EKSTRAKSI (PENYARIAN)
1. Pengertian Ekstraksi
• Ekstraksi atau penyarian adalah proses pemindahan atau
pengucilan suatu konstituen sample ke suatu pelarut dengan cara mengocok atau melarutkannya.
• Proses ekstraksi melibatkan dua fase ( kedua fase dapat berupa cairan tetapi tidak bercampur) dan dapat dilakukan dengan
satu kali ekstraksi (single extraction), beberapa kali ekstraksi (multiple extraction), dan sinambung (continues extraction).
• Dari segi teknik, ekstraksi dapat diklasifikasikan menjadi:
Ekstraksi Cair-Cair (ekstraksi pelarut), Ekstraksi Padat-Cair, dan Ekstraksi Super Kritik.
Tujuan Ekstraksi
Syarat Pelarut Pengekstraksi
Kepolaran Suatu Pelarut
Kepolaran Suatu Pelarut
Nilai Indeks Polaritas Pelarut dan Tetapan Dielektrik semakin tinggi bersifat semakin polar
Kepolaran Suatu Pelarut
Jenis Pelarut
Ada 2 jenis pelarut yaitu pelarut organik dan anorganik
Pelarut Organik
Selain etanol dan metanol
Jenis Pelarut
Proses Ekstraksi
Penggolongan Ekstraksi
Penggolongan Ekstraksi
Penggolongan Ekstraksi
Ekstraksi Cara Dingin
Ekstraksi Cara Dingin
lama
Jumlah banyak
Maserasi
Ekstraksi Cara Dingin Perkolasi
berjumlah banyak
Ekstraksi Cara Panas
Refluks
Ekstraksi Cara Panas
Soxhlet (Ekstraksi Sinambung)
Ekstraksi Cara Panas yang Lain
Ekstraksi Gradien
2. Ekstraksi Pelarut
• Dalam proses ekstraksi cair-cair atau sering disebut juga
sebagai ekstraksi pelarut, solut dipindahkan dari pelarut satu ke pelarut yang lain dan tidak bercampur dengan cara pengocokan yang berulang.
• Di laboratorium ekstraksi pelarut dilakukan dalam suatu corong pemisah (separation funnel).
• Prosedur umum: Dalam corong pemisah, siapkan larutan solut dalam suatu pelarut. Kalau perlu atur pH larutan atau
tambahkan suatu pereaksi tertentu. Masukkan pelarut kedua yang tidak bercampur dengan pelarut pertama dan kocok.
Setelah pengocokan sempurna, campuran dibiarkan memisah dalam dua lapisan (fase air dan fase organik). Salah satu
lapisan/fase diambil, sedangkan lapisan kedua dibuang atau diekstraksi kembali dengan cara yang sama.
Mekanisme Ekstraksi Pelarut
• Pembentukan Spesies tidak bermuatan
• Distribusi dari kompleks yang terektraksi
• Interaksinya yang mngkin dalam fase organik.
• Pembentukan spesies tidak bermuatan merupakan tahap penting dalam ekstraksi. Jelaslah bahwa
kompleks bermuatan tidak akan terakstraksi
sehingga mutlak kompleks diekstraksi harus tampa muatan. Kompleks tidak bermuatan dapat di bentuk melalui proses pembentukan khelat ( yaitu; khelat netral) , solvasi atau pembentukan pasangan ion.
Corong pemisah,
digunakan ekstraksi
cair-cair
Corong Pemisahan
a. Koefisien Distribusi
Misalkan dalam corong pemisah, suatu spesi solut
terdistribusi di antara dua pelarut/fase yang tidak bercampur.
Kesetimbangan yang terjadi adalah:
SB SA
di mana SB adalah spesi solut dalam fase bawah, dan SA adalah spesi solut dalam fase atas.
Secara termodinamika, pada saat kesetimbangan tercapai
ratio antara aktifitas kedua spesi solut dalam kedua fase selalu tetap (Hukum Distribusi NERNST). Untuk larutan encer,
aktifitas digantikan konsentrasi (C).
Koefisien Distribusi (Kd) dapat ditulis sebagai berikut:
Kd = CA / CB
di mana CA adalah konsentrasi spesi solut pada fase atas dan CB adalah konsentrasi dalam fase bawah.
b. Termodinamika Ekstraksi
• Kajian termodinamika dapat digunakan untuk menerangkan proses ekstraksi. Dalam keadaan kesetimbangan berlaku
μA = μB, di mana μ adalah potensial kimia spesi solut pada fase yang dimaksud.
• Koefisien distribusi dapat dinyatakan sebagai berikut:
Kd = exp [ -Δμo/RT]
Bila Δμo positif yang berarti μo pada fase bawah lebih kecil daripada μo pada fase atas, dan konsentrasi solut dalam fase bawah lebih besar daripada konsentrasi solut dalam fase atas, yaitu CA/CB <1 pada Δμo > 0 (positif).
• Dengan adanya interaksi molekular dan perbedaan polaritas, maka parameter kelarutan dari Hildebrand dapat digunakan:
δ = [ΔEv/V]1/2
di mana δ adalah parameter kelarutan, ΔEv adalah energi yang diperlukan untuk penguapan molekul dalam volume V. Ratio ΔEv/V disebut juga sebagai cohesive energy density dari bahan.
• Karena gaya kohesif (intermolekular) antar molekul meningkat dengan meningkatnya polaritas, maka nilai parameter kelarutan δ sangat berhubungan erat
dengan polaritas.
• Untuk larutan regular di mana molekul kecil solut terdispersi secara acak dalam molekul pelarut,
perubahan entropi ΔSo dapat dinyatakan nol, maka perubahan entalpi dapat dinyatakan dalam volum molar dalam fase atas adalah:
ΔHoA = V ( δi – δA )2
Sedangkan perubahan entalpi dalam fase bawah adalah:
ΔHoB = V (δi – δB)2
• Perpindahan mol solut dari fase bawah ke fase bawah, akan menghasilkan perubahan entalpi campuran yang sama dengan selisihnya:
ΔHoi = ΔHoA – ΔHoB
= Vi [(δi – δA)2 – (δi – δB)2]
• Karena ΔSo = 0, maka Δμo = ΔHo, memberikan perubahan potensial kimia:
Δμoi = Vi[(δi – δA)2 – (δi – δB)2
= Vi (δA – δB)( δA + δB - 2δi)
• Dari persamaan ini, jika δi = δA ≠ δB, maka Δμoi (proses
perpindahan solut dari fase bawah ke fase atas) akan negatif, mendorong solut pindah ke fase/pelarut atas. Dan jika δi = δB ≠ δA, Δμoi>0, mendorong solut tetap berada pada fase bawah, atau pindah ke fase bawah dari fase atas.
• Dari persamaan itu dapat dinyatakan bahwa perubahan entalpi perpindahan dapat mendekati nol, jika nilai parameter
kelarutan kedua bahan mendekati sama juga.
• Jika nilai parameter kelarutan δ bahan bahan berbeda jauh, maka ΔHo proses akan meningkat, dan ini akan mengakibatkan Δμo juga berubah, proses pelarutan akan berubah meningkat atau menurun tergantung nilai δ bahan dan pelarut yang
digunakan. Hal inilah yang menurunkan prinsip “like dissolves like”.
• Koefisien Distribusi akan dinyatakan sbb:
ln Kd = (-Vi/RT)(δA – δB)(δA + δB - 2δi)
Persamaan ini dikembangkan pertama kali oleh Hildebrand dan Scatchard yang berkaitan dengan interaksi antara solut dengan molekul pelarut yang dapat digunakan untuk memilih pelarut yang sesuai dalam ekstraksi atau pelarutan.
Pelarut δ (kal/cm3)1/2
Air
Metanol Etanol
Diumetilsulfoksida Kloroform
Benzen Toluen
Etilbenzen
Karbon tetraklorida Etil eter
23,4 14,5 12,7 12,0 9,3 9,2 8,9 8,8 8,6 7,4 Parameter kelarutan beberapa pelarut pada 298 K.
c. Jenis Pelarut
• Pelarut yang digunakan hendaknya tidak bercampur satu sama lainnya (immiscible).
• Pelarut berair (aqueous) biasanya berupa:
a. air suling
b. larutan dapar pH tertentu c. larutan elektrolit dalam air
d. larutan pembentuk kompleks dalam air e. larutan asam atau basa dalam air
f. kombinasi larutan-larutan tersebut di atas.
• Pelarut organik yang tidak bercampur dengan air:
a. benzen, toluen, heksan, xilen
b. diklormetan, kloroform, tetraklormetan c. dietil eter
d. metil iso butil keton e. hidrokarbon alifatik
• Pelarut organik yang bercampur dengan air: alkohol alifatik, asam karboksilat, aldehida, keton, asetonitril, dimetilsulfoksida, dan dioksan, tidak sesuai digunakan sebagai ekstraktan dari larutan berair, tetapi dapat
digunakan sebagai ekstraktan dari larutan organik yang tidak bercampur.
d. Ratio Distribusi (D)
• Nilai Kd selalu tetap pada suatu sistem dan suhu tertentu.
• Nilai Kd dapat berubah, jika:
a. Kedua pelarut bercampur secara sebagian (partial)
b. Solut mengalami disosiasi atau asosiasi dalam salah satu pelarut yang digunakan
c. Solut bereaksi dengan pelarut (solvatasi)
• Sesuai kondisi percobaan, maka Koefisien distribusi dapat digantikan dengan ratio distribusi (D).
• Misalkan asam benzoat terdistribusi antara dua fase cairan
benzen dan air. Dalam fase air, asam benzoat akan terdisosiasi HBz ==== H+ + Bz-. Bentuk anion benzoat tidak akan masuk ke dalam fase organik, sedangkan asam HBz berada dalam fase organik.
• Dalam kondisi ini, yang berlaku adalah ratio distribusi (D) yaitu ratio antara konsentrasi semua spesi solut dalam masing-
masing fase:
D = [HBz]o/{[HBz]a + [Bz-]a}
• Tetapan Ka = {[H+]a[Bz-]a}/[HBz]a
• Berdasarkan keduanya maka dapat diturunkan persamaan berikut:
D = Kd /{1 + Ka/[H+]a} atau
= Kd [H+]/{Ka + [H+]}
• Jika D dirajah terhadap [H+] maka akan diperoleh kurva hiperbolik.
• Kurva hiperbolik menggambarkan D mendekati Kd secara asimtotik sebagaimana [H+] meningkat.
• Jika [H+] mendekati tak terhingga, maka
lim (Ka + [H+] = [H+] dan ini mengakibatkan nilai Kd = D
• Jika [H+] = Ka, maka D = ½ (Kd).
• Jika [H+]>Ka maka nilai D akan mendekati nilai Kd dan jika nilai Kd besar maka asam benzoat akan
terekstraksi ke dalam fase organik. Nilai D merupakan maksimum dalam kondisi ini.
• Dalam suasana asam, asam benzoat tidak terionisasi dan berada dalam bentuk HBz (bentuk utuh tak
terionkan) maka akan terekstraksi ke dalam fase organik.
• Jika [H+]<Ka maka nilai D akan menurun hingga Kd =
[H+]/Ka, dan asam benzoat berada dalam fase organik.
• Dalam suasana basa, asam benzoat akan terionisasi dan tidak dapat terekstraksi ke dalam fase organik.
• Asam benzoat diekstraksi dari air ke dalam dietil eter pada berbagai pH. Ka = 6.3 X 10-5 dan Kd= 720, maka hubungan nilai D terhadap pH dari 0 – 13 adalah:
• pH = 0 D = 720 pH = 7 D = 1,14
• pH = 1 D = 720 pH = 8 D = 0,0114
• pH = 2 D = 715 pH = 9 D = 0,00114
• pH = 3 D = 667 pH = 10 D = 0,000114
• pH = 4 D = 442 pH = 11 D = 0,0000114
• pH = 5 D = 98,6 pH = 12 D = 0,00000114
• pH = 6 D = 11,3 pH = 13 D = 0,000000114
• Jika solut mengalami asosiasi (reaksi penggabungan) maka nilai Kd akan berubah.
• Misalkan asam karboksilat diekstraksi dalam sistem air-benzen. Dalam air asam karboksilat akan mengalami disosiasi karena merupakan asam lemah, sedangkan dalam benzen alan membentuk dimer (asosiasi dua molekul asam karboksilat melalui jembatan hidrogen);
2 RCOOH ==== (RCOOH)2
Nilai D = Kd {1 +2KD[RCOOH]}/{1 +Ka/[H+]}
di mana KD = tetapan pembentukan dimer Kd = Koefisien distribusi
Ka = tetapan keasaman asam karboksilat.
• Jika solut mengalami asosiasi dengan suatu pereaksi, misalnya ion logam yang diekstraksi melalui pembentukan kompleks ditizonat yang larut
dalam pelarut organik (kloroform).
• Maka berdasarkan berbagai kesetimbangan yang terlibat dalam
pembentukan kompleks dan ekstraksi, akan diperoleh hubungan sebagai berikut:
log Dm = npH + (log Kexp + nlog[HX]org di mana Dm = Ratio Distribusi
pH = pH sistem/media Kexp = tetapan eksperimen
[HX]org = konsentrasi ditizon dalam kloroform
e. Persen Solut Terekstraksi
• Kedua persamaan ekstraksi menunjukkan bahwa
efisiensi ekstraksi tidak bergantung pada konsentrasi awal dari solut, melainkan tergantung pada nilai Kd atau D saja.
• Jika pH larutan berubah maka nilai D akan berubah pula.
• Nilai D selalu tetap pada kondisi percobaan, tetapi fraksi solut terekstraksi akan sangat tergantung pada ratio volume dari kedua pelarut.
• Jika volume pelarut organik yang digunakan besar
maka fraksi solut terekstraksi akan lebih banyak dalam fase organik agar nilai D tercapai pada kondisi
tersebut.
Fraksi solut terekstraksi adalah sama dengan milimol solut dalam fase organik dibagi dengan jumlah total milimol solut.
Persen solut terekstraksi (%E) adalah:
%E = {100Co.Vo}/{Co.Vo + Ca.Va}
di mana Co dan Ca adalah konsentrasi solut dalam fase organik dan fase air, serta Vo dan Va adalah volume fase organik dan fase air yang digunakan.
Persen terekstraksi (%E) sangat erat kaitannya dengan nilai D dan ratio volum (Va/Vo) yaitu:
%E = 100D/{D + (Va/Vo)}
dan jika Va = Vo, maka persen terekstraksi
%E = 100D/(D + 1)
Jika mengunakan KD, maka % E = 100KDU/(KDU + 1), dimana U adalah ratio volum (Vo/Va)
Jika Vo ditingkatkan maka %E akan meningkat.
Jika nilai D≥ 100, maka ekstraksi sangat efisien dan dapat dilakukan hanya satu kali.
• Jika koefisien partisi (KD) diketahui, fraksi solut yang terdistribusi pada kedua fase dapat dihitung pada saat kesetimbangan.
• Misalnya:
Jumlah solut pada fase atas
p = --- Jumlah total solut dalam kedua fase Jumlah solut pada fase atas = CuVu
Jumlah total solut = CuVu + CbVb Ratio volume U = Vu/Vb
p = KDU/(KDU + 1)
• Sehingga persen terekstraksi ke dalam fase atas adalah
% E = 100p = 100.KDU/(KDU +1)
• Jika q adalah fraksi solut yang tersisa pada fase bawah. Maka menurut definisi p + q = 1
q = 1/(KDU +1)
• Makin besar nilai KD makin besar fraksi solut yang terekstraksi ke dalam fase atas. Makin besar pula persen terekstraksi ke dalam fase atas (%E >>>).
Ratio volum (U) pun memegang peranan dalam
presentasi ekstraksi. Makin besar Volume fase atas makin besar pula nilai U dan %E meningkat pula.
• Hasil kali KD.U disebut faktor kapasitas. Makin
besar faktor kapasitasnya makin besar pula persen terekstraksinya (KDU >>> maka %E >>>).
• Kd solut A dalam sistem air-eter adalah 40. Jika 15 ml larutan air yang mengandung A diekstraksi dengan 20 ml eter, maka:
%E = (100 Kd.U)/(Kd.U +1) dengan U = 1,33
= ( 100. 40.1,33)/(40.1,33 +1)
= 98,155%
• Jika Kd = 1000, dan Vo = Va, U = 1, maka
%E = (100.Kd.U)/(Kd.U +1)
= (100.1000.1)/(1000.1 + 1)
= 99,99%
• Jika nilai Kd tidak terlampau besar, maka %E kecil perlu dilakukan ekstraksi berulang kali (“multiple extraction”) untuk memperoleh persentasi ekstraksi yang besar mendekati 99,99%.
3. Ekstraksi bertahap (multiple extraction )
• Misalkan sejumlah berat W solut A dilarutkan dalam air lalu diekstraksi dengan sejumlah tertentu pelarut organik:
Kd = [A]o/[A]a = w/(W – w) w = W.Kd/(1 + Kd)
di mana w adalah berat A yang terekstraksi ke dalam fase organik.
• Fraksi solut dalam fase organik (fo) dapat dihitung sebagai fo = w/W = KdU/(1 + KdU),
dan fraksi dalam air fa = 1- fo = 1/(1 + KdU).
• Bila ekstraksi dilakukan secara bertahap n kali , maka sisa dalam air (fraksi sisa solut dalam air) adalah :
fa = {1/(1+KdU)}n atau jika volumenya berbeda fa = {Va/(Va + Kd.Vo)}n
• Efisiensi ekstraksi dapat dihitung dari fo = 1 – fa sehingga:
%E = 100.fo
Contoh Perhitungan Ekstraksi Bertahap:
Jika Kd = 4 untuk solut dalam sistem air- eter dan ratio volume U = 1, maka persentase ekstraksi setelah 4 kali ekstraksi diperoleh
Sisa solut dalam air fa = { 1/(KdU + 1)} n, fa = { 1/(4.1 + 1)4 = (1/5)4 = 0,0016
Solut terekstraksi ke dalam fraksi organik adalah fo = 1 – fa = (1 – 0,0016) = 0,9984
dan %E = 100 fo = 99,84%
Hubungan antara Kd terhadap E adalah Kd = (%E) /(100 – %E)
4. Aplikasi Ekstraksi dalam penyiapan sample
• Ekstraksi pelarut sering digunakan dalam penyiapan sampel untuk analisis gravimetri, volumetri,
spektrofotometri dan kromatografi terutama untuk senyawa organik dalam sediaan, dan dalam matriks lain seperti matriks biologi (urin dan darah).
• Garam basa organik seperti sulfat atau
hidrokloridanya serta garam asam organik seperti garam Na atau K merupakan senyawa-senyawa yang mudah larut air. Sedangkan basa organik dan asam organik melarut baik dalam pelarut organik non polar seperti kloroform atau eter. Dengan demikian dapat digunakan dalam desain prosedur ekstraksi.
4.1. Skema Umum Ekstraksi
• Sample diasamkan dengan asam sulfat atau asam hidroklorida hingga pH 2 atau 3 lalu diekstraksi
dengan pelarut organik non polar atau kurang polar.
Senyawa asam dan netral akan terekstraksi ke dalam pelarut organik (eter, kloroform, dll)
• Lapisan air yang mengandung garam basa organik dibasakan dengan amonia hingga pH 11 atau 13 lalu diekstraksi dengan pelarut organik non polar atau
kurang polar. Senyawa basa organik akan terekstraksi ke dalam pelarut organik (kloroform, etil asetat,
dietileter, metilen klorida, heksana, dll)
• Lihat gambar skema ekstraksi.
Skema Umum Ekstraksi
Skema umum ekstraksi lanjutan
Catatan:
Sebelum ekstraksi dilakukan, beberapa sampel yang mengandung protein (misalnya urin, darah, tinja, cairan lambung, liver, makanan dan susu) perlu dilakukan perlakuan untuk menghilangkan proteinnya yang aklan mengganggu analisis.
Protein dapat dihilangkan dengan cara
pengendapan dengan pereaksi tungstat atau amonium sulfat, atau dengan cara hidrolisis dalam suasana asam.
Macam ekstraksi berdasarkan mekanisme
•Ekstraksi khelat
•Ekstraksi solvasi
•Ekstraksi pasangan ion
•Ekstraksi sinergi
Ekstraksi logam / Ekstraksi khelat
Ekstraksi logam sebagai khelat
• Beberapa pereaksi organik yang dapat membentuk kompleks dengan logam yang sering digunakan dalam pemisahan dan analisis logam. Misalnya pereaksi ditizon (difeniltiokarbazon) atau 8 hidoksikuinolin.
• Ditizon dan kompleksnya yang terbentuk tidak larut air tetapi larut dalam pelarut organik seperti kloroform dan karbon
tetraklorida.
• Reaksi yang terjadi adalah
Mn+ + nHXorg + nH2O === MXorg + nH3O+
• Nilai D sangat tergantung pada pH medium:
log D = log Kexp + n log [HX]org + n pH
• Persen ekstraksi logam:
% E = 100D/{D + 1)}
Ekstraksi Logam / Ekstraksi khelat
• Ekstraksi suatu senyawa ke dalam pelarut organik melalui pembentukan kompleks tidak bermuatan sehingga senyawa yang dimaksud mampu
terekstrak secara optimal.
• Kompleks tidak bermuatan dapat di bentuk melalui proses pembentukan khelat ( yaitu; khelat netral
• Pembentukan kompleks oleh ion logam tergantung pada kecendrungan untuk mengisi orbital atom
kosong dalam usaha mencapai konfigurasi elektron yang stabil. Sealama proses polarisasi , deformasi ion akan lebih disukai dengan logam kation yang
mempunyai muatan besar , ukuran ligan yang besar
• Golongan kompleks yang paling penting adalah Khelat.
Ligan pengkhelat memunyai peranan penting dalam ekstraksi logam sebab banyak logam – logam yang dapat tereksitasi dan sekaligus dipisahkan . Khelat
logam merupakan tipe senyawa koordinasi dimana ion logam bergabung dengan basa polifungsional yang
mampu menempati dua atau lebih pposisi pada
lingkaran koordinasi dari ion logam untuk membentuk senyawa siklik.
• Ada beberapa faktor yang mempengaruhi
pembentukan khelat :Kekuatan basa dari gugus fungsi, Elektronegativitas dari atom berkaitan, Ukuran dan
jumlah dari cicin khelat yang terbentuk
• Khelat logam Cu dengan 8-
hidroksikuinolina), Reagensia ini
membentuk molekul yang netral, tak- larut dalam air, larutan kloroform atau karbon tetraklorida dengan ion logam;
senyawan kelat
Ekstraksi solvasi
• Ekstraksi suatu senyawa ke dalam pelarut organik melalui pembentukan spesies tidak bermuatan yang terbentuk antara senyawa dengan pelarutnya
sehingga senyawa yang dimaksud mampu terekstrak pada pelarut organik.
• Contoh :ion besi (III) dapat diekstrak ke dalam eter dari dalam larutan asam klorida yang cukup pekat
dengan adanya dugaan terbentuk senyawa kompleks besi-klorida. Terdapat bukti bahwa spesies yang dapat diekstraksi adalah suatu pasangan ion dari tipe [H3O+, Fe(H2O)2Cl4];
• Uranium dalam media asam nitrat juga
memungkinkan diekstrkasi ke dalam tributilfosfat.
Ekstraksi pasangan ion
• Ekstraksi ini sering digunakan dalam analisis surfaktan ionik secara kolorimetri atau titrasi warna asam.
• Setrimida suatu surfaktan kationik dapat dianalisis dengan ekstraksi menggunakan zat warna anion lipofilik seperti ungu bromkresol.
Pasangan ion berwarna yang terjadi diekstraksi ke dalam kloroform yang dapat ditentukan secara kolorimetri atau titrasi.
• Reaksi yang terlibat adalah:
R4N+ + X- ==== [R4N+.X-]
(ion lawan) (pasangan ion yang larut dalam pelarut organik)
Logam dapat diekstraksi melalui pembentukan pasangan ion juga. Ion logam bereaksi dengan pasangan ion negatif membentuk molekul
besar (bulky) sebagai pasangan ion. Misalnya ion besi (III) dapat diekstraksi dalam medium asam klorida dengan pelarut dietil eter sebagai kloro kompleks besi.
Ekstraksi Pasangan Ion
• Ekstraksi suatu senyawa ke dalam pelarut organik
melalui pembentukan spesies tidak bermuatan akibat adanya ion lawan.
• Kadang-kadang, suatu spesies tak bermuatan yang dapat di-eksjrak ke dalam suatu pelarut organik
diperoleh lewat asosiasi ion-ion yang muatannya
berlawanan. Memang harus diakui bahwa sukar untuk membedakan antara pasangan ion dan suatu molekul netral. Agaknya jika komponen-komponen-nya tetap bersama-sama di dalam air, spesies itu akan disebut suatu molekul.
• Suatu contoh yang lazim dari suatu sistem ekstraksi yang melibatkan pembentukan pasangan ion dalam fasa organiknya dijumpai dalam
penggunaan tetraphenilarsonium kloirida untuk mengekstrak permanganat, perrenat, dan perteknetat dari air ke dalam kloroform. Spesies yang
berpindah ke dalam fase organik adalah suatu pasangan ion, [(C6H5)4As+,J.
• Serupa pula ekstraksi surfaktan dengan meilen blue atau malachite green
Ekstraksi Sinergi
• Ekstraksi suatu senyawa ke dalam pelarut organik melalui
pembentukan spesies tidak bermuatan karena pengompleksan solvasi dan pasangan ion yang terjadi secara sinergi
• Ekstraksi sinergi dapat dibentuk dengan beberapa ligan/khelat dan ion lain sekaligus
• Sinergi dimaksudkan memebrikan efek memperkuat proses ekstraksi terhadap pelarut organik
Koefisien Distribusi
• Bila suatu zat terlarut membagi diri antara dua cairan yang tak dapat campur, ada suatu hubungan yang
pasti antara konsentrasi zat terlarut dalam dua fase pada kesetimbangan.
• Nernst pertama kalinya memberikan pernyataan yang jelas mengenai hukum distribusi ketika pada tahun
1891 ia menunjukkan bahwa suatu zat terlarut akan membagi dirinya antara dua cairan yang tak-dapat campur sedemikian rupa sehingga angka banding konsentrasi pada keseimbangan adalah konstanta pada suatu temperatur tertentu
Rasio Distribusi
• Kadang-kadang perlu atau disukai untuk memperhitungkan kompleks kimiawi dalam kesetimbangan ekstraksi. Misalnya, perhatikan
distribusi as benzoat antara dua fase cair benzena dan air. Dalam fase air, asam benzoate terionisasi
sebagian,
• HBz + H2O → H3O+ + Bz-
• Dalam fase benzena, asam benzoat terdimerisasi sebagian oleh pengikatan dalam gugus karboksil,
Tiap spesies khusus, HBz, Bz-- , (HBz)2, rumus akan
mempunyai nilai kd sendiri yang khusus
• Angka banding D disebut rasio distribusi. Jelas bahwa D tak akan tetap konstan sepanjang jangka kondisi eksperimen. Misalnya, dengan naiknya pH fase berair D akan turun karena asam benzoat diubah menjadi ion benzoat, yang tak terekstrak ke dalam bezena. Penambahan elektrolit apa saja dapat mempengaruhi D dengan mengubah koefesien aktivitas.
Tetapi, rasio distribusi berguna bila nilainya diketahui untuk seperangkat tertentu kondisi.
• Nilai koefisien distribusi sama dengan nilai rasio distribusi jika tidak terjadi disosiasi/ionisasi, dimerisasi, atau asosiasi
• Kd = [senyawa A ]org/[senyawa A]air
• D = [total A]org/[total A]air
• Artinya total A = senyawa A, dimer A atau ion A
Jika diketahui : nilai Kd A dalam pelarut n-heksana/air adalah 10. Setelah ekstraksi [A]air diket 0,1 M. Berapa [A]org jika tidak terjadi asosiasi dissosiasi atau polimerisasi
Kd = [A]org/[A]air 10 = [A]org/0,1 [A]org = 1
5. Faktor yang mempengaruhi ekstraksibilitas.
• Tiga faktor utama adalah:
1. Kelarutan analit dalam berbagai pelarut atau nilai Kd dalam sistem yang digunakan dalam ekstraksi.
2. Imisibilitas ( ketidakbercampuran ) pelarut yang digunakan harus optimum.
3. Kesetimbangan kimia yang melibatkan analit dalam proses ekstraksi.
• Syarat pelarut pengekstraksi:
1. Pelarut hendaknya melarutkan solut sangat besar tetapi hanya tidak atau sedikit saja melarutkan senyawa lain.
2. Pelarut benar-benar tidak bercampur (immiscible) dengan larutan air atau sistem berair.
3. Pelarut mudah menguap dan mudah dimurnikan kembali.
Masalah analisis dapat diselesaikan dengan beberapa cara yaitu:
• Pemilihan pelarut.
Pelarut dipilih berdasarkan atas kelarutan analit
dalam kedua pelarut yang digunakan, dan juga pada ketidakcampuran serta bobot jenis kedua pelarut.
Sifat khusus pelarutpun jadi pertimbangan misalnya penguapan (volatilitas) dan toksisitasnya.
• Pengawasan kekuatan ionik larutan.
Kadar garam dalam larutan berair dibuat tinggi agar kelarutan analit yang bersifat non elektrolit menurun dalam air sehingga analit tersebut menjadi larut
dalam pelarut organik yang digunakan (“salting -out effect”).
• Pengawasan pH.
Kelarutan suatu asam /basa lemah sangat tergantung pada bentuk ionik dan molekularnya. Spesi ionik pada umumnya sangat mudah larut dalam pelarut polar atau pelarut berair, dan spesi molekular sebaliknya. Keasaman atau pH medium dipilih pada lebih kecil 3 unit daripada pKa (untuk asam) , dan 3 unit lebih basa daripada pKb (untuk basa).
• Pengawasan hidrofobisitas ion.
Nilai KD dari ion dapat diubah dengan cara membuat ion lebih bersifat hidrofob. Bila ion lawan yang bersifat
hidrofob ditambahkan kedalam larutan pada kondisi yang sesuai, maka pasangan ion akan terbentuk dan bersifat hidrofob yang akan terdistribusi kedalam pelarut organik.
6. Ekstraksi Sinambung
• Ekstraksi sekali dan berulangkali dilakukan biasanya dengan menggunakan corong pemisah ( separation funnel ).
• Agar ekstraksi cair-cair dapat berlangsung secara sinambung sehingga lebih efisien dan praktis maka digunakan ekstraktor sinambung.
• Pada dasarnya ekstraktan (pelarut) yang digunakan dipanaskan lalu dikondensasikan secara sinambung yang akan bersentuhan dengan larutan analit dalam pelarut yang lain. Terjadilah
ekstraksi analit ke dalam ekstraktan secara sinambung. Kedua pelarut harus tidak bercampur (immiscible).
• Dikenal dua ekstraktor:
1. Ekstraktor dengan ekstraktan lebih ringan dibandingkan rafinat 2. Ekstraktor dengan ekstraktan lebih berat dibandingkan rafinat.
Ekstraktor Sinambung
Perhitungan Dasar
:• Jumlah solut yang terekstraksi dimana kadar solut asal = Co, kadar solut dalam ekstraktan dC/dV dan kadar solut sisa dalam rafinat (Co – C)/v.
• Kesetimbangan akan terjadi, maka berlaku Kd = (dC/dV)/{(Co – C)/v}
dC/dV = Kd. {(Co – C)/v}
dC/(Co – C) = Kd. (dV/v) ln (Co – C)/Co = - Kd (V/v)
ln q = - Kd (V/v) atau ln 1/q = Kd(V/v) V = (2,3 log 1/q) x (v) x (1/Kd)
dimana V adalah jumlah volume total ekstraktan setelah beberapa kali ekstraksi, v adalah volume larutan solut yang akan diekstraksi, q adalah fraksi solut dalam rafinat dan Kd adalah koefisen distribusi analit dalam sistem pelarut.
Contoh Soal:
• Jika Kd = 10, volume rafinat = 100 ml, fraksi solut yang ingin diekstraksi adalah 99%. Berapa volume ekstraktan minimal yang digunakan.
• Kd = 10, v = 100, maka q = 100 % – 99% = 1%= 0,01
• Maka dapat dihitung:
V = 2,3 log (1/0,01) x 100 x (1/10)
= 2,3 log 100 x 100 x 0,1
= 2,3 X 2 x 10
= 46 ml
• Perlu diperhatikan adalah Volatilitas pelarut ekstraktan dan stabilitas analit dalam pengaruh panas ( harus tahan panas).
7. Ekstraksi Padat -Cair
• Ekstraksi padat – cair merupakan tahapan penting dalam preparasi sampel maupun penyediaan obat seperti tintura.
• Secara sederhana ekstraksi jenis ini dilakukan dengan melarutkan
langsung sampel padat dalam pelarut tertentu lalu disaring. Filtratnya diuapkan hingga kering lalu jika perlu residunya dilarutkan dalam
pelarut yang sesuai dan digunakan sebagai larutan uji.
• Teknik pemisahan yang populer adalah ekstraksi menggunakan ekstraktor Soxhlet atau ekstraktor Kumagawa, dimana digunakan
ekstraktan yang mudah menguap pada pemanasan dan terkondensasi sehingga ekstraksi berjalan secara sinambung. Perlu diperhatikan
ketahanan analit dalam suasana panas.
• Kedua ekstraktor mempunyai cara kerja yang sama.
Ekstraksi Padat Cair
• Ekstraksi soxhlet, yaitu ekstraksi antara padat dan cair yang
digunakan untuk memisahkan analit yang terdapat pada padatan menggunakan pelarut organik.
• Ekstraksi padat-cair banyak digunakan dalam dunia usaha untuk mengisolasi substansi berkhasiat di alam, di mana ekstraksi padat- cair dalam laboratorium akan lebih muda dengan mengunakan alat ekstraksi yang dikenal dengan ekstraktor soxhlet. Langkah-langkah ekstraksi padat-cair, yaitu pencampuran pelarut dan badan-bahan yang diekstrak, lalu dipisahkan dengan beberapa fase.
Cara kerja
• Peralatan terdiri dari labu ekstraktan 1, Ruang ekstraksi 4, sistem sifon 6, tabung penghubung dengan kondensor 8 dan sistem pendingin 9.
• Sampel dimasukkan atau dibungkus dalam kertas saring Whatman lalu disimpan dalam 5.
• Labu 1 diisi dengan pelarut ekstraktan dan dihubungkan dengan E yang dilengkapi dengan 6 dan 3 yang tersambung ke pendingin kondensor 9.
• Labu 1 dipanaskan dan pelarut ekstraktan akan menguap melalui 2 masuk ke 3 dan ke kondensor 9 , terjadi pendinginan dan pelarut menetes diatas kantong 5 (sampel) dan akan merendamnya sampai pelarut mencapai batas sifon 6.
• Jika level cairan menaik dan melewati batas 6 maka cairan pada 4 akan mengalir secara otomatis ke labu 1.
• Proses terus berulang sampai bahan terekstraksi sempurna.
Faktor yang harus diperhatikan
• Pelarut pengekstraksi harus melarutkan bahan yang akan diekstraksi secara sempurna ( lihat kelarutannya dalam pelarut yang dimaksud).
• Analit dalam sampel harus tahan panas yaitu tidak terurai oleh panas.
• Volume pelarut pengekstraksi dalam A harus cukup agar tidak kering ( dapat dihitung perkiraan volumenya seperti pada ekstraksi
sinambung).
• Pelarut pengekstraksi tidak atau sedikit saja melarutkan bahan lain selain analit yang dimaksud.
Prinsip Kerja dari Ekstraksi Soxhlet
• Ekstraksi dengan menggunakan pelarut yang selalu baru dari proses penguapan dan kondensasi sehingga terjadi ekstraksi kontinue dengan jumlah pelarut konstan dengan adanya
pendinginan kembali.
• Penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara ekstraksi Soxhlet ditempatkan dalam timbel yang telah dilapisi kertas saring sedemikian rupa, cairan pelarut dipanaskan dalam labu alas bulat sehingga menguap ke atas dan dikondensasikan oleh kondensor menjadi molekul-molekul cairan yang jatuh ke dalam thimble menyaring zat aktif di dalam sampel dan jika cairan pelarut telah mencapai permukaan syphon arm, seluruh cairan akan turun
kembali ke labu alas bulat melalui pipa kapiler hingga terjadi sirkulasi atau juga disebut satu siklus ekstraksi.
Instrumen dalam
Ekstraksi
Soxhlet
Ekstraktor Soxhlet
Fungsi dari Bagian-bagian Alat Soxhletasi
• a) Condensor merupakan bagian alat dari seperangkat alat ekstraktor Soxhlet yang berfungsi sebagai system pendingin uap pelarut panas, sehingga uap pelarut tersebut berubah menjadi fasa cair karena proses kondensasi. Sistem dingin pada kondensor diperoleh dari aliran air dingin yang didinginkan dengan es batu dan dialirkan dengan pompa melalui water in dan
keluar melalui water out.
• b) Bypass sidearm merupakan bagian dari seperangkat alat ekstraktor Soxhlet yang berfungsi sebagai
penghubung labu pemanas dengan thimble yang
tembus langsung ke atas dengan kondensor, sehingga uap air dapat naik dari labu pemanas menuju
kondensor.
• Thimble merupakan bagian dari seperangkat alat Soxhlet yang berfungsi sebagai tempat sampel padat yang telah ditumbuk dan siap untuk diekstrak dengan pelarut yang telah terkondensasi menjadi fasa cair.
• Siphon armmerupakan bagian dari seperangkat alat Soxhlet yang berfungsi sebagai alat penanda bahwa proses ekstraksi berjalan satu siklus.
• Boiling flask merupakan bagian dari seperangkat alat
Soxhlet yang berfungsi sebagai tempat pelarut dan hasil ekstraksi.
• Heating mantle merupakan alat pemanas yang berfungsi untuk memanaskan pelarut agar terjadi proses
penguapan pelarut pada ekstraksi Soxhlet.
Fungsi dari Bagian-bagian Alat Soxhletasi
Keuntungan Menggunakan Ekstraksi Soxhlet
• Dapat digunakan dalam skala besar.
• Keamanan kerja dengan alat ini lebih tinggi.
• Lebuh effisien tenaga karena tinggal menunggu hasil dari proses sirkulasi.
• Pelarut dapat di peroleh kembali setelah proses
ekstraksi selesai, sehingga dapat digunakan kembali.
• Kemurnian tinggi karena susunan alat menyebabkan proses berjalan effektif dan beberapa pengotor
8. Ekstraksi Padat Cair dalam Microwave
Gelombang mikro berada antara radiasi infra merah dengan gelombang radio dalam spektrum elektromagnetik dengan frekwensi antara 300 hingga 300,000 MHz atau sekitar 1000 µm.
Gelombang mikro terdiri dari medan listrik dan medan
magnet. Medan listrik bertanggung jawab atas transfer energi antara sumber gelombang mikro dengan sampel yang disinari.
Energi mikrowave berpengaruh pada molekul melalui rotasi dipol dan konduksi ionik.
Energi panas mikrowave disebabkan oleh gerakan molekul akibat rotasi dipol dan gerakan ion akibat konduktansi ionik.
Energi microwave berinteraksi dengan berbagai bahan dengan cara yang beragam, sangat tergantung pada sifat bahannya.
• Microwave assisted extraction (MAE) dilakukan dengan cara pelarut ekstraksi dipanaskan dengan
energi mikrowave. Analit akan berpartisi dari sampel padat ke dalam pelarut secara cepat.
• Sampel padat dan pelarut disimpan dalam bejana polieterimid(PEI) dan perfluoroalkoksi (PFA) yang tertutup rapat. Kinetika ekstraksi dipengaruhi oleh pemilihan suhu dan pelarut atau campuran pelarut.
• Suhu pada bejana tertutup rapat pada tekanan 175 psig dapat mencapai suhu 150 oC. Pemanasan juga dapat berlangsung pada tekanan normal.
• Campuran pelarut sering digunakan agar ekstraksi lebih efisien.
Microwave Digestion
9. Ekstraksi Fluida Superkritik
• EFS menggunakan sifat khusus dari fluida superkritik untuk mempermudah ekstraksi bahan dari sample padat.
• Alat ekstraksi EFS sering digabung dengan KG, KFS dan KCKT.
• Fluida superkritik pertama kali dikembangkan oleh Baron Cagniard de la Tour (1822). EFS digunakan untuk ekstraksi PCB dan pestisida klor organik oleh EPA (1998).
• Fluida superkritik adalah bahan yang berada di atas suhu dan tekanan kritiknya. Di atas titik kritik senyawa tidak lagi dapat dicairkan
(liquefaction) dengan menaiknya tekanan.
• Fluida superkritik mempunyai transfer massa seperti gas dan sifat kelarutan seperti cairan, yang dapat digunakan untuk memudahkan ekstraksi pelarut lebih efisien dan cepat dihilangkan dibandingkan dengan ekstraksi pelarut.
Diagram Fase Gas CO
2• Fluida yang digunakan dalam EFS adalah gas CO2, NH3, N2O dan pentana.
• Pentana dan N2O mudah terbakar, sedangkan NH3 sangat korosif, maka tinggal gas CO2 yang paling banyak digunakan.
• CO2 merupakan fluida inert, tidak reaktif, non toksik, tidak korosif dan tersedia dalam keadaan murni dan relatif murah. CO2 mudah dihilangkan dari analit dan tidak ada masalah dalam pembuangan.
Suhu kritik
• Suhu kritik adalah suhu di mana diatas suhu tersebut suatu gas tidak dapat lagi dicairkan lagi berapun besarnya tekanan yang diberikan.
• Suhu kritik Tc, Tekanan kritik Pc dan Volume kritik Vc. Konstanta van der Waals (a dan b ), dan tetapan kritik saling berhubungan sesuai
persamaan berikut:
V3 – (b + RT/P).V2 + aV/P – ab/P = O maka a = 3 PVc
b = Vc/3
R = 8a/27 Tc.b
• CO2 tidak melarutkan senyawa polar, dan untuk meningkatkan kelarutan senyawa polar, pada CO2 ditambahkan kosolven atau modifier yang bercampur dengan fluida CO2 pada suhu kamar.
• Pelarut kosolvent yang digunakan adalah metanol, eter siklik, diklorometan, triklorometan, air dan asam format.
• Untuk memperkirakan suhu kritik, digunakan kaidah Guldberg Tc (K) = 1,5 Td, dimana Td adalah suhu didih dalam derajat K.
• Untuk CO2, Tc = 31,3oC atau 304,5 K, Pc = 72,9 atm. Dipilih suhu Tc yang rendah agar analit yang terurai atau bereaksi pada suhu tinggi masih dapat diekstraksi pada kondisi percobaan.
Skema ekstraksi fluida superkritik
Faktor yang harus diperhatikan pada ekstraksi fluida super kritik.
• Tekanan
• Suhu
• Laju alir
• Ukuran sampel
• Waktu ekstraksi
• Kosolvent
• Kebocoran
• Matriks sampel.
10. Ekstraksi Fase Padat
(Solid Phase Extraction, SPE).
Ekstraksi pelarut sangat berguna dalam
pemisahan analitik, namun masih mempunyai beberapa kelemahan.
Misalnya pelarut yang digunakan terbatas pada pelarut yang tidak bercampur untuk sampel larut air dengan jumlah yang cukup besar. Di samping itu pada praktek sering terbentuk campuran
emulsi pada saat pengocokan sehingga menyulitkan pemisahan kedua pelarut.
Beberapa kelemahan ini dapat ditanggulangi
dengan digunakannya ekstraksi fase padat (Solid Phase Extraction)
• SPE didasarkan pada sifat non-equilibrium yang digunakan
untuk memisahkan atau menahan suatu komponen kimiawi dari suatu larutan sampel yang dilewatkan pada kolom yang berisi bahan padat sorben, melalui retensi lalu elusi sorben yang mengandung sampel tersebut untuk memperoleh komponen yang diinginkan.
• Secara matematik dapat digambarkan bahwa makin kuat afinitas analit pada sorben makin besar nilai KD nya, karena konsentrasi analit pada fase sorben [X]B relatif lebih tinggi dibandingkan
analit dalam larutan akhir [X]A. KD = [X]B/[X]A
• Mekanisme pemisahan SPE menyerupai pemisahan pada
kromatografi cair baik dalam kolom atau dalam cakram, dimana KD mendekati tak terhingga yang menggambarkan akumulasi
total analit selama retensi dan KD mendekati nol pada saat elusi atau perlepasan analit dari sorben.
• Pada SPE digunakan bahan padat sebagai adsorben, di mana gugus fungsi hidrofob diikat secara kimia pada permukaan silika seperti misalnya rantai C-8
(oktasilan) atau C-18 (oktadesisilan).
• Gugus hiodrofob itu akan berinteraksi dengan
senyawa organik yang hidrofob dengan daya van der Waals, sehingga senyawa organik itu akan terekstraksi dari sampel berair yang kontak dengan permukaan
padat tersebut.
• Fase padat tersebut ditempatkan dalam suatu
cartridge kecil yang mirip dengan alat suntik (syringe).
Sampel dituangkan pada cartridge tersebut lalu dielusi.
Mekanisme pemisahan dengan SPE
Molekul organik hidrofob akan terekstraksi atau
terikat dan terkonsentrasi pada adsorben non polar sehingga terpisah dari matriks sampel. Analit yang terikat pada kartridge non polar tsb dielusi dengan suatu pelarut yang lebih kuat misalnya metanol lalu ditampung. Jika perlu pelarut diuapkan agar
diperoleh analit yang pekat sebelum dianalisis.
Bila gugus fungsi hidrofil (polar) yang terikat pada permukaan adsorben polar misalnya gugus diol, maka senyawa polar akan berinteraksi dengan fase padat polar melalui jembatan hidrogen dan
terekstraksi dari matriks sampelnya.
Ikatan lain yang mungkin terjadi adalah daya ionik atau elektrostatik
Panduan memilih sistem SPE
SPE menggunakan kolom mini yang mengandung bahan adsorben atau fase diam cair yang terikat secara kimia pada permukaan silika.
Disamping untuk ekstraksi, SPE digunakan pada
pemurnian ekstrak atau clean-up sebelum dilakukan analisis KCKT.
Dengan SPE kelemahan ekstraksi pelarut dapat dihilangkan yaitu:
1. Efisiensi penggunaan pelarut ditingkatkan.
2. Pembentukan emulsi pelarut dihilangkan.
3. Waktu ekstraksi menjadi singkat.
Kartridge SPE
• Sorben SPE diprepacking dalam syring polipropilen dengan sejumlah 500 mg dalam syring 3 atau 5 ml.
Syring kecil (1 ml) mengandung 100 mg sorben SPE.
• Makin kecil syringnya makin kecil kapasitasnya dan makin sedikit pelarut yang digunakan
SPE disk
• Ekstraktan/sorben SPE tersedia dalam bentuk filter (disk) dimana partikel silika 8 µm tercampur dengan serat politetrafluoroetilen (PTFE).
• Disk berbasis fiberglas yang lebih kaku juga tersedia.
Jenis SPE cartridge dan SPE disk
Perbedaan SPE Cartrigde dan SPE Disk
Parameter SPE Cartridge SPE Disks
Dimensi
Bobot kemasan Aliran
Laju linier
Luas permukaan
1.1 X 1.1 cm 500 mg
30 ml/menit 0.5 cm/detik 0.95 cm2
0.05 X 4.7 cm 500 mg
100 ml/menit 0.15 cm/detik 11.34 cm2
Keunggulan SPE
• Ekstraksi lebih efisien (> 99.9%)
• Pelarut lebih sedikit
• Koleksi analit lebih mudah
• Menghilangkan partikulat
• Dapat diotomatisasikan
• Dapat digunakan dalam penyimpanan sampel Kelemahan SPE
• SPE sangat beragam (sesuai pabrik, ukuran dan isinya)
• Dapat terjadi adsorpsi irreversibel pada cartridge atau disk (diikat kuat oleh sorben yang tdk dpt dielusi oleh pelarut/eluen).
Tahapan pemisahan SPE
• Pengkondisian
Melewatkan pelarut (metanol) untuk meningkatkan daya serap sorben (hidrofob)
• Pemasukan sampel, pemisahan dan Retensi
Memasukkan sampel, dimana analit akan tertahan dan beberapa komponen lain akan tertahan juga
• Pencucian
Membilas/menghilangkan komponen lain yang tertahan kartridge dengan suatu pelarut tertentu.
• Elusi
Mengelusi analit dengan pelarut tertentu yang lebih kuat.
• Penampungan Analit
Tahapan pemisahan SPE
10 Kriteria untuk pemilihan teknik pemisahan.
4 kriteria berdasarkan pada sifat-sifat analit
(sampel) sendiri , dan 6 kriteria berdasarkan pada teknik/metode yang akan digunakan.
• 4 Sifat dari analit (sample)
▪ Sifat hidrofilisitas dan hidrofobisitas.
▪ Sifat ionik atau bukan ionik.
▪ Sifat mudah menguap (volatilitas)
▪ Jumlah dan kompleksitas komponen dalam sampel.
6 Kriteria berdasarkan metode yang digunakan
.▪Tujuan analisis : Kualitatif atau Kuantitatif.
▪Derajat pemisahan yang ingin dicapai
( selektifitas dan efektifitasnya ): Pemisahan untuk suatu komponen tunggal atau untuk suatu campuran.
▪Jenis analisis yang mensaratkan rekoveri dan presisi tinggi: Pemisahan dan analisis renik dalam sampel (biologi, residu, analisis doping, dll)
▪Jumlah sampel yang ada atau yang diperlukan dalam analisis
▪Harga dan kecepatan (waktu analisis)
▪Kecakapan Personal dan ketersediaan instrumen dan peralatan analisis
Definisi Ekstrak (Hasil Ekstraksi)
Ekstraksi pertama
Ekstraksi kedua
Ekstraksi ketiga
Pemekatan Ekstrak
EKSTRAK CAIR
dipekatkan
dikeringkan
Alat Pemekat
= (18,76 / 120 ) x 100% = 15,63