• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN METODE FRONTIER ANALYSIS DALAM MENGUKUR EFISIENSI KINERJA USAHA KECIL DAN MENENGAH (Studi Kasus : UKM jamur tiram di Kabupaten Bogor)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENERAPAN METODE FRONTIER ANALYSIS DALAM MENGUKUR EFISIENSI KINERJA USAHA KECIL DAN MENENGAH (Studi Kasus : UKM jamur tiram di Kabupaten Bogor)"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN METODE FRONTIER ANALYSIS DALAM

MENGUKUR EFISIENSI KINERJA USAHA KECIL DAN

MENENGAH

(Studi Kasus : UKM jamur tiram di Kabupaten Bogor)

SKRIPSI

YOLANDA MARTHA HARI FIANTI

F34060804

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2011

(2)

PENERAPAN METODE

FRONTIER ANALYSIS

DALAM MENGUKUR

EFISIENSI KINERJA USAHA KECIL DAN MENENGAH

(Studi Kasus : UKM jamur tiram di Kabupaten Bogor)

SKRIPSI

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar

SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN

pada Departemen Teknologi Industri Pertanian

Fakultas Teknologi Pertanian

Institut Pertanian Bogor

Oleh :

YOLANDA MARTHA HARI FANTI

F34060804

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2011

(3)

Judul skripsi : Penerapan Metode

Frontier Analysis

Dalam Mengukur

Efisiensi Kinerja Usaha Kecil dan Menengah (Studi Kasus:

UKM jamur tiram di Kabupaten Bogor)

Nama

: YOLANDA MARTHA HARI FIANTI

NRP

:

F34060804

Menyetujui,

Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Hartrisari Hardjomidjojo, DEA

NIP : 19610630 198603 2003

Mengetahui,

Ketua Departemen Teknologi Industri Pertanian

Prof. Dr. Ir. Nastiti Siswi Indrasti

NIP : 19621009 198903 2001

(4)

SURAT PERNYATAAN MENGENAI SKTIPSI DAN SUMBER INFORMASI

Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi dengan judul PENERAPAN METODE FRONTIER ANALYSIS DALAM MENGUKUR EFISIENSI KINERJA USAHA KECIL DAN MENENGAH (Studi Kasus : UKM jamur tiram di Kabupaten Bogor) adalah hasil karya saya sendiri dengan arahan Dosen Pembimbing Akademik, da belum diajukan dalam bentuk apapun pada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupaun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di baian akhir skripsi ini.

Bogor, Januari 2011

Yolanda Martha Hari Fianti F34060804

(5)

YOLANDA MARTHA H. F34060804. Penerapan Metode Frontier Analysis dalam Mengukur Efisiensi Kinerja Pada Usaha Skala Mikro dan Kecil, Studi Kasus UMK Jamur Tiram di Kabupaten Bogor. Di bawah bimbingan Hartrisari. 2010

RINGKASAN

Efisiensi merupakan suatu parameter kinerja yang penting dalam dunia perindustrian terutama pada bidang Agroindustri. Efisiensi kinerja suatu industri akan mempengaruhi jumlah pendapatan industri tersebut. Pengukuran efisiensi dapat dijadikan suatu gambaran bagi pelaku industri untuk memperbaiki atau meningkatkan pemanfaatan sumberdaya terutama pada berskala mikro dan kecil (UMK). Secara umum, tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis efisiensi kinerja pada Usaha Kecil dan Menengah (UMK) budidaya dan pengolahan Jamur Tiram di Bogor dengan metode

Frontier Analysis. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai keadaan UMK Jamur Tiram di Kabupaten sehingga dapat dijadikan acuan untuk perbaikan kinerja UMK.

Frontier Analysis merupakan suatu metode pengkuruan kinerja yang dikembangkan dari Data Envelopment Analysis (DEA). DEA adalah alat dalam pengukuran tingkat kinerja atau produktifitas dari sekelompok organisasi. Pengukuran dilakukan untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan penggunaan sumberdaya yang dapat dilakukan untuk menghasilkan output yang optimal. Output dari perhitungan menggunakan metode Frontier Analysis (FA) adalah tingkat efisiensi dari operasionalisasi UMK. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, yakni hasil dari wawancara langsung terhadap pengelola UMK Jamur Tiram. Responden penelitian ini adalah UMK Jamur Tiram yang terdiri dari 5 UMK budi daya dan 3 UMK pengolahan.

Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa UMK budi daya, terdapat empat UMK yang memiliki nilai efisiensi kinerjanya 100%, yakni UMK A, B, D, dan E. UMK C memiliki nilai efisiensi sebesar 22,76%. Pengukuran kinerja UMK pengolahan dengan Frontier Analysis menunjukan UMK B dan UMK F memiliki nilai 100%, sedangkan UMK A memiliki skor 58,84%. Pada proses analisis dengan Frontier, dilakukan Frontier Plot dengan dua variabel input yang memiliki korelasi paling tinggi dengan skor efisiensi yaitu Biaya Produksi (0.40) dan Turunan Bibit (0.41). UMK yang memiliki skor efisiensi 100 % adalah UMK A, B dan D diikuti UMK D 87,60 %, dan UMK C 21,98%. Sedangkan pada UMK pengolahan, dua variabel input yang digunakan adalah Keuangan (0.26) dan Jam Kerja (0.37) serta Pendaptan (0.29) sebagai variabel output. Hasil dari Frontier Plot

pada UMK pengolahan adalah UMK A dan B memiliki nilai efisiensi sebsar 100% dan UMK F memiliki nilai 57.36%.

Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimulkan bahwa UMK Jamur Tiram di Kabupaten Bogor secara keseluruhan masih belum efisien. Penggunaan sumber daya belum dimanfaatkan secara tepat. Hal ini terlihat dari efisiensi yang berbeda antara UMK yang satu dengan yang lain. Efisiensi UMK Jamur Tiram masih perlu ditingkatkan, salah satunya dengan meningkatkan kapasitas produksi dan harga jual jamur tiram maupun olahannya.

(6)

APPLICATION OF FRONTIER ANALYSIS METHOD IN MEASURING PERFORMANCE EFFICIENCY IN MICRO and SMALL ENTERPRISE (MSE) CASE STUDY IS MSE’s OYSTER

MUSHROOMIN BOGOR DISTRICT .

Hartrisari and Yolanda Martha Hari Fianti

Department of Agroindustrial Technology, Faculty of Agricultural Technology Bogor Agricultural University, IPB Darmaga Campus, PO Box 220, Bogor, West Java,

Indonesia

ABSTRACT

Data Envelopment Analysis (DEA) was developed as a tool in measuring the level of performance or productivity of a group of organizations. Measurement were done to determine the possibilities of the use of resources that can be done to produce the optimal output. In the process of performance measurement will use the Frontier Analysis method. Output from the calculation result with Frontier Analysis method is the level of operational efficiency of MSE. Data used in this study are primary data, the results of direct interviews with manager of MSE’s oyster mushroom. MSE’s oyster mushroom which consists of five MSE’s cultivation and three MSE’S processing. Measurements process started by calculating the productivity of MSE, both based on the ratio of production bag log capacity and overall of MSE, then continued the calculation by Frontier Analysis. The Result of Frontier Analysis is the performance of efficiency value and potential improvement of each MSE. Potential improvement can be used as a basic to improve the MSE’s performance. The result of this research shows performance efficiency of MSE’s oyster mushroom in Bogor District needed to be improved by increasing the selling price and production capacity.

(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jambi pada tanggal 5 Maret 1988. Penulis merupakan anak terakhir dari tiga bersaudara dari pasangan Hary Purwanto dan Erfina Anwar. Penulis mengawali pendidikan di TK Burung Pipit Pondok Gede pada tahun 1992. Pada tahun 1994 penulis memasuki Sekolah Dasar Negeri 01 Pondok Gede, tahun 1995-1997 di Sekolah Swasta 17 Agustus, dan 1997-2000 melanjutkan pendidikan SDN Malaka Jaya 04 Jakarta Timur. Pada tahun 2000 penulis melanjutkan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di SLTP Negeri 139 Jakarta dan lulus pada tahun 2003. Setelah tamat dari SLTP, penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Umum Negeri 81 Jakarta dan lulus pada tahun 2006. Tahun 2006, penulis diterima sebagai mahasiswa program sarjana (S1) Institut Pertanian Bogor melalui jalur SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru).

Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif dalam Himpunan Mahasiswa Teknologi Indistri (HIMALOGIN) sebagai staf Departemen Human Resource Development pada tahun 2007-2009. Penulis juga aktif dalam unit kegiatan mahasiswa Gentra Kaheman sebagai pengajar tari Sunda.

Penulis melaksanakan Praktek Lapang di PT Herlina Indah dengan judul Mempelajari Perencanaan Produksi dan Pengendalian Ketersediaan Bahan Baku. Tugas akhir penulis dilaksanakan pada tahun 2010. Responden penelitian adalah UKM jamur tiram yang berada di Kabupaten Bogor, dengan judul Penerapan Metode Frontier Analysis Dalam Mengukur Efisiensi Kinera Usaha Kecil dan Menengah (Studi Kasus: UKM jamur tiram di Kabupaten Bogor). Saat ini penulis telah bekerja di Permata Wedding Organizer and Catering Service sebagai marketing.

(8)

©Hak cipta milik Yolanda Martha Hari Fianti, tahun 2011 Hak cipta dilindungi

Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari Institut Pertanian Bogor, sebagai atau seluruhnya dalam bentuk apapun, baik cetak, fotokopi, microfilm, dan sebagainya.

(9)

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan nikmat-Nya penulis akhirnya mampu menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Penerapan Metode

Frontier Analysis Dalam Mengukur Efisiensi Kinerja Usaha Kecil dan Menengah (Studi Kasus: UKM jamur tiram di Kabupaten Bogor)”. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada :

1. Dr. Ir. Hartrisari Hardjomidjojo, DEA selaku dosen pembimbing akademik, yang banyak memberikan bimbingan berupa arahan dan saran dalam penyusunan skripsi.

2. Dr. Ir. Sukardi, MM dan Dr. Ir. Yandra Arkeman, M. Eng selaku dosen penguji yang bersedia memberikan berbagai masukan yang sangat bermanfaat bagi perbaikan skripsi ini.

3. Pengelola UKM jamur tiram di Kabupaten Bogor; Ibu Nita, Ibu Ade, Bapak Muhroji, Ibu Ira, Bapak Aidil, dan Bapak Ryan atas bimbingan dan kerjasamanya.

4. Ayahanda Hary Purwanto, Ibunda Erfina Anwar, serta kakak-kakakku; Reza Martin, Dwi Mariana, Juan Fariz, Novita Lidia. Kasih sayang serta dukungan mereka yang tidak terhingga untuk penulis.

5. Dosen-dosen Teknologi Industri Pertanian yang sudah memberikan pembekalan ilmu kepada penulis.

6. Rekan satu bimbingan, yakni Faiza Arifa dan Mahesa Agni PHP atas keersamaan, kerjasama dan bantuannya selama ini.

7. Kakak satu bimbingan, Kak Sigit Pranoto, Maulina Fitri, Wahyu Fitriyanto dan terutama Bimo Bayu Aji yang telah memberi semangat serta bimbingan kepada penulis.

8. Pak Mul, Bu Nina, Bu Yuli dan seluruh staff UPT dan Departemen TIN atas bantuan yang tidak terhingga kepada penulis.

9. Mitha, Resa, Rina, Gaby, Kristin, Selly, Randy, Irma, serta teman-teman TIN 43 yang selalu memberikan keceriaan dan kenangan manis kepada penulis.

10. Teman-teman TIN 41, TIN 42, TIN 44, teman-teman kost Perwira 50 dan Wisma Ami atas semangat, kebersamaan, dan keceriaan yang telah diberikan selama ini.

11. Arum Anggita, Liza Sri Sekarwati, Sarah Q.N.H, Wulan Nurdefaliana, Aulia K, Fitria T atas persahabatan yang indah.

12. Pihak-pihak yang turut membantu terlaksanannya penyusunan skripsi yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa bahasan mengenai penjadwalan produksi memiliki ruang lingkup yang amat luas, dan bahwa skripsi ini hanya mencakup sebagian kecil dari bahasan tersebut. Walaupun demikian, penulis berharap adanya skripsi ini dapat menjadi inspirasi bagi diadakannya penelitian lainnya, dan memberi manfaat bagi pembacanya.

Bogor, Januari 2011

(10)

ii

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR GAMBAR ... iii

DAFTAR TABEL ... iv DAFTAR LAMPIRAN ... v I. PENDAHULUAN ... 1 1.1. LATAR BELAKANG ... 1 1.2. PERUMUSAN MASALAH ... 2 1.3. TUJUAN ... 2 1.4 RUANG LINGKUP ... 2

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 3

2.1 EFISIENSI KINERJA ... 3

2.2. DATA ENVELOPMENT ANALYSIS (DEA) DAN FRONTIER ANALYSIS ... 3

2.3 USAHA KECIL DAN MEENENGAH (UKM) ... 4

2.4 JAMUR TIRAM ... 4

2.5 PENELITIAN TERDAHULU ... 5

III. METODOLOGI PENELITIAN ... 7

3.1. KERANGKA PEMIKIRAN ... 7

3.2. WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN ... 7

3.3. TAHAPAN PENELITIAN ... 8

3.4. INTERPRETASI DATA ... 13

IV. KEADAAN UMUM UKM JAMUR TIRAM DI KABUPATEN BOGOR ... 15

4.1. KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN BOGOR ... 15

4.2. UKM JAMUR TIRAM DI KABUPATEN BOGOR ... 16

4.2.1. KEADADAAN UMUM JAMUR TIRAM DI KABUPATEN BOGOR ... 16

4.2.1.1. UKM BUDI DAYA JAMUR TIRAM ... 16

4.2.1.2. UKM PENGOLAHAN JAMUR TIRAM ... 20

V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 23

5.1. ANALAISIS EFISIENSI KINERJA UKM BUDI DAYA JAMUR TIRAM ... 23

5.1.1. VARIABEL INPUT-OUTPUT UKM BUDI DAYA JAMUR TIRAM ... 23

5.1.2. ANALISIS INDEKS KINERJA UKM BUDI DAYA JAMUR TIRAM DI KABUPATEN BOGOR………. 27

5.2.ANALISIS EFISIENSI KINERJA UKM PENGOLAHAN JAMUR TIRAM ... 35

5.2.1. VARIABEL INPUT-OUTPUT UKM PENGOLAHAN JAMUR TIRAM ... 35

5.2.2. ANALISIS INDEKS KINERJA UKM PENGOLAHAN JAMUR TIRAM DI KABUPATEN BOGOR………. 37

5.3.FRONTIER ANALYSIS ... 39

VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 49

6.1. KESIMPULAN ... 49

6.2. SARAN ... 49

DAFTAR PUSTAKA ... 51

(11)

iii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Diagram alir tahapan penelitian ... 14

Gambar 2. Diagram proses budi daya jamur tiram ... 19

Gambar 3. Diagram proses pembuatan kerupuk jamur tiram UKM A ... 20

Gambar 4. Diagram proses pembuatan keripik jamur UKM B ... 21

Gambar 5. Diagram alir proses pembuatan keripik jamur UKM F ... 22

Gambar 6. Diagram layang-layang variabel input-output UKM A budi daya jamur tiram 28 Gambar 7. Diagram layang-layang variabel input-output UKM B budi daya jamur tiram 28 Gambar 8. Diagram layang-layang variabel input-output UKM C budi daya jamur tiram 29 Gambar 9. Diagram layang-layang variabel input-output UKM D budi daya jamur tiram 30 Gambar 10. Diagram layang-layang variabel input-output UKM E budi daya jamur tiram 30

Gambar 11. Diagram layang-layang variabel input-ouput UKM budi daya jamur tiram di ... Kabupaten Bogor ... 31

Gambar 12. Diagram layang-layang variabel input-output UKM Budi daya jamur tiram berkapasitas ≥ 50 bag log ... 33

Gambar 13. Diagram layang-layang variabel input-output UKM Budi daya jamur tiram berkapasitas < 50 ... 34

Gambar 14. Diagram layang-layang variabel input-output UKM A pengolahan jamur tiram ... 37

Gambar 15. Diagram layang-layang variabel input-output UKM B pengolahan jamur tiram ... 38

Gambar 16. Diagram layang-layang variabel input-output UKM F pengolahan jamur Tiram ... 38

Gambar 17. Diagram layang-layang variabel input-output UKM F pengolahan jamur Tiram di Kabupaten Bogor ... 39

Gambar 18. Kontribusi input/ouput UKM budi daya A ... 40

Gambar 19. Kontribusi input/output UKM budi daya B ... 41

Gambar 20. Kontribusi input/output UKM budi daya C ... 41

Gambar 21. Potential improvement UKM budi daya C ... 42

Gambar 22. Kontribusi input/output UKM budi daya D ... 42

Gambar 23. Kontribusi input/output UKM budi daya E ... 42

Gambar 24. Diagram Total Potential Improvements UKM Budi daya ... 43

Gambar 25. Grafik Frontier Plot UKM Budi daya jamur tiram di Bogor ... 44

Gambar 26. Kontribusi input ouput UKM Pengolahan Jamur Tiram A ... 45

Gambar 27. Grafik Potential Improvements UKM Pengolahan Jamur Tiram A ... 45

Gambar 28. Kontribusi input/output UKM Pengolahan B ... 46

Gambar 29. Kontribusi input/ouput UKM Pengolahan F ... 46

Gambar 30.Grafik Potential Improvement UKM Pengolahan F ... 46

Gambar 31. Diagram Total Potential Improvements UKM Pengolahan Jamur Tiram di Bogor ... 47

Gambar 32. Grafik Frontier Plot UKM pengolahan Jamur Tiram di Bogor ... 47

(12)

iv

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Daftar variabel input output UKM budi daya jamur tiram. ... 9

Tabel 2. Daftar variabel input output UKM pengolahan jamur tiram ... 10

Tabel 3. Rumusan rasio produktivitas. ... 12

Tabel 4. Data variabel Money UKM budi daya jamur tiram ... 23

Tabel 5. Data variabel Man UKM budi daya jamur tiram ... 23

Tabel 6. Data variabel Machine UKM budi daya jamur tiram ... 24

Tabel 7. Data variabel Material UKM budi daya jamur tiram. ... 25

Tabel 8. Data variabel Market UKM budi daya jamur tiram ... 25

Tabel 9. Data variabel Method UKM budi daya jamur tiram ... 26

Tabel 10. Data variabel Environment dan Management UKM budi daya Jamur Tiram .. 27

Tabel 11. Data produktivitas variabel input-output UKM bud daya jamur tiram di Kabupaten Bogor ... 31

Tabel 12. Kapasitas produksi UKM budi daya jamur tiram ... 32

Tabel 13. Produktivitas variabel input-output UKM budi daya jamur tiram berkapasitas ≥ 50 bag log ... 33

Tabel 14. Produktivitas variabel input-output UKM budi daya jamur tiram berkapasitas <50 bag log ... 34

Tabel 15. Data variabel Money UKM pengolahan jamur tiram ... 35

Tabel 16. Data variabel Man UKM pengolahan jamur tiram ... 35

Tabel 17. Data variabel Machine UKM pengolahan jamur tiram ... 35

Tabel 18. Data variabel Material UKM pengolahan jamur tiram ... 36

Tabel 19. Data variabel Market UKM pengolahan jamur tiram ... 36

Tabel 20. Data variabel Manajemen dan Lingkungan UKM pengolahan jamur tiram ... 37

Tabel 21. Skor efisiensi UKM Budi daya jamur Tiram di Bogor ... 39

Tabel 22. Daftar potensial peningkatan analisis efisiensi pada UKM budi daya jamur.... tiram ... 44

Tabel 23. Skor efisiensi UKM pengolahan jamur tiram di Bogor. ... 44

Tabel 24. Daftar potensial peningkatan analisis efisiensi pada UKM pengolahan jamur tiram ... 48

(13)

v

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Kuesioner UKM Budi daya Jamur Tiram ... 54

Lampiran 2. Kuesioner UKM Pengolahan Jamur Tiram ... 56

Lampiran 3. Efficiency Report UKM Budi daya Jamur Tiram ... 58

Lampiran 4. Efficiency Report UKM Pengolahan Jamur Tiram ... 61

Lampiran 5. Grafik Korelasi UKM Budi Daya Jamur Tiram ... 62

Lampiran 6. Grafik Korelasi Pengolahan Jamur Tiram ... 63

Lampiran 7. Proses pembuatan bag log ... 64

Lampiran 8. Proses Pembuatan Keripik Jamur Tiram UKM B ... 65

(14)

I.

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Efisiensi merupakan suatu parameter dalam penilaian kinerja suatu industri. Tingkat efisiensi suatu industri menunjukkan gambaran optimalisasi kinerja suatu industri dalam rangka memanfaatkan seluruh sumberdaya yang dimiliki untuk menghasilkan produk dan jasa.

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia mempunyai peran signifikan dalam pembangunan ekonomi nasional. Perkembangan jumlah UKM periode 2007-2008 mengalami peningkatan sebesar 2.88 persen yaitu dari 49.824.123 unit pada tahun 2007 menjadi 51.257.537 unit pada tahun 2008 (Kementerian Negara Koperasi dan UKM, 2009). Dari data tersebut tercatat bahwa 51.51% dari UKM tersebut bergerak dalam bidang agroindustri. Menurut Austin dkk (1981) agroindustri merupakan kegiatan industri yang memanfaatkan hasil pertanian sebagai bahan baku, merancang, dan menyediakan peralatan serta jasa untuk kegiatan tersebut.

Usaha jamur tiram merupakan salah satu contoh agroindustri yang relatif potensial di Kabupaten Bogor. Kondisi geografis yang meliputi kelembapan udara, tanah dan curah hujan Kabupaten Bogor mendukung kelangsungan usaha jamur tiram. Dari segi budi daya jamur tiram merupakan komoditas unggul, karena mudah dalam teknik budidayanya, bebas pestisida, serta memiliki kandungan gizi yang tinggi sebagai alternatif dari sumber protein non-hewani. Kapasitas produksi jamur tiram di Kabupaten Bogor masih berskala kecil. Jumlah UKM budi daya jamur tiram di Kabupaten Bogor sebanyak 21 unit dengan total produksi sebesar 15.250 kilogram per bulan (Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Bogor, 2003). Berdasarkan hasil survei didapatkan lima UKM budi daya dan tiga UKM pengolahan. UKM pengolahan terdiri dari dua UKM keripik jamur tiram dan satu UKM kerupuk jamur tiram. UKM budi daya memiliki kapasitas maksimum produksi sebanyak 3.900 kilogram per bulan, sedangkan UKM pengolahan memiliki kapasitas maksimum 400 kilogram untuk produk keripik jamur dan 240 kilogram produk kerupuk jamur per bulan.

Permasalahan yang dihadapi pelaku usaha atau UKM jamur tiram di Kabupaten Bogor adalah ketidakseimbangan antara jumlah permintaan dan penawaran jamur tiram segar. Apabila suplai berlebih, maka harga jual akan turun. Pelaku usaha budi daya jamur tiram sering mengalami kerugian bila suplai berlebih. Penanganan pasca panen di tingkat UKM yang bersifat sederhana, tidak mampu membuat jamur tiram bertahan lama. Sifat jamur tiram yang mudah busuk dalam waktu 2-3 hari menyebabkan jamur tiram harus segera dijual meskipun dengan harga murah. Permasalahan yang lain dihadapi para pelaku usaha jamur tiram adalah pengolahan jamur tiram baru terbatas pada keripik jamur tiram. Namun demikian, potensi pengolahan jamur tiram patut dipertimbangkan mengingat nilai tambah yang diperoleh dari harga jual keripik jamur tiram. Harga keripik jamur tiram adalah Rp 75.000 per kilogram dibandingkan dengan harga jamur tiram segar (Rp 7.000/kg) .

Data Envelopment Analysis (DEA) merupakan alat yang digunakan dalam pengukuran tingkat kinerja dari sekelompok organisasi/industri. Pengukuran dilakukan untuk mengetahui alternatif penggunaan sumberdaya dalam rangka menghasilkan output yang optimal. Dalam proses pengukuran kinerja industri dalam DEA digunakan metode Frontier Analysis yaitu

(15)

2

metode yang mampu mengukur efisiensi dengan memperhitungkan seluruh input dan output. (Abidin, 2007). Hasil dari perhitungan dengan metode Frontier Analysis adalah tingkat efisiensi dari industri relatif terhadap unit yang diperbandingkan.

Pada penelitian ini metode Frontier Analysis akan digunakan dalam mengukur efisiensi kinerja UKM jamur tiram di Kabupaten Bogor. Hasil yang diharapkan dari penerapan metode ini adalah tingkat efisiensi UKM jamur tiram di Kabupaten Bogor. Berdasarkan tingkat efisiensi saat ini dapat direkomendasikan pada faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat efisiensi dalam rangka peningkatan kinerja UKM.

1.2

Perumusan Masalah

Karakteristik UKM di Indonesia adalah usaha perorangan dengan skala relatif kecil dan memiliki keterbatasan dari segi finansial dan pemenuhan permintaan pasar. Teknologi yang diterapkan biasanya masih sederhana bahkan tradisional. UKM jamur tiram di Kabupaten Bogor masih menerapkan teknologi tradisional dalam pelaksanaan budi dayanya. Masalah yang sering dihadapi dalam usaha jamur tiram adalah kerugian yang diderita dari hasil penjualan dengan harga yang murah akibat produksi yang berlebih. Skala produksi UKM jamur tiram yang relatif kecil juga menjadi kendala dalam pengembangan produk olahan jamur tiram. Data Envelopment Analysis yang dilengkapi metode Frontier Analysis

dapat digunakan untuk menilai tingkat efisiensi dari suati industri. Berdasarkan hasil yang didapat maka direkomendasikan perbaikan yang perlu dilakukan oleh UKM tersebut.

1.3

Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah mengukur tingkat efisiensi dari kinerja UKM Jamur Tiramdi Bogor dengan metode Frontier Analysis.

1.4

Ruang Lingkup

Dalam penelitian ini UKM jamur tiram yang diambil sebagai obyek penelitian adalah UKM jamur tiram di Kabupaten Bogor yang terdaftar di Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) IPB dan hasil survei lapang. Faktor-faktor yang diidentifikasi mencakup man, money, machine, method, material, market, management dan environment

(7M,1E). Setelah diidentifikasi, faktor tersebut diukur efisiensi untuk mengetahui kondisi dari UKM jamur tiram.

(16)

3

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

EFISIENSI KINERJA

Hasibuan (1993) memberikan pengertian efisiensi usaha sebagai menghasilkan suatu nilai output yang maksimum dengan menggunakan sejumlah input tertentu, atau tidak ada sumber daya yang terbuang, serta berusaha menggunakan input seminim mungkin. Sumber daya diartikan oleh Warren dan Raymond (1994) sebagai input terhadap sistem atau merupakan elemen yang diproses, diubah, atau digunakan dan mempengaruhi lingkungan internal. Sumber daya yang dimaksud terdiri dari Man, Material, Money, Method, Management, Machine, Material dan Environment (7M1E).

Kinerja adalah hasil kerja yang dicapai seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi atau perusahaan sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam rangka mencapai tujuan organisasi serta legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral dan etika (Prawirosentono, 1999).

Kinerja menurut Legowo (1996) memiliki elemen-elemen sebagai beirkut: 1. Efisiensi dalam produksi yaitu kemampuan berproduksi dengan efisien

2. Efisiensi dalam penyaluran yaitu kemampuan mendistribusikan hasil produksi dengan biaya rendah.

3. Dapat mengalokasikan sumber daya hingga harga yang dikenakan kepada konsumen rendah sesuai dengan biaya produksi termasuk keuntungan yang normal bagi produsen. 4. Kinerja berupa mutu, harga, dan jumlah (variasi produksi) yang sesuai dan bisa

memuaskan konsumen.

Comparative Performance Index (CPI) merupakan salah satu metode yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan berbasis indeks kinerja. CPI adalah indeks gabungan yang dapat digunakan untuk menentukan penilaian atau peringkat dari berbagai alternatif. CPI mentransformasi nilai dari variabel dengan jangkauan berbeda menjadi suatu indeks gabungan yang dapat dibandingkan (Marimin, 2002)

2.2

DATA ENVELOPMENT ANALYSIS (DEA)

DAN

FRONTIER ANALYSIS

Data Envelopment Analysis (DEA) merupakan suatu metode pendekatan untuk mengevaluasi kinerja dari suatu set entitas yang disebut Unit Pembuat Keputusan (Decision-Making Unit) pada kelompok atau organisasi (Cooper,.dkk, 2004). Farrell (1957) menambahkan, DEA merupakan metode yang menggunakan estimasi fungsi frontier (batas). Setiap input yang digunakan dalam proses produksi mempunyai kapasitas maksimum dan optimal. Pengukuran efisiensi melalui pendekatan DEA meliputi penggunaan Linear Programming dalam menghitungkan efisiensi.

Bougnol et al., (2001) menyatakan bahwa komponen utama yang perlu disiapkan untuk penggunaan Frontier Analysis adalah identifikasi dari daftar entitas dan pengklasifikasian sebagai input atau output. Identifikasi variabel input dan output yang akan digunakan dalam pengukuran kinerja merupakan langkah terpenting. Hal ini dinyatakan oleh Purwantoro (2003), karena hasil evaluasi kinerja akan tergantung pada pilihan input dan

output. Variabel yang digunakan dalam penelitian ditentukan berdasarkan kondisi yang ada pada objek penelitian

(17)

4

Frontier Analysis merupakan ukuran efisiensi relatif. Pengukuran dilakukan terhadap inefisiensi unit-unit yang ada dibandingkan dengan unit lain yang dianggap paling efisien dalam set data yang ada. Hal ini memungkinkan Frontier Analysis menghasilkan perhitungan tingkat efisiensi mencapai 100% pada beberapa unit. Unit yang memiliki tingkat efisiensi 100% merupakan unit yang terefisien dalam set data tertentu dan waktu tertentu. Keuntungan dari penggunaan Frontier Analysis adalah dapat melihat sumber ketidakefisienan dengan ukuran ‘peningkatan potensial’ dari masing-masing input (Hadad dkk, 2003).

2.3

Usaha Kecil dan Menengah (UKM)

Usaha Kecil dan menengah adalah usaha ekonomi produktif yang mandiri, dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha besar. Usaha kecil memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 50 juta sampai dengan Rp. 500 juta, sedangkan usaha menengah memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 500 juta sampai dengan Rp. 10 miliar. (Kementrian Koperasi dan UKM, 2009).

Hubeis (1997) menyatakan bahwa UKM mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagai berikut:

a. Kelebihan:

1. Organisasi internal sederhana terutama pada usaha kecil dan menengah (UKM), sedangkan pada usaha menengah cukup terstruktur

2. Mampu meningkatkan ekonomi kerakyatan/padat karya dan berpeluang untuk mengisi pasar ekspor dan mensubtitusi impor

3. Relatif aman bagi perbankan dalam pemberian kredit 4. Bergerak dibidang usaha yang cepat menghasilkan 5. Mampu memperpendek rantai distribusi

6. Fleksibilitas dalam pengembangan usaha b. Kekurangan:

1. Lemah dalam kewirausahaan dan manajerial 2. Keterbatasan ketersediaan keuangan 3. Ketidak mampuan pemenuhan aspek pasar

4. Keterbatasan pengetahuan produksi, teknologi dan informasi 5. Tidak didukung kebijakan dan regulasi yang memadai 6. Tidak terorganisir dalam jaringan dan kerjasama 7. Sering tidak memenuhi standar

2.4

Jamur Tiram

Jamur tiram putih atau Pleurotus ostreatus merupakan salah satu jenis jamur kayu yang banyak ditemukan pada media kayu yang sudah lapuk. Jamur tiram putih diklasifikasikan (Nunung dan Siregar, 2001) sebagai berikut:

Super Kingdom : Eukayota

Kingdom : Myceteae (Fungi) Divisio : Amastigomycotae Sub-Divisio : Basidiomycetae Kelas : Basidiomcetes Ordo : Agaricales

(18)

5

Genus : Pleurotus

Spesies : Pleurotus ostreatus

Jamur tiram merupakan jamur konsumsi dan bernilai ekonomi tinggi. Kandungan protein jamur tiram rata-rata 3,5-4% dari berat basah. Jamur tiram memiliki jandungan protein sebesar 19-35% dari berat keringnya. Kandungan protein jamur tiram lebih besar dibandingkan dengan bahan makanan lainnya seperti beras 7,3%, gandum 13,2%, kedelai 39,1% dan susu sapi 25,2%. Jamur tiram juga mengandung sembilan asam-asam amino esensial yang tidak bisa disintesis dalam tubuh yaitu lisin, metionin, triptofan, threonin, valin, leusin, isoleusin, histidin dan fenilalanin. Kandungan lemak jamur tiram setidaknya 72% dari total asam-asam lemaknya adalah asam lemak tidak jenuh sehingga tidak membahayakan untuk kesehatan. Jamur tiram juga mengandung sejumlah vitamin penting terutama kelompok vitamin B, vitamin C dan provitamin D yang akan diubah menjadi vitamin D dengan bantuan sinar matahari (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, 2009).

2.5

Penelitian Terdahulu

Kushendarini (2003) melakukan penelitian yang berjudul analisa budi daya untuk peningkatan produksi jamur tiram (Pleurotus ostreatus). Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis cara budi daya jamur tiram putih pada 20 kelompok tani yang ada di wilayah Kabupaten Bogor. Analisis yang dilakukan adalah mencari kombinasi bahan baku log yang terbaik, waktu panen dan analisis finansial. Hasil penelitian berupa infromasi menganai kandungan bahan baku yang terbaik, tahapan pembudidayaan, waktu panen dan analisis kelayakan usaha. Modal yang dibutuhkan untuk usaha budi daya dengan kapasitas 15.000 log adalah sebesar 63.526.666. pendapatan bersih yang diharapkan sebesar Rp 8.333.000/bulan.

Soeharto (2003) melakukan penelitian yang berjudul prospek teknologi pengolahan jamur tiram putih (Pleurotus ostreaetus) dalam peningkatan pendapatan petani. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari teknologi untuk mengolah jamur tiram agar memiliki nilai tambah. Pengolahan jamur tiram yang digunakan adalah mengolah jamur tiram menjadi keripik dengan mencari kombinasi bumbu yang terbaik. Analisa yang dilakukan berupa uji proksimat, organoleptik dan analisis kelayakan industri keripik jamur. Hasil dari penelitian adalah keripik jamur tiram putih berumur 13 hari merupakan produk yang paling disukai secara organoleptik. Hasil perhitungan analisis finansial, usaha keripik jamur memerlukan dana awal Rp 68.912.500, PPh 10-1=30%. NPV Rp 22.587.759, IRR 54.16%, Net B/C 1.64 dan PBP selama 5.62 bulan. Usaha keripik jamur layak dengan harga jual produk sebsar Rp 30.000 per kg curah, pada kapasitas penuh (50 kg produk per hari) dan tingkat suku bunga 1.5% per bulan dan margin Rp 4.698.769 atau 33.92% dari biaya produksi.

Sudaryanto (2006) melakukan analisis efisiensi kinerja pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dengan Data Envelopment Analysis (DEA) di Kabupaten Pati dan Kabupaten Rembang. Hasil penelitian menunjukan terdapat dua dari enam TPI yang belum efisien. Dua TPI yang belum mencapai efisien yaitu TPI Banyuwoto dan TPI Puncel. Perlu penggunaan input-output yang sesuai kebutuhan untuk meningkatkan kinerja TPI yang belum mencapai efisien. Penggunaan input-input tersebut tidak terlepas dari adanya pihak-pihak yang terkait untuk melakukan pengurangan input maupun peningkatan output.

Bayuaji (2008) melakukan penelitian terhadap industri tapioka skala kecil dengan melakukan pengukuran efisiensi kinerja dari industri tapioka yang ada di Bogor. Pengukuran dilakukan dengan mengidentifikasi variabel input dan output yang mempengaruhi proses

(19)

6

produksi kemudian dianalisis dengan Frontier Analysis. Hasilnya menunjukkan bahwa seluruh industri tapioka skala kecil belum memperhatikan aspek lingkungan ditunjukkan dengan variabel Environment yang rendah. Penggunaan mesin juga tidak merata antara industri yang satu dengan yang lain. Industri tapioka skala kecil di kota Bogor secara keseluruhan masih belum efisien. Hal ini terlihat dari efisiensi yang berbeda antara industri yang satu dengan yang lain dan masih ada industri yang belum efisien. Efisiensi industri tapioka skala kecil masih perlu ditingkatkan, salah satunya dengan pengunaan mesin untuk meningkatkan rendemen produk dan penambahan permodalan.

(20)

III.

METODOLOGI

3.1

KERANGKA PEMIKIRAN

UKM merupakan salah satu penyumbang dalam peningkatan perekonomian di Indonesia. Kontribusi yang dapat dilihat adalah dapat mengurangi tingkat pengangguran dan meningkatnya nilai ekspor. Hal ini berpengaruh baik terhadap produk domestik bruto (PDB) serta pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jamur tiram merupakan salah satu komoditi yang berpotensi untuk dibudidayakan dan diolah. Kabupaten Bogor memiliki beberapa UKM yang bergerak dibidang jamur tiram. Saat ini beberapa UKM tersebut memiliki kendala dalam pengelolaan usaha jamur tiram, yakni keseimbangan antara jumlah penawaran dan permintaan akan jamur tiram segar. Jumlah penawaran jamur tiram segar lebih banyak dibandingkan jumlah permintaan di pasar. Akibat dari ketidakseimbangan jumlah penawaran dan permintaan jamur tiram segar adalah, tidak stabilnya harga jual. Jamur tiram dijual dengan harga murah, sehingga petani jamur mengalami penurunan pendapatan bahkan mengalami kerugian.

UKM jamur tiram di Kabupaten Bogor pada umumnya masih dalam produksi skala kecil dan bersifat sederhana. Jumlah jamur tiram yang terbatas membuat pelaku UKM hanya mampu menjual jamur tiram segar saja. Pengolahan jamur tiram di Kabupaten Bogor baru terbatas berupa keripik jamur. Hasil survei dan wawancara ke pelaku usaha pengolahan jamur tiram menyebutkan harga jual keripik jamur tiram dapat mencapai Rp 75.000/kg. Berdasarkan informasi tersebut, jamur tiram segar memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk olahan seperti kripik maupun kerupuk jamur tiram. Permasalahan yang dihadapi UKM jamur tiram akan mempengaruhi produktivitas dan efisiensi dari kinerja UKM. Pengukuran efisiensi kinerja perlu dilakukan untuk mengetahui sejauh mana produktivitas dan efisiensi kinerja UKM.

Pada penelitian ini akan dilakukan pengukuran dan menganalisis efisiensi kinerja dari UKM jamur tiram di Kabupaten Bogor. Penentuan variabel input dan output diperlukan sebagai indikator pengukuran dan efisiensi. Analisis akan dilakukan dengan metode Frontier Analysis. Frontier Analysis digunakan untuk memudahkan dalam pengolahan data serta pengukuran efisiensi. Hasil pengukuran diharapkan dapat menunjukkan faktor-faktor yang mempengaruhi nilai efisiensi dari UKM, sehingga dapat dijadikan informasi bagi UKM untuk meningkatkan efisiensi kinerjanya.

3.2

WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN

Penelitian dilakukan selama dua bulan dimulai bulan April 2010 sampai Juni 2010. Penelitian dilakukan di UKM Jamur Tiram Kabupaten Bogor yang terletak di Dramaga, Ciomas, Ciampea, Tanah Sereal dan Tajur Halang.

3.3

TAHAPAN PENELITIAN:

3.3.1 Identifikasi Variabel Input dan Output

Variabel input output yang akan digunakan adalah hasil modifikasi variabel dari penelitian terdahulu oleh Bayuaji (2008) dalam penelitiannya, yakni pengukuran efisiensi kinerja pada industri tapioka. Beberapa sub variabel inputoutput diubah karena disesuaikan

(21)

8

dengan keadaan UKM yang dijadikan objek penelitian ini. Sub variabel yang diubah adalah jenis mesin serta biaya penyediaan bahan bakar yang digunakan pada variabel teknologi, dan penambahan variabel metode. Variabel metode terdiri dari dua sub variabel, yakni turunan bibit dan takaran bibit. Variabel inputoutput yang digunakan pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2. Jumlah variabel yang diidentifikasi pada UKM pengolahan terdiri dari tujuh variabel, yakni keuangan (money), tenaga kerja (man), market, bahan baku

(material), teknologi (machine), manajemen (management), dan environment. Variabel

method tidak dimasukan dimasukkan ke dalam perhitungan karena produk olahan yang dihasilkan tidak sama, sehingga tidak bisa dibandingkan.

1.3.2 Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan bantuan penyebaran kuesioner (Lampiran 1 dan Lampiran 2) dan wawancara. Data sekunder diperoleh dengan melakukan tinjauan pustaka. Responden dalam penelitian ini adalah UKM Budidaya dan Pengolahan Jamur Tiram skala kecil yang didapat dari hasil survey lapang. Data dikumpulkan dengan bantuan kuesioner yang diberikan kepada pengelola UKM. Untuk melengkapi data yang diperoleh dari kuesioner, juga dilakukan pengamatan dan wawancara.

1.3.3 Pengolahan Data :

Teori Produktivitas

Pada tingkat industri, produktivitas dihitung dengan rumus rasio yang berbeda-beda untuk masing-masing unit organisasi. Rasio produktivitas adalah perbandingan antara output

dengan input. Keuntungan menggunakan teori produktivitas adalah mudah dalam perhitungannya dan dapat diaplikasikan ke dalam berbagai jenis masalah. Hasil perhitungan menunjukkan secara langsung keadaan dari variabel yang ingin dikaji. Penelitian ini menggunakan model produktivitas sebagian (parsial) dan model Haberstar Produvtivity Wheel. Model produktivitas sebagian dijelakan oleh Umar (2009), yakni perbandingan output

dengan satu masukan input. Model produktivitas sebagian digunakan untuk menghitung produktivitas variabel tenaga kerja dan modal. Soetisna (2009) mengatakan bahwa Haberstar Produvtivity Wheel Model (Model Roda Produktivitas Haberstar) biasa digunakan manajer perusahaan untuk meningkatkan proutivitas perusahaan. Pada penelitian ini Haberstar Produvtivity Wheel Model digunakan untuk menghitung produktivitas bahan baku, metode, penjualan, dan teknologi. Rumusan produktivitas yang digunakan dalam pengolahan data penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 3.

(22)

9

Tabel 1. Daftar Variabel Input Output UKM budi daya jamur tiram

Variabel Definisi Satuan Keterangan Keuangan

Asal modal Dari mana modal UKM diperoleh

Ordinal 1. Sendiri ; 2. Keluarga; 3. Pinjaman Jumlah Modal Jumlah modal yang

digunakan UKM

Rupiah Titik Impas Lama UKM mengalami

impas

Tahun

Ketenagakerjaan

Jumlah Tenaga kerja Jumlah total tenaga kerja setiap UKM

Orang Lama Jam Kerja Lama jam kerja UKM

dalam sehari

Jam per hari Gaji Tenaga Kerja Gaji tenaga kerja yang

dibayarkan UKM setiap bulannya Rupiah per hari Pelatihan Tenaga Kerja Adanya pelatihan terhadap tenaga kerja

Ordinal 1. Ya 2. Tidak ada Teknologi Penggunaan Mesin (alat) Adanya penggunaan mesin dalam proses produksi

Ordinal 1. Ya 2. Tidak

Teknologi

Jenis Pemanas Alat pemanas yang digunakan untuk sterilisasi

1. Konvensional 2. Autoclaf Biaya Investasi Mesin

(alat)

Besarnya investasi pengadaan mesin

Rupiah Biaya Bahan Bakar

Mesin (alat)

Biaya yang dibutuhkan untuk mengoperasikan mesin (alat)

Rupiah per bulan

Bahan Baku

Biaya produksi Biaya penyedia media bibit

Rp per Bag Log Jumlah produksi Jumlah bag log yang

digunakan untuk budidaya dalam sebulan

Log per bulan

Asal Bibit Bibit didapat dari produksi sendiri atau beli

1. Buat sendiri 2. Beli

Pemasaran dan Produk

Umur panen Lamanya jamur untuk siap dipanen

Hari Jumlah Produksi Jumlah jamur tiram

yang dipanen dalam sehari

Kg jamur segar per hari

Harga Penjualan Harga penjualan jamur tiram dan produk olahan

Rupiah per kg

(23)

10

Lanjutan Tabel 1.

Metode

Turunan Bibit Turunan bibit yang digunkan; F2, F3, F4

2. F2 3. F3 4. F4 Takaran bibit Takaran bibit yang

diinokulasikan

Spatula

Manajemen

Perencanaan Produksi Adanya perencanaan produksi

Ordinal 1. Ada 2. Tidak ada Pengendalian Kualitas Adanya pengendalian

kualitas

Ordinal 1. Ada 2. Tidak ada

Environment (Lingkungan)

Pengolahan Limbah Pengolahan limbah yang dilakukan dalam UKM budidaya

Ordinal 1. Sangat Baik 2. Cukup Baik 3. Baik 4. Kurang Baik 5. Buruk Tanggapan Masyarakat Tanggapan masyarakat terhadap limbah UKM budidaya Ordinal 1. Sangat Mengganggu; 2. Cukup Mengganggu; 3. Mengganggu; 4. Kurang Mengganggu; 5. Tidak Mengganggu

Tabel 2. Daftar variabel input output UKM pengolahan jamur tiram

Variabel Definisi Satuan Keterangan Keuangan

Asal modal Dari mana modal UKM diperoleh

Ordinal 1. Sendiri 2. Keluarga; 3. Pinjaman Jumlah Modal Jumlah modal yang

digunakan UKM

Rupiah

Titik Impas Lama UKM mengalami impas

Tahun

Ketenagakerjaan

Jumlah Tenaga kerja Jumlah total tenaga kerja setiap UKM

Orang

Lama Jam Kerja Lama jam kerja UKM dalam sehari

(24)

11

Lanjutan Tabel 2.

Gaji Tenaga Kerja Gaji tenaga kerja yang dibayarkan UKM setiap bulannya

Rupiah per hari

Teknologi

Penggunaan Mesin Adanya penggunaan mesin dalam proses produksi Ordinal 1. Ya 2. Tidak Biaya Investasi Mesin (alat) Besarnya investasi pengadaan mesin Rupiah Bahan Baku

Biaya produksi Biaya pengolahan jamur Rp/kg Asal Bahan Baku

Utama

Sumber jamur tiram segar didapat

1. Budidaya sendiri 2. Beli

Pemasaran dan Produk

Jumlah Produksi Jumlah produk olahan yang diproduksi dalam satu bulan

Kg/bulan

Harga Penjualan Harga penjualan produk olahan jamur Rp/kg Manajemen Perencanaan Produksi Adanya perencanaan produksi Ordinal 3. Ada 4. Tidak ada Pengendalian Kualitas Adanya pengendalian kualitas Ordinal 3. Ada 4. Tidak ada Environment Lingkungan)

Pengolahan Limbah Pengolahan limbah yang dilakukan

Ordinal 1. Sangat Baik 2. Cukup Baik 3. Baik 4. Kurang Baik 5. Buruk Tanggapan Masyarakat Tanggapan masyarakat terhadap limbah yang dihasilkan UKM

Ordinal 1. Sangat Mengganggu; 2. Cukup Mengganggu; 3. Mengganggu; 4. Kurang Mengganggu; 5. Tidak Mengganggu

(25)

12

Tabel 3. Rumusan rasio produktivitas

Variabel Sub

Variabel Budi daya Pengolahan

Keuangan Modal Tenaga

Kerja Jam Kerja Jumlah Tenaga Kerja

Gaji Bahan

Baku Bag log Metode Bibit Penjualan Produk Teknologi Mesin (alat)

Composite Performance Index (Marimin, 2002)

Composite Performance Index (CPI) merupakan indeks gabungan yang dapat digunakan untuk menentukan penilaian atau peringkat dari berbagai alternatif (i) berdasarkan beberapa kriteria (j). Formula yang digunakan dalam teknik CPI :

Aij = Xij (min) x 100/ Xij (min)

A(i + 1.j) = (X(I + 1.j) )/ Xij (min) x 100

Iij = Aij x Pj

Ii = Keterangan:

Aij = nilai alternatif ke-i pada kriteria ke – j

Xij (min) = nilai alternatif ke-i pada kriteria awal minimum ke-j

A(i + 1.j) = nilai alternatif ke-i + 1 pada kriteria ke – j

X(i + 1.j) = nilai alternatif ke-i + 1 pada kriteria awal ke – j

Pj = bobot kepentingan kriteria ke – j

Iij = indeks alternatif ke-i

Ii = indeks gabungan kriteria pada alternatif ke –i

i = 1, 2, 3,…, n j = 1, 2, 3,…, m

Pada penelitian ini, CPI digunakan untuk menormalisasikan nilai dari hasil perhitungan rasio produktivitas yang memiliki desimal dan satuan yang berbeda-beda. Hal ini bertujuan agar nilai produktivitas setiap variabel dapat diperbandingkan. Nilai yang telah dinormalisasikan akan diinterpretasikan berupa diagram layang-layang.

(26)

13

Frontier Analysis

Cooper., dkk (2000) membuat suatu formula yang dapat digunakan untuk menghitung nilai efisiensi kinerja, yakni:

Epq = Maksimumkan

untuk

di mana

r

,

v

i

≥ 0

j sebagai kondisi pencapaian optimal;

vi > 0 untuk i = 1,…,m ; ur > o untuk r = 1,…,s

Keterangan:

i = jumlah output pada UKM Jamur Tiram

r = jumlah input pada UKM Jamur Tiram

j = jumlah UKM Jamur Tiram yang dianalisis

yro = nilai output ke-i (i=1,..,m) dari UKM Jamur Tiram ke-j (j=1,..,n)

xro = nilai input ke-j (r=1,..,s) dari UKM Jamur Tiram ke-j (j=1,..,n)

ur = bobot tertimbang bagi nilai output ke-i (i=1,..,m) dari UKM Jamur Tiram ke-j (j=1,..,n)

vr =bobot tertimbang bagi nilai input ke-j (r=1,..,s) dari UKM Jamur Tiram ke-j (j=1,..,n)

Epq =efisiensi relatif UKM Jamur Tiram ke-q (q=1,..,n) bila dievaluasi menggunakan bobot-bobot yang diasosiasikan dengan UKM Jamur Tiram ke-p (p=1,..,n)

Bobot yang diberikan sesuai dengan tingkat kepentingan dari variabel input outputnya.

3.4

INTERPRETASI DATA

Interpretasi data yang akan dibuat ada dua, yakni diagram layang-layang hasil dari perhitungan rasio produktivitas dan hasil dari perhitungan Frontier Analysis. Perhitungan dilakukan dengan bantuan Banxia Frontier Analysis(BFA) software. Hasil dari BFA adalah nilai efisiensi kinerja atau score efficiency dari setiap UKM yang dijadikan sampel. BFA juga akan menghasilkan informasi potential improvement berupa grafik. Berdasarkan hasil BFA tersebut akan diinterpretasikan berupa penjelasan mengenai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap efisiensi kinerja dan dapat digunakan sebagai acuan dalam peningkatan efisiensi kinerja UKM.

  m i io i s r ro r

x

v

y

1 1

1

1 1

  m i ij i s r rj r

x

v

y

(27)

14

Mulai

Identifikasi variabel inputoutput

(money, man, machine, market, method, management, material, dan environment)

Wawancara

Gambar 1. Diagram alir tahapan penelitian selesai Nilai produktifitas dan efisiensi Interpretasi Data Rasio Produktivitas Normalisasi

(Comperative Performance Index)

Pengukuran Efisiensi dengan Banxia Frontier Analyisis

(28)

15

IV.

KEADAAN UMUM UKM JAMUR TIRAM DI BOGOR

4.1

Keadaan Umum Wilayah Kabupaten Bogor

Kabupaten Bogor terletak di antara 106°43’30”BT - 106°51’00”BT dan 30’30”LS – 6°41’00”LS dengan jarak kurang lebih 60 km dari ibu kota. Kabupaten Bogor mempunyai luas wilayah 298.838.304 Ha dengan tipe morfologi wilayah yang bervariasi, dari dataran yang relatif rendah di bagian utara hingga dataran tinggi di dataran bagian selatan, yaitu sekitar 29.28% berada pada ketinggian 15-100 meter dpl, 8.43% berada pada ketinggian 1.000-2.000 meter dpl dan 0.22% berada pada ketinggian 2.000-2500 meter dpl. Kondisi morfologi Kabupaten Bogor sebagian besar berupa dataran tinggi, perbukitan dan pegunungan dengan batuan penyusunnya didominai oleh hasil letusan gunung, yang terdiri dari andesit, tufa dan basait. Gabungan batu tersebut termasuk dalam sifat jenis batuan relatif tembus air, dimana kemampuan meresapkan air hujan tergolong besar (Dinas Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor, 2009).

Kemiringan Kabupaten Bogor berkisar antara 0–15% dan sebagian kecil daerahnya mempunyai kemiringan antara 15–30%. Jenis tanah hampir di seluruh wilayah adalah latosol coklat kemerahan dengan kedalaman efektif tanah lebih dari 90 cm dan tekstur tanah yang halus serta bersifat agak peka terhadap erosi. Bogor terletak pada kaki Gunung Salak dan Gunung Gede sehingga sangat kaya akan hujan orografi. Angin laut dari Laut Jawa yang membawa banyak uap air masuk ke pedalaman dan naik secara mendadak di wilayah Bogor sehingga uap air langsung terkondensasi dan menjadi hujan. Hampir setiap hari turun hujan di kota ini dalam setahun (70%). (Dinas Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor, 2009).

Ibukota Kabupaten Bogor adalah Cibinong. Kabupaten Bogor berbatasan dengan Kabupaten Tangerang (Banten), Kota Depok, Kota Bekasi di sebelah utara, Kabupaten Karawang di sebelah timur, Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi di sebelah selatan, serta Kabupaten Lebak di sebelah barat. Kabupaten Bogor terdiri atas 40 kecamatan,( pada Tabel 2) yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan (Dinas Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor, 2009).

4.2

UKM Jamur Tiram di Kabupaten Bogor

4.2.1 Keadaan umum UKM Jamur Tiram di Kabupaten Bogor

UKM Jamur Tiram di Bogor, baik budi daya maupun pengolahan secara umum proses produksinya masih tergolong sederhana. Hal ini dikarenakan kemampuan produksi terbatas akibat kurangnya permodalan. Pada UKM budi daya, rata-rata pemiliknya memulai usaha dari coba-coba hinga akhirnya ke tahap lebih serius untuk menjalani usaha budi daya jamur. Modal yang digunakan kecil, dan mereka belum berani meminjam dana ke Bank untuk mengembangkan usaha budi daya jamur. Keuntungan yang diperoleh dijadikan modal lagi untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Masyarakat Bogor belum menjadikan jamur tiram sebagai bahan makanan yang favorit. Hanya kalangan masyarakat tertentu saja yang senang mengkonsumsi jamur tiram, sehingga mengakibatkan labilnya permintaan akan jamur tiram segar. Adanya petani budi daya jamur tiram berskala besar sering kali membuat harga jamur tiram jatuh di pasar tradisional sehingga berdampak buruk terhadap petani jamur tiram berskala menengah dan kecil. Karena hal inilah, sulitnya UKM jamur tiram berskala kecil untuk mengembangkan

(29)

16

usahanya. Pelaku usaha jamur tiram sebaikanya mempunyai pasar tersendiri agar dapat menjual jamur tiram segar dengan harga tinggi. Dikarenakan faktor-faktor yang telah disebutkan , maka ada beberapa petani yang menyadari bahwa menjual jamur tiram dalam bentuk segar tidak akan menghasilkan keuntungan yang besar. Supaya nilai tambah dari jamur tiram meningkatkan, beberapa petani berinisiatif mengolah jamur tiram segar menjadi makanan ringan yang bergizi, seperti keripik jamur dan kerupuk jamur tiram. Harga jual produk olahan bisa mencapai 10 kali dari harga jual jamur tiram segar.

4.2.1.1 UKM Budi Daya Jamur Tiram

Jamur tiram putih sebagai produk yang dibudidayakan oleah petani dihasilkan dari

log-log yang merupakan media pertumbuhan jamur. Bahan-bahan pembuat media tersebut antara lain serbuk kayu, dedak, kapur, gips dan pupuk. Volume produksi jamur tiram di beberapa UKM masih tergolong kecil. Skala kapasitas produksi yang dihasilkan masing-masing UKM budi daya jamur tiram bermacam-macam, dipengaruhi oleh besar modal awal yang diinvestasikan dalam usaha ini. Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa pelaku usaha budi daya jamur tiram menggunakan modal pribadi untuk memulai usaha. Modal awal ini digunakan untuk membangun rumah kumbung sebagai tempat produksi serta pemeliharaan jamur, membeli peralatan dan bahan baku produksi.

Proses budi daya jamur mencakup pembibitan, pembuatan bag log, pemeliharaan dan pemanenan. Pembibitan merupakan proses pembuatan kultur murni yang akan dibiakan menjadi bibit jamur tiram. Pembuatan bag log terdiri dari pencampuran bahan baku bag log

dengan nutrisi, pengomposan, pembungkusan, sterilisasi, pendinginan, inokulasi, dan inkubasi. Pemeliharaan merupakan masa tumbuh dari jamur tiram. Pemanenan merupakan tahap terakhir dari budi daya, yakni pengambilan jamur tiram dewasa. Berikut ini adalah langkah-langkah pembuatan bag log:

1. Persiapan Serbuk Kayu

Kandungan serbuk kayu yang diperlukan sebagai media tumbuh jamur tiram adalah karbohidrat, serat dan lignin, namun ada serbuk kayu juga memiliki zat yang tidak dibutuhkan dalam proses pertumbuhan miselium. Zat ini adalah getah dan zat ekstraktif (zat pengawt alami yang terdapat pada kayu). Pemilihan serbuk kayu sebagai bahan baku media penanaman jamur tiram putih perlu memperhatikan kebersihan dan kekeringan. Selain itu serbuk kayu yang digunakan tidak busuk dan ditumbuhi oleh jamur atau kapang lain.

2. Pengayakan

Pengayakan dilakukan untuk menghindari benda-benda asing yang tidak dibutuhkan dalam proses pembuatan log dan memisahkan potongan kayu dengan serbuk kayu dari proses penggergajian. Apabila potongan kayu ikut serta dalam bag log, akan mengakibatkan menghambat pertumbuhan miselium dan sobeknya bag log.

3. Pengomposan

Serbuk kayu yang akan dikomposkan, terlebih dahulu dicampurka dengan dedak dan bekatul. Pengomposan dilakukan dengan menutup serbuk kayu yang telah dengan plastik atau terpal untuk mengurangi kadar ksigen dalam campuran tersebut. Tujuan dari pengomposan adalah menguraikan senyawa-senyawa yang terdapat di dalam media tanam agar lebih sederhana. Proses ini membutuhkan waktu selama 1-2 hari. Kompos yang baik adalah apabila kompos teresebut mudah dikepal menjadi gumpalan dan mudah juga untuk dihancurkan kembali.

(30)

17

4. Pencampuran

Tujuan dari pencampuran bahan media tanam adalah menyediakan sumber hara atau nutrisi yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan jamur tiram hingga siap panen. Formulasi media tanam dicampur secara manual dengan tenaga kerja. Pencampuran harus dilakukan dengan merata agar nutrisi yang diinginkan homogen dan tidak menggumpal. Jika media tanam menggumpal dapat menghambat pertumbuhan bibit jamur yang ditanam.

5. Pembungkusan

Setelah bahan-bahan telah dicampur dan diaduk hingga merata, bahan media tanam dimasukkan ke dalam kantong plastik polipropilen (PP) berkapasitas 1 kilogram., lalu dipadatkan agar bibit dapat ditanam secara merata. Pemadatan dilakukan sampai media mencapai ketinggian sekitar 20 cm. Media kurang padat akan menyebabkan panen tidak optimal, karena media tanam menjadi cepat busuk sebelum berakhirnya panen, sehingga produktifitas menurun. Setelah media dipadatkan, ujung atas plastik dipasang cincin yang terbuat dari bambu kemudian disumbat dengan kapas dan ditutup lagi dengan kertas koran bekas.

6. Sterilisasi bag log

Sterilisasi dilakukan untuk membunuh mikroba, khususnya jamur-jamur liar ataupun mikroba yang dapat menghambat pertumbuhan jamur utama yang ditanam. Caranya dengan memberikan steam (penguapan atau pengukusan) selama 6-8 jam. Sterilisasi dapat dilakukan dengan alat konvensional dan alat sterilisasi modern. Sterilisasi dengan alat konvensional biasanya menggunakan drum dan berbahan bakar gas. Sedangkan alat sterilisasi modern yang digunakan pada salah satu responden dalam penelitian ini adalah autoclaf.

7. Pendinginan

Sebelum diinokulasikan dengan bibit jamur, bag log didinginkan terlebih dahulu hingga suhu mencapai 35-40°C. Suhu bag log yang lebih dari 40°C akan mengakibatkan bibit jamur diinoklasikan tidak akan tumbuh.

8. Inokulasi

Inokulasi adalah proses memasukan bibit jamur ke dalam bag log. Proses ini harus dilakukan dengan cara aseptis. Inokulasi dilakukan setelah bag log dingin dan dilakukan di ruangan yang telah disterilkan. Selain ruangan, alat-alat yang digunakan untuk inokulasi juga disterilkan dengan menggunakan alkohol dan bunsen. Setiap UKM memiliki jumlah takaran bibit yang berbeda-beda dalam proses inokulasi.

9. Inkubasi

Inkubasi atau proses menumbuhkan miselium jamur dilakukan dengan cara menyimpan bag log di ruang inkubasi bersuhu 22-28°C dengan kelembaban 90-100%. Suhu ruangan harus tetap terjaga agar pertumbuhan miselium optimum. Bag log

diletakkan dengan posisi berdiri. Masa inkubasi bag log adalah 40 hari, atau hingga bag log dipenuhi oleh miselium.

10. Pertumbuhan dan Pemeliharaan

Pemeliharaan dimaksudkan agar keadaan bag log tetap terjaga, sehingga pertumbuhan jamur optimum. Pemeliharaan dilakukan di kumbung. Kegiatan pemeliharaan mencakup menjaga suhu dan kelembapan kumbung, menyeleksi bag log

(31)

18

kumbung tetap stabil, biasanya dilakukan pengkabutan secara berkala, tergantung keadaan cuaca.

11. Pemanenan

Proses pemananen dilakukan setelah badan buah jamur dan tudungnya mencapai ukuran optimal (diameter 5-10cm). Pemanenan biasanya dilakukan pada pagi hari untuk mempertahankan kesegran jamur tiram putih dan mempermudah pemasarannya. Pemanenan dilakukan secara manual menggunakan tangan atau menggunakan pisau tajam. Jamur diambil hingga akar agar tidak ada bagian yang tertinggal yang dapat menyebabkan pembusukan bag log.

(32)

19

Serbuk kayu

Penjemuran sampai bau berkurang dan warna serbuk menjadi pucat

Pengayakan

Pengomposan (10 hari) Kapur dan dedak

Pembungkusan Kantong plastik 24x29 cm Pencampuran bahan - TSP - Gipsum - Urea - CaCO3 - Tepung jagung - Cincin bambu

- Sumbat Pemadatan berbentuk tabung silinder

Gambar 2. Diagram proses budi daya jamur tiram Inokulasi Sterilisasi (pengukusan) 90°-95°C Pendinginan Inkubasi ± 30 hari Suhu optimum 28°C Kelembapan optimum 80%

Pertumbuhan dan pemeliharaan

pemanenan

Jamur tiram segar

(33)

20

4.2.1.2 UKM Pengolahan Jamur Tiram

1. Kerupuk Jamur UKM A

UKM A terletak di Kabupaten Ciomas. UKM A mengolah jamur tiram segar menjadi kerupuk jamur tiram. Jamur tiram yang digunakan sebagai bahan baku utama berasal dari budi daya sendiri. Modal yang dibutuhkan dalam membangun usaha kerupuk jamur tiram sebesar Rp 11.852.966,-. Proses pembuatan kerupuk jamur tiram lebih panjang dibandingkan dengan UKM pengolahan lainnya. Berikut adalah diagram alir proses pembuatan keripik jamur tiram UKM A:

2. Keripik Jamur UKM B

Lokasi UKM B berada di Kabupaten Tajur. UKM B tidak hanya bergerak dibidang budi daya saja, namun juga pengolahan jamur tiram berupa keripik jamur

Gambar 3. Diagram proses pembuatan kerupuk jamur tiram UKM A

Kerupuk

jamur tiram

Pencucian Perebusan Penggiligan Pemberian Bumbu

-

Tepung tapioka

-

Telur

-

Gula

-

Garam

Pembungkusan Pengukusan Pendinginan Pengirisan Penjemuran Penggorengan

Jamur tiram

segar

(34)

21

tiram (snack). Jamur tiram yang dihasilkan dari budi daya sendiri dijadikan bahan baku utama dalam bisnis keripik jamur. Modal yang dibutuhkan dalam membangun usaha pengolahan jamur tiram tergolong kecil, yakni lima juta rupiah. Meskipun modal yang digunakan untuk mendirikian usaha pengolahan jamur tiram, UKM B mampu balik modal dalam waktu satu bulan. Berikut ini adalah diagram alir proses pembuatan keripik jamur tiram UKM B.

3. Keripik Jamur UKM F

UKM F mengolah jamur tiram menjadi keripik jamur tiram. Bedanya dengan UKM B, bahan baku utama yakni jamur tiram dibeli dari pembudi daya jamur tiram. Selain itu yang menjadi pembeda adalah ukuran jamur yang lebih besar, rasa, proses pemasakan, serta ukuran keripik jamur. Proses pemasakan lebih sederhana dan bumbu yang digunakan tidak beragam jika dibandingkan dengan UKM B.

UKM F mempekerjakan empat orang tenaga kerja. Tenaga kerja ini merupakan warga yang berada di sekitar lokasi UKM. Produksi tidak dilakukan setiap hari, melainkan seminggu sekali atau tergantung pemesanan. Peralatan yang digunakan untuk

Jamur tiram segar yang telah dibuang tangkainya

Pencucian

Penirisan

Perebusan (±3 menit)

Pendinginan

Pencampuran ke dalam bumbu dan tepung -Tepung beras -Tepung terigu -tapioka - Garam - Penyedap - Telur Penggorengan Pengecilan ukuran

Keripik jamur tiram

(35)

22

memproduksi keripik jamur sudah tergolong bagus. UKM F telah menggunakan spinner

untuk menjaga kualitas keripik agar tidak mudah bau akibat dari kandungan minyak yang berlebih. Selain itu, untuk mendukung beroperasinya mesin spinner, UKM F menggunakan genset berbahan bakar bensin.

Pencucian

Penirisan

Gambar 5. Diagram alir proses pembuatan keripik jamur UKM F Jamur tiram segar yang

tela dibuang tangkainya

Pendinginan

Pencampuran ke dalam bumbu dan tepung

- Tepung terigu

- Penyedap

Penggorengan

(36)

23

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1

Analisis Efisiensi KinerjaUKM Budi daya Jamur Tiram

5.1.1. Variabel Input-Output Budi daya Jamur Tiram

Variabel input-output ditentukan berdasarkan pada sumber daya industri. Ilmu manajemen menyebut sumber daya ini dengan sebutan 7M1E, yakni Man, Money, Machine, Methode, Market, Material dan Environment. Pada penelitian ini, variabel Man, Money, Machine, Methode, Management, Material dan Environment dijadikan sebagai variabel

input, sedangkan variabel market dijadikan sebagai variabel output. Tabel. 4. Data variabel Money UKM budi daya jamur tiram

Nama UKM Asal Modal Jumlah (Rp) PBP (tahun)

A Sendiri 82.970.761 1,5

B Sendiri 17.7779.449 belum

C Sendiri 57.609.291 1

D Sendiri 141.616.742 2

E Sendiri 94.080.000 1

Variabel Money menunjukkan jumlah uang yang digunakan UKM untuk mendirikan usaha dan lamanya waktu yang dicapai UKM untuk balik modal (Pay Back Perode). Berdasarkan Tabel 3 diketahui modal terbesar dimiliki UKM D dan modal terkecil dimiliki UKM B. UKM B belum mencapai balik modal, hal ini dikarenakan UKM B menjual jamur tiram segar pada tahun pertama sejak berdirinya UKM. Setelah satu tahun kemudian, UKM B membuka usaha pengolahan jamur tiram berupa keripik jamur yang bahan bakunya berasal dari hasil budi daya sendiri Harga jamur tiram diberi harga yang sama dengan biaya produksinya sehingga tidak ada keuntungan lebih yang dihasilkan dari budi daya jamur tiram. Jumlah modal telah dihitung dengan Net Present Value agar dapat dibandingkan. Pay Back Period (PBP) menginformasikan waktu yang diperlukan oleh industri untuk mengembalikan jumlah investasinya.

Tabel 5. Data variabel Man UKM budi daya jamur tiram

UKM Jumlah Tenaga Kerja Jam Kerja (jam/hari) Gaji/bulan/orang (Rp) Pelatihan/pendidikan khusus A 10 8 750.000 Tidak B 2 7 400.000 Ya C 7 9 600.000 Tidak D 15 8 500.000 Tidak E 3 9 600.000 Tidak

Varibel Man menunjukkan penggunaan sumber daya manusia. Variabel ini meliputi jumlah tenaga kerja, jam kerja per hari, gaji yang dibayarkan setiap bulan serta keterangan

Gambar

Tabel 2. Daftar variabel input output UKM pengolahan jamur tiram
Gambar 1. Diagram alir tahapan penelitian selesai Nilai produktifitas dan efisiensi Interpretasi Data Rasio Produktivitas Normalisasi
Gambar 2. Diagram proses budi daya jamur tiram Inokulasi Sterilisasi (pengukusan) 90°-95°C Pendinginan Inkubasi ± 30 hari Suhu optimum 28°C Kelembapan optimum 80%
Gambar 3. Diagram proses pembuatan kerupuk jamur tiram UKM A Kerupuk jamur tiram Pencucian Perebusan Penggiligan Pemberian Bumbu - Tepung tapioka - Telur - Gula - Garam Pembungkusan Pengukusan Pendinginan Pengirisan Penjemuran Penggorengan Jamur tiram sega
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sementara kinerja UKM Agro lebih dibentuk oleh produktivitas dari pada daya inovasi; (2) Hasil analisis SEM ( Structural Equation Modelling ) terpilih model

Dari penerapan sistem yang dilakukan pada sembilan bulan periode akuntansi UKM, yaitu bulan Juli 2006 sampai Maret 2007, dihasilkan laporan keuangan berupa Laporan Neraca dan

Analisis Pendapatan dan Efisiensi Penggunaan Paktor- Faktor Produksi Usahatani Jamur Tiram Putih ( Studi Kasus di Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor,

Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi dan Titik Impas Jamur Tiram Putih (Pleurotus osheontus).. Studi Kasus Usaha Agribisnis Supa Tiram Mandiri di

Model sistem akuntansi yang telah dibuat dan disesuaikan dengan transaksi keuangan UKM Waroeng Cokelat, antara lain (1) Neraca Saldo Awal, (2) Jurnal Umum, (3) Buku Besar,

Beberapa sumber risiko produksi yang terjadi pada setiap tahapan proses produksi jamur tiram putih di Rimba Jaya Mushroom mulai dari tahap persiapan bahan baku sampai

Metode pengolahan yang dilakukan adalah berdasarkan pada acuan teori sistem akuntansi perusahaan dagang yang telah berlaku secara umum. Metode pengolahan dan analisis data

Salah satu jamur pangan yang berasal dari hutan adalah jamur tiram (Pleurotus ostreatus) yang menjadi salah satu Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Serat kayu