ِهْيَلَع
َمَّلَسَو
ِنآْرُقْلا ِيمُِبِ اَهيِف ْأَرْقَ ي َْلَ ًةَلَص ىَّلَص ْنَم َلاَق
َلَث جاَدِخ َىْهَ ف َءاَرَو ُنوُكَن َّنَِإ َةَرْ يَرُه ِبَِلأ َليِقَف . ماََتَ ُرْ يَغ ًثَ
َِّللَّا َلوُسَر ُتْعَِسَ ِينِِإَف َكِسْفَ ن ِف اَِبِ ْأَرْ قا َلاَقَ ف .ِماَمِلإا ىَّلَص ُالله ِهْيَلَع َمَّلَسَو ُلوُقَ ي َةَلَّصلا ُتْمَسَق َلَاَعَ ت َُّللَّا َلاَق :
ِدْبَع َْيَْ بَو ِنِْيَ ب ُدْبَعْلا َلاَق اَذِإَف َلَأَس اَم ىِدْبَعِلَو ِْيَْفْصِن ى
ىِدْبَع ِنَِدَِحَ َلَاَعَ ت َُّللَّا َلاَق .)َيِْمَلاَعْلا ِيبَر َِِّللَّ ُدْمَْلِا(
َّىَلَع َنِْ ثَأ َلَاَعَ ت َُّللَّا َلاَق .) ِميِحَّرلا ِنَْحََّرلا( َلاَق اَذِإَو َ ي ِكِلاَم( َلاَق اَذِإَو .ىِدْبَع ىِدْبَع ِنَِدََّمَ َلاَق .)ِنيِيدلا ِمْو
َكَّيَِإَو ُدُبْعَ ن َكَّيَِإ( َلاَق اَذِإَف ىِدْبَع ََّلَِإ َضَّوَ ف ًةَّرَم َلاَقَو .َلَأَس اَم ىِدْبَعِلَو ىِدْبَع َْيَْ بَو ِنِْيَ ب اَذَه َلاَق .)ُيِْعَتْسَن اَرِص َميِقَتْسُمْلا َطاَرِيصلا َنَِدْها( َلاَق اَذِإَف َتْمَعْ نَأ َنيِذَّلا َط
اَذَه َلاَق .)َيِْيلاَّضلا َلاَو ْمِهْيَلَع ِبوُضْغَمْلا ِْيَْغ ْمِهْيَلَع َلَأَس اَم ىِدْبَعِلَو ىِدْبَعِل .
28
28Muslim Ibn al-Hajja>j, S{ahí>h Muslim (Beiru>t: Da>r al-Fikr, 1992 M.), II, 55
Isha>q ibn Ibra>hi>m al-Hanz}ali> bercerita kepada kami, Sufya>n ibn Uyaynah bercerita kepada kami dari al- Ala’ dari ayahnya dari Abu> Hurayrah ra., Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang shalat apa pun dan ia tidak membaca surat al-Fatihah maka shalatnya tidak sempurna (disampaikan tiga kali). Kepada Abu Hurayrah dikonfirmasi bahwa kami sedang bermakmum di belakang imam. Maka Abu Hurayrah berkata: Bacalah al-Fatihah itu pada dirimu sendiri.
Saya pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:
Allah swt. berfirman: Aku bagi shalat itu antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba- Ku apa yang ia minta. Apabila hamba-Ku membaca
“Segala puji bagi Allah, Tuhan seru semesta alam”, maka Allah menjawab: Hamba-Ku telah memuji kepada-Ku. Apabila hamba-Ku membaca”Tuhan yang Maha Pengasih, Maha Penyayang”, maka Allah menjawab: Lagi-lagi hamba-Ku memuja kepada-Ku.
Apabila hamba-Ku membaca “Tuhan yang merajai di hari kemudian”, maka Allah menjawab: Hamba-Ku telah mengagungkan Diriku. Apabila hamba-Ku membaca “Hanya kepada-Mu saya sujud dan hanya kepada-Mu saya memohon pertolongan”, maka Allah menjawab: Inilah Aku dan inilah hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Apabila hamba-Ku membaca “Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang yang beroleh kenikmatan, bukan jalannya orang yang Engkau murkai dan juga bukan jalannya
orang yang sesat”, maka Allah menjawab: Inilah Aku dan inilah hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta (HR. Muslim).
Seandainya dalam pelaksanaan salat seorang hamba dihadirkan perasaan curhat dan dialog dengan sang Khaliq (pencipta) seperti ini, tentu yang bersangkutan akan merasakan kenikmatan tersendiri dan kekhusu’an dalam pelaksanaan shalatnya.
B. Struktur Hadis: Mukharrij, Perawi, Perawi Pertama, Perawi Terakhir, Sanad dan Matan
1. Mukharrij adalah perawi terakhir yang meriwayatkan hadis. Atau dengan kata lain, mukharrij adalah perawi terakhir sekaligus perawi yang berhasil menghimpun berbagai macam hadis dalam sebuah kitab hadis. Misalnya al-Bukha>ri>, Muslim, al-Turmudzi>, Abu> Da>wud, al-Nasa>’i>, Ibn Ma>jah dan lain sebagainya adalah ulama yang menghimpun suatu hadis dalam karya-karya mereka.
Istilah mukharrij juga identik dengan istilah mukhrij. Kedua istilah tersebut terkait erat dengan kegiatan takhri>j al-hadi>th|.
2. Perawi atau rawi hadis adalah orang-orang yang terlibat dalam periwayatan hadis.
3. Perawi pertama, adalah orang pertama yang meriwayatkan hadis. Dalam hal ini diperselisihklan oleh ulama, ada yang memahami guru pertama mukhrij, ada yang memahami
murid pertama s}ahi>b al-matan (dalam hal ini sahabat kalau hadisnya al-marfu>’ yaitu hadis yang dinisbatkan kepada Nabi dan tabi’in kalau hadisnya al-mawqu>f, yaitu hadis yang dinisbatkan kepada sahabat). Namun pendapat pertama yang lebih masyhur.
4. Perawi terakhir adalah lawan dari perawi pertama.
5. Sanad secara bahasa berarti “sandaran yang kita bersandar padanya”. Juga berarti yang dapat dipegangi, dipercayai, kaki bukit, atau gunung juga disebut sanad. Jamaknya adalah asa>nid atau sanada>t. sedangkan secara istilah adalah jalan menuju matan. Yaitu mata rantai perawi dari mukhrij sampai s}a>hib al-matan yang pertama. Dalam istilah ilmu hadis, selain istilah sanad lazim juga disebut isnad.
6. S}a>hib al-matan adalah yang mengeluarkan pernyataan tersebut. Bisa jadi Rasulullah yang disebut hadis marfu>’
atau sahabat yang disebut hadis mawqu>f atau generasi sesudahnya yang disebut hadis maqt}u>’.
7. Matan secara bahasa berarti punggung jalan (muka jalan);
tanah yang keras dan tinggi. Sedangkan secara istilah, matan adalah teks-teks hadis, baik yang bersumber kepada Nabi, sahabat, maupun tabiin.
Dari uraian struktur hadis di atas, dapat ditampilkan sebuah contoh hadis berikut ini:
َلاَق ِْيَْ ب زلا ُنْب َِّللَّا ُدْبَع ىِدْيَمُْلِا اَنَ ثَّدَح : يِراَخُبلْا َجَرْخَأ َلاَق ىِراَصْنَلأا ديِعَس ُنْب َيََْيَ اَنَ ثَّدَح َلاَق ُناَيْفُس اَنَ ثَّدَح ِإ ُنْب ُدَّمَُمُ ِنَِرَ بْخَأ صاَّقَو َنْب َةَمَقْلَع َعَِسَ ُهَّنَأ ىِمْيَّ تلا َميِهاَرْ ب
ىَلَع هنع الله ىضر ِباَّطَْلْا َنْب َرَمُع ُتْعَِسَ ُلوُقَ ي َّىِثْيَّللا َِّللَّا َلوُسَر ُتْعَِسَ َلاَق َِبَْ نِمْلا ىَّلَص
ُالله ِهْيَلَع َمَّلَسَو ُلوُقَ ي :
ِتاَّيِينلِبِ ُلاَمْعَلأا اََّنَِّإ ْتَناَك ْنَمَف ،ىَوَ ن اَم ئِرْما ِيلُكِل اََّنَِّإَو ،
اَم َلَِإ ُهُتَرْجِهَف اَهُحِكْنَ ي ةَأَرْما َلَِإ ْوَأ اَهُ بيِصُي اَيْ نُد َلَِإ ُهُتَرْجِه ِهْيَلِإ َرَجاَه .
1. Mukhrij atau mukharrij hadis adalah Imam al-Bukha>ri>.
2. Perawi atau rawi hadis adalah al-Humaydi> (Abd Alla>h ibn Zubayr), Sufya>n, Yahya> ibn Sa’i>d al-Ans{ari>, Muhammad ibn Ibra>hi>m al-Taymi>, Alqamah ibn Waqqa>s al-Laythi> dan Umar ibn Khatt{a>b.
3. Perawi pertama adalah Umar ibn Khat{t{a>b sekaligus sebagai sanad terakhir
4. Perawi terakhir adalah al-Humaydi> (Abd Alla>h ibn Zubayr) sekaligus sebagai sanad pertama.
5. Sanad hadis adalah mata rantai perawi dari al-Humaidi (Abd Alla>h ibn Zubayr), Sufya>n, Yahya> ibn Sa’i>d al-
Ans{a>ri>, Muhammad ibn Ibra>hi>m al-Taymi>, Alqamah ibn Waqqa>s al-Laythi> sampai kepada Umar ibn Khatt{a>b.
6. S{a>hib al-matan adalah Rasulullah saw. karena hadis di atas merupakan hadis marfu>’
7. Matan hadis atau teks hadis adalah pernyataan Nabi saw.:
اََّنَِّإَو ،ِتاَّيِينلِبِ ُلاَمْعَلأا اََّنَِّإ ْتَناَك ْنَمَف ،ىَوَ ن اَم ئِرْما ِيلُكِل
اَم َلَِإ ُهُتَرْجِهَف اَهُحِكْنَ ي ةَأَرْما َلَِإ ْوَأ اَهُ بيِصُي اَيْ نُد َلَِإ ُهُتَرْجِه ِهْيَلِإ َرَجاَه .
Dari paparan tentang struktur hadis di atas, dapat dipahami bahwa kajian dalam studi hadis pada hakekatnya terfokus kepada dua hal; yaitu kajian sanad hadis dan kajian matan hadis.
*****
Rangkuman Materi
1. Ulama Hadis, ulama Usul Fikih, dan ulama Fikih berbeda pendapat dalam mendefinisikan hadis dan sunnah.
2. Sunnah cakupannya lebih luas daripada hadis.
3. Khaba>r dan atha>r lebih umum daripada hadis dan sunnah dari segi penyandarannya.
4. Hadis Nabawi> berbeda dengan hadis qudsi>, dan juga dengan al-Qur’an.
5. Struktur hadis terdiri atas; mukharrij, sanad dan matan.
Latihan
1. Jelaskan pengertian hadis, sunnah, khaba>r dan atha>r!
2. Mengapa ulama hadis dan ulama ushul berbeda dalam mendefinisikan hadis dan sunnah?
3. Kemukakan perbedaan antara hadis Nabawi> dengan hadis qudsi>!
4. Jelaskan apa saja yang termasuk dalam struktur hadis!
5. Tulislah sebuah contoh hadis lengkap sanad dan matannya yang menunjukkan kelengkapan struktur hadis?
Daftar Bacaan
‘Abd al-Wahhab Khallaf, ‘Ilm Us}u>l al-Fiqh. Kuwait: Dar al- Qalam, 1978.
Abi al-Husayn Muslim bin al-Hajjaj al-Qushayri al-Naysaburi, S}ahi>h Muslim. Beirut: Da al-Fikr, 1988.
Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Isma‘il al-Bukhari. S}ahi>h al- Bukha>ri>. Semarang: Taha Putera, t.t.
al-Tirmisi, Manhâj z|awi> al-Naz}a>r (Beirut : Dar al-Fikr, 1974 Fatchurrahman, Ikhtishar Musthalahul Hadith. Bandung: al-
Ma’arif, 1987.
Hasbi ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis.Jakarta:
Bulan Bintang, 1991.
Idri, Studi Hadis, Jakarta: Prenada Media Group, 2013
Khadim al-Haramayn asy-Syarifain, Al-Qur'an dan Terjemahnya.
Saudai Arabia: t.p, t.t.
Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, Us}u>l al-Hadi>th| ‘Ulu>muh wa Must}alahuh, Beiru>t: Da>r al-Fikr, 1989
Muhammad al-S}abba>gh, al-Hadi>th| al-Nabawi>, Riya>d{: al-Maktab al-Isla>mi>, 1972 M/1392 H
Mukhtar Yahya dan Fatchurrahman, Dasar-dasar Pembinaan Hukum Fiqh islam. Bandung: al-Ma’arif, 1986.
Software mausu’ah Hadith Al-Syarif
S}ubhi al-S}alih, ‘Ulu>m al-Hadi>th| wa Must}alahuh. Beirut: Dar al-
‘Ilm li al-Malayin, 1988.
61
KEDUDUKAN DAN FUNGSI HADIS
Pengantar
Al-Qur’an dan hadis tidak dapat dipisahkan, keduanya saling membutuhkan sehingga dapat dijadikan pedoman oleh umat Islam. Karena itu, baik al-Qur’an maupun hadis Nabi dapat dan harus dijadikan hujjah. Khusus kehujjahan hadis Nabi dapat dilihat melalui dalil akli maupun dalil nakli, yaitu dalil al-Qur’an, hadis Nabi, ijma’ ulama, dan argumentasi rasional. Banyak ayat al-Qur’an yang tidak dapat dipahami kecuali setelah mengkaji hadis-hadis Nabi, maka hadis-hadis Nabi berfungsi sebagai penjelas dan penafsir ayat-ayat al-Qur’an.
Deskripsi Singkat Materi Pembelajaran
Perkuliahan pada bab ini difokuskan pada pembahasan mengenai kedudukan hadis sebagai sumber ajaran agama Islam, termasuk sebagai sumber hukum Islam. Pembahasan mengenai kedudukan hadis sebagai sumber ajaran agama Islam lebih ditekankan pada dalil-dalil kehujjahan hadis baik yang bersifat nakli (berdasarkan teks ayat al-Qur’an maupun hadis) maupun akli (berdasarkan rasio akal manusia).
Di samping kedudukan hadis, dalam bab ini dijelaskan tentang fungsi hadis dalam hubungannya dengan al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam. Pembahasan ini cukup penting untuk diketahui karena pada dasarnya hadis tidak berdiri
sendiri sebagai sumber ajaran Islam, melainkan sangat berhubungan erat dengan al-Qur’an.
Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran pada bab ini adalah agar mahasiswa mampu memahami, menganalisis, dan menjelaskan tentang dalil- dalil kehujjahan hadis dan fungsi hadis terhadap al-Qur’an.
Dengan demikian, mahasiswa dapat menyadari betapa pentingnya hadis Nabi berdasarkan argumentasi-argumentasi baik dari al-Qur’an, hadis, ijma’, dan rasional serta memahami fungsi hadis dalam menjelaskan kandungan al-Qur’an.
Uraian Materi
A. Kedudukan dan Kehujjahan Hadis
Seluruh umat Islam telah sepakat bahwa hadis merupakan salah satu sumber ajaran Islam. Keharusan mengikuti hadis bagi umat Islam (baik berupa perintah maupun larangannya) sarna halnya dengan kewajiban mengikuti al-Qur’an. Hal ini karena hadis merupakan mubayyin (penjelas) terhadap al-Qur’an, yang karenanya siapa pun tidak akan bisa memahaminya tanpa dengan memahami dan menguasai hadis. Begitu pula halnya menggunakan hadis tanpa al-Qur’an. Karena al-Qur’an meru- pakan dasar hukum pertama, yang di dalamnya berisi garis besar syariat. Dengan demikian, antara hadis dengan al-Qur’an memiliki kaitan sangat erat, untuk memahami dan mengamalkannya tidak bisa dipisah-pisahkan atau berjalan sendiri-sendiri.
Untuk mengetahui sejauh mana kedudukan hadis sebagai sumber ajaran Islam, dapat dilihat beberapa dalil nakli (al-Qur’an dan hadis) dan aklim (rasional), seperti di bawah ini.
1. Dalil al-Qur’an
Banyak ayat al-Qur’an yang menerangkan tentang kewajiban seseorang untuk tetap teguh beriman kepada Allah dan Rasui-Nya. Iman kepada Rasul saw. sebagai utusan Allah, merupakan suatu keharusan dan sekaligus kebutuhan setiap individu. Dengan demikian, Allah akan memperkokoh dan memperbaiki keadaan mereka. Hal ini, sebagaimana dijelaskan dalam surat Ali Imra>n: 17 dan al-Nisa’: 136.
Selain Allah memerintahkan umat Islam agar percaya kepada Rasul saw., juga menyerukan agar mereka mentaati segala bentuk perundang-undangan dan peraturan yang dibawanya, baik berupa perintah maupun larangan. Tuntutan taat dan patuh kepada Rasul saw. ini sama halnya tuntutan taat dan patuh kepada Allah. Banyak ayat al-Qur’an yang berkenaan dengan masalah ini. Diantaranya firnan Allah berikut:
ْلُق .َنيِرِفاَكْلا بُِيَ َلا ََّللَّا َّنِإَف اْوَّلَوَ ت ْنِإَف َلوُسَّرلاَو ََّللَّا اوُعيِطَأ
1
Katakanlah! Taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.
1 Al-Qur’an surat Ali Imra>n: 32
Dalam ayat yang lain, Allah juga berfirman: