• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSEPSI SISWA-SISWI KELAS VII DAN VIII SMP BOPKRI 3 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 20132014 TERHADAP MANFAAT LAYANAN BIMBINGAN DI KELAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PERSEPSI SISWA-SISWI KELAS VII DAN VIII SMP BOPKRI 3 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 20132014 TERHADAP MANFAAT LAYANAN BIMBINGAN DI KELAS"

Copied!
123
0
0

Teks penuh

(1)

PERSEPSI SISWA-SISWI KELAS VII DAN VIII

SMP BOPKRI 3 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2013/2014

TERHADAP MANFAAT LAYANAN BIMBINGAN DI KELAS

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling

Oleh:

Devi Yiska Polly NIM: 091114032

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)

PERSEPSI SISWA-SISWI KELAS VII DAN VIII

SMP BOPKRI 3 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2013/2014

TERHADAP MANFAAT LAYANAN BIMBINGAN DI KELAS

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling

Oleh:

Devi Yiska Polly NIM: 091114032

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(3)

SKRIPSI

PERSEPSI SISWA-SISWI KELAS VII DAN VIII

SMP BOPKRI 3 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2013/2014

TERHADAP MANFAAT LAYANAN BIMBINGAN DI KELAS

Oleh: Devi Yiska Polly

091114032

Telah disetujui oleh:

Dosen Pembimbing

(4)

SKRIPSI

PERSEPSI SISWA-SISWI KELAS VII DAN VIII

SMP BOPKRI 3 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2013/2014

TERHADAP MANFAAT LAYANAN BIMBINGAN DI KELAS

Dipersiapkan dan ditulis oleh: Devi Yiska Polly NIM: 091114032

Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji pada tanggal 11 Juli 2014

dan dinyatakan memenuhi syarat.

Susunan Panitia Penguji

Nama Lengkap Tanda Tangan

Ketua : Dr. Gendon Barus, M.Si. ...

Sekretaris : A. Setyandari, S.Pd.,S.Psi.,Psi.,M.A. ...

Anggota : Dr. M.M Sri Hastuti, M.Si. ...

Anggota : Dr. Gendon Barus, M.Si. ...

Anggota : A. Setyandari, S.Pd.,S.Psi.,Psi.,M.A. ...

Yogyakarta, 11 Juli 2014

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma

Dekan

(5)

PERSEMBAHAN

Kupersembahkan karya ini untuk:

♥ Tuhan Yesus Kristus

♥ Kedua Orang tuaku, Bpk. Atus Nicholas Polly dan Ibu Dorce Dalora

♥ Untuk Kakak Tercinta, Johan Nicholas Polly dan Marlenny Ndaong

♥ Keponakanku yang terkasih,”Si Krucil” Jessika Canina Polly.

♥ Keluarga Besar BN Lubis.

♥ Untuk Cintaku, Doli Partolosa Lubis

♥ Para sahabat dan teman-teman

♥ Almamaterku: Program Studi Bimbingan Dan Konseling,

(6)

MOTTO

Bersyukurlah dalam segala hal.

Jika tidak dapat apa yang kita suka..

Belajarlah untuk menyukai apa yang kita dapat.

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku

mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai

sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu

hari depan yang penuh harapan.

(Yeremia 29:11)

Kesabaran adalah kunci menuju rencana Tuhan

yang telah siapkan tepat dan indah pada waktunya.

Thank’s God…

(7)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak

memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam

kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah

Yogyakarta, 11 Juli 2014

Penulis

Devi Yiska Polly

(8)

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:

Nama : Devi Yiska Polly Nomor Mahasiswa : 091114032

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

PERSEPSI SISWA-SISWI KELAS VII DAN VIII SMP BOPKRI 3 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2013/2014 TERHADAP MANFAAT LAYANAN BIMBINGAN DI KELAS beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya mau pun memberi royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal : 11 Juli 2014

Yang menyatakan

(9)

ABSTRAK

PERSEPSI SISWA-SISWI KELAS VII DAN VIII

SMP BOPKRI 3 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2013/2014

TERHADAP MANFAAT LAYANAN BIMBINGAN DI KELAS

Devi Yiska Polly Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta 2014

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan metode survei. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai persepsi siswa-siswi kelas VII dan VIII SMP BOPKRI 3 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 terhadap manfaat layanan bimbingan di kelas. Masalah penelitian ini adalah bagaimanakah persepsi siswa-siswi kelas VII dan VIII SMP BOPKRI 3 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 terhadap manfaat layanan bimbingan di kelas?

Subjek penelitian ini adalah siswa-siswi kelas VII dan VIII SMP BOPKRI 3 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 yang berjumlah 113 siswa. Alat pengumpulan data yang digunakan berbentuk kuesioner manfaat layanan bimbingan di kelas yang disusun oleh peneliti dan kuesioner ini terdiri dari 126 item. Item-item kuesioner terdiri dari penjabaran ragam bimbingan di kelas dan komponen-komponen program layanan bimbingan yaitu: (1) materi bimbingan di kelas, (2) metode bimbingan di kelas, (3) media/alat bimbingan di kelas, (4) pengelolaan kelas, (5) evaluasi program bimbingan di kelas. Teknik analisis data yang digunakan adalah statistik rata-rata, standar deviasi. Subjek dikelompokkan menjadi lima kategorisasi yaitu “Sangat Bermanfaat”, “Bermanfaat”, “Cukup Bermanfaat”, “Tidak Bermanfaat” dan “Sangat Tidak Bermanfaat”.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 47 siswa (42%) berpendapat bahwa layanan bimbingan di kelas sangat bermanfaat, 13 siswa (12%) berpendapat bermanfaat, 23 siswa (20%) berpendapat cukup bermanfaat, 24 siswa (21%) berpendapat tidak bermanfaat dan 6 siswa (5 %) berpendapat sangat tidak bermanfaat.

(10)

ABSTRACT

THE PERCEPTION OF GRADE SEVEN AND GRADE EIGHT

STUDENTS OF BOPKRI 3 JUNIOR HIGH SCHOOL,

YOGYAKARTA, SCHOOL YEAR 2013/2014 TOWARDS

BENEFITS OF CLASSROOM GUIDANCE SERVICE

Devi Yiska Polly Sanata Dharma University

Yogyakarta 2014

This research is a descriptive study using survey method. This research is aimed to get a description on perceived benefits of participating in classroom guidance service of grade seven and grade eight students of BOPKRI 3 Junior High School, Yogyakarta, School Year 2013/2014. The problem formulation is stated as followed: what is the perception of grade seven and grade eighth students of BOPKRI 3 Junior High School, Yogyakarta, School Year 2013/2014 towards the benefits of classroom guidance service.

The subjects of this research were 113 students of grade seven and grade eight BOPKRI 3 Yogyakarta, School Year 2013/2014. Data was collected using a questionnaire which measured the benefits of classroom guidance service. The questionnaire was constructed by the author and consisted of 126 items. The items were elaborated based on areas of guidance services and components of classroom guidance service, i.e. (1) materials of classroom guidance; (2) methods of classroom guidance; (3) media of classroom guidance; (4) class management; (5) evaluation on classroom guidance service. Data were analyzed to find mean and standard deviation. Subjects were categorized into five categorizations, i.e. “Very Useful”, “Useful”, “Somewhat Useful”, “Not Very Useful”, “Not At All Useful”.

(11)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas penyertaan-Nya dan

bimbingan-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

Begitu besar kasih-Nya kepada setiap orang yang berharap kepada-Nya sehingga

Ia selalu menopang dan meneguhkan setiap usaha dan karya peneliti. Peneliti

menyadari bahwa terdapat banyak dukungan, bimbingan dan doa demi kelancaran

dan terselesaikannya skripsi ini. Oleh karena itu, peneliti mengucapkan terima

kasih kepada:

1. Dr. Gendon Barus, M.Si, selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan

Konseling Universitas Sanata Dharma yang telah membantu dan

memberikan kelancaran dalam proses penyelesaian skripsi ini.

2. A. Setyandari, S.Pd.,S.Psi.,Psi.,M.A, selaku Wakaprodi Bimbingan dan

Konseling Universitas Sanata Dharma yang telah membantu dan

memberikan kelancaran dalam proses penyelesaian skripsi ini.

3. Dr. M.M Sri Hastuti, M.Si, selaku Dosen pembimbing yang dengan

penuh kesabaran dan ketulusan hati membimbing, menuntun, peneliti

selama penulisan skripsi hingga akhirnya skripsi ini selesai dengan baik.

4. Drs. R.H.DJ. Sinurat, M.Si dan Prias Hayu Purbaning Tyas, M.Pd, selaku

Dosen penguji yang telah memberikan masukan terbaik untuk

(12)

5. Ibu Tri Nurjayanti, S.Pd, selaku Koordinator BK dan Bapak Catur Suryo

Nugroho, S.Psi, selaku Staf BK di SMP BOPKRI 3 Yogyakarta yang

dengan sabar dan ikhlas meluangkan waktu dan mendampingi peneliti

dalam proses pengumpulan data.

6. Para siswa dan siswi kelas VII dan VIII SMP BOPKRI 3 Yogyakarta

tahun ajaran 2013/2014 yang telah meluangkan waktu dan bersedia

mengisi kuesioner dengan baik.

7. Kedua Orang Tuaku, Bapak Atus Nicholas Polly dan Ibu Dorce Dalora

yang selalu setia dengan cinta dan kasih sayangnya untuk mendukung,

memberikan perhatian, semangat serta mendoakan peneliti sampai saat

ini.

8. Kakak terkasih, Johan Nicholas Polly dan Lenny Marlin Ndaong serta

Si Krucil” Jessika Canina Polly yang dengan semangat, keceriaannya

mendukung dan mendoakan peneliti.

9. Keluarga Besar BN LUBIS, yang selalu mendukung, memberikan

perhatian dan mendoakan peneliti selama menyelesaikan skripsi ini

dengan baik.

10. Yang Tercinta, dengan cinta dan kasihnya

mendukung, mendoakan, menemani dan mendampingi peneliti selama

(13)

11. Para sahabat dan teman seperjuangan, Birgitta Fitri Kurniasari, Ninda

Hapsari Putri, Nasarani Ramoti Suslia Simaremare, Caecilia Tika

Ningtyas, yang telah membantu peneliti untuk saling belajar, sharing,

meminjamkan referensi buku, kebersamaan, memberi semangat dan

memberikan dukungan yang berarti.

12. Untuk Mas Moko yang selalu setia dan sabar membantu penulis dalam

kelancarkan administrasi.

13. Keluarga besar Program studi Bimbingan dan konseling USD terkhusus

Teman-teman BK angkatan 2009.

Akhirnya, peneliti berharap semoga skripsi ini dapat memberikan banyak

manfaat bagi pembaca.

(14)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

LEMBARAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xviii

DAFTAR LAMPIRAN ... xix

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang ... 1

B.Rumusan Masalah ... 6

C.Tujuan Penelitian ... 6

D.Manfaat Penelitian 1. Manfaat secara teoritis ... 7

2. Manfaat praktis ... 7

E. Definisi Operasional 1. Persepsi terhadap layanan bimbingan di kelas ... 7

2. Layanan bimbingan di kelas ... 8

(15)

BAB II KAJIAN TEORETIS

A.Persepsi

1. Pengertian persepsi ... 9

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi ... 10

B.Layanan Bimbingan di Kelas 1. Pengertian layanan bimbingan di kelas ... 16

2. Tujuan bimbingan di kelas ... 18

3. Manfaat layanan bimbingan di kelas ... 20

4. Ragam bimbingan di kelas ... 21

5. Komponen-komponen program layanan bimbingan di kelas ... 26

BAB III METODE PENELITIAN A.Jenis Penelitian ... 32

B.Subyek Penelitian 1. Populasi ... 32

2. Sample ... 33

C.Instrumen Penelitian 1. Alat ukur pengumpulan data ... 34

2. Format pernyataan ... 35

3. Penentuan skor (scoring) ... 35

4. Kisi-kisi kuesioner ... 36

5. Validitas dan reliabilitas ... 38

D.Prosedur Pengumpulan Data 1. Tahap persiapan ... 41

2. Tahap pelaksanaan pengumpulan data ... 42

(16)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.Hasil Penelitian

1. Persepsi siswa-siswi kelas VII dan VIII SMP BOPKRI 3 Yogyakarta

tahun ajaran 2013/2014 terhadap manfaat layanan bimbingan

di kelas ... 48

2. Analisis item kuesioner manfaat layanan bimbingan di kelas ... 50

B.Pembahasan ... 56

BAB V PENUTUP A.Kesimpulan ... 62

B.Saran ... 62

DAFTAR PUSTAKA ... 64

(17)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Jumlah Populasi Siswa-siswi kelas VII dan VIII

SMP BOPKRI 3 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 ... 33

Tabel 2 Jumlah Sample Siswa-siswi kelas VII dan VIII SMP BOPKRI 3 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 ... 34

Tabel 3 Kisi-kisi Kuesioner Manfaat Layanan Bimbingan di Kelas ... 36

Tabel 4 Item-Item Kuesioner yang Tidak Valid ... 39

Tabel 5 Kualifikasi Koefisien Reliabilitas ... 41

Tabel 6 Pelaksanaan Pengumpulan Data... 43

Tabel 7 Norma Kategorisasi Persepsi Siswa-Siswi Kelas VII dan VIII SMP BOPKRI 3 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 Terhadap Manfaat Layanan Bimbingan Di Kelas ... 44

Tabel 8 Kategori Persepsi Siswa-Siswi Kelas VII Dan VIII SMP BOPKRI 3 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 Terhadap Manfaat Layanan Bimbingan Di Kelas ... 45

Tabel 9 Norma Kategori Item Kuesioner Manfaat Layanan Bimbingan di Kelas ... 46

Tabel 10 Kategori Item Kuesioner Manfaat Layanan Bimbingan di Kelas 47

Tabel 11 Persepsi Siswa-Siswi Kelas VII dan VIII SMP BOPKRI 3 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 Terhadap Manfaat Layanan Bimbingan Di Kelas ... 48

(18)

Tabel 13 Item-Item Kuesioner Manfaat Layanan Bimbingan di Kelas yang

Tergolong Kategori Tinggi... 50

Tabel 14 Item-Item Kuesioner Manfaat Layanan Bimbingan di Kelas yang

(19)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Persepsi Siswa-Siswi Kelas VII dan VIII SMP BOPKRI 3

Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 Terhadap Manfaat

(20)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Izin Penelitian ... 66

Lampiran 2 Surat Telah Melaksanakan Penelitian ... 67

Lampiran 3 Kisi-Kisi Instumen Penelitian... 68

Lampiran 4 Kuesioner Manfaat Layanan Bimbingan di Kelas ... 75

Lampiran 5 Uji Validitas... 84

Lampiran 6 Uji Reliabilitas Sebelum Uji Validitas ... 94

Lampiran 7 Uji Reliabilitas Sesudah Uji Validitas ... 95

(21)

BAB I

PENDAHULUAN

Bab ini menguraikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian,

manfaat penelitian, dan definisi operasional.

A. Latar Belakang

Bimbingan dan Konseling merupakan salah satu bagian yang tidak dapat

terpisahkan dari keseluruhan bidang pendidikan di sekolah. Salah satu

kegiatan bimbingan dan konseling yang dilakukan oleh guru bimbingan dan

konseling (BK) adalah bimbingan di kelas. Layanan bimbingan di kelas

merupakan bimbingan yang diberikan oleh guru bimbingan dan konseling

(BK) untuk para siswa dalam satuan kelas pada tingkatan kelas tertentu dan

pada jadwal yang telah ditentukan dari pihak sekolah.

Melalui layanan bimbingan di kelas, guru bimbingan dan konseling (BK)

memberikan informasi yang revelan mencakup semua aspek kehidupan siswa

seperti akademik, pribadi-sosial, karier secara terus menerus dan saling

berkaitan sebagai upaya untuk membantu siswa berkembang secara optimal

sesuai dengan taraf perkembangannya. Layanan bimbingan di kelas diberikan

dalam bentuk kegiatan yang beragam seperti diskusi kelompok, bermain

sambil belajar (games), pemberian informasi, dan pelatihan. Kegiatan di atas

dapat disesuaikan dengan topik-topik bimbingan yang ingin diberikan kepada

(22)

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan peneliti melaksanakan

Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMP BOPKRI 3 Yogyakarta pada

bulan Agustus 2012, ketika layanan bimbingan di kelas berlangsung siswa

tidak serius. Hal ini tampak dari sikap siswa yang tidak peduli dan tidak

memperhatikan bimbingan yang sedang berlangsung seperti mengerjakan

tugas mata pelajaran lain, mengobrol dengan teman sebangkunya, ada yang

tidur dalam kelas hingga ada siswa yang meninggalkan kelas tanpa izin.

Pengalaman pertama, peneliti peroleh ketika memberikan layanan

bimbingan kepada siswa kelas VII dengan topik bimbingan “Manajemen

Waktu”. Beberapa siswa menunjukkan sikap tidak peduli akan layanan

bimbingan; siswa tidur di dalam kelas pada saat kegiatan bimbingan

berlangsung, ada juga siswa yang mengobrol dengan teman sebangku, ada

siswa yang mengerjakan tugas mata pelajaran lain.

Pengalaman kedua, keadaan yang sama juga peneliti temukan ketika

mengobservasi guru bimbingan dan konseling (BK) memberikan layanan

bimbingan kepada siswa kelas IX dengan topik bimbingan “Motivasi dan

Keterampilan Belajar”. Selama kegiatan bimbingan di kelas berlangsung,

siswa berjalan-jalan di dalam kelas tanpa memperhatikan materi bimbingan

yang sedang diberikan, siswa bertanya kepada guru bimbingan dan konseling

(BK) mengenai hal yang tidak ada kaitannya dengan materi bimbingan saat

itu, siswa mengobrol dengan teman sebangkunya dan siswa suka melontarkan

(23)

Pengalaman ketiga, peneliti peroleh ketika mengobservasi teman

praktikan pada saat memberikan layanan bimbingan di kelas kepada siswa

kelas IX dengan topik bimbingan “Menentukan Skala Prioritas”. Siswa

menunjukkan sikap yang kurang menyenangkan seperti siswa bertanya

kepada teman praktikan tentang hal yang tidak ada kaitannya dengan materi

bimbingan, siswa mengerjakan tugas pelajaran lain, ada siswa tidur di dalam

kelas saat kegiatan bimbingan berlangsung, dan meninggalkan kelas tanpa

izin.

Menurut pengalaman dan pengamatan peneliti, ketika melaksanakan

Program Pengalaman Lapangan (PPL), dalam memberikan layanan

bimbingan di kelas guru bimbingan dan konseling (BK) seharusnya

menyiapkan materi bimbingan sesuai dengan tugas perkembangan, kebutuhan

siswa dan Up To Date dalam hal informasi yang diberikan kepada siswa, guru

BK harus dapat memberikan kegiatan bimbingan yang menarik, dan guru BK

juga harus memiliki kemampuan mengelola kelas dengan baik agar tercipta

suasana kelas yang kondusif. Respon yang diharapkan muncul pada saat guru

BK memberikan layanan bimbingan di kelas adalah siswa memberikan

perhatian selama mengikuti kegiatan layanan bimbingan di kelas, sehingga

siswa dapat menemukan makna/manfaat dalam kegiatan layanan bimbingan

tersebut.

Pernyataan peneliti di atas, diperkuat dengan adanya penjelasan dari

Ketut dan Nila (2008: 24-29), bahwa dalam melaksanakan layanan bimbingan

(24)

pengelola pembelajaran, pengarah pembelajaran, pembimbing, pelaksana

kurikulum. Secara singkat dijelaskan sebagai berikut:

1. Menyiapkan materi yang relevan dengan tujuan, waktu, fasilitas,

perkembangan ilmu, kebutuhan dan kemampuan siswa, komprehensif,

sistematis, dan fungsional efektif.

2. Merancang metode yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi siswa.

3. Memiliki kemampuan untuk mengelola seluruh proses kegiatan belajar

mengajar dengan menciptakan kondisi-kondisi belajar sedemikian rupa

sehingga setiap siswa dapat belajar dengan efektif dan efisien.

4. Guru sebaiknya dapat memunculkan, memelihara dan meningkatkan

motivasi siswa untuk belajar.

5. Guru hendaknya secara terus menerus mengikuti hasil belajar yang telah

dicapai siswa dari waktu-waktu.

6. Guru harus memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan kurikulum.

7. Dalam memberikan bimbingan, guru sebaiknya mempersiapkan dengan

baik. Guru dituntut untuk memberikan berbagai informasi, membantu

setiap siswa mengatasi masalah.

Dari pengalaman dan pengamatan peneliti, ketika hal-hal yang dituntut

dalam melaksanakan layanan bimbingan di kelas telah diberikan kepada

siswa. Hal yang terjadi justru siswa yang tidak terlihat serius mengikuti

layanan bimbingan di kelas, sikap siswa yang tidak serius tersebut seperti

(25)

memperhatikan kegiatan bimbingan di kelas. Peneliti berpendapat bahwa

ketika siswa bersikap tidak serius mengikuti layanan bimbingan di kelas, dan

siswa tidak memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru BK maka siswa

tidak dapat menangkap manfaat dari layanan bimbingan di kelas.

Sikap siswa yang tidak peduli dan tidak memperhatikan layanan

bimbingan di kelas kemungkinan dipengaruhi oleh persepsi terhadap

pengalaman yang kurang menyenangkan selama mengikuti layanan

bimbingan di kelas.

Persepsi adalah pemahaman seseorang terhadap suatu stimuli dengan

pengetahuan yang dimiliki dan yang telah dipelajari untuk dapat memberikan

penilaian dan memahami arti dari stimuli yang muncul. Setiap siswa memiliki

penilaian berbeda walau dihadapkan dalam situasi yang sama. Cara siswa

menerima, mengorganisasi dan menginterpretasikan informasi di dalam

kehidupannya akan mempengaruhi persepsi siswa terhadap sesuatu.

Pengalaman siswa mengikuti layanan bimbingan di kelas tentu memiliki

penilaian atau makna sendiri bagi siswa. Persepsi siswa yang kurang baik

mengenai manfaat layanan bimbingan di kelas, akan memunculkan

sikap/respon tidak serius dalam mengikuti layanan bimbingan di kelas seperti

mengerjakan tugas pelajaran lain, tidur di kelas saat bimbingan berlangsung,

meninggalkan kelas tanpa izin, dan mengobrol dengan teman sebangku tanpa

(26)

Dari pernyataan di atas, peneliti tertarik untuk mengetahui tentang

persepsi siswa-siswi terhadap manfaat layanan bimbingan di kelas pada SMP

BOPKRI 3 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014. Dengan itu, peneliti ingin

membuat penelitian dengan judul “Persepsi Siswa-Siswi Kelas VII dan VIII

SMP BOPKRI 3 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 Terhadap Manfaat

Layanan Bimbingan di Kelas”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti merumuskan masalah

sebagai berikut: Bagaimanakah persepsi siswa-siswi kelas VII dan VIII SMP

BOPKRI 3 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 terhadap manfaat layanan

bimbingan di kelas?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai

dalam penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran yang jelas

mengenai persepsi siswa-siswi kelas VII dan VIII SMP BOPKRI 3

Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 terhadap manfaat layanan bimbingan di

kelas.

D. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang

(27)

1. Manfaat secara teoritis

Memberikan sumbangan pengetahuan kepada guru pembimbing

terhadap persepsi siswa-siswi mengenai manfaat layanan bimbingan di

kelas.

2. Manfaat praktis

Hasil dari penelitian ini, diharapkan dapat bermanfaat bagi:

a. Peneliti

Memperoleh pemahaman mengenai persepsi siswa-siswi kelas

VII dan VIII SMP BOPKRI 3 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014

terhadap manfaat layanan bimbingan di kelas.

b. Guru bimbingan dan konseling

Sebagai masukan untuk peningkatan mutu layanan bimbingan di

kelas agar siswa dapat serius mengikuti kegiatan layanan bimbingan

di kelas dan mampu mengidentifikasi makna/manfaat dari layanan

bimbingan di kelas.

E. Definisi Operasional

1. Persepsi terhadap manfaat layanan bimbingan di kelas

Pendapat atau tanggapan siswa-siswi tentang manfaat layanan

bimbingan di kelas yang diberikan oleh guru bimbingan dan konseling di

(28)

2. Layanan bimbingan di kelas

Bimbingan yang diselenggarakan di dalam kelas oleh guru

bimbingan dan konseling selama waktu yang telah ditetapkan oleh pihak

sekolah.

3. Manfaat layanan bimbingan di kelas

Perubahan-perubahan positif yang terjadi pada diri siswa setelah

mengikuti layanan bimbingan di kelas yang dilaksanakan oleh guru

(29)

BAB II

KAJIAN TEORETIS

Bab ini akan membahas tentang persepsi (pengertian persepsi, faktor-faktor

yang mempengaruhi persepsi), layanan bimbingan di kelas (pengertian layanan

bimbingan di kelas, tujuan bimbingan di kelas, manfaat layanan bimbingan di

kelas, ragam bimbingan di kelas, komponen-komponen program layanan

bimbingan di kelas).

A. Persepsi

1. Pengertian persepsi

Persepsi telah diuraikan oleh berbagai tokoh di bidang psikologi,

antara lain:

a. Menurut Rakmat (1985: 64), persepsi adalah pengalaman tentang

objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan

menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.

b. Menurut Sarwono (2009: 86), persepsi adalah kemampuan untuk

membeda-bedakan, mengelompokkan, dan memfokuskan yang

selanjutnya diinterpretasikan.

c. Leavitt (1978, dalam Desmita, 2009: 117) mengungkapkan

perception dalam pengertian sempit adalah “penglihatan”, yaitu

bagaimana cara seseorang melihat sesuatu; sedangkan dalam arti

luas, perception adalah “pandangan”, yaitu bagaimana seseorang

(30)

d. Persepsi adalah suatu proses penggunaan pengetahuan yang telah

dimiliki (yang disimpan di dalam ingatan) untuk mendeteksi atau

memperoleh dan menginterpretasi stimulus (rangsangan) yang

diterima oleh alat indera seperti mata, telinga, dan hidung (Matlin,

1989; Solso,1988, dalam Suharnan, 2005: 23).

e. Persepsi adalah proses mengintegrasikan, mengenali, dan

menginterpretasikan informasi yang diterima oleh sistem sensori,

sehingga individu menyadari dan mengetahui apa yang diindera

sebagai bentuk respon (Walgito, 2003 & Pinel, 2009, dalam

Puspitawati, dkk, 2012: 113).

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, peneliti menyimpulkan

bahwa persepsi adalah proses seseorang menerima stimulus (rangsangan)

dari luar (lingkungan sekitar) yang diterima dengan alat indera seperti

mata, telinga, hidung sehingga yang bersangkutan mempunyai suatu

penilaian (berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki)

terhadap stimulus. Persepsi individu terhadap objek tertentu akan

mempengaruhi pikirannya.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi

Menurut Irwanto dkk (1988: 76-77), persepsi lebih bersifat

psikologis daripada merupakan proses penginderaan saja, dan ada

(31)

a. Perhatian yang selektif

Dalam kehidupan manusia, setiap saat akan menerima banyak

sekali stimulus dari lingkungannya. Meskipun demikian, individu

tidak harus menanggapi semua rangsang yang diterimanya. Untuk

itu, individu dapat memusatkan perhatiannya pada stimulus-stimulus

tertentu saja. Dengan demikian, objek-objek atau gejala-gejala lain

tidak akan tampil ke muka sebagai objek pengamat.

b. Ciri-ciri stimulus

Stimulus yang bergerak diantara stimulus yang diam akan lebih

menarik perhatian. Demikian juga stimulus yang paling besar di

antara yang kecil; yang kontras dengan latar belakangnya dan yang

intensitas stimulusnya paling kuat.

c. Nilai-nilai dan kebutuhan individu

Seorang seniman tentu punya pola dan cita rasa yang berbeda

dalam pengamatannya dibandingkan seorang bukan seniman.

Penelitian lain menunjukkan bahwa anak-anak dari golongan

ekonomi rendah melihat koin (mata uang logam) lebih besar

dibandingkan anak-anak orang kaya.

d. Pengalaman terdahulu

Pengalaman-pengalaman terdahulu sangat mempengaruhi

bagaimana seseorang mempersepsikan dunianya. Cermin bagi kita

(32)

Mentawai di Pedalaman Siberut atau saudara-saudara kita di

Pedalaman Irian.

Stimulus diterima dengan proses penginderaan, maka data yang

diterima individu perlu disaring dan diseleksi untuk proses lebih lanjut.

Menurut Sobur (2003: 452-453), seleksi persepsi dipengaruhi oleh dua

faktor, diantaranya faktor intern dan faktor ekstern. Masing-masing

faktor akan dijelaskan sebagai berikut:

a. Faktor-faktor intern yang mempengaruhi seleksi persepsi

1) Kebutuhan psikologis

Kebutuhan psikologis seseorang mempengaruhi seleksi

persepsi. Kadang-kadang, ada hal yang “kelihatan” (yang

sebenarnya tidak ada), karena kebutuhan psikologis. Dalam satu

percobaan kepada orang-orang yang dibiarkan lapar untuk

beberapa waktu, diperlihatkan beberapa gambar dan mereka

diminta untuk menuliskan apa yang mereka lihat. Kebanyakan

dari mereka melaporkan adanya makanan dalam persepsi

mereka.

2) Latar belakang

Latar belakang mempengaruhi hal-hal yang dipilih dalam

seleksi persepsi. Orang-orang dengan latar belakang tertentu

mencari orang-orang dengan latar belakang yang sama. Mereka

mengikuti dimensi tertentu yang serupa dengan mereka.

(33)

institusi manajemen, lebih mendekati seseorang yang

mempunyai pendidikan yang serupa jika ia masuk suatu

organisasi dan berjumpa dengan dia.

3) Pengalaman

Yang serupa dengan latar belakang ialah faktor pengalaman.

Pengalaman mempersiapkan seseorang untuk mencari

orang-orang, hal-hal, dan gejala-gejala yang mungkin serupa dengan

pengalaman pribadinya. Misalnya, seseorang yang mempunyai

pengalaman buruk dengan orang-orang yang mempunyai bahasa

ibu tertentu, mungkin akan cepat mengenali orang-orang yang

termasuk kelompok itu, kendati dalam lingkungan lain. Dan,

mungkin mereka lebih cepat menarik perhatiannya karena

persepsi yang kurang baik itu.

4) Kepribadian

Kepribadian juga mempengaruhi seleksi persepsi. Seorang

yang introvert (tertutup) mungkin akan tertarik kepada

orang-orang yang serupa atau sama sekali berbeda.

5) Sikap dan kepercayaan umum

Sikap dan kepercayaan umum juga mempengaruhi seleksi

persepsi. Orang yang mempunyai sikap tertentu terhadap

karyawan wanita atau karyawan yang termasuk kelompok

bahasa tertentu, besar kemungkinan akan melihat berbagai hal

(34)

6) Penerimaan diri

Penerimaan diri merupakan sifat penting yang

mempengaruhi seleksi persepsi. Beberapa telaah menunjukkan

bahwa mereka yang lebih ikhlas menerima kenyataan diri akan

lebih tepat menyerap sesuatu daripada mereka yang kurang

ikhlas menerima realitas dirinya.

b. Faktor-faktor ekstern yang mempengaruhi seleksi persepsi

Selain faktor intern, Sobur (2003: 453-455) dan Walgito (2010:

127-128) memiliki pendapat yang sama dengan beberapa faktor

ekstern yang dianggap penting pengaruhnya terhadap seleksi

persepsi, ialah:

1) Intensitas

Pada umumnya, rangsangan yang lebih intensif,

mendapatkan lebih banyak tanggapan daripada rangsangan yang

kurang intens. Misalnya, lampu yang lebih terang lebih

diperhatikan orang ketimbang lampu yang redup pada malam

hari.

2) Ukuran

Pada umumnya, benda-benda yang lebih besar lebih

menarik perhatian. Barang yang lebih besar lebih cepat dilihat.

Misalnya, Suatu headline yang besar dari surat kabar akan lebih

menarik perhatian apabila dibandingkan dengan huruf-huruf

(35)

3) Kontras

Biasanya, hal-hal yang dari yang biasa kita lihat akan cepat

menarik perhatian. Seseorang pekerja yang sangat berlainan dari

pekerja yang lain, akan menonjol. Banyak orang secara sadar

atau tidak, melakukan hal-hal yang aneh untuk menarik

perhatian. Perilaku yang luar biasa menarik perhatian karena

prinsip-prinsip perbedaan itu.

4) Gerakan

Hal-hal yang bergerak lebih menarik perhatian daripada

hal-hal yang diam.

5) Ulangan

Biasanya, hal-hal yang berulang-ulang dapat menarik

perhatian. Misalnya, Orang yang minta tolong dan diucapkan

berulang kali, akan lebih menarik perhatian apabila

dibandingkan hanya diucapkan sekali saja.

6) Keakraban

Hal-hal yang akrab atau dikenal lebih menarik perhatian.

Hal ini terutama jika hal tertentu tidak diharapkan dalam rangka

tertentu. Misalnya, di negara asing yang tidak terdapat banyak

orang dari bangsa kita, kita akan segera tertarik oleh bentuk

wajah yang kita kenal jika kita melihat seseorang dari negara

(36)

7) Sesuatu yang baru

Faktor ini kedengarannya bertentangan dengan faktor

keakraban. Akan tetapi, hal-hal baru juga menarik perhatian.

Jika orang sudah biasa dengan kerangka yang sudah dikenal,

sesuatu yang baru akan menarik perhatian. Misalnya, kalau

seseorang sedang mengendarai mobil, si pengemudi segera

menyadari suara aneh dari mesinnya, karena ia mengenali suara

yang biasanya ia dengar dari berbagai bagian mobil.

B. Layanan Bimbingan di Kelas

1. Pengertian layanan bimbingan di kelas

Prayitno (1983: 2 dan 1987: 35, dalam Ketut dan Nila, 2008: 2)

mengungkapkan bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada

seseorang (individu) atau sekelompok orang agar individu yang

bersangkutan dapat berkembang menjadi pribadi-pribadi yang mandiri.

Kemandirian ini mencakup lima fungsi pokok yang hendaknya

dijalankan oleh pribadi yang mandiri, yaitu: mengenal diri sendiri dengan

lingkungannya, menerima diri sendiri dan lingkungannya secara positif

dan dinamis, mengambil keputusan, mengarahkan diri dan mewujudkan

diri.

Individu yang dimaksud adalah siswa-siswi yang berada di sekolah,

pelayanan bimbingan di sekolah menjadi penting dalam segala usaha

membantu siswa untuk memahami dirinya sendiri dan lingkungan

(37)

Menurut Juntika (2006: 17) dan Supriatna (2011: 67), layanan dasar

bimbingan adalah layanan bantuan bagi seluruh siswa (for all) melalui

kegiatan-kegiatan di dalam kelas atau di luar kelas, yang disajikan secara

sistematis, dalam rangka membantu siswa mengembangkan potensi

dirinya secara optimal. Hal ini berarti bahwa dalam peluncuran program

yang telah dirancang menuntun guru bimbingan dan konseling untuk

melakukan kontak langsung dengan para siswa di kelas. Secara terjadwal,

guru bimbingan dan konseling memberikan layanan bimbingan kepada

para siswa. Kegiatan layanan ini merupakan pemberian informasi tentang

berbagai hal yang dipandang bermanfaat bagi siswa.

Berdasarkan model American School Counselor Association

(ASCA) (2005, dalam Farozin, 2012: 150), bimbingan di kelas

merupakan bentuk kegiatan yang diselenggarakan dalam layanan dasar

(guidancecurriculum). Komponen layanan dasar bersifat developmental,

sistematik, terstruktur, dan disusun untuk meningkatkan kompetensi

sosial, pribadi, belajar dan karir siswa.

Bimbingan di kelas merupakan suatu layanan bimbingan yang

dilakukan oleh pembimbing di dalam kelas. Dalam kegiatan ini,

pembimbing menyampaikan berbagai materi bimbingan melalui berbagai

pendekatan dan teknik yang dimaksudkan untuk memberikan

pengetahuan dan/atau keterampilan kepada siswa sehingga siswa dapat

mengunakannya untuk mencapai perkembangan yang optimal dalam

(38)

Bimbingan di kelas juga didefinisikan sebagai pembelajaran tentang

perkembangan secara terstruktur dan sistematis yang dirancang untuk

membantu siswa mencapai kompetensi perkembangan yang diharapkan

sesuai dengan taraf perkembangan yang sedang dialami (TIM PENULIS,

2013: 314).

Bimbingan di kelas merupakan proses yang direncanakan untuk

membantu populasi sekolah memperoleh informasi, keterampilan atau

pengalaman yang berguna dan dibutuhkan. Ruang kelas terbukti menjadi

lingkup paling efektif untuk mewujudkan program semacam itu, dan

program bimbingan pada umumnya tidak berkurang, bahkan faktanya

dapat mengembangkan lebih dari kurikulum reguler yang terus-menerus

berlangsung (Gibson dan Mitchell, 2011: 304).

Sink (2005: 21) mengatakan bahwa bimbingan di kelas adalah

metode yang efektif untuk guru bimbingan dan konseling dalam

membantu sejumlah besar siswa di dalam kelas dan mendapatkan

informasi yang relevan dan bermanfaat bagi siswa. Dengan itu, guru

bimbingan dan konseling perlu mendapatkan pengajaran dalam hal

mengajar dan mengelola kelas dengan baik untuk membuat suasana kelas

yang mendukung dalam memberikan pelayanan bimbingan di kelas.

2. Tujuan bimbingan di kelas

Tujuan pemberian layanan bimbingan di kelas ialah agar siswa dapat

1) Merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karier,

(39)

seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin; 3)

Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan

masyarakat, serta lingkungan kerjanya. 4) Mengatasi hambatan serta

kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan

pendidikan, masyarakat, ataupun lingkungan kerja (Juntika, 2006: 8).

Untuk mencapai tujuan-tujuan di atas, siswa harus mendapatkan

kesempatan untuk 1) Mengenal dan memahami potensi, kekuatan serta

tugas-tugasnya; 2) Mengenal dan memahami potensi-potensi yang ada di

lingkungannya; 3) Mengenal dan menentukan tujuan, rencana hidupnya,

serta rencana pencapaian tujuan tersebut; 4) Memahami dan mengatasi

kesulitan-kesulitan sendiri; 5) Menggunakan kemampuannya untuk

kepentingan dirinya, lembaga tempat bekerja dan masyarakat; 6)

Menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya; 7)

Mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara

tepat, teratur dan optimal (Juntika, 2006: 8).

Dari pengertian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa tujuan dari

layanan bimbingan di kelas adalah guru BK menyampaikan informasi

yang dapat berpengaruh terhadap tercapainya perkembangan yang

optimal seluruh aspek perkembangan, peningkatan pemahaman dan

(40)

3. Manfaat layanan bimbingan di kelas

Layanan bimbingan di kelas mempunyai manfaat, baik bagi tenaga

bimbingan profesional sendiri maupun bagi para siswa (Winkel dan

Hastuti, 2006: 565).

a. Manfaat bagi tenaga bimbingan sendiri;

1) Mendapatkan kesempatan untuk berkontak dengan banyak siswa

sekaligus, sehingga guru BK menjadi di kenal;

2) Menghemat waktu dan tenaga dalam kegiatan yang dapat di

lakukan dalam suatu kelompok;

3) Memperluas ruang geraknya lebih-lebih bila jumlah tenaga

profesional di sekolah hanya satu-dua orang saja.

b. Manfaat bagi para siswa;

1) Menjadi lebih sadar akan tantangan yang dihadapi, sehingga

mereka memutuskan untuk berwawancara secara pribadi dengan

guru BK;

2) Lebih rela menerima dirinya sendiri, setelah menyadari bahwa

teman-temannya sering menghadapi persoalan, kesulitan dan

tantangan yang kerap kali sama;

3) Lebih berani mengemukakan pandangannya sendiri bila berada

dalam kelompok;

4) Diberi kesempatan untuk mendiskusikan sesuatu bersama dan

dengan demikian mendapat latihan bergerak dalam suatu

(41)

5) Lebih bersedia menerima suatu pandangan atau pendapat bila

dikemukakan oleh seorang teman;

6) Tertolong untuk mengatasi suatu masalah yang dirasa sulit

untuk dibicarakan secara langsung dengan guru BK.

4. Ragam bimbingan di kelas

Ragam bimbingan di kelas menunjukkan pada bidang kehidupan

tertentu atau aspek perkembangan tertentu yang menjadi fokus perhatian

dalam pelayanan bimbingan; dengan kata lain tentang apa yang diberikan

(Winkel dan Hastuti, 2006: 113). Dilihat dari masalah yang dialami

siswa, ada 4 ragam bimbingan, yaitu (1) Bimbingan akademik, (2)

Bimbingan pribadi, (3) Bimbingan sosial, dan (4) Bimbingan karier.

a. Bimbingan pribadi

Dalam bidang bimbingan pribadi, pelayanan bimbingan dan

konseling di SMP, SMA/SMK membantu siswa menemukan dan

mengembangkan pribadi yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan

Yang Maha Esa, mantap dan mandiri, serta sehat jasmani dan rohani.

Bidang ini dapat dirinci menjadi pokok-pokok berikut:

1) Pemantapan sikap dan kebiasaan serta pengembangan wawasan

dalam beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

2) Pemantapan pemahaman tentang kekuatan diri dan

pengembangan untuk kegiatan-kegiatan yang kreatif dan

produktif, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun untuk

(42)

3) Pemantapan pemahaman tentang bakat dan minat pribadi serta

penyaluran dan pengembangannya melalui kegiatan-kegiatan

yang kreatif dan produktif.

4) Pemantapan pemahaman tentang kelemahan diri dan

usaha-usaha penanggulangannya.

5) Pemantapan kemampuan mengambil keputusan.

6) Pemantapan kemampuan mengarahkan diri sesuai dengan

keputusan yang telah diambilnya.

7) Pemantapan dalam perencanaan dan penyelenggaraan hidup

sehat, baik secara rohaniah maupun jasmaniah. (Ketut dan Nila,

2008: 12)

b. Bimbingan sosial

Dalam bidang bimbingan sosial, pelayanan bimbingan dan

konseling di SMP, SMA/SMK membantu siswa mengenal dan

berhubungan dengan lingkungan sosialnya yang dilandasi budi

pekerti luhur, tanggung jawab kemasyarakatan dan kenegaraan.

Bidang ini dapat dirinci menjadi pokok-pokok berikut:

1) Pemantapan kemampuan berkomunikasi, baik melalui ragam

lisan maupun tulisan secara efektif.

2) Pemantapan kemampuan menerima dan menyampaikan

pendapat serta berargumentasi secara dinamis, kreatif dan

(43)

3) Pemantapan kemampuan bertingkah laku dan berhubungan

sosial, baik di rumah, di sekolah, maupun di masyarakat luas

dengan menjunjung tinggi tata krama, sopan santun, serta

nilai-nilai agama, adat, hukum, ilmu, dan kebiasaan yang berlaku.

4) Pemantapan hubungan yang dinamis, harmonis, dan produktif

dengan teman sebaya, baik di sekolah yang sama, di sekolah

lain, di luar sekolah, maupun di masyarakat pada umumnya.

5) Pemantapan pemahaman kondisi dan peraturan sekolah serta

upaya pelaksanaannya secara dinamis dan bertanggung jawab.

6) Orientasi tentang hidup berkeluarga. (Ketut dan Nila, 2008: 13)

c. Bimbingan akademik/ belajar

Bimbingan akademik, yaitu bimbingan yang diarahkan untuk

membantu para siswa dalam menghadapi dan menyelesaikan

masalah akademik (Juntika, 2006: 15).

Bimbingan akademik ialah bimbingan dalam hal menemukan

cara belajar yang tepat dalam memilih program studi yang sesuai,

dan dalam mengatasi kesukaran yang timbul berkaitan dengan

tuntutan-tuntutan belajar di suatu institusi pendidikan (Winkel dan

Hastuti, 2006: 115).

Dalam bidang bimbingan belajar, pelayanan bimbingan dan

konseling di SMP, SMA/SMK membantu siswa mengembangkan

diri, sikap dan kebiasaan belajar yang baik untuk menguasai

(44)

melanjutkan pendidikan pada tingkat yang lebih tinggi. Bidang ini

dapat dirinci menjadi pokok-pokok berikut:

1) Pemantapan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif dan efisien

serta produktif, baik dalam mencari informasi dari berbagai

sumber belajar, bersikap terhadap guru dan narasumber lainnya,

mengembangkan keterampilan belajar, mengerjakan tugas-tugas

pelajaran, dan menjalani program penilaian hasil belajar.

2) Pemantapan disiplin belajar dan berlatih, baik secara mandiri

maupun kelompok.

3) Pemantapan penguasaan materi program di sekolah menengah

pada umumnya sesuai dengan perkembangan ilmu, teknologi

dan kesenian.

4) Pemantapan pemahaman dan pemanfaatan kondisi fisik sosial

dan budaya yang ada di sekolah, lingkungan sekitar, dan

masyarakat untuk pengembangan pengetahuan dan kemampuan,

serta pengembangan pribadi siswa. (Ketut dan Nila, 2008:13)

d. Bimbingan karier

Bimbingan karier ialah bimbingan dalam mempersiapkan diri

menghadapi dunia pekerjaan, dalam memilih lapangan perkerjaan

atau jabatan/profesi tertentu serta membekali diri supaya siap

memangku jabatan itu, dan dalam menyesuaikan diri dengan

berbagai tuntutan dari lapangan pekerjaan yang akan dimasuki

(45)

Bimbingan karier, yaitu bimbingan untuk membantu individu

dalam perencanaan, pengembangan, dan penyelesaian

masalah-masalah karier, seperti pemahaman terhadap jabatan dan tugas-tugas

kerja, pemahaman kondisi dan kemampuan diri, pemahaman kondisi

lingkungan, perencanaan dan pengembangan karier, penyesuaian

pekerjaan dan penyelesaian masalah-masalah karier yang dihadapi

(Juntika, 2006:16).

Dalam bidang bimbingan karier, pelayanan bimbingan dan

konseling di SMP, SMA/SMK membantu siswa merencanakan dan

mengembangkan masa depan karier. Bidang ini dapat dirinci

menjadi pokok-pokok sebagai berikut:

1) Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan

karier yang hendak dikembangkan.

2) Pemantapan orientasi dan informasi karier khususnya karier

yang hendak dicapai.

3) Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha

memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

4) Orientasi dan informasi terhadap pendidikan yang lebih tinggi

khususnya sesuai dengan karier yang hendak dicapai (Ketut dan

Nila, 2008: 14).

Ragam bimbingan di kelas di atas, peneliti gunakan sebagai dasar

(46)

5. Komponen-komponen program layanan bimbingan di kelas

Salah satu tugas dari guru bimbingan dan konseling di sekolah

adalah membuat perencanaan program bimbingan di kelas, karena guru

bimbingan dan konseling yang menjadi peran utama, mengambil inisiatif

dan mengatur kegiatan bimbingan yang dilakukan bersama dengan siswa

di dalam kelas (Winkel dan Hastuti, 2006: 580).

Dalam merencanakan program bimbingan di kelas, guru bimbingan

dan konseling hendaknya dapat mengambil inspirasi dari Prosedur

Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI), yang merupakan pola desain

instruksional yang mendasarkan efisiensi dan efektivitas pengajaran di

kelas atas perencanaan dan pelaksanaan berbagai komponen: tujuan

pengajaran, materi pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, alat-alat serta

sumber-sumber dan evaluasi. (Winkel dan Hastuti, 2006: 585).

Santoadi (2010: 138) mengatakan bahwa perencanaan program

bimbingan di kelas haruslah sistemik seperti: (a) Asesmen dengan

berbagai instrumen yang memadai baik tes maupun non tes; (b) Analisis

akar masalah termasuk mengidentifikasi stakeholder (orangtua, para guru

bidang studi, wali kelas, kelompok sebaya di sekolah, kelompok sebaya

di luar sekolah, lingkungan komunitas tempat siswa dan keluarganya

tinggal); (c) Merumuskan kebutuhan kelompok sasaran utama (para

siswa) dan kelompok sasaran lain (keluarga, kelompok sebaya,

komunitas, masyarakat); (d) Merumuskan visi, misi dan tujuan program

(47)

konseling (jenis layanan, prosedur, materi, media bimbingan dan

konseling); (f) Merancang evaluasi (indikator evaluasi, prosedur evaluasi,

instrumen evaluasi).

Kerangka satuan pelajaran dapat menjadi pedoman dalam menyusun

suatu silabus program bimbingan di kelas untuk masing-masing tingkat

kelas dan untuk membuat persiapan tertulis bagi suatu Satuan Pelayanan

Bimbingan (SPB/ Satlan BK) (Winkel dan Hastuti, 2006: 586).

Berdasarkan penjelasan di atas, peneliti menyimpulkan ada beberapa

komponen yang perlu diperhatikan oleh guru BK dalam menyusun

program layanan bimbingan di kelas supaya siswa dapat mengambil

banyak manfaat dari layanan bimbingan di kelas, komponen-komponen

program layanan bimbingan di kelas akan tersebut akan dijabarkan

sebagai berikut:

a. Materi bimbingan di kelas

Materi bimbingan di kelas perlu menyangkut variasi bidang

kehidupan atau suatu aspek perkembangan tertentu atau ragam

bimbingan seperti bidang studi akademik, perkembangan pribadi dan

sosial siswa, dan perencanaan masa depan berkaitan dengan jabatan

yang akan dipangku. Isi dan materi bimbingan di kelas harus sesuai

dengan perkembangan optimal masing-masing siswa yang tergabung

dalam suatu satuan kelas dan mengulas tentang tugas-tugas

perkembangan remaja dan beraneka kebutuhan pada taraf-taraf

(48)

Materi bimbingan di kelas yang disajikan harus menarik, jelas

dalam penyampaiannya sehingga siswa dapat menangkap maksud

dari materi tersebut, sesuai dengan realita yang ada (konkret atau

menggambarkan keadaan yang nyata), Up To Date dalam hal

informasi yang akan diberikan dan relevan untuk siswa dalam

jenjang kelas tertentu mengingat kebutuhan pada fase perkembangan

tertentu sehingga materi yang diberikan tersebut dapat berguna dan

bermanfaat bagi siswa (Winkel dan Hastuti, 2006: 324).

Materi bimbingan di kelas yang disajikan harus menarik bagi

siswa sehingga membuat siswa berminat dan variasi kegiatan yang

dilakukan harus cukup menggiatkan mereka sehingga siswa

merasakan terlibat dalam kegiatan bimbingan (Hartinah, 2009: 162).

b. Metode bimbingan di kelas

Metode bimbingan di kelas yang dilakukan tidak hanya

melakukan ceramah di kelas saja, tetapi memberikan banyak

kegiatan-kegiatan menarik sehingga membuat siswa tertarik dan

terlibat dalam mengikuti aktivitas bimbingan di kelas. Metode

bimbingan di kelas yang kreatif dan invovatif akan membuat siswa

bersemangat dan lebih paham akan materi yang disampaikan oleh

guru BK. Metode bimbingan yang digunakan dapat berupa diskusi

dalam kelompok-kelompok, mengadakan sosiodrama (role play),

memberikan permainan (games) membuat siswa lebih terlibat dalam

(49)

Menurut pendapat peneliti berdasarkan pengalaman dan

pengamatan ketika melaksanakan PPL di SMP BOPKRI 3

Yogyakarta, guru BK hendaknya juga dapat menyiapkan ice breaker

pada sela-sela kegiatan bimbingan, ini dilakukan agar siswa tidak

cepat merasa bosan dan kembali segar dalam kegiatan bimbingan.

c. Media bimbingan di kelas

Briggs (1970 dalam Sadiman, dkk, 2009: 6-7) menyatakan

bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan

serta merangsang siswa untuk belajar dan atau menerima layanan

bimbingan dan konseling. Definisi tersebut mengarahkan kita untuk

menarik suatu simpulan bahwa media adalah segala jenis (benda)

perantara yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi

kepada orang yang membutuhkan informasi.

Media bimbingan di kelas adalah segala sesuatu yang dapat

digunakan untuk menyalurkan pesan bimbingan dan konseling yang

dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan

siswa/konseli untuk memahami diri, mengarahkan diri, mengambil

keputusan serta memecahkan masalah yang dihadapi (Nursalim,

2013: 6).

Macam-macam media bimbingan di kelas yang dapat digunakan

adalah media grafis dan media elektronik. Media grafis contohnya

adalah bagan, grafik, poster, media foto, modul, brosur, booklet,

(50)

bermain peran (role play), presentasi dengan MS. Powerpoint yang

menarik, media video dan film (Nursalim, 2013: 9-18).

Media bimbingan di kelas memiliki manfaat yaitu:

1) Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis;

2) Membatasi keterbatasan ruang, waktu, tenaga, dan daya indra;

3) Menimbulkan gairah/minat siswa, interaksi langsung antara

siswa dengan guru bimbingan dan konseling (BK);

4) Memberikan rangsangan yang sama, mempersamakan

pengalaman dan menimbulkan persepsi yang sama;

5) Proses layanan bimbingan dan konseling dapat lebih menarik;

6) Proses layanan bimbingan dan konseling menjadi lebih

interaktif;

7) Kualitas layanan bimbingan dan konseling dapat ditingkatkan;

8) Meningkatkan sikap positif siswa terhadap materi layanan

bimbingan dan konseling (Nursalim, 2013: 8).

d. Pengelolaan kelas

Guru BK sebaiknya memiliki kemampuan untuk mengelola

seluruh proses kegiatan bimbingan di dalam kelas dengan

menciptakan kondisi-kondisi belajar sedemikian rupa sehingga

setiap siswa dapat belajar dengan efektif dan efisien (Ketut dan Nila,

(51)

e. Evaluasi program bimbingan di kelas

Usaha menilai efisiensi dan efektivitas dari pelayanan

bimbingan di kelas demi peningkatan mutu program bimbingan.

Layanan bimbingan di kelas dapat dikatakan berguna dan

bermanfaat, namun perlu juga ditunjukkan kegunaannya dan manfaat

tampak dalam hal-hal apa (Winkel dan Hastuti, 2006: 127).

Menurut Prayitno (2004: 223), sasaran penilaian bimbingan

konseling berorientasi pada perubahan tingkah laku (termasuk di

dalamnya pendapat, nilai dan sikap) serta perkembangan siswa. Oleh

karena itu, penilaian bimbingan konseling tidak dapat dilakukan

melalui ulangan, pemeriksaan hasil pekerjaan rumah, tes maupun

ujian, melainkan dilakukan dalam proses pencapaian kemajuan

perubahan tingkah laku dan perkembangan siswa itu sendiri.

Kriteria atau patokan yang dipakai untuk mengevaluasi

keberhasilan pelaksanaan program bimbingan di kelas adalah

mengacu yang terpenuhi tidaknya kebutuhan-kebutuhan siswa dan

sudahkah berperan untuk membantu siswa memperoleh

perubahan-perubahan perilaku dan pribadi ke arah yang lebih baik (Ketut dan

Nila, 2008: 97).

Penjabaran komponen-komponen program layanan bimbingan di

kelas di atas, peneliti gunakan sebagai dasar yang berkaitan dengan

(52)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini berisi uraian mengenai jenis penelitian, subjek penelitian, instrumen

penelitian, prosedur pengumpulan data, dan teknik analisis data yang digunakan

dalam penelitian.

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dengan metode survei.

Furchan (2007: 450) menjelaskan penelitian deskriptif dengan metode survei

merupakan penelitian dengan pengumpulan data yang relatif terbatas dari

kasus-kasus yang relatif besar jumlahnya. Penelitian ini bertujuan untuk

menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik subjek yang diteliti

secara tepat. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan penelitian deskripstif

dengan metode survei, untuk memperoleh gambaran tentang persepsi

siswa-siswi kelas VII dan VIII SMP BOPKRI 3 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014

terhadap manfaat layanan bimbingan di kelas.

B. Subjek Penelitian

1. Populasi

Populasi penelitian adalah semua anggota kelompok manusi,

binatang, peristiwa, atau benda yang tinggal bersama dalam satu tempat

dan secara terencana menjadi target kesimpulan dari hasil akhir suatu

(53)

Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi kelas VII, kelas

VIII, dan kelas IX semester 2 SMP BOPKRI 3 Yogyakarta tahun ajaran

2013/2014 yang berjumlah 318 siswa. Alasan peneliti mengambil siswa

kelas VII, kelas VIII dan kelas IX pada semester 2 karena mereka sudah

mendapatkan layanan bimbingan di kelas dan tentunya dapat

mengidentifikasikan manfaat-manfaat layanan bimbingan yang mereka

peroleh. Secara rinci jumlah populas dapat dilihat pada tabel 1:

Tabel 1

Jumlah Populasi Siswa-Siswi Kelas VII, VIII dan IX SMP BOPKRI 3 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014

Kelas Jumlah

VII A 29 VII B 30 VII C 30 VII D 30 VIII A 31 VIII B 32 VIII C 31 VIII D 32

IX A 26

IX B 26

IX C 21

Total 318 2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang di miliki

oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2011: 118). Alasan peneliti mengambil

subjek peneliti secara sampel karena subjek penelitian terlalu banyak,

keterbatasan biaya dan waktu.

Pengambilan sampel dilakukan melalui purposive sampling adalah

suatu cara pengambilan sampel yang berdasarkan pada pertimbangan dan

(54)

sudah diketahui sebelumnya. Purposive sampling digunakan untuk

mencapai tujuan tertentu, berdasarkan pertimbangan tertentu (Arifin,

2011: 221). Dari jumlah populasi, peneliti tidak diizinkan menggunakan

kelas IX sebagai subjek karena kelas IX sedang mempersiapkan Ujian

Nasional. Pihak sekolah menentukan kelas-kelas mana saja yang dapat

digunakan untuk penelitian pada saat itu. Berikut ini adalah kelas-kelas

yang dipakai untuk penelitian, akan disajikan pada tabel 2:

Tabel 2

Jumlah Sampel Siswa-Siswi Kelas VII dan VIII SMP BOPKRI 3 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014

Kelas L P Jumlah

VII C 18 12 30 VII D 17 13 30 VIII A 19 12 31 VIII C 19 12 31

TOTAL 73 49 122 C. Instumen Penelitian

1. Alat ukur pengumpulan data

Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah kuesioner

Manfaat Layanan Bimbingan di Kelas. Kuesioner merupakan teknik

pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat

pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab

(Sugiono, 2010: 199).

Kuesioner ini disusun oleh peneliti sendiri dengan mengacu pada

penjabaran ragam bimbingan di kelas dan komponen-komponen program

layanan bimbingan di kelas. Jenis kuesioner yang digunakan adalah

(55)

jawaban yang di sediakan yaitu: Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak

Sesuai (TS), Sangat Tidak Sesuai (STS).

2. Format pernyataan

Item-item kuesioner yang digunakan untuk mengungkap persepsi

siswa-siswi kelas VII dan VIII SMP BOPKRI 3 Yogyakarta tahun ajaran

2013/2014 terhadap manfaat layanan bimbingan di kelas berdasarkan

penjabaran ragam bimbingan di kelas dan komponen-komponen program

layanan bimbingan di kelas. Pernyataan-pernyataan kuesioner terdiri atas

ungkapan yang mendukung, memihak atau menunjukkan ciri adanya

atribut yang diukur (favourable) dan ungkapan yang isinya tidak

mendukung atau tidak menggambarkan ciri atribut yang diukur

(unfavourable). (Azwar, 2007: 123)

3. Penentuan skor (scoring)

Penentuan skor untuk setiap jawaban dari pernyataan adalah sebagai

berikut:

a. Untuk pernyataan Favourable, jawaban Sangat Sesuai (SS) diberi

skor 4, Sesuai (S) diberi skor 3, Tidak Sesuai (TS) diberi 2, dan

Sangat Tidak Sesuai (STS) diberi skor 1.

b. Untuk pernyataan Unfavourable, jawaban Sangat Sesuai (SS) diberi

skor 1, Sesuai (S) diberi skor 2, Tidak Sesuai (TS) diberi 3, dan

(56)

4. Kisi-kisi kuesioner

Kisi-kisi kuesioner terdiri dari penjabaran ragam bimbingan di kelas

dan komponen-komponen program layanan bimbingan di kelas, seperti

yang disajikan pada tabel 3:

Tabel 3

Kisi-Kisi Kuesioner Manfaat Layanan Bimbingan Di Kelas

No Komponen Indikator Item Jumlah

a. Perubahan siswa dalam

hal mengendalikan diri 75, 108 27, 53 4 b. Perubahan siswa dalam

hal memiliki kebebasan diri

118, 10 56, 99 4

c. Perubahan siswa dalam

hal penerimaan sosial 18, 25 51, 109 4 d. Perubahan siswa dalam

hal penyesuaian diri 117, 68, 94 37, 8, 55 6

2.

Kesesuaian antara tugas perkembangan dan materi bimbingan

a. Perubahan siswa dalam hal kemampuan

b. Perubahan siswa dalam hal kematangan

emosional dari orangtua atau figur otoritas

47, 123, 22 5, 81, 59 6

c. Perubahan siswa dalam hal membina hubungan baik dengan teman sebaya atau orang lain secara wajar.

41, 111, 62 105, 31, 16 6

d. Perubahan siswa dalam hal mengembangkan keterampilan

berkomunikasi lisan atau tulisan

121, 17, 46 60, 93, 89 6

e. Perubahan siswa dalam hal bertingkah laku yang

(57)

No Komponen Indikator Item Jumlah

a. Perubahan siswa dalam hal pemahaman diri

54, 85, 2,

38 112, 24, 72, 70 8

b. Perubahan siswa dalam hal membina hubungan dengan lingkungan sekitar

44, 26, 97,

4 120, 69, 12, 79 8

c. Perubahan siswa dalam hal belajar yang efektif

1, 101, 20,

114 84, 49, 64, 87 8

d. Perubahan siswa dalam hal yang mengarahkan karier

110 63 2

4.

Metode bimbingan yang kreatif, inovatif

a. Perubahan siswa dalam hal keterlibatan dalam bimbingan di kelas

106, 13 48, 90 4

b. Perubahan siswa dalam hal keterlibatan pada ice breaker bimbingan di kelas

32, 58 91, 7 4

c. Perubahan siswa setelah mengikuti aktivitas bimbingan melalui metode permainan/role play

103, 23 6, 67 4

d. Perubahan siswa setelah mengikuti aktivitas bimbingan melalui metode diskusi kelompok

98, 34, 113 61, 76, 39 6

5. Pengelolaan kelas

Perubahan siswa dalam hal keaktifan mengikuti

a. Perubahan siswa setelah mengikuti aktivitas bimbingan melalui Ms. Power Point

36, 100 116, 11 4

b. Perubahan siswa setelah mengikuti aktivitas

a. Perubahan siswa dalam hal kesadaran

b. Perubahan siswa dalam kesadaran akan

kemampuan mengatasi suatu masalah yang sulit

40, 28, 71,

88 107, 86, 3, 122 8

(58)

5. Validitas dan reliabilitas

a. Validitas instrumen

Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh

mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukut dalam melakukan

fungsi ukurnya (Azwar, 2007: 51). Azwar (2007:51) menjelaskan

bahwa suatu tes atau instrumen pengukur dapat dikatakan

mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan

fungsi ukurnya, yang sesuai dengan maksud di lakukannya

pengukuran tersebut. Jenis validitas yang digunakan adalah validitas

isi. Validitas isi merupakan suatu validitas yang menunjukkan

sampai dimana isi suatu tes atau alat ukur mencerminkan hal-hal

yang diukur (Azwar, 2007: 52). Validitas isi kuesioner ini

menggunakan Expert Judgement, yaitu Dr. M.M. Sri Hastuti, M. Si

sebagai Dosen Pembimbing dan Ibu Tri Nurjayanti, S.Pd, selaku

Koordinator BK dan Bapak Catur Suryo Nugroho, S.Psi, selaku Staf

BK di SMP BOPKRI 3 Yogyakarta.

Teknik uji validitas yang digunakan melalui analisis korelasi

Pearson Product Moment.

Formula

XY

r

∑ ∑ ∑

∑ ∑ ∑ ∑

Keterangan :

XY

r = Korelasi skor-skor total kuesioner dan total butir-butir

N = Jumlah subyek

(59)

Y = Skor total butir-butir kuesioner

XY = Hasil perkalian antara skor X dan skor Y

Penelitian ini menggunakan metode uji coba terpakai artinya,

pengumpulan data dilakukan satu kali untuk 2 tujuan, yaitu pertama,

uji coba untuk mendapatkan data dan uji validasi. Kedua, untuk

mengolah data responden berdasarkan item-item yang valid.

Tahap perhitungan uji validasi adalah menggunakan program

SPSS (Statistic Programme for School Science) versi 16.0.

Perhitungan dengan SPSS menggunakan patokan koefisien korelasi

0,30. Jika koefisien korelasinya ≥0,30, maka item yang bersangkutan

dinyatakan valid. Sedangkan, jika koefisien korelasinya ≤0,30, maka

item yang bersangkutan tidak valid. Peneliti melakukan uji validasi

dengan mengelompokkan item-item setiap komponen aspek.

Dari perhitungan statistik di peroleh 95 item yang valid dan 31

item yang tidak valid. Item-item tidak valid dijabarkan pada tabel 4:

Tabel 4

Item-Item Kuesioner yang Tidak Valid

No. Komponen No Item Jumlah

Favourable Unfavourable

1. Kesesuaian antara kebutuhan

siswa dan materi bimbingan 10, 68 56, 37, 8 5

4. Metode bimbingan yang

kreatif, inovatif - 7, 6 2

Gambar

Tabel 14 Item-Item Kuesioner Manfaat Layanan Bimbingan di Kelas yang
Gambar 1 Persepsi Siswa-Siswi Kelas VII dan VIII SMP BOPKRI 3
Tabel 1 Jumlah Populasi Siswa-Siswi Kelas VII, VIII dan IX
Tabel 2 Jumlah Sampel Siswa-Siswi Kelas VII dan VIII
+7

Referensi

Dokumen terkait

Guru kelas juga harus memberi pemahaman kepada peserta didik mengenai manfaat dan pentingnya dari layanan-layanan bimbingan dan konseling yanga da di SDIT Smart

Judul Tesis : Kontribusi Layanan Bimbingan Kelompok Komunikasi Antar Pribadi Konsep Diri Terhadap Interaksi Sosial Di Sekolah Pada Siswa kelas VII SMPN Di

Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan pengendalian amarah pada siswa dengan menggunakan layanan bimbingan kelompok siswa kelas VII di SMP Raksana Medan.. Adapun metode

OPTIMALISASI KONSEP DIRI SISWA MELALUI LAYANAN BIMBINGAN KLASIKAL DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA PERMAINAN (Penelitian Tindakan Bimbingan Pada siswa Kelas VIII A SMP Kanisius

persepsi siswa terhadap kompetensi kepribadian guru Bimbingan dan Konseling.. dengan jumlah 62

Namun karena banyaknya remaja mengalami atau melakukan konformitas dan mengikuti kepatutan sosial social desirability dalam diri mereka, maka hasil yang diperoleh banyak

EVALUASI PELAKSANAAN LAYANAN BIMBINGAN BELAJAR DI KELAS VIII SMP MUHAMMADIYAH 1 MLATI TAHUN AJARAN 2012/2013 Oleh Yuli Nurfahmi NIM 09104241017 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan

Pada kegiatan layanan bimbingan kelompok ini diharapkan layanan ini akan memberikan pengaruh yang signifikan dalam mengurangi perilaku agresif siswa kelas VIII di