PERSEPSI SISWA-SISWI KELAS VII DAN VIII
SMP BOPKRI 3 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2013/2014
TERHADAP MANFAAT LAYANAN BIMBINGAN DI KELAS
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling
Oleh:
Devi Yiska Polly NIM: 091114032
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
PERSEPSI SISWA-SISWI KELAS VII DAN VIII
SMP BOPKRI 3 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2013/2014
TERHADAP MANFAAT LAYANAN BIMBINGAN DI KELAS
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling
Oleh:
Devi Yiska Polly NIM: 091114032
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
SKRIPSI
PERSEPSI SISWA-SISWI KELAS VII DAN VIII
SMP BOPKRI 3 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2013/2014
TERHADAP MANFAAT LAYANAN BIMBINGAN DI KELAS
Oleh: Devi Yiska Polly
091114032
Telah disetujui oleh:
Dosen Pembimbing
SKRIPSI
PERSEPSI SISWA-SISWI KELAS VII DAN VIII
SMP BOPKRI 3 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2013/2014
TERHADAP MANFAAT LAYANAN BIMBINGAN DI KELAS
Dipersiapkan dan ditulis oleh: Devi Yiska Polly NIM: 091114032
Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji pada tanggal 11 Juli 2014
dan dinyatakan memenuhi syarat.
Susunan Panitia Penguji
Nama Lengkap Tanda Tangan
Ketua : Dr. Gendon Barus, M.Si. ...
Sekretaris : A. Setyandari, S.Pd.,S.Psi.,Psi.,M.A. ...
Anggota : Dr. M.M Sri Hastuti, M.Si. ...
Anggota : Dr. Gendon Barus, M.Si. ...
Anggota : A. Setyandari, S.Pd.,S.Psi.,Psi.,M.A. ...
Yogyakarta, 11 Juli 2014
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma
Dekan
PERSEMBAHAN
Kupersembahkan karya ini untuk:
♥ Tuhan Yesus Kristus
♥ Kedua Orang tuaku, Bpk. Atus Nicholas Polly dan Ibu Dorce Dalora
♥ Untuk Kakak Tercinta, Johan Nicholas Polly dan Marlenny Ndaong
♥ Keponakanku yang terkasih,”Si Krucil” Jessika Canina Polly.
♥ Keluarga Besar BN Lubis.
♥ Untuk Cintaku, Doli Partolosa Lubis
♥ Para sahabat dan teman-teman
♥ Almamaterku: Program Studi Bimbingan Dan Konseling,
MOTTO
Bersyukurlah dalam segala hal.
Jika tidak dapat apa yang kita suka..
Belajarlah untuk menyukai apa yang kita dapat.
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku
mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai
sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu
hari depan yang penuh harapan.
(Yeremia 29:11)
Kesabaran adalah kunci menuju rencana Tuhan
yang telah siapkan tepat dan indah pada waktunya.
Thank’s God…
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak
memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam
kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah
Yogyakarta, 11 Juli 2014
Penulis
Devi Yiska Polly
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN
PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:
Nama : Devi Yiska Polly Nomor Mahasiswa : 091114032
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:
PERSEPSI SISWA-SISWI KELAS VII DAN VIII SMP BOPKRI 3 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2013/2014 TERHADAP MANFAAT LAYANAN BIMBINGAN DI KELAS beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya mau pun memberi royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di Yogyakarta
Pada tanggal : 11 Juli 2014
Yang menyatakan
ABSTRAK
PERSEPSI SISWA-SISWI KELAS VII DAN VIII
SMP BOPKRI 3 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2013/2014
TERHADAP MANFAAT LAYANAN BIMBINGAN DI KELAS
Devi Yiska Polly Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta 2014
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan metode survei. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai persepsi siswa-siswi kelas VII dan VIII SMP BOPKRI 3 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 terhadap manfaat layanan bimbingan di kelas. Masalah penelitian ini adalah bagaimanakah persepsi siswa-siswi kelas VII dan VIII SMP BOPKRI 3 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 terhadap manfaat layanan bimbingan di kelas?
Subjek penelitian ini adalah siswa-siswi kelas VII dan VIII SMP BOPKRI 3 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 yang berjumlah 113 siswa. Alat pengumpulan data yang digunakan berbentuk kuesioner manfaat layanan bimbingan di kelas yang disusun oleh peneliti dan kuesioner ini terdiri dari 126 item. Item-item kuesioner terdiri dari penjabaran ragam bimbingan di kelas dan komponen-komponen program layanan bimbingan yaitu: (1) materi bimbingan di kelas, (2) metode bimbingan di kelas, (3) media/alat bimbingan di kelas, (4) pengelolaan kelas, (5) evaluasi program bimbingan di kelas. Teknik analisis data yang digunakan adalah statistik rata-rata, standar deviasi. Subjek dikelompokkan menjadi lima kategorisasi yaitu “Sangat Bermanfaat”, “Bermanfaat”, “Cukup Bermanfaat”, “Tidak Bermanfaat” dan “Sangat Tidak Bermanfaat”.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 47 siswa (42%) berpendapat bahwa layanan bimbingan di kelas sangat bermanfaat, 13 siswa (12%) berpendapat bermanfaat, 23 siswa (20%) berpendapat cukup bermanfaat, 24 siswa (21%) berpendapat tidak bermanfaat dan 6 siswa (5 %) berpendapat sangat tidak bermanfaat.
ABSTRACT
THE PERCEPTION OF GRADE SEVEN AND GRADE EIGHT
STUDENTS OF BOPKRI 3 JUNIOR HIGH SCHOOL,
YOGYAKARTA, SCHOOL YEAR 2013/2014 TOWARDS
BENEFITS OF CLASSROOM GUIDANCE SERVICE
Devi Yiska Polly Sanata Dharma University
Yogyakarta 2014
This research is a descriptive study using survey method. This research is aimed to get a description on perceived benefits of participating in classroom guidance service of grade seven and grade eight students of BOPKRI 3 Junior High School, Yogyakarta, School Year 2013/2014. The problem formulation is stated as followed: what is the perception of grade seven and grade eighth students of BOPKRI 3 Junior High School, Yogyakarta, School Year 2013/2014 towards the benefits of classroom guidance service.
The subjects of this research were 113 students of grade seven and grade eight BOPKRI 3 Yogyakarta, School Year 2013/2014. Data was collected using a questionnaire which measured the benefits of classroom guidance service. The questionnaire was constructed by the author and consisted of 126 items. The items were elaborated based on areas of guidance services and components of classroom guidance service, i.e. (1) materials of classroom guidance; (2) methods of classroom guidance; (3) media of classroom guidance; (4) class management; (5) evaluation on classroom guidance service. Data were analyzed to find mean and standard deviation. Subjects were categorized into five categorizations, i.e. “Very Useful”, “Useful”, “Somewhat Useful”, “Not Very Useful”, “Not At All Useful”.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas penyertaan-Nya dan
bimbingan-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
Begitu besar kasih-Nya kepada setiap orang yang berharap kepada-Nya sehingga
Ia selalu menopang dan meneguhkan setiap usaha dan karya peneliti. Peneliti
menyadari bahwa terdapat banyak dukungan, bimbingan dan doa demi kelancaran
dan terselesaikannya skripsi ini. Oleh karena itu, peneliti mengucapkan terima
kasih kepada:
1. Dr. Gendon Barus, M.Si, selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan
Konseling Universitas Sanata Dharma yang telah membantu dan
memberikan kelancaran dalam proses penyelesaian skripsi ini.
2. A. Setyandari, S.Pd.,S.Psi.,Psi.,M.A, selaku Wakaprodi Bimbingan dan
Konseling Universitas Sanata Dharma yang telah membantu dan
memberikan kelancaran dalam proses penyelesaian skripsi ini.
3. Dr. M.M Sri Hastuti, M.Si, selaku Dosen pembimbing yang dengan
penuh kesabaran dan ketulusan hati membimbing, menuntun, peneliti
selama penulisan skripsi hingga akhirnya skripsi ini selesai dengan baik.
4. Drs. R.H.DJ. Sinurat, M.Si dan Prias Hayu Purbaning Tyas, M.Pd, selaku
Dosen penguji yang telah memberikan masukan terbaik untuk
5. Ibu Tri Nurjayanti, S.Pd, selaku Koordinator BK dan Bapak Catur Suryo
Nugroho, S.Psi, selaku Staf BK di SMP BOPKRI 3 Yogyakarta yang
dengan sabar dan ikhlas meluangkan waktu dan mendampingi peneliti
dalam proses pengumpulan data.
6. Para siswa dan siswi kelas VII dan VIII SMP BOPKRI 3 Yogyakarta
tahun ajaran 2013/2014 yang telah meluangkan waktu dan bersedia
mengisi kuesioner dengan baik.
7. Kedua Orang Tuaku, Bapak Atus Nicholas Polly dan Ibu Dorce Dalora
yang selalu setia dengan cinta dan kasih sayangnya untuk mendukung,
memberikan perhatian, semangat serta mendoakan peneliti sampai saat
ini.
8. Kakak terkasih, Johan Nicholas Polly dan Lenny Marlin Ndaong serta
“Si Krucil” Jessika Canina Polly yang dengan semangat, keceriaannya
mendukung dan mendoakan peneliti.
9. Keluarga Besar BN LUBIS, yang selalu mendukung, memberikan
perhatian dan mendoakan peneliti selama menyelesaikan skripsi ini
dengan baik.
10. Yang Tercinta, dengan cinta dan kasihnya
mendukung, mendoakan, menemani dan mendampingi peneliti selama
11. Para sahabat dan teman seperjuangan, Birgitta Fitri Kurniasari, Ninda
Hapsari Putri, Nasarani Ramoti Suslia Simaremare, Caecilia Tika
Ningtyas, yang telah membantu peneliti untuk saling belajar, sharing,
meminjamkan referensi buku, kebersamaan, memberi semangat dan
memberikan dukungan yang berarti.
12. Untuk Mas Moko yang selalu setia dan sabar membantu penulis dalam
kelancarkan administrasi.
13. Keluarga besar Program studi Bimbingan dan konseling USD terkhusus
Teman-teman BK angkatan 2009.
Akhirnya, peneliti berharap semoga skripsi ini dapat memberikan banyak
manfaat bagi pembaca.
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
HALAMAN MOTTO ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
LEMBARAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR TABEL ... xvi
DAFTAR GAMBAR ... xviii
DAFTAR LAMPIRAN ... xix
BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang ... 1
B.Rumusan Masalah ... 6
C.Tujuan Penelitian ... 6
D.Manfaat Penelitian 1. Manfaat secara teoritis ... 7
2. Manfaat praktis ... 7
E. Definisi Operasional 1. Persepsi terhadap layanan bimbingan di kelas ... 7
2. Layanan bimbingan di kelas ... 8
BAB II KAJIAN TEORETIS
A.Persepsi
1. Pengertian persepsi ... 9
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi ... 10
B.Layanan Bimbingan di Kelas 1. Pengertian layanan bimbingan di kelas ... 16
2. Tujuan bimbingan di kelas ... 18
3. Manfaat layanan bimbingan di kelas ... 20
4. Ragam bimbingan di kelas ... 21
5. Komponen-komponen program layanan bimbingan di kelas ... 26
BAB III METODE PENELITIAN A.Jenis Penelitian ... 32
B.Subyek Penelitian 1. Populasi ... 32
2. Sample ... 33
C.Instrumen Penelitian 1. Alat ukur pengumpulan data ... 34
2. Format pernyataan ... 35
3. Penentuan skor (scoring) ... 35
4. Kisi-kisi kuesioner ... 36
5. Validitas dan reliabilitas ... 38
D.Prosedur Pengumpulan Data 1. Tahap persiapan ... 41
2. Tahap pelaksanaan pengumpulan data ... 42
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.Hasil Penelitian
1. Persepsi siswa-siswi kelas VII dan VIII SMP BOPKRI 3 Yogyakarta
tahun ajaran 2013/2014 terhadap manfaat layanan bimbingan
di kelas ... 48
2. Analisis item kuesioner manfaat layanan bimbingan di kelas ... 50
B.Pembahasan ... 56
BAB V PENUTUP A.Kesimpulan ... 62
B.Saran ... 62
DAFTAR PUSTAKA ... 64
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Jumlah Populasi Siswa-siswi kelas VII dan VIII
SMP BOPKRI 3 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 ... 33
Tabel 2 Jumlah Sample Siswa-siswi kelas VII dan VIII SMP BOPKRI 3 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 ... 34
Tabel 3 Kisi-kisi Kuesioner Manfaat Layanan Bimbingan di Kelas ... 36
Tabel 4 Item-Item Kuesioner yang Tidak Valid ... 39
Tabel 5 Kualifikasi Koefisien Reliabilitas ... 41
Tabel 6 Pelaksanaan Pengumpulan Data... 43
Tabel 7 Norma Kategorisasi Persepsi Siswa-Siswi Kelas VII dan VIII SMP BOPKRI 3 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 Terhadap Manfaat Layanan Bimbingan Di Kelas ... 44
Tabel 8 Kategori Persepsi Siswa-Siswi Kelas VII Dan VIII SMP BOPKRI 3 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 Terhadap Manfaat Layanan Bimbingan Di Kelas ... 45
Tabel 9 Norma Kategori Item Kuesioner Manfaat Layanan Bimbingan di Kelas ... 46
Tabel 10 Kategori Item Kuesioner Manfaat Layanan Bimbingan di Kelas 47
Tabel 11 Persepsi Siswa-Siswi Kelas VII dan VIII SMP BOPKRI 3 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 Terhadap Manfaat Layanan Bimbingan Di Kelas ... 48
Tabel 13 Item-Item Kuesioner Manfaat Layanan Bimbingan di Kelas yang
Tergolong Kategori Tinggi... 50
Tabel 14 Item-Item Kuesioner Manfaat Layanan Bimbingan di Kelas yang
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Persepsi Siswa-Siswi Kelas VII dan VIII SMP BOPKRI 3
Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 Terhadap Manfaat
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat Izin Penelitian ... 66
Lampiran 2 Surat Telah Melaksanakan Penelitian ... 67
Lampiran 3 Kisi-Kisi Instumen Penelitian... 68
Lampiran 4 Kuesioner Manfaat Layanan Bimbingan di Kelas ... 75
Lampiran 5 Uji Validitas... 84
Lampiran 6 Uji Reliabilitas Sebelum Uji Validitas ... 94
Lampiran 7 Uji Reliabilitas Sesudah Uji Validitas ... 95
BAB I
PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian,
manfaat penelitian, dan definisi operasional.
A. Latar Belakang
Bimbingan dan Konseling merupakan salah satu bagian yang tidak dapat
terpisahkan dari keseluruhan bidang pendidikan di sekolah. Salah satu
kegiatan bimbingan dan konseling yang dilakukan oleh guru bimbingan dan
konseling (BK) adalah bimbingan di kelas. Layanan bimbingan di kelas
merupakan bimbingan yang diberikan oleh guru bimbingan dan konseling
(BK) untuk para siswa dalam satuan kelas pada tingkatan kelas tertentu dan
pada jadwal yang telah ditentukan dari pihak sekolah.
Melalui layanan bimbingan di kelas, guru bimbingan dan konseling (BK)
memberikan informasi yang revelan mencakup semua aspek kehidupan siswa
seperti akademik, pribadi-sosial, karier secara terus menerus dan saling
berkaitan sebagai upaya untuk membantu siswa berkembang secara optimal
sesuai dengan taraf perkembangannya. Layanan bimbingan di kelas diberikan
dalam bentuk kegiatan yang beragam seperti diskusi kelompok, bermain
sambil belajar (games), pemberian informasi, dan pelatihan. Kegiatan di atas
dapat disesuaikan dengan topik-topik bimbingan yang ingin diberikan kepada
Berdasarkan pengalaman dan pengamatan peneliti melaksanakan
Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMP BOPKRI 3 Yogyakarta pada
bulan Agustus 2012, ketika layanan bimbingan di kelas berlangsung siswa
tidak serius. Hal ini tampak dari sikap siswa yang tidak peduli dan tidak
memperhatikan bimbingan yang sedang berlangsung seperti mengerjakan
tugas mata pelajaran lain, mengobrol dengan teman sebangkunya, ada yang
tidur dalam kelas hingga ada siswa yang meninggalkan kelas tanpa izin.
Pengalaman pertama, peneliti peroleh ketika memberikan layanan
bimbingan kepada siswa kelas VII dengan topik bimbingan “Manajemen
Waktu”. Beberapa siswa menunjukkan sikap tidak peduli akan layanan
bimbingan; siswa tidur di dalam kelas pada saat kegiatan bimbingan
berlangsung, ada juga siswa yang mengobrol dengan teman sebangku, ada
siswa yang mengerjakan tugas mata pelajaran lain.
Pengalaman kedua, keadaan yang sama juga peneliti temukan ketika
mengobservasi guru bimbingan dan konseling (BK) memberikan layanan
bimbingan kepada siswa kelas IX dengan topik bimbingan “Motivasi dan
Keterampilan Belajar”. Selama kegiatan bimbingan di kelas berlangsung,
siswa berjalan-jalan di dalam kelas tanpa memperhatikan materi bimbingan
yang sedang diberikan, siswa bertanya kepada guru bimbingan dan konseling
(BK) mengenai hal yang tidak ada kaitannya dengan materi bimbingan saat
itu, siswa mengobrol dengan teman sebangkunya dan siswa suka melontarkan
Pengalaman ketiga, peneliti peroleh ketika mengobservasi teman
praktikan pada saat memberikan layanan bimbingan di kelas kepada siswa
kelas IX dengan topik bimbingan “Menentukan Skala Prioritas”. Siswa
menunjukkan sikap yang kurang menyenangkan seperti siswa bertanya
kepada teman praktikan tentang hal yang tidak ada kaitannya dengan materi
bimbingan, siswa mengerjakan tugas pelajaran lain, ada siswa tidur di dalam
kelas saat kegiatan bimbingan berlangsung, dan meninggalkan kelas tanpa
izin.
Menurut pengalaman dan pengamatan peneliti, ketika melaksanakan
Program Pengalaman Lapangan (PPL), dalam memberikan layanan
bimbingan di kelas guru bimbingan dan konseling (BK) seharusnya
menyiapkan materi bimbingan sesuai dengan tugas perkembangan, kebutuhan
siswa dan Up To Date dalam hal informasi yang diberikan kepada siswa, guru
BK harus dapat memberikan kegiatan bimbingan yang menarik, dan guru BK
juga harus memiliki kemampuan mengelola kelas dengan baik agar tercipta
suasana kelas yang kondusif. Respon yang diharapkan muncul pada saat guru
BK memberikan layanan bimbingan di kelas adalah siswa memberikan
perhatian selama mengikuti kegiatan layanan bimbingan di kelas, sehingga
siswa dapat menemukan makna/manfaat dalam kegiatan layanan bimbingan
tersebut.
Pernyataan peneliti di atas, diperkuat dengan adanya penjelasan dari
Ketut dan Nila (2008: 24-29), bahwa dalam melaksanakan layanan bimbingan
pengelola pembelajaran, pengarah pembelajaran, pembimbing, pelaksana
kurikulum. Secara singkat dijelaskan sebagai berikut:
1. Menyiapkan materi yang relevan dengan tujuan, waktu, fasilitas,
perkembangan ilmu, kebutuhan dan kemampuan siswa, komprehensif,
sistematis, dan fungsional efektif.
2. Merancang metode yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi siswa.
3. Memiliki kemampuan untuk mengelola seluruh proses kegiatan belajar
mengajar dengan menciptakan kondisi-kondisi belajar sedemikian rupa
sehingga setiap siswa dapat belajar dengan efektif dan efisien.
4. Guru sebaiknya dapat memunculkan, memelihara dan meningkatkan
motivasi siswa untuk belajar.
5. Guru hendaknya secara terus menerus mengikuti hasil belajar yang telah
dicapai siswa dari waktu-waktu.
6. Guru harus memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan kurikulum.
7. Dalam memberikan bimbingan, guru sebaiknya mempersiapkan dengan
baik. Guru dituntut untuk memberikan berbagai informasi, membantu
setiap siswa mengatasi masalah.
Dari pengalaman dan pengamatan peneliti, ketika hal-hal yang dituntut
dalam melaksanakan layanan bimbingan di kelas telah diberikan kepada
siswa. Hal yang terjadi justru siswa yang tidak terlihat serius mengikuti
layanan bimbingan di kelas, sikap siswa yang tidak serius tersebut seperti
memperhatikan kegiatan bimbingan di kelas. Peneliti berpendapat bahwa
ketika siswa bersikap tidak serius mengikuti layanan bimbingan di kelas, dan
siswa tidak memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru BK maka siswa
tidak dapat menangkap manfaat dari layanan bimbingan di kelas.
Sikap siswa yang tidak peduli dan tidak memperhatikan layanan
bimbingan di kelas kemungkinan dipengaruhi oleh persepsi terhadap
pengalaman yang kurang menyenangkan selama mengikuti layanan
bimbingan di kelas.
Persepsi adalah pemahaman seseorang terhadap suatu stimuli dengan
pengetahuan yang dimiliki dan yang telah dipelajari untuk dapat memberikan
penilaian dan memahami arti dari stimuli yang muncul. Setiap siswa memiliki
penilaian berbeda walau dihadapkan dalam situasi yang sama. Cara siswa
menerima, mengorganisasi dan menginterpretasikan informasi di dalam
kehidupannya akan mempengaruhi persepsi siswa terhadap sesuatu.
Pengalaman siswa mengikuti layanan bimbingan di kelas tentu memiliki
penilaian atau makna sendiri bagi siswa. Persepsi siswa yang kurang baik
mengenai manfaat layanan bimbingan di kelas, akan memunculkan
sikap/respon tidak serius dalam mengikuti layanan bimbingan di kelas seperti
mengerjakan tugas pelajaran lain, tidur di kelas saat bimbingan berlangsung,
meninggalkan kelas tanpa izin, dan mengobrol dengan teman sebangku tanpa
Dari pernyataan di atas, peneliti tertarik untuk mengetahui tentang
persepsi siswa-siswi terhadap manfaat layanan bimbingan di kelas pada SMP
BOPKRI 3 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014. Dengan itu, peneliti ingin
membuat penelitian dengan judul “Persepsi Siswa-Siswi Kelas VII dan VIII
SMP BOPKRI 3 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 Terhadap Manfaat
Layanan Bimbingan di Kelas”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti merumuskan masalah
sebagai berikut: Bagaimanakah persepsi siswa-siswi kelas VII dan VIII SMP
BOPKRI 3 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 terhadap manfaat layanan
bimbingan di kelas?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai
dalam penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran yang jelas
mengenai persepsi siswa-siswi kelas VII dan VIII SMP BOPKRI 3
Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 terhadap manfaat layanan bimbingan di
kelas.
D. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang
1. Manfaat secara teoritis
Memberikan sumbangan pengetahuan kepada guru pembimbing
terhadap persepsi siswa-siswi mengenai manfaat layanan bimbingan di
kelas.
2. Manfaat praktis
Hasil dari penelitian ini, diharapkan dapat bermanfaat bagi:
a. Peneliti
Memperoleh pemahaman mengenai persepsi siswa-siswi kelas
VII dan VIII SMP BOPKRI 3 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014
terhadap manfaat layanan bimbingan di kelas.
b. Guru bimbingan dan konseling
Sebagai masukan untuk peningkatan mutu layanan bimbingan di
kelas agar siswa dapat serius mengikuti kegiatan layanan bimbingan
di kelas dan mampu mengidentifikasi makna/manfaat dari layanan
bimbingan di kelas.
E. Definisi Operasional
1. Persepsi terhadap manfaat layanan bimbingan di kelas
Pendapat atau tanggapan siswa-siswi tentang manfaat layanan
bimbingan di kelas yang diberikan oleh guru bimbingan dan konseling di
2. Layanan bimbingan di kelas
Bimbingan yang diselenggarakan di dalam kelas oleh guru
bimbingan dan konseling selama waktu yang telah ditetapkan oleh pihak
sekolah.
3. Manfaat layanan bimbingan di kelas
Perubahan-perubahan positif yang terjadi pada diri siswa setelah
mengikuti layanan bimbingan di kelas yang dilaksanakan oleh guru
BAB II
KAJIAN TEORETIS
Bab ini akan membahas tentang persepsi (pengertian persepsi, faktor-faktor
yang mempengaruhi persepsi), layanan bimbingan di kelas (pengertian layanan
bimbingan di kelas, tujuan bimbingan di kelas, manfaat layanan bimbingan di
kelas, ragam bimbingan di kelas, komponen-komponen program layanan
bimbingan di kelas).
A. Persepsi
1. Pengertian persepsi
Persepsi telah diuraikan oleh berbagai tokoh di bidang psikologi,
antara lain:
a. Menurut Rakmat (1985: 64), persepsi adalah pengalaman tentang
objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan
menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.
b. Menurut Sarwono (2009: 86), persepsi adalah kemampuan untuk
membeda-bedakan, mengelompokkan, dan memfokuskan yang
selanjutnya diinterpretasikan.
c. Leavitt (1978, dalam Desmita, 2009: 117) mengungkapkan
perception dalam pengertian sempit adalah “penglihatan”, yaitu
bagaimana cara seseorang melihat sesuatu; sedangkan dalam arti
luas, perception adalah “pandangan”, yaitu bagaimana seseorang
d. Persepsi adalah suatu proses penggunaan pengetahuan yang telah
dimiliki (yang disimpan di dalam ingatan) untuk mendeteksi atau
memperoleh dan menginterpretasi stimulus (rangsangan) yang
diterima oleh alat indera seperti mata, telinga, dan hidung (Matlin,
1989; Solso,1988, dalam Suharnan, 2005: 23).
e. Persepsi adalah proses mengintegrasikan, mengenali, dan
menginterpretasikan informasi yang diterima oleh sistem sensori,
sehingga individu menyadari dan mengetahui apa yang diindera
sebagai bentuk respon (Walgito, 2003 & Pinel, 2009, dalam
Puspitawati, dkk, 2012: 113).
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, peneliti menyimpulkan
bahwa persepsi adalah proses seseorang menerima stimulus (rangsangan)
dari luar (lingkungan sekitar) yang diterima dengan alat indera seperti
mata, telinga, hidung sehingga yang bersangkutan mempunyai suatu
penilaian (berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki)
terhadap stimulus. Persepsi individu terhadap objek tertentu akan
mempengaruhi pikirannya.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi
Menurut Irwanto dkk (1988: 76-77), persepsi lebih bersifat
psikologis daripada merupakan proses penginderaan saja, dan ada
a. Perhatian yang selektif
Dalam kehidupan manusia, setiap saat akan menerima banyak
sekali stimulus dari lingkungannya. Meskipun demikian, individu
tidak harus menanggapi semua rangsang yang diterimanya. Untuk
itu, individu dapat memusatkan perhatiannya pada stimulus-stimulus
tertentu saja. Dengan demikian, objek-objek atau gejala-gejala lain
tidak akan tampil ke muka sebagai objek pengamat.
b. Ciri-ciri stimulus
Stimulus yang bergerak diantara stimulus yang diam akan lebih
menarik perhatian. Demikian juga stimulus yang paling besar di
antara yang kecil; yang kontras dengan latar belakangnya dan yang
intensitas stimulusnya paling kuat.
c. Nilai-nilai dan kebutuhan individu
Seorang seniman tentu punya pola dan cita rasa yang berbeda
dalam pengamatannya dibandingkan seorang bukan seniman.
Penelitian lain menunjukkan bahwa anak-anak dari golongan
ekonomi rendah melihat koin (mata uang logam) lebih besar
dibandingkan anak-anak orang kaya.
d. Pengalaman terdahulu
Pengalaman-pengalaman terdahulu sangat mempengaruhi
bagaimana seseorang mempersepsikan dunianya. Cermin bagi kita
Mentawai di Pedalaman Siberut atau saudara-saudara kita di
Pedalaman Irian.
Stimulus diterima dengan proses penginderaan, maka data yang
diterima individu perlu disaring dan diseleksi untuk proses lebih lanjut.
Menurut Sobur (2003: 452-453), seleksi persepsi dipengaruhi oleh dua
faktor, diantaranya faktor intern dan faktor ekstern. Masing-masing
faktor akan dijelaskan sebagai berikut:
a. Faktor-faktor intern yang mempengaruhi seleksi persepsi
1) Kebutuhan psikologis
Kebutuhan psikologis seseorang mempengaruhi seleksi
persepsi. Kadang-kadang, ada hal yang “kelihatan” (yang
sebenarnya tidak ada), karena kebutuhan psikologis. Dalam satu
percobaan kepada orang-orang yang dibiarkan lapar untuk
beberapa waktu, diperlihatkan beberapa gambar dan mereka
diminta untuk menuliskan apa yang mereka lihat. Kebanyakan
dari mereka melaporkan adanya makanan dalam persepsi
mereka.
2) Latar belakang
Latar belakang mempengaruhi hal-hal yang dipilih dalam
seleksi persepsi. Orang-orang dengan latar belakang tertentu
mencari orang-orang dengan latar belakang yang sama. Mereka
mengikuti dimensi tertentu yang serupa dengan mereka.
institusi manajemen, lebih mendekati seseorang yang
mempunyai pendidikan yang serupa jika ia masuk suatu
organisasi dan berjumpa dengan dia.
3) Pengalaman
Yang serupa dengan latar belakang ialah faktor pengalaman.
Pengalaman mempersiapkan seseorang untuk mencari
orang-orang, hal-hal, dan gejala-gejala yang mungkin serupa dengan
pengalaman pribadinya. Misalnya, seseorang yang mempunyai
pengalaman buruk dengan orang-orang yang mempunyai bahasa
ibu tertentu, mungkin akan cepat mengenali orang-orang yang
termasuk kelompok itu, kendati dalam lingkungan lain. Dan,
mungkin mereka lebih cepat menarik perhatiannya karena
persepsi yang kurang baik itu.
4) Kepribadian
Kepribadian juga mempengaruhi seleksi persepsi. Seorang
yang introvert (tertutup) mungkin akan tertarik kepada
orang-orang yang serupa atau sama sekali berbeda.
5) Sikap dan kepercayaan umum
Sikap dan kepercayaan umum juga mempengaruhi seleksi
persepsi. Orang yang mempunyai sikap tertentu terhadap
karyawan wanita atau karyawan yang termasuk kelompok
bahasa tertentu, besar kemungkinan akan melihat berbagai hal
6) Penerimaan diri
Penerimaan diri merupakan sifat penting yang
mempengaruhi seleksi persepsi. Beberapa telaah menunjukkan
bahwa mereka yang lebih ikhlas menerima kenyataan diri akan
lebih tepat menyerap sesuatu daripada mereka yang kurang
ikhlas menerima realitas dirinya.
b. Faktor-faktor ekstern yang mempengaruhi seleksi persepsi
Selain faktor intern, Sobur (2003: 453-455) dan Walgito (2010:
127-128) memiliki pendapat yang sama dengan beberapa faktor
ekstern yang dianggap penting pengaruhnya terhadap seleksi
persepsi, ialah:
1) Intensitas
Pada umumnya, rangsangan yang lebih intensif,
mendapatkan lebih banyak tanggapan daripada rangsangan yang
kurang intens. Misalnya, lampu yang lebih terang lebih
diperhatikan orang ketimbang lampu yang redup pada malam
hari.
2) Ukuran
Pada umumnya, benda-benda yang lebih besar lebih
menarik perhatian. Barang yang lebih besar lebih cepat dilihat.
Misalnya, Suatu headline yang besar dari surat kabar akan lebih
menarik perhatian apabila dibandingkan dengan huruf-huruf
3) Kontras
Biasanya, hal-hal yang dari yang biasa kita lihat akan cepat
menarik perhatian. Seseorang pekerja yang sangat berlainan dari
pekerja yang lain, akan menonjol. Banyak orang secara sadar
atau tidak, melakukan hal-hal yang aneh untuk menarik
perhatian. Perilaku yang luar biasa menarik perhatian karena
prinsip-prinsip perbedaan itu.
4) Gerakan
Hal-hal yang bergerak lebih menarik perhatian daripada
hal-hal yang diam.
5) Ulangan
Biasanya, hal-hal yang berulang-ulang dapat menarik
perhatian. Misalnya, Orang yang minta tolong dan diucapkan
berulang kali, akan lebih menarik perhatian apabila
dibandingkan hanya diucapkan sekali saja.
6) Keakraban
Hal-hal yang akrab atau dikenal lebih menarik perhatian.
Hal ini terutama jika hal tertentu tidak diharapkan dalam rangka
tertentu. Misalnya, di negara asing yang tidak terdapat banyak
orang dari bangsa kita, kita akan segera tertarik oleh bentuk
wajah yang kita kenal jika kita melihat seseorang dari negara
7) Sesuatu yang baru
Faktor ini kedengarannya bertentangan dengan faktor
keakraban. Akan tetapi, hal-hal baru juga menarik perhatian.
Jika orang sudah biasa dengan kerangka yang sudah dikenal,
sesuatu yang baru akan menarik perhatian. Misalnya, kalau
seseorang sedang mengendarai mobil, si pengemudi segera
menyadari suara aneh dari mesinnya, karena ia mengenali suara
yang biasanya ia dengar dari berbagai bagian mobil.
B. Layanan Bimbingan di Kelas
1. Pengertian layanan bimbingan di kelas
Prayitno (1983: 2 dan 1987: 35, dalam Ketut dan Nila, 2008: 2)
mengungkapkan bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada
seseorang (individu) atau sekelompok orang agar individu yang
bersangkutan dapat berkembang menjadi pribadi-pribadi yang mandiri.
Kemandirian ini mencakup lima fungsi pokok yang hendaknya
dijalankan oleh pribadi yang mandiri, yaitu: mengenal diri sendiri dengan
lingkungannya, menerima diri sendiri dan lingkungannya secara positif
dan dinamis, mengambil keputusan, mengarahkan diri dan mewujudkan
diri.
Individu yang dimaksud adalah siswa-siswi yang berada di sekolah,
pelayanan bimbingan di sekolah menjadi penting dalam segala usaha
membantu siswa untuk memahami dirinya sendiri dan lingkungan
Menurut Juntika (2006: 17) dan Supriatna (2011: 67), layanan dasar
bimbingan adalah layanan bantuan bagi seluruh siswa (for all) melalui
kegiatan-kegiatan di dalam kelas atau di luar kelas, yang disajikan secara
sistematis, dalam rangka membantu siswa mengembangkan potensi
dirinya secara optimal. Hal ini berarti bahwa dalam peluncuran program
yang telah dirancang menuntun guru bimbingan dan konseling untuk
melakukan kontak langsung dengan para siswa di kelas. Secara terjadwal,
guru bimbingan dan konseling memberikan layanan bimbingan kepada
para siswa. Kegiatan layanan ini merupakan pemberian informasi tentang
berbagai hal yang dipandang bermanfaat bagi siswa.
Berdasarkan model American School Counselor Association
(ASCA) (2005, dalam Farozin, 2012: 150), bimbingan di kelas
merupakan bentuk kegiatan yang diselenggarakan dalam layanan dasar
(guidancecurriculum). Komponen layanan dasar bersifat developmental,
sistematik, terstruktur, dan disusun untuk meningkatkan kompetensi
sosial, pribadi, belajar dan karir siswa.
Bimbingan di kelas merupakan suatu layanan bimbingan yang
dilakukan oleh pembimbing di dalam kelas. Dalam kegiatan ini,
pembimbing menyampaikan berbagai materi bimbingan melalui berbagai
pendekatan dan teknik yang dimaksudkan untuk memberikan
pengetahuan dan/atau keterampilan kepada siswa sehingga siswa dapat
mengunakannya untuk mencapai perkembangan yang optimal dalam
Bimbingan di kelas juga didefinisikan sebagai pembelajaran tentang
perkembangan secara terstruktur dan sistematis yang dirancang untuk
membantu siswa mencapai kompetensi perkembangan yang diharapkan
sesuai dengan taraf perkembangan yang sedang dialami (TIM PENULIS,
2013: 314).
Bimbingan di kelas merupakan proses yang direncanakan untuk
membantu populasi sekolah memperoleh informasi, keterampilan atau
pengalaman yang berguna dan dibutuhkan. Ruang kelas terbukti menjadi
lingkup paling efektif untuk mewujudkan program semacam itu, dan
program bimbingan pada umumnya tidak berkurang, bahkan faktanya
dapat mengembangkan lebih dari kurikulum reguler yang terus-menerus
berlangsung (Gibson dan Mitchell, 2011: 304).
Sink (2005: 21) mengatakan bahwa bimbingan di kelas adalah
metode yang efektif untuk guru bimbingan dan konseling dalam
membantu sejumlah besar siswa di dalam kelas dan mendapatkan
informasi yang relevan dan bermanfaat bagi siswa. Dengan itu, guru
bimbingan dan konseling perlu mendapatkan pengajaran dalam hal
mengajar dan mengelola kelas dengan baik untuk membuat suasana kelas
yang mendukung dalam memberikan pelayanan bimbingan di kelas.
2. Tujuan bimbingan di kelas
Tujuan pemberian layanan bimbingan di kelas ialah agar siswa dapat
1) Merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karier,
seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin; 3)
Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan
masyarakat, serta lingkungan kerjanya. 4) Mengatasi hambatan serta
kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan
pendidikan, masyarakat, ataupun lingkungan kerja (Juntika, 2006: 8).
Untuk mencapai tujuan-tujuan di atas, siswa harus mendapatkan
kesempatan untuk 1) Mengenal dan memahami potensi, kekuatan serta
tugas-tugasnya; 2) Mengenal dan memahami potensi-potensi yang ada di
lingkungannya; 3) Mengenal dan menentukan tujuan, rencana hidupnya,
serta rencana pencapaian tujuan tersebut; 4) Memahami dan mengatasi
kesulitan-kesulitan sendiri; 5) Menggunakan kemampuannya untuk
kepentingan dirinya, lembaga tempat bekerja dan masyarakat; 6)
Menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya; 7)
Mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara
tepat, teratur dan optimal (Juntika, 2006: 8).
Dari pengertian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa tujuan dari
layanan bimbingan di kelas adalah guru BK menyampaikan informasi
yang dapat berpengaruh terhadap tercapainya perkembangan yang
optimal seluruh aspek perkembangan, peningkatan pemahaman dan
3. Manfaat layanan bimbingan di kelas
Layanan bimbingan di kelas mempunyai manfaat, baik bagi tenaga
bimbingan profesional sendiri maupun bagi para siswa (Winkel dan
Hastuti, 2006: 565).
a. Manfaat bagi tenaga bimbingan sendiri;
1) Mendapatkan kesempatan untuk berkontak dengan banyak siswa
sekaligus, sehingga guru BK menjadi di kenal;
2) Menghemat waktu dan tenaga dalam kegiatan yang dapat di
lakukan dalam suatu kelompok;
3) Memperluas ruang geraknya lebih-lebih bila jumlah tenaga
profesional di sekolah hanya satu-dua orang saja.
b. Manfaat bagi para siswa;
1) Menjadi lebih sadar akan tantangan yang dihadapi, sehingga
mereka memutuskan untuk berwawancara secara pribadi dengan
guru BK;
2) Lebih rela menerima dirinya sendiri, setelah menyadari bahwa
teman-temannya sering menghadapi persoalan, kesulitan dan
tantangan yang kerap kali sama;
3) Lebih berani mengemukakan pandangannya sendiri bila berada
dalam kelompok;
4) Diberi kesempatan untuk mendiskusikan sesuatu bersama dan
dengan demikian mendapat latihan bergerak dalam suatu
5) Lebih bersedia menerima suatu pandangan atau pendapat bila
dikemukakan oleh seorang teman;
6) Tertolong untuk mengatasi suatu masalah yang dirasa sulit
untuk dibicarakan secara langsung dengan guru BK.
4. Ragam bimbingan di kelas
Ragam bimbingan di kelas menunjukkan pada bidang kehidupan
tertentu atau aspek perkembangan tertentu yang menjadi fokus perhatian
dalam pelayanan bimbingan; dengan kata lain tentang apa yang diberikan
(Winkel dan Hastuti, 2006: 113). Dilihat dari masalah yang dialami
siswa, ada 4 ragam bimbingan, yaitu (1) Bimbingan akademik, (2)
Bimbingan pribadi, (3) Bimbingan sosial, dan (4) Bimbingan karier.
a. Bimbingan pribadi
Dalam bidang bimbingan pribadi, pelayanan bimbingan dan
konseling di SMP, SMA/SMK membantu siswa menemukan dan
mengembangkan pribadi yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan
Yang Maha Esa, mantap dan mandiri, serta sehat jasmani dan rohani.
Bidang ini dapat dirinci menjadi pokok-pokok berikut:
1) Pemantapan sikap dan kebiasaan serta pengembangan wawasan
dalam beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
2) Pemantapan pemahaman tentang kekuatan diri dan
pengembangan untuk kegiatan-kegiatan yang kreatif dan
produktif, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun untuk
3) Pemantapan pemahaman tentang bakat dan minat pribadi serta
penyaluran dan pengembangannya melalui kegiatan-kegiatan
yang kreatif dan produktif.
4) Pemantapan pemahaman tentang kelemahan diri dan
usaha-usaha penanggulangannya.
5) Pemantapan kemampuan mengambil keputusan.
6) Pemantapan kemampuan mengarahkan diri sesuai dengan
keputusan yang telah diambilnya.
7) Pemantapan dalam perencanaan dan penyelenggaraan hidup
sehat, baik secara rohaniah maupun jasmaniah. (Ketut dan Nila,
2008: 12)
b. Bimbingan sosial
Dalam bidang bimbingan sosial, pelayanan bimbingan dan
konseling di SMP, SMA/SMK membantu siswa mengenal dan
berhubungan dengan lingkungan sosialnya yang dilandasi budi
pekerti luhur, tanggung jawab kemasyarakatan dan kenegaraan.
Bidang ini dapat dirinci menjadi pokok-pokok berikut:
1) Pemantapan kemampuan berkomunikasi, baik melalui ragam
lisan maupun tulisan secara efektif.
2) Pemantapan kemampuan menerima dan menyampaikan
pendapat serta berargumentasi secara dinamis, kreatif dan
3) Pemantapan kemampuan bertingkah laku dan berhubungan
sosial, baik di rumah, di sekolah, maupun di masyarakat luas
dengan menjunjung tinggi tata krama, sopan santun, serta
nilai-nilai agama, adat, hukum, ilmu, dan kebiasaan yang berlaku.
4) Pemantapan hubungan yang dinamis, harmonis, dan produktif
dengan teman sebaya, baik di sekolah yang sama, di sekolah
lain, di luar sekolah, maupun di masyarakat pada umumnya.
5) Pemantapan pemahaman kondisi dan peraturan sekolah serta
upaya pelaksanaannya secara dinamis dan bertanggung jawab.
6) Orientasi tentang hidup berkeluarga. (Ketut dan Nila, 2008: 13)
c. Bimbingan akademik/ belajar
Bimbingan akademik, yaitu bimbingan yang diarahkan untuk
membantu para siswa dalam menghadapi dan menyelesaikan
masalah akademik (Juntika, 2006: 15).
Bimbingan akademik ialah bimbingan dalam hal menemukan
cara belajar yang tepat dalam memilih program studi yang sesuai,
dan dalam mengatasi kesukaran yang timbul berkaitan dengan
tuntutan-tuntutan belajar di suatu institusi pendidikan (Winkel dan
Hastuti, 2006: 115).
Dalam bidang bimbingan belajar, pelayanan bimbingan dan
konseling di SMP, SMA/SMK membantu siswa mengembangkan
diri, sikap dan kebiasaan belajar yang baik untuk menguasai
melanjutkan pendidikan pada tingkat yang lebih tinggi. Bidang ini
dapat dirinci menjadi pokok-pokok berikut:
1) Pemantapan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif dan efisien
serta produktif, baik dalam mencari informasi dari berbagai
sumber belajar, bersikap terhadap guru dan narasumber lainnya,
mengembangkan keterampilan belajar, mengerjakan tugas-tugas
pelajaran, dan menjalani program penilaian hasil belajar.
2) Pemantapan disiplin belajar dan berlatih, baik secara mandiri
maupun kelompok.
3) Pemantapan penguasaan materi program di sekolah menengah
pada umumnya sesuai dengan perkembangan ilmu, teknologi
dan kesenian.
4) Pemantapan pemahaman dan pemanfaatan kondisi fisik sosial
dan budaya yang ada di sekolah, lingkungan sekitar, dan
masyarakat untuk pengembangan pengetahuan dan kemampuan,
serta pengembangan pribadi siswa. (Ketut dan Nila, 2008:13)
d. Bimbingan karier
Bimbingan karier ialah bimbingan dalam mempersiapkan diri
menghadapi dunia pekerjaan, dalam memilih lapangan perkerjaan
atau jabatan/profesi tertentu serta membekali diri supaya siap
memangku jabatan itu, dan dalam menyesuaikan diri dengan
berbagai tuntutan dari lapangan pekerjaan yang akan dimasuki
Bimbingan karier, yaitu bimbingan untuk membantu individu
dalam perencanaan, pengembangan, dan penyelesaian
masalah-masalah karier, seperti pemahaman terhadap jabatan dan tugas-tugas
kerja, pemahaman kondisi dan kemampuan diri, pemahaman kondisi
lingkungan, perencanaan dan pengembangan karier, penyesuaian
pekerjaan dan penyelesaian masalah-masalah karier yang dihadapi
(Juntika, 2006:16).
Dalam bidang bimbingan karier, pelayanan bimbingan dan
konseling di SMP, SMA/SMK membantu siswa merencanakan dan
mengembangkan masa depan karier. Bidang ini dapat dirinci
menjadi pokok-pokok sebagai berikut:
1) Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan
karier yang hendak dikembangkan.
2) Pemantapan orientasi dan informasi karier khususnya karier
yang hendak dicapai.
3) Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha
memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
4) Orientasi dan informasi terhadap pendidikan yang lebih tinggi
khususnya sesuai dengan karier yang hendak dicapai (Ketut dan
Nila, 2008: 14).
Ragam bimbingan di kelas di atas, peneliti gunakan sebagai dasar
5. Komponen-komponen program layanan bimbingan di kelas
Salah satu tugas dari guru bimbingan dan konseling di sekolah
adalah membuat perencanaan program bimbingan di kelas, karena guru
bimbingan dan konseling yang menjadi peran utama, mengambil inisiatif
dan mengatur kegiatan bimbingan yang dilakukan bersama dengan siswa
di dalam kelas (Winkel dan Hastuti, 2006: 580).
Dalam merencanakan program bimbingan di kelas, guru bimbingan
dan konseling hendaknya dapat mengambil inspirasi dari Prosedur
Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI), yang merupakan pola desain
instruksional yang mendasarkan efisiensi dan efektivitas pengajaran di
kelas atas perencanaan dan pelaksanaan berbagai komponen: tujuan
pengajaran, materi pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, alat-alat serta
sumber-sumber dan evaluasi. (Winkel dan Hastuti, 2006: 585).
Santoadi (2010: 138) mengatakan bahwa perencanaan program
bimbingan di kelas haruslah sistemik seperti: (a) Asesmen dengan
berbagai instrumen yang memadai baik tes maupun non tes; (b) Analisis
akar masalah termasuk mengidentifikasi stakeholder (orangtua, para guru
bidang studi, wali kelas, kelompok sebaya di sekolah, kelompok sebaya
di luar sekolah, lingkungan komunitas tempat siswa dan keluarganya
tinggal); (c) Merumuskan kebutuhan kelompok sasaran utama (para
siswa) dan kelompok sasaran lain (keluarga, kelompok sebaya,
komunitas, masyarakat); (d) Merumuskan visi, misi dan tujuan program
konseling (jenis layanan, prosedur, materi, media bimbingan dan
konseling); (f) Merancang evaluasi (indikator evaluasi, prosedur evaluasi,
instrumen evaluasi).
Kerangka satuan pelajaran dapat menjadi pedoman dalam menyusun
suatu silabus program bimbingan di kelas untuk masing-masing tingkat
kelas dan untuk membuat persiapan tertulis bagi suatu Satuan Pelayanan
Bimbingan (SPB/ Satlan BK) (Winkel dan Hastuti, 2006: 586).
Berdasarkan penjelasan di atas, peneliti menyimpulkan ada beberapa
komponen yang perlu diperhatikan oleh guru BK dalam menyusun
program layanan bimbingan di kelas supaya siswa dapat mengambil
banyak manfaat dari layanan bimbingan di kelas, komponen-komponen
program layanan bimbingan di kelas akan tersebut akan dijabarkan
sebagai berikut:
a. Materi bimbingan di kelas
Materi bimbingan di kelas perlu menyangkut variasi bidang
kehidupan atau suatu aspek perkembangan tertentu atau ragam
bimbingan seperti bidang studi akademik, perkembangan pribadi dan
sosial siswa, dan perencanaan masa depan berkaitan dengan jabatan
yang akan dipangku. Isi dan materi bimbingan di kelas harus sesuai
dengan perkembangan optimal masing-masing siswa yang tergabung
dalam suatu satuan kelas dan mengulas tentang tugas-tugas
perkembangan remaja dan beraneka kebutuhan pada taraf-taraf
Materi bimbingan di kelas yang disajikan harus menarik, jelas
dalam penyampaiannya sehingga siswa dapat menangkap maksud
dari materi tersebut, sesuai dengan realita yang ada (konkret atau
menggambarkan keadaan yang nyata), Up To Date dalam hal
informasi yang akan diberikan dan relevan untuk siswa dalam
jenjang kelas tertentu mengingat kebutuhan pada fase perkembangan
tertentu sehingga materi yang diberikan tersebut dapat berguna dan
bermanfaat bagi siswa (Winkel dan Hastuti, 2006: 324).
Materi bimbingan di kelas yang disajikan harus menarik bagi
siswa sehingga membuat siswa berminat dan variasi kegiatan yang
dilakukan harus cukup menggiatkan mereka sehingga siswa
merasakan terlibat dalam kegiatan bimbingan (Hartinah, 2009: 162).
b. Metode bimbingan di kelas
Metode bimbingan di kelas yang dilakukan tidak hanya
melakukan ceramah di kelas saja, tetapi memberikan banyak
kegiatan-kegiatan menarik sehingga membuat siswa tertarik dan
terlibat dalam mengikuti aktivitas bimbingan di kelas. Metode
bimbingan di kelas yang kreatif dan invovatif akan membuat siswa
bersemangat dan lebih paham akan materi yang disampaikan oleh
guru BK. Metode bimbingan yang digunakan dapat berupa diskusi
dalam kelompok-kelompok, mengadakan sosiodrama (role play),
memberikan permainan (games) membuat siswa lebih terlibat dalam
Menurut pendapat peneliti berdasarkan pengalaman dan
pengamatan ketika melaksanakan PPL di SMP BOPKRI 3
Yogyakarta, guru BK hendaknya juga dapat menyiapkan ice breaker
pada sela-sela kegiatan bimbingan, ini dilakukan agar siswa tidak
cepat merasa bosan dan kembali segar dalam kegiatan bimbingan.
c. Media bimbingan di kelas
Briggs (1970 dalam Sadiman, dkk, 2009: 6-7) menyatakan
bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan
serta merangsang siswa untuk belajar dan atau menerima layanan
bimbingan dan konseling. Definisi tersebut mengarahkan kita untuk
menarik suatu simpulan bahwa media adalah segala jenis (benda)
perantara yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi
kepada orang yang membutuhkan informasi.
Media bimbingan di kelas adalah segala sesuatu yang dapat
digunakan untuk menyalurkan pesan bimbingan dan konseling yang
dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan
siswa/konseli untuk memahami diri, mengarahkan diri, mengambil
keputusan serta memecahkan masalah yang dihadapi (Nursalim,
2013: 6).
Macam-macam media bimbingan di kelas yang dapat digunakan
adalah media grafis dan media elektronik. Media grafis contohnya
adalah bagan, grafik, poster, media foto, modul, brosur, booklet,
bermain peran (role play), presentasi dengan MS. Powerpoint yang
menarik, media video dan film (Nursalim, 2013: 9-18).
Media bimbingan di kelas memiliki manfaat yaitu:
1) Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis;
2) Membatasi keterbatasan ruang, waktu, tenaga, dan daya indra;
3) Menimbulkan gairah/minat siswa, interaksi langsung antara
siswa dengan guru bimbingan dan konseling (BK);
4) Memberikan rangsangan yang sama, mempersamakan
pengalaman dan menimbulkan persepsi yang sama;
5) Proses layanan bimbingan dan konseling dapat lebih menarik;
6) Proses layanan bimbingan dan konseling menjadi lebih
interaktif;
7) Kualitas layanan bimbingan dan konseling dapat ditingkatkan;
8) Meningkatkan sikap positif siswa terhadap materi layanan
bimbingan dan konseling (Nursalim, 2013: 8).
d. Pengelolaan kelas
Guru BK sebaiknya memiliki kemampuan untuk mengelola
seluruh proses kegiatan bimbingan di dalam kelas dengan
menciptakan kondisi-kondisi belajar sedemikian rupa sehingga
setiap siswa dapat belajar dengan efektif dan efisien (Ketut dan Nila,
e. Evaluasi program bimbingan di kelas
Usaha menilai efisiensi dan efektivitas dari pelayanan
bimbingan di kelas demi peningkatan mutu program bimbingan.
Layanan bimbingan di kelas dapat dikatakan berguna dan
bermanfaat, namun perlu juga ditunjukkan kegunaannya dan manfaat
tampak dalam hal-hal apa (Winkel dan Hastuti, 2006: 127).
Menurut Prayitno (2004: 223), sasaran penilaian bimbingan
konseling berorientasi pada perubahan tingkah laku (termasuk di
dalamnya pendapat, nilai dan sikap) serta perkembangan siswa. Oleh
karena itu, penilaian bimbingan konseling tidak dapat dilakukan
melalui ulangan, pemeriksaan hasil pekerjaan rumah, tes maupun
ujian, melainkan dilakukan dalam proses pencapaian kemajuan
perubahan tingkah laku dan perkembangan siswa itu sendiri.
Kriteria atau patokan yang dipakai untuk mengevaluasi
keberhasilan pelaksanaan program bimbingan di kelas adalah
mengacu yang terpenuhi tidaknya kebutuhan-kebutuhan siswa dan
sudahkah berperan untuk membantu siswa memperoleh
perubahan-perubahan perilaku dan pribadi ke arah yang lebih baik (Ketut dan
Nila, 2008: 97).
Penjabaran komponen-komponen program layanan bimbingan di
kelas di atas, peneliti gunakan sebagai dasar yang berkaitan dengan
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini berisi uraian mengenai jenis penelitian, subjek penelitian, instrumen
penelitian, prosedur pengumpulan data, dan teknik analisis data yang digunakan
dalam penelitian.
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dengan metode survei.
Furchan (2007: 450) menjelaskan penelitian deskriptif dengan metode survei
merupakan penelitian dengan pengumpulan data yang relatif terbatas dari
kasus-kasus yang relatif besar jumlahnya. Penelitian ini bertujuan untuk
menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik subjek yang diteliti
secara tepat. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan penelitian deskripstif
dengan metode survei, untuk memperoleh gambaran tentang persepsi
siswa-siswi kelas VII dan VIII SMP BOPKRI 3 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014
terhadap manfaat layanan bimbingan di kelas.
B. Subjek Penelitian
1. Populasi
Populasi penelitian adalah semua anggota kelompok manusi,
binatang, peristiwa, atau benda yang tinggal bersama dalam satu tempat
dan secara terencana menjadi target kesimpulan dari hasil akhir suatu
Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi kelas VII, kelas
VIII, dan kelas IX semester 2 SMP BOPKRI 3 Yogyakarta tahun ajaran
2013/2014 yang berjumlah 318 siswa. Alasan peneliti mengambil siswa
kelas VII, kelas VIII dan kelas IX pada semester 2 karena mereka sudah
mendapatkan layanan bimbingan di kelas dan tentunya dapat
mengidentifikasikan manfaat-manfaat layanan bimbingan yang mereka
peroleh. Secara rinci jumlah populas dapat dilihat pada tabel 1:
Tabel 1
Jumlah Populasi Siswa-Siswi Kelas VII, VIII dan IX SMP BOPKRI 3 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014
Kelas Jumlah
VII A 29 VII B 30 VII C 30 VII D 30 VIII A 31 VIII B 32 VIII C 31 VIII D 32
IX A 26
IX B 26
IX C 21
Total 318 2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang di miliki
oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2011: 118). Alasan peneliti mengambil
subjek peneliti secara sampel karena subjek penelitian terlalu banyak,
keterbatasan biaya dan waktu.
Pengambilan sampel dilakukan melalui purposive sampling adalah
suatu cara pengambilan sampel yang berdasarkan pada pertimbangan dan
sudah diketahui sebelumnya. Purposive sampling digunakan untuk
mencapai tujuan tertentu, berdasarkan pertimbangan tertentu (Arifin,
2011: 221). Dari jumlah populasi, peneliti tidak diizinkan menggunakan
kelas IX sebagai subjek karena kelas IX sedang mempersiapkan Ujian
Nasional. Pihak sekolah menentukan kelas-kelas mana saja yang dapat
digunakan untuk penelitian pada saat itu. Berikut ini adalah kelas-kelas
yang dipakai untuk penelitian, akan disajikan pada tabel 2:
Tabel 2
Jumlah Sampel Siswa-Siswi Kelas VII dan VIII SMP BOPKRI 3 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014
Kelas L P Jumlah
VII C 18 12 30 VII D 17 13 30 VIII A 19 12 31 VIII C 19 12 31
TOTAL 73 49 122 C. Instumen Penelitian
1. Alat ukur pengumpulan data
Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah kuesioner
Manfaat Layanan Bimbingan di Kelas. Kuesioner merupakan teknik
pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat
pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab
(Sugiono, 2010: 199).
Kuesioner ini disusun oleh peneliti sendiri dengan mengacu pada
penjabaran ragam bimbingan di kelas dan komponen-komponen program
layanan bimbingan di kelas. Jenis kuesioner yang digunakan adalah
jawaban yang di sediakan yaitu: Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak
Sesuai (TS), Sangat Tidak Sesuai (STS).
2. Format pernyataan
Item-item kuesioner yang digunakan untuk mengungkap persepsi
siswa-siswi kelas VII dan VIII SMP BOPKRI 3 Yogyakarta tahun ajaran
2013/2014 terhadap manfaat layanan bimbingan di kelas berdasarkan
penjabaran ragam bimbingan di kelas dan komponen-komponen program
layanan bimbingan di kelas. Pernyataan-pernyataan kuesioner terdiri atas
ungkapan yang mendukung, memihak atau menunjukkan ciri adanya
atribut yang diukur (favourable) dan ungkapan yang isinya tidak
mendukung atau tidak menggambarkan ciri atribut yang diukur
(unfavourable). (Azwar, 2007: 123)
3. Penentuan skor (scoring)
Penentuan skor untuk setiap jawaban dari pernyataan adalah sebagai
berikut:
a. Untuk pernyataan Favourable, jawaban Sangat Sesuai (SS) diberi
skor 4, Sesuai (S) diberi skor 3, Tidak Sesuai (TS) diberi 2, dan
Sangat Tidak Sesuai (STS) diberi skor 1.
b. Untuk pernyataan Unfavourable, jawaban Sangat Sesuai (SS) diberi
skor 1, Sesuai (S) diberi skor 2, Tidak Sesuai (TS) diberi 3, dan
4. Kisi-kisi kuesioner
Kisi-kisi kuesioner terdiri dari penjabaran ragam bimbingan di kelas
dan komponen-komponen program layanan bimbingan di kelas, seperti
yang disajikan pada tabel 3:
Tabel 3
Kisi-Kisi Kuesioner Manfaat Layanan Bimbingan Di Kelas
No Komponen Indikator Item Jumlah
a. Perubahan siswa dalam
hal mengendalikan diri 75, 108 27, 53 4 b. Perubahan siswa dalam
hal memiliki kebebasan diri
118, 10 56, 99 4
c. Perubahan siswa dalam
hal penerimaan sosial 18, 25 51, 109 4 d. Perubahan siswa dalam
hal penyesuaian diri 117, 68, 94 37, 8, 55 6
2.
Kesesuaian antara tugas perkembangan dan materi bimbingan
a. Perubahan siswa dalam hal kemampuan
b. Perubahan siswa dalam hal kematangan
emosional dari orangtua atau figur otoritas
47, 123, 22 5, 81, 59 6
c. Perubahan siswa dalam hal membina hubungan baik dengan teman sebaya atau orang lain secara wajar.
41, 111, 62 105, 31, 16 6
d. Perubahan siswa dalam hal mengembangkan keterampilan
berkomunikasi lisan atau tulisan
121, 17, 46 60, 93, 89 6
e. Perubahan siswa dalam hal bertingkah laku yang
No Komponen Indikator Item Jumlah
a. Perubahan siswa dalam hal pemahaman diri
54, 85, 2,
38 112, 24, 72, 70 8
b. Perubahan siswa dalam hal membina hubungan dengan lingkungan sekitar
44, 26, 97,
4 120, 69, 12, 79 8
c. Perubahan siswa dalam hal belajar yang efektif
1, 101, 20,
114 84, 49, 64, 87 8
d. Perubahan siswa dalam hal yang mengarahkan karier
110 63 2
4.
Metode bimbingan yang kreatif, inovatif
a. Perubahan siswa dalam hal keterlibatan dalam bimbingan di kelas
106, 13 48, 90 4
b. Perubahan siswa dalam hal keterlibatan pada ice breaker bimbingan di kelas
32, 58 91, 7 4
c. Perubahan siswa setelah mengikuti aktivitas bimbingan melalui metode permainan/role play
103, 23 6, 67 4
d. Perubahan siswa setelah mengikuti aktivitas bimbingan melalui metode diskusi kelompok
98, 34, 113 61, 76, 39 6
5. Pengelolaan kelas
Perubahan siswa dalam hal keaktifan mengikuti
a. Perubahan siswa setelah mengikuti aktivitas bimbingan melalui Ms. Power Point
36, 100 116, 11 4
b. Perubahan siswa setelah mengikuti aktivitas
a. Perubahan siswa dalam hal kesadaran
b. Perubahan siswa dalam kesadaran akan
kemampuan mengatasi suatu masalah yang sulit
40, 28, 71,
88 107, 86, 3, 122 8
5. Validitas dan reliabilitas
a. Validitas instrumen
Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh
mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukut dalam melakukan
fungsi ukurnya (Azwar, 2007: 51). Azwar (2007:51) menjelaskan
bahwa suatu tes atau instrumen pengukur dapat dikatakan
mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan
fungsi ukurnya, yang sesuai dengan maksud di lakukannya
pengukuran tersebut. Jenis validitas yang digunakan adalah validitas
isi. Validitas isi merupakan suatu validitas yang menunjukkan
sampai dimana isi suatu tes atau alat ukur mencerminkan hal-hal
yang diukur (Azwar, 2007: 52). Validitas isi kuesioner ini
menggunakan Expert Judgement, yaitu Dr. M.M. Sri Hastuti, M. Si
sebagai Dosen Pembimbing dan Ibu Tri Nurjayanti, S.Pd, selaku
Koordinator BK dan Bapak Catur Suryo Nugroho, S.Psi, selaku Staf
BK di SMP BOPKRI 3 Yogyakarta.
Teknik uji validitas yang digunakan melalui analisis korelasi
Pearson Product Moment.
Formula
XY
r
∑ ∑ ∑∑ ∑ ∑ ∑
Keterangan :
XY
r = Korelasi skor-skor total kuesioner dan total butir-butir
N = Jumlah subyek
Y = Skor total butir-butir kuesioner
XY = Hasil perkalian antara skor X dan skor Y
Penelitian ini menggunakan metode uji coba terpakai artinya,
pengumpulan data dilakukan satu kali untuk 2 tujuan, yaitu pertama,
uji coba untuk mendapatkan data dan uji validasi. Kedua, untuk
mengolah data responden berdasarkan item-item yang valid.
Tahap perhitungan uji validasi adalah menggunakan program
SPSS (Statistic Programme for School Science) versi 16.0.
Perhitungan dengan SPSS menggunakan patokan koefisien korelasi
0,30. Jika koefisien korelasinya ≥0,30, maka item yang bersangkutan
dinyatakan valid. Sedangkan, jika koefisien korelasinya ≤0,30, maka
item yang bersangkutan tidak valid. Peneliti melakukan uji validasi
dengan mengelompokkan item-item setiap komponen aspek.
Dari perhitungan statistik di peroleh 95 item yang valid dan 31
item yang tidak valid. Item-item tidak valid dijabarkan pada tabel 4:
Tabel 4
Item-Item Kuesioner yang Tidak Valid
No. Komponen No Item Jumlah
Favourable Unfavourable
1. Kesesuaian antara kebutuhan
siswa dan materi bimbingan 10, 68 56, 37, 8 5
4. Metode bimbingan yang
kreatif, inovatif - 7, 6 2