• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prepared By: KAPABEL (Konsorsium Adaptasi Perubahan Iklim dan Lingkungan )

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Prepared By: KAPABEL (Konsorsium Adaptasi Perubahan Iklim dan Lingkungan )"

Copied!
105
0
0

Teks penuh

(1)

QUARTERLY REPORT: V (Oktober – Desember 2021) Project Title:

Community Adaptation

for Forest-Food Based Management in Saddang Watershed Ecosystem

Prepared By:

KAPABEL (Konsorsium Adaptasi Perubahan Iklim dan Lingkungan )

(2)

A. Project Information

Total Fund : US $ 835.465 atau Rp 10.254.566.825

Fund Absorption : Total biaya yang sudah terrealisasi per 15 Oktober – 31 Desember 2021 sebesar Rp 6.249.232.982, biaya sudah terserap sebesar 60,94% dari total anggaran yang telah disetujui sebesar Rp.

10.254.566.825.

Implementing

Partner(s) : KAPABEL (Konsorsium Adaptasi Perubahan Iklim dan Lingkungan)

Beneficiaries : Penerima manfaat kegiatan pada laporan kuartal 5 sebanyak 8.667 orang yang terdiri atas 5.710 laki-laki atau 66% dan 2.957 perempuan atau 34% untuk semua komponen. Dari total penerima manfaat itu terdapat 9 orang dari kelompok rentan.

Sementara dari kelompok adat (tokoh adat) tidak ada yang terlibat pada kuartal ini.

Geographical

Focus

: Daerah Aliran Sungai (DAS) Saddang yang meliputi Kabupaten Toraja Utara, Tana Toraja, Enrekang, dan Pinrang di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia.

(3)

Table of Contents

A. Project Information

2

2

Table of Contents 3

B.

Executive Summary 5

D. Technical Progress Report

6

1. KOMPONEN I: Memperkuat Perhutanan Sosial dalam Mendorong Pangan Hutan

di Hulu DAS Saddang 6

1.1. Outcome: Peningkatan Luasan Perhutanan Sosial seluas 5.000 ha di Hulu

DAS Saddang 6

Pelatihan Teknis Pengolahan Hutan Model Agroforestry 7

Need assessment area rehabilitasi hutan

9

1.2. Outcome : Penguatan Aktor dan Skema Kelembagaan Perhutanan Sosial dalam

Mendukung Adaptasi Perubahan Iklim 10

1.3. Outcome: Meningkatnya Pendapatan Masyarakat dari Pangan Hutan di Hulu

DAS Saddang 16

Monitoring Budidaya Pembibitan MPS dan Umbi-Umbian 21 3. KOMPONEN II: Perbaikan Tata Kelola dan Daya Dukung Pesisir dalam

Mendukung Adaptasi Perubahan Iklim di Hilir DAS Saddang 23 3.1. Outcome 2.1. Penguatan Sumber Daya Manusia pesisir dan Sumber Daya Alam di Bagian Hilir Das Saddang dalam Meningkatkan Daya Dukung Pesisir 23

Audiensi dengan Pemerintah Desa Massewae 34

Audiensi dengan Pemerintah Desa Katomporang 35

Audiensi dengan Pemerintah Desa Paria 36

Audiensi dengan Pemerintah Desa Bababinanga 36

Audiensi dengan Pemerintah Desa Salipolo 37

4. KOMPONEN III: Penguatan Kebijakan Lintas Sektor dalam Memastikan

Keberlanjutan Adaptasi Perubahan Iklim 58

4.1. Otucome 3.1. Penguatan Sistem Kelembagaan dan Kapasitas untuk

Mengurangi Risiko Iklim termasuk Degradasi Sosial-Ekonomi dan Lingkungan 58 6. KOMPONEN IV: Memperkuat Kapasitas dan Dukungan Para Pemangku

Kepentingan melalui Pengelolaan Pengetahuan 64

6.1. Outcome 4.1. Penguatan Kapasitas dan Pemahaman Pemangku Kepentingna melalui Proses Diseminasi dan Sistem Peringatan Dini untuk Adaptasi Perubahan Iklim 64

Pembuatan Leaflet, Poster, dan Banner 65

Activity 4.1.2.2. Pembuatan aplikasi dan perangkat pendukung sistem peringatan

dini tanggap bencana 67

E. Monitoring Evaluation Progress

71

F. Financial Report

78

(4)

G. Milestones for the Next Quarter

78

H. Update Grievance Mechanism

81

I. Challenges and Risk Identification

82

J. Media Clippings

101

K. Hasil Kajian

103

L. ESMP

104

(5)

B. Executive Summary

The Community Adaptation Program to climate change through the forest food management program in the Saddang watershed ecosystem of South Sulawesi has been running for nine months. Direct beneficiaries of all activities in Quartal 3 are 944 residents consist of 657 men and 281 women. There are 9 person of marginal and vulberable groups.

The main activities in April and May are nursery development and seed procurement.

While in June is the nursery and maintenance of seedlings. Procurement of prang seeds in 1 component until this report is made. Information from KEMITRAAN that all activities undergoing changes must be stopped until approval from the Directorate General of Climate Change Control (Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim) as the National Development Entity (NDE) in Indonesia for the Adaptation Fund program. While the procurement of other seeds such as MPT and Mangroves is still running.

The number of nurseries that have been built is 21 units: 18 units in the upstream area and 3 units in the downstream area of the Saddang watershed. The main activities in June were seeding and seed maintenance as well as trainings to increase community capacity and preparation for the establishment of Home industryes for the next quarter.

While in component 4, the activities of making documentary films, writing books and journals are still ongoing.

Until now, there is one person complained about the program. He is the head of PAKU village, Kepala Lembang Paku. He protests by sending WA to FO, PO, PM, and CO.

The total realized budget during the second quarter (March, May, and June) that had been realized as of June 30, 2021 was IDR 1,010,608,510. The total cost that has been absorbed is 40%

of the total approved budget of Rp. 10,254,566,825. (See the Financial Report Appendix).

(6)

D. Technical Progress Report

1. KOMPONEN I: Memperkuat Perhutanan Sosial dalam Mendorong Pangan Hutan di Hulu DAS Saddang

1.1. Outcome: Peningkatan Luasan Perhutanan Sosial seluas 5.000 ha di Hulu DAS Saddang

1.1.1 Output: Adanya Akses Legal dan Penguatan Perhutanan Sosial

Pengusulan dokumen perhutanan sosial di 10 desa dampingan di tiga kabupaten, Toraja Utara, Tana Toraja, dan Enrekang, telah diverifikasi teknis oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Tim verifikasi terdiri dari Pokja Percepatan Perhutanan Sosial (PPS) Sulawesi selatan, Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (BPSKL) wilayah Sulawesi, kesatuan pengelolaan Hutan (KPH) Saddang 1 serta didampingi oleh Program Officer Kabupaten Tana Toraja dan masing-masing Field Officer.

Hasil verifikasi administrasi anggota gabungan kelompok tani hutan di tiga desa tidak mengalami kendala. Sementara untuk verifikasi lapangan/areal yang diusulkan, masih belum diketahui. Namun menurut informasi dari KPH Saddang 1, ada kemungkinan luas usulan mengalami pengurangan. Lokasi-lokasi yang berpotensi mengalami pengurangan seperti areal yang memiliki kemiringan sangat curam, areal yang susah dijangkau oleh anggota masyarakat, serta areal yang masih memiliki tutupan lahan yang masih rapat. Tetapi informasi resmi baru akan disampaikan langsung oleh pihak BPSKL.

Salah satu yang menjadi kendala adalah data tentang Penyelesaian Penguasaan Tanah dalam Kawasan Hutan (PPTKH) terbaru untuk wilayah Sulawesi. Karena berdasarkan Perpres Nomor 88 Tahun 2017, usulan PPTKH yang tidak diterima akan direkomendasikan menjadi perhutanan sosial. Sehingga desa intervensi yang telah dilakukan verifikasi teknis akan menyesuaikan dengan perkembangan PPTKH.

Data PPTKH diperoleh dari Balai Penyiapan Kawasan Hutan (BPKH) Wilayah VII Makassar.

Berdasarkan informasi dari BPSKL, mereka telah bersurat untuk meminta data tersebut dari bulan Januari 2021, namun hingga sekarang belum diberikan. Atas permintaan BPSKL, Kapabel kemudian meminta data secara langsung ke BPKH. Mereka memberikan data, namun hanya sebatas Kabupaten Toraja Utara dan Tana Toraja. Sementara untuk Kabupaten Enrekang belum ada.

Untuk kekurangan data khusus Kabupaten Enrekang, akan ditindaklanjuti oleh BPSKL.

Sementara untuk kabupaten yang telah di verifikasi dan disesuaikan dengan data PPTKH, akan segera dikirim ke KLHK untuk ditindaklanjuti.

1.1.2. Output Meningkatnya Tutupan Lahan

Kegiatan budidaya tanaman umbi berupa porang dilakukan di empat Gapoktanhut yang berada di tiga Desa dampingan program. Jumlah total tanaman porang yang dibudidayakan di tiga Desa intervensi program adalah sebanyak 37.831 bibit dengan rincian 9.560 bibit di budidayakan di Gapoktanhut Sanguyun Kayu, 11.000 bibit dibudidayakan di Gapoktanhut Sangkutu Banne, 8.000 bibit di Gapoktanhut Mesa Penawa, dan 9.271 bibit dibudidayakan di Gapoktanhut Padang Ditulak Tallu.

Kegiatan budidaya porang di masing-masing Gapoktanhut di Tiga Desa intervensi program ini kebanyakan melibatkan kelompok perempuan dalam pengisian polybag.

Jumlah total partisipasi kelompok perempuan dalam kegiatan pengisian polybag di

masing-masing rumah bibit adalah sebanyak 76 orang dengan rincian, sebanyak 14

(7)

orang terlibat Desa Perindingan, 16 orang di desa Randan Batu, 20 orang di Desa Paku, dan 26 orang di Desa Sesesalu.

Salah satu kendala yang dihadapi oleh kelompok dalam kegiatan budidaya porang ini adalah sulitnya mendapatkan campuran media tanam berupa pupuk kandang (kotoran ayam atau kambing yang telah difermentasi). Pupuk kandang untuk campuran media tanam sangat sulit di dapatkan karena masyarakat Tana Toraja sangat jarang yang berternak kambing maupun ayam, sehingga untuk mendapatkan media tersebut, kelompok harus membeli atau memesan di daerah lain.

Pelatihan Teknis Pengolahan Hutan Model Agroforestry

Kabupaten Tana Toraja

Kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam hal ini anggota Gapoktanhut di masing-masing Desa intervensi terkait teknis pengelolaan hutan model agroforestry. Dalam pelatihan ini ada dua output yang diharapkan yakni peserta mampu memahami secara teknis model agroforestry dan peserta mampu memahami proses budidaya pangan hutan khususnya tanaman porang.

Selain pelatihan pengolahan hutan dengan model agroforesty, dalam pelatihan ini, kelompok juga diberi pelatihan tambahan terkait kelembagaan kelompok.

Kegiatan ini terlaksana pada tanggal 28 Oktober 2021 di desa Paku, kecamatan Masanda, kabupaten Tana Toraja. Jumlah peserta yang hadir adalah sebanyak 17 orang yang terdiri dari 13 orang laki-laki dan 4 orang perempuan. Peserta yang hadir pada pelatihan ini merupakan perwakilan dari masing-masing Gapoktanhut di tiga Desa intervensi dan perwakilan dari kesatuan pengelolaan hutan (KPH) Saddang I.

Dalam pelatihan ini, narasumber memberikan soal pre test diawal kegiatan dan post test diakhir kegiatan. Hal ini dilakukan untuk melihat bagaimana pemahaman peserta terkait manfaat dan budidaya dengan pola agroforestri, pengendalian hama dan penyakit serta kelembagaan kelompok diawal kegiatan, serta mengukur sejauh mana peningkatan pemahaman peserta terkait materi tersebut pasca kegiatan berakhir.

Hasil pre test dan post test dari 17 peserta yang hadir dapat dilihat pada gambar

diagram dibawah.

(8)

Gambar 5. Diagram nilai hasil pre-test dan post-test peserta pelatihan

Dari diagram di atas, bisa dilihat bahwa terdapat peningkatan pengetahuan dan pemahamann peserta terkait materi pelatihan yang disampaikan. Nilai rata-rata pre-test yang didapatkan oleh 17 orang peserta pelatihan adalah 29 poin dari 23 soal yang diberikan, dimana setiap soal bernilai 2 poin jika jawabannya tepat. Namun setelah mengikuti pelatihan tersebut, nilai rata-rata post-test dari ke-17 peserta tersebut mengalami peningkatan yakni sebesar 53 poin. Dari hasil tersebut, bisa disimpulkan bahwa persentase peningkatan pemahaman dan pengetahuan peserta dalam pelatihan ini mengalami peningkatan sebesar 140%.

Pelaksanaan kegiatan pelatihan yang dilaksanakan di Desa Paku ini telah terlaksana dengan baik, namun terdapat beberapa kendala yang didapatkan dalam pelaksanaanya.

Berikut beberapa kendala dalam pelaksanaan pertemuan rutin Gapoktanhut :

• Jumlah peserta pertemuan dari empat Gapoktanhut di tiga Desa intervensi terbilang masih kurang dari target yang diharapkan, terutama jumlah partisipasi kelompok perempuan di masing-masing Gapoktanhut.

• Gapoktanhut Padang Ditulak Tallu hanya mengutus dua orang perwakilan sebagai peserta pelatihan.

• Jarak lokasi pelatihan yang cukup jauh dari Desa Perindingan menjadi salah satu alasan kurangnya perwakilan dari Desa tersebut yang hadir.

Kabupaten Toraja Utara

Pelatihan teknis pengelolaan hutan model agroforestry dilakukan di Lembang Sapan Kua-kua pada hari Jumat, 29 Oktober 2021. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan hutan khususnya model agroforestry, agar ilmu ini dapat menjadi dasar dalam pengelolaan areal perhutanan sosial nantinya. Penerima manfaat yang terlibat yakni dari Desa Sapan Kua-kua, Desa Karre Limbong dan Kelurahan Bokin serta KPH Saddang II. Jumlah penerima manfaat yang ikut dalam kegiatan sebanyak 31 orang dengan pembagia laki – laki sebanyak 21 orang dan perempuan sebanyak 10 orang. Para penerima manfaat yang hadir merupakan perwakilan dari anggota kelompok tani hutan pada masing-masing desa intervensi.

Output dari kegiatan ini adalah meningkatnya kapasitas kelompok tani hutan, hal

itu bisa dilihat dari Pra dan Post Test yang dilakukan di awal dan akhir kegiatan

pelatihan. Dari total 31 peserta yang hadir, terdapat 26 orang yang mengisi kuisioner

Pra dan Post Test. Pada proses pelatihan teknis pengelolaan hutan model agroforestry,

peningkatan kapasitas bagi penerima manfaat cukup signifikan, setelah dilakukan Pra

dan Post Test pada saat sebelum pelatihan dan setelah pelatihan. Pada umumnya materi

yang diserap oleh penerima manfaat cukup mudah dipahami karena berkaitan dengan

hal – hal yang terjadi di sekitar mereka. Untuk penilaian terkait peningkatan kapasitas

masyarakat dapat dilihat pada gambar diagram dibawah.

(9)

Gambar 1. Penilaian kapasitas penerima manfaat

Meskipun seperti itu, penerima manfaat yang terlibat dalam kegiatan pelatihan, nantinya akan ditindaklanjuti dalam bentuk diskusi pada tingakt kelompok agar terdapat Transfer Knowledge kepada orang – orang yang tidak ikut dalam kegiatan pelatihan ini.

Need assessment area rehabilitasi hutan

Kabupaten Tana Toraja

Kegiatan pertemuan Need assessment areal rehabilitasi lahan hutan merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum kegiatan rehabilitasi lahan dan hutan yang rencananya akan dilaksanakan pada bulan Februari 2022. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun kesepahaman bersama terkait titik-titik lokasi rehabilitasi hutan dan lahan di tiga Desa intervensi program. Berdasarkan term of reference yang dibuat, kegiatan ini rencananya akan dilaksanakan di tiga Desa intervensi program di minggu terakhir bulan oktober. Namun dalam implementasinya, kegiatan ini hanya terlaksana di Gapoktanhut Padang Ditulak Tallu, di Desa Perindingan.

Pertemuan need assessment areal rehabilitasi lahan hutan dilakukan di Perindingan pada hari Jumat, 29 Oktober 2021. Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk pertemuan dengan melibatkan Gabungan Kelompok Tani Hutan dan KPH Saddang I. Penerima manfaat yang terlibat dalam kegiatan ini sebanyak 20 orang dengan pembagian laki – laki sebanyak 13 orang dan perempuan sebanyak 7 orang.

Output yang diharapkan dari kegiatan ini adalah adanya kesepahaman bersama terkait titik-titik lokasi rehabilitasi di Desa Randan Batu dan Desa Perindingan.

Penentuan titik lokasi ini berdasarkan hasil pemetaan lahan kritis oleh tim dari KAPABEL yang selanjutnya disepakati melalui pemetaan partisipatif oleh setiap anggota Gapoktanhut yang hadir. Pemetaan partisipatif yang dimaksud adalah melakukan identifikasi pemilik lahan kelola, aksesibilitas, dan bentuk topografi lahan yang diusulkan untuk lokasi rehabilitasi.

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50

Penilaian Kapasitas Penerima Manfaat

Pra Test Post Test

(10)

Hasil dari pertemuan ini adalah disepakatinya beberapa titik lahan yang akan menjadi areal rehabilitasi lahan di Desa Randan Batu dan Desa Perindingan. Luas lokasi yang menjadi areal rehabilitasi Gapoktanhut Padang Ditulak Tallu adalah 7 Ha yang tersebar di beberapa titik lokasi. Selanjutnya akan dilakukan identifikasi lanjutan dalam bentuk groundcheck lapangan untuk melihat langsung kondisi lokasi calon area rehabilitasi.

Kabupaten Toraja Utara

Kegiatan Need assessment areal rehabilitasi lahan hutan dilakukan di Desa Sapan Kua-kua pada hari Kamis, 28 Oktober 2021. Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk pertemuan dengan melibatkan Kelompok Tani Hutan dan KPH Saddang II. Penerima manfaat yang terlibat dalam kegiatan ini sebanyak 18 orang dengan pembagian laki – laki sebanyak 12 orang dan perempuan sebanyak 6 orang.

Output dari kegiatan ini adalah adanya lokasi rehabilitasi yang akan direncanakan, dan akan ditindaklanjuti dalam bentuk identifikasi lebih lanjut terkait lokasi tersebut untuk mencari tahu siapa penggarap lahan serta kondisi lahan pada titik yang telah ditentukan.

Pertemuan assessment lokasi rehabilitasi dilakukan di Kelurahan Bokin, pada hari Rabu, 10 November 2021. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk menyepakati titik –titik lokasi penanaman tanaman MPTs. Titik lokasi yang didapatkan merupakan hasil groudcheck dan pemetaan melalui foto udara berdasarkan dari tutupan lahan. Kegiatan pertemuan ini dihadiri oleh anggota kelompok tani hutan dengan jumlah 19 orang, dengan pembagian laki-laki sebanyak 10 orang dan perempuan sebanyak 9 orang.

Output yang dihasilkan dari pertemuan ini adalah titik – titik lokasi penanaman yang dilakukan secara menyebar pada masing-masing anggota kelompok tani hutan serta pembagian bibit dilakukan secara merata untuk masing-masing anggota kelompok tani hutan, namun tetap mempertimbangkan tutupan lahan yang terbuka serta lokasi kemiringan yang curam.

1.2. Outcome : Penguatan Aktor dan Skema Kelembagaan Perhutanan Sosial dalam Mendukung Adaptasi Perubahan Iklim

1.2.3.Output Meningkatnya Dukungan Para Pihak dalam Mendorong Skema Perhutanan Sosial

Perhutanan Sosial berbasis pangan hutan sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim merupakan program yang melibatkan berbagai pihak dalam implementasinya. Pihak terkait mulai dari tingkat pusat di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Hidup (BPSKL), Balai Penanggulangan Bencana Alam (BPII), Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (BAPPELITBANGDA) tingkat provinsi dan kabupaten, Dinas Kehutanan Sulawesi Selatan Sulawesi Selatan, Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup Sulawesi Selatan (DPLH) tingkat provinsi dan kabupaten, Balai Pengelola Daerah Aliran Sungai (BPDAS), Badan Penanggulangan Bencana Daerah tingkat provinsi dan kabupaten, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan di tingkat provinsi dan kabupaten dan Kelompok Kerja Percepatan Perhutanan Sosial (POKJA PPS).

POKJA PPS merupakan wadah para pihak dari unsur pemerintah, Organisasi Masyarakat Sipil (OPS), dan swasta. Unsur pemerintah terdiri dari OPD terkait dengan Perhutanan Sosial baik di tingkat regional maupun di tingkat provinsi.

(11)

FGD Rutin Pemantauan Capaian Tim Pokja PPS

Kegiatan sosialisasi Permen LHK no. 9 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Perhutanan Sosial dan Rencana Pembangunan Integrated Area Development (IAD) serta Technopark dilakukan pada tanggal 23 November 2021 bertempat di Hotel Four Point Makassar. Kegiatan ini melibatkan Pokja PPS Sulawesi Selatan, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) se Sulawesi selatan, Badan Perencanaan dan Penelitian Pengembangan Pembangunan Daerah Provinsi dan Kabupaten se-Sulawesi Selatan, Dinas Kehutanan Sulawesi Selatan dan Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan wilayah Sulawesi.

Kegiatan ini dilakukan dengan hibryd dengan pertimbangan protokol kesehatan tetapi tetap melibatkan banyak pihak. Ada tiga sesi dalam kegiatan ini, pertama sosialisasi garis besar Permen LHK nomor 9 Tahun 2021 sekaligus penyampaian konsep Integrated Area Development (IAD), pembentukan pokja PPS di Tingkat Kabupaten, dan ketiga pemaparan konsep Technopark.

Sosialisasi Permen LHK nomor 9 Tahun 2021 dibawakan langsung oleh Ibu Enik selaku PLT direktur Penyiapan Kawasan Perhutanan Sosial (PKPS) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Adapun garis besar Permen LHK nomor 9 tahun 2021 sebagai berikut:

• Struktur Permen LHK Nomor 9 Tahun 2021

• 5 skema perhutanan sosial

• Ruang lingkup

• Peta indikatif perhutanan sosial (PIAPS)

• Bentuk akses legal pengelolaan PS

• Persetujuan/izin pengelolaan masing-masing skema

• Tata cara permohonan kemitraan kehutanan pelaksanaan pendamping

• Percepatan pengelolaan perhutanan sosial.

Sesi ke dua yaitu sosialisasi pembentukan PS ditingkat Kabupaten yang dibawakan oleh Dr.

Ir. Syamsul Rijal S.Hut, MP. sebagai Sekretaris Pokja Percepatan Perhutanan Sosial Sulawesi Selatan dan Ridwan S.Hut, Msc sebagai ketua bidang pembentukan Pokja PPS Kabupaten.

Diawal, Syamsu Rijal sebagai pembicara pertama menyampaikan bahwa dalam rangka percepatan perhutanan sosial sebagai salah satu nawa cita Presiden, telah dibentuk Pokja Nasional yang diketuai langsung oleh Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi (Kemenko Marvest). Hal ini merupakan upaya dalam membangun kerja sama dengan kementerian lain yang terkait untuk mengintegrasikan dengan perhutanan sosial.

Sementara untuk ditingkat provinsi, juga diarahkan untuk pembentukan Pokja PPS. Hal ini merupakan arahan dari Permen LHK Nomor 9 Tahun 2021 dan aturan sebelumnya. Sementara ditingkat Kabupaten Kota, memang tidak ada aturan yang menegaskan pembentukan Pokja PPS.

Namun tidak berarti pembentukan Pokja juga dilarang untuk dibentuk ditingkat Kabupaten.

Karena saat ini telah ada beberapa edaran mulai dari edaran Kemendagri nomor 552/2020 tentang pelibatan pemerintah kabupaten dalam program perhutanan sosial serta edaran gubernur nomor 552/2021 tentang kewajiban Pemerintah Kabupaten/Kota untuk melaporkan perkembangan perhutanan sosial secara berkala.

Saat ini, tiga kabupaten intervensi tengah dilakukan penjajakan untuk pembentukan kelompok kerja perhutanan sosial ditingkat kabupaten yaitu kabupaten Enrekang, kabupaten Tana Toraja dan kabupaten Toraja Utara. Proses penjajakan melibatkan beberapa pihak seperti Tim Gabungan Upaya Percepatan Pembangunan (TGUPP) Sulawesi Selatan, Kelompok Kerja Percepatan Perhutanan Sosial (Pokja PPS) Sulawesi Selatan, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH).

Penjajakan dimulai dengan membangun komunikasi dengan para Bupati di tiga Kabupaten lalu berlanjut ke Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang terkait seperti Badan Perencanaan Pembangunan, penelitian dan Pengembangan Daerah, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pertanian, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, dan Dinas Ketahanan Pangan.

Sesi terakhir yaitu sosialisasi Technopark Perhutanan Sosial di Sulawesi Selatan yang dibawakan oleh Prof. Dr. Supratman Suyuti, S.Hut, MP. Technopark merupakan area terintegrasi

(12)

untuk penelitian, pengembangan dan komersialisasi produk hasil hutan yang masuk dalam program perhutanan sosial. Wilayah yang diusulkan akan menjadi laboratorium program perhutanan sosial.

Adapun tujuan dari Technopark yaitu membangun site evidance tata kelola perhutanan sosial di Sulawesi selatan seperti kegiatan pemberdayaan masyarakat, menciptakan pendapatan, pembangunan wilayah pedesaan, serta praktik manajemen hutan secara lestari. Hal ini dianggap sebagai inovasi yang diharapkan berhasil karena ada yang mendampingi yaitu Perguruan Tinggi, Dinas Kehutanan/ KPH dan Lembaga Swadaya Masyarakat.

Workshop Pengelolaan dan Pemanfaatan Sumber Daya Berkelanjutan di Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara

Sejak kewenangan kehutanan di Kabupaten ditarik ke Provinsi melalui UU Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah, sejak saat itu kehutanan menjadi isu sektoral. Pemerintah kabupaten tidak lagi terlibat dalam kegiatan kehutanan termasuk program Perhutanan Sosial yang telah dicanangkan pemerintah pusat sejak tahun 2014. Terbukti dari 12,7 juta hektar yang ditargetkan oleh Presiden Joko Widodo, baru sekitar 40% yang terealisasi hingga tahun 2021.

Hal ini diperkuat setelah Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (BPSKL) wilayah Sulawesi bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin melakukan evaluasi terhadap izin PS yang telah dikelola di atas lima tahun. Hasilnya keberhasilan masih di bawah 10%. Salah satu penyebabnya adalah kebijakan khususnya kebijakan di tingkat kabupaten.

Ketidakterlibatan Pemerintah Kabupaten dalam program perhutanan sosial bisa terlihat dari ketidaktahuan mereka tentang program PS itu sendiri. Bahkan dalam beberapa pertemuan yang di Inisiasi oleh Kapabel, beberapa perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tidak tahu sama sekali dengan istilah PS apalagi skim turunannya. Hal ini tentu menjadi hambatan sekaligus tantangan bagi Kapabel dalam mendorong pengelolaan hutan secara partisipatif dan berkelanjutan utamanya di tingkat pemerintah kabupaten.

Salah satu cara yang dilakukan dalam mendorong keterlibatan pemerintah daerah pada program PS adalah dengan melakukan kegiatan-kegiatan pertemuan guna membangun kesepahaman khususnya dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. hal ini dianggap titik temu antara para pemegang kepentingan di mana instansi kehutanan baik dinas kehutanan provinsi maupun kementerian akan berfokus pada hutan dan masyarakatnya serta pemerintah kabupaten akan lebih banyak terlibat pada masyarakatnya khususnya yang berkaitan dengan peningkatan kesejahteraannya.

Salah satu yang dilakukan yaitu dengan menggelar workshop pengelolaan dan pemanfaatan hutan secara berkelanjutan. Kegiatan ini dilaksanakan di dua kabupaten yaitu, Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara. Berikut laporan kegiatan di masing-masing kabupaten:

Kabupaten Tana Toraja

Workshop Pengelolaan dan Pemanfaatan Hutan Berkelanjutan di Kabupaten Tana Toraja dilaksanakan pada hari kamis tanggal 15 Desember 2021 bertempat di Hotel Pantan Makalae.

Kegiatan ini dihadiri sebanyak 43 orang yang terdiri dari BPSKL, KPH Saddang, sekretaris POKJA PPS Sulsel, perwakilan TGUPP, 25 dari OPD Kabupaten Tana Toraja, 4 orang kepala desa, dan dari perwakilan Gapoktanhut dan KTH.

Workshop dibuka oleh Sekretaris Kabupaten Tana Toraja yang juga berlatar belakang kehutanan. Sehingga dia menyambut baik fasilitasi Kapabel dalam mendorong pengelolaan dan pemanfaatan hutan yang partisipasi dan berkelanjutan di Kabupaten Tana Toraja. Kegiatan workshop ini adalah upaya KPH mendorong pengelolaan hutan berkelanjutan yang fokus pada skema Perhutanan Sosial. Dalam sambutan Sekda Tana Toraja menyampaikan bahwa:

“Orang Toraja dari dulu sudah hidup di sekitar dan di dalam kawasan hutan. Kawasan hutan Toraja memiliki fungsi. Fungsi hutan lindung memiliki porsi yang terbanyak, hutan

(13)

produksi tetap paling sedikit dibanding dengan hutan produksi terbatas Kedua fungsi hutan produksi ini berbatasan langsung dengan hutan lindung. Tiga tahun sejak terbitnya SK. 362 tercantum ada kawasan konservasi di daerah barat kurang lebih 4.400 ha yang rencananya untuk TAHURA (Tanaman Hutan Raya).

Jadi memang kami ini masyarakat Toraja sudah terbiasa hidup di sekitar hutan di dalam kawasan hutan dan berinteraksi dengan hutan. Masyarakat Toraja memang ramah dengan lingkungannya karena kalau masyarakat marah dengan lingkungan pasti akan terjadi bencana. Dengan program pemerintah sekarang bagaimana mengelola dan memanfaatkan hutan yang berkelanjutan maka tentu kita harus melihat seperti apa rumah pengelolaannya, kelembagaannya, siapa yang ada dalam rumah ini, apa yang akan dikerjakan. Misalnya, rumahnya Perhutanan Sosial, kelompoknya mungkin semua orang tetapi apa yang akan dikerjakan di dalamnya. Inilah saatnya kita menyamakan visi dan misi untuk percepatan pengelolaan Perhutanan Sosial. Perlu kita pertimbangkan juga dalam memberikan izin PS harus berdasarkan wilayah masing-masing untuk menghindari gesekan atau konflik sosial yang ada di lapangan.

Terkait anggaran kami harapkan ada anggaran pemberdayaan masyarakat lembang (desa) khususnya dari Anggaran Dana Desa (ADD) ada yang di porsikan untuk anggaran pengelolaan lingkungan dan Perhutanan Sosial. Kepala Desa diharapkan memperhatikan dan mengakomodir kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan karena kalau ini berkelanjutan pasti kesejahteraan hadir ditengah-tengah masyarakat. Maka dari sinilah tujuan workshop ini kita memulai perencanaan- perencanaan, apa yang kita akan lakukan, kapan ini dimulai dan siapa saja yang akan terlibat ini yang perlu dipikirkan supaya ada output dari kegiatan ini, ada roadmap yang kita pedomani dalam memberikan kita arah kebijakan yang akan kita kerjakan.

Kami berharap dengan adanya POKJA PS ini akan banyak terbentuk usaha-usaha baru tetapi kita juga perlu memikirkan pemasarannya karena jangan sampai sudah ada produksi dan kita tidak tahu akan dipasarkan ke mana.”

Konsep pengelolaan dan pemanfaatan hutan berkelanjutan yang menjadi model seperti di Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi menjadi percontohan. Neneng Susanti, kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah KPH Kerinci, memaparkan pengalamannya dalam pengelolaan KPH Kerinci.

Pemaparan Neneng Susanti seputar upaya KPH mendorong pengelolaan hutan berkelanjutan yang difokuskan pada skema Perhutanan Sagar bisa dinikmati bukan hanya sekarang tapi juga dinikmati di masa mendatang. Selain itu, perlu juga membangun legalitas yang baik. “Kami berupaya mewujudkan bagaimana kawasan perhutanan sosial dapat memberi nilai tambah terhadap produk masyarakat”.

Materi kedua terkait kondisi Pengelolaan Hutan di Sulawesi Selatan dibawakan oleh Marten Papang dari BPSKL. Gambaran pengelolaan hutan di provinsi Sulawesi Selatan dan Kabupaten Tana Toraja. Saat ini Payung Hukum Penyelenggaraan Perhutanan Sosial UU Cipta Kerja Tahun 2020, PP NO. 23 Tahun 2021 tentang penyelenggaraan Kehutanan dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 9 Tahun 2021 Tentang Pengelolaan Perhutanan Sosial. Dari 12,7 juta ha target pemerintah untuk luasan PS sampai saat ini yang sudah terealisasi sekitar baru 4,5 juta ha, jadi masih banyak target yang harus tercapai pada tahun 2024.

Khususnya di Sulawesi selatan luasan PIAPS seluas 271.164 ha tersebar di 23 kab/kota.

Khususnya di Tana Toraja luas PIAPS 15,677 ha dan Toraja Utara seluas 2,352 ha.

Materi kedua dilanjutkan Kepala KPH Saddang II oleh Kornelia. Skema perhutanan sosial dapat diwujudkan melalui KUPS dan sudah beberapa KUPS yang terbentuk di wilayah perhutanan sosial yaitu madu & kopi yang memiliki kesamaan dengan potensi yang ada di Kabupaten Tana Toraja.

“Ada beberapa kendala dalam membangun pola kerja sama dengan masyarakat. tetapi hal itu tidak kemudian menyurutkan semangat dalam mendorong PS. Salah satu cara yang dilakukan adalah melalui kelompok perempuan (ibu-ibu). Dengan memberdayakan perempuan

(14)

kita bisa melakukan pendekatan kepada masyarakat sehingga dapat meningkatkan semangat anggota kelompok untuk melakukan budidaya lebah madu”.

Kawasan perhutanan sosial tidak hanya berbicara tentang kopi ataupun madu, tetapi juga ada konflik yang harus diselesaikan seperti penebangan liar, kebakaran hutan, dan perburuan satwa liar. Perlakuan yang diberikan terhadap semua kelompok itu sama namun di dalam kelompok tersebut memiliki karakter yang berbeda-beda sehingga dibutuhkan teknik dan metode adaptif yang bersifat kolaboratif. Hal inilah yang menjadi strategi utama dalam melakukan penguatan perhutanan sosial. Gambaran dari pengelolaan di KPH Kerinci dapat menjadi contoh yang baik untuk dilakukan di Kabupaten Tana Toraja.

KPH Saddang I yang juga masuk dalam wilayah administrasi Tana Toraja memiliki luas wilayah Kelola 110.618 ha yang terbagi dua dalam fungsinya yaitu sebagai hutan lindung dengan luas 91.088 ha dan hutan produksi terbatas dengan luas 19.530 ha. Fungsi ini nantinya akan mengalami perubahan berdasarkan SK.362 yang rencananya akan diusulkan menjadi Tahura (Tanaman Hutan Raya) jadi bukan lagi konservasi. Berdasarkan visi misi pengelolaan hutan di KPH Saddang I yang selama ini selaras dengan PS yaitu “Terwujudnya Hutan Lestari Berbasis Tallu Lolonna”. Visi ini sesuai dengan budaya Toraja yang menganut paham memelihara lingkungan dengan tiga unsur yaitu manusia, hewan, dan tumbuhan.

Penataan Hutan KPH Saddang 1 sudah dibagi beberapa blok di antaranya :

➢ Hutan Lindung Blok Inti = 25.538 Ha

Blok Pemanfaatan = 65.551 Ha

➢ Hutan Produksi Terbatas :

Blok Pemberdayaan Masyarakat = 17.908 Ha Blok Perlindungan = 300 Ha

Blok Khusus = 610 Ha

Blok Pemanfaatan Kawasan Jasa Lingkungan dan HHBK =711 Ha

Dalam area Kawasan hutan lindung yang ada di KPH SADDANG I terdapat berbagai potensi, misalnya potensi HHBK ada aren, kopi, madu geta pinus, dan bambu. Potensi silvopstur, potensi wisata alam Pango-Pango, Kebun Raya Mapongka, Wisata Pinus Poneam, dan Wisata Air Terjun Pong Toding.

Blok Pemberdayaan Masyarakat UPT KPH SADDANG I seluas: 17.908 HA yang terdiri dari:

1. Terbit Ijin PS : 2.101 Ha 2. Verifikasi : 1.272 Ha 3. Fasilitasi : 2.801,78 Ha

4. Areal yang belum diusulkan : 11.733,22 Ha

5. Jumlah KK yang terlibat pada areal yang sudah berizin: 587 KK.

Dalam proses diskusi, peserta dari masyarakat yang mewakili Gabungan Kelompok Tani Hutan mengajukan pertanyaan dan tanggapan terkait dengan peningkatan kapasitas petani.

Kristian T. Loloallo, Gapoktanhut Padang Ditolka Tallu, menyampaikan bahwa lembang randung batu salah satu lembang penghasil kopi di Tana Toraja tetapi minimnya pendampingan dari pihak terkait atau OPD terkait sehingga pengetahuan petani tentang cara pemetikan kopi masih kurang, ada yang memetik buat saat masih kuning merah bahkan yang masih hijau. Nanti setelah ada pendampingan dari KAPABEL, petani kopi baru memahami bagaimana meningkatkan kualitas kopi melalui teknik pemanenan yang baik. Petani sangat mengharapkan adanya keberlanjutan pendamping setelah KAPABEL ini, dan juga mengharapkan adanya kunjungan langsung dari instansi terkait untuk melihat kondisi di lapangan.

Sama halnya yang disampaikan Hasan Natan, Ketua KTH Mamase Parindingan, mengharapkan bahwa instansi terkait dengan komoditi kopi dapat berperan dalam menghubungkan dengan pasar kopi atau distributor. Harga kopi di petani sering dipermainkan oleh tengkulak atau pengepul yang ada di Parindingan. Dengan adanya KAPABEL melalui program Adaptation Fund yang telah memfasilitasi peralatan dan perlengkapan produksi kopi kelompok home industry di Lembang Parindingan dan Lembang Randan Batu. Petani berharap

(15)

bahwa program Adaptation Fund menjadi contoh bagi pemerintah kabupaten dalam melaksanakan program-program pendampingan di pedesaan.

Kabupaten Toraja Utara

Workshop pengelolaan dan pemanfaatan hutan berkelanjutan di Kabupaten Toraja Utara dihadiri dan dibuka Bupati Toraja Utara, Yohanis Bassang. Secara keseluruhan, kegiatan ini dihadiri oleh 52 orang perwakilan dari 28 Instansi atau OPD Pemerintah Toraja Utara, TGUPP, perwakilan Pokja PPS, BPSKL, KPH Saddang II.

Sama halnya dengan pelaksanaan di Tana Toraja, kegiatan workshop dilakukan dengan tiga sesi. Sesi pertama pemaparan konsep pengelolaan hutan berkelanjutan melalui skema perhutanan sosial di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang dibawakan oleh Madani Mukarrom selaku Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sesi kedua pemaparan kondisi kehutanan provinsi Sulawesi Selatan yang dibawakan oleh Marten Mappang selaku Kepala Seksi Penyiapan Kawan Perhutanan Sosial BPSKL Wilayah Sulawesi bersama dengan Gazali selaku Kepala KPH Saddang II yang memaparkan kondisi perhutanan sosial di kabuapten Toraja Utara.

Terakhir, pemaparan perkembangan program Adaptasi Masyarakat Ekosistem DAS Saddang Berbasis Pangan Hutan yang disampaikan oleh Program Manajer Hulu.

Pada sesi pertama, madani menyampaikan Isu strategis LHK Nusa Tenggara Barat yaitu belum optimalnya operasionalisasi lembaga pengelolaan hutan sehingga dilakukan upaya komunikasi dengan pemimpin atau gubernur untuk meninjau kondisi hutan, SDM, & sarana prasarana, mengukuhkan program LHK dalam RPJMD Nusa Tenggara Barat kemudian melakukan penguatan regulasi, SDM, anggaran, serta fasilitas. Dampak yang akan di dapatkan Ketika memperkuat KPH & KTH yaitu indeks kualitas tutupan lahan / hutan akan meningkat &

menumbuhkan produk industrialisasi HHBK

Sesi kedua lebih banyak menjelaskan tentang pergantian kebijakan seperti yang Payung Hukum Penyelenggaraan Perhutanan Sosial UU Cipta Kerja Tahun 2020, PP NO. 23 Tahun 2021 tentang penyelenggaraan Kehutanan dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 9 Tahun 2021 Tentang Pengelolaan Perhutanan Sosial.

Dari 12,7 juta ha target pemerintah untuk luasan Perhutanan Sosial sampai saat ini yang sudah terealisasi sekitar baru 4,5 juta ha, jadi masih banyak target yang harus dicapai sampai pada tahun 2024. Khususnya di Sulawesi selatan luasan PIAPS seluas 271.164 ha tersebar di 23 kab/kota. Khususnya di Tana Toraja luas PIAPS 15,677 ha dan Toraja Utara seluas 2,352 ha.

Pada sesi ketiga, KPH lebih banyak menyampaikan tantang yang dihadapi di lapangan seperti:

a. Pemahaman kelompok perhutanan sosial terhadap hak dan kewajiban dalam izin perhutanan sosial masih rendah.

b. Banyak yang tidak aktif memanfaatkan izin karena lokasi hutan yang jauh dari tempat tinggalnya.

c. Kelembagaan kelompok yang tidak sesuai izin

d. Kurang kreativitas dalam mengelola lahan serta bergantung dengan bantuan pemerintah.

e. Batas area pengelolaan yang tidak jelas.

f. Bantuan sarana dan prasarana yang diberikan tidak dimanfaatkan dengan baik.

(16)

1.3. Outcome: Meningkatnya Pendapatan Masyarakat dari Pangan Hutan di Hulu DAS Saddang

1.3.1. Output: Meningkatnya Keterampilan Kelompok Tani Hutan, Perempuan dan Kelompok Rentan dalam Mengelola Pangan Hutan Berkelanjutan

Kegiatan dalam pencapaian output ini pada kuartal 5 berhubungan dengan peningkatan kapasitas anggota home industry. Anggota home industry adalah umumnya perempuan dan kelompok rentan. Peningkatan kapasitas anggota home industry fokus pada pengolahan produk pangan dan manajemen usaha kelompok.

Pelatihan Enterpreneurship

Pelatihan kewirausahaan dilakukan untuk meningkatkan kapasitas kelompok home industry di masing-masing desa intervensi program terkait kewirausahaan. Pelatihan ini dilaksanakan semalam 3 (tiga) hari, yakni pada tanggal 29 November sampai 1 Desember 2021 di Hotel Misiliana, Toraja Utara. Peserta yang terlibat dalam pelatihan ini adalah perwakilan dari setiap Gapoktanhut dan juga kelompok home industry dari masing-masing desa intervensi program di Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara. Jumlah total peserta yang hadir pada kegiatan pelatihan tersebut baik dari Tana Toraja maupun Toraja Utara adalah sebanyak 38 orang yang terdiri dari 22 orang laki-laki dan 13 orang perempuan.

Pada hari pertama pelatihan, peserta menerima 3 muatan materi yang semuanya dibawakan oleh pak Hariadi yang merupakan penyuluh pertanian Kabupaten Tana Toraja. Sesi pertama peserta diberikan gambaran dan motivasi untuk berwirausaha untuk menumbuhkan minat dan dorongan untuk memulai usaha. Sesi kedua peserta menerima materi tentang membedah kesalahan-kesalahan dalam memulai usaha, khususnya dalam usaha kopi.

Selanjutnya pada sesi ketiga, peserta menerima materi tentang peluang usaha kopi di Sulawesi Selatan secara umum, dan di Tana Toraja secara khusus.

Metode yang digunakan pada pelatihan hari pertama adalah pemaparan materi, Focus Group Discussion (FGD) dan juga simulasi. Dalam setiap sesi fasilitator dan juga pemateri sebisa mungkin mengusahakan setiap peserta aktif bertanya, berbagi pengalaman dan juga dalam FGD.

(17)

Hari kedua pelatihan, peserta juga menerima 3 muatan materi yang dibawakan oleh Communal coffee yang merupakan salah satu pelaku usaha dari Jawa Barat. Pada sesi pertama hari kedua, peserta menerima materi terkait social entrepreneurship. Dalam materi ini, peserta diberikan pemahaman awal tentang kewirausahaan sosial berbasis masyarakat.

Selanjutnya pada sesi kedua hari kedua, peserta menerima materi tentang bagaimana membangun model bisnis berbasis komunitas di masyarakat, dan pada sesi ketiga hari kedua, peserta menerima materi tentang manajemen dan pengembangan usaha. Pada materi ini peserta diberikan pemahaman tentang pembagian struktur kerja dalam suatu bisnis atau usaha, bagaimana menyusun dan membuat rencana strategi bisnis, melihat peluang pasar, serta bagaimana peluang kelompok memperoleh modal usaha dari luar.

Metode yang digunakan pada hari kedua pelatihan kewirausahaan ini adalah metode pemaparan materi, sharing session, dan focus group discussion (FGD).

Hari terakhir pelatihan, peserta hanya menerima 2 muatan materi yakni tentang bagaimana membuat rencana bisnis dalam suatu usaha atau bisnis yang difasilitasi langsung oleh communal coffee dan materi tentang pencatatan administrasi dan keuangan dalam suatu usaha yang difasilitasi oleh PMU Kapabel. Metode yang digunakan pada hari terakhir pelatihan adalah metode FGD, di mana setiap peserta membentuk kelompok berdasarkan kelompok usaha untuk sama-sama menyusun perencanaan bisnis dan model pencatatan administrasi suatu usaha.

1.3.2 Output: Tersedianya sarana dan prasaran teknologi pengolahan pangan hutan Kegiatan pada kuartal 5 ini fokus pada pembentukan Home Industry dengan target penerima manfaat adalah kelompok rentan dan kelompok perempuan. Kelompok Home Industry ini didesain akan menjadi Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) dalam skema kebijakan perhutanan sosial. Kegiatan penulisan modul teknis pengoperasian dan perawatan peralatan masih terlaksana hingga saat ini dan rencananya baru akan rampung pada awal bulan Februari 2022. Keterlambatan ini disebabkan beberapa peralatan home indutsry seperti mesin pengolahan baru akan tiba di desa pada bulan Januari dan Februari 2022.

Menurut tim penulis modul, perkembangan hingga saat ini sudah mencapai 30 % yang meliputi bagian-bagian umum dalam modul. Untuk bagian penjelasan mesin, sudah ada beberapa seperti pengolahan gula aren cair dan madu.

Pengadaan Peralatan Home Industry

Kegiatan ini bertujuan untuk mengadakan peralatan Home Industry yang nantinya akan menunjang aktivitas pengurus dan anggota kelompok dalam mengolah suatu komoditi menjadi produk yang bernilai ekonomi. Berdasarkan hasil kesepakatan kelompok melalui pertemuan rutin Gapoktanhut, ada dua jenis peralatan yang akan diadakan yakni peralatan pengolahan kopi untuk Kelompok Usaha Sangkutu Banne, Mesa Penawa, dan Padang Ditulak Tallu dan peralatan lebah madu Trigona untuk Kelompok Usaha Sanguyun Kayu.

Saat ini program manajemen unit Kapabel tengah melakukan pembelian peralatan pengolahan kopi berupa mesin huller, pulper, dan mesin pengemasan untuk masing-masing home industry di tiga Desa intervensi program. Berdasarkan kesepakatan dengan vendor, pengiriman peralatan tersebut dijadwalkan akan dikirim pada tanggal 24 November 2021 dan tiba di masing-masing rumah produksi pada tanggal 25-26 November 2021.

Fasilitasi Penyusunan Modul Teknis Pengoperasioan dan Maintenance

Aktivitas fasilitasi penyusunan modul teknis pengoperasian dan perawatan peralatan merupakan penunjang kegiatan pengolahan produk pangan hutan di masing-masing home

(18)

industry. Modul inilah yang menjadi acuan para anggota home industry untuk mengoperasikan segala peralatan termasuk mesin pengolahan serta proses perawatannya.

Modul ini akan disusun setelah pengadaan mesin dilakukan di masing-masing home industry sehingga akan memperoleh akurasi yang tinggi dalam hal pengoperasiaan. Target penyebaran modul bukan hanya untuk kelompok home industry dampingan melainkan juga juga untuk kelompok PS di luar dari wilayah intervensi. Hal ini dilakukan sebagai upaya dalam mendorong usaha produk olahan pangan hutan.

Tanggal 14 Oktober, dilakukan pertemuan dengan tim penulis modul yang bertempat di kantor Tim Layanan Kehutanan Masyarakat. pertemuan ini dihadiri oleh saya sendiri, Kordiantor Program, Manajer Diseminasi dan Tim Penulis Modul yaitu Nurdin Dalya dan Andi Vika Faradiba. Agenda pertemuan adalah pembahasan persiapan penulisan modul teknis pengoperasian dan perawatan peralatan.

Penulisan modul awalnya direncanakan pada bulan September namun tertunda akibat pembelian peralatan home industry baru dilakukan di bulan Oktober. Sehingga penulisan baru akan dimulai pada bulan Oktober.

Peralatan yang akan dimuat dalam modul ini adalah peralatan pengolahan untuk lima komoditas pangan hutan yaitu: Kopi, madu, kemiri, gadung dan gula aren cair.

Setelah selesai, modul akan diterbitkan oleh Tim Layanan Kehutanan Masyarakat dan akan dibagikan ke kelompok tani hutan serta instansi kehutanan seperti Dinas Kehutanan, Kesatuan Pengelolaan Hutan, Dinas Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan dan Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan. Secara keseluruhan modul yang akan dicetak sebanyak 125 eksemplar.

Kegiatan penulisan modul teknis pengoperasian dan perawatan peralatan masih terlaksana hingga saat ini dan rencananya baru akan rampung pada awal bulan Februari 2022. Keterlambatan ini disebabkan beberapa peralatan home indutsty seperti mesin pengolahan baru akan tiba di desa pada bulan Januari dan Februari 2022.

Menurut tim penulis modul, perkembangan hingga saat ini sudah mencapai 30 % yang meliputi bagian-bagian umum dalam modul. Untuk bagian penjelasan mesin, sudah ada beberapa seperti pengolahan gula aren cair dan madu.

1.3.3 Output: Terserapnya Produk Pangan Hutan ke Pasar Study Supply Chain and Value Chain

Setelah pertemuan yang dilakukan pada tanggal 26 september 2021, tim enumerator berangkat ke kabupaten intervensi pada tanggal 29 September dan memulai pengumpulan data. Mereka melakukan pengumpulan data sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan sebelumnya.

Tim survey melakukan pengumpulan data didampingi oleh field officer masing-masing desa. Pengumpulan data untuk komoditas kemiri, gadung, gula aren dan madu rampung pada tanggal 26 Oktober. Sementara khusus komoditas kopi baru rampung di minggu pertama November. Hal ini dikarenakan jumlah responden yang cukup banyak dan tersebar di lima Desa.

Penulisan laporan kajian supply chain untuk masing-masing komoditas telah dimulai diakhir Oktober dan rampung pada minggu ke dua November.

Tabel 1. Jenis Produk yang Akan dikembangkan di Masing-Masing Home industry

No Kabupaten Desa Jenis Produk

1 Toraja Utara Karre Limbong Madu

2 Sapan Kua-kua Kopi dan Madu

3 Bokin Kopi dan Madu

(19)

No Kabupaten Desa Jenis Produk

4 Tana Toraja Randan batu Kopi

5 Paku Kopi

6 Sese Salu Kopi

7 Enrekang Tungka Gadung

8 Ranga Kemiri

9 Paladang Gula Aren Cair

10 Pundilemo Gula Aren Cair

Diseminasi Study Supply Chain and Value Chain Produk Pangan Hutan

Desiminasi study supply chain and value chain produk pangan hutan dilakukan pada bulan Desember. Kegiatan ini harusnya terlaksana pada akhir bulan November namun para tim penulis modul tengah mengikuti seleksi calon pegawai negeri sipil. Selain itu, sebelum kegiatan desiminasi, terlebih dahulu akan dilakukan kegiatan workshop pengelolaan hutan yang berkelanjutan di Kabupaten Tanah Toraja dan Toraja Utara serta pelatihan Kewirausahaan di kabupaten Enrekang.

Desiminasi study supply chain and value chain produk pangan hutan dilakukan di dua lokasi yaitu Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Toraja Utara. Desiminasi di kabupaten Enrekang khusus menyampaikan tiga produk yaitu kemiri, gadung dan gula aren cair.

Sementara desiminasi di kabupaten Toraja Utara memaparkan dua produk yaitu kopi dan madu. Beberapa menjadi poin penting hasil studi supply and value chain produk pangan hutan adalah sebagai berikut:

A. Madu

Peningkatan nilai tambah pada komoditas madu dapat dilakukan dengan cara mendorong ke dalam pasar retail, pasar online dan lain-lain.

Adapun persyaratan untuk memperbesar pasar antara lain:

1. P-IRT

2. Produksi dalam skala besar

3. Spesifikasi produk yang bisa menimbulkan diferensiasi bagi konsumen: Kemasan, Harga, dan Saluran promosi.

4. Distribusi barang, saluran distribusi: agen penjualan, periklanan online B. Kopi

Keunggulan yang dimiliki oleh petani kopi di Toraja yaitu tidak menjual cherry. Sehingga pada musim panen kopi, harga kopi relatif tinggi. Kopi yang dibeli dari warga kemudian dipasarkan dengan brand tertentu. Sebanyak 90% kopi dipasarkan dalam negeri, sedangkan 10% dipasarkan di luar negeri. Untuk PT. Sulutco (Group Kopi Kapal Api)

Besaran nilai tambah kopi petani berdasarkan pada:

1. Harga beli

2. Bentuk produk bergantung pada 3 perusahaan besar di tana toraja dan toraja utara (PT. Toarco, PT. Sulutco, KUD Sane)

Permasalahan pada kopi:

1. Iklim, curah hujan yang tinggi mempengaruhi pembuahan pada kopi

2. Mayoritas tanaman kopi yang dimiliki oleh warga sudah tua sehingga produktifitasnya sudah mulai menurun.

Potensi pasar:

1. Roastery 2. Coffee Shop 3. Konsumen akhir

(20)

Saluran Pemasaran (Perantara):

1. Online market 2. Ritel

3. Toko Oleh-oleh C. Gadung

Menurut warga setempat, gadung merupakan komoditas yang dulunya merupakan sumber pangan utama, sebelum ada padi. Gadung belum termasuk tanaman budidaya dan belum dikomersialisasikan atau diperjualbelikan. Karena tidak diperdagangkan, maka sulit mengidentifikasi rantai nilai komoditas ini sebab tidak ada pasarnya, tidak ada biaya produksi, tidak ada harga, dan tidak ada keuntungan.

Terdapat satu orang yang pernah mengolah gadung menjadi produk keripik dan sokko.

Namun ia tidak memproduksi lagi karena kurang laku di pasar. Sementara di Pulau Jawa, pengolahan gadung menjadi terigu dan keripik sudah berlangsung lama dan masih bertahan hingga saat ini.

Dalam kajian ini yang menjadi rekomendasi yaitu menginisiasi kegiatan budidaya untuk memenuhi persediaan bahan baku jika potensi pemasaran produk turunan gadung mengalami peningkatan.

D. Kemiri

Rantai nilai komoditas kemiri di Kabupaten Enrekang hanya terdapat satu tempat penjualan yaitu di jalan industri. Pengusaha kemiri lalu menjual ke Papua dan Makassar. Yang menentukan harga beli di petani adalah standar kualitas.

Kemiri hanya dapat dipanen 1 kali dalam setahun. Sedangkan yang mempengaruhi pendapatan dari petani kemiri adalah harga dan volume yang dihasilkan. Kendala yang ditemukan dari masyarakat adalah proses pemecahan kemiri yang dilakukan masih manual, menumbuk biji kemiri dengan menggunakan alat batu atau palu. Proses manual ini menghabiskan waktu dua jam untuk memperoleh isi kemiri sebanyak satu kilogram.

Selama ini mereka melakukan dengan cara manual yaitu ditumbuk dengan menggunakan batu atau palu. Sehingga untuk meningkatkan produktivitas produk adalah dengan mengadakan mesin pemecah kemiri.

Kurang lebih dalam lima tahun terakhir, petani menganggap kemiri tidak bernilai ekonomis lagi karena kepastian harga yang tidak menentu. Beberapa petani telah menebang pohon kemirinya dan mengganti dengan komoditas lain.

Sebenarnya nilai atau harga komoditas kemiri tidak pernah turun drastis, harganya selalu stabil karena kemiri merupakan rempah-rempah yang dibutuhkan oleh banyak negara. Salah satu rekomendasi kajian ini yaitu melakukan budidaya untuk memastikan ketersediaan bahan baku dalam memenuhi pasar ekspor.

Selain daging kemiri, produk lain yang dapat dimanfaatkan adalah cangkang kemiri.

Cangkang kemiri dapat berguna sebagai bahan bakar. Cangkang kemiri sebagai bahan bakar lebih baik ketimbang cangkang kelapa. Industri-industri seperti kelapa sawit yang menggunakan proses pembakaran membutuhkan bahan bakar dari cangkang kemiri.

E. Gula aren

Gula aren memiliki rantai nilai yang tidak panjang. Petani penghasil gula aren dapat menjual langsung ke konsumen dan memasukkan ke dalam toko ritel. Dalam lima tahun ini, perkembangan coffee shop dengan aneka rasa minuman termasuk rasa red sugar menjadikan usaha gula aren juga meningkat.

Skema rantai nilai yang umum terbangun selama ini adalah petani produsen gula aren ke pedagang pengumpul desa, selanjutnya dijual ke pedagang pengumpul kecamatan. Selama

(21)

ini, gula aren yang banyak diproduksi adalah gula aren batok sehingga membutuhkan pengembangan produk gula aren cair. Gula aren cair dapat dihasilkan dengan cara memasak kembali gula batok. Namun yang lebih baik adalah memproduksi gula aren cair tanpa harus dijadikan sebagai gula batok.

Dalam upaya peningkatan nilai produk gula aren cair membutuhkan kemasan yang tepat dan menarik, izin PIRT, izin halal dan menjaga kualitas produk.

Monitoring Budidaya Pembibitan MPS dan Umbi-Umbian Kabupaten Tana Toraja

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh field officer di masing-masing rumah bibit, benih dan bibit yang dibudidayakan oleh masing-masing Gapoktanhut saat ini pertumbuhannya cukup signifikan terutama pada benih porang yang disemaikan pada pertengahan bulan Oktober lalu. Rata-rata persentase tumbuh benih porang yang dibudidayakan dalam rumah bibit adalah sebesar 88% dari jumlah total benih porang yang disemaikan.

Selain melakukan monitoring perkembangan pertumbuhan bibit, field officer bersama pengelola bibit juga telah melakukan pembagian bibit porang yang telah siap untuk ditanam di lahan masing-masing anggota. Kegiatan pembagian dan penanaman bibit porang saat ini baru dilakukan di rumah bibit KTH Masarang, Gapoktanhut Padang Ditulak Tallu, Desa Perindingan. Jumlah bibit porang yang telah dibagi adalah sebanyak 80 bibit yang dibagikan ke 4 orang anggota, dimana setiap anggota masing-masing memperoleh 20 bibit porang.

Sebelum melakukan penanaman porang, PMU Kabupaten Tana Toraja melakukan pemutaran film Teknik penanaman porang. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada anggota kelompok terakait cara budidaya tanaman porang di lahan sebelum bibit porang yang dibudidayakan dalam rumah bibit diberikan ke masing-masing.

Kegiatan pemutaran video budidaya porang ini dilakukan di Desa Perindingan, Kecamatan Gandangbatu Sillanan, Kabupaten Tana Toraja. Peserta yang hadir dalam kegiatan ini adalah anggota gapoktanhut Padang Ditulak Tallu yang terdiri dari KTH Mamase dan KTH Masarang.

Kegiatan ini dilakukan pada malam hari, dimana jumlah peserta yang hadir pada kegiatan ini sebanyak 23 orang yang terdiri dari 14 orang laki-laki dan 9 orang perempuan.

Bibit porang yang diterima oleh anggota selanjutnya ditanam di lahan masing-masing.

Lahan yang menjadi lokasi penanaman merupakan lahan yang berada di luar kawasan hutan dan merupakan lahan milik anggota kelompok.

Kabupaten Toraja Utara

Kegiatan budidaya masih terus berlangsung. Kegiatan pengisian polybag sebagai media persemaian tanaman porang. Media yang digunakan dalam pengisian polybag yakni pupuk kompos, sekam bakar, dan tanah dengan perbandingan 2:1:1. Pengisian polybag ini dilakukan di Desa Sapan Kua-kua dan Kelurahan Bokin, dengan jumlah polybag yang terisi sebanyak 19600 pcs, sesuai dengan jumlah benih porang yang diterima. Untuk lebih jelasnya pada masing-masing desa/kelurahan dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1. Jumlah Polybag yang terisi

No Desa/Kelurahan Jumlah Polybag

1 Bokin 9500

2 Sapan Kua-kua 10100

(22)

Jumlah penerima manfaat yang terlibat dalam pengisian polybag sebanyak 97 orang, dengan pembagian laki-laki sebanyak 57 orang dan perempuan 40 orang.

Bibit yang saat ini dibudidayakan di Kabupaten Toraja Utara adalah sukun, pala, durian, jengkol, bayam, uru dan porang. Jumlah bibit yang awalnya dibudidayakan di Kabupaten Toraja Utara sebanyak 2103, namun yang tumbuh saat ini sebanyak 1106 atau sekitar 53%

dari yang awalnya dibudidayakan. Itu belum termasuk tanaman porang yang saat ini baru dibudidayakan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2. Data Perkembangan Bibit di Kabupaten Toraja Utara

Desa/Ke

lurahan KTH

Sukun Pala Durian Jengkol Bayam Uru Porang

Budi daya Tum

buh Budi daya Tum

buh Budi daya Tum

buh Budi daya Tum

buh Budi daya Tum

buh Budi daya Tum

buh Budida ya Tum

buh

Bokin

Sari Hutan 64 17 150 52 50 50 50 40 85 82 40 37 2200

Katengkong 50 16 200 40 50 50 50 50 3300

Mata Wai 50 8 350 40 50 48 50 48 4000

Sapan Kua-kua

Tambuntan

a 60 19 69 41 50 50 50 50 4800

Tombangrir

i 60 24 73 53 50 50 50 50 3500

Sipaele 50 11 22 13 50 50 50 50 1800

Karre Limbong

Buka 60 20

Pangi 60 23

Rante

Karangan 60 24

Total 334 95 104

4 306 300 298 300 288 85 82 40 37 19600 0

Pada Desa Karre Limbong, belum terdapat tanaman porang dikarenakan kurangnya benih pada saat proses bidding, sehingga benih untuk Karre Limbong akan diadakan kembali pada bulan November. Selain daripada itu, penyebab tidak tumbuhnya atau berkurangnya yang dibudidayakan disebabkan oleh hilangnya bibit di rumah bibit dalam jumlah yang sedikit, serta tidak mampunya benih untuk tumbuh di rumah bibit meskipun sudah mendapatkan perlakuan yang sama dengan bibit yang tumbuh saat ini.

(23)

3. KOMPONEN II: Perbaikan Tata Kelola dan Daya Dukung Pesisir dalam Mendukung Adaptasi Perubahan Iklim di Hilir DAS Saddang

3.1. Outcome 2.1. Penguatan Sumber Daya Manusia pesisir dan Sumber Daya Alam di Bagian Hilir Das Saddang dalam Meningkatkan Daya Dukung Pesisir

3.1.1. Output: Terbentuk dan Berjalannya KPPI dan Pendamping Lapangan sebagai Motor Penggerak Aksi Adaptasi Perubahan Iklim di Level Desa dan Kecamatan Kegiatan-kegiatan dalam mencapai output ini pada kuartal 5 adalah pertemuan rutin KPPI di setiap desa setiap bulan dan pelibatan anggota KPPI dalam kegiatan program sebagai bagian dari pelaksana kegiatan di masing-masing desa intervensi.

Penyediaan Peralatan Rehabilitasi Lahan Pesisir

Penyediaan peralatan penanaman Mangrove meliputi peralatan sesuai kebutuhan kegiatan penanaman Mangrove. Aktivitas 2.1.3.1 Penyediaan peralatan rehabilitasi lahan pesisir kemudian diturunkan dalam Sub Aktivitas 2.1.3.1.2 Peralatan Penanaman Mangrove.

Peralatan yang diadakan merujuk pada dokumen rancangan teknis penanaman Mangrove (Terlampir). Pada bulan Oktober 2021 Sub Aktivitas yang dilaksanakan adalah Sub Aktivitas 2.1.3.1.2 Peralatan Penanaman Mangrove yang merupakan perlengkapan untuk membuat pelindung kawasan penanaman Mangrove.

Pada tanggal 13-18 Oktober 2021 telah dilaksanakan kegiatan pemasangan pelindung kawasan penanaman Mangrove dengan panjang pelindung kawasan menyesuaikan dengan kawasan penanaman Mangrove yang ditanami sepanjang 1.486 meter/1.4 Km, dengan luasan 2.21 Hektar jika dikonversi ke dalam luasan.

Tahapan yang dilaksanakan dalam pelaksanaan program adalah Pengadaan Perlengkapan Pelindung Kawasan, Mobilisasi Perlengkapan dan Pemasangan Pelindung Kawasan Penanaman Mangrove. Pengadaan perlengkapan dilaksanakan pada tanggal 11 Oktober 2021, Berdasarkan realisasi kegiatan rincian perlengkapan yang diadakan pada kegiatan pemasangan pelindung kawasan penanaman Mangrove dapat dilihat pada laporan lengkap kegiatan (Terlampir). Tahapan selanjutnya yang dilaksanakan adalah Mobilisasi perlengkapan ke masing-masing desa dan lokasi penanaman Mangrove dilaksanakan pada tanggal 13-15 Oktober 2021.

Tahapan Selanjutnya adalah melakukan pemasangan pelindung kawasan penanaman Mangrove di masing-masing desa intervensi. Pemasangan pelindung kawasan penanaman Mangrove berfungsi sebagai pelindung kawasan untuk mengurangi dampak pasang surut air laut. Selain itu, pelindung kawasan bertujuan untuk meminimalisir kerusakan akibat terkena gelombang dan lalu lintas kapal, serta aktivitas penangkapan yang dilakukan oleh masyarakat. Pemasangan balok dilakukan secara tek lurus dengan area penanaman Mangrove sepanjang 1.4 km mengikuti panjang kawasan penanaman Mangrove yang telah dilaksanakan. Pemasangan Balok dilakukan dengan jarak pemasangan balok yaitu 1 m x 1 m dengan tinggi balok 1.3 M. Pemasangan waring pada balok dilakukan dengan menggunakan ajir/bambu yang dijepitkan pada balok agar waring tidak muda terlepas pada saat terkena gelombang.

a. Desa Paria

Penanaman di Sempadan Pantai Desa Paria sepanjang 220 meter dan di Sempadan Sungai 210 meter dengan total luasan penanaman 0.62 Hektar serta jumlah bibit yang ditanam adalah 6.220 Bibit. Pemasangan pelindung kawasan penanaman dilaksanakan pada tanggal 14 Oktober 2021 di Sempadan Sungai dan Tanggal 15 Oktober 2021 di sempadan

(24)

pantai. Pemasangan pelindung kawasan dilakukan sesuai dengan prosedur dan desain yang telah dibuat.

Berikut rincian Jumlah peserta yang berpartisipasi pada kegiatan pemasangan pelindung kawasan penanaman Mangrove di Desa Paria sejak tanggal 13-15 Oktober 2021 :

No Deskripsi Gender (Anggota KPPI)

Laki-Laki Perempuan 1 Mobilisasi Balok Ke Kawasan Penanaman Desa Paria 13 6 2 Pemasangan pelindung Kawasan di Sempadan Sungai 12 6 3 Pemasangan Pelindung Kawasan di Sempadan Pantai 13 7

TOTAL 57

Kendala kegiatan pemasangan pelindung kawasan penanaman di Desa Paria adalah kondisi cuaca (Hujan) pada saat pemasangan pelindung kawasan sehingga kegiatan sempat tertunda, selain itu kondisi pasang disempadan sungai sehingga menyulitkan proses pemasangan pelindung kawasan penanaman Mangrove, hal ini menyebabkan proses pemasangan berlangsung cukup lama.

b. Desa Salipolo

Penanaman di Sempadan Sungai Desa Saliopolo sepanjang 290 meter dan di Sempadan pantai sepanjang 96 meter dengan total luasan 0.3 Hektar serta jumlah bibit yang ditanam adalah 3.000 Bibit. Pemasangan pelindung kawasan penanaman dilaksanakan pada tanggal 15 Oktober 2021 di Sempadan Sungai dan sempadan pantai. Pemasangan pelindung kawasan dilakukan sesuai dengan prosedur dan desain yang telah dibuat. Pemasangan pelindung kawasan di Desa Salipolo lebih banya di kawasan sempadan sungai, hal ini dikarenakan kawasan penanaman sempadan sungai memiliki kesesuaian untuk pertumbuhan Mangrove.

selain itu secara histori masih banyak ditemukan indukan Mangrove yang tumbuh disepanjang bantaran sungai Desa Salipolo. Berikut rincian Jumlah peserta yang berpartisipasi pada kegiatan pemasangan pelindung kawasan penanaman Mangrove di Desa Salipolo tanggal 14-15 Oktober 2021 :

No Deskripsi

Gender (Anggota KPPI) Laki-

Laki Perempuan 1 Mobilisasi Balok Ke Kawasan Penanaman Desa Salipolo 12 5

2 Pemasangan pelindung Kawasan Penanaman Desa Salipolo 11 8

TOTAL 36

Kendala kegiatan pemasangan pelindung kawasan penanaman di Desa Salipolo adalah kondisi kawasan yang mengalami air pasang menghambat pemasangan pelindung kawasan sehingga pemasangan membutuhkan waktu yang lebih lama, selain itu, terdapat kawasan yang menjadi jalur lalu lintas hewan ternak sehingga pemasangan pelindung kawasan dilakukan dengan menutup secara utuh kawasan membentuk kurungan pada kawasan penanaman tersebut.

c. Desa Bababinanga

Penanaman Mangrove Desa Bababinanga sepanjang 670 meter dengan luasan 1,39 Hektar dan jumlah bibit yang ditanam adalah 13.900 Bibit. Pemasangan pelindung kawasan penanaman dilaksanakan pada tanggal 16-20 Oktober 2021 di Sempadan Pantai Dusun Tanroe, Desa Bababinanga. Pemasangan pelindung kawasan dilakukan sesuai dengan prosedur dan desain yang telah dibuat. Berikut rincian Jumlah peserta yang berpartisipasi

(25)

pada kegiatan pemasangan pelindung kawasan penanaman Mangrove di Desa Salipolo tanggal 16-20 Oktober 2021 :

No Deskripsi Gender (Anggota KPPI)

Laki-Laki Perempuan 1 Mobilisasi Balok Ke Kawasan Desa Bababinanga 8 8 2 Pemasangan Pelindung Kawasan Desa Bababinanga 17 17

TOTAL 50

Pemasangan pelindung kawasan di Desa Bababinanga berada disempadan pantai yang memiliki dampak abrasi. Selain itu, kawasan ini juga sebelumnya dimanfaatkan warga sebagai jalur lalu lintas kapal nelayan, namun pasca dilaksanakannya alih fungsi lahan menjadi tambak, jalur ini tidak lagi dimanfaatkan warga. Sehingga PMU memilih kawasan ini sebagai kawasan penanaman Mangrove. Selain itu, itu menjaga kawasan ini menjadi lalu lintas kapal yang dapat merusak penanaman Mangrove, pemasangan kawasan ini menjadi penanda kawasan penanaman sehingga aktivitas nelayan tidak dilakukan di kawasan penanaman Mangrove. hal ini pun telah disepakati warga yang dibuktikan dengan berita acara pada saat sosialisasi kawasan penanaman dan dokumen rancangan teknis penanaman Mangrove.

Berdasarkan target program luaran yang ingin dicapai pada kegiatan penanaman Mangrove adalah rehabilitasi lahan dan pesisir sepanjang 1.2 km melalui kegiatan penanaman Mangrove di Desa Paria, Desa Bababibanga dan Desa Salipolo. Total panjang kawasan yang telah dilakukan penanaman Mangrove adalah 1.486 meter / 1.4 Km, dengan luasan 2.21 Hektar serta jumlah bibit yang ditanam adalah 14.240 Bibit dan 8.880 Propagul sehingga total bibit yang ditanam adalah 23.120 Bibit.

Gambar: Peta Kawasan Penanaman Mangrove Desa Bababinanga

Capaian dalam pelaksanaan kegiatan penanaman Mangrove adalah Desa Bababinanga sepanjang 670 meter dengan luasan 1,39 Hektar dan jumlah bibit yang ditanam adalah 13.900 Bibit. Penanaman di Sempadan Pantai Desa Paria sepanjang 220 meter dan di Sempadan Sungai 210 meter dengan total luasan penanaman 0.62 Hektar serta jumlah bibit

Referensi

Dokumen terkait

 Teacher asks a variety of questions including open - ended. questions that probe for learners‟ understanding

[r]

33 Meskipun demikian tidak berarti dengan bergantinya instansi yang melakukan pengawasan Notaris tidak akan terjadi pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan Notaris,

Dalam buku ini penulis memaparkan dan menjelaskan hal-hal yang menjadi pokok permasalahan dalam penegakkan hukum persaingan usaha, mulai dari arti penting diterbitkannya

[r]

Kinerja atau performance adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi baik secara kuantitatif.. maupun kualitatif,

Panitia Pengadaan Barang pada Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Sulawesi Barat akan melaksanakan Pelelangan Sederhana Pascakualifikasi secara elektronik

Dengan menggunakan cara : partisi, aproksimasi, jumlahkan, ambil limitnya, integralkan, maka dapat ditentukan luas daerah antara dua kurva tersebut..