ANALISIS FRAMING PEMBUBARAN FRONT PEMBELA ISLAM DI MEDIA BERITA ONLINE
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Sebagai Syarat Guna Memeroleh Gelar Sarjana Sosial Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI)
Oleh : Fina Idamatussilmi
NIM. 1701026059
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG 2021
ii
NOTA PEMBIMBING Lamp. : 5 (lima) eksemplar
Hal : Persetujuan Naskah Skripsi
Kepada Yth.
Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang
Di Semarang Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Setelah membaca, mengadakan koreksi dan melakukan perbaikan sebagaimana mestinya, maka kami menyatakan bahwa skripsi saudara : Nama : Fina Idamatussilmi
NIM : 1701026059
Fakultas : Dakwah dan Komunikasi
Jurusan/ Konsentrasi : Komunikasi dan Penyiaran Islam/ Penerbitan Judul : Analisis Framing Pembubaran Front Pembela
Islam di Media Berita Online
Dengan ini kami setujui, dan mohon agar segera diujikan.
Demikian, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Semarang, 24 September 2021 Pembimbing,
Bidang Substansi Materi &
Bidang Metodologi dan Tata Tulis
Dr. Hj. Umul Baroroh, M.Ag NIP. 19660508 199101 2 001
iii SKRIPSI
ANALISIS FRAMING PEMBUBARAN FRONT PEMBELA ISLAM DI MEDIA BERITA ONLINE
Disusun Oleh:
Nama : Fina Idamatussilmi NIM : 1701026059
telah dipertahankan di depan Dewan Penguji
pada tanggal 8 Oktober 2021 dan dinyatakan telah lulus memenuhi syarat guna memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)
Susunan Dewan Penguji
Ketua/ Penguji I Sekretaris/ Penguji II
Nilnan Ni’mah, M.S.I. Mustofa Hilmi, M.Sos
NIP. 19800202 200901 2 003 NIP. 19920220 201903 1 010
Penguji III Penguji IV
Dra. Hj. Amelia Rahmi, M.Pd Fitri, M.Sos
NIP. 19660209 199303 2 003 NIP. 19890507 201903 2 021 Mengetahui,
Pembimbing
Dra. Hj. Umul Baroroh, M.Ag NIP. 19660508 199101 2 001
Disahkan Oleh
Fakultas Dakwah dan Komunikasi Pada tanggal 8 Oktober 2021
Drs. Ilyas Supena, M.Ag NIP. 19720410 200112 1 003
iv
PERNYATAAN KEASLIAN
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Fina Idamatussilmi
NIM : 1701026059
Jurusan : Komunikasi dan Penyiaran Islam
Menyatakan bahwa skripsi yang berjudul:
Analisis Framing Pembubaran Front Pembela Islam di Media Berita Online
Secara keseluruhan adalah hasil penelitian/ karya saya sendiri, kecuali bagian tertentu yang dirujuk sumbernya.
Semarang, 24 September 2021 Pembuat Pernyataan
Fina Idamatussilmi NIM: 1701026059
v
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil ‘alamin, segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul
“Analisis Framing Pembubaran Front Pembela Islam di Media Berita Online”.
Sholawat beserta salam kepada Nabi Agung Muhammad SAW yang menjadi utusan Allah dan telah membawa manusia dari zaman kegelapan menuju zaman terang benderang. Terangnya zaman ditandai dengan semakin bertambahnya ilmu, karena ilmu adalah cahaya.
Penulis sangat bersyukur dengan selesainya penulisan skripsi ini, meski penulis sadari tidak dapat lepas dari kekurangan. Mulai dari tata tulis, substansi, maupun yang lainnya. Terlepas dari hal tersebut, skripsi ini telah penulis selesaikan dengan semaksimal mungkin, dengan bantuan dari berbagai pihak, berupa pikiran, waktu, serta do’a. Untuk itu, penulis sampaikan terimakasih kepada yang terhormat:
1. Prof. Dr. H. Imam Taufiq, M.Ag, selaku Rektor UIN Walisongo Semarang.
2. Dr. Ilyas Supena., M.Ag, selaku Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang.
3. H. M. Alfandi, M.Ag, selaku Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam.
4. Dr. Hj. Umul Baroroh, M.Ag, selaku dosen pembimbing, yang di tengah kesibukannya tetap meluangkan waktu untuk penulis, membimbing, dan mengingatkan hal-hal yang semestinya dilakukan penulis.
5. Dr. H.. Najahan Musyafak, M.A, selaku wali dosen yang selalu memberikan nasihat terbaiknya dan mengarahkan perkuliahan penulis beserta mahasiswa lain hingga selesai masa studi.
6. Bapak Ibu Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang, yang telah memberikan segudang ilmu kepada penulis sehingga menjadi bekal dalam penulisan skripsi ini.
7. Bapak Ahmad Khozin dan Ibu Siti Mardiyah, sebagai orang tua penulis yang tak henti-hentinya menengadahkan tangan untuk memohon kepada yang kuasa agar putra-putrinya diberikan kemudahan dalam menuntut ilmu.
vi
8. Kakak Nur Lailatul Fadhilah dan Adik Miftah Alfa Khoir, yang tak pernah lupa menyisipkan nama penulis di dalam do’a-do’anya.
9. Dr. Ky. H. Abdul Muhayya, M.A beserta ibu dan keluarga, selaku pengasuh Ma’had Ulil Albab. Terimakasih telah menjadi orang tua penulis selama di Semarang, darinya penulis belajar banyak hal, salah satunya tentang ikhlasnya sebuah perjuangan.
10. Keluarga besar Ma’had Ulil Albab yang telah membersamai perjuangan penulis. Terimakasih sudah menjadi teman untuk tumbuh dan mengamalkan ilmu.
11. Keluarga besar Bidikmisi Community Walisongo, Library Student Community (LSC) Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Forum Literasi Media, dan organisasi lain yang telah memberi tempat untuk penulis mengenal arti kebersamaan dan kerjasama tim.
12. Teman-teman dan sahabat penulis. Terimakasih sudah mendengar keluh kesah dan tidak pernah bosan memberikan semangat.
13. Semua pihak yang telah membantu penyelesaian studi maupun skripsi.
Sungguh, penulis tidak dapat membalas segala kebaikan pihak-pihak yang telah berkenan membantu selesainya masa studi dan skripsi ini. Semoga Allah senantiasa memberikan balasan yang terbaik. Besar harapan penulis, skripsi ini semoga dapat bermanfaat bagi penulis dan para pihak yang membaca. Aamiin.
Semarang, 24 September 2021
Fina Idamatussilmi NIM: 1701026059
vii
PERSEMBAHAN
Penelitian kecil berupa skripsi ini penulis persembahkan untuk:
1. Bapak Ahmad Khozin dan Ibu Siti Mardiyah, orang tua yang sangat mendukung penulis dalam menuntut ilmu.
2. Kakak Nur Lailatul Fadhilah, dan Adik Miftah Alfa Khoir, saudara kandung yang penulis sayangi dan yang menyayangi penulis.
3. Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang yang menjadi wadah penulis dalam menggali ilmu.
viii MOTTO
ۡيَش ْاوُه َر ۡكَت نَأ ٰٓ ىَسَع َو ۡۖۡمُكَّل ٞه ۡرُك َوُه َو ُلاَتِقۡلٱ ُمُكۡيَلَع َبِتُك ۡيَش ْاوُّب ِحُت نَأ ٰٓ ىَسَع َو ۡۖۡمُكَّل ٞرۡيَخ َوُه َو ا
ۡۚۡمُكَّل ٞ رَش َوُه َو ا
َنوُمَلۡعَت َلَ ۡمُتنَأ َو ُمَلۡعَي ُ َّللَّٱ َو ٢١٦
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui
(QS. Al-Baqarah: 216)
ix ABSTRAK
Fina Idamatussilmi (1701026059). Analisis Framing Pembubaran Front Pembela Islam di Media Berita Online. Ormas FPI resmi dibubarkan pemerintah pada 30 Desember 2020 melalui Surat Keputusan Bersama (SKB). Pembubaran tersebut menuai pro dan kontra dari berbagai pihak.
Hal ini diketahui dari judul pemberitaan di media berita online yang juga terkesan pro dan kontra. Republika dan Sindonews, merupakan dua media besar di Indonesia yang tidak luput memberitakan isu tersebut. Bahkan, dalam waktu dua hari saja, Republika sudah menayangkan 80 pemberitaan dan Sindonews sebanyak 112 pemberitaan. Kedua media tersebut memiliki latar belakang yang berbeda, Republika berhaluan Islam, sementara Sindonews merupakan portal berita umum. Sesuai latar belakang, rumusan masalah pada penelitian ini yaitu bagaimana framing pembubaran Front Pembela Islam di media berita online?
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui framing pembubaran Front Pembela Islam di media online Republika.co.id dan Sindonews.com.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode kualitatif deskriptif.
Pendekatan yang digunakan yaitu analisis framing. Model framing yang digunakan adalah model Robert Entmann. Dalam model ini, dijelaskan bahwa pembingkaian berita terdiri dari pendefinisian masalah (define problem), memperkirakan penyebab masalah (diagnose cause), membuat keputusan moral (make moral judgement), dan rekomendasi penyelesaian (treatment recommendation). Sumber data didapat dari data primer yang berasal dari empat pemberitaan di Republika dan empat pemberitaan di Sindonews.
Republika membingkai isu pembubaran FPI dengan mendukung keputusan pemerintah. Hal ini diketahui dari pemberitaan di Republika meskipun memiliki judul yang berbeda-beda, tetapi secara keseluruhan menyebutkan alasan pemerintah membubarkan FPI. Pada beberapa pemberitaan di Republika, menghadirkan pula narasumber dari pihak kontra pemerintah, namun tetap disertai alasan pemerintah membubarkan FPI.
Sindonews membingkai isu pembubaran FPI dengan tidak mendukung keputusan pemerintah. Hal ini diketahui dari setiap pemberitaan di Sindonews menyertakan saran kepada pemerintah. Pada beberapa pemberitaan di Sindonews mencantumkan narasumber dari pihak pro pemerintah, namun disertai saran kepada pemerintah. Saran yang disampaikan di antaranya pemerintah perlu memperhatikan peraturan yang berlaku dan menyarankan kepada pemerintah agar tidak hanya fokus kepada FPI namun segera meninjau lapangan terhadap ormas lain yang masih bertentangan dengan empat pilar kebangsaan.
Keywords: Framing, Front Pembela Islam, Media Berita Online, Republika, Sindonews.
x DAFTAR ISI
Halaman ANALISIS FRAMING PEMBUBARAN FRONT PEMBELA ISLAM DI MEDIA BERITA ONLINE ... I NOTA PEMBIMBING ... II HALAMAN PENGESAHAN ... III PERNYATAAN KEASLIAN ... IV KATA PENGANTAR ... V PERSEMBAHAN ... VII MOTTO ... VIII ABSTRAK ... IX DAFTAR ISI ... X DAFTAR TABEL ... XII DAFTAR GAMBAR ... XIII DAFTAR LAMPIRAN ... XIV
BAB I:PENDAHULUAN ... 15
A.Latar Belakang ... 15
B.Rumusan Masalah ... 18
C.Tujuan Penelitian ... 18
D.Manfaat Penelitian ... 18
E.Tinjauan Pustaka ... 19
F.Metode Penelitian ... 23
xi
G.Sistematika Penulisan Skripsi ... 28
BAB II FRAMING, FRONT PEMBELA ISLAM, DAN MEDIA BERITA ONLINE ... 29
A.Framing ... 29
B.Front Pembela Islam ... 36
C.Media Berita Online ... 38
BAB III GAMBARAN UMUM PEMBUBARAN FRONT PEMBELA ISLAM, REPUBLIKA.CO.ID, DAN SINDONEWS.COM ... 46
A.Pembubaran Front Pembela Islam (FPI) ... 46
B.Republika.co.id ... 47
C.Sindonews.com ... 51
BAB IV ANALISIS DATA PENELITIAN ... 57
A.Analisis Framing Pembubaran Front Pembela Islam di Republika.co.id ... 57
B.Analisis Framing Pembubaran Front Pembela Islam di Sindonews.com ... 68
BAB V PENUTUP ... 79
A.Kesimpulan ... 79
B.Saran ... 79
DAFTAR PUSTAKA ... 81
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... 97
xii
DAFTAR TABEL
Tabel 1. ... 26
Tabel 2 ... 41
Tabel 3 ... 49
Tabel 4 ... 54
Tabel 5 ... 57
Tabel 6 ... 60
Tabel 7 ... 62
Tabel 8 ... 64
Tabel 9 ... 66
Tabel 10 ... 68
Tabel 11 ... 70
Tabel 12 ... 71
Tabel 13 ... 74
Tabel 14 ... 76
xiii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 ... 47 Gambar 2 ... 51
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Pemberitaan Pertama Republika ... 84
Lampiran 2. Pemberitaan Kedua Republika ... 85
Lampiran 3. Pemberitaan Ketiga Republika ... 88
Lampiran 4. Pemberitaan Keempat Republika ... 89
Lampiran 5. Pemberitaan Pertama Sindonews ... 90
Lampiran 6. Pemberitaan Kedua Sindonews ... 90
Lampiran 7. Pemberitaan Ketiga Sindonews ... 93
Lampiran 8. Pemberitaan Keempat Sindonews ... 96
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
FPI merupakan organisasi masyarakat yang mengusung slogan Amar Ma’ruf Nahi Munkar (menegakkan yang benar dan mencegah perilaku buruk) sebagai ruh organisasinya. Selama 22 tahun eksistensinya, FPI banyak menjadi sorotan karena aksinya kerap menuai kontroversi.
Organisasi pimpinan Rizieq Shihab ini juga turut mewarnai panggung politik Tanah Air. FPI adalah salah satu organisasi massa Islam yang ada di Indonesia. Menganut pandangan Islam konservatif dan memiliki massa dalam jumlah banyak menjadikan FPI penggerak pada beberapa aksi umat Islam.
FPI dideklarasikan pada 17 Agustus 1998 di halaman Pondok Pesantren Al Um, Kampung Utan, Ciputat di Tangerang Selatan oleh Habib Rizieq Shihab, Habib Idrus Jamallulail, Kyai Misbach dan beberapa ulama lainnya serta disaksikan ratusan santri dari Jabodetabek. FPI didirikan dengan tujuan sebagai wadah kerja sama antara ulama dan umat dalam menegakkan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar, yakni menegakkan kebenaran dan melarang yang salah. Organisasi yang sudah eksis selama 22 tahun ini sering mendapat citra buruk di masyarakat karena dalam menjalankan misinya, banyak menggunakan cara kekerasan.
FPI dikenal dengan aksi-aksinya sejak tahun 1998, terutama yang dilakukan oleh para militernya yang disebut Laskar Pembela Islam. FPI pernah terlibat aksi penutupan klub malam, tempat pelacuran, penangkapan terhadap warga tertentu, dan konflik dengan organisasi Islam lainnya.
Namun, FPI juga mengambil peran dalam aksi kemanusiaan seperti pengiriman relawan ke daerah bencana tsunami di Aceh, pengiriman relawan dan logistik saat bencana gempa di Padang dan lain sebagainya.
FPI mulai diperhitungkan ketika ribuan anggotanya menduduki Balai Kota DKI Jakarta untuk menemui Gubernur Sutiyoso di pertengahan Desember 1999. Mereka menuntut agar semua tempat maksiat seperti klub
16
malam, diskotek, panti pijat, dan bar ditutup selama bulan puasa. Mei 2006, FPI berseteru dengan Gus Dur pada sebuah acara diskusi lintas agama di Purwakarta, Jawa Barat, hingga mantan presiden ini turun dari forum diskusi. Kontroversi besar yang melibatkan FPI terjadi pada peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2008. Anggota FPI menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKBB) di Silang Monas. FPI juga menggerakkan aksi demonstrasi besar pada 4 November 2016 yang dikenal dengan aksi 411 serta aksi pada 2 Desember 2016 yang dikenal sebagai aksi 212.
Pada 30 Desember 2020 warga Indonesia terutama penikmat berita dihebohkan dengan pemberitaan pembubaraan Front Pembela Islam (FPI).
Usai pembubaran organisasi kemasyarakatan tersebut, berbagai media massa baik cetak, elektronik, maupun online menayangkan berita mengenai pembubaran FPI.
Menurut Siswanto dalam artikelnya, pembubaran FPI resmi setelah ditandatanganinya Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Dalam Negeri, Menteri Hukum dan HAM, Menteri Komunikasi dan Informatika, Jaksa Agung, Kepala Badan Intelijen Negara, dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Nomor 220-4780 tahun 2020 nomor M.HH- 14.HH05.05 tahun 2020, nomor 690 tahun 2020, nomor 264 tahun 2020, nomor KB/3/XII 2020, nomor 320 tahun 2020 tentang larangan kegiatan penggunaan simbol dan atribut serta pemberhentian kegiatan Front Pembela Islam.
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD menyatakan pemerintah menghentikan kegiatan dan aktivitas Front Pembela Islam dalam bentuk apapun. Mahfud menyebut berdasarkan peraturan perundang-undangan dan sesuai putusan MK tertanggal 23 Desember 2014, pemerintah melarang aktivitas FPI dan akan menghentikan setiap kegiatan FPI.
Menyusul kabar pembekuan organisasi masyarakat (ormas) Front Pembela Islam (FPI), tagar #FPITerlarang pun jadi tren di Twitter
17
Indonesia, Rabu (30/12/2020). Berdasarkan pantauan Warta Ekonomi hingga pukul 17.23 WIB, terhimpun 27,9 ribu cuitan yang memuat tagar tersebut sehingga itu menjadi tren.
Pembubaran ormas tersebut menuai pro dan kontra dari berbagai pihak. Hal ini dilihat dari portal berita online yang menayangkan pemberitaan dengan judul yang terkesan pro dan kontra. Salah satu judul pemberitaan di Republika yaitu “Pembubaran FPI Dinilai Pengalihan Kasus Penembakan 6 Laskar”. Sedangkan pada Sindonews “Pemuda Muhammadiyah: Pembubaran FPI Memang Kewenangan Pemerintah”.
Adanya judul dalam pemberitaan mengenai pembubaran FPI yang beragam, membuat kontroversi di media berita online. Seakan-akan pemberitaan satu dan lainnya saling bersahutan dalam menanggapi kasus tersebut.
Perbedaan pendapat dalam kehidupan seyogyanya bisa disikapi dengan lebih tenang. Agama Islam adalah agama kasih sayang bagi seluruh alam. Bukan hanya untuk umatnya saja, Islam juga memberikan kenyamanan bagi pemeluk agama lain. Oleh sebab itu Islam juga dinamakan dengan Islam rahmatan lil ‘alamin. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 256:
ۡؤُي َو ِتوُغ َّطلٱِب ۡرُفۡكَي نَمَف ِۡۚ يَغۡلٱ َنِم ُدۡشُّرلٱ َنَّيَبَّت دَق ِۡۖنيِ دلٱ يِف َهاَرۡكِإ ٰٓ َلَ
ِة َو ۡرُعۡلٱِب َكَس ۡمَت ۡسٱ ِدَقَف ِ َّللَّٱِب ۢنِم
ٌميِلَع ٌعيِمَس ُ َّللَّٱ َو ۗاَهَل َماَصِفنٱ َلَ ىَقۡث ُوۡلٱ ٢٥٦
Artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam);
sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.
Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Pemberitaan pembubaran Front Pembela Islam (FPI) banyak diliput oleh media lokal sampai nasional. Hingga beberapa hari setelah pembubaran, media Indonesia masih diwarnai dengan pemberitaan pembubaran FPI. Meskipun menayangkan tema besar yang sama, namun masing-masing media memiliki “bumbu” tersendiri dalam meracik berita.
18
Media memiliki ideologi yang dijunjung dan menjadi pedoman dalam menulis maupun mempublikasikan berita. Antara satu media dengan media lain memiliki ideologi yang berbeda. Sejarah pendiri, agama, keyakinan, dan hal-hal lain menjadi semacam pegangan media dan wartawan dalam memberitakan berita. Sehingga setiap berita yang ditayangkan memiliki keberpihakan dan frame yang berbeda.
Media berita online yang menjadi objek penelitian kali ini yaitu Republika.co.id dan Sindonews.com. Kedua media tersebut merupakan dua media besar di Indonesia yang tidak luput memberitakan isu tersebut.
Bahkan, dalam waktu dua hari saja, Republika sudah menayangkan 80 pemberitaan dan Sindonews sebanyak 112 pemberitaan. Republika didirikan oleh kalangan komunitas muslim sehingga dikenal media Islam.
Sedangkan Sindonews, didirikan oleh kalangan umum, sehingga dikenal sebagai media umum. Penelitian ini difokuskan pada pemberitaan yang mencantumkan pro dan kontra dari berbagai pihak yang menanggapi isu pembubaran Front Pembela Islam.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, maka penulis mengambil rumusan masalah bagaimana framing pembubaran Front Pembela Islam di media online Republika.co.id dan Sindonews.com?
C. Tujuan Penelitian
Sesuai rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui framing pembubaran Front Pembela Islam di media online Republika.co.id dan Sindonews.com.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah referensi bagi mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, terkhusus konsentrasi penerbitan dalam menyusun penelitian selanjutnya dengan topik framing maupun pemberitaan di media berita online.
19
Hasil penelitian ini secara teoritis dapat digunakan sebagai tambahan ilmu pengetahuan mengenai berbagai framing yang digunakan oleh media berita online bagi mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).
2. Manfaat praktis
Hasil dari penelitian secara praktis diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak, sebagai berikut:
a. Bagi mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) dan praktisi, untuk lebih berhati-hati dalam menulis berita kontroversional karena dapat menimbulkan respon yang beragam dari masyarakat.
b. Bagi masyarakat secara luas supaya dapat lebih cermat dalam mencerna berita dan tidak gegabah dalam merespon berita yang ada di media. Masyarakat juga perlu memahami bahwa media memiliki frame tersendiri, sehingga tidak mudah termakan oleh berita yang beredar.
c. Bagi media berita online secara umum untuk selalu mengedepankan realitas dan memisahkan opini dengan fakta, supaya berita yang dimuat tidak menimbulkan kontroversi dalam masyarakat. Lebih mementingkan kepentingan informasi yang benar dan seimbang bagi masyarakat daripada keuntungan pribadi.
E. Tinjauan Pustaka
Penelitian dengan judul “Analisis Framing Pembubaran Front Pembela Islam di Media Berita Online” belum pernah ada yang meneliti sebelumnya. Namun, ada beberapa penelitian terdahulu yang memiliki relevansi dengan penelitian ini, baik dari segi metode, teknik, maupun objek penelitian. Penelitian terdahulu digunakan penulis bukan untuk dijiplak, namun sebagai acuan dan perbandingan supaya keorisinilan penelitian ini tetap terjaga. Perlu diketahui bahwa penulis menggunakan bahan penelitian yang belum pernah diteliti sebelumnya.
20
Pertama, skripsi Ashuri Fajar P (2019) yang berjudul “Analisis Framing Berita Tentang Kontroversi 200 Penceramah Rekomendasi Pemerintah Pada Media Online Detik.com 19, 21, 25 Mei 2018”. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui framing berita tentang kontroversi 200 penceramah rekomendasi pemerintah edisi 21 Mei 2018. Skripsi Ashuri Fajar P diteliti menggunakan metode kualitatif dengan metode penelitian teknik analisis framing Robert N. Entman. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa berita dari detik.com tidak memberikan sesuatu yang menimbulkan keberpihakan antara media yang menyampaikan berita dengan apa yang disiarkan dalam informasinya. Persamaan penelitian ini dengan penulis adalah fokus pada media online dan meneliti berita kontroversi. Perbedaan terletak pada tema dan waktu berita diteliti dalam hal ini 2019, sedangkan peneliti menggunakan pemberitaan Pembubaran FPI pada 2020.
Kedua, skripsi Muhammad Arwani (2019) dengan judul “Analisis Framing Terhadap Pemberitaan Puisi Sukmawati Dalam Republika Online Edisi 3-5 April 2018”. Penelitian bertujuan mengetahui bagaimana frame yang dibuat oleh surat kabar Republika Online dalam memberitakan kasus Puisi Sukmawati selama masa pemberitaan 3-5 April 2018. Diteliti menggunakan metode penelitian kualitatif dan pendekatan analisis framing model Robert Entman. Hasil penelitian mengungkapkan Republika Online membingkai kasus Puisi Sukmawati dengan berbagai frame yaitu hukum, moral, dan frame moral yang terkait hukum.
Persamaan penelitian ditemukan pada sama-sama meneliti media berita online dan menggunakan analisis framing model Robert Entmann.
Perbedaan terletak pada objek yang diteliti dan waktu penelitian, Muhammad Arwani meneliti berita Puisi Sukmawati pada 2018. Sedangkan peneliti meneliti pemberitaan Pembubaran FPI tahun 2020. Selain itu, lokus penelitian Arwani pada satu media yaitu Republika Online, sedangkan peneliti menggunakan dua media yaitu Republika dan Sindonews.
21
Ketiga, skripsi karya Asrul Arif (2016) yang berjudul “Pemberitaan Front Pembela Islam (FPI) Pasca Kerusuhan Di Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal Dalam Koran Sindo (Edisi Juli 2013)”. Penelitian ini bertujuan mengetahui konstruksi wacana Koran Sindo dalam pemberitaan Front Pembela Islam (FPI) pasca kerusuhan di Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal. Metode dalam penelitian yaitu kualitatif, spesifikasinya adalah deskriptif dan pendekatan wacana. Adapun model wacana yang dipih adalah model wacana Teun A van Dijk dengan kognisi sosialnya. Hasil penelitian menghasilkan simpulan mengenai konstruksi wacana dalam pemberitaaan, Koran Sindo mempunyai keberpihakan lebih kepada masyarakat.
Persamaan terletak pada metode penelitian kualitatif. Perbedaan penelitian dengan penulis adalah pendekatan yang digunakan. Penelitian ini menggunakan model wacana Teun A van Dijk, sedangkan penulis menggunakan model framing Robert Entman.
Keempat, skripsi karya Rais Abdillah (2017) dengan judul “Analisis Framing Pemberitaan LGBT Pada Situs Kompas.com”. Tujuan penelitian yaitu menjawab pertanyaan bagaimana Kompas.com mengemas pemberitaan LGBT pada edisi Februari 2016. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, teknik analisa data analisis framing model Robert N.
Entman. Hasil penelitian menemukan realitas atas konstruksi pemberitaan LGBT di Kompas.com edisi Februari 2016, yakni LGBT juga seorang manusia. Persamaan penelitian peneliti dengan skripsi Rais Abdillah sama-sama meneliti pada media berita online. Perbedaan ditemukan pada waktu penelitian yaitu 2016 dan 2020.
Kelima, jurnal karya Almaidah Nur Intan Almunaware, Philep Morse Regar, dan Johny Senduk (2015) yang berjudul “Analisis Isi Berita Kontroversi Basuki Tjahaja Purnama Dalam Konteks Pengangkatan Gubernur DKI Jakarta Pada Surat Kabar Tribun Manado”. Tujuan penelitian untuk mengetahui makna isi berita kontroversi atas pemberitaan
22
Basuki Tjahaja Purnama sebagai Gubernur DKI Jakarta pada Surat Kabar Harian Tribun Manado. Penelitian ini menggunakan Teori Analisis Isi Holsti dan Teori Agenda Setting. Metodologi penelitian yang diambil adalah metode deskriptif dengan variabel tunggal yang digunakan, yakni Isi Berita Kontroversi. Hasil penelitian yaitu pemberitaan kontroversi dari bulan September sampai pada bulan November 2014, tidak selalu memuat berita mengenai kontroversi tersebut. Setidaknya dilihat dari model pengagendaan dari rapat redaksi berita Tribun Manado.
Persamaan penelitian dengan penulis adalah meneliti berita yang menimbulkan kontroversi dan menggunakan metode kualitatif. Sedangkan perbedaan ditemukan pada pendekatan penelitian ini menggunakan Teori Analisis Isi Holsti dan Teori Agenda Setting. Penulis menggunakan model framing Robert Entman.
Keenam, jurnal karya Isma Aniatsari, Enjang Muhaemin, dan Dang Eif Saiful Amin (2018) dengan judul “Pemberitaan Konflik FPI dan GMBI pada Pikiran Rakyat, Republika dan Tribun”. Penelitian bertujuan mengungkapkan pembingkaian yang dikembangkan oleh Republika, Tribun Jabar, dan Pikiran Rakyat dalam menyikapi konflik yang terjadi antara Front Pembela Islam (FPI) dan Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode analisis framing dengan model Robert M. Entman.
Hasil penelitian ditemukan bahwa Republika condong kepada FPI. Tribun menyebutkan konflik FPI dan GMBI terjadi karena ketidakadaan mediasi antara kedua belah pihak sehingga komunikasi antar keduanya harus dilakukan. Pikiran Rakyat memfokuskan diri pada penyelesaian kasus perusakan sekretariat GMBI oleh aparat kepolisian dan para pelaku perusakan.
Penelitian ini memiliki persamaan dengan penulis pada fokus penelitian yaitu framing berita. Perbedaan penelitian pada waktu penelitian 2018, berita yang diteliti mengenai konflik FPI dan GMBI, dan jumlah
23
media yang diteliti terdapat tiga media. Sedangkan penelitian penulis menggunakan berita pada 2020 mengenai pemberitaan pembubaran FPI, dan jumlah media yang diteliti terdapat dua media.
F. Metode Penelitian
1. Jenis dan pendekatan penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif.
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bersifat interpretif (menggunakan penafsiran) yang melibatkan banyak metode, dalam menelaah penelitiannya (Mulyana, 2007: 5). Penelitian deskriptif hanyalah memaparkan situasi atau peristiwa. Penelitian ini tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat prediksi (Rakhmat, 1989: 34).
Pendekatan yang digunakan yaitu analisis framing. Analisis framing secara sederhana dapat digambarkan sebagai analisis untuk mengetahui bagaimana realitas (peristiwa, aktor, kelompok, atau apa saja) dibingkai oleh media. Pembingkaian tersebut tentu saja melalui proses konstruksi. Di sini realitas sosial dimaknai dan dikonstruksi dengan makna tertentu. Peristiwa dipahami dengan bentukan tertentu. Hasilnya, pemberitaan media pada sisi tertentu atau wawancara dengan orang-orang tertentu. Semua elemen tersebut tidak hanya bagian dari teknik jurnalistik, tetapi menandakan bagaimana peristiwa dimaknai dan ditampilkan (Eriyanto, 2002: 3).
Masing-masing media memiliki cara pandangnya tersendiri dalam melihat berbagai isu.
Model framing yang digunakan yaitu model Robert Entman.
Dalam model ini, dijelaskan bahwa pembingkaian berita terdiri dari pendefinisian masalah (define problem), memperkirakan penyebab masalah (diagnose cause),membuat keputusan moral (make moral judgement), dan rekomendasi penyelesaian (treatment recommendation).
24
Menurut Entman, proses framing merupakan proses seleksi dari berbagai realitas atau peristiwa sehingga bagian tertentu dari peristiwa itu lebih menonjol dibanding yang lain. Entman juga menyertakan penempatan-penempatan informasi dalam konteks yang khas sehingga sisi tertentu mendapatkan alokasi lebih besar daripada sisi yang lain (Eliya, 2019: 29). Itulah yang menjadi pandangan mengenai framing menurut Entman, yaitu seleksi isu dan penonjolan aspek tertentu.
2. Definisi konseptual
Definisi konseptual merupakan konsepsi peneliti atas variabel-variabel atau aspek utama tema penelitian, yang disusun atau dibuat berdasarkan teori-teori yang telah ditetapkan.
Kegunaannya agar jelas konsep-konsep yang digunakan peneliti dalam memahami variabel-variabel atau aspek-aspek utama dari tema penelitiannya (Penyusun: 2018, 17). Dalam penelitian
“Analisis Framing Pembubaran Front Pembela Islam Di Media Berita Online” ini, batasan penelitian terletak pada Republika.co.id dan Sindonews.com dalam membingkai berita tentang pembubaran Front Pembela Islam pada 30-31 Desember 2020.
Pembingkaian (framing) kedua media tersebut dilihat melalui analisis framing Robert N. Entmann. Dalam konsepsi Entmann, framing pada dasarnya merujuk pada pemberian definisi, penjelasan, evaluasi, dan rekomendasi dalam suatu wacana untuk menekankan kerangka berpikir tertentu terhadap peristiwa yang diwacanakan (Eriyanto: 2015). Empat hal tersebut dikenal sebagai perangkat framing.
3. Sumber dan jenis data
Data adalah fakta empirik yang dikumpulkan peneliti untuk kepentingan memecahkan masalah atau menjawab pertanyaan penelitian. Data ini dapat berasal dari berbagai sumber yang
25
dikumpulkan dengan menggunakan berbagai teknik selama kegiatan penelitian berlangsung (Siyoto, 2015: 67). Data pada penelitian kali ini menggunakan data primer yang didapat dari media berita online Sindonews.com dan Republika.co.id.
Mengambil pemberitaan pembubaran FPI yang ditayangkan pada 30-31 Desember 2020 pada kedua media online.
Jumlah pemberitaan di Republika selama tanggal tersebut ada 80 pemberitaan, namun karena keterbatasan peneliti, hanya mengambil empat pemberitaan. Sedangkan pada Sindonews, dari 112 pemberitaan, peneliti hanya mengambil empat pemberitaan yang menjadi objek penelitian. Pengambilan objek penelitian sesuai dengan fokus penelitian, yaitu pemberitaan yang mencantumkan pro dan kontra dari berbagai pihak.
4. Teknik pengumpulan data
Pengumpulan data dalam penelitian perlu dipantau agar data yang diperoleh dapat terjaga tingkat validitas dan reliabilitasnya.
Walaupun telah menggunakan instrumen yang valid dan reliabel tetapi jika dalam proses penelitian tidak diperhatikan bisa jadi data yang terkumpul hanya onggokan sampah (Siyoto, 2015: 75).
Peneliti mengumpulkan data dengan metode dokumentasi, yaitu mencari data mengenai hal-hal yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, dan sebagainya (Siyoto, 2015: 77-78).
Dalam hal ini, penulis mengumpulkan data dari media berita online Sindonews.com dan Republika.co.id pada kurun waktu 30-31 Desember 2020. Tentu tidak semua pemberitaan dikumpulkan.
Peneliti mengambil delapan pemberitaan, dengan rincian empat pemberitaan dari Republika dan empat pemberitaan pada Sindonews. Hal ini dilakukan karena keterbatasan peneliti, dan menyesuaikan fokus penelitian yaitu mengambil pemberitaan yang memuat pro dan kontra dari berbagai pihak.
5. Teknik analisis data
26
Penulis menggunakan teknik analisis data kualitatif metode framing. Dari berbagai model framing, dalam penelitian ini menggunakan model Robert Entman. Entman melihat framing dalam dua dimensi besar: seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas/ isu (Eriyanto, 2015:
221). Wartawan berhak menentukan bagian yang akan diberitakan dan bagian yang tidak dicantumkan dalam pemberitaan.
Proses seleksi dan penonjolan aspek oleh media, akan dilihat dalam penelitian kali ini menggunakan perangkat framing.
Perangkat framing dalam model Entman ada empat yaitu pemberian definisi, memperkirakan penyebab masalah, membuat keputusan moral, dan tawaran penyelesaian. Skema framing Robert Entman selengkapnya sebagai berikut:
Tabel 1.
Skema framing Robert N. Entman Define Problems (Pendefinisian
Masalah)
Bagaimana suatu peristiwa/ isu dilihat? Sebagai apa? Atau sebagai masalah apa?
Diagnose causes
(Memperkirakan masalah atau sumber masalah)
Peristiwa itu dilihat disebabkan oleh apa? Apa yag dianggap sebagai penyebab dari suatu masalah? Siapa (aktor) yang dianggap sebagai penyebab masalah?
Make moral judgement (Membuat keputusan moral)
Nilai moral apa yang disajikan untuk menjelaskan masalah?
Nilai moral apa yang dipakai untuk melegitimasi atau mendelegitimasi suatu tindakan?
Treatment Recommendation (Menekankan penyelesaian)
Penyelesaian apa yang ditawarkan untuk mengatasi masalah/ isu? Jalan apa yang ditawarkan dan harus ditempuh untuk mengatasi masalah?
27
(Eriyanto, 2015: 225-227) Konsepsi mengenai framing dari Entman tersebut menggambarkan secara luas bagaimana peristiwa dimaknai dan ditandakan oleh wartawan. Define problems (pendefinisian masalah) adalah elemen yang pertama kali dapat kita lihat mengenai framing. Elemen ini merupakan master frame/
bingkai yang paling utama. Ia menekankan bagaimana peristiwa dipahami oleh wartawan. Ketika ada masalah atau peristiwa, bagaimana peristiwa atau isu tersebut dipahami. Peristiwa yang sama dapat dipahami secara berbeda. Dan bingkai yang berbeda ini akan menyebabkan realitas bentukan yang berbeda.
Diagnose causes (memperkirakan penyebab masalah), merupakan elemen framing untuk membingkai siapa yang dianggap sebagai aktor dari suatu peristiwa. Penyebab di sini bisa berarti apa (what), tetapi bisa juga berarti siapa (who). Bagaimana peristiwa dipahami, tentu saja menentukan apa dan siapa yang dianggap sebagai sumber masalah. Karena itu, masalah yang dipahami secara berbeda, penyebab masalah secara tidak langsung juga akan dipahami secara berbeda pula.
Make moral judgement (membuat pilihan moral) adalah elemen framing yang dipakai untuk membenarkan/ memberi argumentasi pada pendefinisian masalah yang sudah dibuat. Ketika masalah sudah didefinisikan, penyebab masalah sudah ditentukan, dibutuhkan sebuah argumentasi yang kuat untuk mendukung gagasan tersebut. Gagasan yang dikutip berhubungan dengan sesuatu yang familiar dan dikenal oleh khalayak.
Elemen framing lain adalah treatment recommendation (menekankan penyelesaian). Elemen ini dipakai untuk menilai apa yang dikehendaki oleh wartawan. Jalan apa yang dipilih untuk menyelesaikan masalah. Penyelesaian itu tentu saja sangat tergantung pada bagaimana peristiwa itu dilihat dan siapa yang dipandang sebagai penyebab masalah.
28 G. Sistematika Penulisan Skripsi
Sistematika penulisan skripsi digunakan untuk memudahkan penyajian data dan membaca data penelitian. Sesuai buku panduan skripsi Fakultas Dakwah dan Komunikasi, sistematika yang digunakan penulis sebagai berikut:
BAB I: PENDAHULUAN
Berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II: FRAMING, FRONT PEMBELA ISLAM, DAN MEDIA BERITA ONLINE
Berisi konsep berpikir peneliti yang dijadikan landasan dalam penelitian. Dalam hal ini, akan dipaparkan teori mengenai framing, Front Pembela Islam, dan media berita online.
BAB III: GAMBARAN UMUM PEMBUBARAN FRONT
PEMBELA ISLAM, REPUBLIKA.CO.ID DAN
SINDONEWS.COM
Pada bab ini dituliskan karakteristik unit yang diteliti dan paparan data yang dijadikan sebagai dasar analisis, yaitu gambaran umum mengenai pembubaran Front Pembela Islam, Republika.co.id dan Sindonews.com.
BAB IV: ANALISIS DATA PENELITIAN
Berisi analisis penelitian yang disesuaikan dengan rumusan masalah, yaitu analisis framing pembubaran FPI di Republika.co.id dan Sindonews.com
BAB V: PENUTUP
Bab ini menjadi penutup di bagian inti skripsi yang berisi kesimpulan dan saran. Kesimpulan mengenai hasil dan analisis penelitian. Sedangkan saran berisi tindak lanjut penelitian selanjutnya.
29
BAB II FRAMING, FRONT PEMBELA ISLAM, DAN MEDIA BERITA ONLINE
A. Framing
1. Definisi framing
Ada beberapa definisi mengenai framing menurut beberapa ahli; Robert N. Entman mengatakan bahwa framing merupakan proses seleksi dari berbagai aspek realitas sehingga bagian tertentu dari peristiwa itu lebih menonjol ketimbang aspek lain. Ia juga menyertakan penempatan informasi-informasi dalam konteks yang khas sehingga sisi tertentu mendapatkan alokasi lebih besar daripada sisi yang lain.
Framing menurut William A. Gamson adalah cara bercerita atau gugusan ide-ide yang terorganisir sedemikian rupa dan menghadirkan konstruksi makna peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan objek suatu wacana. Cara bercerita itu terbentuk dalam sebuah kemasan (package). Kemasan itu semacam skema atau struktur pemahaman yang digunakan individu untuk mengonstruksi makna pesan-pesan yang ia terima (Eriyanto: 2015: 77-78). Meski berbeda-beda konsep framing dari ahli, namun dapat dipahami bahwa framing merupakan cara suatu media mengkonstruksi peristiwa dengan menonjolkan aspek tertentu daripada aspek lain.
Semua media disadari atau tidak melakukan framing.
Framing akan membedakan kualitas suatu media. Ketika publik semakin cerdas, terbuka wawasannya, menjadi tantangan bagi semua media untuk meningkatkan kualitas beritanya. Media harus mencari cara-cara ciamik untuk membingkai ide dan gagasan yang ingin disampaikan (Eliya: 2019, 27). Cara pandang media dalam melihat suatu peristiwa dapat berbeda antara satu dengan lainnya.
Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pendiri media, ideologi yang dijunjung, dan faktor lain yang pasti berbeda antar media.
30
Ada dua aspek dalam framing. Pertama, memilih fakta/
realitas. Proses memilih fakta ini didasarkan pada asumsi, wartawan tidak mungkin melihat peristiwa tanpa perspektif. Dalam memilih fakta ini selalu terkandung dua kemungkinan: apa yang dipilih (included) dan apa yang dibuang (excluded). Bagian mana yang ditekankan dalam realitas? Bagian mana dari realitas yang diberitakan dan bagian mana yang tidak diberitakan? Penekanan aspek tertentu itu dilakukan dengan memilih angel tertentu, memilih fakta tertentu, dan melupakan aspek lainnya. Intinya, peristiwa dilihat dari sisi tertentu. Akibatnya, pemahaman dan konstruksi atas suatu peristiwa bisa jadi berbeda antara satu media dengan media lain. Media yang menekankan aspek tertentu, memilih fakta tertentu akan menghasilkan berita yang bisa jadi berbeda kalau media menekankan aspek atau peristiwa yang lain.
Kedua, menuliskan fakta. Proses ini berhubungan dengan bagaimana fakta yang dipilih itu disajikan kepada khalayak.
Gagasan itu diungkapkan dengan kata, kalimat, dan proposisi apa, dengan bantuan aksentuasi foto dan gambar apa, dan sebagainya.
Bagaimana fakta yang sudah dipilih tersebut ditekankan dengan pemakaian perangkat tertentu: penempatan yang mencolok (menempatkan di headline depan, atau bagian belakang), pengulangan, pemakaian grafis untuk mendukung dan memperkuat penonjolan, pemakaian label tertentu ketika menggambarkan orang/
peristiwa yang diberitakan, asosiasi terhadap simbol budaya, generalisasi, simplifikasi, dan pemakaian kata yang mencolok, gambar, dan sebagainya. Elemen menulis fakta ini berhubungan dengan penonjolan realitas. Pemakaian kata, kalimat atau foto itu merupakan implikasi dari memilih aspek tertentu dari realitas.
Akibatnya, aspek tertentu yang ditonjolkan menjadi menonjol, lebih mendapatkan alokasi dan perhatian yang besar dibandingkan aspek lain (Eriyanto, 2015: 81-82).
31
Framing dapat digunakan sebagai sebuah teknik analisis.
Sebagai sebuah pendekatan analisis, framing adalah versi baru pendekatan analisis wacana, di samping critical discourse analysis dan semiotik. Analisis framing lahir karena “kejenuhan” ilmuwan, teoritisi, dan periset komunikasi akan penelitian kuantitatif yang menemui hambatan ketika peneliti bermaksud mengetahui ideologi di balik berita karena penelitian kuantitatif mereduksi bagian-bagian fakta yang diperlukan. Analisis framing seperti pendekatan komunikasi bersifat interdisipliner dan banyak dipengaruhi oleh pemikiran dan teori psikologi (Eliya: 2019, 28).
Saat ini sudah berkembang beberapa model analisis framing yang digagas oleh para ahli. Murray Edelman melihat framing melalui tiga poin yaitu kategorisasi, rubrikasi, dan ideologi. Robert N. Entman dengan empat perangkat framingnya yaitu define problems, diagnose cause, make moral judgement, dan treatment recommendation. Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki merupakan salah satu cara analisis framing yang cukup kompleks, karena menggunakan sembilan perangkat framing yang dikembangkan dari struktur sintaksis, skrip, tematik, dan retoris.
Model framing William A. Gamson dilihat dari perangkat framing dan perangkat penalaran.
2. Efek framing
Framing berkaitan dengan bagaimana realitas dibingkai dan disajikan kepada khalayak. Dari definisi yang sederhana ini saja sudah tergambar apa efek framing. Sebuah realitas bisa jadi dibingkai dan dimaknai secara berbeda oleh media. Bahkan pemaknaan itu bisa jadi akan sangat berbeda. Realitas begitu kompleks, penuh dimensi, ketika dimuat dalam berita bisa jadi akan menjadi realitas satu dimensi. Kalau saja ada realitas dalam arti yang objektif, bisa jadi apa yang ditampilkan dan dibingkai oleh media berbeda dengan realitas objektif tersebut (Eriyanto: 2015, 165).
32
Berita adalah konstruksi realitas. Apa yang dilaporkan wartawan dalam teks-teks berita adalah hasil reportasenya yang telah direduksi sebagai suatu usaha mengonstruksikan realitas. Kegiatan mengonstruksi realitas diartikan secara sederhana sebagai “upaya menceritakan sebuah peristiwa, keadaan benda atau apapun.”
Dengan demikian, sesungguhnya yang diliput media bukan murni realitas yang kita alami sehari-hari. Media sebenarnya tidak mampu melaporkan suatu peristiwa secara persis seperti apa adanya (Eliya, 2019: 33). Dapat dipahami bahwa realitas sebenarnya bukan dilihat kemudian ditulis, namun realitas dibentuk melalui konstruksi kaca mata media.
Khalayak bukan disediakan informasi yang rumit, melainkan informasi yang tinggal ambil, kontekstual, berarti bagi dirinya dan dikenal dalam bentuk mereka. Teori framing menunjukkan bagaimana jurnalis membuat simplifikasi, prioritas, dan struktur tertentu dari peristiwa. Karenanya, framing menyediakan kunci bagaimana peristiwa dipahami oleh media dan ditafsirkan ke dalam bentuk berita. Karena media melihat peristiwa dari kacamata tertentu maka realitas setelah dilihat oleh khalayak adalah realitas yang sudah terbentuk oleh bingkai media. Di sini media cenderung melihat realitas sebagai sesuatu yang sederhana. Deretan contoh dapat diurutkan. Liputan mengenai terorisme yang kompleks, disederhanakan sebagai tindakan tidak bermoral. Konflik etnis, rasial, diberitakan semata sebagai konflik atau kerusuhan (Eriyanto, 2015: 166). Secara umum, efek framing dapat diketahu sebagai berikut:
a. Mobilisasi Massa
Framing menentukan bagaimana peristiwa didefiniskan.
Framing juga menentukan apakah peristiwa dianggap sebagai masalah sosial (social problem) ataukah tidak. Karena itu, framing selalu berhubungan dengan pendapat umum.
33
Bagaimana tanggapan khalayak, dan bagaimana penyikapan atas suatu peristiwa, diantaranya tergantung pada bagaimana peristiwa itu dilihat dan dimaknai. Ketika peristiwa dilihat sebagai maslah sosial dan didefinisikan sebagai masalah bersama maka perhatian publik akan berubah menjadi lebih besar. Dalam proses pendefinisian masalah sosial tersebut, framing memainkan peranan penting. Framing adalah mekanisme yang digunakan untuk mengarahkan perhatian khalayak bagaimana seharusnya peristiwa dilihat. Bahkan ia bisa digunakan untuk meyakinkan khalayak bahwa peristiwa tertentu adalah peristiwa besar yang harus mendapatkan perhatian seksama dari khalayak. Keberhasilan itu akan diukur dari sejauh mana penyajian peristiwa tersebut membentuk struktur pemahaman khalayak (collective definition) tentang problem sosial itu dan konflik-konflik yang melingkupinya (Eriyanto: 2019, 172-173)
b. Menggiring khalayak pada ingatan tertentu
Apa yang menyebabkan suatu berita lebih mudah diingat orang? Peristiwa-peristiwa tertentu yang dramatis dan diabadikan, ternyata mempunyai pengaruh pada bagaimana seseorang melihat suatu peristiwa. W. Lance Bennet dan Regina G. Lawrence tahu tentang realitas sedikit banyak tergantung pada bagaimana media menggambarkannya. Dalam peristiwa yang dramatis, dan digambarkan oleh media secara dramatis pula, bahkan mempengaruhi pandangan khalayak tentang realitas. Gambaran tentang orang, kelompok, realitas bahkan selalu disesuaikan dengan ikon yang sudah terlanjur tertanam dalam benak publik. Ikon-ikon yang diciptakan dalam pemberitaan membatasi pandangan khalayak: seakan ia adalah potret yang sempurna dalam menggambarkan orang, peristiwa, atau kelompok tertentu. Karena digambarkan secara sempurna
34
dan dramatis, ketika ada peristiwa serupa ia selalu diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan dengan pola pandangan yang sama (Eriyanto, 2015: 178-179).
Pembaca sering tidak menyadari bahwa isi media (media content) sangat dipengaruhi faktor-faktor ekstramedia sehingga khalayak perlu diingatkan bahwa realitas media bukan cermin dari realitas yang genuin (asli). Media hanya merupakan alat untuk memotret sisi-sisi tertentu dari realitas yang telah diplih produsen berita (Eliya, 2019: 35). Dengan demikian, seorang pembaca tentu perlu memahami adanya framing media, sehingga lebih hati-hati dalam memaknai setiap pemberitaan yang diterbitkan maupun ditayangkan oleh media.
3. Teknik framing Robert N. Entman
Robert N. Entman adalah salah seorang ahli yang meletakkan dasar-dasar bagi analisis framing untuk studi isi media. Konsep mengenai framing ditulis dalam sebuah artikel Journal of Political Communication dan tulisan lain yang mempraktikkan konsep itu dalam suatu studi kasus pemberitaan media. Konsep framing oleh Entman, digunakan untuk menggambarkan proses seleksi dan menonjolkan aspek tertentu dari realitas oleh media. Framing dapat dipandang sebagai penempatan informasi-informasi dalam konteks yang khas sehingga isu tertentu mendapatkan alokasi lebih besar daripada isu yang lain (Eriyanto, 2015: 219-220). Media memilih aspek yang ingin ditonjolkan kepada publik dan mengabaikan atau menyembunyikan aspek lain.
Entman melihat framing dalam dua dimensi besar: seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas/ isu.
Penonjolan adalah proses membuat informasi menjadi lebih bermakna, lebih menarik, berati, atau lebih diingat oleh khalayak. Realitas yang disajikan secara menonjol atau mencolok mempunyai kemungkinan lebih besar untuk diperhatikan dan mempengaruhi khalayak dalam
35
memahami suatu realitas. Dalam praktiknya, framing dijalankan oleh media dengan menyeleksi isu tertentu dan mengabaikan isu yang lain;
dan menonjolkan aspek dari isu tersebut dengan menggunakan berbagai strategi wacana-penempatan yang mencolok (menempatkan di headline depan atau bagian belakang), pengulangan, pemakaian grafis untuk mendukung dan memperkuat penonjolan, pemakaian label tertentu ketika menggambarkan orang/ peristiwa yang diberitakan, asosiasi terhadap simbol budaya, generalisasi, simplifikasi, dan lain-lain (Eriyanto, 2015: 221).
Media yang ‘ditunggangi’ kepentingan-kepentingan akan menimbulkan persoalan ‘objektivitas pengetahuan’, yaitu persoalan apakah informasi yang disampaikan di dalamnya mengandung kebenaran (truth) atau kebenaran palsu (pseudo-truth), bersifat netral atau berpihak, mempresentasikan fakta atau rekayasa fakta dan menggambarkan realitas atau menstimulasi realitas (Eliya, 2019: 30- 31).
Melalui framing, media massa akan mengarahkan audiens (pembaca) untuk memaknai realitas yang ada menurut kehendaknya.
Dalam rangka membangun citra dan membentuk persepsi khalayak tentang sebuah isu, ada hal-hal yang ditonjolkan. Kemudian di sisi lain, ada hal yang direduksi atau bahkan tidak ditampilkan sama sekali agar khalayak hanya melihat sisi-sisi yang ditonjolkan itu. Untuk membangun citra ada lagi bantuan “alat” yang digunakan. Ketika media menyajikan berita kepada pembaca alat yang digunakan berupa data, kutipan narasumber, foto, grafik, maupun narasi yang dimunculkan sesuai kepentingan (Eliya, 2019: 33). Seleksi isu dan penonjolan realitas dilakukan karena masing-masing media memiliki kepentingan tersendiri, untuk itu framing sudah tentu ada dalam suatu media.
Menurut Entman, framing dalam berita dilakukan dengan empat cara, yakni: pertama, pada identifikasi masalah (problem identification), yaitu peristiwa dilihat sebagai apa dan dengan nilai
36
positif atau negatif apa; kedua, pada identifikasi penyebab masalah (causal interpretation), yaitu siapa yang dianggap penyebab masalah;
ketiga, pada evaluasi moral (moral evaluation), yaitu penilaian atas penyebab masalah; dan keempat, saran penanggulangan masalah (treatment recommendation), yaitu menawarkan suatu cara penanganan masalah dan kadang kala memprediksi hasilnya (Alex Sobur, 2015:
172-173).
B. Front Pembela Islam
1. Sejarah Front Pembela Islam
Dalam artikel Tribunnews dijelaskan, 1998 tidak hanya menjadi tonggak sejarah reformasi, tetapi juga menjadi tonggak dari banyaknya organisasi masyarakat dan partai yang didirikan pada saat itu, termasuk FPI yang berdiri pada 17 Agustus 1998. Situasi saat itu yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang berupaya merusak stabilitas negara yang sedang rapuh membuat banyak ulama, habib, dan kyai terdorong untuk mendirikan organisasi yang berprinsip “amar ma’ruf nahi munkar”.
FPI berdiri tiga bulan setelah Soeharto lengser. Dilakukan di halaman Pondok Pesantren Al-Um, Kampung Utan, Cempaka Putih, Tangerang. Deklarasi pendirian FPI dihadiri oleh ratusan ulama, habib, mubalig dan santri dari Bogor, Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi.
Rizieq Shihab dipilih menjadi Ketua FPI pertama. Majalah Tempo edisi 9 Juni 2008 menyebutkan seorang sumber mengatakan kala itu ulama dan habib sepuh memilih Rizieq menjadi ketua FPI karena dinilai muda, lugu, dan tidak punya afiliasi politik (Penyusun, 2021: 14).
Berdasarkan artikel Tribunnews, latar belakang pendirian FPI menurut organisasi tersebut antara lain:
c. Penderitaan panjang umat Islam di Indonesia yang terjadi karena lemahnya kontrol sosial dari penguasa sipil dan militer, sebagai
37
akibat dari banyaknya pelanggaran HAM yang dilakukan oleh oknum penguasa.
d. Terjadinya kemungkaran dan kemaksiatan yang semakin merajalela di seluruh aspek kehidupan.
e. Adanya kewajiban untuk menjaga dan mempertahankan harkat serta martabat Islam dan seluruh umat Islam.
Nama: Front Pembela Islam
Dideklarasikan: 17 Agustus 1998, di Pesantren Al-Um, Kampung Utan, Ciputat
Terdaftar di Kementerian Dalam Negeri: 14 November 1998 Pendiri: Rizieq Shihab dan sejumlah habib
Sekjen pertama: Misbahul Anam
Wilayah: Awalnya Jabodetabek, lalu Jawa Barat, Lampung, Palembang, Sumatera Utara, Jawa Timur, Sulawesi, Ambon, Maluku, Tual, dan Kalimantan. Kini, FPI mengklaim memiliki organisasi di 30 provinsi (Penyusun, 2021: 24-25).
2. Visi misi Front Pembela Islam
Dalam artikel Rochmanudin pada idntimes, menjelaskan dalam pasal 6 Anggaran Dasar FPI berbunyi, visi dan misi FPI adalah penerapan syariat Islam secara kaffah di bawah naungan khilafah Islamiah.
“Visi dan misi organisasi FPI adalah penerapan Syariat Islam secara kaffah di bawah naungan Khilafah Islamiyyah menurut Manhaj Nubuwwah, melalui pelaksanaan da’wah, penegakan hisbah (ajakan kebaikan dan mencegah kemungkaran) dan pengamalan jihad,”
demikian bunyi Pasal 6.
Sementara, dalam ART dijelaskan lagi visi misi FPI. Ada dua poin penjelasan visi misi FPI. Pertama, arti penerapan syariat secara kaffah adalah penerapan syariat Islam di seluruh bidang kehidupan yaitu akidah (keyakinan), ibadah, munakahat (pernikahan), muamalat (kemasyarakatan), dan jinayat (tindakan kriminal). Atau bisa juga, arti
38
penerapan syariat Islam secara kaffah adalah kewajiban menjalankan syariat Islam secara individu, dalam kehidupan masyarakat dan negara.
Kedua, arti Khilafah Islamiyyah adalah diterapkannya kesatuan sistem ekonomi, poitik, pertahanan, sosial, pendidikan, dan hukum di dunia Islam. Visi dan misi organisasi FPI adalah penerapan syariat Islam secara kaffah di bawah naungan Khilaafah Islamiyyah menurut Manhaj Nubuwwah, melalui pelaksanaan dakwah, penegakan hisbah, dan pengamalan jihad.
3. Struktur organisasi Front Pembela Islam Struktur organisasi FPI terdiri atas sebagai berikut:
a. Dewan Pimpinan Pusat sebagai pengurus organisasi dalam lingkup nasional, yaitu Ketua Majelis Syura DPP FPI Habib Muhsin Ahmad Al-Attas, Ketua Majelis Tanfidzi DPP FPI, Habib Rizieq (2003-2008)
b. Dewan Pimpinan Daerah sebagai pengurus organisasi dalam lingkup propinsi, yaitu Ketua FPI bagian Surakarta (FPIS) yaitu Abu Bakar Ba’asyir
c. Dewan Pimpinan Wilayah, pengurus berskala Kota atau Kabupaten
d. Dewan Pimpinan Cabang atau pengurus organisasi di lingkup kecamatan.
C. Media Berita Online
Media online merupakan salah satu media massa elektronik, selain televisi dan radio. Salah satu fungsi media massa adalah memaparkan berita dengan lengkap dan jelas. Teks berita yang ditulis harus mencirikan bahasa jurnalistik yang baik. Bahasa jurnalistik yang baik, di antaranya tercermin pada kalimat-kalimat yang padat, pilihan kata yang tepat, dan urutan yang logis. Selain itu, fakta berita yang disampaikan harus urut dan dilandasi dengan prinsip 5W+1H. (Cahya, 2018: 24).
39
“Waktu adalah pedang” kata pepatah Arab. Tanpa ada kompromi, usia, peluang, dan kesempatan setiap orang selalu terpotong oleh waktu. Terlebih dalam kompetisi dunia media, waktu sungguh
“pedang” yang mematikan. Jam yang menempel di dinding merupakan deadline yang menentukan hidup mati sebuah makhluk bernama berita.
Konsekuensinya adalah wartawan harus bisa menghasilkan berita dengan kecepatan kilat, yang isinya seolah-olah tidak dibuat dengan terburu-buru.
Meskipun manusia tidak dapat menghambat laju gerak waktu, tetapi bisa memaksimalkan teknologi untuk mengefektifkan metodenya bekerja. Tak pelak lagi, para pekerja media semakin bertumpu pada teknologi, untuk menghemat waktu dan mempercepat mediasi berita ke tengah user. Gejala ini berbanding lurus dengan banyaknya media berita online yang semakin terbuka aksesnya, dalam hal ini, John V.
Pavlik, seorang pakar jurnalisme dari Amerika, dalam karyanya o
Journalism and New Media menengarai sudah ada lebih dari lima ribu media berita online yang dimiliki surat kabar, televisi, radio, maupun majalah yang dikelola secara profesional. Pavlik menguraikan, kelebihan distingtif media berita online yang utama adalah kecepatan, juga kandungan informasinya yang amat banyak.
Dengan kelebihan-kelebihannya itu, media berita online memiliki prospek amat menjanjikan secara ekonomi maupun politik.
Interaktivitas juga menjadi salah satu karakter yang bisa mempererat relasi antara institusi media dengan pengaksesnya. Terlebih, genre media baru ini juga semakin merakyat, variatif, bahkan boleh dikatakan sudah booming cukup lama, sejak paruh akhir tahun 1990-an, naik di dunia internasional, terutama di Amerika Serikat. Tidak terkecuali di Indonesia, media berkembang pesat bersama dengan kondisi sosial politik yang amat dinamis di penghujung era orde baru. Seiring pula dengan situasi politik kawasan Asia yang juga pengguna internetnya
40
telah meledak sejak paruh kedua dari dekade 1990-an. Pada 1999, penggunaan internet di daerah perkotaan meningkat dua sampai tiga kali lipat tiap tahunnya.
Sejak pertama hadir ke tengah masyarakat, popularitas internet terus naik di semua level kalangan yang membutuhkan informasi cepat.
Bagi kalangan akademisi, peneliti, atau wartawan, kehadiran media berita online amat membantu pelacakan, pencarian data dan pengembangan informasi, mulai dari membaca berita, mendengarkan radio, sampai menonton televisi secara live. Daya tarik ini, menjadi momentum bagi media berita online untuk mengembangkan sayap pengaruhnya meraih user yang lebih banyak.
Tetapi pada saat yang sama, ada pula tantangan kredibilitas bagi wartawan pengelola media online dalam pemenuhan kualitas karya dan standar kode etik jurnalistiknya, baik secara teknis, maupun konteks sosial politik yang melingkupinya (Fikri, 2015: 49-50).
Betapapun relasi politik di tingkat makro, pasca Orde Baru, telah melahirkan relasi yang cukup mengkhawatirkan antara media massa-negara, media massa-pasar, dan media massa-masyarakat. Oleh karena itu, perlu upaya serius dari media massa di Indonesia untuk memaknai perannya dalam setting yang begitu dinamis dan terus mengalami perubahan pada masa-masa mendatang. Artinya, peran media perlu diperjelas secara lebih operasional, sesuai dengan hukum yang berlaku. Sudah sewajarnya bila aktivitas media tidak bertentangan dengan regulasi yang berlaku. Bila peran strategis media, kebal terhadap peraturan regulasi media, maka media berita sangat berkemungkinan hanya menjadi “corong” instrumen kekuasaan kelompok atau tokoh tertentu.
Media berkontribusi positif bagi warga dengan berita bermutu yang dihasilkannya. Berita berkualitas dapat merangsang publik untuk berpikir lebih cermat. Betapapun, institusi media bukan hanya institusi bisnis, tapi juga institusi publik yang harus mandiri dan otonom.
41
Kemampuan membangun ruang “forum” sebagai ruang interaksi dan ekspresi diri merupakan salah satu kelebihan media berita online sebagai salah satu tipe new media. Hal ini pula yang menjadi konteks lahirnya media berita online di Indonesia. Dengan new media ini, user diuntungkan karena bisa mendapat berbagai informasi dengan cepat.
Tabel 2
Kelebihan Media Berita Online
Kelebihan Makna
Kontrol Audiens Masyarakat lebih leluasa memilih informasi yang cocok.
Nonlinear Menyediakan ruang berita atau cerita yang lebih kontekstual, lebih panjang.
Tersimpan dan bisa dicari lagi informasinya
Mampu menyimpan jumlah data, cerita amat banyak, bisa diakses ulang.
Ruang tidak terbatas Menghadirkan ruang tanpa batas hamparan maupun batasan waktu.
Cepat Informasi hadir amat cepat, praktis.
Kapabilitas multimedia Memungkinkan wartawan menggabungkan teks, suara, video, dan berbagai konten berita yang lain.
Fikri (2015: 57) Posisi keikutsertaan media berita dalam sebuah konflik, ternyata memiliki beberapa formulasi. Pertama, media berita berperan sebagai pencerita (storyteller). Kedua, dalam aksinya sebagai storyteller itu media akan menentukan keterlibatannya dalam tiga bentuk: sebagai pemertajam konflik (intensifier), sebagai pereda konflik (diminisher), dan sebagai pihak netral (third party). Terkait tiga bentuk ini, para pakar berbeda pendapat. Ada yang percaya media bisa netral, tetapi ada juga yang berpendapat media tidak mungkin netral memberitakan konflik.
Argumentasi media berita tidak mungkin bisa netral antara lain karena ketika wartawan menulis berita, tidak akan bisa melepaskan dari faktor latar belakang etnis, pendidikan, agama, keberpihakan, atau nilai filosofi misi tempatnya bekerja. Jadi, meskipun teorinya dimungkinkan
42
sebuah media bersikap netral, tapi pada praktiknya media berita selalu mengambil posisi dengan pola tertentu yang tidak menentu, bisa berpihak, mendukung, atau mengkritik kelompok tertentu dalam konflik.
1. Pemertajam konflik
Tatkala berperan sebagai pemertajam dalam sebuah konflik (intensifier), dengan sendirinya media berita mengambil posisi pada salah satu pihak yang berkonflik. Bentuknya bisa dengan memberi porsi pemberitaan yang lebih besar kepada salah satu pihak, atau mewawancarai satu saja pihak narasumber yang berkonflik dan mengabaikan narasumber pihak lain. Hasilnya kemungkinan besar berita menjadi tidak lengkap, bukan tidak mungkin dalam beberapa kasus, berita di internet bisa menimbulkan salah paham, menuai protes dan kritik, terutama pada hal teknis seperti pemuatan narasumber, identitas penyerang, maupun asal-usul kelompok yang berkonflik.
Namun demikian, perlu dipahami pula, tidak gampang mengklaim bahwa peran media berita sebagai pemertajam konflik merupakan suatu hal buruk, sebab media dengan peran sebagai storyteller yang mempertajam konflik, bisa menjadi suatu hal baik jika dilakukan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat lebih luas, atau mengimbangi kekuasaan yang sewenang-wenang, sehingga tercipta keadaan lebih aman, bebas dari penindasan atau demi kemajuan. Gaya media sebagai storyteller konflik yang tajam, kerap dijumpai di sebuah negara demokrasi dan liberal, di mana negara memberi kesempatan yang luas kepada media untuk memberitakan segala hal, termasuk penyelewengan kekuasaan negara itu sendiri. Pada posisi ini, sistem pemerintahan yang demokratis liberal membawa posisi yang lebih menguntungkan bagi media berita, karena media bisa mengekspresikan pendapatnya sebebasnya, tanpa intervensi atau ancaman
43
pembredelan dari pemerintah. Kritik atau dukungan agenda setting kepada satu pihak yang bertikai, juga bisa dilakukan media berita dengan leluasa.
Tapi di sisi lain, situasi ini juga membawa akibat negatif, karena persaingan atau kompetisi pemberitaan antar media semakin intensif, sementara kredibilitas dan kompetensi pengelola media masih belum merendengi kemajuan teknologi medianya.
Perkaranya, media sering berperilaku agresif, menyukai konflik dan sensasi, terburu-buru mengambil kesimpulan dan ternyata kesimpulan itu tidak tepat. Pada kondisi ini, munculnya sebuah berita sebenarnya amat riskan karena bisa memanaskan suasana konfliknya. Pada situasi ini, bila informasi yang ada tidak tepat, pihak yang dirugikan lagi-lagi adalah masyarakat, karena pemberitaan justru membawa kegelisahan, ketidakjelasan, dan tidak membawa manfaat apapun bagi warga.
2. Pereda konflik
Bentuk storyteller kedua adalah media berita yang menjadi pereda konflik. Bentuk keikutsertaan ini dilakukan media dengan pemberitaan yang terkesan sepintas dan tidak berkelanjutan.
Pemberitaan yang dilakukan secara sepintas secara otomatis tidak memperbesar perhatian khalayak terhadap sebuah peristiwa.
Sebuah peristiwa yang ditampilkan dengan model ini biasanya tidak mendapat perhatian besar. Pada posisi media sebagai pereda konflik ini, bentuk yang dimunculkan adalah peristiwa lain yang dinilai memiliki daya tarik setara, sehingga meskipun konflik yang terjadi sebenarnya heboh, tapi tidak diketahui masyarakat luas, karena sangat mungkin ketika media bungkam terhadap sebuah isu konflik, perhatian khalayak terhadapnya juga semakin kecil, dan konflik yang terjadi bisa mereda.
Media berita yang memiliki kecenderungan sebagai pereda konflik, umumnya media berita milik pemerintah, baik media