َرِثُا اَم ِنَع ِِبَّنلا ىَّلَص ُالله ِهْيَلَع َمَّلَسَو ْنِم لْوَ ق ْوَا لْعِف
ْوَا رْيِرْقَ ت ةَفِصْوَا ةَّيِقْلَخ ةَّيِقُلُخْوَا ْوَا
ةَرْ يِس ءاَوَس َناَكَا َكِلاَذ
َلْبَ ق ِةَثْعِبلْا ِهِث نَحَتَك ِراَغ ِف
ِءاَرِح ْمَا اَهَدْعَ ب .
3
Segala yang berasal dari Nabi baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, sifat fisik dan budi pekerti, jalan hidup baik yang terjadi sebelum Nabi diutus menjadi rasul seperti ketika bertahannus di gua Hira’
maupun sesudahnya.
Sementara itu para ahli Usul Fikih memberikan definisi hadis yang lebih terbatas dari rumusan di atas. Menurut mereka, hadis adalah:
لُك اَم ِدُص َر ِنَع يِِبَّنلا ىَّلَص ُالله ِهْيَلَع َمَّلَسَو ُرْ يَغ ِنآْرُقلْا
ِْيِرَكلْا ْنِم لْوَ ق ْوَا لْعِف رْيِرْقَ تْوَا اَِّمِ
ُحُلْصَي ْنَا َنْوُكَي ًلْيِلَد
مْكُِلِ
ييِعْرَش .
4
Segala yang berasal dari Nabi selain al-Qur’an al- Kari>m baik berupa perkataan, perbuatan, maupun persetujuan yang pantas menjadi dalil hukum syara’.
3Ibid.
4Ibid.
Bagi ulama Usul Fikih, hadis dipahami dengan sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad yang berhubungan dengan hukum syara’ baik berupa ucapan, perbuatan maupun ketetapan.
Mereka memandang Nabi sebagai penetap hukum. Dengan pengertian di atas, segala perkataan atau aqwa>l Nabi saw. yang tidak mengandung misi kerasulannya, seperti tentang cara berpakaian, berbicara, tidur, makan, minum, atau segala yang menyangkut hal ihwal Nabi, tidak termasuk hadis. Baik definisi ahli hadis maupun ahli Usul Fikih di atas terbatas pada sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah tanpa menyingung- nyinggung perilaku dan ucapan sahabat atau tabi'in. Dapat dikatakan bahwa definisi di atas bersifat terbatas atau sempit.
Di antara para ulama hadis, ada yang mendefinisikan hadis secara longgar. Menurut mereka, hadis mempunyai pengertian yang lebih luas, yang tidak hanya terbatas pada sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw. semata (hadis al-marfu>’), melainkan juga segala yang disandarkan kepada sahabat (hadis al-mawqu>f), dan tabi`in (hadis al-maqt}u>’). Hal ini, seperti dikatakan al-Tarmasi>, sebagai berikut:
Dikatakan (dari ulama hadis), bahwa hadis itu bukan hanya untuk sesuatu yang al-marfu>' (sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw.), melainkan bisa juga untuk sesuatu yang al-mawqu>f yaitu sesuatu yang disandarkan kepada sahabat, (baik berupa perkataan maupun lainnya), dan yang al-maqt}u>’, yaitu sesuatu yang disandarkan kepada tabi’in.5
5 Muhammad Mahfu>z{ al-Tirmasi>, Manhaj dzawi>, 9
Hadis dalam pengertian yang luas, seperti di atas, menurut al-Tirmisi lebih lanjut, merupakan sinonim dari kata al-khaba>r.
Selain istilah hadis, terdapat istilah sunnah, khaba>r, dan atha>r. Terhadap ketiga istilah tersebut di antara para ulama di samping ada yang sependapat, ada juga yang berbeda pendapat, sebagaimana dapat dilihat di bawah ini.
Catatan penting: Pada kajian hadis, ulama sering mengistilahkan hadis dengan penisbatan sahabat yang meriwayatkan atau tema hadis itu sendiri atau tempat peristiwa dan lainnya. Misalnya penisbatan kepada perawi “hadis Abu>
Hurayrah itu lebih kuat dari pada hadis Wail ibn Hujr”, maksudnya adalah hadis yang diriwayatklan Abu Hurayrah itu lebih kuat dibandingkan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Wail ibn Hujr. Misalnya, penisbatan kepada peristiwa “hadis al- ghara>niq”, maksudnya hadis yang menceritakan kisah al- ghara>niq. Misal penisbatan kepada tempat “hadis Gha>dir Khu>m” maksudnya hadis yang menceritakan kisah yang terjadi di Gha>dir Khu>m.
2. Bentuk-bentuk Hadis Nabi
Dari berbagai definisi hadis di atas diketahui terdapat berbagai bentuk hadis, yaitu hadis yang berupa perkataan Nabi (hadis qawli>), hadis yang berupa perbuatan Nabi (hadis fi’li>), hadis yang berbentuk persetujuan (hadis taqri>ri>), hadis yang berupa hal ihwal (hadis ahwa>li>), dan hadis yang berupa cita-cita Nabi yang belum terlaksana (hadis hammi>). Contoh hadis qawli>
atau sunnah qawliyyah:
َلاَق ُناَيْفُس اَنَ ثَّدَح َلاَق ِْيَْ ب زلا ُنْب َِّللَّا ُدْبَع ىِدْيَمُْلِا اَنَ ثَّدَح ُنْب ُدَّمَُمُ ِنَِرَ بْخَأ َلاَق ىِراَصْنَلأا ديِعَس ُنْب َيََْيَ اَنَ ثَّدَح ُلوُقَ ي َّىِثْيَّللا صاَّقَو َنْب َةَمَقْلَع َعَِسَ ُهَّنَأ ىِمْيَّ تلا َميِهاَرْ بِإ َلاَق َِبَْ نِمْلا ىَلَع ُهْنَع ُالله َىِضَر ِباَّطَْلْا َنْب َرَمُع ُتْعَِسَ
ُلاَمْعَلأا اََّنَِّإ :ُلوُقَ ي َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُالله ىَّلَص َِّللَّا َلوُسَر ُتْعَِسَ
َلَِإ ُهُتَرْجِه ْتَناَك ْنَمَف ،ىَوَ ن اَم ئِرْما ِيلُكِل اََّنَِّإَو ،ِتاَّيِينلِبِ
َيْ نُد َرَجاَه اَم َلَِإ ُهُتَرْجِهَف اَهُحِكْنَ ي ةَأَرْما َلَِإ ْوَأ اَهُ بيِصُي ا
.ِهْيَلِإ
6
Al-Humaydi ‘Abd Allah ibn al-Zubayr berkata, telah bercerita kepada kami Yahya> ibn Sa’i>d al-Ans}>ari>, katanya Muhammad ibn Ibra>hi>m al-Taymi> bercerita kepadaku bahwa ia mendengar ‘Aqlamah ibn Waqas{ al- Laythi> berkata: aku mendengar ‘Umar ibn al-Khat{t{a>b berkata di atas mimbar, katanya aku mendengar Nabi
6 Muhammad ibn Isma>’i>l al-Bukha>ri>, S{ahí>h al-Bukha>ri> (Beiru>t: Da>r al- Fikr, tth.), II, 34
saw. bersabda: “Sesungguhnya tiap perbuatan tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan niatnya.
Barangsiapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul- Nya, maka baginya pahala hijrah karena Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang hendak diperolehnya atau wanita yang hendak dinikahinya, maka baginya pahala hijrah sesuai dengan apa yang diniat-hijrahkan kepadanya. (HR. al-Bukha>ri>).
َلاَق ِيىِرْه زلا ِنَع بْيَعُش َنََرَ بْخَأ َلاَق ِناَمَيْلا وُبَأ اَنَ ثَّدَح َنْب َةَداَبُع َّنَأ َِّللَّا ِدْبَع ُنْب َِّللَّا ُذِئاَع َسيِرْدِإ وُبَأ ِنَِرَ بْخَأ َر ِتِماَّصلا ِءاَبَق نلا ُدَحَأ َوُهَو ،اًرْدَب َدِهَش َناَكَو ُهْنَع ُالله َىِض
ُهَلْوَحَو َلاَق َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُالله ىَّلَص َِّللَّا َلوُسَر َّنَأ ِةَبَقَعْلا َةَلْ يَل
،اًئْ يَش َِّللَِّبِ اوُكِرْشُت َلا ْنَأ ىَلَع ِنِوُعِيَبِ ِهِباَحْصَأ ْنِم ةَباَصِع
ْسَت َلاَو
ناَتْهُ بِب اوُتَْتَ َلاَو ،ْمُكَدَلاْوَأ اوُلُ تْقَ ت َلاَو ،اوُنْزَ ت َلاَو ،اوُقِر
ْنَمَف ، فوُرْعَم ِف اوُصْعَ ت َلاَو ،ْمُكِلُجْرَأَو ْمُكيِدْيَأ َْيَْ ب ُهَنوُرَ تْفَ ت
اًئْ يَش َكِلَذ ْنِم َباَصَأ ْنَمَو ،َِّللَّا ىَلَع ُهُرْجَأَف ْمُكْنِم َفَو
ِف َبِقوُعَ ف
اًئْ يَش َكِلَذ ْنِم َباَصَأ ْنَمَو ،ُهَل ةَراَّفَك َوُهَ ف اَيْ ن دلا
َءاَش ْنِإَو ،ُهْنَع اَفَع َءاَش ْنِإ َِّللَّا َلَِإ َوُهَ ف ،َُّللَّا ُهَرَ تَس َُّثُ
َكِلَذ ىَلَع ُهاَنْعَ ياَبَ ف .ُهَبَ قاَع
.
7
Abu> al-Yama>ni> bercerita kepada kami, katanya Syu’aib bercerita kepada kami dari al-Zuhri>, katanya Abu> Idri>s ‘Aidz Alla>h ibn ‘Abd Alla>h bercerita kepadaku bahwa ‘Ubba>dah ibn S{a>mit ra., salah seorang sahabat Nabi yang mati syahid pada perang Badar (peperangan antara kaum muslim dengan golongan musyrik Makkah, terjadi pada tahun 2 Hijriah di padang Badar. Golongan musyrik pada waktu itu dipimpin oleh Abu> Jahal) dan ikut dalam pertemuan pada malam Baiat Aqa>bah (pertemuan antara Nabi dengan penduduk Madinah bertempat di Mina, dekat jumrah Aqa>bah) berkata: Pada suatu hari ketika Nabi saw. dikelilingi oleh para sahabatnya) bahwa Nabi bersabda: ‘Berbaiatlah (berjanjilah) kalian kepadaku untuk tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anakmu (pada masa itu bangsa Arab merasa malu kalau mempunyai anak perempuan karena itu mereka membunuhnya saat kelahirannya.
Islam melarang melakukannya), tidak membuat fitnah antara sesamamu, dan tidak durhaka terhadap perkara kebaikan. Barangsiapa menepati perjanjian itu, niscaya
7 Ibid., II, 32
dia diberi pahala oleh Allah, dan barangsiapa melanggar salah satu dari perjanjian itu, maka dia akan dihukum di dunia ini. Hukuman itu menjadi kafarat (penebusan dosa) baginya. Dan barangsiapa melanggar salah satu dari perjanjian itu, kemudian ditutupi pelanggarannya oleh Allah (tidak diketahui orang sehingga bebas dari hukuman dunia), maka perkaranya terserah kepada Allah. Kalau Allah menghendaki maka Dia mengampuninya, dan kalau Dia menghendaki maka Dia menyiksanya. Maka kami semua (para sahabat) berjanji kepada Nabi atas hal-hal tersebut (HR. al-Bukha>ri>).
Contoh hadis fi’li> atau sunnah fi’liyyah adalah:
ِنْبا ِنَع لْيَقُع ْنَع ُثْيَّللا اَنَ ثَّدَح َلاَق ْيَْكُب ُنْب َيََْيَ اَنَ ثَّدَح ِيمُأ َةَشِئاَع ْنَع ِْيَْ ب زلا ِنْب َةَوْرُع ْنَع باَهِش اَهَّ نَأ َيِْنِمْؤُمْلا
َنِم َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُالله ىَّلَص َِّللَّا ُلوُسَر ِهِب َئِدُب اَم ُلَّوَأ ْتَلاَق َّلاِإ َيَْؤُر ىَرَ ي َلا َناَكَف ،ِمْوَّ نلا ِف ُةَِلِاَّصلا َيَْؤ رلا ِىْحَوْلا َلَْلْا ِهْيَلِإ َبِيبُح َُّثُ ،ِحْب صلا ِقَلَ ف َلْثِم ْتَءاَج وُلَْيَ َناَكَو ،ُء
ِدَدَعْلا ِتاَوَذ َِلَاَيَّللا ُد بَعَّ تلا َوُهَو ِهيِف ُثَّنَحَتَ يَ ف ءاَرِح ِراَغِب
َلَِإ ُعِجْرَ ي َُّثُ ،َكِلَذِل ُدَّوَزَ تَ يَو ،ِهِلْهَأ َلَِإ َعِزْنَ ي ْنَأ َلْبَ ق ُهَو قَْلِا ُهَءاَج َّتََّح ،اَهِلْثِمِل ُدَّوَزَ تَ يَ ف ،َةَيجِدَخ ِراَغ ِف َو
َلاَق . ئِراَقِب َنََأ اَم َلاَق .ْأَرْ قا َلاَقَ ف ُكَلَمْلا ُهَءاَجَف ، ءاَرِح .ْأَرْ قا َلاَقَ ف ِنَِلَسْرَأ َُّثُ ،َدْهَْلْا ِينِِم َغَلَ ب َّتََّح ِنَِّطَغَ ف ِنَِذَخَأَف َ ب َّتََّح َةَيِناَّثلا ِنَِّطَغَ ف ِنَِذَخَأَف . ئِراَقِب َنََأ اَم ُتْلُ ق ِينِِم َغَل
ِنَِذَخَأَف . ئِراَقِب َنََأ اَم ُتْلُقَ ف .ْأَرْ قا َلاَقَ ف ِنَِلَسْرَأ َُّثُ ،َدْهَْلْا َقَلَخ ىِذَّلا َكِيبَر ِمْسِبِ ْأَرْ قا َلاَقَ ف ِنَِلَسْرَأ َُّثُ ،َةَثِلاَّثلا ِنَِّطَغَ ف َجَرَ ف .ُمَرْكَلأا َك بَرَو ْأَرْ قا قَلَع ْنِم َناَسْنِلإا َقَلَخ ُلوُسَر اَِبِ َع
ىَلَع َلَخَدَف ،ُهُداَؤُ ف ُفُجْرَ ي َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُالله ىَّلَص َِّللَّا . ِنِوُلِيمَز ِنِوُلِيمَز َلاَقَ ف اهنع الله ىضر دِلْيَوُخ ِتْنِب َةَيجِدَخ َرَ بَْلْا اَهَرَ بْخَأَو َةَيجِدَِلْ َلاَقَ ف ،ُعْوَّرلا ُهْنَع َبَهَذ َّتََّح ُهوُلَّمَزَ ف اَم َِّللَّاَو َّلَك ُةَيجِدَخ ْتَلاَقَ ف .ىِسْفَ ن ىَلَع ُتيِشَخ ْدَقَل ،َّلَكْلا ُلِمَْتََو ،َمِحَّرلا ُلِصَتَل َكَّنِإ ،اًدَبَأ َُّللَّا َكيِزُْيَ
ِبِئاَوَ ن ىَلَع ُيِْعُتَو ،َفْيَّضلا ىِرْقَ تَو ،َموُدْعَمْلا ُبِسْكَتَو
َيجِدَخ ِهِب ْتَقَلَطْناَف .ِيقَْلِا ِنْب ِلَفْوَ ن َنْب َةَقَرَو ِهِب ْتَتَأ َّتََّح ُة
ِف َرَّصَنَ ت ًأَرْما َناَكَو َةَيجِدَخ ِيمَع َنْبا ىَّزُعْلا ِدْبَع ِنْب ِدَسَأ َنِم ُبُتْكَيَ ف ،َِّنِاَرْ بِعْلا َباَتِكْلا ُبُتْكَي َناَكَو ،ِةَّيِلِهاَْلْا َُّللَّا َءاَش اَم ِةَّيِناَرْ بِعْلِبِ ِليِْنِْلإا اًيِْبَك اًخْيَش َناَكَو ،َبُتْكَي ْنَأ
ِنْبا َنِم ْعَْسَا ِيمَع َنْبا َيَ ُةَيجِدَخ ُهَل ْتَلاَقَ ف َىِمَع ْدَق ُلوُسَر ُهَرَ بْخَأَف ىَرَ ت اَذاَم ىِخَأ َنْبا َيَ ُةَقَرَو ُهَل َلاَقَ ف .َكيِخَأ َ ف .ىَأَر اَم َرَ بَخ َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُالله ىَّلَص َِّللَّا اَذَه ُةَقَرَو ُهَل َلاَق
َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُالله ىَّلَص ىَسوُم ىَلَع َُّللَّا َلَّزَ ن ىِذَّلا ُسوُماَّنلا .َكُمْوَ ق َكُجِرُْيَ ْذِإ اًّيَح ُنوُكَأ ِنَِتْ يَل ،اًعَذَج اَهيِف ِنَِتْ يَل َيَ
ِجِرُْمَُوَأ َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُالله ىَّلَص َِّللَّا ُلوُسَر َلاَقَ ف َلاَق .ْمُه َّى
ْنِإَو ،َىِدوُع َّلاِإ ِهِب َتْئِج اَم ِلْثِِبِ طَق لُجَر ِتَْيَ َْلَ ،ْمَعَ ن ْنَأ ُةَقَرَو ْبَشْنَ ي َْلَ َُّثُ .اًرَّزَؤُم اًرْصَن َكْرُصْنَأ َكُمْوَ ي ِنِْكِرْدُي .ُىْحَوْلا َرَ تَ فَو َِيفُوُ ت
8
8 Ibid, II, 76
Yahya> ibn Bukayr bercerita kepada kami, katanya al- Layth bercerita kepada kami dari ‘Uqayl dari ibn Shiha>b dari ‘Urwah ibn Zubayr dari ‘Aishah Umm al- Mukmini>n, ia berkata: ‘Wahyu yang permulaan turun kepada Nabi saw. adalah berupa mimpi kebenaran.
Biasanya mimpi itu tampak jelas baginya, seperti jelasnya cuaca pagi. Sejak itulah Nabi berhasrat untuk mengasingkan diri di gua Hira’. Di tempat itulah Nabi beribadah beberapa malam, tidak pulang ke rumah istrinya. Untuk itulah Nabi membawa perbekalan secukupnya. Setelah perbekalan habis, Nabi kembali kepada Khadijah untuk mengambil perbekalan lagi secukupnya. Kemudian Nabi kembali lagi ke gua Hira’
sehingga suatu ketika datang al-haq (kebenaran atau wahyu), yaitu sewaktu Nabi berada di gua Hira’
tersebut.Malaikat datang kepadanya seraya berkata:
‘Bacalah!’ Nabi saw. menjawab: ‘Saya tidak pandai membaca’. Katanya pula: ‘Saya ditarik dan dipeluk sehingga melelahkan, kemudian saya dilepaskan’.
Jibril berkata: ‘Bacalah!’ Saya menjawab: ‘Saya tidak pandai membaca’. Lalu saya ditarik dan dipeluk sehingga melelahkan. Kemudian saya dilepaskan kedua kalinya. Jibril berkata: ‘Bacalah!’ Nabi menjawab: ‘Saya tidak tidak pandai membaca’. Lalu saya ditarik dan dipeluk sehingga melelahkan, kemudian saya dilepaskan untuk ketiga kalinya.
Akhirnya ia membimbing saya: ‘Bacalah. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Yang
menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah demi Tuhanmu yang Maha Mulia’ (QS. al-‘Alaq: 1-5).
Setelah itu, Nabi saw. pulang ke rumah Khadi>jah binti Khuwaylid seraya berkata: ‘Selimutilah saya’. Dia pun diselimuti sehingga hilang rasa takutnya. Nabi saw.
menceritakan semua kejadian yang dialaminya.
Katanya, ‘Sesungguhnya saya mencemaskan diriku sendiri (seakan mau binasa)’. Khadi>jah berkata,
‘Jangan takut. Demi Allah, Dia sama sekali tidak akan membinasakan tuan. Tuan selalu menghubungkan tali persaudaraan, membantu orang yang sengsara, mengusahakan suatu barang keperluan yang belum ada sebelumnya, memuliakan tamu, menolong orang-orang yang kesusahan serta cinta menegakkan kebenaran’.
Setelah itu Khadijah mengajak Nabi saw. pergi menemui Waraqah ibn Naufal ibn Asad ibn Abd al- Uzza. Ia adalah paman Khadijah yang telah memeluk agama Nasrani pada masa jahiliah, ia pandai menyusun buku dan berbahasa Ibrani seberapa yang dikehendaki Allah. Usianya telah lanjut dan matanya telah buta. Khadijah berkata kepada Waraqah, ‘Wahai pamanku, dengarlah kabar dari putra saudaramu ini’.
Waraqah berkata, ‘Wahai putra saudaraku, apa yang terjadi pada dirimu? ‘Nabi saw. menceritakan semua peristiwa yang dialaminya kepada Waraqah. Waraqah berkata, ‘Itulah al-Namus (Jibril) yang pernah diutus Allah datang kepada Musa as., alangkah indahnya, semoga saya masih diberi kehidupan panjang sewaktu
tuan bakal diusir oleh kaummu sendiri’. Nabi saw.
bertanya, ‘Benarkah mereka akan mengusir saya?’
Waraqah menjawab, ‘Benar, belum pernah seorang pun yang diberi wahyu seperti tuan yang tidak dimusuhi orang. Apabila saya masih diberi kehidupan kelak, niscaya saya akan menolong tuan semampu saya’. Selang beberapa waktu kemudian Waraqah meninggal dunia dan wahyu pun terputus untuk sementara waktu. (HR.al- Bukha>ri>).