• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 METODE PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 3 METODE PENELITIAN"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilakukan di PT. SGSR Manduamas yang terletak di Kab. Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Penelitian ini berlangsung dari bulan Januari-September 2019.

3.2 Rancangan Penelitian

Penelitian ini digunakan dengan menggunakan metode FMEA ataupun studi kasus dengan mengamati, mewawancarai, mencatat dan merangkum data maintenance meliputi data stagnasi dari buku jurnal harian mandor selama tiga tahun dari Januari 2016-Desember 2018 untuk seluruh mesin di pabrik kelapa sawit.

3.3 Alat dan Bahan

a. Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah unit yang ada di stasiun klarifikasi.

b. Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah data Maintenance dan data Stagnasi pada stasiun Klarifikasi dari bulan Januari 2016-Desember 2018.

3.4 Tahapan Penelitian

Adapun tahapan penelitian dengan teknik pengumpulan data dengan mengamati, mencatat, merangkum data stagnasi dan data kerusakan dari buku jurnal harian mandor maintenance selama tiga tahun dari bulan Januari 2016 sampai Desember 2018. Data tersebut di kelompokkan berdasarkan stasiun dengan menggunakan diagram pareto. Dari hasil pengelompokkan data dengan diagram pareto, didapatkan jenis kerusakan yang menyebabkan stagnasi pada stasiun klarifikasi. Setelah didapatnya data tersebut selama tiga tahun pada stasiun klarifikasi, maka dilanjutkan dengan wawancara yang

(2)

merupakan bagian dari proses pengerjaan FMEA, yang diwawancarai adalah pihak yang dianggap expert di divisi operation dan maintenance pada pabrik kelapa sawit mengenai jenis kerusakan yang menyebabkan stagnasi pada stasiun klarifikasi selama tiga tahun. Pihak–pihak yang menjadi responden dalam wawancara ini adalah Operator Klarifikasi, Mandor Maintenance, Asisten Process dan Asisten Maintenance. Setelah mendapatkan hasil wawancara, maka didapat nilai Risk Priority Number (RPN) tertinggi, kemudian nilai tertinggi dari RPN dibuat diagram fishbone untuk mengetahui kemungkinan penyebab dari kerusakan alat dan mesin tersebut.

3.4.1 Pengumpulan Data Primer

Data primer adalah data yang diamati, dicatat dan diperoleh langung dari sumbernya. Data tersebut belum diolah sebelumnya misalnya data penilaian responden terhadap kemampuan untuk mendeteksi suatu kegagalan sebelum kegagalan tersebut terjadi. Adapun data primer dalam penelitian ini adalah data wawancara.

a. Data Wawancara

Data wawancara diperoleh langsung dari sumbernya untuk mendapatkan nilai severity, occurance dan detection. Setelah mendapatkan jenis kerusakan pada stasiun klarifikasi penulis melakukan wawancara dengan pihak yang dianggap expert di divisi operation dan maintenance pada pabrik kelapa sawit mengenai jenis kerusakan yang terjadi di stasiun klarifikasi selama 3 tahun. Kemudian bagaimana tanggapan responden terhadap kemampuan mendeteksi kegagalan tersebut. Pihak-pihak yang menjadi responden dalam wawancara ini adalah Asisten Maintenance, Asisten Proses, Mandor Maintenance dan Operator Stasiun Klarifikasi.

(3)

3.4.2 Pengumpulan Data Sekunder

Data Sekunder yaitu data yang diperoleh dari sumber penelitian yang bisa berasal dari buku-buku ilmiah, artikel dan data yang berasal dari tempat penelitian itu sendiri seperti sejarah perusahaan, struktur organisasi perusahaan, data stagnasi perusahaan dan data maintenance perusahaan. sekunder dari penelitian ini adalah data kerusakan dan data stagnasi di PT SGSR Sirandorung, dari Januari 2016 sampai Desember 2018.

3.4.3 Pengolahan Data Penilitian

Pengolahan data penelitian menggunakan diagram pareto dilakukan untuk menemukan alat atau mesin yang mengalami stagnasi dan menggunakan metode Failures Modes and Effect Analysis (FMEA) untuk mengetahui nilai kritis dan menemukan komponen yang termasuk di dalam nilai kritis tersebut.

3.5 Pengamatan dan Indikator

Indikator pengolahan data tersebut menggunakan metode Failure Modes and Effect Analysis (FMEA), bertujuan untuk menemukan permasalahan utama yang terjadi pada setiap tahapan dari proses produksi serta mendapatkan risik-risiko kritis yang akan dianalisa lebih lanjut. Resiko kritis tersebut diperoleh setelah dilakukan perhitungan Risk Priority Number (RPN) untuk setiap risiko yang telah teridentifikasi.

1. Identifikasi Resiko

Identifikasi resiko merupakan proses dalam menentukan apa, kenapa dan bagaimana suatu resiko dapat terjadi. Tujuan dari proses ini adalah untuk mengenali resiko yang mungkin terjadi lebih awal sehingga dapat mengurangi atau meminimalisir keterkejutan akibat resiko tersebut.

2. Penentuan Rating Severity, Occurrence dan Detection

Dalam penentuan rating severity, occurrence dan detection pada metode Failure Modes and Effect Analysis (FMEA) ada 3 hal yang membantu menentukan dari gangguan antara lain :

(4)

a. Severity (Keparahan)

Severity adalah penilaian terhadap keparahan dari efek yang ditimbulkan. Dalam arti setiap kegagalan yang timbul akan dinilai seberapa besarkah tingkat keparahannya. Terdapat hubungan secara langsung antara efek yang kritis, maka nilai severity. Sebagai contoh, apakah efek yang terjadi adalah efek yang kritis, maka nilai severity pun akan tinggi. Dengan demikian apabila efek yang terjadi bukan merupakan efek yang kritis, maka nilai severity pun akan sangat rendah. Skala yang digunakan mulai dari rating 1-10, yang mana semakin tinggi skala maka semakin parah efek yang ditimbulkan, tabel dapat dilihat pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Skala Penilaian untuk Severity

Sumber : Peter S. Pande, 2000.

Kuantitas Keparahan Kualitas

1 Tidak ada efek Tidak ada efek.

2 Sangat Kecil Efek yang diabaikan pada kinerja sistem. 3 Kecil Sedikit berpengaruh pada kinerja sistem. 4 Sangat rendah Efek yang kecil pada performa sistem.

5 Rendah Mengalami penurunan kinerja secara bertahap.

6 Sedang Beroperasi dan aman tetapi mengalami Penurunan performa sehingga mempengaruhi.

7 Tinggi Sistem beroperasi tetapi tidak dapat Dijalankan secara penuh.

8 Sangat Tinggi Sistem tidak beroperasi.

9

Berbahaya dengan peringatan

Kegagalan sistem yang menghasilkan efek berbahaya.

10 Berbahaya tanpa peringatan

Kegagalan sistem yang menghasilkan efek berbahaya.

(5)

b. Occurance (Frekuensi)

Occurrence adalah seberapa sering kemungkinan penyebab tersebut akan terjadi dan menghasilkan bentuk kegagalan selama masa penggunaan produk. Occurrence merupakan nilai rating yang disesuaikan dengan frekuensi yang diperkirakan dan atau angka kumulatif dari kegagalan yang dapat terjadi. Skala yang digunakan mulai dari rentang 1-10.Skala 1 menyatakan kekerapan terjadinya risiko sangat rendah sementara skala 10 menyatakan kekerapan terjadinya risiko sangat tinggi, tabel dapat dilihat pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2 Skala Penilaian untuk Occurance

Kuantitas Kekerapan Kualitas Tingkat Kejadian Kegagalan

1 Hampir tidak pernah

Kerusakan hampir tidak pernah terjadi

Proses berada dalam kendali tanpa melakukan penyesuaian

2 Remote Kerusakan jarang terjadi Prosesberada dalam pengendalian, hanya membutuhkan sedikit penyesuaian. 3 Sangat sedikit Kerusakan yang terjadi sangat sedikit

Proses telah berada diluar kendali, beberapa penyesuaian diperlukan

4 Sedikit

Kerusakan yang terjadi sedikit

Kurang dari 30 menit downtime/ tidak downtime sama sekali.

5 Rendah Kerusakan yang terjadi pada tingkat masalah 30-60 menit downtime 6 Medium Kerusakan yang terjadi pada tingkat Medium 1-2 jam downtime

(6)

7 Agak Tinggi Kerusakan yang

terjadi agak tinggi 2-4 jam downtime

8 Tinggi Kerusakan yang

terjadi tinggi 4-8 jam downtime

9 Sangat Tinggi

Kerusakan yang terjadi sangat tinggi

Lebih dari 8 jam Downtime

10 Hampir selalu Kerusakan selalu

terjadi Lebih dri 100 kali Sumber : Peter S. Pande, 2000.

c. Detection (Tingkat Deteksi)

Dalam menentukan tingkat deteksi ini dapat ditentukan dari kemampuan bagaimana kegagalan tersebut dapat diketahui sebelum terjadi. Tingkat deteksi juga dapat dipengaruhi dari banyaknya kontrol dan prosedur yang mengatur jalannya sistem penanganan operasional.

Tabel 3.3 Skala Penilaian untuk Detection

Kuantitas Deteksi Kualitas

1 Hampir Pasti

Perawatan Preventive akan selalu mendeteksi penyebab potensial atau mekanisme kegagalan dan

modekegagalan.

2 Sangat Tinggi

Perawatan Preventive memiliki kemungkinan sangat tinggi untuk mendeteksi penyebab potensial atau

mekanisme kegagalan dan mode kegagalan.

3 Tinggi

Perawatan Preventive memiliki kemungkinan tinggi untuk mendeteksi

(7)

penyebab potensial atau mekanisme kegagalan dan mode kegagalan.

4 Moderately High

Perawatan Preventive memiliki

kemungkinan “Moderately High/menengah keatas” untuk mendeteksi penyebab potensial atau mekanisme kegagalan dan mode kegagalan.

5 Moderate

Perawatan Preventive memiliki

kemungkinan “ Moderately sedang” untuk mendeteksi penyebab potensial atau

mekanisme kegagalan dan mode kegagalan.

6 Rendah

Perawatan Preventive memiliki

kemungkinan rendah untuk mendeteksi penyebab potensial atau mekanisme kegagalan dan mode kegagalan.

7 Sangat Rendah

Perawatan Preventive memiliki kemungkinan sangat rendah untuk mendeteksi penyebab potensial atau mekanisme kegagalan dan modekegagalan.

8 Kecil

Perawatan Preventive memiliki

kemungkinan remote untuk mendeteksi penyebab potensial atau mekanisme kegagalan dan modekegagalan.

9 Sangat Kecil

Perawatan Preventive memiliki kemungkinan very remote untuk mendeteksi penyebab potensial atau mekanisme kegagalan danmode kegagalan.

10 Tidak Pasti

Perawatan Preventive memiliki kemungkinan Non Detectable untuk

(8)

mendeteksi penyebab potensial atau mekanisme kegagalan dan

mode kegagalan. Sumber : Peter S. Pande, 2000.

(9)

3.6 Bagan Alur Penelitian

Gambar 3.1 Bagan Alur Penelitian Mulai Studi Literatur Data Sekunder Pengambilan Data Pengolahan Data Analisa Data Kesimpulan Selesai

(10)

3.7 Jadwal Penelitian

Tabel 3.4 Jadwal Penelitian

No Jenis Kegiatan Bulan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 Pengajuan Judul 2 Studi Literatur 3 Pembuatan Proposal 4 Pengambilan Data 5 Analisa Data 6 Penyusunan Laporan

Gambar

Tabel 3.1 Skala Penilaian untuk Severity
Tabel 3.2 Skala Penilaian untuk Occurance
Tabel 3.3 Skala Penilaian untuk Detection
Gambar 3.1 Bagan Alur Penelitian Mulai Studi Literatur  Data  Sekunder Pengambilan Data Pengolahan Data Analisa Data Kesimpulan Selesai
+2

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini menggunakan komposisi bahan baku tandan kosong kelapa sawit (TKKS), dan kulit durian yang bertujuan untuk mendapatkan nilai kalor yang tinggi

Pada penelitian ini variabel terikatnya yaitu uji kuat impak charpy papan komposit berbahan baku serat pelepah kelapa sawit yang akan digunakan sebagai bahan pembuatan papan

Divisi Product Owner yaitu Divisi Infrastruktur Telekomunikasi (INFRATEL), Divisi Multimedia (DIV MEDIA), Divisi Media Akses (DIVA) dan Divisi Fixed Wireless (DFWN) 5

Penyisihan Kandungan Padatan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit dengan Bioreaktor Hibrid Anaerob Bermedia Cangkang Sawit.. Metode

Analisis tanah terhadap jumlah kadar hara nitrogen (N) total pada pembibitan kelapa sawit di pembibitan Main Nursery yang telah diaplikasi dengan pupuk cair organik

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu bibit kelapa sawit berumur 4 bulan dari PPKS dengan varietas D x P Dumpy, tanah Ultisol dari Kecamatan Galang,

Pada pengukuran pelepah ke 5 atau pelepah pada sudut 90 o menggunakan alat bantu yaitu tongkat yang terbuat dari pelepah kelapa sawit sepanjang 1,5 meter dan pada

3.4.7 Peletakkan Hama Ulat Api (Setothosea asigna) di Bibit Main Nursery Larva ulat api (Setothosea asigna) diletakkan didaun bibit kelapa sawit main nursery dengan jumlah