KERJASAMA PEMERINTAH DAN BADAN USAHA (KPBU) PROYEK PRESERVASI JALAN NASIONAL LINGKAR TIMUR
SUMATERA PEKANBARU SIMPANG LOGO - KABUPATEN PELALAWAN DI PROVINSI RIAU
PROPOSAL TESIS Disampaikan kepada
Program Studi Magister Teknik Sipil
Sebagai bagian dari persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Teknik
Oleh :
MUNARLIS PAPUA NIM : 2365490016
REKAYASA DAN MANAJEMEN PROYEK KONSTRUKSI PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PERSADA INDONESIA Y.A.I JAKARTA
2025
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Jalan Lintas Timur merupakan jalan yang menghubungkan Kota Pekanbaru dengan Kabupaten Siak dan Pelalawan. Jalur ini merupakan jalur yang banyak dilalui kendaraan terutama mobil besar bermuatan berat dengan kecepatan yang tinggi. Salah satu Jalan Sumatera Timur di Provinsi mulai dari Simpang Kayu Ara (Kota Pekanbaru) hingga Simpang Lago (Kabupaten Pelalawan) terdiri dari tiga jalan yang dapat dikategorikan sebagai Jalan Nasional yang berkorelasi dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk menunjang pertumbuhan ekonomi tentunya fasilitas jalan raya harus baik dan nyaman dilalui.
Infrastruktur adalah fasilitas teknis, fisik, sistem, perangkat keras, dan lunak yang diperlukan untuk melakukan pelayanan kepada masyarakat dan mendukung jaringan struktur agar pertumbuhan ekonomi dan sosial masyarakat dapat berjalan dengan baik. Penyediaan Infrastruktur adalah kegiatan yang meliputi pekerjaan konstruksi untuk membangun atau meningkatkan kemampuan infrastruktur dan/atau kegiatan pengelolaan infrastruktur dan/atau pemeliharaan infrastruktur dalam rangka meningkatkan kemanfaatan infrastruktur. (Perpres No.38 Tahun 2015)
Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha yang selanjutnya disebut sebagai KPBU adalah kerjasama antara pemerintah dan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur untuk kepentingan umum dengan mengacu pada spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya oleh Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah/Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah, yang sebagian atau seluruhnya menggunakan sumber daya Badan Usaha dengan memperhatikan pembagian risiko diantara para pihak. (Perpres No.38 Tahun 2015)
Pelaksanaan pembangunan melalui skema KPBU untuk Infrastruktur Layanan Dasar dilakukan melalui beberapa tahapan yang telah diatur melalui perundang-undangan yang berlaku. Salah satu panduan bagi para stakeholder yang akan melakukan KPBU. Utamanya bagi Penanggung Jawab Proyek Kerjasama (PJPK) adalah Peraturan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor 4
Tahun 2015 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur (Permen PPN No.4 Tahun 2015)
Beragam potensi baik pengembangan daerah wisata baru maupun menghidupkan komoditas masyarakat setempat. termasuk seni dan kebudayaan menjadi alasan rencana pengembangan jalan lingkar selatan ini. Jalan lingkar diharapkan mampu meningkatkan konektivitas antar kawasan dengan fungsi yang berbeda khususnya di kawasan Sumatera Riau.
Kegiatan Penjajakan Minat Pasar atau Market Sounding adalah salah satu kegiatan yang wajib dilaksanakan dalam tahap penyiapan proyek KPBU sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri PPN/Kepala Bappenas Nomor 4 Tahun 2015 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerja sama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur (Permen PPN No.4 Tahun 2015).
Preservasi jalan merupakan kegiatan pemeliharaan, rehabilitasi, rekonstrusi, dan pelebaran jalan menuju standar, yang berkelanjutan untuk mempertahankan jalan.
KPBU didefinisikan sebagai kerjasama antara Pemerintah dan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur bertujuan untuk kepentingan umum dengan mengacu pada spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya oleh Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah/BUMN/BUMD, yang sebagian atau seluruhnya menggunakan sumber daya Badan Usaha dengan memperhatikan pembagian risiko diantara para pihak. Melalui PT. ADHI KARYA (Persero) berusaha menciptakan akses jalan yang lebih baik bagi masyarakat. Salah satunya yaitu penyelenggaraan di Jalan Simpang Kayu Ara, Pekanbaru – Simpang Lago, Kerinci.
Tujuan pelaksanaan Market Sounding proyek KPBU Jalan Lingkar Selatan Badung ini adalah untuk memperoleh masukan, tanggapan dari pemangku kepentingan diantaranya badan usaha, lembaga atau institusi nasional dan internasional serta mengetahui minat calon investor terhadap KPBU. Pada pelaksanaan acara ini, dihadiri lebih kurang 110 (seratus sepuluh) peserta yang berasal dari berbagai instansi, badan usaha yang hadir. Dengan ini dapat disimpulkan Pemerintah Riau memiliki rencana untuk Proyek Kerjasama
Pemerintah Dan Badan Usaha (KPBU) pada Pembangunan Jalan Lingkar Sumatera Riau sangat perlu dilaksanakan guna mendukung pengembangan kawasan wisata di kabupaten tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Dalam perumusan masalah pada Pembangunan Jalan Lingkar Sumatera Riau yang diperlukan adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana teknis pemilihan trase pada Pembangunan Jalan Lingkar Sumatera Riau?
2. Bagaimana sistem pembiayaan yang digunakan pada Jalan Lingkar Sumatera Riau setelah beroperasi?
3. Bagaimana skema pembiayaan melalui Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) pada Jalan Lingkar Sumatera Riau?
1.3 Tujuan Penelitian
Dalam hal ini adapun tujuan penelitian pada Pembangunan Jalan Lingkar Sumatera Riau yang diperlukan adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi teknis trase untuk proyek Pembangunan Jalan Lingkar Sumatera Riau.
2. Menentukan skema perhitungan pembiayaan pada Jalan Lingkar Sumatera Riau setelah beroperasi.
3. Membuat skema pembiayaan Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) pada Jalan Lingkar Sumatera Riau.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian dalam tugas ini khususnya bagi pemerintah, pihak swasta, masyarakat serta penyusun dan akademisi adalah sebagai berikut:
1. Untuk Pemerintah
Mendapatkan skema pembiayaan agar dapat memaksimalkan Pembangunan Jalan Lingkar Sumatera Riau.
2. Untuk Swasta
Sebagai sumber acuan pembiayaan alternatif dalam Pembangunan Jalan Lingkar Sumatera Riau.
3. Untuk Masyarakat
Sebagai penerima manfaat dari Pembangunan Jalan Lingkar Sumatera Riau 4. Untuk Penyusun dan Akademisi
Bermanfaat dibidang Ilmu/Akademis untuk menyusun skema/model penerapan Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) pada konstruksi pembangunan jalan terutama skema pembiayaan pada Pembangunan Jalan Lingkar Sumatera Riau.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Tak lupa pula adapun Ruang Lingkup yang dibahas dalam tugas ini adalah sebagai berikut:
1. Pelaksanaan teknis pada Pembangunan Jalan Lingkar Sumatera Riau baik pada fase eksisting dan fase konstruksi.
2. Manajemen Risiko pada Pembangunan Jalan Lingkar Sumatera Riau
3. Skema perhitungan pembiayaan dengan menerapkan Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).
1.6 Sistem Penulisan BAB I Pendahuluan
Pada Bab ini menjelaskan mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian dan sistematika penulisan BAB II Kajian Pustaka
Membahas mengenai studi pustaka yakni teori-teori yang akan dipakai sebagai bahan acuan dalam menelesaikan permasalahan penelitian ini. Studi pustaka merupakan kajian yang bersumber dari peraturan pemerintah, buku-buku literature, jurnal ilmiah, bahan kuliah dan penelitian sebelumnya yang menunjang tugas besar ini.
BAB III Metodologi Penelitian
Metodologi penelitian dibahas secara keseluruhan mencakup gambaran umum, struktur organisasi proyek inisiasi, profil wilayah penelitian, metode pengumpulan data dan metode analisis data
BAB IV Analisa dan Pembahasan
Berisi tentang uraian pelaksanaan penelitian yang dilakukan mencakup hasil pengumpulan data, analisa data serta hasil pembahasan
BAB V Penutup
Berisi kesimpulan yang diambil beserta saran yang dapat penyusun berikan mengenai penelitian ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Jalan
Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel. (PP No.34 Tahun 2006)
Penyelenggaraan jalan adalah kegiatan yang meliputi pengaturan, pembinaan, pembangunan, dan pengawasan jalan. Pembangunan jalan adalah kegiatan pemrograman dan penganggaran, perencanaan teknis, pelaksanaan konstruksi, serta pengoperasian dan pemeliharaan jalan. Penyelenggara jalan adalah pihak yang melakukan pengaturan, pembinaan, pembangunan, dan pengawasan jalan sesuai dengan kewenangannya. (PP No.34 Tahun 2006)
Jalan umum dikelompokkan dalam sistem jaringan jalan, fungsi jalan, status jalan, dan kelas jalan.
2.1.1 Sistem Jaringan Jalan
Sistem jaringan jalan merupakan satu kesatuan jaringan jalan yang terdiri dari sistem jaringan jalan primer dan sistem jaringan jalan sekunder yang terjalin dalam hubungan hierarki. Sistem jaringan jalan disusun dengan mengacu pada rencana tata ruang wilayah dan dengan memperhatikan keterhubungan antarkawasan dan/atau dalam kawasan perkotaan, dan kawasan perdesaan.
2.1.2 Fungsi Jalan
Berdasarkan sifat dan pergerakan pada lalu lintas dan angkutan jalan, fungsi jalan dibedakan atas arteri, kolektor, lokal, dan lingkungan. Fungsi jalan pada sistem jaringan primer dibedakan atas arteri primer, kolektor primer, lokal primer, dan lingkungan primer. Fungsi jalan pada sistem jaringan sekunder dibedakan atas arteri sekunder, kolektor sekunder, lokal sekunder, dan lingkungan sekunder.
2.1.3 Status Jalan
Jalan umum menurut statusnya dikelompokkan atas:
1. Jalan Nasional, 2. Jalan Provinsi, 3. Jalan Kabupaten, 4. Jalan Kota,
Jalan kota adalah jalan umum pada jaringan jalan sekunder di dalam kota.
5. Jalan Desa.
Jalan desa adalah jalan lingkungan primer dan jalan lokal primer yang tidak termasuk jalan kabupaten di dalam kawasan perdesaan, dan merupakan jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau antarpermukiman di dalam desa.
2.1.4 Kelas Jalan
Kelas jalan dikelompokkan berdasarkan penggunaan jalan dan kelancaran lalu lintas dan angkutan jalan, serta spesifikasi penyediaan prasarana jalan.
Pembagian kelas jalan berdasarkan penggunaan jalan dan kelancaran lalu lintas dan jalan sebagaimana diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang lalu lintas dan angkutan jalan. Kelas jalan berdasarkan spesifikasi penyediaan prasarana jalan dikelompokkan atas jalan bebas hambatan, jalan raya, jalan sedang, dan jalan kecil.
2.2 Kinerja Ruas Jalan
Untuk mengetahui dan memahami permasalahan lalu lintas di daerah kajian, maka dilakukan analisis kinerja lalu lintas. Analisis kinerja lalu lintas yang dilakukan adalah analisis kinerja ruas jalan. Untuk melakukan pengukuran kinerja ruas jalan, maka diperlukan standar baku yang dapat digunakan sebagai acuan dalam menilai kinerja lalu lintas. Standar baku yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja lalu lintas adalah Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) yang di terbitkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga tahun 1997. Standar ini didesain sesuai dengan kondisi lalu lintas di Indonesia.
2.3 Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU)
Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) yang selanjutnya disebut sebagai KPBU adalah kerjasama antara pemerintah dan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur untuk kepentingan umum dengan mengacu pada spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya oleh Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah/Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah, yang sebagian atau seluruhnya menggunakan sumber daya Badan Usaha dengan memperhatikan pembagian risiko diantara para pihak. (Perpres No.38 Tahun 2015)
Dalam hal ini, sebagian atau seluruh pembiayaan menggunakan sumber daya badan usaha dengan mempertimbangkan pembagian risiko diantara pihak- pihak terkait. KPBU diharapkan dapat menjadi peluang terciptanya kombinasi pembiayaan (hybrid financing) dimana terbentuk penggabungan potensi pembiayaan dari badan usaha. Skema pembiayaan/pendanaan yang inovatif (innovative financing scheme) diharapkan dapat mempercepat proses pembangunan infrastruktur infrastruktur. (Daliman, Herman, Oka Purwanti, 2021)
2.4 Struktur KPBU Sektor Jalan
Untuk infrastruktur jalan, digunakan skema KPBU berbasis penggunaan (Usage-Based PPP) dimana Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) dan Kementerian PUPR, atas nama Menteri, berperan sebagai PJPK. Adapun struktur KPBU pada sektor jalan meliputi:
1. Struktur Build Operate Transfer (BOT)
Demi terwujudnya pembanguan infrastruktur serta pelayanan yang tujuannya untuk mensejahterakan masyarakat maka munculah konsep Public Private Partnerhip (PPP) / Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).
KPBU merupakan konsep kerjasama pemerintah dengan sektor swasta dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Kontrak Build Operate Transfer (BOT) adalah salah satu cerminan dari konsep KPBU. BOT adalah mekanisme pembiayaan alternatif dalam proses pengadaan infrastruktur untuk pelayanan publik dan telah digunakan secara luas di berbagai negara, terutama di
Indonesia. Di Indonesia, kontrak BOT merupakan kesepakatan yang harus tertulis, di mana perjumpaan kehendak harus dituangkan dalam bentuk tulisan yang mana akan menciptakan kekuatan mengikat bagi pemerintah dan sektor swasta. (Hari Sutra, 2019)
2. Struktur Operation and Maintenance (O dan M)
Jasa Operasi dan Pemeliharaan (Operation and Maintenance/ O&M) pembangkit dilakukan dengan mekanisme penyampaian langsung kepada pelanggan melalui layanan pengoperasian dan pemeliharaan pembangkit berdasarkan kontrak O&M. Penerapan kontrak O&M bagi aset yang ada dilakukan berdasarkan definisi KPBU dimana dalam hal ini berbasis kinerja, jangka panjang, dan melibatkan investasi swasta yang signifikan (terkadang juga disebut kontrak pemeliharaan berbasis kinerja/performance-based maintenance contracts).
3. Struktur Design-Build-Finance-Operate-Maintain (DBFOM)
Desain - Bangun - Keuangan - Pelihara - Operasi (Design-Build Finance – Maintain - Operate (DBFMO)) : Pihak badan usaha merancang, membangun, membiayai, menyediakan layanan pemeliharaan dan operasi di bawah perjanjian jangka panjang. Sebuah entitas pengiriman proyek pemerintah sering menggunakan mekanisme struktur pembangunan proyek- proyek infrastruktur publik seperti jalan, jembatan dan bandara. Dalam struktur ini, entitas pemerintah memasuki perjanjian dengan pihak swasta di bawah yang mengalokasikan kepada pihak bahwa semua tugas proyek.
Dalam model ini termasuk merancang, membangun, pembiayaan, operasian pemeliharaan proyek. Pada akhir periode, kontrol operasi ditransfer kembalike badan pemerintah.
4. Struktur Availability Payment (AP)
Pembayaran Ketersediaan Layanan (Availability Payment/AP) adalah pembayaran secara berkala oleh Menteri/Kepala Lembaga kepada Badan Usaha Pelaksana atas tersedianya layanan infastruktur yang sesuai dengan kualitas dan/atau kriteria sebagaimana ditentukan dalam Perjanjian KPBU.
Availability payment (AP) merupakan solusi yang menyeimbangkan affordability pemerintah/pengguna layanan dan feasibility proyek. Selain itu,
availability payment juga digunakan sebagai alat alokasi risiko permintaan.
Misal ada proyek jalan non tol dimana tidak ada tarif yang dikenakan. Badan usaha yang sudah memberikan modalnya untuk membangun jalan tersebut harus tetap memperoleh kompensasi. Disanalah pemerintah hadir untuk melakukan pembayaran kepada badan usaha. Meskipun jumlah kendaraan yang melewati jalan berfluktuasi, badan usaha tetap mendapat sejumlah pembayaran dalam jumlah tertentu dari pemerintah. Namun perlu diingat bahwa pembayaran penuh akan didapat hanya jika seluruh indikator layanan yang diperjanjikan bisa dipenuhi badan usaha, seperti namanya availability payment yang artinya pembayaran atas tersedianya suatu layanan.
2.5 Peraturan Perundang-Undangan
Dalam penyusunan Dokumen Kajian Hukum dan Kelembagaan Proyek KPBU Jalan lintas Sumatera Riau, mengacu kepada:
1. Peratuaran Perundang-Undangan Terkait KPBU 2. Peraturan Perundang-Undangan Sektor Jalan
3. Peraturan Perundang-Undangan Terkait Pendirian Badan Usaha, Penanaman Modal, Peraiangan Usaha, Kesalamatan Kerjan, Lingkungan dan Perpajakan
2.6 Pembiayaan Melalui KPBU
Proyek KPBU merupakan kerjasama antara Pemerintah dan Badan Usaha dalam penyediaan infrastruktur untuk kepentingan umum, yang sebagian atau seluruhnya menggunakan sumber dana Badan Usaha. Terkait dengan pembiayaan pada rencana proyek KPBU Jalan Lintas Sumatera Riau terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan yakni:
1. Dukungan Pemerintah
Dalam pelaksanaan proyek melalui skema KPBU, berdasarkan Pasal 15 Perpres 38/2015, menteri/kepala lembaga/kepala daerah dan/atau Menteri Keuangan dapat memberikan Dukungan Pemerintah terhadap proyek KPBU
sesuai dengan lingkup kegiatan KPBU. Dukungan Pemerintah dapat diberikan dalam bentuk: (i) dukungan kelayakan KPBU; (ii) insentif perpajakan; dan/atau (iii) bentuk lainnya sesuai peraturan perundang-undangan.
2. Dukungan Kelayaka
Berdasarkan PMK 223/2012, dukungan kelayakan diberikan dalam bentuk tunai kepada proyek KPBU atas porsi tertentu dari seluruh biaya konstruksi proyek KPBU yang meliputi biaya konstruksi, biaya peralatan, biaya pemasangan, biaya bunga atas pinjaman yang berlaku selama masa konstruksi, dan biaya-biaya lain terkait konstruksi namun tidak termasuk pengadaan lahan dan insentif perpajakan.
3. Penjaminan Pemerintah dalam Skema KPBU
Perpres 38/2015, pada pasal 17, mengatur bahwa proyek KPBU dapat menerima jaminan pemerintah. Jaminan Pemerintah tersebut akan diberikan dalam bentuk penjaminan infrastruktur dengan mempertimbangkan prinsip- prinsip manajemen dan mitigasi risiko keuangan di dalam APBN yang dilakukan oleh Menteri Keuangan.
Penjaminan infrastruktur berarti jaminan dalam bentuk tanggung jawab finansial yang merupakan tanggung jawab PJPK melalui mekanisme perjanjian penjaminan. Kebutuhan penjaminan tersebut harus ditentukan sebelum tahap pelelangan. Berdasarkan Pasal 7 ayat (1) huruf h PMK 260/2010 penjaminan yang diberikan oleh Pemerintah tersebut harus dicantumkan dalam dokumen pelelangan.
4. Pengembalian Investasi Badan Usaha
PJPK dan Badan Usaha Pelaksana dalam perjanjian kerjasama dapat menyepakati adanya bentuk-bentuk pengembalian investasi. Pasal 11 Pepres 38/2015 mengatur bahwa PJPK menetapkan bentuk pengembalian investasi yang meliputi penutupan biaya modal, biaya operasional, dan keuntungan Badan Usaha Pelaksana.
BAB III
METODE PENELITIAN
Pada bab ini penulis menjelaskan metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini termasuk kerangka penelitian data yang dibutuhkan, teknik pengumpulan data, serta teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini.
3.1 Struktur Organisasi Proyek Inisiasi
3.2 Metode Pengumpulan Data
Metode Pengumpulan Data yang digunakan dalam penelitian Pembangunan Jalan Lingkar Sumatera Riau meliputi data sekunder dan data primer adalah sebagai berikut:
1. Metode Pengumpulan Data Sekunder
Yaitu metode dengan memperoleh data melalui dokumentasi wilayah kajian, studi literatur, kajian teknis dan kajian kelembagaan dalam terkait pelaksanaan kegiatan Pembangunan Jalan Lingkar Sumatera Riau. Dan juga menggunakan 2 metode lainnya adalah:
a. Kualitatif
Dengan menerapkan pilihan alternatif yang akan digunakan dalam Pembangunan Jalan Lingkar Sumatera Riau.
b. Kuantitatif
Menghitung Skema KPBU mulai dari Sumber Dana, Penggunaan Dana dan Pengembalian Investasi.
3.3 Metode Analisis Data
Metode Analisis Data yang digunakan dalam penelitian Pembangunan Jalan Lingkar Sumatera Riau meliputi:
1. Melakukan pengecekan nilai trase menggunakan metode Analisis Multi Kriteria Analysis – MCA);
2. Melakukan Analisis Lalu Lintas untuk mengetahui seberapa besar tingkat pelayanan yang nantinya akan digunakan sebagai Preservasi Jalan
Nasional Lintas Timur Sumatera Di Provinsi Riau; dan
3. Melakukan Analisis Biaya menggunakan Skema KPBU baik dari segi sumber dana, penggunaan dana dan pengembalian investasi.
DAFTAR PUSTAKA
Daliman, Herman, Oka Purwanti, 2021. (n.d.). Analisis Penilaian Risiko Program Kerjasama Pemerintah Badan Usaha (KPBU) pada Infrastruktur Jalan Tol.
Hari Sutra, 2019. (n.d.). Kontrak Build Operate Transfer Sebagai Sarana Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat.
Media Kementerian PUPR 2012. (n.d.). Pembangunan Infrastruktur Dorong Pertumbuhan Ekonomi.
Patrick Sudiarto, 2022. (n.d.). Manajemen Risiko Oparasional Pada Banguanan Waterland Metland Cibitung Terhadap Investasi.
Perda No.16 Tahun 2009. (n.d.). Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali Tahun 2009 - 2029.
Perda No.26 Tahun 2013. (n.d.). Rencana Tata Ruang Wilayah Riau Tahun 2013 - 2033.
Permen PPN No.4 Tahun 2015. (n.d.). Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Pemerintah Dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur.
Perpres No.38 Tahun 2015. (t.thn.). Kerjasama Pemerintah Dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur.
PP No.34 Tahun 2006. (n.d.). Jalan.
MKJI Tahun 1997 . Manual Kapasitas Jalan Indonesia