• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

RPP Page 1 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Nama Sekolah : SMK N 1 KUALA CENAKU Mata Pelajaran : Persiapan Lahan dan Penanaman Kompetensi Keahlian : Agibisnis Tanaman Perkebunan Kelas/Semester : XII / 1 (Satu)

Tahun Pelajaran : 2022/2023 Alokasi Waktu : 1 x 10 menit A. Kompetensi Dasar

3.6 Menerapkan Teknik pengajiran tanaman perkebunan 4.6 Melaksanakan teknik pengajiran tanaman perkebunan B. Indikator Pencapaian Kompetensi

3.6.1 Menjelaskanteknik pengajiran tanaman perkebunan 3.6.2 Menentukan teknik pengajiran tanaman perkebunan 3.6.3 Mendemontrasikan teknik pengajiran tanaman perkebunan

4.6.1 Mempersiapkan alat dan bahan teknik pengajiran tanaman perkebunan 4.6.2 Mempratekkan pengajiran tanaman perkebunan

C. Tujuan Pembelajaran

3.6.1 Melalui pengamatan gambar diskusi dan menggali informasi siswa dapat Menjelaskanteknik pengajiran tanaman perkebunan dengan tepat

3.6.2 Melalui pengamatan gambar atau berdasarkan bentuk lahan siswa dapat menentukan teknik pengajiran tanaman perkebunan dengan baik dan benar secara tepat

3.6.3 Melalui pengamatan gambar diskusi dan menggali informasi siswa dapat Memperagakan teknik pengajiran tanaman perkebunannberdasarkan karakteristik tanaman dengan tepat

4.6.1 Melalui kegiatan praktik siswa dapat mempersiapkan alat dan bahan teknik pengajiran tanaman perkebunan dengan tepat dan disiplin

4.6.2 Melalui kegiatan praktik siswa dapat Mempratekkan pengajiran tanaman perkebunadengan cermat dan bertanggung jawab

D. Model dan Metode

 Pendekatan : Saintifik/Keterampilan proses

 Model Pembelajaran : Problem Based Learning

 Metode : Paparan, diskusi, tanya jawab, eksperimen

(2)

RPP Page 2 E. SKENARIO PEMBELAJARAN

Kegiatan Sintak Deskripsi Kegiatan Alokasi

Waktu Pendahuluan

Inti

Mengidentifikasi masalah

Menetapkan masalah dan menyeleksi

informasi

Mengembangkan solusi

1. Mempersiapkan kelas dan meminta salah seorang peserta didik memimpin doa

2. Presensi kehadiran siswa

3. Memberi motivasi belajar peserta didik secara kontekstual sesuai manfaat dan aplikasi materi ajar dalam kehidupan sehari-hari

4. Menyampaikan topik tentang menerapkan teknik pengajiran tanaman perkebunan

5. Guru menyampaikan lingkup dan teknik penilaian yang akan digunakan

Mengamati

1. Siswa mengamati gambar dan penjelasan dari guru

2. Siswa membaca penjelasan pengajiran

3. Siswa mengamati gambar dan memahami teknik pengajiran

4. Siswa mengamati vidio teknik pengajiran tanaman perkebunan

Menanya

1. Guru membimbing siswa menemukan permasalahan dalam menentukan pengajiran 2. Siswa menentukan jarak, pola tanam dan teknik

pengajiran yang akan dilaksanakan

3. Guru membimbing siswa melaksanakan model teknik pengajiran yang sesuai bagi tanaman perkebunan

Menalar

1. Siswa menentukan pola tanam tanaman perkebunan yang sesuai dengan jenis tanaman dan kondisi lahan

2. Guru membagi siswa menjadi dua kelompok.

3. Siswa menentukan pengajiran yang tepat untuk tanaman perkebunan

4. Guru melakukan penilaian kegiatan diskusi Mengkomunikasikan

1. Siswa menghitung dan mendemontrasikan teknik pengajiran tanaman perkebunan

2. Siswa memberi tanggapan

3. Siswa menerima tanggapan dan masukan dari siswa

2’

7’

(3)

RPP Page 3 Penutup

Mengevaluasi

Simpulan, Refleksi, dan Tindak lanjut

lain

4. Guru dan siswa bersama-sama membahas hasil Mengumpulkan informasi

1. Siswa mendemontrasikan pengajiran tanaman perkebunan sesuai jenis tanaman

2. Setiap kelompok menentukan tanaman- tanaman perkebunan yang perlu dilakukan pengajiran 3. Setiap kelompok menentukan pola tanam dari

tanaman yang akan dilakukan pengajiran 4. Guru melakukan penilaian praktikum Menalar

1. Siswa mengolah data hasil praktikum 2. Siswa mengetahui pola tanam dan cara

pengajiran dari tanaman perkebunan Mengkomunikasikan

1. Siswa menyajikan hasil praktikum

2. Guru dan siswa bersama-sama membahas hasil praktikum

3. Siswa membuat laporan lengkap 1. Siswa menyajikan hasil demontrasi

pengajiran

2. Siswa memberi tanggapan terhadap hasil presentasi kelompok lain

3. Siswa menerima tanggapan dan masukan dari siswa lain serta memperbaiki hasil pekerjaannya sesuai dengan masukan yang relevan

4. Guru menanggapi dan memberikan masukan kepada setiap kelompok

5. Siswa bersama-sama guru menyimpulkan hasil kegiatan pembelajaran

1’

F. Media Alat/Bahan, dan Sumber Belajar

1. Alat/Bahan : infokus, laptop, spidol, papan tulis

2. Media : power poin, gambar alat pengolahan tanah, video 3. Sumber Belajar :

 Ma’ruf Amar, 2010. Materi Kuliah Penyiapan Lahan. Program Studi Agroteknologi Universitas Asahan.

 Teknis Budidaya Tanaman Perkebunan , 2009, Direktorat Jenderal Perkebunan.

(4)

RPP Page 4 G. Penilaian Pembelajaran

Teknik Penilaian a. Sikap : observasi

Teknik penilaian Instrumen

Observasi Lembar observasi

b. Pengetahuan dan Keterampilan

KD Teknik

Penilaian Instrumen 3.6 Menganalisis Teknik

pengajiran tanaman perkebunan

Tes Soal tes tertulis

4.6 Melaksanakan

Teknik pengajiran tanaman perkebunan

Unjuk kinerja

Lembar instrumen observasi unjuk kinerja (kegiatan praktik).

Kuala Cenaku, Juli 2022

Mengetahui, Guru Mata Pelajaran,

Kepala Sekolah,

HERWINDO ROZY. M.Kom ARIFIN D. S.Si NIP. 19741208 200501 1 005 NIP. 19820410 201102 1 002

(5)

RPP Page 5 1. Instrumen Penilaian

a. Sikap

Hari, tanggal

No Nama Uraian Kejadian

Istimewa Rencana Tindakan/ Pembinaan

(6)

RPP Page 6 b. Pengetahuan

Kisi-kisi dan Soal Kompetensi

dasar

IPK Indikator Soal Jenis Soal

No Soal

Soal Kunci Jawaban

3.6

Menganalisis Teknik pengajiran tanaman perkebunan

Menjelaska nteknik pengajiran tanaman perkebunan

Disajikan penjelasan fungsi pengajiran, siswa dapat mengetahui mamfaat pengajiran

PG 1 Salah satu manfaat dari fungsi pengajiran adalah...

A

A A. Pemeliharaan dan kerapian

B. Pemungutan hasil dan pemeliharaan C. Pemeliharaan dan tranportasi

D. Pemungutan hasil dan Kebersihan E. Pembersihan dan Pemupukan Menentukan

teknik pengajiran tanaman perkebunan

Disajikan beberapa tanaman perkebunan.

sisw a dapat menentukan tanaman yang memerlukan pemancangan

PG 2 1. Kelapa sawit 2. Teh

3. Karet 4. Kopi

Tanaman perkebunan diatas yang memerlukan teknik pengajiran atau pemancang agar pola

A

(7)

RPP Page 7 Pedoman Penskoran

No Soal Indikator Skor

1 Jika menjawab sesuai kunci jawaban 1

2 Jika menjawab sesuai kunci jawaban 1

Pengolahan Nilai Pengetahuan

𝑵𝒊𝒍𝒂𝒊 = 𝑺𝒌𝒐𝒓 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒑𝒆𝒓𝒐𝒍𝒆𝒉 𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝒔𝒌𝒐𝒓

𝒙 𝟏𝟎𝟎 Kompetensi

dasar

IPK Indikator Soal Jenis Soal

No Soal

Soal Kunci Jawaban

tanam tanaman teratur terdapat pada nomor….

A. 1, dan 3 B. 2, dan 3 C. 2, D. 1

E. Semua benar

(8)

RPP Page 8 c. Keterampilan

KISI-KISI PENILAIAN KETERAMPILAN KOMPETEN

SI DASAR INDIKATOR (IPK) MATERI

INDIKATOR SOAL BENTU K SOAL

BUTIR SOAL 4.6 Melaksanakan

teknik pengajiran tanaman perkebunan

4.6.1 Mempersiapkan alat dan bahan teknik pengajiran tanaman perkebunan

Alat dan bahan pengajiran tanaman perkebunan serta pola yang akan

dilaksanakan

Teknik pengajiran tanaman perkebunan

Menentukan alat dan bahan serta pola pengajiran yang akan digunakan untuk proses pemancangan

melakukan

pemancangan dasar tanaman perkebunan sesuai jenis tanaman

Penilaian

Kinerja tentukan alat dan bahan yang akan digunakanpada proses pengajiran tanaman perkebunan Tentukanlah pola pengajiran yang akan dilaksanakan sesuai jenis tanaman Lakukan proses pengajiran tanaman perkebunan sesuai dengan jenis tanaman.

4.6.2 Mempratekkan pengajiran tanaman perkebunan

(9)

RPP Page 9 Soal Keterampilan :

Lakukanlah proses pengajiran dengan benar sesuai dengan rancangan yang telah dibuat!

NO NAM

A

PENILAIAN PERSIAPAN NK

KERJA

PROSES KERJA

HASIL

KERJA LAPORAN SIKAP KERJA WAKTU

5 20 40 20 5 5

1.

1 2.

3.

....

(10)

RPP Page 10

NO KOMPONEN/SUB

KOMPONEN PENILAIAN INDIKATO

R

S K OR 1. Persiapan Kerja

Ketersediaan alat dan bahan pengajiran 1. Meteran

2. Tiang pancang 3. Tali

4. Parang

Peserta didik membawa dan menyiapkan semua bahan

dan alat

4

Peserta didik tidak membawa 1 dari 4 bahan dan alat

yang di tentukan

3

Peserta didik tidak membawa 2 dari 4 bahan dan alat

yang di tentukan

2

Peserta didik tidak membawa 3 dari 4 bahan dan alat

yang di tentukan

1

2. Proses Kerja a. Ketrampilan melakukan

penggunaan alat dan bahan pengajiran

1. menentukan luas lahan 2. menentukan pola 3. Pengukuran pola tanam 4. Pemancangan tiang

Melakukan semua tahapan pengajiran

4

Melakukan semua tahapan pengajiran kecuali poin 1

3

Melakukan 2 tahapan pengajiran dari 4 yang ditentukan

2

Melakukan 1 tahapan pengajiran dari 4 yang ditentukan

1

3. HASIL KERJA Hasil Kerja

1. Pengajiran Rapi dan lurus

Semua hasil praktik sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan

4 75% hasil praktik sesuai dengan kriteria yang telah 3

(11)

RPP Page 11

NO KOMPONEN/SUB

KOMPONEN PENILAIAN INDIKATO

R

S KO R

2. Jarak antar pengajiran sama 3. Tiang pancang kuat dan tegak

ditentukan

50% hasil praktik sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan

2 0-<25% hasil praktik sesuai dengan kriteria yang

telah ditentukan

1 4. Laporan

a. Kelengkapan Membuat laporan dengan lengkap dan benar 4

Membuat laporan kurang lengkap tetapi benar 3 Membuat laporan dengan lengkap dan belum benar 2 Membuat laporan kurang lengkap dan belum benar 1

b. Pembahasan Pembahasan hasil pengamatan lengkap benar 4

Pembahasan hasil pengamatan kurang lengkap tetapi

benar

3

Pembahasan hasil pengamatan lengkap dan belum benar

2 Pembahasan hasil pengamatan kurang lengkap

dan

belum benar

1

c. Sumber kutipan

Pengutipan dengan rapi (tidak copy paste) dan mencantumkan sumber

4 Pengutipan dengan rapi (tidak copy paste) tetapi

tidak

mencantumkan sumber

3

Pengutipan dengan kurang rapi (copy paste) dan

mencantumkan sumber

2

Pengutipan dengan kurang rapi (copy paste) dan tidak mencantumkan sumber

1

(12)

RPP Page 12

NO KOMPONEN/SUB

KOMPONEN PENILAIAN INDIKATOR S KO R

5. Sikap kerja

a. Keterampilan dalam bekerja Bekerja dengan terampil (sesuai prosedur) 4 Bekerja dengan cukup terampil (terdapat 1 tahapan yang

tidak sesuai)

3 Bekerja dengan kurang terampil ( terdapat lebih dari 2

tahapan yang tidak sesuai)

2 Bekerja dengan tidak terampil (tidak sesuai prosedur 1 b. Kedisiplinan dalam bekerja (tepat

waktu dan mengikuti aturan selama praktikum)

Bekerja dengan disiplin 4

Bekerja dengan cukup disiplin (tidak tepat waktu tetapi mengikuti aturan)

3 Bekerja dengan kurang disiplin (tidak tepat waktu,

terkadang tidak mengikuti aturan)

2 Bekerja dengan tidak disiplin (tidak tepat waktu dan

tidak mengikuti aturan)

1 c. Tanggung jawab dalam bekerja

(Penggunaan alat dan bahan dengan baik dan benar serta merapihkan peralatan setelah praktikum)

Bertanggung jawab 4

Cukup bertanggung jawab (menggunakan alat dengan baik dan benar tetapi tidak merapihkan kembali)

3 Kurang bertanggung jawab (menggunakan alat tidak

baik dan benar serta tidak merapihkan kembali)

2 Tidak bertanggung jawab (memecahkan alat praktikum) 1 d. Konsentrasi dalam bekerja

(tidak gaduh dengan teman dan tidak main hp)

Bekerja dengan konsentrasi 4

Bekerja dengan cukup konsentrasi (tidak gaduh, terkadang bermain hp)

3 Bekerja dengan kurang konsentrasi (tidak gaduh, tetapi

selalu bermain hp)

2

(13)

RPP Page 13

NO KOMPONEN/SUB

KOMPONEN PENILAIAN INDIKATO

R

S KO R Bekerja dengan tidak konsentrasi ( membuat

kegaduhan dan bermain hp)

1

6. Waktu

a. Penyelesaian pekerjaan Selesai sebelum waktu berakhir 4

Selesai tepat waktu 3

Selesai setelah waktu berakhir maksimal 3 jam 2 Selesai setelah tenggat waktu, namun masih dalam

hari itu

1

b. Pengerjaan Laporan Selesai sebelum tenggat waktu yang ditentukan 4

Selesai tepat waktu 3

Selesai setelah tenggat waktu, namun masih dalam hari

itu

2

Selesai pada ± H+1 tenggat waktu yang ditentukan 1

(14)

RPP Page 14 Pengolahan Nilai Keterampilan :

Nilai Praktik(NP) Persiapan Proses Hasil

Kerja

Laporan Sikap Kerja

Waktu ∑ NK

1 2 3 5 6

Skor Perolehan

Skor Maksimal 4 4 4 4

4 4

Keterangan:

Skor perolehan merupakan penjumlahan skor per komponen penilaian

 Skor Maksimal merupakan skor maksimal per komponen penilaian

 Bobot diisi dengan persentase setiap komponen. Besarnya persentase dari setiap komponen ditetapkan secara proposional sesuai karakteristik kompetensi keahlian. Total bobot untuk komponen penilaian adalah 100

 NK = Nilai Komponen merupakan perkalian dari skor perolehan dengan bobot dibagi skor maksimal

𝐍𝐊 =

 NP = Nilai Praktik merupakan penjumlahan dari NK

𝐒𝐤𝐨𝐫𝐏𝐞𝐫𝐨𝐥𝐞𝐡𝐚𝐧 𝐒𝐤𝐨𝐫𝐌𝐚𝐤𝐬𝐢𝐦𝐚𝐥

× 𝐁𝐨𝐛𝐨𝐭

Bobot 10% 50% 20% 10% 5% 5%

NK

(15)

RPP Page 15 LAMPIRAN

MATERI AJAR

PEMANCANGAN TANAMAN KELAPA SAWIT 1. Kerapatan Tanam, Jarak Tanam Dan Pemancangan

1.1. Kerapatan Tanam

Kerapatan tanam mempunyai hubungan yang tak dapat dipisahkan dengan produksi yang akan diperoleh dari luas lahan per hektar, karena kerapatan tanam berhubungan dengan populasi tanaman dan keefisienan penggunaan cahaya, juga mempengaruhi persaingan antara tanaman dalam menggunakan air dan unsur hara. Pada umumnya, produksi tiap satuan luas yang tinggi tercapai dengan populasi tinggi, karena tercapainya penggunaan sinar matahari, air dan unsur hara secara maksimum di awal pertumbuhan. Akan tetapi pada akhirnya, penampilan masing-masing tanaman secara individu menurun karena persaingan untuk mendapatkan sinar matahari,air dan unsur hara. Kerapatan tanaman yang optimum hanya dapat ditentukan dengan mengetahui potensi produksi pada beberapa kerapatan tanaman.

1.2. Jarak Tanam

Pada umumnya perkebunan kelapa sawit menerapkan jarak tanam sama segala penjuru (equidistant plant spacing) yang umum dikenal dengan jarak tanam segitiga sama sisi (sistem mata lima). Sistem ini memberikan pemanfaatan yang lebih besar terhadap tanah untuk pengambilan unsur hara dan menyediakan ruang dan cahaya matahari bagi perkembangan pelepah daun. Sudah dibuktikan di Afrika bahwa penanaman sistem segitiga sama sisi menghasilkan lebih banyak dari pada penanaman dengan sistem kubus. Menggunakan sistem sama sisi membuat jarak antar barisan lebih pendek dari pada jarak antar tanaman.

Jarak antar barisan dapat dihitung dengan rumus jarak antar tanaman x 0,866.

Jarak tanam akan tergantung kepada kerapatan tanam yang diinginkan.

1.3. Pemancangan

Untuk mencegah dan mengatasi timbulnya pengaruh kekurangan cahaya matahari serta mendapatkan letak dan barisan tanaman yang teratur , maka pengaturan arah barisan tanam Kelapa Sawit sangat penting agar penggunaan cahaya matahari seefektif mungkin bagi setiap tanaman. Beberapa hal yang

(16)

RPP Page 16 perlu diperhatikan dalam persiapan pemancangan:

a. Keadaan Topografi Areal Tanam

Sebelum melaksanakan pemancangan terlebih dahulu mengetahui dan mengklasifikasikan keadaan topografi areal, dalam hal ini dapat diklasifikasikan ke dalam; areal rata sampai berombak (250). Pada umumnya untuk areal rata sampai berombak digunakan pemancangan sistem mata lima, sedangkan areal curam dan sangat curam digunakan sistem kontour.

b. Arah Barisan

Umumnya pada areal rata sampai berombak arah barisan pada tanaman Kelapa Sawit adalah Utara-Selatan. Hal ini berhubungan dengan arah penyinaran matahari Timur – Barat. Dengan membuat arah barisan Utara – Selatan maka jarak antar tanaman Timur – Barat lebih panjang daripada jarak antar tanaman dalam barisan, sehingga penyinaran matahari akan lebih lama bagi setiap tanaman karena saling menutupi antar daun tanaman lebih sedikit.

Untuk areal curam dan sangat curam arah barisan mengikuti arah kontour yang ada dan jarak antar tanaman adalah berbanding terbalik dengan jarak antar teras kontour. Untuk mendapatkan kerapatan tanam yang seragam pada semua tingkat kemiringan ( areal curam sampai sangat curam) dipergunakan metode pemancangan ”Violle” secara matematis dapat dinyatakan dengan rumus sebagai berikut :

Contoh : Kerapatan Tanam = 143 Tanaman/ha Jarak antar teras kontor = 8 meter

1.3.1. Persiapan Pemancangan

 Pemancangan dilakukan setelah selesai pembukaan areal.

 Pancangan tanaman dibuat dari bambu kecil panjang 1 meter; pancang kepala panjang 2,5 meter dicat bagian atasnya.

 Kawat diameter 2-3 mm sebanyak 2 utas masing-masing sepanjang 100 m. Tiap-tiap kawat diberi tanda sebagai berikut :

Kawat I : Diberi tanda tiap jarak tanam (9m); ujung ditambah 4,5 meter untuk mengukur jarak pancang hidup & mati.

Kawat II : Diberi tanda jarak antar barisan yaitu tiap 7,80 m

(17)

RPP Page 17 1.3.2. Pemancangan Pada Areal Datar

Dimulai dari luasan 1 ha terlebih dahulu (pancang hektaran) ukuran 100 x 100 m.

Contoh : Jarak tanam 9,0 m segitiga samasisi (9 x 7,80 m)

 Tentukan titik awal A berjarak 1,95 m (1/4 x 7,80 m) ; dan 2,25 m (1/4 x 9,0 m) dari pinggir areal dengan pancang kepala. Titik A sebagai awal pancang hidup.

 Kawat I; direntangkan U – S secara lurus dari titik A. Pada tiap titik 9 m ditancapkan pancang kepala. Arah rentangan dibantu dengan menggunakan kompas.

 Kawat II; direntangkan T – B. Pada tiap jarak antar baris 7,80 m ditancapkan pancang kepala. Nomor ganjil pancang hidup, nomor genap pancang mati.

 Kemudian kawat I digeser sejauh 7,80 m sejajar dengan barisan ke arah T – B. Tancapkan pancang pada tanda 4,5 m (pancang mati) dari B1 kemudian tiap 9 meter.

 Kawat I digeser lagi pada posisi B2 pada tanda pancang hidup 9 meter.

Buat seterusnya sampai 10 barisan.

 Pada saat menanamkan pancang harus selalu dilihat lurus kesemua jurusan (mata lima)

 Bila pemancangan pada areal 1 ha ini sudah selesai maka dapat dilajutkan untuk memancang seluruh areal.

Tim pemancang minimal terdiri dari 5 orang dengan perincian sebagai berikut:

– 1 orang tukang teropong - 1 orang tukang pancang - 2 orang penarik kawat - 1 orang pembawa pancang

Kemampuan tim pemancang ± 3 ha / hari.

1.3.3. Pemancangan Pada Areal Curam dan Sangat Curam

Pemancangan pada areal curam dan sangat curam lebih sulit dari pada areal datar. Jarak antara kontour adalah merupakan proyeksi dari jarak antar barisan pada bukit tersebut. Sedang jarak dalam barisan dapat dihitung dengan metode

(18)

RPP Page 18 Violle. Tahap pemancangan teras untuk areal curam dan sangat curam adalah sebagai berikut :

 Pilih lereng dengan kemiringan rata-rata dari seluruh kemiringan bukit.

 Buatlah pancang kepala berwarna dengan sesuai jarak antar barisan yang diinginkan (mis: 8 m) ke arah bawah, pada kemiringan rata-rata mewakili seluruh areal yang ada secara horizontal.

 Gunakan tiga warna (merah , kuning dan biru) untuk pancang kepala, peletakkan pancang-pancang berwarna ini harus dilakukan berulang dan berurut. Ini akan membantu memastikan bahwa supir bulldozer tidak menembus kontour yang berbeda.

 Setelah selesai membuat pancang kepala, teras pertama diberi pancang berwarna merah pada kontour keliling bukit, dengan menggunakan abney level dengan penyangga berbentuk huruf T setinggi 1,5 m atau dumpy level.

 Untuk membantu pengamatan (pengukuran) pancang tersebut diletakkan dengan interval 10 -15 m.

 Untuk pembuatan teras berikutnya, pergunakan kawat pengukur yang diberi etiket besi sesuai jarak yang diinginkan.

 Peletakkan pancang pada teras ke-2 harus dimulai dari pancang ke-2 (kuning) dan begitu seterusnya ke arah bawah.

 Salah satu ujung kawat dipegang pada pancang ke-2 pada teras pertama (pancang merah), sedang ujung yang satunya (ujung yang ada etiket besinya), dipegang oleh satu orang pada calon teras ke-2 dan pemegang abney levelnya mengukur dari titik pancang yang sebelahnya.

 Dengan pemancangan seperti ini tidak menimbulkan kesalahan yang berarti. Supir bulldozer yang berpengalaman dapat mengusahakan membentuk level yang benar, selama pembentukan teras dengan meratakan kesalahan, memotong lebih dalam atau mengurangi kedalaman dimana perlu.

2. Pembuatan Teras/Tapak kuda

Pembatan teras secara mekanik biasanya dilakukan oleh bulldozer, dengan memotong teras selebar 3,5 – 4 m tetapi pada bukit yang paling curam dapat

(19)

RPP Page 19 dipotong 3 m. Gambar potongan teras dapat dilihat pada gambar berikut:

Teras harus dipotong dengan kemiringan 150 – 200. Ini akan memudahkan pemadatan tanah dan berfungsi untuk menahan air dan menghentikan erosi akibat aliran air ke bawah.

Karena pada prakteknya hampir tidak mungkin membuat teras benar-benar rata ,maka perlu menghentikan aliran air ke bagian yang terendah . Ini dapat dilakukan dengan membuat stop bund dengan interval setiap dua pohon baik secara mekanik maupun manual. Dari dinding ke bibir teras, stop bund harus rata.

Jika pembuatan teras secara mekanik tidak memungkinkan, untuk alasan ekonomi, maka penanaman dibukit dapat dibuat tapak kuda (platform) secara manual berukuran 2,5 m x 2,5 m dengan kemiringan 150 – 200 ke arah dinding serta dipadatkan pada bagian tepinya.

(20)

RPP Page 20 Nama Siswa:

1. 3. 5.

2. 4.

PEMANCANGAN/PENGAJIRAN

TANAMAN KELAPA SAWIT PADA AREA DATAR

Untuk mendapatkan letak dan barisan tanaman yang teratur terlebih dahulu diadakan pemancangan areal. Pemancangan pada areal yang rata jarak antara barisan dan dalam barisan sesuai dengan jarak yang sebenarnya. sedangkan untuk areal yang berbukit dan berkontur arah barisan mengikuti arah kontur yang ada dan jarak antara barisan adalah proyeksi jarak antar barisan.

Jarak antar barisan = 0,86 x jarak tanam.

Cara memancang Pada Areal Datar

1. Dimulai dari luasan 1 m persegi ( pancang meteran ) ukuran 100 cm x 100 Cm.

Contoh : Jarak tanam 9,0 segitiga samasisi ( 9 x 7,80 cm )

2. Tentukan titik awal A berjarak 1.95 cm (1/4 X7.80 cm ) dan 2.25 cm (1/4 x9.0 cm ) dari pinggir areal dengan pancang kepala. Titik A sebagai awal pancang hidup.

3. Kawat I ; direntangkan U – S secara lurus dari titik A. Pada tiap titik 9 cm ditancapkan pancang kepala. Perentangan dibantu dengan busur

4. Kawat II ; direntangkan arah Barat – Timur. Pada tiap jarak antar baris 7,8 cm ditancapkan pancang kepala No ganjil pancang hidup, no genap pancangan mati.

5. Kemudian kawat I digeser sejauh 7,8 cm sejajar dengan barisan ke arah Barat / Timur . Tancapkan pancang pada 4,5 ( pancang mati ) dari B 1 kemudian tiap 9 cm.

6. Kawat I digeser lagi pada posisi B2 pada tanda pancangan hidup 9 cm. Buat seterusnya sampai 10 barisan.

7. Pada saat menanamkan pancang harus selalu dilihat lurus kesemua jurusan ( mata lima).

8. Bila pemancangan pada areal 1 m ini sudah selesai maka dapat dilanjutkan untuk memancang seluruh meteran lainnya

Tim pemancang ; 1 tim terdiri dari atas 5 orang :

• Peneropong 1 orang

• Penarik tali 2 orang

• Pemancang 1 orang .

• Pembawa pancang 1 orang Peralatan Pancang

(21)

RPP Page 21 Sebelum dimulai pemancangan terlebih dahulu harus mempersiapkan alat-alat pancang :

~ Busur

~ Tusuk sate sebanyak 4 batang

~ Tusuk gigi sebanyak 100 batang

~ Benang 150 cm yang telah diberi tanda jarak tanam dan jarak antar barisan

(22)

RPP Page 22 Nama Siswa:

1. 3. 5.

2. 4.

PEMANCANGAN TANAMAN KELAPA SAWIT PADA AREA DATAR

Untuk mendapatkan letak dan barisan tanaman yang teratur terlebih dahulu diadakan pemancangan areal. Pemancangan pada areal yang rata jarak antara barisan dan dalam barisan sesuai dengan jarak yang sebenarnya. sedangkan untuk areal yang berbukit dan berkontur arah barisan mengikuti arah kontur yang ada dan jarak antara barisan adalah proyeksi jarak antar barisan.

Pancang Tanam Kelapa Sawit Pada Area Datar Mempersiapkan keperluan memancang

• Pemancangan dilakukan setelah selesai pembukaan lahan

• Norma kebutuhan tenaga : 6 HK/ha

• Pedoman arah barisan adalah U- S

• Pemancangan dilakukan sesuai dengan jarak tanamnya (sistim segi tiga sama sisi) . Jarak antar barisan tanaman dan jumlah populasi per ha dilihat

(23)

RPP Page 23 Jarak antar barisan tanaman dan jumlah populasi per ha dilihat. Lebih detail di pembahasan tentang Menentukan Jarak dan Kerapatan Tanam Kelapa Sawit

Tabel Jarak Antar Barisan Dan Populasi

• Jarak antar barisan = 0,86 x jarak tanam.

Cara memancang Pada Areal Datar

9. Dimulai dari luasan 1 ha terlebih dahulu ( pancang hektaran ) ukuran 100 x 100 m.

Contoh : Jarak tanam 9,0 segitiga samasisi ( 9 x 7,80 m )

10. Tentukan titik awal A berjarak 1.95 M (1/4 X7.80 M ) dan 2.25 m (1/4 x9.0 m ) dari pinggir areal dengan pancang kepala. Titik A sebagai awal pancang hidup.

11. Kawat I ; direntangkan U – S secara lurus dari titik A. Pada tiap titik 9 m ditancapkan pancang kepala. Perentangan dibantu dengan kompas.

12. Kawat II ; direntangkan arah Barat – Timur. Pada tiap jarak antar baris 7,8 m ditancapkan pancang kepala No ganjil pancang hidup, no genap pancangan mati.

13. Kemudian kawat I digeser sejauh 7,8 m sejajar dengan barisan ke arah Barat / Timur . Tancapkan pancang pada 4,5 ( pancang mati ) dari B 1 kemudian tiap 9 meter.

14. Kawat I digeser lagi pada posisi B2 pada tanda pancangan hidup 9 meter. Buat seterusnya sampai 10 barisan.

15. Pada saat menanamkan pancang harus selalu dilihat lurus kesemua jurusan ( mata lima).

16. Bila pemancangan pada areal 1 ha ini sudah selesai maka dapat dilanjutkan untuk memancang seluruh areal

Tim pemancang ; 1 tim terdiri dari atas 5 orang :

• Peneropong 1 orang

• Penarik tali 2 orang

• Pemancang 1 orang .

• Pembawa pancang 1 orang Peralatan Pancang

Sebelum dimulai pemancangan terlebih dahulu harus mempersiapkan alat-alat pancang :

~ Kompas atau theodolite untuk menentukan arah

~ Ajir/bambu/kayu panjang 2 meter, 4 pancang/Ha

~ Anak pancang ukuran 1- 1,5 meter dan diikat plastik putih

~ Kawat Sling 100 m yang telah diberi tanda jarak tanam dan jarak antar barisan

Referensi

Dokumen terkait

Siswa diberi kebebasan mencari cara untuk membuat barisan kelompoknya sepanjang mungkin (problem solving). Kegiatan berikutnya siswa berlomba lari estafet antar kelompok.

□ Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan rumus suku suku ke-n barisan aritmatika dengan mengerjakan LKPD yang diberikan.. Menarik

Setelah mengamati video tentang keterampilan lari jarak pendek, peserta didik dapat menganalisis aktivitas gerakan lari jarak pendek (Teknik Start/Awalan) untuk menghasilkan

Dengan mengolah informasi, siswa mampu menyajikan hasil identifikasi tanaman jarak sebagi sumber daya alam alternatif dan pemanfaatannya dalam bentuk tulisan dengan

Seperti halnya dengan deret aritmatika, jika kita memilikki suatu barisan geometri maka dapat dibentuk suatu deret yang merupakan penjumlahan berurut dari suku-suku barisan

1) Guru meminta salah seorang peserta didik untuk menyiapkan barisan di lapangan sekolah dan mengucapkan salam atau selamat pagi kepada peserta didik. 2) Guru meminta

Sangat terampill, jika menunjukkan adanya usaha untuk menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan barisan dan deret aritmatika

Faktor alam yang menyebabkan terjadinya tanah longsor adalah curah hujan yang cukup tinggi yang mengakibatkan tanah menjadi tererosi yang membuatnya semakin curam sehingga