• Tidak ada hasil yang ditemukan

PRODI S1 KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PRODI S1 KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

PRODI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STIKES KUSUMA HUSADA SURAKARTA

2012 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Vertigo merupakan kasus yang sering ditemui. Secara tidak langsung kitapun pernah mengami

vertigo ini. Kata vertigo berasal dari bahasa Yunani “vertere” yang artinya memutar. Vertigo

termasuk kedalam gangguan keseimbangan yang dinyatakan sebagai pusing, pening,

sempoyangan, rasa seperti melayang atau dunia seperti berjungkir balik. Kasus vertigo di

Amerika adalah 64 orang tiap 100.000, dengan presentasi wanita lebih banyak daripada pria.

Vertigo juga lebih sering terdapat pada Usia yang lebih tua yaitu diatas 50 tahun.

Vertigo merupakan salah satu kelainan yang dirasakan akibat manifestasi dari kejadian atau

trauma lain. Misalnya adanya cidera kepala ringan. Salah satu akibat dari kejadian atau trauma

tersebut ialah seseorang akan mengalami vertigo. Kasus ini sebaiknya harus segera ditangani,

karena jika dibiarkan begitu saja akan menggangu system lain yang ada di tubuh dan juga sangat

merugikan klien karena rasa sakit atau pusing yang begitu hebat. Terkadang klien dengan vertigo

ini sulit untuk membuka mata karena rasa pusing seperti terputar-putar. Ini disebabkan karena

terjadi ketidakseimbangan atau gangguan orientasi.

Oleh karena itu, pembelajaran mengenai vertigo beserta asuhan keperawatannya dirasa sangat

penting dan perlu. Dengan memiliki pengetahuan yang baik beserta pemberian asuhan

keperawatan yang benar, maka diharapkan agar kasus vertigo ini dapat berkurang dan

masyarakat bisa mengetahui akan kasus vertigo ini dan bisa mengantisipati akan hal tersebut.

B. Tujuan Penulisan

Tujuan dari penyusunan laporan pendahuluan tentang vertigo ini adalah agar mahasiswa mampu

secara kognitif, afektif serta motorik dalam menyusun asuhan keperawatan pada klien vertigo.

Dengan demikian, mahasiswa bisa menerapkan asuhan keperawaan yang sudah dibuat secara

(2)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Vertigo dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan

orientasi di ruangan. Banyak system atau organ tubuh yang ikut terlibat dalam mengatur dan

mempertahankan keseimbangan tubuh kita. Keseimbangan diatur oleh integrasi berbagai sistem

diantaranya sistem vestibular, system visual dan system somato sensorik (propioseptik). Untuk

memperetahankan keseimbangan diruangan, maka sedikitnya 2 dari 3 sistem system tersebut

diatas harus difungsikan dengan baik. Pada vertigo, penderita merasa atau melihat lingkunganya

bergerak atau dirinya bergerak terhadap lingkungannya. Gerakan yang dialami biasanya berputar

namun kadang berbentuk linier seperti mau jatuh atau rasa ditarik menjauhi bidang vertikal. Pada

penderita vertigo kadang-kadang dapat kita saksikan adanya nistagmus. Nistagmus yaitu gerak

ritmik yang involunter dari pada bolamata. (Lumban Tobing. S.M, 2003)

Vertigo dapat adalah salah satu bentuk gangguan keseimbangan dalam telinga bagian dalam

sehingga menyebabkan penderita merasa pusing dalam artian keadaan atau ruang di

sekelilingnya menjadi serasa 'berputar' ataupun melayang. Vertigo menunjukkan

ketidakseimbangan dalam tonus vestibular. Hal ini dapat terjadi akibat hilangnya masukan

perifer yang disebabkan oleh kerusakan pada labirin dan saraf vestibular atau juga dapat

disebabkan oleh kerusakan unilateral dari sel inti vestibular atau aktivitas vestibulocerebellar.

(www.wikipedia.com)

Vertigo adalah sensasi berputar atau pusing yang merupakan suatu gejala, penderita merasakan

benda-benda disekitarnya bergerak gerak memutar atau bergerak naik turun karena gangguan

pada sistem keseimbangan. (Arsyad Soepardi efiaty dan Nurbaiti, 2002)

B. Etiologi

1. Otologi 24-61% kasus

a) Benigna Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)

(3)

c) Parese N VIII Uni/bilateral

d) Otitis Media

2. Neurologik 23-30% kasus

a) Gangguan serebrovaskuler batang otak/ serebelum

b) Ataksia karena neuropati

c) Gangguan visus

d) Gangguan serebelum

e) Gangguan sirkulasi LCS

f) Multiple sklerosis

g) Vertigo servikal

3. Interna kurang lebih 33% karena gangguan kardiovaskuler

a) Tekanan darah naik turun

b) Aritmia kordis

c) Penyakit koroner

d) Infeksi

e) < glikemia

f) Intoksikasi Obat: Nifedipin, Benzodiazepin, Xanax,

4. . Psikiatrik > 50% kasus

a) Depresi

b) Fobia

c) Anxietas

d) Psikosomatis

5. Fisiologik

Melihat turun dari ketinggian.

C. Manifestasi Klinik

Manifestasi klinis pada klien dengan vertigo yaitu Perasaan berputar yang kadang-kadang

disertai gejala sehubungan dengan reak dan lembab yaitu mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu

makan turun, lelah, lidah pucat dengan selaput putih lengket, nadi lemah, puyeng (dizziness),

nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata merah, mudah tersinggung, gelisah,

(4)

Pasien Vertigo akan mengeluh jika posisi kepala berubah pada suatu keadaan tertentu. Pasien

akan merasa berputar atau merasa sekelilingnya berputar jika akan ke tempat tidur, berguling

dari satu sisi ke sisi lainnya, bangkit dari tempat tidur di pagi hari, mencapai sesuatu yang tinggi

atau jika kepala digerakkan ke belakang. Biasanya vertigo hanya berlangsung 5-10 detik.

Kadang-kadang disertai rasa mual dan seringkali pasien merasa cemas.Penderita biasanya dapat

mengenali keadaan ini dan berusaha menghindarinya dengan tidak melakukan gerakan yang

dapat menimbulkan vertigo. Vertigo tidak akan terjadi jika kepala tegak lurus atau berputar

secara aksial tanpa ekstensi, pada hampir sebagian besar pasien, vertigo akan berkurang dan

akhirnya berhenti secara spontan dalam beberapa hari atau beberapa bulan, tetapi kadang-kadang

dapat juga sampai beberapa tahun.

Pada anamnesis, pasien mengeluhkan kepala terasa pusing berputar pada perubahan posisi kepala

dengan posisi tertentu. Secara klinis vertigo terjadi pada perubahan posisi kepala dan akan

berkurang serta akhirnya berhenti secara spontan setelah beberapa waktu. Pada pemeriksaan

THT secara umum tidak didapatkan kelainan berarti, dan pada uji kalori tidak ada paresis kanal.

Uji posisi dapat membantu mendiagnosa vertigo, yang paling baik adalah dengan melakukan

manuver Hallpike : penderita duduk tegak, kepalanya dipegang pada kedua sisi oleh pemeriksa,

lalu kepala dijatuhkan mendadak sambil menengok ke satu sisi. Pada tes ini akan didapatkan

nistagmus posisi dengan gejala :

1. Penderita vertigo akan merasakan sensasi gerakan seperti berputar, baik dirinya sendiri atau

lingkungan

2. Merasakan mual yang luar biasa

3. Sering muntah sebagai akibat dari rasa mual

4. Gerakan mata yang abnormal

5. Tiba - tiba muncul keringat dingin

6. Telinga sering terasa berdenging

7. Mengalami kesulitan bicara

8. Mengalami kesulitan berjalan karena merasakan sensasi gerakan berputar

(5)

(http://perawatyulius.blogspot.com)

D. Komplikasi

1. Cidera fisik

Pasien dengan vertigo ditandai dengan kehilangan keseimbangan akibat terganggunya saraf VIII

(Vestibularis), sehingga pasien tidak mampu mempertahankan diri untuk tetap berdiri dan

berjalan.

2. Kelemahan otot

Pasien yang mengalami vertigo seringkali tidak melakukan aktivitas. Mereka lebih sering untuk

berbaring atau tiduran, sehingga berbaring yang terlalu lama dan gerak yang terbatas dapat

menyebabkan kelemahan otot.

E. Patofisiologi dan Pathway

Vertigo disebabkan dari berbagai hal antara lain dari otologi seperti meniere, parese N VIII, otitis

media. Dari berbagai jenis penyakit yang terjadi pada telinga tersebut menimbulkan gangguan

keseimbangan pada saraf ke VIII, dapat terjadi karena penyebaran bakteri maupun virus (otitis

media).

Selain dari segi otologi, vertigo juga disebabkan karena neurologik. Seperti gangguan visus,

multiple sklerosis, gangguan serebelum, dan penyakit neurologik lainnya. Selain saraf ke VIII

yang terganggu, vertigo juga diakibatkan oleh terganggunya saraf III, IV, dan VI yang

menyebabkan terganggunya penglihatan sehingga mata menjadi kabur dan menyebabkan

sempoyongan jika berjalan dan merespon saraf ke VIII dalam mempertahankan keseimbangan.

Hipertensi dan tekanan darah yang tidak stabil (tekanan darah naik turun). Tekanan yang tinggi

diteruskan hingga ke pembuluh darah di telinga, akibatnya fungsi telinga akan keseimbangan

terganggudan menimbulkan vertigo. Begitupula dengan tekanan darah yang rendah dapat

mengurangi pasokan darah ke pembuluh darah di telinga sehingga dapat menyebabkan parese N

(6)

Psikiatrik meliputi depresi, fobia, ansietas, psikosomatis yang dapat mempengaruhi tekanan

darah pada seseorang. Sehingga menimbulkan tekanan darah naik turun dan dapat menimbulkan

vertigo dengan perjalanannya seperti diatas. Selain itu faktor fisiologi juga dapat menimbulkan

gangguan keseimbangan. Karena persepsi seseorang berbeda-beda.

F. Pemeriksaan Penunjang

Meliputi uji tes keberadaan bakteri melalui laboratorium, sedangkan untuk pemeriksaan

diagnostik yang penting untuk dilakukan pada klien dengan kasus vertigo antara lain:

1. Pemeriksaan fisik

a) Pemeriksaan mata

b) Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh

c) Pemeriksaan neurologik

d) Pemeriksaan otologik

e) Pemeriksaan fisik umum

2.Pemeriksaan khusus

a) ENG

b) Audiometri dan BAEP

c) Psikiatrik

3. Pemeriksaan tambahan

a) Radiologik dan Imaging

b) EEG, EMG

G. Penatalaksanaan

1. Penatalaksanaan Medis

Beberapa terapi yang dapat diberikan adalah terapi dengan obat-obatan seperti :

a) Anti kolinergik

 Sulfas Atropin : 0,4 mg/im

 Scopolamin : 0,6 mg IV bisa diulang tiap 3 jam

b) Simpatomimetika

 Epidame 1,5 mg IV bisa diulang tiap 30 menit

c) Menghambat aktivitas nukleus vestibuler

(7)

Golongan ini, yang menghambat aktivitas nukleus vestibularis adalah :

i. Diphenhidramin: 1,5 mg/im/oral bisa diulang tiap 2 jam

ii. Dimenhidrinat: 50-100 mg/ 6 jam.

Jika terapi di atas tidak dapat mengatasi kelainan yang diderita dianjurkan untuk terapi bedah.

Terapi menurut (Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004: 48) Terdiri dari :

a) Terapi kausal

b) Terapi simtomatik

c) Terapi rehabilitatif

2. Penatalaksanaan Keperawatan

a) Karena gerakan kepala memperhebat vertigo, pasien harus dibiarkan berbaring diam dalam

kamar gelap selama 1-2 hari pertama.

b) Fiksasi visual cenderung menghambat nistagmus dan mengurangi perasaan subyektif vertigo

pada pasien dengan gangguan vestibular perifer, misalnya neuronitis vestibularis. Pasien dapat

merasakan bahwa dengan memfiksir pandangan mata pada suatu obyek yang dekat, misalnya

sebuah gambar atau jari yang direntangkan ke depan, temyata lebih enak daripada berbaring

dengan kedua mata ditutup.

c) Karena aktivitas intelektual atau konsentrasi mental dapat memudahkan terjadinya vertigo, maka

rasa tidak enak dapat diperkecil dengan relaksasi mental disertai fiksasi visual yang kuat.

d) Bila mual dan muntah berat, cairan intravena harus diberikan untuk mencegah dehidrasi.

e) Bila vertigo tidak hilang. Banyak pasien dengan gangguan vestibular perifer akut yang belum

dapat memperoleh perbaikan dramatis pada hari pertama atau kedua. Pasien merasa sakit berat

dan sangat takut mendapat serangan berikutnya. Sisi penting dari terapi pada kondisi ini adalah

pernyataan yang meyakinkan pasien bahwa neuronitis vestibularis dan sebagian besar gangguan

vestibular akut lainnya adalah jinak dan dapat sembuh. Dokter harus menjelaskan bahwa

kemampuan otak untuk beradaptasi akan membuat vertigo menghilang setelah beberapa hari.

f) Latihan vestibular dapat dimulai beberapa hari setelah gejala akut mereda. Latihan ini untuk

rnemperkuat mekanisme kompensasi sistem saraf pusat untuk gangguan vestibular akut.

(http://niarahayu9.blogspot.com)

(8)

1. Pengkajian data keperawatan

a) Aktivitas / Istirahat

Letih, lemah, malaise, keterbatasan gerak, ketegangan mata, kesulitan membaca, insomnia,

bangun pada pagi hari dengan disertai nyeri kepala, sakit kepala yang hebat saat perubahan

postur tubuh, aktivitas (kerja) atau karena perubahan cuaca.

b) Sirkulasi

Riwayat hypertensi, denyutan vaskuler, misal daerah temporal, pucat, wajah tampak kemerahan

c) Integritas Ego

Faktor faktor stress emosional/lingkungan tertentu, perubahan ketidakmampuan, keputusasaan,

ketidakberdayaan depresi, kekhawatiran, ansietas, peka rangsangan selama sakit kepala,

mekanisme refresif/dekensif (sakit kepala kronik)

d) Makanan dan cairan

Makanan yang tinggi vasorektiknya misalnya kafein, coklat, bawang, keju, alkohol, anggur,

daging, tomat, makan berlemak, jeruk, saus, hotdog, MSG (pada migrain), mual/muntah,

anoreksia (selama nyeri), penurunan berat badan

e) Neurosensoris

Pening, disorientasi (selama sakit kepala), riwayat kejang, cedera kepala yang baru terjadi,

trauma, stroke, aura ; fasialis, olfaktorius, tinitus, perubahan visual, sensitif terhadap

cahaya/suara yang keras, epitaksis, parastesia, kelemahan progresif/paralysis satu sisi tempore,

perubahan pada pola bicara/pola pikir, mudah terangsang, peka terhadap stimulus, penurunan

refleks tendon dalam, papiledema.

f) Nyeri/ kenyamanan

Karakteristik nyeri tergantung pada jenis sakit kepala, misal migrain, ketegangan otot, cluster,

tumor otak, pascatrauma, sinusitis, nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah, fokus

menyempit, fokus pada diri sendiri, respon emosional / perilaku tak terarah seperti menangis,

gelisah, otot-otot daerah leher juga menegang, frigiditas vokal.

g) Keamanan

Riwayat alergi atau reaksi alergi, demam (sakit kepala), gangguan cara berjalan, parastesia,

paralisis, drainase nasal purulent (sakit kepala pada gangguan sinus).

(9)

Perubahan dalam tanggung jawab/peran interaksi sosial yang berhubungan dengan penyakit

i) Penyuluhan/ Pembelajaran

Riwayat hypertensi, migrain, stroke, penyakit pada keluarga, penggunaan alkohol/obat lain

termasuk kafein, kontrasepsi oral/hormone, menopause.

2. Diagnosa Keperawatan

a. Resiko jatuh b.d kerusakan keseimbangan (N. VIII)

b. Intoleransi aktivitas b.d tirah baring

c. Resiko kurang nutrisi b.d tidak adekuatnya input makanan

d. Gangguan persepsi pendengaran b.d tinitus

e. Koping individu tidak efektif b.d metode koping tidak adekuat

3. Intervensi Keperawatan

a) Resiko jatuh b.d Kerusakan keseimbangan

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam masalah risiko jatuh dapat

teratasi.

Kriteria Hasil :

1) Klien dapat mempertahankan keseimbangan tubuhnya

2) Klien dapat mengantisipasi resiko terjadinya jatuh

Intervensi Rasional

1. Kaji tingkat energi yang dimiliki klien

2. Berikan terapi ringan untuk

mempertahankan kesimbangan

3. Ajarkan penggunaan alat-alat alternatif

dan atau alat-alat bantu untuk aktivitas

klien.

4. Berikan pengobatan nyeri (pusing)

sebelum aktivitas

1. Energi yang besar dapat memberikan

keseimbangan pada tubuh saat

istirahat

2. Salah satu terapi ringan adalah

menggerakan bola mata, jika sudah

terbiasa dilakukan, pusing akan

berkurang.

3. Mengantisipasi dan meminimalkan

resiko jatuh.

4. Nyeri yang berkurang dapat

(10)

b) Intoleransi aktivitas b.d tirah baring

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam masalah intoleransi aktivitas

dapat teratasi.

Kriteria Hasil :

1) Meyadari keterbatasan energi

2) Klien dapat termotivasi dalam melakukan aktivitas

3) Menyeimbangkan aktivitas dan istirahat

4) Tingkat daya tahan adekuat untuk beraktivitas

Intervensi Rasional

1. Kaji respon emosi, sosial, dan

spiritual terhadap aktivitas

2. Berikan motivasi pada klien untuk

melakukan aktivitas

3. Ajarkan tentang pengaturan aktivitas

dan teknik manajemen waktu untuk

mencegah kelelahan.

4. Kolaborasi dengan ahli terapi

okupasi

1. Respon emosi, sosial, dan spiritual

mempengaruhi kehendak klien dalam

melakukan aktivitas

2. Klien dapat bersemangat untuk melakukan

aktivitas

3. Energi yang tidak stabil dapat menghambat

dalam melakukan aktivitas, sehingga perlu

dilakukan manajemen waktu

4. Terapi okupasi dapat menentukan tindakan

alternatif dalam melakukan aktivitas.

c) Risiko kurang nutrisi b.d tidak adekuatnya input makanan

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam maslah kurang nutrisi dapat

sedikit teratasi.

Kriteria Hasil :

1) Klien tidak merasa mual muntah

2) Nafsu makan meningkat

3) BB stabil atau bertahan

Intervensi Rasional

1. Kaji kebiasaan makan yang disukai

klien

1. Kebiasaan makan yang disukai dapat

(11)

2. Pantau input dan output pada klien

3. Ajarkan untuk makan sedikit tapi

sering

4. Kolaborasi dengan ahli gizi

2. Untuk memantau status nutrisi pada klien

3. Mempertahankan status nutisi pada klien

agar dapat meningkat atau stabil.

4. Ahli gizi dapat menentukan makanan yang

tepat untuk meningkatkan kebutuhan nutrisi

pada klien.

d) Gangguan persepsi pendengaran b.d tinitus

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam maslah gangguan perepsi

sensori pendengaran dapat teratasi.

Kriteria Hasil :

1) Klien dapat memfokuskan pendengaran

2) Tidak terjadi tinitus yang berkelanjutan

3) Pendengaran adekuat

Intervensi Rasional

1. Kaji tingkat pendengaran pada klien

2. Lakukan tes rinne, weber, atau

swabah untuk mengetahui

keseimbangan pendengaran saat

terjadi tinitus

3. Ajarkan untuk memfokuskan

pendengaran saat terjadi tinitus

4. Kolaborasi penggunaan alat bantu

pendengaran

1. Mengetahui tingkat kemaksimalan

pendengaran pada klien untuk menentukan

terapi yang tepat.

2. Mengetahui keabnormalan yang terjadi

akibat tinitus

3. Mempertahankan keadekuatan pendengaran

4. Memaksimalkan pendengaran pada klien

e) Koping individu tidak efektif b.d metode koping tidak adekuat

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam masalah koping individu

tidak efektif dapat teratsi.

Kriteria Hasil :

1) Klien dapat menyadari bahwa dirinya mengalami gangguan pendengaran

(12)

Intervensi Rasional

1. Kaji kemampuan klien dalam

mempertahankan keadekuatan

pendengaran

2. Berikan motivasi dalam menerima

keadaan fisiknya

3. Ajarkan cara mengatasi masalah

pendengaran akibat pusing yang

diderita

4. Kolaborasi pemberian antidepresan

sedatif, neurotonik, atau transquilizer

serta vitamin dan mineral.

1. Mengetahui batas maksimal kemampuan

pendengaran klien

2. Klien tidak mengalami depresi akibat

keadaan fisiknya

3. Pusing yang terjadi dapat memunculkan

tinitus

4. Obat untuk mengatasi tinitus.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad soepardi, efiaty dan Nurbaiti.2002. Buku ajar ilmu kesehatan telingahidung tenggorok

kepala leher edisi ke lima. Jakarta : Gaya Baru

Lumban Tobing. S.M, 2003, Vertigo Tujuh Keliling, Jakarta : FK UI

Rahayu, Nira.2011. Neuronitis Vestibular. (http://niarahayu9.blogspot.com).Online diakses pada

22 oktober 2012.Pukul 23.50 WIB

Santosa, Budi.2005.Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006.Alih bahasa.Jakarta :

(13)

Wilkinson, Judith M.2007.Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan

Kriteria Hasil NOC.Jakarta : EGC

BAB III

ASUHAN KEPERWATAN SISTEM NEUROBEHAVIOUR PADA Tn.S DENGAN VERTIGO DI RUANG MAWAR I

RSUD KARANGANYAR

Tgl/Jam MRS : 20 Oktober 2012/10.00 WIB

Tgl/Jam Pengkajian : 22 Oktober 2012/09.30 WIB

Metode Pengkajian : Autoanamnesa dan Alloanamnesa

Diagnosa Medis : Vertigo dan Hipertensi

(14)

1. Identitas Klien

Nama Klien : Tn.S

Alamat : Supan 2/14 Tegalgedhe, Karanganyar

Umur : 58 th

Agama : Islam

Status Perkawinan : Kawin

Pendidikan : SD

Pekerjaan : Peternak

2. Identitas Penanggung jawab

Nama : Ny.S

Umur : 54 th

Pendidikan : Tamat SMP

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Alamat : Supan 2/14 Tegal Gede, Karanganyar

Hubungan dengan klien : Istri

II. RIWAYAT KEPERAWATAN

1. Keluhan Utama

Pusing seperti berputar-putar, panas dingin, tidak nafsu makan, tidak bisa tidur.

2. Riwayat Penyakit Sekarang

Kurang lebih 2 minggu sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluh kepala pusing berputar,

nyeri kedua pipi hingga sekitar mata, sakit bertambah saat pasien menunduk dan duduk, badan

panas dingin, dan leher terasa cengeng/pegel-pegel.

Kemudian dibawa ke puskesmas dan hasilnya tidak ada perubahan dan akhirnya dibawa ke

RSUD Karanganyar melalui UGD. Pasien terpasang infus Rl 20tpm, dan diambil sempel darah,

TD : 225/120 mmHg, S : 38°C, RR : 24x/menit.

(15)

Sebelumnya Tn.S belum pernah mengalami penyakit ini, namun dulu pernah menderita penyakit

hipertensi dan pernah berobat ke THT untuk operasi sinus maksilaris.

4. Riwayat Kesehatan Keluarga

Didalam keluarga Tn.S tidak ada yang memiliki penyakit yang sama seperti yang Tn.S derita

saat ini. Namun untuk hipertensi diduga didapatkan melalui keturunan, karena ayah dari Tn.S

juga mengalami penyakit hipertensi.

Genogram :

Keterangan :

: Laki-laki

: Perempuan

: Memiliki riwayat hipertensi

: Pasien (Tn.S)

: Tinggal serumah

5. Riwayat Kesehatan Lingkungan

Kesehatan lingkungan Tn.S cukup terawat dan orang-orang disekitarnya paling umum memiliki

penyakit hipertensi namun untuk penyakit pusing hebat yang diderita Tn.S tidak ada yang

mengalami.

III. PENGKAJIAN POLA KESEHATAN FUNGSIONAL

(16)

Klien mengatakan sehat itu sangat berarti bagi kehidupan. Tanpa kesehatan orang tidak akan bisa

melakukan kegiatan sehari-hari, maka keluarga Tn.S selalu membawa anggota keluarga yang

sakit ke tempat dokter untuk diperiksa, bahkan sampai kerumah sakit untuk mendapatkan

pengobatan yang rutin.

2. Pola Nutrisi/Metabolik

KETERANGAN SEBELUM SAKIT SELAMA SAKIT

Frekuensi 3 x sehari 3 x sehari

Jenis Nasi putih, sayur,

gorengan, buah

kadang-kadang, air putih.

Bubur, kuah, air putih,

Porsi 1 porsi habis ¼ porsi

Keluhan Tidak ada Mual, tidak nafsu makan,

dan lidah terasa pahit serta

tidak makan selama 3 hari

terhitung saat 1 hari

sebelum masuk RS

Antropometri : BB : 64 kg, TB : 163 cm, IMT : 24,08 Kg/BB

Biochemical : Hct : 42 % Hb : 12,8 g/dL

Clinical sign :

 Rambut : sedikit lengket, kusam, terdapat ketombe.

 Mata : konjugtiva tidak anemis, pupil isokor, sclera tidak ikterik  Kulit : lembab, turgor kurang elastis.

 Pasien merasa mual muntah

Dietary history : Pasien tidak memiliki diet khusus. Selain itu pasien suka

makan kangkung dan sayur lodeh.

3. Pola Eliminasi

Eliminasi Alvi (BAB)

KETERANGAN SEBELUM SAKIT SELAMA SAKIT

Frekuensi 1x sehari 3 hari sekali

(17)

Bau Khas Khas

Warna Kuning Kuning kecoklatan, tidak

ada darah

Keluhan Tidak ada Sulit BAB

Eliminasi Urin

KETERANGAN SEBELUM SAKIT SELAMA SAKIT

Frekuensi 4-6x/hari 3-5x/hari

Pancaran Kuat lemah

Jumlah ±200 cc sekali BAK ±200 cc sekali BAK

Bau Khas Amoniak

Warna Kuning jernih Kuning kecoklatan

Perasaan setelah BAK Lega Lega

Keluhan Tidak ada Tidak ada

Total produksi urin ± 800-1200 cc/hari ±600-1000 cc/hari

ANALISA KESEIMBANGAN CAIRAN SELAMA PERAWATAN

Intake Output Analisa

Minum ±1200 cc

Makanan ±200 cc

Infus 500 cc

Urine 1000 cc

Feses 100 cc

IWL 10 x 64 kg = 640 cc

Intake 1900 cc

Output 1740 cc

Total 1900 cc Total 1740 cc Balance : intake > output

4. Pola Aktifitas dan Latihan

Kemampuan perawatan diri 0 1 2 3 4

Makan/minum V

Mandi V

Toileting V

(18)

Mobilitas ditempat tidur V

Berpindah V

Ambulasi/ROM V

5. Pola Istrahat Tidur

KETERANGAN SEBELUM SAKIT SELAMA SAKIT

Jumlah jam tidur siang - ± ½ jam

Jumlah jam tidur malam 8 jam 3-5 jam

Pengantar tidur

(penggunaan obat tidur)

Tidak ada Ada

Gangguan tidur Tidak ada sering terbangun karena

nyeri pada pipi,

lingkungan kurang tenang.

Perasaan waktu bangun

Kondisi mata

Nyaman

Tidak berkantung

Masih merasa ngantuk

Berkantung

6. Pola Kognitif – Perseptual

Klien dapat berbicara dengan lancar, melihat seperti berputar-putar, menjawab pertanyaan

dengan tepat saat ditanya, penciuman baik, lidah terasa pahit, merasa mual-mual, dapat

mengidentifikasi tes raba, merasa badannya panas dingin. Selain itu klien juga merasa nyeri.

P : nyeri karena vertigo,

Q :seperti ditarik-tarik,

R: kedua pipi sampai sekitar mata,

S : 9

T : saat menundukkan dan duduk

7. Pola persepsi Konsep Diri

a. Gambaran diri/citra tubuh

Pasien tidak suka dengan pusing yang seakan menarik wajahnya.

b. Ideal diri

(19)

c. Harga diri

Tn.S mengatakan malu dengan istrinya karena tidak bisa menafkahi istrinya karena keadaan sakit

yang dia alami saat ini.

d. Peran diri

Tn.S mengatakan saya tidak bisa bekerja lagi. Untuk saat ini justru istri saya yang harus bekerja

untuk biaya perawatan di rumah sakit.

e. Identitas diri

Tn.S mengatakan dia sebagai kepala keluarga didalam keluarganya, yang seharusnya dapat

memberikan sandang, papan, dan pangan.

8. Pola Seksual dan Seksualitas

Tn.S mengatakan terkadang masih melakukan hubungan dengan istrinya jika kondisi mereka

memungkinkan.

9. Pola Peran dan Hubungan

Hubungan dengan kelurga harmonis dan tidak ada maslah yang mengakibatkan kekacauan dalam

rumah tanggannya. Hubungan dengan masyarakat sekitar juga baik sehingga saat salah satu

anggota warga ada yang sakit mereka saling menjenguk.

10. Pola Manajemen dan Koping Stres

Saat terjadi nyeri pasien hanya mampu menahan nyeri dan berusaha untuk tidur. Karena Tn.S

sakit yang berusaha membayar biaya perawatan adalah istrinya.

11. Sistem Nilai dan Keyakinan

Ny.S mengatakan yakin bahwa suaminya dapat sembuh, Ny.S selalu berdoa agar suaminya lekas

diberikan kesembuhan.

IV. PEMERIKSAAN FISIK

1. Keadaan/Penampilan Umum

Kesadaran : Composmentis

TTV :

a) TD : 170/100 mmHg

b) Pernafasan :

- Frekuensi : 22x/menit

(20)

c) Suhu : 38°C

d) Nadi :

- Frekuensi : 96x/menit

- Irama : teratur

- Kekuatan : kuat

2. Pemeriksaan Fisik Head to Toe

a. Kepala, Rambut : warna hitam sedikit beruban, rambut lengket, dan kusam, tidak ada kutu,

terdapat ketombe.

b. Mata :

- Palpebra : tidak udem, tidak petosis

- Konjungtiva : konjungtiva tidak anemis

- Pupil : isokor

- Sclera : tidak ikterik

- Reflek terhadap cahaya : +

- Tidak menggunakan alat bantu penglihatan.

c. Hidung : lembab, bersih, tidak ada pernafasan cuping hidung

d. Mulut : bibir lembab, mukosa mulut sedikit kotor, tidak ada sariawan

tidak ada gigi berlubang.

e. Telinga : sedikit kotor, sedikit serumen, kadang-kadang terjadi tinitus.

f. Leher : tidak terjadi pembesaran kelenjar limfe, tidak terjadi kaku

Kuduk

g. Dada :

1) Paru-paru

-Inspeksi : Bentuk dada simetris

-Palpasi : Vocal premitus getaran kanan kiri sama

-Perkusi : Sonor pada seluruh lapang paru

-Auskultasi : Vesikuler pada seluruh area paru, tidak ada suara nafas tambahan, inspirasi lebih

pendek dari ekspirasi.

2) Jantung

-Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak

(21)

-Perkusi : Pekak, konfigurasi jantung dalam batas normal

-Auskultasi : tidak ada bunyi tambahan.

h. Abdomen :

-Inspeksi : warna sawo matang, jaringan parut tidak

terlihat, umbilicus kotor.

-Auskultasi : 30x/menit

-Perkusi : thympani

-Palpasi : tidak ada nyeri tekan

i. Ekstremitas

Atas

 Kekuatan otot kanan dan kiri : 4  ROM kanan dan kiri : Aktif

 Perubahan bentuk tulang : Tidak ada perubahan bentuk tulang  Perabaan Akral : Hangat

 Pitting edema : tidak ada

Analisa : tidak ada kelainan pada ekstremitas.

Bawah

 Kekuatan otot kanan dan kiri : 4  ROM kanan dan kiri : Aktif

 Perubahan bentuk tulang : Tidak ada perubahan bentuk tulang  Perabaan Akral : Hangat

 Pitting edema : tidak ada

Analisa : tidak ada kelainan pada ekstremitas bawah.

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Hari/Tanggal/

Jam

Jenis

Pemeriksaan

Keterangan Hasil

Senin, 22

oktober 2012

1. Ro Thorax

2. Ro Sinus

Tidak ada bercak-bercak, tidak ada fraktur ic

(22)

09.00 WIB Paranasal

3. EKG Tidak ada kelainan jantung

PEMERIKSAAN LABORATORIUM Hari/Tgl/Jam Jenis

Pemeriksaan

Nilai Normal dan satuan

Hasil Keterangan

Senin, 22

27-32 piko gram

32-37 %

Jenis Terapi Dosis Golongan &

(23)

Ranitidin

Obat Peroral :

- Captopril

e)

- Sohobion

- Mertigo

Obat Parenteral

Obat Topikal

25 mg

25 mg

100 mg

6 mg

Obat saluran cerna

Antihipertensi

Vitamin B

Antineoplastik,

Imunosupresan

cairan dan

elektrolit dalam

tubuh

Terapi tukak

lambung,

mengatasi mual

Mengobati

hipertensi ringan

s/d sedang

Terapi defisiensi

Vit B1, B6, &

B12

Mengobati vertigo

dan yang

berhubungan

dengan gangguan

keseimbangan

VII. ANALISA DATA

No Hari/tgl/ja

m

Data Fokus Problem Etiologi TTD

1 Senin,

22-10-2012 DS:

pasien mengatakan pusing

Gangguan

rasa

Agen cedera

(24)

09.30 WIB berputar-putar.

P: nyeri karena vertigo

Q : seperti ditarik-tarik

R : kedua pipi sampai sekitar

mata

S : 9

T : Saat duduk / menunduk

DO:

1. TD : 170/100 mmhg

2. S : 380C

3. N : 96x/mnit

4. RR : 22x/mnit

5. Pasien tampak meringis

kesakitan

6. Pasien tampak resah

nyaman

(nyeri akut)

2 Senin,

22-10-2012

09.30 WIB

DS :

Pasien mengatakan nafsu makan

berkurang, mual muntah, dan

lidah terasa pahit serta tidak

makan selama 3 hari dan hanya

minum air putih.

DO :

A : BB : 64kg, TB : 163 cm,

IMT : 24,08 kgBB

B :

Hct : 42 %

Hb : 12,8 g/dL

C :

1. Pasien tampak mual muntah

2. Turgor kurang elastis

3. Pasien tampak lemas

Resiko

nutrisi

kurang dari

kebutuhan

tubuh

Tidak

adekuatnya

intake

(25)

4. Konjungtiva tidak anemis

D : Menghabiskan ¼ porsi

makan

3 Senin,

22-10-2012

09.30 WIB

DS :

Pasien mengatakan susah tidur,

tidur siang ±1/2 jam dan tidur

malam hanya 3-5 jam dan

mudah terbangun karena nyeri,

perasaan setelah bangun masih

mengantuk

DO :

1. TD : 170/100mmhg

2. S : 38oC

3. N : 96 x/ mnit

4. Mata berkantung

5. Pasien tampak mengantuk

Gangguan

pola tidur

Fisiologi

(pusing

seperti

berputar-putar)

4. Senin,

22-10-2012

09.30 WIB

DS :

Pasien mengatakan pusing

seperti berputar-putar dan

tambah parah jika digunakan

untuk menunduk dan duduk.

DO :

1. Kerusakan keseimbangan

2. 170/100 mmHg

3. Agen antihipertensi

4. Tidak familiar terhadap ruangan

5. Tidak ada pengawasan saat ke

kamar mandi

6. Tidak ada pegangan menuju

Resiko

Jatuh

Gangguan

kesesimbanga

n

(26)

kamar mandi

5. Senin,

22-10-2012

09.30 WIB

DS :

Pasien mengatakan badanya

merasa panas dingin.

DO :

2. Hipertermi b.d Ketidakefektifan kerja hipotalamus

3. Gangguan rasa nyaman (nyeri akut) b.d Agen cedera biologi

4. Gangguan pola tidur b.d Fisiologi (nyeri seperti berputar-putar)

5. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d Tidak adekuatnya intake makanan.

IX. RENCANA KEPERAWATAN

Tujuan dan KH Intervensi Rasional TT

D

selama 2x24 jam

masalah resiko

jatuh dapat

teratasi dengan

kriteria hasil sbb

1. Kaji tingkat

yang dijalani pasien.

(27)

:

1. Tidak terjadi

jatuh atau cidera

fisik

yang kurang baik

dapat menimbulkan

jatuh

4. Mengantisipasi

terjadinya jatuh saat

pasien banyak

bergerak

5. Saat pasien akan

jatuh ada yang

membantu

terjadinya jatuh

(28)

2. Senin/

kriteria hasil sbb

:

kompres hangat

3. Anjurkan

diketahui dari VS

2. Agar tubuh terjadi

vasodilatasi dan suhu

dapat turun

3. Memudahkan

sirkulasi udara untuk

menurunkan suhu

selama 3x24 jam

masalah

pasien tiap hari

3. Berikan posisi

nyaman sesuai

dengan

nyeri dan keadaan

nyeri secara holistik

2. Mengetahui tingkat

nyeri yang dirasa

pasien

(29)

1. Pasien sudah

pemberian obat

analgesik dan

mertigo

rasa nyeri dan obat

untuk vertigo

selama 2x24 jam

masalah

insomnia pasien

3. Menciptakan

suasana rileks yang

(30)

4. Tidur nyenyak

pada pola tidur.

7. Tidur dapat stabil

dan obat tidak

membahayakan bagi

selama 3x24 jam

masalah nutrisi

dan output pada

pasien

pada tubuh pasien

2. Untuk memantau

BB pasien

3. Menaikkan BB

pasien

4. Agar nafsu makan

pasien bertambah

5. Selain mendapatkan

gizi yang baik hal ini

dapat pula

menghemat biaya

(31)

3. Turgor elastis

yang biasa klien

lakukan saat makan

agar nafsu makan

meningkat

gizi yang cukup

8. Dokter dapat

menentukan obat

pengganti nutrisi

yang cukup dan atau

dokter memberikan

obat penambah nafsu

makan.

Implementasi Respon klien TTD

1 Senin,

22-10-2012

10.30

WIB

3 Mengkaji nyeri (PQRST) S : pasien mengatakan pusing

berputar-putar

P : nyeri karena vertigo

Q : seperti di tusuk-tusuk

R : nyeri kedua pipi hingga

sekitar mata

S : 9

T : saat duduk/ menunduk

(32)

10.45

WIB

11.30

WIB

13.00

3

2

1

1, 2,

3,4

5

4

Memberikan posisi yang

nyaman

Memberikan kompres air

hangat

Mengkaji tingkat

aktivitas yang dijalani

pasien selama di rumah

sakit.

Melakukan pemeriksaan

TTV

Menganjurkan makan

sedikit tapi sering

kesakitan

S : pasien mengatakan lebih

nyaman dengan posisi yang

diberikan perawat

O: -Pasien terlihat lebih

nyaman

-Pasien tampak tenang

S : Pasien mengatakan mau

dikompres

O : Suhu 38,3°C

Pasien tampak resah

S : Pasien mengatakan saat

dirumah sakit hanya tidur dan

ke kamar mandi

O : Pasien tampak ingin

melakukan aktivitas secara

mandiri

S : -

O : suhu 37,9°C

TD : 170/100 mmHg

RR : 22x/menit

N : 86x/menit

S : pasien mengatakan mau

melakuakam

(33)

WIB

posisi kepala sesering

mungkin sebagai terapi

penghilang pusing

S : klien mengatakan ingin

tidur tapi sulit.

O : klien tampak mengantuk

Adanya kantung mata

S : Pasien mengatakan mau

mencobanya

O : pasien tampak kooperatif

2 Selasa,

Memvalidasi nyeri pada

pasien

Memantau intake dan

output pada pasien

Memberitahu pada

pasien dan keluarga

untuk makan makanan

yang disukai pasien

Melakukan pemeriksaan

TTV

Mengobservasi intensitas

S : pasien mengatakan

nyerinya masih terasa hebat

dan seperti berputar-putar

O : Wajah pasien tampak

meringis kesakitan

-Qualitas seperti

ditarik-tarik

-Skala 8

S : pasien mengatakan sudah

minum sekitar 3 gelas

O : input cairan ±900 cc

S : Pasien mengatakan ya

O : Pasien tampak kooperatif

S : Pasien mengatakan ya

O : suhu 36,4°C

TD : 150/90 mmHg

RR : 20x/menit

(34)

WIB

memberikan pijatan yang

nyaman saat memulai

tidur

Mengajari teknik

relaksasi

Mengajarkan pada pasien

untuk menggunakan

alat-alat alternatif dalam

beraktivitas

parasetamol per oral.

S : pasien mengatakan belum

bisa tidur

O : mata pasien masih terlihat

berkantung, pasien tampak

mengantuk.

S : Istri pasien mengatakan

sudah melakukan pijatan

O : Pasien dan keluarga

tampak resah

S : Pasien mengatakan mau

diajari

O : pasien terlihat kooperatif,

wajah tampak meringis

kesakitan karena nyeri.

S : Pasien mengatakan sudah

mengerti

O : Pasien tampak sudah

melakukan dan sudah paham

S : -

O : Suhu 38,2 °C

N : 84x/menit

TD : 140/80 mmHg

RR : 22x/menit

S : Pasien mengatakan sedikit

sakit saat diinjeksi

O : Ranitidin masuk 25mg/ml

Paracetamol masuk

(35)

3 Rabu,

Memvalidasi nyeri pada

pasien

Memvalidasi

kemampuan tidur pasien

Memberitahu pasien

tentang makanan yang

banyak mengandung

karbohidrat dan gizi yang

cukup

Melakukan pemeriksaan

TTV

Memotivasi pasien untuk

tetap makan sesering

mungkin.

S : Pasien mengatakan masih

nyeri pada wajahnya dan

terasa berputar-putar serta

seperti ditarik-tarik

O : Pasien tampak bingung

dan kesakitan

Quality : seperti ditarik-tarik

Skala 8

S : Pasien mengatakan

semalam bisa tidur tapi dengan

bantuan obat tidur

O : Pasien tampak segar,

kantung mata tidak ada

S : Pasien mengatakan sudah

cukup mengerti atau paham

tentang jenis-jenis makanan

tersebut.

O : pasien tampak mengerti,

S : Pasien mengatakan

berkenan untuk dilakukan

pemeriksaan TTV

O : suhu 37°C ,

TD : 110/70 mmHg

RR : 22X/menit

N : 88x/menit

S : pasien mengatakan ya

(36)

21.10

WIB

1, 5

3, 4

Memberikan injeksi

Mecobalamin 500µg

Menciptakan lingkungan

yang nyaman

(membaringkan pasien

tanpa bantal ditempat

tidur dan membersihkan

seprei)

S : -

O : Pasien tampak kesakitan

saat

diinjeksi

-Mecobalamin masuk

500µg

- Pasien tidak alergi obat

Mecobalamin

S : Pasien merasa lebih baik

tapi tetap merasa sedikit nyeri

O : Skala nyeri 7

Quality : seperti

ditarik-tarik

Sprei bersih

XI. CATATAN KEPERAWATAN

Hari/Tgl/Jam No.Dx Evaluasi Ttd

Senin,

22-10-2012

14.00 WIB

1

2

S : Pasien mengatakan belum bisa ke kamar mandi

karena pusing

O: Pasien tampak lemah

Kekuatan otot ekstremitas bawah 3

Pasien menggunakan bantuan minimal

A : Masalah resiko jatuh belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi

S : Pasien mengatakan badannya masih panas

O : Suhu 38°C

N : 86x/menit

RR : 22x/menit

(37)

3

4

5

Akral teraba hangat

A : Masalah hipertermi belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi (2, 5)

S : Pasien mengatakan masih terasa nyeri atau pusing

seperti berputar-putar dan mata seakan-akan tertarik

kedalam

O : Pasien tampak bingung, takut, dan cemas

TD : 170/100 mmHg, Suhu 38°C

A : Masalah nyeri belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi (3,4,5)

S : pasien mengatakan masih tidak bisa tidur

O : klien tampak mengantuk, mata berkantung

A : masalah gangguan pola tidur belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi (3,4,5)

S : Pasien mengatakan makan selalu tidak habis

O : makan hanya habis ¼ porsi saja (±150 cc/tiap kali

makan)

A : Masalah nutrisi belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi (5,6,7)

Selasa, 23-

10-2012

20.00 WIB

1 S : Pasien mengatakan sudah berjalan sendiri ke kamar

mandi

O : kekuatan otot pasien 4

Pasien tampak semangat dalam berjalan meski

menahan

nyeri/pusing

(38)

2

3

4

5

P : Lanjutkan intervensi (2,5,6,7,8)

S : Pasien mengatakan badanya panas lagi

O : Suhu 38,2°C

Nadi 84x/menit

RR : 22x/menit

TD : 140/80 mmHg

A : Masalah hipertermi belum teratasi

P : lanjutkan intervensi (2, 5)

S : Pasien mengatakan masih nyeri di wajah seperti

ditarik-tarik

O : klien tampak meringis kesakitan, skala nyeri 8

A : Masalah nyeri belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi (2, 3, 4)

S : Pasien mengatakan tidur tidak nyenyak dan sering

terbangun

O : Pasien tampak bingung dan resah

TD : 140/80 mmHg

Suhu 38,2 °C

A : Masalah gangguan pola tidur belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi (3,5,6)

S : Pasien mengatakan nafsu makan meningkat

O : makan habis ½ porsi, tidak ada mual

A : masalah resiko nutrisi sedikit teratasi

P : pertahankan intervensi

(39)

2012

08.00 WIB

2

3

4

didampingi istrinya karena takut jatuh

O : TD : 110/70 mmHg

N : 88x/menit

RR : 22x/menit

A : Masalah resiko jatuh teratasi

P : pertahankan intervensi

S : Pasien mengatakan badanya sudah tidak panas

O : Suhu 37°C

TD : 110/70 mmHg

N : 88x/menit

RR : 22x/menit

A : Masalah hipertermi teratasi

P : Pertahankan intervensi

S : Pasien mengatakan masih nyeri dan pusing, apalagi

saat digunakan duduk atau berdiri

O : Pasien tampak resah, skala nyeri 7

TD : 110/60 mmHg

N : 88x/menit

RR : 22x/menit

A : Masalah nyeri belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi (2, 3, 4)

S : Pasien mengatakan sudah dapat tidur meskipun

hanya 5

jam

O : Pasien tampak tidak mengantuk lagi, tidak ada

kantung

mata

(40)

5

A : Masalah gangguan pola tidur teratasi

P : Pertahankan intervensi

S : Pasien mengatakan jika makan sudah habis 1 porsi

dan tidak mual.

O : Intake meningkat dari ¼ porsi menjadi 1 porsi

A : masalah resiko nutrisi teratasi

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan denyut jantung janin pada ibu hamil trimester tiga yang memiliki tekanan darah tinggi dengan tekanan darah

Seduhan biji kurma 10,5 mg/gBB secara signifikan dapat menurunkan kadar malondialdehid dan meningkatkan jumlah sperma pada kelompok perlakuan setelah induksi MSG Diskusi:

Setelah dilakukan penelitian pada bulan juni selama satu minggu tentang Hubungan Pola Asuh Makan Dengan Status Gizi Anak Prasekolah Di Posyandu Ampang Gadang Di

Tindakan diindikasikan jika dimungkinkan tumor atau kanker telah metastase pada jaringan sekitar, fungsi vesika urinaria yang sudah rusak dan penyebaran tumor sangat cepat.. Pada

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh seduhan mahkota dewa (Phaleria Macrocarpa) dan terapi musik gamelan terhadap perubahan Tekanan Darah

Setelah menyelesaikan cabang ilmu ini, mahasiswa mampu memahami berbagai penyakit dan masalah kesehatan pada proses penuaan, penatalaksanaan medis, pencegahan dan rehabilitas,

Hasil penelitian menyebutkan bahwa pengetahuan responden sebagian besar berpengetahuan baik 20 responden (80%), kemudian kepatuhan responden dalam penggunaan APD

SENAT MAHASISWA SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STIKes MEDISTRA INDONESIA PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN S1 – FARMASI S1 – KEBIDANAN S1 – PROFESI KEBIDANAN – KEBIDANAN DIII – NERS