SOLIDARITAS JARINGAN SOSIAL KOMUNITAS PUNK
(Studi Deskriptif Pada Komunitas Punk Jalan Aksara Dan Medan Tembung)
OLEH ;
NUR MARIAM 140901023
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2018
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan dan sampaikan kepada kehadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan kesehatan dan kemampuan kepada penulis untuk dapat menyelesaikan Skripsi ini. Shalawat beriring salam disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul terakhir yang sangat diharapkan Syafa’atnya diakhirat kelak. Selama proses penyelesaian Skripsi dengan judul “ Solidaritas Jaringan Sosial Komunita Punk (Studi Deskriptif Pada Komunitas Punk Jalan Aksara Dan Medan Tembung )”. Oleh karena itu, penulis tidak menutup diri akan kritikan dan saran dari berbagai pihak demi kesempurnaan Skripsi ini.Skripsi ini disusun sebagai salah satu Persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana sosial di Falkutas Imu sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Dr. Muryanto, S.Sos.,M.Si. selaku Dekan Fakultas Ilmu sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Dr. Harmona Daulay,S.Sos.,M.Si. selaku ketua Departemen Sosiologi. Dan Bapak Drs. T. Ilham Saladian, M.SP . Selaku sekretaris Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Dr. Harmona Daulay,S.Sos.,M.Si. Selaku Dosen pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan sehingga Skripsi ini dapat diselesaikan. Serta ucapan terima kasih atas kesabaran dan pengertian beliau yang bersedia meluangkan waktu di selah kesibukan sebagai Ketua Departemen dan memberikan bimbingan yang berguna bagi Penulis.
4. Dra. Linda Elida,M.Si. Selaku Dosen penguji I.
5. Bapak Drs. T. Ilham Saladian, M.SP. selaku dosen penguji II.
6. Bapak DR. Sismudjito M.Si. Selaku Dosen Wali dan seluruh staff pengajar kepada Bapak/Ibu Dosen Sosiologi yang telah memberikan ilmu pengetahuan selama saya mengikuti mata kuliah yang Bapak/Ibu ajarkan,serta segenap karyawan,dan Staff yang bekerja di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara yang telah membantu mengurus semua keperluan saya selama ini, terutama untuk kak Ernita, kak Rina, dan Bang Abel yang selalu siap membantu dalam mengurus dan meminta berkas saat akan siding.
7. Kepada kedua Orangtua tercinta Ayahanda tersayang yaitu Darisman dan Ibunda Suryiani yang telah banyak memberikan semgat dan dukungan material dan moril
yang tidak pernah ada habisnya kepada peneliti selama perkuliahan hingga selesai, dan terima kasih atas Doa dan restu dari ibundan tersayang yang selalu mengalir dan menyertai peneliti, juga terima kasih kepada kakak tersayang Mei Julidar,Ranti Julidar dan abangda Ramadhanu atas dorongan dan semangat.
8. Terimakasi kepada teman sekaligus sahabat Abangda Rudi Susanto yang telah memberi semangat, dan juga membantu dalam segala urusan sampai skripsi ini selesai .
9. Kepada Abang/Kakak dari Komunitas Punk pasar Aksar, Terima kasih bangan atas bantuan,waktu serta pengalaman yang bersediah peneliti angkat dalam tugas akhir atau skripsi ini,semoga dengan ini bisa memberi dan memperkenalkan komunitas punk di dalam masyarakat ataupun Universitas khususnya di Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik.
10. Kepda sahabat terkocak dan tersayang yaitu Rina Lestari, Wasliati K. Ningrum, Lia Ariska, Fadillah , Sri Rahayu, Hanum, Manda, Citra Utami yang telah menghibur di saat stress melanda. Dan terkhusu kepada Angga Kurnia yang selalu menolong dan menjadi teman yang selalu ada di kampus .
11. Terima kasih kepada teman dari “cabers” yaitu Mesrah, Murti, Suci, Elisabet telah memberikan pengalaman yang berbeda dalam pertemanan.
12. Kepada teman-teman dari Stambuk 2014 terima kasih telah memberikan semangan dan doa .Akhirnya penulis berharap agar ilmu yang penulis peroleh selama di bangku perkuliahan dapat diamalkan dan bermanfaat bagi masyarakat.
Penulis telah berusaha semaksimal mungkin dan tentu saja tidak terlepas dari kekurangan-kekurangan, sehingga terasa masih jauh dari sempurna baik dalam penggunaan bahasa,maupun penyajian data.
Medan, 28 Seprember 2018 Penulis
(Nur Mariam) NIM : 140901023
SOLIDARITAS JARINGAN SOASIAL KOMUNITAS PUNK (StudiDeskriptifPadaKomunitas Punk JalanAksara Dan Medan
Tembung )
Abstrak
Komunitas punk di Jalan Aksara ini generasi muda yang memberontak terhadap segala bentuk kemapanan hingga akhirnya terbentuknya komunitas yang di dalamnya terdapat orang-orang yang menyukai aliran musik dan ideologi anarki. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi bagaimana komunitas punk menjalin solidaritas dan jaringan antara sesama komunitas dan keunikan komunitas punk di Jalan Aksara. Selain itu juga mengetahui dan menginterpretasi solidaritas jaringan sosial komunitas punk.
Metode yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif agar data yang didapat lebih.lokasi penelitian ini dilakukan di Jalan Aksara atau pajak aksara dan Medan Tembung. Adapun informan yang menjadi subjek penelitian adalah komunitas punk di Kabupaten Deli Serdang tepatnya di Pajak aksara dan Medan Tembung perempuan ataupun laki-laki yang sudah tinggal bersama di jalan ataupun di tempat mereka tinggal selama 3 tahun atau lebih dari 12 tahun dan selalu berpartisipasi dalam kegiatan komunitas punk. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi langsung dan wawancara mendalam.
Hasil penelitian menunjukan bahwa tingginya nilai Solidaritas terhadap komunitas punk di pasar aksara dan Medan Tembung merupakan suatu kesatuan yang menunjukkan tingkat solidaritas dalam suatu masyarakat atau kelompok sosial yang salah satu elemen yang ada di dalam solidaritas komunitas punk adalah ideologi yang dianut. Dimana anak punk yang memiliki ideology iterlihat di seringnya berpartisipasi dalam kegitan dan memakai asesoris khas Punk juga sering membahas kapitalisme. Sedangkan punk yang sepert ianak jalanan bias terlihat pada pakai yang yang di pakai dan tidak tau visi dan misi punk , dan kurang berpartisipasi dalam kegitan komunitas. Solidaritas komunitas punk di pasar aksara dan Medan Tembung yaitu menunjukkan rasa solidaritas nya dengan cara tampil di depan umum dengan cara berkumpul secara beramai-ramai di pinggir jalan untuk sekedar mengamen bercanda gurau. Kelompok yang didasarkan pada persamaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama.
Kata kunci :Soalidaritas,Jaringan sosial, Keunikan, Komunitas Punk
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL………
ABSTRAK………i
DAFTAR ISI ………ii
DAFTAR TABEL ... iii
DAFTAR GAMBAR ... vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 8
1.3 Tujuan Penelitian ... 8
1.4 Manfaat Penelitian ... 9
1.5 Defenisi Konsep ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 14
2.1 Teori Solidaritas Sosial ... 14
2.2 Teori Jaringan Sosial ... 17
BAB III METODE PENELITIAN ... 19
3.1 Jenis Penelitian ... 19
3.2 Lokasi Penelitian ... 19
3.3 Unit Analisis Informan... 20
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 21
3.5 Interpretasi Data ... 22
BAB IV DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA ... 23
4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ... 23
4.1.1 Sejarah Singkat Tentang Pajak Aksara ... 23
4.1.2 Demografi ... 24
4.2 Deskripsi Kegiatan Masyarakat Di Pasar Aksara ... 24
4.2.Aktifitas ... 24
4.2.2 Interaksi ... 25
4.2.3 Sosial Ekonomi ... 25
4.3 Gambaran Umum Anak Punk ... 26
4.3.1 Awal Berkenalan Dan Masuk Menjadi Punk ... 26
4.3.2 Mengenal Salah Satu Dari Anggota Komunitas ... 28
4.3.3 Perlunya Bergabung Dengan Komunitas Punk ... 29
4.3.4 Lama Memjadi Punk ... 30
4.3.5 Reaksi Keluarga ... 31
4.3.6 Sering Kembali Kerumah ... 32
4.3.7 Cara Mencukupi Kebutuhan Sehari-hari ... 33
4.4 Profil Informan ... 34
4.4.1 Tokoh Komunitas Punk Di Pajak Aksara Dan Medan Tembung ... 34
4.5 Solidaritas Komunitas Punk ... 67
4.5.1 Solidaritas Mekanik ... 68
4.5.2 Solidaritas Organik ... 72
4.5.3 Komunitas Menunjukan Solidaritasnya Jika Salah Satu Anggota Memiliki
Masalah ... 77
4.5.4 KomunitasMenjalinHubunganDengan Komunita Punk Lainnya ... 78
4.5.5 Komunitas Pergi Kesuatu Kota Dengan MenggunakanAngkutan UmumDenganTidakMembayar ... 78
4.6 JaringanSosialAnak Punk ... 81
4.6.1 Perlindungan Dan Keamanan ... 83
4.6.2 Membentuk Jaringan Kepada Supir Angkutan Umum ... 84
4.6.3 Kegiatan Komunita Punk ... 84
4.7 KeunikanKomunitas Punk Di Pajak Aksara Dan Medan Tembung ... 85
4.7.1 MemilikiUsaha(kreatifitas) ... 86
4.7.2 MenikahTanpaAdanya Penghulu... 90
4.7.3 MemilikiWarnaMusik Yang Berbeda... 91
4.7.4 Memiliki Asesoris Dan Gaya Berbakaian Yang Khas... 93
4.7.5 Cara Komunitas Menjaga Anggotanya Yang Sedang Mengamen Atau Turun Ke Jalan ... 96
4.7.6 AdanyaAnggotaWanita ... 97
4.6.7. Cara Menjaga Anggota Wanita Dalam Komunitas Punk ... 97
4.6.8 KasusPelecehanSeksual ... 98
4.7.9 RencanaKedepanTerhadap Komunitas Punk ... 99
4.7 Analisis Solidaritas Jaringan Sosial Komunitas Punk ... 100
BAB V PENUTUP... 106
Kesimpulan ... 106
Saran ... 108
DAFTAR PUSTAKA ... 109
LAMPIRAN... 110
BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
Komunitas Punk merupakan budaya yang lahir di Negara inggris, London. Pada awal mulanya, sekelompok punk selalu saling berselisih paham dengan golongan skin head.
Namun,sejak tahun 1980-an, saat punk mulai merajalela di Amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah bersatu, karna mempunyai semangat dan visi yang sama. Namun, punk juga dapat berarti jenis musik atau genre yang lahir di awal 1970-an. Pada masa rezim perdana Menteri Margareth Thatcher dari partai konservatif, yang kebijakan ekonominya sangat liberal, memberi peluang kapitalis mengembangkan pasar modal (ekonomi uang) tetapi di sisi lain mengabaikan kelas pekerja, membuat pengangguran semakin meningkat.
Masyarakat kelas pekerja menggunakan jalanan sebagai tempat mencari nafkah, membuat jaringan kerja serta aksi protes yang diselingi karnaval dan musik punk juga dapat diartikan sebagai sebuah gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan dari keyakinan dengan lakukan dengan dirimu sendiri . Melalui ideologi yang di miliki komunitas punk mempunyai cara dalam melihat dan menilai suatu masalah yang dapat ditemukan melalui lirik – lirik lagu yang bercerita tentang masalah politik, lingkungan hidup, ekonomi, ideologi, sosial dan agama.
Ferdinand Tonnies mengatakan bahwa anggota dalam komunitas lebih bersifat homogeny, yang memiliki lebih banyak persamaan dibandingkan dengan masyarakat seperti memiliki harapan yang sama sehingga memyebabkan solidaritas sosial yang tinggi .
Hal ini disamakan pada masyarakat tradisional dengan rasa kolektif. Komunitas punk di Simpang Aksara Kabupaten Deli Serdang ini juga sangat erat jaringan sosialnya di luar
daerah di kota- kota besar lainnya, mereka selalu bergantian berkunjung ke komunitas lainnya di kota-kota di luar kota medan untuk berjumpa, silaturahmi, mengobrol dan adapun mereka merencanakan acara dengan band mereka dan saling mendukung usaha seperti sablon dan kerajinan lainnya yang di promosikan dari mulut-kemulut, mereka tidak suka mempromosikan karya mereka di media sosial, menurut mereka lebih baik dari dunia nyata dengan begitu mereka bisa saling bersilaturahmi dengan menunjukan barang hasil kreatifitas masing-masing dikota-kota di luar Medan, karena jaringan di dalam komunitas ini sangat luas. Musik punk adalah musik yang menjadi milik generasi muda yang memberontak terhadap segala bentuk kemapanan hingga akhirnya terbentuk komunitas yang di dalamnya terdapat orang-orang yang menyukai aliran musik dan ideologi anarki .
Budaya punk mulai tumbuh dan berkembang di Indonesia sekitar awal tahun 1990 terutama di Bandung dan Jakarta hingga masuk pada wilayah Medan pada tahun 1996, komunitas ini semakin meningkat jumlahnya sejak tahun 2000-an. Komunitas ini lebih fokus pada musik di antaranya, di Kota Medan komunitas punk juga memiliki beberapa grup band yang berkembang, seberti Gedebac-gedebuc, Kontradiksi, SPR, Brutal youth, Fuckta Marhean. Band–band punk di Kota Medan semakin berkembang dengan diadakannya event musik yang juga bertujuan untuk mempererat solidaritas dan jaringan sesame punkers.
Mulai dari acara-acara musik tersebut band-band punk Medan telah banyak menghasilkan kaset dan telah memperkenalkan hasil karyanya dengan komunitas anak punk di Kota maupun Negara lain. Kegiatan yang dilakukan para punkers didasari dari etos “Do It Yourself“ seperti menyablon, membuat tato dan membuat piercing. Pada umunnya punkers menggunakan tato dan piercing ditubuhnya, punkers menggunakan kreatifitas dan solidaritas dan terbentuknya jaringan dalam komunitas sehingga dapat meciptakan produk-produk yang dapat dijual atau untuk di konsumsi sendiri. Dalam hal ini para punkers dapat saling bertukar informasi dalam pembuatan produk yang merupakan salah satu realisasi dari etos kerja.
Di dalam komunitas memilki solidaritas dan jaringan sosial yaitu kesetiakawanan sesama anggota, di dalam komunitas punk terdapat kesetiakawanan dengan individualitas rendah, keterlibatan komunitas dalam menguhukum anggota yang menyimpang, consensus terdapat pola-pola normative penting, pembagian kerja yang rendah, kesadaran kolektif yang kuat dan memiliki hukum represif. Membangun solidaritas dan jaringan sosial merupakan hal yang mudah dibentuk karena setiap orang memilikikepentingan yang kuat serta memiliki sentiment yang kuat dalam suatu kelompok.Solidaritas sosial dalam komunitas punk dilihat dari sikap danperilaku pada anggotanya, dalam hal ini sikap dan perilaku anggota komunitas merupakan in group biasanya menunjukan adanya faktor simpati dan perasaan yang dekat di antara anggota- anggota kelompoknya. Ikatan yang kuat berdasarkan rasa kesetiakawanan dalam komunitas seperti yang di jelaskan oleh Durkheim yaitu :
Solidaritas mekanik didasarkan pada suatu “kesadaran kolektif” bersama yang menunjukkan pada totalitas kepercayaan-kepercayaan dan sentiment bersama yang rata-rata ada pada warga masyarakat yang sama, dan solidaritas itu di dasarkan pada suatu tingkat homogenitas yang tinggi dalam kepercayaan, sentiment, dan sebagainya (Virgita 2014).
Punk bicara tentang kebebasan, kontrol diri tanpa norma yang menjerat, banyak masyarakat yangmengganggap anak punk itu tidak lain sama dengan preman, tukang mabok, sampah bagi masyarakat dan lain sebagainya tapi mereka salah punk punya komunitas tersendiri yang anti penindasan, anti di kekang dan anti kemapanan tetapi juga banyak anak- anak yang mengaku sok punk tanpa tau arti punk itu sebenarnya. Punk bukan hanya musik, bukan fashion semata tapi punk adalah gaya hidup yang mempunyai idealisme sendiri.
Perjalanan punk bukanlah tanpa tujuan, dengan keberadaanya yang terbukti kecil namun tetap berarti. Remaja mengalami banyak masalah dalam kehidupannya, dengan segala permasalahan yang melatarbelakangi remaja, mereka cenderung membuat sebuah pilihan yang dirasakan cocok bagi jiwa mudanya yang dapat melampiaskan segala ekspresi yang
dimiliki sebagai proses pencarian identitas diri. Sekaligus sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem, baik sistem dalam konteks budaya maupun sistem dalam konteks lingkungan masyarakat.
Punk merupakan budaya Negara barat yang sudah diterapkan dalam kehidupan oleh sebagian anak remaja Indonesia. Kebiasaan kelompok akan gaya pakaian, dandanan rambut, selera musik dan segala macam aksesoris yang menempel, atau pilihan kegiatan yang dilakukan merupakan bagian dari pertunjukan identitas dan kepribadian.
Anak merupakan amanah yang harus di jaga, karena pada merekalah masa depan dipercayakan. Hidup menjadi anak punk memang bukan merupakan pilihan yang menyenangkan, karena mereka berada dalam kondisi yang tidak mempunyai masa depan jelas dan keberadaan mereka menjadi masalah bagi banyak pihak, keluarga, masyarakat, dan bangsa. Anak punk sebagaimana anak-anak lainnya memiliki hak yang sama, yakni hak untuk dilindungi untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Kondisi dan keadaan yang lebih buruk membuat anak jalanan perempuan memiliki kesempatan yang lebih sedikit untuk memperoleh hak-haknya. Daerah pajak aksara, para punkers biasanya mengamen ketika lampu lalu lintas menyatakan berhenti untuk sementara. Ketika lampu lalu lintas kembali menyalah untuk melanjutkan perjalanan anak punk beristirahat di pinggir jalan raya di dekat terminal angkutan umum di simpang jalan aksara bergerombol. Komunitas punk yang berada di lokasi Simpang aksara memiliki kegiatan yang tidak jauh berbeda dengan komunitas punk di lokasi lainnya, selain berkumpul di Simpang Aksara yang terletak di dalam terminal angkutan umum tersebut,para punkers memiliki kegiatan masing-masing mengamen atau pekerjaan yang lainnya. komunitaspunk di Simpang Asara ini selalu berkumpul sekitar pukul emapat sore hingga malam hari.
Adapun faktor dominan menjadi anak punk karena kondisi ekonomi keluarga, tidak harmonisnya hubungan antara orang tua dan tidak memiliki sumber-sumber ekonomi yang dapat mendukung, sehingga mereka harus ke jalan dan menjadi anak punk untuk hidup mandiri tanpa adanya orang tua yang harus memenuhi kebutuhannya.Anakpunk menjadi pengamen agar dapat bertahan hidup sehingga anak punk tersebut dapat hidup mandiri.
Anak turun ke jalan menjadi anak punk dikarenakan tidak terpenuhinya kesejahteraan anak di rumah. Terpenuhinya aspek ekonomi saja bukan jaminan anak sejahtera, pada keluarga yang pecah atau tidak utuh, baik yang disebabkan oleh perceraian atau meninggalnya salah satu anggota keluarga. Orang tua akan memberikan akibat bagi anak berupa: kurang mendapatkan perhatian kasih sayang dan tuntunan pendidikan orang tua, kebutuhan dan harapan tidak terpenuhi dan tidak mendapat latihan fisik dan mental.
Komunitas Punk di dalam masyarakat biasanya dianggap sebagai sampah masyarakat.
Tetapi yang sebenarnya, mereka sama dengan anak-anak lain yang ingin mencari kebebasan.
Dengan gaya busana yang khas, simbol-simbol, dan tata cara hidup yang dicuri dari kelompok-kelompok kebudayaan lain yang lebih mapan, merupakan upaya membangun identitas berdasarkan simbol-simbol.
Pengaruh positif dan negatif dari komunitas ini, kembali lagi ke cara pandang masyarakat itu sendiri. Memang, sebagian komunitas Punk memberikan dampak negatif bagi seseorang, terutama remaja yang jiwanya masih labil dan belum mengerti makna Punk itu sendiri. Sebenarnya anak Punk adalah bebas tetapi bertanggung jawab.
Artinya mereka juga berani bertanggung jawab secara pribadi atas apa yang telah dilakukannya. Karena aliran dan gaya hidup yang dijalani para Punkers memang sangat aneh, maka pandangan miring dari masyarakat selalu ditujukan pada mereka. Padahal banyak diantara Punkers yang mempunyai kepedulian sosial.
Pengaruh positif adanya komunitas Punk tersebut, antara lain :
1. Adanya tempat untuk mengekspresikan diri, adanya kecocokan terhadap lingkungan pergaulan.
2. Sebagai wadah untuk menyalurkan aspirasi (protes dan kritik terhadap pengekangan, baik dari pihak masyarakat maupun pemerintah) dan jiwa seni yang mereka miliki, bahkan mereka
3. Di bidang musik misalnya, banyak band punk yang mampu mendapat tempat di hati remaja Indonesia, mereka tidak kalah dengan band-band papan atas.
4. Selain di bidang musik, komunitas punk juga bergerak di bidang fashion, mereka membuat T-shirt, kaos, aksesoris dengan jumlah yang lebih banyak dan juga desain yang lebih variatif. Wadah untuk pakaian dan aksesoris yang diproduksi sendiri oleh anak-anak punk sendiri biasa disebut distro, di industri ini pun komunitas punk mampu bersaing dengan produk-produk terkenal yang sudah akrab dengan remaja Indonesia.
5. Dengan adanya komunitas ini (terutama bagi Punkers yang memiliki keterampilan), mungkin saja dapat membantu pemerintah mengurangi pengangguran dan dapat meningkatkan ekonomi khususnya bagi komunitas Punk ini.
6. Komunitas Punk bukan hanya berasal dari kalangan bawah, tapi ada yang berasal dari kalangan pejabat. Sehingga dapat mempererat jalinan silaturahmi dan memperbanyak saudara.
Sedangkan pengaruh negatifnya adalah :
1. Gaya dandanan yang tidak sesuai dengan etika dan budaya Indonesia sehingga mendapat pandangan sebelah mata dan negatif dari masyarakat.
2. Sering terjerumus pada hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain, misalnya : Narkoba, freesex, mabuk-mabukan dan akhirnya malah mengantarkan diri dibalik jeruji besi.
3. Dapat memicu tindakan anarkis karena selalu mengahadapi hidup dengan mengekspresikan kekesalan (kemarahan) karena pengekangan ataupun hanya untuk mengekspresikan kehebatan (kesombongan) diri.
4. Mengganggu ketentraman malam karena kebanyakan dari komunitas ini beraktifitas diwaktu malam yang seharusnya digunakan untuk beristirahat.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan suatu permasalahan sebagai berikut;
1. Bagaimanakah komunitas Punk menjalin solidaritas dan jaringan antar sesama komunitas ?
2. Adakah keunikan komunitas punk di jalan Aksara ? 1.3 Tujuan Penelitian
Dari perumusan masalah diatas, adapun yang menjadi tujuan dalam
penelitian ini adalah:
1. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana solidaritas di dalam komunitas yang sangat erat.
2. Untuk mengetahui bagaimana jaringan sosial antar komunitas sesama punk terhadap kesetiakawanana dan membangun jaringan yang sangat luas di Kota Medan dan Kota lainnya.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1. Manfaat atau kegunaan teoritis
a. Sebagai suatu karya ilmiah, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada khususnya, maupun pada masyarakat pada umumnya mengenai solidaritas dan jaringan sosial komunitas punk di jalan aksara Deli Serdang.
b. Menambah pengetahuan dan wawasan khususnya mengenai gambaran kehidupan anak punk.
c. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi untuk kegiatan penelitian berikutnya yang sejenis.
1.4.2. Manfaat atau kegunaan praktis
Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan untuk memahami seluk beluk eksistensi komunitas punk Kabupaten Deli Serdang yang dapat di jadikan proses pembelajaran dalam menyikapi proses pelajaran dalam menyikapi fenomena sosial dan menjadi bahan rujukan bagi penelitian di bidang ilmu-ilmu sosial.
1.5 Defini Konsep
1. Komunitas
Komunitas merupakan sekumpulan individu yang berkumpul memiliki pemikiran dan tujuan yang sama. Komunitas dapat diartikan sebagai masyarakat community atau masyarakatsetempat, komunitas berasal dari bahasa lain yaitu communitas yang memiliki arti kesamaan. Pada dasarnya komunitas terbentuk karena adanya rasa seperasaan, sepenanggungan dan saling membutuhkan.Setiap individu yang menjadi bagian dari
komunitas melakukan interaksi sosial sehingga menciptakan hubungan sosial dan saling mengenal.
Hal utama pada komunitas adalah terdapat interaksi sosial yang rutin di antara anggota yang ada didalamnya. Rasa kesetiakawanan timbul karena adanya ikatan pada anggota.
Anggota komunitas terjalin satu sama lain dan dapat dikatakan hidup bersama. Dalam persfektif sosiologi komunitas dapat dibedakan dari masyarakat yang lebih luas (society) melalui kedalam perhatian bersama (a community of interest) atau oleh tingkat interaksi yang tinggi (an attachment community).
Anggota dalam komunitas lebih bersifat homogen, yang memiliki lebihbanyak persamaan dibandingkan dengan masyarakat, seperti memiliki harapan yang sama sehingga menyebabkan solidaritas sosial yang tinggi. Hal inidisamakan pada masyarakat tradisional dengan rasa kolektif. Santosa (2009:85), menjelaskan sebagai berikut:
Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi timbulnya suatu communitas, antara lain sebagai berikut:
a. Adanya suatu interaksi yang lebih besar di antara anggota yang bertempattinggal di satu daerah dengan batas-batas tertentu.
b. Adanya normal sosial manusia di dalam masyarakat, di antaranyakebudayaan masyarakat sebagai suatu ketergantungan yang normatif, norma kemasyarakatan yang historis, perbedaan sosial budaya antara lembaga kemasyarakatan dan organisasi masyarakat.
c. Adanya ketergantungan antara kebudayaan dan masyarakat yang bersifat normatif.
Demikian jaga norma yang ada dalam masyarakat akan memberikan batas-batas pada kelakuan anggotanya dan dapat berfungsi sebagai pedoman bagi kelompok untuk menyumbangkan sikap kebersamaannya di mana mereka berada.
Kolektif dalam komunitas merupakan hasil dari persamaan norma, dalam
hal ini setiap anggota memiliki batasan-batasan sendiri pada perilaku anggotanya sehingga menciptakan sikap yang sama. Batasan-batasan norma dalam komunitas merupakan hal yang membedakan komunitas satu dengan komunitas lainnya.
2. Punk
Punk adalah satu ideologi yang dianut sekumpulan anak muda dari golongan masyarakat kelas bawah, dalam hal ini punk diartikan sebagai suatu pemikiran mengenai pembrontakan terhadap masyarakat kelas atas yang mendominasi. Punk adalah suatu ideologi tentang pemberontakan dan anti kemapanan. Individu yang mempunyai tujuan yang sama dengan individu lainnya mencari keamanan identitas diri dengan membentuk suatu kelompok sosial atau komunitas yang bisa memberikan rasa aman dan mewadahi apa yang menjadi tujuan mereka dalam melihat komunitas punk terdapat 3 komponen yang saling terkait dan merupakan satu Ketiga komponen tersebut adalah punk sebagai ideologi, punk sebagai gaya hidup dan punk sebagai aliran musik.
2.1. Punk sebagai ideologi
Ideologi merupakan pemikiran yang dimiliki oleh individu yang telah menjadi bagian dari masyarakat atau komunitas akan memiliki ideologi yang sama dengan individu lain yang ada dalam masyarakat atau komunitas tersebut.
Pada komunitas punk ideologi yang dianut adalah anarkisme, di mana anarkisme merupakan suatu paham yang diartikan dengan sesuaut tanpa aturan yang mengekang.
Negara sebagai kekuatan yang menguasai lembaga-lembaga yang ada di dalamnya, dalam hal ini negara lebih memihak kepada pihak pemilik modal. Ideologi, sebagaimana dasar pandangan dunia dan paradigma sosial, memuat keyakinan-keyakinan atau sistem keyakinan dan nilai-nilai tidak serta merta bisa diikuti oleh semua anggota masyarakat yang menerima dan merasa terikat dengan ideologi tersebut.
2.2. Punk sebagai gaya hidup
Setiap komunitas memiliki gaya hidupnya masing-masing yang tidak sama pada komunitas lainnya. Gaya hidup memperlihatkan diri seseorang secara keseluruhan, menentukan seseorang dalam berinteraksi dan bersosialisasi. Menurut Bourdieu gaya hidup seseorang dipahami sebagai hasil dari interaksi antara manusia sebagai subjek sekaligus objek dalam masyarakat, hasil dari pemikiran sadar yang terbentuk sepanjang sejarah hidupnya (Nainggolan 2013:8).
Seseorang yang merupakan bagian dari masyarakat atau komunitas tertentu memiliki gaya hidup yang sama dengan orang lain dalam masyarakat atau komunitasnya, di mana hal tersebut akan meciptakan ciri khas masing-masing. Hal ini terkait pada penampilan dan perilaku suatu masyarakat atau komunitas.
2. 3. Punk sebagai jenis musik
Musik punk merupakan bagian dari musik beraliran rock yang bernada tidak lembut atau berirama keras sama halnya seperti musik rock, dalam musik punk terdapat perbedaan dalam hal lirik lagu.
Lirik lagu pada musik punk merupakan suatu kritik atau protes terhadap kehidupan sosial, politik dan budaya pada suatu negara. Punk merupakan salah satu dari aliran musik bernada keras, yaitu salah satu aliran musik yang berirama keras.Komunitas punk merupakan kelompok yang di dalamnya terdapat orangorang yang menyukai musik punk. Pada komunitas ini musik merupakan hal yang paling dominan dibandingkan dengan kegiatan yang ada di dalamnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori solidaritas Emile Durkheim
Perhatian Durkheim yang utama adalah bagaimana masyarakat dapat mempertahankan integritas dan keharmonisannya pada masa modern, ketika hal-hal seperti latar belakang keagamaan dan etnik bersama tidak ada lagi. Untuk mempelajari kehidupan sosial di kalangan masyarakat modern, Durkheim berusaha menciptakan salah satu pendekatan ilmiah pertama terhadap fenomena sosial. Bersama Herbert Spencer Durkheim adalah salah satu orang pertama yang menjelaskan keberadaan dan sifat berbagai bagian dari masyarakat dengan mengacu kepada fungsi yang mereka lakukan dalam mempertahankan kesehatan dan keseimbangan masyarakat suatu posisi yang kelak dikenal sebagai fungsionalisme (Hayanto 2012).
Konsep solidaritas sosial merupakan konsep sentral Emile Durkheim, ia menjelaskan bahwa solidaritas sosial adalah kesetiakawanan yang menunjuk pada suatu keadaan hubungan antara individu dan atau kelompok yang didasarkan pada persamaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama (Lawang, 1994).
Elemen-elemen yang ada dalam solidaritas sosial merupakan satu kesatuan yang menunjukkan tingkat solidaritas di dalam suatu masyarakat atau kelompok sosial.
Salah satu elemen yang ada dalam solidaritaas komunitas punk adalah ideologi yang dianut. Setiap anggota memiliki satu ideologi yang sama sehingga dapat menciptakan tujuan yang searah.
Ideologi pada setiap individu memiliki perbedaan dengan ideologi yang dimiliki individu tersebut saat menjadi bagian dari masyarakat atau kelompok sosial, Bagus Takwin menjelaskan sebagai berikut: Dalam konteks kelompok atau masyarakat, ideologi seringkali digunakan sebagai dasar bagi usaha pembebasan manusia. Dalam hal ini, ideologi memiliki pengertian sebagai sekumpulan gagasan yang menjadi panduan bagi sekelompok manusia dalam bertingkah laku mencapai tujuan tertentu. Dengan cara menurunkan gagasan-gagasan dalam ideologi menjadi sejumlah kerangka aksi dan aturan-aturan tindakan, sekelompok manusia bertindak membebaskan diri dari sesuatu yang dipersepsi sebagai kekangan atau penindasan. Kebebasan dalam berpikir merupakan bentuk dari pengetahuanpengetahuan yang dapat menciptakan suatu ideologi. Melalui ideologi yang dimiliki akan membentuk perilaku secara personal maupun saat individu menjadi bagian dari masyarakat atau kelompok sosial.
Di dalam komunitas punk terdapat idoelogi anarkisme yang mengasilkan perilaku bebas dan berupaya menciptakan masyarakat tanpa kelas.
Kebebasan berpikir yang mencegah orang-orang untuk melihat sesuatu yang benar di masyarakat dan sebaliknya memaksa mereka menuruti kehendak mereka yang disebut penguasa dari pemerintahan, seperti melawan pikiran-pikiran orang yang sudah dimapankan, yang menganggap negatif karena melihat penampilan orang lain yang berbeda, menyimpang di luar kebiasaan.
Kebebasan untuk bersuara, berkarya dan berpendapat yang selama ini suara masyarakat tidak pernah dipublikasikan mengenai segala hal yang menurut komunitas punk tidak cocok.Dalam hal ini para punker berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun kadang-kadang kasar yang disebut dengan musik punk. Hal ini menunjukkan kepada persamaan moral yang dimiliki setiap individu dalam masyarakat. Dalam dunia-kehidupan sehari-hari, syarat yang mempertahankan hidup adalah dengan belajar menggunakan norma-norma kelompok yang
tersedia. Seseorang dalam dunia kehidupan sehari-hari berpikir-membedakan antara yang baik dan yang buruk secara reflektif, yakni mengikuti norma-norma yang telah diterima begitu saja.
Persamaan moral dalam komunitas menjadi salah satu ciri yang menunjukkan adanya solidaritas social. Misalnya, komunitas punk terdapat persamaan nilai dalam berpenampilan dan perilaku, hal ini berkaitan dengan prinsip kebebasan yang dianut dalam komunitas tersebut.Lukacs memandang ideologi berisi sekumpulan pengetahuan yang dipercayai suatu kelas. Pengetahuan-pengetahuan yang diungkapkan dengan bahasa. Memperjuangkan ideologi kelas tertentu adalah mengungkapkan pengetahuan-pengetahuan tertentu lewat bahasa (Takwin, 2003). Adanya pengalaman emosional yang sama pada setiap anggota masyarakat merupakan elemen yang membentuk solidaritas sosial. Ideologi yang terbentuk pengalaman dapat membentuk ideologi yang memiliki perbandingan dari tindakan sebelumnya. Hal ini berkaitan dengan adanya rasa sepenanggungan dan saling memerlukan antara anggota komunitas.
Sepenanggungan dapat diartikan bahwa setiap individu sadar akan peranannya dalam kelompok dan keadaan masyarakat sendiri yang memungkinkan peranannya tadi dapat dijalankan sehingga ia mempunyai kedudukan yang pasti .
Rasa sepenanggungan pada setiap anggota masyarakat terbentuk karena telah merasa menjadi bagian dari masyarakat tersebut. Dalam hal lain, anggota masyarakat juga memiliki rasa saling membutuhkan. Saling memerlukan adalah anggota merasakan dirinya tergantung pada komunitasnya dalam hal kebutuhan, misalnya kebutuhan psikologisnya, seperti mencari perlindungan apabila dalam ketakutan dan sebagainya .
2.2 Teori Jaringan sosial
Jaringan sosial merupakan salah satu dimensi sosial selain kepercayaan dan norma.
Konsep jaringan dalam kapital sosial lebih memfokuskan pada aspek ikatan antar simpul yang bisa berupa orang atau kelompok (organisasi). Dalam hal ini terdapat pengertian adanya hubungan sosial yang diikat oleh adanya kepercayaan yang mana kepercayaan itu dipertahankan dan dijaga oleh norma-norma yang ada. Pada konsep jaringan ini, terdapat unsur kerja, yang melalui media hubungan sosial menjadi kerja sama. Pada dasarnya jaringan social terbentuk karena adanya rasa saling tahu, saling menginformasikan, saling mengingatkan, dan saling membantu dalam melaksanakan ataupun mengatasi sesuatu.intinya, konsep jaringan dalam kapital sosial menunjuk pada semua hubungan dengan orang atau kelompok lain yang memungkinkan kegiatan dapat berjalan secara efisien dan efektif .
“Selanjutnya jaringan itu sendiri dapat terbentuk dari hubungan antar personal, antar individu dengan institusi, serta jaringan antar institusi. Sementara jaringan sosial (network) merupakan dimensi yang bisa saja memerlukan dukungan dua dimensi lainnya karena kerjasama atau jaringan social tidak akan terwujud tanpa dilandasi norma dan rasa saling percaya. Lebih lanjut, dalam menganalisis jaringan sosial,”
Konsep ini sering digambarkan dalam diagram jaringan sosial yang mewujudkan simpul sebagai titik dan ikatan sebagai garis penghubungnya. jaringan jejaring sosial memandang hubungan sosial sebagai simpul dan ikatan. Simpul adalah aktor individu di dalam jaringan, sedangkan ikatan adalah hubungan antar aktor tersebut (Hayanto 2012).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis penelitian
Jenis penelitian yang di gunakan dengan metode kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci. Teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan, analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.
Dalam pendekatan tersebut tidak dikenal sampel, tetapi penelitian.kasus yang di telitinya secara mendalam dan menyeluruh untuk memperoleh gambaran mengenai prinsip–prinsip umum atau pola–pola yang berlaku umum berkenaan dengan gejala–gejala yang ada dalam kehidupan sosial dari komunitas yang diteliti sebagai kasus (Famiola,2008).
3.2 Lokasi penelitian
Lokasi penelitian yang pertama di Kecamatan Medan Tembung. Kecamatan Medan Tembung yang berbatasan dengan di sebelah barat Medan Perjuangan, di sebelah timur Kabupaten Deli Serdang , di sebelah selatan Medan Denai di, sebelah utara Kabupaten Deli SerdangLokasi penelitian merupakan tempat dimana fokus penelitian yang akan dilakukan.
Pada penelitian ini, dan penelitian ini dilakukan di Jalan Aksara Buana KM 9,2 Kota Medan, Kecamatan Percut Sei tuan Kabupaten Deli Serdang.
3.3 Unit Analisis dan Informan 3.2.1 Unit analisis
Unit analisis data adalah satuan tertentu yang diperhitungkan sebagai subjek penelitian keseluruhan unsur yang menjadi fokus penelitian (Bugin 2007). Adapun yang
menjadi unit analisis dan objek kajian dalam penelitian ini adalah komunitas punk jalan Aksara dan Medan Teambung.
3.2.2 Informan
Informan adalah subjek yang memahami permasalahan penelitian sebagai pelaku maupun orang yang memahami permasalahan penelitian (Bungin2007). Informan yang didapat oleh orang-orang yang menjadi sumber informasi dalam penelitian yang aktual dalam menjelaskan tentang masalah penelitian. Adapun informan yang menjadi subjek penelitian adalah kominitas punk di Kabupaten Deli Serdang. Kriteria informan peneliti ini adalah para anggota komunitas punk perempuan ataupun laki-laki yang sudah lama tinggal bersama-sama di jalan ataupun di tempat mereka tinggal selama 3 tahun atau lebih dari 12 tahun, dan telah memahami kondisi dan mengerti makna punk sesungguhnya serta umur para informan yang dijadikan dalam penelitian ini berumur 15 tahun sampai 40 tahun dan sesuai dengan pahamnya tentang makna punk tersebut dan selalu berpartisipasi dalam kegiatan komunitas punk.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan guna mendapatkan informasi yang sesuai dengan penelitian. Adapun teknik pengumpulan data yaitu sebagai berikut :
2.4.1 Data Primer
Teknik pengumpulan data primer adalah penelitian melakukan kegiatan langsung kelokasi penelitian untuk mencari data-data yang lengkap dan berkaitan dengan masalah yang akan diteliti. Adapun teknik pengumpulan data primer ini dilakukan dengan cara :
a. Observasi langsung
Observasi langsung adalah cara pengambilan data dengan menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk keperluan tersebut. Observasi ini digunakan untuk penelitian yang telah di rencanakan secara sistematik tentang bagaimana pandangan masyarakat terhadap komunitas Punk yang ada.
b. Wawancara
Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan peneliti dengan cara tanya jawab, sambil dengan cara tatap muka antara si penanya dan si penjawab dengan menggunakan catatan yang telah di sediakan oleh penelitian.
2.4.2 Data Sekunder
Data sekunder yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung dari objek penelitian,melalui studi kepustakaan yang di perlukan untuk mendukung data yang diperoleh dari buku-buku ilmiah, tulisan ilmiah, laporan penelitian yang berkaitan topik penelitian yang dianggap relavan dan keabsahan dengan masalah yang ingin diteliti. Dalam penelitian yang membahas mengenai komunitas punk ,maka studi kepustakaan yang di cari adalah jurnal- jurnal hasil penelitian mengenai komunitas punk dan buku-buku yang menyertai.
3.5 Interpretasi Data
Interpretasi data merupakan suatu tahap pengkajian data yang mencakup perilaku objek, hasil wawancara, temuan data lapangan yang teridentifikasi dan bahan-bahan kepustakaan yang telah di kumpulkan. Interpretasi data dimulai dengan menelaah seluruh data yang diperoleh melalui observasi ,wawancara, dan juga dokumentasi. Setelah itu data yang diperoleh tersebut dipelajari dan ditelaah kembali untuk mencari jawaban dari pertanyaan rumusan masalah sehingga terbentuk solusi.
Lalu data yang sudah lengkap, direduksi dengan cara abstraksi. Abstraksi merupakan rangkuman yang terperinci merujuk pada inti temuan data sehingga data tetap pada fokus penelitian setelah semua di susun ,lalu di analisis menggunakan teori kajian pustaka.
BAB IV
DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN
4.1. Deskripsi Lokas Penelitian
4.1.1. Sejarah Singkat Tentang Pajak Aksara
Buana Plaza yang sekarang berganti menjadi Ramayana ini terletak di Jalan Aksara, sering disebut dengan Ramayana Aksara. Tepat di sebelah Buana Plaza ini terdapat pasar yang lebih dikenal dengan sebutan pajak bengkok sejak tahun 90-an. Buana Plaza yang berdiri sejak tahun 1989 ini sangat Jaya pada waktu 90-an di dalamnya dahulu terdapat bioskop yang cukup besar di lantai 3 dan lantai 5, tempat main sepatu roda Ria, bombomcar, dan main video game yang menggunakan koin seperti yang kita kenal sekarang yaitu Timezone.
Pajak Aksara atau pasar Aksara adalah sebagai pasar tradisional, yang sering disebut dengan pajak bengkok tempat di lantai 1 untuk pasar basah dan lantai 2 pasar kering nya, di mana di lantai 1 untuk Pasar Basah yang menjual aneka daging, ikan laut dan ikan-ikan lainnya. Di lantai 2 terdapat pasar kering adapun yang dijual yaitu berupa sayur-sayuran dan juga pedagang nasi yang sering juga digunakan sebagai kantin bagi pedagang. Namun semenjak pasar Aksara ini terbakar dan menjalar ke pajak bengkok atau pajak aksara banyak yang membuat toko dan pajak di seberang jalan pajak aksara yang dekat dengan terminal angkutan umum, dan juga di badan jalan tepatnya di depan Buana Plaza atau Ramayana.
4.1.2. Demografi
Lokasi penelitian memiliki dua lokasi yang pertama di kecamatan Medan Tembung.
Secara geografis kecamatan medan tembung berbatasan dengan Medan perjuangan di sebelah barat, Kabupaten Deli Serdang di timur, medan Denai di selatan, dan kabupaten Deli Serdang di utara, luasnya 7.99km2. Lokasi yang kedua yaitu di pajak Aksara, yang mana pajak tersebut menyediakan kebutuhan sembako untuk masyarakat sekitar Tembung, Pasar Merah dan Jalan Serdang.
4.2. Deskripsi Kegiatan Masyarakat Di Pajak Aksara
4.2.1. Aktivitas
Berbicara tentang aktivitas yang ada di pasar aksara ini memiliki aktivitas harian yang sangat padat dikarenakan masyarakat atau pedagang yang berlalu-lalang ke pajak Aksara ini untuk berbelanja ataupun bekerja dan berdagang. Aktivitas di pajak Aksara antara lain yaitu para pedagang yang berjualan di sekitar Jalan Raya Aksara dan di sekitaran terminal angkutan umum atau yang sering disebut masyarakat sebagai angkot. Adapun juga kegiatan lainnya yaitu selain berdagang dan aktivitas jual beli, sebagian masyarakat juga bekerja sebagai tukang pikul dan juga sebagai pemandu angkutan umum yang akan dinaiki.
Adapun komunitas punk yang beraktivitas di sore hari untuk mengamen berkumpul ataupun bernyanyi di pinggir jalan Aksara.
4.2.2. Interaksi
Interaksi di pasar aksara ini terjalin dengan baik antara pekerja, pedagang dan pembeli sekaligus pada para anggota komunitas punk. Interaksi masyarakat antar agama juga memiliki toleransi yang tinggi meskipun masing-masing individu memiliki kesibukan yang berbeda namun masyarakat masih menyempatkan diri untuk saling bercanda gurau dan peduli terhadap sesama, biasanya komunitas punk ini mengamen dan membantu para pedagang juga para sopir angkot untuk berteriak memanggil penumpang yang akan menaiki angkutan umum sehingga terjalinlah kerjasama. Para pedagang juga merasa terhibur dengan adanya komunitas ini karena pada saat mengamen ataupun saat beristirahat pedagang juga sering bernyanyi-nyanyi dengan para komunitas punk ini.
4.2.3. Sosial Ekonomi
Kegiatan ekonomi di pasar Aksara ini yang melibatkan pedagang dan pembeli serta kegiatan lainnya seperti terminal angkutan umum. Pasar Aksara ini termasuk pasar yang besar dan sebagai Sentral Pusat Pasar di Kabupaten Deli Serdang Kecamatan Percut Sei Tuan, sehingga sebagian besar dari masyarakat datang ke pasar ini untuk berbelanja ataupun berdagang dengan memanfaatkan lahan. Selain itu sebagian besar masyarakat di sekitar jalan Aksara mendirikan grosir yang menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari masyarakat seperti sayur-mayur, daging, ikan, barang pakaian yang tergolong berharga ekonomis, para pedagang pembeli dan pekerja memiliki strategi tersendiri untuk menjalin suatu kerjasama antara pedagang dan pekerja yang memikul barang, sopir angkot dan pemandu, petugas keamanan dengan komunitas punk di pasar Aksara ini.
4.3. Gambaran Umum Anak Punk
4.3.1 Awal Berkenalan Dan Masuk Menjadi Punk
Perkenalan adalah tahap awal yang biasa untuk seseorang mengenalkan dirinya kepada orang lain begitupun dengan komunitas punk, pilihan untuk menjadi bagian dari anggota punk bukanlah hal yang biasa dilakukan oleh komunitas lain yang memiliki keahlian.
Seseorang yang ingin masuk menjadi punk memiliki tahap perkenalkan yang alamiah karena dorongan dari dirinya sendiri.
Setiap anggota komunitas punk memiliki pengalaman awal perkenalan untuk masuk sebagai punk dengan ketertarikan juga keinginan, tak hanya itu komunitas punk semakin bertambah dengan para anggotanya yang sudah lama turun ke jalan dan terbiasa hidup di jalan. Seperti dari pengalaman salah satu informan yang bernama R atau sering dipanggil Ninot ini yang mengungkapkan bahwa:
"…sejak kecil aku udah kerja jual kerupuk di lampu merah ngambil kerupuk itu dari rumah orang tapi biasanya kami bilangnya pabrik kerupuk, tinggal di jual aja. hai jadi masih kecil aja aku udah sering gabung di sama orang-orang ini komunitas punk cuman orangnya beda sama yang sekarang sering gabung gabung duduk-duduk sambil istirahat….."
Hal yang sama diungkapkan oleh informan yang berinisial H.
“… awalnya sejak kecil aku tuh udah ngamen tapi nggak menyebutkan di jalan aksara masih di deket deket rumah aja di titik kuning terus mulai bosan aku kan pindah-pindah lagune angkot ke jalan tah mana- mana juanda sampai aksara terus kok aku jumpa sama orang ini kayaknya enak aja gitu kebetulan orang ini pun namin juga terus karena bbmnya pun pah deket jalan jadi berstatus tuh belajar belajar dari kawan-kawan terus tertarik jadi kuputuskan aja aku tinggal di sini sama kawan-kawan yang lainnya…..”
Hal yang sama juga diungkapkan oleh informan yang berinisial S.
"...rumahku kan di jalan serdang jadi nggak asing lah aku sama sama orang-orang yang ada di aksara ini dulu pun aku ngamen sejak masih sd kan masij kecil jadi ya udah, sementara ibuku nyuci kan jadi buruh cuci
bapakku jadi kuli bangunan ya udah aku bantuin cari uang dengan ngamen tapi abis itu udah nggak karena aku sekolah…..”
Begitu juga yang dikatakan oleh informan yang berinisial Z dengan ketertarikannya terhadap komunitas punk sebagai berikut:
"…awalnya kan dulu aku sekedar kumpul-kumpul aja ditegur terus cerita punya cerita kok nyambung pemikiran tentang makna punk inikan terus belajarlah aku buka buka internet searching searching itu sama pemikiran tentang sistem pemerintahan ini ya tan nggak adil karena aku tertarik suatu pemikiran restu pun aku suka bebas. dari situlah aku mulai bergabung dan suka juga aku sama lirik-lirik nya ya udahlah terakhir udah ku anggap lah kayak saudara orang ini semua. karena punk itu menolak sistem ketidakadilan dari pemerintah dengan adanya kapitalisme kak kami kau kau melemah kaum miskin, apalagi sedikitnya pekerjaan membuat kami berfikir kenapa nggak berkarya sendiri aja dan memiliki suara yang vokal dan sadar akan fakta di negara ini….."
Dari hasil wawancara yang dihasilkan, disimpulkan bahwa adanya rasa senasib dan ketertarikan menunjukkan bahwa rasa solidaritas itu tumbuh dan tumbuhnya rasa empati dan kenyamanan pada setiap anggota dari komunitas punk untuk mendorong dirinya bergabung dengan komunitas punk dengan menjunjung tinggi rasa solidaritas.
4.3.2 Mengenal Salah Satu Dari Anggota Komunitas
Memiliki teman adalah salah satu bentuk interaksi dan perkenalkan diri terhadap orang lain. Interaksi ini sudah alamiah terjadi ketika masih kecil hingga dewasa, biasanya anak akan berinteraksi sekaligus bersosialisasi. Hal ini yang terjadi terhadap beberapa anggota dari komunitas punk yang masuk menjadi pank karena faktor dorongan oleh teman sepermainan, dikutip dari hasil wawancara pada 2 April 2018 oleh informan yang berinisial A dirinya berpendapat bahwa:
"...waktu dulu ada kawanku laki-laki ngajak ke tempat keluarganya tapi aku malah dikenali sama anak-anak punk ping jupiter jalan kaget lakukan tapi aku gabung aja terus tuh nggak tahulah aku tentang pendidikan kukira cuman ya bang penampilan gaya sama uda itu aja nama-nama aku belajar kasih pemahaman kasih pengertian terus jatuh cinta aku sama komunitas punk terakhir aku ngerti sendiri ini yang dimaksud keluarga
sama kawanku di sini aku belajarnya menyablon terus memiliki keluarga barulah bisa dibilang gitu...”
hal yang berbeda diungkapkan oleh informan yang berinisial I.
"…aku udah nggak inget lagi dari awal aku masuk pokoknya aku udah tertarik aja gitu sama bang terus semenjak sering di aksara ini lama- kelamaan pedagang pedagang di sini pun percaya sama aku sampai sampai aku disuruh jaga dagangannya kalau malem dan sampai sekarang aku dipercaya juga toko toko sama pasar di sini semenjak Aksara terbakar banyak kali di sini yang buat toko lumayanlah jadi ada pekerjaanku selain ngamen atau nyablon….."
4.3.3 Perlunya Bergabung Dengan Komunitas Punk
Interaksi yang sering dilakukan oleh seseorang dapat menciptakan suatu kenyamanan terhadap suatu individu, hal ini menciptakan suatu kenyamanan dan rasa saling menyayangi.
Oleh karena itu pada komunitas punk para anggotanya tak sedikit yang merasa perlu bergabung dengan komunitas punk, Karen suatu individu sudah merasa nyaman dan telah menganggap komunitas nya sebagai keluarga. Berbeda dengan keluarga di rumah yang terdiri dari ibu bapak dan anak. Kenyamanan yang didapat karena individu merasa kesepian atau merasa kurang adanya perhatian dari orang tua ataupun keluarga di rumah maka dari itu individu itu mencari kenyamanan di luar rumah, seperti yang diungkapkan oleh salah satu informan yang berinisial A.
"... selama ini aku lebih nyaman tinggal bersama kawan-kawan (komunitas punk) karena ayah menikah lagi sejak aja kami udah nggak dapet kasih sayang dia lagi karenanya lebih sayang sama istri barunya daripada sama kami kami sementara sementara kami disuruh cari uang sendiri kanya dari kecil sudah m"... aku kayak gini karena aku mau cari kesenangan kalau orang tuaku nggak bisa kasih kesenangan aku bisa cari kesenangan di luar mungkin nya seperti inilah. sadar kalau uang nggak menjamin kebahagiaan karena pak uang selalu dikasih tapi orang tua tidak punya waktu untuk saya sementara kalau saya gabung sama teman-teman saya bisa ketahuan saya bisa berekspresi tidak seperti di rumah yang selalu disuruh belajar belajar dan belajar lama-lama saya suntuk senndiri….."
Hal yang sama diungkapkan oleh informan yang berinisial S yang berjenis kelamin perempuan.
Kurangnya kasih sayang dan pengawasan orang tua dapat menimbulkan faktor ketidaknyamanan untuk anak sehingga anak tersebut akan mencari kenyamanan dan mencari sesuatu yang membuatnya bahagia di luar rumah, menurut hasil wawancara perlunya bergabung dengan komunitas punk adalah sebagian dari rasa nyaman yang dirasakan oleh individu itu sendiri dan membandingkan dengan situasi yang ada di rumah atau di dalam keluarga, tidak hanya itu menurut individu itu sendiri sangat perlu bergabung dengan komunitas karena rasa bahagia dan kenyamanan tersendiri yang tidak didapat dari keluarga.
4.3.4 Lama Menjadi Punkers
Lama menjadi punk dapat memiliki suatu pengalaman yang cukup banyak untuk dibagikan kepada teman-teman yang akan bergabung dan teman-teman anggota komunitas punk, namun diminta sini janganlah egois tentang pengetahuan karena menurut mereka pengetahuan dapat digali dengan membaca, lamanya menjadi punk juga memperoleh banyak pengalaman tentang kehidupan jalanan visi misi serta berkenalan dengan komunitas punk di luar wilayah atau di kota-kota, seperti yang diungkapkan oleh informan berinisaial I.
"…lama menjadi punk udah pasti banyak pengalaman yang didapat yaitu tentang kehidupan yang dijalan. ha jadi bisa kita bagikan oleh anggota anggota yang lainnya untuk diceritakan bagaimana pengalamannya dan keseruan nya karena punk bukanlah sampah masyarakat kita juga berkarya jadi tidak ada yang namanya bos di dalam komunitas punk ini karena terlalu lama dirinya menjadi punk. aku juga udah lama jadi punk, 18 tahun aku sudah bermain di jalanan dan banyak kali aku dapat pengalaman tapi walaupun kayak gitu aku bukanlah bos dari orang ini semua tapi mereka adalah kawan-kawan aku….."
Menurut hasil wawancara terhadap seluruh anggota komunitas punk ini tidak ada ketua dalam suatu komunitas walaupun sudah lama dia bukanlah yang dituakan atau bos atau apapun itu karena konsep komunitas punk ini adalah kekeluargaan bukanlah siapa yang memimpin komunitas dan siapa rakyatnya karena komunitas punk ini adalah komunitas yang tidak seperti sistem pemerintahan.
4.3.5 Reaksi Keluarga
Menjadi seorang punkers sudah pasti memiliki penampilan yang berbeda dari orang lain terlihat dari potongan rambut atau gaya papa rambutnya yang mempunyai ciri khas berbeda, setiap orang atau masyarakat pasti bisa membedakan gaya rambut yang biasa maupun tak biasa, hal yang paling mencolok biasanya adalah rambut dan asesoris tubuh, karena dari segi pakaian bisa di kelabuhi. Menjadi seorang punkers sudah menjadi pilihan, reaksi keluarga yang didapat akan diterima oleh individu itu sendiri. Dari hasil wawancara kepada seluruh informan dari komunitas punk Aksara sebagian besar dari mereka menerima reaksi cuek atau tidak perduli dari keluarga walaupun menjadi seorang punk, hal ini menunjukkan bahwa reaksi keluarga hanya menerima saja apa keinginan anaknya, karena menurut sebagian besar dari informan bahwa keluarganya biasa-biasa saja menanggapi penampilan mereka saat pulang ke rumah, namun ada juga yang menutupi jati dirinya sebagai punk karena tidak ingin orang tuanya tahu bahwa dirinya telah menjadi salah satu dari komunitas punk hal ini diungkapkan oleh informan yang berinisial S yang berjenis kelamin perempuan.
"...aku menjadi salah satu dari komunitas menyukai komunitas ini dan mencari keluarga baru karena sebetulnya dan sesudahnya saya saya kurang kasih sayang mereka dan merasa tersiksa saat berada di dalam rumah jadi ketika saya pulang ke rumah saya berganti kostum yang biasa saja namun sebenarnya saya sangat nyaman dengan atribut punk saya….."
Reaksi yang ditunjukan oleh keluarga seluruh informan yang membiarkan anaknya menjadi seorang punk adalah suatu kebebasan yang diberikan oleh orang tua terhadap anaknya ketika orang tua merasa anaknya menyukainya orang tua kan merestuinya lain halnya ketika para orang tua yang memiliki pendidikan tinggi dan mengutamakan masa depan anaknya maka akan ada penolakan penolakan jika anaknya adalah salah satu dari komunitas punk demi untuk membangun masa depan yang lebih baik untuk anaknya.
4.3.6 Sering Kembali Kerumah Orang Tua
Menjadi seorang punk bukan berarti tidak pernah kembali ke rumah orang tua, karena pada prinsipnya bahwa menyayangi kedua orang tua adalah suatu kewajiban bagi anaknya, anak juga berkewajiban untuk membantu orang tua atau keluarganya hal ini diungkapkan oleh informan yang berinisial Z.
"…Aku sering pulang ke rumah itu setiap pagi aku pulang bantuin ibuku jualan di pajak gambir kembung ya masih tetep pakai baju kayak gini (atribut punk) karena ibu janda jadi tidak ada yang membantu sedangkan aku anak tertua jadi sebagai anak tertua dan laki-laki ya harus bantu ibu dan sering pulang ke rumah ya ga hanya itu sih kadang nyuci baju makan tuh tiap hari cuman kalau makan bisalah cari sendiri dengan cara ngamen….."
Berbeda dengan informan yang bernama godek, dirinya tidak pernah pulang ke rumah orang tuanya karena sudah tidak mempunyai keluarga.
"…sebenarnya ada kluarga aku tapi tak ku anggap lagi karena percuma aja aku pulang untuk apa kalau cuma untuk tinggal tunggu aja lebih bagus aku di sini sama kawan-kawan happy-happy tidur istirahat. ngamen cari uang untuk kebutuhan ku….."
Tidak semua dari anggota komunitas memiliki keluarga ataupun rumah, maka dari itu tak sedikit dari mereka yang menganggap bahwa komunitas adalah sebuah keluarga tempat
dimana mereka menganggap adanya ibu dan bapak serta keluarga di dalam komunitas tersebut.
4.3.7 Cara Mencukupi Kebutuhan Sehari-hari
Cara seseorang mencukupi kebutuhan sehari-hari adalah dengan cara yang berbeda- beda dengan berbagai profesi, seperti yang dilakukan para komunitas punk yang ada di Aksara ini, sebagian besar dari komunitas ini semuanya mengamen untuk kebutuhan sehari- hari tidak hanya untuk perorangan namun untuk seluruh teman teman komunitas punk yang ada.
Contohnya saja mereka setiap hari mengamen di persimpangan jalan Aksara yang dekat dengan pajak Aksara ini mengumpulkan uang dari semua teman-teman yang mengamen dan hasilnya dijadikan satu atau digabungkan untuk membeli sesuatu, contohnya odol, sikat gigi, sabun mandi, handuk ataupun sebagian uang untuk minum saat berjaga malam ataupun hasil dari mengamen tersebut untuk mereka jadikan tabungan membuat usaha mereka seperti sablon dan ukiran, namun ada juga tabungan mereka yang khusus untuk pergi ke suatu kota, jadi hasil mengamen tidaklah untuk perorangan namun ada setoran untuk dikumpulkan menjadi satu.
4.4 Profil Informan
4.4.1. Tokoh Komunitas Punk Di Pajak Aksara Dan Medan Tembung
Informan 1
Nama : A
Jenis kelamin : Perempuan Usia : 23 tahun Suku : Batak
Agama : islam Alamat : Helvetia Lama menjadi punkers : 4 tahun Pekerjan : pengamen
Pertama kali peneliti melakukan wawancara pada 2 april 2018 pukul 18:06 dengan seorang informan yang bernama A. Sebelumnya peneliti meminta izin terlebih dahulu untuk mewawancarai informan yang berusia 23 tahun ini dan informanpun bersedia untuk diwawancarai dengan rasa sedikit malu- malu. Inforaman adalah anak ke tiga dari lima bersaudara, kedua adik informan Sudah putus sekolah karena terdesak ekonomi, ibu si A sudah meninggal dunia akibat penyakit diabetes sedangkan ayah informan sudah menikah lagi dan jarang meperhatikan anak-anaknya lagi.
Sedangkan kakak pertama informan tinggal di luar kota bersama keluarganya begitu juga dengan kakak laki-laki informan yang sudah berhijrah ke luar kota Medan. Saat itu A merasa bingung untuk berbagi hidup dengan siapa, karena keluarga informan seperti tidak perduli.
Menurut A dahulu ada teman lelakinya mengajaknya ketempat keluarganya, namun informan ternyata dikenalkan dengan komunitas punk. Informan mengaku awalnya tidak tahu sama sekali tentang punk dan mulai mengenal dan memahami makna punk, lalu informan mulai jatuh cinta dengan sebuah makna punk karena disini informan telah belajar menyablon dan memiliki sebuah keluarga baru. Hingga 4 tahun ini informan sangat nyaman dengan komunitas punk yang sangat kekeluargaan ini. Namun ketika saat peneliti menanyakan teman lelaki yang mengenalkan informan kepada komunitas punk informan menjawab.
“…aku enggak taulah terakhir itu dia pamit sama kami bilang nya mau ke Aceh, gk di ajak nya aku sama dia, eh..pulang dia dari aceh tiga hari dia
sakit, hari keempat uda kami cari uang buat berobat dia kan,enggak tau nya uda mati dia pagi nya
kami banguni,sedih sih aku jadi kek berterima kasih karena uda ngasih kelurganya ke aku (komunitas punk)...“
Informan juga sering pulang kerumah untuk mengambil baju, mencuci baju dan melepas rindu kepada keluarganya yaitu adik nya. Reaksi keluarga informan saat mengetahui dirinya adalah punker hanya biasa saja dan tidak ada keributan atau ketidak setujuan dari orang tuanya, namun keluarga informan seperti bibi dan pamannya merasa malu mengakui nya sebagai saudara.
Menurut informan ia mencukupi kebutuhan sehari-hari dari hasil mengamen dan menjual sablon, tetapi setiap hari nya informan hanya mengamen dengan teman-teman satu komunitas, mengumpulkan hasil ngamen untuk malam harinya minum-minum tuak dan membeli gelek (ganja).
Menurut A komunitas punk menunjukkan solidaritasnya jika ada yang memiliki masalah yaitu dengan cara menghibur, baik itu menyanyi atau yang lainnya. Informa juga bercerita tentang komunitas yang menjalin hubungan antar komunitas di kota-kota lain yaitu dengan cara datang ke kota-kota lain untuk bersilaturahmi atau menawarkan hasil kreativitas yaitu seperti anting, sablon baju dan ada juga senjata. Informan berpendapat bahwa dirinya bersama anggota yang lain menggunakan angkutan umum seperti bus pergi ke kota lain misalnya untuk pergi ke Aceh menemui teman-teman disana namun membayarnya dengan setengah harga.Ia juga bercerita bahwa mereka saat pergi merantau pergi dengan busana yang mereka banggakan dengan banyak aksesoris di pakaian dan di tubuh mereka.
Komunitas punk sebenarnya banyak di kota Medan ini, menurut informan salah satunya ada di terminal Aksara, Amplas bahkan sampai di jalanan. Informan selama ini berperan sebagai pembersih tempat mereka berkumpul dan jika ada yang meminta tolong untuk membersihkan apapun itu,akan mereka bantu. Menurut pengetahuan informan induk punk di kota Medan ini tidak memandang siapa yang lebih tua ataupun yang lebih berkuasa di dalam komunitas, informan juga mempunyai keinginan jika dirinya sudah memiliki keluarga dirinya masih ingin berhubungan baik dengan komunitas punk, terlebih lagi jika suaminya adalah salah satu anggota dari komunitas punk.
Cara komunitas saling menjaga para anggotanya saat turun ke jalan yaitu dengan tidak turun sendirian, menurut informan jika perempuan yang sedang mengamen biasanya akan ditemani dan dipantau oleh temannya bahkan terkadang para perempuan tidak dianjurkan untuk mengamen.
Para anggota wanita di dalam komunitas cukup banyak dan jadi meriah dengan adanya para wanita. peneliti pun bertanya kenapa jadi meriah dengan adanya punkers wanita?. Informan A menjawab bahwa perempuan adalah pembawa keceriaan bagi mereka, A pun berpendapat bahwa tidak ada pelajaran seksual di dalam komunitas punk yang ada adalah suka sama suka dan berarti pacaran, jika pacaran maka bebas untuk apapun karena mereka akan segera menikah, informan pernah berpikir tentang masa depannya jikalau dirinya sudah menikah nanti apakah dirinya akan tetap bisa bersilaturahmi kepada komunitas punk.
Informan ke 2
Nama : I
Usia : 34 tahun
Jenis kelamin : laki-laki
Suku : jawa
Agama : Islam
Alamat : Tembung pasr 3
Lama menjadi punkers : 18 tahun
Pekerjaan : Penjaga pasar Aksara
Sebelumnya peneliti meminta izin terlebih dahulu untuk mewawancari informan namun informan meminta peneliti untuk menunggunya terlebih dahulu karena informan sendang ingin menyiram taman dan halaman pasar supaya tidak berdebu, karena selain menjaga pasar informan juga memiliki tugas lainnya yaitu menyiram halaman pasar supaya tidak berdebu. Setelah informan sudah selesai bekerja informan pun bersedia untuk di wawancarai oleh peneliti.
Informan adalah anak keempat dari empat bersaudara, kakak laki-laki dan perempuan informan yang pertama, kedua dan ketiga sudah menikah, hanya informan yg belum.
Informan masih memiliki seorang ibu yang berstatus janda, bapak informan sudah meninggal dunia.
Informan yang berinisial I berusia 34 tahun. Sehari-harinya informan bekerja sebagai penjaga pasar Aksara, karena semenjak Ramahyana aksara terbakar banyak sekali toko-toko baru di luar di dekat pangkalan angkutan umum kota atau sering di sebut terminal anggot ini harus ada penjagaan. Informan juga sering pulang kerumah untuk sekedar bertemu keluarga dan mencuci baju nya, “untuk ganti-ganti” ujar informan. Informan gemar sekali menyablon, untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya informan mengamen di sela-sela pekerjaannya.
Menurut informan dirinya lebih suka hidup bebas di jalanan bersama teman-teman komunitas punk dan melatih diri untuk mandiri. Peneliti pun bertanya tentang bagaimana komunitas tersebut menunjukkan solidaritasnya jika ada anggotanya yang memiliki masalah.
Informan pun menjawab jika dari salah satu dari komunitas memiliki masalah biasanya mereka menghibur dan memotivasi untuk tidak memikirkan masalah nya berlarut- larut, karena menurut informan hidup Jangan dibuat beban happy dan enjoy tak memikirkan masalah apapun yang penting bahagia jika mempunyai masalah Selesaikan baik-baik dan pelan-pelan. informan pun bercerita tentang cara komunitas ini menjalin hubungan dengan komunitasnya di kota-kota lain yaitu dengan cara sering melakukan event, dan pertemuan- pertemuan seperti datang ke kota lain untuk bertemu atau pun ada hal lain seperti berjualan dan membicarakan tentang usaha, informan pun berpendapat bahwa Sebenarnya bukan hanya untuk berjualan atau mencari pengalaman saja di kota lain namun mempererat tali silaturahmi dan untuk sejenak berfikir dan mengeluarkan ide untuk usaha dan memperkenalkan punk pada masyarakat.
Komunitas punk tidak seberapa banyak orang yang tahu maka dari itu komunitas ini sering mengadakan event untuk memperkenalkan musik metal yang bernada tinggi dan memiliki ciri khas dan juga lirik lagunya yang memberontak namun penuh fakta khususnya di dalam pemerintahan.
Informasi juga bercerita tentang bagaimana cara ia ke kota-kota lain untuk menjumpai komunitas yang ada di kota lain, sebenarnya sama saja dengan orang-orang pada umumnya jika memang ingin naik bus dan kereta api mereka bayar setengah harga informan tidak perduli mau duduk di mana saja yang penting sampai tujuan baginya diusir ataupun tidak diterima itu sudah biasa mau duduk di atas ataupun berdiri tidak masalah baginya yang penting informan sampai ke tempat tujuan dan bisa bertemu dengan teman-teman di komunitas punk di kota lain.
Peran informan di dalam komunitas yaitu salah satu anggota band yaitu basis dan juga sering mengajari para anggota punk untuk menyablon, dalam komunitas informan