• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peluang dan Tantangan Industri Pelayaran

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Peluang dan Tantangan Industri Pelayaran"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

Peluang dan Tantangan Industri Pelayaran Indonesia dalam Menghadapi ASEAN Economic Community

Oleh:

Rahma Amelia Widya Nurhakmi1 Kukuh Ugie Sembodo2

Universitas Jember

Abstrak

Proses integrasi ekonomi menjelang ASEAN Economic Community (AEC) melibatkan liberalisasi perdagangan sektor jasa di bidang maritim. Liberalisasi perdagangan yang menjadi landasan kerjasama, menghasilkan kompetisi antar industri pelayaran negara-negara ASEAN. Peningkatan jumlah konsumen pada jasa pelayaran domestik maupun intra-ASEAN, merupakan stimulus untuk negara-negara ASEAN dalam meningkatkan daya saing industri pelayarannya. Progres industri pelayaran negara-negara ASEAN menunjukkan kesiapannya untuk memenuhi kebutuhan pasar yang meningkat tersebut. Indonesia sebagai negara maritim mempunyai peluang untuk menjadi kompetitor yang kompeten dalam perdagangan intra-ASEAN. Makalah ini akan membahas mengenai tantangan dan peluang Indonesia untuk meningkatkan daya saing industri pelayarannya. Penulis menggunakan konsep competitive liberalization dan konsep cost and benefit dalam pembahasannya.

Kata Kunci: AEC, maritim, industri pelayaran, Indonesia.

Abstract

Economic integration process towards the ASEAN Economic Community involving trade liberalization in the services sektor of the maritime field. Trade liberalization which is the basis of cooperation , resulted a competition between the shipping industry of ASEAN countries. An increase of consumers in the

1

Mahasiswa Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Jember. Student ID: 120910101072

2

(2)

domestic shipping services either or intra - ASEAN , became a stimulus for the ASEAN countries in enhancing the competitiveness of their shipping industry. Shipping industry’s progress of ASEAN countries showed readiness to fulfill the increasing market demands. Indonesia as a maritime country has an oportunity to be a competent competitor in intra - ASEAN trade . This paper will analyze the challenges and opportunities of Indonesia to improve the competitiveness of its shipping industry . The authors uses the concept of competitive liberalization and the concept of cost and benefit to analyze.

Keywords: AEC, maritime,shipping industry, Indonesia.

A.Pendahuluan

Laut merupakan media yang sangat penting untuk kelancaran perdagangan antar negara karena laut juga merupakan wilayah kedaulatan suatu negara. Wilayah laut di Asia Tenggara mempunyai beberapa wilayah yang sangat strategis untuk menjadi jalur perdagangan dunia, beberapa diantaranya adalah Laut Natuna, Selat Malaka, dan Laut Cina Selatan. Selain itu, wilayah laut di Asia Tenggara juga termasuk ke dalam jalur Sea Line of Communications (SLOC), yang merupakan kunci jalur maritim yang memfasilitasi lalu lintas pelayaran yang pada dan menyelenggarakan transportasi sebagai kunci dari perdagangan maritim.(Khalid, 2012) ASEAN Economic Community 2015 menggunakan liberalisasi perdagangan sebagai landasan kerjasamanya. ASEAN Economic Community mempunyai 4 karakteristik, yaitu: (a) a single market and production base, (b) a highly competitive economic region, (c) a region of equitable economic development,

and (d) a region fully integrated into the global economy.

(3)

dalam melakukan harmonisasi tersebut adalah melalui ASEAN Transport Ministers Meeting yang dibentuk pada tahun 1996. Pembentukan forum ini merupakan kesadaran ASEAN untuk melihat potensi arus jasa yang dibagi dalam tiga cakupan, yaitu Air Transport, Land Transport, dan Maritime Transport. Kondisi geografis ASEAN yang diapit diantara dua samudera dan dua benua membuat wilayah maritim ASEAN mempunyai jalur transportasi air yang sibuk. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1. ASEAN Maritime Measurement Transport and Traffic

Measurement

Thousand ton 676,556 724,3 12

(4)

Sebagai contoh konkrit dalam bidang maritime adalah dibentuknya ASEAN Single Shipping Market pada tahun 2014. Pada implementasinya hanya pada harmonisasi dang pengkajian ulang regulasi mengenai hambatan yang terjadi pada industri pelayaran menuju integrasi masyarakat ekonomi ASEAN 2015(MIMA, 2012). Dalam Roadmap Towards An Integrative and Competitive Maritime Transport in ASEAN, harmonisasi yang dilakukan bertujuan untuk membuat atmosfir pelayaran yang professional melalui mekanisme dan fasilitas yang mendukung. Aturan-aturan yang harus diratifikasi dan diterapkan bertujuan untuk meningkatkan daya saing industri pelayaran negara-negara ASEAN. Kesenjangan pada kemampuan perekonomian antar negara di ASEAN yang menimbulkan hasrat untuk berkontestasi pada kebutuhan pasar yang semakin meningkat. Oleh karena itu, negara-negara anggota ASEAN memerlukan persiapan untuk melakukan liberalisasi sektor jasa pada industri pelayaran domestik masing-masing. Indonesia sebagai negara maritim, mempunyai peluang dan tantangan untuk meningkatkan daya saing terhadap perkembangan industri pelayaran negara-negara ASEAN yang lain.

B. Kerangka Pemikiran

1. Konsep Competitive Liberalization, Jiro Okamoto

Konsep competition liberalization yang menganggap bahwa Free Trade Agreement (FTA) akan menstimulasi liberalisasi salalu berisiko menjadi competitive enclosure yang dapat membagi dunia ekonomi dalam berbagai bagian. Konsep tersebut merupakan derivasi dari konsep Findlay mengenai vested interests merupakan konsekuensi mutlak adanya FTA( C. Findlay, 2002). Negara dengan daya saing yang tinggi akan selalu berkompetisi dalam perdagangan bebas untuk mempertahankan posisinya sebagai negara pengekspor utama.

(5)

kompetisi industri pelayaran antar negara ASEAN semakin ketat. Kompetisi dalam rangka liberalisasi perdagangan tersebut melibatkan negara-negara yang mempunyai industri dengan daya saing yang masih rendah. Bagaimanapun, tidak ada jaminan bahwa jaringan yang rumit dari perjanjian perdagangan bebas tentu mempromosikan transaksi ekonomi yang lancar antar negara-negara yang terlibat, karena pada dasarnya perjanjian perdagangan bebas itu diskriminatif (Jiro O,2004). Mengacu pada sajian data pada tabel, prospek pasar dalam industri pelayaran terlihat potensial baik dalam domestik ASEAN maupun luar ASEAN. Prospek tersebut juga akan menjadi target yang strategis oleh negara-negara yang memiliki industri pelayaran dengan daya saing yang tinggi. Industri pelayaran di ASEAN akan menghadapi konstelasi persaingan yang ketat dalam integrasi ekonomi pada ASEAN Economic Community 2015.

2. Konsep Cost and Benefit, Thomas Oatley

Dalam kajian ekonomi politik internasional, negara dituntut membuat kebijakan-kebijakan yang sinergis antara kebijakan luar negeri dan kebijakan publik. Konstelasi ekonomi politik internasional akan memengaruhi kebijakan ekonomi domestik. Konsep tersebut mengemukakan bahwa setiap pemerintah harus membuat pilihan-pilihan mengenai bagaimana ekonomi dalam negeri saling berhubungan dengan ekonomi global.(Oatley, 2004) rasionalitas dalam pemilihan kebijakan yang tepat menggunakan metodologi yang digunakan untuk membandingkan biaya dan manfaat dari kebijakan pemerintah atau dari tindakan perspektif dari masyarakat secara keseluruhan. Analisis menggunakan teknik ini memahami bahwa para pembuat keputusan mungkin memilih untuk mengabaikan hasil, tapi sebuah keuntungan memungkinkan pembuat keputusan untuk menimbang lebih jelas tentang biaya peluang(Brilian Nurani, 2012).

(6)

kebijakan. Kebijakan tersebut akan memerlukan lebih banyak anggaran sebagai biaya untuk meningkatkan daya saing.

C. Metode Penelitian

Dalam proses penulisan karya tulis ilmiah memerlukan serangkaian proses agar konten dari penulisan bersifat empiris. Menurut Yanuar Ikbar, metodologi adalah sistem panduan untuk memecahkan persoalan, dengan komponen spesifiknya adalah bentuk, tugas, metode teknik dan alat. Sedangkan metode berada di dalam metodologi, atau dengan kata lain, metode berkenaan dengan teknis saja dari keseluruhan yang dibahas dalam metodologi (Yanuar Ikbar, 2014). Adapun metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Pada hakikatnya penelitian deskriptif kualitatif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek dengan tujuan membuat deskriptif, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta atau fenomena yang diselidiki (Convello Cevilla dkk, 1993). Dengan kata lain penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai keadaan yang ada(Mardalis, 1999). Oleh karena itu, metode penelitian ini memerlukan metode pengumpulan data dan metode analisa data. Pengumpulan data dilakukan dengan pendekatan data sekunder. Upaya untuk mendeskripsikan dan menginterpretasikan sesuatu adalah salah satu bentuk metode analisa yang digunakan.

D. Pembahasan

1. Progres industri pelayaran di negara-negara ASEAN

(7)

Tabel 2. Lalu Lintas Pelayaran Kamboja pelayaran penumpang maupun peti kemas yang masih sangat minim. Dalam hal pelayaran penumpang internasional pun dapat dilihat adanya fluktuasi jumlah penumpang. Panjang garis pantai Kamboja adalah 443, dan saat ini menduduki peringkat ke 100 dalam hal garis pantai (DB City, 2015). Meskipun memiliki kondisi geografis yang kurang mendukung, pemerintah Kamboja membangun dua pelabuhan di provinsi Kandal, Kamboja (Kunmakara 2015). Kebijakan tersebut dilakukan untuk menambah volume kontainer yang akan singgah di Kamboja. Menurut data Otonomi Pelabuhan Kamboja, julmlah kapal kargo yang mendarat di Kamboja trus meningkat mencapai rata-rata 10%. Peningkatan volume komoditas ekspor berupa hasil pertanian, terutama beras, menjadikan jasa industri pelayaran di Kamboja sebagai peran yang strategis (Renzenbrink 2013).

Tabel 3. Lalu Lintas Pelayaran Malaysia

(8)

Diolah dari:

http://www.ajtpweb.org/statistics/compareasean/Water_Transport

Pada penggunaan jasa container dan kargo rute internasional mengalami peningkatan yang cukup stabil. Namun pada prospek pasar di sektor kapal penumpang menunjukkan penurunan pada permintaan pasar. Malaysia sebagai Negara dengan panjang garis pantai 4675km (DB City, 2015). Dalam lima tahun terakhir, Malaysia mengalami penurunan jumlah penumpang. Sedangkan sektor petikemas Malaysia menunjukan peningkatan yang stabil. Institusi kemaritiman Malaysia memperkirakan sekitar 95% dari keseluruhan perdagangan internasional Malaysia akan dilakukan lewat laut.. Hal tersebut kemudian membuat pemerintah Malaysia memutuskan sektor pelayaran sebagai salah satu dari tiga industri yang masuk pada masterplan 2005-2020 (Jose Tongzhon dan Sang-Yoon Lee, 2015). Di Malaysia terdapat lebih dari 100 perusahaan pelayaran domestik. Salah satu dari ratusan perusahaan tersebut adalah Malaysian International Shipping Corporation (MISC) yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah Malaysia. Namun demikian, MISC masih bergantung pada jalur pelayaran asing.

Tabel 4. Lalu Lintas Pelayaran Myanmar

Indicator Number

(9)

industri pelayarannya menghadapi komunitas ASEAN. Selama ini pengiriman internasional Myanmar didominasi oleh armada kapal asing (Jose Tongzhon dan Sang-Yoon Lee, 2015). Kapal domestik hanya memberikan sumbangsih sebanyak 10-15% dari keseluruhan pelayaran internasional yang dikelola oleh tiga perusahaan pelayaran. Pemilik kapal yang dominan adalah perusahaan pelayaran semi pemerintah yang saat ini memiliki 22 kapal.

Tabel 5. Lalu Lintas Pelayaran Filipina

(10)

fiscal yang ketat terhadap perusahaan pelayaran asing (Jose Tongzhon dan Sang-Yoon Lee, 2015). Selain itu, Filipina memiliki sumber daya manusia yang sangat kompeten dan mempunyai sertifikasi internasional sehinga Filipina menjadi pemasok tenaga ahli di bidang maritime terbesar di dunia. Lebih dari 300,000 tenaga kerja Filipina bekerja di seluruh dunia, yang telah menyumbangkan remitansi sebesar 2 juta dollar setiap tahunnya (Jose Tongzhon dan Sang-Yoon Lee, 2015).

Tabel 6. Lalu Lintas Pelayaran Singapura

Diolah dari:

http://www.ajtpweb.org/statistics/compareasean/Water_Transport

Kondisi geografis Singapura yang sangat strategis merupakan faktor utama sebagai pendukung daya saing industri pelayaran Singapura. Singapura merupakan kompetitor utama dalam perdangan jasa pelayaran di ASEAN, dengan volume arus kargo terbesar apabila dibandingkan dengan volume arus kargo di negara-negara ASEAN yang lain. Pada sektor lain, jasa kontainer Singapura menunjukkan adanya permintaan pasar yang terus meningkat pada lima tahun terakhir. Sebagai sebuah Negara yang dengan luas wilayah yang terkecil di ASEAN, Singapura telah menerapkan orientasi terhadap industry perdagangan dan juga mempromosikan dirinya sebagai Negara yang melayani jasa pelayaran di regional Asia dengan mengedepankan lokasinya yang strategis (Jose Tongzhon dan Sang-Yoon Lee, 2015). Sumbangan perekonomian di bidang maritime rata-rata mencapai 7% setiap tahunnya, hal ini yang menjadikan sektor maritime merupakan pilar perekonomian yang penting. Salah satu kebijakan pemerintah yang berperan

(11)

pentinga adalah pemeberian insentif fiscal sesuai dengan kebijakan pelayaran internasional dan memeberi subsidi untuk memperkuat industri pelayaran nasional.

Tabel 7. Lalu Lintas Pelayaran Thailand

Indicator Number of

scale

2010 2011 2012 2013 2014

International sea passenger traffic

Thousand person

348 486 552 612 705

International sea cargo throughput

Thousand ton

131,529 130,31 6

157,17 4

178,362 170,435

International sea container

throughput

Thousands TEUs

5,932 6,499 7,091 7,056 7,422

Diolah dari:

http://www.ajtpweb.org/statistics/compareasean/Water_Transport

(12)

Tabel 8. Lalu Lintas Pelayaran Vietnam

Indicator Number

of scale

2010 2011 2012

International sea cargo throughput

Thousand ton

154,154 154,876 (belum tercatat)

International sea container

throughput

Thousands TEUs

5,363 5,823 6,519

Diolah dari:

http://www.ajtpweb.org/statistics/compareasean/Water_Transport

Industri pelayaran Vietnam didominasi oleh Vietnam National Shipping Lines (VINALINES), yang merupakan industri milik negara. Industri tersebut tidak hanya melayani jasa pelayaran, juga termasuk manajemen dan operasional pelabuhan, serta keuangannya. Meskipun VINALINES merupakan industri yang dominan di Vietnam yang dikelola oleh pemerintah, 80% saham perusahaan ialah milik asing. Perusahaan tersebut memiliki 14 perusahaan kapal pelayaran, 17 pelabuhan, serta 46 perusahaan jasa layanan maritim yang berafiliasi dengan investor asing (Jose Tongzhon dan Sang-Yoon Lee, 2015).

(13)

pasar yang besar membuat negara-negara ASEAN memacu daya saing industri pelayarannya menjadi kompetitor yang kompeten.

2. Cost and Benefit Indonesia Menghadapi Tantangan di Era ASEAN Economic Community

Logistik merupakan salah satu faktor kunci dalam perdagangan internasional. Industri pelayaran suatu negara juga merupakan aspek yang penting dalam logistik. Pada era perdagangan bebas, pasar membutuhkan proses logistic yang semakin cepat dan efisien. Berdasarkan Logistics Perfomance Index (LPI), Indonesia memiliki nilai skor sebanyak 2,76 pada tahun 2010, kemudian nilai skor 2,94 pada tahun 2012, dan meningkat lagi menjadi 3,08 pada tahun 2014. Namun, pada pengangkutan kapal internasional, Indonesia berada pada ranking 74 dengan nilai skor 2,87(Worldbank 2014).

(14)

Tabel 9. Lalu Lintas Pelayaran Indonesia

Jumlah penumpang domestic mengalami kenaikan yang stabil selama 5 tahun terakhir, hal ini menunjukkan adanya permintaan pasar yang semakin besar pada jasa industry pelayaran. Sedangkan jumlah penumpang kelas internasional mengalami sedikit fluktuasi. Hanya ada 12 perusahaan pelayaran yang beroperasi pada tingkat Asia, angka yang sangat sedikit mengingat Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar kedua di dunia (Jose Tongzhon dan Sang-Yoon Lee, 2015).

(15)

konekstivitas Indonesia menempati peringkat 56. Sedangkan Negara lain seperti Singapura menempati peringkat ke-2, Malaysia ke-25, Thailand ke-48, Brunei Darussalam ke-58, Myanmar ke- 116, dan Kamboja ke-107.

Diperlukan peran pemerintah untuk membuat beberapa kebijakan sebagai biaya untuk mendukung peluang dan daya kompetisi yang dimiliki oleh industri pelayaran Indonesia. Dari segi infrastruktur, menurut World Economic Forum (WEF) 2014, kualitas pelabuhan Indonesia menempati urutan ke-6 dari 9 negara ASEAN. Arus impor dan ekspor internasional masih didominasi oleh Pelabuhan Tanjung Priok, yang menunjukkan bahwa belum meratanya standar pelabuhan internasional di wilayah lain Indonesia (SINDO 2015). Selain itu, waktu bongkar muat pelabuhan Indonesia rata-rata lebih lama, yaitu delapan hari. Apabila dikomparasikan dengan Negara ASEAN yang lain hanya membutuhkan waktu lima hari di Thailand, sedangkan di Singapura membutuhkan waktu satu sampai dua hari.Adanya tantangan pada ranah domestik seperti pajak, aturan teknis pelabuhan, serta beberapa regulasi lain yang perlu dibenah oleh pemerintah Indonesia (Neraca 2015).

(16)

persen bukan merupakan tenaga yang kompeten di bidang kelautan (beritasatu.com 2015). Selain itu, masih minimnya pendidikan formal dalam bidang maritim. Kompetensi tenaga kerja di bidang maritim signifikan terhadap perkembangan industri pelayaran Indonesia. Selain itu, ekspor tenaga kerja maritim dapat memberikan remitansi kepada pendapatan ekonomi nasional seperti yang Filipina lakukan. Terdapat 20 persen dari 1,2 juta tenaga kerja maritim di dunia merupakan warga Filipina (ILO Publications, 2014).

Untuk menghadapi konstelasi persaingan dalam perdagangan bebas ASEAN, Indonesia harus mempunyai serangkaian kebijakan untuk meningkatkan daya saing, terutama pada industri pelayaran.Visi Poros Maritim Indonesia yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo telah diimplementasikan ke dalam kebijakan Tol Laut. Oatley (2004) merumuskan bahwa kebijakan yang diputuskan pemerintah merupakan hasil dari pertimbangan-pertimbangan sebagai biaya untuk mencapai target yang menutupi kelemahan atau bahkan lebih.Menurut Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2015-2019, Tol Laut merupakan konektivitas laut yang efektif berupa adanya kapal yang melayari secara rutin dan terjadwal dari barat sampai ke timur Indonesia.

(17)

melibatkan 14 pelabuhan Indonesia dari 42 pelabuhan di seluruh ASEAN yang diprioritaskan untuk dikembangkan (Asean 2015).

Menyadari akan potensi pelayaran domestik, pemerintah memberikan subsidi di 135 lalu lintas penyeberangan perintis sebesar 315 miliar Rupiah serta membangun kapal perintis dengan total investasi sebesar 208,1 miliar Rupiah. Pemberian insentif tersebut dicanangkan untuk menstimulus perkembangan industri pelayaran Indonesia. Peluang tersebut dapat diidentifikasi oleh 2,866 perusahaan pelayaran, 51 perusahaan peralatan operasional maritim, 1,894 perusahaan jasa maritim, dan 250 perusahaan galangan kapal. Adanya insentif tersebut memacu indutsri pelayaran meningkatkan target pendapatan. PT PELNI optimis menetapkan target pendapatan sebesar 5,096 pada triliun Rupiah pada 2015, dengan perolehan laba bersih sebesar 200 miliar Rupiah.

Untuk memaksimalkan sumber daya manusia bidang maritim, pemerintah akan membangun 10 perguruan tinggi dan 100 sekolah maritim (Radar Pena 2015). Sementara utnuk pengembangan kapabilitasnya, terdapat pusat pengembangan dan pelatihan professionalisme di bidang maritim, yaitu Indonesia Port Corporation (IPC) Corporate University (Ipc-corporateuniversity.com 2015).

Adanya Tol Laut dicanangkan untuk pengaturan sistem distribusi

yang lebih efisien dan dapat menekan biaya logistik. Dalam implementasinya,

pemerintah menganggarkan 500 miliar Rupiah untuk operasional

transportasi multimoda. Sedangkan regulasinya masih bernaung pada

Peraturan Presiden No. 106 tahun 2015 tentang Angkutan Barang di Laut.

Titik tekan untuk memangkas biaya logistic maritim yang mahal yaitu pada

birokrasi, sehingga efisiensi juga tidak hanya pada sistem (Supply Chain

(18)

E. Kesimpulan

Menjelang pada era liberalisasi perdagangan pada ASEAN Economic

Community, setiap negara berusaha membenahi kapabilitas industri

pelayarannya. Tidak semua negara-negara ASEAN mempunyai industri

pelayaran dengan daya saing yang tinggi seperti Singapura dan Malaysia.

Namun, beberapa negara menunjukkan progresivitas yang menonjol seperti

Thailand dan Filipina. Sedangkan beberapa negara ASEAN yang lain masih

mengalami stagnansi pada industri pelayarannya. Melihat kondisi tersebut,

integrasi ekonomi yang dilakukan oleh ASEAN harus lebih dari sekedar

harmonisasi standar professional yang akan diadopsi pada industri

pelayaran di ASEAN.

Untuk menghadapi beberapa tantangan, pemerintah Indonesia mulai

memperhatikan prospek pasar maritim di baik di wilayah perdagangan

intra-ASEAN maupun perdagangan domestik. Salah satu kebijakan strategis adalah

Tol Laut. Implementasi dari kebijakan Tol Laut memang lebih besar

dialokasikan untuk perdagangan jasa pelayaran domestik, mulai dari

infrastruktur, pengaturan birokrasi, evaluasi konsep rute pelayaran, dan

pengadaan insentif untuk peralatan dan pengadaan kapal. Namun pada sisi

operasional, Indonesia membutuhkan alokasi kebijakan yang intens pada

tenaga kerja maupun tenaga ahli di bidang maritim. Sumber daya manusia

merupakan peran yang vital untuk pemasokan pendapatan nasional di

bidang maritim. Dengan membandingkan tantangan dan peluang, Indonesia

masih dapat bersaing dengan negara-negara ASEAN lainnya. Hal tersebut

dapat ditinjau dari peluang yang dimaksimalkan oleh pemerintah Indonesia

melalui beberapa kebijakan, salah satunya adalah Tol Laut. Kebijakan

tersebut memang membutuhkan alokasi anggaran dan pengawalan yang

besar. Jika ditinjau dari prospek pasar intra-ASEAN dan domestik yang

meningkat setiap tahunnya, hal tersebut akan menjadi keuntungan bagi

Indonesia apabila dapat mencapai target dari kebijakan-kebijakan yang telah

(19)

REFERENSI

Jurnal

Findlay, Christopher. 2001.Old Issues in New Regionalism.St. Louis: Asia Pacific Economic Papers.No. 311.(1-40).

Khalid, Nazery.2012.Sealine Under Strains. India: The IUP Journal of International Relations.Vol VI No.2.(57-66).

Nurani, Brillian Budi.2012.Peluang dan Tantangan Indonesia Terhadap ASEAN Multilateral Agreement On Air Services 2009 (ASEAN Open Sky Policy).Universitas Jember: Artikel Hasil Penelitian Mahasiswa 2012.(1-7).

Okamoto, Jiro.2004. Whither Free Trade Agreements? Proliferation, Evaluation and Multilateralism.Heng Mui Keng: Contemporary Southeast Asia. Vol. 26 No. 1.(186-189).

Tongzon, Jose L. dan Lee,Sang-Yoon.2015.The Challenges of Economic Integration: The Case of Shipping in ASEAN Countries.Abingdon: The Pacific Review.Vol. 28, No. 4.(483-504).

Buku

Cevilla, Convelo G, dkk.Pengantar Metode Penelitian.Jakarta : Universitas Indonesia.

Ikbar, Yanuar .2014.Metodologi dan Teori Hubungan Internasional.Bandung: PT. Rafika Aditama.

Luhulima, CPF.2011.Dinamika Masyarakat Asia Tenggara Menuju 2015.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

(20)

Susilo, I Basis.2015.Kemaritiman Indonesia:Problem Dasar Strategi Maritim Indonesia.Surabaya: Cakra Studi Global Strategis (CSGS), Departemen Hubungan Internasional FISIP Universitas Airlangga.

Internet

ASEAN-JAPAN Transport Partnership,. 2014. 'Water Transport'.Diakses pada

30 Oktober 2015

(http://www.ajtpweb.org/statistics/compareasean/Water_Transport/ Water_Transport_2012).

Asean.org,. 2015. 'Annex A ASEAN Highway Network'.Diakses pada 30 Oktober 2015 (http://www.asean.org/communities/asean-economic-community/item/annex-a-asean-highway-network).

Asean.org,. 2015. 'Overview'. Diakses pada 29 Oktober 2015

(http://www.asean.org/communities/asean-economic-community/category/overview-17 ).

Beritasatu.com,. 2015. 'Minim Apresiasi, SDM Maritim Indonesia Pilih Kerja Di Luar Negeri'. Diakses pada 30 Oktober 2015 (http://www.beritasatu.com/nasional/281337-minim-apresiasi-sdm-maritim-indonesia-pilih-kerja-di-luar-negeri.html ).

Dbcity.com,. 2015. 'Negara / Panjang Garis Pantai - Kota Dan Desa Dunia'.Diakses pada 28 Oktober 2015 (http://id.db-city.com/Negara--Panjang-garis-pantai).

Hilman, Muhammad. 2015. 'MEA 2015: Sektor Pelayaran Harus Kejar Kesiapan Liberalisasi'. industri.bisnis.com.Diakses pada 29 Oktober 2015 (http://industri.bisnis.com/read/20141007/98/263045/mea-2015-sektor-pelayaran-harus-kejar-kesiapan-liberalisasi) .

IPC Corporate University,. 2015. 'About - IPC Corporate University'.Diakses

pada 30 Oktober 2015

(21)

Kunmakara, May. 2015. 'Two New Ports For Cambodia'. Phnom Penh

Post.Diakses pada 28 Oktober 2015

(http://www.phnompenhpost.com/business/two-new-ports-cambodia).

Maritime Institute of Malaysia,. 2015. 'MIMA | Homepage'.Diakses pada 30

Oktober 2015

(http://www.mima.gov.my/v2/mobile.php?m=posts&c=shw_details&i d=88&slug=latest-post).

Neraca,. 2015. 'Industri Pelayaran Nasional Sulit Bersaing Dengan Asing - Jelang Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015'. Diakses pada 26 Oktober 2015 (http://www.neraca.co.id/article/38519/industri-pelayaran-

nasional-sulit-bersaing-dengan-asing-jelang-masyarakat-ekonomi-asean-2015).

Perkasa, Surya. 2015. 'Indonesia Dan Poros Maritim Dunia'. Metrotvnews.com.Diakses pada 24 Oktober 2015 (http://telusur.metrotvnews.com/read/2015/10/15/441239/indonesi a-dan-poros-maritim-dunia).

Radar Pena,. 2015. 'KKP Tambah 100 Kampus Kemaritiman'.Diakses pada 31

Oktober 2015

(http://m.radarpena.com/welcome/read/2015/03/12/16658/6/2/-KKP-Tambah-100-Kampus-Kemaritiman).

Renzenbrink, Anne. 2015. 'Positive Signs For Shipping Industry'. Phnom Penh

Post.Diakses pada 31 Oktober 2015

(http://www.phnompenhpost.com/business/positive-signs-shipping-industry).

(22)

Supply Chain Indonesia,. 2015. 'Sislognas, Tol Laut Dan Efisiensi Birokrasi Di Pelabuhan'.Diakses pada 30 Oktober 2015

(http://supplychainindonesia.com/new/sislognas-tol-laut-dan-efisiensi-birokrasi-di-pelabuhan/).

The World Bank,. 2015. 'Home | Logistics Performance Index'.Diakses pada 31 Oktober 2015 (http://lpi.worldbank.org/).

Wicaksono, Pebrianto. 2015. 'Biaya BBM Pelayaran Indonesia Lebih Mahal Ketimbang Negara Lain'. liputan6.com.Diakses pada 30 Oktober 2015 (http://bisnis.liputan6.com/read/2173663/biaya-bbm-pelayaran-indonesia-lebih-mahal-ketimbang-negara-lain).

Yasinta, Veronika. 2015. 'Ongkos Kapal Mahal, Pemerintah Harus Buat Regulasi Sinergitas Multimoda'. industri.bisnis.com. Diakses pada 31

Oktober 2015

(http://industri.bisnis.com/read/20151008/98/480481/ongkos-kapal-mahal-pemerintah-harus-buat-regulasi-sinergitas-multimoda).

Publikasi

Prihartono, Bambang. 2015. 'Pengembangan Tol Laut Dalam RPJMN 2015-2019 Dan Implementasi 2015'.

E-Book

Anonim. 2015. Connecting To Compete 2014: Trade Logistics In The Global Economy. 1st ed. Washington, DC: The Worldbank.Diakses pada 31

Oktober 31, 2015

Gambar

Tabel 1.  ASEAN Maritime Measurement Transport and Traffic
Tabel 3. Lalu Lintas Pelayaran Malaysia
Tabel 4. Lalu Lintas Pelayaran Myanmar
Tabel 5. Lalu Lintas Pelayaran Filipina
+4

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu, untuk memanfaatkan peluang dan menjawab tantangan revolusi industri 4.0, para mahasiswa dan lulusan PTKIS wajib memiliki kemampuan literasi data,

Jadi, untuk meneliti peluang dan tantangan pendidikan Islam era industri 4.0, dalam menyiapkan mahasiswa PAI menjadi pendidik sejati ini dianalisis dengan

Slogan bahasa Indonesia dapat dijadi- kan sebagai tantangan dan peluang bagi dosen bahasa Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0, di antaranya adalah “pergunakan bahasa

TANTANGAN DAN PELUANG INDONESIA DALAM PEMBENTUKAN ASEAN COMMUNITY 2015 DI

• Sektor jasa merupakan sektor yang sangat berkembang di ASEAN, mencapai 40%-10% dari PDB negara ASEAN. • Dengan liberalisasi ASEAN di bidang jasa (dalam AFAS) membuka peluang

TANTANGAN DAN PELUANG GURU PPKn PELUANG TANTANGAN  Kebijakan pendidikan yang berubah di tengah-tengah proses pembelajaran  PPKn dianggap sebagai pelajaran yang membosankan,

Seminar Kewirausahaan Membahas Peluang dan Tantangan UMKM di Masa

Tantangan dan Peluang" diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Prodi Kebidanan Magelang Poltekkes Kemenkes