9 Universitas Kristen Petra
2.1. Umum
Bab ini membahas mengenai konsep desain kapasitas berdasarkan SNI 03- 1729-2002, performance based design, analisis statis pushover non-linier, dan analisis dinamis time history non-linier.
2.2. Konsep Perencanaan Desain Kapasitas SRPMK
Komponen struktur untuk bangunan baja tahan gempa harus direncanakan berdasarkan beban dan kuat terfaktor di mana kombinasi beban yang bekerja tidak boleh melebihi kuat rencana struktur setelah dikali dengan suatu faktor reduksi φ.
Ru ≤ φRn (2.1) di mana:
Ru = pengaruh aksi terfaktor, yaitu momen atau gaya yang diakibatkan oleh suatu kombinasi pembebanan, atau pengaruh aksi perlu yaitu momen atau gaya yang disyaratkan untuk struktur tahan gempa.
φ = faktor reduksi kekuatan.
φRn = kekuatan nominal komponen struktur.
Sistem rangka pemikul momen dengan menggunakan struktur baja dibagi menjadi 3 tipe yaitu:
1. Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) 2. Sistem Rangka Pemikul Momen Terbatas (SRPMT) 3. Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa (SRPMB)
Perbedaan ketiga jenis sistem struktur di atas ada pada kemampuannya dalam mengalami deformasi inelastis dan tingkat daktilitas. SRPMK dan SRPMT diharapkan mampu mengalami rotasi inelastis masing-masing sekurang-kurangnya 0,03 dan 0,02 radian pada semua sambungan balok ke kolom yang digunakan sebagai sistem pemikul beban gempa, sedangkan SRPMB diharapkan mengalami rotasi inelastis sekurang-kurangnya 0,01 radian (SNI 03-1729-2002 pasal 15.7, 15.8, 15.9).
Selain faktor deformasi inelastis di atas, ketiga macam struktur rangka pemikul momen ini juga dibedakan berdasarkan perlakuan daktilitas gedung, yang dipengaruhi besarnya faktor daktilitas (µ) dan faktor reduksi gempa maksimum (Rm), di mana memenuhi persamaan sebagai berikut:
1,6 ≤ R = µ f1 ≤ Rm (2.2) di mana:
R = faktor reduksi gempa.
R = 1,6 adalah faktor reduksi gempa untuk struktur gedung yang berperilaku elastis penuh.
µ = faktor daktilitas struktur gedung. (1 ≤ µ ≤ 5,3)
f1 = faktor kuat lebih beban dan bahan yang terkandung di dalam
struktur gedung dan nilainya ditetapkan sebesar: f1 = 1,6.
Rm = faktor reduksi gempa maksimum yang diperbolehkan.
Perbandingan tipe gedung, besarnya faktor daktilitas, dan besarnya faktor reduksi gempa dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut:
Tabel 2.1. Nilai Faktor Daktilitas dan Faktor Reduksi Gempa Maksimum untuk Berbagai Sistem Struktur
Taraf kinerja strutur
gedung µ Rm
SRPMK Daktail penuh 5,3 8,5
SRPMT Daktail parsial 3,75 6 SRPMB Daktail parsial 2,7 4,5
Konsep utama dalam desain kapasitas (capacity design) adalah strong column weak beam yang mengacu pada pola keruntuhan side sway mechanism (Gambar 2.1). Pada pola keruntuhan ini, saat terjadi gempa rencana di mana struktur telah melampaui tingkat elastis, lokasi sendi-sendi plastis yang diijinkan terjadi adalah pada ujung-ujung balok dan pada kaki kolom lantai dasar saja. Dalam perencanaan strong column weak beam, bila balok yang merangka pada kolom mengalami leleh, maka kolom tersebut harus kuat menahan momen leleh (Mp) dari balok yang merangka tersebut. Oleh karena itu, perencanaan kolom baru dapat dilakukan setelah perencanaan balok.
2.2.1
persa
a. P
rumu inter 1729
1. Konsep Secar amaan-pe
Mu ≤ Vu ≤
Nu ≤ di ma Mu
φMn
Vu
φVn
Nu
φNn
erencanaa Pada us interak raksi yang 9-2002 pa
p Desain K ra umum, ersaman se
Mn
φ
≤ Vn
φ Nn
φ
≤ ana:
= mome
= mome (SNI 0
= gaya
= kuat g (SNI 0
= gaya
= kuat untuk 6.4-2)
an Balok saat me ksi. Karen g menentu asal 8.9-2)
Gambar
Kapasita semua ko ebagai ber
en lentur t en lentur n 03-1729-2
geser terf geser nom 03-1729-2 aksial terf nominal k aksial tek
)
ndesain b na gaya ak
ukan adal ). Interaks
r 2.1. Side
s Berdasa omponen rikut:
terfaktor.
nominal b 2002 tabel faktor.
minal balok 2002 tabel
faktor.
penampan kan dan 0
balok, pro ksial yang
lah intera si tersebut
e Sway Me
arkan SN balok dan
balok deng l 6.4-2)
k dengan l 6.4-2)
ng kolom 0,9 untuk a
ofil terpil g bekerja p aksi antar
dapat ditu
Mechanism
NI 03-1729 n kolom h
gan φ diam
φ diambi
m dengan aksial tari
lih dihitu pada balo a momen uliskan se
Universita
9-2002 harus mem
mbil sebe
il sebesar
φ diamb ik. (SNI 1
ung kapas ok dapat d n dengan ebagai ber
as Kristen
menuhi
esar 0,9.
0,9.
bil sebesa 729- 2002
sitasnya d diabaikan, geser (SN rikut:
n Petra
(2.3) (2.4) (2.5)
ar 0,85 2 tabel
dengan , maka NI 03-
375 , 1 625
,
0 ≤
+
n u n
u
V V M
M
φ
φ (2.6)
b. Perencanaan Kolom
Kolom merupakan elemen pemikul beban lateral yang utama. Gaya lateral memberikan efek momen yang lebih dominan dibanding efek gaya aksial. Di samping itu, kolom juga menerima beban gravitasi yang berasal dari balok, akibat beban gravitasi ini kolom menerima beban aksial yang lebih dominan dibanding momen. Secara umum, kolom akan menerima beban kombinasi antara beban gravitasi dan beban lateral sehingga kolom perlu direncanakan terhadap interaksi antara momen dengan aksial. Rumus interaksi (berdasarkan SNI 1729-2002 pasal 7.4.3.3) untuk memeriksa kapasitas kolom dapat dilihat pada Persamaan 2.7, dan 2.8 sebagai berikut:
Untuk <0,2
n u
N N φ
2 + + ≤1
ny uy nx
ux n
u
M M M
M N N
φ φ
φ (2.7)
Untuk ≥0,2
n u
N N φ 9 1
8 ⎟⎟≤
⎠
⎞
⎜⎜
⎝
⎛ +
+
ny uy nx
ux n
u
M M M
M N
N
φ φ
φ (2.8)
Besarnya Nn menurut SNI 03-1729-2002 pasal 7.6.2 didapatkan dari persaman sebagai berikut:
Nn = ω
y g f
A . (2.9)
di mana:
Ag = luas penampang profil fy = tegangan leleh profil
ω = faktor yang ditentukan dengan rumus sebagai berikut:
untuk λc ≤ 0,25 maka ω = 1 untuk 0,25 ≤ λc < 1,2 maka ω =
λc
67 , 0 6 , 1
43 , 1
− untuk λc > 1.2 maka ω = 1.25 λc2
fakto nom (dala (dala
Sum
SNI dalam bersa
λc = diman i = ja fy = te E = m Lk = p
Panja or tekuk ( mogram te
am hal ini am hal ini G =
Gam mber : SNI
Selai 03-1726- m arah u amaan de
= E
f i Lk y
π. a:
ari-jari gir egangan le modulus el
panjang ef ang efekti (kc). Fakt ersebut, G
i adalah k i balok). B
b k
L I
L I
) / (
) / (
∑
∑
mbar 2.2. N 03-1729-
in itu, unt -2002 pas utama ha engan pen
rasi eleh profil lastisitas b fektif
if elemen tor tekuk GA dan G kolom) ter Besarnya G
balok kolom
Nilai kc u -2002 Gam
tuk simula sal 5.8.2 arus dian ngaruh pem
l baja
didapat d kc didapa GB adalah
rhadap ke G didapat
untuk Port mbar 7.6-
asi efek g mensyara nggap efe mbebanan
dengan m at dari no
perband ekakuan el
t dari SNI
tal Bergoy 2 hal 33.
gempa yan atkan bahw ektif 100%
n dalam a
engalikan omogram dingan kek
lemen pen 03-1729-
yang dan T
ng datang wa penga
% dan arah tegak
Universita
n panjang pada Gam kakuan e nahan di u -2002 pasa
Tak Bergo
gnya dari s aruh pemb harus di k lurusnya
as Kristen
elemen d mbar 2.2 elemen te ujung-uju al 7.6.3.3
oyang
sembaran bebanan g ianggap a, tetapi d
n Petra
(2.10)
dengan . Pada ertekan ungnya
. (2.11)
ng arah gempa terjadi dengan
efektifitas hanya 30%. Sehingga rumus interaksi pada Persamaan 2.7 dan 2.8 didapatkan dengan perhitungan sebagai berikut:
Diambil contoh untuk kombinasi pembebanan 1.2D + 0.5L + 1.3E
Mux= 1,2 M33D + 0,5 M33L + M33EX + 0,3 M22EY (2.12) Muy= 1,2 M22D + 0,5 M22L + 0,3 M22EX + M22EY (2.13) di mana:
M33 = momen nominal dalam arah sumbu kuat profil M22 = momen nominal dalam arah sumbu lemah profil
Setelah didapatkan besaran Mux dan Muy, maka masing-masing dipergunakan pada persamaan interaksi di atas (Persamaan 2.7 atau 2.8).
2.2.2. Perencanaan SRPMK menurut SNI 03-1729-2002 a. Perencanaan Strong Column Weak Beam
Perbandingan momen kolom terhadap momen balok sesuai pasal 15.7-4 SNI 03-1729-2002 harus memenuhi persyaratan:
* 1
* >
∑ ∑
pb pc
M
M (2.14)
ΣM*pc adalah jumlah momen-momen kolom di bawah dan di atas sambungan pada pertemuan antara as kolom dan as balok. ΣM*pc ditentukan dengan
menjumlahkan proyeksi kuat lentur nominal kolom, termasuk voute bila ada, di atas dan di bawah sambungan pada as balok dengan dengan reduksi akibat beban aksial tekan kolom. Diperkenankan untuk mengambil nilai ΣM*pc= ΣZc(fyc – Nuc / Ag ).
ΣM*pb adalah jumlah momen-momen balok pada pertemuan as balok dan as kolom.
ΣM*pb ditentukan dengan menjumlahkan proyeksi kuat lentur nominal balok di daerah sendi plastis pada as kolom. Diperkenankan untuk mengambil ΣM*pb= Σ(1,1Ry.Mp + My).
di mana:
fyc = tegangan leleh penampang kolom.
Nuc = gaya aksial tekan terfaktor pada kolom.
Zc = modulus plastis kolom.
Ry = faktor modifikasi tegangan leleh (diambil 1,5 untuk BJ 37).
My = momen tambahan akibat amplifikasi gaya geser dari lokasi sendi
Universitas Kristen Petra
plastis ke as kolom.
b. Syarat Kekompakan Profil
SNI 03-1729-2002 pasal 15.7.4.2 menyebutkan bahwa rasio lebar terhadap tebal (sayap maupun badan) balok-balok harus memenuhi persyaratan λp Tabel 15.7-1 SNI1729-2002, seperti terlihat pada Gambar 2.3 di bawah ini:
Gambar 2.3. Nilai Batas Perbandingan Lebar Terhadap Tebal, λp, untuk Elemen Tekan dalam Perencanaan Bangunan Tahan Gempa
Sumber: SNI 03-1729-2002 Tabel 15.7-1 hal 153.
Apabila perbandingan pada Persamaan 2.13 lebih kecil atau sama dengan 1,25, kolom-kolom juga harus memenuhi persyaratan λp pada Gambar 2.3 di atas. Bila hal tersebut tidak dipenuhi maka kolom-kolom harus memenuhi persyaratan λp pada Tabel 7.5-1. SNI 03-1729-2002, seperti terlihat pada Gambar 2.4 berikut ini:
Gambar 2.4. Nilai Batas Perbandingan Lebar Terhadap Tebal, λp, untuk Elemen Tekan
Sumber : SNI 03-1729-2002 Tabel 7.5-1 hal 30-31.
Dari tabel Tabel 7.5-1. SNI 03-1729-2002, mensyaratkan batasan-batasan momen sebagai berikut:
• Penampang kompak
Untuk penampang-penampang yang memenuhi λ ≤ λp, kuat lentur nominal penampang adalah
Mn = Mp (2.15)
• Penampang tak kompak
Untuk penampang-penampang yang memenuhi λ p< λ ≤ λr, kuat lentur nominal penampang adalah
( )
p r
p r
p p
n M M M
M λ λ
λ λ
−
× −
−
−
= (2.16)
• Penampang langsing
Untuk pelat sayap yang memenuhi λr ≤ λ, kuat lentur nominal penampang adalah
2
⎟⎠
⎜ ⎞
⎝
= ⎛
λ λr
r
n M
M (2.17)
Untuk pelat badan yang memenuhi λr ≤ λ, kuat lentur nominal penampang ditentukan pada bagian lain dalam SNI 03-1729-2002.
2.2.3. Kinerja Batas Layan dan Batas Ultimit
Perencanaan struktur harus memenuhi syarat kekuatan dan kinerja.
Ketentuan-ketentuan yang dijelaskan pada poin 2.2.1 dan 2.2.2 merupakan prosedur perencanaan dari segi kekuatan. Berdasarkan SNI 03-1726-2002 pasal 8, untuk menjamin struktur akan memenuhi persyaratan kinerja, maka simpangan antar lantai akibat beban lateral perlu dibatasi dengan dua batasan yaitu kinerja batas layan dan batas ultimit.
Kinerja batas layan mensyaratkan bahwa simpangan antar lantai tidak boleh melebihi 0,03
R kali tinggi lantai yang bersangkutan atau 30 mm. Kinerja batas layan ini dimaksudkan untuk membatasi terjadinya pelelehan baja pada saat terjadi gempa.
Selain itu kinerja batas layan juga dimaksudkan untuk mencegah kerusakan non- struktur dan ketidak-nyamanan penghuni.
Universitas Kristen Petra
Kinerja batas ultimit ditentukan oleh simpangan dan simpangan antar lantai maksimum akibat gempa rencana saat kondisi struktur berada di ambang keruntuhan.
Persyaratan ini dimaksudkan untuk mencegah kemungkinan terjadinya keruntuhan yang dapat menimbulkan korban jiwa dan terjadinya benturan dengan gedung yang bersebelahan atau bagian struktur lain yang dipisah dengan dilatasi. Simpangan dan simpangan antar lantai ini harus dihitung akibat pembebanan gempa nominal yang dikalikan dengan suatu faktor pengali ξ. Untuk struktur gedung beraturan, nilai ξ diambil sebesar 0,7xR. Disyaratkan bahwa simpangan antar lantai tidak boleh melebihi 0,02 kali tinggi lantai yang bersangkutan pada saat terjadi gempa arah X dan Y. Persyaratan yang sama juga diatur di dalam SNI 03-1729-2002 pasal 15.4.
2.3. Performance Based Design (PBD)
Perencanaan struktur bangunan tahan gempa pada umumnya didasarkan pada ketentuan-ketentuan dan batasan-batasan yang terdapat pada peraturan setempat (building codes), di mana peraturan-peraturan tersebut memang dibuat untuk menghindarkan adanya korban jiwa pada saat terjadi gempa besar atau mengurangi kerusakan dan kerugian harta-benda pada saat terjadi gempa sedang. Namun demikian, prosedur yang disyaratkan di peraturan tidak secara eksplisit menjamin baik-tidaknya kinerja struktur tersebut pada saat gempa terjadi. Jika kinerja tersebut dapat diperkirakan maka owner sebagai pihak yang mendanai pembangunan, dapat mengetahui secara lebih jelas seberapa besar resiko dari investasinya. Perencana struktur dapat menawarkan kepada owner secara lebih detail sekuat apa bangunan yang owner inginkan untuk diwujudkan. Dari sinilah bermula pemikiran tentang perencanaan berbasis kinerja (performance based design) di mana daktilitas menjadi suatu faktor yang sangat menentukan.
Berdasarkan SNI 03-1726-2002 pasal 3.12, daktilitas struktur dapat diartikan sebagai kemampuan suatu struktur gedung untuk mengalami simpangan pasca-elastik yang besar secara berulangkali dan bolak-balik akibat beban gempa di atas beban gempa yang menyebabkan terjadinya pelelehan pertama, sambil mempertahankan kekuatan dan kekakuan yang cukup, sehingga struktur gedung tersebut tetap berdiri stabil, walaupun sudah berada dalam kondisi di ambang keruntuhan.
2.3.1. Hubungan Momen-Kurvatur
Salah satu jenis kurva gaya-deformasi yang sering dipakai untuk analisis penampang adalah kurva momen-kurvatur. Kurvatur dapat didefinisikan sebagai perubahan rotasi yang terjadi pada setiap perubahan nilai momen yang terjadi.
Dengan adanya perubahan momen yang bekerja di setiap saat, maka regangan yang terjadi akan selalu berubah-ubah. Perubahan regangan ini menyebabkan terjadinya perubahan kurvatur pula karena kurvatur secara mekanika didapat dari perbandingan nilai regangan (ε) terhadap tinggi garis netral ke serat terluar (c), kurvatur Ф=ε/c (radian/unit length), seperti terlihat pada Gambar 2.5 di bawah ini.
Gambar 2.5. Kurvatur
Kurva momen-kurvatur merupakan salah satu elemen yang sangat penting dalam PBD, khususnya saat dilakukan pengujian kinerja bangunan. Hasil kurva momen-kurvatur ditunjukkan seperti pada Gambar 2.6, titik leleh dapat dilihat yaitu pada saat kurva untuk pertama kali berbelok atau berubah arah setelah meningkat secara mendekati linier dari titik nol. Titik ini disebut juga yield point. Titik ini lalu menunjukkan yield moment (My) dan yield curvature (Фy). Kondisi pelelehan ini terus berlangsung hingga seluruh penampang elemen tersebut leleh. Titik ini disebut titik ultimit atau ultimate point.
Universitas Kristen Petra
Gambar 2.6. Contoh Grafik Momen-Kurvatur
Pada titik ini diperoleh juga koordinat momen dan kurvatur yang merupakan nilai Mu
dan Фu. Untuk memberikan nilai My, Фy, Mu, Фu, pada skripsi ini dipakai program XTRACT v3.0.5.
2.3.1.1. Pengenalan Program XTRACT v3.0.5
XTRACT v3.0.5 adalah sebuah program yang dirancang untuk mampu menganalisis penampang termasuk di dalamnya perhitungan besarnya momen- kurvatur dari berbagai macam bentuk material, seperti beton bertulang, baja, dan material lainnya.
Pemodelan di XTRACT dimulai dengan memasukkan properti material yang digunakan. Untuk material baja, opsi yang dapat dipilih adalah bilinear steel dan steel with strain hardening. Untuk skripsi ini, dipilih opsi bilinear steel di mana efek strain hardening tidak diperhitungkan karena hasil yang diperoleh dengan mengabaikan efek strain hardening masih dapat dipertanggungjawabkan dalam artian memiliki akurasi hasil yang tidak jauh dari yang sebenarnya [ASCE 1971,Plastic Design in Steel]. Setelah memasukkan material yang digunakan, penampang dapat digambarkan dan dilakukan proses discretizing. Discretizing adalah salah satu proses dalam metode elemen hingga (finite element) di mana penampang tersebut dibagi-bagi menjadi elemen-elemen kecil. Semakin kecil potongan yang dilakukan, semakin akurat hasil yang didapat, tetapi kemampuan XTRACT dalam membagi penampang menjadi elemen-elemen kecil memiliki batas tertentu.
2.3.2. Tingkat Kinerja
Ada banyak pedoman untuk perencanaan performance based design, seperti Asian Concrete Model Code (ACMC) 1999, Applied Technology Council (ATC)-40 1996, FEMA, dan lain-lain. Dalam penelitian ini, penilaian tingkat kinerja mengacu pada displacement yang terjadi, drift ratio, lokasi sendi plastis dan damage index.
Pada performance based design, ditetapkan berbagai tingkat kinerja struktur (multiple performance objective levels) yang diharapkan terjadi pada saat struktur dilanda beban gempa dengan tingkat intensitas tertentu. Tingkat kinerja (performance) ini merupakan pilihan yang harus ditentukan oleh perencana struktur pada tahapan awal berdasarkan beberapa kondisi batas. Kondisi batas ini bersifat fleksibel karena merupakan kesepakatan dari pihak perencana struktur dengan pihak pemilik bangunan (owner).
Sesuai dengan tujuan performance based design, yaitu penetapan tingkat kinerja struktur dari berbagai tingkat intensitas gempa dan beberapa kondisi batas rencana, FEMA 350 menetapkan tiga tingkat intensitas gempa dengan rentang periode ulang gempa yang dapat disesuaikan, tergantung kepada fungsi dan umur efektif bangunan, yaitu:
a. Gempa kecil atau sedang (Minor), yaitu gempa yang dapat terjadi beberapa kali selama umur efektif bangunan.
b. Gempa kuat (Moderate), yaitu gempa yang dapat terjadi sekali selama umur efektif bangunan.
c. Gempa sangat kuat (Ultimate/Severe), yaitu gempa terkuat yang mungkin terjadi pada sekitar lokasi bangunan rencana atau pada suatu kawasan rawan gempa yang lebih luas.
Dari tiga tingkat intensitas gempa di atas, FEMA 350 dan Vison 2000 membagi tingkat kinerja menjadi tiga kelompok yaitu :
a. Immediate Occupancy
Pada batasan ini, fungsi bangunan dapat dipertahankan karena kegiatan operasional masih bisa berfungsi. Kerusakan hanya terjadi pada elemen-elemen nonstruktural saja. Selain itu, hampir tidak terjadi sendi plastis pada elemen struktur yang pada mulanya memang direncanakan untuk mengalami sendi plastis. Kriteria
tingk tingk b. L
elem yang diper elem index c.
elem diper mem tetap tahap 1,00
berik
G
kat kerusa kat (drift r Life Safety
Pada men yang
g terjadi rbaiki. Da men-eleme x sebesar Structura Pada men struk
rbaiki lag mpertahank p berdiri
pan ini, s dan drift
Leve kut ini.
Gambar 2.7
akan (dam ratio) mak ty
batasan memang pada dae aerah yang en struktur
0,333 − 0 al Stability batasan i ktur yang gi. Namu kan keku walaupun truktur tid
ratio mak el kinerja
7. Matriks
mage index ksimum se
ini, dipe direncana erah send
g berada d r tidak ad 0,50 dan d y
ini, terjad g direncan un, secara uatan dan
n sudah b dak dapat ksimum se
bangunan
s Kinerja
ex) sebesar ebesar 0,5
rbolehkan akan untu di plastis di luar sen da yang m drift ratio
di sendi-se nakan m a keseluru
kekakua berada da t dipakai ebesar 2,5 n yang dih
Struktur u
r 0,10 − 0 5%.
n terjadi uk terjadi masih be ndi plastis mengalami maksimum
endi plasti mengalami
uhan stru an yang c alam kond lagi. Krit 5%.
harapkan
untuk Berb
0,333 da
sendi-sen sendi pl erada dal s tidak me kegagala m sebesar
is yang cu i sendi p uktur mas cukup, se disi di am
eria dama
terjadi da
bagai Tin
Universita
an rasio s
ndi plastis astis. Nam lam kond engalami p an geser. K
r 1,5%.
ukup para plastis da sih cukup ehingga st mbang ke
age index apat dilih
ngkat Inten
as Kristen
simpangan
s pada el mun, keru disi yang pelelehan Kriteria da
ah pada el an tidak p efektif truktur te eruntuhan.
x sebesar 0 at pada m
nsitas Gem
n Petra
n antar
lemen- usakan
dapat n. Pada amage
lemen- dapat untuk ersebut . Pada 0,50 −
matriks
mpa
2.4. Analisis Statis Pushover Non-linier
Ada beberapa metode yang dapat dipakai untuk menguji baik-tidaknya kinerja struktur bangunan, khususnya ketika terjadi gempa. Untuk menguji kinerja terhadap gempa, dilakukan analisis secara non-linier karena bangunan tidak lagi berperilaku linier elastis pada saat terjadi beban lateral yang besar. Analisis statis pushover non-linier (analisis pushover) merupakan salah satu cara untuk mengetahui kinerja suatu struktur. Konsep dasar dari analisis pushover adalah memberikan pola beban lateral statis tertentu dalam suatu arah yang ditingkatkan secara bertahap.
Penambahan beban lateral statis ini dihentikan sampai struktur tersebut mencapai target displacement atau beban tertentu (performance point) atau ketika struktur mencapai kondisi keruntuhan. Analisis pushover dilakukan setelah analisis struktur linier dan desain struktur telah selesai. Prosedur analisis pushover adalah sebagai berikut:
• Dari hasil analisis struktur linier, didapatkan profil-profil yang memenuhi persyaratan desain yang berlaku.
• Penentuan nonlinear hinge properties untuk tiap balok dan kolom di mana hinge properties ini menyatakan kapasitas kekuatan dari tiap-tiap balok dan kolom.
• Penentuan batas ijin simpangan pada lantai atap serta penentuan titik kontrol tertentu untuk memantau perpindahan, di mana pada umumnya diambil titik pada lantai atap.
• Penentuan pattern lateral load yang akan digunakan untuk analisis non-linier.
Biasanya untuk analisis pushover, diberikan pola beban berupa gaya inersia sesuai dengan respons struktur ragam pertama (mode 1).
• Pelaksanaan analisis Pushover.
• Penggambaran kurva kapasitas yang menyatakan hubungan antara gaya geser dasar (base shear) dan perpindahan lantai atap (roof displacement).
• Penentuan capacity spectrum demand. Disini dipakai respons spektrum sesuai dengan wilayah gempa yang akan dianalisis.
• Penentuan performance point yang menunjukkan kinerja bangunan ketika dibebani gempa rencana sesuai dengan respons spektrum rencana.
Universitas Kristen Petra
Performance point dapat memberikan informasi berupa waktu getar efektif (Teff), damping efektif (βeff), simpangan (D), gaya geser dasar (V), Sa, atau Sd.
2.4.1. Kurva Kapasitas (Capacity Curve)
Analisis pushover bertujuan untuk mengetahui seberapa besar gaya lateral yang dapat dipikul dan deformasi yang terjadi saat gempa rencana. Dari analisis pushover ini, didapat kurva kapasitas yang menggambarkan hubungan antara beban dan displacement (Gambar 2.8). Kurva kapasitas menunjukkan perilaku struktur secara menyeluruh terhadap pembebanan lateral. Kurva kapasitas dipengaruhi oleh pola distribusi gaya lateral yang digunakan sebagai beban dorong dan kekuatan gedung itu sendiri.
Gambar 2.8. Kurva Kapasitas Struktur
Meskipun metode ini sangat sederhana, namun informasi yang dihasilkan sangat berguna karena mampu menggambarkan respons inelastis bangunan. Analisis pushover ini memang bukan cara yang terbaik untuk mendapatkan jawaban terhadap masalah-masalah analisis dan desain, tetapi cara ini relatif sederhana untuk mendapatkan respons non-linier suatu struktur. Pada penelitian ini, digunakan metode capacity spectrum sehingga kurva kapasitas hasil analisis pushover harus diubah menjadi spektrum kapasitas (Gambar 2.9).
(a) Capacity Curve (Format Standar) (b) Capacity Spectrum (Format ADRS) Gambar 2.9. Modifikasi Capacity Curve Menjadi Capacity Spectrum Sumber: Applied Technology Council, Seismic Evaluation and Retrofit of Concrete Buildings, ATC-40, 1996, p. 8-12.
2.4.2. Respons Spektrum Elastis (Demand)
Respons spektrum elastis adalah kurva yang menunjukkan hubungan antara spectral acceleration dengan periode getar (T) yang nilainya ditentukan oleh koefisien-koefisien sebagai berikut:
• CA (Peak Ground Acceleration)
• CV (nilai koefisien gempa pada waktu periode struktur adalah 1 detik) Nilai CA dan CV ini berbeda-beda untuk masing-masing jenis tanah.
Gambar 2.10. Respons Spektrum Elastis
Agar dapat dibandingkan dengan spektrum kapasitas, maka respons spektrum elastis perlu diubah formatnya menjadi Acceleration Displacement Response Spectrum (ADRS) melalui persamaan:
g T S
S ⎥⎦⎤ ⋅ ⋅
⎢⎣⎡
= a
2
d 2π (2.18)
Peru
a)
Sum Build
(dam deng
Sum Build
2.4.3
deng meto jelas
ubahan for
Response Gamb mber: Appl dings, AT Resp mping) seb
gan effecti
Gamb mber: Appl dings, AT
3. Perform Perfo gan dema ode Capa s, dapat di
rmat ini da
e Spectrum bar 2.11. P
lied Techn TC-40, 199
pons spekt besar 5%
ive viscou
ar 2.12. R lied Techn TC-40, 199
mance Po ormance
nd spectr acity Spec lihat pada
apat diliha
m (Format Perubahan nology Co 96, p. 8-12 trum dala sehingga us damping
Reduksi R nology Co 96, Figure
int point ad rum yang ctrum (AT a Gambar
at pada G
t Standar) n Format R
ouncil, Se 2.
am forma a perlu dir g dari stru
Respons Sp ouncil, Se e 8-14, p.8
dalah titik g telah di
TC 40, 1 2.13. beri
Gambar 2.1
(b) Resp Respons P eismic Ev
at ADRS reduksi de uktur ( Ga
pektrum M eismic Ev 8-16
k perpoto ireduksi s
996). Un ikut ini:
12.
sponse Spe Percepatan valuation
ini mem engan sua ambar 2.12
Menjadi D valuation
ongan an seperti ya ntuk mem
Universita
ectrum(Fo n Menjadi
and Retro
mpunyai ti atu konsta
2).
Demand Sp and Retro
ntara capa ang diperg mperoleh g
as Kristen
ormat AD i ADRS ofit of Co
ingkat red anta agar
pectrum ofit of Co
acity spe gunakan gambaran
n Petra
DRS)
oncrete
daman sesuai
oncrete
ectrum dalam n lebih
Gambar 2.13. Penentuan Performance Point
Sumber: Applied Technology Council, Seismic Evaluation and Retrofit of Concrete Buildings, ATC-40, 1996, Figure 8-28, p.8-23.
Pada performance point diperoleh informasi mengenai periode bangunan dan damping efektif. Berdasarkan informasi tersebut respon-respon struktur lainnya seperti nilai simpangan antar tingkat dan posisi sendi plastis dapat diketahui.
2.5. Analisis Dinamis Time History Non-linier
Analisis dinamis time history non-linier (analisis time history) adalah suatu cara untuk menentukan respons dinamis struktur yang berperilaku elastis penuh (linier) maupun elasto-plastis (non-linier) terhadap beban dinamis sebagai data masukan. Persamaan diferensial yang menyatakan hubungan respons dari bangunan bertingkat dengan percepatan tanah akibat gempa [ü](t) adalah sebagai berikut:
[M] [ü](t) + [C] [ú](t) + [K] [u](t) = F(t) (2.19) di mana:
[M] = matriks massa diagonal [C] = matriks damping [K] = matriks kekakuan [ü] = matriks percepatan [ú] = matriks kecepatan [u] = matriks perpindahan
F(t) = gaya dinamis yang diberikan pada massa struktur
Dalam analisis dinamis time history non-linier, Persamaan 2.19 dapat diselesaikan dengan menggunakan metode integrasi langsung untuk suatu rekaman gempa tertentu. Terdapat berbagai macam metode untuk integrasi langsung antara
Universitas Kristen Petra
lain metode Newmark, Wilson, Collocation, Hilber-Hughes-Taylor, Chung and Albert dan lain-lain. Untuk itu, terlebih dahulu harus ditentukan metode mana yang akan dipilih untuk melakukan analisis dinamis time history non-linier.
2.5.1. RUAUMOKO 3D
Program RUAUMOKO 3D merupakan pengembangan dari RUAUMOKO 2D yang dibuat untuk menghasilkan suatu respons riwayat waktu (time history) dari suatu sistem portal tiga dimensi. Analisis yang dapat dilakukan oleh program RUAUMOKO 3D adalah analisis time history akibat percepatan gempa dalam arah horizontal maupun vertikal.
Untuk dapat membentuk model struktur secara akurat, disediakan sejumlah jenis komponen, seperti komponen balok dengan atau tanpa interaksi leleh, sistem balok-kolom yang disesuaikan dengan material yang digunakan, serta model histeresis yang digunakan. Program RUAUMOKO 3D memberikan banyak pilihan hysteresis rule, antara lain elastic, elasto-plastic, dan bilinear. Pemilihan hysteresis rule ini penting karena mempengaruhi sifat daktilitas dari member- member yang ada.