• Tidak ada hasil yang ditemukan

92465024 Bahan Ajar 3 MPKT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "92465024 Bahan Ajar 3 MPKT"

Copied!
202
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1. 1. Latar Belakang

Era Globalisasi ditandai dengan kemajuan teknologi seperti: (1) transportasi (sekarang pesawat terbang digunakan sebagai angkutan masal), (2) telekomunikasi (kini telah berkembang teknologi informatika), dan ditandai juga dengan semangat perdagangan bebas. Pada era ini pula, orang terdorong atau cenderung berkeinginan menjadi warga negara dunia. Negara maju dan kaya, mencita-citakan dunia ini menjadi dunia tanpa batas. Dunia tanpa batas dapat merugikan bangsa yang sedang berkembang, apabila bangsa itu tidak memiliki karakter nasional yang kuat dan disertai dengan intelektual yang tinggi. Tidaklah mengherankan jika, dalam beberapa hal, globalisasi telah memicu konflik, baik konflik antar negara maupun konflik internal di dalam negara. Hal itu, dipicu, salah satunya, oleh berbedaan persepsi nilai-nilai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Konflik fisik masih terjadi, baik dalam rangka memperebutkan wilayah secara fisik maupun wilayah maya—pengaruh budaya, ekonomi dan sebagainya—yang berawal dari perebutan sumber daya alam. Oleh karena itu tidaklah salah apabila, Quincy Wright (Wright, 1941: 4-6) berpendapat bahwa perang dipicu oleh: 1. dunia yang “menciut” sebagai akibat kemajuan teknologi transportasi; 2. “percepatan” jalannya sejarah sebagai akibat kemajuan teknologi telekomunikasi; 3. penemuan persenjataan baru, serta 4. kebangkitan demokrasi. Dari keempat penyebab perang tersebut, tiga di antaranya menyebabkan penggunaan sumber daya alam— terutama yang tidak dapat diperbarui—secara berlebihan. Oleh karena itu issue Era globalisasi diidentikkan dengan perebutan wilayah (sumber daya alam) dan pemanasan global.

Manusia dan tempat tidak dapat dipisahkan, demikian pidato Ir. Soekarno pada sidang BPU PKI tanggal 1 Juni 1945 (Setneg, tt: 66). Oleh karena itu, tidaklah dapat disalahkan apabila dalam tata kehidupannya—cara berpikir, bergaul, dan bertindak— orang, dipengaruhi oleh konstalasi wilayah yang dihuninya. Di suatu wilayah itulah setiap manusia akan mengelola sumber daya alam, sehingga dapat menghasilkan sesuatu untuk tata kehidupannya.

(2)

diartikan sebagai wilayah tempat tinggal bangsa, namun diartikan sebagai institusi yang bertujuan untuk membina bangsa dan wilayah. Negara sebagai institusi (state) memerlukan beberapa persyaratan pokok yang harus dipenuhi, antara lain: ada wilayah (geografi dengan sumber daya), ada penduduk (warganegara dan bukan warganegara) serta ada pemerintah yang berdaulat. Namun biasanya ada persyaratan tambahan antara lain: konstitusi—yang memuat di dalamnya tujuan Negara—dan pengakuan kedaulatan.

Dalam upaya membina dan mengelola rakyat tidak jarang Negara—aparatur negara— melakukan pemaksaan yang berlebihan. Hal itu mengakibat pelanggaran hak asasi manusia yang tidak dapat dihindarkan. Eksplorasi dan eksploitasi wilayah yang berlebihan akan berdampak pada kerusakan lingkungan. Salah satu upaya untuk mengatasi kerusakan lingkungan, diperlukan pengenalan lebih lanjut tentang rahasia alam semesta dan isinya. Oleh karena itu, pada bahan ajar ini pembahasan akan meliputi masalah: penduduk, wilayah, serta kedaulatan—konstitusi, sistem perintahan dan politik—yang merupakan inti dari bahan ajar mengenai Negara, pengelolaan lingkungan hidup yang harus diperhatikan oleh bangsa. Ilmu pengetahuan alam yang menguak fenomena alam semesta diharapkan menjadi bahan pengetahuan bagi bangsa.

1. 2. Bangsa Indonesia 1. 2. 1. Pengertian Bangsa

(3)

Sementara itu, menurut Hans Kohn (Kaelan, 2002: 213): bangsa itu terbentuk karena persamaan bahasa, ras, agama, peradaban, wilayah, negara dan kewarganegaraan. Teori Kohn ini nampaknya berdasarkan perkembangan pengertian bangsa (nasion) di Eropa daratan (kontinental). Bangsa (nasion) di Eropa kontinental bangkit karena revolusi leksikografi, bahwa bahasa milik pribadi-pribadi kelompok khas (Anderson, 2001: 126). Eropa—kontinental—dikuasai oleh dinasti Habsburg di sebagian Eropa Tengah dan Timur, dinasti Romanov di Eropa Timur, Rusia dan Asia Barat hingga Siberia dan dinasti Usmaniah (Ottoman) di Balkan, Jazirah Arab dan Afrika Utara, sedangkan Eropa Barat dikuasai ex dinasti Bourbon. Bangsawan—penguasa—lokal diharuskan mampu berbahasa Latin sebagai bahasa resmi di dalam wilayah dinasti maupun sebagai lingua franca antara para bangsawan—dinasti dan lokal—serta kaum intelektual. Persoalan timbul, bahwa yang mampu menguasai bahasa resmi hanya sedikit. Hal itu menyebabkan percetakan tidak dapat menerbitkan secara luas karya tulis para intelektual dan menimbulkan kerugian. Sebagai tindak lanjutnya, penerbitan lebih banyak menggunakan bahasa lokal agar masyarakat yang mampu membaca tulisan lebih banyak. Faham egaliterisme di kalangan masyarakat menumbuhkan nasionalisme berdasarkan budaya lokal. Rupanya faktor inilah yang menjadikan Hans Kohn membuat definisi seperti itu.

Definisi bangsa menurut paham bangsa Indonesia tertuang berdasarkan isi Sumpah Pemuda. Menurut Kaelan (2002: 213) adanya unsur masyarakat yang membentuk bangsa yaitu: berbagai suku, adat istiadat, kebudayaan, agama serta berdiam di suatu wilayah yang terdiri atas beribu-ribu pulau. Selanjutnya bangsa juga mempunyai kepentingan yang sama dengan individu, keluarga maupun masyarakat yaitu tetap eksis dan sejahtera. Salah satu persoalan yang timbul dari bangsa adalah ancaman disintegrasi, dan yang menjadi penyebab utama biasanya perbedaan persepsi pada upaya masyarakat yang ingin “merekatkan diri lebih ke dalam”, yaitu ingin mempertahankan pola. Oleh karena itu pada bangsa yang baru merdeka atau berdiri diupayakan memiliki alat perekat yang berasal dari budaya masyarakat. Pada perkembangannya alat perekat ini, dikenal sebagai ideologi yang hendaknya dipahami oleh bangsa itu sendiri.

1. 2. 2. Sejarah Berdirinya Bangsa Indonesia.

(4)

justru ingin bersatu dan berkelompok atas dasar kesamaan: tempat tinggal, daerah asal dan agama. Inilah embrio semangat persatuan dalam prulisme.

Gerakan Etika Politik di Eropa dilaksanakan juga di nusantara dengan maksud ingin membalas jasa rakyat. Dengan demikian rakyat akan mudah diatur oleh Belanda. Ternyata gerakan ini disambut baik oleh kaum pergerakan dan dibantu oleh para penguasa lokal. Para pemimpin pergerakan melakukan upaya pendidikan dan mendirikan sekolah-sekolah untuk kaum pribumi. Boedi Oetomo merupakan organisasi masyarakat pribumi pertama melakukan pendidikan untuk kaum pribumi. Kaum pribumi menjadi haus bacaan dan ilmu pengetahuan. Sastra Barat mulai diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Melayu dan Jawa yang akhirnya membangkitkan semangat egaliter. Dari semangat egaliter membangkitkan kesadaran berbangsa dan berpolitik, yang selanjutnya mejadi gerakan politik sehingga lahirnya bangsa Indonesia. Oleh karena itu Ben Anderson (2001) berpendapat bahwa nation state merupakan komunitas terbayang (imagined communities) yang menyatu.

1. 3. Nasionalisme Indonesia.

Nasionalisme mengandung arti faham untuk mencintai bangsa dan negara sendiri. Nasionalisme merupakan gerakan sentimen mencintai bangsa namun hendaknya dalam koridor universal. Dengan semangat nasionalisme yang tinggi akan terbangun kekuatan dan kontinuitas sentimen mencintai bangsa dalam bentuk identitas nasional.

Faham nasionalisme terbangun melalui beberapa konsep antara lain: (1) konsep theologi yang identik dengan fitrah manusia untuk bersatu membentuk masyarakat dan membangsa; (2) konsep politik yang terbangun melalui hakikat budaya politik bangsa; (3) konsep budaya yang tetap menghormati tumbuh dan berkembangnya semangat multikultur. Namun, kini faham nasionalisme lebih menekankan pada aspek politik.

Nasionalisme Indonesia bertitik tolak dari semangat sumpah pemuda yang pada dasarnya perubahan semangat kesukuan ke semangat kebangsaan (dikenal sebagai “dari ke-kami-an menjadi ke-kita-an”). Adapun beberapa ciri khas nasionalisme Indonesia adalah: (1) Bhineka Tunggal Ika; (2) Etis (paham etika Pancasila); (3) Universalitik; (4) Terbuka secara kultural; dan (5) Percaya diri.

(5)

(sebagai salah satu bentuk nasionalisme) terdistorsi menjadi identitasnya Bung Karno sebagai Pemimpin Besar Revolusi (PBR). Di zaman Orde Baru, spirit kebangsaan ditumbuh-kembangkan untuk mengatasi keterpurukan ekonomi warisan orde lama. Namun, ujung-ujungnya Pancasila secara manipulatif “diritualisasikan” untuk mengamankan proses kolusi, korupsi dan nepotisme dan “kroniisme”. Identitas nasional—yang merupakan salah satu ciri khas nasionalisme— terdistorsi menjadi identitas nasionalnya presiden sebagai penguasa tunggal.

1. 4. Negara dan Bangsa

Negara menurut Logemann adalah suatu organisasi kemasyarakatan yang bertujuan, dengan kekuasaannya, mengatur serta menyelenggarakan suatu masyarakat. Lebih jauh menurut Max Weber negara merupakan struktur politik yang diatur oleh hukum, yang mencakup suatu komunitas manusia yang hidup dalam suatu wilayah tertentu dan menganggap wilayah yang bersangkutan sebagai milik mereka untuk tempat tinggal dan penghidupan mereka (Naning, 1983: 3 – 4). Ada pengadaan dan pemeliharan tata keteraturan (hukum) bagi kehidupan mereka. Ada monopoli kepemilikan dan penggunaan kekuatan fisik secara sah (legitimasi). Dengan demikian Negara merupakan alat masyarakat untuk mengatur hubungan manusia dengan manusia dan manusia dengan Negara. Adanya legitimasi pada Negara, organisasi ini dapat memaksa kekuasaannya secara sah terhadap semua kolektiva dalam masyarakat. Ada tiga sifat yang merupakan kedaulatan. Pertama sifat memaksa, yaitu negara memiliki kekuasaan untuk menggunakan kekerasan fisik secara sah (legal) agar dapat tertib dan aman. Kedua sifat monopoli, yaitu negara berhak dan kuasa tunggal dalam menetapkan tujuan bersama dari masyarakat atau bangsa. Ketiga sifat mencakup semua, yaitu semua peraturan perundang-undangan mengenai semua orang, baik warga negara maupun bukan warganegara.

(6)

dari negara lain. Kedaulatan merupakan unsur mutlak yang harus ada dan merupakan ciri yang membedakan antara organisasi pemerintah dengan organisasi kemasyarakatan/sosial. Untuk lebih mampu menghadapi lawan, negara berhak menuntut kesetiaan para warganya. Demikian pula dapat ditambahkan adanya tujuan negara, baik tersurat maupun tersirat, melalui konstitusi.

1. 5. Lingkungan Negara

Masalah negara—dalam arti institusi atau state—tidak dapat terlepas dari pengaruh negara lainnya yang berdekatan. Oleh karena itu harus diketahui dan dipahami dengan benar apa yang dilakukan oleh negara tetangga, baik secara regional maupun global. Sebagai tindak lanjutnya kita harus dapat memprediksi secara strategis masalah lingkungan dan kemitraan.

Masalah lingkungan hidup menjadi penting dan ini harus dapat dipahami dan diresapi oleh masyarakat kita terutama di perbatasan dengan negara tetangga. Banyak garis batas antar negara berubah karena ketidak tahuan dan kesadaran masyarakat kita sendiri. Pergeseran batas wilayah sering diawali dengan kerusakan lingkungan karena eksploitasi wilayah yang berlebihan tanpa memikirkan dampak lingkungan. Kerusakan lingkungan tidak saja berakibat mundurnya batas wilayah tetapi juga menyebabkan banyaknya kecelakaan yang merugikan masyarakat, yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

1. 6. Sistimatika Pembahasan

Berkenaan Buku Ajar – III yang bermuatan Pokok Bahasan Bangsa, Negara dan Lingkungan Hidup di Indonesia, sistimatika pembahasan disusun sebagai berikut:

1. Pendahuluan. Dengan didahului membahas latar belakang yang berlanjut dengan membahas Bangsa dan Negara (termasuk nasionalisme Indonesia), serta Lingkungan Hidup, dan diakhiri dengan Sistematika Pembahasan.

2. Kewarganegaraan Indonesia. Membahas masalah Rakyat Indonesia (WNI), Penduduk (WNI,

WNA, Stateless), hak dan kewajiban penduduk (WNI, WNA, Stateless), serta pembatasan gerak penduduk pada suatu Negara (Imigrasi merupakan bentuk kedaulatan suatu negara).

3. Negara Hukum dan Konstitusi. Penjelasan tentang Negara Hukum, makna konstitusi, hak asasi

manusia dan Rule of Law di Indonesia

4. Negara dan Sistem Politik. Membahas bagaimana Pancasila sebagai dasar negara dituangkan

(7)

5. Wilayah sebagai Ruang Hidup. Membahas teori geopolitik Indonesia dan geostrategi

Indonesia (ketahanan nasional) dan ketahanan regional (ASEAN, APEC, OPEC) serta implementasinya dalam hukum kewilayahan (hukum darat, laut, udara termasuk masalah otonomi daerah dan diakhiri dengan tata ruang. Membahas pula pasang surut hubungan antar negara.

6. Lingkungan Hidup. Membahas masalah Lingkungan Hidup, Sumberdaya alam, serta

implementasi pada rencana tata ruang wilayah untuk pengelolaan lingkungan—melalui Undang-Undang terkait—dalam rangka pembangunan yang berkelanjutan. Membahas pula ketidaktahuan dan ketidaktaatan masyarakat, bangsa (sumber daya manusia) terhadap hal-hal tersebut, hingga menimbulkan pencemaran dan kerusakan lingkungan.

7. Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi. Masalah upaya pengungkapan rahasia dan gejala alam semesta untuk memenuhi kebutuhan manusia.

8. Keanekaragaman Hayati dan Konservasi. Perkembangan teknologi yang pesat menyebabkan

perubahan pola pikir dan pola tindak manusia. Hal ini akan berlanjut dengan pemanfaatan teknologi yang berdampak negatif terhadap lingkungan dan bersifat global. Dampak negatif eksploitasi yang berlebihan mengancam kehidupan manusia. Usaha-usaha untuk mengatasi kerusakan lingkungan global telah dilaksanakan (Undang-Undang, Konvensi, Deklarasi, dan Ratifikasi). Pembahasan akan diakhiri dengan kesimpulan dan harapan para penulis pada mahasiswa baru Universitas Indonesia.

BAB II

(8)

2. 1. Latar Belakang

Salah satu syarat yang bersifat konstitutif suatu Negara harus ada rakyat, yaitu orang yang mendiami suatu wilayah atau negara. Namun pada kenyataannya, yang mendiami wilayah tersebut terdiri dari atas berbagai golongan. Keanekaan golongan ini harus patuh pada hukum dan Pemerintah yang sah. Pemerintah juga dituntut untuk melindungi rakyat dari tindak kesewenangan baik berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Namun sebaliknya rakyat dituntut pula untuk membela kepentingan Negara. Sebaliknya Negara (dalam hal ini Pemerintah) tidak dapat memaksa semua rakyatnya yang tinggal di wilayahnya untuk membela Negara, karena ada perbedaan status. Perbedaan status antara lain status kewarganegaraannya.

2. 2. Warga Negara

Rakyat didefinisikan sebagai segenap penduduk suatu negara (KBBI, 1988: 722). Sementara itu, yang dimaksud dengan bukan penduduk ialah orang yang tinggal sementara di wilayah tersebut. Selanjutnya penduduk dibedakan antara warga negara dan bukan warga negara atau warga negara asing.

Warga Negara (citizens, citoyen, staatsburger) adalah peserta dari otoritas Negara. Istilah ini bermula dari keinginan manusia mempersatukan diri dalam kebersamaan, semua daya kekuatan ditempatkan di bawah kehendak umum sebagai satu kekuatan kelompok. Jadi bermula dari pribadi umum (public person) membentuk persatuan semua orang yang disebut “kota” (city), dan sekarang disebut “republik” atau “negara hukum” (body politic), yakni kumpulan manusia dalam suatu negara. Unit ini oleh warganya disebut negara (state), apabila bersifat pasif, sedangkan bila bersifat aktif disebut penguasa (souvereign).

Kaula Negara (subject, sujet, onderdaan) adalah mereka yang ditundukkan oleh Negara (dalam hal ini adalah raja/dinasti). Pada masa lampau Negara diidentikkan dengan penguasa/ hukum negara. Istilah itu sekarang dipakai untuk warga negara kerajaan. Namun, tidak berarti bahwa kebesannya tidak lebih jelek dari suatu Negara bukan kerajaan.

Untuk menentukan kewarganegaraan dikenal ada 2 (dua) pendekatan, ditinjau dari segi kelahiran dan segi perkawinan.

1. Dari kelahiran ada dua pendekatan asas kewarganegaraan (Soetoprawiro, 1966: 10):

(9)

b. Ius Soli (law of soil). Dalam asas ini seseorang diakui kewarganegaraannya berdasarkan tempat dilahirkan, meski orang tuanya adalah warga negara asing.

Kedua asas itu dapat digunakan bersama dengan mengutamakan salah satu, namun dengan tidak menanggalkan kewarganegaraan yang lainnya. Sebagai akibatnya terjadi dwi kewarganegaraan (bipatride) dan sebaliknya dapat saja seseorang tidak memiliki kewarganegaraan (apatride). Hal itu biasanya diselesaikan dengan menggunakan hak opsi yaitu hak memilih kewarganegaraan dan dan hak repudansi (hak menolak kewarganegaraan). Cara lain untuk memperoleh kewarganegaraan melalui cara naturalisasi yaitu melalui proses hukum dengan syarat-syarat tertentu.

2. Dari segi perkawinan dengan dasar:

a. Kesatuan hukum, dalam kaitan ini isteri mengikuti kewarganegaraan suami, apabila terjadi perkawinan antar bangsa (campuran).

b. Persamaan derajat, dalam kaitan ini kewarganegaraan isteri tidak hilang setelah perkawinan campuran.

2. 3. Warga Negara Indonesia

Pascaperang Dunia II, banyak berdiri negara nasional baru. Negara-negara tersebut umumnya adalah negara merdeka, setelah sekian tahun dijajah oleh dinasti-dinasti Eropa. Masa pemerintahan kolonial, penduduk asli kawasan itu pada umumnya diposisikan pada strata terendah kaula negara oleh para penguasa asing. Setelah merdeka penduduk asli/pribumi menjadi penguasa baru. Demikian pula yang terjadi di negara kita, di mana kaum pribumi pada posisi strata ketiga setelah keturunan Eropa dan Timur Asing. Hal itu perlu penentuan yang tepat agar negara yang baru dibentuk tidak timbul persoalan.

Persoalan yang timbul pada tiap negara yang baru merdeka adalah kemungkinan disintegrasi rakyat/bangsa. Hal itu disebabkan penduduk negeri yang baru merdeka terdiri dari beberapa strata sosial yang diciptakan berbeda oleh Pemerintah Jajahan. Mereka kini diberikan status yang sederajat di Negara Republik Indonesia. Dengan demikian mereka akan merasa memiliki dan sekaligus mencintai negaranya. Apabila mereka dalam status yang sama kemungkinan disintegrasi akan menjadi kenyataan. Pada kenyataannya ketiga strata kaula negara bersatu untuk mempertahankan kemerdekaan Negara Republik Indonesia.

(10)

Indonesia. Melalui UU tersebut, Pemerintah Republik Indonesia menggunakan pendekatan ius soli untuk menentukan kewarganegaraan bagi rakyatnya. Hal itu untuk menampung kaula negara (onderdaan) yang ada di Indonesia sebelum kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945

Selanjutnya setelah tahun 1950 (setelah pengakuan kedaulatan oleh Belanda) timbul masalah baru yaitu: Keputusan Pemerintah Kerajaan Belanda dan Pemerintah Republik Rakyat Cina yang tetap mengakui warganya yang tinggal di Indonesia tetap menjadi warganegaranya. Akibatnya terdapat keadaan dwi kewarganegaraan (bipatride) bagi orang keturunan Belanda dan Cina perantauan. Ini dapat menimbulkan loyalitas ganda bagi warganegara keturunan Belanda dan Cina.

Untuk mengatasi hal ini Pemerntah Indonesia menerbitkan UU no. 62/1958 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia, yang berasaskan ius sanguinis. Sebagai akibatnya mereka menjadi warganegara asing yang tidak mengenal tanah leluhurnya, bahkan banyak di antara mereka yang tidak mampu berbahasa ibu. Mereka bersatus sebagai warga negara asing dan harus mengajukan permohonan izin tinggal di Indonesia.

Seiring dengan kemajuan zaman, perkawinan campuran makin sering terjadi di Indonesia. Pria warganegara asing sering menikahi putri-putri Indonesia, yang tidak jarang perkawinan itu hanya bersifat politis, agar dia dapat izin tinggal. Kasus yang sama sering terjadi juga di negara lain. Sebagai akibatnya banyak anak-anak hasil pernikahan perempuan Indonesia dengan orang asing dan lahir di Indonesia berstatus warganegara asing. Problema ini tidak begitu menjadi masalah selama orangtuanya masih akur (tidak bercerai). Namun, apabila terjadi perceraian, status anak-anak tersebut tetap orang asing dan yang paling menderita ialah ibunya (setelah perceraian biasanya si anak menjadi beban ibunya), yaitu ia memelihara serta membesarkan warga negara asing dengan segala macam konsekuensinya.

(11)

2. 4. Hak dan Kewajiban Warga Negara Indonesia

Pelaksanaan hak warga negara dalam UUD 1945 dikaitkan langsung dengan kewajiban karena memang mempunyai keterkaitan. Karenanya perumusan hak dan kewajiban itu dicantumkan dalam satu pasal seperti pasal 27 ayat (1) “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”. Dalam kaitan ini dapat diketengahkan masalah hak-hak warga negara misalnya masalah pendidikan, kesejahteraan sosial dan pertahanan.

Sebelum amandemen, tidak ada Hak Asasi Manusia dalam UUD 1945. Hal itu disebabkan Hak Asasi Manusia tidak sesuai dengan paham negara integralistik yang dianut UUD 1945. Paham negara integralistik yang diajarkan oleh Spinoza, Adam Muller dan Hegel bukanlah untuk menjamin perseorangan atau golongan, namun untuk menjamin masyarakat secara persatuan (Kaelan, H., MS. 2002: 39). Menurut Dr. A. S. S. Tambunan, SH kini kita menganut paham individualisme dan liberalisme seperti waktu UUDS 1950, terbukti dengan rumusan pasal-pasal dalam Bab XA (Tambunan, 2002: 11). Hal ini berarti bahwa Bab XA (Hak Asasi Manusia) beserta pasal-pasalnya itu bertentangan dengan Pembukaan UUD NKRI 1945.

UUD-1945 secara tegas menyatakan tentang:

1. Hak, antara lain melalui pasal 27ayat (2) hak untuk mendapatkan pekerjaan, pasal 30 ayat (1)

hak ikut serta dalam usaha pembelaan negara, dan pasal 31ayat (1) hak mendapatkan pengajaran.

2. Kewajiban, antara lain melalui: pasal 27ayat (1) kewajiban untuk menjujung hukum dan

pemerintahan dengan tidak ada kecuali, pasal 30 ayat (1) kewajiban ikut serta dalam usaha pembelaan negara dan pasal 31 ayat (2) mengikuti pendidikan dasar.

3. Kemerdekaan warga negara, antara lain melalui: pasal 27 ayat (1) yaitu persamaan di dalam

hukum dan pemerintahan, pasal 29 ayat (2) kemerdekaan untuk memeluk agama dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya, serta pasal 28 kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran.

2. 5. Hak dan Kewajiban Warga Negara Asing di Indonesia

Bagi warga negara asing yang medapat izin tinggal juga menerima hak dan memiliki kewajiban selama berada di Indonesia:

(12)

3. Tidak memiliki hak untuk dipilih dan memilih.

4. Tidak mempunyai hak dan kewajiban untuk bela negara. 2. 6. Pembatasan Gerak

Sifat manusia selalu ingin berkelana, lebih-lebih pada era globalisasi, karena itu gerak keluar masuk penduduk pada suatu negara perlu diawasi terutama orang-orang asing. Instansi-instansi: Pencatatan Sipil, Imigrasi, dan Kependudukan merupakan salah satu perwujudan kedaulatan negara. Aspek yang diatur:

1. Perubahan status warganegara/penduduk. 2. Paspor yaitu surat jati diri perjalanan,

3. Visa: bukti persetujuan masuk dan tinggal dalam suatu negara, 4. Migrasi/mutasi penduduk antar wilayah,

5. Pencegahan dan penangkalan, yaitu upaya Pemerintah mengawasi baik warganegara sendiri

maupun warganegara asing,

6. Deportasi—orang asing—yaitu upaya Pemerintah menangkal bahaya kejahatan dan penyakit

menular,

Namun, upaya pengendalian penduduk sering kurang dihayati oleh masyarakat, dan aparat Pemerintah sehingga sering diabaikan. Akibatnya banyak terdapat tanda pengenal—kartu identitas—ganda, maupun sebaliknya. Akibat lanjutannya upaya pemerintah untuk menyiapkan “single number identity” terkendala. Dan pada gilirannya akan menyebabkan perselisihan pada saat pemilihan umum, yaitu banyaknya orang yang tidak masuk dalam daftar pemilih. Pada saat inilah banyak orang kehilangan hak konstitusionalnya.

2. 7. Hak dan Kewajiban Bela Negara

(13)

Untuk melaksanakan amanat UUD NKRI 1945 diperlukan:

1. Pengetahuan tentang bela negara dan pertahanan keamanan agar setiap WNI dapat: (a) menunaikan hak dan kewajibannya dengan tepat; (b) ikut serta menyumbangkan pemikiran terhadap perumusan dan penyelenggaraan konsepsi pertahanan keamanan negara; kewaspadaan dan kesiapan menghadapi segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan.

2. Motivasi perlu ditumbuhkan melalui pemahaman: (a) sejarah pembelaan negara secara universal maupun nasional; (b) kondisi geografi, sumber daya manusia dan sumber daya alam kita; (c) kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi; (d) strategi pembangunan nasional dan (e) yuridis formal.

Memahami, menghayati arti bela Negara dan pertahanan keamanan negara merupakan salah satu upaya memupuk semangat nasionalisme dan jati diri bangsa Indonesia.

BAB III

(14)

3. 1. Pengantar

Manusia setelah membangsa membentuk organisasi yang akan melindungi diri dan tempat tinggalnya. Organisasi tersebut dinamakan negara (state). Istilah negara semula diartikan hanya sebagai tempat tinggal (country) yang diklaim sebagai miliknya. Membahas masalah negara (state) kita harus membahas pula sistem politik yang berlaku dalam suatu negara.

Negara menurut Logemann adalah suatu organisasi masyarakat yang bertujuan dengan kekuasaannya mengatur serta menyelenggarakan sesuatu masyarakat (Naning, 1983: 3) Lebih jauh menurut Max Weber negara adalah suatu struktur masyarakat yang menpunyai monopoli dalam menggunakan kekerasan fisik secara sah dalam sesuatu wilayah (Budiardjo, 2008: 49). Dengan demikian negara merupakan alat masyarakat untuk mengatur hubungan manusia dengan masyarakat. Ada legitimasi, yaitu Negara dapat memaksa kekuasaannya secara sah terhadap semua kolektiva dalam masyarakat.

Ada tiga sifat yang merupakan kedaulatan: (1) Sifat memaksa, di mana negara memiliki kekuasaan untuk menggunakan kekerasan fisik secara sah (legal) agar dapat tertib dan aman; (2) Sifat monopoli, yaitu negara berhak dan kuasa tunggal menetapkan tujuan bersama dari masyarakat (tujuan nasional); (3) Sifat mencakup semua, yaitu semua peraturan perundang-undangan mengenai semua orang baik warganegara maupun penduduk. Dari ketiga sifat inilah timbul konsepsi negara hukum. Timbullah dalil: “Tiada masyarakat tanpa hukum” dalam teori ilmu hukum.

3. 2. Persyaratan Negara

(15)

warganya. Demikian pula dapat ditambahkan adanya tujuan negara baik tersurat maupun tersirat melalui konstitusi. Rumusan tujuan nasional dalam konstitusi negara merupakan pedoman untuk pola tindak. Tujuan nasional bangsa Indonesia dalam bernegara tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 alinea IV, antara lain tertulis: melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

3. 2. 1. Wilayah Negara

Wilayah merupakan tempat tinggal suatu bangsa dan berbatasan dengan wilayah negara lain. Kekuasaan Negara mencakup tidak hanya tanah tetapi juga laut dan udara hingga ketinggian tertentu. Regim hukum laut modern (UNCLOS 1982) menjadikan negara kepulauan suatu entity besar. Hal ini harus dapat dipertahankan eksistensinya, dan untuk itu diperlukan kemampuan intelektual penduduk di samping masalah sumber-sumber daya lainnya, yang akan dibahas lebih lanjut dalam Bab V Buku Bahan Ajar III ini.

3. 2. 2. Warga Negara

Rakyat merupakan unsur yang penting bagi suatu negara. Negara tanpa rakyat tidak ada artinya. Yang termasuk rakyat ialah semua orang yang mendiami suatu wilayah kekuasaan negara. Dalam wilayah kekuasaan negara subjek ?? dapat dibedakan antara penduduk dan bukan penduduk. Secara rinci telah kita bahas melalui Bab II Buku Bahan Ajar III.

3. 2. 3. Pemerintah

Pemerintah adalah organisasi yang berwewenang untuk merumuskan dan melaksanakan keputusan-keputusan yang mengikat bagi seluruh penduduk dalam suatu wilayah. Dalam hal ini bertindak atas nama negara dan menyelenggarakan kekuasaan negara. Negara mencakup semua penduduk, sedangkan pemerintah mencakup hanya sebagian dari penduduk. Pemerintah sering berubah sedangkan negara relatif tetap bertahan, kecuali bila diserbu dan dikuasai oleh negara lain. Ada pembagian kekuasaan hingga menjadi eksekutif, legislatif dan yudikatif, meskipun sering semu. Lebih lanjut membahas Pemerintah dan Sistem Pemerintahan akan tertuang lebih perinci pada Bab IV Buku Bahan Ajar III ini.

(16)

Syarat—tambahan—suatu negara menurut Prof. DR. Sri Soemantri, SH (Dikti, 2001: 36) adanya konstitusi, kedaulatan (pengakuan kedaulatan) dan tujuan negara yang tersurat maupun tersirat melalui konstitusi. Konstitusi berfungsi sebagai pengatur dan pembatasan kekuasaan negara, agar 3(tiga) sifat negara (Max Weber) tidak disalahgunakan oleh penyelenggara negara. Konstitusi merupakan: (1) Pembatasan kekuasaan organ Negara; (2) Mengatur hubungan antar organ negara; (3) Mengatur hubungan kekuasaan organ negara dengan warganegara; (4) Pembatasan kekuasaan Pemerintah; (5) Memberi legitimasi kekuasaan pada Pemerintah; (6) Instrumen pengalihan kewenangan. Dengan demikian konstitusi merupakan alat: (1) Pengendalian sosial dan politik; (2) Reformasi sosial dan politik; (3) Rekayasa sosial dan politik.

3. 2. 5. Kedaulatan Negara

Kedaulatan adalah kekuasaan tertinggi bagi negara untuk membuat undang-undang dan melaksanakan dengan semua cara (termasuk paksaan) yang tersedia dan berlaku di seluruh wilayah dan rakyat. Ada kedaulatan ke dalam (internal souvereignty) dan kedaulatan untuk mempertahankan diri dari gangguan dan serangan negara lain (external souvereignty). Kedaulatan merupakan konsep yuridis dan kedaulatan adalah mutlak harus ada pada suatu negara. Ciri khas kedaulatan adalah tidak terikatnya suatu negara dengan negara lain. Menurut Grotius (Loebis, 1997: 27) “Negara merupakan ikatan-ikatan manusia yang insyaf akan arti dan panggilan hukum kodrat”. Negara berasal dari perjanjian yang disebut “pactum”. Kedaulatan itu timbul dari hak untuk memerintah atas suatu komuniti (community) manusia. Kedaulatan itu sekaligus memberikan status apakah suatu negara benar-benar merdeka atau masih di bawah perwalian negara lain atau Perserikatan Bangsa Bangsa.

3. 2. 6. Tujuan Negara

(17)

3. 3. Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia 1945

Undang-undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia 1945—sebutan untuk UUD 1945 yang telah diamandemen—adalah salah satu hasil gerakan konstitusionalisme. Yaitu paham yang selalu mengawasi dan meninjau kembali agar pemerintahan tetap pada jalan yang tetap dan benar. Dalam sejarah negara kita UUD 1945 telah diamandemen sebanyak 4 (empat) kali agar sesuai dengan eranya.

Pada amandemen UUD-1945 tidak ada lagi Penjelasan tentang Undang-undang Dasar Negara Indonesia. Padahal, dengan membaca teksnya saja masih sulit untuk mengerti maksud dan makna pada saat UUD tersebut dibuat. Pembukaan UUD dengan Batang Tubuh hendaknya relevan. Dalam Batang Tubuh UUD sebenarnya merupakan penjabaran dari pembukaan dengan melalui pasal-pasal. Pasal-pasal akan sulit dicerna oleh masyarakat oleh karena itu sebaiknya diikuti Penjelasan pada pasal-pasalnya melalui bagian atau bab tersendiri. Karena tidak ada penjelasan maka akan terlihat adanya ketidak samaan dalam isi UUD NKRI 1945.

Dalam UUD NKRI 1945 tersurat prinsip penyelenggaraan Negara: (1) Ketuhanan Yang Maha Esa; (2) Prinsip persatuan dan keragaman dalam Negara Kesatuan; (3) Cita Negara Integralistik; (4) Negara Republik; (5) Sistem Pemerintahan Presidensiil; (6) Paham Kedaulatan Rakyat (demokrasi); (7) Demokrasi langsung/demokrasi perwakilan; (8) Cita Negara Hukum (nomokrasi); (9) Pemisahan kekuasaan dan prinsip check and balance; (10) Demokrasi Ekonomi; (11) Cita Masyarakat Madani, yaitu masyarakat yang rukun, adil dan beradab. Prinsip penyelenggaraan negara tersirat pada Pembukaan UUD dan penjabarannya melalui pasal-pasal asli UUD maupun pasal-pasal hasil amandemen.

3. 4. Konsepsi Negara Hukum Indonesia

(18)

Ide negara hukum muncul kembali pada permulaan berkembangnya aliran liberal, yaitu menjelang dan saat revolusi kaum borjuis di Perancis. Dari Revolusi Perancis (1789) inilah berkobar semangat kebebasan (liberte), persamaan derajat (egalite) dan persaudaraan (fraternite). Faham individualistik atau perseorangan berkembang.

Aliran liberal mendambakan suatu negara hukum yang menjamin ketertiban dan keamanan masyarakat, agar setiap orang dapat dengan aman dan bebas mencari penghidupan serta mengurus kehidupannya masing-masing. Negara hukum seperti tersebut pada dasarnya tidak memerhatikan kesejahteraan umum rakyatnya. Dalam perkembangan pemikiran liberal kemudian terbukti bahwa peran negara tidak dapat dihindarkan dari kewenangannya untuk ikut campur tangan dalam penentuan pola kehidupan dan kesejahteraan rakyatnya, yang asumsinya untuk mencerminkan adanya perlindungan terhadap hak asasinya. Negara Hukum Liberal kemudian berkembang menjadi Negara Hukum Formal (peran raja harus berdasarkan undang-undang atau hukum). Negara Hukum Materiil (undang-undang tersebut telah berkembang menjadi yang melindungi hak-hak asasi manusia). Perkembangan Negara Hukum Materiil menjadi Negara Kemakmuran (Welfare State), namun ciri khasnya masih menekankan pada kepentingan-kepentingan individualistik. Dengan demikian jelas bahwa Negara Hukum model Eropa tersebut bukanlah yang dikehendaki oleh para pendiri Republik Indonesia, dan bukan pula yang dimaksudkan oleh Undang-Undang Dasar 1945.

(19)

1945}. Dari gambaran tersebut secara ringkas kelima unsur utama Negara Hukum Indonesia terbukti dengan adanya:

1. Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum di Indonesia. 2. Negara Indonesia yang berdasar atas hukum.

3. Pemerintahan yang berdasar atas sistem konstitusi.

4. Kesamaan kedudukan para warga negara dalam hukum dan pemerintahan, dan kewajiban mentaatinya tanpa kecuali (pola hak dan kewajiban asasi/manusia Indonesia).

5. Kekuasaan kehakiman yang merdeka terlepas dari pengaruh pemerintah.

Kesemuanya menunjukkan bahwa nilai-nilai dasar Pancasila telah menjelma dalam konsepsi Negara Hukum Indonesia. Namun demikian masih ada lagi nilai-nilai lain yang lebih mengenai masalah pengaturan organisasi negara dan perihal pembentukan hukumnya.

Indonesia sebagai negara hukum telah menentukan hirarki hukum di Indonesia yang dikukuhkan melalui Ketetapan MPR RI, dengan urutan:

1. Peraturan Dasar: Undang-undang Dasar dan Perubahannya, Piagam Dasar

2. Undang-undang, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang, Jurisprudensi. 3. Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden.

4. Peraturan Menteri/Peraturan Pejabat setingkat Menteri. 5. Peraturan Daerah Provinsi

6. Peraturan Gubernur.

7. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota 8. Peraturan Bupati/Walikota

9. Peraturan Desa

3. 5. Hak Asasi Manusia

3. 5. 1. Perkembangan Sejarah Hak Asasi Manusia

(20)

perbedaan lainnya. Selanjutnya jatuh korban-korban sebagai akibat penindasan manusia atas manusia. Ide HAM itu semula berkembang di Inggris yaitu pada masa Pemerintahan Raja John of England, dan pada tahun 1215, ketika para kesatria memaksa Raja Inggris untuk menanda tangani suatu perjanjian yang dikenal dengan Perjanjian Besar (Magna Carta) (Ball, 1973: 100). Magna Carta itu sendiri sebenarnya tidak berarti banyak dalam upaya penegakkan HAM masa sekarang.

Pelangaran hak asasi masih terus dilakukan oleh para penguasa. Oleh karenanya upaya penegakan HAM terus-menerus dilakukan oleh elit politik dan para intelektual. Pada abad Pertengahan antara lain melalui: (1) Undang-undang Hak (Bill of Rights) 1689, disyahkan oleh Raja JAMES II dari Inggris dan merupakan perlawanan badan legislatif dalam revolusi tak berdarah 1688; (2) Undang-undang Hak (Bill of Rights) 1789, disusun oleh Rakyat Amerika Serikat dan dimasukkan ke dalam konstitusi mereka. Bill of Rights ini sangat individualistik sifatnya dan mementingkan masalah hak daripada kewajiban manusia; (3) Deklarasi hak-hak manusia dan warganegara di Perancis (Declaration des droits de l’homme et du citoyen), merupakan hasil dari revolusi Perancis 1789. Naskah ini merupakan perlawanan rakyat terhadap monarkhi absolut. Pada masa ini perjuangan hak asasi manusia sangat dipengaruhi oleh pendapat John Lock dan Jean Jacques Rousseau yang bersifat politis tentang pengertian hak-hak tentang kebebasan.

Akhir abad XIX sampai dengan medio abad XX perjuangan penegakkan HAM berfokus pada upaya menghukum para penjahat perang dan mereka yang terlibat dalam perencanaan perang dan penyiapan serta pembunuhan masal atas suatu masyarakat. Namun upaya ini diwujudkan dengan penggunaan asas retroaktif yang sebenarnya bertentangan dengan asas hukum pidana, yakni orang hanya dapat dihukum jika telah dibuat peraturan perundangannya.

(21)

3. 5. 2. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia

Dari gambaran di atas jelaslah bahwa seusai Perang Dunia II kedudukan pribadi manusia memperoleh pengakuan yang luas dan kokoh dalam hukum Internasional. Namun untuk membuat deklarasi universal tentang hak asasi manusia membutuhkan perdebatan yang cukup panjang antara blok Barat dan blok Sosialis. Deklarasi HAM unversal didirikan atas empat tonggak utama, yaitu: (1) Hak-hak pribadi antara lain hak-hak: persamaan, hidup, kebebasan, kemanan dan lain sebagainya; (2) Hak-hak milik individu dalam kelompok sosial di mana ia ikut di dalamnya; (3) Kebebasan-kebebasan sipil dan hak-hak politik untuk dapat ikut serta dalam pemerintahan; (4) Hak-hak berkenaan dengan masalah ekonomi dan sosial.

Bila ditinjau pasal demi pasal, HAM universal PBB menurut Abdul Hakim Garuda Nusantara (Cassese, 1994: xv) dapat disimpulkan dari 30 pasal, hanya 1 pasal yang membahas masalah kewajiban manusia, 25 pasal membahas tentang hak manusia sebagai individu. Timbul perbedaan dalam menerapkan HAM pada masing-masing negara anggota PBB.

3. 5. 3. Perbedaan Persepsi pada HAM Universal

Ada perbedaan pandangan atau persepsi dari masyarakat internasional tentang HAM universal. Perbedaan pandangan itu sebenarnya menyangkut, masalah pandangan hidup dan adat istiadat masing-masing bangsa dan negara. Ada dua kelompok utama yang menanggapi masalah HAM, yaitu: kelompok universalis dan kelompok komunitarian. Kelompok universalis, yaitu negara-negara Barat Modern—Inggris, Perancis, Amerika Serikat—dan Eropa Barat yang merupakan kelompok negara yang memerintah lebih dari separo dunia sampai akhir dekade 20an (Huntington, 1997: 92). Apalagi pasal-pasal dalam Deklarasi HAM Universal dipengaruhi oleh faham individualistik negara-negara pemenang PD II. Sementara itu, negara sosialis yang dipimpin Uni Soviet tetap berpendapat bahwa hak-hak asasi telah hilang dari individu dan terintegrasi dalam masyarakat. Pemikirannya adalah bahwa HAM tidak ada sebelum negara ada. Oleh karena itu negara berhak membatasi apabila situasi menghendakinya.

(22)

mempersulit perkembangan negara-negara Asia dan Afrika secara lebih modern (Cassasse, 1984: 70-75). Timbul beberapa interpretasi HAM.

Perbedaan pandangan tersebut sebagai berikut: (1) Universal absolut, yang memandang HAM sebagai nilai seperti yang dideklarasikan oleh PBB. Pandangan ini tidak menghargai masalah sosial budaya yang melekat pada masing-masing bangsa atau negara; (2) Universal relatif, yang memandang secara universal dengan beberapa pengecualian demi suatu alasan tetrtentu; (3) Komuntarian absolut, seperti keinginan negara-negara sosialis, yang dipimpin Uni Soviet; (4) Komunitarian relatif, yang memandang persoalan HAM sebagai masalah universal, namun juga menjadi masalah nasional. Karena ada perbedaan itu, masing-masing region membuat kesepakatan HAM, yang berlaku di wilayah regional sehingga akhirnya adanya koreksi total atas HAM universal.

3. 5. 4. Upaya Perumusan Kembali Deklarasi HAM

Situasi dan posisi negara-negara anggota Perserikatan bangsa-Bangsa (PBB) antara tahun 1946 – 1948 yang beranggotakan 58 negara terbagi atas 5 blok: (1) Blok Barat, 14 negara yang umumnya pemenang PD II, termasuk Australia dan New Zealand; (2) Blok Sosialis, 6 negara sosialis Eropa Tengah dan Timur; (3) Blok Asia, 14 negara (tidak termasuk Indonesia): (4) Blok Afrika 4 negara; dan (5) Blok Amerika Latin, 20 negara, yang dengan gigih ingin menegakkan HAM dan selalu memihak Blok Barat Untuk negara-negara yang baru merdeka umumnya tidak sadar dan tetap menghormati bekas penjajahnya, padahal budaya dan sistem politiknya akan berbeda.

(23)

pasang badan; (5) sifat kedaluwarsaan tindakan kriminal, dikenal sebagai asas non-retroaktif; (6) hak pribadi di hadapan hukum; (7) hak kebebasan berpikir, berkeyakinan dan beragama.

Dengan dasar kesepakatan ini secara berkala dilakukan pertemuan para tokoh hak asasi manusia yang akhirnya dikeluarkan Deklarasi Universal Kewajiban Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Responsibilities).

3. 5. 5. Deklarasi Universal Kewajiban Asasi Manusia

Pada tahun 1997 suatu organisasi internasional mencanangkan deklarasi tentang kewajiban manusia yang intinya berusaha melengkapi pasal 29 tentang HAM universal. Deklarasi ini merupakan gagasan dari 60 tokoh pemikir dan para negarawan. Mereka mendengarkan dari banyak kesepakatan tentang kewajiban yang dibuat oleh NDK melalui pertemuan negara-negara regional. Kesepakatan itu antara lain: African Charter on Human and Peoples’ Rights (1981); Cairo Declaration on Human Rights in Islam (1990); Bangkok Declaration—kesepakatan negara-negara Asia—(1993); dan (4) Vienna Declaration and Program of Action (1993).

Hasil pemikiran ke 60 tokoh dituangkan dalam deklarasi dan dikenal juga sebagai “Kaidah Emas” (golden rules) antara lain: (1) hak atas hidup, ada kewajiban menghormati hidup; (2) hak atas kebebasan, ada kewajiban menghormati kebebasan orang lain; (3) hak atas keamanan, ada kewajiban menciptakan kondisi human security; (4) hak berpartisipasi dalam politik dalam negara sendiri, berkewajiban berpartisipasi dalam memilih pemimpin terbaik; (5) hak bekerja dalam kondisi yang adil dan menguntungkan, wajib bekerja dengan penuh kemampuan kita; (6) hak kebebasan berfikir, memiliki hati nurani dan beragama, wajib menghormati pikiran dan agama orang lain; (7) hak memperoleh pendidikan, wajib belajar penuh sesuai dengan kemampuan dan membagi pengetahuan serta pengalamannya kepada orang lain; (8) memperoleh hak menikmati kekayaan alam, wajib menghormati, memelihara dan memulihkan bumi serta sumber-sumber alam. Di samping itu masih menambah pasal yang berisikan kewajiban umum, sehingga secara keseluruhan menggambarkan adanya etika global. Masalah agama dibahas bahwa kita hendaknya meningkatkan toleransi yang mengarah pada pluralisme.

3. 5. 6. Hak Asasi Manusia Awal Abad 21

(24)

keamanan dalam negerinya. Bahkan mereka berupaya masuk ke wilayah negara lain dengan dalih ingin memerangi terorisme. Banyak negara menyusun hukum anti terorisme yang sedikit banyak mengurangi kebebasan sipil (civil liberties). Selanjutnya dicari paradigma baru. Namun satu hal yang tetap berjalan bahwa kejahatan yang akan dituduhkan pada pelaku adalah seperti pada pengadilan di Nuremberg dan Tokyo (1945) yaitu: kejahatan terhadap perdamaian, kejahatan perang dan kejahatan terhadap perikemanusiaan. Selanjutnya didirikan Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court) pada tahun 2002. Kekuasaan mahkamah ini sangat besar, sehingga dibatasi oleh ketentuan bahwa setiap pelanggaran yang akan diajukan untuk diadili di mahkamah ini harus dapat persetujuan Dewan Keamanan. Mahkamah Pidana Internasional harus membuktikan bahwa akan bertindak adil, efektif dan tidak menggunakan standar ganda.

Dari gambaran di atas, pada dasarnya penegakan HAM tidak mudah dan sering menimbulkan ketidak adilan juga. Upaya penegakan HAM tidak jarang menggerogoti kedaulatan negara baik secara intern maupun extern.

3. 6. Hak Asasi Manusia di Indonesia. 3. 6. 1. Pandangan bangsa Indonesia

Pandangan bangsa Indonesia tentang HAM agak berbeda dengan HAM universal, di mana HAM universal lebih mengutamakan hak individu daripada kewajiban individu. Negara Republik Indonesia seperti pada umumnya negara Asia dan negara sedang berkembang, pendekatan yang dipakai adalah: pendekatan partikularistik relatif. Dalam UUD 1945 tidak banyak membahas HAM universal kecuali dalam dua hal yakni pernyataan sila keempat Pancasila dan pasal 29. Selebihnya UUD 1945 membahas masalah Hak Asasi Warganegara (HAW). Alinea pertama Pembukaan UUD 1945 menunjukkan bahwa HAM Indonesia lebih mendekati HAW, yaitu adanya pernyataan “bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa …dst…”. Oleh karena itu bangsa Indonesia menyatakan bahwa hak asasi manusia merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia dan selanjutnya manusia juga mempunyai kewajiban dasar antara yang satu terhadap lain dan terhadap masyarakat secara keseluruhan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Bangsa Indonesia tetap mengemban tanggung jawab moral dan hukum untuk menjunjung tinggi dan melaksanakan Deklarasi Universal tentang HAM.

(25)

kewajiban dan tanggung jawab Pemerintah. Dalam UU tersebut memuat pula hak dan kewajiban masyarakat, pengadilan bagi pelanggaran HAM serta pembentukan Komisi Nasional HAM (KOMNAS HAM) yang bertujuan antara lain: mengembangkan kondisi yang kondusif bagi pelaksnaan HAM serta meningkatkan perlindungan dan penegakan HAM guna perkembangan pribadi manusia.

Hak asasi manusia yang menjadi kebebasan dasar manusia antara lain memuat pasal-pasal yang menyangkut:

1. Hak untuk hidup.

2. Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan. 3. Hak mengembangkan diri.

4. Hak memperoleh keadilan. 5. Hak atas kebebasan pribadi. 6. Hak atas rasa aman.

7. Hak atas kesejahteraan

8. Hak turut serta dalam pemerintahan. 9. Hak wanita

10. Hak anak.

3. 6. 2. Beberapa Keunikan UU HAM Indonesia

Kekhasan UU No. 39/1999 tentang HAM menyangkut : 1. masalah wanita antara lain (pasal 46, pasal 49, pasal 50 dan pasal 51)

2. masalah anak antara lain (pasal 53, pasal 54, pasal 59 dan pasal 60) 3. kewajiban dasar manusia (pasal 68).

(26)

kewajiban dan tanggung jawab yang sama terhadap pembinaan masa depan anak. Dan ini merupakan bentuk bahwa NKRI telah meratifikasi Convention on The Rights of The Child.

Dalam hal hak anak secara tersirat pada pengertian bahwa anak telah dilindungi sejak janin hingga menjadi manusia (dilahirkan). Dan selanjutnya, mengharuskan kepada orang tua untuk mengakuinya dengan tersuratnya melalui pasal 53 ayat (2). Dengan demikian anak tersebut akan terangkat martabatnya.

Kekhasan lain adalah ada salah satu pasal yang menyangkut Kewajiban Dasar Manusia (pasal 68) tersurat “setiap warganegara wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara”, padahal menurut pasal 30 UUD-1945 (asli) dan pasal 27 UUD-2000—sebutan bagi perubahan II— mengisyaratkan ada hak dan kewajiban dalam pembelaan negara. Ini mengandung arti bahwa UUD 1945 menghormati demokrasi dalam upaya pembelaan negara. Sementara itu, dari UU HAM kita menghendaki suatu kewajiban yang berarti kurang/tidak demokrasi dalam upaya pembelaan negara, dan ini tampaknya dipengaruhi HAM universal. Pada UUD NKRI 1945 upaya pembelaan negara dan usaha pertahanan keamanan negara (pasal 30), hak dan kewajiban warganegara, mengandung pengertian bahwa warganegara dapat secara spontan membela dan mempertahanan keamanan negara.

Kewajiban dan Tanggung Jawab Pemerintah termuat sebanyak 2 (dua) pasal yang membahas masalah kewajiban pemerintah untuk menghormati, melindungi, menegakkan, dan memajukan hak asasi manusia yang disesuaikan dengan hukum internasional. Ini mengandung arti bahwa negara kita akan menghormati hukum internasional sepanjang dapat diterima oleh negara Republik Indonesia.

BAB IV

NEGARA DAN SISTEM POLITIK

4. 1. Pengantar

(27)

Pembukaan UUD 1945 alinea IV. Untuk melaksanakan tunas melalui pembengunan nasional (Bangnas). Pelaksanaan Bangnas tidak dapat dilakukan secara serempak, melainkan bertahap dan berkesinambungan. Pelaksaaan program bangnas dikenal sebagai politik nasional dan strategi nasional (Polstranas).

Masa Orde Baru rencana bangnas dituangkan dalam suatu Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang bernama Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang berisi program pembangunan jangka panjang (PJP) 25 tahun dan program pembangunan jangka sedang (PJS) 5 tahun. Presiden yang dipilih oleh MPR-RI berkedudukan sebagai mandataris MPR, bertugas dan bertanggung jawab melaksanakan GBHN itu. Untuk melaksanakan GBHN tersebut Presiden dibantu Kabinet menyusun Rancangan Pembangunan Lima Tahun (REPELITA) yang dituangkan dalam bentuk Keputusan Presiden (KEPPRES).

UUD NKRI 1945 tidak ada lagi GBHN yang dibuat oleh MPR, tetapi sebagai gantinya muncul Visi dan Misi pasangan Presiden/Wakil Presiden yang disampaikan mereka pada saat kampanye Pemilihan Presiden. Kemenangan Calon Presiden/Wakil Presiden terpilih dapat diartikan sebagai Persetujuan Mayoritas Rakyat pada Visi dan Misi yang dikampanyekan sehingga dapat disamakan sebagai pengganti GBHN. Setelah Presiden terpilih dilantik, maka Presiden dibantu Kabinet menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 5 tahun 2004 – 2009 dan dituangkan dalam bentuk Peraturan Presiden (PERPRES) yang dapat disamakan dengan REPELITA. Dengan demikian Bangnas yang berpedoman pada Visi dan Misi Presiden dan RPJMN dapat disebut sebagai Politik dan Strategi Nasional. Selanjutnya pada bab ini akan membahas masalah politik dan pelaksanaannya di Negara kita.

4. 2. Politik dan Perkembangannya

(28)

Jawi. Namun sayangnya penulisan politik di Asia menjadi mundur sejak abad XIX (Boediardjo, 2008: 5).

Di Eropa sejak abad Pertengahan pengetahuan tentang politik berkembang dan menyebar ke benua lain hingga kini. Penulisannya berkembang melalui penulisan Jean J. Rousseau, Thomas Hobbes, John Lock, dan lain-lain. Tulisan-tulisan merekalah yang kini menjadi patokan mengaturan politik masa kini. Namun politik juga dianggap seni seperti dikemukakan oleh Quincy Wright “the art of influencing, manipulating or controlling major groups, so as the advantage the purpose of some against the opposition of others” (Chandra, 1979: 5)

Sebagai lanjutannya definisi politik menjadi macam-macam: “macam-macam kegiatan yang menyangkut proses penentuan tujuan dan sistem pelaksanaan tujuan”. Untuk melaksanakan tujuan ditentukan kebijakan umum (public policy) yang menyangkut kepentingan bersama masyarakat, bangsa dan negara, bukan perorangan atau golongan. Dalam pembahasan kuliah ini akan membatasi masalah konsep politik yang berarti kepentingan umum dan politik dalam arti kebijakan (policy).

Hakikat politik: Pembinaan masalah bangsa dan negara, sedangkan pembinaan meliputi rangkaian kegiatan: perencanaan, pengembangan, pemeliharaan, dan pengendalian. Dengan demikian politik (politics) adalah segenap kegiatan yang berpengaruh pada alokasi nilai yang mengikat masyarakat untuk dapat memecahkan masalahnya dengan baik. Untuk dapat menyelesaikan masalah politik diperlukan kebijakan (policy). Lebih lanjut kebijakan adalah: penggunaan pertimbangan-pertimbangan tertentu yang dianggap lebih menjamin terlaksananya suatu cita-cita atau usaha mencapai keinginan yang dikehendaki, dan disertai asas, jalan atau cara dan penggunaan alat dengan sebaik-baiknya.

Formulasi masalah politik akan menyangkut masalah: negara (state), kekuasaan (power), pengambilan keputusan (decision making), kebijakan (policy), pembagian (distribution) dan alokasi (allocation). Sudah barang tentu masalah legitimasi, rasionalisasi wewenang, deferensi struktur dan perluasan peran serta massa dalam politik akan menjadi bahan bahasan. Karena ketiga masalah terakhir ini makin menjadi pembicaraan yang hangat pada masa sekarang. Oleh karena itu dengan memahami politik sebagai ilmu, para peserta didik tidak hanyut pada percaturan politik yang sering kaliprimordial. Kelanjutan pelaksanaan politik biasanya adalah strategi.

(29)

memperkenalkan pengertian strategi secara dini dapat membiasakan peserta didik untuk berpikir strategik. Menurut Prof Dr.Faisal Affif (2003: 123), kebiasaan berpikir strategik belum melekat sebagai bagian dari kepribadian bangsa kita. Akibatnya kita senantiasa berjalan tertatih-taih di barisan belakang bangsa lain (Barat) dan kehilangan kesanggupan untuk menjadi pelopor yang tangguh, melangkah di muka, menengadah selaku sang pemenang

4. 2. 1. Budaya Politik

Membahas masalah konsep-konsep politik perlu diketahui terlebih dahulu apa itu budaya politik. Dengan demikian kita akan mengetahui sikap masyarakat dan sekaligus akan dapat mengantisipasi proses politik pada kawasan tertentu.

Budaya Politik (Mas’oed, 1983: 39) adalah sistem kepercayaan dan sistem nilai yang berwujud suatu pola tingkah laku tertentu baik berupa perbuatan maupun simbol-simbol tertentu di mana tingkah laku dan simbol-simbol tersebut menjadi suatu keadaan yang mewarnai aktivitas politik. Atau sikap warga negara suatu negara yang di latar belakangi oleh sistem nilai dan sistem kepercayaan terhadap kehidupan pemerintahan dan politiknya. Penggolongan budaya politik ini, berdasarkan sikap, nilai, informasi dan kecakapan politik dari warga negara/rakyat.

4. 2. 2. Struktur Politik atau Kelembagaan Politik

Struktur Politik adalah kerangka hubungan formal antara: rakyat-pemerintah-wilayah-kedaulatan. Dalam kaitan ini struktur yang umum dimiliki oleh sistem politik meliputi:

1. Rakyat. Sebenarnya rakyat adalah pemegang kedaulatan. Dengan dikemukakannya teori perjanjian, rakyat telah menyerahkan haknya melalui perwakilan, untuk membentuk pemerintahan.

(30)

kepentingan ini di Indonesia dikenal sebagai organisasi massa (ormas), namun pada kenyataannya banyak yang tidak ingin disebut ormas, mereka ingin tetap menamakan diri sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Non Government Organization (NGO) dan lain sebagainya.

3. Partai Politik. Partai politik adalah suatu kelompok terorganisasi yang anggota-anggotanya berorientasi, nilai-nilai dan cita-cita yang sama. Tujuan kelompok ini untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik (biasanya dengan cara konstitusional) untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka. Salah satu bentuk kebijakan pimpinannya harus bersifat kolektif. Salah satu penyebab diterbitkannya Maklumat Wakil Presiden no. X tahun 1945 adalah ingin membuktikan bahwa NKRI adalah negara demokrasi.

4. Badan Legislatif. Badan legislatif adalah badan yang membuat undang-undang. Anggotanya dianggap mewakili rakyat. Menurut teori yang berlaku maka rakyatlah yang berdaulat; rakyat yang berdaulat ini mempunyai suatu kemauan. Badan legislatif dianggap merumuskan kemauan rakyat dengan jalan menentukan kebijakan umum (public policy) yang mengikat seluruh masyarakat. Dalam kenyataannya, bentuk dan susunan badan-badan legislatif berbeda pada tiap negara. Dikenal sistem bikameral dan sistem unikameral. Indonesia kini memakai sistem bikameral dengan adanya Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) setelah pemilihan umum tahun 2004 (Simak UUD NKRI 1945).

5. Badan Eksekutif. Badan ini melaksanakan tugas mengatur negara /pemerintah. Di negara demokrasi biasanya badan eksekutif terdiri dari kapala negara/kepala pemerintahan, beserta menteri-menteri, pegawai negeri sipil dan militer. Dalam naskah ini pengertian badan eksekutif dipersempit, yakni hanya menyangkut kepala negara, kepala pemerintahan dan menteri-menterinya. Tugas badan eksekutif menurut tafsiran tradisional asas trias politika, hanya melaksanakan kebijakan-kebijakan yang telah ditentukan oleh badan legislatif. Namun, pada kenyataannya badan eksekutif lebih leluasa ruang geraknya dibandingkan badan legislatif. 6. Birokrasi. Badan ini didirikan/dibentuk karena makin meluasnya tugas pemerintahan modern,

(31)

kekuasaannya sehingga sulit dikendalikan (Laski, 1966; 85). Sedangkan Max Weber yang setuju adanya lembaga ini menyatakan bahwa birokrasi mampu mencapai efisiensi yang paling tinggi dan bentuk administrasi yang paling rasional, karena birokrasi merupakan pelaksana. Pengendalian oleh pemerintah melalui ilmu pengetahuan. Dalam kaitan ini militer adalah bagian dari birokrasi, tetapi langsung di bawah Kepala Negara tidak di bawah Kepala Pemerintahan.

7. Badan Yudikatif. Badan ini dalam konsep politik sebenarnya berperan sebagai penguji peraturan perundang-undangan (judicial review). Dalam konsep trias politika klasik, ketiga cabang kekuasaan harus benar-benar dipisahkan. Pada kenyataannya, pemisahanan tidak mungkin dapat dilaksanakan sepenuhnya, sehingga pada jaman modern ini yang ada adalah distribusi kekuasaan saja; artinya hanya fungsi pokoknya saja yang dipisahkan sedangkan fungsi lainnya yang bersifat teknis dari ketiga cabang tersebut terjalin satu sama lainnya. Ini disebabkan tugas-tugas kenegaraan yang semakin kompleks.

4. 3. Pemerintahan di Indonesia

Membahas sistem politik dan pemerintahan di Indonesia perlu menyimak latar belakang perkembangan politik di jaman modern tidak hanya di Indonesia tetapi di beberapa negara Eropa. Hal ini erat kaitannya dalam perjalanan politik bangsa Indonesa (baru) yaitu sebelum dan setelah Proklamasi 17 Agustus 1945. Sistem politik di negara kita sangat dipengaruhi oleh proses politik di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

Politik nasional merupakan asas, haluan, usaha serta kebijakan tindakan dari negara tentang pembinaan dan penggunaan secara totalitas segenap potensi nasional, baik yang masih potensial maupun yang efetif untuk mencapai tujuan nasional. UUD 1945 (asli) dapat ditarik kesimpulan bahwa GBHN merupakan gambaran arah politik nasional. Namun mulai tahun 2004 (hasil Pemilu) akan tergambar bahwa arah politik nasional kita tidak/kurang jelas. Hal ini disebabkan bahwa Majelis Permusyawaratan Rakyat yang akan datang tidak akan mengeluarkan Ketetapan MPR RI.

4. 3. 1. Undang-undang Dasar.

(32)

tidak tertulis, artinya setiap saat dapat diubah menurut perkembangan jaman. Terlepas dari pengertian yang bermacam perlu kita ketahui bahwa hakikatnya adalah merupakan hukum dasar dari suatu negara, di mana setiap hukum yang diciptakan harus mengacu pada hukum dasar. Hukum dasar merupakan perjanjian luhur dari bangsa dalam mendirikan negara. Dalam sejarah ketatanegaraan RI dapat diketemukan banyak kententuan konstitusional yang diketemukan di luar naskah UUD, bahkan ada peraturan yang sama sekali di luar naskah UUD. Hal ini karena masyarakat kita sibuk menghadapi pergolakan revolusi.

a. Periode 1945-1949. Pada periode ini perangkat/lembaga politik belum dapat dipenuhi sebagai syarat suatu Negara, meskipun 3 syarat utama telah ada. Negara Kesatuan Republik Indonesia dianggap sebagai jelmaan fasis “baru”. Untuk melengkapinya institusi politik, dikeluarkan Maklumat Wakil Presiden No X yang merupakan jawaban dari tuduhan negara pemenang perang. Sebagai akibatnya NKRI tidak konsekuen melaksanakan UUD 1945. Menteri tidak bertanggung jawab kepada presiden, dengan demikian Pemerintahan bersifat parlementer. Dalam kurun waktu tersebut Pemerintahan parlementer dihentikan oleh Presiden sehubungan adanya keadaan darurat, yaitu pada saat adanya penculikan PM Sutan Syahrir, Jatuhnya Kabinet Syahrir dan adanya Pemberontakan PKI.

b. Periode 1950–1959. Pada periode ini demokrasi parlementer makin menonjol hal ini disebabkan alam politik dunia sedang dalam pertarungan 2 blok (Barat dan Timur). Meskipun ketiga UUD tidak menyebutkan adanya partai politik, namun kenyataannya partai-partai politik yang memegang peranan penting pada percaturan politik di Indonesia. Perubahan UUD di Indonesia dianggap kaku karena forum untuk penentuannya harus 2/3 anggota hadir.

(33)

d. Pada masa Orde Baru (1966-1998). Pemerintah RI berupaya, melaksanakan UUD-1945 secara murni dan konsekuen. Lembaga Tinggi Negara yang belum ada, dibentuk melalui UU. Demikian pula pasal 3 UUD-1945 (tentang Ketetapan Garis Besar Haluan Negara) dibuat rancangannya sejak dini. Pembuatan Rancangan GBHN oleh Dewan Pertahanan Keamanan Nasional beserta tokoh masyarakat dan perguruan tinggi. Demikian juga Badan Pekerja MPR berupaya memonitor apakah GBHN yang sedang berjalan dapat dilaksanakan dengan tepat, sehingga dapat mengoreksi rancangan GBHN mendatang. Pada saat pelantikan/pengesahan Anggota MPR/DPR (baru) pada bulan Oktober mereka telah menerima rancangan GBHN dari Presiden. Sementara itu, pada masa persidangan MPR para anggota MPR membahas rancangan yang telah cukup lengkap dan siap.

e. Pada masa Orde Reformasi tampaknya agak “kacau”, pembuatan GBHN singkat dan tidak begitu jelas. Pada masa ini amandemen UUUD-1945 telah dilakukan sebanyak 4 (empat) kali, yang nampaknya kurang dikaji secara ilmiah. Dari 4 kali perubahan jelas arah negara kita menuju kepada negara federal. Terbukti dengan perubahan pasal yang intepretasinya mengarah ke federalisme yaitu pasal 2 ayat (1) UUD 1945 (baru) menyebutkan bahwa MPR terdiri dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

f. UUD-1945 yang telah dirumuskan oleh para pendiri Negara Kesatuan mencakup: Pembukaan, Batang Tubuh, dan Penjelasan-penjelasan. Namun berdasarkan amandemen IV pada sidang tahunan MPR, bagian ketiga telah dihapuskan. UUD-1945 telah mengakomodasi konsep-konsep dasar penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang meliputi: (1) hak asasi bangsa/rakyat merdeka, (2) hak asasi manusia, (3) negara kesatuan/persatuan, (4) negara republik, (5) negara hukum, (6) demokrasi, (7) sistem pemerintahan negara, dan (8) penyelenggaraan negara.

4. 3. 2. Badan Eksekutif.

(34)

Tugas badan eksekutif berdasarkan tafsiran tradisional asas trias politica, hanya melaksanakan kebijakan-kebijakan yang dirumuskan dan menyelenggarakan undang-undang yang dibuat oleh badan legislatif. Namun, pada masa modern pemisahan seperti yang dikehendaki oleh asas trias politika tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya. Oleh karena itu wewenang badan eksekutif menjadi lebih luas. Keberhasilan pelaksanaan menuju welfare state tergantung dari kreatifitas dan kemampuan para eksekutif. Wewenang Badan Eksekutif kini mencakup beberapa bidang: (1) diplomatik (hubungan dengan negara lain), (2) administratif (melaksanakan UU dan penyelenggaraan administrasi negara), (3) militer (mengatur TNI, menyelenggarakan perang serta keamanan), (4) yudikatif (memberi grasi, amnesti dan lain sebagainya), serta (5) legislatif (merancang UU dan membimbingnya dalam badan perwakilan rakyat sampai menjadi UU).

4. 3. 3. Badan Legislatif.

Badan ini bertugas membuat undang-undang atau “to legislate”. Anggota dianggap mewakili rakyat. Menurut teori yang berlaku rakyatlah yang berdaulat. Menurut Jean J. Rousseau ada Volonte Generale/general will pada rakyat. Oleh karena itu disebut Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Parlemen Inggris merupakan DPR yang tertua di dunia. Sementara itu, Jean J. Rousseau tidak setuju adanya DPR, tetapi menghendaki demokrasi langsung, permasalahan ini hanya dapat terjadi apabila jumlah rakyatnya sedikit. Sesuai dengan Pancasila kita menghendaki adanya DPR seperti tersurat pada sila keempat. Beberapa masalah yang perlu dicermati antara lain: Sistem Satu Majelis dan Sistem Dua Majelis. Sistem bikameral (dua majelis) biasanya ada pada negara federal sedangkan pada sistem uni kameral biasanya pada negara kesatuan. Indonesia secara tidak langsung kini pada sistem bikameral (adanya DPR dan DPD). Fungsi Badan Legislatif adalah fungsi legislatif dan fungsi control. Sebagai fungsi kontrol DPR memiliki: hak tanya, hak interpelasi, hak angket dan mosi. Badan Legislatif di Indonesia adalah :

1) Volksraad: 1912 – 1942.

2) Komite Nasional Indonesia: 1945 -1949. 3) DPR dan Senat RIS: 1949 – 1950. 4) DPR Sementara: 1950 – 1956. 5) DPR Hasil Pemilu: 1956 – 1959. 6) DPR Peralihan: 1959 – 1960.

(35)

8) DPR Gotong Royong (Demokrasi Pancasila): 1966-1971. 9) DPR hasil Pemilihan Umum, 1971-2004 secara periodik. 10) DPR dan DPD hasil Pemilihan Umum 2004

4. 3. 4. Badan Yudikatif.

(36)

Kehakiman. Pada undang-undang ini secara implisit tidak menyebutkan adanya hak pengujian hukum, karena UUD-1945 tidak menyebutkan adanya hak pengujian hukum. Oleh karena itu hak menguji melalui Ketetapan MPR, yang berdasarkan amandemen baru MPR tidak berhak mengeluarkan

4. 4. Demokrasi 4. 4. 1. Latar Belakang

Salah satu sifat negara adalah memaksa kehendaknya agar dalam pengaturan bangsa dapat berjalan sesuai dengan aturan (law and order). Dalam melakasanakan law and order negara hendaknya melaksanakan sesuai kehendak mayoritas bangsa. Jika hukum dibuat atas kehendak mayoritas bangsa maka sistem pemerintahan itu dinamakan demokrasi. Oleh karena itu hakekat demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat untuk rakyat dan kepada rakyat (of the people, by the people, to the people). Hakekat inilah yang didambakan oleh rakyat, namun pada kenyataannya tidak mudah dilaksanakan. Tidak mudahnya dilaksanakan karena golongan mayoritas yang berkuasa sering tidak mengindahkan hak-hak minoritas dan sering berakibat konflik dengan kekerasan/perang (Wrights, 1941: 6). Oleh karena demokrasi tidak diwariskan melainkan harus diajarkan (democracy is not an inharritage but should be learned)

Perwujudan sistem demokrasi akan berbeda pada berbagai negara :

1. Pada masyarakat majemuk yaitu penduduknya beraneka ragam golongan seperti India, Indonesia, Filipina.

2. Pada masyarakat yang homogen seperti Jerman, Jepang

3. Pada mayarakat yang terdiri dari imigran dan keturunan mereka seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia.

4. 4. 2. Ciri-ciri Sistem Demokrasi

Pada umumnya ciri-ciri demokrasi sebagai berikut:

1. Apabila sistem politik secara berkala memungkinkan penggantian Pemerintah :

(37)

2. Harus mempunyai sejumlah anggota masyarakat yang menempati kedudukan dalam pemerintahan untuk masa jabatan tertentu seperti Presiden, Menteri, Gubernur, Walikota, Bupati dan lain sebagainya.

3. Harus mempunyai sejumlah anggota masyarakat yang diakui sebagai tokoh sah, berusaha berjuang untuk dapat menempati kedudukan-kedudukan dalam pemerintah, agar mereka berada dalam keadaan yang memungkinkan mereka melaksanakan pemerintahan sesuai dengan apa yang mereka anggap baik. Tanpa kehadiran pemimpin-pemimpin tandingan, kekuasaan pemerintahan cenderung bertambah besar, sehingga pengaruh rakyat menjadi kecil. 4. Berkaitan dengan itu, dalam sistem demokrasi terdapat pemilihan lain yang biasanya dilakukan

secara berkala untuk memiliki :

a. Pejabat-pejabat pemerintah tertentu atau

b. Memilih anggota-anggota masyarakat yang diharapkan mewakili rakyat dalam pemilihan pejabat-pejabat tersebut

5. Agar masing-masing golongan dapat diketahui oleh pemerintah dan anggota masyarakat lain, harus diakui adanya hak menyatakan pendapat baik secara lisan, dalam pertemuan-pertemuan dan media masa elektronik, maupun secara tertulis melalui media cetak.

6. Masalah adanya golongan-golongan penduduk yang tidak ikutserta dalam pemilihan umum

4. 4. 3. Perkembangan Sistem Demokrasi

Perkembangan Sistem Demokrasi dipengaruhi oleh kekuatan pembauran anggota masyarakat yang berbeda-beda:

1. Kekuatan Pertama: perkembangan ekonomi yang memungkinkan semakin banyak anggota masyarakat memperoleh sumber nafkah sendiri dan melepaskan diri dari golongan asalnya. 2. Kekuatan Kedua: perkembangan pendidikan yang memungkinkan semakin banyak anggota

masyarakat memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk berpikir sendiri dan membuat keputusan sendiri mengenai dirinya.

3. Kekuatan Ketiga: perkembangan hukum yang dengan jelas menyatakan hak dan kewajiban masing-masing anggota masyarakat sebagai warga negara yang semakin sama bagi semua warga negara.

Referensi

Dokumen terkait

Tahapan penelitian yang dilakukan meliputi tahap persiapan terdiri dari, analisis kebutuhan bahan ajar, pemilihan sub materi, analisis standar isi, analisis bahan

Termasuk masalah yang sering dihadapi guru berkenaan dengan bahan ajar adalah guru memberikan bahan ajar atau materi pembelajaran terlalu luas atau terlalu sedikit, terlalu

Termasuk masalah yang sering dihadapi guru berkenaan dengan bahan ajar adalah guru memberikan bahan ajar atau materi pembelajaran terlalu luas atau terlalu sedikit, terlalu

Terdapat beberapa jenis bahan ajar seperti bahan ajar cetak, bahan ajar visual, bahan ajar audio visual, bahan ajar multimedia, dan benda riil sedangkan Media Pembelajaran atau Media

Dari hasil penelitian diperoleh informasi bahwa terdapat bahan ajar yang sesuai dan bahan ajar yang tidak sesuai dengan kompetensi inti dan kompetensi dasar yaitu

Sistem nilai budaya merupakan inti dari suatu kebudayaan (yang dianggap bernilai tinggi) yang menjiwai semua pedoman yang mengatur tingkah laku warga kebudayaan yang

Hasil pembahasan menunjukkan 1 Bahan ajar yang dikembangkan adalah bahan ajar sosiologi untuk kelas X, XI, XII SMA/MA berdasarkan kurikulum 2013; 2 Aplikasi yang digunakan adalah html 5

Sumber : Hermawan, 2019 HASIL DAN PEMBAHASAN Bahan ajar E-book berbasis pendekatan saintifik ini mempunyai karakteristik khusus, diantaranya adalah a bahan ajar dalam bentuk