• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

38 BAB III

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Profil Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah merupakan instansi vertikal Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham). Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah terletak di Jl. Dr. Cipto No. 64 Semarang. Sekarang ini selaku Kepala Kantor Wlayah (Kakanwil) adalah Bapak Muqowimul Aman, Bc.IP, SH.

Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah yang semula menggunakan nomenklatur Kantor Wilayah Departemen Kehakiman Jawa Tengah dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman Nomor M.04-PR.07.10 Tahun 1982 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Departemen Kehakiman. Wilayah kerja Kantor Wilayah Departemen Kehakiman Jawa Tengah pada saat itu meliputi Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Namun berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman Nomor M.06-PR.07.02 Tahun 1985, untuk Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dibentuk Kantor Wilayah Departemen Kehakiman tersendiri sehingga Kantor Wilayah Departemen Kehakiman Jawa Tengah tidak lagi meliputi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kemudian Keputusan Menteri Kehakiman Nomor M.04-PR.07.10 Tahun 1982 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Departemen Kehakiman disempurnakan dengan Keputusan Menteri Kehakiman Nomor M.03-PR.07.10 Tahun 1992 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Departemen Kehakiman. Pada tahun 2005 dikeluarkan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M-01.PR.07.10 Tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik

(2)

Indonesia. Kemudian pada tahun 2009 nomenklatur Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia berubah menjadi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia sehingga nomenklatur Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia berubah menjadi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia sehingga nomenklatur Kantor Wilayah Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia berubah menjadi Kantor Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Jawa Tengah. Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah mempunyai wilayah kerja seluas Provinsi Jawa Tengah, meliputi 67 satuan kerja/Unit Pelaksana Teknis.

Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah mempunyai tugas melaksanakan tugas pokok dan fungsi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam wilayah Provinsi berdasarkan kebijakan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam melaksanakan tugas tersebut, Kantor Wilayah menyelenggarakan fungsi:

a. Pengkoordinasian, perencanaan, pengendalian program dan pengawasan b. Pembinaan di bidang hukum dan hak asasi manusia

c. Penegakan hukum di bidang permasyarakatan, keimigrasian, administrasi hukum umum, dan hak kekayaan intelektual.

d. Perlindungan, pemajuan, pemenuhan, penegakan dan penghormatan hak asasi manusia.

e. Pelayanan hukum

f. Pengembangan budaya hukum dan pemberian informasi hukum, penyuluhan hukum, dan diseminasi hak asasi manusia, dan

g. Pelaksanaan kebijakan dan pembinaan teknis di bidang administrasi di lingkungan Kantor Wilayah

Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah dikepalai oleh seorang Kepala Kantor Wilayah. Kepala Kantor Wilayah dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh para Kepala Divisi yang berada di Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah. Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah mempunyai 4 Divisi

(3)

yang terdiri dari: Divisi Administrasi, Divisi Pemasyarakatan, Divisi Keimigrasian, dan Divisi Pelayanan Hukum dan HAM.

2. Divisi Keimigrasian pada Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah

Divisi Keimigrasian dikepalai oleh Kepala Divisi (Kadiv), mempunyai tugas membantu Kepala Kantor Wilayah dalam melaksanakan sebagian tugas Kantor Wilayah dibidang Keimigrasian berdasarkan kebijakan teknis yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Imigrasi. Dalam melaksanakan tugas dimaksud, Divisi Keimigrasian melaksanakan fungsi:

a. Perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan pengamanan teknis operasional dibidang keimigrasian

b. Pengaturan, bimbingan dan pengamanan teknis pelaksanaan tugas dibidang lalu lintas keimigrasian, izin tinggal dan status keimigrasian.

c. Pengaturan, bimbingan dan pengamanan teknis pelaksanan tugas dibidang penindakan keimigrasian dan rumah detensi imigrasi.

d. Pengaturan, bimbingan dan pengamanan teknis pelaksanaan tugas dibidang sistem informasi keimigrasian.

e. Pengaturan, bimbingan dan pengamanan teknis pelaksanaan tugas dibidang intelijen keimigrasian dan tempat pemeriksaan imigrasi.

Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, Kepala Divisi (Kadiv) dibantu oleh Kepala Bidang (Kabid) yaitu terdiri dari Bidang Lalu Lintas, izin tinggal dan status keimigrasian, dan Bidang Intelijen, penindakan dan sistem informasi keimigrasian.

Bidang Lalu Lintas, Izin Tinggal dan Status Keimigrasian mempunyai tugas melaksanakan kegiatan di bidang lalu lintas dan fasilitas keimigrasian, izin tinggal orang asing dan status kewarganegaraan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Bidang Intelijen, Penindakan dan Sistem Informasi Keimigrasian mempunyai tugas melaksanakan kegiatan di bidang Intelijen dan Tempat

(4)

Pemeriksaan Imigrasi, penindakan keimigrasian serta sistem informasi keimigrasian sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dalam melaksanakan sebagian tugas pokok dan fungsinya di bidang Keimigrasian, Divisi Keimigrasian Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah berkoordinasi dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT).

yaitu unit yang melaksanakan sebagian tugas pokok Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM di bidangnya di wilayah masing-masing, bertanggungjawab dan wajib menyampaikan laporannya kepada Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Kantor Imigrasi adalah unit pelaksana teknis yang menjalankan fungsi keimigrasian dengan wilayah kerja yang meliputi seluruh Kabupaten dan Kota eks Karesidenan. Berdasarkan keputusan Menteri Kehakiman RI Nomor: M.01 PR 07.04 Tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Imigrasi mempunyai tugas dan fungsi sebagai berikut:

a. Kantor Imigrasi mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas pokok dan fungsi Kementerian Hukum dan HAM di Bidang Keimigrasian wilayah yang bersangkutan;

b. Untuk menyelenggarakan tugas tersebut Kantor Imigrasi mempunyai fungsi:

1) Melaksanakan tugas Keimigrasian dibidang Informasi dan Sarana Komunikasi Keimigrasian.

2) Melaksanakan tugas Keimigrasian dibidang Lalu Linas Keimigrasian 3) Melaksanakan tugas Keimigrasian dibidang Status Keimigrasian 4) Melaksanakan tugas Keimigrasian dibidang Pengawasan dan

Penindakan.

Adapun struktur organisasi kantor wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah Devisi Keimigrasian dan wilayan UPT tempat pemeriksaan laut dan udara provinsi Jawa Tengah adalah sebagai berikut:

(5)

B.

(6)

B.

(7)

B. Pembahasan

1. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Tindak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian di Kantor Wilayah Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Jawa Tengah Divisi Imigrasi

Sebelum disajikan data tentang faktor penyebab terjadinya tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian di Kantor Wilayah Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Jawa Tengah Divisi Imigrasi, terlebih dahulu peneliti kemukakan data tentang izin keimigrasian. Berdasarkan dokumentasi dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Jawa Tengah Divisi Imigrasi yang dimaksud dengan izin Keimigrasian merupakan bukti keberadaan yang sah bagi setiap orang asing di wilayah RI. Izin Keimigrasian terdiri dari: Izin Singgah, Izin Kunjungan, Tinggal Terbatas, Izin Tinggal Tetap.

Izin Singgah (Izin Transit) diberikan kepada orang asing yang memerlukan singgah di wilayah RI untuk meneruskan perjalanan ke negara lain atau kembali ke negara asal. Diberikan selama 14 hari terhitung dari tanggal diberikannya Izin Masuk. Izin Kunjungan diberikan kepada orang asing dalam rangka kunjungan ke wilayah RI dalam jangka waktu yang singkat untuk tugas pemerintahan, pariwisata, kegiatan sosial budaya dan usaha. Izin ini di berikan untuk jangka waktu 60 hari terhitung dari tanggal diberikannya izin masuk. Izin ini dapat juga diperpanjang paling banyak lima kali berturut-turut, setiap kali perpanjangan untuk jangka waktu 30 hari dan untuk keperluan wisata jangka waktu 60 hari tidak dapat diperpanjang. Dapat juga dialihkan menjadi Izin Tinggal Terbatas atas dasar permintaan yang bersangkutan dan sponsornya dengan syarat telah berada di wilayah negara RI sekurang-kurangnya 4 bulan berturut-turut terhitung dari tanggal diberikannya izin masuk.

Izin Tinggal Terbatas, diberikan kepada orang asing yang tinggal di wilayah Indonesia dalam jangka waktu yang terbatas, yaitu orang yang memegang visa tinggal terbatas dan anak yang lahir di Indonesia berumur dibawah 18 tahun dan belum kawin dari ibu WNI dan ayahnya tidak atau

(8)

belum memiliki Izin Keimigrasian dapat diberikan Izin Tinggal terbatas, orang asing yang bekerja sebagai nahkoda, anak buah kapal yang bekerja di kapal atau alat apung atau sebagai tenaga ahli kapal atau alat apung yang langsung bekerja di perairan Indonesia, laut territorial atau pada instalasi landas kontingen atau pada Zona Ekonomi Ekslusif. Diberikan paling lama 1 tahun, dapat diperpanjang lima kali berturut-turut, setiap peranjangan untuk jangka waktu paling lama 1 tahun. Dapat dialihkan statusnya menjadi Izin Tinggal tetap atas dasar permintaan yang bersangkutan.

Izin Tinggal Tetap diberikan kepada orang asing untuk tinggal menetap di wilayah RI yaitu, orang asing yang telah diberikan Izin Keimigrasian berdasrkan UU, orang asing yang memiliki Izin Tinggal Terbatas yang statusnya dialihkan menjadi Izin Tinggal Tetap. Izin ini diberikan dalam jangka waktu 5 tahun sejak diterbitkannya izin tersebut, dan dapat diperpanjang 5 tahun sekali selama yang bersangkutan menetap di wilayah RI. Izin Tinggal tidak diberikan kepada orang asing yang memperoleh izin untuk masuk ke wilayah RI yang tidak meiliki paspor negara tertentu.

Selain dokumen-dokumen tersebut diatas, ada pula jenis dokumen lain yang dipergunakan seperti Bebas Visa Kunjungan Singkat dan Visa kunjungan Saat Kedatangan.

Warga negara asing (WNA) yang masuk ke Indonesia pada umumnya atau Jawa Tengah khususnya, menggunakan fasilitas BVKS maupun menggunakan visa wisata akan mendapat izin kunjungan wisata sesuai dengan izin masuk baik dengan visa atau bebas visa. BVKS adalah kunjungan tanpa visa yang diberikan sebagai pengecualian bagi orang asing warga negara dari negara tertentu yang bermaksud mengadakan kunjungan ke Indonesia dalam rangka berlibur, kunjungan sosial budaya, kunjungan usaha dan tugas pemerintah. BVKS diberikan dalam waktu 30 (tiga puluh) hari tidak dapat diperpanjang masa berlakunya, dan tidak dapat dialih statuskan menjadi izin keimigrasian lainnya, dalam hal terjadi bencana alam, kecelakaan atau sakit dapat diperpanjang dengan persetujuan Menteri

(9)

Kehakiman dan Hak Asasi Manusia dan tidak dapat dialih statuskan menjadi izin keimigrasian lainnya.

Adapun daftar negara subyek bebas visa kunjungan singkat (BVKS) Berdasarkan Perpres No. 43 Tahun 2011 tentang perubahan ketiga atas keputusan Presiden No. 18 Tahun 2003 tentang bebas visa kunjungan singkat adalah sebagai berikut: Thailand, Malaysia, Singapura, Brunei darusalam, Philipina, Hongkong SAR, Macao SAR, Chili, Maroko, Peru, Vietnam, Ekuador, Kamboja, Laos, Myanmar

Di daerah visa kunjungan tersebut dijelaskan bahwa izin kunjungan digunakan penggunaannya untuk berwisata, tetapi kenyataannya ada juga wisatawan yang menyalahgunakannya untuk keperluan lain sebagai sampingan bahkan ada juga wisatawan yang sama sekali tidak berwista.

Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan diketahui bahwa Jawa Tengah merupakan daerah tujuan wisata, berdasarkan data bulan Juli sampai Desember 2013 jumlah orang asing yang tinggal di wilayah Jawa Tengah seperti terlihat pada tabel berikut:

Tabel IV. 1

Jumlah orang asing di wilayah Jawa Tengah Periode Juli - Desember 2013

No. Kantor

Imigrasi ITK KITAS KITAP Jumlah

1 Semarang 40 530 56 626

2 Pemalang 3 24 1 28

3 Cilacap 2 485 5 492

4 Surakarta 94 665 35 794

5 Pati 10 247 11 258

6 wonosobo 3 26 2 31

Jumlah 2229

Sumber: Dokumentasi Kantor Wilayah Kementrian Hukum dan HAM Jawa Tengah 2013

(10)

Keterangan: ITK: ijin tinggal kunjungan, ITAS: ijin tinggal sementara, ITAP: Ijin tinggal tetap

Dengan melihat banyaknya jumlah orang asing di atas, tentunya banyak pula pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh orang asing tersebut. Jenis pelanggaran izin keimigrasian tersebut bervariasi mulai dari penyalahgunaan visa, pemalsuan paspor, sampai pemalsuan izin tinggal. Hal ini dapat memberikan dampak negatif bagi pendapatan negara.

Menurut informasi yang disampaikan oleh petugas Imigrasi Semarang (Ibu Sri Warnati, S.H.) selaku Kasubbid Sistem Informasi Keimigrasian Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah, mengemukakan bahwa meningkatnya penyalahgunaan perizinan oleh orang asing sangat signifikan karena banyaknya peluang-peluang dan kemudahan-kemudahan untuk memasuki wilayah Indonesia. Berdasarkan data yang diperoleh dari Bidang Intelijen, Penindakan dan Sistem Informasi Keimigrasian Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah, jumlah orang asing yang terkena penindakan sepanjang tahun 2013 sebanyak 305, hal ini lebih banyak atau meningkat dibanding dengan tahun 2012, yaitu sebanyak 127 WNA. Berbagai bentuk pelanggaran terdiri dari bermacam-macam bentuk diantaranya: overstay atau melebihi waktu izin tinggal, dan ada yang pelanggaran penyalahgunaan izin, misalnya visa mereka visa kunjungan tetapi disini mereka bekerja. Tindakan Keimigrasian yang dikenakan mereka yaitu dengan pengenaan biaya beban untuk yang melakukan pelanggaran overstay, dan deportasi untuk yang melakukan pelanggaran penyalahgunaan izin tinggal atau pelanggaran-pelanggaran lainnya yang membahayakan keamanan negara kita.

Adapun data jumlah penindakan keimigrasian terhadap orang asing yang tercatat di Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah tahun 2013, seperti terlihat pada tabel IV.2 berikut:

(11)

Tabel IV. 21

Jumlah Penindakan keimigrasian terhadap orang asing di wilayah Jawa Tengah Tahun 2013

No. Bulan Deportasi

1 Januari 15

2 Februari 12

3 Maret 10

4 April 13

5 Mei 5

6 Juni 6

7 Juli 8

8 Agustus 11

9 September 13

10 Oktober 12

11 Nopember 17

12 Desember 5

jumlah 127

Sumber: Dokumentasi Kantor Wilayah Kementrian Hukum dan HAM Jawa Tengah 2013

Menurut pengakuan petugas Imigrasi Semarang (Ibu Sri Warnati, S.H.), berbagai faktor penyebab pelanggaran tersebut antara lain: ruang lingkup fasilitas bebas visa, tenggang waktu fasilitas visa saat kedatangan, dan faktor petugas imigrasi itu sendiri. Berikut data tentang faktor penyebab terjadinya penyalahgunaan izin keimigrasian tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

a. Ruang Lingkup Fasilitas Bebas Visa

Pelaksanaan bebas visa tersebut disalahgunakan oleh orang asing untuk kegiatan-kegiatan di luar izin yang diberikan, hasil penelitian menunjukkan bahwa izin keimigrasian BVKS yang seharusnya digunakan untuk kunjungan wisata, kunjungan sosial budaya, dan

(12)

kunjungan usaha disalah artikan oleh orang asing, sebagai contoh izin keimigrasian kunjungan wisata digunakan untuk berbisnis, izin kunjungan usaha yang seharusnya hanya kunjungan dalam rangka membina hubungan bisnis, pembicaraan bisnis, dan penjajakan memperluas usaha bisnis di Indonesia, tetapi pada praktinya digunakan untuk transaksi bisnis yang dan memakan waktu lebih dari waktu yang ditentukan (hasil wawancara dengan petugas Imigrasi, tanggal 2 Februari 2014).

Jangka Waktu Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS) yang diberikan adalah selama: 30 (tiga puluh) hari dengan ketentuan: (a) Dalam hal terjadi bencana alam, kecelakaan atau sakit dapat diperpanjang dengan persetujuan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, dan (b) Tidak dapat dialih statuskan menjadi izin keimigrasian lainnya.

Adanya pelanggaran yang sering terjadi adalah over stay, berdasarkan data yang diperoleh diketahui over stay, terkait erat dengan penyalahgunaan izin keimigrasian, waktu 30 hari yang diberikan untuk orang asing guna keperluan wisata, tentunya sudah mencukupi, namun apabila hal itu digunakan untuk kegiatan usaha, atau penelitian yang membutuhkan waktu lama, tentunya waktu 30 hari tersebut kurang.

Berdasarkan wawancara dengan Bagus Aditya NS, S.H., M.H., selaku Kasubsi Penindakan Keimigrasian pada Kantor Imigrasi Kelas I Semarang, dalam wawancara tanggal 2 Februari 2014, menegaskan sebagai berikut diketahui bahwa keputusan menteri kehakiman Nomor:

M.HH-08.GR.01.06 tahun 2012, tentang Perubahan keempat atas keputusan menteri kehakiman Republik indonesia nomor M.02-IZ.01.10 tahun 1995 tentang visa singgah, visa kunjungan, visa tinggal terbatas, izin masuk dan izin keimigrasian merupakan suatu kebijakan pemerintah yang memperluas pemberian fasilitas visa jika dibandingkan dengan ketentuan yang diatur dalam keputusan menteri kehakiman Republik Indonesia No. M.01-12.01.02 tahun 1983 tentang pelaksanaan pembebasan keharusan memiliki visa bagi wisatawan asing, yang

(13)

merupakan fasilitas untuk kunjungan khusus wisata. Oleh karena itu tujuan pemberian fasilitas bebas visa wisata (BVW) sudah diatur secara tegas.

Lebih lanjut Aditya NS, S.H., M.H., mengatakan:

Namun kenyataannya masih saja ditemukan penyalahgunaan oleh warga negara asing (WNA) yang melakukan perjalanan wisata atau yang biasa disebut wisatawan asing, misalnya bekerja atau berusaha atau bahkan ada yang mengedarkan obat-obat terlarang.

Berdasarkan dokumentasi di kantor Wilayah Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Jawa Tengah Divisi Imigrasi, diketahui bahwa walaupun setelah ruang lingkup fasilitas bebas visa dalam BVKS diperluas, namun tetap saja ditemukan pelanggaran yang sama.

b. Tenggang Waktu Fasilitas Visa Kunjungan Saat Kedatangan

Pengaturan tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa bagi wisatawan dimaksudkan untuk mendukung pertumbuhan kepariwisataan dan meningkatkan arus wisatawan. Pengaturan tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa untuk wisata telah beberapa kali diatur, baik dalam bentuk peraturan pemerintah, surat keputusan bersama menteri luar negeri dan menteri kehakiman, keputusan menteri kehakiman tentang bebas visa wisata, dan keputusan lainnya.

Berdasarkan pengakuan dari Aditya NS, S.H., M.H., selaku Kasubsi Penindakan Keimigrasian pada Kantor Imigrasi Kelas I Semarang, dalam wawancara tanggal 4 Februari 2014, diketahui bahwa pengaturan tenggang waktu vasilitas bebas visa untuk wisata yang paling ideal adalah 1 (satu) bulan dan dapat diperpanjang selama 30 (tiga puluh) hari alasannya: bahwa kenyataan yang ada menunjukkan lama kunjungan wisatawan asing ke Indonesia antara 3 (tiga) sampai 4 (empat) minggu saja, karena luasnya wilayah objek wisata di Indonesia yang menarik, beberapa wisatawan menganggap waktu 1 (satu) buan dirasakan kurang, maka masih dapat diperpanjang 30 hari lagi.

(14)

Adapun masa tenggang waktu pemberian Visa On Arrival berdasarkan bentuk peraturan seperti terlihat pada tabel di bawah ini:

Tabel III. 4. Masa Tenggang Waktu Pemberian Visa On Arrival Bentuk Peraturan Tahun Tenggang Waktu PP No. 26 tahun 1970 tentang

Koordinasi Pengawasan Orang Asing yang berkunjung ke Indonesia

1970 7 (tujuh) hari

SKB Menteri Luar Negeri dan Menteri Kehakiman tentang Peraturan Visa

1979 30 (tiga puluh hari) + 15 (lima belas hari).

Keputusan Menteri Kehakiman tentang Bebas Visa Wisata (BVW)

1983 60 (enam puluh) hari atau 2 (dua) bulan Keputusan Kehakiman tentang visa

kunjuungan saat kedatangan (VKSK)

2010 30 hari di perpanjang 30 hari

Sumber : Dokumentasi Kantor Wilayah Kementrian Hukum dan HAM Jawa Tengah 2013

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa tenggang waktu pemberian Visa On Arrival dari tahun ke tahun diberikan kemudahan, dan tenggang waktu yang semakin lama. Hal ini merupakan salah satu upaya pemerintah Indonesia untuk mengurangi pelanggaran izin keiimgrasian khususnya terkait dengan Over Stay, dan untuk mendukung mendukung pertumbuhan kepariwisataan dan meningkatkan arus wisatawan. Tenggang waktu wisatawan di Indonesia selama 2 (dua) bulan merupakan pendapatan bagi pengelola wisata. Namun pada praktiknya walaupun tenggang waktu tersebut telah ditambah, pelanggaran over stay tetap mendominasi pelanggaran izin keiigrasian.

(15)

Menurut pengakuan Ibu Sri Warnati, S.H. menyatakan bahwa tenggang waktu 2 (dua) bulan dirasakan terlalu panjang atau lama. Hal ini dikarenakan jarang sekali wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia selama 2 (dua) bulan untuk berwisata saja. Lamanya jangka waktu ini ternyata dapat memberikan peluang bagi wisatawan asing untuk melakukan pelanggaran dengan berbagai motivasi, seperti disalahgunakan untuk bekerja. Sedangkan bagi orang asing yang akan bekerja di Indonesia sudah ada pengaturannya, yaitu mempunyai izin tinggal terbatas dan memiliki izin kerja yang diberikan oleh Menteri Tenaga Kerja.

Lebih lanjut Ibu Sri Warnati, S.H. mengakui bahwa sejak pemberlakuan BVKS, kunjungan wisatawan ke Indonesia meningkat terus. Industri pariwisata mengalami booming. Hal ini disusul dengan maraknya investasi di sektor pariwisata. Pariwisata menyerap banyak tenaga kerja. Multiplier effect bisnis pariwisata juga besar, sangat dirasakan rakyat. Selama BVKS diterapkan, ternyata banyak persoalan yang muncul. Banyak warga asing menyalahgunakan fasilitas bebas visa.

Mereka datang ke Indonesia seolah sebagai turis, tetapi di Indonesia melakukan kegiatan bisnis. Karena mereka berbinis secara gelap, lepas dari target pajak. Selain itu adanya BVKS ada sejumlah warga asing dengan gampang masuk ke Indonesia yang seolah sebagai turis tetapi melakukan kegiatan provokasi dan kegiatan lain yang merugikan negara, hal ini disebabkan oleh lembahnya pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap kegiatan warga negara asing yang ada di Indonesia.

c. Petugas Imigrasi

Peranan petugas imigrasi dalam hal pengawasan sangat besar.

Tidak dapat dipungkiri, meskipun aturan tentang keimigrasian telah baik, harus didukung oleh mental petugas yang baik pula. Terutama para petugas yang bertugas di pintu-pintu masuknya orang asing ke Indonesia, apabila mereka bertindak masa bodoh, maka orang asing tersebut akan leluasa berkeliaran di Indonesia.

(16)

Hasil pengawasan terhadap orang asing yang berkunjung, khususnya yang menggunakan fasilitas bebas visa untuk wisata menunjukkan perlu adanya pemantauan kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui secara dini setiap peristiwa yang dapat diduga mengandung unsur-unsur pelanggaran keimigrasian.

Berdasarkan observasi yang dilakukan di kantor Imigrasi Semarang, mekanisme pengawasan terhadap orang asing telah ditetapkan dalam SOP (sistem operasi dan prosedur) di Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Jawa Tengah Divisi Imigrasi adalah sebagai berikut.

1) Tahap pengawasan, yaitu dilakukan mulai pada saat orang asing mengurus izin masuk ke Indonesia di luar negeri, kemudian saat orang asing tersebut mendarat di wilayah Republik Indonesia harus juga diperiksa dan ketika orang asing tersebut berada tinggal di Indonesia.

2) Teknik pengawasan, yaitu secara administrasif tentang perizinannya, wawancara/ilicting untuk mencari mengetahui kebenaran materil terhadap keberadaan orang asing yang berkunjung, dan diadakan peninjauan ke lokasi.

3) Sistem pelaporan, sebaiknya memiliki satu sistem database diseluruh Indonesia yang dapat diakses oleh semua petugas imigrasi dimanapun berada, dan juga membuat daftar terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh orang asing yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi penindakan imigrasi.

4) Koordinasi dengan instansi terkait, karena dari segi kuantitas petugas imigrasi sangat kurang untuk mengawasi keadaan etiap orang asing dalam segala kegiatan mereka di Indonesia, maka Menteri Kehakiman sebagai yang bertanggungjawab dalam pengawasan orang asing dan dalam hal ini lebih dititik beratkan kepada imigrasi, sepanjang yang menyangkut masalah.

(17)

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa faktor-faktor penyebab terjadinya tindak pidaha penyalahgunaan izin keimigrasian di Kantor Wilayah Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Jawa Tengah Divisi Imigrasi adalah: (1) Ruang Lingkup Fasilitas Bebas Visa, (2) Tenggang Waktu Fasilitas Visa Kunjungan Saat Kedatangan, (3) Petugas Imigrasi.

Faktor ruang lingkup fasilitas bebas visa berdasarkan keputusan menteri Kehakiman No. nomor M.02-IZ.01.10 tahun 1995 tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS), yang telah dilakukan perubahan dengan Peraturan menteri hukum dan hak asasi manusia Republik indonesia Nomor: M.HH-08.GR.01.06 tahun 2012, tentang Perubahan keempat atas keputusan menteri kehakiman Republik indonesia nomor M.02-IZ.01.10 tahun 1995 tentang visa singgah, visa kunjungan, visa tinggal terbatas, izin masuk dan izin keimigrasian, mengatur pelaksanaan teknis bebas visa yang meliputi: Kunjungan Wisata, Kunjungan sosial budaya, dan Kunjungan usaha, dan kunjungan saat kedatangan (VKS).

Sesuai dengan pendapat Iman Santoso (2004: 20) yang menyatakan bahwa hakikat keimigrasian merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam pemberian pelayanan dan penegakan hukum serta pengamanan terhadap lalu lintas keluar masuknya setiap orang dari dan ke dalam wilayah RI, serta pengawasan terhadap keberadaaan warga negara asing di wilayah Republik Indonesia, dan fungsi-fungsi tersebut telah dijalankan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Jawa Tengah Divisi Imigrasi namun pada kenyataannya pelanggaran atas izin keimigrasian tersebut masih terjadi.

Berdasarkan ruang lingkup fasilitas bebas visa seperti tercantum dalam Keputusan Menteri Kehakiman M.HH-08.GR.01.06 tahun 2012, terjadi kesalahan penafsiran bagi orang asing, sehingga kesalahan penafsiran tersebut mendorong orang asing melakukan pelanggaran terhadap izin keiigrasian. Ditinjau dari Keputusan Menteri Kehakiman

(18)

M.HH-8.GR.01.06 tahun 2012, penyalahgunaan izin keiigrasian tersebut merupakan perbuatan yang telah melanggar hukum.

Peraturan Menteri Kehakiman No. M.04-12.01.10 tahun 2010 tentang Bebas Visa Kunjungan Saat Kedatangan (VKSK), pasal (3) menyebutkan bahwa visa kunjungan saat kedatangan dapat diberikan kepada warga negara asing yang bermaksud mengadakan kunjungan ke Indonesia dalam rangka wisata, kunjungan sosial budaya, kunjunganusaha, atau tugas pemeritahan dengan mempertimbangkan asas manfaat, saling menguntungkan dan tidak menimbulkan gangguan keamanan. Namun berdasarkan temuan di lapangan terjadi penyalahgunaan izin keimigrasian tersebut, dimana ada tenaga asing yang memanfaatkan visa saat kunjungan tersebut untuk bekerja di Indonesia.

Karena luasnya wilayah pengawasan, maka tidak mungkin hanya petugas Imigrasi saja yang melakukan pengawasan terhadap orang asing tersebut, yang mana selama ini pengawasan orang asing yang berkunjung di Indonesia hanya dilakukan oleh kantor Imigrasi. Tugas pengawasan orang asing dengan berbagai status keberadaanya merupakan tugas yang dilakukan oleh berbagai instansi sebagaimana diatur dalam Undang- Undang No. 6 Tahun 201 tentang keimigrasian khususnya Pasal (69) menyebutkan bahwa, ayat (1) Untuk melakukan pengawasan Keimigrasian terhadap kegiatan Orang Asing di Wilayah Indonesia, Menteri membentuk tim pengawasan Orang Asing yang anggotanya terdiri atas badan atau instansi pemerintah terkait, baik di pusat maupun di daerah. Ayat (2)Menteri atau Pejabat Imigrasi yang ditunjuk bertindak selaku ketua tim pengawasan Orang Asing. Selanjutnya dalam peraturan pemerintah no. 31 tahun 2013, Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian, Pasal (173) menyebutkan Pelaksanaan pengawasan Keimigrasian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 172 dilakukan oleh: a. Direktur Jenderal, untuk melaksanakan pengawasan Keimigrasian di pusat; b. Kepala Kantor

(19)

Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, untuk melaksanakan pengawasan Keimigrasian di provinsi; c. Kepala Kantor Imigrasi, untuk melaksanakan pengawasan Keimigrasian di kabupaten/kota atau kecamatan; dan d. Pejabat Imigrasi yang ditunjuk atau Pejabat Dinas Luar Negeri, untuk melaksanakan pengawasan Keimigrasian di luar Wilayah Indonesia.

Dalam undang-undang maupun peraturan pemerintah tersebut di atas, tidak mencantumkan instansi lain, maupun keterlibatan lembaga kemasyarakan talam melakukan pengawasana terhadap orang asing, sehingga berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011, dan peraturan Pemerintah nomor 31, Tahun 2013, sebagai Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian belum secara tegas mengatur pengawasan orang asing di luar pejabat kementrian hukum dan HAM.

Terkait dengan permasalahan keamanan dan penegakan hukum

rangka memelihara kondisi keamanan yang kondusif secara otomatis fungsi penegakan hukum keimigrasian harus dilaksanakan secara terus pasal 38 ayat (1) Undang- undang no. 6 tahun 2013, Pasal (68) Ayat (1) Pengawasan Keimigrasian terhadap Orang Asing dilaksanakan pada saat permohonan Visa, masukatau keluar,dan pemberian Izin Tinggal dilakukan dengan: a.

pengumpulan, pengolahan, serta penyajian data dan informasi;

b.penyusunan daftar nama Orang Asing yang dikenai Penangkalan atau Pencegahan; c. pengawasan terhadap keberadaan dan kegiatan Orang Asing di Wilayah Indonesia; d. Pengambilan foto dan sidik jari; dan e.

kegiatan lain yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

Dalam Pengawasan orang asing sesuai dengan peraturan pemerintah No. 31 tahun 2013, Pasal (194) menyebutkan untuk melakukan pengawasan Keimigrasian secara terkoordinasi terhadap kegiatan Orang Asing di Wilayah Indonesia, Menteri membentuk tim

(20)

pengawasan Orang Asing. Berdasarkan peraturan pemerintah tersebut Kantor Wilayah Kementrian Hukum dan Ham Provinsi Jawa Tengah telah mementuk tim Pengawasan orang asing (PORA). Adapun tujuan pengawasan seperti yang dikemukakan oleh Arif Hidayat (2009:73) adalah untuk mewujudkan prinsip selective policy yang dipandang perlu dalam mengawasi orang asing.

Pengawasan yang dimaksud disini merupakan tindak lanjut dari pengawasan setelah orang asing mendapat izin tinggal di Indonesia, baik yang mendarat melalui darat maupun laut. Pengawasan terhadap orang asing yang telah mendapatkan izin masuk di Indonesia dapat di lihat dari dua segi, yaitu: Dari segi keimigrasian, yaitu mengawasi apakah orang asing tersebut melakukan kegiatan dan apakah lamanya tinggal sesuai dengan izin keimigrasian yang diberikan kepadanya, dan dari segi politik ekonomi, sosisal, pertahanan keamanan nasional, pengawasan berfungsi mengawasi apakah orang asing tersebut menimbulkan benturan-benturan yang menggangu kepentingan ketahanan dan keamanan nasional atau tidak. (Susila, 2006: 30).

Faktor petugas Imigrasi sebagai salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya penyalahgunaan izin keimigrasian terebut pernah di kemukakan pada hasil penelitian Noldy Mohede (2011), yang

denda yang berlaku saat ini belum mampu secara menyeluruh, efektif dan memberikan efek jera bagi pelaku dan orang lain tidak meniru perbuatan yang sama untuk menekan tindak pidana keimigrasian. Hal ini diakibatkan juga adanya keterlibatan aparatur pemerintah sejak pengurusan identitas seseorang sebagai syarat memperoleh dokumen-

hasil penelitian Noldy Mohede (2011).

(21)

2. Upaya Penanggulangan Tindak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian di Kantor Wilayah Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Jawa Tengah Divisi Imigrasi

Dalam melaksanakan tugas pengawasan dan penindakan keimigrasian terhadap orang asing sebagai upaya penanggulangan tindak pidaha penyalahgunaan izin keimigrasian di Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah sangat tergantung dari petugas imigrasi, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya, dengan sumber daya manusia yaitu pegawai yang jumlahnya memadai dan memiliki profesionalisme yang tinggi, maka tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian di Kantor wilayah Kementrian Hukum dan Hak Azasi manusia Jawa Tengah dapat ditekan. Maka untuk menanggulanagi permasalahan tersebut Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah telah berusaha meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada melalui berbagai pelatihan, bimbingan teknis (Bimtek), maupun penyuluhan tentang keimigrasian terhadap seluruh pegawai yang ada. Hal ini dikemukakan oleh Ibubu Sri Warnati, S.H., dalam wawancara tanggal 2 Februari 2014, mengemukakan sebagai berikut:

untuk menangulangi permasalahan penyalahgunaan izin keimigrasian, yang paling utama adalah peran petugas, baik dari segi kuantitas maupun segi kualitas, dari segi kuantitas petugas pengawas di pintu-pintu masuk keluar keimigrasian harus cukup, sedangkan dari segi kualitas telah dilakukan dengan berbagai upaya diantaranya mengadakan pelatihan-pelatihan, bimbingan teknis serta penyuluhan materi tentang keimigrasian kepada pegawai baik dilingkungan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah maupun di jajaran unit pelaksana teknis imigrasi secara kuntinyu.

Lebih lanjut Bagus Aditya NS, S.H., M.H., selaku Kasubsi Penindakan Keimigrasian pada Kantor Imigrasi Kelas I Semarang, dalam wawancara tanggal 2 Februari 2014, menegaskan sebagai berikut:

Penyanlahgunaan izin keimigrasian tidak lepas dari peran pengawasan dalam melakukan pengawasan, dan profesionalisme petugas, untuk itu selain jumlah yang harus cukup, setiap pegawai imigrasi harus dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, untuk itu berbagai upaya secara rutin dilakukan di kantor Kantor Wilayah Wilayah Kementerian

(22)

Hukum dan HAM Jawa Tengah khususnya Devisi imigrasi secara kontinyu mengadakan pelatihan, bimbingan teknis, dan penyuluhan terkait dengan fungsi, peran dan tugas masing-masing personil.

Mengenai masalah kurangnya jumlah pegawai, Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah berusaha mengatasinya dengan cara peningkatan jumlah pegawai, yaitu dengan mengadakan penerimaan CPNS setiap tahunnya. Hal ini diinformasikan oleh Bapak Jusuf Perdana, S.H., M.H., Kabid Intelijen, Penindakan Dan Sistem Informasi Keimigrasian dalam wawanara tangal 2 Februari 2013, menyatakan sebagai berikut:

Berbagai upaya untuk mengatasi penyalahgunaan izin keimigrasian khususnya terkait dengan jumlah pegawai, setiap tahun kementrian Hukum dan HAM, selalu mengadakan penerimaan pegawai baru, dalam rangka mengimbangi beban tugas, dan pengganti pensiun. Penerimaan dilakukan secara umum, terbuka dengan cara on line, penerimaan pegawai tentunya dilakukan setelah berkoordinasi dengan instansi terkait seperti Badan Kepegawaian Negara dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara.

Selain menambah jumlah pegawai dan meningkatkan profesionalisme pegawai sebagai upaya preventif, upaya preventif yang dilakukan untuk mencegah terjadinya tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrsian adalah dengan melakukan pengawasan orang asing yang masuk atau kelar wilayah RI khususnya di Wilayah Jawa Tengah, Pengawasan orang asing ketika berada di wilayah Jawa Tengah, dan Pengawasan orang asing yang melakukan kegiatan di wialyah Jawa Tengah. Sedangkan upaya represif yang dilakukan berupa: Tindakan Yuridis berupa: Pemidanaan, Pengusiran, Black list (daftar cekal) (wawancara dengan Bapak Jusuf Perdana, S.H., M.H, tanggal 2 Februari 2013).

Upaya penganggulangan tindak pidana penyalahgunan izin keimigrasian Kantor Wilayah Kementrian Hukum dan Hak Azasi Manusia Jawa Tengah Divisi Imigrasi, dilakukan melalui tindakan preventif dan represif, upaya preventif dilakukan dengan menambah jumlah petugas, dan meningkatkan profesionalisme petugas, selain itu peningkatan melakukan pengawasan secara ketat. Pengawasan yang dimaksud disini merupakan

(23)

tindak lanjut dari pengawasan setelah orang asing mendapat izin tinggal di Indonesia, baik yang mendarat melalui darat maupun laut.

Tindakan preventif ini, merupakan tindakan yang dilakukan dalam usaha untuk mencegah atau menjaga kemungkinan terjadinya tindak pidana imigrasi dalam hal ini yaitu tindak pdana penyalahgunaan izin keimigrasian.

Beberapa usaha preventif menurut Susilo (1993: 31) meliputi: (1) Penjabat pendaftaran dibekali pengetahuan tentang kerahasian/ ciri-ciri khusus dari paspor-paspor negara lain dan dilengkapi dengan alat sinar ultraviolet dan kaca pembesar maupun dengan teknologi modern; (2) Setiap pelabuhan pendaratan memiliki contoh-contoh tanda tangan dari penjabat konsuler pada perwakilan Republik Indonesia di luar negeri yang berwenag menandatngani visa; (3) Meneliti setiap orang asing atau wisatawan yang hendak masuk lewat wawancara singkat di setiap tempat pemeriksaan imigrasi; (4) melakukan pengecekan data yang diperoleh dari tempat-tempat wisatawan menginap, baik hotel, motel, losmen atau tempat kediaman teman (Susila, 1993: 31).

Tindakan yuridis dilakukan dengan mengacu pada pasal (119) UU No.

6 Tahun 2011 yang menyebutkan: ayat (1) Setiap Orang Asing yang masuk dan/atau berada di Wilayah Indonesia yang tidak memiliki Dokumen Perjalanan dan Visa yang sah dan masih berlaku sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah), dan ayat (2) Setiap Orang Asing yang dengan sengaja menggunakan Dokumen Perjalanan, tetapi diketahui atau patut diduga bahwa Dokumen Perjalanan itu palsu atau dipalsukan dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Sangsi yang diberikan berdasarkan UU No. 6 Tahun 2011 Pasal (119) tersebut lebih berat dibandingkan dengan keimigrasian sebelumnya yaitu Pasal 50) UU No. 9 Tahun 1992, yang menyebutkan:

dengan sengaja menyalahgunakan atau melakukan tindakan yang tidak sesuai

(24)

dengan pemberian izin keimigrasian yang diberikan kepadanya dipidanakan dengan pidana penjara paing lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak

Rp. 25.000.000,- .

Tindakan administratif dilakukan dengan mengacu pada Pasal (75) UU No. 6 Tahun 2011, Ayat (1) Pejabat Imigrasi berwenang melakukan tindakan administratif keimigrasian terhadap Orang Asing yang berada di Wilayah Indonesia yang melakukan kegiatan berbahaya dan patut diduga membahayakan keamanan dan ketertiban umum atau tidak menghormati atau tidak menaati peraturan perundang-undangan. Ayat (2) tindakan administratif keimigrasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. pencantuman dalam daftar Pencegahan atau Penangkalan; b.

pembatasan, perubahan, atau pembatalan Izin Tinggal; c. Larangan untuk berada di satu atau beberapa tempat tertentu di Wilayah Indonesia; d.

keharusan untuk bertempat tinggal di suatu tempat tertentu di Wilayah Indonesia; e. pengenaan biaya beban; dan/atau; f. Deportasi dari Wilayah Indonesia. Ayat (3) Tindakan Administratif Keimigrasian berupa Deportasi dapat juga dilakukan terhadap Orang Asing yang berada di Wilayah Indonesia karena berusaha menghindarkan diri dari ancaman dan pelaksanaan hukuman di negara asalnya.

Tindakan pemidanaan merupakan yang digunakan mengacu pada Pasal (113) UU No. 6 Tahun 201, yang menyatakan: Setiap orang yang dengan sengaja masuk atau keluar Wilayah Indonesia yang tidak melalui pemeriksaan oleh Pejabat Imigrasi di Tempat Pemeriksaan Imigrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Upaya pananggulangan dapat dilakukan dengan tindakan pengusiran.

Tindakan pengusiran atau deportasi (deportation) adalah suatu tindakan sepihak dari pemerintah berupa tindakan meneluarkan orang asing dari wilayah Republik Indonesia karena berbahaya bagi ketentraman, kesusilaan, dan kesejahteraan umum. Selain itu, bagi orang asing yang masuk serta

(25)

berada di wilayah Republik Indonesia dapat juga diusir. Ketentuan mengenai deportasi ini dapat dilihat pada Pasal 1, ayat (36) menyatakan bahwa Deportasi adalah tindakan paksa mengeluarkan Orang Asing dari Wilayah Indonesia.

Upaya Black list (daftar cekal), Black list adalah istilah yang dipakai dalam bahasa sehari-hari untuk menggantikan daftar orang-orang yang tidak diperbolehkan meninggalkan Indonesia dan orang-orang yang iidak diperbolehkan memasuki wilayah Indonesia. Di dalam keimigrasian daftar

ini dise ayat 28 dan

29 Undang-undang no. 6 tahun 2011, disebutkan pengertian dari: (28) Pencegahan adalah larangan sementara terhadap orang untuk keluar dari Wilayah Indonesia berdasarkan alasan Keimigrasian atau alasan lain yang ditentukan oleh undang-undang. (29) Penangkalan adalah larangan terhadap Orang Asing untuk masuk Wilayah Indonesia berdasarkan alasan Keimigrasian. Perihal pencegahan secara rinci diatur dalam pasal 91 sampai dengan pasal 97, sedangkan penangkalan diatur dalam pasal 101 UU No. 6 Tahun 2011.

Upaya penambahaan jumlah pegawai untuk mengatasi permasalahan penyalahgunaan izin keiimigrasian tersebut sejalan dengan hasil penelitian Hendra Setiawan, Isrok dan Moch. Ridwan (2013) yang menyimpulkan bahwa: bahwa penyebab lemahnya fungsi pengawasan orang asing pada wilayah kerja Kantor Imigrasi Samarinda adalah karena adanya keterbatasan jumlah petugas imigrasi yang ditempatkan di bagian pengawasan orang asing dan juga dikarenakan luasnya wilayah kerja, untuk mengatasi permasalahan tersebut dari Kantor Imigrasi Samarinda melakukan penambahan jumlah pegawai imigrasi yang bertugas di bidang Pengawasan Orang Asing, sehingga pengawasan secara preventif dan refresif dapat dilaksanakan.

Gambar

Tabel IV. 1
Tabel IV. 21
Tabel III. 4. Masa Tenggang Waktu Pemberian Visa On Arrival  Bentuk Peraturan  Tahun  Tenggang Waktu  PP  No

Referensi

Dokumen terkait

Perhitungan koefisien korelasi menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara peningkatan dosis fraksi air ekstrak buah kayu putih terhadap penurunan nafsu makan dan berat badan

Safitri (2010) Perbedaan Kualitas Hidup antara Pasien Skizofrenia Gejala Positif dan Gejala Negatif Menonjol 30 pasien skizofrenia yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa

Uji normalitas pada asumsi klasik digunakan untuk menguji apakah data yang digunakan yang akan digunakan dalam model regresi berdistribusi normal atau tidak

Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Rom ansyah (2013) dengan hasil penelitan ba hwa kem am puan kerja dan disiplin kerja berpengaruh

Pengujian terhadap sistem komunikasi data pada Power Management System yang di dalamnya ada sensor tegangan dan arus berdasarkan rancangan sistem serta

Sistem yang dimaksud adalah sistem yang akan digunakan oleh masing-masing guru mata pelajaran di setiap kelas dimana sistem tersebut dapat di-install di masing-masing

ASPEK TEKNIS PER SEKTOR-PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN VI-24 Kabupaten Lamandau yang terkait dengan penataan bangunan dan lingkungan adalah.. sebagai

Autotransplantasi dipilih pada kasus ini mengingat teknik ini efektif untuk merehabilitasi gigi di usia pertumbuhan karena berkontribusi untuk merangsang pertumbuhan