• Tidak ada hasil yang ditemukan

THE EFFECT OF VIRGIN COCONUT OIL WASTE IN THE DIET OF BROILER CHICKEN ON THE MICROSTRUCTURAL OF MUSCLE AND DIGESTIVE ORGANS. Oleh

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "THE EFFECT OF VIRGIN COCONUT OIL WASTE IN THE DIET OF BROILER CHICKEN ON THE MICROSTRUCTURAL OF MUSCLE AND DIGESTIVE ORGANS. Oleh"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

THE EFFECT OF VIRGIN COCONUT OIL WASTE IN THE DIET OF BROILER CHICKEN ON THE MICROSTRUCTURAL OF MUSCLE AND DIGESTIVE ORGANS

Oleh

Dina Oktaviana

Dosen Tetap pada Fakultas Kedokteran Hewan UNTB

Abstract: The experiment was conducted to examine the effect of Virgin Coconut Oil (VCO) microstructural of digestive organs of broiler. One hundred and twenty five of broiler were divided into 5 treatments such as R-O (basal diet), R-0.5 (0.5% VCO waste), R-1.0 (1.0% VCO waste), R-1.5 (1.5% VCO waste) and R-2.0 (2.0% VCO waste). Each treatments consisted of 5 replication with 5 head experiment the birds. The birds were raised for 5 weeks. The data was analyzed by using Completely Randomized Design (CRD) with one way analysis. The difference among treatments were tested using Duncan’s new Multiple Range Test (DMRT). The statistical analysis result showed that the addition of VCO waste at level of 2.0 % did not affect muscle tissue, but influenced the changes of tissues of liver, kidney and proventiculus.

Key words: Broiler, VCO waste, Fatness, Microstructural liver, kidney and proventiculus.

PENDAHULUAN

Kebutuhan daging ayam sebagai sumber protein hewani mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya penghasilan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya makanan bergizi. Usaha peternakan ayam broiler dapat dengan cepat memenuhi kebutuhan masyarakat akan protein hewani karena pertumbuhan ayam broiler relatif lebih singkat dibandingkan ternak penghasil daging lainnya.

Untuk dapat mencapai standar produksi ayam broiler, maka diperlukan bahan pakan yang memiliki kualitas dan kuantitas yang baik. Produktivitas yang baik memerlukan pakan yang tepat, berimbang, dan efisien. Hal ini karena pakan merupakan faktor pendukung utama untuk meningkatkan produksi ternak unggas. Pakan memegang peranan yang sangat penting dalam keberhasilan peternakan unggas, karena biaya pakan menguasai sekitar 60 sampai 70% dari total biaya produksi peternakan unggas.

Bahan pakan yang ada sekarang ini masih terlalu mahal untuk dapat dibeli oleh masyarakat peternak kecil, sehingga perlu dicari bahan pakan pengganti lain yang harganya lebih murah tetapi mengandung nilai nutrisi yang diperlukan oleh ternak. Misalnya hasil sisa atau limbah industri, hasil samping yang dihasilkan dari proses produksi apabila tidak ditangani dengan tepat akan menimbulkan banyak permasalahan terutama mengenai pencemaran lingkungan.

Pemanfaatan limbah industri sebagai bahan pakan ternak sudah lama dilakukan dalam usaha peternakan, akan tetapi seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, banyak industri yang berdiri, limbah dari industri hingga kini belum banyak dimanfaatkan terutama untuk pakan ternak contohnya: limbah dari industri pembuatan minyak kelapa murni atau yang lebih dikenal dengan nama Virgin Coconut Oil (VCO). Hasil sisa industri pembuatan VCO yang potensial untuk pakan ternak adalah ampasnya.

Pemilihan ampas VCO yang ditambahkan dalam pakan ayam broiler dikarenakan kandungan yang terdapat dalam VCO yang paling besar adalah asam lemak, terutama asam laurat yang berfungsi sebagai antikuman, antibakteri, dan antivirus (Saefudin, 2004). Asam laurat atau asam dodekanoat adalah asam lemak jenuh berantai sedang yang dikenal dengan medium-chained fatty acid (MCFA) yang tersusun dari 12 atom C (Anonimus, 2007). Kumalaningsih (2007) menyatakan bahwa sebagai antibodi asam laurat di tubuh diubah menjadi monolaurin, membunuh virus, bakteri, protozoa, dan parasit. Mekanismenya sederhana, mikroorganisme itu mempunyai dinding sel yang tersusun dari lipid. Dinding sel ditembus oleh monolaurin sehingga cairan di dalam sel tersedot keluar. Terjadilah pengerutan sel yang mengakibatkan mikroorganisme itu mati. Uniknya,

(2)

mekanisme itu hanya berlaku untuk mikroorganisme jahat.

Penelitian-penelitian terbaru banyak mengarah kepada penurunan kadar lemak dan kolesterol dalam tubuh dengan mengkonsumsi VCO, hal ini masih terkait dengan kandungan asam laurat yang tinggi dalam VCO. Asam lemak ini tidak digunakan dalam bentuk lipoprotein dan tidak diedarkan dalam aliran darah seperti lemak lainnya, akan tetapi langsung dikirim ke hati, lalu diubah menjadi energi. Asam lemak ini juga mudah dicerna dan diserap oleh dinding usus karena ukuran molekulnya relatif kecil. Dengan demikian, dapat mengurangi kerja pancreas, saluran pencernaan, hati, serta tidak membuat lemak menumpuk dalam tubuh. Pada saat mengkonsumsi VCO, tubuh langsung menggunakannya untuk memproduksi energi, bukan menimbunnya di jaringan adipose sebagai lemak tubuh. Kandungan MCFA yang terdapat dalam minyak kelapa murni (VCO) dapat menurunkan lemak, mengurangi tumpukan lemak, dan mendorong pembakaran LCFA (long chain fatty acid) penyebab obesitas (kegemukan). Selain itu, MCFA yang ada pada minyak VCO dapat merubah metabolisme ke tingkatan yang lebih tinggi dan membakar lebih banyak kalori tubuh yang tidak dikonsumsi (Estemaria, 2005).

Berdasarkan pemikiran di atas, maka cukup beralasan untuk mengadakan kajian mengenai pengaruh penggunaan ampas VCO dalam ransum ayam broiler terhadap mikroskopik otot dan organ pencernaan ayam broiler hal ini dikarenakan ampas VCO diharapkan mampu mempengaruhi produksi karkas ayam broiler serta mampu meningktakan metabolisme pencernaan makanan menjadi lebih baik.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ampas VCO terhadap mikroskopik otot serta organ pencernaan ayam broiler. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan informasi kepada masyarakat peternak tentang manfaat penambahan ampas VCO terhadap perubahan histopatologik organ dan jaringan ayam broiler.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan selama 5 minggu di Laboratorium Ilmu Makanan Ternak, Bagian Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada. Pemotongan ayam dilaksanankan di rumah potong ayam milik Laboratorium Ilmu dan Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada.

Seratus dua puluh lima ekor ayam broiler unsex strain Avian CP 707 umur sehari (Day Old Chick) dibagi dalam 5 kelompok perlakuan. Setiap

perlakuan diulang 5 kali dengan menggunakan 5 ekor ayam setiap ulangan. Kandungan konposisi asam lemak ampas VCO tertera dalam tabel 1, serta komposis bahan dan kandungan nutrien pakan dasar tertera dalam Tabel 2. susunan pakan kontrol dan perlakuan yang diberikan seperti tertera dalam Tabel. 3. Kandang yang digunakan dalam penelitian ini adalah kandang kelompok berukuran (0,5 x 1,0 m2) sebanyak 25 unit, kandang terbuat dari besi dan kawat.

Perlakuan pakan dalam penelitian ini adalah lima macam yaitu: (1) pakan basal atau kontrol tanpa penambahan ampas VCO (R-0), (2) pakan basal dengan penambahan 0,5% ampas VCO (R-0,5), (3) pakan basal dengan penambahan ampas VCO 1,0% (R-1,0), (4) pakan basal dengan penambahan ampas VCO 1,5% (R-1,5), dan (5) pakan basal dengan penambahan ampas VCO 2,0% (R-2,0).

Tabel 1. Analisis kandungan asam lemak dalam ampas VCO.

No. Jenis asam lemak

Kandungan asam lemak ampas VCO (%) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Asam kaprilat (C8:0) Asam kaprat (C10:0) Asam laurat (C12:0) Asam miristat (C14:0) Asam palmitat (C16:0) Asam stearat (C18:0) Asam oleat (C18:1) Asam linoleat (C18:2) 8,72 7,50 45,60 15,46 8,56 2,55 9,89 1,60 Berdasarkan analisis di pusat studi pangan dan gizi UGM 2008.

Formulasi ransum pakan basal ditampilkan dalam tabel dibawah:

Tabel 2. Kandungan nutrien bahan pakan Bahan pakan ME PK SK LK Ca P Lis Met Ampas VCO1 Jagung2 Bekatul2 Bungkil kedelai2 Tepung ikan2 Premix3 Garam Filler 4697,87 3350,00 2980,00 2230,00 2700,00 0,00 0,00 0,00 14,69 8,00 12,00 40,00 60,00 0,00 0,00 0,00 13,76 3,00 4,10 4,40 0,70 0,00 0,00 0,00 65,69 3,80 2,56 0,19 6,89 0,00 0,00 0,00 0,01 0,04 0,08 0,23 5,11 48,00 0,00 0,00 0,67 0,02 0,50 0,41 2,88 13,00 0,00 0,00 0,00 0,24 0,50 2,40 1,76 0,00 0,00 0,00 0,00 0,20 0,19 0,51 1,42 0,00 0,00 0,00 Keterangan:

1. Berdasarkan analisis di Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM.

2. Berdasarkan NRC (1994).

(3)

Tabel 3. Susunan formulasi ransum Suplementasi VCO (%) Bahan pakan R0 R1 R2 R3 R4 Ampas VCO Jagung Bekatul Bungkil kedelai Tepung ikan Premix Garam Filler 0,00 54,50 11,30 24,00 8,00 0,10 0,10 2,00 0,50 54,50 11,30 24,00 8,00 0,10 0,10 1,50 0,10 54,50 11,30 24,00 8,00 0,10 0,10 1,00 1,50 54,50 11,30 24,00 8,00 0,10 0,10 0,50 2,00 54,50 11,30 24,00 8,00 0,10 0,10 0,00 Total 100 100 100 100 100 Komposisi kimia (BK) ME Kcal/kg Protein kasar (%) Serat kasar (%) Lemak kasar (%) Ca (%) P available (%) Lysin (%) Methionin (%) 2913,69 20,12 3,21 2,96 0,54 0,53 0,90 0,37 2937,18 20,19 3,27 3,28 0,54 0,53 0,90 0,37 2960,67 20,26 3,35 3,61 0,54 0,54 0,90 0,37 2984,16 20,33 3,42 3,94 0,54 0,54 0,90 0,37 3007,65 20,41 3,48 4,27 0,54 0,54 0,90 0,37

a. Kajian Perubahan Organ.

Pembuatan preparat histologik dan pewarnaan hematoksilin-eosin sesuai standar di Laboratorium Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Organ yang diperiksa perubahannya adalah otot, hati, ginjal, dan proventikulus.

b. Analisis Data

Semua data hasil penelitian akan diuji secara statistik menggunakan Completely Randomized Design (CRD) pola searah. Perbedaan rata-rata antar perlakuan diuji lanjut dengan Duncan’s new Multiple Range Test (DMRT) menurut Stel dan Torrie (1993).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa histopatologi mikrostruktur daging dari kontrol sampai dengan perlakuan 2,0% normal. Mikrostruktur setiap serabut otot dikelilingi oleh suatu lapisan jaringan penyambung lembut yang terutama terdiri dari suatu lamina eksternal (basal) dan serabut retikulin, epimisium, perimisium, dan endomisium semuanya merupakan struktur jaringan penyambung sejati lengkap dengan serabut kolagen, serabut elastin, fibroblast dan dan pembuluh darah (Juanqueira dan Carneiro, 1982 cit. Herawati,2008). Penampang mikroskopik daging normal dilihat pada Gambar 1 dan 2.

Gambar 1. Mikroskopik otot normal R-0 perbesaran 100 X

Gambar 2. Mikroskopik otot normal R-0,5 perbesaran 100 X

a. Organ Hati, Ginjal dan Proventikulus Hati.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa organ hati mengalami perubahan secara patalogik pada perlakuan penambahan ampas VCO pada level 0,5, 1,0 dan , 2,0%. Pengamatan secara mikroskopik hati mengalami infiltrasi radang disekitar pembuluh darah dan nekrosis. Mikroskopik hati normal R-0 dapat dilihat pada Gambar 3, sedangkan perubahan mikroskopik hati dilihat pada Gambar 4, dan 5.

Gambar 3. Mikroskopik hati normal R-0 perbesaran 400 X

(4)

Gambar 4. Mikroskopik hati R-0,5 radang sekitar pembuluh darah dan Nekrosis perbesaran 400 X

Gambar 5. Mikroskopik hati R-2,0 yang mengalami nekrosis perbesaran 400 X Aflatoksikosis merupakan penyakit keracunan yang disebabkan karena ternak mengkonsumsi aflatoksin. Aflatoksin berasal dari singkatan Aspergillus flavus toxin. Aflatoksin merupakan toksin yang dihasilkan oleh jenis kepang Aspergillus terutama Aspergillus flavus yang memiliki daya racun yang cukup tinggi. Adanya perubahan mikroskopik organ hati dalam penelitian ini diduga karena ampas VCO yang dihasilkan dari pembuatan VCO dengan proses fermentasi menghasilkan Aspergillus. Miskiyah (2006) menjelaskan bahwa pertumbuhan Aspergillus pada proses fermentasi ditandai dengan adanya miselium. Secara visual pertumbuhan miselium dapat dilihat dengan timbulnya serabut-serabut menyerupai benag halus dan memadatnya ampas, dengan ditemukannya Aspergillus dalam pakan kemugkinan dapat menjadi sumber penularan aspergillosis pada ternak yang memakannya dan akhirnya akan mengalami aflatoksikosis, karena adanya kontaminasi dengan Aspergillus (Hustono, 1986).

Blanks (1986) cit. Herawati (2008) menjelaskan bahwa hati juga berfungsi mensintesis dan menyimpan garam-garam empedu dan asam empedu (Biliary secretation) yang secara

insedental dapat dieksresikan kedalam darah dan sistem empedu (billary system). Sekresi garam-garam empedu ini berkaitan dengan fungsi untuk mencerna lemak didalam usus halus. Selain garam empedu, hati juga meghasilkan pigmen-pigmen empedu (bilirubin) yang juga mengandung beberapa senyawa lain, seperti kolesterol, lemak, fosfolipid, elektrolit, serta beberapa senyawa organik lainnya.

Menurut Ganiswara (1995) setiap zat kimia pada dasarnya bersifat racun dan terjadinya keracunan ditentukan oleh dosis dan cara pemberian. Pemberian substansi kimia yang terdapat dalam tumbuhan dosis besar akan menimbulkan gejala-gejala ketoksikan seperti degenerasi kongeksi dan nekrosis. Oleh karena itu pemberian ampas VCO sebagai pakan ayam broiler jumlah konsumsinya perlu diatur sehingga seimbang dan dapat bermanfaat bagi ternak (Anonimus, 2007).

Mekanisme kerja dari efek metabolik atau zat beracun tergantung dari sifatnya dan tempat terjadinya. Mekanisme tersebut menyebabkan kerusakan intraseluler (aksi langsung) dan kerusakan ekstraseluler (aksi tidak langsung). Mekanisme dari aksi langsung yaitu zat beracun atau metabolitnya mengalami berbagai proses kemudian hasilnya akan menuju ketempat sasaran dan menimbulkan berbagai perubahan pada target tersebut baik biokimia, fungsional, maupun struktural. Perubahan biokimia misalnya gangguan pasokan energi, hambatan respirasi, sedangkan perubahan fungsional contohnya gangguan saraf dan perubahan struktural. Misalnya hiperemi, hemoragi, degenerasi, nekreosis, proliferasi, dan radang. Aksi tidak langsung terjadi pada lingkungan ekstraseluler dengan cara mempengaruhi metabolisme basal dan pengaturan aktivitas sel. Apabila keduanya terganggu maka fungsi dan struktur sel akan berubah dan akhirnya rusak. Deskuamasi merupakan salah satu bentuk perubahan struktural berupa lepasnya sel yang mengalami nekrosis dari jaringan yang masih hidup.

b. Ginjal.

Secara mikroskopik menunjukkan perubahan berupa radang, pada penambahan ampas VCO pada level R-1,0 dan R-2,0%, hal ini dimungkinkan disebabkan karena semua senyawa yang tidak terdetoksifikasi dalam hati akan diteruskan ke ginjal. Penampang mikroskopik ginjal normal dapat dilahat pada Gambar 6, dan gambar ginjal yang mengalami radang dapat dilihat pada Gambar 7 dan 8.

(5)

Gambar 6. Mikroskopik ginjal normal R-0 perbesaran 400 X

Gambar 7. Mikroskopik ginjal R-1,0 yang mengalami radang perbesaran 400 X

Gambar 8. Mikroskopik ginjal R-2,0 yang mengalami radang perbesaran 400 X Hati dan ginjal merupakan tempat penyimpanan racun yang potensial karena keduanya memiliki kapasitas yang tinggi untuk mengikat zat kimia, dan keadaan ini berkaitan dengan kenyataan, bahwa hati dan ginjal merupakan tempat terpenting bagi eliminasi, metabolisme berturut-turut dan sekresi racun dari dalam tubuh. Ariens (1993) menjelaskan bahwa rangkaian perjalanan metabolisme zat beracun yang masuk melalui oral akan mengalami beberapa tahap yaitu 1) fase eksposisi atau fase paparan zat dimulai dengan peristiwa penyerapan dan lamanya zat tersebut akan diabsorbsi optimal jika bersifat

hidrofil, 2) fase toksokinetik yakni tahapan transportasi, distribusi, dan eksresi.

c. Proventikulus

Secara mikroskopis menunjukkan bahwa organ pencernaan berupa proventikulus mengalami nekrosis pada penambahan ampas VCO pada level R-0,5 (Gambar. 9) dan infiltrasi sel radang mukosa serta sel radang glandula pada penambahan ampas VCO R-1,5 dan R-2,0 penampang mikroskopikl radang mukosa dan glandula dapat dilihat pada Gambar 10 dan 11.

Gambar 9. Mikroskopik proventikulus normal R-0 perbesaran 100 X

Gambar 10. Mikroskopik proventikulus mengalami nekrosis R-0 perbesaran 200 X

Gambar 11. Mikroskopik proventikulus mengalami radang mukosa R-1,0 perbesaran 400 X

(6)

Gambar 12. Mikroskopik proventikulus mengalami radang glandula R-2,0 perbesaran 200 X

Radang merupakan serangkaian perubahan vital yang terjadi pada jaringan yang masih hidup sebagai respon terhadap adanya iritasi atau gangguan, respon keradangan ada dua yaitu respon seluler dan respon vaskuler. Unsur pertama kali keluar neutrofil yang secara aktif mencari jaringan yang rusak, sedangkan pada respon vaskuler menunjukkan adanya eksudasi dari sel dan cairan dari venula kecil dan kapiler. Rusaknya kapiler akan menghentikan aliran darah dan menimbulkan trombosin, kemudian akan menggumpalkan sel darah merah putih yang akan memblokir lumen kapiler (Blanks, 1993).

Kondisi radang selalu didominasi oleh heterofil yang ada pada keadaan spesies dan lamanya radang. Limfosit dan sel plasma meningkat pada keradangan yang kronis dan bila ada inveksi virus. Neutrofil pada bangsa Aves disebut heterofil.

Beberapa jam setelah masuknya rangsangan iritan sejumlah sel heterofil dalam darah meningkat, hal ini disebabkan oleh produk radang yang memasuki aliran darah dan mendorong sel heterofil untuk secepat mungkin memasuki sirkulasi darah sehingga membuat banyaknya sel heterofil yang terdapat dalam jaringan yang terkena radang (Guyton, 1991).

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa pambahan ampas VCO sampai dengan level 2,0% tidak berpengaruh terhadap perubahan histopatologi otot ayam broiler akan tetapi berpengaruh terhadap perubahan jaringan hati, ginjal, dan proventikulus

DAFTAR PUSTAKA

Anonimus 2007. VCO, Minyak Kelapa Murni untuk Berbagai Macam Penyakit. http://budiboga.blogspot.com/2006/06/inf

ormasi-lengkap-virgin-coconut-oil.html Muray Price, Ph.D. 2003. Terapi Minyak Kelapa. Accesion date 28th October 2008.

Ariens. E. J. 1993. Pengantar Toksikologi Umum. Cetakan Kedua. Universitas Gadjah Mada Press. Yogyakarta.

Banks, W. J. 1993. Applied Veterinary Histology. Williams and Wilkins, Baltimore, pp 327-335.

Estemaria. 2005. Virgin Coconut Oil Information.

Available at

http://www.estemaria.com/vcocoil.htm. Accesion date 25th Januari 2008.Ganiswara. S. G. 1995. Farmakologi dan Terapi. Bagian Farmakologi. Fakultas Kedokteran Umum, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Guyton, A. C., 1991. Textbook of Medical Physicology. 8th ed. W. B. Saunders Company, Philadelphia, pp 356-372. Herawati, 2008. Produksi Karkas, Hasil Olahan dan

Perubahan Histopatologik Organ dan Jaringan Ayam Broiler dengan Suplemen Fitobiotik Jahe Merah. Disertasi. Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Hunston, S. 1986. hubungan antara Tingginya Populasi Aspergillus, sp. Patogenik pada Pakan dan Bahan-bahan Lainnya dengan Tingkat Kejadian Aspergillosis pada Unggas. Penyakit Hewan XVII49;53. Miskiyah, I. Mulyawati, dan W, Haliza. 2006.

Pemanfaatan Ampas Kelapa Limbah Pengolahan Minyak Kelapa Murni Menjadi Pakan. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner.Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. Bogor

Kumalaningsih, S. 2007. Asam Laurat. http://www.vco-indonesia.com/main.htm. Accesion date 27th February 2008. NRC.1994. Nutrient Requirements of Poultry. 9th

ed. National Press. Washigton.

Saefudin. 2004. Potensi Pengembangan Minyak Kelapa Sebagai Pangan Fungsional. WWW. Portal.Penyuluhan.com. Acsession 10 November 2007.

Steel, R. G. D dan J. H. Torrie. 1993. Prinsip dan Prosedur Statistik Suatu Prosedur Pendekatan Biometrik. Edisi ke-2. Penerbit PT Gramedia. Jakarta

Gambar

Tabel 3. Susunan formulasi ransum Suplementasi VCO (%) Bahan pakan R0 R1 R2 R3 R4 Ampas VCO Jagung Bekatul Bungkil kedelai Tepung ikan Premix Garam Filler 0,00 54,5011,3024,008,000,100,102,00 0,50 54,5011,3024,008,000,100,101,50 0,10 54,5011,3024,008,000,1
Gambar 4. Mikroskopik hati R-0,5 radang sekitar pembuluh  darah  dan  Nekrosis perbesaran 400 X
Gambar 9. Mikroskopik proventikulus normal  R-0 perbesaran 100 X
Gambar 12. Mikroskopik  proventikulus mengalami  radang  glandula    R-2,0 perbesaran 200 X

Referensi

Dokumen terkait

Apabila selama terikat wajib kerja yang bersangkutan mengundurkan diri sebagai pegawai Universitas Gadjah Mada, maka wajib mengembalikan semua biaya yang

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) mengembangkan YouTube pembelajaran yang sesuai dengan materi pokok persamaan garis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengetahui metode yang paling efektifantara metode Inquiry dan metode Problem Based Learning terhadap kemampuan menulis teks berita siswa

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh harga jual minimarket Alfamart terhadap tingkat keuntungan usaha retail.Penelilitian ini terdiri dari I variabel

Selama rentang waktu tersebut, braket stainless steel di lingkungan rongga mulut terpapar substansi-substansi yang berasal dari luar yang dapat menyebabkan terjadinya pelepasan

Jumlah elektron yang terdapat pada kulit terakhir dari atom unsur dengan nomor massa 80 dan mempunyai 45 neutron adalah ..... 26 elektron di sekitar

Hasil sintesa berupa produk DMTr- 2,3’ - anhidrotimidin yang kemudian akan dilakukan penandaan dengan radionuklida 18 Flor melalui reaksi florinasi nukleofilik dengan

Penurunan derajat insomnia ini dikarenakan karena adanya efek dari perlakuan senam yang bisa memberikan perasaan rileks dan kenyamanan saat tidur sehingga