• Tidak ada hasil yang ditemukan

ROPOSAL PENELITIAN DASAR UNIVERSITAS LAMPUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ROPOSAL PENELITIAN DASAR UNIVERSITAS LAMPUNG"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

ROPOSAL

PENELITIAN DASAR UNIVERSITAS LAMPUNG

MODEL KERJASAMA PEMERINTAH DENGAN BADAN USAHA

(Studi Pada Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Kota Bandarlampung)

JURUSAN ILMU PEMERINTAHAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG

2021

(2)

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN PENGESAHAN

IDENTITAS DAN URAIAN UMUM DAFTAR ISI

RINGKASAN I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 5

E. Rencana Target Capaiam/Luaran ... 6

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Konflik Sosial Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah ... 7

B. Pengertian Kerjasama Antar Daerah ... 9

C. Issue Strategis Dalam Kerjasama Antar Daerah ... 11

D. Prinsip Kerjasama Antar Daerah ... 11

E. Dasar Hukum Kebijakan Kerjasama Antar Daerah ... 11

F. Pembangunan Daerah Dalam Perspektif Kerjasama Antar Daerah ... 12

III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian ... 13

B. Lokasi Penelitian ... 13

C. Fokus Penelitian ... 13

D. Jenis dan Sumber Data ... 14

E. Teknik Pengumpulan Dara ... 14

F. Teknik Analisis Data ... 15

G. Teknik Keabsahan Data ... 16

H. Jadwal Kegiatan ... 16

IV. BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN

4.1 Anggaran Biaya ...

4.2 Jadwal Penelitin ...

REFERENSI

(3)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Skema road map penelitian ... 13 Gambar 2. Skema aktivitas penelitian ... 14

(4)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Runut Tahapan Aktivitas Penelitian ... 15

(5)

RINGKASAN

Permasalahan yang timbul di Indonesia berkaitan dengan pembangunan infrastruktur adalah masalah pendanaan. Indonesia perlu mencari alternatif sumber-sumber pendanaan lain dalam mendanai kebutuhan infrastrukturnya. salah satu alternatif yang diharapkan menjadi model penting penyediaan infrastruktur adalah skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) halmana pihak swasta dapat berpartisipasi dalam penyediaan infrastruktur mulai dari aspek pendanaan, disain, konstruksi, operasi, hingga pemeliharaan infrastruktur berdasarkan perjanjian kerjasama. Pemerintah Kota Bandarlampung yang dalam hal ini diwakili oleh PDAM Way Rilau berkerjasama dengan PT Adya Tirta Lampung sebagai badan usaha pemenang lelang akan membangun sistem Penyediaan air minum (SPAM) Kota Bandar Lampung yang akan melayani 300.000 jiwa penduduk di 8 Kecamatan di wilayah Kota Bandar Lampung. Dalam penelitian ini, tim peneliti akan mengaji model kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha dalam hal ini PDAM Way Rilau dan badan usaha dalam penyedian sistem Penyediaan air minum (SPAM). Penelitian ini juga melihat bagaimana proses kerjasama antara kedua belah pihak, hal apa yang melatarbelakangi kerjasama pemerintah dan badan usaha serta hambatan-hambatan yang menjadi masalah dalam pelaksaan proyek Penyediaan air minum di Kota Bandarlampung ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian ini Kota Bandarlampung, PDAM Way Rilau dan PT Adya Tirta Lampung. Data primer di peroleh melalui observasi, wawancara, FGD dan kunjungan lapang. Data sekunder diperoleh dari dokumen dan peraturan-peraturan yang relevan dengan kajian penelitian. Aktifitas penelitian yaitu melakukan pemilihan/pemungkinan berbagai aspek yang saling menguntungkan atas Kebijakan Kerjasama pemerintah dengan badan usaha. Aktifitas selanjutnya adalah menentukan model kerjasama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) proses pembangunan sistem pengeloaan air minum serta permasalahan yang terjadi dalam pembuatan sistem Penyediaan air minum tersebut.. Hasil penelitian ini akan di publikasikan pada Prosiding konferensi internasional yang terindeks SCOPUS/atau Jurnal Borneo (Sinta 2). Artikel ini akan dipresentasikan dalam pertemuan ilmiah yang diselenggarakan LPPM Unila Jurnal Ilmiah terakreditasi Nasional/Internasional.

Kata Kunci : Model Kerjasama, Pemerintah, Badan Usaha

(6)

BAB I. PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Pemerintah Indonesia dibawah Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dalam kurun waktu periode 2014-2019, berfokus untuk membangun Indonesia melalui pembangunan infrastruktur. Pada 5 (lima) tahun belakangan ini pemerintah terus mengenjot pembangunan infrastruktur di seluruh Indonesia. Jalan tol, pelabuhan laut, pelabuhan udara, waduk atau bendungan, jalan nasional, jalan kereta api dan jenis infrastruktur lainnya. Juga dibangun kawasan hinterlandnya baik berupa pusat pusat industri, kawasan industri maupun Kawasan Ekonomi Khusus. Infrastruktur dan pengembangan kawasan industri dibangun dengan satu tujuan agar Indonesia memiliki daya saing tinggi di kemudian hari. Infrastruktur merupakan salah satu elemen penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat. Penyediaan infrastruktur yang memadai dapat mempengaruhi peningkatan kualitas dan kuantitas kegiatan ekonomi. Infrastruktur transportasi yang baik, sebagai misal, akan membantu kelancaran arus orang maupun barang sehingga mampu mendorong perekonomian secara lebih berkelanjutan.

Menurut data Bappenas bahwa pada periode tahun 2015 s.d 2019 Indonesia membutuhkan investasi strategis penyediaan infrastruktur sekitar Rp 4.796,2 triliun. Dari jumlah total kebutuhan pendanaan tersebut, APBN/APBD secara keseluruhan hanya mampu memenuhi sekitar 41,3%. Sementara BUMN sekitar 22,2% dan sisanya 36,5% diharapkan berasal dari partisipasi pihak swasta atau badan usaha. Melihat data Bappenas di atas bahwa Indonesia sangat memerlukan sumber-sumber alternatif pendanaan baru dalam rangka mengatasi kesenjangan kebutuhan pendanaan penyediaan infrastruktur. Menjawab masalah tersebut maka pemerintah mengeluarkan Perpres 38 / 2015 dan Permen PPN no 4 / 2015 yang terkait dengan Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dalam penyediaan infrastruktur.

KPBU merupakan skema penyediaan infrastruktur melalui kerjasama pemerintah dengan pihak swasta (Badan Usaha) berdasarkan perjanjian kerjasama yang disepakati oleh para pihak.

(7)

Menurut Perpres 38 / 2015 Pasal 1 (6) Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha yang selanjutnya disebut sebagai KPBU adalah kerjasama antara pemerintah dan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur untuk kepentingan umum dengan mengacu pada spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya oleh Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah/Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah, yang sebagian atau seluruhnya menggunakan sumber daya Badan Usaha dengan memperhatikan pembagian risiko diantara para pihak.

Pada Kerja sama Pemerintah Swasta (KPS) yang merupakan perwujudan dari kemitraan antara pemerintah dan swasta. Terdapat beberapa bentuk yang menjadi role model. Menurut Siregar (2004: 276) Kerja sama Pihak Swasta (KPS) memiliki bentuk antara lain : (a) Built- Operate-Transfer (BOT), (b) Built-Transfer-Operate (BTO), (c) Built-Transfer (BT), (d) Kerja Sama Operasi (KSO).

Salah satu bentuk kerjsama pemerintah dengan badan usaha dalam penyediaan infrastruktur di Indonesia yaitu proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Proyek ini merupakan masuk kedalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Hal ini terlihat dari Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 122 Tahun 2015 tentang Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Pada peraturan tersebut mengatur sistem penyediaan air minum, penyelenggaraan SPAM, pencegahan terhadap pencemaran air, wewenang dan tanggung jawab, pelaksanaan penyelenggaraan SPAM, hak dan kewajiban pelanggan dan pembiayaan, tarif, retribusi, dan iuran.

Salah satu proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang sudah dilakukan pengerjaannya adalah pembangunan SPAM di Kota Bandar Lampung. Pembangunan SPAM Bandar Lampung ini menggunakan skema Kerjasama Pemerintah Badan Usaha (KPBU) dengan total perkiraan nilai investasi sebesar Rp 1,26 triliun. Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Kota Bandar Lampung yang akan melayani 300.000 jiwa penduduk di 8 Kecamatan di wilayah Kota Bandar Lampung. Proyek SPAM Kota Bandar Lampung merupakan salah satu proyek strategis nasional (PSN) yang bertumpu pada kolaborasi sinergis antara Kementerian PUPR dengan Kementerian Keuangan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Pemerintah Kota Bandar Lampung, PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung, dan PT.Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PT.PII).

(8)

Investasi pembangunan SPAM Bandar Lampung akan digunakan untuk pembangunan, pengoperasian dan pemeliharaan SPAM yang mencakup intake dengan kapasitas 825 liter/

detik untuk pengambilan air baku, Instalasi Pengolahan Air (IPA) dengan kapasitas produksi 750 liter/detik, pembangunan pipa transmisi diameter 1.000 mm sepanjang 22 km, reservoir dengan kapasitas 10.000 m³ dan pembangunan sebagian jaringan distribusi untuk sistem pemompaan (jaringan distribusi utama dan jaringan distribusi pembawa) (https://www.pu.go.id/berita/view/15840/konstruksi-proyek-kpbu-spam-bandar-lampung- senilai-rp-1-2-triliun-dimulai).

Sebagai tindak lanjut dari kerjasama pemerintah dengan badan usaha dalam penyediaan sistem air minum (SPAM) di kota Bandarlampung maka pada tanggal 14 Februari 2018 melakukan penandatanganan kerjasama antara PDAM Way Rilau dan PT. Adya Tirta Lampung sebagai badan usaha pemenang lelang. Kementerian PUPR melalui BPPSPAM bersama dengan PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) juga memberikan dukungan memberikan pendampingan dalam rangka peningkatan kapasitas Tim KPBU dan Panitia Pengadaan Badan Usaha SPAM Kota Bandar Lampung. Setelah penanda tanganan Memorandum of Understanding(MoU) antara pemerintah Kota Bandarlampung dengan badan usaha maka pada tanggal 25 Juni 2018 di Kelurahan Rajabasa Nunyai Kecamatan Rajabasa melakukan Peletakan batu pertama pembangunan Proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) intake instalasi pengolahan air, pemasangan pipa transmisi dan reservision (https://bandarlampungkota.go.id/new/berita-10129-Peletakan-Batu-Pertama-Proyek-

Sistem-Penyediaan-Air-Minum--SPAM--di-Bandar-Lampung.).

Pada perjalanannya proyek sistem penyediaan air minum (SPAM) di Kota Bandarlampung ini menimbulkan berbagai masalah yang merugikan masyarakat. Masalah yang timbul akibat proyek ini adalah kerusakan jalan di wilayah Kota Bandarlampung. Hampir seluruh jalan yang dilewati proyek SPAM ini rusak parah dan sulit dilewati oleh masyarakat yang melakukan aktivitasnya. Proyek ini terkadang menurut masyarakat menimbulkan kemacetan yang parah hingga menimbulkan korban jiwa meninggal akibat proyek tersebut. Selain itu, pada musim hujan, galian pipa kerap menimbulkan genangan air. Aliran air pada saluran irigasi bawah tanah menjadi mampet sehingga menyebabkan banjir

(https://www.lampost.co/berita-proyek-galian-spam-dinilai-merugikan-masyarakat).

Selain merugikan warga pembangunan sistem penyediaan air minum ini juga merugikan badan usaha lainnya di Kota Bandarlampung ini seperti yang dialami oleh PT Telkom

(9)

Lampung. Akibat penggalian pipa utuk proyek SPAM di Kota Bandarlampung ini mereka merugi sekitar hamir 500 juta rupiah. Hal ini dikarenakan karena putusnya 12 kabel penghubung yang ada di depan Ramayanan Robinson, Rajabasa. Putusnya kabel Telkom ini menganggu 400-500 pelanggan Telkom di wilayah tersebut. Kejadian tersebut sangat mengganggu pelayanan kepada masyarakat dan merugikan PT Telkom selaku pemberi layanan internet di wilayah tersebut

(https://radarlampung.co.id/2019/09/20/rugi-rp-500-jutaan-akibat-12-kabel-putus-telkom- hentikan-sementara-pengerjaan-galian-pdam).

Berdasarkan masalah diatas peneliti melihat bahwa kerjasama pemerintah dengan badan usaha dalam penyediaan air minum di Kota Bandarlampung ini tujuannya baik agar msyarakat memperoleh air minum dengan harga relatif lebih murah dan bisa membantu ekonomi warga di Kota Bandarlampung ini. Akan tetapi pada kenyataannya pelaksaaan implementasi di lapangan proyek ini menimbulkan berbagai masalah yang di rasakan masyarakat dan juga badan usaha lainnya. Selain itu peneliti juga melihat bentuk pengawasan yang dilakukan pemerintah terhadap proyek sistem penyediaan air minum (SPAM) ini relatif lemah sehingg terjadi berbagai masalah yang ada di lapangan yang berkaitan dengan pembangunan proyek ini. Menurut PP No 122 Tahun 2015 yang salah satu isinya bahwa pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kotamadya melakukan pemantauan, pengawasan serta evaluasi terhadap proyek tersebut. Hal ini peneliti lihat belum adanya pengawasan dari pemerintah terhadap proyek SPAM tersebut.

Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk meneliti Model Kerjasama Pemerintah Dengan Badan Usaha. (Studi Pada Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Kota Bandarlampung)

I.2. Tujuan Khusus

Penelitian ini memiliki tujuan khusus yakni :

1. Mengidentifikasi masalah tentang kerjasama Pemerintah Dengan Badan Usaha.

(Studi Pada Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Kota Bandarlampung),

2. Menentukan model Kebijakan kerjasama Pemerintah Dengan Badan Usaha. (Studi Pada Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Kota Bandarlampung)

(10)

I.3. Urgensi Penelitian

Adapun urgensi dalam penelitian ini adalah

1. Secara Teoritis.

Secara Teoritis hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk pengembangan bidang ilmu Manajemen pemerintahan sebagai bahan referensi perkuliahan mahasiswa, dengan demikian diharapkan khasanah ilmu pengetahuan mahasiswa dan dosen semakin meningkat.

2. Secara praktis

a. Untuk mengidentifikasi masalah kerjasama model Kebijakan kerjasama Pemerintah Dengan Badan Usaha. (Studi Pada Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Kota Bandarlampung),

b. Untuk mengembangkan model Kebijakan Kerjasama Pemerintah Dengan Badan Usaha. (Studi Pada Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Kota Bandarlampung).

1.4. RENCANA TARGET CAPAIAN

Luaran yang ditargetkan dalam penelitian ini sebagai kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya khazanah ilmu pemerintahan adalah dengan mempublikasikan hasil penelitian ini melalui Prosiding konferensi internasional yang terindeks SCOPUS serta mempresentasikan hasil penelitian dalam forum/pertemuan ilmiah.

Tabel 1. Rencana Target Capaian

No Jenis Luaran Indikator

Capaian 1. Publikasi ilmiah/Prosiding konferensi

internasional yang

terindeks SCOPUS/ di Jurnal Borneo (Sinta 2

Published

2. Pemakalah dalam pertemuan ilmiah Internasional Terdaftar Nasional Tidak Ada

3. Buku Ajar Tidak Ada

4. Luaran lainnya jika ada (Teknologi Tepat Guna, Model/Purwarupa/Desain/Karya seni/

Rekayasa Sosial)

Tidak Ada

5. Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) 2

(11)

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Konsep Perjanjian Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU)

Menurut Perpres 38 / 2015 Pasal 1 (6) Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha yang selanjutnya disebut sebagai KPBU adalah kerjasama antara pemerintah dan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur untuk kepentingan umum dengan mengacu pada spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya oleh Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah/Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah, yang sebagian atau seluruhnya menggunakan sumber daya Badan Usaha dengan memperhatikan pembagian risiko diantara para pihak. Menurut Perpres 38 / 2015 Pasal 3, KPBU dilakukan dengan tujuan untuk: a.

Mencukupi kebutuhan pendanaan secara berkelanjutan dalam Penyediaan Infrastruktur melalui pengerahan dana swasta; b. Mewujudkan Penyediaan Infrastruktur yang berkualitas, efektif, efisien, tepat sasaran, dan tepat waktu; c. Menciptakan iklim investasi yang mendorong keikutsertaan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur berdasarkan prinsip usaha secara sehat; d. Mendorong digunakannya prinsip pengguna membayar pelayanan yang diterima, atau dalam hal tertentu mempertimbangkan kemampuan membayar pengguna;

dan/atau e. Memberikan kepastian pengembalian investasi Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur melalui mekanisme pembayaran secara berkala oleh pemerintah kepada Badan Usaha.

Menurut Perpres 38 / 2015, Pasal 4, KPBU dilakukan berdasarkan prinsip: a. Kemitraan, yakni kerjasama antara pemerintah dengan Badan Usaha dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dan persyaratan yang mempertimbangkan kebutuhan kedua belah pihak; b. Kemanfaatan, yakni Penyediaan Infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah dengan Badan Usaha untuk memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat; c.

Bersaing, yakni pengadaan mitra kerjasama Badan Usaha dilakukan melalui tahapan pemilihan yang adil, terbuka, an transparan, serta memperhatikan prinsip persaingan usaha yang sehat pengelolaan risiko, yakni kerja sama Penyediaan Infrastruktur dilakukan dengan penilaian risiko, pengembangan strategi pengelolaan, dan mitigasi terhadap risiko; e. Efektif,

(12)

yakni kerja sama Penyediaan Infrastruktur mampu mempercepat pembangunan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan pengelolaan dan pemeliharaan infrastruktur; dan f. Efisien, yakni kerja sama Penyediaan Infrastruktur mencukupi kebutuhan pendanaan secara berkelanjutan dalam Penyediaan Infrastruktur melalui dukungan dana swasta.

Secara teori menurut Utama (2010:146) inti dari Kerja sama Pemerintah dan badan usaha/

Swasta adalah keterkaitan/sinergi yang berkelanjutan (kontrak kerja sama jangka panjang) dalam pembangunan proyek untuk meningkatkan pelayanan umum (pelayanan publik), antara :

1. Pemerintah atau pemerintah daerah selaku regulator;

2. Perbankan/konsorsium selaku penyandang dana; dan

3. Pihak Swasta/BUMN/BUMD selaku Special Purpose Company (SPC) yang

bertanggungjawab atas pelaksanaan suatu proyek mulai dari desain, konstruksi, pemeliharaan dan operasional.

II.2. Karakteristik Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha(Swasta)/ Public Private Partnership (PPP)

Nsasira et al, (2013) mengatakan bahwa PPP memiliki beberapa ciri yaitu : (1) kerjasama jangka panjang bukan kolaborasi jangka pendek. (2) menekankan risk-sharing (bagi resiko) sebagai komponen vital. Kedua belah pihak akan menanggung bagian dari resiko yang timbul dari kerjasama tersebut. (3) para pihak bersama sama memproduksi sesuatu (barang atau jasa) dan secara implisit kedua belah pihak mendapatkan manfaat dari usaha bersama mereka.

Mereka mengutip pendapat dari Maskin and Tirole (2008), karakteristik utama dari PPP adalah suatu contractual basis. Selanjutnya dikatakan bahwa dibanding dengan bentuk kerjasama tradisional lainnya, PPP memiliki karakteristik penting yaitu : (1) pola kepemilikan PPP berbeda dengan aliansi perusahaan karena salah satu sisi adalah organisasi yang dimiliki publik (pemerintah) sedangkan di sisi lain adalah organisasi yang dimiliki swasta. (2) Hasil atau output dari jenis kerjasama ini adalah produk atau jasa publik (atau setidaknya quasi- public). Hal ini berbeda dengan output perusahaan (private). (3) PPP biasanya bersifat kontrak jangka panjang dan tetap berpengaruh pada partner untuk waktu yang lama.

Menurut Mathur (2014), karakteristik yang melekat dalam PPP adalah : (1) peranan pemerintah bisa sebagai fasilitator dan enabler dengan mengasumsikan resiko sosial,

(13)

lingkungan dan politik. Sedangkan peranan pihak swasta adalah pendana, pembangun dan operator jasa atau fasilitas dengan mengasumsikan resiko kontruksi dan komersial. (2) pemerintah tetap melakukan perhitungan antar kualitas jasa, kepastian harga dan efektivitas biaya (value for money) dari perkongsian atau partnership. (3) proses PPP mencakup penilaian skala penuh resiko ketika pihak swasta mengasumsikan adanya resiko non kinerja dari aset dan saat merealisasikan return ketika asset dikerjakan. (4) PPP akan mendapatkan gain yang efisien dan meningkatkan dampak atas investasi. Untuk mencapai hal tersebut maka perlu cepat diimplementasikan, mengurangi siklus hidup biaya dan alokasi resiko yang optimal. Iossa and Martimort (2009), lebih menekankan pada bagaimana PPP itu optimal sebagai karakteristik dasarnya. Menurutnya PPP seharusnya memberikan dampak eksternalitas positip pada semua tahap PPP, karena jika positip maka akan meningkatkan insentif dari proyek PPP, mendapatkan transfer resiko yang sesuai kualitas terbaik hasil (yield) dan mendapatkan serta merealisasikan proyek proyek yang murah. Jadi pada dasarnya PPP harus menciptakan benefit terbaik. Hal ini bisa tercapai ketika infrastruktur berkualitas terbaik dapat menurunkan biaya.

Liu and hiraku (2009) mengutip pendapat Teisman and Klijn (2002) yang menekankan bahwa skema PPP lebih didasari pada kerangka pembuatan keputusan bersama ketimbang sebagai hubungan prinsipal-agent. Pada konteks ini, masalah dalam PPP akan diidentifikasi dan dicarikan solusi oleh kedua belah pihak. Jadi prinsip dasar dari PPP adalah kerjsama atau kolaborasi dan saling mendukung antar partisipan, sharing sumberdaya, resiko, tanggungjawab dan imbalan antar kedua pihak yang terlibat. Nsasira et al, (2013), menambahkan bahwa delivery jasa dan pembuatan kebijakan dalam PPP telah menyebabkan pergeseran dari kebijakan “top-down” ke arah negoisasi dan efektif delivery. Di dalam PPP juga terdapat insentif kepada pihak swasta karena melakukan delivery jasa karena mereka melakukan peningkatan pada level efisiensi dan efektivitas. Peningkatan ini harus dilakukan karena terkait dengan gain atau manfaat (meningkatkan profit dan return), yang terkait dengan delivery jasa pada pemerintah.

II.3. Model (Bentuk) Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (Swasta)

Mathur (2014), mengutip Asian Development Bank (2000) and World Bank 0(2004) menyatakan bahwa bentuk partenership yang banyak digunakan diseluruh dunia dapat diklasifikasikan sebagai berikut : (1) Service Contract and Management Contract (2) Turnkey

(14)

contracts (3) Lease contract (4) Concession (5) Private Finance Initiative and Private ownership.

Service Contracts and Management contracts. Merupakan rencana kontraktual untuk mengelola atau memanajemen sebagian atau seluruh suatu proyek publik oleh perusahan swasta. Kontrak ini membolehkan keahlian sektor swasta untuk masuk dalam mendisain jasa dan mendeliverinya, kontrol operasi, manajemen tenaga kerja, pengadaan peralatan, tampa menanggung resiko komersial. Pemerintah tetap sebagai pemilik fasilitas dan peralatan.

Swasta mendapatkan fee untuk memanajemeni dan mengoperasionalkan berbasis kinerja.

Turnkey Contracts. Kontraktor swasta diseleksi melalui proses penawaran. Kontraktor akan mendisain dan membangun suatiu fasilitas dengan fee atau total cost yang tetap, dimana terdapat kriteria kunci dalam memilih pemenang, resiko diasumsikan masuk dalam tahapan disain dan konstruksi. Kontrak ini biasanya jangka pendek dan investasi swasta kecil. (paling banyak digunakan, uang dari pemerintah, kontraktor hanya bangun saja). Misalnya : pembangkit listrik.

Affermage / Lease. Operator bertanggungjawab untuk mengoperasikan dan memelihara fasilitas infratsruktur (sudah dibangun sebelumnya) dan jasa. Operator tidak mengeluarkan investasi. Namun seringkali, model kontrak ini dikombinasikan dengan model lainnya seperti : model build-rehabilitate-operate-transfer. Pada kasus ini periode kontrak relatif lebih lama dan swasta membutuhkan investasi yang cukup signifikan. Pada kondisi ini, sangat biasa menggunakan bentuk affermage and a lease. Kedua bentuk ini hanya berbeda secara teknis saja. Kalau lease, operator menahan pendapatan yang diperoleh dari konsumen atau pengguna fasilitas dan melakukan pembayaran fee leasing dalam jumlah tertentu kepada otoritas pemberi kontrak (pemerintah). Namun untuk affermage, operator dan pemberi kontrak berbagi revenue dari konsumen atau pengguna. Untuk lahan yang digunakan dalam bentuk ini biasanya ditransfer setelah 15-30 tahun. Misalnya : proyek taman kota.

Concessions. Pada bentuk ini, pemerintah hak membuat dan memberikan bantuan (uang) kepada perusahan swasta untuk membangun dan mengoperasikan fasilitas dengan periode waktu tertentu / tetap. Pemilik proyek tetap pemerintah dan hak untuk mengsupply jasa tetap pada pemerintah. Dalam konsensi ini, pembayaran dapat ditempuh dengan dua cara : (a) pelaksana konsensi yang membayar kepada pemerintah karena hak konsensi (b) pemerintah membayar kepada pelaksana konsensi. Kedua pembayaran ini didasari pada kesepakatan

(15)

kedua belah pihak dengan syarat-syarat khusus. Untuk mode pembayaran dari pemerintah ke pelaksana konsensi, pemerintah harus membuat proyek layak secara komersial atau menurunkan tingkat resiko komersial yang ditanggung oleh sektor swasta, biasanya dalam proyek proyek PPP yang sementara dikembangkan atau pasarnya yang belum teruji. Rentang waktu konsensi adalah 5-50 tahun.

Model kosensi, memiliki banyak varian atau turunan model yang digunakan yaitu :

Pertama, Build Own Operate (BOO). Pemerintah memberikan hak untuk membiayai, mendisain, membangun, mengoperasikan dan memelihara kepada swasta. Swasta tidak disyaratkan untuk mentransfer fasilitas kepada pemerintah (misalmya : KEK).

Kedua, Build Operate Transfer (BOT). swasta membangun dan mengoperasikan fasilitas publik untuk periode waktu yang signifikan (panjang). Namun setelah waktu habis maka fasilitas itu diberikan kepada pemerintah. Contoh : jalan.

Ketiga, Build-Own-Operate-Transfer (BOOT). Pemerintah memberikan franchise kepada swasta untuk membiayai, mendisain, membangun dan mengoperasikan fasilitas untuk periode waktu tertentu. Pada periode waktu itu, fasilitas dimiliki penuh oleh swasta namun setelah habis periode akan diberikan kepada pemerintah. Misalnya : pelabuhan udara.

Keempat, Design-Build-Operate (DBO). Adalah kontrak tunggal yang diberikan kapada swasta dalam mendisain, membangun dan mengoperasikan fasilitas publik , namun pemerintah tetap sebagai pemilik.

Kelima, Build-Develop-Operate (BDO). Swasta membeli fasilitas publik, kemudian memperbaharui kembali (mengembangkan) dengan sumberdaya sendiri kemudian mengoperasikannya melalui kontrak dengan pemerintah. (misalnya : kebun binatang).

Keenam, Build-Own-Lease-Transfer (BOLT). Pemerintah memberikan grant atas hak untuk membiayai dan membangun proyek dan kemudian di leased back kepada pemerintah dengan fee dan kesepakatan tertentu dengan swasta. Fasilitas ini tetap dioperasikan oleh pemerintah, namun diakhir periode akan diberikan kepada pemerintah. (misalnya : food court).

Ketujuh, kesepakatan kontraktual dimana proyek yang dibangun (infrstruktur baru) oleh swasta diintegrasikan dengan rencana yang memberikan swasta hak untuk mengembangkan dan menerima beberapa manfaat yang dihasilkan dari investasinya. Manfaat ini bisa nilai tinggi dari properti dan nilai sewa. Ketujuh, Rehabilitate Operate and Transfer (ROT).

Kesepakatan kontraktual dimana suatu fasilitas eksisting (yang telah ada) diberikan kepada swasta untuk diperbaharui kembali, kemudian dioperasikan dan dipelihara selang periode

(16)

tertentu sebagai suatu franchisee, dan pada akhir periode dikembalikan kepada pemerintah.

(mis: gues house untuk kesehatan dan spa di India).

Kedelapan, Design-Build-Operate (DBO). Swasta mendisain dan membangun fasilitas serta mengoperasikannya dalam periode tertentu.

Kesembilan, Design-Build-Finance-Operate/Maintain (DBFO, DBFM or DBFO/M). Swasta yang mendisain, membangun, membiayai, mengoperasikan dan atau memelihara fasilitas baru dalam lease jangka panjang. Dan pada akhir periode akan dikembalikan ke pemerintah.

Contoh: Up gradation of Nehru Zoological Park, Bird Park at Kothaguda, Development of Intercity Bus Terminal at Miyapur, Hyderabad.

Private Finance Initiative (PFI). Pada mode ini, swasta bertanggungjawab penuh untuk disain, konstruksi, operasi sampai pada pemeliharaan. Dalam beberapa kasus, pemerintah memberikan hak kepemilikan asset kepada swasta. Namun dalam jangka panjang, pemerintah akan membeli infrastruktur tersebut dari swasta. Juga pemerintah mentrasfer resiko dan biaya disain dan kontruksi pada swasta.

II.4. Roadmap Penelitian

Peta jalan penelitian ini memiliki arti bahwa bagaimana arah penelitian yang dilakukan peneliti dalam menentukan model kerjasama pemerintah dengan badan usaha dalam penyediaan sistem air minum di Kota Bandar Lampung. Pada penelitian ini peneliti mencoba bagaimana melihat bentuk keterlibatan dari pemerintah dan badan usaha dalam melakukan kerjasama penyelesaiaan proyek air minum tersebut. Setelah melihat aktor-aktor yang terlibat dalam penelitian ini peneliti bisa melihat bagaimana model yang terbentuk dari hasil kerjasama pemerintah dengan badan usaha ini. Subjek penelitian dalam keilmuan ilmu pemerintahan adalah keterlibatan pemerintah, swasta dan masyarakat dalam menyelesaikan proyek tersebut., dengan demikian akan membentuk kekhasan Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung pada kajian Good Governance dan Manajemen Pemerintahan.

(17)

Gambar 1. Skema road map penelitian

Pada tahun pertama, penelitian memiliki topic pada indikator faktor-faktor yang mempengaruhi kerjasama pemerintah dengan badan usaha. Indikator ini lah yang dilihat sebagai penguatan dari bentuk kerjasama yang akan dilakukan antara kedua belah pihak..

Tahun kedua, merujuk pada dampak dan manfaat dari kerjasama ini. Pada prinsipnya pemerintah harus melihat berbagai macam faktor dalam menentukan kerjasama dengan swasta (badan usaha). Faktor tersebut bisa terlihat dari dampak dan manfaat apa dari kerjasama pemerintah dengan badan usaha tersebut.

Tahun ketiga sampai dengan keempat, merupakan bagian tak terpisahkan dari penelitian ini.

Pelaksaan program berkaitan dengan kerjasama pemerintah dengan badan usaha ini dimplementasikan, apakah program tersebut sangat dibutuhkan oleh masyarakat atau bahkan program kerjasama tersebut merugikan berbagai macam pihak termasuk masyarakat. Selain itu juga bentuk pengawasan apa yang dilakukan pemerintah terhadap kebijakan penyedian sistem air minum (SPAM) yang dilakukan oleh badan usaha. Setelah pelaksanaan program tersebut berjalan maka peneliti bisa melihat bagaimana model/bentuk kerjasama pemerintah dengan badan usaha dalam penyediaan sistem air minum( SPAM) di kota Bandarlampung ini.

Model Kerjasama Pemerintah dengan Badan

Usaha Pelaksanaan

Program Dampak dan

Manfaat dari Kerjasama pemerintah dengan badan

usaha Indikator Faktor-

Faktor yang Mempengaruhi

Kerjasama Pemerintah dan

Badan Usaha

Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3-4 Tahun 4-6

(18)

BAB III. METODE PENELITIAN

III.1. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2002:3), metode penelitian kualitatif sebagai suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif, yaitu kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang diamati. Penelitian kualitatif memandang obyek yang diteliti secara holistik. Jadi dalam hal ini tidak mengisolasi individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis tetapi memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan. Sedangkan jenis penelitian deskriptif, menurut Nawawi (2001:44) dapat diartikan sebagai penelitian yang berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data- data yang ada. Jadi ia juga menyajikan data, menganalisis, dan menginterpretasi.

Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, peneliti bermaksud melakukan representasi objektif mengenai gejala-gejala yang terdapat di dalam masalah penelitian yaitu kebijakan kerjasama pemerintah dengan badan usaha (studi pada sistem penyediaan air minum (SPAM) di Kota Bandarlampung.

Lokasi penelitian dilakukan di Pemerintah Kota Bandarlampung, PDAM Way Rilau dan PT Adya Tirta Lampung..

Gambar 2. Skema aktivitas penelitian

Telaah Konsep Kerjasama Pemerintah dengan Badan

Usaha

Turun Lapangan observasi disertai dengan wawancara

informan

FGD dengan pihak terkait berkaitan dengan hasil observasi dan

wawancara

rekomendasi akhir tentang penelitian

model kerjasama pemerintah dengan badan

usaha

(19)

Pada gambar 2., diilustrasikan runut aktivitas yang akan dilakukan. Lebih lanjut, hal tersebut dijabarkan dalam tabel 1. di bawah ini.

Tabel 1. Runut Tahapan Aktivitas Penelitian

Tahapan Aktivitas Luaran Indikator Sukses

1 Telaah konsep tentang kerjasama pemerintah dengan badan usaha

Draft 1 capaian umum berdasarkan dokumen

Daftar capaian terkait isu kerjasama pemerintah dengan badan usaha

2 Turun Lapangan (Observasi) disertai wawancara dengan informan yang terkait

Draft hasil observasi dan hasil wawancara yang di peroleh peneliti dari informan

Daftar wawancara informan berhasil di jawab sesuai indicator penelitian 3 FGD dengan pihak terkait baik itu

pemerintah dan badan usaha

Draft hasil FGD dengan pihak terkait

Ditemukan fakta baru dan

kesesuaian hasil penelitian dengan hasil FGD

tersebut 4 rekomendasi bentuk model

kerjasama pemerintah dengan badan usaha

Final draft modul Modul indikator dan sosialisasi

III.2. Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian menggunakan Wawancara kepada key informan/narasumber, studi dokumentasi observasi lapang/penelitian lapang dan Focus Group Disscussion

III.3. Tehnik Analisis Data

Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2006) mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas sehingga datanya sudah jenuh. Dalam penelitian kualitatif, tahapan-tahapan analisis data antara lain reduksi data, penyajian data dan verifikasi/penarikan kesimpulan

(20)

Analisis data pada penelitian kualitatif meliputi tahap-tahap sebagai berikut (Milles and Huberman, 1992):

Gambar 3: Proses Analisis Data Model Interaktif Milles dan Huberman (Milles and Huberman, terjemahan: 1992)

1. Reduksi Data (reduction data), yaitu data yang diperoleh di lokasi penelitian (data lapangan) dituangkan dalam uraian atau laporan yang lengkap dan terinci. Laporan lapangan akan direduksi, dirangkum, dipilih hal-hal pokok, difokuskan pada hal-hal yang penting kemudian dicari tema atau polanya. Reduksi data berlangsung secara terus menerus selama proses penelitian berlangsung. Selama pengumpulan data berlangsung diadakan tahap reduksi data, selanjutnya membuat ringkasan mengkode, menelusuri tema, membuat gugus-gugus dan menulis memo.

2. Penyajian Data (data display), yaitu memudahkan bagi peneliti untuk melihat gambaran secara keseluruhan atau bagian tertentu dari penelitian. Pada dasarnya penyajian data merupakan pembagian pemahaman peneliti tentang hasil penelitian. Data yang diperoleh akan disajikan baik dalam bentuk gambar atau kutipan-kutipan wawancara maupun deskripsi hasil observasi.

3. Penarikan Kesimpulan/ verifikasi, yaitu melakukan verifikasi secara terus menerus sepanjang proses penelitian berlangsung, yaitu sejak awal memasuki lokasi penelitian dan selama proses pengumpulan data. Peneliti berusaha untuk menganalisis dan mencari pola, tema, hubungan persamaan, hal-hal yang sering timbul, hipotesis dan sebagainya yang dituangkan dalam kesimpulan yang tentatif. Akan tetapi dengan bertambahnya data melalui proses verifikasi secara terus menerus, maka akan diperoleh kesimpulan yang

Kesimpulan:

Penarikan dan Verifikasi

Reduksi Data Pengumpulan

Data Penyajian

Data

(21)

bersifat “grounded”, dengan kata lain setiap kesimpulan senantiasa terus dilakukan verifikasi selama penelitian berlangsung.

III.4. Tehnik Keabsahan Data

Untuk menentukan keabsahan data dalam penelitian kualitatif harus memenuhi beberapa persyaratan yang dalam pemeriksaan data menggunakan 4 (empat) kriteria (Moleong, 2005) yaitu: derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability), kepastian (confirmability). Untuk memeriksa kredibilitas (Moleong, 2005) maka peneliti melakukan triangulasi, dan teknik analisis kasus negatif dengan jalan mengumpulkan contoh dan kasus yang tidak sesuai dengan pola dan kecendrungan informasi yang telah dikumpulkan dan digunakan sebagai bahan pembanding (Moleong, 2005).

(22)

BAB IV. BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN

IV.1. Biaya Penelitian

Anggaran biaya penelitian ini sesuai dengan rencana anggaran dana yang disediakan untuk penelitian dasar sebesar Rp. 20.000.000,-

Jenis pembelian Jumlah Satuan Harga

satuan Volume Total Alat tulis kantor

Hvs a4 6 rim 45.000 1 270.000

Balpoint boldliner 2 lusin 30.000 1 60.000

Block note 20 buah 7.000 1 140.000

Map plastik 50 pcs 8.000 1 400.000

Paper clip 6 kotak 20.000 1 120.000

Bahan habis pakai 0

Cd rw 20 keping 10.000 1 200.000

Box cd 20 buah 5.500 1 110.000

Map plastik 20 pcs 20.000 1 400.000

Tinta printer blue print hitam

8 buah 45.000 1 360.000

Tinta printer blue print colour

8 buah 45.000 1 360.000

Catridge canon black

2 buah 240.000 1 480.000

Catridge canon colour

2 buah 240.000 1 480.000

Flasdisk 8 gb 4 ob 220.000 1 880.000

Fotocopy literatur 4 buku 200.000 1 800.000 Cetak proposal 600

lembar

200 1 120.000

Jilid proposal 6 paket 30.000 1 180.000

Cetak laporan 1.500

lembar

200 1 300.000

Jilid laporan 6 paket 30.000 1 180.000

Transport dan akomodasi

0 Transport

pengambilan data

3 oh 100.000 15 4.500.000

Transport tim mahasiswa

2 oh 100.000 14 2.800.000

Snack 8 oh 22.500 4 720.000

(23)

Aqua box 1 box 20.000 1 20.000

Jus buah 8 pcs 15.000 1 120.000

Lain-lain 0

biaya registrasi publikasi konfrensi internasional

1 paket 6.000.000 1 6.000.000

Total 20.000.000

IV.2. Jadwal Penelitian

No Kegiatan Bulan Ke-

1 2 3 4 5 6

1 Perencanaan

2 Pengumpulan data 3 Analisis Data 4 Penyusunan laporan

5 Finalisasi

(24)

DAFTAR PUSTAKA

Iossa Elisabetta and David Martimort, 2009, The Simple Micro-Economics of Public- Private Partnerships, Working Paper No. 09-03. Pp1-57

Liu Zhiyong and Hiraku Yamamoto, 2009, Public-Private Partnerships (PPPs) in China:

Present Conditions, Trends, and Future Challenges, Interdisciplinary Information Sciences Vol. 15, No. 2 pp. 223–230

Mathur Swati, 2014, Public Private Partnership in infrastructure – A study on roads and Highway Project in Andhra Prades, Thesis Doctor Of Philosophy (PhD), Departement of Business management, Osmania University, Hyderabad, Pp. 1-277.

Milles, Mathew.B dan Huberman, A. Michael. 1992. Analisis Data Kualitatif.

Penterjemah Tjetjep Rohendi. Universitas Indonesia. Jakarta

Moleong, Lexy. 2000. Metode Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosda Karya: Bandung.

Muluk, Khairul. 2007. Menggugat Partisipasi Publik Dalam Pemerintahan

Daerah. Bayumedia, Publishing. JakartaRosen, E.D. 1993. Improving Public Sector Productivity: Concept and Practice. London: Sage Publications, International Educational and Professional Publisher

Nsasira Rachael, Benon C. Basheka & Pross. N. Oluka,2013, Public Private Partnerships (PPPs) and Enhanced Service Delivery in Uganda: Implications from the Energy Sector, International Journal of Business Administration Vol. 4, No. 3, PP. 48-60 PP Nomor 122 Tahun 2015 tentang Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).

PERPRES No. 38 Tahun 2015 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur

Poloma, Margaret M., Sosiologi Kontemporer, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994.

Pamudji, S. 1985. Kerjasama Antar Daerah Dalam Kerangka Pembinaan Wilayah. Bina Aksara. Jakarta

Siregar, Doli. 2004. Manajemen Aset. Jakarta PT. Gramedia Pustaka Utama.

Siagian, Sondang. 2005. Administrasi Pembangunan. Bumi Aksara. Jakarta Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah

Utama, Dwinanta. 2010. Prinsip dan Strategi Penerapan “Public Private Partnership” dalam Penyediaan Infrastruktur Transportasi. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol.12 No 3 Desember 2010. p. 146-147

UGM, Governance and Decentralization Survey (GDS), UGM-Parnership,

(25)

Yeremis, T. Keban. 2009. Kerjasama Antar Pemerintah Daerah Dalam Era Otonomi Daerah : Issue Strategis, Bentuk dan Prinsip. Makalah Yogyakarta

Wahab. Abdul. 2001. Konsep Pembangunan Daerah. Grasindo. Jakarta

https://www.pu.go.id/berita/view/15840/konstruksi-proyek-kpbu-spam-bandar-lampung- senilai-rp-1-2-triliun-dimulai).

(https://bandarlampungkota.go.id/new/berita-10129-Peletakan-Batu-Pertama-Proyek-Sistem- Penyediaan-Air-Minum--SPAM--di-Bandar-Lampung.).

(https://www.lampost.co/berita-proyek-galian-spam-dinilai-merugikan-masyarakat).

(https://radarlampung.co.id/2019/09/20/rugi-rp-500-jutaan-akibat-12-kabel-putus-telkom- hentikan-sementara-pengerjaan-galian-pdam).

Gambar

Tabel 1. Rencana Target Capaian
Gambar 1.  Skema road map penelitian
Tabel 1. Runut Tahapan Aktivitas Penelitian
Gambar 3: Proses Analisis Data Model Interaktif Milles dan Huberman (Milles and  Huberman, terjemahan: 1992)

Referensi

Dokumen terkait

Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2015 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

Karenanya dalam Perpres 38/2015 diatur bahwa pengadaan tanah untuk KPBU/KPS diselenggarakan oleh Pemerintah dan badan usaha dapat membayar kembali sebagian atau seluruh biaya

Menurut Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2015 tentang Kerjasama Pemerintah Dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur, pengertian infrastruktur adalah

Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) merupakan kerjasama antara Pemerintah dan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur untuk kepentingan umum dengan mengacu pada

Badan Kerja Sama Pembangunan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan Cianjur, yang selanjutnya disebut BKSP JABODETABEKJUR adalah Badan Kerjasama antara Pemerintah

94 Republik Indonesia, Peraturan Presiden tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur, Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2015, Pasal 1 butir 6,

Dalam rangka mendukung upaya percepatan pembangunan kilang minyak melalui Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha KPBU serta melaksanakan ketentuan Pasal 9 Peraturan Presiden Nomor 146

Peraturan Menteri Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah LKPP Nomor 19 Tahun 2015 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Pengadaan Badan Usaha Kerjasama Pemerintah Dengan Badan