BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Terminologi Judul
Judul proyek ini adalah “Sekolah Tinggi Aviasi Indonesia“. Secara terminologi,judul dapat dijabarkan sebagai berikut :
Pengertian Sekolah
Sekolah merupakan suatu lembaga yang dirancang khusus untuk mengajar dan membimbing siswa di bawah pengawasan guru dan pemerintah; suatu tempat/ wadah pendidkan untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar antara guru dan siswa.
Pengertian Sekolah Tinggi
Sekolah Tinggi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan profesional dan akademik dalam lingkup satu disiplin ilmu pengetahuan, teknologi atau kesenian tertentu.
Sekolah tinggi terdiri atas satu program studi atau lebih yang menyelenggarakan : program Diploma Satu (D I), Program Diploma Dua (D II), Program Diploma Tiga (D III) dan/atau Program Diploma Empat (D IV), dan yang memenuhi syarat dapat menyelenggarakan Program S1, Program S2 dan/atau Program S3.
Pengertian Aviasi
Aviasi merupakan Ilmu Penerbangan Pengertian Indonesia
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terbentang di khatulistiwa sepanjang 3200 mil (5.120 km2) dan terdiri atas 13.667 pulau besar
bidang ilmu penerbangan untuk meningkatkan SDM dalam industri penerbangan di Indonesia.
2.2 Tinjauan Umum Sekolah Tinggi Penerbangan 2.2.1 Pengertian Perguruan Tinggi
Menurut Keputusan Mentri Pendidikan Nasional Nomor 234/U/2000 Tentang Pedoman Pendirian Perguruan Tinggi, Pendirian perguruan tinggi merupakan pembentukan akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut dan universitas. Adapun pendirian perguruan tinggi yang dimaksud, adalah :
Akademi
Akademi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan program pendidikan profesional dalam satu cabang atau sebagian cabang ilmu pengetahuan, teknologi atau kesenian tertentu. Akademi terdiri atas satu program studi atau lebih yang menyelenggarakan Program Diploma Satu (D I), Program Diploma Dua (D II) dan/atau Program Diploma Tiga (D III).
Politeknik
Politeknik adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan program pendidikan profesional dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus. Politeknik terdiri atas tiga program studi atau lebih yang menyelenggarakan Program Diploma Satu (D I), Program Diploma Dua (D II), Program Diploma Tiga (D III) dan/atau Program Diploma Empat (D IV).
Sekolah Tinggi
Sekolah Tinggi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan profesional dan akademik dalam lingkup satu disiplin ilmu pengetahuan, teknologi atau kesenian tertentu.
Institut
Institut adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan profesional dalam sekelompok disiplin ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian sejenis. Institut terdiri atas enam program studi atau lebih yang menyelenggarakan Program S1 dan/atau Program Diploma dan mewakili tiga kelompok disiplin ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian yang berbeda dan yang memenuhi syarat dapat menyelenggarakan Program S2, dan Program S3.
Universitas
Universitas adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan profesional dalam sejumlah disiplin ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian tertentu. Universitas terdiri atas sepuluh program studi atau lebih yang menyelenggarakan Program S1 dan/atau Program Diploma dan mewakili tiga kelompok bidang ilmu pengetahuan alam dan dua kelompok bidang ilmu pengetahuan sosial atau lebih dan yang memenuhi syarat dapat menyelenggarakan Program S2 dan Program S3.
2.2.2 Tinjauan Umum Industri Penerbangan Indonesia
Sejak tahun 2000 hingga sekarang perkembangan industri penerbangan di Indonesia meningkat pesat setelah terjadi relaksasi izin mendirikan perusahaan angkutan udara. Pada tahun 2011 perkembangan industri transportasi udara semakin pesat yang didukung oleh banyak tersedianya pesawat udara di tanah air, hal ini terjadi karena:
a. Adanya peristiwa WTC 11 September 2001 yang mengakibatkan banyak pesawat udara yang tidak dioperasikan oleh perusahaan Amerika dan Eropa, sehingga disewakan dengan harga murah
b. Banyak industri di Eropa Timur terutama negara-negara di daerah Balkan yang ingin survive sehingga mencari market ke Asia dengan penawaran yang lebih kompetitif.
d. Masa transisi dalam perubahan teknologi
Mudahnya mendapatkan berbagai armada pesawat udara dengan harga yang murah tersebut juga telah membawa dampak positif bagi perkembangan industri penerbangan Indonesia yang diikuti dengan perkembangan perusahaan penerbangan yang cukup pesat. Disisi lain, pesatnya pertumbuhan Industri Angkutan Udara juga tidak lepas dari peran Pemerintah dalam menciptakan suasana yang kondusif dengan mengadakan kebebasan aturan di bidang angkutan udara yang turut memberikan kontribusi dengan memicu pertumbuhan perusahaan penerbangan nasional.
Namun peningkatan jumlah penerbangan dan pesawat terbang yang beroperasi di Indonesia, tidak diikuti dengan peningkatan infrastruktur yang memadai seperti peningkatan jumlah lembaga pendidikan penerbangan dan teknisi yang memadai, yang berakibat terjadinya kekurangan sumber daya manusia (SDM) untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
2.2.3 Sejarah Berkembangnya Sekolah Penerbangan di Indonesia
Sejarah Teknik Penerbangan tidak dapat dilepaskan dari agenda perkembangan dirgantara nasional. Pada awal tahun 1960-an, Presiden Sukarno menyampaikan visinya, bahwa Teknologi Dirgantara dan Kelautan harus dikembangkan di Indonesia sebagai bagian dari kebijakan nasional penguasaan bidang Kedirgantaraan dan Kelautan. Awal pendidikan tinggi teknologi dirgantara pertama di mulai di ITB ditandai dengan didirikannya Teknik Penerbangan sebagai jurusan dari Bagian Mesin Departemen Mesin-Elektro pada tahun 1962 oleh O. Diran dan Lim Keng Kie. Perlu diketahui bahwa status Jurusan pada tahun 1962 adalah sama dengan status Kelompok Bidang Keahlian pada tahun 1991. Bersamaan dengan dibukanya jalur pendidikan tinggi teknologi dirgantara di ITB, didirikan pula Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Pada saat kedua lembaga tersebut didirikan, belum ada Kebijakan Dirgantara Nasional.
Walaupun Kebijakan Dirgantara Nasional belum dicanangkan, Indonesia memulai program antariksa dengan diluncurkannya Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) I Palapa A1 pada tahun 1975.
Pada tahun 1976, Kebijaksanaan Kedirgantaraan Nasional mulai dicanangkan oleh Prof.B.J. Habibie yang mendapat tugas khusus dari Presiden RI Soeharto. Kebijakan ini kemudian dijabarkan dengan pendirian beberapa lembaga kedirgantaraan nasional. Pada tahun 1976 didirikan Industri Pesawat Terbang Nurtanio (semula LIPNUR) yang kemudian menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) sebagai industri pesawat terbang nasional. Setahun sebelumnya telah didirikan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUSPIPTEK) di Serpong sebagai pusat unggulan dalam penelitian dan pengembangan teknologi dirgantara. Kemudian, pada tahun 1978 didirikan pula Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sebagai penentu kebijakan teknologi. Ketiga institusi tersebut dicanangkan sebagai triad institutions di dalam melaksanakan Program
Kedirgantaraan secara terpadu di Indonesia. Di dalam pelaksanaannya disusun strategi pengembangan empat fase transformasi teknologi kedirgantaraan, yaitu
2.2.4 Dasar Hukum Sekolah Tinggi Penerbangan
Keberadaan sekolah penerbangan dirasakan sangat perlu untuk meningkatkan mutu pelayanan dan kualitas penerbangan di Indonesia, oleh karena itu melalui keberadaan sekolah tinggi penerbangan di Indonesia diakui oleh Negara sebagaimana tercantum dalam :
1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945;
2. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 1989 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3390);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3859);
4. Keputusan Presiden Nomor 136 Tahun 1999 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen, sebagaimana telah diubah, dengan Keputusan Presiden Nomor 147 Tahun 1999;
Selain itu kedudukan sekolah penerbangan diperkuat lagi dengan dikeluarkannya : KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2000 TENTANG SEKOLAH TINGGI PENERBANGAN INDONESIA.
Menimbang: bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan dan meningkatkan sumber daya manusia yang terdidik dan profesional di bidang penerbangan dipandang perlu mendirikan Sekolah Tinggi Aviasi Indonesia sebagai perguruan tinggi kedinasan di lingkungan Departemen Perhubungan.
2.2.5 Peraturan Pendirian Sekolah
Berdasarkan PP No.24 tahun 2007, beberapa kriteria minimum standar sarana dan prasarana yaitu sebagai berikut:
1. Lahan
Lahan terhindar dari potensi bahaya yang mengancam kesehatan dan keselamatan jiwa, serta memiliki akses untuk penyelamatan dalam keadaan darurat.
Kemiringan lahan rata-rata kurang dari 15%, tidak berada di dalam garis sempadan sungai dan jalur kereta api.
Lahan terhindar dari gangguan-gangguan
Lahan sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam Peraturan daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota atau rencana lain yang lebih rinci dan mengikat, dan mendapat izin pemanfaatan tanah dari Pemerintah Daerah setempat.
Lahan memiliki status hak atas tanah, dan/atau memiliki izin pemanfaatan dari pemegang hak atas tanah sesuai ketentuan peraturan perundang-Perundangan yang berlaku untuk jangka waktu minimum 20 tahun.
2. Bangunan
Bangunan gedung untuk setiap satuan pendidikan memenuhi ketentuan rasio minimum luas lantai terhadap peserta didik seperti tercantum pada lampiran PP No 24 tahun 2007
Untuk satuan pendidikan yang memiliki rombongan belajar dengan banyak peserta didik kurang dari kapasitas maksimum kelas, lantai bangunan juga memenuhi ketentuan luas minimum seperti tercantum pada lampiran PP No.24 tahun 2007
Bangunan gedung memenuhi ketentuan tata bangunan. Bangunan gedung memenuhi persyaratan keselamatan Bangunan gedung memenuhi persyaratan kesehatan
Bangunan gedung menyediakan fasilitas dan aksesibilitas yang mudah, aman, dan nyaman termasuk bagi penyandang cacat.
a.Maksimum terdiri dari tiga lantai
b.Dilengkapi tangga yang mempertimbangkan kemudahan, keamanan, keselamatan, dan kesehatan pengguna.
Bangunan gedung dilengkapi sistem keamanan
Bangunan gedung dilengkapi instalasi listrik dengan daya minimum 1300 watt. Pembangunan gedung atau ruang baru harus dirancang, dilaksanakan, dan diawasi secara profesional.
Kualitas bangunan gedung minimum permanen kelas B, sesuai dengan PP No. 19 Tahun 2005 Pasal 45, dan mengacu pada Standar PU.
Bangunan gedung sekolah baru dapat bertahan minimum 20 tahun. Pemeliharaan bangunan gedung sekolah
Bangunan gedung dilengkapi izin mendirikan bangunan dan izin penggunaan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku
Selanjutnya untuk persyaratan pendirian standart Sekolah Tinggi , mulai dari persyaratan minimal jumlah dan kualifikasi dosen tetap untuk setiap program studi, persyaratan minimal jumlah dan jenis program study, persyaratan minimal jumlah dan kualifikasi tenaga administrasi dan penunjang akademik, dan persyaratan minimal sarana dan prasarana diatur dalam Keputusan Mentri Pendidikan Nasional NOMOR 234/U/2000
2.2.6 Struktur Organisasi Sekolah Tinggi Penerbangan
Dalam sekolah tinggi penerbangan Indonesia, sekolah memiliki struktur organisasi untuk melaksanakan kegiatan sekolah dengan teratur dan tertib. Struktur Organisasi dari Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia adalah sebagai berikut: o 1 orang ketua , yang bertugas memimpin dan mengelola sekolah secara
keseluruhan
o 3 orang pembantu ketua , dengan sebutan PUKET I, PUKET II, dan PUKET III, bertugas untuk membantu pekerjaan ketua secara khusus, dan memimpin kegiatan administrasi sekolah
o 4 orang ketua jurusan, untuk setiap jurusan, yang bertugas mengontrol dan mengatur kegiatan belajar mengajar antara pengajar dan mahasiswa
o 3 orang staff untuk setiap subbag admininstrasi yang bertugas untuk melakukan kegiatan administrasi baik secara umum maupun akademik
o Dosen, yang bertugas untuk membimbing, mengajar, dan memberi arahan kepada mahasiswa
Gambar 2.2Struktur Organisasi Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia Sumber : Peraturan Mentri
2.2.7 Karakteristik dan Tuntuan Kegiatan a. Kegiatan Utama
Kegiatan utama berupa kegiatan pedidikan yaitu proses terjadinya kegiatan belajar dan mengajar atau interaksi pembelajaran antara pelajar dan pengajar. Kegiatan pembelajaran ini juga dibagi dalam dua metode pembelajaran yaitu: -pembelajaran teori berupa kuliah yang diadakan dalam ruang kelas (class theory). -pembelajaran praktek berupa praktik langsung ke lapangan baik dilakukan secara indoor (laboratorium dan workshop, maupun outdoor (lapangan))
b. Kegiatan Penunjang
Kegiatan penunjang terdiri atas semua kegiatan yang menunjang operasional sekolah penerbangan baik itu secara administratif maupun teknis. Jenis kegiatan penunjang ini antara lain adalah
- Kegiatan penunjang umum meliputi kegiatan olahraga, ibadah dan seni
2.2.8 Program Studi dan Kurikulum Sekolah Tinggi Penerbangan 1. Program Studi
a. Jurusan Penerbang
Gambar 2.3 Simulator penerbang Sumber : Internet
Terdapat beberapa Program Studi pada Jurusan Penerbang, yaitu : Penerbang Sayap Tetap
Pesawat sayap tetap adalah pesawat yang terbang bukan karena gerakan pada sayap. Jurusan penerbang sayap tetap mempunyai program pendidikan yang mempersiapkan tenaga-tenaga ahli untuk menerbangkan pesawat jenis sayap tetap. Metode pembelajaran dibagi dalam dua metode yaitu pembekalan teori yang dilakukan dalam ruang kelas dan praktek berupa simulator pesawat dan praktek lapangan.
Sayap Putar
Pesawat sayap putar adalah pesawat yang terbang karena gerakan pada sayap, misalnya Helikopter. Metode pembelajaran dibagi dalam dua metode yaitu pembekalan teori yang dilakukan dalam ruang kelas dan praktek berupa simulator pesawat dan praktek lapangan.
Operasi Pesawat Udara
di Amerika Serikat. Sebelum diterima oleh maskapai penerbangan maka seorang pilot harus menempuh untuk memperoleh license PPL, CPL serta ATPL
Untuk menjadi seorang pilot yang professional, pilot tersebut memerlukan lisensi sesuai kebutuhan dan kegunaannya untuk berpraktik nyata. Beberapa lisensi tersebut adalah sebagai berikut:
- PPL (Private Pilot License)
Merupakan lisensi paling dasar bagi pilot. Pemegang lisensi ini diperkenankan menerbangkan pesawat untuk kepentingan sendiri dan tidak diperbolehkan membawa penumpang dan dibatasi pada pesawat bermesin tunggal. Selain itu pilot yang hanya mempunyai lisensi PPL hanya diperkenankan terbang pada siang hari dan tidak terbang untuk dibayar (non komersial). Di Indonesia PPL mensyaratkan jam terbang sejumlah 60 jam terbang.
- CPL ( Commercial Pilot License)
Pemegang lisensi CPL diperkenankan menerbangkan pesawat bermesin tunggal, diperkenankan membawa penumpang (berbayar atau tidak) dan diperkenankan untuk penerbangan komersial tanpa kru (sebatas pada penerbangan baliho, penyemprotan kebun, pemadaman api, pesawat sewaan, laporan lalulintas, pemotretan udara bahkan instruktur terbang). Selain itu juga diperkenankan untuk terbang pada malam hari. CPL adalah syarat minimal pilot komersial. Di Indonesia CPL mensyaratkan 200 jam terbang.
- ATPL ( Airline Transport Pilot License)
Merupakan tingkatan tertinggi kemampuan pilot. ATPL disyaratkan untuk pilot yang bekerja di airline dengan penerbangan terjadwal. Pilot pemegang lisensi ini juga diperkenankan menerbangkan pesawat dengan kru (dua kru atau lebih), pesawat dengan penumpang/kargo besar. ATPL mensyaratkan 1500 jam terbang.
Gambar 2.4 Praktik aplikasi dalam Workshop Sumber : Internet
Jurusan Teknik Pesawat terbang mempunyai program pendidikan yang mempersiapkan tenaga-tenaga ahli dibidang perawatan pesawat udara. Metode pembelajaran dibagi dalam dua metode yaitu pembekalan teori yang dilakukan dalam ruang kelas dan praktek aplikasi teori yang dilakukan didalam laboratorium dan bengkel kerja (Workshop). Terdiri dari :
- Program studi Teknik Pesawat Udara (TPU)
- Program Studi Teknik Telekomunikasi dan Navigasi Udara (TNU) - Program Studi Teknik Listrik Bandar Udara (TLB)
- Program Studi Teknik Mekanikal bandar Udara (TMB) - Program Studi Teknik Bangunan dan Landasan (TBL)
Fasilitas praktik yang dimiliki jurusan teknik penerbangan antara lain: Sheet Metal Shop, Gas Turbine Shop, Generator Set Shop, General Workshop, Physic Shop, Hydraulic Shop, Welding Shop, Electonic Shop, Electrical Shop, Computer Shop, Digital Shop, Aircraft Instrument Shop, Air Conditioning Shop, dan Ruang Gambar.
Gambar 2.5 Air Traffic Controller (ATC) Sumber : Internet
Jurusan Keselamatan Penerbangan mempunyai program pendidikan yang mempersiapkan tenaga-tenaga ahli dibidang pengaturan lalu lintas udara. Metode pembelajaran dibagi dalam dua metode yaitu pembekalan teori yang dilakukan dalam ruang kelas dan praktek aplikasi teori yang dilakukan didalam laboratorium dan bengkel kerja (work shop).
Terdiri dari :
- Program Studi Pemandu Lalu Lintas Udara - Program Studi Penerangan Aeronautika - Program Studi Komunikasi Penerbangan
- Program Studi Pertolongan Kecelakaan Penerbangan
Fasilitas praktik yang dimiliki Keselamatan Penerbangan antara lain: Junior ATC radar lab, Senior ATC radar lab, Tele Printer lab, Typing lab, Radio Telephoni lab, Radar Primary Lab, Radar Secondary lab, Radar Display lab, dan Wet Drill.
d. Jurusan Manajemen Penerbangan
Jurusan Manajemen Penerbangan mempunyai program pendidikan yang mempersiapkan tenaga-tenaga ahli di bidang administrasi lalu lintas udara. Bidang yang dipelajari dalam jurusan ini adalah teori-teori dan aplikasi manajemen / pengaturan administrasi dan kelayakan penerbangan Metode pembelajaran dibagi dalam dua metode yaitu pembekalan teori dalam kelas (class theory) dan praktek kerja.
Terdiri dari :
1. Program Studi Operasi Bandar Udara (OBU)
2. Program Studi Administrasi Perhubungan Udara (APU) 3. program Studi Manajemen Transportasi Udara (MTU)
Fasilitas yang dimiliki jurusan Manajemen Penerbangan antara lain : Simulator X ray, Aircraft Marshaller Simulator, Airside Driving Simulator
2. Kurikulum Sekolah Tinggi Penerbangan
Penyelenggaraan diklat pada sekolah penerbangan dilaksanakan atas dasar kurikulum yang disusun sesuai dengan sasaran program study dengan berpedoman pada kurikulum nasional. Kurikulum dan silabus pendidikan pelatihan mengacu pada standart Nasional ( Departemen Pendidikan Nasional) dan internasional, yaitu ICAO (International Civil Aviation Organization). Pola pendidikan dan pelatihan mengacu pada pola pendidikan akademis, fisik, mental dan kedisplinan.
Dengan acuan pada Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI-Curug) sebagai standart dalam mendirikan sekolah penerbangan, maka dapat dilihat bahwa matakuliah untuk setiap program studi tersusun atas Mata Kuliah Dasar Umum (MKU), Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK), Mata Kuliah Keahlian (MKK) dan Ekstrakurikuler.
Tabel 2.1 Kurikulum Sekolah Tinggi Penerbangan
Jurusan Teknik Penerbangan
Mata Kuliah Dasar Umum SKS Ekstrakulikuler SKS
Pancasila
Menggambar Teknik Pesawat Sistem Transportasi
Fisika Dasar Kalkulus
Tugas Akhir & Ujian
Komprehensif
Jurusan Teknik Pesawat Terbang Mata Kuliah Dasar
Umum
SKS Ekstrakulikuler SKS
Motor Priston &
Sumber : Jurnal STPI
2.2.9 Institusi Sekolah Penerbangan yang ada di Indonesia Tabel 2.2 Institusi Sekolah Penerbangan di Indonesia
No. Nama Institusi Program Studi Alamat
1. Sekolah Tinggi
Penerbangan Indonesia ,
- Penerbang
- Teknik Pesawat Udara, - Teknik Listrik
Bandara,
- Teknik Navigasi Udara - Lalu Lintas Udara
Tangerang
3 Sekolah Tinggi
- Teknik penerbangan Komplek Lanud Adusucipto, 6 Politeknik Negeri
Bandung (Polban)
- Aeronautika Jl. Gegerkalong Hilir
Desa Ciwaruga, Bandung
Telp: (022) 2013789
7 UniversitasSuryadarma - Teknik Penerbangan Jl. Protokol Halim
Telp.
(021)8013475 8 Deraya Flying School - Private Pilot License
(PPL), Commercial Pilot License (CPL), IR - Multi Engine/IR
10 Sekolah Tinggi Teknologi
Surabaya, Jawa Timur
Makassar 12 Universitas Nurtanio Teknik
Penerbangan, Rangka Pesawat, Motor Pesawat, Avionika, Listrik Pesawat,
Jl. Pajajaran 219, Lanud Husein
Sastranegara, Bandung Telp. (022) 6034484, 6011076
13
Sumber : Jurnal STPI
2.2.10 Studi Banding Proyek Sejenis
Di dalam pembahasan sub bab ini akan dibahas tentang studi banding yang dilakukan dengan proyek yang memiliki fungsi sejenis dengan bangunan proyek. Berikut ini adalah beberapa sekolah tinggi penerbangan yang dijadikan sebagai objek studi banding.
2.2.10.1Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia
Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia Curug adalah perguruan tinggi kediknasan yang berada di bawah Departemen Perhubungan Republik Indonesia ini. Sekolah yang awalnya bernama Akademi Penerbangan Indonesia (API) didirikan pada tahun 1 Juni 1952 di Jakarta. Pada tahun 1969, nama API diubah menjadi Lembaga Perhubungan Udara (LPPU) dan pada tahun 1978, nama LPPU juga diganti menjadi Pendidikan Latihan Penerbangan(PLP). Nah, baru pada tahun 2000, sekolah tinggi ini berganti nama menjadi STPI. Kampus STPI terletak di dalam kompleks bandar udara Budiarto meliputi empat desa yaitu Serdang Wetan, Rancagong, Kamuning dan Palasari Kecamatan Legok Kawedanan Curug Kabupaten Tangerang Propinsi Banten yang luasnya sekitar 545 hektar. Program studi yang diselenggarakan di STPI terdiri atas dua kelompok utama yaitu diklat awal (program diploma) dan diklat khusus (keahlian). Diklat awal dilaksanakan berdasarkan satuan kredit semester mulai dari satu tahun sampai dengan empat tahun sedangkan diklat khusus (non diploma) mulai dari beberapa hari sampai beberapa minggu atau bulan antara lain :
Tabel 2.3 Macam- macam Diklat
No DIKLAT JENJANG PERSYARATAN
1. Penerbang
SLTA atau yang sederajat 2. Teknik Penerbangan
Diklat Khusus
No DIKLAT LAMA
1. Pendidikan Penerbang
Comersial Pilot License (Non Diploma)
Airline Transport Pilot License (ATPL) Ground Matrikulasi (untuk PNB lulusan LN)
Flight Instructor 2. Teknik Penerbangan
Ahli Perawatan Pesawat Udara (APPU) Airframe and Power Plant (A&P) Basic Aircraft Mechanics (BAM)
Basic Aviation Technical Knowledge (BATK) Sheet Metal 3. Keselamatan Lalu Lintas Udara
ATC Radar ATC Automation PANS-OPS
Kurikulum dan silabus pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan oleh STPI Curug mengacu pada standar nasional Departemen Pendidikan Nasional RI dan Internasional Civil Aviation Organization (ICAO).
Tabel 2.4 Fasilitas Pendidikan STPI Curug
Jurusan Penerbangan Ruang Kelas 9 ruangan
Laboratorium Radio Telephony dan Aircraft link simulator jenis TB-10, Sundowner dan TB-700
Jurusan Teknik Penerbangan
Ruang Kelas 13 ruangan
Laboratorium Bengkel dan laboratarium sheet metal Digital dan analog, DME, VOR, Tx/Rx, Mesin listrik
Instrumen listrik
Sistem pendingin, penerangan bandara, instalasi, fisika, komputer, baterai, genset otomatis Jurusan Keselamatan
Penerbangan
Ruang Kelas 15 ruangan
Laboratorium ATC simulator, Junior ATC laboratory, Senior ATC laboratory, ATC
Sarana dan Prasarana
No. Fasilitas Kapasitas
1. Gedung Utama 206 pegawai
2 Laboratorium Bahasa Inggris 30 orang
3 Auditorium 200 orang
4 Asrama 1117 orang
5 Perpustakaan 40 orang
6 Ruang Makan 450 orang
7 Rumah Sakit 20 tempat tidur
8 Fasilitas Olahraga : e. Lapangan Basket f. Lapangan Voli g. Lapangan Tenis h. Lapangan Sepak bola i. Kolam renang
j. Lapangan Badminton k. Gedung Serbaguna
13 Pembangkit Listrik 700kV
Fasilitas Laboratorium / peralatan Jurusan Penerbangan
Gambar 2.8 Ruang Kelas Sumber : Internet
Gambar 2.9 Aircraft Simulator Sumber : Internet
Gambar 2.11 Radiotelephony Sumber : Internet
Jurusan Teknik Penerbangan
Gambar 2.12 Ruang Kelas Sumber : Internet
Gambar 2.14 Hydraulic Shop Sumber : Internet
Gambar 2.15 Welding Shop Sumber : Internet
Gambar 2.16 Aircraft Shop
Sumber : Internet
Jurusan Keselamatan Penerbangan
Gambar 2.18 ATC Lab
Gambar 2.19 Junior ATC Lab
Gambar 2. 20 Wet Drill
Jurusan Manajemen Penerbangan
Gambar 2.22 Lab Komputer (CBT Lab)
Gambar 2.23 X- ray Cargo
Gambar 2.24 X-Ray Simulator
2.2.10.2 SIA Centre
Di sinilah tempat 6000 kru datang dan mendapatkan pelatihan mereka. Ruang besar pada atrium merupakan tempat awak kabin belajar dan di beri pelatihan ulang tentang prosedur keselamtan.Replika merupakan gabungan dari pesawat boeing 777 pada bagian depan dan Airbus A380 di bangian belakang.Replika ini berguna untk memberikan pelatihan kepada pramugara-pramugari mengevakuasi penumpang dengan meluncur.
Gambar 2.26 SIA Center
Gambar 2.27 Hanggar
Gambar 2.29 Flight Simulator
Pada replika pesawat dapat diberikan asap untuk pelatihan kondisi keadaan darurat. Dan terdapat panel untuk para instructure mengatur scenario.Pada Bagian lain terdapat kolam yang besar yang berguna untuk pelatihan darurat mendarat di air.Kolam tersebut memiliki mesin ombak yang dapat diatur kekuatannya.Dengan kedalaman kolan 3 meter, dapat menampung sebuat rakit.
Gambar 2.30 Kontrol Mock up
Untuk program pelatihan pramugari terdapat replika pesawat yang lain.Disini para pramugara-pramugari mendapatkan pelatihan pelayanan kepada penumang. Para peserta latihan juga diajarkan bagaimana cara berjalan yang baik,plating makanan, menyuguhkan makanan dan latihan menata rias sesuai standar maskapai penerbangan.
2.3 Lokasi Perancangan
Pada sub bab ini akan dibahas mengenai lokasi proyek, yang terdiri dari kriteria pemilihan lokasi proyek, alternatif pemilihan lokasi dan deskripsi lokasi sebagai tapak rancangan.
2.3.1 Kriteria Pemilihan Lokasi
Bangunan sekolah tinggi penerbangan yang direncanakan merupakan fasilitas umum . Oleh karena itu diperlukan kriteria lokasi sebagai berikut:
Tabel 2.5 Kriteria Pemilihan Lokasi
2.3.2 Alternatif Pemilihan Lokasi 2.3.2.1 Tinjauan Umum
Lokasi perancangan berada di sekitar kawasan aerotropolis Bandara Kualanamu Kecamatan Batangkuis, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Kawasan aerotropolis yang telah direncanakan oleh PT. Angkasa Pura II merupakan Kec. Beringin dan Kec. Pantai Labu, Kab. Deli Serdang
Gambar 2.31 Peta Lokasi Sumber : Olah Data Primer
Gambar 2.32 Kecamatan Deli Serdang Sumber : Olah Data Primer
Sesuai dengan Rencana Tata Ruang Kawasan Kualanamu & Sekitarnya tahun 2025, kawasan Kualanamu dibagi menjadi beberapa bagian dengan fungsi yang mendukung. Rencana Tata Ruang ini menjadi acuan untuk membangun proyek sesuai dengan fungsi dan zonasi yang telah ditentukan di dalam Deli Serdang
Alternatif lokasi berada di dalam kawasan perumahan dan pendidikan serta berdekatan dengan hutan kota.
Berdasarkan pertimbangan hubungan fungsional antar komponen. Pembagian zona dibagi dalam 3 kelompok tersebut , adalah :
Kelompok 1 teridiri dari RTH, Rekreasi terbuka dan Olaharaga (ring I) Pada Kelompok I seluruhnya digunakan untuk RTH, Rekreasi Terbuka dan Olahraga. Rekreasi terbuka dan olahraga pada sisi kiri dan kanan jalan arteri, sedangkan RTH pada sisi sebelah barat dari landasan.
Kelompok II terdiri dari Rumah Sakit, Perdaganagan, Jasa Komersial Perumahan, dan Komponen Pelengkap. (ring II)
Pada kelompok II digunakan untuk komponen yang berhubung langsung dengan aktivitas bandara seperti Rumah Sakit, Perdaganagan, Jasa Komersial, Perumahan, dan Komponen Pelengkap. Penempatan rumah sakit di sisi jalan arteri agar mudah dijangkau dan berdekatan dengan Bandar udara yang bertujuan mengantisipasi korban kecelakaan penerbangan.
Kelompok III terdiri dari Perkampungan dan Fasilitas Perkotaan (ring III) Pada kelompok III dialokasikan untuk perkampungan dan fasilitas perkotaan untuk melayani dan memenuhi kebutuhan penduduk sekitarnya.
Tabel 2.6 Tata Guna Lahan berdasarkan Ring Kawasan
Komponen Ring Keterangan
RTH 1 RTH berfungsi sebagai peredam kebisingan
yang ditimbulkan oleh bandar udara dan dapat sebagai lahan cadangan untuk mengantisipasi apabila dibutuhkan pengembangan lahan bandar udara.
Rekreasi Terbuka dan Olahraga
1 Diletakkan di luar perpanjangan landasan karena berhubungan dengan aktivitas manusia sehingga tidak berpengaruh terhadap kebisingan yang ditimbulkan oleh bandar udara.
Perumahan, Apartemen, dan Asrama
2 Diperuntukkan bagi karyawan bandar udara dan para pengguna jasa angkutan udara. Rumah Sakit 2 Diletakkan pada ring 2 untuk mengurangi
Jasa Komersial 2 Untuk melayani kebutuhan para pengguna jasa angkutan udara sehingga dapat menghemat waktu, tenaga, dan biaya. Perdagangan 2 Untuk melayani kebutuhan para pengguna
jasa angkutan udara, karyawan bandar udara, dan masyarakat sekitar bandar udara. Komponen Penunjang 2,3 Tidak terlalu berpengaruh terhadap aktivitas bandar udara hanya sebagai pelengkap saja. Fasilitas Pelayanan
Masyarakan Perdagangan
3 Disesuaikan dengan perkampungan yang dipindahkan ke ring 3, sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakatnya tetapi hanya skala lingkungan.
Pendidikan 2,3 Pada ring 2 dan ring 3 ada perumahan dan perkampungan.
Kesehatan 3 Melayani kebutuhan pendudukan setempat. Peribadatan 2,3 Melayani kebutuhan ibadah bagi penduduk
di sekitar bandar udara dan para pengguna jasa angkutan udara.
Sumber : RTRK Deli Serdang
Gambar 2.34 Zona KKOP Sumber : Olah data primer
Gambar 2. 35 Alternatif Lokasi Sumber : Olah data Primer
Gambar 2.36 Zona Ring 2 Sumber : Pribadi Pertimbangan lokasi A :
- Lokasi kawasan A memilki jarak paling dekat dengan bandara ditinjau dari ring 2 KKOP
- Jalur akses utama menuju bandara - Berkepadatan rendah
- Sudah memiliki akses eksisting Pertimbangan lokasi B :
2 KKOP
- Jalur akses yang masih dalam pembangunan - Bukan lah jalur utama menuju bandara
Maka, Lokasi kawasan site yang tepat untuk Sekolah Tinggi Aviasi Indonesia merupakan kawasan A dengan adanya jalur eksisting dan jarak dengan bandara yang lebih terjangkau dari pada kawasan B
Gambar 2.37 Zona Ring 2 Sumber : Pribadi
Alternatif Lokasi
Tabel 2.7 Alternatif Lokasi Site
2.3.3 Deskripsi Lokasi sebagai Tapak
Gambar 2. 39 Lokasi Site Sumber : Pribadi
o Kasus Proyek : Sekolah Tinggi Aviasi Indonesia o Lokasi : Jl. Lingkungan , kec. Batang Kuis o Luas lahan : 3 ha
o Kondisi eksisting : Rumah warga ,dan lahan kosong o Batas Site :
Utara - Lahan Kosong
o Peraturan : GSB sekolah = min 10 m, GSS sekolah = min 4m KDB = 70%
o Kontur : Relatif Datar
o Ktinggian maksimum : 11 lantai
o Potensi Site : - Terletak dekat dengan bandara
- Kemudahan akses untuk mencapai jalan primer bandara -Lokasi yang masih memiliki lahan luas
- Memilki tingkat kebisingan yang rendah karna berada pada lokasi jalan lingkungan
2.3.4 Area Pelayanan
Gambar 2. 40 Pelayanan Sekolah Tinggi Penerbangan Sumber : Internet
Gambar 2.41 Pelayanan terhadap wilayah sekitar Sumber : Olah Data Primer
2.3.5 Status kepemilikan, nilai lahan, dan peraturan
Sesuai dengan PERATURAN DAERAH KABUPATEN DELI SERDANG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG PERIZINAN TERTENTU
Bagian Kelima Fungsi Bangunan
Pasal 17
Fungsi bangunan meliputi fungsi hunian, keagamaan, usaha, sosial dan budaya serta fungsi khusus. Bangunan gedung fungsi sosial dan budaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan bangunan gedung dengan fungsi utama sebagai tempat manusia melakukan kegiatan sosial dan budaya yang meliputi a. Bangunan pelayanan pendidikan : sekolah taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah lanjutan, sekolah tinggi/universitas, sekolah luar biasa;
b. Bangunan pelayanan kesehatan : puskesmas, poliklinik, rumah bersalin, rumah sakit;
c. Bangunan kebudayaan : museum, gedung kesenian, dan sejenisnya; d. Bangunan laboratorium;
e. Bangunan pelayanan umum : stadion, hall untuk kepentingan olah raga, dan sejenisnya.
Bagian Kesembilan
Persyaratan Tata Bangunan dan Lingkungan Pasal 21
(2) Intensitas bangunan pada kawasan yang akan dibangun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kepadatan, ketinggian dan jarak bebas/sempadan bangunan. (3) Kepadatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi Koefisien Dasar Bangunan (KDB), Koefisien Lantai Bangunan (KLB) dan Koefisien Daerah Hijau (KDH).
Bagian Kesepuluh Koefisien Dasar Bangunan
Pasal 22
(1) KDB ditentukan dengan mempertimbangkan perkembangan kawasan, kebijaksanaan intensitas pembangunan, daya dukung lahan/lingkungan, serta keseimbangan dan keserasian lingkungan.
(2) Besarnya KDB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disesuaikan dengan ketentuan tata ruang.
(3) Besarnya KDB untuk setiap bangunan, apabila tidak ditentukan lain dalam ketentuan tata ruang, ditentukan maksimum sebesar 70%.
(4) Besarnya KDB untuk bangunan dengan fungsi industri termasuk pergudangan, apabila tidak ditentukan lain dalam ketentuan tata ruang, ditentukan maksimum seb (5) Bupati, atas dasar pertimbangan Kepala Dinas, dapat memberikan dispensasi penambahan intensitas, dengan ketentuan penambahan intensitas tersebut kurang dari 10% (sepuluh per seratus) dari yang ditetapkan dalam ketentuan tata ruang dan tidak berkaitan dengan perubahan pemanfaatan lahan sebelumnya serta perubahan ketentuan teknis lainnya.
Koefisien Lantai Bangunan Pasal 23
(1) KLB ditentukan dengan mempertimbangkan daya dukung lahan/lingkungan, keseimbangan dan keserasian lingkungan, serta keselamatan dan kenyamanan bangunan.
(3) Besarnya KLB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disesuaikan dengan ketentuan tata ruang.
Bagian Kedua Belas Koefisien Daerah Hijau
Pasal 24
(1) KDH ditentukan dengan mempertimbangkan daya dukung lahan/lingkungan, serta keseimbangan dan keserasian lingkungan.
(2) Besarnya KDH ditetapkan sesuai dengan peruntukan dalam ketentuan tata ruang.
(3) KDH minimal 10% pada daerah padat/sangat padat, dan meningkat setara dengan naiknya ketinggian bangunan dan berkurangnya kepadatan wilayah. (4) Untuk perhitungan KDH secara umum, digunakan rumus : 100 % - (KDB + 20% KDB).
Bagian Ketiga belas Garis Sempadan Bangunan
Pasal 25
(1) GSB ditetapkan untuk memperoleh keteraturan dalam tata letak bangunan, baik terhadap jalan maupun antar bangunan, serta untuk mengurangi resiko kebakaran, pengaturan sirkulasi udara dan sinar matahari serta kebebasan ruang gerak halaman. (2) Besarnya GSB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disesuaikan dengan ketentuan tata ruang.
(3) Apabila tidak ditentukan lain dalam ketentuan tata ruang, besarnya GSB adalah sebagai berikut :
a. Untuk daerah disepanjang jalan, GSB adalah separuh lebar daerah milik jalan (damija) ditambah 1 (satu) meter, dihitung dari tepi batas persil/kavling;
2.4 Tinjauan Kelompok & Pelaku Kegiatan 2.4.1 Deskripsi pengguna
Pengguna dari Sekolah Tinggi Penerbangan Kualanamu Indonesia dapat digolongkan menjadi :
Kelompok Kegiatan Pimpinan
Adalah kelompok pelaku kegiatan yang memimpin Sekolah Tinggi Aviasi Indonesia besertapembantu kepala yang membawahi bidang masing-masing antara lain:
- Kepala Sekolah Tinggi Penerbangan - Sekretaris Sekolah Tinggi Penerbangan
- Pembantu Kepala I Bidang Akademik dan Staff
- Pembantu Kepala II Bidang Administrasi Umum dan Staff - Pembantu Kepala III Bidang Kemahasiswaan dan Staff
Kelompok Kegiatan Pendidikan a. Kelompok kegiatan pendidikan meliputi: - Kepala Jurusan Penerbang
Orang yang ditunjuk karena kemampuannya di bidang pendidikan penerbang untuk memimpin dan bertanggung jawab kepada kepala STP terhadap berlangsungnya kegiatan di jurusan penerbang
- Kepala Jurusan Teknik Penerbangan
Orang yang ditunjuk karena kemampuannyadibidang pendidikan teknik perawatan pesawat terbang untuk memimpin dan bertanggung jawab kepada kepala STP terhadap berlangsungnya kegiatan di jurusan Teknik penerbangan.
- Kepala Jurusan Keselamatan Penerbangan
Orang yang ditunjuk karena kemampuannya dibidang pendidikan manajemen penerbangan untuk memimpin dan bertanggung jawab kepada kepala STP terhadap berlangsungnya kegiatan di jurusan manajemen penerbangan.
Kelompok Kegiatan Penunjang Pendidikkan
Adalah pihak-pihak yang menunjang berlangsungnya kegiatan pendidikan di Sekolah Tinggi Penerbangan. Kedudukan dari kelompok kegiatan ini adalah berada dibawah Ketua Sekolah Tinggi dan Kepala Jurusan yang menangani administrasi dan teknis operasional yang menunjang kegiatan utama dalam akademi.
Adapun kelompok kegiatan penunjang antara lain: - Kepala unit asrama dan staff
- Kepala perpustakaan dan staff - Kepala unit kesehatan dan staff - Kepala unit laboratorium dan staff - Kepala unit workshop dan staff - Kepala unit fasilitas umum dan staff - Kepala unit Olahraga dan Seni
Kelompok Kegiatan Akademik -Taruna (Mahasiswa/i)
-Dosen
Kelompok Kegiatan Servis - Security
- Cleaning Service - Staff pengelola
2.4.2 Deskripsi Kegiatan 2.4.2.1 Jenis Kegiatan
a. Kegiatan Utama
Kegiatan utama yang ada dalam institusi ini adalah kegiatan pendidikian yaitu proses terjadinyakegiatan belajar dan mengajar atau interaksi pembelajaran antara pelajar dan pengajar. Kegiatanpembelajaran ini juga dibagi dalam dua metode pembelajaran yaitu : pembelajaran teori berupa kuliahyang diadakan dalam ruang kelas (class theory). Metode pembelajaran yang lain adalah denganpraktek langsung ke lapangan baik dilakukan secara indoor (laboratorium dan workshop / bengkelkerja), maupun outdoor (lapangan)
b. Kegiatan Penunjang
Kegiatan penunjang terdiri atas semua kegiatan yang menunjang operasional sekolah penerbanganbaik itu secara administratif maupun teknis. Jenis kegiatan penunjang ini antara lain adalah
- Kegiatan asrama - Kegiatan olahraga
- Kegiatan membaca dan belajar (perpustakaan) - Kegiatan umum
- Kegiatan kesehatan
c. Kegiatan Pengelola
Kegiatan yang termasuk dalam kelompok ini meliputi: -Kegiatan administrasi
-Kegiatan pendaftaran -Kegiatan pengolahan materi
d. Kegiatan Teknis
Kegiatan yang termasuk di dalam kelompok ini meliputi kegiatan : - Yang berhubungan dengan maintenance (perawatan)
- Yang berhubungan dengan kegiatan mekanikal dan elektrikal
e. Kegiatan Pelayanan
-Parkir dan sirkulasi kendaraan baik pengunjung, staff, pengajar maupun pengelola - Sirkulasi dan kegiatan servis (pengantaran atau pemasukan barang)
2.4.2.2 Karakteristik Kegiatan
Sebagai lembaga pendidikan yang mempunyai spesifikasi pendidikan keahlian maka Sekolah Tinggi Penerbangan Kualanamu Batangkuismempunyai beberapa karakter kegiatan yaitu:
- Formil : kegiatan pembelajaran dalam institusi ini bersifat resmi dan berwibawa. - Komunikatif : untuk mendapatkan kontak dan interaksi dengan baik agar kegiatan pendidikan dapat berjalan dengan baik, efisien dan efektif
- Representative : sekolah Penerbangan Surakarta seyogyanya dapat mencitrakan kesankegiatan yang modern dan dinamis.
- Sistematis : kegiatan yang ada bersifat teratur, tegas dan jelas dengan tingkat konsentrasiyang berbeda-beda sesuai dengan pelajaran dan sifat kegiatannyaprogram studi
2.4.2.3 Tuntutan kegiatan
Untuk memenuhi tuntutan pembelajaran yang baik maka kegiatan utama tersebut harus ditunjangoleh beberapa persyaratan baik secara fisik wadah kegiatan maupun metode pembelajaran. Untuk fisik bangunan dibutuhkan ruang yang memenuhi persyaratan kenyamanan yang meliputi :
Phisical Comfort : Pengaturan cahaya, pengaturan akustik ruang, dan pengaturan kenyamanan termal
Tabel 2.8 Jenis Kegiatan Sekolah
No Kelompok Pemakai Kegiatan Ruang Kebutuhan Ruang
1
Datang Parkir khusus
Bekerja Ruang ketua ST
Menerima Tamu Ruang Tamu Memimpin rapat Ruang Rapat Sekretaris
Bekerja Ruang Sekretaris
Menyimpan dokumen Ruang Arsip Pembantu Ketua
ST I dan staff
Bekerja ( Akademik) Ruang pembantu Ka-I
Menerima Tamu Ruang staff
Ruang Tamu
Menerima Tamu Ruang staff
Ruang Tamu
Pembantu Ketua ST III dan staff
Pembinaan taruna Ruang pembantu Ka-III
Bekerja (Administrasi
kemahasiswaan ) Ruang staff Menerima Tamu
Bekerja Ruang ketua jurusan
Rapat Jurusan Ruang sekretaris Administrasi dan
manajemen urusan Ruang rapat Jurusan Menerima Tamu Ruang administrasi
Ruang tamu
Ketua Jurusan Teknik
Penerbangan
Bekerja Ruang ketua jurusan
Rapat Jurusan Ruang sekretaris Administrasi dan
manajemen urusan Ruang rapat Jurusan Menerima Tamu Ruang administrasi
Ruang tamu
Ketua Jurusan Keselamatan Penerbangan
Bekerja Ruang ketua jurusan
Rapat Jurusan Ruang sekretaris Administrasi dan
Ruang tamu Ketua Jurusan
Manajemen Penerbangan
Bekerja Ruang ketua jurusan
Rapat Jurusan Ruang sekretaris Administrasi dan
manajemen urusan Ruang rapat Jurusan Menerima Tamu Ruang administrasi
Ruang tamu
Kelompok kerja /unit Ruang kepala unit perpustakaan
Koordinasi Kegiatan Ruang kepala unit Asrama
Informatika Ruang kepala unit TI
Ruang staff unit TI Ruang kepala unit Olahraga & Seni
Ruang staff unit Olahraga & Seni
Mahasiswa Istirahat Asrama
Belajar Perpustakaan
Mencari refrensi Pusat TI
Makan /minum Ruang Makan & Kantin
Ibadah Tempat ibadah
Berolahraga Lapangan Menyimpan barang Locker Kegiatan Umum Auditorium
4 Kelompok
Persiapan mengajar 1. Radiotelephony 2. Aircraft Link
Persiapan mengajar Ruang Instruktur
Briefing Ruang Kelas
Praktik mesin pesawat
terbang Ruang Briefing
Praktik Kerja Lapangan Gas tubine shop
Workshop & Hangar
Praktik Kerja Hidraulik Hidaulik Lab Praktik Instrumental
pesawat terbang Instrument Lab Praktik Kerja rangka
pesawat Sheet Metal Shop
Praktik desain pesawat Ruang Gambar Praktik mesin pesawat
terbang Engine Shop
Praktik gaya dan energi
Persiapan mengajar Ruang Instruktur
Ruang Kelas
Simulasi awal tower control
Junior ATC Radar Lab
Simulasi menara tower control
Senior ATC Radar Lab
Praktek kerja khusus Teleprinter Lab Praktek operasional radar Radar Lab
Persiapan mengajar Ruang Dosen Ruang Kelas Praktek Komputasi Laboratorium
Komputer Praktek Bahasa Laboratorium
Bahasa
5
Staff Memakirkan kendaraan
Roda 2
Dosen Roda 4
2.4.3 Deskripsi persyaratan dan kriteria ruang 2.4.3.1 Persyaratan Umum
a. Persyaratan Minimal Sarana Prasarana - Ruang kuliah : 100 m²
- Ruang kantor : 100 m²
- Perpustakaan dan laboratorium : 500 m² - Lahan : 5000 m²
b. Persyaratan minimal jumlah tenaga administrasi dan penunjang - Administrasi : 3 orang
- Kualifikasi : S1 : - , D3 : 1 orang, SMA : 2 orang c. Aspek akreditasi
- Tenaga pengajar untuk satu program study minimal 7 orang (1 lektor kepala, 1 lektor, 2 lektor madya, 3 staf ahli)
- Nisbah tenaga pengajar terhadap mahasiswa 1 : 15 - Ada pembinaan dan pengembangan mahasiswa
- Ada kegiatan pengembangan dan pengabdian masyarakat - Prasarana
Lahan kampus ( m² / mahasiswa) : 5 Ruang kuliah ( m² / mahasiswa ) : 1,5 Kantor ( m² / mahasiswa ) : 4
Perpustakaan (m² / mahasiswa ) : 1,6 Aula ( m² / mahasiswa ) : 1,5
Laboratorium ( m² / mahasiswa ) : 3
2.4.3.2 Jenis dan Besaran Standart Ruang Sekolah Penerbangan Jurusan teknik pesawat terbang
Mempunyai fasilitas baik berupa laboratorium maupun workshopyang secara umum terbagi dalam dua fungsi yaitu laboratorium/ workshop tingkat dasar dan laboratorium/workshop tingkat keahlian.
- General Workshop
Faktor utama penentu besaran ruang adalah dimensi meja kerja (work bench) dan pola sirkulasiparaktikum
Kapasitas penggunaan sekali praktik maksimal 30 orang Dimensi standart meja kerja adalah 1,9 m x 2,9 m Standart ruang gerak praktikan 0,9 m x 1,0 m
Standart ruang untuk 1 meja kerja 6 praktikan 2,8m x 3,9 m dengan flow 40%
Gambar 2.42 General Workshop Sumber : redraw TA A. Yudhanto1995
- Elektrikal Laboratorium
Faktor utama penentu besaran ruang adalah dimensi meja peralatan (instrument bench) dan ruang gerak praktikan
Jumlah penggunaan 30 orang
Dimensi meja peralatan adalah 0,8 m x 1,6 m Ruang gerak praktikan adalah 0,8 m x 1,2 m
Gambar 2.43 Elektrikal Lab Sumber : redraw TA A. Yudhanto1995
b. Laboratorium / workshop tingkat keahlian
Laboratorium/ workshop ini digunakan untuk praktikum Mata Kuliah Keahlian MKK yang berkaitan dengan spesifikasi keahlian. Berdasarkan peralatan yang digunakan laboratorium/ workshop tingkat keahlian dibedakan menjadi dua yaitu
c. Laboratorium/ workshop alat ringan (Light Lab/ workshop)
Yaitu lab/workshop dimana peralatan praktek diletakkan diatas meja (work bench), seperti instrument laboratorium, electrical laboratorium, welding shop, air conditioning shop, baterry shop, installation shop, basic/advance lab, avionic lab, telex shop, transmitter lab, radio workshop, digital workshop, basic computer lab. Untuk light lab/workshop standart ruang yang digunakan adalah sama dengan yang digunakanpada electrical lab/ general workshop (GWS) yaitu:
Dimensi meja peralatan adalah 0,8 m x 1,6 m Ruang gerak praktikan adalah 0,8 m x 1,2 m
Gambar 2.44 Light Lab/ workshop Sumber : redraw TA A. Yudhanto1995 - Workshop Alat Berat
Adalah workshop dimana obyek dan peralatan prakteknya memilki spesifikasi tertentu (padaumumnya berdimensi besar) dan memerlukan penempatan khusus). Yang termasuk dalam kategori workshop ini adalah:
1. Sheet Metal Shop
Obyek utama adalah rangka pesawat Beech Baron B-58 dengan dimensi 5,5 m x 2,0-2,6 m dengan penggunaan 1:10
Ruang kerja yang terjadi adalah 72,8 m² (13m x 5,6m) dengan flow 40%
Peralatan praktek yang diletakkan diatas meja dengan standart ruang 10,29 m² dengan flow 40%untuk praktikan berjumlah 6 orang.
Gambar 2.45 Sheet Metal Shop Sumber : redraw TA A. Yudhanto1995
2. Hidraulik Shop
Ruang kerja yang terjadi adalah 19 m² (3,8m x 5m) dengan flow 40%
Gambar 2.46 Hidraulik Shop Sumber : redraw TA A. Yudhanto1995
3. Automatic Genset Shop
Obyek utama adalah generator set 16 kVA dengan dimensi 2,0 m x 1,0m x 0,8m dengan rasiopenggunaan 1 : 4
Ruang kerja yang terjadi adalah 20 m² (5m x 4m) per alat dengan sirkulasi40% Faktor penentu lainnya adalah meja kerja dengan standart ruang 10,92m² dengan flow 40% untuk 6orang praktikan.
Gambar 2.47 Automatic Genset Shop Sumber : redraw TA A. Yudhanto1995 Jurusan Keselamatan Penerbangan
1. Primary and Secondary Radar Lab
Alat peraga utama adalah 1 set Simulator Control Tower yang terdiri dari:
- Ruang gerak yang terjadi tiap unit adalah (2,2m x 1,2m) + (2,2m x 1m) = 4,84 m² dengan ruang gerak 40%
- Unit secondary radar primary radar dengan dimensi P = 2,5m, L = 1,5m, T = 1,5m kapasitas untuk satu orang.
- Ruang gerak yang terjadi tiap unit adalah (2,5m x 1,5m) + (2,5m x 1m) = 6,25 m² dengan ruang gerak 40%
- Unit radar video processor dengan dimensi ruang 48 m²
Gambar 2.48 Primary and Secondary Radar Lab Sumber : redraw TA A. Yudhanto1995
2. Teleprinter Lab
Alat peraga utama adalah mesin Teleprinter
Dimensi mesin Teleprinter P = 0,6m, L = 0,8m, kapasitas untuk satu orang.
Ruang gerak yang terjadi tiap unit adalah (0,6m x 0,6m) + (0,8m x 1m) = 1,28 m² dengan ruang gerak 40%
d.Telephony Lab
Alat peraga utama adalah meja morse
Dimensi per unit P = 0,8m, L = 0,7m, kapasitas untuk satu orang.
Gambar 2.49 Telephony Lab Sumber : redraw TA A. Yudhanto1995
3. Radar Display Lab
Alat peraga utama adalah Radar Display, meja pilot, meja koordinator, dan meja ATC.
Gambar 2.50 Radar Display Lab Sumber : redraw TA A. Yudhanto1995
4. Junior ATC
Gambar 2.51 Junior ATC Sumber : redraw TA A. Yudhanto1995
5. Senior ATC
Alat peraga utama yang dipakai adalah Simulator Control Desk, dan Koordinator Desk
.
Gambar 2.52 Senior ATC Sumber : redraw TA A. Yudhanto1995
Jurusan Administrasi Penerbangan 1. Laboratorium Komputer
Gambar 2.53 Laboratorium Komputer Sumber : redraw TA A. Yudhanto1995
2. Laboratorium Bahasa
Alat Peraga personal komputer, headset, meja kursi, microphone, sound system
Gambar 2.54 Laboratorium Bahasa Sumber : redraw TA A. Yudhanto1995
Persyaratan Untuk Ruang Laboratorium
Pada umumnya ruang laboratorium dan simulator banyak menggunakan peralatan-peralatan komputer, sehingga membutuhkan syarat khusus
a. Dasar pertimbangan
- Tuntutan konsentrasi dan ketelitian yang tinggi dalam menghadapi problem-problem penerbangan yang sulit
- Suhu, panas dan sinar matahari yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi menyebabkan kerja mesin kurang optimal
- Panas dan api dapat menyebabkan kerusakan langsung pada peralatan
- Sinar matahari langsung dapat mengganggu peralatan yang peka terhadap sinar - Suhu dan kelembaban berpengaruh pada kerja mesin, menyebabkan komponen logam cepat berkarat, suasana kerja jadi pengap, air sangat berbahaya jika kontak langsung dengan komputer.
- Gas dan debu berpengaruh pada media penyimpanan data. b. Kebutuhan ruang yang disyaratkan
- Suhu optimal saat peralatan sedang digunakan adalah 65˚F-90˚F
- Suhu optimal pada saat mesin tidak digunakan / tidak bekerja adalah 50˚F-110˚F - Kelembaban berkisar antara 20% - 80% pada saat mesin digunakan
- Kelembaban berkisar antara 0% - 80% pada saat mesin tidak digunakan - Tingkat iluminasi cahaya 50-500 lux
- Intensitas kebisingan berkisar antara 10-40 dB
Persyaratan Untuk Ruang Kelas, workshop dan Ruang Kantor a. Dasar perimbangan
- Tuntutan konsentrasi dan ketelitian dalam belajar dan bekerja - Tuntutan kenyamanan
- Tuntutan keamanan
b. Kebutuhan ruang yang disyaratkan
- Tingkat iluminasi cahaya berkisar antara 300-500 lux
2.4.3.3 Sarana & Prasarana Penunjang 1. Tempat Beribadah
a. Tempat beribadah berfungsi sebagai tempat sivitas akademika melakukanibadah yang diwajibkan oleh agama masing-masing pada waktu kuliah/kerja.
b. Luas tempat beribadah sesuai dengan kebutuhan tiap sivitas akademika, dengan luastotal minimum adalah 24 m2.
c. Tempat beribadah dilengkapi sarana sebagaimana tercantum pada
Tabel 2.9 Sarana Penunjang
Sumber : Badan Standar Nasional Pendidikan 2011
2. Ruang Konseling
a. Ruang konseling berfungsi sebagai tempat mahasiswa mendapatkan layanankonseling individu atau kelompok dari konselor berkaitan dengan pengembanganpribadi, sosial, akademik, dan karir.
b. Luas ruang konseling sesuai dengan kebutuhan sivitas akademika, dengan luas total minimum 12 m2.
c. Ruang konseling dapat memberikan kenyamanan suasana dan menjamin privasi mahasiswa.
Tabel 2.10 Jenis, Rasio dan Deskripsi Ruang Konseling
3. Ruang Kesehatan
a. Ruang kesehatan berfungsi sebagai tempat untuk pelayanan awal bagi sivitas akademika yang mengalami gangguan kesehatan.
b. Luas ruang kesehatan sesuai dengan kebutuhan sivitas akademika, dengan luas total minimum 12 m2.
c.Ruang kesehatan dilengkapi sarana sebagaimana tercantum pada.
Tabel 2.11 Jenis, Rasio dan Deskripsi Ruang Kesehatan
Sumber : Badan Standar Nasional Pendidikan 2011
4. Jamban
a. Jamban berfungsi sebagai tempat buang air kecile atau besar bagi dosen, karyawan, dan mahasiswa.
b. Minimum terdapat 1 unit jamban untuk setiap 40 mahasiswa, 1 unit jamban untuk setiap 30 mahasiswi, 1 unit jamban untuk setiap 40 dosen dan/atau karyawan laki-laki, dan 1 unit jamban untuk setiap 30 dosen dan/atau karyawan perempuan. c. Luas minimum 1 unit jamban adalah 2 m2.
d. Jamban harus berdinding, beratap, dapat dikunci, dan mudah dibersihkan. e. Tersedia air bersih di setiap unit jamban.
5. Gudang
a. Gudang berfungsi sebagai tempat menyimpan peralatan pembelajaran dan peralatan lembaga yang tidak/belum dimanfaatkan serta arsip lembaga.
c. Gudang dapat dikunci.
6. Kantin
a. Kantin berfungsi sebagai tempat menjual makanan dan minuman bagi sivitas akademika pada saat hari kerja/kuliah.
b. Luas kantin sesuai dengan kebutuhan mahasiswa, dengan luas total minimum 20 m2.
c. Kantin dilengkapi dengan konter makanan/minuman, tempat duduk untuk makan dan minum, air bersih untuk mencuci tangan dan mencuci alat makan dan minum, serta tempat sampah yang memadai.
7. Bengkel
a. Bengkel berfungsi sebagai tempat perbaikan dan perawatan peralatan.
b. Bengkel terdapat di perguruan tinggi yang memiliki program studi dengan kegiatan pembelajaran menggunakan peralatan yang memerlukan perbaikan dan perawatan secara berkala
c. Luas minimum bengkel disesuaikan dengan jenis dan jumlah peralatan yangmemerlukan perbaikan dan perawatan pada setiap program studi.
d. Bengkel terdiri atas ruang kerja tempat melakukan perbaikan/perawatan dan ruang penyimpanan alat.
8. Tempat Parkir
a. Tempat parkir berfungsi untuk menyimpan sementara kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat milik dosen, karyawan, dan mahasiswa selama jam dan hari kerja.
b. Tempat parkir dibuat dengan mengikuti standar yang ditetapkan dengan peraturan daerah atau peraturan nasional. Bila standar dimaksud belum tersedia, maka standarminimum yang digunakan adalah sebagai berikut.
2) Minimum terdapat 1 tempat parkir kendaraan roda empat untuk 40 mahasiswa dan 1 tempat parkir kendaraan roda empat untuk 10 karyawan atau dosen.
3) Ukuran minimum tempat parkir kendaraan roda dua adalah 1,5 m x 1 m, dengan luas lahan minimum 3 m2 per satuan ruang parkir (SRP) termasuk sirkulasi. 4) Ukuran minimum tempat parkir kendaraan roda empat adalah 5 m x 2,5 m, dengan luas lahan minimum 25 m2 per satuan ruang parkir (SRP) termasuk sirkulasi.
2.5 Elaborasi Tema
Pemilihan tema arsitektur berdasarkan fungsi sekolah dipilih dari beberapa kajian tentang pengertian tema, karakteristik tema dan hubungan dengan fungsi sekolah penerbangan.
2.5.1 Pengertian
- Menurut Wikipedia (Wikipedia.com)
Tema merupakan suatu gagasan pokok atau ide pikiran tentang suatu hal - Menurut Gunawan Tjahyono
Tema dalam arti purbanya lebih merupakan pijakan bagi sebuah tajuk. Dari situlah
kita yang terlibat dalam kehadirannya berangkat untuk melakukan bahasan, ulasan,
dan tindakan( intelektual). Dengan demikian, tema melandaskan seluruh olahan
berkarya. Dari contoh yang sama dalam bidang arsitektur, tema dapat melandasi
tindakan berarsitektur
Dalam arsitektur, banyak sekali tema yang dapat digunakan dalam perancangan,
berikut tema-tema memungkinkan digunakan dalam fungsi sekolah :
A. Arsitektur Metafora
Pengertian Metafora dalam Arsitektur adalah kiasan atau ungkapan bentuk,
diwujudkan dalam bangunan dengan harapan akan menimbulkan tanggapan dari
orang yang menikmati atau memakai karyanya.Adapun prinsip-prinsip yang dianut
oleh Arsitektur Metafora
lain.
- Mencoba atau berusaha untuk melihat suatu subjek seakan-akan sesuatu hal
yang lain.
- Mengganti fokus penelitian atau penyelidikan area konsentrasi ataupenyelidikan
lainnya (dengan harapan jika dibandingkan atau melebihi perluasan kita dapat
menjelaskan subjek yang sedang dipikirkan dengan cara baru).
Kegunaan Penerapan Metafora dalam Arsitektur
Sebagai salah satu cara atau metode sebagai perwujudan kreativitas Arsitektural,
yakni sebagai berikut :
- Memungkinkan untuk melihat suatu karya Arsitektural dari sudut pandang lain. - Mempengaruhi untuk timbulnya berbagai interprestasi pengamat.
- Mempengaruhi pengertian terhadap sesuatu hal yang kemudian dianggapmenjadi hal yang tidak dapat dimengerti ataupun belum sama sekali ada pengertiannya
- Dapat menghasilkan Arsitektur yang lebih ekspresif.
Penerapan tema metafora pada design bangunan adalah dengan mencoba menangkap objek yang mewakili kehadiran dari fungsi serta klien proyek.menyesuaikan bentuk untuk mendukung visi misi yang ingin dicapai oleh klien. Penerapan tema ini lebih banyak mempertimbangkan tentang bentuk dan impresi pandangan orang terhadap bangunan, sedangkan fungsi sekolah lebih mengutamakan organisasi ruang dan kenyamanan di dalam ruangan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar.
B.Arsitektur Ikonik
Konsep yang menggunakan ikon yang dapat berarti simbol, bentuk yang mudah
dikenali, bentuk yang terkenal, dan mewakili suatu kota atau negara.
Rancangan unik tersebut mengalami proses ikonisasi, hingga dalam beberapa
jangka waktu rancangan tersebut menjadi ikon dan selalu menjadi daya kenal. Tema
ini juga merupakan suatu penerapan tema dalam bentuk, merancang bangunan
dengan dasar prinsip dapat mengangkat suatu simbol yang bisa menjadi ikon untuk
C.Arsitektur Hijau
Arsitektur Hijau ( Green Architecture ) adalah suatu pendekatan perencanaan bangunan yang berusaha untuk meminimalisasi berbagai pengaruh membahayakan pada kesehatan manusia dan lingkungan.
Pendekatan arsitektur hijau mempunyai beberapa istilah seperti Eco-architecture, Sustainable architecture, maupun environmental architecture. Apapun istilahnya, tiga objek utama yang pasti dan harus dititikberatkan adalah makhluk hidup, planet, dan keuntungan (3P= People; Planet; Profit).
Berikut adalah beberapa penjelasan mengenai pengertian Green Building, Ecoarchitecture, dan Sustainable Building dari beberapa sumber, yaitu:
Menurut Wikipedia (www.wikipedia.com)
Green building yang dikenal juga dengan istilah green construction atau sustainable building, adalah sebuah penerapan dimana menciptakan struktur dan menggunakan proses yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan menggunakan sumber daya secara efisien melalui siklus kehidupan bangunan mulai dari rancangan, konstruksi, operasi, perawatan, renovasi, dan dekonstruksi. Praktisi ini memperpanjang dan mempertimbangkan juga aspek ekonomi, utilitas, dan kenyamanan.
Menurut Sim Van der Ryn di dalam buku Ecological Design,
Menjelaskan bahwa sebuah bangunan yang bersifat ekological harus memiliki karakteristik berupa setiap bentuk rancangan harus dapat meminimalkan dampak bangunan dengan mengintegrasikan bangunan itu sendiri dengan proses kehidupan. Rancangan yang bersifat ekologis dapat menginspirasi berbagai bidang seperti salah satunya bidang arsitektur.
Menurut kamus (Cambridge, 2003),
tersebut dapat mengurangi dampak terhadap lingkungan selama siklus bangunan tersebut masih ada.
2.5.2 Pemilihan Tema Arsitektur Hijau
2.5.2.1 Konsep dasar arsitektur hijau dalam pembangunan di Indonesia (Green Building, A Sustainable Consept for Constr uction Development in Indonesia)
Tingkat kesadaran global mengenai lingkungan hidup dan perubahan iklim, khususnya dalam bidang arsitektur dan lingkungan, pada beberapa tahun belakangan ini meningkat dengan tajam. Gerakan hijau yang tengah berkembang pesat saat ini tidak hanya bertujuan untuk melindungi sumber daya alam, tetapi juga diimplementasikan sebagai upaya efisiensi penggunaan energi serta meminimalisir kerusakan lingkungan sekitar. Hal ini tentu sangat bermanfaat apabila dilakukan secara merata dan berkelanjutan, khususnya di Indonesia yang notabene adalah negara yang sedang berkembang. Sosialisasi terhadap upaya-upaya adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim terus dilakukan Pemerintah Indonesia, tetapi tidak semua elemen masyarakat sudah mengetahui dan paham mengenai kedua hal tersebut. Terbukti dari merebaknya SBS (sick building syndrome) pada bangunan-bangunan Indonesia. Bentuk solusi yang menjadi pilihan adalah dengan menerapkan konsep Green Architecture, atau Green Building yang kini sudah dijalankan oleh pemerintah.
Seiring dengan itu, Indonesia telah memiliki lembaga yang mengatur dan menjalankan misi “hijau” untuk membangun bangunan yang lebih ramah lingkungan yaitu GBCI ( Green Building Council Indonesia). GBCI Adalah lembaga mandiri (non government) dan nirlaba (non-for profit) yang berkomitmen penuh terhadap pendidikan masyarakat dalam mengaplikasikan praktik-praktik terbaik lingkungan dan memfasilitasi transformasi industri bangunan global yang berkelanjutan. GBC INDONESIA didirikan pada tahun 2009 dan diselenggarakan oleh sinergi di antara para pemangku kepentingannya, meliputi
- Pemerintah
- Profesional bidang jasa konstruksi - Institusi pendidikan dan penelitian
Lembaga ini merupakan Emerging Member dari World Green Building Council (WGBC) yang berpusat di Toronto, Kanada Salah satu program lembaga ini adalah menyelenggarakan kegiatan Sertifikasi Bangunan Hijau di Indonesia berdasarkan perangkat penilaian khas Indonesia yang disebut GREENSHIP. Melalui lembaga ini pemerintah menyatakan dukungannya untuk menyehatkan kembali kondisi gedung-gedung di perkotaan dari penyakit SBS (sick building syndrome)
Harapan kedepan dari sistem GREENSHIP adalah, seluruh bangunan-bangunan di kota besar di Indonesia sudah bebas dari SBS dengan bukti kepemilikan sertifikat Greenship. Bangunan-bangunan pemerintah khususnya pada daerah DKI Jakarta, sudah mulai menggalakkan “Memenuhi Persyaraatan GreenShip” sertifikat ini dengan harapan ditiru oleh seluruh provinsi di Indonesia
2.5.2.2 Penerapan Green Building dalam fasilitas pendidikan
tindakan moral para arsitek dalam karya-karyanya yang ekologis (berkelanjutan) untuk menghindari isu global yang terus terjadi.
Green Building saat ini menjadi isu yang sangat penting mengingat pembangunan di Indonesia yang semakin pesat dan kebutuhan akan energi yang terus meningkat. Green Building juga merupakan salah satu komponen dalam mendukung pembangunan rendah karbon yakni melalui kebijakan dan program peningkatan efisiensi energi, air dan material bangunan serta peningkatan penggunaan teknologi rendah karbon (Yuwono, 2012). Penerapan Green Building bukan saja memberikan manfaat secara ekologis, tetapi juga bernilai ekonomis, karena dapat menurunkan biaya operasional dan perawatan gedung.
Seiring dengan perkembangan Green Building di Indonesia, Menteri Lingkungan Hidup telah mengeluarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 08 Tahun 2010 tentang Kriteria dan Sertifikasi Bangunan Ramah Lingkungan. Peraturan ini mempertegas peraturan sebelumnya yang telah dikeluarkan pemerintah dalam PP No. 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-undang No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung. Tujuan utama pelaksanaan Green Building yaitu sebagai bentuk pelaksanaan dan pengelolaan pembangunan yang menerapkan prinsip lingkungan dan aspek penting dalam penanganan dampak perubahan iklim.
berbahaya, meningkatkan kepedulian lingkungan, serta meningkatkan pencitraan hijau “green image”. (Geng et al, 2012)
2.5.2.3 Arsitektur Hijau ( Green Architecture)
Pengertian dari tema “ green arsitektur “ terdiri dari 2 kata yaitu: - Green
Menurut kamus Cambridge Advabced Learner (Cambrigde, 2003), green adalah sebuah warna yang terdapat di anatara atau terjadi akibat perpaduan dari warna biru dan warna kuning, selain itu kata green juga dapat berarti kata yang menunjukkan warna dari rumput.
Tetapi Green disini tidak diartikan sebagai lingkungan terbangun yang serba hijau, tapilebih
menekankan kepada keselarasan dengan lingkungan global, yaitu udara, air,tanah dan api.
- Arsitektur
Menurut kamus Cambridge Advabced Learner (Cambrigde, 2003), arsitektur adalah sebuah seni dan ilmu untuk merancang dan membuat bangunan. Selain itu kata arsitektur juga dapat berarti gaya rancangan dalam membuat sebuah bangunan. Untuk menentukan apakah sebuah bangunan merupakan bangunan green arsitektur atau bukan, maka kita dapat menentukannya melalui ciri-cirinya. Ciri-ciri dari green arsitektur adalah :
- Peka terhadap lingkungan
- Konservasi energy ( mengkonsumsi energy seminim mungkin ) - Mengusahakan pencahayaan alami
- Harmonis dengan lingkungan alam dimana bangunan berdiri - Mengusahakan penghawaan alami
- Memakai material daur ulang atau material yang ekologis
Dari beberapa pengertian yang telah disebutkan diatas masih terdapat beberapa teori dan pandangan tentang Green arsitektur menurut beberapa pakar yaitu
Brenda dan Robert Vale, 1991, Green Architecture Design fo Sustainable Future: