• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hak and Kewajiban Warga Negara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Hak and Kewajiban Warga Negara"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Ada sebagian masyarakat yang merasa dirinya tidak tersentuh oleh pemerintah. Dalam artian pemerintah tidak membantu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya, tidak memperdulikan pendidikan dirinya dan keluraganya, tidak mengobati penyakit yang dideritanya dan lain sebagainya yang menggambarkan seakan-akan pemerintah tidak melihat penderitaan yang dirasakan mereka. Dengan demikian mereka menanyakan hak-hak mereka, akankah hak-hak mereka diabaikan begitu saja, atau jangan-jangan hal semacam itu memang bukan hak mereka? kalau memang bantuan pemerintah kepada mereka itu adalah hak yang harus diterima mereka mengapa bantuan itu belum juga datang?

Selain mereka yang merasa hak-haknya sebagai warga negara belum didapat, ada juga orang-orang yang benar-benar hak mereka sebagai warga negara telah didapat, akan tetapi mereka tidak mau menunaikan kewajibannya sebagai warga negara. Mereka tidak mau membela negaranya diakala hak-hak negeri ini dirampas oleh negara sebrang, mereka tidak mau tahu dikala hak paten seni-seni kebudayaan Indonesia dibajak dan diakui oleh negara lain, dan bahkan mereka mengambil dan mencuri hak-hak rakyat jelata demi kepentingan perutnya sendiri. Sungguh masih banyak sekali fenoma-fenoma yang menimpa negeri ini. Akankan ini terjadi karena kekurang pahaman masyarakat tentang Hak dan Kewajibannya sebagai warga negara?

Dalam konteks Indonesia ini yang merupakan suatu Negara yang demokratis tentunya elemen masyarakat disini sangat berperan dalam pembangunan suatu Negara. Negara mempunyai hak dan kewajiban bagi warga negaranya begitu pula dengan warga negaranya juga mempunyai hak dan kewajiban terhadap Negaranya. Seperti apakah hak dan kewajiban tersebut yang seharusnya dipertanggungjawabkan oleh masing-masing komponen tersebut.

(2)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang dapat ditarik dari penulisan makalah ini adalah:

1. Apa pengertian warga negara dan kewarganegaraan? 2. Apa pengertian hak dan kewajiban?

3. Bagaimana kedudukan warga negara dalam negara? 4. Bagaimana pandangan ideologis atas hak dan kewajiban?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui pengertian warga negara dan kewarganegaraan 2. Untuk mengetahui pengertian hak dan kewajiban

3. Untuk mengetahui kedudukan warga negara dalam negara 4. Menjelaskan pandangan ideologis atas hak dan kewajiban

(3)

2.1 Pengertian Warga Negara dan Kewarganegaraan 2.1.1 Pengertian Warga Negara

Istilah warga negara merupakan terjemahan dari citizen yang mempunyai arti sebagai berikut:

a. Warga negara

b. Petunjuk dari sebuah kota

c. Sesama warga negara; sesame penduduk; orang setanah ait d. Bawahan atau kawula

Pengertian warga negara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) adalah penduduk sebuah negara atau bangsa berdasarkan keturunan, tempat kelahiran, dan sebagainya, yang mempunyai kewajiban dan hak penuh sebagai warga negara itu.

Sementara itu, Aristotle dalam Politics (2006, hal. 58) mendefinisikan warga negara (citizen) sebagai berikut, “the definition of a citizen is one who exercises certain offices, for such a one we have defined citizen to be, it is evident, that citizen illegally created yet continues to be citizen, but whether justly or unjustly so belongs to the former inquiry”.

Pater Block dalam Community (2008) menjelaskan tentang warga negara (citizen), bahwa: “a citizen is one who is willing to be accountable for and committed to the well-being of the whole. That whole can be a city block, a community, a nation, the earth. A citizen is one who produces the future, someone who does not wait, beg, or dream for the future”.

(4)

Warga negara memiliki peran dan tanggung jawab yang sangat penting bagi kemajuan dan bahkan kemunduran sebuah bangsa. Oleh karena itu, seseorang yang menjadi anggota atau warga suatu negara haruslah ditentukan oleh Undang-undang yang dibuat oleh negara tersebut. Sebelum negara menentukan siapa saja yang menjadi warga negaranya, terlebih dahulu negara harus mengakui bahwa setiap orang berhak memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meningggalkannya serta berhak kembali sebagaimana dinyatakan oleh pasal 28E ayat (1) UUD 1945. pernyataan ini mengandung makna bahwa orang-orang yang tinggal dalam wilayah negara dapat diklasifikasikan menjadi:

 Warga Negara Indonesia, adalah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan dengan undang-undang sebagai warga negara.

 Penduduk, yaitu orang-orang asing yang tinggal dalam negara bersifat sementara sesuai dengan visa (surat izin untuk memasuki suatu negara

Gambar 1. Klasifikasi Penghuni Negara 2.1.2 Pengertian Kewarganegaraan

Kewarganegaraan merupakan keanggotaan seseorang dalam satuan politik tertentu (secara khusus: negara) yang dengannya membawa hak untuk berpartisipasi dalam kegiatan politik. Seseorang dengan keanggotaan yang demikian disebut warga negara. Seorang warga negara berhak memiliki paspor dari negara yang dianggotainya.

(5)

masing-masing satuan politik akan memberikan hak (biasanya sosial) yang berbeda-beda bagi warganya.

Kewarganegaraan memiliki kemiripan dengan kebangsaan (bahasa Inggris: nationality). Yang membedakan adalah hak-hak untuk aktif dalam perpolitikan. Ada kemungkinan untuk memiliki kebangsaan tanpa menjadi seorang warga negara (contoh, secara hukum merupakan subyek suatu negara dan berhak atas perlindungan tanpa memiliki hak berpartisipasi dalam politik). Juga dimungkinkan untuk memiliki hak politik tanpa menjadi anggota bangsa dari suatu negara.

Di bawah teori kontrak sosial, status kewarganegaraan memiliki implikasi hak dan kewajiban. Dalam filosofi "kewarganegaraan aktif", seorang warga negara disyaratkan untuk menyumbangkan kemampuannya bagi perbaikan komunitas melalui partisipasi ekonomi, layanan publik, kerja sukarela, dan berbagai kegiatan serupa untuk memperbaiki penghidupan masyarakatnya. Dari dasar pemikiran ini muncul mata pelajaran Kewarganegaraan (bahasa Inggris: Civics) yang diberikan di sekolah-sekolah.

kewarganegaraan dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.

1. Kewarganegaraan dalam arti yuridis dan sosiologis

Kewarganegaraan dalam arti yuridis ditandai dengan adanya ikatan hukum antara orang-orang dengan negara. Misalnya akta kelahiran, surat pernyataan, bukti kewarganegaraan, dan lain-lain.

Kewarganegaraan dalam arti sosiologis tidak ditandai dengan ikatan hukum, tetapi ikatan emosional, seperti ikatan perasaan, ikatan keturunan, ikatan nasib, ikatan sejarah, dan ikatan tanah air.

2. Kewarganegaraan dalam arti formil dan materiil

Kewarganegaraan dalam arti formil menunjuk pada tempat kewarganegaraan. Dalam sistematika hukum, masalah kewarganegaraan berada pada hukum publik.

Kewarganegaraan dalam arti materiil menunjuk pada akibat hukum dari status kewarganegaraan, yaitu adanya hak dan kewajiban.

(6)

2.2.1 Pengertian Hak

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, hak memiliki pengertian tentang sesuatu hal yang benar, milik, kepunyaan, kewenangan, kekuasaan untuk berbuat sesuatu (karena telah ditentukan oleh undang-undang, aturan, dsb), kekuasaan yg benar atas sesuatu atau untuk menuntut sesuatu, derajat atau martabat.

Adapun Prof. Dr. Notonagoro mendefinisikannya sebagai berikut: “Hak adalah kuasa untuk menerima atau melakukan suatu yang semestinya diterima atau dilakukan melulu oleh pihak tertentu dan tidak dapat oleh pihak lain manapun juga yang pada prinsipnya dapat dituntut secara paksa olehnya.

2.2.2 Pengertian Kewajiban

Wajib adalah beban untuk memberikan sesuatu yang semestinya dibiarkan atau diberikan melulu oleh pihak tertentu tidak dapat oleh pihak lain manapun yang pada prinsipnya dapat dituntut secara paksa oleh yang berkepentingan (Prof. Dr. Notonagoro). Sedangkan kewajiban adalah sesuatu yang wajib dilaksanakan, keharusan (sesuatu hal yang harus dilaksanakan) (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

2.3 Hubungan Warga Negara dengan Negara

Wujud hubungan anatara warga negara dengan negara adalah pada umumnya adalah berupa peranan (role). Peranan pada dasarnya adalah tugas apa yang dilakukan sesuai dengan status yang dimiliki, dalam hal ini sebagai warga negara. Hubungan atau kedudukan warga negara ini bersifat khusus, sebab hanya mereka yang menjadi warga negaralah yang memiliki hubungan timbale balik dengan negaranya. Orang-orang yang tinggal di wilayah negara, tetapi tidak memiliki status warga negara maka tidak memiliki hubungan timbal balik dengan negara itu.

2.3.1 Sistem Kewarganegaraan

(7)

Gambar 2. Sistem Kewarganegaraan

1. Sistem Kewarganegaraan Berdasarkan Kelahiran

Penentuan kewarganegaraan berdasarkan kelahiran seseorang dikenal dengan dua asas kewarganegaraan yaitu ius soli dan ius sanguinis. Kedua istilah tersebut berasal dari bahasa Latin. Ius berarti hukum, dalil atau pedoman. Soli berasal dari kata solum yang berarti negeri, tanah atau daerah, dan sanguinis berasal dari kata sanguis yang berarti darah. Dengan demikian ius soli berarti pedoman kewarganegaraan yang berdasarkan tempat atau daerah kelahiran, sedangkan ius sanguinis adalah pedoman kewarganegaraan berdasarkan darah atau keturunan atau keibubapakan.

a. Ius Sanguinis

Kewarganegaraan dari orang tua yang menurunkannya menentukan kewarganegaraan seseorang, artinya kalau orang dilahirkan dari orang tua yang berwarganegara Indonesia, ia dengan sendirinya juga warga negara Indonesia.

(8)

dianut oleh negara yang tidak dibatasi oleh lautan, seperti Eropa Kontinental dan China.

b. Ius Soli

Pada awalnya, asas kewarganegaraan berdasarkan kelahiran ini hanya satu, yakni ius soli saja. Hal ini didasarkan pada anggapan bahwa karena seseorang lahir di suatu wilayah negara, maka otomatis dan logis ia menjadi warga negara tersebut.

Asas ius soli atau asas tempat kelahiran atau hukum tempat kelahiran (law of the soil) atau asas teritorial adalah asas yang menetapkan seseorang mempunyai kewarganegaraan menurut tempat di mana ia dilahirkan. Asas ini dianut oleh negara-negara imigrasi seprti USA, Australia, dan Kanada.

Tidak semua daerah tempat seseorang dilahirkan menentukan kewarganegaraan. Misalnya, kalau orang dilahirkan di dalam daerah hukum Indonesia, ia dengan sendirinya menjadi warga negara Indonesia. Terkecuali anggota-anggota korps diplomatik dan anggota tentara asing yang masih dalam ikatan dinas. Di samping dan bersama-sama dengan prinsip ius sanguinis, prinsip ius soli ini juga berlaku di Amerika, Inggris, Perancis, dan juga Indonesia. Tetapi di Jepang, prinsip ius solis ini tidak berlaku. Karena seseorang yang tidak dapat membuktikan bahwa orang tuanya berkebangsaan Jepang, ia tidak dapat diakui sebagai warga negara Jepang.

(9)

sanguinis dimunculkan, sehingga si anak dapat memiliki status kewarga-negaraan bapaknya.

Dalam perjalanan banyak negara yang meninggalkan asas ius soli, seperti

Belanda, Belgia, dan lain-lain. Selain kedua asas tersebut, beberapa negara

yang menggabungkan keduanya misalnya Inggris dan Indonesia.

2. Sistem Kewarganegaraan Berdasarkan Perkawinan

Selain hukum kewarganegaraan dilihat dari sudut kelahiran, kewarganegaraan seseorang juga dapat dilihat dari sistem perkawinan. Di dalam sistem perkawinan, terdapat dua buah asas, yaitu asas kesatuan hukum dan asas persamaan derajat.

a. Asas Kesatuan Hukum

Asas kesatuan hukum berdasarkan pada paradigma bahwa suami-istri ataupun ikatan keluarga merupakan inti masyarakat yang meniscayakan suasana sejahtera, sehat dan tidak berpecah. Dalam menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat, suami-istri ataupun ikatan keluarga yang baik perlu mencerminkan adanya suatu kesatuan yang bulat.

Untuk merealisasikan terciptanya kesatuan dalam keluarga atau suami-istri, maka semuanya harus tunduk pada hukum yang sama. Dengan adanya kesamaan pemahaman dan komitment menjalankan adanya kewarganegaraan yang sama, sehingga masing-masing tidak terdapat perbedaan yang dapat mengganggu keutuhan dan kesejahteraan keluarga.

(10)

negara yang baik apabila kewarganegaraannya berbeda dengan sang ayah anak-anak.

b. Asas Persamaan Derajat

Dalam asas persamaan derajat, suatu perkawinan tidak menyebabkan perubahan status kewarganegaraan masing-masing pihak (suami atau istri). Baik suami ataupun istri tetap berkewarganegaraan asal, atau dengan kata lain sekalipun sudah menjadi suami-istri, mereka tetap memiliki status kewarganegaraan sendiri, sama halnya ketika mereka belum diikatkan menjadi suami istri. Negara-negara yang menggunakan asas ini antara lain: Australia, Canada, Denmark, Inggris, Jerman, Israel, Swedia, Birma dan lainnya.

Asas ini dapat menghindari terjadinya penyelundupan hukum. Misalnya, seseorang yang berkewarganegaraan asing ingin memperoleh status kewarganegaraan suatu negara dengan cara atau berpura-pura melakukan pernikahan dengan perempuan di negara tersebut. Setelah melalui perkawinan dan orang tersebut memperoleh kewarganegaraan yang diinginkannya, maka selanjutnya ia menceraikan istrinya. Untuk menghindari penyelundupan hukum semacam ini, banyak negara yang menggunakan asas persamaan derajat dalam peraturan kewarganegaraannya.

3. Sistem Kewarganegaraan Berdasarkan Naturalisasi

Walaupun tidak dapat memenuhi status kewarganegaraan melalui sistem kelahiran maupun perkawinan, seseorang masih dapat mendapatkan status kewarganegaraan melalui proses pewarganegaraan atau naturalisasi. Syarat syarat dan prosedur pewarganegaraan ini di berbagai negara sedikit-banyak dapat berlainan, menurut kebutuhan yang dibawakan oleh kondisi dan situasi negara masing-masing.

(11)

repudiasi, yaitu hak untuk menolak pemberian kewarganegaraan tersebut (Kartasapoetra. 1993: 216-7).

2.3.2 Warga Negara Indonesia

Negara Indonesia telah menentukan siapa – siapa yang menjadi warga negara. Ketentuan tersebut tercantum dalam Pasal 26 UUD 1945 sebagai berikut :

1. Oang yang menjadi warga negara ialah orang – orang bangsa Indonesia asli dan orang – orang bangsa lain yang disahkan dengan undang – undang sebagai warga negara.

2. Penduduk ialah warga negara Indonesia dan Orang asing yang bertempat tinggal di Indonesia.

3. Hal –hal mengenai warga negara dan penduduk diatur oleh undang – undang.

Bedasarkan hal diatas, kita mengetahui bahwa orang yang dapat menjadi warga negara indonesia adalah :

a. Orang – orang bangsa Indonesia asli.

b. Orang – orang bangsa lain yang disah kan undang – undang menjadi warga negara.

Bedasarkan Pasal 26 ayat 2 UUD 1945, penduduk negara indonesia terdiri atas dua yaitu warga negara dan orang asing. Ketentuan ini merupakan hal baru dan sebagai hasil amandemen atas UUD 1945. sebelumnya ppenduduk Indonesia bedasarkan Staatregling 1927 pasal 63 dibagi menjadi tiga. Yaitu :

a. Golongan Eropa :

1. Bangsa Belanda.

2. Bukan Bangsa Belanda tetapi dari Eropa.

3. Orang golongan lain yang hukum keluarganya sama dengan Eropa. b. Golongan Timur Asing :

1. Golonga Tionghoa.

2. Golongan Timur Asing bukan China. c. Golongan Bumiputra atau Pribumi :

1. Orang Indonesia asli dan keturunannya.

(12)

Dengan adanya ketentuan baru tentang penduduk indonesia, diharapkan tak ada lagi pembedaan dan penamaan penduduk atas indonesia golongan pribumi dan keturunan yang dapat memicu konflik antar penduduk Indonesia.

Orang – orang bangsa lain adalah orang – orang peranakan sepeeti peranakan Tionghoa, Belanda dan Arab yang bertempat tinggal di Indonesia, yang mengakui Indonesia sebagai Tumpah darahnya dan bersikap setia kepada Negara Republik Indonesia dengan cara naturalisasi atau pewarganegaraan. Cara memperoleh kewarganegaraan Indonesia diatur dengan Undang – Undang. Adapun undang – undang yang mengatur tentang warga negara adalah Undang – Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia.

2.3.3 Ketentuan Undang-undang Mengenai WNI

Perihal Warga Negara Indonesia diantur dengan undang – undang sejak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia sampai saat ini. Undang – undang yang mengatur perihl kewarganegaraan adalah sebagai berikut :

a. Undang – Undang No. 3 Tahun 1946 tentang Warga Negara dan Penduduk Negara.

b. Undang – undang No. 6 tahun 1947 tentang perubahan Undang – Undang No. 3 Tahun 1946 tentang Warga Negara dan Penduduk Negara.

c. Undang – Undang No. 8 Tahun 1947 tentang Memperpanjang Wktu untuk Mengajukan Pernyataan Berhubung dengan Kewargaan Negara Indonesia. d. Undang – Undang No. 11 Tahun 1948 tentang Memperpanjang Waktu Lagi

untuk Mengajukan Pernyataan Berhubung dengan Kewargaan Negara Indonesia.

e. Undang – Undang No. 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia.

f. Undang – Undang No. 3 1976 tentang Perubahan atas Pasal 18 Undang – Undang No. 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. g. Undang – Undang No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik

Indonesia.

(13)

sekarang ini adalah Undang – Undang No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia yang diundangkan pada tanga 1 Agustus 2006. Undang – Undang ini menggantikan Undang – Undang Kewarganegaraan lama, yaitu Undang – Undang No. 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia.

Pokok materi yang diatur dalam Undang – Undang ini adalah : a. Siapa yang menjadi warga negara Indonesia.

b. Syarat dan tata cara memperoleh Kewarganegaraan Republik Indonesia. c. Kehilangan Kewarganegaraan Republik Indonesia.

d. Syarat dan tata cara memperoleh kembali Kewarganegaraan Republik Indonesia.

e. Ketentuan Pidana.

Beberapa ketentuan yang diatur dalam Undang – Undang No.12 tahun 2006 antara lain sebagai berikut :

a. Tentang siapa yang menjadi warga negara Indonesia:

1. Setiap orang yang bedasarkan peraturan perundang – undangan dan atau bedasarkan perjanjian Pemerintah Republik Indonesia dengan Negara lain sebelum undang – undang ini berlaku sudah menjadi warga negara indonesia. 2. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah dan ibu Warga

Negara Indonesia.

3. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah Warga Negara Indonesia dan ibu warga negara asing.

4. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah warga negara asing dan ibu Warga Negara Indonesia.

5. Anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari seorang ibu Warga Negara Indonesia tetapi ayahnya tidak mempunyai kewarganegaraan atau hukum negara asal ayahnya tidak memberikan kewarganegaraan pada anak tersebut. 6. Anak yang lahir dalam tenggang waktu 300 hari setelah ayahnya meninggal

dari perkawinan yang sah dan ayahnya Warga Negara Indonesia.

(14)

8. Anak yang lahir diluar perkawinan yang sah dari seorang ibu Warga Negara Asing yang diakui oleh seorang ayah Warga Negara Indonesia sebagai anaknya dan pengakuan itu dilakukan sebelum anak tersebut berusia 18 tahun dan / atau belum kawin.

9. Anak yang lahir di wilayah negara Republik Indonesia yang pada waktu lahir tidak jelas status kewarganegaraan ayah dan ibunya.

10. Anak yang baru lahir yang di temukan diwilayah Negara Republik Indonesia selama ayah dan ibunya tidak diketahui.

11. Anak yang lahir diwilayah Negara Republik Indonesia apabila ayah dan ibunya tidak mempunyai kewarganegaraan atau tidak diketahui keberadaanya.

12. Anak yang dilahirkan diluar wilayah Negara Republik Indonesia apabila dari seorang ayah dan ibu warga Negara Indonesia yang karna ketentuan dari negara tempat anak tersebut dilahirkan memberikan kewarganegaraan kepada anak yang bersangkutan.

13. Anak dari seorang ayah atau ibu yang telah di kabulkan permohonan kewarganegaraanya, kemudian ayah atau ibunya meninggal dunia sebelum mengucapkan sumpah atau menyatakan janji setia.

14. Anak warga Negara Indonesia yang lahir di luar perkawinan yang sah, belum berusia 18 tahun atau belum kawin diakui secara sah oleh ayahnya yang berkewarganegaraan asing tetap diakui sebagai Warga Negara Indonesia. 15. Anak warga Negara Indonesia yang belum berusia 5 tahun diangkat secara

sah sebagai anak oleh warga negara asing bedasarkan penetapan pengadilan tetap diakui sebagai Warga Negara Indonesia.

Tentang Pewarganegaraan :

Pewarganegaraan adalah tata cara bagi orang asing untuk memperolah kewarganegaraan Republik Indonesia melalui permohonan. Dalm undang – undan dinyatakan bahwa kewaraganegaraan Republik Indonesia juga diperoleh melalui Pewarganegaraan.

Permohonan pewarganegaraan dapat diajukan oleh pemohon jika memenuhi persyaratan sebagai berikut :

(15)

b. Pada waktu mengajukan permohonan sudah bertempat tinggal diwilayah Negara Republik Indonesia paling singkat 5 tahun berturut –turut atau paling singkat 10 tahun tidak berturut – turut.

c. Sehat jasmani dan rohani.

d. Dapat berbahasa Indonesia serta mengakui dasar negara Pancasila san Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.

e. Tidak pernah di jatuhi pidana karna melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 1 tahun atau lebih.

f. Jika dengan memperoleh kewarganegaraan Republik Indonesia, tidak menjadi berkewarganegaraan ganda.

g. Mempunyai pekerjaan dan / atau berpenghasilan tetap. h. Membayar uang kewarganegaraan ke kas negara.

Permohonan pewarganegaraan diajukan di Indonesia oleh pemohon secara tertulis dalam bahasa Indonesia, diatas kertas ber-materai cukup kepada Presiden melalui Menteri. Menteri yang dimaksud Menteri yang lingkup tugas san tanggung jawabnya di bidang kerwarganegaraan Republik Indonesia, dalm hal ini Menteri Hukun dan HAM.

Menteri meneruskan permohonan sebagainana dimaksud disertai dengan pertimbangan kepada Presiden dalam waktu paling lambat 3 bulan terhitung sejak permohonan di terima. Selanjutny Presiden berwenang mengabulakan atau menolak permohonan pewarganegaraan. Pengabulan permohonan pewarganegaraan sebagaimana dimaksud ditetapkan dengan keputusan Presiden. Warga negara asing yang kawin secara sah dengan Warga Negara Indonesia dapat memperoleh kewarganegaraan Republik Indonesia dengan menyampaikan pernyataan menjadi warga negara dihadapan pejabat berwenang.

Pernyataan sebagaimana dimaksud dilakukan apabila yang bersangkutan sudah bertempat tinggal diwilayah Negara Republik Indonesia paling singkat 5 tahun berturut –turut atau paling singkat 10 tahun tidak berturut – turut, kecuali dengan perolehan kewarganegaraan tersebut mengakibatkan berkewarganegaraan ganda.

(16)

Presiden setelah memperoleh pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, kecuali dengan pemberian kewarganegaraan tersebut mengakibatkan yang bersangkuatan berkewarganegaraan ganda.

b. Tentang Kehilangan Kewarganegaraan: 1. Memperoleh kewarnegaraan lain atas kemauannya sendiri

2. Tidak menolak atau melepaskan kewarganegaraan lain, sedangkan orang yang bersangkutan mendapat kesempatan untuk itu.

3. Dinyatakan hilang kewarganegaraannya oleh presiden atas permohonannya sendiri, yang bersangkutamn sudah berusia 18 tahun atau sudah kawin, bertempat tinggal diluar negeri, dan dengan dinyatakan hilang Kewarganegaraan Republik Indonesia tidak menjadi tanpa kewarganegaraan. 4. Masuk dalam dinas tentara asing tanpa ijin terlebih dahulu dari Presiden. 5. Secara sukarela masuk dalam dinas negara asing, yang jabatan dalam dinas

semacam itu di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan hanya dapat dijabat oleh Warga Negara Indonesia

6. Secara sukarela mengangkat sumpah atau menyatakanjanji setia kepada negara asing atau bagian dari negara asing tersebut.

7. Tidak diwajibkan tetapi turutserta dalam pemilihan sesuatu yang bersifat ketatanegaraan untuk suatu negara asing.

8. Mempunyai paspor atau surat yang bersifat paspor dari negara asing atau surat yang dapat diartikan sebagai tanda kewarganegaraan yang masih berlaku dari negara lain atas namanya.

(17)

10. Perempuan Warga Negara Indonesia yang kawin dengan laki-laki Warga Neagara Asing kehilangan kewarganegaraan Republik Indonesia jika menurut hukum negara asal suaminya, kewarganegaraan istri mengikuti kewarganegaraan suami akibat perkawinan tersebut.

11. Laki-laki Warga Negara Indonesia yang kawin dengan perempuan Warga Negara Asing kehilangan kewarganegaraan Republik Indonesia jika menurut hukum negara asal istrinya, kewarganegaraan suami mengikuti kewarganegaraan istri senagai akibat perkawinan tersebut. Atau jika ingin tetap menjadi Warga Negara Indonesia dapat mengajukan surat pernyataan mengenai keinginannya kepada pejabat atau perwakilan Republik Indonesia yang wilayahnya meliputi tempat tinggal perempuan atau laki laki tersebut, kecuali pengajuan tersebut mengakibatkan kewargenagaraan ganda. Surat pernyataan dapat diajukan oleh perempuan setelah 3 tahun sejak tanggal perkawinn berlangsung

12. Setiap orang yang memperoleh Kewarganegaraan Republik Indonesia berdasaarkan keterangan yang kemudian hari dinyatakan palsu atau dipalsukan, tidak benar atau terjadi kekeliruan mengenai orangnya oleh instansi yang berwenang, dinyatakan batal kewarganegaraannya. Menteri mengumumkan nama orang yang kehilangan kewarganegaraan Republik Indonesia dalam Berita Negara Republik Indonesia.

2.3.4 Hak dan Kewajiban Warga Negara

Hak dan kewajiban warga negara tercantum pada Pasal 27 sampai dengan Pasal 34 UUD 1945.

1. Hak atas pekerjaan dan peghidupan yang layak. Pasal 27 ayat 2 UUD 1945. 2. Hak membela negara. Pasal 27 ayat 2 UUD 1945.

3. Hak berpendapat. Pasal 28 UUD 1945.

4. Hak kemerdekaan memeluk agama. Pasal 29 ayat 1 dan 2 UUD 1945. 5. Hak dan kewajiban dalam membela negara pasal 30 ayat 1 UUD 1945 6. Hak untuk mendapatkan pengajaran. Pasal 31 ayat 1 UUD 1945.

(18)

8. Hak ekonomi atau hak mendapatkan kesejahteraan sosial. Pasal 33 ayat 1, 2, 3, 4, dan 5 UUD 1945.

9. Hak mendapatkan jaminan keadilan sosial. Pasal 34 UUD 1945.

Kewajiban warga negara terhadap Negara Indonesia:

a. Kewajiban mentaati hukum dan pemerintahan. Pasal 27 ayat 1 UUD 1945. b. Kewajiabn membela negara. Pasal 27 ayat 3 UUD 1945.

c. Kewajiban dalam upaya mempertahankan negara. Pasal 30 ayat 1 UUD 1945. Disamping adanya hak dan kewajiban warga negara terhadap negara, dalam UUD 1945 perubahan pertam telah dicantumkan adanya Hak Asasi Manusia. Ketentuan mengenai Hak Asasi Manusia tertuang pada pasal 28 A sampai J UUD 1945.

Selanjutnya hak-hak warga negara yang tertuang dalam UUD 1945 sebagai konstitusi negara dinamakan hak konstitusional. Setiap warga negara memiliki hak-hak konstitusional sebagaimana yang ada dalam UUD 1945.

Hak dan kewajiban warga negara Indonesia tercantum dalam Pasal 27 sampai pasal 34 UUD 1945. Bebarapa hak warga negara Indonesia antara lain sebagai berikut:

1. Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. 2. Hak membela negara

3. Hak berpendapat

4. Hak kemerdekaan memeluk agama 5. Hak mendapatkan pengajaran

6. Hak utuk mengembangkan dan memajukan kebudayaan nasional Indonesia 7. Hak ekonomi untuk mendapatkan kesejahteraan sosial

8. Hak mendapatkan jaminan keadilan sosial

Sedangkan kewajiban warga negara Indonesia terhadap negara Indonesia adalah: 1. Kewajiban mentaati hukum dan pemerintahan

2. Kewajiban membela negara

3. Kewajiban dalam upaya pertahanan Negara

(19)

1. Menjunjung tinggi dan menaati perundang-undangan yang berlaku 2. Membayar pajak, bea, dan cukai yang dibebankan Negara kepadanya

3. Membela Negara dari segala bentuk ancaman, baik yang dating dari dalam maupun yang datang dari luar negeri

4. Menyukseskan Pemilu, baik sebagai peserta maupun sebagai penyelenggara 5. Mendahulukan kepentingan Negara atau umum daripada kepentingan pribadi 6. Melaksanakan tugas dan kewajiban yang dibebankan bangsa dan Negara 7. Kewajiban menjaga dan memelihara keamanan dan ketertiban nasional 8. Hak untuk mendapatkan perlindungan atas diri dan harta benda

9. Hak untuk mendapatkan dan menikmati kesejahtearaan Negara 10. Hak untuk mendapatkan dan menikmati hasil-hasil pembangunan 11. Hak untuk memilih dan dipilih dalam pemilu

12. Hak untuk mengembangkan minat dan kemampuan pribadi tanpa mengganggu kepentingan umum dsb.

Hak dan Kewajiban Warga Negara Asing (WNA)

Menurut UU No. 62 Tahun 1958, kewarganegaraan Indonesia dapat diperoleh dengan kelahiran, pengangkatan, dikabulkan permohonan, pewarganegaraan, perkawinan, perkawinan, keturunan, dan pernyataan

Di Indonesia orang asing tidak punya hak-hak tertentu. Misalnya menjadi pegawai negeri, menjadi anggota TNI, menjadi anggota partai, hak pilih dan memilih.

Kewajiban dan kewenangan warga Negara asing adalah sebagai berikut :

1. Memperoleh surat izin masuk dengan hak tinggal selama waktu tertentu dan tinggal tetap di Indonesia

2. Mempunyai hak-hak selaku penduduk seperti yang tercantum dalam Pasal 27, 28,29 UUD 1945

3. Wajib tunduk dan taat pata ketentuan yang berlaku bagi warga Negara asing 4. Wajib membayar pajak bagi orang asing, bead an cukai kecuali untuk anggota

perwakilan diplomatik

(20)

Selain itu ditentuakan pula hak dan kewajiban negara terhadap warga negara. Hak dan kewajiban negara terhadap warga negara pada dasarnya merupakan hak dan kewajiban warga negara terhadap negara. Beberapa ketentuan tersebut, antara lain sebagai berikut:

1. Hak negara untuk ditaati hukum dan pemerintah 2. Hak negara untuk dibela

3. Hak negara untuk menguasai bumi, air , dan kekayaan untuk kepentingan rakyat

4. Kewajiban negara untuk menajamin sistem hukum yang adil 5. Kewajiban negara untuk menjamin hak asasi warga negara

6. Kewajiban negara mengembangkan sistem pendidikan nasional untuk rakyat 7. Kewajiban negara meberi jaminan sosial

8. Kewajiban negara memberi kebebasan beribadah

2.4 Pandangan Ideologis Hak atas Kewjiban 2.4.1 Idiologi Negara RI

Berdasarkan pertanyaan diatas tentu sebuah hak dan kewajiban warga negara tidak lepas dari idiologi yang dianut oleh sistem kenegaraan. Landasan utama bangsa indonesia adalah Pancasila. Tentu saja Pancasila sebagai landasan warga negara Indonesia dalam bertingkah laku, termsuk segala mekanisme pemerintahan pemerintahan.

Pancasila, menurut Soekarno (2006) sebagai penggali dijelaskan bahwa Pancasila telah mampu mempersatukan bangsa Indonesia. Tidak terlepas pada revolusi melawan imperialisme di bumi nusantara untuk menyatakan kemerdekaan, Pancasila sebagai filsafat cita-cita dan harapan segenap bagsa Indonesia. Bahkan pada sila ke tiga disebutkan “ Persatuan Indonesia “. Hal inilah yang menunjukkan bahwa bangsa Indonesia memiliki semangat bersatu dari beragam suku bangsa yang berbeda. Perbedaan itu lenyap ketika mereka menyadari arti persamaan sebagai bangsa Indonesia.

(21)

Bukti-bukti yang telah diuraikan ini menunjukan negara Indonesia didirikan atas pondasi persatuan. Negara yang terdiri dari beragam identitas mampu disatukan atas nama persatruan. Dengan demikian bersarkan teori yang dinyatakan Geovanni Gentle (Syahrian:2003) bahwa negara kesatuan Republik Indonesia adalah negara nasionalis.

2.4.2 Kewajiban Nasionalisme

Menurut Gentle melalui idealisme murni yang terpengaruh dialektika Hegel, pada dasarnya individu memiliki kehendak atau ego. Pada tataran subjektif individu mengenal hubungan antara manusia yang satu dan lainnya. Setelah individu mecapai tahapan roh objektif, maka terciptalah komunitas. Melalui komunitas beragam ego individu melebur menjadi sejarah, kebudayaan, bangsa atau peradaban. Inilah yang disebut kesadaran mutlak individu. Didasarkan tujuan kehidupan bersama dibentuklah negara. Beragam kepentingan individu dengan meninjau pada teori Gentle, tentu melebur menjadi kepentingan bersama. Negara tidak mungkin memberikan kepuasan atas setiap kepentingn individu dan beragam kehendak yang saling bersebragan. Maka demi tujuan utama dibentuknya suatu negara harus terdapat otoritas negara menentukan pilihan atas beragam kehendak.Dan melalui negara kepentingan-kepentingan individu telah melebur menjadi kepentingan-kepentingan bersama. Negara ibarat masa depan nasib bersama. Kepentingan individu adalah kepentingan egois yang menitik beratkan pada kebutuhan pribadi. Tidak mungkin tanpa ototritas yag kuat sebuah negara mampu mnetukan pilihan yang terbaik bagi masa depan suatu bangsa.

Bila masih terdapat kepentingan-kepentingan egoisme tentu pembelotan dari tujuan dibentuknya negara. Pada kondisi yang seperti ini harus terdapat persamaan persepsi atas seluruh warga negara. Warga negara harus rela memberikan loyalitasnya kepada negara diatas kepentingan pribadi. Karena negara memiliki nilai-nilai kearifan sebagai pelayan, pelindung dan pengayom bangsanya.

(22)

Sebagai warga negara yang baik harus memahami bahwa segala kehendak warga negara yang melebur dalam lembaga negara adalah kehendak rakyat. Kehendak yang dimulai dari kehendak individu, berinteraksi dengan konsekuensi identitas mahluk sosial. Maka terbentuklah nilai komunalitas yang disebut kesadaran objektif, hingga merambah pada kesadaran mutlak. Artinya hak individu tidak diperbolehkan egois mempengaruhi kepentingan tatanan hidup bersama atas kepentingan pribadi. Hal ini adalah kenyataan yang tak dapat diingkari.

Termasuk pada kenyataan kebijakan pemerintah adalah hasil representasi kepentingan-kepentingan yang berjalan melalui tatanan sehingga diambil keputusan terbaik. Bukan saja terbatas kepentingan individu, akan tetapi hasil dari kepentingan banyak individu yang terakumulasi hubungan mahluk sosial. (Gentile:1928).

2.4.4 Permasalahan Kebebasan

Gagasan yang telah disampaikan oleh Lipman (1922) menjelaskan bahwa opini publik adalah ini dari pembahasan kebijakan. Hal ini menandakan era keterbukaan. Keberadaan opini publik berfungsi sebagi beragam pihak untuk ikut serta dalam proses pengambilan keputusan. Melalui jalur non strukturalis, beragam pihak mampu mempengaruhi pemerintahan. Melalui ruang publik seseorang maupun kelompok memiliki kekuasaan di luar wewenang untuk ikut serta mempengaruhi kestabilan negara.

Bentuk-bentuk lain keberadaan pihak diluar wewenang yang mampu mempengaruhi negara adalah para borjuis. Melalui ruang publik maupun beragam proses kekuasaan, kapitalis mampu mempegaruhi keberadaan para pejabat untuk berkonspirasi mencari keuntungan. Proses pemerintahan yang tidak sehat dan dianggap sebagai rahasia umum ini menunjukkan kuatnya aktor-aktor yang non legitimasi untuk bergentayangan mendominasi sebagai tuan-tuan kelompok penekan.(Westergard dan Resler, 1976).

(23)

Permasalahan mendasar pada negara yang memberikan era keterbukaan ini mewariskan permasalahan mekanisme birokrasi yang tidak lepas dari nilai-nilai kapitalis. Hal yang banyak terjadi, keberadaan pejabat maupun birokrat tidak lepas dari modal awal untuk memasuki ranah bagian penyelenggara pemerintahan. Konsekuensi yang terjadi persepsi tugas kepercayaan negara sebagai harapan masa depan bangsa, menjadi kesempatan berbisnis mencari keuntungan maksimal. Pada posisi inilah terjadi tumpang tindih antara identitas birokrat dengan pedagang.

(24)

BAB 3 PENUTUP 3.1 KESIMPULAN

1. Pengertian Hak dan Kewajiban.

*Hak adalah kuasa untuk menerima atau melakukan suatu yang semestinya diterima atau dilakukan melulu oleh pihak tertentu dan tidak dapat dilakukan oleh pihak lain manapun juga yang pada prinsipnya dapat dituntut secara paksa olehnya.

*Kewajiban adalah beban untuk memberikan sesuatu yang semestinya dibiarkan atau diberikan melulu oleh pihak tertentu tidak dapat oleh pihak lain manapun yang pada prinsipnya dapat dituntut secara paksa oleh yang berkepentingan.

2. Seseorang Yang Berhak Menjadi Warga Negara

*Seseorang berhak menjadi warga negara Indonesia didasarkan adanya asas-asas pribumi asli dan tanah kelahiran. Sedangkangkan ketetapan hukumnya mengacu pada 26 UUD 1945.

3. Hubungan warga Negara dengan Negara

*Hubungan institusi pemerintahan yang mengatasnamakan negara dengan warga negara memiliki timbal balik. Baik negara maupun warga negara memiliki hak dan kewajiban untuk saling memberikan konstribusi.

4. Pandangan Ideologis Antara Hak atas Kewajiban

Negara sebagai wadah bagi bangsanya dalam menuju kehidupan yang di amanatkan melalui Undang-undang. Dalam rangka penyeimbangan antara kedudukan antara warga negara dengan negara maka dibuatlah hak dan kewajiban.

3.2 Saran

(25)

Daftar Pustaka

Gentile, Giovanni.1928.The Philosophy of The Modern State. Translated by H.W.Schneider. Oxford:New York.

Syahrian, Ery.2003.Fasisme Terorisme Negara. Pondok Edukasi: Solo.

Hitler, Adolf. 2008. Mein Kamf. Translated by Ribut Wahyudi and Sekar Palupi. Narasi: Yogyakarta.

Soekarno. 2006. Filsafat Pancasila Menurut Bung Karno.Media Presindo: Yogyakarta.

Westergarad, J. and Resler, H.1976. Class in Capitalist Society. Penguin, Har-mondswort: Middx.

Lippman, W. 1922. Public Opinion. Macmilan: New York.

James Artur., dkk. 2001. Citizenship through Secondary History. Routledge Farmer: London and Newyork

Bellamy, Richard. 2008. Citizenship. A Very Short Introduction. Database right Oxford University Press: Oxford

Aristotle. 2006. Politics. (PDF). Pater Block. 2008. Community. (PDF)

Gambar

Gambar 1. Klasifikasi Penghuni Negara
Gambar 2. Sistem Kewarganegaraan

Referensi

Dokumen terkait

Visual efek suara pada komik “Tigan Ngasak Batavia” yang dianalisis dari keempat kategori di atas, dapat terlihat bahwa dari 26 halaman komik Tigan terdapat 19 halaman dan 58

Pengumpulan data untuk penelitian ini dilakukan pada kapal penumpang KM Kelud yang merupakan salah satu armada pelayaran PT PELNI untuk rute Jakarta-Batam-Tanjung Balai-Medan,

b Batasan Fungsi Fungsi perancangan kembali taman wisata ini adalah untuk melestarikan wisata alam yang ada menjadi taman wisata yang rekreatif dan edukatif, sehingga dapat

Setelah persiapan, hal yang dilakukan praktikan selanjutnya yaitu merencanakan kegiatan mengumpulkan data tentang kebutuhan siswa terhadap materi layanan yang

Tujuan ini terbagi atas dua tujuan khusus yaitu: (a)untuk mendeskripsikan Transitivity, Mood dan system theme Theme pada rubric opini di Jakarta Post edisi 13 Pebruari dan 18

Jika kegunaan barang atau jasa tersebut digunakan untuk modal kerja, maka harus dilihat apakah nasabah telah mempunyai kontrak dengan pihak ketiga atau

(5) The existence of significant influence on the industry changes in the social structure of society through corporate social responsibility (CSR) as an

Konsep model bisnis yang digunakan ialah “Fast Curn” dimana perusahaan tidak memiliki lahan yang cukup besar, melainkan mengakuisisi perusahaan dengan tanah atau membeli lahan yang