KPU Kabupaten Banyumas
KPU Kabupaten Banyumas
Media Pendidikan Politik Kepada Pemilih
DERAP
News Letter Nomor #005
Edisi Mei 2015
Reformasi 1998 dan Evolusi Penyelenggara Pemilu
Andi Ali Said Akbar, S.IP, MA :
“Agenda konsolidasi politik
dimasa yang akan datang
tentunya masih sangat banyak..”
Waslam Makhsid:
Melayani hak konstitusional warga sebagai Pemilih
menuju suksesnya Pemilu
Resensi Buku:
“Politik Uang
di Indonesia :
Patronase dan
Klientelisme
pada Pemilu
Legislatif 2014”
KPU Kab. Banyumas di Media Sosial :
kpud-banyumaskab.go.id
/kpubanyumas
Dari Redaksi
Tak dapat disangkal, KPU merupakan buah dari bergulirnya reformasi tahun 1998. Hadirnya KPU memberikan harapan akan penyelenggara Pemilu yang independen untuk mewujudkan Pemilu yang jujur dan adil. Pasalnya, selama enam kali gelaran Pemilu Orde Baru, praktik Pemilu selalu menjadi alat penguasa untuk melanggengkan kekuasaan, salah satunya dengan cara mendesain penyelenggara Pemilu untuk menguntungkan pihak tertentu dan merugikan pihak lain. Pemilu pada masa itu tak ubahnya alat untuk meneruskan hegemoni kekuasaan, sebuah pseudo-demokrasi, tampak seperti demokrasi tetapi sebetulnya bukan. Oleh sebab itu, tekad reformasi 1998 salah satunya adalah perubahan dalam bidang politik, khususnya penyelenggaraan Pemilu yang bebas, jujur dan adil, maka pada Pemilu 1999, Pemilu pertama pasca-reformasi, dibentuklah KPU yang anggotanya diisi oleh perwakilan partai politik peserta Pemilu.
Meski demikian, seiring perjalanan demokratisasi di Indonesia, pembuat UU menghendaki agar KPU bebas dari pengaruh partai politik. Hal ini tentu dipengaruhi oleh pengalaman hasil Pemilu 1999 dimana para anggota KPU berasal dari unsur parpol ternyata gagal untuk mengambil konsensus. Akhirnya, melalui dasar amandemen ketiga atas UUD tahun 1945 pasal 22E, dibentuk KPU yang memiliki sifat nasional, tetap dan mandiri. Konsekuensinya keanggotaan KPU sejak tahun 2001 diisi oleh para akademisi, pemerhati kepemiluan dan praktisi pemilu. Hingga saat ini penyempurnaan kelembagaan penyelenggara Pemilu terus dilakukan, misalnya melalui UU Nomor 15 tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu, dibentuklah Bawaslu, sebuah lembaga pengawas Pemilu yang memiliki sifat permanan untuk tingkat pusat dan provinsi.
Evolusi penyelenggara menyiratkan bahwa kelembagaan penyelenggara Pemilu mengalami dinamika sejak runtuhnya orde baru lima belas tahun yang lalu. Dinamika tersebut seiring dengan perkembangan tuntutan untuk menyelenggarakan Pemilu yang demokratis, jujur dan adil sesuai dengan tuntutan zaman. Misalnya, saat ini penyelenggara Pemilu tidak hanya dituntut harus memiliki integritas dan independensi tetapi juga dituntut untuk memiliki kecakapan, baik secara individu maupun kelembagaan, dalam penyelenggaraan Pemilu agar hasil Pemilu dapat diterima semua pihak di satu sisi dan menjamin keberlangsungan demokrasi di sisi lain. Satu hal yang patut digarisbawahi adalah bahwa marwah reformasi-untuk menyelenggarakan Pemilu yang jujur dan adil, seyogyanya terus-menerus dirawat dengan baik oleh pembuat UU maupun oleh lembaga KPU sendiri.
DERAP
KPU ANAK KANDUNG
REFORMASI
Pengarah: Unggul Warsiadi, Ikhda Aniroh, Imam Arif Setiadi, Waslam Makhsid, Suharso Agung Basuki I Penanggung Jawab: Hirawan Danan Putra I Ketua:
Kasworo I Pelaksana Teknis: Subhan Purno Aji, Sarikasih, Cenata Noviarto I Alamat Redaksi: Subbag Teknis dan Hupmas Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Banyumas Jalan H.M. Bachroen Berkoh Purwokerto Selatan, Telpon/Faximile : 0281-6 4 2 0 7 7 I W E B S I T E : w w w. k p u d - b a n y u m a s k a b . g o . i d I E - M A I L : [email protected] I BLOG: kpukabbanyumas.blogspot.com I FACEBOOK: /kpubanyumas I Twitter: @KPUBanyumas
News Letter Nomor #005
2
Fokus
ulan Mei ini kita warga bangsa dan
B
negara memperingati dua peristiwa penting yang secara kebetulan berurutan, yaitu tanggal 20 dan 21 Mei. Tanggal yang pertama secara luas diperingati sebagai hari kebangkitan nasional, momen berdirinya organisasi pergerakan sosial modern pertama para priyayi Jawa, Boedi Oetomo (BO) pada 1908. Sementara tanggal yang kedua dicatat dalam sejarah sebagai hari dimana presiden kedua Indonesia, Soeharto, mundur setelah lebih dari tiga dekade berkuasa, sekaligus dimulainya apa yang belakangan disebut Orde Reformasi.Kedua peristiwa ini meskipun terentang waktu 90 tahun, tetapi memiliki benang merah yang hampir sama, yaitu adanya kesadaran untuk melakukan perubahan dari masa sebelumnya, semangat memutus masa lalu untuk masa depan yang lebih baik. Jika BO perg erakan pribumi per tama yang
mengintrodusir strategi perjuangan baru untuk meraih kemerdekaan deng an jalan mengusahakan perluasan pendidikan kepada kelompok pribumi, maka gerakan yang dipelopori oleh mahasiswa 90 tahun kemudian adalah menggulingkan dan meluruskan pemerintahan yang dinilai sudah melenceng dari amanat konstitusi. Perbedaannya gerakan yang dipelopori oleh BO baru memperoleh hasil lebih dari tiga dekade kemudian, dengan diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia pada 1945, sedangkan buah dari demonstrasi besar-besaran mahasiswa pada 1998 yang menggulingkan Soeharto setidaknya sampai 15 tahun setelahnya, belum terlihat jelas hasilnya. Meskipun harus diakui bahwa banyak hal positif dari buah reformasi, tetapi jika ditilik secara substansial perjuangan reformasi belum memiliki “efek menetes ke bawah” untuk perbaikan “kesejahteraan umum dan keadilan bagi seluruh tumpah darah Indonesia”.
REFORMASI
1998
DAN EVOLUSI
PENYELENGGARA PEMILU
Fokus
Secara akademik, peralihan kekuasaan orde baru yang otoriter itu pada dasarnya Indonesia sedang memasuki apa yang disebut dengan “masa transisi”. Transisi adalah awal atau interval (selang waktu) antara rezim otoritarian dengan rezim yang lebih demokratis. Transisi dimulai dari keruntuhan rezim otoritarian lama yang kemudian diikuti atau berakhir dengan pengesahan (instalasi) lembaga-lembaga politik dan aturan politik baru di bawah payung demokrasi (Eko, 2003).
Sayangnya, periode ini merupakan periode yang kritis bagi negara demokrasi baru. Umumnya pada masa ini dipenuhi banyak kemungkinan dan ketidakpastian disebabkan karena belum adanya aturan main (rule of the game) yang mengikat para aktor di satu sisi, sementara di sisi lain kekuasaan lama cenderung untuk merebut kembali hak-hak yang telah dinikmati sebelumnya. Oleh karena itu, periode transisinya tidak mesti berakhir manis dengan “konsolidasi demokrasi”, tetapi pada beberapa kasus justru akan terjerembab pada kondisi lebih buruk.
Pemilu dan Agenda Reformasi
Disebagian besar negara pasca-otoritarian, penyelenggaraan Pemilu hampir pasti menjadi jalan menuju pemerintahan baru. “Instalasi” untuk membentuk lembaga politik yang baru tersebut paling mungkin jika dilakukan melalui mekanisme Pemilu. Menurut Larry Diamond (2003), pakar ilmu perbandingan politik dari Stanford University, mengatakan bahwa Pemilu dilakukan untuk mengisi jabatan-jabatan penting negara. Menurutnya, Pemilu tersebut harus dijalankan secara netral melalui sebuah cara yang dapat menghapus kecurangan dalam pemungutan suara dan penghitungan suara, menjamin kerahasiaan kotak suara, memberi kemungkinan bagi semua orang dewasa untuk
memilih, serta dapat menyelesaikan perselisihan dengan transparan. Singkatnya Pemilu harus dilaksanakan secara bebas, jujur dan adil.
Hal yang sama juga kurang lebih terjadi di Indonesia. Habibie yang didaulat sebagai pengganti Soeharto mendapati dirinya tidak memiliki dukungan yang kuat. Apalagi ada tekanan dari dunia internasional Indonesia harus segera melaksanakan Pemilu. Alhasil Habibie dan pimpinan MPR saat itu memutuskan untuk mempercepat penyelenggaraan Pemilu dari yang seharusnya dilaksanakan pada 2002 kemudian dimajukan menjadi Juni 1999, sehingga pemerintahan yang baru akan terbentuk paling lambat di awal tahun 2000.
Menurut catatan sejarah Pemilu 1999 seperti yang dikutip dari situs resmi KPU www.kpu.go.id, sebelum menyelenggarakan Pemilu yang dipercepat itu, pemerintah mengajukan paket RUU politik, yaitu RUU tentang Partai Politik, RUU tentang Pemilu dan RUU tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR dan DPRD. Ketiga draft UU ini disiapkan oleh sebuah tim Depdagri, yang disebut Tim 7, yang diketuai oleh Prof. Dr. M. Ryaas Rasyid (Rektor IIP Depdagri, Jakarta).
Setelah RUU disetujui DPR dan disahkan menjadi UU, Presiden membentuk Komisi Pemilihan Umum (KPU) melalui Keppres Nomor 16 Tahun 1999, anggotanya sebanyak 53 orang berasal dari wakil partai politik dan wakil dari pemerintah. Satu hal yang secara sangat menonjol membedakan Pemilu 1999 dengan pemilu-pemilu sebelumnya sejak 1971 adalah Pemilu 1999 ini diikuti oleh banyak sekali peserta. Ini dimungkinkan karena adanya kebebasan untuk mendirikan partai politik. Peserta Pemilu kali ini adalah 48 partai. Ini sudah jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah partai yang ada dan terdaftar di Departemen
News Letter Nomor #005
4
Fokus
Kehakiman dan HAM, yakni 141 partai.
Hasil Pemilu 1999 dan Momen Perbaikan
Meskipun masa persiapannya tergolong singkat, pelaksanaan pemungutan suara pada Pemilu 1999 ini bisa dilakukan sesuai jadwal, yakni tanggal 7 Juni 1999. Tidak seperti yang diprediksikan dan dikhawatirkan banyak pihak sebelumnya, ternyata Pemilu 1999 bisa terlaksana dengan damai, tanpa ada kekacauan yang berarti. Hanya di beberapa Daerah Tingkat II di Sumatera Utara yang pelaksanaan pemungutan suaranya terpaksa diundur satu pekan. Itu pun karena adanya keterlambatan atas datangnya perlengkapan pemungutan suara.
Tetapi tidak seperti pada pemungutan suara yang berjalan lancar, tahap penghitungan suara dan pembagian kursi pada Pemilu kali ini sempat menghadapi hambatan. Pada tahap penghitungan suara, dari 48 partai politik sebanyak 27 partai politik menolak menandatangani berita acara perhitungan suara dengan dalih Pemilu belum jurdil (jujur dan adil). Sikap penolakan tersebut ditunjukkan dalam sebuah rapat pleno KPU. Sampai harus diambil alih oleh Presiden Habibie sendiri. Komposisi keanggotaan KPU yang diisi orang-orang partai politik sebagaimana ditegaskan Pasal 8 ayat (2) UU No. 3 Tahun 1999 tentang Pemilu, menjadi bumerang atas pelaksanaan pemilu yang damai. Anggota KPU yang berasal dari partai politik gagal menetapkan hasil pemungutan suara tepat waktu, karena terjebak kepentingan masing-masing.
Peristiwa tersebut membuat banyak pihak termasuk kalangan MPR saat itu beranggapan bahwa independensi KPU merupakan hal yang mutlak. Amanah reformasi untuk memperbaiki
penyelenggaraan Pemilu yang tidak jujur dan adil ternyata membutuhkan kondisi-kondisi untuk menciptakannya. Persoalan tersebut kemudian mempengaruhi sikap dalam memandang KPU yang independen. Seperti yang dicatat oleh Yulianto dkk (2010) dari Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN), perubahan pandangan tersebut mengemuka dalam Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (SU-MPR) pada Oktober 1999. Pandangan MPR yang tertuang dalam Tap MPR Nomor IV/MPR/1999 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) Bab IV tentang Arah Kebijakan huruf C angka 1.h. menyebutkan “menyelenggarakan pemilihan umum secara lebih berkualitas dengan partisipasi rakyat seluas-luasnya atas dasar prinsip demokratis, langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, adil, dan beradab yang dilaksanakan oleh badan penyelenggara independen dan non-partisan selambat-lambatnya pada tahun 2004.”
Lebih lanjut, ketetapan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan melakukan perubahan atas Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1999 tentang Pemilihan Umum dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1999 tentang Pemilihan Umum. Pasal 8 ayat (2) UU No. 4 Tahun 2000 menyebutkan bahwa penyelenggaraan pemilu dilaksanakan oleh Komisi Pemilihan Umum yang independen dan non partisan.
6
Edisi Mei 2015 News Letter Nomor #005
Fokus
Tanggal 9 Nopember 2001, SU-MPR mengesahkan Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar Tahun 1945 (UUD 1945). Pasal 22E ayat (5) menyebutkan bahwa pemilihan umum diselenggarakan oleh suatu komisi pemilihan umum yang bersifat nasional, tetap dan mandiri. Klausula tentang penyelenggara pemilu yang bersifat “mandiri” merupakan jawaban atas trauma Pemilu 1999. Alhasil KPU kedua dibentuk dengan Kepres Nomor 10 Tahun 2001 pada masa kepresidenan KH Abdurahman Wahid, anggotanya berjumlah 11 orang berasal dari para akademisi dan aktivis LSM yang dipandang non-partisan dan independen.
Perbaikan Demi Perbaikan
Keberhasilan penyelenggaraan Pemilu 2004 memberikan optimisme publik terhadap KPU sebagai penyelenggara Pemilu. Satu pelajaran kembali dapat dipetik dari penyelenggaraan Pemilu 2004, yaitu keberhasilan penyelenggara Pemilu tidak hanya diukur dari hasil Pemilu yaitu terpilihnya para kandidat terpilih yang memiliki legitimasi kuat tetapi juga pada proses penyelenggaraannya. Pemilu 2004 yang menghasilkan DPR, DPD dan DPRD serta presiden pilihan langsung ternyata dicederai oleh sebagian anggota KPU yang tersangkut kasus hukum.
Kondisi di atas mempengaruhi pandangan publik t e n t a n g p e n y e l e n g g a r a Pe m i l u , b a h w a faktor independesi dan non-partisan saja tidak cukup untuk mewujudkan
penyelenggaraan Pemilu. Lantas bagaimana wujud ideal penyelenggara Pemilu?. Menurut
International Institute for Democracy and Electoral Assistance/IDEA (2006), setidaknya ada tujuh prinsip yang berlaku umum untuk menjamin penyelenggara Pemilu yang memiliki kredibilitas dan legitimasi, yaitu independence
(independen), impartiality (berimbang/tidak-memihak), integrity (terpercaya), transparency
(keterbukaan), efficiency (efisiensi), professionalism
(profesional) dan ser vice-mindedness
(mengutamakan pelayanan).
Independen atau “bebas, mandiri atau merdeka”, artinya penyelenggara pemilu bebas dari intervensi/tekanan pihak manapun, seperti pemerintah, partai politik dan pihak lain dalam pengambilan keputusan. Imparsialitas
dimaknai sebagai perlakuan yang sama, tidak memihak, dan adil sehingga tidak memberikan keuntungan pihak lain. Integritas secara singkat diartikan sebagai kesesuaian antara perkataan dan perbuatan, antara kata dan laku. Integritas menentukan penyelenggara Pemilu mendapatkan kepercayaan atau tidak dari pihak lain. Integritas mempunyai dua level, yaitu individu dan institusi. Transparansi atau keterbukaan secara umum diartikan sebagai memberikan informasi secara cukup, akurat, dan tepat waktu perihal kebijakan publik dan
proses pembentukannya kepada khalayak.
Efisiensi mempunyai arti menggunakan sumber daya sekecil mungkin untuk mencapai tujuan sebanyak-banyaknya. Dalam konteks penyelenggaraan Pemilu, hendaknya mereka menggunakan anggaran secara bijak.
Profesionalisme adalah Pemilu harus dikelola oleh kelompok khusus/ orang yang memiliki keahlian, terlatih dan berdedikasi. Kelompok yang memiliki keahlian terdiri dari para ahli dan mampu mengelola serta melaksanakan penyeleng garaan pemilu. Sedangkan
mengutamakan-pelayanan mengandung makna untuk memberikan pelayanan kepada
stakeholders, baik masyarakat maupun peserta pemilu. Penyelenggara pemilu harus mengembangkan dan mempublikasikan standar pelayanan untuk setiap tahapan penyelenggaraan pemilu.
Prinsip-prinsip penyelenggara Pemilu di atas sama dengan prinsip-prinsip yang terkandung dalam UU Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilu. Oleh karena itu, tiga tahun setelah penyelenggaraan Pemilu 2004 DPR menginisiasi RUU tentang penyelenggara Pemilu, yaitu mengatur khusus tentang penyelenggara Pemilu yang sebelumnya tercecer dalam beberapa UU, untuk kemudian disatukan dalam UU tersendiri. UU tersebut telah mengatur secara detail tentang penyelenggara Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, Legislatif dan Pemilihan Umum Kepala Daerah. Hadirnya UU Nomor 22 tahun 2007 mulai mengintrodusir Badan Pengawas Pemilu sebagai lembaga yang tetap di tingkat nasional. Meskipun pada awalnya mempunyai kewenangan yang terbatas dalam hal pengawasan, akhirnya MK mengabulkan kewenangan penuh Bawaslu untuk melakukan pengawasan, termasuk dalam hal perekrutan
Panwaslu di tingkat Kabupaten/Kota yang awalnya masih melekat pada KPU Kabupaten/Kota. Selain itu, UU tersebut juga memberikan kewenangan yang tegas kepada seluruh penyelenggara Pemilu ad hoc seperti PPK, PPS, KPPS, Panwaslu serta PPL.
Dengan pemberlakuan UU Nomor 11 tahun 2015 terdapat penyempurnaan dengan hadirnya lembaga baru yaitu Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) yang memiliki kewenangan untuk memutus sengketa dugaan pelanggaran kode etik penyelenggara Pemilu. Lembaga ini hadir sebagai koreksi UU sebelumnya dan pengalaman banyaknya pelanggaran kode etik para penyelenggara Pemilu. Kecuali itu, Bawaslu juga diperkuat secara kelembagaan sampai dengan level provinsi sehingga di setiap provinsi memiliki struktur Bawaslu yang tetap tidak lagi ad hoc dan memiliki kesekretariatan yang dipimpin oleh sekretaris jenderal.
Di tengah tuntutan terhadap perbaikan kualitas demokrasi di Indonesia, KPU pun dituntut untuk selalu melakukan perbaikan ke depan. Tantangan yang dihadapi oleh KPU diantaranya adalah tuntutan untuk menyelenggarakan yang semakin sederhana dan efisien, merebaknya praktik politik uang dan menjaga kepercayaan publik terhadap KPU. (spa_a)
Sumber:
Diamond, Larry. 2003. Developing Democracy:
Toward Consolidation (Terj.). IRE: Yogyakarta
Eko, Sutoro. 2003. “Pelajaran Konsolidasi
Demokrasi untuk Indonesia”. Pengantar Dalam Developing Democracy: Toward Consolidation.
Yulianto, dkk. 2010. Memperkuat Kemandirian
Penyelenggara Pemilu: Rekomendasi Revisi Penyelenggara Pemilu. KRHN: Jakarta
Sumber lain
8
Edisi Mei 2015 News Letter Nomor #005
News
BAGAIMANA SOLUSINYA?
DUALISME KEPENGURUSAN PARPOL DALAM
PENCALONAN PILKADA 2015,
PURWOKERTO, DERAP- Beberapa isu krusial terkait pencalonan dalam Pilkada 2015 saat ini ramai diberitakan di media massa antara lain dualisme kepengurusan Partai Politik, SK Menkumham vs Putusan Pengadilan. Mengikuti perkembangan kepemiluan tersebut, Rabu (20/5) KPU Kabupaten Banyumas melaksanakan kegiatan Media Gathering dengan tema 'Dualisme Kepengurusan Parpol dalam Pencalonan PILKADA Tahun
dan penyampaian informasi terkait kepemiluan di Kabupaten Banyumas.
“ A d a 2 6 9 d a e r a h y a n g a k a n melaksanakan Pilkada serentak pada 9 D e s e m b e r 2 0 1 5 . K e b e r h a s i l a n penyelenggaraan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak termasuk dari peserta Pemilu. Jika ada satu saja Partai Politik yang tidak ikut dalam Pilkada ini, tentunya demokrasi menjadi tidak sehat” kata Unggul Warsiadi, SH, MH, Ketua KPU Kabupaten Banyumas saat membuka acara Media Gathering.
Kepengurusan Parpol merupakan hal penting dalam persyaratan pencalonan Pilkada,
mengingat kepengurusan Parpol di tingkat pusat mempunyai wewenang untuk memberikan rekomendasi dalam pencalonan Kepala Daerah.
Pada prinsipnya, KPU menggunakan Keputusan Menkumham yang terakhir sebagai pedoman dalam penerimaan pasangan calon, termasuk dalam hal kepengurusan Parpol tingkat pusat masih dalam proses penyelesaian sengketa di pengadilan. Tertuang dalam PKPU Nomor 9 tahun 2015 pasal 36, apabila terdapat penetapan pengadilan yang bersengketa untuk melakukan kesepakatan perdamaian internal (islah) dalam pembentukan pengurus Parpol pusat.
Pada akhir diskusi disampaikan pandangan bersama bahwa satu-satunya jalan keluar terbaik selain perdamaian atau islah dari internal Parpol yang bersengketa adalah mendorong Mahkamah Agung untuk segera menyelesaikan permasalahan ini dan memberikan suatu keputusan yang inkracht sebelum batas waktu pendaftaran pencalonan berakhir, sehingga seluruh hak demokrasi bagi peserta pemilu terakomodasi dan menghasilkan Pemilu yang lebih demokratis. (sari)
P U R W O K E R T O, D E R A P
-Komisioner KPU Kabupaten Banyumas menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Penyelenggaraan Pemerintahan Umum di Daerah dalam rangka Kesiapan Pelaksanaan Pilkada Serentak Tahun 2015 yang diselenggarakan oleh Bakorwil III Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di Rumah Jabatan Kepala Bakorwil III Purwokerto, Senin (25/5).
Acara dihadiri oleh Ketua Desk Pilkada, Kabag Pemerintahan, Kepala DPPKAD, Kepala Disdukcapil, Kepala Kantor Kesbangpolinmas, KPU dan Panwaslu Kabupaten/Kota di wilayah Bakorwil III dengan narasumber yaitu Joko Santoso dari Biro Otonomi Daerah dan Kerjasama Sekda Provinsi Jawa Tengah, Teguh Purnomo dari Bawaslu Provinsi Jawa Tengah serta Wahyu Setiawan Komisioner KPU Provinsi Jawa Tengah dan moderator Andi Ali Said Akbar, Dosen Jurusan Ilmu Politik, FISIP Universitas Jenderal Soedirman.
Dalam kesempatan ini, Wahyu Setiawan selaku Komisioner KPU Provinsi Jawa Tengah Divisi Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih mengatakan, “Ada 21 Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Jawa Tengah yang melaksanakan Pilkada 2015 dan di wilayah Bakorwil III ada 4 Kabupaten/Kota yaitu KPU K abupaten Purbaling g a, Pemalang, Pekalongan dan Kota Pekalongan”.
Hal-hal baru dalam Pilkada Tahun 2015 antara lain perihal pencalonan tidak boleh turun kasta, pencalonan terkait dengan petahana, penetapan calon terpilih dengan perolehan suara terbanyak, serta sengketa Pemilu sebagaimana diatur dalam UU Nomor 8 Tahun 2015 menjadi materi paparan Wahyu dalam rakor ini. Disinggung juga perihal dualisme kepengurusan Parpol yang terjadi saat ini dan sedikit banyak berpengaruh dalam pelaksanaan Pilkada 2015.
Sedangkan Teguh Purnomo selaku Koordinator Divisi Pengawasan dan Hubungan Antar Lembaga Bawaslu Provinsi Jawa Tengah memaparkan tentang Kesiapan Bawaslu dalam pengawasan serta tugas dan wewenang Bawaslu dalam Pilkada 2015. “Pada Pilkada 2015 ini, Bawaslu memiliki kewenangan baru yaitu menyelesaikan sengketa Pemilu dan memegang tanggung jawab akhir atas pengawasan penyelenggaraan Pemilihan oleh Bawaslu Provinsi, Panwaskab, Panwascam, PPL dan Pengawas TPS” ujar Teguh dalam paparannya. Penerapan strategi pengawasan dalam rangka pencegahan dan penindakan pelanggaran diharapkan dapat meminimalisir pelanggaran dalam Pilkada 2015 ini.
Narasumber selanjutnya dari Biro Otonomi Daerah dan Kerjasama Sekda Provinsi Jawa Tengah, Joko Santoso menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah siap memberikan bantuan dan fasilitasi secara maksimal khususnya terkait sarana, prasarana dan personil sekretariat pada tahap pelaksanaan Pemilukada sesuai dengan Pasal 126 UU Nomor 15 Tahun 2011. Joko menegaskan bahwa, “Netralitas Desk Pemilukada serta sinkronisasi, koordinasi dan komunikasi baik secara horisontal dan vertikal pun sangat diperlukan antara Desk Pemilukada, KPU dan Panwaslu”.
“Mari kita jaga netralitas PNS tanpa menghilangkan hak konstitusional kita yaitu menggunakan hak pilih dalam Pilkada ini” kata Kepala Bakorwil III Agus Utomo menutup
News Letter Nomor #005
10
Edisi Mei 2015
12
News Letter Nomor #005Edisi Mei 2015
Foto: Dok. KPU Kab. Banyumas
Wawancara
PURWOKERTO, DERAP - Sejauh mana perkembangan reformasi demokrasi di tanah air, apakah penyelenggaraan Pemilu sudah memenuhi amanat reformasi dan agenda konsolidasi demokrasi ? Berikut ini petikan wawancara DERAP KPU KABUPATEN BANYUMAS dengan ANDI ALI SAID AKBAR, S.IP, MA, staf pengajar pada Jurusan Ilmu Politik, FISIP Unsoed.
Mei 2015 ini kita memperingati 17 tahun reformasi. Menurut bapak apakah
amanat-amanat reformasi tahun 1998 sudah terpenuhi?
Belum sepenuhnya tercapai cita-cita reformasi tersebut. Secara umum, dalam perkembangan demokratisasi pasca Orba, negara kita telah berhasil membangun dasar bekerjanya struktur demokrasi sebagai aturan main bersama dalam berpolitik, berbangsa dan bernegara.
Struktur demokrasi ditandai adanya penguatan presidensialisme, pemilu yang Luber Jurdil, sistem multipartai, kebebasan pers, supremasi hukum, penghormatan atas HAM dan giatnya desentralisasi tingkat daerah dan otonomi desa. Setidaknya struktur demokrasi ini memiliki fungsi penting karena memberi landasan operasional dan kesempatan bagi bekerjanya proses check and balances berbagai kekuatan politik di Indonesia.
Berbagai peristiwa dan isu yang membawa demokrasi kita kearah yang salah akan mendapatkan wacana dan kekuatan tandingan
dari kekuatan lain. Proses ini kelak akan semakin mendewasakan demokrasi kita.
Peta-nya adalah struktur demokrasi ini belum banyak diikuti oleh menguatnya kultur demokrasi. Dimana demokrasi mewujud dalam berbagai aktivitas yang menjunjung tinggi norma demokrasi. Demokrasi yang diharapkan menghasilkan kepemimpinan yang memberi teladan. Kemudian tata kelola pemerintahan yang demokratis dan berintegritas.
Demokrasi kita masih setia dihantui persoalan kuatnya oligarki di partai politik, kampanye ilegal dalam pemilu (black campaign
dan money politic), tingginya angka korupsi, kesenjangan ekonomi, miskinnya prestasi dan inovasi pemimpin politik di daerah dan sebagainya.
Penyebab gejala ini setidaknya bisa didekati salahsatunya dengan melihat kualitas pengelolaan partai politiknya. Penampilan Partai di Indonesia masih direlungi krisis. Institusi ini masih dinilai oleh publik sekedar menjalankan fungsi prosedural demokrasi yaitu menjadi kendaraan bagi politisi untuk mencalonkan diri dan mengikuti pemilu.
Lebih memilih mengakar kepada negara daripada ke publik, Partai belum banyak berkontribusi bagi fungsi-fungsi partai yang lain seperti: demokratisasi internal partai,
peningkatan kapasitas kandidat, memberi visi inovatif bagi jalannya pemerintahan, dan menjadi mediator atas isu yang meresahkan publik.
PEMILU
SARANA SUKSESI
YANG DEMOKRATIS,
KONSTITUSIONAL DAN DAMAI
ANDI ALI SAID AKBAR
Foto: Dok. KPU Kab. Banyumas
Wawancara
Foto: Dok. KPU Kab. Banyumas
Namun demikian, optimisme tetap ada mengingat terdapatnya eksperimen terbatas dari partai politik yang mulai membuka diri terhadap urgensi reformasi partai dan menyimak animo publik.
Sikap jenuh dan skeptis publik terhadap partai mulai dijawab dengan menghadirkan calon-calon pemimpin muda yang visioner dan berinteg ritas. Mulai melong g arkan personalisasi dan oligarki elit. Mudah-mudahan semangat ini terus terpupuk dimasa yang akan datang.
Salah satu agenda reformasi 1998 adalah demokratisasi kehidupan politik dengan penyelenggaraan Pemilu yang jurdil. Menurut bapak apakah dengan empat kali penyelenggaraan Pemilu (1999, 2004, 2009 dan 2014) sudah memenuhi yang menjadi amanat reformasi tersebut?
Pemilu sangat penting bagi demokrasi karena menjadi sarana suksesi yang demokratis, konstitusional dan damai. Pemilu juga sebagai sarana evaluasi dan protes rakyat kepada partai politik dan pemerintahnya.
Sebagaimana dialami berbagai negara yang menjadikan pemilu sebagai jalan mengakhiri rezim otoriter terjadi di Brazil, India, Peru, Uruguay, Argentina, Turki, Korea, Pakistan, Cile, Soviet, Polandia, Nikaragua, Myanmar dan Aljazair (Sigit Pamungkas Dalam Huntington, 2009).
Pemilu berkualitas memiliki 3 syarat: peser ta pemilu yang berinteg ritas, penyelenggara pemilu yang berintegritas serta pemilih yang juga berintegritas.
Banyak pihak menilai Pemilu di Indonesia telah berjalan stabil dan lancar tapi kurang berkualitas. Menurut Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Machfud MD, di Indonesia terdapat fenomena bertolak belakang: Negara Demokratis, Politisi Oligarkis, Rakyat Apatis.
Dari pemilu ke Pemilu di Indonesia semakin mendorong partai meningkatkan daya saing dan loyalitas pemilihnya. Adanya aturan Peningkatan electoral threshold, penerapan proporsional daftar terbuka, pemurnian presidensialisme, tingginya angka swing voters, fluktuasi partisipasi pemilih merupakan daftar gejala politik yang harus segera dikelola oleh partai politik.
Pertama, integritas peserta pemilu. sikap partai menghadapi gejala tersebut diatas tidak semuanya mencoba cara yang lebih terhormat dan mencerdaskan. Kuatnya praktek oligarki dalam kandidasi, money politik, kampanye hitam, gagal memenuhi quota 30 % perempuan di dapil masih menjangkiti partai hingga kini.
Dari pemilu 2009 hingga 2014, praktek
money politic dan kampanye hitam semakin massif, sengketa hasil pemilu juga meningkat drastis. Ini sisi negatif yang harus dihadapi penyelenggara pemilu dan pemilih.
Kedua, integritas penyelenggara pemilu. KPU dan Bawaslu bekerja semakin baik. Terlihat dari minimnya kesalahan tehnis dalam tiap tahap dan proses pemilu. Pada pemilu nasional 2014 kemarin, penyelenggara pemilu juga berhasil membuat berbagai kiat-kiat memajukan integritas pemilu.
Kiat berupa daftar pemilih tambahan khusus, larangan membawa HP ke bilik suara, zonasi APK, lembar C1 yg dikirim on line, merupakan daftar kebijakan yang berupaya meningkatkan kedaulatan pemilih menunaikan hak pilihnya dan kemudahan dalam melakukan pengawasan proses pemungutan suara.
Ketiga, integritas pemilih. kita masih butuh kerja keras meningkatkan partisipasi pemilih yang cenderung menurun. Disaat yang sama gerakan penyadaran dan pencerdasan pemilih masih sangat penting ditengah ketatnya spektrum kompetisi partai dan kandidat. Berbagai metode instan dan tidak mendidik memperoleh suara pemilih hanya bisa diatasi oleh penguatan kesadaran pemilih.
Demokratisasi memang telah berjalan cukup jauh dari apa yang dibayangkan sebelumnya, misalnya ditandai dengan Pemilihan langsung kepala daerah sejak 2005. Apakah hal itu dapat menjadi parameter dari apa yang disebut “konsolidasi demokrasi”?
Wawancara
Foto: Dok. KPU Kab. Banyumas
News Letter Nomor #005
12
Edisi Mei 2015
Wawancara
bagaimana menciptakan aturan main dalam persaingan dan kerjasama yang dapat ditaati secara aktif oleh para politikus, dan diterima secara pasif (dan perlahan-lahan) oleh rakyat, meskipun dengan solusi-solusi yang mungkin sangat beragam.
Sebagaimana dalam uraian sebelumnya bahwa demokrasi kita termasuk lancar dan stabil dari sisi prosedur namun masih rendah dalam kualitas kepemimpinan dan tata kelola pemerintahanya.
Mari kita simak temuan Riset DEMOS (2005) menunjukkan kehadiran elit oligarkhis yang menyesuaikan diri dengan metode demokrasi. Strateginya:
A. Beradaptasi (75% menggunakan dan menyalahgunakannya;
14% mempromosikan demokrasi) ; B. Memonopoli jabatan
(Jalur legislative 61%);
C. Memanipulasi proses demokrasi
(mendayagunakan sumberdaya publik 10 %; Membeli dukungan suara (13%); Penggunaan cara otoritarian (15%); Mengerahkan massa (8%) dan
memanipulasi sentimen etnik/agama (12%) .
Nampaknya temuan ini tercermin dari buruknya kinerja kader partai politik di pemerintahan. Sejak reformasi terdapat sekitar 70 persen kepala daerah di Indonesia terjerat kasus korupsi. Kementerian Dalam Negeri mencatat sejak 2004 hingga Februari 2013. sedikitnya 291 kepala daerah baik tingkat provinsi maupun kabupaten/ kota terlibat dalam kasus korupsi. (Info Korupsi.com. Diakses Senin, 3 Juni 2013).
Oleh karena itu, agenda konsolidasi politik dimasa yang akan datang tentunya masih sangat banyak. Diantaranya mendorong negara, partai politik dan masyarakat mengambil bagian menciptakan demokrasi yang berkualitas dengan ukuran tata kelola pemerintahan yang bersih dan berpihak kepada rakyat.
Negara melalui hubungan pusat dan daerah membuat kontrol yang ketat atas pelaksanaan pemerintahan dan otonomi daerah. Partai politik harus berani mereformasi diri jika tidak ingin terlupakan dalam benak publik atau terpenjara dalam siklus politik
kotor. Penyelenggara pemilu membangun kiat-kiat yang semakin melindungi kedaulatan pemilih dan kredibitas hokum hasil pemilu. Terakhir masyarakat agar semakin menyadari pentingnya menjadi pemilih aktif dan cerdas sebagai jalan terbaik daripada golput. Kemudian menjadi pemilih yang aktif menagih janji politisi.
Dari sisi penyelenggaraan Pemilu di Indonesia selama ini apa yang masih perlu diperbaiki agar amanat reformasi dapat terpenuhi?
Terdapat beberapa hal yang masih perlu diperbaiki. Seperti dari sisi peserta pemilu, pada tahap verifikasi parpol masih ada parpol yang belum siap infrastruktur sekretariat partai terutama di tingkat kabupaten dan kecamatan. Kemudian sulitnya memenuhi quota 30% perempuan di tiap dapil. Masih adanya caleg yang belum memahami aturan tekhnis kampanye.
Dari sisi penyelenggara terdapat beberapa hal juga seperti masih rumitnya pengintegrasian dan pemutakhiran data pemilih, sumberdaya PPS dan KPPS yang masih terdapat kesalahan dalam membuat dokumen C1, logistik pemilu yang masih tertukar, lamban dan sulitnya penanganan kasus dugaan pelanggaran pemilu.
Sementara dari sisi pemerintah masalah klasik yang masih terjadi adalah minim dan lambannya dukungan dana dan fasilitas bagi kelancaran kerja penyelenggara pemilu. Desk Pilkada belum terlihat memainkan peran penting dalam menjembatani pemerintah dan penyelenggara pemilu dalam menyukseskan jalannya tahapan-tahapan pemilu.
“Oleh karena itu, agenda konsolidasi
politik dimasa yang akan datang
tentunya masih sangat banyak.
Diantaranya mendorong negara,
partai politik dan masyarakat
mengambil bagian menciptakan
demokrasi yang berkualitas dengan
ukuran tata kelola pemerintahan
yang bersih dan berpihak kepada
Sosok
Di Kabupaten Banyumas, karier kepemiluan Waslam Makhsid yang lahir di Banyumas, 13 Juni 1975 bermula dari Panitia Pemilihan Kecamatan. Berbekal pengalaman sebagai ketua PPK Somagede dua periode (2009-2014) juga membuat Pria yang berprofesi sebagai advokat sejak November 2002 ini dipercaya membawahi divisi yang membidangi hubungan partisipasi masyarakat, data dan informasi serta hubungan antar-lembaga.
Pelayanan kepada masyarakat luas bagi suami Induntias Rizqiana Putri dan ayah dari dua anak ini pun sudah terasah dalam aktivitasnya sebagai advokat/pengacara yang memberikan layanan jasa hukum bagi masyarakat yang menghadapi permasalahan hukum baik di bidang perdata, pidana, maupun
administrasi serta tata usaha Negara khususnya pendampingan terhadap masyarakat miskin dan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Dalam organisasi. Waslam, begitu ia sering disapa, pernah berkecimpung aktif sebagai pengurus dari tingkat Komisariat sampai menjadi Pengurus Cabang HMI Cabang Bulak Sumur, Sleman Yogyakarta dan menjadi salah satu pendiri dan Pimpinan LBH Perisai Kebenaran Purwokerto yang bergerak di bidang pemberdayaan dan advokasi serta jasa hukum bagi masyarakat luas.
Menurut Waslam, demokrasi yang diwujudkan dalam bentuk Pemilu, hendaknya benar-benar terwujud karena partisipasi bukan
WASLAM MAKHSID, SH, MH
Anggota KPU Kabupaten Banyumas
Melayani hak konstitusional warga
negara dalam menggunakan hak pilih
serta meningkatkan partisipasi pemilih
merupakan salah satu tugas dari
penyelenggara Pemilu. Kecenderungan
penurunan partisipasi pemilih dalam
penyelenggaraan pemilu dari tahun ke
tahun merupakan perhatian utama dan
tantangan tersendiri bagi Waslam
Makhsid selaku komisioner KPU
Kabupaten Banyumas periode
2013-2018.
MELAYANI HAK KONSTITUSIONAL WARGA
“
Pada intinya dalam penyelenggaraan pemilu, sinergitas
dan partisipasi yang tinggi antara penyelenggara pemilu
dan masyarakat umum dalam setiap tahapan pemilu
sangat diperlukan demi suksesnya penyelenggaraan
Pemilu
”
sekedar mobilisasi sehingga menghasilkan pemerintahan yang demokratis. Partisipasi masyarakat dalam bentuk keaktifan mencermati dan memastikan terdaftar dalam daftar pemilih serta kesadaran sebagai warga negara yang memiliki hak konstitusional yaitu hak menggunakan hak pilih merupakan kunci awal kesuksesan pesta demokrasi. Begitu pula partisipasi aktif dari penyelenggara pemilu PPS beserta Pantarlih yang merupakan ujung tombak dalam pemutakhiran data pemilih. Disini menuntut penyelenggara pemilu mempunyai kemampuan yang mumpuni khususnya bagaimana menyajikan data pemilih yang valid dan termutakhir.
Dalam usaha peningkatan partisipasi pemilih dalam Pemilu, KPU Kabupaten Banyumas lebih menggencarkan sosialisasi tentang arti penting pemilu, pelaksanaan tahapan pemilu, memperhatikan tehnik pemasangan pengumuman daftar pemilih serta mendorong agar petugas pendaftaran pemilih lebih aktif lagi. “Sesuaikan data dengan fakta yang ada di lapangan, kita cermati benar-benar, sehingga tidak ada pemilih yang belum terdaftar atau masih ada pemilih yang belum dicoret karena pindah atau meninggal dunia” kata
Waslam yang berdomisili di Desa Piasa Kulon, Kecamatan Somagede dalam banyak kesempatan.
Dalam rangka menumbuhkan peran partisipasi aktif dari pemilih terutama para pemilih pemula, diperlukan strategi penyelenggaraan pemilu dalam bentuk sosialisasi tentang pemilu yang lebih variatif. Sasaran sosialisasi ditekankan pada munculnya kesadaran pemilih atas hak konstitusinya, terdaftarnya pemilih dalam pemilihan sera kepastian pemilih menggunakan hak pilihnya pada saat proses pemilihan. Pada akhirnya diharapkan tingkat partisipasi pemilih dalam setiap pemilihan menunjukkan angka partisipasi yang meninggi dari pemilu ke pemilu.
“Pada intinya dalam penyelenggaraan pemilu, sinergitas dan partisipasi yang tinggi antara penyelenggara pemilu dan masyarakat umum dalam setiap tahapan pemilu sangat diperlukan demi suksesnya penyelenggaraan Pemilu”, ujar alumni Fakultas Hukum UGM Yogyakarta dan Magister Hukum di Unsoed Purwokerto.
Sosok
News Letter Nomor #005
14
News
SEMARANG, DERAP - Proses pengadaan barang/jasa pemerintah merupakan keniscayaan pada setiap lembaga/institusi pemerintah. Pasalnya, setiap pengeluaran negara untuk pembangunan pada dasarnya tidak lepas dari proses pengadaan seperti yang diatur dalam Perpres Nomor 54/2010 beserta perubahannya. Oleh karenanya, PNS di lingkungan sekretariat KPU diharapkan memiliki keahlian teknis dalam proses pengadaan barang/jasa pemerintah.
Demikian salah satu pesan Sekretaris KPU Provinsi Jawa Tengah, Drs. Gatot Bambang Hastowo, M.Pd, pada sambutan pembukaan Diklat Teknis Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah bagi PNS di lingkungan Sekretariat KPU se-Jawa Tengah di Balai Diklat Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Tengah Semarang, Selasa (26/5). Lebih lanjut Gatot menjelaskan bahwa pihaknya mengusulkan kepada KPU RI agar sertifikat keahlian pengadaan barang/jasa pemerintah untuk menjadi salah satu persyaratan bagi PNS yang akan menduduki jabatan struktural. Hal ini diharapkan akan ada motivasi untuk lulus dan mendapatkan sertifikat pengadaan barang/jasa pemerintah.
Pada kesempatan tersebut Gatot juga menuturkan bahwa selama ini proses pengadaan barang/jasa sering dihindari oleh PNS. Sebab, menurutnya, proses pengadaan barang/jasa pemerintah rentan terhadap permasalahan hukum. Akibatnya presentase kelulusan pada setiap penyelenggaraan Diklat cenderung menurun sejak KPU Provinsi Jawa Tengah pertama kali menyelenggarakan pada 2012 silam. Menurutnya, PNS cenderung untuk menghindari
jika ditunjuk dalam proses tersebut. “Sebagai manusia modern kita tidak mungkin menghindari aturan hukum. Hanya masyarakat tradisional saja yang akan menghindari aturan hukum, termasuk dalam proses pengadaan barang/jasa pemerintah. Jadi menjadi pejabat pengadaan, pembuat komitmen jangan dihindari. Jangan takut untuk menjadi penanggung jawab pengadaan asalkan sesuai dengan peraturan yang berlaku”, katanya ketika memberikan motivasi pada peserta Diklat.
Kegiatan diklat pengadaan barang/jasa pemerintah sendiri dilaksanakan dilaksanakan sampai dengan Jumat (29/5) diikuti oleh perwakilan PNS sekretariat KPU Provinsi Jawa Tengah dan sekretariat KPU Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah. Narasumber diklat berasal dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) Jakarta, Setda Pemprov Jawa Tengah dan Setda Pemkab Semarang. Materi yang disampaikan diantaranya adalah prinsip etika, kebijakan, metode pemilihan penyedia dan para pihak yang terlibat pengadaan barang/jasa pemerintah seperti yang diatur dalam Perpres 54/2010 beserta perubahannya. Adapun ujian teknis pengadaan barang/jasa pemerintah dilaksanakan pada hari terakhir diklat dengan dipandu oleh perwakilan LKPP Jakarta.
Pada sambutan penutupan diklat, Ketua KPU Provinsi Jawa Tengah Drs. Joko Purnomo mengapresiasi pelaksanaan kegiatan diklat pengadaan barang/jasa. Menurutnya, langkah tersebut diperlukan agar semakin banyak PNS di sekretariat KPU yang memiliki keahlian pengadaan barang/jasa agar lembaga KPU semakin mandiri dan independen. (spa_a)
“GATOT:
PNS KPU JANGAN MENGHINDARI
PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH”
Resensi Buku
PURWOKERTO, DERAP- Meski praktik-praktik politik uang tersebut sangat terasa sepanjang perhelatan
bangsa lima tahunan itu, tetapi bukan perkara mudah untuk menjelaskannya, apalagi sampai menindak para pelakunya.
Buku “Politik Uang di Indonesia: Patronase dan Klientelisme pada Pemilu Legislatif 2014” berusaha untuk menjawab pertanyaan
lain gagal? Strategi apa yang digunakan? Lalu lebih jauh, bagaimana para kandidat menggunakan uang, materi atau jaringan? Seberapa efektif cara-cara itu? Lantas bagaimana para pemilih memaknai?. Jawaban-jawaban atas pertanyaan itu terpapar sepanjang lebih dari 500 halaman, oleh karenanya buku ini dapat dikatakan memberikan deskripsi tebal (thick description) tentang Pemilu sebagai “praktik” demokrasi di Indonesia, khususnya tentang patronase, klientelisme dan politik uang pada Pileg lalu. Buku yang dieditori oleh Edward Aspinall, Profesor Ilmu Politik Australian National University, Australia, dan Mada Sukmajati, pengajar pasca-sarjana Ilmu
Politik UGM, Yogyakarta, sejauh pengetahuan Saya merupakan pertama-dan paling komprehensif- yang mengulas praktik politik sepanjang Pemilu 2014. Buku tidak hanya mengisi ruang kosong dalam kajian politik dan demokrasi di Indonesia yang selama ini lebih banyak menyoroti pola, tren dan kinerja partai politik t e t a p i b u k u i n i j u g a memberikan perspektif yang t i d a k t u n g g a l t e n t a n g fenomena politik uang yang selama ini lebih banyak didekati dalam perspektif yuridis-formal. Oleh karena itu, tak dapat disangkal buku ini menawarkan cara pandang “dari bawah” bagaimana politik uang dirancang, diorganisir dan dioperasikan oleh para caleg dan tim sukses para kandidat di lapangan menjelang pemungutan suara 9 April 2014.
Cara pandang tersebut dihasilkan dari penelitian intensif dari para peneliti yang tersebar di 22 tempat di seluruh Indonesia, sehingga membuatnya kaya akan data empiris dan faktual. Buku yang diterbitkan oleh Research Center of Politics and Government (PolGov) UGM ini sebagian besar dilakukan pada masa kampanye, periode tahapan pemilu yang memberikan kesempatan para kandidat untuk berinteraksi dengan para pemilih mereka.
LIBERALISASI SUARA:
POLITIK UANG PADA PEMILU LEGISLATIF TAHUN 2014
Oleh: Subhan Purno Aji
“
Siraman uang ke para pemilih lebih efektif daripada siraman rohani
...”
Pernyataan bernada satir itu disampaikan oleh seorang Caleg PKS di Kabupaten Musi
Banyuasin, Sumatera Selatan pada Pemilu Legislatif (Pileg) 2014 lalu (hlm. 171).
Banyak pihak yang beranggapan bahwa Pileg 2014 sarat dengan praktik jual-beli suara,
bahkan politik uang pada Pileg 2014 dikatakan yang paling massif (Prof. Jimly
Asshidiqy/DKPP), praktik politik uang yang paling brutal (Akbar Faisal/NasDem),
dan terjadi lebih masif, vulgar, dan brutal dibandingkan pemilu terdahulu' (Kemitraan).
Foto: Dok. KPU Kab. Banyumas
News Letter Nomor #005
16
Resensi Buku
Pengambilan data dilakukan melalui metode wawancara mendalam (indepth interview) dan p e m b a y a n g a n ( s h a d o w i n g ) , y a n g memungkinkan para peneliti melihat dan mendengar langsung interaksi para kandidat dan timnya dengan para pemilih di lapangan di hari-hari paling krusial dalam penyelenggaraan Pileg 2014 lalu. Maka tak mengherankan di sepanjang buku ini tersaji istilah-istilah yang khas untuk menggambarkan dalam dan masifnya fenomana politik uang, seperti “wani piro”, “sabetan”, “uang sangu”, “uang transport” dan beragam istilah lainnya.
U n t u k m e n g h i n d a r i b a n y a k n y a pemaknaan atas politik uang, Editor buku buku ini menggunakan istilah patronase dan klientelisme, seperti yang termuat dalam sub-judulnya, tujuannya agar tujuan dari buku ini tidak terjebak pada suatu tindakan tertentu. Istilah ini dipilih untuk mewakili metode yang digunakan oleh hampir semua kandidat untuk meraih dukungan pemilih sebanyak-banyaknya. Kedua istilah ini lazim digunakan oleh para pengamat politik dalam studi komparatif di belahan dunia lain, umumnya dinegara yang demokrasinya masih muda, seperti Asia Timur, Afrika dan Amerika Latin. Adapun patronase merujuk pada materi atau keuntungan lain yang didistribusikan oleh politisi kepada pemilih atau pendukung (h.32). Pembelian suara (vote buying), pemberian barang-barang kepada kelompok-kelompok tertentu (club goods), penyediaan beragam pelayanan sosial sampai dengan pemanfaat dana publik untuk kepentingan mendapatkan dukungan pemilih atau politik gentong babi (pork barrel) merupakan bentuk-bentuk dari patronase. Sedangkan klientelisme adalah relasi kekuasaan yang personalistik dan keuntungan material ditukar dengan dukungan politik (h. 32). Operasionalisasi dari klientalisme yang diuraikan dalam buku ini adalah penggunaan jaring an perantara (broker) untuk menjembatani para kandidat dengan pemilih mereka, atau banyak yang menyebut dengan “tim sukses”. Oleh karenanya, tujuan buku ini adalah “untuk melihat bentuk-bentuk patronase yang didistribusikan oleh para
kandidat. Selain itu ... bagaimana mekanisme jaringan, dan teknik yang digunakan para kandidat” (h.7).
Contoh dari Cirebon: Dari Personalistik ke Materialistik
Seperti dikebanyakan tempat lain, wilayah Kabupaten Cirebon merupakan “tempat pertarungan” yang keras dan cenderung kasar dalam perhelatan Pileg lalu (hlm. 294-328). Bagaimana tidak, dalam penelitian yang dilakukan salah satu kontributor buku ini, Marzuki Wahid, dilaporkan bahwa seorang kandidat anggota DPRD Kabupaten terkejut ketika mendapati perolehan suaranya di TPS terdekat ternyata jauh dari yang diharapkan, bahkan kalah jauh dari perolehan suara kandidat lain yang berdomisili di luar desa dan kecamatannya. Yang menyentak, menurut kandidat itu, pemilih di sekitar TPS-nya adalah kebanyakan saudara dan tetangganya, hasilnya tak sebanding dengan jerih payahnya menyapa dari rumah ke rumah pada masa kampanye sebelumnya. Ia kecewa mengapa para saudara dan tetangganya itu tidak memilihnya, padahal ia lahir, tumbuh dan besar di kampungnya. Menurut pengamatannya suaranya digembosi oleh kandidat lain dikarenakan praktik “serangan fajar” (vote buying) menjelang pemungutan suara. Diungkapkannya juga kandidat lain berani membayar pemilih dengan harga 75 ribu per kepala.
Fenomena di Kabupaten Cirebon menjelaskan betapa patronase dan klientaslitik yang bersifat materialistik (pemberian uang, layanan kesehatan, bantuan barang mie instan, kue bolu, sarung dll) lebih dapat menarik perhatian pemilih dari pada patronase dan klientalisme personal (hubungan keluarga, tetangga dan pesona personal calon). Maka tak heran muncul frase-frase yang unik, misalnya NPWP (Nomer Pira, Wani Pira), uang es (nominal kecil sekan hanya untuk membeli es) dan “ana duit, ya milih” (ada uang, ya akan memilih) untuk menggambarkan betapa berkuasanya kekuatan finansial dalam pemenangan seorang kandidat.
Resensi Buku
Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa fenomena politik uang pada Pemilu 2014 lalu tak ubahnya “pasar bebas” yang menempatkan para pemilih seperti penjual suara (vote seller) dan berusaha menawar harga setinggi mungkin. Sedangkan para kandidat ditempatkan seperti para pembeli (vote buyer) yang berusaha menarik pembeli dengan harga tanpa batas: Liberalisasi Suara.
Membaca keseluruhan buku ini rasanya kita akan mengerinyitkan dahi, sebab apa yang disampaikan oleh para kontributor di masing-masing wilayah penelitian menggambar fakta yang selama ini sering menjadi bahan yang sedikit “tabu” untuk diungkapkan. Melalui buku ini kita seolah disadarkan betapa bahayanya politik uang dengan berbagai macam jenis yang menggerogoti hak paling dasar dalam sistem demokrasi modern: hak untuk dipilih dan memilih. Jika hanya orang-orang yang memiliki finansial saja yang menjadi pemenang, maka tak dapat disangkal demokrasi yang dijunjung tinggi akan menjadi kleptokrasi utawa
pemerintahan para maling. Pasalnya, jika demokrasi hanya digerakan oleh “mesin uang” saja tanpa kesadaran adi luhung, baik pemilih maupun yang dipilih, untuk merawat demokrasi itu sendiri, maka tak ayal akan berlaku adagium “the survival of the fittest”, yang bertahan adalah mereka yang paling kuat, ya.. mereka yang punya uang, seperti frasa penting dari Cirebon “Nomer Pira, Wani Pira”.
N O P A R T A I P O L I T I K JU M L A H S U A R A S A H %
1 P A R T A I G O L K A R 5 .6 9 5 2 2 ,2 0 % 2 P K S 5 .4 7 1 2 1 ,3 3 % 3 P D I -P E R JU A N G A N 4 .7 2 2 1 8 ,4 1 % 4 P K B 2 .5 9 4 1 0 ,1 1 % 5 P A R T A I D E M O K R A T 2 .0 0 1 7 ,8 0 % 6 P P P 1 .3 7 2 5 ,3 5 % 7 P A N 1 .2 7 6 4 ,9 7 % 8 P A R T A I G E R I N D R A 1 .2 7 3 4 ,9 6 % 9 P A R T A I N A S D E M 6 8 2 2 ,6 6 % 1 0 P A R T A I H A N U R A 4 3 9 1 ,7 1 % 1 1 P B B 9 6 0 ,3 7 % 1 2 P K P I 3 4 0 ,1 3 %
JU M L A H 2 5 .6 5 5 1 0 0 ,0 %
N O P A S A N G A N C A P R E S & C A W A P R E S JU M L A H S U A R A S A H %
1 P R A B O W O - H A T T A 9 .9 5 2 3 7 ,5 4 % 2 JO K O W I - JK 1 6 .5 6 0 6 2 ,4 6 %
JU M L A H 2 6 .5 1 2 1 0 0 ,0 % P E R O L E H A N S U A R A S A H P A R T A I P O L I T I K
D I K E C A M A T A N L U M B I R P A D A P E M I L U L E G I S L A T I F 2 0 1 4
P E R O L E H A N S U A R A S A H P A S A N G A N C A P R E S & C A W A P R E S D I K E C A M A T A N L U M B I R P A D A P I L P R E S T A H U N 2 0 1 4
News Letter Nomor #005
18
Edisi Mei 2015
Judul
: Politik Uang di
Indonesia, Patronase
dan Klientelisme pada
Pemilu Legislatif 2014
Editor
: Edward Aspinall dan
Mada Sukmajati
Penerbit : PolGov Fisipol UGM
Yogyakarta
Serba-serbi
PURWOKERTO, DERAP- Rata-rata karyawan yang bekerja di kantor
menghabiskan waktu untuk duduk selama 6 jam setiap hari.
Sebanyak 80 persennya pun diketahui pernah mengalami sakit punggung. Apakah Anda salah satu di antaranya? Jika iya, ada kok beberapa tips yang bisa Anda lakukan untuk menjaga kesehatan dan
terhindar dari segala keluhan akibat posisi tubuh yang stagnan saat bekerja.
1. Jangan silangkan kaki saat duduk
Menyilangkan kaki bisa
menyebabkan nyeri punggung bagian bawah hingga memicu penyakit hernia. Posisi itu juga dapat mengurangi sirkulasi yang bisa menimbulkan vericose vena atau varises.
2. Luruskan kaki
Luruskan kaki ke depan saat
duduk untuk menjaga posisi panggul dan pinggul agar senantiasa seimbang saat duduk.
3. Tambahkan alas
Dengan sekali-kali menempatkan salah satu kaki di atas sebuah boks atau buku telepon, kaki Anda akan mendapat tekanan dari tulang belakang.
4. Menunduk ke bawah
Sekali-kali membungkuklah di sisi samping kursi Anda untuk membuka obliques dan membawa aliran darah ke tulang belakang
5. Regangkan dada
Angka tangan ke samping dengan jempol mengarah ke atas, meremas tulang belikat Anda bersama-sama. Peregangan ini meregangkan otot dada yang kaku.
6. Atur ruangan kerja
Ergonomi adalah kunci sehat bekerja di kantor. Atur posisi monitor sesuai dengan ketinggian mata, atur posisi keyboard sesuai
dengan pergelangan tangan, cobalah untuk tidak bersandar sambil berbicara di telepon. Gunakan headset atau bluetooth sebagai gantinya.
7. Jalan-jalan
Bangunlah dari kursi! Berjalan-jalan sebentar dengan rekan kerja sekadar untuk memfoto kopi saat waktu senggang.
8. Berdiri
Ini tentunya tak memerlukan bantuan orang lain. Berdiri setidaknya sekali setiap 30 menit untuk meningkatkan sirkulasi darah dan
meregangkan tubuh.
9. Postur tubuh
Saat duduk, terapkan postur tubuh yang baik dengan menarik di perut dan luruskan
punggung.
10. Bernapas
Bernapas dalam-dalam disertai fokus dapat mengurangi tekanan darah, stress, dan memberi Anda energi lebih.
Sumber: mediaindonesia.com
Keluarga besar KPU Kabupaten Banyumas turut berbahagia atas kelahiran putri pertama dari Darmastuti Kusuma Hapsari, SH, staf subbag Hukum Sekretariat KPU Kabupaten Banyumas dan Wahyu Aditya Putra, S.IKom, staf Sekretariat KPU Kabupaten Blora di RSUD RAA Soewondo, Pati, pada hari Sabtu, 30 Mei 2015 pukul 13.50 WIB.
Lahir dengan proses persalinan normal, berat badan 2,8 kg dan panjang 42 cm, Divy nama panggilan dari Rhaina Divyanisa Gauri, semoga menjadi anak yang solehah, pintar, berbakti kepada kedua orangtua dan berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Amin.
Posisi
Kerja Sehat
untuk Karyawan Kantor
Berita Bahagia:
EKA T E K I PEM I LU
T
Foto: Dok. KPU Kab. Banyumas
TTS
Mendatar
3. Singkatan Panitia Pendaftaran Pemilih
5. Orang yang dinyatakan telah memenuhi syarat oleh peraturan dan diajukan partai untuk menjadi anggota legislatif dalam pemilihan umum
6. Proses tahap akhir penyeleksian yang dilakukan KPU terhadap semua calon peserta pemilu sebelum ditetapkan menjadi peserta pemilu
10. Istilah sistem yang mengatur setiap satu dari tiga calon dalam Daftar Calon Tetap adalah perempuan
11. Batas wilayah atau jumlah penduduk yang menjadi dasar penentuan jumlah kursi yang diperebutkan
12. Nama News Letter KPU Kabupaten Banyumas
13. Jumlah Daerah Pemilihan pada Pemilu 2014 di Kabupaten Banyumas
15. Kegiatan peserta pemilu untuk meyakinkan para pemilih dengan menawarkan visi, misi dan program peserta pemilu
16. Panitia Pemilihan di Tempat Pemungutan Suara
19. Sebutan untuk kelompok masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya secara sengaja dan penuh kesadaran karena tidak percaya dengan sistem politik yang ada 20. Metode penandaan dengan melubangi surat suara
22. Orang yang menduduki jabatan tertentu yang tugasnya berkaitan erat dengan pengarsipan, pengelolaan pustaka, dokumentasi kegiatan, dan pelayanan publik 23. Istilah Pemilih yang berusia 17 Tahun
24. Istilah lain dari DPR, DPD dan DPRD
Menurun
1. Harga sebuah kursi di satu daerah pemilihan yang berasal dari jumlah pemilih dibagi jumlah kursi
2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang
4. Jumlah Partai yang memperoleh kursi DPRD Kabupaten Banyumas 2014-2019 7. Jumlah Pemilu Anggota DPR/DPRD sejak Pemilu 1955 hingga Pemilu 2014 8. Alat bantu tunanetra berupa lempengan yang memiliki ukuran sama persis seperti
surat suara dan berhuruf braille
9. Sistem parlemen yang terdiri atas dua kamar
14. Petugas yang dibentuk oleh Panwascam untuk mengawasi penyelenggaraan Pemilu di desa/kelurahan
17. Pemegang suatu jabatan politik yang sedang menjabat
18. Proses pengambilan keputusan melalui pemungutan suara dan pemenangnya ditentukan dengan suara terbanyak
21. Barang cetakan untuk tanda pengaman barang-barang yang digunakan dalam pelaksanaan pemungutan dan penghitungan suara serta rekapitulasi penghitungan perolehan suara
E
K
A
T
E
K
I
P
E
M
I
L
U
T
Pertanyaan:
News Letter Nomor #005
20
1
2
3
4
5 6
7 8 9
10 11
12 13
14
15
16 17
18
19 20 21
22
23
24
News Letter Nomor #005
22
News Letter Nomor #005
24
Edisi Mei 2015
K e g i a t a n D a l a m G a m b a r
Aktivitas olahraga tenis meja di KPU Kabupaten Banyumas
Komisioner KPU sedang diwawancara oleh mahasiswa FISIP UNSOED Purwokerto
Tim Futsal KPU Kabupaten Banyumas