• Tidak ada hasil yang ditemukan

sejarah perkembangan hukum laut internas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "sejarah perkembangan hukum laut internas"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

HUKUM LAUT INTERNASIONAL

“SEJARAH PERKEMBANGAN HUKUM LAUT

INTERNASIONAL”

HESTIKA DWI NINGRUM

1212011140

UNIVERSITAS LAMPUNG FAKULTAS HUKUM BANDAR LAMPUNG

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini yang berjudul “SEJARAH PERKEMBANGAN HUKUM LAUT INTERNASIONAL”. Makalah ini dimaksudkan sebagai salah satu persyaratan dalam melengkapi nilai tugas guna menyelesaikan mata kuliah hukum laut internasional.

Meskipun telah berusaha seoptimal mungkin, penulis berkeyakinan makalah ini masih jauh dari sempurna dan harapan oleh keterbatasan ilmu pengetahuan, tenaga, dan waktu, serta literature bacaan. Namun, dengan ketekunan dan tekad penulis dapat menyelesaikan makalah ini.

Bandar Lampung, 14 April 2014

(3)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bagian terbesar dari wilayah dunia terdiri dari perairan, terutama perairan laut. Permukaan bumi yang memiliki luas 200 juta mil persegi, 70% atau 140 juta mil persegi terdiri dari air. Dari jumlah ini, 97% terdiri dari air asin atau 135.800.000 mil persegi dan 3% air tawar atau 4.200.000 mil persegi. Di antara lautan-lautan yang terluas, yaitu Laut Pasifik yang mengenangi permukaan bumi seluas 63.855.000 mil persegi, Laut Atlantik 31.744.000 mil persegi, Laut Artik 5.427.000 mil persegi dan Laut Mediterania seluas 967.000 mil persegi.1

Dari keseluruhan permukaan bumi yang terdiri dari lautan, ada yang merupakan bagian dari wilayah negara, bagian dari yuridiksi negara dan ada pula merupakan bagian dari laut lepas.

Pembedaan batas dari wilayah laut atau zona maritime ini, dalam ketentuan internasional diukur dari garis pangkal yang bentuk dan sifatnya beragam, antara satu bentuk geografis dengan bentuk geografis lainnya. Sistem pengukuran wilayah perairan suatu negara dalam hokum laut internasional.2

Banyak sekali manfaat laut yang dapat kita rasakan antara lain yaitu sebagai sumber kekayaan alam, sebagai sarana transportasi, sebagai sarana untuk membuang limbah, sebagai sarana pelabuhan, sebagai sarana untuk memasang kabel dan pipa bawah laut, sebagai sarana penelitian ilmiah kelautan, sebagai sarana pertempuran dan menudukkan lawan. Semenjak laut dimanfaatkan untuk itulah, maka tidak jarang menjadi rebutan dan klaim bagi negara-negara lainnya, supaya tidak menimbulkan persengketaan antar negara-negara dalam memanfaatkan dan memfungsikan laut, maka perlu diatur oleh suatu norma atau kaidah yaitu hukum laut internasional.3 Hukum laut internasional adalah sekumpulan kaidah dan asas yang mengatur

mengenai zona maritime yang melintasi batas negara. Pada makalah ini akan menjelaskan tentang bagaimana sejarah perkembangan hukum laut internasional dan pengaturan zona maritim.

1 Boer Mauna, Hukum Internasional Pengertian Peran dan Fungsi Dalam Era Dinamika Global, Penerbit Alumni, Bandung, 2003, Hlm. 269.

2 Khaidir Anwar, Batas Wilayah Negara di Perairan Laut, Penerbit Universitas Lampung, 2011, hlm. 55.

3 Abddul Muthalib Tahar. 2013. Zona-Zona Maritim Berdasarkan KHL 1982 dan

(4)

1.2 Rumusan Masalah

Adapun identifikasi masalah dari latar belakang diatas adalah sebagai berikut: a. Bagaimana sejarah perkembangan hukum laut internasional?

b. Bagaimana pengaturan zona maritim

1.3 Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah diatas yang akan dijawab dalam makalah ini adalah : 1. Menjelaskan sejarah perkembangan hukum laut internasional

2. Menjelaskan pengaturan zona maritim

1.4 Metode Penulisan

Untuk menjawab rumusan masalah penulis menggunakan metode penelitian hukum normatif, yaitu bahan-bahan yang dikumpulkan dengan studi kepustakaan yang terdiri dari:

1.Bahan hukum primer, yaitu UNCLOS

2.Bahan hukum sekunder, yaitu literatur dan internet

3.Bahan hukum tersier, yaitu kamus hukum

(5)

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Perkembangan Hukum Laut Internasional

Semenjak laut dimanfaatkan untuk kepentingan pelayaran, perdagangan, dan sebagai sumber kehidupan ahli-ahli hokum mulai mencurahkan perhatiannya pada hokum laut. Sebagai suatu bentuk dari hokum laut yang paling dini pada abad ke-12 telah dikenal beberapa kompilasi dari peraturan-peraturan yang dipakai di laut di Eropa. Di Laut Tengah Lex Rhodia atau Hukum Laut Rhodhia mulai dikenal sejak abad ketujuh.4

Suatu koleksi hukum maritime, yang mungkin merupakan koleksi yang paling dini, sebagai kompilasi dari hakim-hakim, kapten-kapten kapal dan pedagang-pedang ternama, diterbitkan pada tahun 1494, yang dinamakan Consolato del Mare (Konsulat dari Lautan). Himpunan Rolles d’Oleron di dalam bahasa Perancis kuno, merupakan aturan pokok lautan untuk daerah Atlantik.5

Di Indonesia, suatu kompilasi dari “Hukum Laut Amanna Gappa” dari daerah Wajo (Bugis) di daerah Sulawesi Selatan telah dikenal, yang merupakan himpunan hokum pelayaran dan perdagangan.6

Spanyol dan Portugis yang menguasai lautan berdasarkan Perjanjian Tordesillas tahun 1494, memperoleh tantangan baik dari Inggris yang di bawah Elizabeth I menghendaki kebebasan di laut dan tantangan dari Belanda, yang tercermin dalam karangan Grotius tahun 1609 yang berjudul “mare liberum”. Pada abad ke-17 Raja James I dari Inggris memplokamirkan bahwa menangkap ikan di pantai negara-negara di bawah kekuasaannya hanya diperkenankan dengan memakai izin. Hal ini berarti bahwa nelayan-nelayan belanda harus membayar semacam royalty di perairan Inggris. Beberapa waktu kemudian hal ini membawa kepada perdebatan yuridis yang sangit antara yurist Belanda Grotius yang memperhatikan mare liberum dengan pembelaan Selden dari Inggris yang bergejolak dalam bukunya Mare

4 Von Glahn, Gerhard, Law Among Nations, An Introdunction to Pub lic International Law, New York, 1965, Hlm. 316.

5 Chairul Anwar, Hukum Internasional Horizon Baru Hukum Laut Internasional Konvensi HUkum Laut 1982, Jakarta,1989, hlm. 1.

(6)

Clausum. Masing-masing Belanda dan Inggris sama-sama tidak menghendaki monopoli Spanyol dan Portugis atas lautan.7

Kedua ajaran ini timbul akibat dari pertentangan Belanda atas penguasaan laut di dunia oleh Portugal dan Spanyol, serta untutan Inggris atas kawasan Mare Anglicanum. Pertentangan antara Negara-negara ini terutama antara Belanda dan Inggris menimbulkan the Battle of books (perang buku).perang buku ini berlangsung kurang lebih 50 tahun dan berakhir dengan terjadinya perang antara Inggris dan Belanda pada tahun 1665. Perang buku ini umumnya berkisar pada dua teori tersebut.

1. Mare Liberum

Sebenarnya, sebelum terbit dan dikembangkannya ajaran Mare Liberum dalam tahun 1609 oleh Grotius, ajran ini telah dianut oleh Negara-negara lain. Selama abad ke-16 Ratu Inggris, Elizabeth menganut teori ini. Francoise Alfonso Castro dalam bukunya De Potestate Legis Poenalis, Vasculus Menchaca (1509-1569)di Portugal dalam bukunya Controverslae Illustris, Alberto Gentilldi Italia dalam bukunya de Jure Belli menganut teori ini.

Di antara penulis penganut teori ini yang paling terkenal adalah Hugo de Groot, yang menulis pandangannya mengenai kebebasan laut dalam bukunya Mare Liberum yang terbit tahun 1608 tersebut. Sesuai ajarannya tentang mare liberum, Grotius berpendapat laut tak dapat dimiliki oleh negara. Pendapat ini sejalan dengan konsepsinya mengenai pemilikan (ownership). Menurutnya, ownership (termasuk laut) hanya dapat terjadi melalui possession, dan possession hanya bias terjadi melalui pemberian atau melalui occupation. Occupation atas barang-barang bergerak dapat terjadi melalui hubungan fisik atas barang tersebut, sedangkan occupation atas benda tidak bergerak dapat terjadi dengan membangun sesuatu di atasnya (“by power of standing and sitting). Karena itu pemilikan hanya dapat terjadi atas barang-barang yang dapat dipegang teguh. Dan untuk dapat dipegang diteguh benda-benda tersebut harus ada batasnya. Laut adalah sesuatu yang tidak berbatas, karena itu tidak dapat diokupasi. Selain itu laut itu cair, dan sesuatu yang cair hanya dapat dimiliki dengan memasukkan ke tempat yang lebi padat (peraliud). Dengan demikian, tuntutan pemilikan laut berdasarkan penemuan (discovery), penguasaan dalam jangka waktu lama (prescription) ataupun servitude tak dapat diterima karena semua itu bukan alas an untuk memperoleh

(7)

ownership atas laut. Meskipun demikian, Grotius mengakui bahwa anak laut, inner sea, dan sungai sekalipun cair dapat dimiliki karena ada batasnya, yaitu tepinya dapat dianggap sebagai per allud.

2. Mare Clausum

Ajaran Grotius mengenai mare liberum sebagaimana disebutkan di atas mendapat tantangan dari berbagai penulis sejamannya. Mereka antara lain Gentilis, William Welwood, John Borough, Paulo Sarol, dan John Shelden. Tantangan atas ajaran Grotius mencegah kemenangan teorinya atas kedaulatan pada bagian-bagian tertentu dari laut bebas pada waktu itu. Kemajuan yang dibuat berdasarkan teori mare liberium hanya dalam satu hal, yaitu kebebasan pelayaran (freedom of navigation) di laut.

Yang terpenting dari para penentang Grotius adalah John Sheldon. Penentangnya ini dikemukakan dalam bukunya “Mare Clausum: the Right and Dominion In the Sea (1636). Menurut Sheldon, okupasi memang penting bagi kepemilikan. Namun, sejarah telah membuktikan bahwa Negara-negara telah menjalankan kekuasaan mereka atas lautan, dank arena itu melalui prescription itu dapat dimiliki. Karenanya laut itu bukan mare liberium tetapi mare clausum. Sifatnya yang cair tak menyebabkan laut tak dapt dimiliki, karena sungai dan perairan di sepanjang pantai yang cair diakui dapat dimiliki.11

3. Jalan Tengah

Kenyataan membuktikan bahwa dalam berbagai bidang pertentangan pendapat kerap melahirkan pendapat ketiga yang bersifat ecletic yang mencari jalan tengah dengan menggabungkan sisi-sisi positif dari teori-teori yang saling bertentangan itu.

(8)

Dengan demikian, maka pada masa itu telah diakui ada bagian laut yang dapat dimiliki, yaitu bagian laut yang sekarang disebut laut wilayah dan jalur-jalur laut lainnya seperti jalur perikanan; dan laut yang tak dapat dimiliki oleh siapapun (laut bebas). Dalam abad ke 18 semua penulias, mengadakan pembedaan laut atas kawasan laut (maritime belt) yang dianggap berada di bawah kekuasaan negara-negara pesisir (the litoral state), dan laut bebas (open sea) yang tidak berada di bawah kekuasaan negara lain. Pontanus seorang ahli hokum Belanda, menyebut laut-laut yang dapat dimiliki mare audience, dan laut yang tidak bisa dimiliki mare alterium.

Persoalannya adalah berapa jarak laut yang dapat dimiliki. Ini baru dapat dipecahkan pada tahun 1702 ketika seorang ahli hokum Belanda, Binkhersoek, mengemukakan teori canon shot rule. Menurutnya, laut wilayah suatu negara adalah sampai jarak tembakan meriam dari pantai. Tampaknya ajaran ini pertama-tama dilandasi dari pengawasan nyata dari pelabuhan atau perbentengan terhadap kawasan laut yang berdeatan dengan pantainya.

Ajaran ini dikemukakan di bukunya De Dominio Maris Disertasio. Namun ajarannya ini belum secara pasti menentukan berapa mil jarak laut yang dapt dimiliki oleh negara. Untuk itu para penulis waktu itu berupaya mendapatkan patokan yang sama dengan atau pengganti dari jarak berdasarkan jangkauan meriam tersebut. Dan, seorang penulis Italia, Gallani (1872) mengusulkan batas 3 mil atau 1 league Italia sebagai pengganti dari jarak jangkauan meriam tersebut. Batas ini diakui oleh Amerika Serikat dalam Notanya kepada Inggris dan Perancis. Pada 8 Nopember 1873, dalam kaitannya dengan netralitas, dan selama dan setelah perang Napoleon, prize court (pengadilan penyitaan kapal) Inggris dan Amerika Serikat menerjemahkan the canon shoot rule, ke dalam 3 mil laut,18 atau tiga kali 1852 meter.

(9)

Ahli-ahli hukum yang berusaha meletakkan konsep-konsep dasar tentang hokum laut, menurut Summer biasanya membagi teori-teori tentang lautan secara legalistic dalam empat bagian, yaitu:

1. Perairan pedalaman 2. Laut territorial 3. Zona tambahan 4. Laut lepas8

Pada awal sejarah perkembangan hukum laut, ada beberapa ukuran yang dipermasalahkan orang untuk menetapkan lebar laut territorial sebagai jalur yang berada di bawah kedaulatan negara pantai. Hingga permulaan abad kedelapan belas prinsip kedaulatan negara pantai atas jalur maritime ini benar-benar berlaku. Pada tahun 1702, seorang ahli hokum Belanda Cornelius van Bynkershoek menerbitkan karyanya sebuah buku berjudul “De Dominio Mares” mengenai kedaulatan atas laut, datam karyanya ini menyetujui peraturan baha negara pesisir dapat menguasai laut sebatas lebar perairan pantai sejauh tembakan peluru meriam dari meriam-meriam pantai (kurang lebih 3 mil). Batas 3 mil ini memperoleh pengakuan luas dari para ahli hokum, juga ahli hukum, juga oleh pengadilan-pengadilan, serta mendapat pengesahan dalam praktek negara maritime utama.9

Yang menjadi soal lainnya dalam hokum laut internasional adalah apakah laut dapat dimiliki suatu negara atau tidak. Selama ini sejarah hokum laut internasional mengenal pertarungan antara dua konsepsi pokok, yaitu:

1. Res Nullius, yang mengatakan bahwa laut tidak akan memilikinya dan karena itu dapat diambil dan dimiliki oleh masing-masing negara.

2. Res Communis, yang menyatakan bahwa laut itu adalah milik dunia dan karena itu tidak diambil atau dimiliki masing-masing negara.10

Menurut sejarahnya, hukum laut sebagaimana cabang-cabang hukum lainnya dibuat berdasarkan kebutuhan, kemudian bertahan dalam bergantinya pemerintahan dan dinasti sehingga kemudian akhirnya dikodifikasikan. Beberapa konsep hokum dagang yang sekarang dikenal mempunya akar dari peradaban Phoenicia/Mediterania Timur. Elemen-elemen yang

8 Summers Lionnel, M., The international Law of Peace, Oceana, New York, 1973, hlm. 148.

(10)

termasuk di dalamnya adalah mengenai hukum asuransi, ketentuan terkait salvage, angkutan laut,kompensasi kepada para pelaut karena kecelakaan kerja dan sejenisnya. Hukum ini juga mengandung hukum maritim publik yaitu dalam bentuk perlindungan dari para perompak oleh kapal perang terhadap kapal-kapal dagang agar kapal-kapal tersebut dapat melanjutkan pelayaran dagangnya.11

Kemudian kekuasaan berpindah ke tangan Yunani dan di masa inilah berkembang hukum yang mengatur mengenai kemaritiman. Elemen-elemennya antara lain:

 Perlindungan terhadap para pelaut yang kapalnya karam

 Yurisdiksi pengadilan terkait dengan hukum maritim (Admiralty Law)

 Ketentuan-ketentuan mengenai pemblokiran dan perompakan  Penyelesaian sengketa akibat kontrak-kontrak maritim.12

Terdapat percampuran antara elemen hukum perdata dan hukum publik. Hukum perdata dalam pengertian terdapatnya ketentuan-ketentuan yang mengatur hubungan mengenai pihak-pihak perdata; hukum publik dalam pengertian terdapatnya ketentuan-ketentuan mengenai hak, tugas dan kewajiban-kewajiban Negara.13

Di masa berkuasanya Kerajaan Rhodes di kawasan Mediterania Timur dibuatlah sebuah Koda (Code) hukum maritim yang sangat komprehensif. Koda ini bukan saja menjadi dasar hukum bagi perdagangan maritim di kawasan tersebut selama beratus-ratus tahun di masa itu tapi juga menjadi fondasi hukum laut di seluruh dunia beribu-ribu tahun kemudian. Diperkirakan peraturan-peraturan di dalam Koda tersebut merupakan kodifikasi dari berbagai macam prinsip-prinsip hokum kuno terkait dengan kenavigasian dan pelayaran dagang. Koda tersebut mengatur mengenai yurisdiksi eksklusif dan wilayah laut yang berbatasan dengan Negara tersebut. Dengan kata lain memberi hak kebebasan berlayar bagi kapal-kapal milik Negara tersebut dan melakukan pembatasan bagi kapal-kapal asing14

Tonggak sejarah yang penting lainnya adalah Roman Maritime Policy (Hukum Maritim Romawi). Seperti hukum Inggris, kebanyakan hukum ini tidak dikodifikasikan walaupun

11 Retno Windari, Hukum Laut, Zona-Zona Maritim sesuai UNCLOS 1982 dan Konvensi-Konvensi Bidang Maritim, Badan Koordinasi Keamanan Laut, Jl. Dr. Sutomo No. 11 Jakarta Pusat 10710, Jakarta, 2009, hlm. 8

12 Ibid, hlm. 9. 13 Ibid, hlm. 9.

(11)

berdasarkan hukum Kerajaan Rhodes. Hukum Maritim Romawi ini mendapatkan kekuatannya dari Pax Romana yang memberikan keamanan tidak tertandingi. Perompakan dan perampokan dibabat habis sehingga perdagangan Romawi sangat maju.

Sebelum Imperium Romawi berada dalam puncak kejayaan, Phoenicia dan Rhodes mengkaitkan kekuasaan atas laut dengan pemilikan kerajaan atas laut. Pengaruh pemikiran tersebut tidak terlalu besar (kecuali Hukum Laut Rhodes tentang perdagangan) karena tenggelam dalam perkembangan laut yang didasarkan atas hukum Romawi pada abad pertengahan dimana saat itu tidak ada pihak lain yang menentang kekuasaan mutlak Romawi terhadap Laut Tengah. Laut Tengah pada masa itu seperti danau dalam wilayah Imperium Romawi dan menjadi lautan yang bebas dari gangguan bajak laut sehingga semua orang bebas menggunakan Laut Tengah dengan aman dan sehjatera. Pemikiran hukum yang melandasi sikap Bangsa Romawi terhadap laut adalah bahwa laut merupakan suatu hak bersama seluruh umat (res communis omnium) sehingga penggunaan laut terbuka bagi setiap orang.

Peraturan-peraturan hukum laut Rhodes yang berasal dari abad ke-2 atau ke-3 SM, sangat berpengaruh di daerah Laut Tengah karena prinsip-prinsipnya diterima baik oleh orang-orang Yunani dan Romawi. Kitab Undang-Undang Rhodes yang dikeluarkan pada abad ke-7 Masehi oleh orang-orang Romawi didasarkan pada peraturan-peraturan hukum laut Rhodes. Di kawasan Laut Tengah sekitar abad ke-14 terhimpun sekumpulan peraturan hukum laut yang dikenal dengan Consolato del Mare yang merupakan seperangkat ketentuan hukum laut yang berkaitan dengan perdagangan (perdata).

Hukum Maritim Romawi mencakup, antara lain:

Laut: harus “terbuka” namun di masa perang harus berada dalam pengendalian bangsa

Romawi.

Kapal harus dikategorikan, contohnya, kapal penumpang, kapal kargo dan kategori apakah

(12)

Muatan: Tidak ada kewajiban dari pemilik kapal untuk menerima muatan, tapi jika

diterima juga maka dia wajib bertanggung jawab terhadap aspek keselamatan di kapal dan aspek keselamatan muatannya. Pada masa inilah diperkirakan munculnya prinsip general average yaitu ketika awak kapal harus mengurangi muatan dengan membuangnya ke laut untuk menyelamatkan kapal, dan kompensasi akan diberikan oleh para pemodal kapal.

Tanggung jawab/kewajiban dalam pelayaran: mencakup ketentuan-ketentuan mengenai

charter/sewa sebagian atau keseluruhan dari kapal, mengatur kewenangan yang dimiliki nahkoda kapal - misalnya dalam hal kebutuhan perbaikan mendadak, atau membeli peralatan yang diperlukan agar kapal dapat terus beroperasi; serta ketentuan-ketentuan umum mengenai pinjaman khusus bagi pihak-pihak yang terlibat usaha maritime.

Penyelesaian sengketa: sengketa yang timbul dari hal-hal tersebut di atas diatur dalam

peraturan dan prosedur yang sudah ada. Namun prosedur berbeda diterapkan tergantung apakah tindakan dan luka-luka itu diakibatkan dari sebab internal ataukah dari eksternal, misalnya tubrukan kapal atau kerusakan akibat pihak lain.15

Tidak ada cabang hukum internasional yang lebih banyak mengalami perubahan secara revolusioner selama empat decade terakhir, dan khususnya selama satu setengah decade terakhir, selain daripada hokum laut dan jalur-jalur maritime (maritime highways). Penandatanganan akhir pada tanggal 10 Desember 1982, di Montego Bay – Jamaica, oleh sejumlah besar negara (tidak kurang dari 118 negara) yang terwakili dalam Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Ketiga tentang Hukum Laut 1973-1982 (UNCLOS) guna menyusun suatu ketentuan hokum internasional yang komprehensif berkait dengan hokum laut di bawah judul Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Hokum Laut, mungkin merupakan perkembangan paling penting dalam keseluruhan sejarah ketentuan hokum internasional berkenaan dengan lautan bebas. 16

Mengutip pendapat seorang ahli sejarah terkenal, Dr. A. L. Rowse, “landasan dari semua perkembangan ilmu social adalah sejarah, dari sanalah ilmu-ilmu social itu menemukan, baik dalam kadar lebih besar maupun lebih kecil, pokok permasalahan dan bahan-bahan, verifikasi

15 Retno Windari,op.cit,hlm. 10.

(13)

dan kontradiksi”. Pendapat ini berlaku terhadap hokum laut dengan perkenaan khusus. Dengan menyampingkan perairan pedalaman seperti, misalnya, pelabuhan-pelabuhan, pangkalan-pangkalan laut dan teluk-teluk yang terkurung daratan, lautan secara historis adalah laut terbuka atau bebas yang terutama menyangkut ahli tata negara dan para penguasa negara-negara dalam periode abad pertengahan dan akhir abad pertengahan serta para penulis hokum internasional sejak abad keenam belas. Pada awalnya, pelayaran di laut bebas terbuka bagi setiap orang demikian pula dengan penangkapan-penangkapan ikan, akan tetapi pada abad-abad kelima belas dan keenam belas – periode-periode di mana terjadi penemuan-penemuan maritime akbar oleh para pelaut Eropa – klaim-klaim dikemukakan oleh negara-negara maritime kuat untuk melaksanakan kedaulatan, yang mana hal ini tidak dapat dibedakan dari pemilikan, atas bagian-bagian tertentu dari laut bebas.17

Grotius merupakan salah seorang dari kalangan yang merasa sangat berkeberatan dengan adanya klaim-klaim kedaulatan luas ini. Keberatan-keberatannya itu terutama didasarkan atas dua landasan:

1. Tidak ada lautan yang dapat menjadi milik suatu bangsa/negara karena tidak mungkin bagi suatu negara untuk efektif mengambilnya sebagai hak milik dengan cara okupasi.

2.Alam tidak memberikan hak kepada siapapun untuk memiliki sarana yang dapat dimanfaatkan oleh setiap orang serta yang sifatnya tidak dapat habis (exhaustable) – dengan perkataan lain, laut terbuka/ lepas adalah hak semua bangsa (res gentium) atau barang non-komersial (res extra commercium).18

Berlawanan dengan prinsip kedaulatan laut maritime, prinsip “kebebasan laut lepas” (atau “kebebasan laut terbuka”) mulai dikembangkan, seperti dikemukakan oleh Hall, sesuai dengan kepentingan-kepentingan bersama dan nyata dari negara-negara maritime. Disadari bahwa demikian seringnya terjadi, dan besarnya kesulitan yang menimpa semua negara yang mengajukan, klaim-klaim yang bertentangan terhadap bagian laut terbuka. Kebebasan laut lepas dengan demikian haruslah dilihat dalam kaitannya dengan kepentingan umum semua negara, khususnya menyangkut kebebasan saling berhubungan antar bangsa.19

Pada zaman modern kebebasan-kebebasan laut lepas mencakup “kebebasan untuk menyelami” (freedom of immersion – seperti peletakan kabel-kabel bawah laut dan pipa-pipa

17 J.G. Starke, op.cit, hal 322. 18 Ibid, hal 323.

(14)

minyak) serta hak untuk terbang (overflight) bagi segala pesawat udara. Meskipun demikian, kebebasan-kebebasan ini tidak membenarkan suatu negara membiarkan suatu keadaan kacaunya peraturan-peraturan maritime, dan peraturan-peraturan tertentu untuk melaksanakan yuridiksi atas kapal-kapal di laut menjadi demikian pentingnya guna menghindarkan keadaan-keadaan anarki. Sebagai suatu pegangan untuk tindakan pengawasan yang diperlukan, mulanya ditentukan bahwa semua kapal, milik negara maupun swasta, di laut bebas tunduk pada yurisdiksi (pada umumnya, eksklusif) dan berhak atas perlindungan dari negara bendera kapal itu yang memungkinkan mereka melakukan pelayaran.

Dalam hal ini perlu menyinggung hak-hak yang dapat dilaksanakan oleh negara-negara maritime terhadap suatu bagian perairan yang berdampingan dengan garis pantai mereka, sedemikian rupa sepanjang dipandang perlu untuk keamanan negara terkait, atau di mana negara itu memiliki kemampuan untuk menguasainya. Jalur ini, yang kemudian sering disebut sebagai “jalur maritime” (maritime belt), dan yang sama paling sedikit dalam 30 tahun yang lalu dikenal secara universal sebagai “laut wilayah/territorial” sejak penyebutan bagian laut itu dengan nama demikian dalam Konvensi Jenewa 1958 mengenai Laut Teritorial dan Zona Tambahan (Territorial Sea and Contigous Zone), dinyatakan berada dalam kedaulatan negara pantai, tunduk pada hak lintas damai (innocent passage) oleh kapal-kapal negara lain. Hingga permulaan abad kedelapan belas prinsip kedaulatan negara pantai atas jalur maritime ini benar-benar berlaku. Pada tahun 1702 Bynkershoek menerbitkan karyanya, De dominio maris dissertation (Esay mengenai kedaultan atas laut), dalam karyanya ini ia menyetujui peraturan bahwa negara pesisir dapat menguasai laut sebatas lebar perairan pantai sejauh jangkauantembakan peluru meriam daari meriam-meriam pantai:

Terrae potestas ubi finuter armorumvis (kedaulatan wilayah berjarak sejauh kekuatan senjata dapat mencapainya).

Pada abad kesembilan belas, batas tiga mil memperoleh pengakuan luas dari para ahli hokum, juga oleh pengadilan-pengadilan, serta mendapat pengesahan dalam praktek negara-negara maritime utama. Pengakuan ini juga berlanjut dalam abad ke dua puluh, dengan dua negara maritime besar, Amerika Serikat dan Inggris, secara tegas menjadi pendukung utama batas tiga mil tersebut. Sejumlah besar negara memakai suatu ukuran yang lebih lebar untuk jalur maritime. 20

(15)

Dua perkembangan penting yang terjadi setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua yang sekarang perlu dibicarakan, pertama evolusi dan penerimaan umum atas doktrin landas kontinen (continental shelf), dan yang kedua, keputusan-keputusan International Court of Justice dalam perkara Anglo-Norwegian Fisheries Case yang memperkuat metode dalam hal-hal tertentu penarikan garis dasar lebar jalur maritime diukur, sebagai pengganti tanda air surut yang merupakan akhir garis jalur maritime.21

Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Hukum Laut yang pertama dan Kedua masih belum menyelesaikan sejumlah besar permalasahan, khususnya mengenai:

1. Lebar laut territorial secara tepat,

2. Masalah lintas damai bagi kapal-kapal perang setiap waktu melintasi selat-selat yang merupakan jalan raya maritime internasional, dan yang seluruhnya merupakan perairan laut territorial,

3. Hak lintas, dan terbang lintas dalam hubungannya dengan perairan kepulauan, dan

4. Masalah perlindungan dan konservasi spesies-spesies khusus untuk kepentingan-kepentingan-kepentingan ilmiah atau fasilitas kepariwisataan.22

Hasil akhir dari perkembangan-perkembangan yang timbul ini adalah dikeluarkannyadua resolusi penting oleh Majelis Umum tanggal 17 Desember 1970, yang satu memuat Deklarasi Prinsip-Prinsip yang Mengatur Dasar Laut dan Dasar Samudera serta Tanah di Bawahnya di luar Batas Yuridiksi Nasional (Declaration of Principles Governing the Seabed and Subsoil Thereof beyond the Limits of National Jurisdiction), dan yang lainnya mengemukakan keputusan untuk menyelenggarakan suatu Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Ketiga mengenai Hukum Laut pada tahun 1973, yang kemudian dikenal dengan singkatan “UNCLOS” (United Nations Conference on the Law of the Sea). Deklarasi itu menyatakan sejumlah prinsip dan pedoman, antara lain yang termasuk yang berikut ini:

a. Batas dasar laut dan dasar samudera serta tanah di bawahnya, di laut batas-batas yuridiksi, juga sumber-sumber daya alam di kawasan (area) adalah “warisan bersama untuk umat manusia”,

b. Bahwa kawasan itu tidak tunduk pada pemilikan, atau menjadi obyek penuntutan kedaulatan atau hak-hak berdaulat oleh negara-negara.

(16)

c. Bahwa segala aktivitas eksplorasi atau eksploitasi di kawasan harus diatur dengan suatu rezim internasional yang akan dibentuk.

d. Bahwa kawasan secara eksklusif harus dicadangkan untuk tujuan-tujuan damai, dan

e. Bahwa harus diambil tindakan-tindakan kerjasama untuk mencegah kerusakan lingkungan lautdan keseimbangan ekologinya, untuk melindungi dan melestarikan sumber-sumber daya alam di kawasan, dan untuk mencegah kerusakan flora dan fauna.23

Jadi dengan adanya Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (KHL 1982), disahkan tanggal 10 Desember 1982, di Montegobay, Jamaica. Berdasarkan pada Konvensi ini, maka:

a. Negara dari aspek geografis dibedakan menjadi 3 yaitu negara tak berpantai, negara pantai, dan negara kepulauan

b. Laut dibagi dalam beberapa zona, yaitu: Laut territorial (territorial sea),

Perairan pedalaman (internal sea),

Zona tambahan (contiguous sea),

Perairan kepulauan (archipelagic water),

Zona Ekonomi Eksklusif (Exclusive economic zone),

Laut lepas (the high sea),

Daerah dasar laut dan tanah di bawahnya dibedakan menjadi dua, yaitu: landas

kontinen (continental shelf ) dan kawasan (area).24

2.2 Pengaturan Zona Maritim

Perkembangan yang cepat dari hokum laut internasional terlihat dengan diperkenalkannya pengaturan tentang “landas kontinen” dalam UNCLOS I dan rejim baru “Zona Ekonomi Eksklusif”, “Negara Kepulauan”, “Kawasan Dasar Laut Internasional” dan lain-lain. Adapun konfrensi internasional utama yang membahas masalah laut territorial ialah Codification Conference pada tahun 1930 di Den Haag, yang dilangsungkan dibawah naungan Liga Bangsa-Bangsa.

(17)

Konferensi Kodifikasi ini berlangsung dari tanggal 13 Maret sampai tanggal 12 April 1930, yang dihadiri oleh delegasi dari 47 negara. Konperensi tidak mencapai kata sepakat tentang batas luar dari luar teritorial dan hak menangkap ikan dari negara-negara pantai pada zona tambahan. Peserta konferensi pendapatnya terbagi di dalam beberapa versi, di antaranya ada yang menginginkan lebar laut territorial 3 mil (20 negara), ada pula yang menghendaki 6 mil laut territorial (12 negara), serta negara-negara Nordic menghendaki laut territorial 4 mil. Konferensi Kodifikasi Den Haag tidak menghasilkan suatu konvensi, kecuali beberapa rancangan pasal-pasal yang disetujui sementara. Konferensi Kodifikasi Den Haag merupakan satu-satunya konferensi hokum laut yang dilangsungkan di bawah naungan Liga Bangsa-Bangsa.25

Secara teoretik, system penetapan garis batas zona maritime negara pantai yang saling berhadapan pada umumnya dan negara tepi selat pada khususnya dilakukan dengan perjanjian bilateral sesuai dengan UNCLOS 1982 sebagai dasar primer pengaturan laut internasional.26

UNCLOS 1982 menetukan wilayah perairan laut negara terdiri dari laut territorial, Zona Tambahan, Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di bawah dasar laut dan tanah di bawahnya terdapat rezim landas kontinen. Masing-masing zona memiliki status hokum berbeda. Zona zona perairan laut terluar suatu negara dapat saja berbatasan dengan laut territorial, zona tambahan, atau ZEE. Khusus untukwilayah dasar laut dan tanah di bawahnya terdapat pula hak-hak negara di landas kontinennya yang tentunya akan terkait pula dengan batas negara di landas kontinen.27

Berdasarkan ketentuan internasional, penentuan batas zona-zona perairan laut negara diukur dari garis pangkal, yaitu garis imajiner yang diukur dari titik-titik terluar pulau-pulau terluar ketika air laut surut. Garis pangkal inilah yang menjadi dasar penarikan batas zona maritime suatu negara, sekaligus pula untuk menentukan batas-batas wilayah laut negara, baik yang berbatasan dalam wilayah laut territorial, ZEE, maupun batas landas kontinen.

Penggunaan garis pangkal dapat dilakukan dengan cara bervariasi antara lain:

25 Colombos, The International Law of the Sea, 1967. Hlm. 103-106.

26 Khaidir Anwar, Batas wilayah Negara di Perairan Laut, Universitas Lampung, 2011, hlm 55.

(18)

1. Garis pangkal normal (normal base line) 2. Garis pangkal lurus (straight base line)

3. Garis pangkal kepulauan (archipelagic straight base line) atau 4. Gabungan dari ketiga garis pangkal tersebut.

Penggunaan ketiga garis pangkal ini disesuaikan dengan kondisi geografis wilayah perairan tersebut.

Penarikan garis pangkal lurus kepulauan dilakukan dengan cara menghubungkan titik-titik terluar pulau-pulau dan karang kering terluar kepulauan itu dengan garis lurus secara satu kesatuan, dengan ketentuan sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 47 UNCLOS 1982 yang telah diuraikan pada bagian terlebih dahulu.

Setelah suatu negara menetapkan garis pangkalnya, lalu untuk menetukan zona maritimnya, diukur sejauh 12 mil dari garis pangkal merupakan laut territorial, 24 mil zona tambahan, 200 mil ZEE. Penentuan jarak zona maritime ini tidak dapat diklaim secara mutlak. Jika terdapat suatu wilayahh yang ukuran zona maritimnya kurang dari lebar zona maritime yang telah ditentukan dalam UNCLOS 1982, maka negara yang zona maritimnya ditentukan dengan

median line, atau sesuai kesepakatan para pihak. Tidak dibenarkan suatu negara mengklaim batas wilayahnya secara sepihak.

Dalam UNCLOS 1982 terdapat tiga ketentuan tentang penetapan batas maritime antara negara-negara yang berhadapan atau berdampingan perbatasan laut wilayah, ZEE, dan landas kontinen, yaitu:

1. Penentuan batas laut territorial, bila pantai dua negara berhadapan atau berdampingan satu sama lain, maka kedua negara tidak mempunyai hak atas wilayah tersebut, kecuali jika ada perjanjian antara keduanya.

(19)

dan selama masa peralihan ini, tidak membahayakan atau menghalangi dicapainya suatu persetujuan akhir. Pengaturan demikian tidak boleh merugikan bagi tercapainya penetapan akhir mengenai perbatasan (Pasal 74 UNCLOS 1982).

3. Penentuan batas landas kontinen sama seperti yang berlaku untuk ZEE yang diatur dalam Pasal 83. Pasal ini secara khusus mengatur bahwa penetapan garis landas kontinen antar negara yang pantainya berhadapan atau berdampingan harus dilakukan dengan persetujuan atas dasar hokum internasional.

Sementara itu, Boer Mauna, menyatakan bahwa dalam menentukan landas kontinen Mahkamah Internasional juga memberikan beberapa petunjuk, yaitu:

1. Dalam menentukan batas landas kontinen, seharusnya negara yang bersangkutan memperoleh keseluruhan landas kontinennya, yang merupakan kelanjutan natural dari dasar laut wilayahnya untuk menghindarkan agar landas kontinen tersebut tidak mengambil daerh-daerah laut pihak-pihak lain.

2.Bila penentuan pembatasan landas kontinen menyebabkan adanya bagian-bagian dasar laut yang dituntut bersama, maka dasar-dasar laut tersebut harus dibagi sama rata bagi negara-negara yang bersangkutan, kecuali negara-negara tersebut menerima rezim yuridiksi penggunaan dan eksploitasi bersama dari sebagian atas keseluruhan daerah-daerah dasar laut yang sama-sama dituntut tersebut.

3. Memperhatikan semua keadaan-keadaan khusus, yaitu:

a. Kesatuan sumber daya alam konfigurasi umum dari pantai dengan segala cirri-ciri khususnya atau ciri-ciri luar biasa yang ada.

b. Menunjukkan struktur fisik dan geologi dari daerah-daerah landas kontinen yang akan dibagi.

c. Hubungan yang wajar antara luasnya landas kontinen yang berada di bawah kedaulatan negara pantai dan panjang pantai negara tersebut yang diukur menurut jurusan umum pantai.28

Kedua penjelasan diatas memberikan kejelasan bahwa penetapan batas wilayah laut negara ditentukan dengan persetujuan, bukan tindakan secara sepihak (unilateral). Dalam keadaan tertentu hal ini dapat dilakukan secara adil, antara lain tentang hak lintas bagi kapal asing dan kepentingan-kepentingan negara tepi selat yang juga perlu dilindungi, termasuk juga masyarakat (pelayan).

(20)

Dengan demikian, hukum internasional saat ini telah dianggap not only as a restriction upon but also as an actual denial of absolute sovereignty. Persoalan tanggung jawab negara dalam hokum lingkungan internasional telah dianggap lebih berat dari pada hak-hak negara sebagai pelaksana konsep kedaulatan. Oleh sebab itu, penetapan batas zona maritime bagi negara-negara tepi selat harus pula mempertimbangkan tanggung jawab negara-negara lain, khususnya terkait dengan aspek lingkungan akibat penggunaan selat oleh negara tepi selat dan negara-negara yang melintasinya.

BAB III PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

3.1.1. Sejarah Perkembangan Hukum Laut Internasional

Laut memiliki fungsi dan manfaat, yaitu: a. Saran pelabuhan

b. Sarana transportasi

(21)

d. Sarana sumber daya alam

e. Sarana penelitian ilmiah kelautan f. Sarana rekreasi

g. Sarana pertempuran

h. Sarana keamanan dan pengamanan i. Sarana penanaman pipa dalam laut

Hokum laut internasional adalah himpunan kaidah dan asas hokum yang mengatur tentang zona maritime dan pemanfaatannya oleh negara-negara dan negara lain, hak dan kewajiban negara-negara dan negara lain dalam pemanfatan zona-zona tersebut, serta hubungannya dengan organisasi internasional dan subyek hokum internasional lainnya.

Sejarah perkembangan hokum laut dimulai pada abad ke-12 yang telah dikenal beberapa kompilasi dari peraturan-peraturan yang dipakai di laut di Eropa. Di Laut Tengah Lex Rhodia atau Hukum Laut Rhodhia mulai dikenal sejak abad ketujuh. Penandatanganan akhir pada tanggal 10 Desember 1982, di Montego Bay – Jamaica, oleh sejumlah besar negara (tidak kurang dari 118 negara) yang terwakili dalam Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Ketiga tentang Hukum Laut 1973-1982 (UNCLOS) guna menyusun suatu ketentuan hokum internasional yang komprehensif berkait dengan hokum laut di bawah judul Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Hokum Laut, mungkin merupakan perkembangan paling penting dalam keseluruhan sejarah ketentuan hokum internasional berkenaan dengan lautan bebas.

Jadi, dengan adanya Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (KHL 1982), disahkan tanggal 10 Desember 1982, di Montegobay, Jamaica. Berdasarkan pada Konvensi ini, maka:

c. Negara dari aspek geografis dibedakan menjadi 3 yaitu negara tak berpantai, negara pantai, dan negara kepulauan

d. Laut dibagi dalam beberapa zona, yaitu: Laut territorial (territorial sea),

Perairan pedalaman (internal sea),

Zona tambahan (contiguous sea),

(22)

Zona Ekonomi Eksklusif (Exclusive economic zone),

Laut lepas (the high sea),

Daerah dasar laut dan tanah di bawahnya dibedakan menjadi dua, yaitu: landas

kontinen (continental shelf ) dan kawasan (area).

3.1.2 Pengaturan Zona Maritim

Sistem penetapan garis batas zona maritime negara pantai yang saling berhadapan pada umumnya dan negara tepi selat pada khususnya dilakukan dengan perjanjian bilateral sesuai dengan UNCLOS 1982 sebagai dasar primer pengaturan laut internasional. Berdasarkan ketentuan internasional, penentuan batas zona-zona perairan laut negara diukur dari garis pangkal, yaitu garis imajiner yang diukur dari titik-titik terluar pulau-pulau terluar ketika air laut surut.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Muthalib Tahar. 2013. Zona-Zona Maritim Berdasarkan KHL 1982 dan

Perkembangan Hukum Laut Indonesia. Cet. 2. Bandar Lampung: ISBN:978-602-7509-01-6.

(23)

Chairul Anwar, Hukum Internasional Horizon Baru Hukum Laut Internasional Konvensi Hukum Laut 1982, Jakarta,1989

Colombos, The International Law of the Sea, 1967.

Hartono, M.Dimyati, Hukum Laut Internasional, Bhratara Karya Aksara, 1977.

J. G. Strake, Pengantar Hukum Internasional Edisi Kesepuluh, Jakarta, Sinar Grafika, 2008

Khaidir Anwar, Batas Wilayah Negara di Perairan Laut, Penerbit Universitas Lampung, 2011.

Kusumaatmadja, Mochtar, Hukum Laut Internasional, Binacipta, 1986.

Kusumaatmadja, Mochtar, Konsepsi Hukum Negara Nusantara padaKonferensi Hukum

Laut III, Alumni, 2003.

May Rudy, T, Hukum Internasional 2, Retika Aditama, Bandung, 2011

Retno Windari, Hukum Laut, Zona-Zona Maritim sesuai UNCLOS 1982 dan Konvensi-Konvensi Bidang Maritim, Badan Koordinasi Keamanan Laut, Jl. Dr. Sutomo No. 11 Jakarta Pusat 10710, Jakarta, 2009

Summers Lionnel, M., The international Lawof Peace, Oceana, New York, 1973

Von Glahn, Gerhard, Law Among Nations, An Introdunction to Public International Law, New York, 1965.

Konvensi Hukum Laut Jenewa 1958

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil siklus I dan hasil siklus II serta pembahasan dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD

a. 2) Kompetisi tingkat internasional adalah kompetisi yang diselenggarakan oleh lembaga atau asosiasi tingkat internasional, atau kompetisi yang diiikuti oleh peserta

Diterimanya hipotesis Null yaitu tidak terdapat perbedaan pengetahuan tentang akibat cidera kepala antara sebelum dan sesudah menonton VCD para siswa SMK di Kota

SUDAHI DERITA KESENDIRIAN ANDA DAN MULAI BERG ERAK UNTUK MENDAPATKAN WANITA IDAMAN ANDA..... C ARA LAMA YANG

q   fungsi kontinu kompleks yang tidak memungkinkan didiferensialkan atau dintegralkan secara langsung. q   fungsi yang nilai-nilainya disajikan dalam bentuk tabel [tabulasi data

Tanpa keberadaan serangga, dunia akan menjadi tempat yang mungkin berbeda dari apa yang kita lihat sekarang, dibutuhkan penglihatan yang sangat teliti terhadap serangga agar dapat

Sedangkan hubungan biaya distribusi dengan volume penjualan dapat dihitung dengan koefisien sebesar 0,97896 yang berarti positif dan lemah bahkan cenderung tidak ada hubungan

The initial effect of the tax increase is that households cut consumption by the MPC times the change in taxes. This change in consumption is less than the change in taxes, because