• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bahan Ajar_Pengantar Filsafat Ilmu.pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Bahan Ajar_Pengantar Filsafat Ilmu.pdf"

Copied!
143
0
0

Teks penuh

(1)

PENGANTAR

FILSAFAT ILMU

Oleh: Miswanto

SEKOLAH TINGGI AGAMA HINDU (STAH)

SHANTIKA DHARMA MALANG

(2)

ii Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto

KATA PENGANTAR

Oý Swastyastu

Puja dan puji astuti senantiasa saya haturkan kepada Isa Sang Hyang Widdhi Wasa karena penulisan buku berjudul ‚Pengantar Filsafat Ilmu‛ ini dapat terselesaikan. Buku ini disusun sebagai pegangan dan bahan ajar mata Filsafat Ilmu untuk mahasiswa STAH Shantika Dharma Malang.

Meskipun penuh dengan keterbatasan, buku ini diharapkan dapat menjadi pendamping bagi mahasiswa dalam menyelami ilmu pengetahuan. Untuk itu saya tetap berharap kepada segenap mahasiswa untuk mencari sumber atau referensi lain.

Isi bahan ajar ini mencakup materi pokok mata kuliah Filsafat Ilmu yakni: manusia, berpikir, dan pengetahuan; ilmu filsafat; ilmu pengetahuan; dan filsafat ilmu. Bahan ajar ini dapat digunakan sebagai salah satu literatur di bidang filsafat ilmu dan penelitian dalam bidang keilmuan lainnya.

Pada kesempatan ini penyusun menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusun dalam menyelesaikan bahan ajar ini. Mudah-mudahan bahan ajar ini dapat memberikan sedikit manfaat bagi para mahasiswa pada umumnya yang mengambil mata kuliah Filsafat Ilmu di STAH Shantika Dharma Malang.

Saya menyadari bahwa penulisan buku ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu saya sangat berharap kritik dan saran yang konstruktif bagi penyempurnaan bahan ajar ini. Semoga bisa memberikan manfaat untuk semua yang telah membaca karya sederhana ini. Om Úiddhirastu Tat Astu Swàhà.

Oý Úàntiá Úàntiá Úàntiá Oý.

Malang, September 2015

(3)

Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto iii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR GAMBAR ... vi

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Maksud dan Tujuan... 4

C. Sistimatika... 4

D. Silabus ... 5

BAB II. MANUSIA, BERPIKIR, DAN PENGETAHUAN ... 7

A. Makna menjadi Manusia ... 7

B. Makna Berpikir ... 12

C. Makna Pengetahuan ... 15

D. Berpikir dan Pengetahuan ... 17

BAB III. ILMU FILSAFAT ... 20

A. Pengertian Filsafat ... 20

B. Ciri-ciri Filsafat ... 24

C. Objek Filsafat ... 25

D. Sistimatika Filsafat... 26

E. Cabang-cabang Filsafat ... 27

F. Pendekatan dalam Mempelajari Filsafat ... 29

G. Sudut Pandang terhadap Filsafat ... 30

H. Sejarah Singkat Filsafat ... 30

BAB IV. ILMU PENGETAHUAN ... 37

A. Pengertian Ilmu dan Ilmu Pengetahuan ... 37

B. Ciri-ciri Ilmu (Ilmu Pengetahuan) ... 40

C. Fungsi dan Tujuan Ilmu (Ilmu Pengetahuan) ... 41

D. Struktur Ilmu (Ilmu Pengetahuan) ... 43

1. Fakta dan Konsep ... 44

2. Generalisasi dan Teori ... 47

3. Proposisi dan Asumsi ... 49

4. Definisi / Batasan ... 51

(4)

iv Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto

E. Objek Ilmu (Ilmu Pengetahuan)... 53

F. Pembagian / Pengelompokan Ilmu ... 54

G. Penjelasan Ilmiah (Scientific Explanation) ... 56

BAB V. FILSAFAT ILMU ... 60

A. Orientasi Filsafat Ilmu ... 60

B. Perkembangan Filsafat Ilmu ... 69

C. Ciri-ciri Ilmu Modern ... 94

D. Paradigma Ilmu Menurut Beberapa Aliran ... 95

E. Hubungan Filsafat dan Ilmu... 97

F. Pengertian Filsafat Ilmu ... 98

G. Bidang Kajian dan Masalah-masalah dalam Filsafat Ilmu ... 101

H. Kebenaran Ilmu ... 102

I. Keterbatasan Ilmu ... 105

J. Manfaat Mempelajari Filsafat Ilmu ... 106

BAB VI. DIMENSI ONTOLOGIS, EPISTEMOLOGIS, DAN AKSIOLOGIS ILMU ... 107

A. Dimensi Ontologis Ilmu ... 107

B. Dimensi Epistemologis Ilmu... 114

C. Dimensi Aksiologis Ilmu ... 120

BAB VII. AGAMA, KEBUDAYAAN, ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI ... 123

A. Hubungan Ilmu dan Teknologi ... 123

B. Hubungan Ilmu dan Kebudayaan... 124

C. Hubungan Teknologi dan Kebudayaan ... 126

D. Hubungan antara Agama, Filsafat dan Ilmu ... 127

E. Patokan Nilai dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ... 129

BAB VIII.PENUTUP ... 131

DAFTAR PUSTAKA ... 132

(5)

Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto v

DAFTAR TABEL

TABEL HALAMAN

2.1 Silabus Mata Kuliah Filsafat Ilmu ... 5

4.1. Penjabaran Konsep ... 47

4.2. Tipe Proposisi, Perolehan dan Pengujiannya ... 51

5.1. Macam-macam Paradigma Ilmu ... 97

(6)

vi Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR HALAMAN

2.1. Dimensi-Dimensi Ilmu ... 12

2.2. Hubungan Berpikir dengan Pengetahuan ... 18

2.3. Hirarki Gradasi Berpikir ... 19

3.1. Skema Wilayah Filsafat ... 27

4.1. Bagan Struktur Ilmu ... 45

5.1. Hubungan Filsafat, Ilmu, dan Filsafat Ilmu ... 101

6.1. Dimensi Ilmu ... 109

6.2. Bagan Hakikat Ilmu ... 110

6.3. Bagan Struktur Ilmu ... 114

6.4. Metoda Deduktif dan Induktif ... 119

6.5. Metoda Ilmiah ... 120

(7)

Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto 1

BAB I

PENDAHULUAN

s lWi/ ni k= gu ! mi ji lÆ k rÈ mu ni nF`,rÈ [fo ' s z´Û me tu rÈ ku a ko ti m¿/ k, rÈ m¿/ k [s wu k se l n- su j nM tu zG l\, [yo g-o l pe nT z ti $u fÕ su $¼ l tu zG l\.

Segala macam pengetahuan ini sesungguhnya berasal dari orang yang maha suci. Segala

yang buruk muncul dari si pendusta yang bodoh. Jika terdapat seorang orang yang baik

diantara seribu orang pendusta, hendaklah seorang yang baik dan suci itu dipisahkan.

Kakawin Nìti Úàstra XV.12

A. Latar Belakang

Terminologi bahan ajar dangan berbagai varian bentuk yang dimiliki masih belum memiliki definisi yang baik. Beberapa aturan perundangan menggunakan istilah yang berbeda untuk kepentingan yang sama. Berkait dengan tugas utama dosen, pengembangan bahan ajar merupakan salah satu unsur yang harus dipenuhi utamanya dalam pembelajaran. Pengahargaan bahan ajar yang dibuat oleh dosen sebagai penunjang proses pembelajaran juga memiliki ‚nilai‛ tersendiri. Pengembangan bahan ajar memiliki angka kredit sesuai bobot produk yang dihasilkan. Sebagai penunjang proses akreditasi program studi, bahan ajar juga mendapat penilaian tersendiri.

Pengembangan bahan ajar matatakuliah tidak lepas dari rangakain pengembangan kurikulum program studi. Produk bahan ajar sedapat mungkin mengacu pada kompetensi dan kebutuhan pengguna lulusan. Bahan ajar, baik dalam bentuk tertulis atau tidak, hendaknya disusun secara sistematis sehingga mampu menciptakan lingkungan/suasana memunkinkan terjadinya proses pembelajaran.

Matakuliah yang ‚baik‛ sudah dilengkapi dengan instrumen kurikulum, seperti: deskripsi kompetensi, silabus dan satuan acara perkuliahan. Kelengkapan instrumen kurikulum yang sistematis tentunya sudah lengkap dengan materi, pengalaman belajar dan evaluasi pembelajaran. Komponen-komponen ini merupakan pijakan dalam pengembangan bahan ajar.

Bahan pengajaran yang dimaksud bisa berupa:

 Buku ajar adalah buku pegangan untuk suatu mata kuliah yang ditulis dan disusun oleh pakar di bidangnya yang diedit oleh pakar bidang terkait, memenuhi kaidah buku teks dan diterbitkan secara resmi serta disebarluaskan.

(8)

2 Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto

 Diktat adalah bahan ajar untuk suatu mata kuliah yang ditulis dan disusun oleh pengajar mata kuliah tersebut, mengikuti kaidah tulisan ilmiah dan disebarluaskan kepada peserta kuliah.

 Modul adalah bagian dari bahan ajar untuk suatu mata kuliah yang disusun oleh pengajar mata kuliah tersebut, mengikuti tata cara penulisan modul dan digunakan dalam perkuliahan.

 Petunjuk praktikum adalah pedoman pelaksanaan praktikum yang berisi tata cara persiapan, pelaksanaan, analisis data dan pelaporan, yang disusun dan ditulis oleh seorang atau kelompok staf pengajar yang menangani praktikum tersebut dan mengikuti kaidah tulisan ilmiah.

 Model adalah alat peraga atau simulasi komputer, yang digunakan untuk menjelaskan fenomena yang terkandung dalam penyajian dalam suatu mata kuliah, untuk meningkatkan pemahaman peserta kuliah.

 Alat Bantu adalah perangkat keras maupun perangkat lunak yang digunakan untuk membantu pelaksanaan perkuliahan dalam rangka meningkatkan pemahaman peserta kuliah tentang suatu fenomena.

 Audio visual adalah alat bantu perkuliahan yang menggunakan kombinasi antara gambar dan suara, digunakan dalam kuliah untuk meningkatkan pemahaman peserta didik tentang suatu fenomena.

 Naskah tutorial adalah bahan rujukan untuk kegiatan tutorial suatu mata kuliah, yang disusun oleh pengajar mata kuliah atau oleh pelaksana kegiatan tutorial tersebut, dan mengikuti kaidah tulisan ilmiah.

Kadang kala karena keterbatasan waktu dosen sering kali hanya membuat hand out yang kemudian diberikan kepada mahasiswanya. Hand out ini tentu tidak termasuk dalam bahan pengajaran sebagaimana disebutkan di atas, karena hand out tidak mengikuti kaidah penulisan ilmiah dan isinya hanya poin-poin presentasi yang tentunya hanya bisa ‚dimengerti‛ oleh si pembuat hand out tersebut.

Tugas utama dosen yang mencakup Tridharma Perguruan Tinggi semestinya menganjurkannya untuk tidak hanya membuat ‘bahan ajar’ dalam bentuk hand out saja. Mengingat ia berkewajiban untuk melakukan kegiatan ilmiah (penelitian) yang terkait dengan bidang ilmu yang ditekuninya maka setidaknya ia harus membuatkan makalah atas hasil pemikiran atau penelitian yang ia lakukan. Selanjutnya produk karya ilmiah hasil penelitian atau hasil penelitian yang dipublikasikan dalam bentuk buku: 1) monograf adalah sauatu tulisan ilmiah dalam bentuk buku yang substansi pembahasannya hanya pada satu hal saja dalam satu bidang ilmu; dan 2) buku referensi yaitu suatu tulisan dalam bentuk buku yang substansi pembahasannya pada satu bidang ilmu. Khusus produk karya

(9)

Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto 3 ilmiah atau hasil penelitian yang dipublikasikan dalam bentuk buku yang digunakan dalam proses pembelajaran otomatis menjadi bahan ajar.

Dalam paparan di atas terdapat beberapa jenis buku, dintaranya: buku ajar, monograf dan buku referensi. Secara fisik, aturan penyusunan buku yang baik mengikuti kaedah format UNESCO yaitu mengandung paling sedikit 40 jumlah halaman cetak dengan ukuran minimal 15,5 cm x 23 cm yang diterbitkan oleh Badan Ilmiah/ Organisasi/ Perguruan Tinggi dan memiliki ISBN yang tercatat di Perpustakaan Nasional.

Pengertian buku ajar di perguruan tinggi, secara luas merupakan jenis buku yang diperuntukkan bagi mahasiswa sebagai bekal pengetahuan dasar dan digunakan sebagai sarana belajar serta dipakai untuk menyertai proses pembelajaran. Di beberapa negara, jenis buku ini disebut sebagai textbook, tapi alih bahasa menjadi buku teks tidak cocok untuk menamai buku ini. Sesuai dengan jenis penggunaannya, istilah buku ajar lebih tepat dipakai sebagai padanan istilah text book dalam pembelajaran.

Definisi yang berdeda tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 11 Tahun 2005 yang menjelaskan bahwa buku teks (buku pelajaran) adalah buku acuan wajib untuk digunakan di sekolah yang memuat materi pembelajaran dalam rangka peningkatan keimanan dan ketakwaan, budi pekerti dan kepribadian, kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kepekaan dan kemampuan estetis, potensi fisik dan kesehatan yang disusun berdasarkan standar nasional pendidikan.

Sebagai bahan ajar, buku ajar dan atau buku teks hendaknya dapat menimbulkan minat baca, ditulis dan dirancang berdasar ‚kebutuhan‛ peserta didik, merujuk pada kompetensi yang harus dicapai, disusun untuk proses instruksional dan memiliki mekanisme mengumpulkan umpan balik dari peserta didik. Ini berarti bahwa peserta didik dapat menggunakan bahan ajar secara mandiri, kapan saja dan dimana saja. Peserta didik dapat belajar sesuai dengan kecepatan masing-masing sesuai dengan urutan yang dipilih sendiri. Secara umum dapat dikatan bahwa buku ajar dapat mengembangkan potensi peserta didik menjadi pembelajar mandiri.

Keberadaan bahan pengajaran untuk mahasiswa STAH Shantika Dharma Malang merupakan hal yang sangat penting dan dibutuhkan oleh seluruh mahasiswa mengingat keterbatasan pustaka yang ada di kampus. Selain itu STAH Shantika Dharma Malang adalah kampus yang baru berkembang karena baru berdiri sejak tahun 2010. Selain itu kehausan mahasiswa akan sumber belajar tidak cukup hanya diberikan catatan-catatan yang berupa hand out. Lebih dari itu keberadaan bahan pengajaran bagi mahasiswa sekaligus bisa mendidik mereka untuk terbiasa dengan pola penulisan ilmiah.

Mata kuliah Filsafat Ilmu adalah mata kuliah yang menjadi dasar pengembangan keilmuan bagi mahasiswa yang mempelajarinya. Mata kuliah ini memberikan penekanan yang mendalam terhadap mahasiswa tentang proses berpikir dan ilmu pengetahuan. Meski

(10)

4 Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto memiliki bobot yang agak berat sebagai filsafat, namun mata kuliah ini wajib diberikan kepada seluruh mahasiswa yang belajar di perguruan tinggi. Bahkan ketika mereka melanjutkannya ke jenjang magister atau pun doktoral, mata kuliah ini pun menjadi mata kuliah yang masih harus ditempuh oleh mereka.

Terkait dengan hal tersebut maka penulis mencoba untuk menulis dan menyajikan bahan ajar Mata Kuliah Fisafat Ilmu yang saat ini ada di hadapan anda. Karena buku bahan pengajaran ini untuk mahasiswa pemula, maka buku ini hanya merupakan pengantar untuk mempelajari filsafat ilmu. Untuk itu sangat penting kita membaca lebih banyak lagi buku-buku referensi lain yang terkait dengan mata kuliah ini.

B. Maksud dan Tujuan

Adapun maksud dari penulisan bahan ajar ini adalah memberikan gambaran sekilas tentang mata kuliah filsafat ilmu yang ditempuh oleh mahasiswa. Dengan gambaran sekilas itu diharapkan mereka akan tertarik untuk mendalami topik-topik yang disajikan di dalamnya. Sehingga nantinya mereka bisa mencari lebih banyak referensi lain untuk menyempurnakan pengetahuannya tentang filsafat ilmu itu sendiri.

Sementara itu tujuan penulisan bahan pengajaran Mata Kuliah Filsafat Ilmu ini bagi mahasiswa STAH Shantika Dharma Malang adalah sebagai berikut:

 Menjelaskan arti dan hakikat manusia sebagai makhluk yang bepikir dan pemikir;

 Memberikan contoh pemikir sejati;

 Menjelaskan hakikat pikiran sebagai pengobat rasa ingin tahu;

 Menjelaskan hakikat pikiran sebagai tenaga keilmuan;

 Menjelaskan hubungan antara manusia, proses berpikir dan ilmu pengetahuan;

 Menjelaskan hakikat, sejarah, ciri-ciri, objek, cabang, sistimatika, sudut pandang, dan pendekatan dalam ilmu filsafat;

 Menjelaskan hakikat, ciri-ciri, fungsi, tujuan, struktur, pembagian, objek, penjelasan ilmiah dari ilmu pengetahuan;

 Menjelaskan hal-hal yang terkait dengan filsafat ilmu seperti: hakikat, orientasi, ciri-ciri, perkembangan, paradigma, kebenara, dan manfaat mempelajari filsafat ilmu. C. Sistimatika

Penulisan bahan pengajaran matakuliah ini terbagi atas beberapa bab sebagaimana penulisan ilmiah, yaitu:

 Bab I Pendahuluan; yang berisi tentang latar belakang, maksud dan tujuan, sistimatika, dan silabus mata kuliah;

 Bab II Manusia, Berpikir, dan Pengetahuan; yang berisi makna menjadi manusia, makna berpikir, makna pengetahuan, keterkaitan berpikir dan pengetahuan;

(11)

Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto 5

 Bab III Ilmu Filsafat; yang berisi: pengertian filsafat, ciri-ciri filsafat, objek filsafat sistimatika filsafat, cabang-cabang filsafat, pendekatan dalam mempelajari filsafat, sudut pandang terhadap filsafat dan sejarah singkat filsafat;

 Bab IV Ilmu Pengetahuan; yang berisi: pengertian ilmu dan ilmu pengetahuan, ciri-ciri ilmu (ilmu pengetahuan), fungsi dan tujuan ilmu (ilmu pengetahuan), struktur ilmu (ilmu pengetahuan, objek ilmu (ilmu pengetahuan), pembagian / pengelompokan ilmu, dan penjelasan ilmiah (scientific explanation)

 Bab V Filsafat Ilmu; yang berisi: orientasi filsafat ilmu, perkembangan filsafat ilmu, ciri-ciri ilmu modern, paradigma ilmu menurut beberapa aliran, hubungan filsafat dan ilmu, pengertian filsafat ilmu, bidang kajian dan masalah-masalah dalam filsafat ilmu, kebenaran ilmu, keterbatasan ilmu, manfaat mempelajari filsafat ilmu

 Bab VI Penutup; yang berisi uraian kata penutup

 Daftar pustaka; yang berisi tentang referensi yang digunakan dalam penulisan buku ini

 Riwayat Hidup Penulis; yang berisi tentang riwayat hidup penulis. D. Silabus

Standar Kompetensi

Memahami secara luas dan mendalam tentang hakikat, proses, dan perkembangan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan serta menerapkannya dalam kegiatan penelitian.

Kompetensi Dasar, Indikator, dan Materi Pembelajaran

Tabel. 1.1. Silabus Mata Kuliah Filsafat Ilmu

Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi Materi Pembelajaran

Mendeskripsikan

makna manusia,

berpikir dan

pengetahuan

1. Mendeskrispikan makna menjadi manusia

2. Mendeskripsikan makna dan hakikat berpikir.

3. Mendeskripsikan makna pengetahuan. 4. Mendeskrispikan hubungan antara

berpikir dan pengetahuan

Manusia, Berpikir, dab Pengetahuan: Makna menjadi Manusia; Makna

Berpikir; Makna Pengetahuan; Berpikir dan Pengetahuan Mendeskripsikan pengertian, ciri-ciri, objek, sistimatika, cabang-cabang, pendekatan, sudut pandang, dan sejarah filsafat

1. Mendeskripsikan pengertian filsafat 2. Menyebutkan ciri-ciri filsafat 3. Menyebutkan objek filsafat

4. Mendeskripsikan sistimatika filsafat 5. Mendeskripsikan cabang-cabang

filsafat

6. Mendeskripsikan pendekatan yang digunakan dalam mempelajari filsafat 7. Mendeskripsikan sudut pandang filsafat 8. Mendeskripsikan sejarah filsafat

Ilmu Filsafat; Pengertian Filsafat; Ciri-Ciri Filsafat,

Objek Filsafat,

Sistimatika Filsafat, Cabang-Cabang Filsafat,

Pendekatan dalam

Mempelajari Filsafat, Sudut Pandang terhadap Filsafat, dan Sejarah Singkat Filsafat

Mendeskripsikan pengertian, ciri-ciri, fungsi, tujuan,

1. Menjelaskan pengertian ilmu dan ilmu pengetahuan

2. Menyebutkan ciri-ciri ilmu

Ilmu Pengetahuan; Pengertian Ilmu dan Ilmu Pengetahuan; Ciri-Ciri

(12)

6 Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi Materi Pembelajaran

struktur, pembagian dan penjelasan imu pengetahuan

pengetahuan

3. Menyebutkan fungsi dan tujuan ilmu pengetahuan

4. Menjelaskan struktur ilmu pengetahuan

5. Menjelaskan pembagian /

pengelompokkan ilmu pengetahuan 6. Mendeskripsikan penjelasan ilmiah

ilmu pengetahuan

Ilmu Pengetahuan, Fungsi

dan Tujuan Ilmu

Pengetahuan, Struktur

Ilmu Pengetahuan,

Pembagian /

Pengelompokkan Dan

Imu Pengetahuan,

Penjelasan Ilmiah Ilmu Pengetahuan

Mendeskripsikan orientasi,

perkembangan,

bidang kajian,

masalah, dan manfaat mempelajari filsafat ilmu

1. Menjelaskan orientasi filsafat ilmu 2. Mendeskripsikan perkembangan

filsafat ilmu

3. Mendeskripsikan ciri-ciri ilmu modern.

4. Mendeskripsikan paradigma ilmu 5. Mendeskripsikan hubungan antara

filsafat dan ilmu

6. Menjelaskan pengertian filsafat ilmu 7. Mendeskripsikan bidang kajian filsafat

ilmu

8. Mengidentifikasi masalah-masalah yang ditimbulkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan

9. Menyebutkan manfaat mempelajari filsafat ilmu

Filsafat Ilmu: Orientasi

Filsafat Ilmu;

Perkembangan Filsafat Ilmu; Ciri-ciri Ilmu Modern; Paradigma Ilmu menurut Beberapa Aliran; Hubungan Filsafat dan Ilmu; Pengertian Filsafat Ilmu; Bidang Kajian dan Masalah-masalah dalam Filsafat Ilmu; Kebenaran Ilmu; Keterbatasan Ilmu; Manfaat Mempelajari Filsafat Ilmu. Mendeskripsikan dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis ilmu

1. Mendeskripsikan dimensi ontologis ilmu

2. Mendeskripsikan dimensi

epistemologis ilmu

3. Mendeskripsikan dimensi aksiologis ilmu

Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis Ilmu: Dimensi Ontologis Ilmu; Dimensi Epistemologis Ilmu; Dimensi Aksiologis Ilmu.

Menganalisis

hubungan antara agama, kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi

1. Menganalisis hubungan antara ilmu dan teknologi

2. Menganalisis hubungan antara ilmu dan kebudayaan

3. Menganalisis hubungan antara teknologi dan kebudayaan

4. Menganalisis hubungan antara agama, filsafat, dan ilmu

5. Mendeskripskan patokan nilai dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

Agama, Kebudayaan, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi: Hubungan antara Ilmu Teknologi; Hubungan antara Ilmu

dan Kebudayaan;

Hubungan antara

Teknologi dan

Kebudayaan; Hubungan antara Agama, Filsafat, dan Ilmu; Patokan Nilai dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

(13)
(14)

8 Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto

BAB II

MANUSIA, BERPIKIR, DAN PENGETAHUAN

Tanpa saudara kandungnya Pengetahuan, Akal (Instrumen berpikir Manusia)

bagaikan si miskin yang tak berumah, sedangkan Pengetahuan tanpa akal seperti

rumah yang tak terjaga. Bahkan, Cinta, Keadilan, dan Kebaikan akan terbatas

kegunaannya jika akal tak hadir

(Kahlil Gibran)

Pengetahuan merupakan suatu kekayaan dan kesempurnaan. Seseorang yang tahu

lebih banyak adalah lebih baik kalau dibanding dengan yang tidak tahu apa-apa

(Louis Leahy)

Mengetahui merupakan kegiatan yang menjadikan subjek berkomunikasi Secara

dinamik dengan eksistensi dan kodrat dari “ada” benda-benda

(Sartre) A. Makna Menjadi Manusia

Kemampuan manusia untuk menggunakan akal dalam memahami lingkungannya merupakan potensi dasar yang memungkinkan manusia berpikir. Dengan berpikir manusia menjadi mampu melakukan perubahan dalam dirinya. Dan memang sebagian besar perubahan dalam diri manusia merupakan akibat dari aktivitas berpikir. Oleh karena itu sangat wajar apabila berpikir merupakan konsep kunci dalam setiap diskursus mengenai kedudukan manusia di muka bumi. Ini berarti bahwa tanpa berpikir, kemanusiaan manusia pun tidak punya makna bahkan mungkin tak akan pernah ada.

Manusia adalah makhluk yang diciptakan paling sempurna di antara makhluk-makhluk yang lain. Kesempurnaan itu terletak pada akal budinya, dan itulah yang membedakan manusia dengan ciptaan yang lain seperti hewan, tumbuhan, dan sebagainya. Dalam ajaran Hindu di antara makhluk yang berpikir atau manusia maka orang yang mampu menggunakan pikirannya dengan baik (brahmaóa) saja yang disebut yang utama. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Manawa Dharma Úàstra I.96 berikut:

>aUTaaNaa&-Paai<aNa"-é[eSQaa" Pa[ai<aNaa&-buiÖJaqivNa" ) buiÖMaTSau-Nara"-é[eSQaa NareSau-b[aø<aa"-SMa*Taa" ))

Terjemahannya:

Di antara semua makhluk ciptaan itu manusia yang berakal budi yang paling utama. Di antara manusia yang berakal brahmanalah yang paling baik.

Berpikir juga memberi kemungkinan manusia untuk memperoleh pengetahuan, dalam tahapan selanjutnya pengetahuan itu dapat menjadi fondasi penting bagi kegiatan

(15)

Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto 9 berpikir yang lebih mendalam. Semua ini dimaksudkan agar manusia dapat berubah dari tidak tahu menjadi tahu, dengan tahu dia berbuat, dengan berbuat dia beramal bagi kehidupan. Semua ini pendasarannya adalah penggunaan akal melalui kegiatan berpikir. Dengan berpikir manusia mampu mengolah pengetahuan. Dengan pengolahan tersebut, pemikiran manusia menjadi makin mendalam dan makin bermakna. Dengan pengetahuan manusia mengajarkan, dengan berpikir manusia mengembangkan, dan dengan mengamalkan serta mengaplikasikannya manusia mampu melakukan perubahan dan peningkatan ke arah kehidupan yang lebih baik. Semua itu telah membawa kemajuan yang besar dalam berbagai bidang kehidupan manusia (sudut pandang positif/normatif).

Singkatnya dengan menjadi manusia dengan segala akal budi yang dimilikinya maka manusia bisa menyempurnakan hidupnya sebagaimana disebutkan dalam Sarasamuúcaya úloka 2 yang menyatakan:

ri s ekÙ ;n& s( w vU t, hi k& j nß wß* ju g w) n* gu m w y k) ni k* ]u V_ ]u v k( m, ku en* p n) nÓ s k) n

r& ]u v k( m ju g hi k \ ]u v k( m | l n& d diwÙ*.

Terjemahannya:

Di antara semua mahluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk, leburlah ke dalam perbuatan baik segala perbuatan buruk itu, demikianlah gunanya (pahalanya) menjadi manusia.

Dari petikan Sarasamuúcaya tersebut dapat diketahui bahwa manusia memiliki akal budi yang mampu menunjukkan pada dirinya jalan yang baik dan benar. Dengan akal budi itu, manusia juga bisa memperbaiki kesalahan-kesalahannya di masa lampau. Dengan demikian kemampuan untuk berubah dan perubahan yang terjadi pada manusia merupakan makna pokok yang terkandung dalam kegiatan berpikir dan berpengetahuan. Disebabkan kemampuan berpikirlah, maka manusia dapat berkembang lebih jauh dibanding makhluk lainnya. Bahkan dengan Berpikir manusia mampu mengeksplorasi, memilih dan menetapkan keputusan-keputusan penting untuk kehidupannya. Terkait dengan hal tersebut Bhagawad Gìtà IV.36 menegaskan:

AiPa cediSa PaaPae>Ya" SaveR>Ya" PaaPak*-taMa" ) Sav| jaNaâveNaEv v*iJaNa& SaNTairZYaiSa ))

Terjemahan:

Walaupun engkau orang yag paling bedosa dengan perahu ilmu pengetahuan lautan dosa akan engkau seberangi.

Pernyataan di atas pada dasarnya menggambarkan keagungan manusia berkaitan dengan karakteristik eksistensial manusia sebagai upaya memaknai kehidupannya dan sebagai bagian dari Alam ini. Dalam konteks perbandingan dengan bagian-bagian alam lainnya, para ahli telah banyak mengkaji perbedaan antara manusia dengan

(16)

makhluk-10 Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto makhluk lainnya terutama dengan makhluk yang agak dekat dengan manusia yaitu hewan. Secara umum komparasi manusia dengan hewan dapat dilihat dari sudut pandang Naturalis/biologis dan sudut pandang sosiopsikologis. Secara biologis pada dasarnya manusia tidak banyak berbeda dengan hewan, bahkan Ernst Haeckel (1834-1919) mengemukakan bahwa manusia dalam segala hal sungguh-sungguh adalah binatang beruas tulang belakang, yakni binatang menyusui, demikian juga Lamettrie (1709-1751) menyatakan bahwa tidaklah terdapat perbedaan antara binatang dan manusia dan karenanya bahwa manusia itu adalah suatu mesin.

Kalau manusia itu sama dengan hewan, tapi kenapa manusia bisa bermasyarakat dan berperadaban yang tidak bisa dilakukan oleh hewan ?, pertanyaan ini telah melahirkan berbagai pemaknaan tentang manusia, seperti manusia adalah makhluk yang bermasyarakat (Sosiologis), manusia adalah makhluk yang berbudaya (Antropologis), manusia adalah hewan yang ketawa, sadar diri, dan merasa malu (Psikologis), semua itu kalau dicermati tidak lain karena manusia adalah hewan yang berpikir/bernalar (the animal that reason) atau Homo Sapien.

Dengan memahami uraian di atas, nampak bahwa ada sudut pandang yang cenderung merendahkan manusia, dan ada yang mengagungkannya, semua sudut pandang tersebut memang diperlukan untuk menjaga keseimbangan memaknai manusia. Blaise Pascal (1623-1662) menyatakan bahwa adalah berbahaya bila kita menunjukan manusia sebagai makhluk yang mempunyai sifat-sifat binatang dengan tidak menunjukan kebesaran manusia sebagai manusia. Sebaliknya adalah bahaya untuk menunjukan manusia sebagai makhluk yang besar dengan tidak menunjukan kerendahan, dan lebih berbahaya lagi bila kita tidak menunjukan sudut kebesaran dan kelemahannya sama sekali. Guna memahami lebih jauh siapa itu manusia, berikut ini akan dikemukakan beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli:1

 Plato (427-348) memandang manusia dilihat secara dualistik yaitu unsur jasad dan unsur jiwa, jasad akan musnah sedangkan jiwa tidak, jiwa mempunyai tiga fungsi (kekuatan) yaitu: logystikon (berpikir/rasional), thymoeides (keberanian), dan epithymetikon (keinginan)

 Aristoteles (384-322 SM) menyatakan bahwa manusia itu adalah hewan yang berakal sehat, yang mengeluarkan pendapatnya, yang berbicara berdasarkan akal pikirannya. Manusia itu adalah hewan yang berpolitik atau hewan yang bijaksana (Zoon Politicon/ Political Animal), hewan yang membangun masyarakat di atas famili-famili menjadi pengelompokan impersonal dari pada kampung dan negara.

 Ibnu Sina (980-1037 M) mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang mempunyai kesanggupan : 1) makan, 2) tumbuh, 3) ber-kembang biak, 4) pengamatan

(17)

Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto 11 hal-hal yang istimewa, 5) pergerakan di bawah kekuasaan, 6) ketahuan (pengetahuan tentang) hal-hal yang umum, dan 7) kehendak bebas. Menurut dia, tumbuhan hanya mempunyai kesanggupan 1, 2, dan 3, serta hewan mempunyai kesanggupan 1, 2, 3, 4, dan 5.

 Ibnu Khaldun (1332-1406), menyatakan manusia adalah hewan dengan kesanggupan berpikir, kesanggupan ini merupakan sumber dari kesempurnaan dan puncak dari segala kemulyaan dan ketinggian di atas makhluk-makhluk lain.

 Ibnu Miskawaih, menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang mempunyai kekuatan-kekuatan yaitu: 1) Al Quwwatul Aqliyah (kekuatan berpikir/akal), 2) Al Quwwatul Godhbiyyah (Marah, 3) Al Quwwatu Syahwiyah (sahwat).

 Harold H. Titus menyatakan: man is an animal organism, it is true but he is able to study himself as organism and to compare and interpret living forms and to inquire about the meaning of human existence (manusia adalah organisme hewan, itu benar, tetapi ia mampu mempelajari dirinya sebagai organisme dan untuk membandingkan dan menafsirkan bentuk hidup dan untuk menanyakan tentang makna keberadaan manusia). Selanjutnya Dia menyebutkan beberapa faktor yang berkaitan (menjadi karakteristik) dengan manusia sebagai pribadi yaitu:

Self conscioueness (kesadaran diri)

Reflective thinking, abstract thought, or the power of generalization (berpikir reflektif, pemikiran abstrak, atau kekuatan generalisasi)

Ethical discrimination and the power of choice (Diskriminasi etika dan kekuatan pilihan)

Aesthetic appreciation (apresiasi estetik)

Worship and faith in a higher power (Ibadah dan iman dalam kekuatan yang lebih tinggi)

Creativity of a new order (kreatifitas dari orde baru)2

 William E. Hocking menyatakan: man can be defined as the animal who thinks in term of totalities (manusia bisa didefinisikan sebagai binatang yang berpikir dalam istilah secara keseluruhan).

 C.E.M. Joad, menyatakan: every thing and every creature in the world except man acts as it must, or act as it pleased, man alone act on occasion as he ought (segala sesuatu dan setiap ciptaan di dunia kecuali manusia bertindak menurut kehendaknya sendiri, atau bertindak sesuai kesenangannya, manusia sendiri bertindak pada saat memang dia harus melakukannya)

 R.F. Beerling, menyatakan bahwa manusia itu tukang bertanya.

2Harold H. Titus, Living Issues in Philosophy: An Introductory Textbook, (New York: American Book

(18)

12 Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto Dari uraian dan berbagai definisi tersebut di atas dapatlah ditarik beberapa kesimpulan tentang siapa itu manusia yaitu :

 Secara fisikal, manusia sejenis hewan juga

 Manusia punya kemampuan untuk bertanya

 Manusia punya kemampuan untuk berpengetahuan

 Manusia punya kemauan bebas

 Manusia bisa berprilaku sesuai norma (bermoral)

 Manusia adalah makhluk yang bermasyarakat dan berbudaya

 Manusia punya kemampuan berpikir reflektif dalam totalitas dengan sadar diri

 Manusia adalah makhluk yang punya kemampuan untuk percaya pada Tuhan

Apabila dibagankan dengan mengacu pada pendapat di atas akan nampak sebagai berikut :

Gambar 2.1. Dimensi-dimensi Manusia

Dengan demikian nampaknya terdapat perbedaan sekaligus persamaan antara manusia dengan makhluk lain khususnya hewan. Secara fisikal/biologis perbedaan manusia dengan hewan lebih bersifat gradual dan tidak prinsipil, sedangkan dalam aspek kemampuan berpikir, bermasyarakat dan berbudaya, serta bertuhan perbedaannya sangat asasi/prinsipil. Ini berarti jika manusia dalam kehidupannya hanya bekutat dalam urusan-urusan fisik biologis seperti makan, minum, beristirahat, maka kedudukannya tidaklah jauh berbeda dengan hewan. Satu-satunya yang bisa mengangkat manusia lebih tinggi adalah penggunaan akal untuk berpikir dan berpengetahuan serta mengaplikasikan pengetahuannya bagi kepentingan kehidupan sehingga berkembanglah masyarakat beradab dan berbudaya.

(19)

Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto 13 Di samping itu kemampuan tersebut telah mendorong manusia untuk berpikir tentang sesuatu yang melebihi pengalamannya seperti keyakinan pada Tuhan yang merupakan inti dari seluruh ajaran Agama. Oleh karena itu carilah ilmu dan berpikirlah terus agar posisi kita sebagai manusia menjadi semakin jauh dari posisi hewan dalam konstelasi kehidupan di alam ini. Meskipun demikian penggambaran di atas harus dipandang sebagai suatu pendekatan saja dalam memberi makna manusia, sebab manusia itu sendiri merupakan makhluk yang sangat multi dimensi. Sehingga gambaran yang seutuhnya akan terus menjadi perhatian dan kajian yang menarik. Untuk itu tidak berlebihan apabila Louis Leahy berpendapat bahwa manusia itu sebagai makhluk paradoksal dan sebuah misteri, hal ini menunjukan betapa kompleks nya memaknai manusia dengan seluruh dimensinya.3

B. Makna Berpikir

Semua karakteristik manusia yang menggambarkan ketinggian dan keagungan pada dasarnya merupakan akibat dari anugrah akal yang dimilikinya, serta pemanfaatannya untuk kegiatan berpikir. Bahkan Tuhan pun memberikan tugas dharma (yang terbingkai dalam perintah dan larangan) di muka bumi pada manusia tidak terlepas dari kapasitas akal untuk berpikir, berpengetahuan, serta membuat keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan yang tanggungjawabnya inheren pada manusia, sehingga perlu dimintai pertanggungjawaban.

Sutan Takdir Alisjahbana 4 menyatakan bahwa pikiran memberi manusia pengetahuan yang dapat dipakainya sebagai pedoman dalam perbuatannya, sedangkan kemauanlah yang menjadi pendorong perbuatan mereka. Oleh karena itu berpikir merupakan atribut penting yang menjadikan manusia sebagai manusia, berpikir adalah fondasi dan kemauan adalah pendorongnya. Hal ini sebagaimana termaktub dalam Sarasamuúcaya 80 yang menyebutkan:

Á p ni k* m n; \ r nê, y hi k wi tÂi \ i nÑÉi y, m pÉ wÊ tÓi t y r& ]u V_ ]u v k( m, m t \Ãí ni k* m n ;

ju g pÉi h) nÐ khÊ t nê s k er*,

Terjemahannya:

Sebab yang disebut pikiran itu, adalah sumbernya nafsu, ialah yang mnggerakkan perbuatan baik ataupun buruk itu, karena pikiranlah yang segera patut diusahakan pengekangan/pengendaliannya.

Merujuk pada úloka di atas, maka sesungguhnya pikiran (niat) itu yang bisa menyebabkan semua yang dilakukan oleh manusia. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna maka manusia harus bisa menggunakan pikirannya dengan baik sesuai

3 Uhar Suharsaputra, Filsafat Ilmu Jilid I, op.cit., h.9.

(20)

14 Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto dengan arti dari manusia itu sendiri yang dalam bahasa Sanskerta disebut MaNauZYa / MaaNauZYa / MaaNauXa (mereka yang memiliki pikiran atau mereka yang berpikir) atau MaNauJa (mereka yang terlahir dengan pikiran). Kata ini erat kaitannya dengan kata MaNa" (pikiran) dan berasal dari akar kata MaNa( (memikirkan, berpikir), dan jika suku kata ‘ma’ dalam akar kata ini dirubah menjadi dirgha maka akan menjadi MaaNa( (mereka yang mencari pengetahuan).5 Singkatnya apapun yang dilakukan oleh manusia tidak bisa lepas dari berpikir dan pikiran itu sendiri.

Kalau berpikir (penggunaan kekuatan akal) merupakan salah satu ciri penting yang membedakan manusia dengan hewan, sekarang apa yang dimaksud berpikir, apakah setiap penggunaan akal dapat dikategorikan berpikir, ataukah penggunaan akal dengan cara tertentu saja yang disebut berpikir. Para ahli telah mencoba mendefinisikan makna berpikir dengan rumusannya sendiri-sendiri, namun yang jelas tanpa akal nampaknya kegiatan berpikir tidak mungkin dapat dilakukan, demikian juga pemilikan akal secara fisikal tidak serta merta mengindikasikan kegiatan berpikir.

Menurut J.M. Bochenski berpikir adalah perkembangan ide dan konsep. Definisi ini nampak sangat sederhana namun substansinya cukup mendalam. Berpikir bukanlah kegiatan fisik namun merupakan kegiatan mental. Bila seseorang secara mental sedang mengikatkan diri dengan sesuatu dan sesuatu itu terus berjalan dalam ingatannya, maka orang tersebut bisa dikatakan sedang berpikir. Jika demikian berarti bahwa berpikir merupakan upaya untuk mencapai pengetahuan. Upaya mengikatkan diri dengan sesuatu merupakan upaya untuk menjadikan sesuatu itu ada dalam diri (gambaran mental) seseorang, dan jika itu terjadi tahulah dia, ini berarti bahwa dengan berpikir manusia akan mampu memperoleh pengetahuan, dan dengan pengetahuan itu manusia menjadi lebih mampu untuk melanjutkan tugas kekhalifahannya di muka bumi serta mampu memposisikan diri lebih tinggi dibanding makhluk lainnya.6

Sementara itu Pratap Singh Mehra7 memberikan definisi berpikir (pemikiran) yaitu mencari sesuatu yang belum diketahui berdasarkan sesuatu yang sudah diketahui. Definisi ini mengindikasikan bahwa suatu kegiatan berpikir baru mungkin terjadi jika akal/pikiran seseorang telah mengetahui sesuatu, kemudian sesuatu itu dipergunakan untuk mengetahui sesuatu yang lain. Sesuatu yang diketahui itu bisa merupakan data, konsep atau sebuah idea, dan hal ini kemudian berkembang atau dikembangkan sehingga diperoleh suatu yang kemudian diketahui atau bisa juga disebut kesimpulan. Dengan demikian kedua definisi yang dikemukakan ahli tersebut pada dasarnya bersifat saling melengkapi. Berpikir merupakan upaya untuk memperoleh pengetahuan dan dengan pengetahuan tersebut proses

5 I Made Surada, Kamus Sanskerta-Indonesia, (Denpasar: Widya Dharma, 2008), h.248, 251. 6 Uhar Suharsaputra, Filsafat Ilmu Jilid I, op.cit., h.9-10.

(21)

Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto 15 berpikir dapat terus berlanjut guna memperoleh pengetahuan yang baru, dan proses itu tidak berhenti selama upaya pencarian pengetahuan terus dilakukan.

Menurut Jujus S. Suriasumantri 8 berpikir merupakan suatu proses yang membuahkan pengetahuan. Proses ini merupakan serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti jalan pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan. Dengan demikian berpikir mempunyai gradasi yang berbeda dari berpikir sederhana sampai berpikir yang sulit, dari berpikir hanya untuk mengikatkan subjek dan objek sampai dengan berpikir yang menuntut kesimpulan berdasarkan ikatan tersebut. Sementara itu Pratap Singh Mehra menyatakan bahwa proses berpikir mencakup hal-hal sebagai berikut yaitu:

Conception (pembentukan gagasan)

Judgement (menentukan sesuatu)

Reasoning (pertimbangan pemikiran/penalaran)9

Bila seseorang mengatakan bahwa dia sedang berpikir tentang sesuatu, ini mungkin berarti bahwa dia sedang membentuk gagasan umum tentang sesuatu, atau sedang menentukan sesuatu, atau sedang mempertimbangkan (mencari argumentasi) berkaitan dengan sesuatu tersebut.

Cakupan proses berpikir sebagaimana disebutkan di atas menggambarkan bentuk substansi pencapaian kesimpulan, dalam setiap cakupan terbentang suatu proses (urutan) berpikir tertentu sesuai dengan substansinya. Menurut John Dewey proses berpikir mempuyai urutan-urutan (proses) sebagai berikut :

 Timbul rasa sulit, baik dalam bentuk adaptasi terhadap alat, sulit mengenai sifat, ataupun dalam menerangkan hal-hal yang muncul secara tiba-tiba.

 Kemudian rasa sulit tersebut diberi definisi dalam bentuk permasalahan.

 Timbul suatu kemungkinan pemecahan yang berupa reka-reka, hipotesa, inferensi atau teori.

 Ide-ide pemecahan diuraikan secara rasional melalui pembentukan implikasi dengan jalan mengumpulkan bukti-bukti (data).

 Menguatkan pembuktian tentang ide-ide di atas dan menyimpulkannya baik melalui keterangan-keterangan ataupun percobaan-percobaan.10

Sementara itu Kelly mengemukakan bahwa proses berpikir mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :

 Timbul rasa sulit

8

Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2010), h.10-30.

9 Uhar Suharsaputra, Filsafat Ilmu Jilid I, op.cit., h.11-12 10Loc.cit., h.12-13

(22)

16 Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto

 Rasa sulit tersebut didefinisikan

 Mencari suatu pemecahan sementara

 Menambah keterangan terhadap pemecahan tadi yang menuju kepada kepercayaan bahwa pemecahan tersebut adalah benar.

 Melakukan pemecahan lebih lanjut dengan verifikasi eksperimental

 Mengadakan penelitian terhadap penemuan-penemuan eksperimental menuju pemecahan secara mental untuk diterima atau ditolak sehingga kembali menimbulkan rasa sulit.

 Memberikan suatu pandangan ke depan atau gambaran mental tentang situasi yang akan datang untuk dapat menggunakan pemecahan tersebut secara tepat.11

Urutan langkah (proses) berpikir seperti tersebut di atas lebih menggambarkan suatu cara berpikir ilmiah, yang pada dasarnya merupakan gradasi tertentu disamping berpikir biasa yang sederhana serta berpikir radikal filosofis, namun urutan tersebut dapat membantu bagaimana seseorang berpikir dengan cara yang benar, baik untuk hal-hal yang sederhana dan konkrit maupun hal-hal yang rumit dan abstrak, dan semua ini dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimiliki oleh orang yang berpikir tersebut.

C. Makna Pengetahuan

Berpikir mensyaratkan adanya pengetahuan (knowledge) atau sesuatu yang diketahui agar pencapaian pengetahuan baru lainnya dapat berproses dengan benar. Lalu sekarang apa yang dimaksud dengan pengetahuan? Menurut Langeveld pengetahuan ialah kesatuan subjek yang mengetahui dan objek yang diketahui, di tempat lain dia mengemukakan bahwa pengetahuan merupakan kesatuan subjek yang mengetahui dengan objek yang diketahui, suatu kesatuan dalam mana objek itu dipandang oleh subjek sebagai dikenalinya. Dengan demikian pengetahuan selalu berkaitan dengan objek yang diketahui. Sedangkan Feibleman menyebutnya hubungan subjek dan objek (knowledge: relation between object and subject). Subjek adalah individu yang punya kemampuan mengetahui (berakal) dan objek adalah benda-benda atau hal-hal yang ingin diketahui. Individu (manusia) merupakan suatu realitas dan benda-benda merupakan realitas yang lain, hubungan keduanya merupakan proses untuk mengetahui dan bila bersatu jadilah pengetahuan bagi manusia.12

Di sini terlihat bahwa subjek mesti berpartisipasi aktif dalam proses penyatuan sedang objek pun harus berpartisipasi dalam keadaannya, subjek merupakan suatu realitas demikian juga objek, ke dua realitas ini berproses dalam suatu interaksi partisipatif, tanpa semua ini mustahil pengetahuan terjadi, hal ini sejalan dengan pendapat Max Scheler yang

11Ibid.

(23)

Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto 17 menyatakan bahwa pengetahuan sebagai partisipasi oleh suatu realita dalam suatu realita yang lain, tetapi tanpa modifikasi-modifikasi dalam kualitas yang lain itu. Sebaliknya subjek yang mengetahui itu dipengaruhi oleh objek yang diketahuinya.13

Pengetahuan pada hakikatnya merupakan segenap apa yang diketahui tentang objek tertentu, termasuk ke dalamnya ilmu. Pengetahuan tentang objek selalu melibatkan dua unsur yakni unsur representasi tetap dan tak terlukiskan serta unsur penafsiran konsep yang menunjukan respon pemikiran. Unsur konsep disebut unsur formal sedang unsur tetap adalah unsur material atau isi. Interaksi antara objek dengan subjek yang menafsirkan, menjadikan pemahaman subjek (manusia) atas objek menjadi jelas, terarah dan sistimatis sehingga dapat membantu memecahkan berbagai masalah yang dihadapi. Pengetahuan tumbuh sejalan dengan bertambahnya pengalaman, untuk itu diperlukan informasi yang bermakna guna menggali pemikiran untuk menghadapi realitas dunia dimana seorang itu hidup.

Pengetahuan dalam bahasa Sanskerta disebut ivÛ (pengetahuan, belajar). Kata ivÛ ini berasal dari akar kata ivd( (mengetahui, menemukan, memperoleh). Orang yang belajar atau mencari pengetahuan disebut ivd / ivÜSa( (pelajar, belajar). Para pelajar yang mampu mencerna pengetahuan dan menjadi manusia terpelajar disebut ivdGDa / ivdur (cendekiawan). Dengan menjadi orang yang terpelajar dan mampu mencerna pengetahuan suci maka mereka akan bisa menebus (iviÖ) semua dosa dan kesalahannya hingga mereka menemukan iviÖ (Tuhan) itu sendiri.14

Dengan ilmu pengetahuan seseorang akan bisa mengarungi samudra penderitaan yang ada di dunia. Ilmu pengetahuan juga bisa dijadikan sebagai bekal dalam kehidupan. Jika orang tua mewariskan harta benda berupa sawah, rumah, emas dan materi lainnya, maka harta yang diwariskan tersebut bisa habis karena dijual oleh anak-anaknya. Tetapi jika orang tua tersebut mewariskan ilmu pengetahuan kepada anak-anaknya, maka ilmu itu bisa digunakan sebagai bekal untuk mendapatkan harta benda. Singkatnya ilmu pengetahuan merupakan sarana untuk mencapai tujuan yang diinginkan sebagaimana disebutkan dalam Caóakya Nìti Úàstra IV.5 berikut.

k-aMaDaeNau-Gau<aa-ivÛa-ùk-ale-f-le-daiYaNaq ) Pa[vaSae-MaaRTa*-Sad*Xaq-ivÛa-Gauá&-DaNa&-SMa*TaMa( ))

Terjemahan:

Ilmu pengetahuan bagaikan sapi kamadhuk. Dengan ini di semua musim kita dapat memetik hasil panen. Seperti seorang ibu, yang memberi makanan untuk anaknya dalam setiap waktu. Oleh karena itu ilmu pengetahuan ibarat harta yang tersembunyi.

13Ibid.

(24)

18 Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto D. Berpikir dan Pengetahuan

Berpikir dan pengetahuan merupakan dua hal yang menjadi ciri keutamaan manusia, tanpa pengetahuan manusia akan sulit berpikir dan tanpa berpikir pengetahuan lebih lanjut tidak mungkin dapat dicapai. Karena sesungguhnya pengetahuan itu sendiri ada dalam pikiran setiap orang sebagaimana disebutkan dalam Yajurweda 34.5 berikut:

YaiSMaNa*c"-SaaMa-YaJaUiHz-YaiSMaNPa[[iTaiïTaa-rQaNaa>aaivvar" ) YaiSMaiêta&-SavRMaaeTaMPa[jaNaaNTaNMae-MaNa"-iXav-Sa&k-LPaMaSTau )) Terjemahan:

Seperti dalam kereta kuda terdapat jari-jari pada rodanya. Dalam pikiran terdapat pengetahuan Ågweda, Sàmaweda, Yajurweda, dan Atharwaweda. Demikian juga terdapat pengetahuan tentang tingkah laku manusia. Dengan itu maka pikiran manusia akan menjadi baik dan tenang.

Menyimak mantra dari Yajurweda di atas, maka dapat dilihat benang merah antara pikiran dan pengetahuan. Pikiran yang diolah dengan baik akan dapat menemukan pengetahuan yang baik pula. Sementara pengetahuan yang baik dapat mempengaruhi pikiran menjadi baik. Oleh karena itu nampaknya berpikir dan pengetahuan mempunyai hubungan yang sifatnya siklikal, bila digambarkan nampak sebagai berikut:

Gambar 2.2. Hubungan Berpikir dengan Pengetahuan

Gerak sirkuler antara berpikir dan pengetahuan akan terus membesar mengingat pengetahuan pada dasarnya bersifat akumulatit, semakin banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang semakin rumit aktivitas berpikir, demikian juga semakin rumit aktivitas berpikir semakin kaya akumulasi pengetahuan. Semakin akumulatif pengetahuan manusia semakin rumit, namun semakin memungkinkan untuk melihat pola umum serta mensistimatisirnya dalam suatu kerangka tertentu, sehingga lahirlah pengetahuan ilmiah (ilmu), disamping itu terdapat pula orang-orang yang tidak hanya puas dengan mengetahui, mereka ini mencoba memikirkan hakekat dan kebenaran yang diketahuinya secara radikal

(25)

Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto 19 dan mendalam, maka lahirlah pengetahuan filsafat, oleh karena itu berpikir dan pengetahuan dilihat dari ciri prosesnya dapat dibagi ke dalam :

 Berpikir biasa dan sederhana menghasilkan pengetahuan biasa (pengetahuan eksistensial)

 Berpikir sistematis faktual tentang objek tertentu menghasilkan pengetahuan ilmiah (ilmu)

 Berpikir radikal tentang hakekat sesuatu menghasilkan pengetahuan filosofis (filsafat) Semua jenis berpikir dan pengetahuan tersebut di atas mempunyai poisisi dan manfaatnya masing-masing, perbedaan hanyalah bersifat gradual, sebab semuanya tetap merupakan sifat yang inheren dengan manusia. Sifat inheren berpikir dan berpengetahuan pada manusia telah menjadi pendorong bagi upaya-upaya untuk lebih memahami kaidah-kaidah berpikir benar (logika), dan semua ini makin memerlukan keahlian. Sehingga makin rumit tingkatan berpikir dan pengetahuan makin sedikit yang mempunyai kemampuan tersebut. Namun serendah apapun gradasi berpikir dan berpengetahuan yang dimiliki seseorang tetap saja mereka bisa menggunakan akalnya untuk berpikir untuk memperoleh pengetahuan, terutama dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan. Sehingga manusia dapat mempertahankan hidupnya (pengetahuan macam ini disebut pengetahuan eksistensial). Gradasi berpikir dan berpengetahuan sebagai dikemukakan terdahulu dapan dibagankan sebagai berikut :

Gambar 2.3. Hirarki Gradasi Berpikir

Berpengetahuan merupakan syarat mutlak bagi manusia untuk mempertahankan hidupnya, dan untuk itu dalam diri manusia telah terdapat akal yang dapat dipergunakan berpikir untuk lebih mendalami dan memperluas pengetahuan. Paling tidak terdapat dua alasan mengapa manusia memerlukan pengetahuan/ilmu yaitu:

(26)

20 Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto

 manusia tidak bisa hidup dalam alam yang belum terolah, sementara binatang siap hidup di alam asli dengan berbagai kemampuan bawaannya.

 manusia merupakan makhluk yang selalu bertanya baik implisit maupun eksplisit dan kemampuan berpikir serta pengetahuan merupakan sarana untuk menjawabnya.

Dengan demikian berpikir dan pengetahuan bagi manusia merupakan instrumen penting untuk mengatasi berbagai persoalah yang dihadapi dalam hidupnya di dunia, tanpa itu mungkin yang akan terlihat hanya kemusnahan manusia (meski kenyataan menunjukan bahwa dengan berpikir dan pengetahuan manusia lebih mampu membuat kerusakan dan memusnahkan diri sendiri lebih cepat).

Dalam Hindu orang yang mampu mencapai kebijaksanaan tertinggi atau mencapai tataran filsuf disebut dengan istilah stitha prajña. Konsep tentang sthita prajña ditegaskan dalam Bhagawad Gìtà II.55-56 berikut ini:

Pa[JahaiTa Yada k-aMaaNSavaRNPaaQaR MaNaaeGaTaaNa( ) AaTMaNYaevaTMaNaa Tauí" iSQaTaPa[jSTadaeCYaTae )) 55 )) du"%eZvNauiÜGanMaNaa" Sau%ezu ivGaTaSPa*h" )

vqTaraGa>aYa§-aeDa" iSQaTaDaqMauRiNaåCYaTae )) 56 ))

Bilamana seseorang sudah dapat menyingkirkan segala bentuk kepuasan akan nafsunya, wahai Pàrtha, dan manakala jiwanya telah merasa terpuaskan pada kesadaran diri, maka mereka itulah yang disebut orang yang kecerdasannya stabil (sthita prajña).

Ia yang pikirannya tidak terusik di tengah-tengah kesedihan, dan terbebas dari hasrat keinginan di tengah-tengah kesenangan, yang nafsu, rasa takut, dan kemarahannya telah lenyap, ia disebut sebagai orang bijak yang teguh dalam pengetahuannya.

Pada akhirnya mereka yang terlahir sebagai manusia (JaNa), harus bisa menggunakan pikirannya untuk berpikir (MaNa), supaya ia bisa menjadi orang yang ngerti dan tahu akan pengetahuan (ja). Dengan pengetahuan yang baik atau jñàna (jaNa) maka sang jana (JaNa) yang tadinya manusia biasa akan menjadi manusia paripurna atau jina (iJaNa).

(27)

Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto 21

BAB III

ILMU FILSAFAT

Aku tidak boleh mengatakan bahwa mereka bijaksana, sebab kebijaksanaan adalah

sesuatu yang luhur, dan hanya dimiliki oleh Tuhan sendiri. Sebutan yang

bersahaja, yaitu yang selayaknya diberikan kepada mereka adalah pencinta

kebijaksanaan atau ahli filsafat.

(Socrates dalam Phaedrus karya Plato) A. Pengertian Filsafat

Secara etimologis filsafat berasal dari kata Yunani ‚Φιλοσοφία (phillosophia)‛. Dari kata ini pula muncul istilah filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga diserap dalam bahasa Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Yunani, kata ‚phillosophia‛ merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata ‚phillo‛ dan ‚sophia‛. Kata ‚phillo‛ berarti ‚persahabatan atau cinta dalam arti seluas-luasnya‛. Sementara itu kata ‚sophia‛ berarti ‚kebijaksanaan‛. Bijaksana artinya pandai, mengerti dengan mendalam, jadi menurut namanya saja filsafat boleh dimaknakan ingin mengerti dengan mendalam atau cinta dengan kebijaksanaan. Kecintaan akan kebijaksanaan ini membuat sang pencinta kebijaksanaan selalu ingin tahu lebih mendalam. Karena keingintahuannya secara mendalam inilah maka fisafat atau falsafah merupakan dasar untuk memahami hakekat15.

Kecintaan pada kebijaksanaan haruslah dipandang sebagai suatu bentuk proses, artinya segala upaya pemikiran untuk selalu mencari hal-hal yang bijaksana. Bijaksana di dalamnya mengandung dua makna yaitu baik dan benar. Baik adalah sesuatu yang berdimensi etika, sedangkan benar adalah sesuatu yang berdimensi rasional, jadi sesuatu yang bijaksana adalah sesuatu yang etis dan logis. Dengan demikian berfilsafat berarti selalu berusaha untuk berpikir guna mencapai kebaikan dan kebenaran, berpikir dalam filsafat bukan sembarang berpikir namun berpikir secara radikal sampai ke akar-akarnya, oleh karena itu meskipun berfilsafat mengandung kegiatan berpikir, tapi tidak setiap kegiatan berpikir berarti filsafat atau berfilsafat.

Sutan Takdir Alisjahbana menyatakan bahwa pekerjaan berfilsafat itu ialah berpikir, dan hanya manusia yang telah tiba di tingkat berpikir, yang berfilsafat.

(28)

22 Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto Pada zaman Weda dan Upaniûad jauh sebelum masa Yunani, para brahmaóa Hindu telah banyak mengupas filsafat tentang ketuhanan. Mereka yang memiliki kemampuan berfilsafat layak disebut sebagai seorang brahmaóa. Guna lebih memahami mengenai makna filsafat berikut ini akan dikemukakan definisi filsafat yang dikemukakan oleh para ahli:16

 Plato salah seorang murid Socrates yang hidup antara 427-347 SM mengartikan filsafat sebagai pengetahuan tentang segala yang ada, serta pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli.

 Akûapàda Gautama dalam Nyàya Sutra I.1.3 menyatakan: Pa[TYa+aaNauMaaNaaePaMaaNaXaBda"-Pa[Maa<aaiNa

(filsafat atau pengetahuan yang benar itu merupakan hasil dari tanggapan atas apa yang diterima pañca indriya, lalu dikaji secara mendalam dalam pikiran, dengan pendekatan pemikiran yang universal, dan melalui kesaksian lisan dari orang-orang yang bisa dipercaya.17

 Aristoteles (382-322 SM) murid Plato, mendefinisikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik dan estetika. Dia juga berpendapat bahwa filsafat itu menyelidiki sebab dan asas segala benda.

 Cicero (106-43 SM), mendefinisikan filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha-usaha mencapai hal tersebut.

 Al Farabi (870-950 M), seorang Filsuf Muslim mendefinisikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan tentang alam maujud, bagaimana hakikatnya yang sebenarnya.

 Immanuel Kant (1724-1804), mendefinisikan filsafat sebagai ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan yaitu :

 Metafisika (apa yang dapat kita ketahui).  Etika (apa yang boleh kita kerjakan).

 Agama ( sampai dimanakah pengharapan kita).  Antropologi (apakah yang dinamakan manusia).

 Rabindranath Tagore (1861-1941), menyatakan bahwa filsafat berpangkal pada keyakinan bahwa ada kesatuan fundamental antara manusia dan alam, harmoni antara individu dan kosmos. Untuk itu orang tidak harus ‚menguasai‛ alam tetapi bagaimana dia bisa ‚berteman‛ dengan alam.18

 C.C.J. Webb dalam bukunya History of Philosophy menyatakan bahwa filsafat mengandung pengertian penyelidikan. Tidak hanya penyelidikan hal-hal yang khusus

16 Wardiman, Pendekatan Manusiawi dan Hukum dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45, (Jakarta:

UPN, 1984), h. 33-40.

17 Akûapàda Gautama, The Nyàya Sutrà of Gotama, tr.by., Mahàmahopàdhyàya Satìúa Chandra

Vidyàbhuûana, (Allababad: Sudhindranàtha Vasu, 1915), h. 28.

(29)

Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto 23 dan tertentu saja, bahkan lebih-lebih mengenai sifat-hakekat baik dari dunia kita, maupun dari cara hidup yang seharusnya kita selenggarakan di dunia ini.19

 Harold H. Titus dalam bukunya Living Issues in Philosophy mengemukakan beberapa pengertian filsafat yaitu:

Philosophy is an attitude toward life and universe (Filsafat adalah sikap terhadap kehidupan dan alam semesta).

Philosophy is a method of reflective thinking and reasoned inquiry (Filsafat adalah suatu metode berpikir reflektif dan pengkajian secara rasional)

Philosophy is a group of problems (Filsafat adalah sekelompok masalah)

Philosophy is a group of systems of thought (Filsafat adalah serangkaian sistem berpikir).20

Dari beberapa pengertian di atas nampak bahwa ada ahli yang menekankan pada subtansi dari apa yang dipikirkan dalam berfilsafat seperti pendapat Plato dan pendapat Al Farabi, Aristoteles lebih menekankan pada cakupan apa yang dipikirkan dalam filsafat demikian juga Kant setelah menyebutkan sifat filsafatnya itu sendiri sebagai ilmu pokok, sementara itu Cicero disamping menekankan pada substansi juga pada upaya-upaya pencapaiannya. Demikian juga C.C.J. Webb melihat filsafat sebagai upaya penyelidikan tentang substansi yang baik sebagai suatu keharusan dalam hidup di dunia. Definisi yang nampaknya lebih menyeluruh adalah yang dikemukakan oleh Titus, yang menekankan pada dimensi-dimensi filsafat dari mulai sikap, metode berpikir, substansi masalah, serta sistem berpikir.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia21 , disebutkan bahwa istilah filsafat mempunyai kesamaan makna dengan istilah falsafah. Kata falsafah dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari kata Arab فل س ة. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut ‚filsuf‛.

Selanjutnya dijelaskan bahwa falsafah adalah anggapan, gagasan dan sikap batin paling dasar yang dimiliki oleh seseorang atau masyarakat. Falsafah juga dapat diartikan sebagai pandangan hidup. Pengertian ini senada dengan terminologi filsafat yang diidentikkan dengan istilah way of life, weltanschaung, wereldbeschowing, wareld en levens atau beschouwing. Kesemua istilah tersebut merujuk pada pengertian pandangan, pegangan dan petunjuk hidup22.

Definisi kata filsafat tersebut pada hakekatnya merupakan sebuah problem falsafi pula. Tetapi, paling tidak bisa dikatakan bahwa filsafat itu kira-kira merupakan studi tentang arti dan berlakunya kepercayaan atau pengetahuan manusia pada sisi yang paling

19 C.C.J. Webb, History of Philosophy, (London: Oxford University Press, 1915), h.1-9. 20 Harold H. Titus, Living Issues in Philosophy: An Introductory Textbook, op.cit., h.6-10. 21 Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), .hal. 274 22 Sudarto, Metodologi Penelitian Filsafat, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1997), hal. 39

(30)

24 Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto dasar dan universal. Studi ini didalami tidak dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan problem secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu, serta akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektik. Dialektik ini secara singkat bisa dikatakan merupakan sebuah bentuk dialog. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa23.

Sejauh ini sejarah filsafat hanya mencatat nama-nama besar filsuf Barat sebagai tokohnya. Nama-nama yang ditokohkan tersebut diantaranya: Thales, Anaximanros, Socrates, Plato, Aristoteles, Agustinus, Thomas Aquinas, Rene Descartes, August Comte, Karl Marx, Husserl dan Sartre24. Para tokoh tersebut lebih dikenal dengan gerakan-gerakan dan paham-paham Barat seperti Renaissance, Aufklarung, Skolastik, Rasionalisme, Empirisme, Eksistensialisme, Modernisme serta Postmodernisme. Kesemuanya itu telah diabadikan dalam dunia filsafat dan menjadi bagian dari sejarahnya. Sehingga tidak mengherankan apabila banyak dari kalangan akademisi Timur selalu berkiblat ke Barat dan sering diistilahkan sebagai ‚kebarat-baratan‛ atau senada dengan istilah ‚westernisasi‛ a la Koentjoroningrat.

Menurut J.V. Schall, filsafat dalam konteks kebudayaan dapat dijelaskan sebagai berikut.

Philosophy has some very valuable, indeed essential contribution to make before there can be any adequate knowledge of what is meant by culture. Furthermore, the key to a very important problem in the field of religion and culture can also be found in philosophy. The immediate task that confronts the philosopher is a dialectic one, that is, what do modern historians and social scientists commonly mean by culture, what is the reality that they attempt to describe?25.

Filsafat dan kebudayaan memang akan selalu terkait satu sama lain sebagaimana diungkapkan Schall dalam pendapatnya tentang filsafat di atas. Keduanya akan saling memberi dan menerima. Ketika orang berfilsafat, maka orang itu akan melakukan proses berbudaya. Sebaliknya, falsafah hidup akan menentukan nilai peradaban manusia itu sendiri.

Meskipun demikian, bila diperhatikan secara seksama, nampak pengertian-pengertian tersebut lebih bersifat saling melengkapi, sehingga dapat dikatakan bahwa berfilsafat berarti penyeledikan tentang apanya, bagaimananya, dan untuk apanya, dalam konteks ciri-ciri berpikir filsafat, yang bila dikaitkan dengan terminologi filsafat tercakup dalam ontologi (apanya), epistemologi (bagaimananya), dan axiologi (untuk apanya).

23 Lihat http://www.id.wikipedia.org/wiki/Filsafat 24 Sudarto. op.cit. hal. 9-25

(31)

Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto 25 B. Ciri-Ciri Filsafat

Bila dilihat dari aktivitasnya filsafat merupakan suatu cara berpikir yang mempunyai karakteristik tertentu. Menurut Sutan Takdir Alisjahbana syarat-syarat berpikir yang disebut berfilsafat yaitu : a) berpikir dengan teliti, dan b) berpikir menurut aturan yang pasti. Dua ciri tersebut menandakan berpikir yang insaf, dan berpikir yang demikianlah yang disebut berfilsafat.26

Sementara itu Sidi Gazalba menyatakan bahwa ciri ber-filsafat atau berpikir filsafat adalah: radikal, sistematik, dan universal. Radikal bermakna berpikir sampai ke akar-akarnya (radix artinya akar), tidak tanggung-tanggung sampai dengan berbagai konsekwensinya dengan tidak terbelenggu oleh berbagai pemikiran yang sudah diterima umum. Sistematik artinya berpikir secara teratur dan logis dengan urutan-urutan yang rasional dan dapat dipertanggungjawabkan. Universal artinya berpikir secara menyeluruh tidak pada bagian-bagian khusus yang sifatnya terbatas.27

Sementara itu Sudarto menyatakan bahwa ciri-ciri berpikir filsafat adalah:28

1. Metodis: menggunakan metode, cara, yang lazim digunakan oleh filsuf (ahli filsafat) dalam proses berpikir.

2. Sistematis: berpikir dalam suatu keterkaitan antar unsur-unsur dalam suatu keseluruhan sehingga tersusun suatu pola pemikiran filsafati.

3. Koheren: diantara unsur-unsur yang dipikirkan tidak terjadi sesuatu yang bertentangan dan tersusun secara logis

4. Rasional: mendasarkan pada kaidah berpikir yang benar dan logis (sesuai dengan kaidah logika)

5. Komprehensif: berpikir tentang sesuatu dari berbagai sudut (multidimensi).

6. Radikal: berpikir secara mendalam sampai ke akar-akarnya atau sampai pada tingkatan esensi yang sedalam-dalamnya (radix = akar)

7. Universal: muatan kebenarannya bersifat universal, mengarah pada realitas kehidupan manusia secara keseluruhan

Dengan demikian berfilsafat atau berpikir filsafat bukanlah sembarang berpikir tapi berpikir dengan mengacu pada kaidah-kaidah tertentu secara disiplin dan mendalam. Pada dasarnya manusia adalah homo sapien, hal ini tidak serta merta semua manusia menjadi filsuf, sebab berpikir filsafat memerlukan latihan dan pembiasaan yang terus menerus dalam kegiatan berpikir sehingga setiap masalah/substansi mendapat pencermatan yang mendalam untuk mencapai kebenaran jawaban dengan cara yang benar sebagai manifestasi kecintaan pada kebenaran.

26

diakses dari https://sabrinafauza.wordpress.com/category/filsafat-ilmu/ tanggal 20 September 2015, jam 07.43 WIB.

27Ibid.

(32)

26 Pengantar Filsafat Ilmu  by Miswanto C. Objek Filsafat

Pada dasarnya filsafat atau berfilsafat bukanlah sesuatu yang asing dan terlepas dari kehidupan sehari-hari, karena segala sesuatu yang ada dan yang mungkin serta dapat dipikirkan bisa menjadi objek filsafat apabila selalu dipertanyakan, dipikirkan secara radikal guna mencapai kebenaran. Louis Kattsoff menyebutkan bahwa lapangan kerja filsafat itu bukan main luasnya yaitu meliputi segala pengetahuan manusia serta segala sesuatu yang ingin diketahui manusia. Langeveld (1955) menyatakan bahwa filsafat itu berpangkal pada pemikiran keseluruhan secara radikal dan menurut sistem, sementara itu Mulder (1966) menjelaskan bahwa tiap-tiap manusia yang mulai berpikir tentang diri sendiri dan tentang tempat-tempatnya dalam dunia akan menghadapi beberapa persoalan yang begitu penting, sehingga persoalan itu boleh diberi nama persoalan-persoalan pokok yaitu : 1) Adakah Tuhan, dan siapakan Tuhan itu?; 2) apa dan siapakah manusia?; 3) Apakah hakekat dari segala realitas, apakah maknanya, dan apakah intisarinya?.

Lebih jauh A.C. Ewing dalam bukunya Fundamental Questions of Philosophy (1962) menyatakan bahwa pertanyaan-pertanyaan pokok filsafat (secara tersirat menunjukan objek filsafat) ialah: truth (kebenaran), matter (materi), mind (pikiran), the relation of matter and mind (hubungan antara materi dan pikiran), space and time (ruang dan waktu), causes (sebab-sebab), freedom (kebebasan), monism versus pluralism (serba tunggal lawan serba jamak), dan God (Tuhan).29

Pendapat-pendapat tersebut di atas menggambarkan betapa luas dan mencakupnya objek filsafat baik dilihat dari substansi masalah maupun sudut pandang nya terhadap masalah, sehingga dapat disimpulkan bahwa objek filsafat adalah segala sesuatu yang maujud dalam sudut pandang dan kajian yang mendalam (radikal). Secara lebih sistematis para ahli membagi objek filsafat ke dalam objek material dan objek formal. Objek material adalah objek yang secara wujudnya dapat dijadikan bahan telaahan dalam berpikir, sedangkan objek formal adalah objek yang menyangkut sudut pandang dalam melihat objek material tertentu.

Menurut Descartes objek material filsafat adalah segala hal yang ada (segala sesuatu yang berwujud), yang pada garis besarnya dapat dibagi atas tiga persoalan pokok yaitu: 1) hakekat Tuhan; 2) hakekat alam; dan 3) hakekat manusia atau jiwa.30 Sedangkan objek formal filsafat ialah usaha mencari keterangan secara radikal terhadap objek material filsafat. Dengan demikian objek material filsafat mengacu pada substansi yang ada dan mungkin ada yang dapat dipikirkan oleh manusia, sedangkan objek formal filsafat

29 A.C. Ewing, Fundamental Questions of Philosophy, (London and New York: Routledge, 1985), h.53-230. 30 Simon Petrus L. Tjahjadi, Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: dari Descartes sampai Whitehead,

Gambar

Gambar 2.1. Dimensi-dimensi Manusia
Gambar 2.2. Hubungan Berpikir dengan Pengetahuan
Gambar 2.3. Hirarki Gradasi Berpikir
Gambar 3.1. Skema Wilayah Filsafat
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kedua, hukum progresif sebagai sebuah wacana cukup menarik minat dan perhatian masyarakat ilmiah, karena semangat pembaharuan dan pengembangan atas teori hukum yang selama ini

Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti: apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut

pernyataan di atas mengindikasikan bahwa adalah sulit bahkan tidak mungkin ilmu mampu menembus batas-batas yang menjadi wilayahnya yang sangat bertumpu pada fakta

Dalam perspektif Filsafat Ilmu, keilmiahan dari bangunan keilmuan atau aktifitas ilmiah pada umumnya memang sangat ditentukan oleh ketepatan dalam penggunaan teori

1.3 Memahami metodologi ilmu ekonomi yang digunakan dalam mempelajari kajian ekonomi 1.4 Mengidentifikasi sistem ekonomi sebagai sistem.. yang mendasari aktifitas ekonomi dalam suatu

secara konsisten dan kumulatif, dan secara empiris, ilmu memisahkan antara pengetahuan yang sesuai dengan fakta dari yang tidak.  Semua teori ilmiah harus memenuhi

Dengan kata lain filsafat bersifat menyeluruh dimana segala bentuk apakah itu benda ataupun suatu kejadian harus bisa kita lihat dari segala sisi dan segala aspeknya... Filsafat ilmu

Jika kita melihat sejarah lahirnya filsafat yang bermula dari pencarian hakikat sebenarnya dari segala hal, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa filsafat adalah sebuah ilmu yang