J l . A . Y a n i 9 1 T e l p . ( 0 3 3 3 ) 4 2 1 7 7 4 F a k . ( 0 3 3 3 ) 4 1 3 9 0 4 , B a n y u w a n g i 6 8 4 1 6
2012
PDRB KABUPATEN
BANYUWANGI
TAHUN 2012
BPS
Badan Pusat Statistik
No. Katalog : 9502.3510
i PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
KATA PENGANTAR
Publikasi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Banyuwangi Tahun 2011merupakan publikasi tahunan, secara rutin diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Banyuwangi. Dalam publikasi ini juga menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan konsep, definisi, metodologi serta analisis deskriptif PDRB yang secara garis besar menggambarkan pertumbuhan ekonomi, struktur dan perkembangan ekonomi Kabupaten Banyuwangi.
Sebagai salah satu indikator makro, PDRB Kabupaten Banyuwangi dapat digunakan untuk mengukur kinerja pembangunan ekonomi serta menelaah kemampuan untuk menciptakan nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh faktor produksi di Kabupaten Banyuwangi.
Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu di dalam penerbitan publikasi ini, kritik dan saran sangat diharapkan guna perbaikan publikasi dimasa mendatang.
Banyuwangi, Juli 2012 BPS Kabupaten Banyuwangi
Kepala,
Ir. Mohammad Farikhin, M.Si NIP 19670731 199301 1 001
ii PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ... i
Daftar Isi ... ii
Daftar Tabel ... iii
Daftra Gambar ... iv Bab IPendahuluan ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Pengertian ... 2 1.3 Ringkasan Aggregat PDRB ... 3 1.4 Dasar Penyusunan ... 5
1.5 Maksud, Tujuan dan Manfaat ... 6
1.6 Ruang Lingkup ... 7
1.7 Hasil yang Diharapkan ... 8
1.8 Sistematika Penyusunan ... 8
Bab IIPotensi Ekonomi di Kabupaten Banyuwangi ... 10
2.1Kependudukan ... 10
2.2Populasi Usaha ... 10
BabIIIMetodologi Penyusunan ... 17
3.1Prinsip Dasar Penyusunan ... 17
3.2Metodologi Penyusunan ... 18
3.3Teknik Penghitungan NTB Sektoral ... 21
Bab IVPembahasan ... 28
4.1 Besaran PDRB ... 28
4.2 Pertumbuhan Ekonomi ... 29
4.3 Struktur Ekonomi ... 31
4.4 Pendapatan per Kapita ... 32
4.5 Tingkat Inflasi Tahun 2011 ... 33
BabVPenutup ... 36
5.1Kesimpulan ... 36
5.2Saran ... 37
Lampiran ... 38
http://banyuwangikab.bps.go.id
iii PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
DAFTAR TABEL
TABEL DALAM ULASAN
Tabel: 2. 1 Jumlah Usaha Menurut Sektor Kegiatan Usaha Hasil
Sensus Ekonomi Tahun 2006 ... 12
Tabel: 4. 1 Tingkat Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2006-2011 ... 30
Tabel: 4. 2 Pendapatan Perkapita Tahun 2006-2011 ... 32
Tabel: 4. 3 Tingkat Inflasi Sektoral Tahun Tahun 2011 ... 34
TABEL DALAM LAMPIRAN Tabel: 1PDRB Kabupaten Banyuwangi Menurut SektorEkonomi Tahun 2011 Atas Dasar Harga Berlaku... 38
Tabel: 2 PDRB Kabupaten Banyuwangi Menurut Sektor Ekonomi Tahun 2011 Atas Dasar Harga Konstan ... 39
Tabel: 3 Struktur Ekonomi Kabupaten Banyuwangi tahun 2011 Atas Dasar Harga Berlaku ... 40
Tabel: 4 Struktur Ekonomi Kabupaten Banyuwangi tahun 2011 Atas Dasar Harga Konstan ... 41
Tabel: 5 Indeks Berantai Kabupaten BanyuwangiTahun 2011 Atas Dasar Harga Berlaku ... 42
Tabel: 6 Indeks Berantai Kabupaten Banyuwangi Tahun 2011 Atas Dasar Harga Konstan ... 43
Tabel: 7 Indeks Perkembangan Kabupaten BanyuwangiTahun 2011 Atas Dasar Harga Berlaku ... 44
Tabel: 8 Indeks Perkembangan Kabupaten Banyuwangi Tahun 2011 Atas Dasar Harga Konstan ... 45
Tabel: 9 Indeks Harga Implisit Kabupaten Banyuwangi ... 46
Tabel: 10 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Banyuwangi ... 47
Tabel: 11 Laju Inflasi Kabupaten Banyuwangi ... 48
Tabel: 12 Perkembangan Beberapa Agregat Pendapatan ... 49
http://banyuwangikab.bps.go.id
iv PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
DAFTAR GAMBAR
Gambar: 2.1 Kontribusi Usaha Menurut Penggunaan LokasiTempat
Usaha Tahun 2011 ... 11
Gambar: 4.1 Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2006-2011 ... 30
Gambar: 4.2 Struktur Ekonomi Tahun 2011 ... 31
Gambar: 4.3 Pendapatan Per kapita Tahun 2006-2011 ... 33
Gambar: 4.4 Tingkat Inflasi Sektoral Tahun 2006-2011 ... 35
1 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Perencanaan pembangunan ekonomi suatu daerah, memerlukan berbagai datasebagai dasar pengambilan strategi dan kebijaksanaan. Pada hakekatnya, pembangunan ekonomi adalah serangkaian usaha dan kebijaksanaan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masya-rakat, memperluas lapangan kerja, memeratakan pembagian pendapatan masyarakat, meningkatkan hubungan ekonomi regional dan mengusaha-kan pergeseran kegiatan ekonomi dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier. Dengan perkataan lain arah dari pembangunan ekonomi ada-lah mengusahakan agar pendapatan masyarakat naik secara mantap, dan dengan tingkat pemerataan yang sebaik mungkin. Berbagai strategi dan kebijaksanaan yang telah diambil pada masa yang lalu perlu dimonitor dan dilihat hasil-hasilnya.
Berbagai data yang merupakan ukuran kuantitas mutlak diperlu-kan untuk memberidiperlu-kan gambaran tentang keadaan pada masa yang lalu dan masa kini, serta sasaran-sasaran yang akan dicapai pada masa yang akan datang. Untuk mengetahui tingkat dan pertumbuhan pendapatan masyarakat, perlu disajikan statistik pendapatan regional secara berkala, untuk digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan regional khu-susnya di bidang ekonomi. Angka pendapatan regional dapat dipakai juga sebagai bahan evaluasi dari hasil pembangunan ekonomi yang telah
dilaksanakan oleh berbagai pihak, baik pemerintah maupun
swasta.Demikian pula angka pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi dan deflasi, pendapatan perkapita dapat diukur dengan menggunakan indikator ini.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan nilai tambah bruto seluruh barang dan jasa yang tercipta atau dihasilkan di wilayah domestik suatu daerah yang timbul akibat berbagai aktivitas ekonomi dalam suatu periode tertentu, tanpa memperhatikan kepemilikan atas faktor produksi. PDRB bukan merupakan penjumlahan dari seluruh output. Hal ini disebabkan nilai barang antara sudah termasuk harga jual barang
2 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
jadi. Menambah nilai barang antara (biaya antara) ke nilai pasar barang jadi akan menimbulkan pencatatan ganda.
Seluruh angka agregat PDRB telah dimanfaatkan oleh para pe-rencana dan pengambil keputusan sebagai bahan evaluasi terhadap ber-bagai kebijakan yang pernah dilakukan, serta seber-bagai bahan perencanaan program pembangunan di waktu yang akan datang. Dalam hal ini diguna-kan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupa-ten Banyuwangi ketika menyusun program pembangunan daerah Kabu-paten Banyuwangi.
Selain pemanfaatan yang demikian itu, dalam kurun waktu bebe-rapa tahun terakhir PDRB telah digunakan oleh Pemerintah Pusat, seba-gai salah satu penimbang perolehan Dana Alokasi Umum (DAU) bagi seti-ap Pemerintah Propinsi maupun Pemerintah Kabupaten.Atas dasar se-makin meningkatnya kebutuhan angka agregat PDRB, ada kalanya para pengguna data menghendaki PDRB dihitung dan disajikan secara spasial sampai dengan tingkat kecamatan, agar bisa dimanfaatkan secara opti-mal. Dan apabila penyajian PDRB yang dihitung secara spasial sampai dengan tingkat kecamatan tersebut diamati berdasarkan fluktuasi secara berkala akan menjadi lebih bermakna bukan saja bagi Pemerintah Kabu-paten Banyuwangi, tetapi juga pihak swastauntuk kepentingan usahanya.
1.2 PENGERTIAN
Untuk memperoleh pemahaman yang sama, perlu kiranya disepakati tentang pengertian-pengertian yang berhubungan dengan penghitungan PDRB, diawali dengan penerbitan tahun-tahun sebelumnya, penghitungan PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) sudah tidak menggunakan tahun dasar 1993 lagi. PDRB ADHK dihitung berdasarkan tahun dasar 2000. Dipilihnya tahun dasar baru 2000 karena merupakan awal berlangsungnya sebuah proses pemulihan ekonomi nasional setelah dilanda krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997. Sehingga pada tingkat regional juga perlu melakukan penyesuaian agar diperoleh asumsi-asumsi mendasar yang sama.
3 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
1.3 RINGKASAN AGREGAT PDRB
Untuk memahami PDRB, berikut dijelaskan konsep dan definisi mengenai output, biaya antara dan nilai tambah bruto:
Output:
Merupakan nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh seluruh sektor produksi dalam suatu periode tertentu , yang dapat diperoleh dengan perhitungan sebagai berikut:
O = Q x P
Dimana: O = Output
Q = Quantum (kuantitas produksi) P = Price ( harga)
Biaya Antara:
Merupakan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk penggunaan barang antara berupa bahan baku atau bahan penolong yang habis pakai dalam proses produksi.
Nilai Tambah Bruto ( NTB ) :
Merupakan balas jasa atas pemakaian faktor-faktor produksi yang terdiri dari tenaga kerja, barang modal dan kewirausahaan, PDRB tak lain adalah penjumlahan dari NTB dari seluruh sektor yang ada pada wilayah tertentu. NTB dapat diperoleh dengan cara:
NTB = Output – Biaya Antara
Regional:
Domestik yang diterima sebagai nilai tambah dari luar dikurangi nilai tambah yang keluar kabupaten.
Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB):
Menghitung NTB berdasarkan harga persatuan unit dari data produksi yang berlaku pada saat tahun penghitungan PDRB.
4 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
Atas Dasar Harga Konstan (ADHK):
Menghitung NTB berdasarkan harga persatuan unit dari data produksi yang dinilai pada saat tahun dasar penghitungan PDRB.
Tahun Dasar (Base Year):
Penentuan tahun yang digunakan untuk mengukur perkembangan produktivitas secara nyata/riil. Rekomendasi UN berdasarkan The System
of National Account/SNA, tahun dasar terakhir 2000.
PDRB Per Kapita:
Merupakan nilai bagi antara PDRB dengan jumlah penduduk pertengahan tahun yang tinggal di suatu wilayah, yang seara sistematis dirumuskan sebagai berikut:
Peranan Sektoral:
Merupkan hasil pembagian NTB masing-masing sekor dengan PDRB dakalikan 100 pada tahun yang bersangkutan, secara sistematis dirumuskan sebagai berikut:
Dimana: = Peranan sektor i: = NTB sektor i; i=1,...,9 Indeks Perkembangan:
Menunjukkan tingkat perkembangan agregat dari tahun ke tahun terhadap tahun dasarnya, yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
Dimana:
= Indeks Perkembangan sektor i pada tahun t;
= NTB sektor i pada tahun t; = NTB sektor i pada tahun dasar:
i = sektor 1,..., sektor 9
5 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
Indeks Berantai:
Menunjukkan tingkat pertumbuhan agregat produksi untuk masing-masing tahun, yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
Dimana:
= Indeks Berantai sektor i pada tahun t; = PDRB sektor i pada tahun t;
= PDRB sektor i pada tahun t-1:
i = sektor 1,..., sektor 9
Indeks Harga Implisit (IHI):
Menunjukkan tingkat perkembangan harga dari agregat pendapatan terhadap harga pada tahun dasar. Bila IHI ini dibuat kan indeks berantainya (dengan rumus indeks berantai), maka akan terlihat tingkat perkembangan harga setiap tahun terhadap tahun sebelumnya, dan secara berkala indeks ini dapat menunjukkan besaran inflasi seluruh barang dan jasa di dalam perhitungan PDRB (inflasi dari sisi produsen).
Dimana:
= Indeks Harga Implisit sektor i pada tahun t;
= PDRB sektor i pada tahun tatas dasar harga berlaku;
= PDRB sektor i pada tahun t atas dasar harga konstan:
i = sektor 1,..., sektor 9
1.4 DASAR PENYUSUNAN
Dasar penyusunan Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Banyuwangi tahun2011adalah:
1. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan
6 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
Daerah yang telah ditetapkan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005;
2. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;
3. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana
Perimbangan;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah;
5. Peraturan Daerah Kabupaten Banyuwangi Nomor 51 Tahun 2002 tentang pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Banyuwangi;
6. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997 Tentang Statistik;
7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 1999
Tentang Penyelenggaraan Statistik.
1.5 MAKSUD, TUJUAN DAN MANFAAT
1.5.1 Maksud
Penyusunan Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Banyuwangi Tahun 2011 ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran atau situasi perekonomian Kabupaten Banyuwangi dengan menggunakan pendekatan yang terukur melalui seberapa besar Nilai Tambah Bruto, struktur ekonomi, pertumbuhan ekonomi, inflasi dan deflasi serta pendapatan per kapita.
1.5.2 Tujuan
Penyusunan Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Banyuwangi tahun 2011 ini bertujuan untuk mengukur kemajuan ekonomi pada tingkat kabupaten, tepatnya dari tahun 2000 yang diduga sudah terjadi pemulihan ekonomi sebagai akibat dari krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 lalu.
7 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
1.5.2.1 Manfaat
Hasil penyusunan Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Banyuwangi Tahun 2011 ini diharapkan agar dapat memberikan manfaat sebagai bahan perencanaan terhadap program pembangunan yang akan dilaksanakan. Utamanya terhadap intervensi apa dan di bidang pembangunan mana yang perlu mendapat skala prioritas, Khususnya kebijakan dalam program pembangunan di bidang ekonomi.
1.6 RUANG LINGKUP
1.6.1 Ruang Lingkup Wilayah
Untuk memperoleh gambaran tentang kemajua nekonomi pada tingkat kabupaten sebagaimana dituangkan dalam tujuan. Maka ruang lingkup wilayah sebagai obyek kajian dalam penyusunan Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Banyuwangi, meliputi seluruh wilayah dalam Kabupaten Banyuwangi.
1.6.2 Ruang Lingkup Materi
Ruang lingkup materi penyusunan Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Banyuwangi Tahun 2011adalah sebagai berikut :
1. Tujuan dari Penyusunan Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten
Banyuwangi Tahun 2011;
2. Potensi dan Permasalahan yang ada terkait Pembangunan ekonomi
di Kabupaten Banyuwangi padaTahun2011;
3. Strategi penanganan, program yang akan dilaksanakan dalam jangka
pendek, jangka menengah dan jangka panjang.
1.6.3 Ruang Lingkup Kegiatan
Ruang lingkup kegiatan penyusunan Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Banyuwangi tahun 2011adalah sebagai berikut
1. Identifikasi potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia di wilayah Kabupaten Banyuwangi;
2. Inventarisasi pola kebijakan khususnya kebijakan dalam
program-program pembangunan di bidang ekonomi;
8 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
3. Menyusun dan menetapkan Rencana Program dan Operasionalisasi
pelaksanaan program-program pembangunan khususnya di bidang ekonomi.
1.7 HASIL YANG DIHARAPKAN
Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah :
1. Tersusunnya publikasi Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten
Banyuwangi tahun 2011 sebagai alat ukur dalam mengkaji perekonomian daerah khususnya untuk mengevaluasi tingkat capaian kualitas sumber daya manusia, terciptanya lapangan kerja dan kesempatan berusaha, terpenuhinya kebutuhan pokok minimal dan kebutuhan dasar lainnya secara layak, serta meningkatnya pendapatan dan daya beli masyarakat Kabupaten Banyuwangi;
2. Ditetapkannya Strategi Pembangunan bidang ekonomi di Kabupaten
Banyuwangi.
1.8 SISTEMATIKA PENYUSUNAN
Sistematika kegiatan Penyusunan Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Banyuwangi tahun 2011 ini adalah sebagai berikut :
Bab 1 Pendahuluan
Bab ini terdiri dari latar belakang penyusunan Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Banyuwangi, pengertian umum tentang Produk Domestik Regional Bruto, maksud/ tujuan /manfaat, ruang lingkup penyusunan, hasil yang diharapkan serta sistematika penyusunan.
Bab 2 Potensi Ekonomi
Bab ini menyajikan gambaran umum potensi ekonomi dengan pendekatan data makro ekonomi di Kabupaten Banyuwangi yang ditinjau dari bidang social ekonominya.
9 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
Bab 3 Metodologi
Bab ini menetapkan prinsip dasar dan azas penyusunan, pendekatan penyusunan, metode penghitungan yang akan digunakan dalam membentuk besaran Produk Domestik Regional Bruto di Kabupaten Banyuwangi yang disesuaikan dengan kondisi wilayah maupun teknis dan langkah-langkah pelaksanaan.
Bab 4 Pembahasan
Bab ini berisikan uraian yang terkait dengan besaran PDRB, struktur ekonomi, pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang disajikan menurut sector ekonomi dan secara spasial akan disajikan sampai dengan tingkat kecamatan.
Bab 5 Penutup
Berisi kesimpulan dan saran serta sebuah rekomendasi sederhana yang diharapkan bias digunakan sebagai bahan acuan dalam memajukan perekeonomian secara makro di Kabupaten Banyuwangi.
10 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
BAB II
POTENSI EKONOMI
2.1 KEPENDUDUKAN
Kabupaten Banyuwangi dengan luas wilayah 578.250 Ha, dimana lahan yang dimanfaatkan untuk pemukiman mencapai luas 37.598,35 Ha dan berdasar data pokok yang ada, luas pemukiman pada tahun 1998 mencapai 28.915,39 Ha. Sehingga jika dibandingkan dari tahun 1998 hingga saat ini ada penambahan untuk luas pemukiman sebesar 8.682,96 Ha yang artinya bahwa rata-rata dalam setiap tahun mengalami penambahan luas 789,36 Ha
Terkait dengan itu penduduk merupakan bagian dari pembang-unan. Karena selain sebagai subyek sekaligus penduduk bisa menjadi obyek dari pembangunan itu sendiri.Sampai dengan akhir tahun 2011 (hasil estimasi) penduduk Kabupaten Banyuwangi tercatat sekitar 1.561.014 jiwa.
Sejak berlakunya Undang-Undang Otonomi Daerah yang diikuti dengan penerimaan Dana Alokasi Umum (DAU). Jumlah penduduk telah digunakan sebagai salah satu penimbang besar kecilnya perolehan DAU bagi setiap pemerintah daerah propinsi dan kabupaten/kota diseluruh Indonesia.
2.2 POPULASI USAHA
Banyak pengamat ekonomi berpendapat bahwa populasi usaha merupakan bagian yang tidak bisa terpisahkan dari kajian ekonomi makro. Bahkan korelasinya apabila semakin banyak populasi usaha di suatu daerah, akan dapat diduga kemajuan ekonomi pada daerah tersebut akan lebih meningkat bila di-bandingkan dengan daerah lain yang lebih sedikit populasi usahanya. Jumlah usaha yang tercatat melalui kegiatan Sensus Ekonomi tahun 2006 di Kabupaten Banyuwangi ada sebanyak 207.577 usaha di luar sektor pertanian.
11 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
Gambar 1
Jumlah Usaha Menurut Penggunaan Lokasi Tempat Usaha di Kab. Banyuwangi Tahun 2006
Sumber: BPS Kab. Banyuwangi, hasil SE 2006
Dari sejumlah usaha tersebut 81.629 usaha di antaranya merupakan usaha yang dilakukan diluar bangunan dan umumnya apabila menggunakan bangunan cenderung tidak permanen. Selebihnya 125.948 usaha tergolong usaha yang dalam kegiatannya sudah menggunakan sebuah bangunan yang permanen. Penggunaan bangunan permanen pada umumnya berupa bangunan khusus untuk usaha dan bangunan campuran atau bangunan yang digunakan untuk usaha juga sekaligus sebagai tempat hunian. Tidak permanen bisa berupa usaha kaki-5, los/koridor, pangkalan ojek motor dan pedagang keliling.
Bila diperhatikan berdasarkan sektor kegiatan usahanya, maka usaha-usaha yang bergerak di sektor perdagangan masih merupakan sektor ekonomi yang paling banyak diminati oleh pelaku usaha di Kabupaten Banyuwangi. Jumlahnya mencapai 95.445 usaha. Kedua terbanyak ada pada sektor industri yang jumlahnya tercatat 42.559 usaha. Ketiga sektor jasa-jasa dengan jumlah sebanyak 20.847 usaha.
12 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
Tabel 1
Jumlah Usaha Menurut Sektor Kegiatan Usaha
N
No. Sektor Kegiatan Usaha Jumlah
1
1. Pertambangan dan Penggalian 1.267
2
2. Industri Pengolahan 42.559
3
3. Listrik, Gas dan Air 95
4
4. Konstruksi 872
5
5. Perdagangan Besar dan Eceran 95.445
6
6. Akomodasi dan Makan Minum 20.257
7
7. Transportasi, Penggudangan dan Komunikasi 16.130
8
8. Perantara Keuangan 624
9
9. Real Estat, Usaha Persewaan 3.900
10. Jasa Pendidikan 2.992
11. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 1.322
12. Jasa Kemasy. Sosbud, Hiburan, Perorangan lainnya 20.847
13. Jasa Perorangan yg Melayani Rumahtangga 1.267
Jumlah Usaha 207.577
Bila diperhatikan kegiatan usaha yang menggunakan bangunan tidak permanen yang terdiri atas usaha kaki-5, los/koridor, pangkalan ojek
13 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
motor dan berupa pedagang keliling seluruhnya tidak memiliki status badan usaha. Namun untuk usaha yang mempunyai lokasi tempat usaha permanen, kepemilikan status badan usaha rupanya sudah menjadi perhatian. Untuk status badan usaha berupa BUMN/BUMD/BHMN ada sebanyak 309 usaha, PT/NV sebanyak 93 usaha, CV/Firma 180 usaha, Koperasi 33 usaha, UD/Tidak Berbadan Hukum dengan 334 usaha.
Menurut hasil Sensus Ekonomi 2006 (SE 2006) tenaga kerja yang terserap di berbagai sektor kegiatan usaha jumlahnya mencapai 401.881 orang, terbanyak bekerja pada usaha perdagangan besar dan eceran yang jumlahnya mencapai 95.445 orang. Kedua pada usaha industri pengolahan ada sebanyak 42.559 orang. Ketiga bekerja pada usaha jasa kemasyarakatan, Sosbud, Hiburan dan perorangan lainnya tercatat 20.847 orang dan pada usaha akomodasi dan makan minum ada sebanyak 20.257 orang serta selebihnya menyebar di berbagai kegiatan usaha yang ada.
Usaha-usaha yang mengunakan lokasi tempat usaha dengan bangunan khusus rupanya telah menyerap tenaga kerja terbanyak. Untuk usaha dengan penggunaan lokasi tempat usaha bangunan campuran yang berupa rumah hunian juga digunakan untuk usaha telah menyerap tenaga kerja terbanyak kedua. Selain itu pedagang keliling juga bisa menyerap tenaga kerja yang relatif cukup banyak dengan urutan jumlah setelah usaha dengan penggunaan lokasi tempat usaha bangunan
campuran
.
1. Pertambangan dan Penggalian
Penyebaran usaha ini tergolong kurang merata, mungkin lebih disebabkan oleh faktor geografis. Sehingga populasi usahanya pun masih relatif sedikit. Usaha-usaha ini banyak dijumpai di Kecamatan Songgon, Wongsorejo, Singojuruh, Glenmore dan Purwoharjo.
2. Industri Pengolahan
Kegiatan mengubah bahan baku menjadi barang setengah jadi atau barang jadi yang diikuti dengan naiknya nilai tambah barang tersebut, umumnya didefinisikan sebagai industri pengolahan. Kegiatan seperti ini
14 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
banyak ditemukan di Kecamatan Srono, Rogojampi, Muncar, Genteng dan Kabat.
3. Listrik, Gas dan Air
Populasi usaha ini keberadaannya sangat terbatas, tidak seluruh kecamatan di Kabupaten Banyuwangi bisa ditemukan usaha ini. Umumnya di Kecamatan Songgon, Glenmore, Kalibaru, Kalipuro dan Licin.
4. Konstruksi
Konstruksi tidak selalu identik dengan perusahaan kontraktor bangunan saja, usaha ini bisa dilakukan oleh perorangan apabila mekanisme kerjanya sepadan dengan usaha kontruksi. Populasi usaha ini banyak ditemukan di Kecamatan Kabat, Rogojampi, Banyuwangi, Genteng dan Srono.
5. Perdagangan Besar dan Eceran
Selain banyak diusahakan oleh penduduk Kabupaten
Banyuwangi, usaha perdagangan ini juga merupakan usaha terbesar dalam penyerapan tenaga kerja. Bila dikaji lebih jauh, dari seluruh nilai produksi/omzet/pendapatan yang tercatat dalam pendataan Sensus
Ekonomi 2006, sekitar separuhnya merupakan nilai
produksi/omzet/pendapatan dari kegiatan usaha perdagangan besar dan eceran. Menurut populasinya banyak diusahakan di Kecamatan Muncar, Rogojampi, Banyuwangi, Genteng dan Srono.
6. Akomodasi dan Makan Minum
Usaha ini tergolong relatif banyak dan cukup menyebar keseluruh pelosok Kabupaten Banyuwangi. Penyediaan akomodasi dan makan minum banyak terdapat di Kecamatan Banyuwangi, Muncar, Rogojampi, Kalipuro dan Srono.
15 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
7. Transportasi, Pergudangan dan Komunikasi
Bila diperhatikan persebaran dari usaha ini yang relatif cukup merata, namun berdasarkan populasinya usaha ini banyak ditemukan di Kecamatan Banyuwangi, Genteng, Muncar, Kalipuro dan Rogojampi.
8. Perantara Keuangan
Perantara keuangan bisa berupa Bank, Asuransi atau lembaga keuangan bukan bank sampai dengan rentenir yang dilakukan perorangan asalkan diusahakan secara ekonomi. Usaha ini banyak ditemukan di Kecamatan Banyuwangi, Genteng, Gambiran, Rogojampi dan Purwoharjo.
9. Real estat, Usaha Persewaan
Seluruh kecamatan di Kabupaten Banyuwangi usaha ini berkembang dengan baik. Berdasarkan populasinya banyak ditemukan di Kecamatan Banyuwangi, Genteng, Glagah, Rogojampi dan Purwoharjo.
10. Jasa Pendidikan
Pendidikan merupakan kebutuhan hidup yang paling esensial bagi semua orang, yang dimaksud usaha ini berupa lembaga pendidikan formal dan non formal, bisa diusahakan oleh pemerintah, swasta dan perorangan. Usaha ini umumnya banyak ditemukan di Kecamatan Genteng, Cluring, Srono, Kabat dan Banyuwangi.
11. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial
Seperti halnya jasa pendidikan, usaha ini bisa juga diusahakan oleh pemerintah, swasta dan perorangan. Seperti Rumah Sakit pemerintah dan swasta, Puskesmas serta fasilitas kesehatan lainnya. Termasuk disini pengobatan non medis serta layanan dalam panti maupun dil uar panti. Usaha-usaha jasa kesehatan dan kegiatan lainnya banyak terdapat di Kecamatan Banyuwangi, Muncar, Genteng, Rogojampi dan Kalipuro.
16 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
12. Jasa Kemasyarakatan, Sosbud, Hiburan dan Perorangan Lainnya
Populasi usaha ini lebih didominasi oleh usaha yang bersifat jasa. Seperti; tukang servis peralatan rumahtangga, tukang cukur, salon, penjahit dan sejenisnya. Sehingga mempunyai kecenderungan pelaku dari usaha ini tidak atau belum mempunyai badan hukum. Sampai dengan tahun ini dominasi usaha ini masih terdapat di Kecamatan Banyuwangi, Genteng, Muncar, Wongsorejo dan Rogojampi.
13. Jasa Perorangan yang Melayani Rumahtangga
Usaha jasa disini berbeda dengan usaha yang terdapat pada jasa kemasyarakatan. Usaha yang dimaksud lebih mengarah pada pelayanan rumahtangga. Seperti: juru masak, tukang cuci, tukang kebun, pengurus rumahtangga dan pengasuh bayi. Termasuk juga guru pribadi yang mengajar di rumah, sekretaris pribadi dan sopir pribadi. Usaha seperti ini banyak terdapat di Kecamatan Banyuwangi, Genteng, Kalipuro, Rogojampi dan Kabat.
17 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
BAB III
METODOLOGI PENYUSUNAN
3.1 PRINSIP DASAR PENYUSUNAN
Prinsip dasar penghitungan ini merupakan kelanjutan dari penghitungan Produk Domestik Regional Bruto tahun sebelumnya. Sehingga untuk mendapatkan ukuran kesejahteraan masyarakat yang ditandai meningkatnya kualitas sumberdaya manusia, terciptanya lapangan kerja dan kesempatan berusaha, terpenuhinya kebutuhan pokok minimal dan kebutuhan dasar lainnya secara layak, serta meningkatnya pendapatan dan daya beli masyarakat yang harus segera terwujud akan bisa terevaluasi dengan baik. Dan perlu diketahui bahwasanya PDRB estimasi yang dihitung dan disajikan secara berkala ini angkanya masih menggunakan angka pada tingkat kabupaten.
3.1.1 Acuan Rancangan
Studi ini mengacu pada sebuah konsep yang dikembangkan oleh badan dunia (UN) dalam menghitung Produk Domestik Bruto (PDB). Yang kemudian dibuat sebagai acuan rancangan dalam mengevaluasi berbagai program pembangunan di Kabupaten Banyuwangi khususnya di bidang ekonomi secara detail meliputi seluruh kecamatan di Kabupaten Banyuwangi.
3.1.2 Prinsip-Prinsip Dasar
Beberapa prinsip dasar dalam penyusunan Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Banyuwangi tahun 2011 yaitu:
a. Akurat dalam memberikan rekomendasi dan intervensi apa yang perlu mendapatkan prioritas ketika program pembanguan itu diimplementasikan;
b. Validitas datanya bisa dipertanggungjawabkan dan mempunyai runtun waktu berkala tahunan dalam setiap penerbitannya.
18 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
3.1.3 Kerangka Landasan Analisis
Kerangka landasan analisis yang digunakan dalam penyusunan Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Banyuwangi tahun 2011, berupa analisis statistik sederhana atau lazimnya disebut dengan statistik deskriptif.
3.2 METODOLOGI PENYUSUNAN
Metodologi penyusunan Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Banyuwangi Tahun 2011 disusun sebagai berikut:
3.2.1 Penentuan Lokasi Kegiatan
Lokasi kegiatan yang berupa sumber data utama untuk penyusunan publikasi ini menggunakan data primer hasil observasi lapangan secara sample. Observasi dilakukan pada usaha kegiatan ekonomi yang secara acak terpilih sebagai sampel purposif. Jumlah sampel yang diambil ditentukan hingga memenuhi “Minimum Sample
Size” untuk menghasilkan estimasi data pada tingkat kabupaten. Dalam
survei ini wilayah pencacahan yang digunakan sebagai unit sampling bukanlah desa/kelurahan ataupun RT/RW, melainkan usaha kegiatan ekonomi : misalnya Perusahaan/pabrik atau usaha perorangan.
3.2.2 Metode Pendekatan dan Tahapan Penyusunan
Seluruh NTB dihitung berdasarkan sembilan sektor ekonomi, yang terdiri dari; Kelompok Sektor Primer: (1) Pertanian, (2) Pertambangan dan Penggalian. Kelompok Sektor Sekunder: (3) Industri Pengolahan, (4) Listrik, Gas dan Air Bersih, (5) Konstruksi. Kelompok Sektor Tersier: (6) Perdagangan, Hotel dan Restoran, (7) Pengangkutan dan Komunikasi, (8) Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan serta (9) Jasa-jasa.
Dalam prakteknya Poduk Domestik Regional Bruto dihitung dengan menggunakan salah satu dari tiga pendekatan berikut, yaitu:
19 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
1. Pendekatan Produksi:
Yaitu dengan menghitung jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi pada periode tertentu.
2. Pendekatan Pendapatan:
Yaitu jumlah balas jasa yang diterima olah faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi pada periode tertentu. Sampai dengan penerbitan tahun 2011 ini PDRB Kabupaten Banyuwangi masih belum dihitung dengan pendekatan pendapatan.
3. Pendekatan Pengeluaran:
Yaitu semua komponen permintaan akhir, seperti; pengeluaran rumahtangga dan lembaga swasta yang tidak mencari untung, konsumsi pemerintah, pembentukkan modal tetap domestik bruto, perubahan stok dan ekspor neto.Sampai dengan penerbitan tahun 2011 ini PDRB Kabupaten Banyuwangi masih belum dihitung dengan pendekatan pengeluaran.
Dari ketiga pendekatan itu, BPS Kabupaten Banyuwangi menghitung PDRB menggunakan pendekatan produksi, karena beberapa kemudahan seperti memperoleh data produksi dan harga persatuan unitnya, lebih memungkinkan bila dibanding dengan pendekatan pendapatan maupun pendekatan pengeluaran. Kecuali beberapa sektor ekonomi seperti perbankan dan telekomunikasi diberlakukan secara khusus. Perbankan dan Telekomunikasi dihitung berdasarkan atas alokasi penghitungan PDRB Propinsi Jawa Timur.
Dalam menghitung PDRB sebetulnya identik dengan menghitung Nilai Tambah Bruto di setiap sektor ekonomi. Nilai Tambah Bruto yang dihitung tersebut selalu dibedakan Atas Dasar Harga Berlaku dan Atas Dasar Harga Konstan, agar Nilai Tambah Bruto Atas Dasar Harga Berlaku dan Nilai Tambah Bruto Atas Dasar Harga Konstan yang diperoleh dapat disajikan lebih rinci dan lebih bermakna, maka dibutuhkan beberapa angka indeks standar yang meliputi:
20 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
1. Indeks Perkembangan:
Diperoleh dengan membagi PDRB ADHB tahun peng-hitungan dengan PDRB ADHB tahun dasar dikalikan seratus. Indeks ini menunjukkan tingkat perkembangan angka agregat dari tahun ketahun terhadap tahun dasar.
2. Indeks Berantai:
Diperoleh dengan membagi PDRB tahun berjalan dengan PDRB sebelumnya dikalikan seratus. Indeks berantai dapat dihitung berdasarkan ADHB maupun ADHK. Apabila indeks berantai ADHB angkanya lebih besar dari indeks berantai ADHK, indikasinya telah terjadi kenaikkan harga. Khusus indeks berantai ADHK apabila dikurangi seratus, akan menunjukkan besaran pertumbuhan ekonomi, baik secara sektoral maupun secara umum (general).
3. Indeks Implisit:
Diperoleh dari hasil pembagian PDRB ADHB dibagi dengan PDRB ADHK dikalikan seratus. Indeks ini bila diturunkan dengan membagi tahun berjalan dengan tahun sebelumnya, akan memberikan indikasi adanya inflasi bila bertanda positif dan bila negatif intepretasinya deflasi.
Berdasarkan ketiga indeks tersebut, pada dasarnya selain digunakan untuk menghitung masing-masing sektor ekonomi, dapat juga digunakan terhadap besaran komponen PDRB. Adapun intepretasinya, tetap akan memberikan makna yang sama seperti ketika menghitung masing-masing sektor ekonomi dimaksud. Hanya saja yang dimaksud dengan komponen PDRB tersebut merupakan jumlah dari seluruh sektor ekonomi.
Kadang kala Nilai Tambah tidak selalu disajikan dalam kondisi bruto. Kondisi neto perlu diperhitungkan, agar beberapa pengertian dasar angka-angka Produk Domestik Regional Neto (PDRN) dapat diperluas dengan pemahaman yang tidak terlalu sulit. Pengertian dasar itu meliputi:
21 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
1. PDRN Atas Biaya Faktor:
Angkanya diperoleh dari hasil penghitungan PDRB ADHB yang dikurangi dengan nilai penyusutan dan pajak tak langsung neto. PDRN ini bila dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun penghitungan, akan diperoleh pendapatan per kapita.
2. Perkembangan Pendapatan per Kapita:
Diperoleh atas perbandingan antara pendapatan perkapita tahun berjalan dengan tahun sebelumnya. Seluruh penghitungan nilai indeks baik terhadap masing-masing sektor ekonomi, maupun terhadap besaran PDRB dan PDRN, akan disajikan dalam bentuk tabulasi yang termuat dalam lampiran publikasi ini.
3.3 TEKNIK PENGHITUNGAN NTB SEKTORAL
Tanaman Bahan Makanan
Nilai tambah bruto atas dasar harga yang berlaku diperoleh melalui pendekatan produksi, yaitu dengan mengalikan terlebih dahulu setiap jenis kuantum produksi dengan masing–masing harganya kemudian hasilnya dikurangi dengan biaya antara atas dasar harga yang berlaku. Biaya antara tersebut diperoleh dengan menggunakan rasio biaya antara terhadap output yang diperoleh dari hasil survei khusus. Sedangkan nilai tambah atas dasar harga kostan 2000 dihitung dengan cara revaluasi, yaitu dengan mengalikan kuntum produksi masing–masing tahun dengan harga pada tahun 2000, kemudian dikurangi biaya antara atas dasar harga konstan 2000.
Tanaman Perkebunan
Nilai tambah bruto atas dasar harga yang berlaku dihitung dengan pendekatan produksi. Rasio biaya antara serta rasio margin perdagangan dan biaya traspor digunakan diperoleh dari survei khusus. Sedangkan nilai tambah atas harga konstan 2000 diperoleh dengan cara revaluasi, sama seperti yang dilakukan pada tanaman bahan makanan.
22 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
Peternakan dan Hasil-hasilnya
Nilai tambah atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara mengalikan nilai produksi dengan rasio nilai tambah berdasarkan hasil survai khusus pendapatan regional.
Kehutanan
Sebagaimana dengan sub sektor lainnya, dalam sektor pertanian, output sub sektor kehutanan dihitung dengan cara mengalikan kuantum produksi dengan harga masing–masing tahun yang menghasilkan output atas dasar harga berlaku, dan penggunaan harga pada tahun dasar menghasilkan output atas dasar hagar konstan 2000. Selanjutnya nilai tambah bruto dihitung dengan menggunakan rasionya terhadap output. Rasio tersebut diperoleh dari hasil survei khusus.
Perikanan
Penghitungan nilai tambah bruto dilakukan dengan mengalikan rasio nilai tambah bruto terhadap output. Rasio nilai tambah diperoleh dari survei khusus pendapatan regional.
Industri Pengolahan
Data output dan nilai tambah atas dasar harga berlaku diperoleh berdasarkan laporan tahunan survei industri yang dilakukan oleh BPS. Sedang nilai tambah bruto atas dasar harga konstan dihitung melalui cara deflasi dengan indeks harga perdagangan besar di setiap kelompok industri.
Listrik
Nilai output atas dasar harga berlaku diperoleh dari perkalian produksi dengan harga yang berlaku pada masing–masing tahun, sedang kan output atas dasar harga konstan 2000 diperoleh dengan cara revaluasi.
Air Bersih
Data produksi, harga dan biaya–biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan air minum diperoleh dari laporan Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Banyuwangi. Perhitungan nilai tambah atas dasar harga konstan 2000 dilakukan dengan menggunakan persentase nilai
23 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
tambah terhadap output masing-masing tahun. Seperti halnya sub sektor listrik, dengan responden tunggal.
Bangunan
Output diperoleh dari penjumlahan nilai pembangunan prasarana
fisik yang dari segi pendanaan dapat dirinci menjadi: nilai pembangunan pemerintah pusat yang dibiayai dari APBN dan nilai pembangunan daerah yang dibiayai APBD serta perbaikkannya dan pembangunan yang dilakukan oleh developer, Perumnas serta yang dilakukan oleh swadaya masyarakat murni. Sedangkan persentase nilai tambah bruto diperoleh dari survei khusus. Output atas dasar harga konstan 2000 diperoleh dengan cara deflasi, deflatornya adalah Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Bahan Bangunan dan Konstruksi.
Perdagangan
Nilai produksi bruto atas dasar harga konstan 2000, dihitung dengan mengalikan rasio dari survey khusus dengan output atas dasar harga konstan 2000 dari sektor-sektor pertanian, pertambangan dan penggalian, industri serta import. Nilai tambah atas dasar harga berlaku dan konstan 2000 dihitung berdasarkan perkalian antara rasio nilai tambah dengan outputnya.
Hotel
Nilai tambah atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan 2000 dihitung berdasarkan perkalian antara persentase nilai tambah dengan outputnya. Output dihitung dari malam tamu kali tarifnya.
Restoran
Perkiraan nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara deflasi, menggunakan indeks harga konsumen makanan jadi dan minuman sebagai deflator.
Angkutan Kereta Api
Nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku dihitung berdasarkan data yang diperoleh dari laporan tahunan PT. KAI. Nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara ekstrapolasi dengan
24 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
menggunakan indeks produksi gabungan tertimbang penumpang dan ton-km barang yang diangkut.
Angkutan Jalan Raya
Perkiraan nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku dengan menggunakan pendekatan produksi yang didasarkan pada data jumlah armada angkutan umum barang dan penumpang wajib uji yang diperoleh dari laporan tahunan Dinas Perhubungan, dan hasil survei khusus pendapatan regional angkutan yang dilakukan setiap tahun. Sedangkan untuk data kendaraan tidak bermotor diperoleh dari survei khusus. Nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara revaluasi.
Angkutan Laut
Output atas dasar harga berlaku diperoleh dengan cara
mengalikan jumlah penumpang dan barang yang dimuat dari PT. Pelindo, dengan rata–rata output perpenumpang dan barang. Nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara ekstrapolasi yaitu menggunakan indeks gabungan tertimbang jumlah penumpang dan barang yang dimuat.
Pergudangan
Rata-rata outputnya dari survei khusus. Penghitungan nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dilakukan dengan cara deflasi memakai indeks harga konsumen komponen biaya transport.
Pos dan Giro
Perkiraan nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku didasarkan kepada data produksi dan struktur biaya yang diperoleh dari laporan keungan PT. Pos Indonesia. Perkiraan nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dilakukan dengan cara ektrapolasi, mengunakan indeks gabungan dari jumlah surat yang dikirim dan jumlah uang yang digirokan.
Telekomunikasi
Nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku dihitung berdasarkan data yang bersumber dari laporan keuangan Kantor Wilayah
25 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
Usaha Telekomunikasi Jawa Timur. Nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan mengunakan indeks produksi gabungan tertimbang yang meliputi jumlah menit lokal/interlokal dan banyaknya pemegang telepon yang bersumber dari Kantor Wilayah Usaha Telekomunikasi Jawa Timur. NTB dihitung oleh BPS Propinsi Jawa Timur.
Jasa Penunjang Komunikasi
Nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku diperoleh dari survei khusus, sedangkan atas dasar harga konstan 2000 di hitung menggunakan indeks produksi gabungan tertimbang yang meliputi jumlah menit lokal/interlokal dan banyaknya pelanggan telepon yang bersumber dari survei khusus.
Bank
Nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 diperoleh dengan cara ekstrapolasi dengan indeks kredit yang diberikan bank pada tiap-tiap tahun, sedangkan indeks kredit yang di gunakan adalah indeks kredit riil yang sudah dideflet dengan kenaikan suku bunga perbankan. Jumlah kredit yang dilepas oleh bank diperoleh dari Bank Indonesia Surabaya. NTB dihitung oleh BPS Propinsi Jawa Timur.
Lembaga Keuangan Bukan Bank
Perhitungan output dan nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku diperoleh dengan cara pendekatan produksi. Output diperoleh dari perkalian indikator produksi dengan indikator harga, sedangkan nilai tambah bruto diperoleh dengan cara mengurangkan nilai biaya antara dari nilai output. Nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2.000 dihitung dengan cara revaluasi pada koperasi dan pegadaian. Pada kegiatan jasa keuangan bukan bank seperti yayasan dana pensiun penghitungan harga konstan dengan cara deflasi.
Sewa Bangunan
Nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku diperoleh dengan cara mengalikan jumlah bangunan dengan rata-rata tarip sewa untuk bangunan rural dan urban, sedangkan untuk perhitungan atas dasar harga konstan 2.000 diperkirakan dengan cara ekstrapolasi menggunakan jumlah bangunan tempat tinggal dan bukan sebagai tempat tinggal
26 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
sebagai ekstrapolatornya, sedangkan nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku diperkirakan dengan cara menginflate nilai bangunan dan tempat tinggal.
Jasa Perusahaan
Perkiraan output dan nilai tambah bruto didasarkan kepada data jumlah tenaga kerja yang bersumber dari survei khusus, dengan rata–rata
output per tenaga kerja dan persentase nilai tambah bruto yang juga di
peroleh dari survei khusus pendapatan regional.
Jasa Pemerintahan Umum
Nilai tambah bruto sub sektor jasa pemerintah umum terdiri dari upah dan gaji rutin pegawai pemerintah pusat dan daerah. Upah dan gaji yang dihitung mencakup upah dan gaji belanja rutin dan sebagian dari belanja pembangunan. Perkiraan nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2.000 dihitung dengan cara ekstrapolasi dengan menggunakan indeks jumlah pegawai negeri dan daerah yang ada di kabupaten Banyuwangi, termasuk di dalamnya pemerintahan desa.
Jasa Pendidikan
Data output per murid dan persentase nilai tambah diperoleh dari kegiatan survei khusus. Sedangkan penghitungan nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dilakukan dengan cara revaluasi.
Jasa Kesehatan
Nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku didasarkan kepada presentase terhadap output. Data yang digunakan bersumber dari Dinas Kesehatan serta dari survei khusus pendapatan regional. Perkiraan nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara revaluasi masing–masing kegiatan yang terkait dengan jasa kesehatan medis dan non medis.
Sosial Kemasyarakatan Lainnya
Dari survei khusus diperoleh data rata–rata input rumah ibadat yang dikalikan dengan jumlah tempat ibadat. Sedangkan untuk penghitungan atas dasar harga konstan di lakukan dengan cara revaluasi.
27 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
Jasa Hiburan dan Kebudayaan
Data output dan nilai tambah bioskop, panggung hiburan, bilyard dan tempat–tempat hiburan lainya diperoleh dari dispenda, sedangkan data output televisi, radio swasta dan hiburan lain diperoleh dari survei khusus. Penghitungan atas dasar harga konstan 2000 adalah dengan cara deflasi menggunakan Indeks Harga Konsumen aneka barang dan jasa.
Jasa Perorangan dan Rumahtangga
Nilai output diperkirakan dengan cara mengalikan jumlah tenaga kerja yang di dasarkan kepada hasil survei khusus dengan rata–rata
output per tenaga kerja. Sedangkan untuk memperoleh nilai tambah bruto
adalah dengan cara mengalikan persentase nilai tambah bruto. Nilai tambah bruto atas dasar harga 2000 diperoleh dengan cara ekstrapolasi.
28 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 BESARAN PDRB
Seperti diketahui, bahwa pembangunan antar sektoral selalu berhubungan antara yang satu dengan yang lain, saling menunjang dan selalu berkaitan serta masing-masing mempunyai peranan dalam mewujudkan tujuan pembangunan yang utamanya pembangunan daerah. Tujuan pembangunan untuk meningkatkan taraf hidup seluruh masyarakat, meletakkan landasan yang lebih kuat untuk tahap-tahap pembangunan berikutnya.Oleh karenanya kebijaksanaan pemerintah menitik-beratkan pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi agar modal dasar yang dimiliki semakin kokoh, Lebih-lebih di era otonomi daerah saat ini diperlukan upaya keras untuk memulihkan keadaan perekonomian yang kurang menguntungkan belakangan ini, sebagai dampak krisis berkepanjangan yang dirasakan perlu secepatnya dilakukan pemulihan (recovery) ekonomi, tidak saja di tingkat nasional tetapi juga di tingkat regional.
Salah satu indikator untuk melihat tingkat kemakmuran masyarakat, dapat diukur dari tingkat pendapatan per kapita suatu daerah lainnya, baik daerah sekitarnya maupun daerah lainnya yang lebih maju. Tingginya pendapatan per kapita dengan sendirinya akan memperkuat kemampuan menabung sebagian dari pendapatannya untuk cadangan hari depan yang lebih baik. Data kuantitatif dari angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu alat ukur atau indikator untuk melihat sampai sejauh mana keberhasilan pembangunan ekonomi regional di Kabupaten Banyuwangi dari waktu ke waktu.
Dari angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstandapat menggambarkan tingkat pertumbuhan ekonomi, dari angka indeks implisit dapat menggambarkan tingkat inflasi dan deflasi dari kegiatan ekonomi secara agregat sektoral, artinya seberapa jauh tingkat perkembangan harga yang terjadi selama satu tahun.
Jika dilihattingkat perkembangan kemajuan ekonomi Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2011 yang terukur melalui besaran PDRB atas dasar harga berlakutercatat Rp 27.059.769,40 (dalam juta). Dari besaran
29 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
PDRB ADHB ini bila dihitung tingkat perkembangannya yang dimulai dari tahun dasar 2000 sampai dengan tahun 2011 angkanya terusbertambah hingga mencapai 299,79 persen,atau adapeningkatan sebesar 38.79 persen dibanding tahun 2010. Dan mulai tahun 2011 ada sub sektor baru yang muncul yaitu sektor Pengangkutan dan Komunikasi sub sektor Angkutan Udara yang terletak di desa Blimbingsari Kecamatan Rogojampi yang diresmikan oleh pemerintah pada tanggal 29 Desember 2010.
4.2 PERTUMBUHAN EKONOMI
Pertumbuhan ekonomi biasanya ditandai dengan angka yang nilainyapositif,namun apabila angkanya negatif maka pertumbuhan ekonomi daerah tersebut mengalami kemunduran,seperti saat terjadinya kontraksi ekonomi yang menimbulkan krisis ekonomi berkepanjangan. Pertumbuhan ekonomi pada saat itu nilainya negatif bahkan angkanya mencapai dua digit, tepatnya terjadi pada tahun 1997. Tetapi memasuki tahun 2000 banyak para ekonom berpendapat bahwa tahun itu meru-pakan tahun awal pemulihan ekonomi nasional dari yang paling terpuruk menuju kearah yang lebih baik. Bahkan dari hasil penghitungan pertum-buhan ekonomi nasional maupun regional pada tahun 2000 sudah diper-oleh angka yang positif walaupun masih jauh dari harapan banyak pihak.
Bila dilihat nilai PDRB atas dasar harga konstan, yang dihitung denganmenggunakan tahun dasar 2000 sebagai dasar perhitungan, PDRB atas dasar harga konstan pada tahun 2011 mencapai Rp 11.788.649,35 (dalamjuta), sedangkan tahun 2010 mencapai Rp 11.015.195,17 (dalam juta) atau mengalami pertumbuhan 7,02 persen yang berarti ada peningkatan sebesar 0,80 poin dari tahun sebelumnya yang besar pertumbuhan ekonominya mencapai 6,22persen pada tahun
30 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
0 1 2 3 4 5 6 7 2006 2007 2008 2009 2010 2011 4,74 5,64 5,8 6,05 6,22 6,38
Tabel 4.1 Tingkat Pertumbuhan Ekonomi Kab. Banyuwangi Tahun 2006 – 2011 (%)
No T a h u n Pertumbuhan Ekonomi (%) 1. 2006 4.74 2. 2007 5.64 3. 2008 5.80 4. 2009 6.05 5. 2010 6.22 6. 2011 7.02
Atau lebih jelasnya bisa dilihat gambar 4.1 dibawah ini :
Gambar 4.1 Pertumbuhan Ekonomi Kab. Banyuwangi Tahun 2006-2011
Selama krisis ekonomi sangat dipengaruhi oleh kenaikan harga di tahun-tahun sebelumnya yang relatif cukup tinggi sehingga mengakibat-kan naiknya biaya produksi, melemahnya tingkat produktifitas dan kurang terjangkaunya biaya produksi karena harga terus malambung tinggi, disisi lain sangat dirasakan pada sektor-sektor yang mempunyai peranan terbesar sumbangannya terhadap PDRB Kabupaten Banyuwangi seperti sub sektor pertanian tanaman bahan makanan, perkebunan, peternakan dan lain sebagainya. Khususnya pertumbuhan ekonomi tahun 2011 untuk
31 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
sub sektor ekonomi pertanian tanaman bahan makanan (padi) mengalami penurunan akibat serangan pengganggu (wereng). Dan menurut keterangan dari Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Banyuwangi bahwa serangan hama wereng tahun 2010 menyerang sawah seluas 1.011,33 ha dan tahun 2011 menyerang 1.511,47 ha (meningkat 49 persen dari tahun 2011).
4.3 STRUKTUR EKONOMI
Secara umum struktur ekonomi Kabupaten Banyuwangi terbentuk dan didominasi oleh Sektor Pertanian. Pada tahun 2011 peranan
SektorPertanianterhadapseluruhkegiatanekonomi di
KabupatenBanyuwangiangkanyamencapai 45,12 persen,
atauhamperseparuhdarikegiatanekonomi di
KabupatenBanyuwangibergerak di SektorPertanian.
Domi-nasikeduasebagaipembentukstrukturekonomiKabupatenBanyuwangidisu
mbangolehSektorPerdagangan, Hotel danRestoran yang
angkanyamencapai 30,27persen. Ketiga dari Sektor Jasa-jasa sebesar 5,99 persensedang selebihnya merupakan bagian dari sektor ekonomi yang lain sebagaimana Gambar 4.2.
Gambar 4.2 Struktur Ekonomi Kab. Banyuwangi 2011
45,12 4,52 5,35 0,30 1,02 30,27 3,01 4,43 5,99 PERTANIAN (45,12%)
PERTAMBANGAN dan PENGGALIAN (4,52%)
INDUSTRI PENGOLAHAN (5,35%)
LISTRIK, GAS dan AIR BERSIH (0,30%)
BANGUNAN (1,02%)
PERDAGANGAN, HOTEL dan RESTORAN (30,27%)
PENGANGKUTAN dan KOMUNIKASI (3,01%)
KEUANGAN, PERSEWAAN DAN JS PERUSAHAAN (4,43%)
JASA-JASA (5,99%)
32 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
4.4 PENDAPATAN PER KAPITA
Ukuran kesejahteraan rakyat yang sering digunakan oleh para pengambil kebijakan salah satunya bisaberupa pendapatan perkapita. Walaupun kurang refresentatif pendapatan per kapita harus tetap disajikan untuk memperoleh gambaran sejauhmana pendapatan masyarakat secara rata-rata. Selain itu besaran pendapatan per kapita bisa digunakan untuk membandingkan tingkat kesejahteraan daerah satu dengan daerah yang lain. Intepretasinya bila diperoleh angka pendapatan per kapitanya lebih tinggi bila dibandingkan dengan daerah yang lain, maka daerah yang lebih tinggi angka pendapatan per kapitanya tersebut lebih tinggi pula tingkat kesejahteraan masyarakatnya.
Pada tahun 2011 angka pendapatan per kapita Kabupaten Banyu-wangi tercatatRp 16.639.396,88,- yang mengandung maksud bahwa dari sejumlah penduduk Kabupaten Banyuwangi diperkirakan mempunyai pen-dapatan rata-rata dalam setahunnya sebesar Rp16.758.622,70,-. Angka pendapatan per kapita ini naik sekitar 14,32 persen bila dibandingkan dengan angka pendapatan per kapita pada tahun 2010 yang menunjukkan angka Rp14.659.053,72,-. Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa angka pendapatan per kapita bisa diintepretasikan sebagai tingkat kesejahteraan masyarakat, dengan demikian apabila angka pendapatan per kapita Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2011 naik sebesar 14,32 persen, maka sama artinya dengan tingkat kesejahteraan masyarakat Kabupaten Banyuwangi juga ikut naik sebesar 14,32 persen dibanding tahun 2010.
Tabel 4.2Pendapatan Per Kapita Kabupaten Banyuwangi Tahun 2006 – 2011 (dalam rupiah)
No T a h u n Pendapatan Per Kapita (Rp)
1. 2006 8,821,875.18 2. 2007 9,954,332.93 3. 2008 11,482,829.27 4. 2009 12,928,057.07 5. 2010 14,659,053.72 6. 2011 16,758,622.70
http://banyuwangikab.bps.go.id
33 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
8.821.875,18 9.954.332,93 11.482.829,27 12.928.057,07 14.659.053,72 16.639.396,88 0,00 2.000.000,00 4.000.000,00 6.000.000,00 8.000.000,00 10.000.000,00 12.000.000,00 14.000.000,00 16.000.000,00 18.000.000,00 2006 2007 2008 2009 2010 2011
Atau lebih jelasnya bisa dilihat pada gambar 4.3 Gambar 4.3 Pendapatan Per Kapita Kab. Banyuwangi Tahun 2006-2011
4.5 Tingkat Inflasi Tahun 2011
Tingkat inflasi tahun 2011 sebesar 7,84 persen. Bila diamati dari prosentase untuk seluruh sektor ekonomi, terlihat positif atau terjadi inflasi, bahkan tidak ada yang negatif/deflasi, yang artinya di tahun 2011 terjadi kenaikan harga untuk semua sektor ekonomi. Inflasi tertinggi terjadi pada sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran sebesar 8,00 persen.
34 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
Tabel 4.3 Tingkat Inflasi Sektoral
Kabupaten Banyuwangi Tahun 2011 ( persen )
No Sektor Inflasi
1 Pertanian 5.16
2 Penggalian & Pertambangan 5.92
3 Industri Pengolahan 5.80
4 Listrik, Gas dan Air bersih 0.44
5 Bangunan/konstruksi 6.72
6 Perdagangan, hotel dan Restoran 8.00
7 Pengangkutan dan Komunikasi 3.04
8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 5.74
9 Jasa – jasa 6.15
Tingkat Inflasi Umum 7.84
Atau lebih jelasnya bisa dilihat pada gambar 4.4 dibawah ini
35 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
Gambar 4.4 Tingkat Inflasi sektoral Tahun 2011
0 2 4 6 8 10 12 Pertanian
Penggalian & Pertambangan Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air bersih Bangunan/konstruksi Perdagangan, hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan dan Jasa
Perusahaan
Jasa – jasa Tingkat Inflasi Umum
5,82 5,58 7,18 1,08 2,98 11,02 4,30 6,93 5,06 7,44 INFLASI
http://banyuwangikab.bps.go.id
36 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Situasi perekonomian Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2011 tampak ada kenaikan bila dibanding dengan tahun 2010. Ada dua hal yang sangat signifikan pengaruhnya terhadap peningkatan perkembangan ekonomi ini, yaitu meningkatnya volume produksi dan naiknya harga barang dan jasa. Dari kedua hal ini umumnya kenaikan harga yang terjadi pada saat transaksi barang dan jasa lebih dominan bila dibanding dengan peningkatan volume produksi barang dan jasa yang ditransaksikan. Atau dengan kata lain meningkatnya perkembangan ekonomi yang terjadi di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2011 itu lebih didominasi oleh naiknya harga barang dan jasa. Dalam PDRB perkembangan ekonomi dimaksud terukur melalui PDRB ADHB yang tercatat sebesar
Rp.27.059.769,40(dalam juta) pada tahun 2011 serta sekitar
Rp.23.558.420,84(dalam juta) pada tahun 2010.
Kenaikan harga barang dan jasa pada umumnyaPada tahun 2011 yang terukur melalui inflasi sebesar 7,84 persen. Tingginya inflasi pada tahun 2011 ini karena ada tenggang waktu satu tahun yang di dalamnya ada hari-hari besar keagaman, tahun ajaran baru sekolah serta ditambah dengan adanya pengaruh dari stabilitas perekonomian yang kurang mendukung
Berdasarkan hasil survei di berbagai sektor ekonomi, diperoleh indikasi adanya peningkatan volume produksi barang dan jasa yang terjadi pada tahun 2011. Dalam penghitungan PDRB peningkatan volume produksi barang dan jasa ini akan mencerminkan adanya pertumbuhan ekonomi. Pada tahun 2011 pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banyuwangi tercatat sebesar 7,02 persen. Tingginya pertumbuhan ekonomi ini disumbang oleh sektor kostruksi/bangunan sebesar 11,24 persen, sedang urutan kedua adalahsektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 10,79 persen, dan urutan ketiga adalah sektor pengangkutan dan komunikasi adalah 7,20 persen.
Selain perkembangan ekonomi yang tersaji dalam PDRB ADHB serta kinerja ekonomi yang terukur melalui pertumbuhan ekonomi. Struktur
37 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
ekonomi daerah juga bisa terukur dengan menggunakan distribusi PDRB sektoral. Pada tahun 2011 struktur ekonomi Kabupaten Banyuwangi masih didominasi oleh sektor pertanian. Artinya hampir separuh dari kegiatan ekonomi yang terjadi di Kabupaten Banyuwangi bergerak di sektor pertanian. Dominasi kedua pada sektor pedagangan, hotel dan restoran. Angkanya bisa diintepretasikan bahwa kegiatan ekonomi di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2011 sekitar seperempatnya bergerak di sektor perdagangan, hotel dan restoran. Urutan ketiga sektor Jasa-jasa, keempat sektor industri.
5.2 S A R A N
Untuk memacu pertumbuhan ekonomi bagi setiap daerah, dapat dilakukan melalui struktur ekonomi daerah yang bersangkutan. Karena sektor ekonomi yang mempunyai peran terbesar terhadap pembentukan struktur ekonomi akan mempunyai pengaruh yang sangat signifikan
terhadap pertumbuhan ekonomi. Misalnya untuk meningkatkan
pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banyuwangi, maka Sektor Pertanian yang merupakan sektor ekonomi yang paling dominan itulah yang harus diberdayakan.
38 PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
TABEL 1
PDRB KABUPATEN BANYUWANGI MENURUT LAPANGAN USAHATahun 2006 - 2011 ATAS DASAR HARGA BERLAKU (Juta Rp)
NO. LAPANGAN USAHA 2006 2007 2008 2009 *) 2010 **) 2011 ***)
1 PERTANIAN 6.482.811,87 7.462.068,02 8.678.101,95 9.842.865,75 10.884.186,46 12.010.933,69
a.Tanaman Bahan Makanan 3.134.392,74 3.674.068,99 4.324.855,50 4.971.600,49 5.614.866,32 6.287.196,90 b.Tanaman Perkebunan 1.368.034,11 1.538.079,61 1.762.118,85 1.936.744,83 1.993.783,75 2.054.033,09 c. Peternakan dan Hasil-hasilnya 704.327,56 746.623,73 810.521,83 916.538,08 983.840,28 1.053.687,23 d. Kehutanan 213.645,32 253.917,43 296.005,58 338.008,77 375.729,76 422.549,27 e. Perikanan 1.062.412,13 1.249.378,26 1.484.600,20 1.679.973,58 1.915.966,36 2.193.467,20
2 PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN 597.257,52 672.260,30 775.680,42 951.337,29 1.077.494,47 1.219.057,50
a. Minyak dan Gas Bumi 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 b. Pertambangan tanpa Migas 269.240,74 300.938,44 347.803,77 409.828,55 460.155,49 520.492,08 c. Penggalian 328.016,77 371.321,86 427.876,64 541.508,74 617.338,98 698.565,42
3 INDUSTRI PENGOLAHAN 831.061,54 920.145,34 1.007.469,61 1.124.674,85 1.272.557,76 1.417.873,36 a. Industri Migas 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1. Pengilangan Minyak Bumi 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 2. Gas Alam Cair 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
b. Industri Tanpa Migas 831.061,54 920.145,34 1.007.469,61 1.124.674,85 1.272.557,76 1.417.873,36
1. Makanan, Minuman dan Tembakau 633.055,04 702.980,70 777.773,78 867.116,61 993.482,27 1.114.285,62 2. Tekstil, Barang Kulit dan Alas Kaki 2.535,97 2.826,75 3.269,59 3.470,11 3.815,37 4.172,65 3. Barang Kayu dan Hasil Hutan lainnya 17.125,77 20.020,92 22.025,43 24.834,75 27.466,60 30.456,81 4. Kertas dan Barang Cetakan 99.226,89 110.257,55 116.878,81 128.403,28 141.476,75 155.247,96 5. Pupuk, Kimia dan Barang dari Karet 70.569,55 74.547,54 77.091,31 89.366,66 93.704,48 99.820,16 6. Semen dan Barang Galian Non Logam 1.597,92 1.777,70 1.950,31 2.145,93 2.240,77 2.389,11 7. Logam Dasar, Besi dan Baja 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 8. Alat Angkutan, Mesin dan Peralatan 1.097,28 1.231,57 1.322,50 1.413,66 1.525,55 1.673,83 9. Barang lainnya 5.853,11 6.502,61 7.157,87 7.923,85 8.845,97 9.827,22
4 LISTRIK, GAS dan AIR BERSIH 59.079,01 62.889,23 67.530,76 72.919,00 75.368,78 79.687,37
a. Listrik 54.839,95 58.338,70 62.635,19 67.519,68 69.491,84 73.228,63 b. Gas 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 c. Air Bersih 4.239,06 4.550,53 4.895,57 5.399,31 5.876,94 6.458,74
5 BANGUNAN 150.555,08 174.164,49 198.150,73 221.162,64 245.642,88 291.086,23 6 PERDAGANGAN, HOTEL dan RESTORAN 3.750.577,52 4.260.093,53 5.009.577,85 5.607.807,46 6.485.329,58 7.726.520,33
a. Perdagangan Besar dan Eceran 3.290.805,08 3.751.596,75 4.445.121,49 4.946.354,05 5.734.124,58 6.879.307,64 b. Hotel 154.035,25 174.828,00 195.448,08 224.518,00 254.113,35 286.672,58 c. Restoran 305.737,18 333.668,78 369.008,28 436.935,41 497.091,66 560.540,11
7 PENGANGKUTAN dan KOMUNIKASI 531.743,72 559.644,30 612.373,92 670.115,17 734.577,13 810.406,17 a. Pengangkutan 485.131,01 506.971,22 549.552,49 599.221,58 656.848,28 723.906,41
1. Angkutan Rel 13.631,81 16.479,96 19.687,61 21.872,16 25.048,90 28.780,32 2. Angkutan Jalan Raya 57.270,38 62.524,68 71.323,55 78.982,19 85.695,73 92.935,97 3. Angkutan Laut 293.824,82 298.493,66 309.450,49 325.480,26 346.151,04 370.070,08 4. Angkutan Sungai, Danau 56.086,15 60.779,06 66.606,17 78.620,90 91.974,12 107.374,65 5. Angkutan Udara 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 2.025,45 6. Jasa Penunjang Angkutan 64.317,85 69.693,86 82.484,68 94.266,08 107.978,50 122.719,95
b. Komunikasi 46.612,71 52.673,09 62.821,44 70.893,59 77.728,85 86.499,76
1. Pos dan Telekomunikasi 34.406,68 37.702,31 45.318,10 50.319,50 54.292,91 60.124,86 2. Jasa Penunjang Telekomunikasi 12.206,03 14.970,78 18.133,34 20.574,08 23.435,94 26.374,90
8 KEUANGAN, PERSEWAAN dan JS PERUSAHAAN 726.485,81 789.656,26 868.378,76 946.654,76 1.051.862,54 1.185.128,35
a. Bank 146.696,66 154.863,06 168.029,56 178.514,41 195.271,87 215.831,96 b. Lembaga Keuangan Bukan Bank 86.800,99 90.136,25 95.046,36 98.632,14 102.220,02 109.314,94 c. Jasa Penunjang Keuangan 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 d. Sewa Bangunan 407.413,70 447.776,81 500.182,14 542.488,35 608.306,09 690.415,79 e. Jasa Perusahaan 85.574,46 96.880,14 111.120,70 127.019,86 146.064,56 169.565,65
9 JASA-JASA 876.822,81 987.254,92 1.155.706,65 1.290.951,90 1.445.401,22 1.626.694,40 a. Pemerintahan Umum 457.517,14 513.331,42 611.479,28 687.114,64 772.866,55 861.006,68
1. Adm Pemerintah dan Pertanahan 457.517,14 513.331,42 611.479,28 687.114,64 772.866,55 861.006,68 2. Jasa Pemerintahan Lainnya 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
b. Swasta 419.305,67 473.923,50 544.227,37 603.837,26 672.534,67 765.687,72
1. Jasa Sosial dan Kemasyarakatan 109.378,11 120.703,16 135.716,19 141.201,28 159.105,60 177.528,53 2. Jasa Hiburan dan Kebudayaan 10.788,69 12.145,82 14.253,87 16.014,76 18.974,71 22.334,25 3. Jasa Perorangan dan Rumahtangga 299.138,87 341.074,52 394.257,31 446.621,22 494.454,36 565.824,94
PDRB DENGAN MIGAS 14.006.394,87 15.888.176,40 18.372.970,65 20.723.988,81 23.558.420,84 27.059.769,40 PDRB TANPA MIGAS 14.006.394,87 15.888.176,40 18.372.970,65 20.723.988,81 23.558.420,84 27.059.769,40
Keterangan : *) Angka Perbaikan **) Angka Sementara
***) Angka Sangat Sementara