BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS. Al-Janadi et al. (2013) dengan judul penelitian Corporate Governance

20 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

9

Al-Janadi et al. (2013) dengan judul penelitian Corporate Governance Mechanisms and Voluntary Disclosure in Saudi Arabia dalam menganalisis menggunakan descriptive statistic dan multivariate regression analysis dengan menggunakan sampel terdiri dari 87 perusahaan dari pasar bursa Saudi membuktikan bahwa mekanisme pemerintahan, direktur terutama non-eksekutif, ukuran dewan komisaris, CEO dualitas, kualitas audit, dan kepemilikan pemerintah berpengaruh terhadap pengungkapan sukarela.

Hidalgo et al. (2010) dengan judul penelitian Corporate Governance and Intellectual Capital Disclosure dalam menganalisis menggunakan analisis regresi dengan hasilnya menunjukkan kepemilikan saham investor dan jumlah anggota dewan direksi tidak berpengaruh terhadap pengungkapan modal intelektual.

Zulkarnaen dan Mahmud (2013) dengan judul penelitian Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Luas Pengungkapan Intellectual Capital dalam menganalisis menggunakan analisis deskriptif dan analisis regresi linear dengan pemilihan sampel berjumlah 37 perusahaan hasilnya menunjukkan komisaris independen, direksi independen dan komite audit tidak berpengaruh terhadap luas pengungkapan Intellectual Capital.

(2)

Cerbioni dan Parbonetti (2007) dengan judul penelitian Exploring the Effects of Corporate Governance on Intellectual Capital Disclosure: An Analysis of European Biotechnology Companies dalam menganalisis menggunakan descriptive statistic dan multivariate regression analysis hasil menunjukkan bahwa (1) proporsi direksi independen berhubungan positif dengan pengungkapan struktur internal, (2) CEO dualitas secara negatif terkait dengan pengungkapan maju mencari informasi, dan (3) struktur dewan membantu untuk meningkatkan laporan tahunan ini dibaca secara keseluruhan. Li et al. (2007) dengan judul penelitian Intellectual Capital Disclosure in Knowledge Rich Firms: The Impact of Market and Corporate Governance Factors dalam menganalisis menggunakan descriptive statistics dan regression analysis hasil analisis berdasarkan tiga langkah menunjukkan hubungan yang signifikan dengan nilai tersembunyi, menggunakan rasio market-to-book sebagai indikator, dan usia listing. Kami lanjut menemukan ukuran perusahaan, volatilitas harga saham, direktur kepemilikan saham, audit ukuran komite, dan konsentrasi kepemilikan dikaitkan dengan ICD secara konsisten dengan harapan teoritis. Implikasi dari temuan ini, sampai sekarang sebagian besar belum teruji, yang dieksplorasi dari sejumlah teoritis perspektif.

(3)

Tabel 2.1. Tinjauan Penelitian Terdahulu No Peneliti

(Tahun)

Judul Metode analisis Hasil penelitian

1. Al-Janadi et al. (2013) Corporate Governance Mechanisms and Voluntary Disclosure in Saudi Arabia Descriptive Statistic dan Multivariate Regression Analysis Mekanisme pemerintahan, direktur terutama non-eksekutif, ukuran dewan komisaris, CEO dualitas, kualitas audit, dan kepemilikan pemerintah berpengaruh terhadap pengungkapan sukarela. 2. Hidalgo et al. (2010) Corporate Governance and Intellectual Capital Disclosure

Analisis regresi Kepemilikan saham investor dan jumlah anggota dewan direksi tidak berpengaruh terhadap pengungkapan modal intelektual. 3. Zulkarnaen dan Mahmud (2013) Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Luas Analisis deskriptif dan analisis regresi linear Komisaris independen, direksi independen dan komite audit tidak berpengaruh terhadap luas

(4)

Pengungkapan Intellectual Capital pengungkapan Intellectual Capital. 4. Cerbioni dan Parbonetti (2007) Exploring the Effects of Corporate Governance on Intellectual Capital Disclosure: An Analysis of European Biotechnology Companies Descriptive Statistic dan Multivariate Regression Analysis Hasil menunjukkan

bahwa (1) proporsi direksi independen berhubungan positif dengan pengungkapan struktur internal, (2) CEO dualitas secara negatif terkait dengan pengungkapan maju mencari informasi, dan (3) struktur dewan membantu untuk meningkatkan laporan tahunan ini dibaca secara keseluruhan. 5. Li et al. (2007) Intellectual Capital Disclosure in Knowledge Descriptive Statistics dan

Hasil analisis berdasarkan tiga langkah menunjukkan hubungan yang signifikan dengan nilai tersembunyi,

(5)

Rich Firms: The Impact of Market and Corporate Governance Factors Regression analysis menggunakan rasio market-to-book sebagai indikator, dan usia listing. Kami lanjut menemukan ukuran perusahaan, volatilitas harga saham, direktur kepemilikan saham, Audit ukuran komite, dan konsentrasi kepemilikan dikaitkan dengan ICD secara konsisten dengan harapan teoritis. Implikasi dari temuan ini, sampai sekarang sebagian besar belum teruji, yang dieksplorasi dari sejumlah teoritis perspektif.

(6)

B.Teori dan Kajian Pustaka

1. Teori Pensinyalan (Signaling Theory)

Signaling theory pada dasarnya concern dengan penurunan asimetri informasi di antara dua pihak (Spence, 2002). Teori pensinyalan berkaitan dengan bagaimana mengatasi masalah yang timbul dari asimetri informasi dalam seting sosial. Hal ini menunjukkan bahwa asimetri informasi dapat dikurangi jika pihak yang memiliki informasi dapat mengirim sinyal kepada pihak terkait. Sebuah sinyal dapat menjadi suatu tindakan yang dapat diamati, atau struktur yang diamati, yang digunakan untuk menunjukkan karakteristik tersembunyi (atau kualitas) dari signaler tersebut. Pengiriman sinyal biasanya didasarkan pada asumsi bahwa itu harus menguntungkan bagi signaler (misalnya menunjukkan kualitas yang lebih tinggi dari produk dibandingkan dengan pesaingnya) (An et al., 2011).

Teori penyisalan menyatakan bahwa perusahaan berkualitas tinggi akan cenderung memberikan sinyal keunggulan mereka kepada pasar. Pada suatu sisi, sinyal akan membuat investor dan pemangku kepentingan yang lain menaikkan nilai perusahaan, dan kemudian membuat keputusan yang lebih menguntungkan bagi perusahaan (Whiting dan Miller, 2008). Sebaliknya, perusahaan-perusahaan dengan kapasitas tidak terlalu bagus akan cenderung untuk mengungkapkan informasi yang sifatnya memang mandatory.

Pengungkapan sukarela informasi IC akan menjadi media yang sangat efektif bagi perusahaan untuk menyampaikan sinyal kualitas superior yang mereka

(7)

miliki terkait kepemilikan IC yang signifikan untuk penciptaan kesejahteraan di masa yang akan datang (Guthrie dan Petty, 2000; Whiting dan Miller, 2008). Sering kali di yakini bahwa pemberian sinyal tentang atribut IC, misalnya pengungkapan melalui laporan tahunan, akan menghasilkan beberapa keuntungan bagi perusahaan.

2. Modal Intelektual (Intellectual Capital)

Modal intelektual didefinisikan sebagai sumber daya pengetahuan dalam bentuk karyawan, pelanggan, proses, atau teknologi yang dapat digunakan untuk membantu menciptakan nilai dan meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan (Bukh et al., 2005). Solikhah et al. (2010) menjelaskan bahwa istilah intellectual capital pertama kali dikemukakan oleh ekonom John Kenneth Galbraith yang menulis surat untuk teman sejawatnya, Michal Kalecki. Selanjutnya intellectual capital yang dikemukakan Galbraith tersebut mendorong para peneliti untuk menjelaskan lebih lanjut secara rinci mengenai intellectual capital. Secara konsep, intellectual capital merujuk pada modal non fisik atau modal tidak berwujud (intangible assets) atau tidak kasat mata (invisible) seperti pengetahuan dan pengalaman manusia serta teknologi yang digunakan. Menurut Solikhah et al. (2010) modal intelektual merupakan pengetahuan yang memberikan informasi tentang nilai tak berwujud perusahaan yang dapat mempengaruhi nilai perusahaan.

Roos et al. (1997) menyatakan bahwa IC meliputi seluruh proses dan aset yang tidak secara normal nampak di neraca dan semua intangible assets (trademarks, patent dan brands) yang menjadi perhatian metode akuntansi

(8)

modern. Bontis et al (2000) menyatakan bahwa secara umum, para peneliti mengidentifikasi tiga konstruk utama dari IC, yaitu: human capital (HC), structural capital (SC), dan customer capital (CC).

a. Human Capital (Modal Manusia), merupakan keahlian dan kompetensi yang dimiliki karyawan dalam memproduksi barang dan jasa serta kemampuannya untuk dapat berhubungan baik dengan pelanggan. human capital digolongkan atas pendidikan, pengalaman, keterampilan, kreatifitas dan attitude.

b. Structural Capital (SC) adalah infrastruktur yang dimiliki oleh suatu perusahaan dalam memenuhi kebutuhan pasar. Structural capital yaitu sistem teknologi, sistem operasional perusahaan, paten, merk dagang dan kursus pelatihan.

c. Customer Capital (CC) adalah orang-orang yang berhubungan dengan perusahaan yang menerima pelayanan yang diberikan oleh perusahaan tersebut.

3. Intellectual Capital Disclosure

Sejak tahun 2000an, para akademisi dan praktisi mulai fokus pada persoalan pengungkapan IC (intellectual capital disclosure - ICD) perusahaan di dalam laporan tahunannya (lihat misalnya: Guthrie et al., 1999; Guthrie dan Petty, 2000; Goh dan Lim, 2004). Definisi ICD adalah jumlah pengungkapan banyak diperdebatkan diantara para ahli dalam berbagai literatur (Ulum, 2015a).

Mouritsen et al. (2001) menyatakan bahwa IC disclosure dalam suatu laporan keuangan sebagai suatu cara untuk mengungkapkan bahwa laporan tersebut

(9)

menggambarkan aktifitas perusahaan yang kredibel, terpadu (kohesif) serta ”true and fair”. Mereka merujuk pada laporan IC yang menunjukkan bahwa banyak dari literatur pengungkapan IC berdasar pada analisis tekstual atas laporan keuangan. Sangat sedikit perusahaan yang membuat laporan IC secara terpisah.

Dalam hal ini Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam –LK) telah menerbitkan peraturan nomor X.K.6 lampiran keputusan ketua Bapepam dan LK nomor: Kep-431/BL/2012 tentang penyampaian laporan tahunan emiten atau perusahaan publik tanggal 1 agustus (Bapepam-LK, 2012). Ulum (2015a) menyatakan penyempurnaan peraturan seperti diatas dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas keterbukaan informasi dalam laporan tahunan Emiten dan perusahaan public sebagai sumber informasi yang penting bagi pemegang saham dan masyarakat dalam membuat keputusan investasi. Menurut peraturan ini, Emiten atau perusahaan publik yang pernyataan pendaftaranya telah menjadi efektif wajib menyampaikan laporan tahunan kepada Bapepam dan LK paling lama 4 (empat) bulan setelah tahun buku berakhir dan laporan tersebut harus bisa diakses oleh publik yang dimuat di halaman website masing masing perusahaan.

Ulum (2015a) meneliti pada industri perbankan di Indonesia selama tiga tahun pengamatan, yaitu 2006, 2009, dan 2012. Jumlah total sampel adalah 84 perusahaan (data panel 3 tahun pengamatan), terdiri dari 23 bank terdaftar sampai dengan tahun 2006, 29 bank terdaftar sampai dengan tahun 2009, dan 32 bank terdaftar sampai dengan tahun 2012. Bank-bank yang baru IPO pada tahun

(10)

2013 tidak masuk dalam sampel penelitian (misalnya NAGA, NOBU, dan BMAS). Salah satu variabel yang diteliti dalam disertasi (Ulum, 2015) adalah pengungkapan Modal Intellectual Capital (ICD).

4. Corporate Governance (CG)

Corporate Governance dapat didefinisikan sebagai suatu proses dan struktur yang digunakan oleh organ perusahaan (Pemegang Saham, Pemilik Modal, Komisaris/ Dewan Pengawas dan Direksi) untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan peraturan perundang-undangan dan nilai-nilai etika (Sutedi, 2011).

Corporate governance (CG) menjadi salah satu isu yang terjadi antara kepemilikan modal (investor) dengan keagenan (manajer). Permasalahan keagenan erat hubungannya antara pemilik modal (investor) dengan manajer. Pemilik modal (investor) belum sepenuhnya mempercayai pihak keagenenan dalam memastikan bahwa dana yang ditanam oleh pemilik modal (investor) benar di gunakan untuk aktivitas perusahaan tidak di investasikan pada proyek yang menguntungkan perusahaan. Ada empat komponen utama yang diperlakukan dalam konsep corporate governance ini, yaitu fairness, transparancy, accountability, dan responsibility. Keempat komponen tersebut karena penerapan prinsip corporarate governance secara konsisten terbukti dapat meningkatkan kualitas laporan keuangan (Sutedi, 2011).

(11)

Dari beberapa definisi mengenai corporate governance merupakan suatu struktur (sistem atau mekanisme) yang baik untuk mengendalikan dan mengelola suatu perusahaan dengan tujuan untuk meningkatkan nilai pemegang saham serta mengakomodasi berbagai pihak yang berkepentingan dengan perusahaan seperti kreditur, pemasok, asosiasi bisnis, konsumen, karyawan dan masyarakat luas (Agustina, 2011).

5. Unsur-unsur Corporate Governance

a. Corporate Governance-Internal Perusahaan

Sutedi (2011) menyatakan bahwa unsur yang berasal dari dalam perusahaan dan unsur yang selalu diperlukan di dalam perusahaan, kita namakan Corporate Governance-Internal Perusahaan. Unsur-unsur yang berasal dari dalam perusahaan adalah:

1) Pemegang saham; 2) Direksi;

3) Dewan komisaris; 4) Manajer;

5) Karyawan/serikat pekerja;

6) System remunerasi berdasar kinerja; 7) Komite audit;

Unsur-unsur yang diperlukan di dalam perusahaan, antara lain meliputi; 1) Keterbukaan dan kerahasiaan (disclosure);

2) Transparansi; 3) Accountability;

(12)

4) Fairness;

5) Aturan dari code of conduct.

b. Corporate Governance-Eksternal Perusahaan

Sutedi (2011) menyatakan unsur yang berasal dari luar perusahaan dan unsur yang selalu diperlukan di luar perusahaan, dinamakan Corporate Governance-External Perusahaan. Unsur yang berasal dari luar perusahaan adalah;

1) Kecukupan undang-undang dan perangkat hukum; 2) Investor;

3) Institusi penyedia informasi; 4) Akuntan publik;

5) Institusi yang memihak kepentingan public bukan golongan; 6) Pemberi pinjaman;

7) Lembaga yang mengesahkan legalitas.

Unsur yang selalu diperlukan di luar perusahaan antara lain meliputi: 1) Aturan dari code of conduct;

2) Fairness; 3) Accountability; 4) Jaminan hukum. 6. Perbankan

Perkembangan perbankan menunjukkan dinamika dalam kehidupan ekonomi. Sebelum sampai pada praktik-praktik yang terjadi saat ini, ada

(13)

banyak permasalahan yang terkait dengan masalah-masalah perbankan saat ini. Masalah utama yang muncul dalam praktik perbankan ini adalah pengaturan sistem keuangan yang berkaitan dengan mekanisme penentuan volume uang yang beredar dalam perekonomian.

Sistem perbankan di Indonesia dibedakan berdasarkan fungsinya yang terdiri dari Bank Sentral, Bank Umum, dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Bank Umum, dapat menghimpun dana dari masyarakat secara langsung dalam bentuk simpanan giro, tabungan dan deposito berjangka, lalu menyalurkan kepada masyarakat terutama dalam bentuk kredit atau bentuk-bentuk lainnya. Bank umum dalam kegiatannya memberikan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran. Sementara itu, Bank Perkreditan Rakyat, berdasarkan peraturan perundang-undangan, dalam pelaksanaan kegiatannya menghimpun dana, dapat menerima tabungan dan deposito berjangka, namun tidak diperkenankan menerima simpanan giro dan tidak diperkenankan member jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran.

Perkembangan perbankan yang semakin dinamis dan kompleks membuat otoritas moneter berusaha membuat Arsitektur Perbankan Indonesia (API). Dengan adanya API, diharapkan bank nasional mampu bersaing tidak hanya pada segmen pasar domestik tetapi juga pada pasar internasional. Perbankan syariah di Indonesia diproyeksikan akan meningkat pesat seiring meningkatnya laju ekspansi kelembagaan dan akselerasi pertumbuhan aset perbankan syariah yang sangat tinggi dan ditambah lagi dengan volume

(14)

penerbitan sukuk yang terus meningkat berdasarkan data yang diperoleh dari Islemic Finance Country Index ( IFCI).

Dengan telah diberlakukannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah yang terbit tanggal 16 Juli 2008, maka pengembangan industri perbankan syariah nasional semakin memiliki landasan hukum yang memadai dan akan mendorong pertumbuhannya secara lebih cepat lagi. Dengan progres perkembangannya yang impresif, yang mencapai rata-rata pertumbuhan aset lebih dari 65% pertahun dalam lima tahun terakhir, maka diharapkan peran industri perbankan syariah dalam mendukung perekonomian nasional akan semakin signifikan.

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah di Indonesia dijelaskan bahwa bank syariah dibagi menjadi 3 Jenis:

a. Bank Umum Syariah (BUS) adalah Bank Syariah yang dalam kegiatannya memberikan Jasa dalam lalu lintas pembayaran.

b. Unit Usaha Syariah (UUS) adalah unit kerja dari kantor pusat Bank Umum Konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor atau unit yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah, atau unit kerja di kantor cabang dari suatu bank yang berkedudukan di luar negeri yang melaksanakan kegiatan usaha secara

(15)

konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor cabang pembantu syariah dan/atau unit syariah.

c. BPRS adalah Bank Pembiayaan Rakyat Syariah yaitu Bank Syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

7. Hubungan corporate governance terhadap luas pengungkapan modal intelektual

Dikaitkan dengan disclosure, corporate governance dapat meningkatkan disclosure. Mekanisme corporate governance dapat digunakan untuk memonitoring tindakan manajemen perusahaan yang melakukan tindakan kecurangan. Perusahaan yang menerapkan asas good corporate governance dalam kegiatan bisnisnya akan lebih transparan terhadap pelaksanaan intellectual capital disclosure dan bertanggung jawab dalam menyediakan informasi yang tidak hanya sekedar mematuhi peraturan atau undang-undang yang ada. Prinsip-prinsip atau pedoman pelaksanaan corporate governance menunjukkan adanya perlindungan hak-hak para pemegang saham. Penerapan prinsip tersebut secara konsisten terbukti dapat meningkatkan kualitas laporan keuangan dan laporan tahunan suatu perusahaan. Kualitas laporan tahunan dapat dikatakan meningkat jika perusahaan melakukan voluntary disclosure, yaitu salah satunya adalah intellectual capital disclosure. Agar laporan tahunan di percaya oleh stakeholders dan dapat dijadikan pedoman dalam pengambilan keputusan harus memiliki kualitas yang tinggi dengan mengungkapkan seluas-luasnya informasi yang di miliki

(16)

perusahaan sehingga corporate governance dapat meningkatkan disclosure. Hubungan antara corporate governance dengan pengungkapan yang dilakukan perusahaan dapat bersifat substitusi maupun komplementer (Cerbioni dan Parbonetti, 2007). Penjelasan substitusi yaitu salah satu mekanisme akuntabilitas yang dapat menggantikan, sebagai konsekuensinya perusahaan tidak akan meningkat baik pengungkapan sukarela dan tata kelola mekanisme pada waktu yang sama tetapi akan strategis memilih untuk meningkatkan satu dengan mengorbankan yang lain. Karena biaya yang terkait dengan informasi asimetri dapat dikurangi dengan menggunakan paket pengawasan internal yang ada. Sedangkan, penjelasan untuk komplementer atau pelengkap, pengungkapan meningkat karena penerapan mekanisme tata kelola yang lebih akan memperkuat pengendalian internal perusahaan dan memberikan paket monitoring intensif untuk mengurangi perilaku oportunistik dan asimetri informasi (Leftwich et al., 1981). Manajer tidak akan mungkin melakukan tindakan untuk menahan informasi yang mempunyai nilai manfaat seperti dalam lingkungan pemantauan intensif yang mengarah ke perbaikan di kelengkapan pengungkapan dan kualitas laporan tahunan.

C.Perumusan Hipotesis

Pengaruh mekanisme corporate governance terhadap luas pengungkapan modal intelektual di perusahaan sektor perbankan.

Menurut Sutedi (2011) kerangka kerja corporate governance harus memastikan diungkapkannya informasi materiil perusahaan yang akurat dan

(17)

tepat waktu, antara lain meliputi situasi keuangan, kinerja perusahaan, pemegang saham, dan manjemen perusahaan serta faktor risiko yang mungkin timbul. Informasi material yang perlu diungkapkan meliputi antara lain hasil keuangan dan usaha perusahaan, pemegang saham utama, anggota board of directors dan esekutif, risiko yang mungkin dihadapi, struktur dan kebijakan perusahaan serta target yang ingin dicapai. Di dalam mekanisme corporate governance peneliti memilih tiga indikator berdasarkan penelitian terdahulu yaitu ukuran dewan komisaris, ukuran komite audit, dan frekuensi pertemuan komite audit.

Dewan komisaris bertugas untuk melakukan monitoring terhadap tindakan manajer. Tindakan monitoring yang dilakukan dapat mengurangi biaya agensi melalui pengawasan yang ketat bagi manajer untuk melakukan pengungkapan informasi mengenai modal intelektual secara relevan dan akurat. Hal tersebut bertujuan untuk meminimalisasi masalah antara pihak agen dengan pihak prinsipal. Dengan semakin besarnya ukuran dewan komisaris suatu perusahaan, maka kinerja pengawasan dan pengendalian menjadi lebih baik dan efektif sehingga akan meningkatkan pengungkapan modal intelektual.

Abeysekera (2009) dan Sembiring (2006), penelitian keduanya yang mengambil objek perusahaan pada negara berkembang mendapatkan hasil bahwa ukuran dewan yang lebih besar akan melakukan pengungkapan yang lebih besar karena adanya tekanan dewan dalam jumlah besar terhadap pihak manajemen. Selain itu, Coller dan Gregory (1999) menyatakan bahwa semakin besar jumlah anggota dewan komisaris maka akan semakin mudah untuk

(18)

mengendalikan manajemen dan monitoring yang dilakukan juga akan semakin efektif sehingga akan meminimalisasi agency cost. Pengendalian dan monitoring dewan komisaris dilakukan melalui komite-komite yang membantunya mengawasi secara langsung aktivitas perusahaan.

Albitar (2015) menyimpulkan bahwa ukuran perusahaan, leverage, umur perusahaan, profitabilitas, likuiditas, ukuran dewan komisaris dan ukuran komite audit berpengaruh terhadap pengungkapan sukarela dan direktur independen dan struktur kepemilikan tidak berpengaruh terhadap pengungkapan sukarela. Pengendalian dan monitoring dewan komisaris dilakukan melalui komite-komite yang membantunya mengawasi secara langsung aktivitas perusahaan. Al-Janadi et al. (2013) menyatakan hasil penelitiannya bahwa mekanisme pemerintahan, direktur terutama non-eksekutif, ukuran dewan komisaris, CEO dualitas, kualitas audit, dan kepemilikan pemerintah, memiliki kontribusi yang signifikan dalam memberikan pengungkapan sukarela kualitas

Menurut Keputusan Ketua Bapepam Nomor: Kep-29/PM/2004, komite audit adalah komite yang dibentuk oleh dewan komisaris dalam rangka membantu melaksanakan tugas dan fungsinya. Suatu komite audit terdiri dari mayoritas komisaris independen yang dapat meningkatkan kualitas informasi keuangan untuk memberikan suatu penilaian yang lebih akurat dari keputusan dan kinerja manajemen puncak (Cerbioni dan Parbonetti, 2007).

Menurut Prabowo (2010) komite audit merupakan komite operasional dewan yang memiliki tanggung jawab atas fungsi pengawasan dari pelaporan

(19)

dan pengungkapan keuangan. Komite audit yang efektif harus meningkatkan pengendalian internal dan bertindak untuk mengurangi agency cost (Ho dan Wong, 2001) dan sebagai alat pengendalian yang kuat untuk meningkatkan pengungkapan modal intelektual yang memiliki nilai bagi perusahaan. Munculnya komite audit dihubungkan dengan pelaporan keuangan yang lebih terpercaya, peningkatan kualitas dan pengungkapan.

Penelitian yang telah dilakukan (Ho dan Wong, 2001) menghasilkan kesimpulan hubungan positif antara keberadaan komite audit dan praktik pengungkapan perusahaan. Li et al. (2008) yang menyatakan bahwa keberadaan komite audit menjadi penting karena komite audit dapat mempengaruhi praktik intellectual capital. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Li et al. (2007) bahwa semakin besar jumlah komite audit maka semakin luas pula pengungkapan IC,

Menurut Keputusan Ketua Bapepam Nomor: Kep-29/PM/2004, komite audit mengadakan rapat sekurang-kurangnya sama dengan ketentuan minimal rapat dewan komisaris yang ditetapkan dalam anggaran dasar.

Koordinasi dalam rapat komite audit membahas mengenai strategi dan evaluasi pelaksanaan tugas seperti pengawasan laporan keuangan, pengendalian internal, serta pengawasan terhadap tata kelola perusahaan yang baik. Dengan semakin seringnya frekuensi rapat komite audit dilakukan, maka dapat meningkatkan koordinasi dan meningkatkan pelaksanaan pengawasan menjadi lebih baik dan efektif sehingga dapat mempengaruhi pengungkapan informasi modal intelektual, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.

(20)

Li et al. (2008) membuktikan bahwa ada hubungan positif antara frekuensi pertemuan komite audit dan tingkat pengungkapan IC. Taliyang dan Jusop (2011) menyimpulkan bahwa frekuensi pertemuan audit berpengaruh terhadap pengungkapan modal intelektual dan komposisi dewan komisaris, peran dualitas, dan ukuran komite audit tidak berpengaruh terhadap pengungkapan modal intelektual.

H1 : Semakin baik mekanisme corporate governance suatu perusahaan maka semakin banyak luas pengungkapan modal intelektualnya pada perusahaan sektor perbankan.

D. Kerangka Pemikiran Teoritis

Corporate Governance (CG) Intellectual Capital Disclosure (ICD) Ukuran Dewan Komisaris Ukuran Komite Audit Frekuensi Pertemuan Komite Audit

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :