96 Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan
laki-laki itu meninggal maka barulah isteri pertama menggugat. Gugatan istri pertema tersebut ditolak oleh Pengadilan Agama Istimewa Jakarta Raya, dan menetapkan sahnya perkawinan mendiang suaminya dengan istri yang kedua meskipun terdapat cacat administratif. Setelah naik banding, MIT membatalkan putusan Pengadilan Agama Istimewa Jakarta Raya itu.
Kemudian berhubung adanya surat Penjelasan dari MIT tentang keputusan MIT itu yang berarti “fasidnya nikah mendiang suaminya itu”, dan orang awam mengambil pengertian bahwa 5 orang anak yang dihasilkan (dari perkawinannya yang kedua) adalah anak yang dilahirkan di luar nikah, maka istri dan anak-anak tersebut kehilangan hak sebagai ahli waris, pengertian ini tidak benar. Karena menurut hukum Islam tiap-tiap anak yang dilahirkan dari pernikahan meskipun setelahnya pernikahan itu dibatalkan status anak tetap sah. Mengenai istri selaku ahli waris masalahnya Khilafiyah manakala pembatalan nikah tersebut ditetapkan setelah wafatnya suaminya karena yang dituju adalah untuk menggugurkan hak warisnya. Hal mana menunjukkan tidak jujur.
Putusan MIT tentu keliru karena didasarkan atas cacat administratif yaitu tidak terdapat tanda tangan pada buku model A, tidak ada persetujuan istri pertama, dan tidak ada laporan kepada lurah di mana sang suami tinggal, dengan berpegang kepada buku “Bughyatul Mutarsyidin” hal. 291 yang berbunyi:
ِٔل َن َكَ ْنٕإَف حكاِّيلا ِتَِِّم َلََػ ٌةٔأْرَم ْتَغْدٔأ َّْٔأ ََِْيَػ نٓلا َىٕا ِِاَا َظََّ ََِِدََََّح َََُُْْث ْنٔأ إَُإََََ َاا دعلا ِِْجْ
َْْغدلدا ِقْفََّ َلََػ ٌَََُُْب إَِل ْتَاِِ َص اذٕإَف ًلاَثَم َُُذََ ََّْز َنَٔأََّ َتإَمََّ َاًََِْح ْنٔأ داُب لاَف ِثْرٕلا ِِْجْٔ ِل
ُةدَِِ َّْدَلا ْتَدَبَز ى
Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan 97 bayyinah dalam teks buku di atas. Namun kekeliruan itu dapat diatasi manakala MIT membuka buku-buku Fikih yang seluruhnya mengartikan bayyinah adalah “saksi hidup”. Hal tersebut menunjukkan bahwa keluarga almarhum suami yang terdiri dari orang tuanya, adik dan famili-familinya yang lain dapat dijadikan bayyinah. Semestinya MIT memeriksa wali hakim dan dua saksi nikah terhadap akad yang telah berlangsung itu.
Karena itu, bagi saya meskipun keputusan MIT itu menjadi kenyataan namun tidaklah otomatis putusan MIT berarti menggugurkan hak waris bagi istri kedua dan anak-anaknya itu. Keputusan MIT hanya membatalkan keputusan Pengadilan Agama Isimewa Jakarta Raya yang menetapkan sahnya pernikahan antara suami almarhum tersebut dengan istri kedua. Tegasnya keputusan MIT tersebut bertentangan dengan Hukum Islam, karena rukun dan syarat-syarat nikah telah terpenuhi, malahan walinya adalah wali hakim (penguasa). Demikian juga bertentangan dengan Peraturan Pemerintah No. 9/75 Pasal 38 yang berbunyi.
“Tatacara pengajuan permohonan pembatalan perkawinan dilakukan sesuai dengan tatacara, pengajuan gugatan perceraian”.
pasal 25 yang berbunyi:
“Gugatan perceraian gugur apabila suami atau istri meninggal sebelum adanya putusan pengadilan mengenai perceraian itu.”
Maksud pasal 38 Peraturan Pemerintah No.9/75 tersebut dapat pula pada pasal 27 Peraturan Menteri agama No.3/75 tersebut terdapat pula pada pasal 27 Peraturan Menteri Agama No.3/75 ayat 3 yang berbunyi:
“Tatacara pengajuan permohonan pembatalan pernikahan dilakukan sesuai dengan tatacara pengajuan gugatan perceraian”.
Jadi seharusnya Pengadilan Agama Istimewa Jakarta Raya menolak gugatan isteri pertama berhubung suaminya telah wafat atas dasar pasal-pasal tersebut di atas.
Seandainya sang suami juga masih hidup, istri pertama juga tidak dapat berbuat apa-apa karena perkawinan suaminya dengan istri kedua itu dilindungi oleh ayat 2 pasal 26 Undang-Undang No.1/74 yang berbunyi:
“Hak untuk membatalkan oleh suami atau istri berdasarkan alasan dalam ayat (1) pasal ini gugur apabila mereka telah hidup bersama sebagai suami istri dan dapat memperlihatkan akta perkawinan yang dibuat pegawai pencatat perkawinan yang tidak berwenang dan perkawinan harus diperbarui supaya sah.”
Demikian juga andaikata sesuatu perkawinan dapat dibatalkan oleh pengadilan namun status anak tetap sah menurut agama dan dilindungi oleh ayat 2 a, pasal 28 Undang-Undang No.1/74 yang berbunyi:
(2) Keputusan tidak berlaku surut terhadap:
a. anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut.
Maka untuk memperbaiki kesalahan MIT sementara menunggu kasasi Mahkamah Agung maka dengan cara yang paling mudah dan bijaksana MIT bertahan
98 Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan
pada pendirinya bahwa yang diputuskan adalah berupa pembatalan putusan Pengadilan Agama Istimewa Jakarta Raya. Tentang bagaimana status nikah apakah fasid atau tidak, secara tertulis tidak disinggung-singgung oleh keputusan MIT tentang maksud keputusannya harus dicabut.
Dengan demikian keputusan MIT tergantung, tidak bisa dilaksanakan karena masih mengandung berbagai tafsiran. Mahkamah agung-lah yang akan memberikan kepastian secara organisatoris.
Kebijaksanaan seperti ini sudah cukup untuk menyelamatkan status istri kedua serta anak-anaknya, sehingga dengan demikian mereka tetap sebagai ahli waris yang sah dan MIT sendiri sudah terjauh dari dosa.
D. PEMBENTUKAN KAMAR ISLAM PADA MAHKAMAH AGUNG
Peraturan Mahkamah Agung No.1/1977 mengundang segera dibentuknya Kamar Islam pada Mahkamah Agung yang khusus mengadili (tingkat kasasi) perkara- perkara yang terjadi di lingkungan Pengadilan Agama.4 Pada penjelasan Undang- Undang No.14 tahun 1970 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman dikatakan:
“Peradilan Agama5, Militer, dan Tata Usaha Negara merupakan peradilan khusus, karena mengadili perkara-perkara tertentu atau mengenai golongan rakyat tertentu, sedang peradilan umum adalah peradilan bagi rakyat pada umumnya mengenai baik perkara perdata, maupun perkara pidana”. (Penjelasan pasal 10 ayat 1).
Sudah perkara-perkara tertentu seperti yang dimaksudkan dalam penjelasan di atas tidak mungkin diselesaikan oleh orang yang bukan ahlinya. Dalam hal ini Kamar Islam pada Mahkamah Agung Republik Indonesia itu harus diadakan dan seharusnya ditangani oleh sarjana atau ahli-ahli yang benar-benar menguasai lapangan Hukum Islam.
Guna merealisasi Peraturan Mahkamah Agung No.1/1977 di atas, pembentukan
“KAMAR ISLAM” sudah merupakan kebutuhan yang sangat mendesak, mengingat banyaknya kasus-kasus yang diputuskan oleh Mahkamah Islam Tinggi yang tidak bisa diterima oleh terdakwa atau masyarakat Islam pada umumnya sebagai contoh yang telah dikemukakan di atas.
4 Sekarang dalam kekuasaan kehakiman yang tertinggi di Makhkamah Agung bernama Badilag Mahkamah Agung, sedangkan Kamar Islam sekarang berubah menjadi Kamar Agama.
5 Saat ini yang berlaku Undang-Undang No.7 tahun 1989 dan Perubahannya No.3 tahun 2006 dan No.50 tahun 2009 tentang Peradilan Agama.
Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan 99
HUBUNGAN MUSLIM DENGAN NON-MUSLIM DI ATAS DASAR KERUKUNAN
Dengan judul ini saya akan mengemukakan sekadarnya bahwa Islam itu adalah
“Dien at-Tasammuh” (Agama toleransi), agama yang benar-benar merupakan tuntunan bagi muslim dalam segala perbuatannya baik ia selaku hamba Allah maupun ia selaku anggota masyarakat.
Maksud yang dituju oleh judul ini adalah untuk membentangkan bahwa Islam itu adalah agama yang mengajak kepada perdamaian dan ummat Islam itu adalah
“khairu ummah” yang karenanya selalu memberi contoh yang baik secara aktif sebagaimana dinyatakan oleh ayat-ayat sebagai berikut:
1. Surah al-Furqan ayat 63:
ا ُمُ َبَ َظإَخ اَذ
ّ ادَّ ًنَ َُْْ ِضْرَ ْلا َلََػ َن ْْ ُضْمًَ َنٍِْ دلَّا ِنٰ ْحْدرلا ُدإَبِغََّ
إًمٰي َس اُْْلإَق َن ُْْيِِٰجْل
“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan salam.”
2.
Surah Fusshilat ayat 34:ٌْيِ َحْ ٌّ ِلََِّ َٗدهَ َكَ ٌةََّاَاَػ ٌَََُْٗبََّ َكٌََُْب ْيِ دلَّا اَذ إَف ُن َسْحَأ َ ِهِ ْ ِتِدل ِبِ ْعَفْدِا ّ …
“… Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.”
3. Surah an-Nahl ayat 125:
ُن َسْحَأ َ ِهِ ْ ِتِدل ِبِ ْمُِْلِدإَجََّْ …
…
“… Dan Bantahlah mereka dengan cara yang baik …”
Untuk mencapai tujuan judul ini saya akan mengemukakan topik-topik sebagai berikut:
A. KERUKUNAN AGAMA NASRANI DAN YAHUDI DALAM AL-QUR’AN
Al-Qur’an mengakui adanya golongan pengikut Nabi Isa dan golongan pengikut Nabi Musa. Masing-masing dari kedua golongan ini disebut AHLI KITAB.
Al-Qur’an menyatakan, baik ajaran yang dibawa oleh Nabi Isa maupun yang dibawa oleh Nabi Musa banyak di antara isinya yang telah dirubah oleh tangan- tangan pendeta dari masing-masing agama tersebut; hal mana menunjukan bahwa agama mereka tidak murni lagi. Demikianlah jika kita perhatikan ayat-ayat Al- Qur’an seperti tersebut di bawah ini:
100 Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan a. Surah al-Maidah ayat 13:
َِٖٖۙؼ ِضاَْدم ْنَغ َمِ َكَْلا َن ُْْفِّرَ ُيُ ۚ ًةََ ِ سٰق ْمُ َبَُْْيُق إَيْيَؼََََّ ْمُ ّٰنَّؼَل ْمَُِقإَثِِّْم ْمِِ ِضَُْه إَمِبَف ا َّْ ُرَُِّذ إدمِّم إ ًّظَح اْْ ُسَوََّ
َِٖۚب
…
“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka Kami melaknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah firman (Allah) dari tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka …”
b. Surah al-Maidah ayat 14:
ٰٓ ٰصَه دنَ ا آُْْلإَق َنٍِْ دلَّا َنِمََّ ّ .َِٖب ا َّْ ُرَُِّذ إدمِّم إ ًّظَح اْْ ُسًََف ْمَُِقإَثِِْم َنَ ََْخَأ ى
“Dan di antara orang-orang yang mengatakan, “Kami ini orang Nasrani,” Kami telah mengambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka ...”
c.
Surah al-Maidah ayat 15:َُْؼًَََّ ِبٰذِكْلا َنِم َن َُْْْ ُتُ ْ ُتُْيَُ إدمِّم اً ْيِْثََ ْ ُكَِل ُ ِّيَّبًُ إَيُلْْ ُسَر ْ ُكَُءۤإَجْ ْاَق ِبٰذِكْلا ََُِْٰٓيٰ
ْاَق ٍۗ ٍ ْيِْثََ ْنَغ اْْ
ٌٖۙ ْيِّبُّم ٌبٰخَِدَّ ٌر ُْْه ِ ّٰللّا َنِّم ْ ُكَُءۤإَجْ
“Wahai Ahli Kitab! Sungguh, Rasul Kami telah datang kepadamu, menjelaskan kepadamu banyak hal dari (isi) kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula) yang dibiarkannya. Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menjelaskan.”
d.
Surah al-Maidah ayat 41:ُِِِاَْْفَ ِبِ إدٌَمٰا آُْْلإَق َنٍِْ دلَّا َنِم ِرَُْكْلا ِفِ َن ُْْغِرإ َسٌُ َنٍِْ دلَّا َكْهَُْ َيُ َل َُْْ ُسدرلا إَ ُّيَُّٰٓيٰ
ْمُ ُبَُْْيُق ْنِمُْْث ْمَلََّ ْم
َنٍِْرَخٰا ٍمَُِْْل َن ُْْؼّٰ َس ِبََِكْيِل َن ُْْؼّٰ َس اَُّْدإَُ َنٍِْ دلَّا َنِمََّ
َِٖۚؼ ِضاََْم ِاْؼَب ْْۢنِم َمِ َكَْلا َن ُْْفِّرَ ُيُ ٍۗ َكُْْثِأًَ ْمَل
“Wahai Rasul (Muhammad)! Janganlah engkau disedihkan karena mereka berlomba-lomba dalam kekafirannya. Yaitu orang-orang (munafik) yang mengatakan dengan mulut mereka, “Kami telah beriman,” padahal hati mereka belum beriman; dan juga orang-orang Yahudi yang sangat suka mendengar (berita-berita) bohong dan sangat suka mendengar (perkataan-perkataan) orang lain yang belum pernah datang kepadamu. Mereka mengubah kata-kata (Taurat) dari makna yang sebenarnya ...”
e. Surah an-Nisa ayat 46:
َِٖؼ ِضاَْدم ْنَغ َمِ َكَْلا َن ُْْفِّرَ ُيُ اَُّْدإَُ َنٍِْ دلَّا َنِم
“(Yaitu) di antara orang Yahudi, yang mengubah perkataan dari tempat- tempatnya ...”
Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan 101
f. Surah al-Baqarah ayat 75:
ْنَأ َن ُْْؼَم ْعَذَفَأ ُيََُغ إَم ِاْؼَب ْْۢنِم ََٗهُْْفِّرَ ُيُ د ُثُ ِ ّٰللّا َم َ َكَل َن ُْْؼَم ْسٌَ ْمُ ْنِّّم ٌقًِْرَف َن َكَ ْاَقََّ ْ ُكَِل اٌُِْْمًُّْْ
ْ ُُ ََّ ٍُْْ
َن ُْْمَيْؼًَ
“Maka apakah kamu (Muslimin) sangat mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, sedangkan segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah memahaminya, padahal mereka mengetahuinya?”
g. Surah al-Baqarah ayat 79:
َِٖب ا َُّْ َتَ ْضَُِل ِ ّٰللّا ِاْيِغ ْنِم اََُٰ َن ُْْلًَُُْْ د ُثُ ْمِ ْيُِّاًَْأِب َبٰذِكْلا َن ُْْبُذْكٍَ َنٍِْ دلَِّّل ًٌََِْْف ْمُِدل ًٌََِْْف ٍۗ ًلاَِْيَق إًيَمَز
َن ُْْب ِ سْكٍَ إدمِّم ْمُِدل ًٌََََِّّْ ْمِ ْيُِّاًَْأ ْتَبَخََ إدمِّم
“Maka celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka (sendiri), kemudian berkata, “Ini dari Allah,” (dengan maksud) untuk menjualnya dengan harga murah. Maka celakalah mereka, karena tulisan tangan mereka, dan celakalah mereka karena apa yang mereka perbuat.”
Karena itu Allah memerintah Nabi Muhammad saw supaya mengajak golongan Ahli Kitab kembali kepada ajaran sebenarnya yaitu berpegang kepada Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Rububiyah yang menjadi tugas bagi tiap-tiap Rasul untuk menyampaikannya sebagaimana dinyatakan oleh ayat-ayat sebagai berikut:
1. Surah al-Anbiya ayat 25: