• Tidak ada hasil yang ditemukan

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Alih Aksara Jawa Menjadi Huruf Latin Berdasarkan Metode Template Matching T1 612007009 BAB II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Alih Aksara Jawa Menjadi Huruf Latin Berdasarkan Metode Template Matching T1 612007009 BAB II"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

4

BAB II

LANDASAN TEORI

Pada bab ini akan dibahas teori yang berkaitan dengan pemrosesan data untuk sistem

pengalih aksara Jawa menjadi aksara latin, meliputi cropping citra, konversi citra RGB ke

biner, median filterdan metode template matching sebagai klasifikator.

2.1 Aksara Jawa

Aksara Jawa diadopsi dari aksara kawi yang berkembang di Pulau Jawa pada masa

Hindu-Budha. Pada abad ke 17 aksara Jawa mengalami perubahan menjadi aksara Jawa

seperti yang dikenal saat ini. Aksara Jawa terdiri dari 20 aksara dasar yang disebut aksara

nglenggana atau yang lebih dikenal dengan hanacaraka. Pengubahan bentuk vokal pada

aksara Jawa menjadi i, u, e, é dan o dilakukan dengan menambahkan sandhangan.

Pembentukan huruf konsonan pada aksara Jawa dilakukan dengan menambahkan pangkon,

sesigeg atau memberikan pasangan pada sebuah aksara. Aksara Jawa juga mengenal sistem

angka (wilangan) dan huruf besar atau biasa disebut aksara murdha.

(a) (b)

(c)

(2)

5 2.2Cropping

Cropping yang dilakukan bertujuan untuk menghilangkan atau menghapus objek yang

tidak diperlukan serta mengubah aspek rasio [5]. Cropping dilakukan pada citra yang telah

digitalisasi. Hasil pemotongan citra ini kemudian disimpan sebagai dataset dalam pengenalan

aksara Jawa nantinya.

2.3Konversi RGB ke Biner

Citra digitalisasi berupa citra RGB. Untuk menyederhanakan proses komputasi

dilakukan pengubahan citra dari RGB menjadi biner. Pengubahan citra RGB menjadi biner

diawali dengan mengubah citra RGB menjadi bentuk grayscale terlebih dahulu. Pengubahan

citra menjadi bentuk grayscale dilakukan dengan cara merata-rata nilai komponen R, G dan

B pada citra sesuai dengan persaman 1.

X = (1)

Setelah citra menjadi bentuk grayscale (X), pengubahan menjadi citra biner dilakukan

dengan memberikan sebuah nilai batas. Pada matlab nilai ambang yang digunakan sebesar

0,5. Bila pixel pada citra grayscale memiliki nilai keabuan lebih besar dari pada nilai batas

tersebut akan disimbolkan dengan 1 dan sebaliknya bila lebih kecil akan diset dengan 0 [6].

2.4Median Filter

Pada citra hasil konversi RGB ke biner terdapat noise berupa bercak-bercak hitam.

Untuk menghilangkan noise tersebut dilakukan penapisan menggunakan median filter.

Median filter merupakan sebuah metode yang menitikberatkan pada penggunaan median atau

(3)

6

(a) (b) (c)

Gambar 2.2 (a) Nilai pixel citra masukan. (b) Proses pengurutan nilai

pixel dengan median filter (c) Nilai pixel baru hasil median filter

2.5Proyeksi Vertikal

Proyeksi vertikal adalah banyaknya pixel hitam yang tegak lurus dengan sumbu y.

Proyeksi vertikal bekerja dengan menjumlah nilai tiap pixel yang berada pada satu baris

horizontal sehingga nantinya akan menghasilkan sebuah matriks kolom [8]. Matriks kolom

yang dihasilkan selanjutnya akan dibandingkan dengan nilai tb, dimana tb merupakan nilai

ambang batas baris. Bila nilai tersebut lebih besar dari tb akan diset 0. Keluaran dari

pembandingan dengan tb akan dijadikan acuan sebagai penentuan pada pixel berapa sebuah

baris akan berawal dan berakhir. Setelah batasan baris awal dan berakhir ditemukan, akan

dilanjutkan dengan pengurangan nilai awal (a) dengan sebuah nilai offset dan penambahan

nilai akhir (b) dengan nilai offset. Nilai offset untuk penambahan a dan b berbeda.

2.6Template Matching

Template matching didefinisikan sebagai suatu proses untuk menemukan objek /

bagian yang diinginkan (cocok) dalam suatu citra dengan mencari nilai korelasi tertinggi

antara citra dengan template yang ada [9]. Nilai korelasi dicari dengan menggunakan rumus:

(4)

7

Bila nilai korelasi tersebut besarnya mendekati atau sama dengan 1 maka menunjukan

bahwa aksara yang berada dalam citra uji sama dengan citra yang berada di dalam dataset,

sedangkan bila nilai korelasi memiliki nilai mendekati 0 atau sama dengan 0 berarti citra

Gambar

Gambar 2.1. (a) Aksara Nglenggana.(b) Pasangan (c) Sandhangan

Referensi

Dokumen terkait

Jika data berdistribusi normal, maka rumus uji hipotesis yang akan digunakan adalah jenis uji yang termasuk dalam statistik parametrik sedangkan jika tidak normal, maka

Hasil pengujian dengan teknik one way anova seperti terlihat pada Tabel 4.6 didapatkan nilai F sebesar 4.863 dengan nilai signifikansi sebesar 0.011, yang

Family Centered Care dengan efek hospitalisasi pada anak sedangkan berdasarkan hasil uji statistik dengan korelasi. pearson product moment pada riset partisipan 34

Melalui hasil perhitungan uji korelasi Spearman rho antara kompetensi sosial dengan prestasi akademik menunjukkan nilai korelasi sebesar r = 0,096 dengan signifikansi

2) Router R5. Distance =0 berarti R5 dekat dengan sumber serangan DDoS. Flag bernilai 0 bila paket belum ditandai oleh router sebelumnya.. Router R5 pada

Dari hasil analisa data diperoleh koefisien korelasi (r) 0,804 dengan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05) yang berarti ada hubungan positif yang signifikan antara

Ini berarti hubungan korelasi dari putaran 1 sampai putaran 30 dengan beberapa pengujian dengan plainteks dan kunci yang berbeda sangat lemah seperti yang sudah

Pada hasil uji statistik ditemukan bahwa nilai p value (0,033) < 0,05 yang berarti Ho ditolak, berarti terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat