• Tidak ada hasil yang ditemukan

The Effectivity of Some Entomopathogenic Fungus and Botanical Insecticide to Spodoptera exigua Hubn. on shallots (Allium ascalonicum L)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "The Effectivity of Some Entomopathogenic Fungus and Botanical Insecticide to Spodoptera exigua Hubn. on shallots (Allium ascalonicum L)"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Uji Efektifitas Beberapa Jamur Entomopatogen dan Insektisida Botani terhadap

Spodoptera exigua Hubn. pada Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)

The Effectivity of Some Entomopathogenic Fungus and Botanical Insecticide

to Spodoptera exigua Hubn. on shallots (Allium ascalonicum L)

Yuswani Pangestiningsih

Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan

Abstract

The objective of this research is to know the effectifity of entomopathogenic fungus (Beauveria bassiana and Metarhizium anisopliae) and botanical insecticide (extract mimba, extract mindi, and extract tobacco) to the percentage attack of Spodoptera exigua Hubn. on shallots (Allium ascalonicum L.). This research had been done in Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara (BPTP Sumut) field, Gedung Johor, Medan, with the height approximately 30 meters above sea level. This reseach was started from April 2008 to Juni 2008. This research had been done by using Non Factorial Randomized Completely Block Design (RCBD) with 6 treatment of each repeated by 4 times that consist of control/ non treatment, B. bassiana, (M. anisopliae, mimba leaf extract, mindi leaf extract, and tobacco leaf extract. Parameters observed is percentage attack of Spodoptera exigua Hubn. And production of shallots (kg/plot). The result of this research showed that entomopathogenic fungus and botanical insecticide was significantly different to the percentage attack of Spodoptera exigua Hubn.at 1-5 weaks after application. The result of this research showed that treatment used Beauveria bassiana more effectly than anothers treatments with attack percentage 14,28%. The attack percentage of from the highest to the lowest in last time supervision were control (34,45%), tobacco leaf extract (15,70%), mindi leaf extract (14,60%), M. anisopliae (11,25%), mimba leaf extract (11,15%) and B. bassiana (14,28%). The production average of from the highest to the lowest level were B. bassiana (12,25 ton/ha), M. anisopliae (10,40 ton/ha), mimba leaf extract (9,94 ton/ha), mindi leaf extract (9,20 ton/ha), tobacco leaf extract (8,82 ton/ha), dan control (6,95 ton/ha).

Keywords :

Spodoptera exigua, entomopathogenic fungi, bioinsecticide

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas jamur entomopatogen (Beauveria bassianadan Metarhizium anisopliae) dan insektisida botani (ekstrak daun mimba, ekstrak daun mindi dan ekstrak daun tembakau) terhadap persentase serangan Spodoptera exigua Hubn. Pada tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.). Penelitian dilaksanakan di lahan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara (BPTP Sumut) Gedung Johor, Medan dengan ketinggian tempat lebih kurang 30 m dpl. Penelitian dilaksanakan dari bulan April 2008 sampai bulan Juni 2008. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non Faktorial dengan 6 perlakuan yang masing-masing diulang 4 kali yang terdiri dari kontrol/ tanpa perlakuan, B. bassiana, M. anisopliae, ekstrak mimba, ekstrak mindi, dan ekstrak tembakau. Parameter yang diamati adalah persentase serangan (%) dan produksi bawang merah (kg/plot). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jamur entomopatogen dan insektisida botani berpengaruh sangat nyata pada pengamatan 1-5 MSA (minggu setelah aplikasi) terhadap persentase serangan Spodoptera exigua Hubn. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa percobaan yang paling efektif adalah dengan menggunakan Beauveria bassiana dibandingkan

(2)

(11,25%), ekstrak mimba (11,15%), dan B. bassiana (14,28%). Rataan produksi bawang merah tertinggi hingga terendah masing-masing adalah B. bassiana (12,25 ton/ha), M. anisopliae (10,40 ton/ha), ekstrak mimba (9,94 ton/ha), ekstrak mindi ( 9,20 ton/ha), ektrak tembakau (8,82 ton/ha), dan kontrol (6,95 ton/ha).

Kata kunci: Spodoptera exigua, jamur entomopatogen, insektisida botani

Pendahuluan

Tanaman bawang merah diduga berasal dari daerah Asia Tengah yaitu sekitar India, Pakistan, sampai Palestina. Tidak ada catatan resmi sejak kapan bawang merah mulai dikenal dan digunakan. Namun diduga sudah dikenal sejak lebih dari 5000 tahun yang lalu. Ada yang menduga, sekitar abad ke 8-an, tanaman bawang merah baru mulai menyebar ke Eropa Barat, Eropa Timur dan Spanyol. Dari belahan benua ini bawang merah mulai menyebar luas hingga daratan Amerika, Asia Timur dan Asia Tenggara (Wibowo, 1995).

Di Indonesia, tanaman bawang merah telah lama diusahakan oleh petani sebagai usaha tani yang bersifat komersil, dimana seluruh hasilnya ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar. Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran yang mempunyai arti penting bagi masyarakat, baik dilihat dari segi ekonomisnya yang tinggi maupun dari kandungan gizinya. Meskipun bawang merah bukan merupakan kebutuhan pokok, akan tetapi kebutuhannya hampir tidak dapat dihindari oleh konsumen rumah tangga sebagai pelengkap bumbu masak sehari-hari (Suwandi, 1995).

Bawang merah dihasilkan di 24 dari 30 propinsi di Indonesia. Pertumbuhan produksi rata-rata bawang merah selama periode 1989-2003 adalah sebesar 3,95 per tahun. Komponen pertumbuhan areal panen 3,5 % ternyata lebih banyak memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan produksi bawang merah dibandingkan dengan komponen produktivitas (0,4%). Konsumsi

rata-rata bawang merah untuk tahun 2004 adalah 4,56 kg/kapita/tahun atau 0,38 kg/kapita/bulan. Estimasi permintaan domestik tersebut pada tahun 2004 mencapai 915.550 ton (konsumsi 795.264 ton, benih ekspor dan industry 119.286 ton) (Litbang, 2008).

Keberadaan hama dan penyakit merupakan faktor pembatas usaha tani bawang merah. Salah satu hama yang banyak menyerang bawang merah adalah ulat bawang (Spodoptera exigua Hubn.). Serangan yang cukup berat dari hama ini dapat menimbulkan kehilangan hasil hingga 57% (Rukmana, 1994). Pada musim kemarau, kehilangan hasil panen akibat serangan ulat bawang dapat mencapai 100% jika tidak dikendalikan (Moekasan dkk, 2000).

Bawang merah termasuk komoditas bernilai ekonomis tinggi sehingga diusahakan dengan cara yang intensif. Hal ini mendorong petani untuk menggunakan pestisida sintetis dalam setiap pengendalian hama dan penyakit karena petani beranggapan bahwa keberhasilan pengendalian hama dan penyakit adalah dengan menggunakan pestisida. Dampak negatif dari pestisida sintetis telah dirasakan seperti timbulnya hama dan penyakit yang tahan pestisida tertentu, resurgensi maupun eksplosi hama sekunder. Dirasakan pula bahwa penggunaan pestisida tertentu menjadi kurang berdaya guna dan berhasil guna, biaya produksi menjadi lebih mahal, pencemaran lingkungan dengan segala akibatnya, tetapi masalah hama dan penyakit tidak terpecahkan dengan memuaskan

(3)

Jurnal Ilmu Pertanian KULTIVAR • Vol. 5 • No. 2 • September 2011

bahkan bertambah kompleks

(Hadisoeganda dkk, 1993).

Timbulnya masalah-masalah akibat penggunaan pestisida kimia ini merangsang penggunaan insektisida non kimia sebagai insektisida yang aman bagi lingkungan dengan memanfaatkan senyawa beracun dari tumbuhan, mikroba, ataupun jamur entomopatogen (Untung, 2001). Jamur entomopatogen merupakan salah satu agent hayati yang potensial untuk mengendalikan hama tanaman. Beberapa jamur entomopatogen yang telah dimanfaatkan untuk mengendalikan hama tanaman perkebunan dan sayuran adalah Metarhizium anisopliae, Beauveria bassiana, Paecilomyces sp., Verticillium sp., dan Spicaria sp. Beberapa kelebihan jamur entomopatogen antara lain mempunyai kapasitas reproduksi yang tinggi, siklus hidup pendek, dapat membentuk spora tahan lama di alam walaupun dalam kondisi yang tidak menguntungkan, relatif aman, bersifat selektif, relatif mudah diproduksi, dan sangat kecil kemungkinannya terjadi resistensi (Setiawati dkk, 2004).

Pestisida botani diartikan sebagai pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan karena terbuat dari bahan alami maka pestisida jenis ini mudah terurai di alam sehingga residunya mudah hilang dan relatif aman bagi manusia. Beberapa tanaman yang dapat digunakan sebagai pestisida botani antara lain mimba, tembakau, mindi, srikaya, mahoni, sirsak, tuba, dan babandotan (Kardinan, 2004).

Berdasarkan uraian diatas maka perlu dilakukan penelitian tentang penggunaan beberapa jamur entomopatogen dan insektisida botani dalam mengendalikan Spodoptera exigua Hubn. pada tanaman bawang merah.

Bahan dan Metode

Penelitian dilaksanakan di lahan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara (BPTP Sumut) Gedung

Johor, Medan dengan ketinggian tempat + 30 m dpl. Penelitian dilaksanakan bulan April 2009 sampai bulan Juni 2009. Adapun bahan yang digunakan adalah umbi bawang merah varietas Kuning, jamur Beauveria bassiana, jamur Metarhizium anisopliae, daun tembakau, daun mimba, daun mindi, air, pupuk kandang, pupuk TSP, pupuk urea, dan pupuk KCl. Adapun alat yang digunakan adalah cangkul, gembor, handsprayer, blender, tugal, meteran, pacak, timbangan, pisau, ember, beaker glass, kain muslin, kalkulator, dan alat tulis. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial dimana terdapat 6 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang digunakan, kontrol (tanpa perlakuan) (N1), Beauveria bassiana dengan kerapatan konidia 108 sebanyak 50 gr/l air (N1), Metarhizhium anisopliae dengan kerapatan konidia 108 sebanyak 50 gr/l air (N2), ekstrak daun mindi 200 gr/l air (N3), ekstrak daun mimba 200 gr/l air (N4), ekstrak daun tembakau 50 gr/l air (N5). Pelaksanaan Penelitian

Pengolahan lahan

Lahan diukur dengan ukuran untuk masing-masing plot seluas 4 x 1,2 m. jarak antar petak dalam 1 ulangan 30 cm dan jarak antara beda ulangan 50 cm. Dibuat parit keliling dengan ukuran 30 cm dan kedalaman 30 cm. Dibersihkan lahan dari gulma-gulma yang ada. Tanah dicangkul hingga gembur dengan kedalaman olah tanah antara 20 - 30 cm. Diatur jarak tanam yaitu 20 x 20 cm dan dibuat lubang tanam dengan menggunakan tugal. S.exigua sebagai sumber infestasi dari tanaman pagar keliling (bawang merah) dan tanaman sekitar diinfestasikan 10 ekor/ plot.

Bibit bawang merah yang digunakan adalah varietas Kuning. Bibit dipilih yang sehat, warna mengkilat, bentuknya kompak atau sama, kulit umbi tidak luka dan telah mengalami masa simpan selama 2-3 minggu

(4)

setelah panen. Umbi yang digunakan adalah umbi yang ukurannya sama.

Umbi bawang merah yang telah dipilih ditanamkan satu persatu pada lubang tanam yaitu dengan jarak tanam 20 x 20 cm. Sebelum umbi bawang merah ditanam, dilakukan pemotongan ujung umbi sepanjang 1/3 bagian. Setelah itu umbi ditanam sehingga 2/3 bagian umbi masuk ke dalam tanah dan posisi suing tidak boleh terbalik. Tanah bedengan lalu disiram dengan air hingga cukup basah (lembab).

Tanaman bawang merah

memerlukan pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik yang diberikan adalah pupuk kandang dengan dosis 100 ton/ha. Pupuk kandang ini diaduk merata dan disebarkan di atas bedengan 3 hari sebelum tanam yaitu pada saat pengolahan tanah. Sedangkan pupuk anorganik yang diberikan adalah pupuk TSP dengan dosis 40 gr/m2 dan pupuk KCl dengan dosis 20 gr/m2 yang diberikan 1 hari sebelum tanam dan pupuk Urea dengan dosis 20 gr/m2 yang diberikan sebanyak 2 kali yaitu pada saat tanaman berumur 10 hari setelah tanam dan saat tanaman berumur 25 hari setelah tanam. Pemupukan diberikan dengan cara ditaburkan pada larikan diantara baris tanaman kira-kira 5 cm.

Penyulaman dilakukan pada awal pertumbuhan hingga umur + 7 hari setelah tanam dengan cara mengganti umbi yang mati atau busuk. Penyiraman tanaman dilakukan berdasarkan umur tanaman. Pada umur tanaman 0-10 hari penyiraman dilakukan 2x sehari pada pagi dan sore hari.

Setelah tanaman berumur lebih dari 10 hari penyiraman dilakukan 1x sehari pada pagi atau sore hari. Penyiangan gulma dari pertanaman dilakukan pada saat umur tanaman 2 minggu dan 4 minggu setelah tanam. Cara menyiang gulma harus hati-hati agar tidak merusak perakaran bawang merah, sebaiknya dicabut dengan tangan secara hati-hati.

Penyediaan Jamur Entomopatogen

Jamur entomopatogen yang digunakan merupakan jamur yang sudah siap pakai berasal dari Balai Penelitian Kelapa Sawit Marihat.. Sebanyak 50 gr biakan jamur dilarutkan dalam 1 liter air, kemudian diaduk hingga rata. Suspensi ini dapat langsung disemprotkan pada tanaman bawang merah di lapangan.

Penyediaan Insektisida Botani

Sebanyak kurang lebih 200 g daun mimba, 200 g daun mindi dan 50 g daun tembakau segar diblender dengan 1 l air. Kemudian dibiarkan selama 1 malam. Lalu larutan disaring dengan kain muslin. Untuk ekstrak daun mindi ditambahkan 1 cc perekat. Kemudian langsung disemprotkan pada tanaman bawang merah.

Aplikasi Jamur Entomopatogen dan Insektisida Botani di Lapangan

Aplikasi jamur entomopatogen dan insektisida botani pada tanaman bawang merah dilakukan setelah tanaman berumur + 14 hari. Penyemprotan insektisida botani dan jamur entomopatogen dilakukan pada sore hari. Penyemprotan jamur entomopatogen dan insektisida botani selama tanam dilakukan sebanyak 5 kali dengan interval penyemprotan 1 minggu sekali.

Panen

Tanaman bawang merah varietas Kuning dapat dipanen pada umur + 56-66 hari. Ciri tanaman yang siap panen adalah leher batang mengeras dan batang telah melemas, daun menguning dan umbi lapis sudah tersembul ke permukaan tanah. Bila sampel tersebut telah mencapai 70-80% dari jumlah tanaman maka panen dapat dilaksanakan. Panen dilaksanakan pada saat cuaca cerah dan tanah kering. Panen dilakukan dnegan cara mencabut tanaman beserta rumpun tanaman dan batangnya. Setelah itu umbi dijemur tapi tidak boleh menghadap cahaya matahari terik melainkan cukup di tempat terlindung saja.

(5)

Jurnal Ilmu Pertanian KULTIVAR • Vol. 5 • No. 2 • September 2011

Pengambilan Sampel Tanaman

Cara pengambilan sampel tanaman dilakukan secara acak pada setiap perlakuan dan sampel yang diambil diganti pada setiap pengamatan. Tanaman yang dijadikan sebagai sampel adalah tanaman yang letaknya tidak berada di barisan terluar. Jumlah sampel tanaman yang diambil adalah sebanyak 5 tanaman per plot. Jumlah tanaman perplot sebanyak 80 tanaman. Peubah Amatan

Persentase serangan

S. exigua

Hubner . Persentase serangan S. exigua Hubner dihitung setiap 1 minggu

sekali dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

P = a x 100% N Dimana :

P = tingkat kerusakan daun (%)

a = jumlah daun terserang/rumpun contoh N = jumlah daun yang diamati/rumpun contoh (Moekasan dkk, 2000).

Produksi hasil

Produksi hasil tanaman bawang merah dapat dihitung dengan menimbang berat bawang merah (kg) yang dipanen dari setiap plot perlakuan.

Hasil dan Pembahasan

Persentase Serangan

S. exigua

Hubn.

Dari analisa sidik ragam menunjukkan bahwa tanaman bawang merah yang diberi perlakuan jamur entomopatogen dan insektisida botani memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase serangan S. exigua Hubn. Untuk mengetahui perlakuan mana yang berbeda nyata, maka dilakukan Uji Jarak Duncan. Rataan persentase serangan Spodoptera exigua Hubn. dapat dilihat pada Tabel 1.

Analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan jamur entomopatogen dan insektisida botani terhadap persentase serangan S. exigua Hubn. pada pengamatan 1 MSA sampai dengan 5 MSA memberikan hasil yang berbeda nyata.

Rata-rata persentase serangan S. exiguaHubn. pada pengamatan 1 MSA (tabel 1) menunjukkan bahwa perlakuan kontrol berbeda nyata dengan perlakuan Beauveria bassiana, Metarhizium anisopliae, daun mimba, daun mindi, dan daun tembakau. Perlakuan B.bassiana berbeda nyata dengan perlakuan kontrol dan M.anisopliae, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan daun mimba, daun mindi, dan daun tembakau, sedangkan perlakuan M.anisopliae berbeda nyata dengan perlakuan kontrol, B.bassiana, daun mimba, daun mindi, daun tembakau. Dimana persentase serangan tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol sebesar 23,85% sedangkan persentase terendah pada perlakuan M. anisopliae sebesar 15,08%. Tabel 1. Rataan Persentase Serangan S. exigua Hubn.

Perlakuan Persentase Serangan (%)

Waktu Pengamatan Minggu Setelah Aplikasi (MSA)

1 MSA 2 MSA 3 MSA 4 MSA 5 MSA

Kontrol

23.85a 24.83a 26.83a 29.40a 34.45a

B. bassiana

16.85b 16.33c 13.28c 9.85c 6.25d

M. anisoplae

15.08c 18.03c 20.18b 19.83b 11.25c

Daun mimba

19.35b 17.65c 19.55b 19.90b 11.15c

Daun mindi

19.38b 19.03b 18.33b 20.28b 14.60b

Daun tembakau

20.55b 21.06b 22.10b 20.40b 15.07b

Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada Uji Jarak Duncan pada taraf 0.05

(6)

Rata- rata persentase serangan S. exigua Hubn. pada pengamatan 2 MSA (tabel 1) menunjukkan bahwa perlakuan kontrol berbeda nyata dengan perlakuan B.bassiana, M. anisopliae, daun mimba, dan daun mindi tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan daun tembakau. Perlakuan B. bassiana berbeda nyata dengan perlakuan kontrol, daun mindi, dan daun tembakau tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan M. anisopliae dan daun mimba. Perlakuan daun mindi berbeda nyata dengan perlakuan kontrol, B. bassiana, M. anisopliae, daun mimba, dan daun tembakau. Dimana persentase serangan tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol sebesar 24,83% sedangkan persentase terendah pada perlakuan B.bassianasebesar 16,33%.

Rata-rata persentase serangan pada pengamatan 3 MSA dan 4 MSA (tabel 1) menunjukkan bahwa perlakuan kontrol berbeda nyata dengan perlakuan B. bassiana, M. anisopliae, daun mimba, daun mindi, dan daun tembakau. Perlakuan B. bassiana berbeda nyata dengan perlakuan kontrol, M. anisopliae, daun mimba, daun mindi, dan daun tembakau. Perlakuan M. anisopliae berbeda nyata dengan perlakuan kontrol dan B.bassianatetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan daun mimba, daun mindi, dan daun tembakau.

Persentase serangan yang tertinggi dan terendah diperoleh pada pengamatan 4 MSA yaitu tertinggi pada perlakuan kontrol sebesar 29,40 % dan terendah pada perlakuan B.bassiana sebesar 9,85%. Rata-rata persentase serangan pada pengamatan 5 MSA (tabel 1) menunjukkan bahwa perlakuan kontrol berbeda nyata dengan perlakuan B.bassiana, M. anisopliae, daun mimba, daun mindi, dan daun tembakau. Perlakuan B.bassiana berbeda nyata dengan perlakuan kontrol, M. anisopliae, daun mimba, daun mindi, dan daun tembakau. Tetapi perlakuan M. anisopliaetidak berbeda nyata dengan perlakuan daun mimba, begitu

juga dengan perlakuan daun mindi tidak berbeda nyata dengan perlakuan daun tembakau. Persentase serangan tertinggi adalah pada kontrol 34,45% dan terendah pada B.bassiana 6,25%.

Rata-rata persentase serangan pada Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan entomopatogen yaitu N1 (Beauveria bassiana) dan N2 (Metarhizium anisopliae) menunjukkan hasil yang berbeda nyata terhadap kontrol (tanpa perlakuan). Hal ini disebabkan karena jamur entomopatogen dapat membunuh larva Spodoptera exigua Hubn. dengan menghisap cairan tubuh serangga dan merusak saluran pencernaan serangga serta dapat menghasilkan toksin yang dapat menyebabkan kematian Mahr (2003) menyatakan bahwa B. bassiana dapat mengeluarkan hifa yang menghasilkan enzim kitinase, lipase dan proteinase yang mampu menguraikan komponen penyusun kutikula serta menghasilkan toksin beurerisin, beuveroloit, bassialit, isorolit dan asam oksalat yang dapat menyebabkan kenaikan pH, penggumpalan serta terhentinya peredaran darah serta merusak saluran pencernaan, otot, system syaraf, dan pernapasan yang pada akhirnya menyebabkan kematian. Jamur M. anisopliae menghasilkan hifa yang mengadakan penetrasi pada kutikula serangga dan berkembang di dalam tubuh serangga serta menghasilkan destruksin yang dapat membunuh serangga dalam beberapa hari (Anonimus, 2006a).

Pada perlakuan dengan menggunakan insektisida botani, setelah pada pengamatan 3 MSA sampai 5 MSA semua perlakuan insektisida botani yaitu N3 (mimba), N4, (mindi) dan N5 (tembakau) menunjukkan hasil yang berbeda nyata dengan kontrol. Hal ini disebabkan karena insektisida botani mempunyai kemampuan sebagai penghambat makan dan racun perut sehingga akhirnya serangga mati kelaparan. Sudarmadji (1993) menyatakan bahwa

(7)

Jurnal Ilmu Pertanian KULTIVAR

mimba mengandung senyawa aktif azadirachtin yang tidak langsung membunuh namun akhirnya mematikan serangga melalui mekanisme menolak makan, mengganggu pertumbuhan dan reproduksi. Anonimus (2006a) juga menyatakan bahwa mindi mempunyai kadungan bahan aktif yang sama dengan mimba yang berfungsi untuk mencegah makan, dan

sistem hormon serangga. Dan Soeharjan (1993) menyatakan bahwa tembakau yang berbahan aktif nikotin dapat berfungsi sebagai racun perut bagi serangga.Untuk lebih jelas hasil persentase serangan Spodoptera exigua Hubn. dapat dilihat pada grafik Gambar 3.

Dari grafik di atas dapat dilihat pada pengamatan 1 MSA persentaseserangan tertinggi adalah pada perlakuan kontrol sebesar 23,85% dan terendah pada perlakuan M.anisopliae sebesar 15,08%. Pada pengamatan 2 MSA, persentase serangan tertinggi adalah pada perlakuan kontrol sebesar 24,83% dan terendah pada perlakuan B.bassiana 16,33%. Pada

Gambar 3 : Grafik Persentase serangan

Keterangan : 1. N0 : Kontrol ( tanpa perlakuan) 2. N1 : Beuveria bassiana

3. N2 : Metarhizium anisopliae 4. N3 : Mimba 200 gr/ 5. N4 : Mindi 200 gr/ 6. N5 : Tembakau 50 gr /

Pertanian KULTIVAR • Vol. 5 • No. 2 • September 2011

mimba mengandung senyawa aktif g membunuh namun akhirnya mematikan serangga melalui mekanisme menolak makan, mengganggu pertumbuhan dan reproduksi. Anonimus (2006a) juga menyatakan bahwa mindi mempunyai kadungan bahan aktif yang sama dengan mimba yang berfungsi pengganggu sistem hormon serangga. Dan Soeharjan (1993) menyatakan bahwa tembakau yang berbahan aktif nikotin dapat berfungsi sebagai racun perut bagi serangga.Untuk lebih jelas hasil persentase serangan Hubn. dapat dilihat pada Dari grafik di atas dapat dilihat pada pengamatan 1 MSA persentaseserangan tertinggi adalah pada perlakuan kontrol sebesar 23,85% dan terendah pada sebesar 15,08%. Pada pengamatan 2 MSA, persentase serangan tertinggi adalah pada perlakuan kontrol sebesar 24,83% dan terendah pada 16,33%. Pada

pengamatan 3 MSA persentase tertinggi adalah kontrol sebesar 26,83% dan terendah B.bassiana13,28%. Pada pengamatan 4 MSA persentase tertinggi adalah kontrol sebesar 29,40% dan terendah adalah

9,85%. Pada pengamatan 5 MSA persentase serangan tertinggi adalah pada perlakuan kontrol yaitu sebesar 34,45% dan persentase serangan terendah adalah pada

yaitu sebesar 6,25%.

Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa persentase serangan tertinggi dan terendah dari seluruh pengamatan yang telah dilakukan didapat pada pengamatan terakhir yaitu pada pengamatan 5 MSA. Dimana persentase tertinggi adalah pada perlakuan kontrol sebesar 34,45% dan persentase terendah pada perlakuan B.bassiana

6,25%. Persentase serangan terendah yang diperoleh dari seluruh pengamatan adalah pada perlakuan N1 yaitu dengan menggunakan jamur entomopatogen

Beauveria bassiana

Gambar 3 : Grafik Persentase serangan Spodoptera exigua Hubn. 1. N0 : Kontrol ( tanpa perlakuan)

Beuveria bassiana50 gr/l air Metarhizium anisopliae50 gr/l air Mimba 200 gr/l air

5. N4 : Mindi 200 gr/l air 6. N5 : Tembakau 50 gr /l air

pengamatan 3 MSA persentase tertinggi adalah kontrol sebesar 26,83% dan terendah 13,28%. Pada pengamatan 4 MSA persentase tertinggi adalah kontrol sebesar 29,40% dan terendah adalah B.bassiana 9,85%. Pada pengamatan 5 MSA persentase serangan tertinggi adalah pada perlakuan kontrol yaitu sebesar 34,45% dan persentase adalah pada B.bassiana Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa persentase serangan tertinggi dan terendah dari seluruh pengamatan yang telah dilakukan didapat pada pengamatan terakhir atan 5 MSA. Dimana persentase tertinggi adalah pada perlakuan kontrol sebesar 34,45% dan persentase B.bassiana sebesar 6,25%. Persentase serangan terendah yang diperoleh dari seluruh pengamatan adalah pada perlakuan N1 yaitu dengan menggunakan jamur entomopatogen

(8)

Dari penelitian ini didapat bahwa jamur B. Bassiana walaupun dengan dosis yang sama dengan jamur M. anisopliae ternyata B. bassiana lebih efektif untuk mengurangi persentase serangan Spodoptera exigua Hubn. Sedangkan insektisida botani kurang efektif dibandingkan dengan penggunaan jamur entomopatogen. Hal ini dikarenakan insektisida botani yang digunakan bersifat sebagai racun perut dan penghambat makan sehingga kematian serangga berjalan lebih lama. Sudarmadji (1993) menyatakan bahwa azadirachtin yang terkandung pada mimba tidak langsung membunuh serangga, namum akhirnya dapat mematikan melalui mekanisme menolak makan yang pada akhirnya menyebabkan serangga mati kelaparan, mengganggu pertumbuhan dan reproduksi. Senyawa ini mampu berfungsi untuk mengontrol proses metamorfosis serangga. Jamur entomopatogen masuk kedalam tubuh serangga setelah hifa jamur menempel pada tubuh serangga. Dan di dalam tubuh serangga jamur mengadakan penetrasi, mengeluarkan enzim-enzim yang dapat membunuh serangga dan menghisap cairan tubuh serangga. Mahr (2003) menyatakan

jamur yang menempel pada kulit serangga akan langsung mengadakan penetrasi. Hifa jamur yang masuk mengeluarkan enzim kitinase, lipase dan proteinase yang mampu menguraikan komponen penyusun kutikula serangga, dan juga menghasilkan toksin yang dapat menyebabkan penggumpalan sehingga terhentinya peredaran darah serta merusak saluran penceranaan, pernapasan yang dapat menyebabkan kematian serangga.

Kematian serangga yang diakibatkan oleh penggunaan jamur entomopatogen dan insektisida botani pada penelitian ini secara langsung menyebabkan penurunan persentase serangan S. exigua di lapangan pada setiap minggunya.

Produksi

Dari hasil analisis sidik ragam diperoleh produksi bawang merah menunjukkan hasil yang signifikan. Rataan produksi bawang merah dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah ini.

Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa produksi bawang merah menunjukkan hasil yang berbeda nyata. Perlakuan kontrol menghasilkan produksi yang berbeda nyata dengan perlakuan B.bassiana, M. anisopliae,

N3, N4 dan daun tembakau.

Tabel 2 : Data produksi bawang merah (ton/ha).

Perlakuan I II UlanganIII IV Total Rataan

Kontrol B. bassiana M. anisoplae Daun mimba Daun mindi Daun tembakau 7.80 12.50 11.60 9.60 10.10 8.98 8.20 13.00 10.00 10.00 9.90 9.84 5.30 11.50 10.50 8.80 7.86 7.96 6.50 12.00 9.50 11.35 8.95 8.50 27.80 49.00 41.60 39.75 36.81 35.28 6.95d 12.25a 10.40b 9.94b 9.20b 8.82c Total 60.58 60.94 51.92 56.80 230.24 Rataan 10.10 10.16 8.65 9.47

Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada Uji Jarak Duncan pada taraf 0.05

(9)

Jurnal Ilmu Pertanian KULTIVAR

Hasil produksi pada perlakuan bassiana berbeda nyata dengan

perlakuan M. anisopliae, daun mimba, daun mindi, dan daun tembakau.

perlakuan M. anisopliae, daun mimba dan daun mindi tidak berbeda nyata

lain, namun berbeda nyata dengan produksi perlakuan lain. Hasil produksi perlakuan daun tembakau berbeda nyata dengan hasil produksi perlakuan lainnya.

Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa rataan produksi tertinggi didapat pada perlakuan B. bassiana yaitu sebesar 12,25 ton/ha, sedangkan rataan produksi terendah pada N0 yaitu sebesar 6,95 ton/ha. Hal ini dapat terjadi karena persentase serangan pada perlakuan N0 (kontrol) selalu mengalami peningkatan setiap minggunya sehingga mempengaruhi hasil produk karena berkurangnya jumlahdaun akibat serangan S. exigua yang secara langsung mempengaruhi hasil produksi bawang merah. Dimana daun berfungsi untuk fotosintesis dan menghasilkan zat makanan untuk pembentukkan umbi bawang merah. Sementara pada perlakuan

persentase serangan S. exigua

mengalami penurunan pada setiap minggunya dan persentase serangan adalah yang terendah sehingga produksi umbi yang dihasilkan lebih banyak dibandingkan dengan kontrol ataupun dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Untuk lebih jelas hasil produksi bawang merah dapat dilihat pada grafik Gambar 4.

Gambar 4. Grafik pemberian jamur entomopatogen dan insektisida botani terhadap rataan produksi bawang merah.

Pertanian KULTIVAR • Vol. 5 • No. 2 • September 2011

Hasil produksi pada perlakuan B. berbeda nyata dengan produksi daun mimba, daun mindi, dan daun tembakau. Produksi , daun mimba dan daun mindi tidak berbeda nyata satu sama lain, namun berbeda nyata dengan produksi perlakuan lain. Hasil produksi perlakuan daun tembakau berbeda nyata dengan hasil abel 2 dapat dilihat bahwa rataan produksi tertinggi didapat pada yaitu sebesar 12,25 ton/ha, sedangkan rataan produksi terendah pada N0 yaitu sebesar 6,95 ton/ha. Hal ini dapat terjadi karena persentase serangan pada perlakuan N0 (kontrol) selalu mengalami peningkatan setiap minggunya sehingga mempengaruhi hasil produksi karena berkurangnya jumlahdaun akibat yang secara langsung mempengaruhi hasil produksi bawang merah. Dimana daun berfungsi untuk fotosintesis dan menghasilkan zat makanan untuk pembentukkan umbi bawang merah. Sementara pada perlakuan B. bassiana S. exigua selalu mengalami penurunan pada setiap minggunya dan persentase serangan adalah yang terendah sehingga produksi umbi yang dihasilkan lebih banyak dibandingkan dengan kontrol ataupun dibandingkan innya. Untuk lebih jelas hasil produksi bawang merah dapat dilihat

Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa rataan produksi bawang merah tertinggi didapat pada perlakuan B.bassiana yaitu sebesar 12,25 ton/ha sedangkan rataan produksi t

pada N0 yaitu sebesar 6,95 ton/ha. Rataan produksi perlakuan M. anisopliae

ton/ha, perlakuan daun mimba 9,94 ton/ha, perlakuan daun mindi 9,20 ton/ha, dan perlakuan daun tembakau 8,82 ton/ha.

Kesimpulan

1. Setiap perlakuan yang digunakan memberikan pengaruh yang nyata terdapat persentase serangan

exiguaHubn.

2. Persentase serangan S. exigua

tertinggi adalah 34,45% pada perlakuan Kontrol dan terendah adalah 6,25% pada perlakuan B.bassiana.

3. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa yang lebih efektif dalam mengurangi persentase serangan

Hubn. adalah penggunaan

bassiana (6,25%) dibandingkan dengan penggunaan Mettarhizium anisopliae (11,25%), daun mimba (11,15%), daun mindi (14,60%), dan daun tembakau (15,70%).

4. Rataan produksi bawang merah tertinggi diperoleh pada perlakuan

yaitu sebesar 12,25 ton/ha dan produksi terendah pada perlakuan kontrol yaitu 6,95 ton/ha.

Grafik pemberian jamur entomopatogen dan insektisida botani terhadap rataan produksi bawang merah.

Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa rataan produksi bawang merah tertinggi didapat yaitu sebesar 12,25 ton/ha sedangkan rataan produksi terendah pada N0 yaitu sebesar 6,95 ton/ha. Rataan M. anisopliae 10,40 ton/ha, perlakuan daun mimba 9,94 ton/ha, perlakuan daun mindi 9,20 ton/ha, dan perlakuan daun tembakau 8,82 ton/ha.

Setiap perlakuan yang digunakan memberikan pengaruh yang nyata terdapat persentase serangan Spodoptera S. exigua Hubn tertinggi adalah 34,45% pada perlakuan Kontrol dan terendah adalah 6,25% hasil penelitian menunjukkan bahwa yang lebih efektif dalam mengurangi persentase serangan S.exigua Hubn. adalah penggunaan Beauveria (6,25%) dibandingkan dengan Mettarhizium anisopliae (11,25%), daun mimba (11,15%), daun , dan daun tembakau Rataan produksi bawang merah tertinggi diperoleh pada perlakuan B.bassiana yaitu sebesar 12,25 ton/ha dan produksi terendah pada perlakuan kontrol yaitu

(10)

Daftar Pustaka

Anonimus, 2006a. Metarhizium anisopliae.

Diakses dari:

http://en.wikipedia.org/wiki/metarhi zium_anisopliae. (10 Desember 2006). ________, 2006b. Mindi. Diakses dari:

http://www.mail-archive_com. (11 April 2007).

________, 2007a. Ulat Bawang. Spodoptera exigua Hubn. Diakses dari:

http://www.deptan.go.id/ditlinhorti/ opt/bw_merah/ult_daun. (11 April 2007).

________, 2007b. Spodoptera exigua Hubn.

Diakses dari:

http://en.wikibooks.org/wiki_A_wiki manual_of_Gardening/Spodoptera_

exigua. (11 April 2007).

Cloyd, R.A., 2004. The Entomopathogenic Fungus Metarhizium anisopliae. University of Illnois. Diakses dari: http://www.entomology.wisc.edu/mb cn/kyf607.html. (10 Desember 2006). Hadisoeganda, W.W., Euis Suryaningsih dan

Tony K. Moekasan, 1995. Penyakit dan Hama Bawang Merah dan Cara Pengendaliannya. Dalam Teknologi Bawang Merah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta. Hlm.12-13.

Kalshoven, L.G.E., 1981. Pest of Crop In Indonesia. P.T. Ichtiar Baru. Van Hoeve, Jakarta. P. 350.

Kardinan, A., 2004. Pestisida Nabati, Ramuan dan aplikasi. Penebar Swadaya, Jakarta. Hlm. 60-65.

Litbang, 2008. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Bawang

Merah. Diakses dari:

http://www.litbang.deptan.go.id. (10 November 2008).

Mahr, S., 2003. The Entomopathogen Beauveria bassiana. University of Wisconsin, Madison. Diakses dari: http://www.entomology.wisc.edu/mb cn/kyf410.html. (10 Desember 2006). Mau, R.F.L., and J.L.M. Kessing, 1991.

Spodoptera exigua (Hubner) Beet Army Worm. Departement of Entomology. Honollulu, Hawaii. Diakses dari:

http://www.extento.hawai.edu/k.base /crop/type/spodoptera.htm. (11 April 2007).

Moekasan, T.K., L. Prabaningrum, dan M.L. Ratnawati, 2000. Penerapan PHT pada Sistem Tanaman Tumpang Gilir Bawang Merah dan Cabai. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta. Hlm. 4-5, 30.

Rukmana, R., 1994. Bawang Merah, Budidaya dan Pengelolaan Pasca Panen. Kanisius, Yogyakarta. Hlm. 1 5-18, 30, 39.

Setiawati, W.T., S. Uhan dan B.K. Udarto, 2004. Pemanfaatan Musuh Alamidalam Pengendalian Hayati Hama pada Tanaman Sayuran. BalaiPenelitian Tanaman Sayuran.

Pusat Penelitian dan

PengembanganHortikultura. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta. Hlm. 30-31.

Soehardjan, M., 1993. Penggunaan, Permasalahan serta Prospek Pestisida Nabati dalam PHT. Dalam Prosiding Seminar Hasil Penelitian dalam

(11)

Jurnal Ilmu Pertanian KULTIVAR • Vol. 5 • No. 2 • September 2011

Rangka Pemanfaatan Pestisida Nabati. Bogor 1-2 Desember 1993. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Jakarta. Hlm. 6-7, 8-9.

Sudarmadji, D., 1993. Prospek dan Kendala dalam Pemanfaatan Mimba sebagai Insektisida Nabati. Dalam Prosiding Seminar Hasil Penelitian dalam Rangka Pemanfaatan Pestisida Nabati. Bogor 1-2 Desember 1993. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Jakarta. Hlm. 223-224.

Suwandi, 1995. Pengenalan Bawang Merah. Dalam Teknologi Bawang Merah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. Badan Penelitian dan

Pengembangan Pertanian, Jakarta. Hlm. 1.

Untung, K., 2001. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Fakultas Pertanian. UGM Press, Yogyakarta. Hlm. 223. Wibowo, S., 1995. Budidaya Bawang.

Bawang Merah, Bawang Putih dan Bawang Bombay. Penebar Swadaya, Jakarta. Hlm. 85, 88-93.

Widayat, W., 1993. Pengaruh Lamanya Waktu Perendaman Serbuk Daun dan Biji Mimba (Azadirachta indica) terhadap Ulat Jengkal. Dalam Prosiding Seminar Hasil Penelitian dalam Rangka Pemanfaatan Pestisida Nabati. Bogor 1-2 Desember 1993. badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Jakarta. Hlm. 209.

(12)

Gambar

Tabel 1. Rataan Persentase Serangan S. exigua Hubn.
Gambar 3 : Grafik Persentase serangan
Tabel 2 : Data produksi bawang merah (ton/ha).
Gambar 4. Grafik pemberian jamur entomopatogen dan insektisida botani terhadap rataan produksi bawang merah.

Referensi

Dokumen terkait

Alasan tersebut antara lain karena perawat merasa kurang nyaman dengan kehidupan spiritualnya, kurang menganggap penting kebutuhan spiritual, tidak mendapatkan pendidikan

meninggalnya sitertuduh, kadaluarsa, penyelesaian diluar pengadilan, daya paksa, pembelaan terpaksa, melaksanakan perintah Undang-Undang, melaksanakan perintah jabatan yang

Teknik analisis yang data yang digunakan adalah analisis regresi linier ganda, uji keberartian regresi linier ganda (uji F) dan uji keberartian koefisien regresi

“Peningkatan Motivasi dan Keterampilan Proses Belajar Matematika pada Materi Garis dan Sudut Melalui Pembelajaran Student Teams Achievement Divisians (STAD) Pada Siswa Kelas

Trait personaliti yang berbeza antara pelajar ekstrovert-introvert menjadikan mereka mempunyai tahap nilai yang berbeza di dalam dua dimensi nilai iaitu estetika dan

Menurut Imam Malik ‘iddah bagi wanita yang tidak mengalami haid sedang ia masih dalam usia haid dan tidak ada keraguan adanya kehamilan atau sebab lain (menyusui atau sakit), maka

Pada studi proses-proses reversibel, yang diobservasi saat pemanasan dan pendinginan sampel, sangat umum untuk mengamati histeresis; misalnya, eksoterm yang tampak

Di akhir tahun 2002, daftar bank yang bergabung dalam jaringan debit switching kami mencakup Bank Ekonomi, Bank Muamalat, Bank Mayapada dan Bank Bumi Arta.. Selain itu, sejak