• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prospek budidaya jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) studi kasus : Kecamatan Ciampea dan Ciawi, Kabupaten Bogor

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Prospek budidaya jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) studi kasus : Kecamatan Ciampea dan Ciawi, Kabupaten Bogor"

Copied!
162
0
0

Teks penuh

(1)

PROSPEK BUDIDAYA JAMUR TIRAM PUTIH (

Pleurotus

ostreatus

) STUDI KASUS : KECAMATAN CIAMPEA DAN

CIAWI, KABUPATEN BOGOR

IVAN WAHYU HIDAYAT

E14104059

DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN

(2)

RINGKASAN

IVAN WAHYU HIDAYAT. Prospek Budidaya Jamur Tiram Putih

(Pleurotus ostreatus) Studi Kasus : Kecamatan Ciampea dan Ciawi,

Kabupaten Bogor. Dibimbing oleh Dr. Ir. Bahruni, MS.

Prospek kegiatan pembudidayaan jamur tiram putih menunjukkan tren positif. Hal tersebut ditandai oleh tingginya permintaan jamur tiram di dalam negeri maupun luar negeri, sedangkan suplai jamur tiram masih rendah. Pada saat ini seiring bertambahnya penduduk Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi terkait dengan industri kulinernya, memberikan potensi besar bagi masyarakat dalam berinovasi kuliner, antara lain kuliner dari bahan jamur tiram.

Studi kelayakan yang dikaji dalam penelitian ini bertujuan menganalisis kelayakan kegiatan budidaya jamur tiram putih di kecamatan Ciampea dan Ciawi. Berdasarkan hasil analisis finansial nilai NPV pada usaha budidaya jamur tiram di kecamatan Ciampea adalah sebesar Rp. 534.025.601, nilai tersebut memberikan pengertian bahwa usaha budidaya jamur tiram putih selama umur proyek 10 tahun mempunyai prospek menguntungkan.

Nilai BCR yang diperoleh sebesar 1,5. Nilai ini merupakan perbandingan antara seluruh manfaat yang diperoleh selama umur proyek dengan seluruh biaya. Nilai BCR 1,5 mengandung pengertian pula bahwa selama umur proyek penerimaan lebih besar dari pada pengeluaran. Nilai IRR yang diperoleh pada usaha budidaya jamur tiram putih ini adalah 104%. Hal ini berarti bahwa usaha budidaya jamur tiram putih ini mampu memberikan tingkat pengembalian atau keuntungan per tahunnya sebesar 104% dari seluruh investasi yang ditanamkan selama sepuluh tahun umur proyek. Hasil analisis finansial pada usaha budidaya jamur tiram di kecamatan Ciawi nilai NPV adalah sebesar Rp. 1.073.313.595. Prospek usaha budidaya jamur tiram putih di Kecamatan Ciawi lebih besar dari Kecamatan Ciampea, karena perbandingan skala yang lebih besar. Kelayakan investasi ini juga dilihat dari nilai BCR sebesar 1,4 dan IRR 1.095% yang artinya layak diusahakan.

(3)

SUMMARY

IVAN Wahyu Hidayat. The Prospect of White Oyster Mushroom Cultivation (Pleurotus ostreatus) Case Study: SubDistrict Ciampea and Ciawi, Bogor District. Supervised by Dr. Ir. Bahruni, MS.

The prospect of white oyster mushroom cultivation activities showed a positive trend. It is characterized by high demand for oyster mushroom in the country and abroad, while the supply of oyster mushrooms is still low. At this time as we get people in Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, and Bekasi associated with the culinary industry, providing great potential for the community in culinary innovation, among other culinary ingredient of oyster mushrooms.

The feasibility study examined in this study aims to analyze the feasibility of the white oyster mushroom cultivation in the district Ciampea and Ciawi. Based on the results of financial analysis on the NPV value of oyster mushroom cultivation in the district Ciampea was Rp. 534.025.601, the value is to give the sense that the white oyster mushroom cultivation during the project life of 10 years had a lucrative prospect.

BCR values obtained at 1,5. This value is the comparison between the benefits gained during the life of the project with the entire cost. BCR value of 1,5 implies also that during the life of the project revenues greater than expenditures. IRR values obtained in the white oyster mushroom cultivation is 104%. This means that the white oyster mushroom cultivation is able to provide the level of return or profit per year, amounting to 104% of all capital invested during the ten-year project life. The results of financial analysis in the oyster mushroom cultivation in the district Ciawi NPV value was Rp. 1.073.313.595. The prospect of white oyster mushroom cultivation in the District Ciawi greater than Ciampea District, due to a larger scale comparison. Feasibility of this investment is also seen from the BCR 1,4 and IRR 1.095% which means the worth the effort.

(4)

PROSPEK BUDIDAYA JAMUR TIRAM PUTIH (

Pleurotus

ostreatus

) STUDI KASUS : KECAMATAN CIAMPEA DAN

CIAWI, KABUPATEN BOGOR

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh

gelar Sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan

Institut Pertanian Bogor

Oleh :

IVAN WAHYU HIDAYAT

E14104059

DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN

(5)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER

INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul :

“Prospek Budidaya Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus), Kecamatan Ciampea dan Ciawi, Kabupaten Bogor”

Adalah benar merupakan hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan tercantum dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Agustus 2011

(6)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Penelitian : Prospek Budidaya Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) Studi kasus : Kecamatan Ciampea dan Ciawi, Kabupaten Bogor.

Nama : Ivan Wahyu Hidayat

NIM : E14104059

Menyetujui, Komisi Pembimbing

Ketua,

Dr. Ir. Bahruni, MS NIP. 19610501 198803 1003

Mengetahui,

Ketua Departemen Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Didik Suharjito, MS NIP. 19630401 199403 1001

(7)

KATA PENGANTAR

(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Salatiga pada tanggal 22 Mei 1987 dari pasangan Teguh Wahyu Y dan Siti Wahyuni. Penulis merupakan putra pertama dari dua bersaudara.

Penulis menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Umum 1 Depok dan lulus tahun 2004. Pada tahun yang sama penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) pada Program Studi Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan.

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR TABEL ... ii

DAFTAR GAMBAR ... iii

DAFTAR LAMPIRAN ... iv

I PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang ... 1

Perumusan Masalah ... 3

Tujuan ... 5

II TINJAUAN PUSTAKA ... 6

Definisi Hasil Hutan Bukan Kayu... 6

Jamur Tiram ... 6

Klasifikasi Jamur Tiram ... 7

Budidaya Jamur Tiram ... 7

Gambaran Umum Usaha Jamur di Indonesia ... 23

Kelayakan Finansial ... 25

Analisis Usaha ... 25

Analisis Kriteria Investasi ... 26

III METODOLOGI PENELITIAN ... 28

Tempat dan Waktu Pengumpulan Data ... 28

Bahan dan Alat Penelitian ... 28

Kerangka Pemikiran ... 28

Metode Pengumpulan Data ... 30

Pengolahan Data ... 33

Analisis Data ... 33

Analisis Kriteria Investasi... 34

Analisis Sensitivitas ... 36

IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 37

Gambaran Umum Budidaya Jamur Tiram Putih... 37

Proses Produksi ... 38

Teknis Budidaya Jamur Tiram Putih ... 45

Analisis Finansial ... 49

V KESIMPULAN DAN SARAN ... 60

DAFTAR PUSTAKA ... 61

(10)

DAFTAR TABEL

No. Halaman

1. Jenis Data, Sumber Data, dan Cara Pengambilan Data Untuk Penelitian ... 32 2. Investasi Budidaya Jamur Tiram Putih di Kecamatan Ciampea ... 49 3. Investasi Budidaya Jamur Tiram Putih di Kecamatan Ciawi ... 50 4. Biaya Tetap Usaha (Tahunan) Budidaya Jamur Tiram Putih di

Kecamatan Ciampea dan Ciawi ... 51 5. Biaya Variabel Usaha Budidaya Jamur Tiram Putih di Kecamatan

Ciampea ... 52 6. Biaya Variabel Usaha Budidaya Jamur Tiram Putih di Kecamatan

Ciawi... 52 7. Produksi Usaha Budidaya Jamur Tiram Putih di Kecamatan Ciampea

dan Ciawi ... 53 8. Penerimaan Dari Hasil Penjualan Jamur Tiram Segar dan Baglog di

Kecamatan Ciampea dan Ciawi ... 54 9. Analisis Kriteria Investasi Pada Usaha Budidaya Jamur Tiram Putih

di Kecamatan Ciampea dan Ciawi tahun 2011 ... 55 10. Analisis Sensitivitas Terhadap Kenaikan Bahan Baku Serbuk Kayu

Sebesar 10% ... 56 11. Analisis Sensitivitas Terhadap Kenaikan Upah Tenaga Kerja dan

Buruh Sebesar 15% ... 56 12. Analisis Sensitivitas Terhadap penurunan Harga Jual Produk Jamur

Tiram dan Baglog Sebesar 15% ... 57 13. Analisis Kriteria Investasi Pada Usaha Budidaya Jamur tiram di

(11)

DAFTAR GAMBAR

No. Halaman

1. Kerangka Pemikiran ... 29

2. Bangunan Kumbung Pemeliharaan di Kecamatan Ciampea ... 39

3. Rak Tempat Penyimpanan Baglog Jamur di Kecamatan Ciampea ... 40

4. Peralatan Budidaya Jamur Tiram di Kecamatan Ciawi ... 41

5. Timbangan Budidaya Jamur Tiram di Kecamatan Ciawi ... 41

6. Autoklaf yang Sedang Diloading dengan Baglog ... 43

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Halaman

1. Cash Flow Pada Usaha Budidaya Jamur Tiram Putih di Kecamatan Ciampea ... 62 2. Cash Flow Pada Usaha Budidaya Jamur Tiram Putih di Kecamatan

(13)

I.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Hasil hutan non kayu sudah sejak lama masuk dalam bagian penting strategi penghidupan penduduk sekitar hutan. Adapun upaya mempromosikan pemanfaatan hutan yang ramah lingkungan berhasil meningkatkan perhatian terhadap pemasaran dan pemungutan hasil hutan non kayu sebagai suatu perangkat dalam mengembangkan konsep kelestarian. Hasil hutan non kayu memiliki kontribusi dengan adanya keterkaitan input dan output antar industri, konsumsi, dan investasi. Sehingga hasil hutan non kayu layak dijadikan andalan bagi kehidupan ekonomi di masyarakat sekitar hutan. Oleh karena itu, dibutuhkan langkah yang baik untuk menaikkan atau mengembangkan nilai guna atau manfaat lebih dari hasil hutan non kayu.

Bila melihat potensi sumberdaya alam serta sumberdaya manusia, maka memungkinkan untuk mengembangkan serta meningkatkan kualitas hasil hutan non kayu contohnya berupa tumbuh-tumbuhan. Usaha hasil hutan non kayu dalam ruang lingkup ekonomi masa kini mencakup berbagai macam usaha komersial dengan menggunakan kombinasi dari tenaga kerja, bahan, modal, dan teknologi. Kehutanan menghasilkan berbagai barang dan jasa bagi para produsen melakukan proses produksi serta mendistribusikan produk kepada pengguna atau konsumen. Hasil hutan non kayu merupakan bidang usaha yang cukup potensial bagi pertumbuhan perekonomian masyarakat, karena usaha ini bisa menyerap tenaga kerja dan memiliki keterkaitan dengan kegiatan usaha lainnya seperti usaha pemasok input produksi (bahan-bahan) dan usaha distribusi barang.

(14)

lignin, yang juga senyawa karbohidrat majemuk yang sulit terurai. Namun oleh berbagai jenis jamur kayu sebagai tanaman tingkat rendah yang bersifat saprofit maka senyawa itu dapat terurai dan termakan oleh miselium jamur. Berbagai jenis jamur kayu bermanfaat sebagai sayuran bernilai gizi tinggi dengan kolesterol rendah. Jamur tiram termasuk salah satu jenis jamur yang tidak mengandung kolesterol, menurut Suriawiria 2001, keunggulan jamur tiram ini adalah : a) Berkhasiat untuk kesehatan dimana kandungan protein nabatinya yang tidak mengandung kolesterol, sehingga dapat mencegah timbulnya penyakit darah tinggi, penyakit jantung, mengurangi berat badan, obat diabetes, obat anemia dan sebagai obat anti tumor (Suriawiria, 2001). Protein nabati yang terdapat dalam jamur hampir sebanding atau relatif lebih tinggi dibandingkan protein sayuran, dan memiliki kandungan lemak yang rendah dibandingkan daging sapi demikian juga kalorinya. b) Jamur tiram dapat diproduksi sepanjang tahun. c) Budidaya jamur tiram tidak menggunakan bahan kimia atau pupuk anorganik sehingga tidak merusak lingkungan. d) Dilihat dari segi teknik budidayanya, jamur tiram dapat dibudidayakan dengan mudah karena Indonesia memiliki potensi wilayah yang menunjang perkembangan jamur tiram tersebut.

Pengembangan jamur tiram oleh masyarakat dapat dilakukan dengan pengambilan bibit di hutan yang kemudian dilakukan penangkaran untuk selanjutnya dibudidayakan pada media buatan yang mempunyai kandungan hara menyerupai media tumbuh asalnya yaitu kayu. Selain melalui penangkaran, bibit jamur juga bisa didapat melalui pembelian bibit jamur secara langsung oleh masyarakat. Jamur tiram bentuknya seperti tiram dengan beberapa jenis warna, tetapi yang paling disukai konsumen jamur tiram putih.

(15)

prospektif. Hal ini didukung oleh adanya lahan potensial dan agroklimat yang cocok, serta tersedianya sumberdaya manusia yang cukup.

Pada saat ini seiring bertambahnya populasi penduduk Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi terkait dengan industri kulinernya, hal ini memberikan potensi besar bagi masyarakat dalam berinovasi kuliner, salah satunya adalah membuat kuliner dari bahan jamur tiram. Walaupun masyarakat umum masih asing dengan jamur tiram seperti halnya jamur kuping (Auricularia spp.) atau jamur merang (Volvariella volvaceae), akan tetapi saat ini produk jamur tiram sudah mulai marak dijumpai baik dalam bentuk segar ataupun olahan di pasar-pasar tradisional dan pasar-pasar modern (swalayan dan supermarket). Produk ini salah satunya dipasok oleh petani-petani jamur tiram dari berbagai daerah di wilayah Bogor. Dalam kaitannya dengan pengelolaan hutan, usaha budidaya jamur tiram memiliki peluang untuk dikembangkan oleh masyarakat sekitar hutan dengan bantuan dari pihak pengelola hutan.

Hal ini ditunjang dengan ketersediaan bahan baku untuk substrat media tumbuh yaitu serbuk kayu gergajian yang cukup melimpah di dalam atau di sekitar hutan serta di lokasi pabrik penggergajian. Kemajuan dalam usaha budidaya ini akan tercapai apabila teknik budidaya jamur dilakukan secara modern dan memperbesar skala usaha.

Seiring dengan semakin berkembangnya usaha jamur, maka pengembangan penelitian jamur juga perlu ditingkatkan terutama bagi negara-negara berkembang yang masih melakukan sistem budidaya secara konvensional, terkait dengan upaya peningkatan produksi di negara-negara tersebut. Hal ini ditunjang dengan ketersediaan bahan baku untuk substrat media tumbuh yaitu serbuk kayu gergajian cukup melimpah khususnya wilayah Bogor dan sekitarnya. Kemajuan dalam usaha budidaya ini akan tercapai apabila teknik budidaya jamur dilakukan secara modern dan memperbesar skala usaha.

Perumusan Masalah

(16)

dihadapkan pada berbagai kendala diantaranya adalah produktivitas yang rendah, terbatasnya kemampuan petani, modal yang sedikit, serta ilmu menghitung aspek keuangan yang kurang.

Sebagian besar usaha budidaya jamur tiram yang dilakukan petani mengalami keterbatasan dalam faktor-faktor produksi. Faktor-faktor yang mempengaruhi usahatani jamur tiram adalah bibit, serbuk kayu, bekatul, kapur, kapas, karet, plastik, cincin, minyak tanah, dan tenaga kerja.

Studi kelayakan pada hakekatnya adalah suatu metode penjajakan dari suatu gagasan usaha tentang kemungkinan layak atau tidaknya gagasan usaha tersebut dilaksanakan (Suad & Suwarsono, 2000). Maksud diadakannya studi kelayakan adalah untuk menganalisis terhadap suatu proyek tertentu, baik proyek yang akan dilaksanakan, sedang dan selesai dilaksanakan untuk bahan perbaikan dan penilaian pelaksanaan proyek tersebut. Adapun kriteria dari kelayakan adalah apakah usaha tersebut layak atau tidak untuk diusahakan seperti : modal yang digunakan, daerah yang akan digunakan untuk melakukan usaha, komoditas yang digunakan, kualitas dari komoditas yang akan diusahakan serta teknologi yang digunakan.

Modal ternyata bukanlah satu-satunya kunci sukses untuk melakukan kegiatan usaha. Kreativitas, kemampuan menangkap peluang usaha, dan keuletan adalah kunci yang lebih utama. Sebab kreativitas mampu melahirkan berbagai alternatif yang tidak terpikirkan oleh mereka yang tidak kreatif.

Menghitung kelayakan usaha penting juga untuk pertimbangan pihak penyandang dana atau bank untuk menilai layak tidaknya diberikan pinjaman dana atas usaha yang akan didirikan. Materi dari suatu kelayakan usaha pada prinsipnya memuat empat aspek, yaitu aspek pemasaran, aspek teknis, aspek yuridis, dan aspek keuangan.

(17)

Hasil studi kelayakan merupakan suatu peluang untuk meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian rakyat baik yang terlibat langsung maupun muncul diakibatkan adanya nilai tambah sebagai akibat dari adanya usaha tersebut. Dalam pengkajian aspek finansial diperhitungkan berapa jumlah dana yang dibutuhkan untuk membangun dan kemudian mengoperasikan kegiatan usaha.

Tujuan Penelitian ini dilakukan dengan tujuan:

1. Untuk mengetahui pola dan proses produksi usaha jamur tiram. 2. Mengetahui kelayakan usaha jamur tiram dari aspek finansialnya.

Kegunaan dari penelitian ini adalah:

1. Bagi petani yang bersangkutan, dapat digunakan sebagai bahan informasi untuk dapat meningkatkan produksi dan pendapatan.

(18)

II. TINJAUAN PUSTAKA

Definisi Hasil Hutan Bukan Kayu

Istilah Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) adalah semua keanekaragaman biologi selain kayu yang digali dari hutan untuk keperluan manusia. The Expert Consultation on Non Wood Forest Product (1998) dalam Sofyan (2000), menyatakan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) sebagai bahan yang diambil dari hutan selain dari kayu dengan ragam bentuk dan sifat yang sangat luas.

Pengertian Hasil Hutan Bukan Kayu yang dipakai di lingkungan kehutanan mencakup semua benda biologis termasuk jasa yang berasal dari hutan atau lahan sejenis di luar kawasan hutan dan tidak termasuk kayu dalam berbagai bentuk (www.google.com, 15/05/2010).

Jamur Tiram

Jamur tiram atau jamur tiram putih adalah jamur pangan dengan tudung berbentuk setengah lingkaran mirip cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung dan berwarna putih hingga krem.

Tubuh buah memiliki batang yang berada dipinggir (bahasa Latin: pleurotus) dan bentuknya seperti tiram (ostreatus), sehingga jamur tiram mempunyai nama binomial Pleurotus ostreatus. Jamur tiram masih satu kerabat dengan Pleurotus eryngii atau King Oyster Mushroom (Suriawiria, 2001).

Tubuh buah mempunyai tudung yang berubah dari hitam, abu-abu, coklat, hingga putih dengan permukaan yang hampir licin dengan diameter 5 - 20 cm. Tepi tudung mulus sedikit berlekuk. Spora berbentuk batang berukuran (8 - 11) × (3 - 4) µ m. Miselium berwarna putih dan bisa tumbuh dengan cepat.

Di alam bebas, jamur tiram bisa dijumpai hampir sepanjang tahun di hutan pegunungan daerah yang sejuk. Tubuh buah terlihat saling bertumpuk di permukaan batang pohon yang sudah melapuk atau pokok batang pohon yang sudah ditebang.

(19)

mencerna nematoda yang kemungkinan besar dilakukan untuk memperoleh nitrogen.

Klasifikasi Jamur Tiram

Menurut sistematika secara taksonominya, klasifikasi jamur tiram putih, yaitu:

Kerajaan : Fungi

Filum : Basidiomycota Kelas : Homobasidiomycetes Ordo : Agaricales

Famili : Agaricaceae Genus : Pleurotus

Spesies : Pleurotus ostreatus

Budidaya Jamur Tiram

Jamur merupakan tanaman yang berinti, berspora, tidak berklorofil berupa sel atau benang-benang bercabang. Karena tidak berklorofil, kehidupan jamur mengambil makanan yang sudah dibuat oleh organisme lain yang telah mati (Suhardiman, 1989).

(20)

Dilihat dari aspek kesehatan, jamur tiram merupakan bahan pangan bergizi berkhasiat obat yang lebih murah dibandingkan obat modern. Secara ekonomis merupakan komoditas yang tinggi harganya dan dapat meningkatkan pendapatan petani serta dapat dijadikan makanan olahan untuk konsumsi dalam upaya peningkatan gizi masyarakat. Berikut gambaran secara umum untuk melakukan kegiatan budidaya jamur tiram, antara lain:

Tempat tumbuh

Untuk membudidayakan jamur jenis ini dapat menggunakan kayu atau serbuk gergaji sebagai media tanamnya. Tempat tumbuh jamur tiram termasuk dalam jenis jamur kayu yang dapat tumbuh baik pada kayu dan mengambil bahan organik yang ada didalamnya. Serbuk kayu yang baik untuk dibuat sebagai bahan media tanam adalah dari jenis kayu yang keras sebab kayu yang keras banyak mengandung selulosa yang merupakan bahan yang diperlukan oleh jamur dalam jumlah banyak disamping itu kayu yang keras membuat media tanaman tidak cepat habis. Kayu atau serbuk kayu yang berasal dari kayu berdaun lebar komposisi bahan kimianya lebih baik dibandingkan dengan kayu berdaun lancip atau berdaun jarum dan yang tidak mengandung getah, sebab getah pada tanaman dapat menjadi zat ekstraktif yang menghambat pertumbuhan miselium. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan serbuk kayu sebagai bahan baku media tanam adalah dalam hal kebersihan dan kekeringan, selain itu serbuk kayu yang digunakan tidak busuk dan tidak ditumbuhi jamur jenis lain.

Dalam meningkatkan produksi jamur tiram, maka dalam campuran bahan media tumbuh selain serbuk gergaji sebagai bahan utama, perlu bahan tambahan berupa bekatul dan tepung jagung. Dalam hal ini harus dipilih bekatul dan tepung jagung yang mutunya baik, masih baru sebab jika sudah lama disimpan kemungkinan telah menggumpal atau telah mengalami fermentasi serta tidak tercampur dengan bahan-bahan lain yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur. Kegunaan penambahan bekatul dan tepung jagung merupakan sumber karbohidrat, lemak dan protein. Disamping itu perlu ditambahkan bahan-bahan lain seperti kapur sebagai sumber mineral dan pengatur pH meter.

(21)

jamur dapat tumbuh dan menyerap makanan dari media tanam dengan baik. Penambahan air yang tidak bersih dapat menyebabkan media terkontaminasi dengan mikroorganisme.

Tingkat keasaman (pH)

Pertumbuhan jamur tiram dipengaruhi oleh tingkat keasaman medianya. Apabila pH terlalu rendah atau terlalu tinggi maka pertumbuhan jamur akan terhambat. Bahkan mungkin akan tumbuh jamur lain yang akan mengganggu pertumbuhan jamur tiram itu sendiri. Keasaman pH media perlu diatur antara pH 6 - 7 dengan menggunakan kapur.

Suhu udara

Dalam budidaya jamur tiram suhu udara memegang peranan yang sangat penting untuk mendapatkan pertumbuhan badan buah yang optimal. Pada umumnya suhu yang optimal untuk pertumbuhan jamur tiram, dibedakan dalam dua fase yaitu fase inkubasi yang memerlukan suhu udara berkisar antara 22 - 280C dengan kelembaban 60 - 70% dan fase pembentukan tubuh buah memerlukan suhu udara antara 16 - 220C.

Cahaya

Miselium akan tumbuh dengan cepat dalam keadaan gelap/tanpa sinar, sebaiknya selama masa pertumbuhan miselium ditempatkan dalam ruangan yang gelap, tetapi pada masa pertumbuhan badan buah memerlukan adanya rangsangan sinar. Pada tempat yang sama sekali tidak ada cahaya badan buah tidak dapat tumbuh, oleh karena itu pada masa terbentuknya badan buah pada permukaan media harus mulai mendapat intensitas penyinaran 60 - 70% cahaya.

Sarana Produksi Budidaya Jamur Tiram Putih

(22)

· Bangunan

Budidaya jamur tiram putih secara komersil memerlukan beberapa bangunan yang diperlukan dalam kegiatan usahanya. Bangunan yang diperlukan terdiri dari ruang persiapan, ruang inokulasi, ruang inkubasi, ruang penanaman dan ruang pembibitan. Bangunan tersebut dibuat dari kerangka kayu dengan dinding dari anyaman bambu dan atapnya dari genteng. Dinding bangunan dibuat dari anyaman bambu dengan tujuan memperkecil biaya bangunan, disamping pembuatannya yang mudah, anyaman bambu ini sangat baik dalam pengaturan suhu dan kelembaban ruangan, karena memberikan sirkulasi udara yang baik dari ventilasi anyaman serta dengan masuknya angin melalui jaringan anyaman, dapat mempercepat perkembangan spora jamur. Bangunan ini dapat dipergunakan unutuk jangka waktu 10 tahun.

· Rak-Rak Bambu

Ruangan inkubasi dan penanaman terdiri dari 15 rak yang tersusun dalam dua baris dan pada masing-masing barisnya terdapat empat tingkat rak bendeng. Ukuran unit rak berukuran 20 cm x 100 cm dan tinggi 200 cm, setiap ruangan rak setinggi 50 cm ke arah vertikal diberi penyekat bambu. Pada ruangan rak tersebut log disusun dengan posisi bertumpuk vertikal sampai memenuhi ruangan dan di bawah kaki rak-rak bambu dipasang wadah atau kaleng berisi air untuk menghindari masuknya semut.

· Peralatan

Peralatan dalam budidaya jamur tiram putih pada umumnya menggunakan alat-alat sederhana yang mudah diperoleh. Fungsi dari beberapa peralatan budidaya jamur tiram putih diantaranya, yaitu :

· Jarum Inokulasi

(23)

· Sprayer

Sprayer digunakan untuk menyemprotkan alkohol 70% ke dalam ruangan agar ruangan menjadi steril. Penyemprotan ini dilakukan satu jam sebelum melakukan inokulasi.

· Timbangan

Timbangan 150 kg digunakan untuk menimbang bahan-bahan yang akan digunakan untuk pembuatan media tanam atau media bibit jamur, sedangkan timbangan 2 kg digunakan untuk menimbang hasil panen jamur.

· Alkohol 70%

Alkohol ini digunakan untuk pekerjaan aseptik, misalnya mencelupkan jarum inokulasi, selain itu digunakan untuk mensterilkan tangan yang akan melakukan pekerjaan inokulasi.

· Saringan Pengayak

Saringan pengayak digunakan untuk mengayak serbuk gergaji agar seragam ukurannya dan tidak tercampur dengan bahan ikutan lainnya seperti kayu atau kerikil. Saringan ayakan dapat dibuat dengan menggunakan kawat ayakan berukuran kira-kira 0,5 cm dengan panjang 1,5 meter dan lebar 1 meter.

· Autoklaf

Autoklaf digunakan untuk mensterilkan media. Contoh bahan-bahan yang dapat disterilkan dengan autoklaf adalah kapas, sumber karet, serbuk kayu, baglog, media bibit dan botol bibit. Kapasitas autoklaf yang digunakan adalah 500 baglog.

· Termometer

Alat ini mempunyai fungsi untuk mengukur suhu udara di dalam bangunan atau kumbung jamur.

· Higrometer

(24)

· Bahan-bahan

Bahan-bahan untuk budidaya jamur tiram putih yang perlu dipersiapkan terdiri dari bahan baku dan bahan tambahan.

· Bahan baku

Serbuk kayu yang digunakan sebagai tempat tumbuh jamur tiram mengandung sejumlah unsur, diantaranya ada yang bermanfaat bagi pertumbuhan jamur, tetapi ada pula yang menghambat. Unsur yang dibutuhkan bagi pertumbuhan jamur tiram putih antara lain karbohidarat, lignin dan serat, sedangkan faktor yang menghambat antara lain getah dan zat ekstratif (zat pengawet alami yang terdapat pada kayu). Oleh karena itu, serbuk kayu yang digunakan untuk budidaya jamur tiram putih sebaiknya berasal dari jenis kayu yang tidak banyak mengandung zat pengawet alami. Adapun syarat-syarat yang perlu diperhatikan dalam pemilihan serbuk kayu adalah sebagai berikut :

- Serbuk kayu yang tidak tercampur dengan bahan bakar, contohnya : oli, solar, minyak dan lain-lain.

- Serbuk kayu harus berasal dari jenis kayu yang tidak banyak mengandung getah.

- Serbuk kayu harus baru dan kering.

Serbuk kayu sebagai bahan baku substrat, setiap harinya digunakan sebanyak 12 karung atau 200 kg dalam keadaan kering, dan dapat menghasilkan sekitar 500 baglog tanam. Pemasukan serbuk kayu dilakukan dengan sistem pemesanan langsung dengan harga per karung adalah Rp 1.500.

· Bahan tambahan

Bekatul

(25)

bekatul tersebut kurang baik mutunya maka hal ini dapat menurunkan tingkat produktifitas jamur. Bekatul yang diperlukan untuk 500 baglog tanam adalah 30 kg, dengan harga Rp 1.000 per kg.

Kapur

Kapur digunakan untuk mengatur pH media. Disamping itu, kapur juga sebagai sumber kalsium (Ca). Kapur yang digunakan adalah kapur pertanian yaitu kalsium karbonat. Banyaknya kapur digunakan adalah 4 kg untuk produksi 500 baglog tanam per hari per sekali proses budidaya dengan harga kapur Rp 500 per kg. Unsur kalsium dan karbon digunakan untuk meningkatkan mineral yang dibutuhkan jamur tiram putih bagi pertumbuhannya.

Gips

Gips digunakan sebagai sumber kalsium dan sebagai bahan untuk memperkokoh media. Dengan kondisi yang kokoh maka diharapkan media tidak mudah rusak. Gips yang diperlukan untuk 500 baglog tanam adalah 1 kg. Harga gips Rp 2.000 per kg.

Proses Budidaya Jamur Tiram Putih

Keberhasilan budidaya jamur tiram putih ditentukan oleh proses budidaya yang dilakukan. Proses budidaya jamur tiram putih mulai dari persiapan sampai pemanenan membutuhkan 40 - 60 hari. Berapa tahapan proses budidaya jamur tiram putih yang dilakukan, yaitu :

Ruang persiapan

Ruang atau bangunan persiapan digunakan untuk persiapan pembuatan media tanam. Kegiatan yang dilakukan pada ruang persiapan antara lain : kegiatan pengayakan serbuk kayu, penimbangan serbuk kayu, perendaman serbuk kayu, penirisan serbuk kayu, pencampuran media, pengomposan media, pengantongan media, sterilisai media dan pendinginan media. Ruang persiapan dapat digunakan pula sebagai tempat untuk menyimpan bahan baku dan bahan tambahan apabila skala produksi usaha tidak terlalu besar. Ukuran ruangan 6 m x 5 m x 5 m.

(26)

yang meliputi penyediaan bahan baku, yaitu sebuk kayu dan bahan tambahan persiapan media tanam seperti bekatul, kapur dan gips yang disesuaikan dengan kebutuhannya. Selain itu, persiapan alat atau sarana kerja juga perlu dilakukan. Komposisi media tanam yang harus dipersiapkan dan digunakan adalah sebagai berikut :

- Serbuk gergaji : 199,6 kg dalam keadaan serbuk bersih - Bekatul (dedak) : 30 kg

- Kapur ( CaCO3) : 4 kg

- Gips ( CaSO4) : 1 kg

Setelah semuanya siap maka segera dibuat rencana kegiatan produksi untuk media tanam yang meliputi :

· Pengayakan serbuk gergaji

Pada prinsipnya pengayakan dilakukan untuk memisahkan serbuk gergaji dari sampah kulit kayu dan potongan kulit kayu yang tidak berguna, bahkan sampah tersebut dapat merusak kantong plastik dan mengakibatkan kontaminasi. Dalam hal ini, ukuran ayakan yang digunakan sama dengan dengan ukuran dalam mengayak pasir. Kawat ayakan yang digunakan berukuran kira-kira 0,5 cm dengan panjang 1,5 m dan lebar 1 m. Pengayakan dilakukan secara manual oleh satu orang tenaga manusia. Lama pengayakan serbuk gergaji adalah 1 - 2 jam untuk 12 karung atau 200 kg dengan limbah 0,4 kg, sehingga menghasilkan 199,6 kg serbuk gergaji bersih untuk 500 baglog tanam.

Adapun manfaat dari pengayakan adalah untuk mendapatkan keseragaman ukuran serbuk gergaji sehingga pada saat dilakukan pencampuran dengan bahan-bahan lainnya dapat merata dan penyebaran miselia pada media tanam substrat setelah diinokulasi diharapkan lebih sempurna.

· Penimbangan

(27)

· Perendaman

Kegiatan perendaman serbuk gergaji mempunyai maksud tujuan untuk menghilangkan zat-zat penghambat pertumbuhan miselium seperti getah, minyak dan lain-lain. Fungsi lain dari perendaman ialah serbuk gergaji menjadi bersih dan lebih lunak serta kandungan kadar airnya lebih stabil. Sebelum melakukan perendaman, bak perendaman terlebih dahulu dibersihkan dari debu, lumut, dan kotoran-kotoran lainnya guna menjaga tidak tercemarnya air yang digunakan untuk merendam serbuk gergaji.

Perendaman dilakukan dengan cara serbuk gergaji dimasukkan ke dalam karung terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kehilangan serbuk gergaji selama perendaman. Kemudian serbuk gergaji direndam dalam bak air yang bersih dan ditindih dengan pemberat. Apabila tidak digunakan pemberat, maka serbuk gergaji tersebut akan mengapung. Perendaman dilakukan selama 24 jam.

· Penirisan

Setelah waktu perendaman selesai, selanjutnya dilakukan penirisan dengan cara meletakkan karung berisi sebuk gergaji yang telah direndam di atas para-para agar air yang berlebihan dalam serbuk gergaji tersebut tuntas (tidak banyak menetes).

Kadar air yang berlebihan diatas 60% dapat mengakibatkan kontaminasi atau pembusukan media. Selain itu apabila media tanam terlalu basah karena kadar air terlalu tinggi, maka dapat menghambat pertumbuhan miselium.

· Percampuran Media

Tujuan dari fungsi pencampuran media yaitu agar pencampuran komposisi media tanam yang terdiri dari serbuk gergaji + bekatul + kapur (CaCO3) + gips

(CaSO4) dapat teraduk merata. Sebelum melakukan kegiatan ini lantai yang akan

digunakan untuk pencampuran media tanam harus dibersihkan dahulu agar terhindar dari mikroorganisme pengganggu dan debu.

(28)

dengan ½ bagian sisa serbuk gergaji yang lain, kemudian ditambah dengan air bersih. Penambahan air dihentikan pada saat kadar air media telah tercukupi, dimana jika media dikepal dengan tangan akan terbentuk gumpalan yang tidak mudah pecah.

· Pengomposan

Pengomposan dilakukan dengan cara menekan campuran serbuk gergaji, kemudian menutupnya secara rapat dengan menggunakan plastik selama satu hari. Proses pengomposan yang baik ditandai dengan kenaikan suhu menjadi sekitar 50 °C. Semakin tinggi suhu dan kelembaban saat pengomposan berlangsung akan mempercepat proses fermentasi media. Tujuan dari pengomoposan ialah untuk menguraikan senyawa-senyawa kompleks dalam bahan-bahan dengan bantuan mikroba sehingga diperoleh senyawa-senyawa yang lebih sederhana. Senyawa-senyawa yang lebih sederhana akan lebih mudah dicerna oleh jamur tiram putih sehingga memungkinkan pertumbuhan jamur tiram putih lebih baik.

· Pengantongan Media

Media hasil pengomposan dimasukkan ke dalam kantong plastik polipropilen (pp) ukuran 18 cm x 30 cm, dengan ketebalan 0,5 - 0,6 mm, diameter kantong 15 cm dan tinggi kantong 20 cm. Penggunaan kantong plastik dimaksud untuk menjaga kondisi lembab media dan memudahkan penanganan media selama pertumbuhan. Pemilihan kantong plastik berwarna putih bertujuan untuk mempermudah melihat pertumbuhan miselium. Kantong plastik yang terlalu tipis mudah pecah saat pengantongan, sedangkan kantong plastik yang terlalu tebal mempersulit pengantongan. Adapun prosedur media yaitu sebagai berikut :

- Media dimasukkan ke dalam kantong plastik sedikit demi sedikit sambil dipadatkan, apabila media di dalam kantong plastik tidak padat, maka pertumbuhan bibit atau miselium tidak merata. Media yang dimasukkan ke setiap kantong plastik sebanyak 1,3 kg. Cara memadatkan media tersebut secara normal, yaitu ditumbuk dengan botol atau alat lainnya.

(29)

botol. Perlakuan tersebut sangat berguna agar pada saat penyeterilan dilakukan, log tersebut tidak kemasukan air.

· Sterilisasi

Log media tanam yang akan ditanam bibit jamur harus disterilkan terlebih dahulu. Sterilisasi dilakukan pada suhu 80 - 90 °C selama delapan jam. Untuk melakukan sterilisasi media digunakan alat pengukus, yaitu autoklaf yang dapat menampung kurang lebih 500 baglog, yang sedikit dimodifikasi dengan menambahkan bambu sebagai pembatas antara air dengan tempat media.

Penyusunan baglog di dalam autoklaf dibuat bertingkat dalam posisi tidur sampai memenuhi autoklaf dan ditutup dengan plastik supaya uap panas tidak keluar. Tujuan dari sterilisasi adalah untuk membebaskan kontaminasi, yaitu mematikan jasad hidup atau bibit jamur liar yang dapat mengganggu pertumbuhan miselium. Akibat dari kurang baiknya sterilisasi dapat menyebabkan kegagalan sekitar 30% pada media tanam. Adapun sebab-sebab kegagalan dalam sterilirsasi, yaitu:

- Tekanan uap air panas tidak tercapai. Kondisi ini dapat disebabkan oleh nyala api kompor yang tidak konstan atau stabil, serta dapat juga disebabkan oleh uap panas yang tidak merata karena penyusunan log dalam autoklaf terlalu padat. Oleh karena itu kompor harus selalu dibersihkan dan wadah minyak harus diperhatikan.

- Waktu pemanasan terlalu singkat yakni kurang dari 8 jam sehingga spora jamur liar yang ada di dalam media tanam tidak mati.

Selain itu ada hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menekan kegagalan adalah :

- Bahan untuk pembuatan log tanam harus terbebas dari benda asing

- Autoklaf harus sterilisasi dan dapat menghasilkan uap air panas dengan temperatur atau tekanan yang sesuai dengan kebutuhan.

· Pendinginan Media

(30)

dilakukan hingga suhu mencapai 35 - 40 °C. Apabila suhu media terlalu tinggi, maka bibit yang ditanam akan mati karena kepanasan.

Ruang Pembibitan

Ruang pembibitan adalah ruangan yang khusus digunakan untuk proses produksi bibit. Ruang ini digunakan bila produksi sudah besar. Ruangan ini seklaigus dijadikan sebagai tempat penyimpanan bibit-bibit jamur yang dibentuk dalam kemasan botol. Menyediakan ruangan pembibitan yang diatur kebersihannya sedemikian rupa sehingga terbebas dari kontaminan.

Ruang Inokulasi

Ruang Inokulasi adalah ruang yang digunakan untuk kegiatan menanam bibit pada media tanam. Ruang inokulasi harus mudah dibersihkan dan disterilkan untuk menghindari terjadinya kontaminasi oleh mikroba lain. Pada ruang inokulasi diusahakan tidak banyak terdapat ventilasi yang terbuka lebar. Ventilasi sebaiknya dipasang filter atau saringan dari kawat kassa atau kassa plastik. Hal ini untuk menghindari serangga dan debu yang terlalu banyak yang dapat meningkatkan kontaminan atau adanya mikroba lain. Ruang inokulasi tersebut berukuran 2,5 m x 3 m x 5 m dan digunakan untuk inokulasi media tanam dan bibit jamur.

Ruang inokulasi termasuk sangat sederhana dan memiliki luasan yang kecil. Jumlah pekerja yang melakukan inokulasi bibit sebanyak 2 - 3 orang. Secara keseluruhan ruangan dilapisi dengan kassa plastik yang dipasang pada bambu-bambu pembatas ruangan sehingga kelembaban ruangan berkisar 80 - 90%. Hal-hal yang mutlak harus dipersiapkan dan diperhatikan untuk keberhasilan kegiatan inokulasi tersebut adalah sebagai berikut :

· Kondisi ruangan

Persyaratan yang harus dipenuhi untuk ruang inokulasi yaitu : a. Harus ruang khusus atau tersendiri.

(31)

d. Ruangan harus steril dengan cara menyemprotkan alkohol 70% dengan menggunakan alat sprayer. Kemudian dengan ruangan tersebut ditutup rapat selama satu jam sebelum dipakai.

· Alat-alat Kerja

Semua peralatan kerja yang diperlukan seperti sendok, alat penusuk dan jarum inokulasi harus disterilkan dengan cara direbus ke dalam air mendidih dan pada saat akan dipakai harus disemprot dengan alkohol 70%. Kemudian dibakar beberapa saat di atas lampu spiritus.

· Tenaga Pelaksana

Karyawan yang menangani pekerjaan inokulasi harus berpengalaman dan menguasai teknik inokulasi serta harus dalam kondisi sehat, bila sedang bekerja harus selalu menjaga kebersihan tangan dan pakaian serta memakai masker.

· Bibit

Kualitas bibit merupakan kunci keberhasilan dalam budidaya jamur tiram putih. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jamur tiram putih adalah sebagai berikut :

- Bibit berasal dari strain atau varietas unggul. - Umur bibit optimal 45 - 60 hari.

- Warna bibit merata. - Bibit tidak terkontaminasi.

- Tubuh buah jamur belum tumbuh.

(32)

cincin yang terbuat dari plastik kemudian disumpal dengan kapas, kemudian ditutup dengan kertas koran dan diikat dengan karet gelang. Log media tanam yang sudah diberi bibit dipindahkan ke inkubasi.

Ruang Inkubasi

Ruang inkubasi adalah ruang yang digunakan untuk menumbuhkan miselium jamur tiram putih pada media tanam yang sudah diinokulasi. Ruang inkubasi biasa disebut dengan ruang spawning. Ruang inkubasi tidak boleh terlalu lembab karena pada masa kegiatan tersebut media tanam masih berada dalam keadaan tertutup kantong plastik sehingga kelembaban berasal dari substrat itu sendiri, bukan dari lingkungan. Suhu ruang inkubasi berkisar antara 22 - 28 °C dengan tingkat kelembaban 60 - 80%. Ruang ini dilengkapai dengan rak-rak inkubasi untuk menempatkan media tanam dalam kantong plastik yang sudah diinokulasi.

Rak-rak inkubasi dibuat berjejer dan saling berhadapan dengan maksud tujuan untuk memaksimalkan pemanfaatan ruangan sehingga dapat memuat media maksimum 8.000 baglog. Ukuran ruang inkubasi 11 m x 6 m x 5 m.

Masa inkubasi adalah 3 - 4 minggu yang ditandai dengan tumbuhnya miselia yang tampak putih merata menyeliputi seluruh bagian log media tanam. Penempatan media inkubasi dibuat rak-rak bambu yang terletak berjejer sehingga dapat dimanfaatkan secara efesien.

Ruang Penumbuhan

(33)

Media tumbuh jamur yang sudah putih oleh miselia jamur, setelah berumur 40 - 60 hari sudah siap untuk dilakukan penumbuhan. Penumbuhan dilakukan dengan cara membuka plastik media tumbuh yang sudah dipenuhi miselia tersebut. Pada prinsipnya pembukaan media adalah bertujuan memberikan O2 yang cukup bagi pertumbuhan tubuh buah jamur. Dengan O2 yang cukup,

maka dapat memberikan kesempatan bagi jamur untuk membentuk tubuh buah dengan baik.

Pembukaan media dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya dengan menyobek plastik media di bagian atas atau dengan hanya membukanya saja. Satu atau dua minggu setelah media dibuka, biasanya akan tumbuh tubuh buah. Tubuh buah yang sudah tumbuh tersebut selanjutnya dibiarkan selama 2 - 3 hari atau sampai tercapai pertumbuhan yang optimal yaitu cukup besar, tetapi belum mekar penuh. Kondisi yang diperlukan untuk pertumbuhan tubuh buah pada jamur kayu adalah pada suhu 16 - 22 °C dengan kelembaban 80 - 90%.

(34)

Selain itu, kualitas penumbuhan jamur tiram putih juga dipengaruhi oleh kinerja pemanenan, karena hasil panen yang baik akan meningkatkan kualitas jamur. Untuk itu pemanenan jamur tiram putih yang akan dilakukan harus mempertimbangkan beberapa hal berikut :

· Penentuan Saat Panen

Panen dilakukan setelah pertumbuhan jamur tiram putih mencapai tingkat yang optimal, yaitu cukup besar, tetapi belum mekar penuh. Pemanenan ini biasanya dilakukan 5 hari setelah tumbuh calon jamur atau primordial. Pada saat itu, ukuran jamur tiram putih sudah cukup besar dengan diameter rata-rata 5 - 10 cm. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari untuk mempertahankan kesegaranya dan mempermudah pemasarannya. Setiap log jamur tiram putih dapat dipanen 1 - 8 kali pemanenan.

· Teknik Pemanenan

Pemanenan dilakukan dengan cara mencabut seluruh rumput jamur tiram putih yang ada. Pemanenan tidak dapat dilakukan dengan cara hanya memotong cabang jamur tiram putih yang ukurannya besar saja, sebab dalam satu rumpun jamur tiram putih mempunyai stadia yang sama. Oleh karenanya, apabila pemanenan hanya dilakukan pada jamur tiram putih yang ukurannya besar saja maka jamur tiram putih yang berukuran kecil tidak akan bertambah besar, bahkan kemungkinan akan mati (layu atau busuk). Pemanenan perlu dilakukan dengan mencabut keseluruhan rumpun hingga akar-akarnya untuk menghindari adanya akar atau batang jamur tiram putih yang tertinggal. Adanya bagian jamur tiram putih yang tertinggal tersebut dapat membusuk sehingga akan menyebabkan kerusakan media, bahkan dapat merusak pertumbuhan jamur tiram putih yang lain.

· Penanganan pascapanen

(35)

hari. Oleh karena itu, langsung membungkus jamur dalam bentuk segar setelah dilakukan pemanenan.

Pemasaran

Jamur tiram putih yang dihasilkan lalu dijual dalam bentuk segar, dengan rata-rata penjualan tiap harinya adalah 30 kg/hari. Untuk mempertahankan kesegaran jamur tiram putih hingga sampai ke tangan konsumen, maka pemasaran dilakukan sesegera mungkin. Hal ini dilakukan untuk menghindari resiko kerugian, karena sifat jamur yang mudah busuk dan rusak.

Dalam memasarkan produknya, menjual jamur tiram putih ke pasar lokal seperti pasar Cisarua, pasar Ramayana, pasar Anyar dan pasar Cipanas. Selain dipasarkan ke pasar-pasar lokal tersebut, seringkali konsumen datang langsung ke tempat proses budidaya jamur tiram putih untuk membelinya. Biasanya konsumen yang langsung datang ini, berasal dari Jakarta dan Bandung. Sedangkan produk kemasan stereofoam dipasarkan ke swalayan di Jakarta.

Gambaran Umum Jamur Tiram di Indonesia

Saat ini jamur tiram sudah memasyarakat dibandingkan dengan jenis jamur lainnya. Hal ini menyebabkan pasarnya pun tidak berada pada kalangan terbatas saja. Permintaan jamur tiram senantiasa meningkat disebabkan karena kebutuhan pasar akan produk jamur tiram kian meluas, tak hanya dalam bentuk segar, tetapi juga olahan. Pasar jamur tiram sangat potensial. Rasanya enak, selain untuk konsumsi dalam negeri, jamur tiram juga menembus pasar ekspor. Kebutuhan jamur tiram dalam bentuk kering maupun yang telah dikalengkan untuk beberapa negara seperti Singapura, Taiwan, Jepang, Hongkong cukup tinggi. Padahal untuk kebutuhan jamur tiram pasar dalam negeri belum cukup semuanya terpenuhi.

(36)

Tahapan-tahapan umum dalam budidaya jamur tiram putih, antara lain : · Pembuatan substrat tanam

Mencampur serbuk kayu dengan bahan-bahan lain seperti bekatul, tepung jagung dan kapur sampai merata (homogen) kemudian diayak. Menambah air hingga kandungan air dalam media menjadi 60 - 65% lalu tentukan pH-nya dengan kertas lakmus.

Memasukkan media tanam ke dalam kantung plastik polypropilene dan memadatkannya lalu bagian atas kantung plastik diberi cincin paralon kemudian dilubangi 1/3 bagian dengan kayu dan ditutup dengan kertas lilin serta diikat dengan karet. Melakukan sterilisasi pada suhu 95 0C selama 7 - 8 jam. Mendinginkan media tanam selama 8 - 12 jam dalam ruangan inokulasi.

· Penanaman (Inokulasi)

Inokulasi dilakukan setelah media tanam dingin dengan suhu antara 22 - 28 0C. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam proses penanaman (inokulasi). Sterilisasi semua alat dan bahan yang akan digunakan. Membuka penutup/kertas lilin dan memasukkan bibit dari dalam botol ke dalam media tanam dengan menggunakan stik inokulasi.

Menutup kembali penutup/kertas lilin dan mengikat dengan karet. Memindahkan media tanam yang telah ditanami bibit tersebut ke dalam ruangan inkubasi sampai tumbuh miselium jamur, lamanya penumbuhan miselium jamur antara 45 - 60 hari.

Setelah miselium memenuhi kantong plastik dipindahkan ke ruang produksi dengan membuka tutup kantong plastik dan menyemprot air secara teratur.

· Pemanenan

(37)

Kelayakan Finansial

Dari kegiatan suatu usaha akan ditelaah bagaimana sumber-sumber pembiayaan usaha tersebut, bagaimana keuntungan tahunan dan keuntungan total selama usaha, analisis discounted (NPV, BCR, dan IRR), dan undiscountednya, serta analisis sensitivitas akibat perubahan terhadap unsur biaya dan pendapatan (misalkan ada perubahan harga-harga).

Menurut Kadariah, et al (1978), untuk mengetahui kelayakan suatu usaha perlu dilakukan pengujian melalui analisis finansial. Selain itu usaha agribisnis merupakan usaha yang memerlukan modal usaha yang cukup besar dengan resiko yang besar pula. Oleh karena itu diperlukan suatu analisis kelayakan usaha, yang dimaksud untuk mengevaluasi apakah usaha tersebut layak untuk diusahakan. Untuk mengevaluasi kelayakan usaha perlu diketahui besar manfaat dan besar biaya dari setiap unit yang dianalisis. Manfaat (benefit) adalah apa yang diperoleh orang atau badan swasta yang menanamkan modalnya dalam proyek. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam kelayakan suatu usaha, antara lain aspek teknis, aspek manajerial dan administratif, aspek organisasi, aspek komersial, aspek finansial dan aspek ekonomis. Analisis finansial dapat dilakukan melalui analisis usaha dan analisis kriteria investasi.

Analisis Usaha

Analisis usaha jamur merupakan pemeriksaan keuangan untuk mengetahui sampai dimana keberhasilan yang telah dicapai selama usaha jamur berlangsung. Dalam analisis usaha jamur komponen yang digunakan adalah biaya produksi, penerimaan usaha dan pendapatan yang diperoleh dari usaha jamur. Dalam analisis usaha dilakukan analisis pendapatan usaha, analisis waktu pengembalian modal (payback period), dan Break Event Point (BEP).

Analisis pendapatan usaha (laba) adalah total penerimaan (TR = Total Revenue) dikurangi dengan biaya total (TC = Total Cost). Jadi perubahan laba yang akan diperoleh perusahaan tergantung dari perubahan penerimaan (MR =

(38)

Penerimaan adalah total produksi dikalikan dengan harga per satuan produk. Biaya produksi adalah seluruh biaya yang diperlukan untuk menghasilkan sejumlah output tertentu, yang terdiri atas biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap adalah biaya yang tidak berubah dengan berubahnya jumlah output. Biaya variabel adalah biaya yang berubah dengan berubahnya jumlah output (Lipsey et al, 1995).

Analisis payback period digunakan untuk mengetahui berapa lama waktu yang digunakan untuk melunasi investasi yang ditanamkan. Metode payback period merupakan metode yang menghitung seberapa cepat investasi yang dilakukan bisa kembali, karena itu hasil perhitungannya dinyatakan dalam satuan waktu yaitu tahun atau bulan (Husnan dan Pudjiastuti, 2004).

Break even point (BEP) adalah titik kembali modal yang menunjukkan biaya total yang dikeluarkan perusahaan sama dengan hasil penjualan yang diterimanya. Pada saat BEP dicapai usaha tidak untung dan tidak rugi. BEP dapat dihitung dengan mengetahui biaya tetap, biaya produksi, dan hasil penjualan (Sugiarto, et al, 2002).

Analisis Kriteria Investasi

Analisis kriteria investasi merupakan analisis untuk mencari suatu ukuran menyeluruh tentang baik tidaknya suatu usaha yang telah dikembangkan. Setiap kriteria investasi menggunakan present value yang telah didiskonto dari arus-arus benefit dan biaya selama umur suatu usaha (Kadariah, et al, 1978). Penilaian investasi dalam suatu usaha dilakukan dengan membandingkan antara semua manfaat yang diperoleh akibat investasi dengan semua biaya yang dikeluarkan selama proses investasi dilaksanakan.

(39)

Kadariah, et al (1978) mengemukakan bahwa suatu usaha atau proyek dikatakan layak atau tidak untuk dilaksanakan jika sesuai dengan ukuran kriteria investasi yang ada. Beberapa metode pengukuran dalam kriteria investasi yang dapat digunakan adalah sebagai berikut :

- Net Present Value (NPV) yaitu nilai kini dari keuntungan bersih yang akan diperoleh pada masa mendatang, yang merupakan selisih kini dari benefit

dengan nilai kini dari biaya.

- Benefit-Cost Ratio (B/C) adalah nilai sekarang arus manfaat dibagi dengan nilai sekarang arus biaya.

(40)

III. METODOLOGI PENELITIAN

Tempat dan Waktu Pengumpulan Data

Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Ciampea dan Ciawi Kabupaten Bogor. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive), dengan pertimbangan bahwa di wilayah tersebut terdapat petani-petani yang mengusahakan atau memproduksi jamur tiram, baik itu memproduksi bibit maupun yang melakukan budidaya jamur tiram. Jumlah responden yang diteliti di Kecamatan Ciampea dan Ciawi masing-masing sebanyak 1 responden. Penelitian ini diawali dengan observasi atau penjajakan lokasi dan dilanjutkan dengan pengambilan data yang dilaksanakan pada bulan Agustus sampai September tahun 2010.

Bahan dan Alat Peneletian

Objek yang menjadi bahan penelitian adalah usaha budidaya jamur tiram putih. Sedangkan alat yang digunakan yaitu peralatan tulis menulis, papan untuk penyangga tulisan, catatan, kamera untuk dokumentasi, dan bahan berupa kuesioner untuk dijadikan pedoman wawancara kepada responden yang diwawancarai.

Kerangka Pemikiran

Studi kelayakan terhadap usaha budidaya jamur tiram ini perlu dilakukan untuk mengetahui apakah usaha yang dijalankan layak untuk dikembangkan atau tidak. Studi kelayakan ini dilakukan dengan cara melakukan analisis kelayakan (aspek finansial) dilihat dari sumber biaya, inflow dan outflow, analisis discounted dengan penilaian terhadap NPV (Net Present Value), B/C (Benefit-Cost Ratio), dan IRR (Internal Rate of Return). Pada kelayakan usaha budidaya jamur tiram perlu juga dilakukan analisis sensitivitas untuk mengetahui kejadian yang berbeda dengan perkiraan-perkiraan yang dibuat dalam perencanaan.

(41)
[image:41.612.116.486.245.678.2]

perusahaan untuk mencapai keuntungan yang maksimum. Apabila usaha pengembangan tersebut tidak layak lagi untuk diusahakan, maka tidak diadakan upaya pengembangan teknologi. Hal lain yang juga akan dibuat dari data-data yang akan diperoleh, yaitu membuat hubungan antara modal, produksi, dan pendapatan dari usaha jamur tiram tersebut. Dimana akan menjelaskan grafik yang menunjukkan hubungan dua dimensi, antara lain hubungan antara modal dengan pendapatan, tingkat produksi dengan biaya produksi, tingkat produksi dengan pendapatan, serta tingkat produksi dengan tenaga kerja. Secara skematis kerangka pemikiran disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Kerangka pemikiran dalam pengolahan data penelitian. Analisis kelayakan (aspe k

finansial)

· Sumber Biaya

· Inflow dan outflow

· Analisis discounted dan undiscounted

· Analisis sensitivitas

Faktor-faktor yang mempengaruhi modal, biaya, dan pendapatan dalam usaha jamur tiram:

Struktur Biaya & Besar Biaya Biaya Tetap Biaya Variabel Produktivitas &

Pendapatan

Budidaya jamur tiram layak atau tidak untuk Wawancara dengan petani jamur

tiram Petani-petani jamur tiram

Pemilihan lahan yang sesuai syarat tumbuh

Pelaksana kegiatan budidaya Peralatan untuk

setiap kegiatan budidaya Kebutuhan

bangunan Skala usaha Ditinjau dari jumlah produksi

Tenaga ahli, teknisi, dan tenaga kasar Sumber bahan baku berlimpah Bibit yang baik

(42)

Metode Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini didapatkan dari berbagai sumber sebagai berikut :

· Tinjauan Pustaka

Dalam pembahasan permasalahan penelitian ini, memerlukan teori-teori ilmiah yang dilakukan dalam penelaahan informasi dari berbagai sumber seperti buku, tulisan dan literatur yang berisi konsep-konsep teoritis, pendapat/pengetahuan/pengalaman para ahli dan praktisi. Data sekunder juga didapat dari berbagai informasi data yang dikeluarkan oleh instansi terkait dan internet.

· Kajian lapangan

Kajian lapangan dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data-data primer sebagai bahan bahasan dalam melakukan perbandingan antara teori dan kenyataan di lapangan. Data primer ini didapatkan dengan cara melakukan kunjungan dan wawancara langsung berdasarkan kuesioner yang telah disiapkan.

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari petani sebagai responden pada waktu pengumpulan data. Data dan informasi digali dengan menggunakan kuesioner yang lebih bersifat sebagai pedoman umum, yang selanjutnya dikembangkan dalam diskusi dengan responden untuk menangkap informasi yang lebih mendalam.

Dalam melakukan pencarian data dan informasi, digunakan kuesioner yang mencakup:

- Identitas responden

Terdiri dari: nama, umur, jenis kelamin, pendidikan formal, lokasi usaha, lama pengalaman usaha.

- Kondisi sosial ekonomi usaha

Terdiri dari: modal, lahan, bangunan, input usaha, alat-alat usaha, sumberdaya manusia/tenaga kerja.

- Kegiatan budidaya

(43)

Terdiri dari: pengayakan serbuk kayu, penyerbukan serbuk kayu, pencampuran bahan-bahan, pengomposan, pengadukan kompos, pembungkusan, sterilisasi.

Ø Inokulasi dan Inkubasi

Ø Pemeliharaan

Ø Pemanenan

Lama waktu pemanenan, pemanenan dilakukan secara total ataukah selektif, cara pemanenan, jumlah benih yang dihasilkan sekali panen, jumlah panen dalam setahun, kapan waktu panennya.

Ø Pemasaran

Cara pemasaran, harga jual (Rp/kg), cara pembayaran, siapa pembeli yang dominan.

- Penerimaan, pengeluaran, dan pendapatan

Ø Penerimaan

Bagaimana jumlah penerimaan

Ø Pengeluaran

Bagaimana jumlah pengeluaran

Ø Pendapatan

Bagaimana jumlah pendapatan

Metode pengumpulan data pada kajian ini menggunakan penggabungan dari sumber data pimer dan data sekunder, sehingga data yang diperoleh lengkap dan aktual tentang segala permasalahan yang berkaitan dengan usahatani jamur tiram.

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu terdiri dari:

- Interview, yaitu pengumpulan data yang berasal dari wawancara secara langsung dengan responden, dalam hal ini adalah petani.

- Observasi, yaitu dengan cara pengamatan langsung secara sistematis terhadap aktivitas usaha. Disini dilakukan pengamatan secara langsung terhadap kegiatan pada usaha jamur tersebut.

(44)

- Studi pustaka, yaitu guna menunjang pengumpulan data di lapangan diperlukan studi kepustakaan dimana digunakan literatur yang berhubungan dengan judul penelitian. Selain itu juga digunakan data praktis yang didapat dari surat kabar, majalah, dan sumber data praktis lainnya.

Tabel 1. Jenis data, sumber data, dan cara pengambilan data untuk penelitian.

Jenis Data Sumber

Data

Cara pengambilan data

Data primer Investasi Modal tetap

1. Upah dan bahan bangunan 2. Peralatan

(Sterilizer, Kompor tekan, Sprayer, Peralatan produksi (cangkul, skop, ember, dll), Rak bambu)

Responden Wawancara dan diskusi

Modal Kerja 1. Bahan baku 2. Bahan tambahan 3. Tenaga kerja 4. Bibit Jamur 5. BBM 6. Lain-lain

Responden Wawancara dan diskusi

Kegiatan usaha

Proses Produksi Responden Wawancara dan

diskusi

Data sekunder

Bahan-bahan pustaka yang berkaitan dengan penelitian

Literatur, tulisan, buku, dll

[image:44.612.106.504.109.727.2]
(45)

Pengolahan Data

Data dan informasi yang telah dikumpulkan, diolah dengan bantuan kalkulator dan komputer. Program komputer yang digunakan adalah software Microsoft Word dan Excel. Selanjutnya data tersebut disajikan dalam bentuk tabulasi yang digunakan untuk mengelompokkan dan mengklasifikasikan data yang ada serta untuk mempermudah dalam melakukan analisis data. Kegiatan ini dilakukan untuk menajamkan dan mengkoordinasikan sehingga didapatkan data pokok yang akan menjadi pokok penelitian dan merupakan kesimpulan akhir. Untuk mengetahui kelayakan usaha jamur secara finansial dilakukan analisis biaya pembuatan dan nilai jamur dengan metode analisis kelayakan usaha yang memiliki indikator-indikator seperti tersebut sebelumnya di atas.

Analisis Data

Analisis Waktu Pengembalian Modal (Payback period)

Analisis payback period adalah analisis suatu jangka waktu (periode) kembalinya keseluruhan investasi kapital yang ditanamkan, dihitung mulai dari permulaan proyek sampai dengan arus nilai netto produksi tambahan, sehingga mencapai jumlah keseluruhan investasi kapital yang ditanamkan dengan menggunakan aliran kas (Gittinger, 1986). Secara matematis payback period

dapat dirumuskan sebagai berikut :

PP = x tahun

Analisis Break Even Point (BEP)

Menurut Rahardi et al (2005), Break Even Point merupakan suatu nilai dimana hasil penjualan produksi sama dengan biaya produksi sehingga pengeluaran sama dengan pendapatan. Dengan demikian, pada saat BEP

perusahan mengalami impas, tidak untung dan tidak rugi. Perhitungan BEP

digunakan untuk menentukan batas minimum volume penjualan agar suatu perusahaan tidak rugi. Selain itu, BEP juga dapat digunakan untuk merencanakan tingkat keuntungan yang dikehendaki dan sebagai pedoman dalam mengendalikan operasi yang sedang berjalan. Untuk menentukan BEP, ada beberapa hal yang harus diketahui yaitu biaya atau modal (baik modal tetap atau variabel), harga jual

(46)

dan tingkat produksi. BEP dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut :

dimana :

TFC = Total Fixed Cost (Total Biaya Tetap) TVC = Total Variable Cost (Total Biaya Variabel) TC = Total Cost = TVC + TFC

Analisis Kriteria Investasi

Untuk mengetahui kelayakan usaha tersebut diperlukan besar manfaat atau benefit dan besar biaya dari setiap unit yang dianalisis. Menurut Kadariah, et al

(1978), indikator yang digunakan untuk membandingkan manfaat dan biaya pada usaha adalah sebagai berikut :

Net Present Value (NPV)

NPV dapat diartikan sebagai nilai sekarang dari arus pendapatan yang ditimbulkan oleh investasi. Rumus yang digunakan dalam perhitungan NPV adalah sebagai berikut:

dimana: Bt = Penerimaan pada tahun ke-t Ct = Biaya pada tahun ke-t t = Umur proyek

i = Discount Rate

Kriteria kelayakan dalam metode NPV adalah :

NPV > 0, maka proyek menguntungkan dan dapat dilakukan.

NPV = 0, maka proyek tidak menguntungkan tapi juga tidak rugi, jadi tergantung penilaian subyektif pengambilan keputusan.

NPV < 0, maka proyek merugikan karena keuntungan lebih kecil dari pada biaya.

NPV =

å

=

+

-9

0

(

1

)

t

i

t

Ct

Bt

(47)

Benefit-Cost Ratio (B/C)

Benefit-Cost Ratio (B/C) merupakan ratio jumlah keuntungan dari suatu proyek terhadap biaya, yang dalam hal ini dipisahkan antara biaya investasi dengan biaya operasionalnya. Secara matematika dapat dijelaskan sebagai berikut:

dimana: Bt = Penerimaan pada tahun ke-t Ct = Biaya pada tahun ke-t t = Umur proyek

i = Discount Rate

Suatu usaha dinyatakan layak jika B/C lebih besar dari satu dan tidak layak jika B/C lebih kecil dari satu. Jika B/C sama dengan satu, penyerahan keputusan diserahkan kepada pihak manajemen. Kriteria kelayakan pada metode ini adalah :

B/C > 1, proyek dianggap layak

B/C = 1, merupakan titik impas

B/C < 1, proyek tidak layak

Internal Rate of Return (IRR)

IRR merupakan tingkat suku bunga yang menunjukkan jumlah nilai sekarang netto (NPV) sama dengan seluruh ongkos proyek atau NPV = 0 (Kadariah, et al, 1978).

Nilai IRR yang lebih besar atau sama dengan bunga yang berlaku menunjukkan bahwa usaha layak untuk dilaksanakan. Rumus perhitungannya :

IRR = i’ + (i”– i’)

(48)

i’ = tingkat bunga dimana NPV bernilai positif i” = tingkat bunga dimana NPV bernilai negatif Dengan kriteria usaha :

IRR > i, usaha dapat dilanjutkan

IRR < i, usaha lebih baik ditolak Analisis Sensitivitas

(49)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Budidaya Jamur Tiram Putih

Berdasarkan hasil penelitian usaha budidaya jamur tiram yang dilakukan di Kecamatan Ciampea dan Ciawi, sudah cukup baik dalam penggunaan teknologi untuk kegiatan produksinya. Spesies jamur yang dibudidaya adalah jamur tiram putih yang memiliki ciri warna daging yang berwarna putih.

Usaha budidaya jamur tiram putih yang berada di Kecamatan Ciampea dan Ciawi memiliki luas lahan kurang lebih 1.200 m2, yang terdiri dari bangunan kumbung dengan luas rata-rata dari kedua kecamatan 800 m2 sebagai tempat

growing atau penumbuhan jamur tiram. 400 m2 luas lahan selain bangunan kumbung digunakan sebagai tempat penyimpanan sarana pendukung produksi. Ada beberapa aspek yang dapat diperhatikan dalam penentuan lokasi budidaya jamur tiram putih antara lain :

Sosial Ekonomi

Umumnya aspek sosial ekonomi berkaitan dengan lingkungan masyarakat sekitar lokasi kegiatan budidaya dilakukan. Beberapa syarat yang menjadi pertimbangan dari aspek sosial ekonomi adalah sebagai berikut :

- Lingkungan harus terjaga dengan baik. Artinya, usaha budidaya jamur tiram putih tidak akan merusak lingkungan yang sudah ada. Kondisi iklim cuaca di Kecamatan Ciampea dan Ciawi relatif sama. Suhu dari kedua daerah tersebut berkisar antara 15 - 22 0C dengan kelembaban 90%.

- Tenaga kerja yang digunakan pada usaha budidaya jamur tiram di Kecamatan Ciampea dan Ciawi berasal dari masyarakat sekitar lokasi usaha. Hal ini berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitar lokasi usaha budidaya jamur tiram di Kecamatan Ciampea dan Ciawi.

- Sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan, yakni sarana produksi, sarana transportasi, sarana penerangan (listrik), dan sarana telekomunikasi seperti telepon guna menunjang kelancaran usaha. Dari lokasi usaha

budidaya jamur tiram di Kecamatan Ciampea dan Ciawi yang menjadi objek penelitian telah memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana bagi

(50)

sebagainya. Untuk transportasi menggunakan motor maupun sepeda, dan sarana-sarana yang penunjang yang lainnya.

- Lokasi aman dan mendapat jaminan dari pihak-pihak yang berwenang di daerah setempat. Pada lokasi usaha di Kecamatan Ciampea yang telah berlangsung selama kurang lebih 5 tahun, tidak terjadi konflik dengan masyarakat sekitar. Begitu pun dengan lokasi usaha yang ada di Kecamatan Ciawi. Masyarakat yang ada di sekitar lokasi usaha terlihat tidak terganggu dengan adanya usaha budidaya jamur tiram tersebut.

Proses Budidaya Jamur Tiram Putih

Aspek budidaya mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan budidaya jamur tiram putih. Untuk lokasi bangunan dipilih lahan dengan tanah yang stabil. Untuk budidaya jamur tiram pada lokasi penelitian, responden memilih lahan yang berhawa sejuk dengan suhu 10 - 22 0C dengan kelembaban udara cukup tinggi berkisar 90%. Dari kedua lokasi usaha yang berada di Kecamatan Ciampea dan Ciawi, kegiatan usaha buidaya jamur tiram telah memenuhi kriteria yang baik untuk lokasi usaha. Hal ini terlihat dari hasil produksi yang cukup baik. Pembudidaya jamur tiram di Kecamatan Ciampea dan Ciawi telah mengukur suhu dan kelembaban yang ideal, sehingga dari segi pemilihan iklim cuaca untuk lokasi usaha di Kecamatan Ciampea dan Ciawi sudah cukup memenuhi untuk standar produksi.

Sarana Produksi

Sarana produksi yang diperlukan dalam usaha budidaya jamur tiram putih, antara lain bangunan, rak bambu, peralatan dan bahan-bahan, baik bahan baku maupun bahan tambahan.

· Bangunan

(51)
[image:51.612.207.429.76.246.2]

Gambar 2. Bangunan kumbung pemeliharaan di Kecamatan Ciampea.

Budidaya jamur tiram putih secara komersil memerlukan beberapa bangunan yang diperlukan dalam kegiatan usahanya. Bangunan yang diperlukan terdiri dari ruang persiapan, ruang inokulasi, ruang inkubasi, ruang penanaman dan ruang pembibitan. Bangunan tersebut dibuat dari kerangka kayu dengan dinding dari anyaman bambu dan atapnya dari genteng. Dinding bangunan dibuat dari anyaman bambu dengan tujuan memperkecil biaya bangunan, disamping pembuatannya yang mudah, anyaman bambu ini sangat baik dalam pengaturan suhu dan kelembaban ruangan, karena memberikan sirkulasi udara yang baik dari ventilasi anyaman serta dengan masuknya angin melalui jaring anyaman, dapat mempercepat perkembangan spora jamur. Bangunan ini dapat dipergunakan unutuk jangka waktu 10 tahun.

· Rak-Rak Bambu

Bagian dalam bangunan kumbung terdapat rak-rak yang terbuat dari bahan utama bambu yang digunakan sebagai tempat penyimpanan bibit-bibit jamur. Dari lokasi usaha budidaya jamur tiram di Kecamatan Ciampea dan Ciawi struktur rak-rak yang digunakan sama dari bahan dan bentuk. Yang berbeda hanya tingkatan dari setiap rak di Kecamatan Ciampea umumnya rak yang digunakan memilki 3 tingkat dengan masing-masing tingkat ditumpuk bibit jamur. Untuk lokasi usaha di Kecamatan Ciawi menggunakan rak sebanyak 4 - 5 tingkat. Hal ini dikarenakan lokasi usaha yang cukup sempit sehingga bentuk rak sedikit ditambah

Gambar

Gambar 1. Kerangka pemikiran dalam pengolahan data penelitian.
Tabel 1. Jenis data, sumber data, dan cara pengambilan data untuk penelitian.
Gambar 2. Bangunan kumbung pemeliharaan di Kecamatan Ciampea.
Gambar 3. Rak tempat penyimpanan baglog jamur di Kecamatan Ciampea.
+7

Referensi

Dokumen terkait

dibandingkan dengan vulkanisat sol karet yang menggunakan bahan pengisi carbon black, disini nampak bahwa makin besar jumlah carbon black ketahanan kikis makin

Tujuan selanjutnya yaitu melakukan re-design pada mesin eksiting dengan melihat aspek kemudahan dalam perakitan atau pembongkaran , menggunakan metode Boothroyd

rRabnb.&amp;,a'l!h!/gPiP!ru*.

Hasil hipotesis ini menolak konsep dari ikatan hubungan ( relationship bond ) di dalam pemasaran hubungan oleh Berry dan Parasuraman bahwa bisnis dapat dibangun dengan

PPL bagi mahasiswa PPL agar tidak terjadi simpang siur. Hal ini dikarenakan informasi yang disampaikan di buku panduan PPL mengenai sistematika laporan PPL belum secara

hal negatif yang saya dapatkan adalah saya tidak berkonsentrasi dalam pembelajaran karena masih dalam keadaan mengantuk yang sebabkan saya kurang tidur dan kurang darah, hal

 Dengan menggunakan modul dapat membantu menghindari pengulangan dalam menuliskan algoritma yang sama lebih dari satu kali..  Efficiency

Setelah dilakukan kajian secara mendalam, hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi pendidik menurut al-Qur’an surat Ar-Rahman ayat 1-10 dalam tafsir al-Misbah dan