• Tidak ada hasil yang ditemukan

KUAT TEKAN DAN KUAT TARIK CAMPURAN SERBUK KETAM DAN SERBUK AMPLAS DENGAN LEM EPOXY SEBAGAI BAHAN PERBAIKAN KAYU. Achmad Basuki 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KUAT TEKAN DAN KUAT TARIK CAMPURAN SERBUK KETAM DAN SERBUK AMPLAS DENGAN LEM EPOXY SEBAGAI BAHAN PERBAIKAN KAYU. Achmad Basuki 1"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

KUAT TEKAN DAN KUAT TARIK CAMPURAN SERBUK KETAM DAN

SERBUK AMPLAS DENGAN LEM EPOXY SEBAGAI BAHAN PERBAIKAN

KAYU

Achmad Basuki

1

1Jurusan Teknik Sipil, FT Universitas Sebelas Maret, Jl. Ir. Sutami 36A Surakarta 57126 Email: [email protected]

ABSTRAK

Perbaikan kayu merupakan suatu teknik yang bertujuan untuk meningkatkan kembali kualitas kayu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai kuat tekan dan kuat tarik bahan perbaikan kayu dengan tujuan bahan tersebut dapat meningkatkan kembali kualitas kayu yang mengalami kerusakan ringan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian, yaitu dengan mencampurkan serbuk pasah (ketam) dan serbuk amplas kayu jati dengan lem epoxy sebagai matrik. Perbandingan yang dipakai yaitu perbandingan proporsi kadar hardener (10%, 25%, dan 50%) dan kadar filler (25%, 50% dan 75%). Campuran yang telah tercampur merata kemudian dicetak dengan bekisting sesuai SNI Kayu 2002 untuk uji tekan dan uji tarik. Dari penelitian yang telah dilakukan didapat hasil untuk kuat tekan dan kuat tarik, nilai kuat tekan tertinggi 0,45 MPa diperoleh dari benda uji dengan kode sampel CSC – F50/H50 atau benda uji dengan proporsi campuran filler 50% dan hardener 50%, sedangkan nilai kuat tekan paling kecil yaitu 0,06 MPa diperoleh dari campuran dengan kode benda uji CSC – F75/H10 atau benda uji dengan proporsi campuran filler 75% dan hardener 10%. Untuk kuat tarik, nilai kuat tarik paling besar yaitu 2,610 MPa diperoleh dari benda uji dengan kode sampel TSC – F50/H50 atau benda uji dengan proporsi ampuran filler 50% dan hardener 50%, sedangkan nilai kuat tarik paling kecil yaitu 0,008 MPa diperoleh dari campuran dengan kode benda uji TSC – F50/H25 atau benda uji dengan proporsi campuran filler 50% dan hardener 25%.

Kata kunci: kayu, epoxy, perbaikan kayu, serbuk ketam, serbuk amplas.

1. PENDAHULUAN

Hutan merupakan kekayaan alam yang sangat potensial di Indonesia dan merupakan modal dasar bagi pembangunan nasional. Salah satu dari hasil hutan tersebut adalah kayu. Kayu tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, dan kebutuhanya selalu meningkat dari tahun ke tahun. Kayu di Indonesia dewasa ini menghadapi tantangan yang cukup berat berkaitan dengan adanya ketimpangan antara kebutuhan bahan baku industri dengan kemampuan produksi kayu secara berkesinambungan, sehingga hal inilah yang membuat kayu menjadi langka dan harganya menjadi semakin mahal.

Kayu dimanfaatkan oleh manusia untuk berbagai keperluan, mulai dari yang sederhana (korek api, peti barang), bahan mewah (furniture, bahan interior kapal dan bangunan, ukiran) serta bahan bangunan seperti bangunan gedung, jembatan, pelabuhan atau perumahan. Untuk penggunaan kayu sebagai bahan bangunan disyaratkan mempunyai kekuatan tertentu, terutama mengenai sifat fisik/ mekaniknya. Dengan diketahuinya kekuatan untuk jenis kayu tertentu, maka konsumen akan memilih jenis kayu yang tepat sesuai penggunaanya. Tapi tidak serta merta jenis mutu kayu tertentu bisa digunakan langsung sebagai bahan bangunan, kayu tersebut harus terbebas dari cacat kayu, karena cacat kayu dapat mempengaruhi sifat mekanik kayu tersebut. Cacat kayu dapat berupa lubang, semakin besar lubang kayu maka akan semakin besar pula luas permuan kayu yang berkurang, sehingga kekuatan kayu tersebut akan berkurang.

Sehingga diperlukan penelitian untuk mengetahui besar nilai kuat tekan dan nilai kuat tarik dari material campuran untuk perbaikan kayu.

2. TINJAUAN PUSTAKA

Kayu adalah karakteristik yang sangat diinginkan untuk digunakan sebagai bahan struktural dan oleh karena itu telah digunakan sejak awal peradaban. Bahan struktural paling memiliki kekuatan yang baik, ringan dan karakter bahan alam yang dapat diperbaharui adalah kualitas utama dari kayu untuk digunakan sebagai struktural. Kayu salah satu elemen bangunan tertua yang digunakan manusia untuk pembangunan rumah

(2)

dan bangunan lainnya. Tetapi untuk mencapai hasil yang sangat baik dalam pekerjaan mereka harus ingat aspek-aspek tertentu yang terkait dengan bentuk pemotongan, menyembuhkan dan pengeringan.

Kayu memiliki beberapa sifat yang tidak terdapat pada bahan-bahan lain, diantaranya memiliki kekuatan tarik dan kekuatan tekan yang hampir seimbang, kayu mudah dibentuk dan dapat diperoleh dimana saja (Dumanauw, 1993).

Menurut Benny Puspantoro (1992), kayu sebagai bahan bangunan mempunyai sifat yang menguntungkan dan merugikan. Sifat yang menguntungkan dari kayu antara lain:

a) Mudah didapat dan relatif murah harganya dibandingkan bahan bangunan lain seperti beton dan baja. b) Mudah dikerjakan tanpa alat-alat berat khusus, misalnya mudah dipotong, dihaluskan, diukir ataupun

disambung sebagai suatu konstruksi.

c) Bentuknya indah alami sehingga sering diexpose serat-seratnya sebagai hiasan ruang

d) Isolasi panas, sehingga rumah yang banyak menggunakan bahan kayu akan terasa sejuk nyaman. e) Tahan zat kimia, seperti asam atau garam dapur.

f) Ringan sehingga mengurangi berat sendiri dari bangunan dan dapat menghemat ukuran fondasinya. g) Serba guna, artinya dapat dipakai sebagai konstruksi bangunan, seperti kuda-kuda atap, langit-langit,

pintu jendela, tiang atau dinding, selain itu dapat juga untuk alat bantu kerja sementara seperti bekesting untuk cor beton, bouwplank, tangga kerja dan lain sebagainya.

h) Mudah diganti dalam waktu singkat, relatif mempunyai kekuatan yang tinggi, dan berat sendiri yang rendah.

Sedangkan sifat yang merugikan dari kayu antara lain:

a) Mudah terbakar dan menimbulkan api, sehingga rumah yang banyak memakai bahan kayu kalau terbakar sulit dipadamkan karena api mudah menjalar dari satu tempat ke tempat lainnya melalui bahan kayu ini.

b) Kekuatan dan keawetan kayu sangat tergantung dari jenis dan umur pohonnya, sedang kayu yang ada diperdagangan sulit ditaksir umurnya.

c) Cepat rusak oleh pengaruh alam, hujan/air menyebabkan kayu cepat lapuk, panas matahari menyebabkan kayu retak-retak.

d) Dapat dimakan serangga-serangga kecil sepertai rayap, bubuk dan kumbang.

e) Dapat berubah bentuknya, menyusut atau memuai, tergantung kadar air yang dikandungnya. Bila kandungan airnya banyak kayu akan memuai, sebaliknya kalau kering kayu akan menyusut.

f) Pada pembebanan jangka panjang, lendutan cukup besar.

Kayu sebagai bahan konstruksi harus bersifat baik dengan ketentuan bahwa segala sifat dan kekurangan yang berhubungan dengan pemakaiannya sebagai bahan konstruksi tidak akan mengurangi nilai konstruksi. Kekuatan kayu dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti angka kerapatan, penyimpangan arah serat, cacat karena retak kayu atau mata kayu, kadar air serta beban (Eko Joko Santoso, 2004).

Sifat-sifat mekanik kayu atau kekuatan kayu adalah kemampuan kayu untuk menahan muatan dari luar. Yang dimaksud dengan muatan dari luar ialah gaya-gaya diluar benda yang mempunyai kecenderungan untuk mengubah bentuk dan besarnya benda. Untuk lebih jelasnya sifat-sifat mekanik dari kayu dan dimana atau bagaimana sifat mekanik itu penting, dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Sifat-Sifat Mekanik Kayu Yang Penting

Sifat-sifat Bagaimana atau dimana sifat ini penting

A. sifat Kekuatan Kekuatan lentur

Kekuatan tekan sejajar serat Kekuatan tekan tegak lurus serat

Kekuatan tarik sejajar serat Kekuatan geser sejajar serat

Menentukan beban yang dapat dipikul suatu gelagar Menentukan beban yang dapat dipikul suatu tiang atau pancang yang pendek

Penting dalam rancangan sambungan-

sambungan antara suku-suku kayu dalam suatu bangunan dan pada penyangga gelagar

Penting untuk suku bawah (busur) pada penopang kayu dan dalam rancangan sambungan antara suku-suku bangunan

Sering menentukan kapasitas beban yang dapat dipikul oleh gelagar pendek

B. Sifat Elastik

Modulus elastisitas Ukuran ketahanan terhadap pembengkokan, yaitu berhubungan langsung dengan kekakuan gelagar juga suatu faktor untuk kekuatan atau tiang panjang

(3)

Kerusakan pada kayu terjadi karena tindakan-tindakan atau karena keadaan yang mengakibatkan kekuatan kayu menurun, harga kayu menurun, dan mutu dan nilai pakai kayu berkurang atau kayu sama sekali tak terpakai. yang merupakan akibat dari perilaku manusia yang kurang cermat dalam mengelola kayu. Misalnya: pemeliharaan hutan yang kurang baik, penebangan pohon yang salah, pembagian batang yang keliru, cara menggergaji yang keliru serta cara pengeringan kayu yang tidak sesuai. Berikut ini beberapa kerusakan/cacat yang biasa terjadi pada kayu, antara lain:

Mata kayu adalah cacat yang paling umum mengurangi kekuatan kayu gergajian. Mata kayu pada pinggir bawah suatu gelagar pengurangan kekuatanya jauh lebih besar dari pada terletak di pinggir atas, karena mata kayu mempunyai pengaruh yang sangat besar pada kekuatan tarik dari pada pengaruhnya pada kekuatan tekan. Pada beberapa jenis kayu mata kayu justru dianggap sebagai tekstur penting yang menambah nilai ekonomis dan estetika kayu. Bagaimanapun, mata kayu pada sebagian jenis kayu bukanlah suatu hal yang baik terutama mata kayu mati. Terbentuk karena adanya pertumbuhan cabang pohon. Semakin besar cabang pohon akan semakin besar diameter mata kayu pada batang utama.

Pada kayu bulat sering terlihat adanya serat-serta yang terpisah memanjang dan berdasarkan ketentuan pengujian kayu jika:

a) Lebar terpisahnya serat ≤ 2 mm, dinamakan retak. b) Lebar terpisahnya serat ≤ 6 mm, dinamakan pecah. c) Lebar terpisahnya serat ≥ 6 mm, dinamakan belah.

Beberapa teknik perbaikan kayu pada umumnya sering digunakan untuk perbaikan benda-benda dan bangunan cagar budaya/purbakala. Bahan bangunan yang retak, pecah berlobang maupun patah dipertahankan untuk tidak diganti karena nilai sejarah yang terkandung didalamnya.

Beberapa teknik perbaikan berdasarkan Petunjuk Teknis Perawatan Benda Cagar Budaya Bahan Kayu, Direktorat Peninggalan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Tahun 2006 antara lain adalah perekatan, pengisian lubang serangga, penambalan, injeksi, penyambungan, penyelarasan warna (kamuflase), konsolidasi, pengawetan, pelapisan permukaan (coating) dan pelapisan permukaan yang kedap air. Untuk teknik yang digunakan dalam penelitian ini kurang lebih sama seperti yang digunakan dalam teknik penambalan ataupun kamuflase.

Teknik kamuflase adalah suatu teknik perbaikan kayu yang mengalami kerusakan yang tidak begitu parah, teknik ini sering digunakan untuk perbaikan benda-benda cagar budaya atau benda-benda dari kayu yang memiliki nilai historis sehingga bila masih bisa untuk diperbaiki maka akan diperbaiki sehingga nilai historisnya tidak hilang.

Serbuk kayu adalah sisa dari proses pengerjaan kayu. Serbuk kayu yang dihasilkan dari proses pengerjaan biasanya terkumpul dalam jumlah yang banyak dan tidak terbuang sia-sia. Pemanfaatan serbuk kayu di Indonesia belum begitu banyak selain untuk bahan kerajinan dan bahan bakar.

N. Balaguru, P. Shah, (1992), Serbuk kayu merupakan salah satu serat alami (cellulose fibers) yang dapat digunakan sebagai zat tambah dalam campuran menambal.

Serbuk kayu sebagai bahan dasar material pembuatan sampel dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua macam, yaitu

a. Serbuk Pasahan (ketam), yaitu serbuk yang berasal dari sisa pengetaman kayu yang bertektur lebih kasar dan lebih besar.

b. Serbuk Amplasan, yaitu sebuk yang berasal dari sisa pengamplasan / penghalusan pemukaan kayu, tesktur serbuk ini sangat halus sehingga sangat cocok sebagai bahan pengisi atau filler.

c. Lem Epoxy, lem terdiri dari resin & hardener yang penggunaanya sangat serba guna, bisa digunakan untuk merekatkan logam, kayu, beton, kaca, plastik dan berbagai media yang memerlukan daya rekat yang extra kuat. Resin berfungsi sebagai pengikat atau perekat sedangkan hardener berfungsi sebagai pengeras. Lem epoxy yang digunakan dalam penelitian ini dengan merk NEW MR.

3. METODOLOGI PENELITIAN

Metode penelitian merupakan langkah-langkah penelitian suatu masalah, kasus, gejala atau fenomena tertentu dengan cara ilmiah untuk menghasilkan jawaban yang rasional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen, yaitu metode yang dilakukan dengan mengadakan suatu percobaan langsung untuk mendapatkan data atau hasil yang menghubungkan antara variabel-variabel yang diselidiki. Metode eksperimen dapat dilakukan di dalam maupun di luar laboratorium. Penelitian ini dilaksanakan di dalam laboratorium, yaitu Laboratorium Bahan dan Struktur, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Pemecahan masalah pada penelitian ini dengan cara statistik, yaitu dengan urutan kegiatan dalam memperoleh data hingga data tersebut dapat digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan diantaranya adalah proses pengumpulan data, pengolahan data, analisis data dan cara pengambilan keputusan secara umum berdasarkan hasil penelitian. Jumlah sampel yang digunakan

(4)

Tabel 2 Bahan penelitian untuk pengujian kuat tekan.

Jenis benda uji

Kadar hardener 10 % Kadar hardener 25 % Kadar hardener 50 % Kode sampel Jumlah

sampel Kode sampel Jumlah sampel Kode sampel Jumlah sampel Serbuk ketam CSC-H10 3 CSC -H25 3 CSC -H50 3

Serbuk ketam + filler 25% CSC -H10/F25 3 CSC -H25/F25 3 CSC -H50/F25 3 Serbuk ketam + filler

50% CSC -H10/F50 3 CSC -H25/F50 3 CSC -H50/F50 3

Serbuk ketam + filler 75% CSC -H10/F75 3 CSC -H25/F75 3 CSC -H50/F75 3

Tabel 3 Bahan penelitian untuk pengujian kuat tarik.

Jenis benda uji

Kadar hardener 25 %

Kadar hardener 50 %

Kode sampel Jumlah sampel Kode sampel Jumlah sampel

Serbuk ketam TSC-H25 3 TSC -H50 3

Serbuk ketam + filler

25% TSC -H25/F25 3 TSC -H50/F25 3

Serbuk ketam + filler

50% TSC -H25/F50 3 TSC -H50/F50 3

Serbuk ketam + filler

75% TSC -H25/F75 3 TSC -H50/F75 3

Keterangan:

CSC : Compression Sample Crab (sampel tekan campuran ketam) TSC: Tension Sample Crab (sampel tarik campuran ketam)

H : Hardener F: Filler

Gambar 1 Benda uji tekan dan tarik 5cm

5 cm 5 cm

(5)

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengujian kuat tekan pada penelitian ini menggunakan benda uji berbentuk kubus dengan ukuran 5 x 5 x 5 cm3. Pengujian dilakukan dengan cara memberikan beban hingga benda uji tersebut hancur dengan alat Universal Testing Machine (UTM). Pada saat dial mulai melambat didapatkan beban/gaya tekan maksimum (

P

maks) dari benda uji. Data tersebut kemudian diolah untuk memperoleh nilai kuat tekan benda uji (

f

c). Nilai kuat tekan dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

A

P

f

maks c

=

(1) Dengan: c

f

= kuat tekan (MPa)

maks

P

= beban tekan maksimum (N)

A

= luas permukaan benda uji tertekan (mm2)

Pengujian kuat tekan yang dilakukan dengan menggunakan alat Universal Testing Machine (UTM), didapat nilai kuat tekan dan setelah dimasukan ke dalam rumus yang telah disebutkan diatas maka didapat beberapa hasil sesuai dengan perbandingan filler dan variasi hardener.

Hasil pengujian kuat tekan sampel dengan variasi filler dan hardener berturut-turut dapat dilihat dalam Tabel 4 sampai dengan Tabel 7.

Tabel 4 Kuat Tekan Rata-rata Benda Uji dengan Kadar Filler 0% dan Variasi Hardener 10%, 25% dan 50 %

Nama Benda Uji Kuat Tekan Rata-rata

(Mpa)

CSC – H10 0.07

CSC – H25 0.09

CSC – H50 0.17

Kadar hardener 10% nilai kuat tekan benda uji adalah sebesar 0,07 MPa, pada kadar hardener 25% nilai kuat tekan sebesar 0,09 Mpa dan pada kadar hardener 50% nilai kuat tekan sebesar 0,17 MPa. Dari grafik di atas dapat diketahui bahwa pertambahan kadar hardener akan menambah pula kuat tekan benda uji, mengingat sifat hardener adalah sebagai pengeras.

Tabel 5 Kuat Tekan Rata-rata Benda Uji dengan Kadar Filler 25% dan Variasi Hardener 10%, 25% dan 50 %

Nama Benda Uji Kuat Tekan Rata-rata

(Mpa)

CSC – F25/H10 0.10

CSC – F25/H25 0.22

CSC – F25/H50 0.11

Nilai kuat tekan benda uji pada kadar hardener 10% sebesar 0,10 Mpa, kadar hardener 25% sebesar 0,22 Mpa, dan kadar hardener 50% sebesar 0,11 Mpa. Hal ini berbeda dari asumsi awal bahwa pertambahan kadar hardener akan menambah pula kuat tekan benda uji. Ini disebabkan karena pemadatan yang tidak merata/kurang saat pembuatan benda uji yang masih menggunakan cara manual (tenaga manusia). Faktor lain yang menyebabkan adalah karena kesalahan dalam penimbangan bahan, sehingga campuran untuk membuat sampel berkurang.

Tabel 6 Kuat Tekan Rata-rata Benda Uji dengan Kadar Filler 50% dan Variasi Hardener 10%, 25% dan 50 %

Nama Benda Uji Kuat Tekan Rata-rata

(Mpa)

CSC – F50/H10 0.12

CSC – F50/H25 0.23

(6)

Nilai kuat tekan benda uji pada kadar hardener 10% adalah sebesar 0,12 Mpa, untuk kadar hardener 25% sebesar 0,23 Mpa, dan nilai kuat tekan pada kadar hardener 50% sebesar 0,45 Mpa. Sehingga dari Gambar 6 dapat dilihat bahwa semakin besar kadar hardener, semakin tinggi pula kuat tekan benda uji.

Tabel 7 Kuat Tekan Rata-rata Benda Uji dengan kadar Filler 75% dan variasi Hardener 10%, 25% dan 50 %

Nama Benda Uji Kuat Tekan Rata-rata

(Mpa)

CSC – F75/H10 0.06

CSC – F75/H25 0.14

CSC – F75/H50 0.11

Nilai kuat tekan benda uji pada kadar hardener 10% sebesar 0,06 Mpa, kadar hardener 25% sebesar 0,14 Mpa, dan kadar hardener 50% sebesar 0,11 Mpa. Ini disebabkan karena pemadatan yang tidak merata/kurang saat pembuatan benda uji. Faktor lain yang menyebabkan adalah karena kesalahan dalam penimbangan bahan, sehingga campuran untuk membuat sampel berkurang.

Gambar 2 Perbedaan Antara Kadar Hardener dan Kuat Tekan Rata-rata Benda Uji pada Kadar Filler 0%, 25%, 50% dan 75%

Dari Gambar 2 dapat diketahui bahwa kuat tekan paling tinggi benda uji dengan kode CSC – F50/H50 atau sampel dengan kadar filler 50% dan hardener 50%, dengan nilai sebesar 0,45 Mpa dan sampel yang mempunyai kuat tekan paling rendah adalah sampel dengan kode CSC – F75/H10 atau sampel dengan kadar filler 75% dan hardener 10%, dengan nilai sebesar 0,06 Mpa.Hal tersebut diatas dapat terjadi selain disebabkan karena pengaruh kadar hardener, juga dipengaruhi karena faktor gradasi campuran. Sampel CSC – F50/H50 mempunyai kuat tekan yang baik karena kadar hardener yang tinggi dan gradasi campuran yang seimbang antara filler / serbuk ampelas dengan serbuk ketam (pasah). Sedangkan sampel CSC – F75/H10 mempunyai kuat tekan yang rendah karena selain kadar hardener yang rendah juga karena gradasi campuran yang tidak seimbang dan terlalu banyak filler / serbuk ampelas.

Pengujian kuat tarik yang dilakukan dengan menggunakan alat Universal Testing Machine (UTM), didapat nilai kuat tarik dan setelah dimasukan ke dalam rumus yang telah disebutkan diatas maka didapat beberapa hasil sesuai dengan perbandingan filler dan variasi hardener.

Kadar hardener 25% mempunyai nilai kuat tarik sebesar 1,337 Mpa dan pada kadar hardener 50% nilai kuat tarik sebesar 0,938 MPa. Hal ini berbeda dari asumsi awal bahwa pertambahan kadar hardener akan menambah pula kuat tarik benda uji. Ini disebabkan mungkin karena pemadatan yang tidak merata/kurang saat pembuatan benda uji yang masih menggunakan cara manual (tenaga manusia). Faktor lain yang menyebabkan adalah mungkin karena kesalahan dalam penimbangan bahan, sehingga campuran untuk membuat sampel berkurang.

Nilai kuat tarik benda uji pada kadar hardener 25% sebesar 1,303 Mpa, dan kadar hardener 50% sebesar 1,597 Mpa. Dari grafik di atas dapat diketahui bahwa pertambahan kadar hardener akan menambah pula kuat tarik benda uji, mengingat sifat hardener adalah sebagai pengeras.

Nilai kuat tarik benda uji pada kadar hardener 25% sebesar 0,008 Mpa, dan nilai kuat tarik pada kadar hardener 50% sebesar 2,610 Mpa. Sehingga dari Gambar 3 dapat dilihat bahwa semakin besar kadar hardener, semakin tinggi pula kuat tarik benda uji.

0,07 0,09 0,17 0,10 0,22 0,11 0,12 0,23 0,45 0,06 0,12 0,11 0,00 0,05 0,10 0,15 0,20 0,25 0,30 0,35 0,40 0,45 0,50 10 25 50 K u a t T ek a n ( M P a ) Kadar Hardener (%) filler 0% filler 25 % filler 50% filler 75%

(7)

Nilai kuat tarik benda uji pada kadar

1,492 Mpa. Ini disebabkan karena pemadatan yang tidak merata/kurang saat pembuatan benda uji. Faktor lain yang menyebabkan adalah karena kesalahan dalam penimbangan bahan, sehingga campuran untuk membuat sampel berkurang.

Gambar 3 Perbedaan Antara Kadar Kadar Filler

Dari Gambar 3. dapat diketahui bahwa kuat tarik paling tinggi benda uji dengan kode TSC sampel dengan kadar filler 50% dan

mempunyai kuat tarik paling rendah, dan tidak mempunyai nilai sama sekali adalah sampel dengan kode TSC– F50/H25 atau sampel dengan kadar

tersebut diatas dapat terjadi selain disebabkan karena pengaruh kadar faktor gradasi campuran. Sampel TSC

yang tinggi dan gradasi campuran yang seimbang antara

(pasah). Sampel TSC – F50/H25 tidak mempunyai kuat tarik karena selain kadar juga karena gradasi campuran yang tidak seimbang dan terlalu banya

5. KESIMPULAN

Dari seluruh pengujian, analisis data, dan pembahasan yang dilakukan dalam penelitian ini, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Tidak semua penambahan pengujian, penambahan filler 2. Campuran tertinggi dengan nilai

F50/H50 atau sampel dengan kadar tertinggi dengan nilai sebesar atau sampel dengan kadar

3. Campuran terendah dengan nilai sebesar CSC–F75/H10 atau sampel dengan kadar

campuran terendah terdapat pada campuran dengan kode sampel TSC kadar filler 50% dan hardener

0,008 MPa. DAFTAR PUSTAKA

Benny Puspantoro, (1992), Sambungan Kayu Pintu dan Jendela Dumanauw J.F, (1990), Mengenal Kayu

Haygreen, John G, 1986, Hasil Hutan dan Ilmu Kayu Kasmudjo Soeherdradjati, (1990),

Suwarno Wiryomartono, (1976), Yogyakarta.

Nilai kuat tarik benda uji pada kadar hardener 25% sebesar 1,593 Mpa, dan kadar

1,492 Mpa. Ini disebabkan karena pemadatan yang tidak merata/kurang saat pembuatan benda uji. Faktor lain yang menyebabkan adalah karena kesalahan dalam penimbangan bahan, sehingga campuran untuk

Perbedaan Antara Kadar Hardener dan Kuat Tarik Rata-rata Benda Uji pada Filler 0%, 25%, 50% dan 75%

dapat diketahui bahwa kuat tarik paling tinggi benda uji dengan kode TSC 50% dan hardener 50%, dengan nilai sebesar 2,610 Mpa

mempunyai kuat tarik paling rendah, dan tidak mempunyai nilai sama sekali adalah sampel dengan kode F50/H25 atau sampel dengan kadar filler 50% dan hardener 25%, dengan nilai

tersebut diatas dapat terjadi selain disebabkan karena pengaruh kadar hardener, juga dipengaruhi karena faktor gradasi campuran. Sampel TSC–F50/H50 mempunyai kuat tarik yang baik karena kadar

tinggi dan gradasi campuran yang seimbang antara filler/ serbuk ampelas dengan serbuk ketam F50/H25 tidak mempunyai kuat tarik karena selain kadar

juga karena gradasi campuran yang tidak seimbang dan terlalu banyak filler/serbuk ampelas.

Dari seluruh pengujian, analisis data, dan pembahasan yang dilakukan dalam penelitian ini, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

Tidak semua penambahan hardener menambah kuat tekan dan kuat tarik benda uji. Karena dari hasil filler juga berpengaruh terhadap kekuatan benda uji.

Campuran tertinggi dengan nilai 0,45 MPa terdapat pada campuran dengan kode sampel CSC F50/H50 atau sampel dengan kadar filler 50% dan hardener 50%, untuk sampel tekan dan campuran tertinggi dengan nilai sebesar 2,610 MPa terdapat pada campuran dengan kode sampel TSC

atau sampel dengan kadar filler 50% dan hardener 50%, untuk sampel tarik.

Campuran terendah dengan nilai sebesar 0,06 MPa terdapat pada campuran dengan kode sampel F75/H10 atau sampel dengan kadar filler 75% dan hardener 10%, untuk sampel tekan dan campuran terendah terdapat pada campuran dengan kode sampel TSC–F50/H25 atau sampel dengan hardener 25%, untuk sampel tarik, dan tidak mempunyai nilai sama sekali

Sambungan Kayu Pintu dan Jendela, Penerbit Andi Offset Mengenal Kayu, Pendidikan Industri Kayu Atas, Semarang.

Hasil Hutan dan Ilmu Kayu, Gajah Mada University Press, Yogyakarta. Kasmudjo Soeherdradjati, (1990), Teknologi Hasil Hutan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

martono, (1976), Konstruksi Kayu Jilid I, Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada, an kadar hardener 50% sebesar 1,492 Mpa. Ini disebabkan karena pemadatan yang tidak merata/kurang saat pembuatan benda uji. Faktor lain yang menyebabkan adalah karena kesalahan dalam penimbangan bahan, sehingga campuran untuk

rata Benda Uji pada

dapat diketahui bahwa kuat tarik paling tinggi benda uji dengan kode TSC–F50/H50 atau 2,610 Mpa dan sampel yang mempunyai kuat tarik paling rendah, dan tidak mempunyai nilai sama sekali adalah sampel dengan kode 25%, dengan nilai 0,000 Mpa. Hal , juga dipengaruhi karena F50/H50 mempunyai kuat tarik yang baik karena kadar hardener / serbuk ampelas dengan serbuk ketam F50/H25 tidak mempunyai kuat tarik karena selain kadar hardener yang rendah

/serbuk ampelas.

Dari seluruh pengujian, analisis data, dan pembahasan yang dilakukan dalam penelitian ini, maka dapat menambah kuat tekan dan kuat tarik benda uji. Karena dari hasil terdapat pada campuran dengan kode sampel CSC–

50%, untuk sampel tekan dan campuran terdapat pada campuran dengan kode sampel TSC–F50/H50 terdapat pada campuran dengan kode sampel 10%, untuk sampel tekan dan 25 atau sampel dengan 25%, untuk sampel tarik, dan tidak mempunyai nilai sama sekali

Offset Yogyakarta. , Yogyakarta. Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

(8)

Gambar

Tabel 1  Sifat-Sifat Mekanik Kayu Yang Penting
Tabel 2 Bahan penelitian untuk pengujian kuat tekan.
Tabel 4  Kuat Tekan Rata-rata Benda Uji dengan                  Kadar Filler 0% dan Variasi  Hardener                  10%, 25% dan 50 %
Gambar 2 Perbedaan Antara Kadar Hardener dan Kuat Tekan Rata-rata Benda Uji pada   Kadar Filler 0%, 25%, 50% dan 75%
+2

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan Berita Acara Hasil Pelelangan Nomor: 31.9/VII/POKJA-ULP/UGM/2015 tanggal 31 Juli 2015.. Nama

Lingkup pekerjaan : Pengadaan Jasa Pemeliharaan Perangkat Keras Merk Sun Oracle Dan Software Support Beserta Perangkat Pendukung Lainnya Di Lingkungan Direktorat

Berdasarkan hasil uji t, peneliti mendapatkan variabel spiri- tualitas secara parsial mempunyai nilai t hitung -1,189 dengan probabilitas atau taraf signifikansi ( p

Menghilangkan faktor subjektifitas merupakan hal yang sulit dari manajer personalia dalam menentukan keputusan, hal ini dapat diminimalisir dengan menentukan pilihan

Dipilihnya dua wilayah ini sebagai penerapan IFS dikarenakan wilayah tersebut merupakan lokasi yang cocok digunakan untuk peternakan kambing PE, sebagai peta

KEY WORDS: Digital Elevation Model, Vertical Accuracy, Uncertainty, Sea level rise, Vulnerability Assessment, AW3D30, ASTER GDEM, SRTM DEM, Mindanao,

Indikator masalah yang muncul dalam perlindungan pekerja rumah tangga adalah terkait dengan aspek pengakuan terhadap pekerja rumah tangga sebagai pekerja, jumlah

(2) There are 16 pejorative expressions that used as part of pejoration expression in the movie.. Therefore, not all of the pejorative expressions were used as pejoration