• Tidak ada hasil yang ditemukan

INTERPRETASI BEARING LAYER KONTUR LAPISA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "INTERPRETASI BEARING LAYER KONTUR LAPISA"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL TEKNIK SIPIL

Jurnal Teknik Sipil Unsyiah merupakan wadah bagi seluruh civitas akademika dibidang konstruksi dan 

lingkungan mengembangkan dan menginformasikan perkembangan teknologi dan pengetahuan.  Frekuensi terbit tiga kali setahun pada bulan September, Januari, dan Mei. 

DAFTAR ISI

Pengaruh Variasi Suhu Pemadatan Terhadap Karakteristik Campuran Split MasticAsphalt 0/11

Fakhrul Rozi Yamali

203 - 214

Assesmen Aktual Kapasitas Jalan Pada Segmen Bottleneck Sistematis Dengan Pendekatan Metode Simulasi

Sugiarto, Zianul Furqan

215 - 224

Pemodelan Pemilihan Moda Antara Bus Rapid Transit Dan Sepeda Motor Dalam Perjalanan Menuju Ke Kampus Dengan Teknik Stated Preference

M. Isya, Renni Anggraini, Tety Sriana

225 - 236

Analisis Pemilihan Material Beton Dan Material Baja Sebagai Alternatif Material Pengganti Kayu Ulin

Retna Hapsari Kartadipura, Novitasari

237 - 246

Pengaruh Konfigurasi Sengkang Terhadap Kekakuan Kolom yang Dibebani Gaya Geser dan Aksial Tekan 0,4 p0

Taufiq saidi, Rudiansyah Putra, Munawir

247 - 258

Korelasi ø dan C Pada Uji Triaksial Dengan Indeks Plastisitas Tanah Desa Neuheun Aceh Besar

Devi Sundary, Marwan

259 - 268

Interpretasi Bearing Layer (Kontur Lapisan Tanah Keras) Di Bawah Permukaan Dengan Program Surfer(Kecamatan : Syiah Kuala – Ulee Kareng – Kuta Alam)

Munirwansyah, Devi Sundary,Gartika Setiya Nugraha

269 - 280

Pre Construction And Post Failure Of Slope Dam Stability On Safety Factor Analysis (A Review)

Reza P. Munirwan

281 - 288

Analisis Kegagalan Bendung Bronjong Pante Ceuremen Dirwan

289 - 298

Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Penentuan Pemenang Pelelangan Jasa Pelaksana Konstruksi

Tripoli, Mubarak, Yunia Shofiasti

(2)

Volume 2, No. 3, Mei 2013 - 269

INTERPRETASI

BEARING LAYER

(KONTUR LAPISAN

TANAH KERAS) DI BAWAH PERMUKAAN DENGAN

PROGRAM SURFER

(KECAMATAN : SYIAH KUALA – ULEE KARENG – KUTA ALAM)

Munirwansyah 1, Devi Sundary2 ,Gartika Setiya Nugraha3 1,2) Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala

Jl. Tgk. Syeh Abdul Rauf No. 7, Darussalam Banda Aceh 23111,

3)

Jurusan Teknik Geofisika, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala

Jl. Tgk. Syeh Abdul Rauf No. 7, Darussalam Banda Aceh 23111, email: [email protected]

Abstract: This study aims to locate the bearing layer below the ground surface at the location of Kuala Shiite district, sub-district and district Ulee Kareng Kuta Alam. The data used is the Cone Penetration Test (CPT) were obtained from the laboratory of Soil Mechanics. The number of points is 38 points sondir. The location coordinates of the point of data collection in the field research carried out by using GPS (Global Positioning System) and the tool is the only satellite navigation system that is functioning properly. Data processing was performed using the surfers. Surfer is one of the software that is used for the manufacture of contour maps and three-dimensional modeling based on the grid, this software is a XYZ plotting tabular data into pieces of irregular rectangular dots (grid) is irregular. Grid is a series of vertical and horizontal lines in a rectangular surfer and used as the basis for forming a three-dimensional contour and surface. The vertical and horizontal lines have points of intersection. At this intersection point Z value is stored in the form of point heights or depths. Gridding is the process of formation of a regular series of Z values from a data is XYZ. The results of this study can be used for buildings or other infrastructure planning in the transition area and the mainland city of Banda Aceh. To determine the subgrade layer (bearing stratum), for building simple to use subsoil with qc = 0-10 kg/cm2. For buildings with load being able to use a layer of soil with qc = 10-50 kg/cm2. For buildings with a large load, it can use a layer of soil with 50-120 kg/cm2 and qc = qc => 120 kg/cm2. This study provides further information about the subsoil to the planner for bearing pile foundation stratum in order to match the load.

Keywords : Bearing Layer, Cone Penetration Test, grid, surface, bearing stratum, contour.

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mencari letak bearing layer di bawah permukaan tanah pada

lokasi Kecamatan Syiah Kuala, Kecamatan Ulee Kareng, dan Kecamatan Kuta Alam. Data yang digunakan adalah data Cone Penetration Test (CPT) yang diperoleh dari laboratorium Mekanika Tanah. Adapun jumlah titik sondir adalah 38 titik. Pengambilan data letak koordinat titik penelitian di lapangan dilakukan dengan menggunakan GPS (Global Positioning System) danalat ini satu-satunya sistem navigasi satelit yang berfungsi dengan baik. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program

surfer. Surfer merupakan salah satu perangkat lunak yang digunakan untuk pembuatan peta kontur dan pemodelan tiga dimensi yang berdasarkan pada grid. Perangkat lunak ini merupakan plotting data tabular XYZ tak beraturan menjadi lembar titik-titik segi empat (grid) yang beraturan. Grid adalah serangkaian garis vertikal dan horizontal yang dalam surfer berbentuk segi empat dan digunakan sebagai dasar pembentuk kontur dan surface tiga dimensi. Garis vertikal dan horizontal ini memiliki titik-titik perpotongan. Pada titik perpotongan ini disimpan nilai Z yang berupa titik ketinggian atau kedalaman. Gridding merupakan proses pembentukan rangkaian nilai Z yang teratur dari sebuah data XYZ. Hasil dari penelitian ini dapat digunakan untuk perencanaan gedung atau infrastruktur lainnya di daerah daratan dan transisi kota Banda Aceh. Untuk menentukan lapisan tanah dasar (bearing stratum),

untuk bangunan sederhana menggunakan lapisan tanah dengan qc = 0-10 kg/cm2. Untuk bangunan

dengan beban sedang dapat menggunakan lapisan tanah dengan qc = 10-50 kg/cm2. Untuk bangunan

dengan beban besar maka dapat menggunakan lapisan tanah dengan qc = 50-120 kg/cm2 dan qc≥ 120

kg/cm2. Penelitian ini memberikan informasi lebih lanjut tentang lapisan tanah kepada perencana untuk

bearing stratum agar dapat ditumpukan fondasi sesuai dengan beban.

(3)

270 - Volume 3, No. 1, Mei 2013

Banda Aceh merupakan suatu daerah yang terletak di ujung Pulau Sumatera. Keberadaan wilayah geografis Kota Banda Aceh terletak antara 050 16' 15" - 050 36' 16" Lintang Utara dan 950 16' 15" - 950 22' 35" Bujur Timur. Luas wilayah administrative Kota Banda Aceh sebesar 61.359 Ha atau kisaran 613,59 Km2. Kota Banda Aceh merupakan dataran rawan banjir dari luapan Sungai Krueng Aceh dan 70% wilayahnya berada pada ketinggian kurang dari 10 meter. Ke arah hulu dataran ini menyempit dan bergelombang dengan keting-gian hingga 50 meter di atas permukaan laut. Dataran ini diapit oleh perbukitan terjal di sebelah Barat dan Timur dengan ketinggian lebih dari 500 meter, sehingga mirip kerucut dengan mulut menghadap ke laut. Wilayah Aceh juga rawan terhadap bencana gempa yang berasal dari sumber gempa subduksidan sumatra fault serta patahan-patahan dan sesar-sesar lokal. Dengan demikian perencanaan infrastruktur dalam wilayah kota Banda Aceh khususnya dan seluruh wilayah Aceh pada umumnya perlu diletakkan pada lapisan tanah dasar yang stabil (bearing stratum).

Kondisi tanah yang terdapat di Kota Banda Aceh secara umum dan khususnya di daerah pesisir didominasi oleh tekstur tanah antara sedang sampai kasar. Karena Kota Banda Aceh juga termasuk daerah yang rawan akan gempa, maka pada perencanaan suatu bangunan atau infrastruktur di kota ini harus dilakukan Survey Investigation Design (SID) atau pemeriksaan tanah dengan sangat teliti, baik itu pemeriksaan tanah di lapangan maupun di laboratorium yang disesuaikan

dengan kebutuhan perencanaan Detail Enginering Design (DED).

Pengambilan data letak titik-titik peneli-tian di lapangan dilakukan dengan mengguna-kan GPS (Global Positioning System), dan alat ini adalah satu-satunya sistem navigasi satelit yang berfungsi dengan baik. Sistem ini menggunakan satelit yang mengirimkan sinyal gelombang mikro ke bumi. Sinyal ini diterima oleh alat penerima di permukaan, dan diguna-kan untuk menentudiguna-kan posisi, kecepatan, arah, dan waktu. Daerah yang ditinjau Kecamatan Syiah Kuala, Kecamatan Ulee Kareng dan Kecamatan Kuta Alam, seperti yang ditunjuk-kan pada Tabel 1.

Tabel 1. Daerah Penelitian dan Jumlah Titik yang ditinjau.

No Zona B

Jumlah Titik

1 Kecamatan Syiah Kuala 22 Titik

2 Kecamatan Ulee Kareng 3 Titik

3 Kecamatan Kuta Alam 13 Titik

Jumlah Titik 38 Titik

Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program surfer. Surfer meru-pakan salah satu perangkat lunak yang digu-nakan untuk pembuatan peta kontur dan pemodelan tiga dimensi yang berdasarkan pada grid.

Penelitian ini bertujuan untuk menge-tahui kontur lapisan di bawah permukaan, di mana penelitian ini dapat digunakan untuk perencanaan gedung atau infrastruktur lainnya di daerah daratan dan transisi Kota Banda Aceh.

(4)

Volume 2, No. 3, Mei 2013 - 271 Banda Aceh. Hasil penelitian ini adalah

berupa :

1. peta kontur ketinggian permukaan (surface),

2. kontur lapisan tanah lunak (soft layer), 3. kontur lapisan tanah sedang (moderately

layer),

4. kontur lapisan tanah padat (compact layer),

5. letak kedalaman masing-masing lapisan tanah seperti sebaran ketinggian kontur permukaan (surface),

6. sebaran lapisan tanah lunak (soft layer), sebaran lapisan tanah sedang (moderately layer),

7. sebaran lapisan tanah padat (compact layer),

8. sebaran lapisan tanah keras (stiff layer). Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang lapisan tanah di bawah permukaan kota Banda Aceh dan sekitarnya, untuk lebih lanjut dapat digunakan dalam pertimbangan-pertimbangan izin pendi-rian bangunan bertingkat dan bangunan bers-kala besar lainnya.

TELAAH KEPUSTAKAAN

Definisi Tanah

Tanah selalu mempunyai peranan penting pada suatu lokasi pekerjaan konstruksi. Bowles (1993:25) menjelaskan bahwa tanah adalah campuran partikel-partikel yang terdiri dari salah satu atau seluruh jenis berangkal, kerikil, pasir, lanau, lempung, koloid.

Sosrodarsono (2000:1), tanah selalu mempunyai peranan penting pada suatu lokasi pekerjaan konstruksi. Tanah adalah pondasi

pendukung suatu bangunan, atau bahan konstruksi dari bangunan itu sendiri seperti tanggul atau bendungan, atau kadang-kadang sebagai sumber penyebab gaya luar pada bangunan, seperti tembok/dinding penahan tanah. Jadi tanah itu selalu berperan pada setiap pekerjaan teknik sipil.

Menurut Verhoef (1994:145), tanah adalah kumpulan dari bagian-bagian padat yang tidak terikat satu dengan yang lain (diantaranya mungkin mineral organik). Rongga-rongga diantara bagian-bagian tersebut berisi udara dan/atau air.

Hardiyatmo (2006:1) menjelaskan bahwa dalam pandangan teknik sipil, tanah adalah himpunan mineral, bahan organik, dan endapan-endapan yang relatif lepas (loose), yang terletak di atas batuan dasar (bedrock). Ikatan antara butiran yang relatif lemah dapat disebabkan oleh karbonat, zat organik, atau oksida-oksida yang mengendap diantara partikel. Ruang diantara partikel-partikel dapat berisi air, udara ataupun keduanya.

Bagian-bagian Penyusun Tanah

Anonim2 (2010) menjelaskan bahwa tanah terdiri dari empat komponen utama yaitu: bahan mineral, bahan organik, air, dan udara. Komponen tanah tersebut terdiri dari bahan mineral 45%, bahan organik 5%, air 20-30%, dan udara hingga 20-30% dalam keadaan tercampur. Keadaan itu menjadikan habitat yang serasi bagi tumbuh-tumbuhan.

Jenis-jenis Tanah

(5)

272 - Volume 3, No. 1, Mei 2013

− tanah lempung,

− tanah lanau, dan

− tanah granuler.

Karakteristik tanah lempung

Das (1995:9) mengemukakan bahwa lempung terdiri dari partikel-partikel mi-kroskopis dan submimi-kroskopis yang berbentuk lempengan-lempengan pipih dan merupakan partikel-partikel dari mika, mineral-mineral lempung dan mineral-mineral yang sangat halus lainnya. Sifat fisis tanah lempung tergantung pada unsur senyawa penyusunnya.

Bowles (1993:151) menyatakan lempung (tanah kohesif) sebagai kumpulan partikel mineral yang mempunyai indeks plastisitas tinggi, yang pada waktu mengering memben-tuk suatu massa yang bersatu sedemikian rupa sehingga diperlukan gaya untuk memisahkan setiap butiran mikroskopisnya.

Mikroskopis adalah partikel tanah yang hanya dapat dilihat dengan bantuan alat mikroskopis, sedangkan partikel yang dapat dilihat oleh mata secara langsung disebut makroskopis. Jika tanah dalam keadaan lem-bek akan mengembang dan kekuatan dukung tanah akan berkurang.

Bowles (1993:154) menjelaskan bahwa mineral-mineral lempung unsur utamanya terdiri dari silikat aluminium dan/atau besi dan magnesium. Mineral lempung juga mengan-dung unsur alkali dan/atau tanah alkali sebagai komponen dasarnya. Mineral-mineral ini terutama terdiri dari kristalin di mana atom-atom yang membentuk tersusun dalam suatu pola geometrik tertentu.

Karakteristik tanah lanau

Bowles (1993:153) menyatakan bahwa partikel lanau di dalam deposit kohesif telah diamati dan diketahui mempunyai kulit tipis dengan partikel lempung yang berorientasi baik. Baik partikel lanau ataupun lempung sering mengandung selaput tipis dari material yang tidak mempunyai bentuk tertentu atau tidak berkristal (amorphous), seperti senyawa organik, silika, atau besi, pada permukaannya.

Das (1995:9) menjelaskan bahwa lanau sebagian besar merupakan fraksi mikroskopis (berukuran sangat kecil) dari tanah yang terdiri dari butiran-butiran quartz yang sangat halus, dan sejumlah partikel berbentuk lempengan-lempengan pipih yang merupakan pecahan dari mineral-mineral mika.

Anonim1 (2010), lanau adalah tanah atau butiran penyusun tanah/batuan yang berukuran antara pasir dan lempung. Beberapa pustaka Indonesia menyebut objek ini sebagai debu. Lanau dapat membentuk endapan yang mengapung di permukaan air manapun yang tenggelam. Lanau biasanya terbentuk dari pecahnya kristal kuarsa berukuran pasir.

Karakteristik tanah granuler

(6)

Volume 2, No. 3, Mei 2013 - 273 dalam susunan butir tanah yang sangat tidak

padat dapat mengubah sifat-sifat teknisnya. Kerapatan relatif (Dr) sangat berpengaruh pada sifat-sifat teknis tanah granuler.

Lebih lanjut Das (1995:9) menyebutkan bahwa pasir sebagian besar terdiri dari mineral quartz dan feldspar. Batuan dan mineral yang lain mungkin juga masih ada pada golongan ini.

Lapisan Tanah (Bearing Stratum/ Layer)

Sosrodarsono (2000:223) mengemuka-kan bahwa umumnya lapisan tanah yang disebut lapisan yang lunak adalah lempung (clay) atau lanau (slit). Lapisan tanah mempunyai nilai pengujian penetrasi standar (Standard Penetration Test) N yang lebih kecil dari 4 atau tanah organis seperti gambut yang mempunyai kadar air alamiah yang sangat tinggi. Demikian pula lapisan tanah berpasir yang dalam keadaan lepas mempunyai harga N yang kurang dari 10, diklasifikasi sebagai lapisan yang lunak. Biasanya sebahagian besar dari lapisan lunak itu telah dibentuk oleh proses alamiah. Tebal, luas dan stratifikasinya sangat tergantung dari corak topografi dan geologi yang membentuk lapisan lunak itu beserta kondisi sekeliling sesudah terjadi formasi itu. Bilamana diperlukan untuk membangun di atas lapisan lunak, maka pertama-tama masalah teknis yang harus diselidiki adalah daya dukung (bearing capacity) dan penurunan (settlement). Lapisan yang lunak umumnya terdiri dari tanah yang sebagian besar terdiri dari butir-butir yang sangat kecil seperti lempung atau lanau.

Anonim2 (2010), menjelaskan bahwa lapisan tanah memiliki horison-horison seperti berikut ini :

1. Horison O adalah horison yang terdiri dari bahan atau sisa-sisa tanaman (Oi) dan bahan organik tanah (BOT) hasil dekom-posisi serasah (Oa).

2. Horison A adalah horison mineral berba-han organik tanah (BOT) tinggi sehingga berwarna agak gelap.

3. Horison E adalah horison mineral yang telah terelovisi (tercuci) sehingga kadar BOT, liat silikat, Fe dan Al rendah tetapi kadar pasir, debu kuarsa, dan resisten lainnya tinggi serta barwarna terang.

4. Horison B adalah horison illuviasi yaitu akumulasi bahan eluvial dari horison di atasnya.

5. Horison C adalah lapisan yang bahan penyusunnya masih sama dengan bahan induk atau belum terjadi perubahan secara kimiawi.

6. Horison R adalah bahan induk tanah.

Hubungan Cone Penetration Test (CPT)

dengan Lapisan Tanah

(7)

274 - Volume 3, No. 1, Mei 2013 yang diamati. Uji ini juga sangat cepat manakala dipakai peralatan perolehan data elektronik. Data dari CPT dipakai untuk menetapkan kapasitas dukung yang diperbo-lehkan dan untuk merancang tiang pancang. Tabel 2 yang disampaikan Andras Mahrel (2006) menerangkan, tentang hubungan Cone Penetration Test dengan kepadatan tanah.

Tabel 2. Hubungan CPT dengan Kepadatan Tanah. Compact to shiff

clay, compact silt qc > 5000 >50 0.45 60 80 Silt and loose

sand qc < 5000 <50 0.4 60 35

Compact to very compact sand and gravel

qc > 12000 >120 0.3 150 150

Sumber : Andras Marhrel (Anonim 2006)

METODOLOGI PENELITIAN

Perencanaan ini dimulai dengan penelitian di lapangan, pengumpulan data, langkah kerja, sampai dengan analisis data.

Pengumpulan Data

Data yang diperlukan dalam perencanaan ini, antara lain:

1. Data primer

Data primer yaitu data yang diperlukan sebagai pendukung utama dalam analisis hasil perencanaan. Adapun data yang termasuk ke dalam data primer yaitu data GPS. Data ini diperoleh dari hasil pengambilan langsung di lapangan. Lokasi pengambilan data GPS sesuai dengan lokasi yang sudah dilakukan pengujian Cone Penetration Test. Pada

program surfer ini data yang diambil dari GPS adalah data XY dalam satuan meter, yang biasa disebut dengan UTM (Universal Transverse Mercator) dan elevasi permukaan tanah (Z). Nilai Z yang digunakan pada surfer adalah Z elevasi permukaan tanah dikurangi dengan kedalaman lapisan sondir.

2. Data sekunder

Data sekunder adalah data pendukung data primer. Adapun yang termasuk ke dalam data sekunder yaitu data sondir daerah Kota Banda Aceh dan peta Provinsi Aceh. Data Cone Penetration Test (CPT).

Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program pemodelan spasial tiga dimensi yaitu program surfer. Surfer adalah salah satu perangkat lunak yang digunakan untuk pembuatan peta kontur dan pemodelan tiga dimensi yang berdasarkan pada grid. Perangkat lunak ini melakukan plotting data tabular XYZ tak beraturan. Grid adalah serangkaian garis vertikal dan garis horizontal yang dalam surfer berbentuk segi empat dan digunakan sebagai dasar pembentuk kontur dan surface tiga dimensi. Garis vertikal dan horizontal ini memiliki titik-titik perpotongan. Pada titik perpotongan ini disimpan nilai Z yang berupa titik ketinggian atau kedalaman. Gridding merupakan proses pembentukan rangkaian nilai Z yang teratur dari sebuah data XYZ. Hasil dari proses gridding ini adalah file grid yang tersimpan dalam file .grd.

(8)

Volume 2, No. 3, Mei 2013 - 275 Dapat juga digunakan data DEM (Digital

Elevation Models) sebagai pengganti data XYZ tersebut. Data XYZ selanjutnya diinterpolasikan dalam sebuah file grid. Proses kedua ini sering disebut dengan istilah grid-ding. Proses gridding menghasilkan sebuah file grid. File grid digunakan sebagai dasar pembuatan peta kontur dan model tiga dimensi. Berikut adalah diagram alur secara garis besar pekerjaan dalam surfer.

Dari bagan dapat diketahui bahwa sebuah data pengukuran lapangan akan terlebih dahulu dimasukkan menjadi data XYZ. Selanjutnya melalui proses gridding data tersebut dapat diinterpolasi menjadi peta kontur ataupun model tiga dimensional. Dalam proses analisis, kedua bentuk hasil interpolasi, yaitu peta kontur dan model tiga dimensi, dapat dianalisis secara terpisah ataupun bersama-sama melalui proses overlay.

Surfer melakukan pembuatan kontur dengan menggunakan file grid sebagai dasar interpolasi atau ekstrapolasi. Data XYZ merupakan data tabular hasil pengukuran lapangan yang dituangkan pada worksheet. Data ini merupakan data mentah.

Secara spasial data XYZ ini tersebar secara tidak teratur (irregular). Hal ini ber-kaitan dengan posisi titik pengukuran saat pengambilan data di lapangan. Karena sifatnya yang tidak teratur ini, maka memungkinkan adanya tempat-tempat yang tidak terukur. Dalam proses pemetaan kontur, ketiadaan data pada suatu bagian tertentu dalam wilayah pemetaan mengakibatkan penggambaran kontur dalam wilayah tersebut menjadi sulit. Kalaupun dipaksakan maka akan

memung-kinkan timbulnya bias. Untuk men-gurangi kemungkinan munculnya berbagai kesalahan, maka dilakukan proses interpolasi dan ekstrapolasi terhadap titik-titik yang memiliki data.

Proses interpolasi dan ekstrapolasi ini seakan menambah jumlah titik dari jumlah data yang telah ada. Penambahan titik ini dilakukan secara teratur (regular) ke seluruh bagian wilayah pemetaan dengan jarak yang tetap.

Proses semacam ini dilakukan oleh surfer untuk mengisi berbagai kekosongan data akibat sifat terbatas dan tak teraturnya data XYZ. Bagian dari area pemetaan yang kosong akan ditambah oleh titik-titik imajiner yang memiliki nilai Z tertentu. Posisi titik dan nilai Z dihitung secara matematis oleh Surfer dengan berdasarkan pada metode algoritma tertentu. Jaringan titik-titik tambahan ini selanjutnya disebut sebagai grid. Grid disimpan dalam file grid dengan ekstensi .grd.

Beberapa metode grid dalam surfer dapat disebutkan sebagai berikut:

1. Inverse Distance to Power

2. Kriging

3. Minimum Curvature 4. Nearest Neighbor

5. Polynomial regression

6. Radial Basis Function,

7. Shepard Metho.

(9)

276 - Volume 3, No. 1, Mei 2013 adalah metode default yang digunakan oleh surfer. Pada data yang memiliki kapasitas besar, metode grid ini berjalan agak lambat.

Metode grid telah ditentukan kemudian membuat file grid, dan apabila data XYZ telah tersedia, selanjutnya file grid dapat dibentuk. Pembentukan file grid ini juga dapat dilakukan dengan menggunakan file DEM.

Peta kontur

Peta kontur adalah satu bentuk peta yang dihasilkan oleh surfer dalam bentuk dua dimensi. Peta kontur dibentuk pada lembar plot. Kontur dihasilkan dari interpolasi atau ekstrapolasi grid. Pola garis kontur yang dibentuk dipengaruhi oleh metode interpolasi yang digunakan pada saat gridding.

Surface plot

Surface plot adalah bentukan tiga dimensional dari data XYZ. Surface plot ini membentuk sebuah bentukan morfo lahan. Surface plot dibentuk oleh jaringan-jaringan garis yang berasal dari grid pada aksis X, aksis Y. Masing-masing koordinat perpotongan aksis X dan aksis Y memiliki ketinggian yang setara dengan nilai Z pada posisi titik grid tersebut. Pada peta tiga dimensional ini dapat ditambahkan garis-garis kontur. Garis kontur akan tergambarkan pada permukaan Surface plot dengan cara mengaktifkan nilai Z.

Pada surface plot dapat dilakukan beberapa perintah seperti overlay dengan peta kontur, pewarnaan garis, pengaturan orientasi, stacking, dan pengaturan skala.

Beberapa komponen dalam surface plot ini adalah:

1. garis-garis X yang mewakili kolom dari file grid. Jumlah garis-garis X pada surface plot tergantung pada jumlah kolom pada file grid.

2. garis-garis Y yang mewakili baris dari file grid. Jumlah garis Y pada surface plot tergantung pada jumlah baris pada file grid. 3. garis Z yang merupakan garis kontur

digambarkan pada permukaan surface plot. Jumlah garis kontur tergantung pada nilai maksimal dan nilai minimal kontur serta interval kontur yang ditetapkan.

4. kelompok warna yang menyatakan tingkatan nilai Z yang berbeda. Warna dari kelompok warna dapat ditentukan secara individual ataupun diatur secara otomatis yang kemudian menghasilkan kelompok warna bergradasi.

5. dasar atau landasan dari Surface plot. Dasar dari surface plot ini dapat diatur naik atau turun. Antara dasar dengan permukaan dapat dibentuk garis berdiri tegak sejajar dengan sumbu Z.

6. aksis yang menampilkan data X, Y, dan Z.

Analisis Data

Hasil pengujian selanjutnya dilaporkan dalam bentuk tabel dan grafik. Penggunaan tabel dan grafik dimaksudkan untuk memudahkan dalam menganalisa suatu variabel. Hal ini dilakukan dengan bantuan komputer yang menggunakan software surfer. Metoda grid dalam pengolahan data 3D menggunakan metode kriging.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Umum

(10)

Volume 2, No. 3, Mei 2013 - 277 bangunan yang mempunyai peranan yang

sangat penting dalam penyaluran gaya dari elemen konstruksi bagian atas ke tanah dasar. Jenis beban statik ataupun dinamik juga sangat mempengaruhi terhadap analisis parameter dan perhitungan yang harus dilakukan. Oleh sebab itu kekuatan fondasi harus memper-timbangkan kesesuaian antara parameter yang dipakai, beban dari konstruksi dan kemam-puan dukung tanah setempat. Ada dua per-syaratan umum yang harus dipenuhi dalam merencanakan pondasi statik. Pertama adalah tanah dasar harus mampu mendukung beban konstruksi tanpa mengalami keruntuhan geser (shear failur), dan yang kedua adalah penurunan dasar fondasi harus dalam batas yang diizinkan pada konstruksi tersebut. Untuk maksud tersebut diperlukan peme-riksaan yang lebih teliti terhadap tanah pada tempat bangunan akan didirikan, sesuai dengan beban yang akan bekerja pada fondasi tersebut.

Setiap bearing layer mempunyai daya dukung tertentu dan kedalaman tertentu yang menghasilkan FS tertentu pula. Setiap lapisan ini akan dapat dipergunakan untuk bearing stratum dalam menentukan kedalaman pondasi dan mempunyai kekuatan tertentu dalam mendukung beban.

Sebagai contoh adalah compact layer atau stiff layer berada pada kedalaman dangkal, walaupun compact layer mempunyai daya dukung tinggi tapi belum tentu kedalaman fondasi 2 meter bisa ditumpu pondasi untuk bangunan 5 lantai karena pengaruh goncangan pada saat gempa dan bangunan juga

tergantung pada kedalaman pondasi. Jika lapisan keras didapat pada kedalaman 2 meter, maka pada kedalaman tersebut tidak boleh ditumpu bangunan 5 atau 6 lantai. Akan tetapi harus di tumpu pada kedalaman yang lebih dalam lagi.

Hasil Pengukuran Kontur dengan Menggunakan Metode Natural 2D

Metode natural 2D ini adalah metode dimana X dan Y menggambarkan titik-titik lokasi yang diukur kekuatan lapisan tanah dalam arah Z. Hasil tersebut ditampilkan dengan bentuk kontur-kontur berwarna yang menghubungkan kontur lapisan tanah sama yang menyebar di bawah permukaan. Kontur tersebut masing-masing terdiri dari kontur ketinggian lapisan permukaan (surface), kontur kekuatan lapisan tanah lunak (soft layer), kontur kekuatan lapisan tanah sedang (moderatly layer), kontur kekuatan lapisan tanah padat (compact layer), kontur kekuatan lapisan tanah keras (stiff layer), serta kontur gabungan kepadatan lunak sampai dengan keras. Hasil pengukuran kekuatan lapisan tersebut diperlihatkan pada gambar-gambar dibawah ini.

(11)

278 - V

nah lunak (soft

edang (moder

r 5. Lapisan tan

r 6. Sebaran ga tanah

A

anah padat (com

h keras (s n nilai qc= >

terdapat pada 19,6 m. Se

ambar 5.

nah keras (stiff

(12)

Volume 2, No. 3, Mei 2013 - 279 KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Hasil penelitian terhadap kondisi lapisan tanah di bawah permukaan, pada lokasi penelitian terdapat bentuk sebaran dan kekuatan lapisan tanah (bearing layer) dengan menggunakan program surfer maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Kepadatan tanah dari 0-10 kg/cm2 mempunyai ketebalan yang lebih tipis ke arah Utara yaitu Kecamatan Syiah Kuala dengan ketebalan 0,2 meter dan semakin ke Barat yaitu Kecamatan Kuta Alam lapisan tanah semakin tebal yaitu mencapai 4,4 meter.

2. Kepadatan tanah dari 10-50 kg/cm2 mempunyai ketebalan yang lebih tipis ke arah Utara yaitu Kecamatan Syiah Kuala dengan ketebalan 0,4 meter dan semakin ke Barat yaitu Kecamatan Kuta Alam lapisan tanah semakin tebal yaitu mencapai 13,6 meter.

3. Kepadatan tanah dari 50-120 kg/cm2 juga mempunyai katebalan yang lebih tipis ke arah Utara, Kecamatan Syiah Kuala dengan ketebalan 0,4 meter. Semakin ke Barat yaitu Kecamatan Kuta Alam lapisan tanah semakin tebal yaitu mencapai 9,6 meter.

4. Kepadatan tanah >120 kg/cm2 juga mem-punyai katebalan yang lebih tipis ke arah Timur, Kecamatan Ulee Kareng dengan ketebalan 0,4 meter. Semakin ke Utara yaitu Kecamatan Syiah Kuala lapisan tanah semakin tebal yaitu mencapai 4,8 meter.

5. Untuk menentukan lapisan tanah dasar (bearing stratum), untuk bangunan sederhana menggunakan lapisan tanah dengan qc = 0-10 kg/cm2.

6. Untuk bangunan dengan beban sedang dapat menggunakan lapisan tanah dengan qc = 10-50 kg/cm2.

7. Untuk bangunan dengan beban besar maka dapat menggunakan lapisan tanah dengan qc = 50-120 kg/cm2 dan qc = >120 kg/cm2.

Saran

Kota Banda Aceh termasuk daerah yang rawan akan gempa, maka pada perencanaan suatu bangunan atau infrastruktur di kota ini harus dilakukan Survey Investigation Design (SID) atau pemeriksaan tanah dengan sangat teliti, baik itu pemeriksaan tanah di lapangan maupun di laboratorium yang disesuaikan dengan kebutuhan perencanaan Detail Enginering Design (DED).

Penelitian dengan menggunakan program 3D ini diharapkan dapat dilanjutkan oleh peneliti yang lain karena ini dapat bermanfaat bagi pembangunan kedepan. Program ini juga memberikan informasi lebih lanjut tentang lapisan tanah kepada perencana untuk bearing stratum agar dapat ditumpukan fondasi yang sesuai dengan beban.

Pengambilan data GPS di lapangan, untuk memperkecil koreksian sebaiknya dilakukan sekaligus dalam waktu 1 hari dan pengambilan data sebaiknya dilakukan ketika cuaca cerah.

DAFTAR PUSTAKA

(13)

280 - Volume 3, No. 1, Mei 2013 Lanau, Lanau 13 Februari 2010. Anonim2, http://dasar2ilmutanah.blogspot.

com/, Dasar-dasar Ilmu Tanah

7 Maret 2010.

Anonim3, http://id.wikipedia.org/wiki/ Glo bal_Positioning_System, Global Positioning System 15 Maret 2010. Anonim4,http://www.pdfgeni.com/book/co

ne-penetration-test-pdf.html, Desember 2004.

Anonim, http://www.pdfgeni.com/book/ Lapisan-Akifer, Data Citra Inderaja untuk Menentukan Lapisan Akifer, 7 Desember 2006.

Bowles, J. E, 1993, Sifat-sifat Fisis dan Geoteknis Tanah (Mekanika Tanah), terjemahan J. K. Hainim, Erlangga, Jakarta.

Bowles, J. E, 1997, Analisis dan Desain Pondasi, Erlangga, Jakarta.

Budiyanto Eko, 2005, Pemetaan Kontur dan Pemodelan Spasial Tiga

Dimensi Menggunakan Surfer, Andi, Yogyakarta.

Das, B. M, 1995, Mekanika Tanah

(Prinsip-prinsip Rekayasa

Geoteknis), Erlangga, Jakarta. Hardiyatmo, 2006, Mekanika Tanah I,

Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Sosrodarsono S., 2000, Mekanika Tanah dan Teknik Pondasi, PT Pradnya Paramita, Jakarta.

Gambar

Tabel 2. Hubungan CPT dengan Kepadatan Tanah.
Gambar 1. Kontur Ketinggian Permukaan
Gambar 3. Lapisan ttanah sedang

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan data hasil uji dan mengacu pada Tabel 2 tentang permeabilitas tanah, menujukkan bahwa pada satuan batuan Formasi Kalibeng memiliki permeabilitas yang baik karena

Kondisi optimum yang diperoleh pada produksi furfural dengan menggunakan proses hidrolisis pada temperatur dan waktu hidrolisis 140,01°C dan 5,99 jam dengan

Dalam kaitannya dengan memaknai identitas diri solidaritas melalui interaksi didalam komunitas Paguyuban Jeep Bandung, semua narasumber merasakan adanya sesuatu yang

Keperawatan komunitas adalah suatu bidang perawatan khusus yang merupakan gabungan keterampilan ilmu keperawatan, ilmu kesehatan masyarakat dan merupakan bantuan sosial,

Pada penelitian ini penulis akan menganalisis kanyouku yang menggunakan kata kao yang bermakna “muka”, karena dalam bahasa Indonesia kata “muka” tersebut

Dalam penelitian ini, dampak laju pemotongan, gerak makan, kedalaman potong, dan keausan pahat terhadap sub – permukaan baja AISI 4140 pada pemesinan akhir untuk pemesinan

Kompleksitas keamanan yang terjadi di kawasan Asia Timur di uraikan dengan menjelaskan hubungan keamanan antara Korea Utara dan Korea Selatan, Cina dan Jepang, Amerika Serikat

Identifikasi hasil ditetapkan dari diagnosa keperawatan berdasarkan kriteria yang dapat diukur dan dirumuskan dengan melibatkan klien, keluarga dan orang yang terdekat bersifat