• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkat kecerdasan moral siswa-siswi kelas XI SMA Bopkri 2 Yogyakarta tahun ajaran 2017/2018

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Tingkat kecerdasan moral siswa-siswi kelas XI SMA Bopkri 2 Yogyakarta tahun ajaran 2017/2018"

Copied!
113
0
0

Teks penuh

(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. TINGKAT KECERDASAN MORAL SISWA KELAS XI SMA BOPKRI 2 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2017/2018 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling. Disusun Oleh: K.P Pratiwi Yuliana B. 141114016. PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2018.

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. TINGKAT KECERDASAN MORAL SISWA-SISWI KELAS XI SMA BOPKRI 2 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2017/2018 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Bimbingan dan Konseling. Disusun Oleh: K.P. Pratiwi Yuliana B. 141114016. PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2018. i.

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ii.

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. iii.

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. HALAMAN MOTTO. “Aku mengucap syukur setiap kali aku mengingat bahwa aku berada di tengahtengah orang-orang luar biasa yang Tuhan ijinkan untuk kukasihi.” (Pratiwi Yuliana). “Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya, apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1:3). Beri hati pada setiap kerja kerasmu (Tulus). “Jangan menilai saya dari kesukseksan, tetapi nilai saya dari seberapasering saya jatuh dan berhasil bangkit kembali”(Nelson Mandela). “In this life we can’t do great things. We can only do small things with great love” (Mother Teresa). iv.

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. HALAMAN PERSEMBAHAN. Skripsi ini saya persembahkan kepada:.  Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria yang tiada hentihentinyamenyertaiku melalui berkat dan kuasa-Nya yang luar biasa..  Nenek Elisabeth Suta (alm) dan Mbah Suwarti yang dari awal tiadahentinya memberikannasehat, doa dan cintanya untukku..  Ibu Monika Margaretha, Bapak Tri Mulyono dan Mas Ucuq yangdengan segala ketulusan, doa, kasih dan cinta telah memberikanenergi positif kepadaku tanpa henti..  Yustinus Dasilva Moron yangselalu memberikan semangat dan dukungannya kepadaku..  Mami, Papi dan Adik Zizi yang selalu memberikan semangat tanpa henti kepadaku ketika aku menulis skripsi ini.. v.

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi.

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vii.

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ABSTRAK TINGKAT KECERDASAN MORAL SISWA-SISWI KELAS XI SMA BOPKRI 2 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2017/2018 K.P. Pratiwi Yuliana B. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 2018 Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk: (1) mengetahui tingkat kecerdasan moral siswa kelas XI SMA BOPKRI 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2017/2018 dan (2) merumuskan usulan topik-topik bimbingan untuk mengembangkan dan memelihara kecerdasan moral siswa kelas XI SMA BOPKRI 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2017/2018 berdasarkan capaian skor item Kuesioner (Angket) Kecerdasan Moral Siswa yang terindetifikasi sedang dan tinggi. Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMA BOPKRI 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2017/2018 yang berjumlah 90 orang.Instrumen penelitian yang digunakan adalah Kuesioner (Angket) Kecerdasan Moral Siswa yang terdiri dari tiga aspek kecerdasan moral, yaitu empati, hati nurani dan kontrol diri. Kuesioner Kecerdasan Moral Siswa memuat 85 item dengan 4 alternatif jawaban, yaitu: selalu, kadang-kadang, jarang, dan tidak pernah. Reliabilitas instrumen dihitung menggunakan formula Alpha Cronbach dengan nilai koefisien relibialitas sebesar 0,918. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa kelas XI SMA BOPKRI 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2017/2018 memiliki tingkat kecerdasan moral sebagai berikut: ada 49 siswa (56%) memiliki kecerdasan moral dalam kategori sangat tinggi, 34 siswa (39%) memiliki kecerdasan moral dalam kategori tinggi, 5 siswa (6%) memiliki kecerdasan moral dalam kategori sedang, dan tidak ada satupun siswa berada pada kategori rendah maupun sangat rendah. Dari hasil perhitungan skor item, terdapat 45 item (83%) yang capaian skornya tinggi, 9 item (17%) yang capaian skornya sedang, dan tidak ada satupun capaian skor yang teridentifikasi rendah. Dari jumlah item yang capaian skornya sedang dan tinggi diambil masing-masing satu item untuk dijadikan bahan usulan topik-topik bmbingan mengembangkan dan memelihara kecerdasan moral siswa kelas XI SMA BOPKRI 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2017/2018.Judul topik-topik bimbingan siswa yaitu, “Aku Pribadi Positif” dan “Menerima Diri dan Sesama”.Bimbingan yang dilakukan adalah dengan metode bimbingan klasikal, sharing, presentasi, dinamika kelompok, dan refleksi dengan tujuan untuk mampu meningkatkan dan mempertahankan kecerdasan moral pada diri siswa. Kata kunci:kecerdasan moral, siswa viii.

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ABSTRACT MORAL INTELLIGENCE LEVEL OF CLASS XI STUDENTS OF SMA BOPKRI 2 YOGYAKARTA, ACADEMIC YEAR 2017/2018 K.P. Pratiwi Yuliana B. Sanata Dharma University Yogyakarta 2018 This research is a quantitative descriptive research that aims to: (1) know the moral intelligence level of class XI students of SMA BOPKRI 2 Yogyakarta Year 2017/2018 and (2) formulate suggestions for guidance topics to develop and maintain class XI students’ moral intelligence of SMA BOPKRI 2 Yogyakarta, Academic Year 2017/2018 based on the achievement score mark on Student’s Moral Intelligence Questionnaire which identified medium and high. The subjects of this study were all students of class XI in SMA BOPKRI 2 Yogyakarta Year 2017/2018 with total 90 students. The research instrument used in this researchwas the Student's Moral Intelligence Questionnaire which consists of three aspects of moral intelligence, namely empathy, conscience and self-control. Moral Intelligence Questioners Students contains 85 items with 4 alternative answers, namely: always, sometimes, rarely, and never. The reliability instrument was calculated using Alpha Cronbach formula with reliability coefficient value of 0.918. The results of this study indicate that students of class XI in SMA BOPKRI 2 Yogyakarta, academic year 2017/2018, have the level of moral intelligence described as follows: there are 49 students (56%) with very high category moral intelligence, 34 students (39%) with high category moral intelligence, 5 students (6%) with medium category moral intelligence, and none in low or very low category. From the calculation of item scores, there were 45 items (83%) with high score, 9 items (17%) with medium score, and none of the score was identified as low. From the number of items with medium and high score is taken one item each as the material of the proposed topics for developing and maintaining the moral intelligence of class XI students in SMA BOPKRI 2 Yogyakarta Year 2017/2018. The title of the student guidance topics is, "I'm Positive Person" and "Accepting Yourself and Your Neighbor". Guidance is conductedusing the method of classroom guidance, sharing, presentation, group dynamics, and reflection that aimed to be able to develop and maintain students' moral intelligence. Keywords: moral intelligence, students. ix.

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. KATA PENGANTAR Puji dan syukur peneliti sampaikan kepada Allah Bapa Yang Maha Baik atas segala rahmat dan karuniaNya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Tingkat Kecerdasan Moral Siswa Kelas XI SMA BOPKRI 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2017/2018”. Selama penulisan skripsi ini peneliti menyadari bahwa banyakpihak yang telah membantu, mendukung, dan mendampingi peneliti dengan ketulusan hati agar skripsi ini terselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, peneliti ingin mengucapkan terimakasih kepada: 1.. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.. 2.. Dr. Gendon Barus, M.Si. selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling yang selalu memberikan semangat, dukungan dan motivasi bagi peneliti untuk terus semangat dan pantang menyerah dalam mengerjakan skripsi ini.. 3.. Dra. M.J. Retno Priyani, M.Si.selaku dosen pembimbing yang selalu menyempatkan. waktunya. dengan. sabar. mendampingi. peneliti. untuk. menyelesaikan skripsi ini. 4.. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma yang telah banyak sekali memberikan ilmu yang sangat bermanfaat bagi peneliti di masa depan.. x.

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 5.. Bapak Stefanus Priyatmoko yang selalu setia dan sabar memberikan pelayanan administrasi di Sekretariat selama peneliti menempuh studi di Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma.. 6.. Ibu Sri Sulastri M.Pd selaku Kepala Sekolah SMA BOPKRI 2 Yogyakarta, yang telah menerima dan memberikan dukungannya kepada peneliti dalam menyelesaikan pengambilan data di SMA BOPKRI 2 Yogyakarta.. 7.. Bapak dan Ibu Guru yang telah sabar dan mendampingi peneliti dalam proses penyebaran kuesioner.. 8.. Keluarga tercinta ibu, bapak, dan mas yang selalu menelpon dan mengingatkan peneliti untuk terus semangat dalam proses penulisan skripsi ini.. 9.. Mami, Papi dan Adik Zizi yang selalu memberikan candaan-candaan sederhananya dan motivasi agar peneliti terus semangat dalam proses penulisan skripsi ini.. 10. Yustinus Dasilva Moron yang selalu setia mendampingi peneliti untuk mengerjakan skripsi ini agar terselesaikan sesuai dengan target. 11. Ange dan Iyang yang selalu menjadi korban pelampiasan kekesalan peneliti ketika proses penulisan skripsi ini. 12. Mela dan Yogo yang selalu memberikan petuah-petuah bijaknya untuk peneliti agar semangat menyelesaikan skripsi ini. 13. Joice Natalia Felle dan Maria Sugihartatik yang setia bersama peneliti dari awal kuliah, sampai penulisan skripsi ini selalu memberikan semangat kepada peneliti.. xi.

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. xii.

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .................................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................................ ii HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................................... iii HALAMAN MOTTO ......................................................................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN......................................................................................... v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .................................................. vi HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PIBLIKASI .................................. vii ABSTRAK ..........................................................................................................................viii ABSTRACT ........................................................................................................................... ix KATA PENGANTAR. ........................................................................................................ x DAFTAR ISI. ..................................................................................................................... xiii DAFTAR TABEL ............................................................................................................. xvi DAFTARGAMBAR......................................................................................................... xvii DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................................. xviii BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah ........................................................................................... 1 B. Identifikasi Masalah .................................................................................................. 5 C. Pembatasan Masalah ................................................................................................. 6 D. Rumusan Masalah ..................................................................................................... 6 E. Tujuan Penelitian....................................................................................................... 6 F. Manfaat Penelitian .................................................................................................... 7 G. Batasan Istilah ............................................................................................................ 8 BAB II KAJIAN PUSTAKA ............................................................................................. 9 A. Pengertian Kecerdasan Moral .................................................................................. 9 B. Aspek-Aspek Kecerdasan Moral ........................................................................... 11. xiii.

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 1.. Empati ............................................................................................................. 12. 2.. Hati Nurani ..................................................................................................... 13. 3.. Kontrol Diri .................................................................................................... 15. C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kecerdasan Moral .......... 16 1.. Situasi ............................................................................................................. 16. 2.. Individu ......................................................................................................... 17. 3.. Sosial ............................................................................................................... 18. D. Ciri-Ciri Perilaku Orang yang Memiliki Kecerdasan Moral ............................ 20 1.. Pengetahuan Moral ....................................................................................... 21. 2.. Perasaan Moral .............................................................................................. 24. 3.. Aksi Moral ..................................................................................................... 26. E. Kajian Penelitian yang Relevan ............................................................................ 28 F. Kerangka Pikir ......................................................................................................... 29 BAB III METODE PENELITIAN ................................................................................. 31 A. Jenis Penelitian ........................................................................................................ 31 B. Tempat dan Waktu Penelitian ................................................................................ 32 C. Subjek Penelitian ..................................................................................................... 32 D. Definisi Variabel Penelitian ................................................................................... 32 E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ........................................................... 33 F. Uji Coba.................................................................................................................... 36 G. Validitas dan Reliabilitas Instrumen ..................................................................... 38 1.. Validitas.......................................................................................................... 38. 2.. Reliabilitas ....................................................................................................... 41. H. Teknik Analisis Data .............................................................................................. 43 BAB IV HASIL PENELITIAN ...................................................................................... 48 A. Hasil penelitian ........................................................................................................ 48 B. Pembahasan .............................................................................................................. 52 BAB V PENUTUP............................................................................................................. 67. xiv.

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. A. Kesimpulan .............................................................................................................. 67 B. Keterbatasan Penelitian .......................................................................................... 68 C. Saran .......................................................................................................................... 69. DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ 70. xv.

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR TABEL Tabel 3.1Jumlah Siswa............................................................................................... 32 Tabel 3.2Skoring Tingkat Kecerdasan Moral ............................................................ 35 Tabel 3.3 Kisi-kisi Instrumen Kecerdasan Moral....................................................... 35 Tabel 3.4Jumlah Subjek Uji Coba.............................................................................. 36 Tabel 3.5 Jumlah Item Gugur dan Valid .................................................................... 38 Tabel 3.6Rekapitulasi Hasil Uji Coba ........................................................................ 41 Tabel 3.7Reliabilitas Item .......................................................................................... 42 Tabel 3.8Kriteria Guildford........................................................................................ 42 Tabel 3.9Norma Kategorisasi Tingkat Kecerdasan Moral ......................................... 44 Tabel 4.1Norma Kategorisasi Tingkat Kecerdasan Moral Siswa .............................. 45 Tabel 4.2Norma Kategorisasi Item Tingkat Kecerdasan Moral................................. 46 Tabel 4.3Norma Kategorisasi Item Tingkat Kecerdasan Moral Siswa ...................... 47 Tabel 4.4 Kategorisasi Kecerdasan Moral Siswa Kelas XI........................................ 48 Tabel 4.5 Distribusi Perolehan Skor Item Tingkat Kecerdasan Moral Siswa ............ 51 Tabel 4.6 Rekapitulasi Item-item Pernyataan ............................................................ 51 Tabel 4.7 Usulan Topik-topik Bimbingan.................................................................. 66. xvi.

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR GAMBAR Gambar 3.1 Kerangka Pikir Kecerdasan Moral......................................................... 30 Gambar 4.1 Diagram Kategorisasi Kecerdasan Moral.............................................. 50. xvii.

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR LAMPIRAN Lampiran1Surat Ijin Penelitian ................................................................................. 73 Lampiran 2Kuesioner Penelitian ............................................................................... 74 Lampiran 3 Kuesioner Uji Coba ............................................................................... 79 Lampiran 4Tabulasi Data .......................................................................................... 86 Lampiran 5Hasil Komputasi Uji Validitas Item-Total Instrumen Penelitan............. 88. xviii.

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini dipaparkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi istilah. A. Latar Belakang Masalah Remaja merupakan suatu tahap yang tak terlupakan di dalam kehidupan manusia, yaitu peralihan dari kanak - kanak menuju dewasa. Pada tahapan ini seseorang memulai untuk mencari identitas dan penampilan diri.. Nawami (2010) menegaskan bahwa tahap remaja. dianggap sebagai “emotional age” (umur emosi). Pada tahapan emotional age ini remaja sering terjebak pada perilaku-perilaku yang menyimpang, kurang bermoral dan melanggar etika, seperti ketika merayakan kelulusan banyak remaja-remaja yang berasal dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/K) konvoi atau coretcoret pakaian mereka untuk merayakan kelulusan. Oleh sebab itu, pada usia ini pada diri remaja perlu diperkuat kemampuan moral yang bertanggung. jawab.. Pendidikan. moral. sangat. dibutuhkan. untuk. membentuk kepribadian yang baik pada remaja. Remaja diarahkan untuk mengembangkan moral sesuai dengan kultur yang berkembang pada masyarakat. Mendidik moral diperlukan intensitas dan keterlibatan orang tua. Tetapi di dewasa ini, kesibukan orang tua berimbas pada intensitas maupun keterlibatannya dalam. 1.

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. memberikan pendidikan moral pada remaja. Kesibukan orang tua terjadi karena mereka memiliki peran ganda untuk melaksanakan tugas-tugas dalam keluarga sekaligus menjalankan tugas-tugas sebagai pekerja di instansi. Kesibukan orang tua dapat menyebabkan mereka merasa bersalah karena tidak lagi mempunyai cukup banyak waktu untuk mendampingi perkembangan moral remaja. Kompensasi rasa bersalah itu mendorong orang tua untuk melakukan hal-hal yang kurang mendukung pertumbuhan moralitas misalnya dengan memberikan materi yang berlebihan, membiarkan remaja tidur larut malam, dan mengizinkam remaja melakukan sesuatu meski mereka tahu tidak semestinya diizinkan. Oleh karena itu remaja sangat membutuhkan bimbingan dan arahan dari orang tuanya karena mereka masih berada pada masa pencarian identitas diri. Perkembangan. moral. remaja. banyak. dipengaruhi. oleh. lingkungannya. Remaja memperoleh nilai-nilai moral dari lingkungannya, entah itu keluarga, sekolah maupun masyarakat luas. Remaja berperilaku bukan hanya untuk memenuhi kepuasan fisiknya, tetapi juga kepuasan psikologis (rasa puas dengan adanya penerimaan, penilaian positif, rasa cinta, rasa berharga, dan aktulisasi diri). Perkembangan moral berkaitan dengan. aturan-aturan. dan. ketentuan-ketentuan. tentang. apa. yang. seharusnya dilakukan oleh orang dalam berinteraksi dengan orang lain. Para pakar perkembangan mempelajari tentang individu individu atau remaja berpikir, berperilaku, dan menyadari tentang aturan-aturan tersebut. Remaja memiliki potensi moral yang siap untuk dikembangkan melalui.

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. berbagai pengalaman sosial yang dialami. Remaja belajar tentang hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Perkembangan moral pada individu penting untuk mendapatkan perhatian, karena dengan moral yang baik diharapkan individu dapat diterima dengan baik di lingkungan masyarakat. Dalam rentang tahun 2013 banyak terjadi penurunan moral remaja di beberapa Provinsi Republik Indonesia. Fenomena yang terjadi salah satunya adalah perilaku amoral yang dilakukan oleh seorang pemuda dengan melakukan aksi penjambretan terhadap seorang pejalan kaki. Kejadian ini terjadi di salah satu gerbang pusat perbelanjaan daerah kota Palembang (Harian Umum Berita Pagi, 2013). Adapun fenomena juga terjadi di Suka Bumi Jawa Barat, beberapa siswa SMA terlibat tawuran saat menonton konser musik (Kabar Malam, 2013). Selain itu ada juga fenomena pelajar SMA yang terjaring razia sedang melakukan perilaku mesum di dalam warnet, hal tersebut terjadi di Kudus Jawa Tengah (Reportase Pagi, 2013). Kota Yogyakarta juga sempat terjadi penurunan moral remaja, kota yang selama ini dikenal sebagai kota budaya dan kota pelajar. Sebuah kota yang tentunya selalu menjadi tempat pertama yang dipilih oleh banyak orang untuk melanjutkan studi, tentu saja nama kota pelajar sangat melekat di hati banyak orang. Namun, sayangnya dalam rentang tahun 2016 hingga 2017 kota Yogyakarta ternoda oleh perilaku beberapa pelajar yang melakukan aksi tidak bermoral, aksi ini dikenal dengan klithih. Klithih sendiri merupakan geng pelajar yang melakukan tawuran dengan.

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4. geng dari sekolah lain dan sering kali menimbulkan kematian pada salah satu pihak. Hal ini tentu saja sangat memprihatinkan, mengingat remaja lah yang nantinya akan menjadi penerus bangsa kita. Jika remaja sudah mengalami kemerosotan moral sejak dini maka bagaimana kita bisa memperbaiki ini semua, jika tidak dengan mencegah kemerosotan moral ini agar tidak semakin luas. Pengalaman peneliti dalam program Magang di SMA BOPKRI 2 Yogyakarta. sering. kali. menemukan. beberapa. fenomena. yang. menggambarkan kemerosotan moral remaja. Contohnya seperti siswa yang ikut-ikutan temannya untuk mengerjai beberapa temannya, melakukan kegiatan yang dilarang di sekolah, mendendam terhadap teman-teman yang sering menjahili dan memiliki rencana untuk membalas hal tersebut, kurangnya kesadaran siswa untuk menerapkan semboyan Sapa, Salam, Senyum (3S) yang terpampang di dinding sekolah. Beberapa siswa ketika berhadapan dengan gurunya bersikap kurang baik atau ramah. Peneliti juga melihat beberapa siswa yang kurang memiliki rasa empati terhadap temannya yang sedang kesusahan. Beberapa siswa melakukan perbuatan yang sebenarnya mereka tahu bahwa itu tidak baik namun tetap dilakukannya, seperti ketika mereka dihadapkan untuk tidak mengulangi kebiasaan untuk terlambat masuk ke kelas ketika jam istirahat sudah selesai. Beberapa siswa juga terkadang tampak sulit untuk mengontrol dirinya dari tindakan yang tidak tepat sebagai seorang pelajar..

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. Meskipun ada cukup banyak pelanggaran moral yang dilakukan oleh siswa, namun ada juga moral empati yang tertanam pada diri beberapa siswa. Ketika ada sesama teman mereka yang butuh pertolongan, mereka akan langsung menolong dan toleran terhadap penderitaan teman di sekolah, karena siswa yang sekolah di SMA BOPKRI 2 berasal dari berbagai daerah di Indonesia bahkan ada beberapa siswa yang berasal dari negara lain. Mengingat perkembangan moral berperan sangat penting pada remaja, maka berangkat dari fenomena-fenomena kemerosotan kecerdasan moral di kalangan siswa SMA itulah, peneliti tertarik melakukan penelitian yang berjudul “Tingkat Kecerdasan Moral Siswa Kelas XI SMA BOPKRI 2 Yogyakarta tahun ajaran 2017/2018”. B. Identifikasi Masalah Berangkat dari latar belakang di atas, peneliti menemukan beberapa masalah yang teridentifikasi sebagai berikut: 1. Kurangnya kesadaran siswa untuk menerapkan semboyan Sapa, Salam, Senyum (3S) di SMA BOPKRI 2 Yogyakarta 2. Beberapa siswa yang ikut-ikutan temannya untuk mengerjai beberapa teman 3. Siswa memiliki rasa dendam terhadap teman-teman yang sering menjahili dan memiliki rencana untuk membalas hal tersebut 4. Beberapa siswa ketika berhadapan dengan gurunya bersikap kurang baik atau ramah.

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. 5. Beberapa siswa yang kurang memiliki rasa empati terhadap temannya yang sedang kesusahan 6. Beberapa siswa tampak sulit untuk mengontrol dirinya dari tindakan yang tidak tepat sebagai seorang pelajar C. Pembatasan Masalah Pada penelitian ini, fokus kajian diarahkan untuk menjawab permasalahan yang teridentifikasi yaitu mengenai kecerdasan moral siswa kelas XI SMA BOPKRI 2 Yogyakarta tahun ajaran 2017/2018. D. Rumusan Masalah Sesuai dengan latar belakang masalah dan pembatasan masalah di atas, maka rumusan masalah penelitian ini sebagai berikut: 1. Seberapa baik tingkat kecerdasan moral siswa kelas XI SMA BOPKRI. 2 Yogyakarta tahun ajaran 2017/2018? 2. Topik-topik bimbingan apa sajakah yang sesuai diusulkan untuk. mengembangkan dan memelihara kecerdasan moral pada siswa kelas XI SMA BOPKRI 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2017/2018, berdasarkan perolehan hasil penelitian? E. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: 1. Mengetahui tingkat kecerdasan moral Siswa SMA BOPKRI 2 Yogyakarta tahun ajaran 2017/2018. 2. Mengetahui topik-topik bimbingan apa sajakah yang sesuai diusulkan untuk mengembangkan dan memelihara kecerdasan moral pada siswa.

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7. kelas XI SMA BOPKRI 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2017/2018, berdasarkan perolehan hasil penelitian. F. Manfaat Penelitian Diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat: 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi dunia pendidikan dalam bidang ilmu Bimbingan dan Konseling untuk membantu siswasiswa di SMA dalam meningkatkan kecerdasan moral yang menjadi dasar dalam sikap dan perilaku mereka, karena mengingat bahwa kecerdasan moral sekarang ini banyak terjadi kemerosotan. 2. Manfaat Praktis a.. Bagi Sekolah 1) Penelitian ini berguna untuk mengetahui tingkat kecerdasan moral pada siswa kelas XI SMA BOPKRI 2 Yogyakarta tahun ajaran 2017/2018. 2) Penelitian ini dapat berguna dalam memberikan pendampingan atau bimbingan pada siswa dalam meningkatkan kecerdasan moral yang sejatinya sangat penting dan berpengaruh terhadap perkembangan mereka sebagai remaja.. b.. Bagi Orangtua Penelitian ini dapat menjadi referensi bagi orangtua untuk bertindak tegas terhadap perilaku anak yang kurang baik di rumah, sekolah maupun lingkungan bermainnya..

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8. c.. Bagi Guru BK Penelitian ini sekiranya dapat membantu guru BK untuk memberikan bimbingan yang sesuai dan tepat bagi siswanya untuk mengembangkan maupun memelihara moral baik yang ada dalam diri siswa.. d.. Bagi Siswa Hasil penelitian ini dapat membantu siswa dalam memahami kecerdasan moral mereka.. G. Batasan Istilah Kecerdasan moral adalah kemampuan memahami hal yang baik dan yang buruk, yang disertai keyakinan etika yang kuat dalam bertindak, sehingga orang bersikap benar dan terhormat. Namun perlu diketahui juga, bahwa individu yang memiliki kecerdasan moral bukan hanya sekedar memahami hal yang baik dan yang buruk saja. Individu juga dapat mengembangkan pengetahuannya terhadap moral, perasaannya dalam mengambil sebuah keputusan, kesadarannya untuk mengambil keputusan tanpa gegabah, maka individu memiliki moral yang cerdas dalam berperilaku nantinya..

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB II KAJIAN PUSTAKA Pada bab ini dipaparkan pengertian kecerdasan moral, aspek-aspek kecerdasan moral, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kecerdasan moral, ciri-ciri perilaku orang yang memiliki kecerdasan moral, kajian penelitian yang relevan dan kerangka pikir. A. Pengertian Kecerdasan Moral Menurut Adisusilo (2013: 2) “perilaku moral pada dasarnya sesuatu yang tersembunyi dalam pikiran seseorang karena tersimpan dalam cara berpikirnya. Maka hanya melihat tampilan seseorang tidak cukup untuk mengetahui apa yang menjadi pertimbangan moral di balik tingkah laku seseorang.” Orang-orang yang memiliki pemikiran dan pertimbangan yang logis seperti Piaget dan Kohlberg (Santrock, 2003) beranggapan. bahwa. perilaku moral hanya memiliki nilai moral jika perilaku itu dilakukan berdasarkan pertimbangan rasional dari individu sendiri, atas dasar kemauan sendiri secara sadar sebagai implikasi dari pemahaman atas nilainilai yang dipelajari sebelumnya. Oleh karena itu, perilaku moral hanya dianggap bernilai moral jika perilaku itu dilakukan secara sadar atas kemauan sendiri dan bersumber dari pemikiran moral yang bersifat otonom (Kohlberg, 1971). Dalam pandangan Kohlberg, pertimbangan moral merupakan faktor yang amat menentukan lahirnya perilaku moral. Oleh karena itu, menentukan perilaku moral dapat dilakukan dengan. 9.

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10. menelusuri pertimbangannya. Hal itu berarti mengukur moralitas seseorang tidak cukup hanya mengamati perilaku moral yang tampak, melainkan juga harus melihat pertimbangan moral yang mendasari keputusan perilaku moral tersebut. Menurut Coles (2000: 3) kecerdasan moral dihidupkan oleh imajinasi moral, yaitu kemampuan seseorang yang tumbuh perlahan-lahan untuk merenungkan mana yang benar dan mana yang salah dengan menggunakan sumber emosional maupun intelektual pikiran manusia. Imajinasi moral yang dimiliki dapat menjadi landasan bagi seorang individu untuk membedakan antara perbuatan baik dan perbuatan tidak baik yang dapat diamati melalui perilaku manusia di sekitar individu tersebut. Kecerdasan moral tidak dapat dicapai hanya dengan sekedar membaca dan mengingat segala bentuk peraturan yang ada di lingkungan sekitar atau mendiskusikan secara abstrak saat di sekolah atau di masyarakat. Coles (2000: 5) berpendapat bahwa: Kita tumbuh secara moral sebagai hasil mempelajari bagaimana bersikap terhadap orang lain, bagaimana berperilaku di dunia ini, pelajaran yang ditimbulkan oleh tindakan memasukkan ke dalam hati apa yang kita lihat dan kita dengar. Oleh karena itu, individu memerlukan model dari orangtua, guru, maupun orang-orang dewasa yang ada di sekitar yang dapat memberi contoh perbuatan-perbuatan moral, sehingga individu mampu melakukan tindakan moral terhadap orang lain dan secara tidak langsung, masingmasing diri individu telah menjadi model bagi orang lain di sekitarnya..

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11. Kecerdasan moral menekankan bagaimana individu berhubungan dengan orang lain atau mengarahkan diri pada orang lain. Melalui hal tersebut, seseorang dapat dinilai sebagai orang yang dianggap baik apabila ia mampu mengarahkan dirinya pada hal-hal di luar dirinya terutama pada sesama dengan memikirkan kepentingan dan hak-hak orang lain. Borba (2008: 4) berpendapat bahwa: Kecerdasan moral adalah kemampuan memahami hal yang benar dan yang salah; artinya, memiliki keyakinan etika yang kuat dan bertindak berdasarkan keyakinan tersebut, sehingga orang bersikap benar dan terhormat. Pada pengertian kecerdasan moral tersebut, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan moral yang sangat penting mencakup karakter utama; seperti kemampuan untuk memahami penderitaan orang lain dan tidak berperilaku jahat, mampu mengendalikan emosi, mendengarkan terlebih dahulu sebelum bertindak, menerima dan menghargai perbedaan, mampu memiliki. rasa. empati,. mampu. memperjuangkan. keadilan,. dan. menunjukkan kasih sayang serta rasa hormat terhadap orang lain (Borba 2008: 4). B. Aspek-aspek Kecerdasan Moral Kecerdasan moral terbangun atau terbentuk dari tujuh kebajikan utama, yaitu empati, hati nurani, kontrol diri, rasa hormat, kebaikan hati, toleransi dan keadilan. Ketujuh kebajikan utama tersebut membantu individu menghadapi tantangan-tantangan dan tekanan etika yang tidak dapat dihindarkan dalam kehidupannya. Kebajikan-kebajikan utama tersebutlah yang akan melindungi individu agar tetap berada pada jalan.

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12. yang benar dan dapat membantu individu agar bermoral dalam bertindak. Ketujuh kebajikan tersebut dapat diajarkan, dicontohkan, disadarkan, serta didorong sehingga dapat dicapai oleh individu. Dari ketujuh aspek tersebut terdapat 3 aspek utama yang merupakan kebajikan dasar dari kecerdasan moral yaitu empati, hati nurani dan kontrol diri. Ketiga aspek tersebut sangat penting bagi kecerdasan moral, ketiganya biasa disebut dengan inti moral. Karena jika salah satu dari ketiga aspek utama tersebut tidak berkembang dengan baik, dapat mengakibatkan individu sulit untuk terlindung dari pengaruh buruk yang menghampirinya dan jika ketiganya lemah maka dapat membuat individu semakin tidak terkontrol moralnya. Inti yang kuat merupakan hal penting bagi perkembangan kecerdasan moral individu karena memberi kekuatan bagi individu untuk menangkis hal buruk dari dalam maupun dari luar dirinya, sehingga mereka dapat bertindak dengan benar. Ketiga aspek kebajikan utama dasar ini sangat penting karena tanpa ketiganya akan sulit untuk menuju empat kebajikan yang lainnya, hal tersebut mengapa ketiga aspek kebajikan tersebut menjadi dasar dari kecerdasan moral. Berikut dipaparkan secara singkat uraian masing-masing ketiga aspek tersebut: 1. Empati Istilah empati pada sebagian orang barangkali kurang begitu dikenal dibandingkan dengan istilah simpati. Kalaupun dikenal maknanya sering kali disamakan dengan pengertian.

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13. simpati. Menurut Taufik (2007: 41) empati merupakan suatu aktivitas untuk memahami apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan orang lain. Individu yang memahami pikiran dan perasaan orang lain tidak kehilangan kontrol dirinya dalam bersikap. ketika. sedang. berhadapan. dengan. orang. yang. bersangkutan. Empati. sendiri. berperan. dalam. meningkatkan. sifat. kemanusiaan, keadaban dan moralitas. Empati merupakan emosi yang mengusik hati nurani individu ketika melihat kesusahan dari orang lain yang berada di sekitarnya, baik itu orang-orang yang dikenalnya maupun tidak. Hal tersebut juga yang membuat mereka dapat menunjukkan toleransi dan kasih sayang, memahami kebutuhan orang lain, serta mau membantu orang yang sedang kesulitan. Seseorang yang belajar berempati akan jauh lebih pengertian dan penuh kepedulian, dan biasanya lebih mampu mengendalikan kemarahan. 2. Hati nurani Tidak cukup hanya dengan empati untuk memiliki kecerdasan moral, individu juga membutuhkan hati nurani yang bekerja dengan stabil. Karena dari hati nurani semuanya berasal, ketika individu ingin berempati terhadap orang-orang di sekitarnya maka hati nurani yang akan bekerja untuk membuat keputusan.

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14. akhir apakah individu akan berbuat baik terhadap orang-orang di sekitarnya. Hati nurani atau suara hati memegang peranan yang sangat penting dalam dunia moral. Menurut Mali (2009: 193) perilaku manusia. selalu. dipelajari. dalam. hubungannya. dengan. kemisteriusan dan sejarah hidupnya. Individu yang terus berusaha bersikap jujur dan tidak mudah dipengaruhi oleh pendapatpendapat orang lain di sekitarnya pasti mampu mewujudkan dirinya menjadi individu yang memiliki moral lebih baik. Menurut Suseno (1987: 53) suara hati atau hati nurani adalah kesadaran moral dalam situasi konkret. Contohnya seperti ketika individu sudah mengetahui bahwa membantu teman yang sedang kesusahan adalah hal yang baik dan menggambarkan dirinya sebagai seseorang yang bermoral baik. Maka hati nurani akan bekerja untuk membuat individu memutuskan keputusan akhir seperti apa. Dalam pusat kepribadian yang disebut hati, manusia sadar apa yang sebenarnya dituntut. Meskipun banyak pihak yang mengatakan apa yang wajib dilakukan, tetapi di dalam hati sadar bahwa akhirnya hanya diri sendirilah yang mengetahuinya. Manusia berhak dan wajib untuk hidup sesuai dengan apa yang disadari sebagai kewajiban dan tanggung jawabnya sendiri. Jadi secara moral manusia akhirnya harus memutuskan sendiri apa yang.

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15. akan dilakukan. Setiap manusia dalam hatinya memiliki suatu kesadaran tentang apa yang menjadi tanggung jawab dan kewajibannya. Kesadaran itu tidak selalu dapat diperhatikan. Jika hati setuju dengan pendapat moral lingkungan, maka suara hati tidak mencolok. Hati nurani merupakan landasan yang kuat bagi kehidupan yang baik, kehidupan kemasyarakatan yang baik, serta perilaku beretika. Berkaitan dengan moralitas, hati nurani bersama dengan empati dan kontrol diri merupakan inti dari kecerdasan moral. 3. Kontrol diri Kontrol diri merupakan kebajikan utama bagi perilaku bermoral, tetapi tidak semua orang pasti memiliki kebajikan itu. Kebajikan tersebut perlu dikembangkan, ditumbuhkan, dan dipupuk. Kontrol diri yang tidak berkembang dengan baik dapat mengakibatkan individu sulit untuk mengendalikan ide atau pikiran jahat yang muncul dalam pikirannya, hal tersebut karena tidak ada rem dalam sistem pikiran yang mereka miliki. Menurut. Borba. (2008:. 97). kontrol. diri. memberi. kemampuan pada seseorang untuk mengatakan “tidak”, dapat melakukan hal yang benar, dan memilih melakukan tindakan bermoral. Hal ini merupakan mekanisme internal yang sangat berpengaruh, yang mengarahkan sikap moral seseorang, sehingga pilihan yang mereka ambil tidak hanya aman, namun juga bijak..

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16. Kontrol diri merupakan kekuatan moral yang secara sementara menghentikan tindakan yang berbahaya. Individu yang memiliki kontrol diri tahu bahwa dirinya mempunyai pilihan dan dapat mengontrol tindakannya. Hal ini merupakan kebajikan yang menjadikannya baik dan murah hati. Mereka mengesampingkan hal-hal yang sifatnya memuaskan diri sendiri serta mengarahkan hati nurani melakukan sesuatu untuk orang lain. Borba (2008: 104) kontrol diri juga membekali individu dengan karakter yang kuat, karena menahan mereka memanjakan diri dengan bersenang-senang dan justru memusatkan pada tanggung jawab. Kontrol diri juga menyadarkan mereka akan adanya konsekuensi berbahaya atas tindakan yang dilakukannya, sehingga dengan kesadaran tersebut individu dapat mengontrol emosinya. C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kecerdasan Moral Terdapat tiga keadaan (contexts) yang berpengaruh terhadap perkembangan kecerdasan moral seseorang yaitu: situasi, individu, dan sosial. Adapun penjelasan ketiga keadaan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Situasi Dalam. perkembangannya,. individu. berperan. dalam. sosialisasi mereka sendiri. Seperti yang sering dikatakan oleh kebanyakan orang tua, terkadang anak-anak secara langsung.

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17. meminta orang lain memperlakukan mereka seperti apa mereka memperlakukan orang lain (Berns, 2016: 9). 2. Individu Terdapat 4 konteks individu yang berpengaruh terhadap perkembangan kecerdasan moral seseorang, yaitu: a. Temperamen Temperamen. merupakan. karakteristik. bawaan. yang. menentukan kepekaan individu terhadap berbagai pengalaman dan responsif terhadap interaksi sosial. b. Harga Diri Harga diri adalah nilai yang ada pada identitas seseorang. Sampai saat ini, harga diri telah dipandang sebagai konstruksi kesatuan global. Teori Harter (Berns, 2016: 76) menyatakan bahwa anak-anak akan tertarik pada ranah di mana mereka memandang kompetensi pribadi dan menghindari ranah/kegiatan yang menurut mereka tidak masuk akal pencapaiannya. Hal tersebut dapat menggambarkan bagaimana individu memiliki harga diri dalam kehidupannya. c. Interaksi Sosial Beberapa penelitian percaya bahwa moral berkembang karena interaksi sosial, misalnya karena diskusi atau dialog (Berns, 2016). Interaksi seseorang dengan orang. lain. memungkinkan adanya komunikasi yang terbuka dan dialog,.

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18. individu jadi memiliki kesempatan mengutarakan pandanganpandangannya. d. Emosi Menurut Kagan (Berns, 2016) pada sebagian besar orang, moral lebih berkaitan dengan emosi daripada penalaran atau pikiran. Individu termotivasi untuk berperilaku moral ketika kondisi emosinya diwarnai perasaan yang menyenangkan dibanding perasaan yang tidak menyenangkan. Perasaan yang menyenangkan dalam hal ini adalah perasaan yang positif terhadap apa yang telah diperoleh individu memicu individu untuk berperilaku moral yang baik. 3. Sosial Terdapat 5 konteks sosial yang berpengaruh terhadap perkembangan kecerdasan moral seseorang, yaitu: a. Keluarga Keluarga adalah setting yang memberikan pengasuhan, kasih sayang, dan berbagai kesempatan. Hal ini merupakan sosialisasi utama pada individu karena dampaknya paling signifikan terhadap perkembangan kecrdasan moral individu Grusec & Davidov (Berns, 2016: 21). Borba (2008) juga menyatakan bahwa untuk berhasil dalam memperbaharui budaya perilaku moral harus dimulai dari keluarga terlebih.

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19. dahulu, karena keluarga merupakan sekolah pertama yang mengajarkan segala kebajikan yang ada. b. Teman Sebaya Teman sebaya berfungsi sebagai agen sosialisasi karena menyediakan informasi tentang dunia dan diri dari perspektif selain keluarga (Berns, 2016: 55). Teman sebaya juga berperan sebagai kelompok pendukung untuk ekspresi nilai dan sikap. Selain itu, teman sebaya juga memungkinkan individu untuk mulai berempati terhadap teman-temannya. c. Sekolah Menurut Berns (2016: 22) sekolah adalah tempat di mana individu atau siswa secara formal belajar tentang masyarakat mereka. Sekolah mengajarkan membaca, menulis, aritmatika, sejarah, dan sebagainya. Guru mendorong pengembangan berbagai keterampilan dan perilaku dengan menjadi teladan dan memberi motivasi bagi mereka untuk berhasil dalam belajar. d. Media Masa Media masa biasanya tidak melibatkan interaksi pribadi langsung, interaksi bersifat lebih teknis. Media masa harus dianggap sebagai agen sosialisasi, bukan hanya karena prevalensinya, tetapi juga karena mereka mengungkapkan banyak aspek masyarakat dan mendapatkan proses kognitif pada.

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20. diri seseorang yang menumbuhkan pemahaman mereka tentang dunia nyata (Berns, 2016: 55). e. Media Sosial Media sosial adalah sebuah media online dimana para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi dan menciptakan sebuah karya. Media sosial ini sering kali digunakan oleh banyak orang untuk melakukan segala aktifitas yang biasanya dilakukan secara langsung menjadi bisa dilakukan tanpa harus beranjak dari tempat. Kalangan remaja yang menjadi hiperaktif di media sosial sering memposting atau memamerkan. kegiatan. sehari-hari. mereka. yang. seakan. menunjukkan gaya hidup mereka yang mengikuti perkembangan jaman. Hal itu dilakukan semata-mata untuk membuat mereka dianggap lebih popular dari orang lain yang ada di sekitar mereka. Berdasarkan mempengaruhi. paparan. perkembangan. di. atas,. kecerdasan. faktor-faktor moral. yang. seseorang. meliputi faktor indvidu dan sosial. D. Ciri-ciri Perilaku Orang yang Memiliki Kecerdasan Moral Cara kita berperilaku dapat mempengaruhi cara kita berpikir dan merasa, misalnya ketika kita memaafkan dan berbuat baik pada seseorang yang tadinya membuat kita sangat marah, biasanya kita akan merasa bahwa pikiran dan perasaan kita terhadap orang tersebut menjadi lebih.

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21. positif (Lickona, 2013: 75). Adapun ciri perilaku orang yang memiliki kecerdasan moral adalah memiliki pengetahuan moral, perasaan moral, dan aksi moral yang dapat membantu seseorang untuk berperilaku moral yang tepat. Berikut akan dipaparkan ciri perilaku orang yang memiliki kecerdasan moral: 1. Pengetahuan Moral Ada beragam pengetahuan moral yang dimanfaatkan ketika sedang berhadapan dengan tantangan-tantangan moral dalam hidup. Berikut enam pengetahuan moral yang diharapkan menjadi tujuan untuk membentuk ciri perilaku seseorang terkait dengan kecerdasan moral: a. Kesadaran Moral Kegagalan moral yang sering terjadi pada diri manusia dalam semua tingkatan usia adalah kebutaan moral, kondisi di mana orang tak mampu melihat bahwa situasi yang dihadapi melibatkan masalah moral dan membutuhkan pertimbangan lebih jauh (Lickona, 2013: 75). Maka sangat penting bagi individu untuk mengetahui apakah yang dilakukannya itu benar atau tidak, maka bimbingan dari orangtua yang merupakan sekolah pertama sangatlah penting..

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22. b. Mengetahui Nilai-nilai Moral Nilai moral seperti menghormati kehidupan dan kemerdekaan, bertanggung jawab terhadap orang lain, kejujuran, keadilan, toleransi, sopan santun, disiplin diri, integritas, belas kasih, kedermawanan, dan keberanian adalah faktor penentu dalam membentuk pribadi yang baik (Lickona, 2013: 77). Jika disatukan, seluruh faktor ini akan menjadi warisan moral yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mengetahui sebuah nilai moral berarti memahami bagaimana menerapkannya dalam berbagai situasi. c. Pengambilan Perspektif Pengambilan perspektif adalah kemampuan untuk mengambil sudut pandang orang lain, melihat situasi dari sudut pandang orang lain, membayangkan bagaimana mereka akan berpikir, bereaksi, dan merasa (Lickona, 2013: 77). Kita tidak dapat menghormati orang dengan baik dan bertindak dengan adil terhadap mereka jika kita tidak memahami mereka. Tujuan mendasar dari pendidikan moral seharusnya adalah membantu seseorang untuk merasakan dunia dari sudut pandang orang lain, khususnya mereka yang berbeda dengan dirinya..

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23. d. Penalaran Moral Penalaran moral adalah memahami makna sebagai orang yang bermoral dan mengapa individu harus bermoral. Penalaran moral telah menjadi fokus sebagian besar riset psikologi perkembangan moral abad ini (Lickona, 2013: 78). Pada tingkatan tertinggi, penalaran moral melibatkan pemahaman terhadap beberapa prinsip moral klasik, seperti “hormatilah martabat setiap individu”, “perbanyaklah berbuat baik”, dan “bersikaplah sebagaimana dirimu mengharaplan orang lain bersikap padamu”. Prinsip-prinsip semacam ini menuntun perbuatan moral dalam berbagai macam situasi. e. Pengambilan Keputusan Menurut Lickona (2013: 79) mampu memikirkan langkah yang mungkin akan diambil seseorang yang sedang menghadapi persoalan moral disebut sebagai keterampilan pengambilan keputusan reflektif. f. Pengetahuan Diri Memahami diri sendiri merupakan pengetahuan moral yang paling sulit untuk dikuasai, tetapi penting bagi pengembangan karakter. Untuk menjadi orang yang bermoral diperlukan kemampuan mengulas perilaku diri.

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24. sendiri dan mengevaluasinya secara kritis (Lickona, 2013: 79). Membangun pemahaman diri berarti sadar terhadap kekuataan dan kelemahan karakter kita dan mengetahui cara untuk memperbaiki kelemahan tersebut. 2. Perasaan Moral Sekedar pengetahuan mengenai hal yang benar tidak menjamin seseorang akan bertindak benar. Seseorang bisa saja sangat pandai menentukan mana yang benar atau salah dan tetap memilih yang salah. Beberapa aspek moral emosional berikut ini akan memfokuskan perhatian kita ketika akan berupaya memberi pengajaran perilaku/karakter yang baik: a. Hati Nurani Hati nurani memiliki dua sisi, yaitu sisi kognitif dan sisi emosional. Sisi kognitif menuntun kita dalam menentukan hal yang benar, sedangkan sisi emosional menjadikan kita merasa berkewajiban untuk melakukan hal yang benar (Lickona, 2013: 80). Banyak orang mengetahui hal yang benar tetapi merasa tidak berkewajiban berbuat sesuai dengan pengetahuannya tersebut. b. Penghargaan Diri Jika seseorang memiliki penghargaan diri yang sehat, maka ia akan dapat menghargai diri sendiri. Dan jika.

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25. seseorang. menghargai. menghormati. diri. diri. sendiri.. sendiri,. maka. ia. akan. Dengan. demikian,. kecil. kemungkinan bagi mereka untuk merusak tubuh atau pikirannya atau membiarkan orang lain merusaknya (Lickona, 2013: 82). Jika seseorang memiliki penghargaan diri, maka mereka tidak akan bergantung pada pendapat orang lain. c. Empati Empati. adalah. kemampuan. mengenali,. atau. merasakan keadaan yang tengah dialami orang lain (Lickona, 2013: 83). Empati memungkinkan individu keluar dari zona nyamannya dan masuk ke zona baru yang tidak. dikenali. sebelumnya.. Empati. merupakan. sisi. emosional dari pengambilan perspektif. d. Menyukai Kebaikan Jika orang mencintai kebaikan, mereka akan merasa senang melakukan kebaikan. Cinta akan melahirkan hasrat, bukan hanya kewajiban (Lickona, 2013: 84). Kapasitas pemenuhan diri dalam pelayanan ini tidak hanya terbatas pada orang yang dikatakan “baik” saja, kapasitas ini merupakan bagian dari potensi moral manusia yang sudah ada sejak usia kanak-kanak..

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26. e. Kontrol Diri Emosi dapat menghanyutkan akal. Itulah mengapa kontrol diri merupakan pekerti moral yang penting. Kontrol diri juga penting untuk mengekang keterlenaan diri. Hanya dengan memperkuat kontrol dirilah, masalah-masalah yang biasa terjadi pada kalangan remaja dapat dikurangi secara signifikan (Lickona, 2013:85). f. Kerendahan Hati Kerendahan hati merupakan pekerti moral yang kerap diabaikan padahal pekerti ini merupakan bagian yang penting dari karakter yang baik (Lickona, 2013: 85). Kerendahan hati adalah bagian dari pemahaman diri. Suatu bentuk keterbukaan murni terhadap kebenaran sekaligus kehendak untuk berbuat sesuatu demi memperbaiki kegagalan. 3. Aksi Moral Jika seseorang sudah memiliki pengetahuan dan perasaan moral seperti yang sudah dibahas, kemungkinan seseorang tersebut melakukan tindakan yang menurut pengetahuan dan perasaan mereka adalah tindakan yang benar. Untuk memahami sepenuhnya apa yang menggerakkan seseorang sehingga mampu melakukan tindakan bermoral, atau justru menghalanginya, maka penting untuk memahami lebih jauh mengenai ketiga hal berikut ini:.

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27. a. Kompetensi Kompetensi moral adalah kemampuan mengubah pertimbangan dan perasaan moral ke dalam tindakan moral yang efektif. Untuk menyelesaikan sebuah konflik secara adil, misalnya seseorang membutuhkan keterampilan praktis. seperti. mendengarkan,. mengkomunikasikan. pandangannya tanpa mencemarkan nama baik orang lain, dan melaksanakan solusi yang dapat diterima semua pihak (Lickona, 2013: 86). b. Kemauan Kehendak/kemauan dibutuhkan untuk menjaga emosi agar tetap terkendali oleh akal. Kehendak juga dibutuhkan untuk dapat melihat dan memikirkan suatu keadaan melalui seluruh dimensi moral (Lickona, 2013: 87). Kehendak dibutuhkan untuk mendahulukan kewajiban, bukan kesenangan. Kehendak dibutuhkan untuk menahan godaan, bertahan dari tekanan teman sebaya, dan melawan gelombang. Kehendak merupakan inti dari keberanian moral (Lickona, 2013: 87). c. Kebiasaan Dalam banyak situasi, kebiasaan merupakan faktor pembentuk perilaku moral. William Bennet (Lickona, 2013: 87) mengatakan bahwa orang yang memiliki karakter yang.

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28. baik bertindak sungguh-sungguh, loyal, berani, berbudi, dan adil tanpa banyak tergoda oleh hal-hal sebaliknya. Seseorang melakukan hal yang benar karena kebiasaan. Dalam diri seseorang yang berkarakter baik, pengetahuan, perasaan dan tindakan moral biasanya bekerja secara bersamasama untuk saling mendukung. E. Kajian Penelitian yang Relevan Terdapat satu penelitian terkait tingkat kecerdasan moral, ada pun judul penelitiannya adalah: Tingkat Kecerdasan Moral Siswa Putra dan Putri Kelas XI SMA BOPKRI 2 Yogyakarta Tahun Pelajaran 2009/2010. Penelitian tersebut dilakukan oleh mahasiswa Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma angkatan tahun 2004 yang bernama Anting Pramusekar. Dalam penelitian tersebut fokus utama mengenai kecerdasan moral remaja yang semakin hari semakin menyimpang, lalu aspek dalam penelitian tersebut meliputi kebebasan moral, kekuatan moral dan akuntabilitas moral menurut Kieser. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan metode survei. Dalam penelitian tersebut ingin melihat perbedaan tingkat kecerdasan moral siswa putra dan putri kelas XI SMA BOPKRI 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2009/2010. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kecerdasan moral sebagian besar siswa putra dan siswa putrid kelas XI SMA BOPKRI 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2009/2010 sudah tinggi atau baik dengan hasil 58% (43 siswa), dan terdapat 42% (31.

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29. siswa) yang termasuk ke dalam kategori rendah tingkat kecerdasan moralnya. F. Kerangka Pikir Kecerdasan moral merupakan kemampuan seseorang untuk memahami hal-hal yang benar dan salah, yang berarti seseorang tersebut memiliki keyakinan etika yang kuat dan bertindak berdasarkan keyakinan tersebut. Kecerdasan moral dapat dihidupkan oleh imajinasi moral, yaitu kemampuan yang tumbuh perlahan untuk merenungkan mana yang benar dan mana yang salah dengan menggunakan emosional maupun intelektual pikiran manusia. Kecerdasan moral mencakup tiga aspek utama yaitu empati, hati nurani dan kontrol diri. Kecerdasan moral juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu situasi, individu dan sosial. Kecerdasan. moral. juga. mencakup. karakter. utama,. yaitu. kemampuan untuk memahami penderitaan orang lain dan tidak berperilaku jahat, mampu mengendalikan emosi, mampu mendengarkan penjelasan terlebih dahulu sebelum bertindak, mampu menerima dan menghargai perbedaan. Peneliti ingin mengetahui seberapa tinggi tingkat kecerdasan moral pada siswa kelas XI SMA BOPKRI 2 Yogyakarta tahun 2017/2018. Setelah diketahui hasil perolehan capaian skornya, peneliti mengusulkan topik bimbingan yang sesuai untuk mengembangkan dan memelihara kecerdasan moral pada siswa kelas XI SMA BOPKRI 2 Yogyakarta tahun ajaran 2017/2018..

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30. Faktor: Situasi, Individu & Sosial Tingkah Laku. Kemampuan Memahami benar dan salah pada siswa. Empati. Hati Nurani. Kontrol Diri. Dampak. Positif. Negatif. Topik Bimbingan Mengembangkan dan Memelihara Kecerdasan Moral. Kecerdasan Moral. Gambar 3.1 Kerangka Pikir Kecerdasan Moral.

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB III METODE PENELITIAN Pada bab ini dipaparkan jenis-jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, subjek penelitian, definisi variabel penelitian, teknik dan instrumen pengumpulan data, validitas dan realibilitas instrumen serta teknik analisis data. A. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode pendekatan penelitian kuantitatif deskriptif. Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan. instrumen. penelitian,. analisis. data. bersifat. kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2016: 14). Menurut Sukmadinata (2008: 54) penelitian deskriptif (descriptive research) merupakan suatu metode penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung pada saat ini atau saat yang lampau. Penelitian ini tidak mengadakan manipulasi atau pengubahan variabel-variabel bebas, tetapi menggambarkan suatu kondisi apa adanya. Penggambaran kondisi bisa individual atau kelompok dan menggunakan angka-angka. Penelitian ini sangat penting sebagai studi pendahuluan bagi penelitian lain atau penelitian lanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang variabel dan mendeskripsikan tingkat. 31.

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32. kecerdasan moral Siswa kelas XI di SMA BOPKRI 2 Yogyakarta Tahun ajaran 2017/2018. B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian ini dilakukan di SMA BOPKRI 2 Jl. Jendral. Sudirman No.87, Terban, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55223. 2. Waktu Pengambilan data ini dilaksanakan pada Kamis, 22 Februari dan Kamis, 1 Maret 2018. C. Subjek Penelitian Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMA BOPKRI 2 Yogyakarta tahun ajaran 2017/2018. Jumlah siswa dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 3.1 Jumlah Siswa Kelas. Siswa Hadir. XI IPA 1 XI IPS 1 XI IPS 2 XI IPS 3 Total. 23 22 22 21 88. Siswa Tidak Hadir 2 2 1 3 8. D. Definisi Variabel Penelitian Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga.

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33. diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2016: 60). Variabel penelitian ini adalah kecerdasan moral. Kecerdasan moral adalah kemampuan seseorang memahami hal yang benar dan salah, seseorang memiliki keyakinan etika yang kuat dan bertindak berdasarkan keyakinan tersebut, sehingga seseorang tersebut bersikap benar dan terhormat. Aspek-aspek utama dari kecerdasan moral yaitu empati, hati nurani, dan kontrol diri. E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner (angket). Menurut Sugiyono (2016: 162) kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab. Teknik pengumpulan data pada penelitian dilihat dari segi sumber data dan cara pengumpulan data. Menurut Sugiyono (2010: 148) instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Kuesioner (angket) dibentuk dari aspek-aspek kecerdasan moral yang dibahas pada bab 2 kemudian dikembangkan menjadi kisi-kisi instrumen. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner tertutup. Artinya, responden menjawab pernyataan yang alternatif jawabannya sudah disediakan dalam lembar kuesioner dengan memberikan tanda centang (√).

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34. pada kolom alternatif yang dianggap tepat. Kuesioner yang dikembangkan dalam penelitian ini menggunakan skala Likert. Furchan (2007: 279) menjelaskan bahwa skala jenis Likert merupakan sejumlah pernyataan positif dan negatif mengenai suatu objek sikap. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok tentang kejadian atau gejala sosial. Dalam skala Likert terdapat 5 alternatif jawaban, sedangkan dalam kuesioner penelitian ini hanya menggunakan 4 alternatif jawaban, tujuannya agar responden lebih jelas dalam menyatakan jawabannya dan menghindari responden untuk memilih alternatif jawaban netral atau biasa disebut dengan tendensi sentral. Pernyataan yang digunakan dalam kuesioner kecerdasan moral ini terdiri dari pernyataan positif (favorable) dan. negatif (unfavorable).. Pernyataan. positif (favorable) adalah. pernyataan yang mengungkapkan adanya kecerdasan moral siswa, sedangkan pernyataan negatif (unfavorable) adalah pernyataan yang menujukan kurangnya atau tidak adanya kecerdasan moral siswa. Kuesioner yang dikembangkan menyediakan 4 alternatif jawaban yaitu Selalu (S), Kadang-kadang (K), Jarang (JR), Tidak Pernah (TP). Kuesioner yang dikembangkan dalam penelitian ini terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian pertama yang berisi identitas siswa, bagian kedua berisi petunjuk pengerjaan dan bagian ketiga berisi 85 pernyataan tentang kecerdasan moral siswa. Agar lebih jelas, kuesioner kecerdasan moral yang dikembangkan dapat dilihat pada lampiran 2..

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35. Tabel 3.2 Skoring Tingkat Kecerdasan Moral Alternatif Jawaban. Item Favorabel. Item Unfavorabel. Selalu (S). 4. 1. Kadang-kadang (K). 3. 2. Jarang (JR). 2. 3. Tidak Pernah (TP). 1. 4. Berikut juga dipaparkan kisi-kisi instrumen kecerdasan moral yang digunakan dalam penelitian ini: Tabel 3.3 Kisi-kisi Instrumen Kecerdasan Moral No. 1.. Aspek Empati. Indikator a. Memahami ketika orang merasa sedih b. Memahami dan merasakan kekhawatiran orang lain c. Membantu orang yang sedang kesulitan. 2.. 3.. Hati Nurani. Kontrol Diri. a. Dapat membedakan hal yang benar dan yang salah b. Tidak terpengaruh orang lain c. Mengakui kesalahan a. Tidak lepas kontrol walaupun dalam keadaan marah atau kecewa b. Melakukan sesuatu dengan sabar c. Berani mengatakan tidak walaupun didesak Total. No. Item Item Item Favorabel Unfavorabel. Jumlah Item. 1,2,3,5,6. 4. 6. 7,8,9,10,12. 11. 6. 13,15,17,18. 14,16. 6. 19,20,21,23,24. 22,25. 7. 26,28,30. 27,29,31,32. 7. 33,36,38. 34,35,37. 6. 39,41. 40. 3. 42,44,45,47,49. 43,46,48. 8. 50,52,54. 51,53. 5. 35. 19. 18. 20. 16. 54.

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36. Skoring dilakukan dengan menjumlahkan jawaban responden pada masing-masing item. Semakin tinggi jumlah skor yang diperoleh, maka semakin tinggi pula kecerdasan moral, sebaliknya semakin rendah jumlah skor yang diperoleh maka semakin rendah pula kecerdasan moral pada siswa. F. Uji Coba Sebelum. kuesioner. digunakan. untuk. penelitian. yang. sesungguhnya, terlebih dahulu kuesioner kecerdasan moral diuji cobakan kepada para siswa. Uji coba kuesioner kecerdasan moral bertujuan agar mengetahui validitas dan reliabilitas dari alat ukur yang sudah dibuat. Uji coba dilakukan pada hari Kamis, 22 Februari 2018 dengan subjek siswa kelas XI BAHASA dan XI IPA 2 SMA BOPKRI 2 Yogyakarta tahun ajaran 2017/2018. Jumlah siswa yang mengikuti uji coba terlihat pada tabel berikut: Tabel 3.4 Jumlah Subjek Uji Coba. Kelas. Siswa Hadir. XI BAHASA XI IPA 2 Jumlah. 9 20 29. Siswa Tidak Hadir 0 4 4. Berikut langkah-langkah uji coba yang dilakukan: 1. Peneliti menyusun kuesioner berdasarkan kisi-kisi dengan bantuan dosen pembimbing. 2. Peneliti mengurus surat ijin penelitian ke SMA BOPKRI 2 Yogyakarta..

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37. 3. Peneliti melaksanakan uji coba pada Kamis, 22 Februari 2018 di kelas XI BAHASA dan XI IPA 2. 4. Setelah para siswa selesai mengisi kuesioner Kecerdasan Moral, peneliti mengumpulkan kembali kuesioner yang telah diisi oleh para siswa. Waktu yang dibutuhkan dalam mengisi kuesioner kecerdasan moral kurang lebih 30 menit, dengan jumlah kuesioner yang diuji cobakan sebanyak 85 butir pernyataan. Metode yang digunakan untuk menganalisis uji coba adalah metode korelasi dengan teknik Pearson product moment yang sama pada teknik analisis penghitungan uji validitas dan reliabilitas pada item-item yang digunakan untuk penelitian. Nilai koefisien validitas 0,30 , apabila terdapat item yang memiliki nilai koefisien validitas di bawah 0,30 maka item tersebut dinyatakan konsistensi internalnya tidak kuat dan tidak digunakan sebagai item instrumen penelitian. Dari 85 item kuesioner yang diuji cobakan, diperoleh 31 item yang gugur dan 54 item yang valid. Nomor-nomor item yang dinyatakan gugur dan valid dapat dilihat pada tabel berikut:.

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38. Tabel 3.5 Jumlah Item Gugur dan Valid No.. 1.. Item. Nomor Item Jumlah 2, 4, 6, 7, 12, 15, 19, 21, 22, 26, 28,. Item Tidak 31, 32, 37, 46, 48, 49, 52, 55, 56, 59, Valid. 60, 61, 63, 64, 67, 68, 69, 73, 79, dan. 31. 85 1, 3, 5, 8, 9, 10, 11, 13, 14, 16, 17, 18, 20, 23, 24, 25, 27, 29, 30, 33, 34, 35, 2.. Item Valid. 36, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 47, 50, 51, 53, 54, 57, 58, 62, 65, 66, 70,. 54. 71, 72, 74, 75, 76, 77, 78, 80, 81, 82, 83, dan 84 Total. 85. Nilai reliabilitas dari 85 item yang diuji cobakan adalah 0.918 yang termasuk dalam kriteria sangat tinggi dilihat dari kriteria Guilford. G. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Dengan menggunakan instrumen yang valid dan reliabel dalam pengumpulan data, maka diharapkan hasil penelitian akan menjadi valid dan reliabel. Menurut Sugiyono (2016: 173) instrumen yang valid dan reliabel merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan hasil penelitian. Berikut penjelasan validitas dan reliabilitas: 1. Validitas Validitas berhubungan dengan sejauh mana suatu alat ukur mampu mengukur apa yang seharusnya diukur oleh alat tersebut (Furchan, 2007: 293). Validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan daya yang dapat.

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39. dilaporkan oleh peneliti. Suatu alat ukur yang valid, tidak hanya mampu mengungkapkan data yang tepat, namun harus juga memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut. Validitas yang digunakan untuk instrumen penelitian ini adalah validitas isi. Menurut Azwar (2017: 132) validitas isi merupakan validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi alat ukur melaui penilaian ahli yang berkompeten (expert judgement). Instrumen penelitian ini dikonstruksi berdasarkan aspek-aspek yang akan diukur dan selanjutnya akan dikonsultasikan kepada ahli, yaitu dosen pembimbing untuk mendapatkan kritik dan saran. Berikut kritik dan saran yang diberikan untuk perbaikan instrumen tingkat kecerdasan moral yang dikembangkan oleh peneliti: memperjelas kisi-kisi instrumen sesuai dengan variabel penelitian, mengurangi tujuh aspek menjadi tiga aspek, mencari indikator yang sesuai dengan aspek, memperjelas pernyataan item sesuai dengan aspek dan indikator, memperjelas pernyataan item dari indikator hati nurani dan kontrol diri, perbaiki beberapa kalimat di dalam item, dan perbaiki alternatif pernyataan pilihan jawaban. Penghitungan uji validitas penelitian ini dilakukan dengan cara menghitung korelasi antara masing-masing skor item pernyataan dengan skor total. Rumus yang digunakan adalah rumus Pearson product moment, berikut rumus korelasi Pearson product moment:.

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40. Keterangan: r : Koefisien korelasi X : Jumlah skor item Y : Jumlah skor total (seluruh item) N : Jumlah responden Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa terdapat 54 item yang valid dan 31 item yang gugur dengan menggunakan standar koefisien 0,30 Azwar (2017).. Hasil hitung validasi item dapat. dilihat pada lampiran 5. Untuk melihat item yang valid dan tidak valid dapat dilihat pada tabel 3.6 berikut:.

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41. Tabel 3.6 Rekapitulasi Hasil Uji Validitas No. Aspek. Indikator. 1. Empati. a.Memahami ketika orang merasa sedih b.Memahami dan merasakan kekhawatiran orang lain c.Membantu orang yang sedang kesulitan a. Dapat membedakan hal yang benar dan salah b. Tidak terpengaruh orang lain c. Mengakui kesalahan. 2. 3. Hati Nurani. Kontrol Diri. a.Tidak lepas kontrol walaupun dalam keadaan marah atau kecewa b.Melakukan sesuatu dengan sabar c.Berani mengatakan tidak walaupun didesak Total. Valid 1,3,5,8,9,10. No Item. Tidak Valid 2,4,6,7. 11,13,14,16,17,18. 12,15,19. 20,23,24,25,27,29. 21,22,26,28. 30,33,34,35,36,38,39. 31,32,37. 40,41,42,43,44,45,47. 46,48,49. 50,51,53,54,57,58. 52,55,56,59. 62,65,66. 60,61,63,64,67,68,69. 70,71,72,74,75,76,77,78. 73,79. 80,81,82,83,84. 85. 54. 31. 2. Reliabilitas Menurut Sugiyono (2016: 137) instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Reliabilitas berkenaan dengan derajat konsistensi dan stabilitas data atau temuan (Sugiyono, 2013).. Perhitungan. indeks reliabilitas Kuesioner. penelitian ini menggunakan pendekatan koefisisen Alpha Cronbach (α) berikut formula yang digunakan:.

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42. Keterangan :. S1 dan S2 S. : varians skor belahan 1 dan varians skor belahan 2 : varians skor skala. Dalam penelitian ini, uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan IBM SPSS Statistics Versi 20. Dari hasil perhitungan didapatkan skor sebagai berikut: Tabel 3.7 Reliabilitas Item Cronbach's Alpha .918. N of Items 85. Hasil perhitungan indeks reliabilitas dikonversikan dengan kriteria Guilford. Kriteria Guilford dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3.8 Kriteria Guilford Koefisien Korelasi Kualifikasi 0,91 – 1,00. Sangat tinggi. 0,71 – 0,90. Tinggi. 0,41 – 0,70. Cukup. 0,21 – 0,40. Rendah. Negatif – 0,20. Sangat Rendah.

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43. H. Teknik Analisis Data Menurut Sugiyono (2010: 207) analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul. Teknik analisis data dalam penelitian ini mengacu pada rumusan masalah. Data yang terkumpul untuk menjawab rumusan masalah dianalisis secara deskriptif, yaitu dengan melihat skor dari jawaban subjek. Berikut merupakan langkah-langkah analisis data yang ditempuh dalam penelitian ini: 1.. Menentukan Skor dan Pengolahan Data Penentuan skor item kuesioner dilakukan dengan cara memberikan nilai dari angka 1 sampai 4 berdasarkan dengan norma skoring yang berlaku dengan melihat sifat pernyataan favorable atau unfavorable, kemudian memasukkannya ke dalam tabulasi data dan menghitung total jumlah skor subyek serta jumlah skor item. Kemudian tahap selanjutnya adalah dengan menganalisis data secara statistik menggunakan program aplikasi SPSS.. 2.. Menentukan Kategori Pengkategorian tingkat kecerdasan moral siswa SMA BOPKRI 2 Yogyakarta disusun berdasarkan model distribusi normal. Tujuan kategorisasi ini adalah untuk menempatkan individu ke dalam kelompok-kelompok yang terpisah secara berjenjang menurut suatu kontinum berdasarkan atribut yang telah diukur (Azwar, 2017: 147)..

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44. Kontinum jenjang pada penelitian ini adalah dari sangat rendah sampai dengan sangat tinggi. Kategorisasi disusun berdasar pada norma kategorisasi yang disusun oleh Azwar (2017: 148). Data tingkat kecerdasan moral siswa kelas XI SMA BOPKRI 2 Yogyakarta dikelompokkan ke dalam lima kategori sebagai berikut: sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi, berdasarkan perhitungan sebagai berikut: Tabel 3.9 Norma Kategorisasi Tingkat Kecerdasan Moral Norma/Kriteria Skor Kategori X≤µ - 1,5σ. Sangat Rendah. µ - 1,5σ <X≤ µ - 0,5σ. Rendah. µ - 0,5σ <X≤ µ + 0,5σ. Sedang. µ + 0,5σ <X≤ µ + 1,5σ. Tinggi. µ + 1,5σ <X. Sangat Tinggi. Keterangan: Skor maksimum teoritik. : Skor tertinggi yang diperoleh subjek penelitian berdasarkan perhitungan skala. Skor minimum teoritik. : Skor terendah yang diperoleh subjek penelitian menurut perhitungan skala. Standar deviasi (σ/sd). : Luas jarak rentangan yang dibagi dalam 6 satuan deviasi sebaran.

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45. µ (mean teoritik). : Rata-rata teoritis skor maksimum dan minimum. Kategori. di. atas. diterapkan. sebagai. patokan. dalam. pengelompokkan tinggi rendah tingkat kecerdasan moral dengan jumlah item valid 54. Diperoleh unsur perhitungan capaian skor subjek sebagai berikut: Tingkat Kecerdasan Moral Skor maksimum teoritik. : 4 x 54 = 216. Skor minimum teoritik. : 1 x 54 = 54. Luas jarak. : 216 – 54 = 162. Standar deviasi (σ/sd). : 162 : 6 = 27. µ (mean teoritik). : (216+54) : 2 = 135. Berikut hasil perhitungan analisis data skor subjek yang disajikan dalam norma kategorisasi tingkat kecerdasan moral siswa SMA BOPKRI 2 Yogyakarta. Tabel 4.1 Norma Kategorisasi Tingkat Kecerdasan Moral siswa SMA BOPKRI 2 Yogyakarta Norma/Kriteria Skor Rentang Skor Kategori X≤µ - 1,5σ µ - 1,5σ <X≤ µ - 0,5σ µ - 0,5σ <X≤ µ + 0,5σ µ + 0,5σ <X≤ µ + 1,5σ µ + 1,5σ <X. < 94 95-121 122-148 149-175 ≥ 176. Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi. Kemudian untuk melihat kategorisasi butir-butir item kecerdasan moral, peneliti mengelompokkan ke dalam tiga kategori sebagai.

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46. berikut: tinggi, sedang dan rendah dengan norma kategorisasi sebagai berikut: Tabel 4.2 Norma Kategorisasi Item Tingkat Kecerdasan Moral Norma/Kriteria Skor Kategori X≤µ + 1,0σ≤X. Tinggi. µ - 1,0σ <X≤ µ + 1,0σ. Sedang. > µ - 1,0σ. Rendah. Keterangan: Skor maksimum teoritik. : Skor tertinggi yang diperoleh item penelitian berdasarkan perhitungan. Skor minimum teoritik. : Skor terendah yang diperoleh item penelitian menurut perhitungan. Standar deviasi (σ/sd). : Luas jarak rentangan yang dibagi dalam 6 satuan deviasi sebaran. µ (mean teoritik). : Rata-rata teoritis skor maksimum dan minimum. Kategori. di. atas. diterapkan. sebagai. patokan. dalam. pengelompokkan tinggi rendahnya skor butir-butir item tingkat kecerdasan moral dengan jumlah subjek 88. Diperoleh unsur perhitungan capaian skor subjek sebagai berikut:.

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47. Keterangan : Skor maksimum teoritik. : 4 x 88 = 352. Skor minimum teoritik. : 1 x 88 = 88. Luas jarak. : 352 – 88 = 270. Standar deviasi (σ/sd). : 270 : 6 = 45. µ (mean teoritik). : (352+88) : 2 = 220. Hasil perhitungan data skor item disajikan dalam bentuk tabel norma kategorisasi tinggi rendahnya skor item-item kecerdasan moral siswa kelas XI SMA BOPKRI 2 Yogyakarta tahun ajaran 2017/2018 sebagai berikut: Tabel 4.3 Norma Kategorisasi Item Tingkat Kecerdasan Moral Siswa Kelas XI SMA BOPKRI 2 Yogyakarta Norma/Kriteria Skor Rentang Skor Kategori (µ + 1,0σ) ≤ X Tinggi ≥ 265 175-265 Sedang (µ - 1,0σ) ≤ X < (µ + 1,0σ) ≤ 175 Rendah X < (µ - 1,0σ).

Gambar

Gambar 3.1 Kerangka Pikir Kecerdasan Moral........................................................
Gambar 3.1 Kerangka Pikir Kecerdasan MoralKecerdasan Moral
Tabel 3.1 Jumlah Siswa
Tabel 3.7 Reliabilitas Item Cronbach's
+2

Referensi

Dokumen terkait

Masalah penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah tingkat kebiasaan belajar siswa putera dalam pelajaran ekonomi para siswa kelas XI program IPS SMA BOPKRI 1 Yogyakarta tahun

Tujuan dari sikap conform ini adalah untuk mendapatkan perlindungan kepada kelompok dalam rangka menghindari celaan sosial, mendapatkan pengakuan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan positif antara : 1) prestasi belajar siswa dengan minat memilih jurusan di SMA, 2) motivasi belajar siswa

Apabila seorang remaja memiliki konsep diri yang positif terhadap dirinya sendiri, maka di dalam perkembangan sikap yang dimiliki remaja akan berpengaruh baik ketika

Masalah penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah tingkat kebiasaan belajar siswa putera dalam pelajaran ekonomi para siswa kelas XI program IPS SMA BOPKRI 1 Yogyakarta tahun

Berdasarkan tabel 7 di atas, hasil penelitian tingkat disiplin diri para siswa kelas XI SMA BOPKRI II Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 terhadap peraturan sekolah secara

Saya sedang melakukan penelitian dengan judul “TINGKAT KETERAMPILAN KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI SISWA SMA PENGGUNA JEJARING SOSIAL Studi Deskriptif Pada Siswi Kelas XI SMA Stella Duce

Hasil yang diperoleh dibentuk dalam presentase sebagi berikut rinciannya : 1 sebanyak 0% siswa datang tidak tepat waktu saat mengikuti pembelajaran; 2 0% siswa tidak mengumpulkan tugas