai upaya untuk mendapatkan penghasilan untuk membiayai keluarga

serta menunjang kebutuhan rumah tangga.

Studi Trawati (2000) menyimpulkan seorang kader posyandu di Propinsi Jawa

Barat tidak mempunyai pekerjaan tetap selain kader, karena kader Posyandu

yang mempunyaai pekerjaan tetap kemungkinan pekerjaan dan tanggung

jawabnya sebagai kader akan terabaikan karena kesibukan pekerjaannya.

h. Penghasilan

Penghasilan adalah jumlah uang yang diperoleh seseorang sebagai imbalan

dari pekerjaan atau tugas yang dilaksanakannya. Kader Posyandu yang

mempunyai penghasilan tetap dan cukup untuk menghidupi kebutuhan

keluarganyaa tentunya akan dapat melaksanakan pekerjaan sebagai kader

Posyandu tanpa terbebani dengan kondisi kehidupan ekonomi keluarganya.

Sesuai dengan pedoman penyelenggaraan Posyandu (Depkes RI dan Depdagri

RI, 2006) bahwa kader Posyandu adalah orang yang bersedia dan sanggup

melaksanakan kegiatan pelayanan di posyandu pada hari buka maaupun tidak

buka Posyandu secara sukarela, artinya seorang kader Posyandu tanpa pamrih

dalam melaksanakan tugasnya.

Studi Posdaya (2005) menyatakan gerakan pengembangan posyandu dengan

kader-kadernya di pedesaan bekerja tanpa upah, harus mengeluarkan dana

dari kantong sendiri karena program pembangunan dimasa lalu banyak yang

(28)

dilakukan dengan sistem gotong royong yaang sebagian kecil saja

anggarannya berasal dari pemerintah.

i. Reward Kader

Reward adalah semua hal yang disediakan organisasi untuk memenuhi satu

atau lebih kebutuhan individual. Ada 2 (dua) jenis reward yaitu : (a) Imbalan

Ekstrinsik (Extrinsic reward), yaitu imbalan yang berasal dari pekerjaan.

Imbalan tersebut mencakup : uang, status, promosi, dan rasa hormat. Imbalan

uang merupakan imbalan ekstrinsik yang utama dan secara umum diakui

bahwa uang adalah pendorong utama, namun jika karyawan tidak melihat

adanya hubungan antara prestasi dengan kenaikan yang pantas, uang tidak

akan menjadi motivator yang kuat. (b). Imbalan Intrinsik (Intrinsic reward),

yaitu imbalan yang merupakan bagian dari pekerjaan itu sendiri, imbalan

tersebut mencakup rasa penyelesaian, prestasi, otonomi dan pertumbuhan

(Suwarto, 1999).

Studi Yuriastianti dan Sihombing (2000) menyatakan banyak kader posyandu

mengeluh, perlu identifikasi khusus bagi kader yang aktif diantara sekian

banyak kader lainnya sebagai penghargaan atas partisipasi dan kerelaannya

ikut berpartisipasi dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat.

Penghargaan ini dapat diwujudkan dalam bentuk pelayanan dan pengobatan

cuma-cuma bagi para kader dan keluarga mereka.

Meskipun dalam pedoman penyelenggaraan posyandu (Depkes dan Depdagri

RI, 2006) disebutkan bahwa seorang kader merupakan tenaga yang bekerja

(29)

secara sukarela dan tanpa pamrih, namun pada wilayah tertentu yang

kehidupan sosial ekonomi masyarakatnya sudah baik, biasanya kader

Posyandu diupayakan untuk mendapatkan penghargaan (reward) dari

kesediaannya membantu program peningkatan derajat kesehatan masyarakat

melalui pelayanan di Posyandu.

j. Lama Menjadi Kader

Kader yang sudah lama bertugas diharapkan semakin baik pengetahuannya

dalam melaksanakan tugas-tugasnya, tetapi jika tidak didukung dengan

adanya pembinaan atau latihan kader akan terjadi sebaliknya yaitu kader

semakin menurun kinerjanya dalam penyelenggaraan Posyandu. Karena itu

agar diusahakan kader dapat bertahan dan tidak gonta-ganti dengan memberi

dukungan baik moril maupun materi dari semua pihak. Untuk membantu

kader dan pengalamannya masih kurang adalah dengan adanya pembinaan

dari petugas secara rutin setiap kali pelaksanaan Posyandu. Berdasarkan

penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan Posyandu antara lain menurut

Anita Syarifa (2003), menyimpulkan bahwa kader Posyandu di Kecamatan

Dewantara Kabupaten Aceh Utara yang aktif mempunyai lama bekerja

sebagai kader antara 5-10 tahun. Sedangkan penelitian Helen Sagala (2005),

menyimpulkan bahwa kader yang sudah bertugas selama 6-9 tahun dan lebih

dari 10 tahun ada kecenderungan semakin lama bertugas sebagai kader maka

(30)

semakin teliti dalam melakukan penimbangan. Unsur-unsur yang duduk

dalam pengorganisasian Pokjanal Posyandu/Pokja Posyandu tidak terbatas

pada komponen instansi pemerintah saja, tetapi juga dapat melibatkan

unsur-unsur lain seperti Lembaga Profesi, Perguruan Tinggi, LSM, swasta/dunia

usaha dan sebagainya (Depkes RI, 2006).

2.6 Landasan Teori

Adapun landasan teori dalam penelitian ini berdasarkan Kurt Lewin

dalam Brigham (1991) adalah karakteristik individu merupakan salah satu faktor

yang mempengaruhi seseorang dalam pelaksanaan Posyandu berupa : umur, status

perkawinan, pekerjaan, pendidikan, penghasilan, reward kader, lama menjadi kader.

Pelaksanaan penimbangan balita di Posyandu adalah kegiatan yang dilakukan

oleh kader dalam penyelenggaraan Posyandu dengan salah satu kegiatan utama

berupa penimbangan balita yang dilakukan berdasarkan Pedoman Umum Pengelolaan

Posyandu oleh kader dalam mencapai cakupan target kegiatan Posyandu (Depkes RI,

2006).

Kader posyandu sebagai penyelenggara kegiatan posyandu bertujuan

mengurangi angka kesakitan dan kematian bayi dan balita melalui kegiatan

penimbangan balita. Menurut Gibson Kurt Lewin (1951) dalam Brigham (1991),

menyebutkan karakteristik kader berpengaruh terhadap penimbangan balita di

posyandu.

(31)

2.6 Kerangka Konsep

Individu dengan karakter tersendiri terhadap organisasi memiliki karakter

tertentu yang saling menyesuaikan. Karakteristik individu mencakup umur, status

perkawinan, pekerjaan, pendidikan, penghasilan keluarga, reward, dan masa kerja

dalam organisasi (Robbins, 2003).

Rendahnya cakupan pelaksanaan penimbangan balita di posyandu

Kecamatan Kembang Tanjung Kabupaten Pidie Nanggroe Aceh Darussalam,

akibat faktor umur, rendahnya pendidikan, jenis pekerjaan yang ditekuni, lama

menjadi kader, status perkawinan dan penghasilan keluarga sehingga dalam

pelaksanaan tugas belum terlaksana secara optimal yang berdampak terhadap

cakupan penimbangan balita belum tercapai. Selain itu rendahnya pemberian

reward kader ditandai dengan rendahnya keberadaan kader di posyandu.

Variabel

Bebas

Variabel

Terikat

Penimbangan Balita

di Posyandu

Karakteristik Kader

Posyandu

Umur

Status Perkawinan

Pekerjaan

Pendidikan

Penghasilan Keluarga

Reward Kader

Lama menjadi Kader

Gambar

Tabel 2.1   Jadwal  Pemberian  Imunisasi  yang Wajib di Indonesia (Program  Pengembangan Imunisasi
Gambar 2.1. Kerangka Konsep

Referensi

Dokumen terkait

Pada masa itu, di kerajaan Aceh telah berlaku hukum Islam yang sesuai dengan agama yang dianut oleh masyarakat Aceh sendiri.Hal tersebut dapat dilihat dengan adanya

Kerugian lain yang dapat dinilai maksudnya adalah kerugian non fisik yang dapat disetarakan dengan nilai uang, misalnya kerugian karena kehilangan usaha atau

sebagai reaksi atas perubahan yang terjadi pada diri remaja. Perkembangan kognitif. Berdasarkan teori Piaget mengenai perkembangan

Berdasarkan hasil pada penelitian yang dilakukan, dapat diketahui bahwa followers Instagram warunk upnormal tertarik dengan pemasaran konten yang mengedepankan konten

Penelitian tentang pola komunikasi organisasi di Balai Besar Meteorologi dan Geofisika (BBMG) Wilayah II Kampung Utan secara umum bertujuan untuk mengetahui pola komunikasi

Penelitian dilakukan dengan pendekatan Research and Development model Borg and Gall (1983). Penelitian ini merupakan penelitian tahun pertama Pada tahun pertama ini langkah

Pembukian Kualifikasi dilakukan oleh Direktur Utama/Pimpinan Perusahaan, atau Penerima kuasa dari Direktur Utama/ Pimpinan Perusahaan yang namanya tercantum dalam akte

[r]