• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

56 A. Deskripsi Obyek Penelitian

Penelitian tingkat kesiapan guru Biologi SMA dalam implementasi Kurikulum 2013 ini dilakukan khusus di Kabupaten Majalengka. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pendidikan Majalengka, jumlah SMA di Kabupaten Majalengka terdiri dari 19 SMA dengan rincian 16 SMA Negeri dan 3 SMA Swasta. Dari 16 SMA hanya satu SMA Negeri yang tidak menerima ijin untuk penelitian. Jadi secara keseluruhan yang menjadi sampel penelitian hanya 15 SMA Negeri yang menerima untuk penelitian.

Kemudian untuk SMA swasta, dari 3 SMA swasta hanya satu yang menjadi sampel penelitian yaitu SMA PGRI 1 Majalengka dikarnakan 2 SMA swasta lainnya tidak terdapat data guru Biologi. Jadi sampel SMA baik Negeri dan swasta yang menjadi objek penelitian terdiri dari 16 seskolah. Data SMA yang menjadi sampel penelitian disajikan pada tabel berikut ini:

Tabel 4.1

Daftar SMA di Kabupaten Majalengka

N0 Nama Sekolah Alamat

1 SMAN 1 Majalengka Jl. K.H. Adul Halim No.113 Majalengka 2 SMAN 2 Majalengka J.l. A. Yani No. 02 Majalengka

3 SMAN 1 Jatitujuh Jl. Rentang Baru No. 02 Jatitujuh 4 SMAN 1 Jatiwangi Jl. Raya Timur No. 02 Jatiwangi 5 SMAN 1 Leuwimunding Jl. Raya Utara Leuwimunding 6 SMAN 1 Rajagaluh Jl. Mutiara No. 60 Ds. Rajagaluh Lor 7 SMAN 1 Sukahaji Jl. Raya Barat Sukahaji

8 SMAN 1 Talaga Jl. Ganeas No. 05 Talaga 9 SMAN 1 Cikijing Jl. Dewi Sartika No.07 Cikijing 10 SMAN 1 Bantarujeg Jl. Siliwangi No. 119 Bantarujeg 11 SMAN 1 Kadipaten Jl. Lapangsari No. 61 Kadipaten 12 SMAN 1 Ligung Jl. Raya Barat Ligung

13 SMAN 1 Sumberjaya Jl. Desa Rancaputat Kec. Sumberjaya 14 SMAN 1 Maja Jl. Raya Maja Selatan No. 06 Maja Selatan 15 SMAN 1 Sindangwangi Jl. Raya Jeruk Leueut Kec. Sindangwangi 16 SMA PGRI 1 Majalengka Jl. K.H. Adul Halim No. 77 Majalengka

Dari seluruh SMA yang ada di Kabupaten Majalengka yang sudah menerapkan Kurikulum 2013 baru empat sekolah. Diantarnya SMA Negeri 1 Majelngka, SMA Negeri 1 Maja, SMA Negeri 1 Rajagalu dan SMA Negeri 1 Jatiwangi. Kemudian dilihat dari kondisi guru Biologi, berdasrkan jenis kelamin terdiri dari 18 guru laki-laki

(2)

dan 24 guru perempuan. Guru yang sudah melakukan sertifikasi sebanyaak 37 orang guru dan yang belum sertifikasi sebanyak 5 orang guru. Kemudian dilihat dari keikut sertaan dalam pelatihan Kurikulum 2013, sebanyak 20 orang guru pernah mengikuti pelatihan dan 22 orang guru belum pernah mengikuti pelatihan. Dengan demikian setengah dari jumlah populasi guru Biologi pernah mengikuti penelitian Kurikulum 2013. Sebanyak 20 orang guru yang pernah mengikuti pelatihan tersebut tersebar di beberapa sekolah.

B. Hasil Validitas dan Reliabilitas Instrumen

1. Hasil Validitas Isi dan Kebahasaan berdasarkan Expert Judgment

Setiap butir item pernyataan yang telah dibuat, terlebih dahulu diajukan kepada beberapa panelis untuk memberikan penilaian terhadap item-item pernyataan. Dengan dilakukan penilaian oleh panelis maka akan diketahui kelayakan dari instrumen penelitian yang digunakan. Pada penelitian ini, sebanyak dua panelis memberikan telaah dan penilaiannya terhadap instrumen penelitian yang telah dibuat. Masing-masing panelis memberikan telaah dan penilaiannya dengan ketentuan sebagai berikut: nilai 3 jika pernyataan dinilai “esensial”, nilai 2 jika pernyataan dinilai “berguna tapi tidak esensial”. dan nilai 1 jika pernyataan dinilai “tidak perlu”. Penilaian validasi terhadap instrumen penilaian terdiri dari aspek isi dan kebahasaan. Item-item pernyataan yang telah dinilai oleh setiap panelis, kemudian diolah dengan pendekatan kuantitatif, yaitu menggunakan content validity ratio (CVR) dengan formula sebagai berikut:

CVR = (

n

e-N/2)/(N/2)

Setelah diperoleh nilai CVR dari masing-masing item pernyataan dengan formula content validity ratio (CVR), selanjutnya menentukan nilai content validity index (CVI). CVI merupakan nilai rata-rata untuk keseluruhan dari niai CVR item pernyataan.

Untuk menghitung item pernyatan dengan forrmula CVR, pada item nomor 1 kedua panelis memeberikan nilai 3 yang artinya item tersebut dianggap esensial.

Maka dengan menggunakan formula di atas, akan diperoleh nilai CVR sebagai berikut:

CVR = (2-2/2)/(2/2) = 1

(3)

Dari hasil perhitungan tersebut, diketahui bahwa nilai CVR yang diperoleh adalah 1.00 dengan kata lain item nomor 1 memiliki validitas isi yang baik. Besarnya nilai CVR untuk setiap butir item pernyataan yang telah diajukan terhadap panelis dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.2 Estimasi Validitas Isi

Item P1 P2

n

e CVR Keterangan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2

1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00

Memiliki validitas isi yang baik Memiliki validitas isi yang baik Memiliki validitas isi yang baik Memiliki validitas isi yang baik Memiliki validitas isi yang baik Memiliki validitas isi yang baik Memiliki validitas isi yang baik Memiliki validitas isi yang baik Memiliki validitas isi yang baik Memiliki validitas isi yang baik Memiliki validitas isi yang baik Memiliki validitas isi yang baik Memiliki validitas isi yang baik Memiliki validitas isi yang baik Memiliki validitas isi yang baik Memiliki validitas isi yang baik Memiliki validitas isi yang baik Memiliki validitas isi yang baik Memiliki validitas isi yang baik Memiliki validitas isi yang baik Memiliki validitas isi yang baik Memiliki validitas isi yang baik Memiliki validitas isi yang baik Memiliki validitas isi yang baik Memiliki validitas isi yang baik Memiliki validitas isi yang baik Memiliki validitas isi yang baik Memiliki validitas isi yang baik Memiliki validitas isi yang baik Memiliki validitas isi yang baik Keterangan:

P1 dan P2 adalah Penilaian Panelis 1 dan 2 terhadap item pernyataan ne adalah banyaknya panelis yang menyatakan esensial

Pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa 30 item pernyataan yang diajukan kepada panelis memiliki nilai CVR sebesar 1.00. Sebagaimana kriteria CVR yang dijelaskan oleh Lawshe (1975) bahwa untuk nilai CVR minimum untuk semua panelis yang menyatakan esensial terhadap setiap item yaitu 1.00, Hal ini

(4)

memberikan kesimpulan bahwa masing-masing butir item pernyataan dinyatakan memiliki validitas isi yang baik. Secara keseluruhan nilai CVR setiap butir item pernyataan telah diperoleh, langkah selanjutnya menghitung nilai CVI (content validity index), yaitu nilai rata-rata dari keseluruhan nilai CVR. Nilai CVI yang diperoleh dari seluruh butir item pernyataan sebesar 1.00, hal ini menunjukan bahwa secara keseluruhan butir item pernyataan instrumen penelitian yang telah disusun memiliki tingkat validitas isi yang baik.

2. Hasil Reliabilitas Instrumen

Untuk mengetahui tingkat koefisien reliabilitas instrumen penelitan, maka digunakan formula alfa cronbach. Adapun formula yang digunakan untuk melihat koefisien reliabilitas adalah sebagai berikut :

r11 =

[

𝑘

𝑘−1

] [ 1-

𝜎

2

𝜎12

]

sebelum kita menghitung dengan formula di atas, terlebih dahulu kita tentukan nilai dari jumlah varians butir (∑𝜎2) dan varians total (𝜎2). Untuk Jumlah varian butir (∑𝜎2) ditentukan dengan cara mencari dulu nilai varian dari setiap butir item pernyataan, kemudian dijumlahkan. Diketahui bahwa jumlah nilai varians butir (∑𝜎2) sebesar 36,48. Kemudian untuk nilai varians total (𝜎2) dicari dengan formula dibawah ini:

𝜎2

=

X

2( X )2

N

N

𝜎2 =

491560- 44902

42

42

𝜎2 = 275,18

Setelah diketahui koefisien dari jumlah varians butir (∑𝜎2) dan varians total (𝜎2), selanjutnya dimasukan ke formula alfa cronbach. Untuk perhitungannya dapat dilihat dibawah ini:

r11 =

[

30

30 – 1

] [ 1-

36,48

275,18

]

r11 = (1,034) (0,868) r11 = 0,897

Hasil dari perhitungan di atas, sesuai dengan hasil output SSPS pada uji reliabilitas.

Adapun hasil dari output SPSS tersaji pada tabel berikut ini:

(5)

Tabel 4.3 Hasil Reliabilitas Cronbach's

Alpha N of Items

.897 30

Dari hasil perhitungan dengan formula alfa cronbach dan hasil output SPSS diperoleh nilai koefisien reliabilitasnya sebesar 0,897. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian yang digunakan memiliki reliabilitas yang baik karena besarnya nilai koefisien alpha atau r > 0,60. Dengan demikian intrumen penelitian yang disusun adalah reliabel.

C. Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh data hasil pengisian kuesioner penelitian dari 42 responden guru Biologi dan hasil wawancara dengan 2 narasumber responden guru. Data hasil penelitian tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.

1. Data Hasil Kuesioner

Pada hasil penelitian ini akan diuraikan data hasil survei dari pengisian kuesioner oleh guru-guru Biologi SMA di Kabupaten Majalengka. Data tersebut dianalisis dengan menggunakan metode analisis statistik deskriptif untuk mengetahui tingkat kesipan guru Biologi dalam implementasi Kurikulum 2013.

Setiap jawaban responden pada tiap-tiap item pernyataan, kemudian dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif. Jumlah item keseluruhan sebanyak 30 item pernyataan yang terdiri dari 20 item pernyataan positif dan 10 item pernyataan negatif. Disamping itu dilakukan analisis terhadap masing-masing item pernyataan dan indikator pernyataan dilihat dari nilai rata-rata (mean) dan standar deviasi yang diperoleh.

a. Deskriptif Analisis Butir Item Pernyataan

Nilai yang diperoleh dari masing-masing item pernyataan dianalisis berdasarkan nilai rata-rata dan standar deviasi. Adapun hasil analisis butir item pernyataan disajikan pada tabel berikut:

(6)

Tabel 4.4

Analisis Butir Item Pernyataan Indikator No.

Item

Pernyataan Mean SD

Pemahaman Silabus 1 Melakukan analisis terhadap KI pada

silabus 3,17 1,61

10 Kesulitan menganalisis keterkaitan kompetensi dasar (KD) terhadap kompetensi inti (KI)

2,79 1,28 10 Mempersiapkan metode dalam

meningkatkan aspek sikap ilmiah sebagai pencapaian KI-2

3,67 0,82 15 Kurang mampu mengintegrasikan nilai-

nilai religius sebagai pencapaian KI-1 3,69 1,07 18 Memberikan pengalaman belajar

dengan melakukan pengamatan sebagai pencapaian KI-3.

3,93 0,84 24 Memberikan pengalaman belajar berupa

aktivitas ilmiah sebagai pencapaian KI- 4.

3,83 0,85 Keterampilan

Menyusun RPP

2 Menyusun RPP Biologi mengacu pada

silabus 3,76 1,61

7 Mengembnagkan RPP berdasarkan

prinsip-prinsip Kurikulum 2013 3,57 1,45 11 Kesulitan menyesuaikan model dan

stategi pembelajaran dengan pendekatan saintifik.

3,14 1,00 16 Memperhatikan setiap komponen dan

sistematika dalam penyususunan RPP 3,86 1,42 19 Kurang aktif mengikuti kegiatan

MGMP dalam mengembangkan RPP Kurikulum 2013.

3,69 1,28 21 Menyusun langkah pembelajaran yang

dapat meningkatkan kemampuan mengasosiasikan

3,90 0,73 25 Menerapkan kegiatan mengamati pada

RPP 4,12 0,89

27 Menyusun langkah pembelajaran yang memicu dalam mengumpulkan informasi dari pengelaman pembelajaran Biologi

3,95 0,91

29 Kesulitan mengembangkan RPP yang dapat menjadikan siswa lebih aktif untuk bertanya.

3,45 1,17 Pengelolaan Materi

dan Pendekatan Saintifik

4 Menggunakan pendekatan pembelajaran

berbasis discovery

(penyingkapan/penelitian)

3,81 0,94 8 Kurang mempersiapkan pemanfaatan

teknologi informasi dan komunikasi 3,31 1,09 12 Menentukan tujuan pembelajaran 3,76 1,48

(7)

Biologi sesuai dengan prinsip pengembangan Kurikulum 2013.

13 Kesulitan menerapkan pendekatan pembelajaran PBL (Project Based Learning)

3,00 0,94 22 Menyusun materi pembelajaran sesuai

karateristik peserta didik. 3,98 0,87 29 Mengidentifikasi materi yang

menunjang pencapaian setiap KD 3,52 1,49 Pendekatan Evaluasi

dan Teknik Evaluasi

3 Mengadakan tes mengukur pengetahuan

saja. 2,33 1,28

5 Menyusun instrumen unjuk kerja 3,71 0,89 9 Menggunakan teknik penilaian

observasi perilaku 3,79 0,92

14 Menggunakan penilaian proyek 3,55 0,89 17 Menggunakan penilaian portopolio

untuk mengukur aspek pengetahuan siswa

2,93 1,26 20 Menggunakan penilaian produk 3,48 0,97 23 Mengadministrasikan penilaian proses

dan hasil belajar Biologi 4,10 0,76 26 Mengembangkan instrumen penialain

dan evaluasi bersumber dari internet 2,74 0,94 28 Menjadikan hasil evaluasi dan penilaian

dalam ketuntasan belajar 4,38 0,94 Dari tabel di atas, diketahui bahwa terdapat rentang nilai rata-rata dan standar deviasi dimulai dari nilai yang tertinggi sampai dengan terendah. Pada aspek pertama mengenai pemahaman silabus nilai tertinggi ditunjukan oleh item nomor 18 positif dengan nilai rata-rata 3,93 dan standar deviasinya 0,84.

Artinya, jawaban dari responden sebagian besar tersebar pada item nomor 18 positif dengan rentang kisaran skor (3,93 – 0,84) sampai (3,93 + 0,84). Untuk aspek kedua mengenai keterampilan menyusun RPP nilai tertinggi ditunjukan oleh item nomor 27 positif dengan nilai rata-rata 3,95 dan standar deviasinya 0,91. Artinya, jawaban dari responden sebagian besar tersebar pada item nomor 27 positif dengan rentang kisaran skor (3,95 – 0,91) sampai (3,95 + 0,91). Untuk aspek ketiga mengenai pengelolaan materi dan pendekatan saintifik nilai tertinggi ditunjukan item nomor 22 positif dengan nilai rata-rata 3,98 dan standar deviasinya 0,87. Artinya, jawaban dari responden sebagian besar tersebar pada item nomor 27 positif dengan rentang kisaran skor (3,98 – 0,87) sampai (3,98 + 0,87). Untuk aspek keempat mengenai pendekatan evaluasi dan teknik evaluasi nilai tertinggi ditunjukan item nomor 28 positif dengan nilai rata-rata 4,38 dan

(8)

standar deviasinya 0,94. Artinya, jawaban dari responden sebagian besar tersebar pada item nomor 28 positif dengan rentang kisaran skor (4,38 – 0,87) sampai (4,38 + 0,94).

Secara keseluruhan perolehan nilai tertinggi untuk seluruh aspek indikator yang diajukan ditunjukan oleh item pernyataan nomor 28 dengan nilai rata-rata 4,38 dan standar deviasinya 0,94. Artinya, jawaban dari responden sebagian besar tersebar pada item nomor 28 positif dengan rentang kisaran skor (4,38 – 0,94) sampai (4,38 + 0,94). Sedangkan perolehan nilai terendah ditujukan oleh item pernyataan nomor 3 dengan nilai rata-rata 2,33 dan standar deviasi 1,28.

Artinya, responden sebagian besar tersebar pada item nomor 3 negatif dengan rentang kisaran skor (2,33 - 1,28) sampai (2,33 + 1,28). Hasil tersebut menunjukan bahwa guru Biologi SMA di Kabupaten Majalengka selalu menjadikan hasil evaluasi dan penilaian sebagai acuan ketuntasan belajar siswa.

Akan tetapi dari segi evaluasi yang dilakukan, sebagian besar guru Biologi masih terpaku pada pengembangan tes yang hanya mengukur pengetahuan siswa saja.

Berdasarkan hasil analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa guru Biologi mampu untuk mengembangkan pembelajaran Biologi berdasarkan Kurikulum 2013. Akan tetapi masih kesulitan dalam mengembangkan evaluasi, terutama dalam mengembangkan tes. Sebagian besar guru Biologi hanya mampu mengemabangkan tes yang hanya dapat mengembangkan aspek pengetahuan siswa. Hal ini menunjukan bahwa guru Biologi di Kabupaten Majalengka masih belum terlalu familiar dengan penilaian otentik.

b. Deskriptif Analisis Indikator Butir Item Pernyataan

Indikator merupakan acuan dalam penyusunan setiap butir item pernyataan. Terdapat 4 indikator dalam penyusunan kuisioner tingkat kesiapan guru Biologi terhadap implementasi Kurikulum 2013 yaitu mengenai pemahaman silabus, keterampilan dalam menyusun RPP, pengelolaan materi dengan pendekatan saintifik, dan pengusaan terhadap pendekatan maupun teknik evaluasi. Adapun analisis butir item setiap indikator, disajikan pada tabel berkut:

(9)

Tabel 4.5

Analisis Indikator Item Pernyataan

No Indikator No. Item Mean SD

1 Pemahaman Silabus 1,6,10,15,18, dan 24 3,51 0,44 2 Keterampilan Menyusun

RPP

2,7,11,16,19,21,25,2 7 dan 30

3,72 0,29

3 Pengelolaan Materi dan Pendekatan Saintifik

4,8,12,13,22 dan 29

3,56 0,36 4 Pendekatan Evluasi dan

Teknik Evluasi

3,5,9,14,17,20,23,26

dan 28 3,44 0,66

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat perbedaan skor rata-rata dan standar deviasi untuk masing-masing indikator. Nilai tertinggi ditunjukan oleh indikator nomor 2 dengan skor rata-rata 3,72 dan standar deviasi 0,29. Hasil ini menunjukan bahwa data responden sebagian besar tersebar pada indikator nomor 2 dengan rentang kisaran skor (3,72 – 0,29) sampai (3,72 + 0,29). Sedangkan nilai terendah ditunjukan oleh indikator nomor 4 dengan rentang skor rata-rata 3,44 dan standar deviasi 0,66. Hasil ini menunjukan bahwa sebagian besar data responden tersebar pada indikator nomor 4 dengan rentang kisaran sekor (3,44 – 0,66) sampai (3,44 + 0,66). Dari hasil tersebut menunjukan bahwa keterampilan guru Biologi dalam menyusun RPP terbilang baik. Begitu juga dengan pemahaman silabus maupun dalam pengelolaan materi dan pengembangan pendekatan saintifik tebilang baik. Sedangkan dalam menggunakan pendekatan dan teknik evaluasi berdasarkan data yang diperoleh terbilang kurang baik. Hal ini mungkin bekaitan dengan pemahaman guru Biologi sendiri terhadap evaluasi terutama dari jenis penialain otentik yang mungkin kurang familiar.

c. Deskriptif Kesiapan Guru Biologi dalam Implementasi Kurikulum 2013 di Kabupaten Majalengka

Data kuesioner mengenai tingkat kesiapan guru Biologi dalam implementasi kurikulim 2013 yang telah diperoleh, kemudian dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif. Parameter yang menjadi acuan statistik deskriptif dalam penelitian ini yaitu skor minimum, skor maksimum, skor rata- rata, standar deviasi, dan skor varian. Secara umum deskriptif penyebaran data melalui perhitungan rata-rata dan sebagainya tersaji pada tabel berikut ini.

(10)

Tabel 4.6 Statistik Deskriptif

Konstruk Kesiapan Guru Biologi

Parameter Nilai

Minimum 47,00

Maksimum 136,00

Rata-rata 106,90 Standar Deviasi 16,79

Varian 281,89

Berdasarkan tabel di atas, diketahui skor/nilai minimum yang diperoleh oleh responden sebesar 47 dan skor maksimumnya yaitu 136 dengan standar deviasi sebesar 16,79. Dari uraian tersebut menunjukan bahwa penyebaran data pada kesiapan guru dalam implementasi Kurikulum 2013 berada pada kisaran (106,90 - 16,79) sampai dengan (106,90 + 16,79). Sedangkan untuk mengetahui persentase penyebaran data, maka dilakukan klasifikasi terhadap skor yang diperoleh dari masing-masing responden dengan menggunakan pendekatan penilaian acuan normatif (PAN). Dari 42 responden penelitian tersebut, maka diperoleh sebaran skor jawaban responden pada skala kesiapan implementasi Kurikulum 2013. Berikut ini data hasil analisis yang disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan diagram persentase skor yang diperoleh dari masing-masing responden penelitian.

Tabel 4.7

Distribusi Frekuensi Konstruk Tingkat Kesiapan Guru Biologi dalam Implementasi Kurikulum 2013

Rentang Skor Frekuensi Persentase (%) Interprestasi/Kategori

≥ 132 1 2% Sangat Baik

117 – 131,99 12 29% Baik

100 – 116,99 18 43% Cukup Baik

82 – 99,99 8 19% Kurang Baik

< 82 3 7% Sangat Kurang Baik

Jumlah 42 100%

(11)

Diagram 4.1

Diagram Lingkaran Konstruk Tingkat Kesiapan Guru Biologi dalam Implementasi Kurikulum 2013

Berdasarkan tabel 4.2 dan diagram 4.1, persentase penyebaran data menunjukan guru Biologi di Kabupaten Majalengka rata-rata memiliki tingkat kesiapan terbilang cukup baik dengan persentase 43%. Kemudian sebagiannya terbilang baik dengan persentase 29% dan 2% dengan tingkat kesiapan sangat baik.

Guru yang memiliki tingkat kesiapan kurang baik sebesar 19% dan 7% tergolong sangat kurang baik. Secara keseluruhan, sekitar 26% belum memiliki kesiapan sedangkan jumlah guru sebagiannya sekitar 74% memiliki kesiapan dalam implementasi Kurikulum 2013.

2. Data Hasil Wawancara

Untuk memperoleh data mengenai tingkat kesiapan guru Biologi dalam implementasi Kurikulum 2013 disamping menggunakan kuesioner digunakan juga proses wawancara terhadap responden penelitian. Ada dua orang guru yang bersedia untuk diwawancarai mengenai Kurikulum 2013. Responden pertama berinisial “W”

sebagai tenaga pengajar di SMA Negeri 1 Talaga dan responden kedua berinisial “D”

sebagai tenaga pengajar di SMA Negeri 1 Majalengka. Hasil dari wawancara disajikan pada lampiran dan dapat diuraikan sebagai berikut.

a. Pemahaman dan Aktualisasi Informasi Guru Terhadap Perkembnagan Kurikulum 2013

Berdasarkan hasil wawancara, kedua responden tidak merasa keberatan dengan kebijakan diambil oleh pemerintah dalam pengembangan kurikulu 2013.

Dengan diaturnya silabus dan buku pegangan guru maupun murid oleh

Sangat Baik; 2%

Baik

; 29%

Cukup Baik;

43%

Kurang Baik; 19%

Sangat Kurang Baik; 7%

(12)

pemerintah akan mengurangi beban guru sehingga guru bisa benar-benar fokus pada pengembangan pembelajaran dikelas. Mengenai uji publik, sosialisasi maupun pelatihan Kurikulum 2013 responden berpendapat bahwa hal tersebut cukup efektif dalam mendukung implementasi Kurikulum 2013. Kemudian untuk memperoleh informasi mengenai Kurikulum 2013, “W” menjelaskan bahwa informasi terkait Kurikulum 2013 diperoleh dari media internet dan dari rekan sesama guru yang sekolahnya sudah menerapkan Kurikulum 2013. Sedangkan untuk “D” sendiri menjelaskan bahwa informasi terkait Kurikulum 2013 diperoleh dari dokumen hasil pelatihan. Mengenai isi pedoman Kurikulum 2013, kedua responden menjelaskan dalam pembelajaran lebih menitik beratkan pada pendekatan Saintifik akan tetapi akan sulit ketika dengan penerapan saintifk murni karna akan memakan waktu banyak.

b. Pemahaman Guru Terhadap Perubahan Struktur Kurikulum 2013

Hasil wawancara dengan responden menunjukan bahwa secara garis besar kesesuain antara KI dengan KD pada ranah mata pelajaran Biologi khususnya sudah ada kesesuaian. Akan tetapi ada kesulitan dalam penyesuain KI terhadap KD pada ranah mata pelajaran lain. Mengenai Kurikulum 2013 yang lebih menitik beratkan pada pendekatan saintifik menurut responden, ketika anak belajar akan dikenalkan terhadap objek secara langsung seperti disekitar lingkungan sekolah.

Dengan begitu anak akan menjadi lebih kritis. Mengenai ranah mata pelajaran Biologi menjadi peminataan para responden responden pada dasarnya menyetujui kebijakan tersebut akan tetapi harus ada kesesuaian pada materinya.

c. Respon Guru terhadap Pengembangan Kurikulum 2013

Berdasarkan hasil wawancara mengenai diterapkannya Kurikulum 2013,

“W” menerangkan bahwa di sekolah tempatnya mengajar akan menerapkan Kurikulum 2013 pada tahun ajaran baru dengan diawali dikelas X karena tahun sebelumnya belum menerapkan. Sedangkan “D” menerangkan sekolah tempatnya mengajar akan melanjutkan dalam penerapan Kurikulum 2013 dikelas XI karena tahun sebelumnya sudah diterapkan sebagai salah satu sekolah yang diuji cobakan dalam penerapan Kurikulum 2013. Responden menyatakan kesiapannya dalam penerapan Kurikulum 2013. Namun, pemerintah harus mempertimbangkan salah satu unsur dalam Kurikulum 2013 mengenai pendalaman minat sebaiknya dihilangkan. Kemudian nasib guru harus diperhatikan sebagaimana akibat dari

(13)

penghilangan beberapa mata pelajaran. Disamping itu silabus harus segera direvisi sebelum disahkan.

D. Pembahasan Hasil Penelitian

Kurikulum merupakan hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Di Negara Indonesia sudah mengalami beberapa pergantian kurikulum. Setelah diberlakukannya kurikulum KTSP selama kurang lebih 7 tahun, akhirnya pemerintah mengganti kurikulum KTSP dengan kurikulum baru yang dikenal dengan Kurikulum 2013.

Sosialisai kurikulum sangat diperlukan demi tercapainya proses implementasi di sekolah-sekolah. Di Kabupaten Majalengka yang memiliki kewenangan dalam mensosialisasikan Kurikulum 2013 yaitu Dinas Pendidikan yang dilakukan terhadap sekolah-sekolah. Pada tingkat SMA, Kurikulum 2013 baru diterapkan dikelas X yang kemudian akan terus diterapkan secara berkala. Berdasarkan hasil temuan dilapangan, bahwa untuk seluruh SMA di Kabupaten Majalengka akan menerapkan Kurikulum 2013 serentak pada tahun ajaran baru 2014 dan baru diterapkan dikelas X (sepuluh).

Sedangkan yang sudah menerapkan pada tahun ssebelumnya diteruskan di kelas XI (sebelas). Dalam proses implementasi Kurikulum 2013 tentunya harus ada kesiapan dari berbagai pihak baik dari penyelenggara maupun pelaksana kurikulum. Pihak penyelenggara yaitu pemerintah tentunya berkewajiban untuk menyiapkan segala bentuk usaha dalam mendukung diimplementasikannya Kurikulum 2013 baik itu dari segi kelengkapan dokumen, peralatan, tenaga pendidik dan dalam bentuk lainnya.

Kemudian guru sebagai pelaksana kurikulum, tentunya harus mengetahui setiap kebijakan mengenai dikembangkannya kurikulum baru yang dikenal Kurikulum 2013.

Sebagai tenaga professional seorang guru mempunyai peranan penting dalam menerapakan atau menegmbangkan kurikulum. Kesiapan guru sebagai pelaksana kurikulum akan menentukan tingkat keberhasilan dalam proses implementasinya.

Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa faktor kesiapan guru adalah salah satu penentu keberhasilan dalam implementasi Kurikulum 2013. Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian yang difokuskan terhadap kesiapan guru Biologi dalam proses implementasi Kurikulum 2013 diperoleh persentase tingkat kesiapan yang tergolong cukup baik dengan tingkat persentasenya 43 %. Persentasi tersebut merupakan tiangkat rata-rata kesiapan guru Biologi di Kabupaten Majalengka.

(14)

Dari persentase tersebut, sebagian besar tersebar pada kemampuan guru dalam menyusun RPP. Hal ini terlihat dari skor yang diperoleh tiap-tiap item berdasarkan indikator pernyataan yang diajukan. Dengan hasil ini, menunjukan bahwa guru Biologi mampu untuk menyususn perencaan pembelajaran dengan baik. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Sagala (2013: 142) bahwa Perencanaan yang dituangkan dalam bentuk dokumen berupa RPP sangat penting dalam memandu guru untuk melaksanakan tugas profesionalnya sebagai pendidik dalam melayani kebutuhan belajar para siswa. Sehingga guru senantiasa dituntut harus mampu menysusun dan mengembangkan proses pembelajaran yang dituangkan kedalam bentuk RPP.

Disamping itu guru juga harus memahami isi silabus, mampu mengembangkan materi melalui proses saintifik dan kemampuan dalam evaluasi.

Seorang guru harus mengetahui setiap kebijakan yang dilakukan pemerintah dalam upanya mensukseskan implementasi Kurikulum 2013 terutama dalam pengembangan dokumen kurikulum. Di dalam dokumen Kurikulum 2013, terdapat beberapa elemen perubahan meliputi standar kompetensi lulusan, standar proses, standar isi, dan standar penilaian (Kemendikbud 2012). Dilihat dari perangakat pembelajarannya, pada dokumen Kurikulum 2013 telah diuraikan mengenai silabus, RPP, dan penjabaran mengenai penialain otentik disertai bentuk format penilaiannya sehingga memudahkan guru dalam mengembangkan kegiatan pemebelajaran. Pada Kurikulum 2013 guru hanya berkewajiban mengembangkan kegiatan pembelajaran yang dituangkan dalam bentuk RPP dengan mengacu pada silabus yang telah dikembangkan pada tingkat nasional. Dengan demikian guru tidak lagi dibebani dengan menyusun perangkat pembelajran seperti silabus sehingga guru bisa lebih fokus pada pengembangan proses pembelajaran. Berdasarkan Kurikulum 2013 mengenai pandangan umum pembelajaran, seorang guru harus mampu mengembangkan suasana belajar yang memberi kesempatan peserta didik untuk menemukan, menerapkan ide-ide mereka sendiri, menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru mengembangkan kesempatan belajar kepada peserta didik secara bertahap, yang mampu membawa peserta didik kepemahaman yang lebih tinggi, yang semula dilakukan dengan bantuan guru tetapi semakin lama semakin mandiri. Bagi peserta didik, pembelajaran harus bergeser dari “diberi tahu” menjadi “aktif mencari tahu” (Permendikbud nomo 81 2013).

(15)

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa nasumber guru, diperoleh informasi yang peneliti dapat uariakan berikut ini.

1. Pemahaman dan Aktualisasi Informasi Guru terhadap Perkembangan Kurikulum 2013

Berdasarkan hasil wawancari, para responden menerima mengenai beberapa kebijakan pemerintah mengenai kurikulum baru. Mengenai pengaturan silabus dan buku pegangan yang diatur oleh pusat para responden merespon baik hal tersebut.

Akan tetapi hal tersebut dapat terealisasikan dengan baik apabila telah menyiapkannya dan menyebarkannya pada setiap sekolah sehingga setiap sekolah mempunyai gambaran akan kesesuaian anatara bahan ajar dengan silabus. Buku pegangan yang sudah disiapkan oleh pemerintah, tidak menutup kemungkinan ada suatu kekurangan oleh karenanya guru harus senantiasa kreatif untuk mengembangkan materi ajar. Dengan tetap mengacu pada setiapa indikator yang ditentukan didalam silabus.

Dilakukannya uji publik dan sosialisasi Kurikulum 2013, responden berpendapat bahwa hal tersebut sangat penting dalam mendukung proses implementasi. Dalam pelaksanaannya harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya untuk sekolah yang menjadi sasaran uji coba akan tetapi juga untuk sekolah yang belum menerapkan agar lebih bisa mempersiapkan sekolahnya. Akan tetapi pada kenyatannya informasi mengenai kukulum 2013 masih difokuskan terhadap sekolah yang menjadi uji coba sehingga sekolah yang belum menerapkan belum mempunyai suatu gambaran bagaimana Kurikulum 2013 diterapkan di sekolah.

Oleh karena itu, perlu dipublikasikan informasi terkait tingkat keberhasilan sekolah yang sudah menerapkan Kurikulum 2013, sehingga sekolah yang belum menerapkan mempunyai gambaran dalam menyusun stategi penerapannya.

Disamping itu komplen dari masyarakat mengenai diturunkannya kurikulum ini belum sepenuhnya direspon pemerintah. Dengan demikian masih banyak kehawatiran masyarakat akan beban belajar yang akan ditanggung oleh anak didiknya.

Dengan diadakannya pelatihan besar-besaran secara teori responden berpndapat efektif tetapi belum ada sebuah pemerataan. total guru yang ikut sertakan dalam pelatihan tidak semua. Guru yang telah mengikuti pelatihan melakukan desiminasi artinya memberikan ilmu yang telah didapat dari pelatihan.

Masalahnya sering terjadi senioritas guru, sehingga guru junior walaupun

(16)

berpotensi kurang dapat menyampaikannya dengan baik. Sehingga hanya memberikan berupa prodak seperti berupa dokumen hasil pelatihan.

Pada prinsipnya guru sebagai pelaksana kurikulum tentu akan mendukung setiap kebijakan yang digulirkan oleh pemerintah. Jamil (2013: 152) menjelaskan bahwa diperlukan adanya kesadran pada diri para guru untuk senantiasa menigkatkan pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan guna meningkatkan kualitas kerja sebagai tenaga profesional.

Untuk memperoleh informasi mengenai Kurikulum 2013, bagi yang di sekolahnya yang belum menerapkan Kurikulum 2013 guru mendapatkan informasi tersebut dari teman sesama guru yang telah menerapkan tetapi yang lebih sering melalui internet. Bagi guru yang sekolahnya sudah menerapkan informasi tentang Kurikulum 2013 didapat melalui kegiatan pelatihan wakasek, dari klaster (kerjasama antar kordinator daerah) maupun dokumen hasil pelatihan.

Hasil informasi yang diperoleh dari responden mengenai Kurikulum 2013, para responden memaparkan bahwa pada intinya kurikulum baru ini lebih menitik beratkan pada anak atau studen senter melalui pendekatan saintifik dengan begitu akan menggali potensi-potensi yang ada disekitar derah atau lingkungan sekolah.

Akan tetapi dalm proses penerapan saintifik murni itu sulit karna akan memakan waktu. Kemudian dalam penyesuain anatara KI dan KD pada meteri pembelajaran khususnya Biologi mungkin cukup mudah karna sebenarnya ilmu Biologi dari dulu sudah melakukan pendekatan saintifik. Pada beberapa mata pelajaran, terjadi sedikit kesulitan dalam mengaitkan atau menyesuaikan antara KI dengan KD pada materi pokok mata pelajaran tersebut.

2. Pemahaman Guru terhadap Perubahan Struktur Kurikulum 2013

Berdasarkan hasil wawancara responden sependapat dengan struktur dan pengembangan Kurikulum 2013. Dijelaskan bahwa mengenai pendekatan saintifik dalam suatu prose pembelajaran, segala sesuatunya tidak lagi terfokus pada guru tetapi siswa diberikan keleluasaan dalam mencari suatu sumber informasi dengan arahan guru. Kemendikbud (2013a) menjelasakan bahwa salah satu kriteria pendekatan ilmiah adalah materi pembelajaran berbasis pada fakta dan fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata. Dalam pembelajaran Biologi sendiri untuk pendekatan saintifik sudah mulai diterapkan guru meskipun kurikulum yang digunaka masih berupa KTSP karena yang dipelajari dalam pembelajaran Biologi merupakan

(17)

objek maupun fenomena yang nyata. Sehingga para responden tidak keberatan dengan dikembangkannya pendekatan saintifik atau scientific approach sesuai Kurikulum 2013 dalam proses pembelajaran. Seperti ketika anak belajar, jangan dulu dikenalkan yang ada dibuku, akan tetapi diajak untuk mengamati terhadap suatu objek yang ada dilingkungan sekolah dengan begitu anak diharapkan akan lebih aktif dan kritis dalam mengetahui setiap potensi yang ada di daerahnya.

Kemdudian terkait dengan dijadikannya mata pelajarn Biologi menjadi mata pelajaran peminatan, kedua responden menerima kebijakan tersebut. Akan tetapi keduanya menjelaskan bahwa harus adanya kesesuaian materi berdasarkan peminatannya dengan memilih materi yang esensial dan non esensial sesuai.

3. Respon Guru terhadap Pengembangan Kurikulum 2013

Guru sebagai pelaksana kurikulum mendukung penuh kebijakan yang diambil pemerintah dalam pengembangan Kurikulum 2013. Pada tahun ajaran baru, sekolah akan menerapkan Kurikulum 2013 pada kelas X secara serentak bagi sekolah yang sebelumnya belum menerapkan. Bagai yang sudah menerapkan akan dilanjutkan pengelolaan penerapan Kurikulum 2013 pada kelas XI dan terus mengembangkannya berdasarkan pengalaman sebelumnya.

Terkait dengan isi dari dokumen Kurikulum 2013, responden memberikan tanggapan terhadap pendalaman minat. Pendalaman minat terhadap suatu mata pelajaran sudah digulirkan tetapi belum boleh diterapkan. Berdasarkan penjelasan responden, dalam pendalaman minat pada penerapnnya akan sangat sulit.

Kesulitannya terletak dalam menjalin hubungan kerjasama antara pihak sekolah dengan perguruan tinggi. Karna dalam pendalaman minat guru tidak dapat meyampaikan materi tersebut sehingga melibatkan para dosen. Oleh karenanya mengenai pendalaman minat lebih baik ditiadakan. Kemudian pada silabus harus secepatnya direvisi manakala ada kekurangan sebelum nantinya disahkan.

Pemerintah juga harus memperhatikan nasib pada guru yang terkena imbas akibat dari penghilangan beberapa mata pelajaran.

Pentingnya peran guru tersebut mengharuskan pemerintah untuk melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan kemampuan guru. Termasuk memperhatikan kesejahteraan guru. Karena guru merupakan penentu keberhasilan diterapkannya Kurikulum 2013.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang, maka akan dilakukan penelitian tentang “Profil Laboratorium Biologi dan Tingkat Kesiapan dalam Implementasi Kurikulum 2013 Di SMA

Dari hasil persentase yang telah diuraikan diatas, maka secara umum dapat diperoleh gambaran bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penyelesaian tugas

Kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran, siswa dalam mengikuti apresepsi, siswa memperhatikan pembelajaran yang guru sampaikan,siswa aktif mengikuti permainan

Hasil observasi aktivitas guru dalam menerapkan model pembelajaran STAD dalam mata pelajaran IPA pertemuan inidijabarkan dalam sembilan aspek. Pada aspek memeriksa

Gambaran Kesiapan Sekolah dalam Implementasi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Berdasarkan Aspek Kurikulum.. Aspek kurikulum menerangkan tentang seperangkat

Pada tahap ini dilakukan telaah terhadap kurikulum yang berlaku. Kurikulum yang berlaku adalah Kurikulum 2013, maka Kurikulum 2013 yang dijadikan pedoman dalam

Pada siklus pertama pembelajaran dimulai guru terlebih dahulu memberi salam kemudian mencek kehadiran siswa dan memeriksa kesiapan siswa terutama kelengkapan alat tulis

Aktivitas Kegiatan Siswa Berdasarkan hasil observasi aktivitas kegiatan siswa selama proses pembelajaran dengan pendekatan PMRI dapat diperoleh bahwa pada kategori mengerjakan lembar