• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Kelasa: Kelebat Bahasa dan Jahdiah Sastra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Kelasa: Kelebat Bahasa dan Jahdiah Sastra"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Jahdiah

Jurnal Kelasa: Kelebat Bahasa dan Sastra

http://kelasa.kemdikbud.go.id/jurnal/index.php/kelasa p-ISSN : 1907-7165

e-ISSN: 2721-4672

PRINSIP KERJA SAMA DALAM TRANSAKSI JUAL BELI ANTARA PEDAGANG SAYUR DAN PELANGGAN

Cooperative Principle in Buying Selling Transactions Between Vegetable Seller and His Customers

Jahdiah

Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan [email protected]

Abstrak

Fokus penelitian adalah prinsip kerja sama dalam transaksi jual beli antara pedagang sayur dan pelanggan.Berdasarkan hal tersebut masalah dalam penelitian ini ialah bagaimana jenis tuturan pelanggaran dan penerapkan prinsip kerja sama. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelanggaran dan penerapan prinsip kerja sama yang diklasifikasikan berdasarkan empat maksim, yaitu maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim hubungan, dan maksim cara. Teori yang digunakan teori dasar pragmatik dengan menitikberatkan pada prinsip kerja sama yang dikemukakan oleh Grice. Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah tuturan pedagang sayur dan pelanggan. Pengambilan data dari bulan Januari—Febuari 2020. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data, yaitu (1) mendeskripsikan tuturan-tuturan antara pedagang sayur dan pelanggan (2) menafsirkan atau menganalisis tututan-tuturan pedagang sayur dan pelanggan, (3) mengelompokkan tuturan-tuturan pedagang sayur dan pelanggan yang mengandung prinsip kerja sama. Berdasarkan hasil penelitian terdapat dua pelanggaran maksim kuantitas, dua data pelanggaran maksim hubungan. Penerapan terhadap prinsip kerja sama lebih banyak ditemukan dalam peneltian, yaitu sepuluh penerapan prinsip kerja sama, yaitu tiga penerapan maksim kuantitas, satu penerapan maksim kualitas, empat penerapan maksim hubungan, dan dua penerapan maksim cara.

Kata-kata kunci: Prinsip kerja sama, pedagang sayur, pelanggan, pragmatik

Abstract

The focus of this research is the principle of cooperation of trading between vegetable vendors and customers. Based on this, the problem in this study is how the type of violation speech and the application of the principle of cooperation. This research aims to describe the violation and the use of cooperative principle that is classified based on four maxims; they are maxim of quantity, maxim of quality, maxim of relation, and maxim of manner. This research uses the basic theory of pragmatic by focusing on the cooperative principle stated by Grice. This

Naskah Diterima Tanggal 23 September 2020—Direvisi Akhir Tanggal 2 Mei 2021—Disetujui Tanggal 5 Mei 2021 doi: https://doi.org/10.26499/kelasa.v6i1.112

(2)

Jahdiah

©2021, Kelasa, 16 (1), 1 – 15 2 |

research uses a descriptive method. The data source of this research is the speech of the vegetable seller and his customers. Data collection was taken from January--Febuary 2020. The data analysis techniques used in this study were (1) describing the story between the seller (vegetable uncle) and the buyer, (2) interpreting or analyzing the words of the seller and buyer, (3) classifying the story of the seller (vegetable uncle) and the buyer which contains the principle of cooperation. The data analysis is using a contextual heuristic method. Based on the result of the study, there are two violations of maxim of quantity, two data of violations of maxim of relation. The use of the cooperative principle is commonly found in this research, there are ten cooperative principles, namely three maxims of quantity, one maxim of quality, four maxims of relation, and two maxims of manner.

Keywords: Cooperative principle, vegetable vendors , customers, pragmatic.

PENDAHULUAN

Transaksi jual beli tidak hanya terjadi di pasar seperti pada umumnya. Beragam transaksi dapat terjadi, baik di pasar maupun di mana saja. Jika ada penjual dan pembeli pasti akan terjadi transaksi jual beli. Salah satu transaksi jual beli adalah transaksi yang terjadi antara pedagang sayur dan pelanggan. Pedagang sayur ini biasanya mendatangi pembeli ke kampung-kampung atau kompleks perumahan. Transaksi jual beli tidak berbeda jauh dengan transaksi di pasar adanya tawar menawar, tentunya peran bahasa sangat penting karena dengan bahasa sesuatu bisa diungkapkan dalam komunikasi antara penjual dan pembeli.

Manusia menggunakan bahasa dalam berkomunikasi. Dalam berkomunikasi dapat berupa penyapa, penanya, dan pengutaraan pendapat.Setiap individu pasti menggunakan kalimat-kalimat yang mudah unntuk dipahami dalam komunikasi sehari-hari. (Arifin, dkk. 2017:19).

Komunikasi dalam pergaulan sehari-hari sering dilakukan oleh siapa saja. interaksi manusia pasti menggunakan bahasa untuk berkomunikasi antarmanusia, dalam hal ini fungsi bahasa sebagai alat komunikasi. Bahasa memiliki arti penting bagi manusia ketika berkomunikasi. Komunikasi yang terjadi dapat berupa lisan maupun tulisan. Dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa dapat dipergunakan dalam menyampaikan maksud dan tujuan tertentu berupa gagasan, ide dan keinginan kepada lawan tutur sehingga komunikasi dapat berjalan dengan lancar.

Bahasa yang kita gunakan dalam semua aspek kehidupan bermasyarakat seperti perdagangan, pendidikan, pemenritahan dan sebagainya dapat diartikan sebagai alat untuk menujukan jati diri (Nurhayati, 2009: 29).

Bahasa digunakan oleh penutur untuk berkomunikasi atau berinteraksi dalam suatu tuturan Chaer (2010, hlm.15). Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang

(3)

Jahdiah paling sering terjadi antara manusia di tempat dan waktu yang sama. Menurut (Jumanto (2011:23) bentuk yang paling mendasar dari komunikasi interpersonal adalah komunikasi diadik, yaitu pertemuan atau percakapan antara dua orang. Contoh komunikasi diadik adalah tuturan dalam transaksi jual beli.

Komunikasi yang baik memerlukan keterampilan berbicara yang baik, yaitu bagaimana memulai dan percakapan agar dipahami. Komunikasi yang baik perlu ada prinsip kerja sama antara penutur dan mitra tutur. Jika tidak ada kerja sama yang baik akan terjadi pelanggaran terhadap prinsip kerja sama sehingga komunikasi tidak bisa berjalan dengan baik.

Demikian juga hal transaksi jual beli, diperlukan prinsip kerja sama antara pedagang sayur dan pelanggan. Penelitian ini menekankan pada transaksi yang terjadi antara pedagang sayur dan pelanggan. Penelitian ini menarik karena penjual dalam hal ini pedagang sayur merupakan pelanggan. Transaksi terjadi setiap hari karena pedagang sayur setiap hari mendatangi pembeli yang kebanyakan ibu-ibu. Transaksi juga kadang terjadi sehari sebelumnya dengan cara memesan terlebih dahulu. Hal ini yang menarik untuk dijadikan objek penelitian.

Bahasa yang digunakan oleh pedagang sayur dan pelanggan dalam transaksi jual beli bahasa yang singkat. Kalimat yang digunakan tidak lengkap dan makna yang digunakan bersifat taksa. Bila digunakan dalam situasi yang lain tuturan tersebut sulit dipahami karena multi tafsir. Penggunaan bahasa yang singkat sewaktu transaki terjadi antara pedagang sayur dan pelanggaan disebabkan situasi dan waktu yang terbatas. Namun, percakapan itu dipahami oleh oleh kedua belah pihak melalui situasi dan kondisi. (Nurmiah,2014:197)

Penelitian yang relevan dengan penelitian mengenai transaksi jual beli, diantaranya (Nourmalita, 2017) dengan judul penelitian Prinsip Kerja Sama dalam

Bahasa Transaksi Jual Beli Online di Tokopedia.com. Penelitian lain yang juga

membahas tentang transaksi jual beli (Jahdiah, 2001) dengan judul Perilaku Berbahasa

dalam Transaksi Jual Beli di Pasar Astambul:Tinjauan Pragmatik. Penelitian ini

membahas mengenai jenis-jenis tuturan yang digunakan oleh pembeli dan penjual di antaranya tindak tutur asertif mengusulkan, tindak tutur ekpresif meminta maaf, tindak tutur kritik, memuji, tindak tutur direktif memaksa, meminta, tindak tutur komisif berjanji, dan tindak tutur refresentatif menyebut, mengakui.

(4)

Jahdiah

©2021, Kelasa, 16 (1), 1 – 15 4 |

Penelitian lain yang juga menganalisis dari segi pragmatik (Putri dan Nurfitriani, 2020) dengan judul penelitian “Analisis Tindak Tutur Perlokusi pada Iklan Minuman Sprite di Televisi”. Penelitian ini membahas mengenai jenis tindak tutur dalam iklan minuman berupa tindak tutur direktif, asertif, deklaratif, dan komisif. Masing-masing tindak tutur tersebut mempunyai makna perintah, saran, menunjukkan, menyatakan, menuntut, memberitahukan, menyarankan, dan menepati janji.

Berbeda dengan penelitian terdahulu, penelelitian yang berjudul “Prinsip Kerja Sama Transaksi Jual Beli Antara Paman Sayur dan Pelanggan:Tinjauan Pragmatik” membahas mengenai tuturan antara pembeli dan penjual paman sayur. Analisis yang digunakan dengan teori prinsip kerja sama yang dikemukakan oleh Grice.

Permasalahan yang diuraikan dalam penelitian ini bagaimana penerapan dan pelanggaran prinsip kerja sama yang terjadi pada transaksi jual beli antara pedagang sayur dan pelanggan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan dan pelanggaran prinsip kerja sama antara pedagang sayur dan pelanggan berdasarkan teori yang dikemukan oleh Grice.

LANDASAN TEORI

Teori pragmatik merupakan teori yang digunakan pada penelitian ini. Pragmatik mengkaji makna yang dituturkan oleh penutur sesuai dengan konteks, akibatnya adanya tuturan memngkinkan sebuah tuturan. Memahami makna di lingkup pragmatik ekspresi jarak disebabkan setiap penutur mempertimbangkan apa yang dituturkan. Kajian bahasa secara pragmatik dapat memberi manfaat kepada kita, yaitu dapat membicarakan makna yang dimaksud oleh orang-orang, asumsi-asumsi mereka, maksud atau tujuan mereka, dan jenis-jenis tindakan yang mereka ajukan ketika bertutur. Pragmatik menyelidiki bagaimana cara pendengar dapat menyimpulkan tentang apa dituturkan oleh lawan tutur dan menghasilkan makna yang tersirat yang disampaikan oleh penturu. (Putrayasa, 2015:2). Sementara itu, Wijaya (1996:2) mengungkapkan pragmatik salah satu bagian dari ilmu bahasa yang di dalamnya memperlahari struktur bahasa secara eksternal, menyatakan fungsi kebahasaan dalam komunikasi. Ilmu pragmatik sebagai salah satu ilmu bahasa di dalamnya mengkaji mengenai kesantunan berbahasa, praanggapan, implikatur, jenis tindak tutur dan prinsip kerja sama.

Komunikasi yang dilakukan antara penutur dan mitra tutur tentu akan menimbulkan sebuah percakapan ada makna yang tersirat. Dalam percakapan terdapat

(5)

Jahdiah prinsip kerja sama untuk menjalin suatu percakapan yang gunakan agar dapat mencapai komunikasi yang baik Putrayasa, (2015, hlm.101).

Inti dari prinsip kerja sama yang umum, tentu menggunakana tuturan-tutran yang lugas, mudah dimengerti, langsung, tuturan dapat diterima maksudnya oleh lawan tutur sehingga komunikasi menjadi lebih efektif. Prinsip kerja sama ini sering kita temui dalam percakapan verbal

Menurut Grice dalam Wijaya (1996:46) untuk melaksanakan prinsip kerja sama ada empat maksim yang harus dipatuhi oleh penutur dan lawan tutur, yaitu maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi dan maksim cara atau pelaksanaan. Berikut uraian dari maksim-maksim tersebut.

1. Maksim Kuantitas

Maksim kuantitas menyatakan bahwa informasi yang diberikan harus tepat dalam berkomunikasi, berikan informasi seefektif, jangan memberikan informasi yang tidak diperlukan, jangan melebihkan informasikan kepada lawan tutur. Maksim ini terbagi dari dua submaksim. Penutur harus memberikan informasi hanya yang diinginkan oleh lawan tutur, b) informasi yang diberikan jangan dilebihkan, berikan informasi secukupnya saja.

2. Maksim Kualitas

Maksim kualitas menyatakan bahwa informasi yang diberikan harus benar, sesuatu yang diyakani salah tidak perlu disampaikan kepada lawan tutur.Maksim ini menginginkan dalam peristiwa tutur jangan mengatakan kepada orang lain sesuatu yang belum tentu kebenarannya

3. Maksim Hubungan

Maksim hubungan menyatakan bahwa usahakan tuturan ada relevansinya, melalui maksim dalam peristiwa tutur. Percakapan harus diketua topiknya oleh penutur maupun lawan tutur, pemahaman yang sama terhadap topik pembicaraan akan membantu menginterpretasikan tuturan yang diucapkan oleh lawan tutur.

4. Maksim Cara

Maksim cara mementingkan cara sebuah ide, gagasan, pendapat, saran diungkapkan kepada orang lain. Dalam maksim ini mengunngkap sesuatu harus jelas sehingga dipahami oleh lawan tutur. Maksim cara memiliki empat

(6)

Jahdiah

©2021, Kelasa, 16 (1), 1 – 15 6 |

submaksim, diantara hindari tuturan yang sama, 2) hindari kekaburan makna, 3) usahakan perkataan ringkas, dan 4) usahakan tuturan teratur.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Semua data yang terkumpul dianalisis dan dipaparkan secara deskriptif. Metode yang digunakan dalam penyedian data dengan metode simak (pengamatan atau observasi). Informan penelitian ini adalah penjual dan pembeli yang bertransaksi. Lokasi penelitian ini Desa Sungai Alat, Kecamatan Astambul, Kabupatan Banjar. Informan dalam penelitian ini 10 orang, yang terdiri dari 2 orang pedagang sayur sebagai penjual dan delapan orang pembeli.

Penelitian ini menggunakan data dan sumber berupa tuturan antara penjual dan pembeli yang sedang bertransaksi jual beli, yaitu paman sayaur dan pelanggan. Teknik pengumpulan. Percakapan antara pedagang sayur dan pelanggan yang berisi kalimat-kalimat yang berisi prinsip kerja sama berserta konteks. . Pengambilan data dilakukan Januari—Febuari. Teknik pengumpulan data dengan simak bebas libat cakap (SBLC). Dalam teknik ini peneliti tidak terlibat dalam proses pembicaraan orang-orang yang saling berbicara atau dikatakan sebagai pemerhati saja Sudaryanto (2015, hlm.134--135). Kartu data digunakan untuk mengklasifikasi jenis-jenis maksim yang terdapat dalam tututran pedagang sayur dan yang fungsi untuk mendeskripsikan tuturan sesuai dengan konteks dalam kalimat..

Penelitian ini menggunakan teknik analisis data, yaitu (1) mendeskripsikan tuturan-tuturan antara pedagang sayur dan pelanggan, (2) menafsirkan atau menganlisis tututan-tuturan penjual dan pembeli, (3) mengelompokkan tuturan-tuturan penjual (paman sayur) dan pembeli yang mengandung prinsip kerja sama.

PEMBAHASAN

Bagian ini akan menguraikan mengenai pelanggaran dan penerapan prinsip kerja sama antara paman sayur dan pelanggan. Pelanggaran terhadap prinsip kerja dalam tuturan antara penjual dan pembeli terjadi karena komunikasi kurang dipahami oleh penjual dan pembeli sehingga komunikasi yang terjadi tidak relevan dengan apa yang diinginkan baik penutur dan lawan tutur. Berikut hasil analisis mengenai pelanggaran dan penerapan prinsip kerja sama.

(7)

Jahdiah

Pelanggaran Prinsip Kerja Sama dalam Tuturan Penjual Sayur dan pelanggan

Data 1

Pedangan sayur : Pian bapasan apa semalam Bu. ‘Kamu mesan apa kemarin, Bu’ Pelanggan : Iwak peda, ada pian bawakanlah.

Ikan gembong, adakah kamu membawanya

Pedagang Sayur: Ulun mambawakan iwak bandeng aja, lagi kosong iwak peda.

‘Saya membawakan ikan bandeng saja, lagi kosong ikan gembong’

Konteks Tuturan:

Seorang pembeli memesan ikan kepada pedangan sayur tapi pedangan sayur tidak membawakan

Tuturan Ulun mambawakan iwak bandeng aja, lagi kosong iwak peda. ‘Saya membawakan ikan bandeng saja, lagi kosong ikan gembong’ dituturkan oleh pedagang sayur kepada pelanganannya ketika pelanggananya menanyakan pesanan ikan yang dipesan kemarin dibawakan. Berdasarkan prinsip kerja sama yang tuturan yang dituturkan oleh pedangan sayur tersebut tidak sesuai dengan maksim hubungan. Berdasarkan maksim hubungan bahwa usahakan perkataaan ada relevansinya, melalui maksim ini dalam suatu peristiwa tutur penutur dan mitra tutur dituntut untuk menyatakan sesuatu yang relevan. Tuturan dalam data (1) tidak ada relevansi antara tuturan penutur yang menanyakan Iwak peda, ada pian bawakanlah ‘Ikan gembong, adakah kamu membawanya’ mitra tutur malahan menjawab bahwa hanya membawa ikan bandeng saja.

Dalam peristiwa tutur antara pedagang sayur dan pelanggan tidak ada relevansinya. Jadi, jelas bahwa dalam tuturan data (1) termasuk tuturan yang melanggar maksim hubungan karena tidak ada relevansi antara tuturan penutur dan mitra tutur. Berikut juga tuturan antara pedagang sayur dan pelanggannya.

Data 2

Pelanggan : Itung pang samuaanyalah. ‘Hitung semuanya, ya’

Pedangan Sayur: Tambahi lagi napa nang dicari tampulu masih banyak jajualannya. ‘Tambah lagi apa yang dicari mumpung masih banyak dagangannya’ Konteks Tuturan:

(8)

Jahdiah

©2021, Kelasa, 16 (1), 1 – 15 8 |

Tuturan Tambahi lagi napa nang dicari tampulu masih banyak jajualannya. ‘Tambah lagi apa yang dicari mumpung masih banyak dagangannya’ tuturan pada data 2 dituturkan oleh mitra tutur ketika penutur meminta hitungan belanjaan. Mitra tutur (penjual) tidak langsung menghitung malahan menyarankan untuk belanja lagi karena dagangan masih lengkap. Tuturan yang dituturkan oleh mitra tutur tersebut berdasarkan prinsip kerja sama termasuk tuturan yang melanggar prinsip kerja sama, yaitu maksim hubungan. Berdasarkan maksim hubungan bahwa tuturan dituntut untuk selalu relevan dengan yang diinginkan oleh lawan tutur. Tuturan data 3 ketika penutur (pembeli) meminta hitungankan malahan mitra tutur (penjual) menawarkan untuk tambahan belanja tidak relevan dengan apa yang diinginkan oleh mitra tutur. Dengan demikitan tuturan tersebut melanggar prinsip kerja sama yang dikemukakn oleh Leech.

Data 3

Pedagang Sayur :Ari ini ulun kada mambawa kanas.

Hari ini saya tidak membawa nenas’.

Pelanggan :Umaylah lawasnya pian kada mambawa kanas. ‘Aduh lama sekali kamu tidak membawa nenas’. Konteks tuturan:

Penutur memberitahukan kepada mitra tutur bahwa nenas masih tidak membawa juga. Tuturan: Umaylah lawasnya pian kada mambawa kanas. ‘Aduh lama sekali kamu tidak membawa nenas’. Dituturkan oleh mitra tutur ketika penutur memberitahukan bahwa nenas masih tidak membawa juga. Tuturan yang dituturkan oleh mitra tutur berdasarkan prinsip kerja sama, yaitu maksim hubungan. Berdasarkan maksim hubungan usahakan perkataan sesuai relevan dengan topik pembicaran. Data 3 apa yang dituturkan oleh mitra tutur tidak sesuai dengan maksim hubungan atau maksim relevan. Dengan demikian tuturan pada data terjadi pelanggaran maksim relevansi. Data 4

Pelanggan Lima balas ribu maulah iwak haruannya? ‘Lima belas ribu ikan gambusnya, ya’? Pedagang Sayur: Larang badahulu ulun nukar.

‘Mahal sudah saya membelinya’. Konteks Tuturan:

(9)

Jahdiah ` Tuturan Larang badahulu ulun nukar. ‘Mahal sudah saya membelinya’. Tuturan dituturkan oleh penjual ketika pembeli menawar harga ikan, tetapi penjual tidak menjawab dengan harga ditawar oleh pembeli malahan dengan tuturan yang tidak ada hubungannya.

Tuturan yang dituturkan oleh pedagang sayur tersebut melanggar prinsip kerja sama yang dikemukakan oleh Leech, yaitu maksim kuantitas. Pembeli tidak menanyakan mengenai harga ikan sekarang, tetapi menawar. Sebetulnya jawaban yang diinginkan oleh pembeli hanya ya atau tidak. Maksim kuantitas menghendaki penutur atau mitra tutur dapat memberikan informasi yang cukup dan memadai. Informasi tidak boleh melebihi apa yang diinginkan, apabila berlebihan apa yang diinginkan termasuk tuturan yang tidak sesuai dengan maksim kuantitas.

Penerapan Prinsip Kerja Sama

Tuturan antara penjual dan pembeli memenuhi penerapan prinsip kerja sama, jika dalam tuturan kedua belah pihak baik penjual dan pembeli sesuai apa yang ditanyakan oleh penutur dan ditanggapi oleh mitra tutur, dapat dipahami maksud dan tujuan apa yang dituturkan. Berikut analisis penerapan prinsip kerja sama dalam transaksi pedagang sayur dan pelanggan.

Data 5

Pelanggan : Paman, iwak haruan barapa sakilonya.

‘Paman ikan gabus berapa satu kilogram. Pedagang Sayur :Larang Bu ai sudah, sakilunya 90 ribu

‘Mahal Bu, satu kilonya 90 ribu. Konteks Tuturan:

Seorang pembeli bertanya kepada paman sayur harga ikan gabus.

Tuturan Larang Bu ai sudah, sakilunya 90 ribu ‘Mahal Bu, satu kilonya 90 ribu. Tuturan yang dituturkan oleh penjual dan pembeli ketika penutur bertanya mengenai harga ikan gabus satu kilonya. Tuturan yang dituturkan oleh paman sayur kepada pembeli atau pelanggan termasuk tuturan yang sesuai dengan prinsip kerja sama, yaitu maksim kuantitas.

Berdasarkan maksim kuantitas bahwa dalam peristiwa tutur baik penutur maupun mitra tutur dalam berkomunikasi hendaknya memberikan secukupnya, apa yang ditanyakan oleh lawan tutur, jangan menyimpang dari pertanyaan. Tuturan data (5) ketika penutur menanyakan harga ikan gabus mitra tutur menjawab sesuai dengan yang

(10)

Jahdiah

©2021, Kelasa, 16 (1), 1 – 15 10 |

ditanyakan oleh penutur. Dengan demikian tuturan termasuk tuturan yang sesuai dengan prinsip kerja sama. Berikut juga tuturan yang berisi prinsip kerja sama dalam peristiwa tutur antara paman sayur dan pelanggan atau beli.

Data 6

Pelanggan : Isuk pian bajualanlah Man. ‘Besok berdagangankah, Paman?

Pedagang Sayur:Insyaallah bajulanai mun arinya kada hujan. ‘Insyaallah berdagang kalau harinya tidak hujan ’. Konteks Tuturan:

Penutur menanyakan kepada mitra tutur apakah besok berjualan.

Tuturan Insyaallah bajulanai mun arinya kada ujan ‘Insyaallah berdagang kalau hari tidak hujan’. Dituturkan oleh mitra tutur kepada mitra tutur ketika mitra tutur menanyakan apakah mitra tutur berjualan besok. Tuturan yang dituturkan oleh mitra tutur termasuk tuturan yang menerapkan prinsip kerja sama, yaitu maksim hubungan.

Berdasarkan maksim hubungan bahwa usahakan perkataan dalam suatu peristiwa tutur harus relevan atau tuturan harus fokus pada topik yang dibicarakan. Tuturan pada data (6) ketika penutur menanyakan mengenai mitra yang jualan atau tidak, mitra tutur menjawab Insyaallah bajulanai mun arinya kada ujan ‘Insyaallah berdagang kalau hari tidak’. Berarti tuturan tersebut relevan. Berikut juga prinsip kerja sama dalam transaksi pelanggan dan pedagang sayur.

Data 7

Pedagang Sayur : Samunyaan jadi 34 ribu Bu ai. “Semuanya Rp.34.000, Bu”.

Pelanggan :Larangnya, hitungpang sakali lagi. ‘Mahal sekali, hitung lagi ya’. Konteks Tuturan:

Mitra tutur protes karena merasa terlalu mahal belanja tidak sesuai dengan yang dibelinya.

Tuturan Larangnya, hitungpang sakali lagi. ‘Mahal sekali, hitung lagi ya’. Tuturan dituturkan oleh mitra tutur kepada penutur yang menghitung hasil belanja tetapi mitra tutur merasa belanja tidak sesuai harganya, sehinga mitra tutur meminta hitung ulang kepada penutur.

(11)

Jahdiah Berdasarkan prinsip kerja sama, sesuai dengan maksim kualitas. Maksim ini mennyakini agar dalam peristiwa tutur kita tidak mengatakan kepada orang lain sesuatu yang kita yakini salah. Tuturan data 7 mitra tutur menyakin bahwa penutr salah hitung. Berikut juga analisis prinsip kerja sama dalam tuturan pelanggan dan pedagang sayur. Data 8

Pedangan Sayur : Acil Yuli kada kalihatan semalam bapasan iwak salauang. ‘Bu, tidak kelihatan kemarin pesan ikan seluang’

Pelanggan : Acil Yuli kada baulanjar ari ini. ‘Bu, Yuli tidak belanja hari ini’. Konteks Tuturan:

Penutur menanyakan salah satu pelanggan yang pesan ikan.

Tuturan Acil Yuli kada baulanjar ari ini. ‘Bu, Yuli tidak belanja hari ini’. Dituturkan oleh pelanggan kepada pedagang sayur ketika pedagang sayur menanyakan salah satu pelanggan tidak belanja. Tuturan yang dituturkan oleh pelanggan termasuk tuturan yang sesuai dengan kemukakan oleh Grice, yaitu maksim kuantitas.

Berdasarkan maksim kuantitas bahwa dalam peristiwa tutur baik penutur maupun mitra tutur bahwa dalam berkomuniasi hendaknya memberikan seinformatif mungkin. Data 8 jelas informasi yang diberikan oleh mantra tutur sesuai dengan yang diinginkan oleh penutur. Ketika penutur menanyakan salah satu pelanggan yang tidak ada. Pelanggan atau pembeli lain memberitahukan bahwa yang dicari penutur tidak adanya. Dengan demikina apa yang dituturkan oleh mitra tutur sesuai karena memberikan informasi yang tepat, sesuai dengan yang diperlukan oleh penutur.

Data 9

Pedagang Sayur : Angsulan kurang, kadada duit pacahan.

‘Kembaliannya kurang, tidak ada uang recehan’. Pelanggan : Gasan isuk aja.

‘Buat besok saja’.

Konteks Tuturan:

Penutur menyatakan bahwa tidak ada uang kembalian.

Tuturan Gasan isuk aja. ‘Buat besok saja’. Tuturan dituturkan mitra tutur kepada penutur ketika penutur tidak ada uang kembalian. Tuturan yang dituturkan oleh mitra tutur termasuk tuturan yang sesuai dengan prinsip kerja sama yang dikemukakan oleh Leech, yaitu maksim cara.

(12)

Jahdiah

©2021, Kelasa, 16 (1), 1 – 15 12 |

Berdasarkan maksim cara bahwa perkataan mudah dimengerti. Data 9 ketika penutur mengatakan bahwa uang recehan tidak ada, mitra tutur langsung menyatakan bahwa Gasan isuk aja.‘Buat besok saja’ ini berarti apa yang dituturkan oleh penutur dapat dimengerti oleh mitra tutur hal ini tentukan sesuai dengan prinsip kerja sama, yaitu maksim cara.

Data 10

Pelanggan : Pian tukaranlah pasanan ulun malam tadi. ‘Kamu membelikan pesanan saya kemarinkah’. Pedagang Sayur :Nah maap banar ulun kada ingat nukarakan.

‘Nah, maaf sekali saya lupa membelikan’. Konteks Tuturan:

Pembeli menanyakan pesanan kepada paman sayur

Tuturan Nah maap banar ulun kada ingat nukarakan. ‘Nah, Maaf sekali saya lupa membelikan’. Dituturkan tukang sayur atau paman sayur ketika pembeli menanyakan pesanan yang dipesannya sehari sebelumnya. Tuturan yang dituturkan oleh mitra tutur termasuk tuturan yang sesuai dengan prinsip kerja sama, yaitu maksim hubungan.

Berdasarkan maksim hubungan bahwa usahakan perkataan atau dalam peristiwa tutur ada hubungan antara yang dibicarakan penutur dan mitra tutur. Data 10 ketika penutur menanyakan mengenai pesanannya mitra tutur meminta maaf karena penutur lupa membelikan pesanan mitra tutur. Dengan demikian, tuturan antara mitra tutur dan penutur tersebut ada relevansinya.

Data 11

Pedagang Sayur : Ni iwak presto tinggal sabungkus lagi.

‘Ini ikan presto satu lagi’.

Pelanggan : Barapa sabungkusnya.

‘Saya mau beli ayam saja hari ini’. Konteks Tuturan:

Penutur menawarkan ikan presto kepada mitra tutur.

Tuturan yang dituturkan pedagang sayur Ni iwak presto tinggal sabungkus lagi. ‘Ini ikan presto satu lagi’ dan direspon oleh pelanggan Barapa sabungkusnya. ‘ berapa sebungkusnya’. Pembeli seperlunya saja menjawab. Berdasarkan prinsip kerja sama yang dikemukan oleh Leech, tuturan yang dituturkan oleh pembeli sesuai dengan

(13)

Jahdiah maksim kuantitas. Penerapan maksim kuantitas ini menyebabkan percakapan kedua efektif dan jelas sehingga mudah dipahami oleh penutur.

Data 12

Pelanggan : Ada iwak nilakah tambakkah? ‘Ada ikan nilakah tambakkah’?

Pedagang Sayur : Ada ai tapi nang ada nila sungai aja lebih murah harganya wan

nyaman daripada iwak nila tambak.

‘Ada tapi yang ada nila sungai aja lebih murah harganya dan lebih enak daripada ikan nila tambak’

Konteks Tuturan:

Penjual menawarkan ikan nila sungai kepada pembeli

Tuturan Ada ai tapi nang ada nila sungai aja lebih murah harganya wan harga

lebih nyaman. ‘Ada tapi yang ada nila sungai aja lebih murah harganya’ dituturkan oleh

mitra tutur ketika penutur menanyakan ikan tambak. Jika dilihat percakapan yang terjadi antara pembeli dan penjual dalam tuturan tersebut terlihat cara penjual untuk mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan bahwa ikan nila sungai lebih murah harganya dan enak rasanya. Tuturan yang dituturkan oleh mitra tutur termasuk tuturan yang sesuai dengan prinsip kerja sama, yaitu maksim cara. Berdasarkan maksim cara peserta tutur menghindari ungkapan yang tidak jelas.

Data 13

Pelanggan : Kanapa banyak nang habis bawaan pian Man?

‘Mengapa banyak yang habis yang kamu dagangan, Bang’?

Pedagang Sayur : Habis ari raya kada banyak urang nang bajualan. ‘Setelah hari Raya tidak banyak orang yang berjualan’. Konteks Tuturan:

Pembeli menanyakan kepada Paman sayur.

Tuturan Habis ari raya kada banyak urang nang bajualan. ‘Setelah hari Raya tidak banyak orang yang berjualan’. Tuturan data 13 dituturkan oleh paman sayur kepada pembeli yang menanyakan barang yang dibawa paman sayur lebih sedikit dari biasa. Tuturan yang dituturkan oleh mitra tutur termasuk tuturan yang sesuai dengan prinsip kerja sama, yaitu maksim hubungan.

Berdasarkan maksim hubungan usahakan perkataan relevan atau fokus pada apa yang dituturkan oleh lawan tutur. Ketika pembeli bertanya tentang dagangan yang lebih

(14)

Jahdiah

©2021, Kelasa, 16 (1), 1 – 15 14 |

sedikit dari hari biasa, mitra tutur menjawab dengan alasan ketika setelah hari raya tidak banyak orang yang berjualan.

Data 14

Pedagang Sayur : Ayamnya tatak berapa. ‘Ayamnya potong berapa, Bu’ Pelanggan : Halusnya ayamnya barapa saikung.

‘Kecil sekali ayamnya, berapa seekornya’.

Konteks Tuturan:

Penjual menanyakan kepada mitra tutur ayamnya dipotong berapa.

Tuturan Halusnya ayamnya barapa saikung. ‘Kecil sekali ayamnya, berapa seekornya’. Dituturkan oleh dituturkan oleh mitra tutur kepada penutur ketika penutur menanyakan ayamnya potong berapa, tetapi jawaban mitra tutur tidak sesuai dengan yang ditanyakan oleh penutur.

Berdasarkan prinsip kerja sama yang dikemukakan oleh Leech tuturan tersebut tidak sesuai dengan maksim kuantitas. Berdasarkam maksim kuantitas dalam peristiwa tutur harus selalu berusaha agar topik pembicaraannya sesuai dengan konteks, jelas, dan mudah dimengerti. Kutipan tuturan data 15 antara penutur dan mitra tutur tidak jelas. Sehingga terjadi pelanggaran terhadap maksim kuantitas, yang ditanyakan penutur beda jawaban yang diberikan oleh mitra tutur tutur.

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian prinsip kerja sama dalam transaksi jual beli antara pedagang dan pelangganan terjadi pelanggaran prinsip kerja sama pedagang sayur dan pelanggan karena dalam komunikasi antara penutur dan mitra tutur, tuturan yang disampaikan oleh kedua pihak tidak relevan dengan topik pembicaraan yang dituturkan oleh penutur, informasi yang disampaikan mitra tutur melebihi apa yang diinginkan oleh penutur. Pada sebuah peristiwa tutur terkadang informasi yang disampaikan melebihi apa yang diharapkan mitra tutur. Pelanggaran terhadap maksim kerja sama juga terjadi ketika tuturan tidak fokus dengan topik yang dibicarakan.

Sementara itu, tuturan sudah memenuhi prinsip kerja sama dalam transaksi jual beli antara pedagang sayur dan pembeli karena tuturan-tuturan yang disampaikan dalam komunikasi penutur dan mitra tutur memberikan informasi yang secukupnya. Tuturan yang disampaikan oleh penutur dan mitra tutur relevan dengan topic yang dibicarakan. Pada tuturan penutur tidak mengatakan kepada mitra tutur sesuatu yang salah, tetapi

(15)

Jahdiah dikatakan sesuatu yang kita yakini benar. Informasi yang disampaikan oleh penutur sesuai karena informasi yang diberikan tepat dengan apa yang diperlukan oleh lawan tutur.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, T. (2009). Pengantar Metode Penelitian. Yogyayakarta: Teras.

Arifin, dkk, (2017). "Tindak Tutur dalamm Transaksi Jual Beli Intan di Pasar Martapura Kabupaten Banjar" dalam Jurnal Hadratul Madaniyah, Volume 4 No. 2

Chaer, A. (2010). Kesantunan Berbahasa. Jakarta: Rineka Cipta.

Dewa Putu Wijaya. (1996). Dasar-Dasar Pragmatik. Yogyakarta ANDI. Putrayasa. (2015) Pragmatik. Singaraja:Graha Ilmu.

Jahdiah. (2001). Perilaku Berbahasa dalam Transaksi Jual Beli di Pasar Astambul:Tinjauan Pragmatik. dalam Bunga Rampai. :Banjarbaru Balai Bahasa Banjarmasin.

Jumanto. (2011). Pragmatik: Dunia Lingusitik Tak Selebar Daun Kelor. Semarang: Morfolingua.

Larasati Nourmalita, D. (2017). Prinsip Kerja Sama dalam Transaksi Jual Beli Online di Tokepedia.com. Jurnal Sastra Budaya, 1, 86--96.

Leech. (1995). Prinsip-Prinsip Pragmatik. UI PRESS.

Moleong. (2010). Metode Penelitian Kuantatif. Bandung:PT Remaja Rosdakarya. Nurmiah. (2014) "Implikatur Percakapan dalam Transaksi Jual Beli di Pasar Tradisonal

di Kota Palu" dalam Jurnal Multilingual, Volume XIII, No. 2 Tahun

Putri dan Nurfitriani. (2020). Analisis Tindak Tutur Perlolusi pada Iklan Minuman Sprite di Televisi. Kelasa, 15(1), 70–80.

Referensi

Dokumen terkait

Awalnya kaba disampaikan dalam bentuk lisan oleh seorang tukang kaba kepada pendengarnya, proses penyampaiannya adalah dengan cara berdendang diiringi dengan musik

Pengaruh adanya individu yaitu dengan terbentuknya kelompok-kelompok pergaulan Pengaruh negatif interaksi sosial dalam kelompok teman sebaya (gang) di sekolah

kehidupan sebagai manusia. Cinta ideal itu baru mereka peroleh utuh setelah mereka mengalami kematian dan reinkarnasi menjadi sepasang kupu-kupu. Cinta ideal itu

Sementara itu, bahasan yang secara khusus mengkaji nama berdasarkan pendekatan sosio-onomastika masih sangat terbatas, yang salah satunya adalah Toponimi di Jantung

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kritik sosial yang muncul pada kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan karya Joko Pinurbo dengan menggunakan pendekatan

Laybarge yang digunakan untuk proses instalasi pipa bawah laut dapat berupa kapal biasa atau semisubmersible yang sudah dimodifikasi. Pada laybarge terdapat welding

Peneliti bidang ini dapat memperoleh lebih banyak pengetahuan tentang teknologi inti seperti ekstraksi foreground frame tunggal dan ganda, metode deteksi objek

Institusi zakat menjadi unsur penting dalam kebijakan sosio-ekonomi baik di Indonesia melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) maupun di Brunei