• Tidak ada hasil yang ditemukan

. اُْْقدرَََث َلدَّ إًؼَِْ َجَ ِ ّٰللّا ِِْبَ ِبِ ا ...

Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah ...” (QS. Ali Imran:

103)

UKHUWAH ISLAMIYAH

Ukhuwah Islamiyah merupakan ikatan tali persaudaraan, persatuan dan kesatuan ummat Islam, yang oleh pemerintah diistilahkan kerukunan intern ummat Islam. Untuk meningkatkan kerukunan intern ummat Islam ini, kita menyaksikan usaha sungguh-sungguh dari pemerintah dalam hal ini Departemen Agama dengan diselenggarakannya musyawarah intern ummat Islam di berbagai kota di Indonesia, di antaranya di Palu. Usaha ini perlu kita sambut baik dan kita bantu sepenuhnya demi kepentingan ummat Islam sendiri yang sudah berpuluh tahun merindukan kerukunan semacam itu.

Berbicara masalah ukhuwah Islamiyah, menurut hemat saya tidaklah berarti kita membicarakan mobilisasi kekuatan Islam, melainkan merupakan upaya untuk mempererat tali persaudaraan di kalangan ummat Islam sebagaimana tuntunan al- Qur’an dan Sunnah Rasul guna mewujudkan kerjasama dalam memelihara dan membina kehidupan Islam dan ummatnya dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berfalsafah Pancasila dan berdasarkan UUD 1945, untuk mensukseskan pembangunan dan terwujudnya stabilitas nasional.

Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan 111 Kenyataan menunjukkan bahwa ummat Islam Indonesia tidak bercerai berai tetapi belum bersatu secara realistis, belum ada kesamaan seperti diharapkan. Hal tersebut barangkali disebabkan oleh keaneka-ragaman sosial budaya masyarakat Islam, keanekaragaman dalam kepemimpinan, dampak sisitem pendidikan kolonial, dikotomi dalam pendidikan (anatara pola pendidikan yang bersifat keagamaan dan pola pendidikan yang bersifat sekuler) atau akibat politik adu domba dari penjajah.

Ukhuwah Islamiyah akan tegak langgeng manakala disadari bahwa ummat Islam adalah ummatan wahidah, satu aqidah, satu kitab suci, satu rasul dan satu tujuan.

Betapa pentingnya ukhuwah Islamiyah, sehingga tatkala Rasulullah sampai ke kota Madinah, mempersaudrakan kaum Anshar dan Muhajirin dijadikan satu langkah pertama dalam membangun masyarakat Islam.

Pada zaman Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin, Umat Islam bersatu padu dengan kokohnya, sehingga ummat Islam yang baru lahir itu dapat menampakkan pamornya dan dapat berbicara dalam percaturan antar bangsa. Namun pada periode berikutnya sejak masa pemerintahan Bani Umayah, umat Islam terpecah belah dan bercerai berai disebabkan dasar semula yang diwariskan Rasulullah dan para Khulafa’ur Rasyidin makin tergeser karena pengaruh duniawi yang berlebihan.

Dalam sejarah Indonesiapun menunjukkan bahwa ummat Islam telah bisa bersatu, mislanya pada waktu perjuangan dan mempertahankan kemerdekaan melawan penjajah dan penumpasan G30S/PKI berjuang dengan gigihnya bersama ABRI untuk menyelamatkan negara dan bangsa dari ancaman Komunis. Di alam pembangunan untuk mengisi kemerdekaan yang dilakukan Orde Baru sekarang ini, maka seyogyanya ukhuwah Islamiyah itu harus lebih terbina, terpupuk bahkan lebih ditingkatkan sehingga bersama-sama pemerintah dan komponen orde baru lainnya mensukseskan pembangunan demi peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat Indonesia terutama ummat Islam. Untuk memupuk dan meningkatkan ukhuwah Islamiyah kita perlu memperhatikan kaidh-kaidah yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah s.a.w yaitu:

1. Tauhidullah; hanyalah Allah yang menjadi tujuan hidup dan kehidupan serta segala amal perbuatan kaum muslimin.

2. Ukhuwwah Islamiyah; persaudaraan Islam dengan segala adab sopan santun, kode etik dan norma-norma keharusan sikap pertalian lahir dan batin antara sesama muslim.

3. Musawah; persamaan di atas dasar agama, sesama makhluk dan hamba Allah serta kesatuan kemanusiaan.

4. Musyawwarah; mempersamakan dan mempersatukan himmah serta menyalurkan dan mempertemukan segala perbedaan faham dan pendapat.

5. Ta’awun; gotong royong, mempersatukan segenap potensi untuk menegakkan kebijakan, hak dan taqwa.

6. Takaful Ijtima’i; pertanggung jawaban bersama, solidaritas sosial dan rasa senasib sepenanggungan.

112 Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan

7. Fastabiqul Khairat; berlomba-lomba dalam kebajikan dan belomba-lomba mendarma-baktikan amal karena Allah.

8. Tasamuh; tengang menenggang, teposlrio, penuh maaf dan maklum, suka mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain serta mau mengambil dan mengikuti yang baiknya.

9. Istiqamah; berjalan terus di atas jalan yang benar dengan penuh kejujuran dan keikhlasan karena Allah.

Bila kaidah-kaidah itu telah kita hayati secara mendalam, telah bersemi pada diri kita masing-masing, telah dimiliki oleh setiap pribadi muslim di bumi Pancasila ini, maka insya Allah ukhuwah Islamiyah yang mantap yang menjadi idaman kita semua itu akan menjadi kenyataan. Memang, untuk mewujudkan ukhuwah Islamiyah yang mantap itu tidak terlepas dari kesulitan dan hambatan baik yang datang dari luar atau dari dalam tubuh ummat Islam sendiri.

Ummat Islam di Indonesia memiliki berbagai organisasi yang bergerak di berbagai bidang sesuai dengan latar belakang dan tujuannya. Ada yang menitikberatkan di bidang tabligh berupa pengajian dan majelis taklim;

Tarbiyah/pendidikan dengan mendirikan sekolah, madrasah, perguruan tinggi dan pondok pesantren; Sosial kemasyarakatan seperti penyantunan yatim piatu, fakir miskin dan mendirikan rumah-rumah sakit; Penerbitan dan perpustakaan; ada pula yang menitikberatkan di bidang studi Islam dan lain sebagainya. Organisasi itu ada yang bersifat nasional dan ada pula yang bersifat lokal. Ummat Islampun berada di berbagai lapangan hidup dan kehidupan, ada yang berada di berbagai lapangan hidup dan kehidupan, ada yang berada di lapangan pendidikan, pertanian, dan lain sebagainya sesuai dengan profesi masing-masing.

Namun dalam perbedaan ruang gerak dan perbedaan lapangan kegiatan itu ada kesamaan dan ada pula titik temunya, yaitu ibadah kepada Allah menuju keridhaan- Nya dan tegaknya syi’ar Islam. Oleh karena itu untuk meningkatkan ukhuwah Islamiyah, maka rasa kesamaan dan titik temu itu perlu dipupuk dan dikembangkan secara terus menerus demi kemajuan Islam dan ummatnya, demi suksesnya pembangunan dan demi terwujudnya stabilitas nasional. Dalam hubungan ini kiranya Forum Ukhuwah Islamiyah sebagai wahana untuk berkomunikasi antara pemimpin organisasi Islam, pemimpin-pemimpin Islam tokoh-tokoh masyarakat dan para pejabat pemerintah yang bergama Islam perlu digalakkan. Di dalam forum itulah kita tukar menukar informasi, saling bertukar fikiran dan pendapat serta merembukkan berbagai masalah yang berkaitan dengan masalah keagamaan dan kemasyarakatan.

Dalam Al-Qur’an dan Hadis banyak petunjuk tentang ukhuwah Islamiyah yang perlu kita jabarkan dan kita terapkan, antara lain:

Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan 113

َن َّْ ُرُمِأًَََّ ِ ْيَْخْلا َى ا َن ُْْغ ْادً ٌةدمُأ ْ ُكٌِِّْم ْنُكَخْلََّ ّ َن ُْْحِيَُْمْلا ُ ُُ َك ّ ىٰۤلَُّأََّ ٍۗ ِرَكْيُمْلا ِنَغ َن َْْ ْنٍَََّّ ِف َّْ ُرْؼَمْل ِبِ

اُْْهُْْكَح َل ََّ .

ٖۙ ٌ ْي ِظَغ ٌباَََػ ْمَُِل َك ّ ىٰۤلَُّأََّ ٍۗ ُتًََِّٰبْلا ُ َُُءۤإَجْ إَم ِاْؼَب ْْۢنِم اََُْْيَذْخاََّ اُْْقدرَََث َنٍِْ دلَّ َكَ

(104) Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

(105) Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Dan Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat. (QS. Ali Imran: 104-105)

. ِناََّ ْاُؼْلاََّ ِ ْثُِ ْلا َلََػ اُْْهََّإَؼَث َلََّ .ىُْْٰدخلاََّ ِّ ِبَْلا َلََػ اُْْهََّإَؼَثََّ

...

“... Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan ...”

إ ًضْؼَب َُ ُضْؼَب ُّا ُضٌَ ِنإًَُِْبْل َكَ ِنِمُْْمْيِل ُنِمُْْم ْلا

Orang beriman terhadap orang beriman lainnya bagaikan bangunan, satu sama lain saling menguatkan.”

نِمُْلما َِِْخَأ ُةٓأْرِم ُنِمُْْمْلا

Orang beriman itu cermin bagi saudaranya yang beriman

MAJELIS ULAMA DAN UKHUWAH ISLAMIYAH

Salah satu fungsi Majelis Ulama ialah memperkuat ukhuwah islamiyah dan memelihara serta meningkatkan suasana kerukunan antar ummat beragama dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. Sejalan dengan fungsi tersebut, Majelis Ulama sejak berdirinya mempunyai Komisi Ukhuwah Islmaiyah yang menjadikan Forum Ukhuwah Islamiyah sebagai salah satu wadah untuk berkomunikasi, berkonsultasi dan berinformasi antara Majelis Ulama, pemimpin organisasi, tokoh- tokoh Islam, cendekiawan muslim dan pemerintah serta untuk memperluas pandangan mengenai berbagai masalah yang berkaitan dengan keagamaan dan kemasyarakatan.

Sekarang tengah dikembangkan Forum komunikasi sebagai forum pertemuan dan tukar fikiran cendekiawan muslim yang berkeahlian di bidang komunikasi, informasi dan masa-media dengan tujuan disamping untuk lebih memasyarakatkan keputusan-keputusan Majelis Ulama juga untuk mengembangkan dakwah dan ukhuwah Islamiyah yang melalui media massa. Untuk memupuk dan mengembangkan ukhuwah islamiyah, Munas II Majelis Ulama Indonesia tahun 1980 memutuskan sebagai berikut:

1. Forum ukhuwah agar dapat diadakan di seluruh daerah baik tingkat I ataupun tingkat II. Yang dimaksud dengan Forum Ukhuwah di sini adalah adanya pertemuan berkala antar seluruh organisasi-organisasi Islam beserta tokoh- tokoh Islam yang ada untuk silaturahmi dan konsultasi.

114 Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan

2. Kerjasama yang erat dalam hal ibadah sosial seperti koperasi, penyantunan yatim, miskin, jompo, khitanan masal dan lain-lain perlu ditinngkatkan.

3. Untuk menciptakan ukhuwah Islamiyah dalam rangka mencapai wihdatul ummah yang mantap, perlu usaha-usaha nyata untuk menghilangkan hambatan- hambatan yang diakibatkan oleh perbedaan pandangan politik dan khilafiyah.

Keputusan tersebut lebih diperluas lagi dalam Rapat Kerja Nasional Majelis Ulama Indonesia tahun 1982 yang menyatakan:

1. Untuk memantapkan ukhuwah Islamiyah hendaknya:

a. Memantapkan pelaksanaan Keputusan Musyawarah Nasional ke II Majelis Ulama Indonesia tahun 1980 yang antara lain “menghidupkan forum ukhuwah antara organisasi-organisasi Islam dan tokoh-tokoh Islam, kerjasama di bidang sosial dan menghilangkan akibat-akibat perbedaan politik dan khilafiyah”. Dalam pada itu majelis Ulama Indonesia perlu mengadakan penyuluhan-penyuluhan mengenai hal-hal yang bertalian dengan masa khilafiyah.

b. Maejlis Ulama Indonesia bersemboyan: “Berpegang teguh pada aqidah, bertasamuh dalam masalah ijtihad”.

c. Mengadakan usaha bersama dalam rangka membantu pemerintah dalam meningkatkan kecerdasan dan tsaqafah ummat, pembinaan generasi muda, pembinaan para muallaf/saudara baru.

d. Majelis Ulama pusat dan daerah-daerah menyelenggarakan pengajian khusus bagi para ulama dan menyediakan wadah silaturahmi bagi Ibu-Ibu warga para ulama.

e. Untuk meningkatkan ukhuwah Islamiyah dalam mewujudkan kehidupan beragama yang semarak, kreatif/dan sehat diperlukan penanganan dan usaha yang terarah dam terus menerus dalam kerjasama pemerintah dan masyarakat untuk mengembangkan:

- Sosialisasi nilai-nilai dan norma-norma agama secara kreatif dan akomodatif dengan kehidupan bangsa kita yang majemuk dan berkembang dalam kerangka negara dan masyarakat Pancasila.

- Fungsionalisasi dan spesialisasi lembaga-lembaga keagamaan baik dalam bidang pendidikan, dakwah maupun sosial sehingga benar-benar berfungsi dalam pembangunan dan pengembangan masyarakat kita.

- Partisipasi para pemuka agama dalam pembangunan bangsa secara aktif dan konstruktif.

2. Pemantapan dan peningkatan ukhuwah Islamiyah tersebut di atas diarahkan untuk:

- Menghasilkan prestasi kreatif di berbagai bidang kehidupan sehingga ummat Islam Indonesia tidak dihinggapi kebanggaan semu terhadap

Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan 115 mayoritas ummatnya melainkan harus berupaya untuk menjadi sebagian besar rahmat bagi sekelilingnya.

- Mengembangkan ekonomi ummat Islam yang sebagian besar masih merupakan golongan ekonomi lemah ke jenjang kehidupan yang lebih baik.

- Menumbuhkan jiwa kewiraswastaan di lingkungan ummat Islam.

- Perlunya dipikirkan mengenai penyediaan lapangan kerja bagi pengangguran dan pengangguran terselubung.

- Mengembangkan semangat ilmiah para pemuda muslim Indonesia khususnya dan ummat Islam umumnya untuk menganalisa masa silam sebagai dasar kegiatan masa kini guna menjangkau masa depan Nusa dan Bangsa Indoneisa yang lebih cerah, dinamis dan terhormat.

Dalam Rapat Kerja Naisonal Majelis Ulama Indonesia tahun 1984 telah memutuskan pula bahwa:

1. Dalam rangka mengakrabkan silaturahim dan memperluas pandangan serta saling isi mengisi dalam masalah keagamaan, kemasyarakatan dan pembangunan, Majelis Ulama Indonesia, Majelis Ulama Daerah Tingkat I dan Tingkat II hendaknya mempelopori/mengambil prakarsa menumbuhkan dan mengembangkan Forum Ukhuwah Islamiyah secara periodik yang dihadiri oleh tokoh-tokoh Islam/masyarakat, para cendekiawan muslim serta para Umara (Pemerintah).

2. Agar peringatan hari-hari besar Islam membawa hikmah dan manfaat yang sebesar-besarnya bagi syi’ar Islam dan masyarakat, maka penyelenggaraannya perlu ditingkatkan baik pelaksanaannya maupun isinya.

Bagi daerah-daerah yang masyarakatnya belum dapat mengambil prakarsa untuk menyelenggarakan peringatan hari besar Islam, hendkanya Majelis Ulama Tingkat I dan tingkat II beekerja sama dengan pemerintah setempat untuk membentuk panitia peringatan Hari Besar Islam.

3. Agar forum Ukhuwah Islamiyah dalam masyarakat lebih berkembang, maka dalam kegiatan-kegiatan keislaman seperti amaliyah sosial, peringatan hari besar Islam dan lain-lainnya perlu mengikut sertakan unsur-unsur yang ada dalam masyarakat terutama generasi muda dan kaum wanita.

4. Meningkatkan Forum Ukhuwah Islamiyah dengan menyelenggarakan program terpadu baik yang bersifat keagamaan maupun kemasyarakatan.

Demikianlah gagasan-gagasan yang telah dikeluar oleh Majelis Ulama Indoensia sebagai upaya melaksanakan salah satu fungsinya. Namun oleh karena Majelis Ulama itu bukan badan yang bersifat operasional tetapi bersifat koordinatif, konsultatif dan informatif disertai kemampuan yang serba terbatas, maka gagasan tersebut belum dapat terlaksana sebagaimana yang diharapkan.

Kiranya kita sependapat bahwa untuk memasyarakatkan buah fikiran Majelis Ulama tersebut di atas dalam cakrawala yang lebih luas dan untuk mengembangkannya

116 Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan

di semua lapisan masyarakat guna terwujudnya ukhuwah Islamiyah yang hakiki, dukungan dan peran serta pimpinan organisasi Islam, para Ulama, tokoh-tokoh Islam, para cendekiawan muslim dan segenap ummat Islam sangat dipelrukan. Yang demikian itu akan menumbuhkan saling pengertian, kesamaan pendapat dan kesamaan bahasa dalam meningkatkan pembinaan ummat demi tegaknya syi’ar Islam dan suksesnya pembangunan.

UKHUWAH ISLAMIYAH DAN PEMBANGUNAN

Kemantapan ukhuwah Islamiyah, kerukunan, kesatuan dan persatuan ummat Islam merupakan penunjang utama bagi terwujudnya stabilitas nasional, dan stabilitas nasional adalah syarat mutlak bagi suksesnya pembangunan. Terwujudnya ukhuwah Islamiyah yang mantap adalah suasana yang memungkinkan bagi ummat Islam untuk membenahi diri, melangkah lebih maju, memerangi kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan, meningkatkan mutu dan kualitas sebagai upaya meningkatkan partisipasi dalam pembangunan. Dengan demikian keberadaan ummat Islam di bumi Pancasila ini mempunyai makna, dapat memberikan warna dan corak dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara dalam wadah negara Kesatuan Republik Indonesia yang berfalsafah Pancasila dan beradasarkan UUD 45.

Sebaliknya, keberhasilan pembangunan, secara tidak langsung menjadi lambang atas keberhasilan ummat islam melanjutkan perjuangan untuk mengisi kemerdekaan, mewujudkan cita-cita nasional. Keberhasilan pembangunan merupakan iklim yang memungkinkan bagi ummat Islam untuk lebih memantapkan ukhuwah Islamiyah yang tercermin dalam tatanan masyarakat Islam yang Pancasilais dan masyarakat Pancasila yang Islami, dalam suasana hidup rukun dan damai, sehat sejahtera lahir dan batin, terlaksananya ajaran Islam secara wajar serta meningkatnya kesemarakan dan kedalaman ajaran Islam.

Yang demikian itu menunjukan bahwa ukhuwah Islamiyah dan pembangunan tak dapat dipisahkan, merupakan kesatun yang stau sama lain saling berkiatan. Oleh karena itu adalah kewajiban kita semua, kewajiban ummat Islam untuk lebih memantapkan ukhuwah Islamiyah sebagai pelaksanan ajaran Islam dalam rangka mensukseskan pembangunan, dan meningkatkan partisipasi dalam pembangunan secara nyata sebagai perwujudan makna ukhuwah Islamiyah dalam rangka menyemarakkan syi’ar Islam.

Dewasa ini sudah merupakan iklim yang baik, tergantung pada kemauan dan tekad kita. Hal ini menuntut kita semua untuk bekerja keras guna memanfaatkan iklim yang baik itu dalam rangka memantapkan ukhuwah Islamiyah dan melestarikan pembangunan demi tegaknya syi’ar islam dan terwujudnya masyaraka adil yang berkemakmuran yang berkeadilan beradasrkan Pancasila dan UUD 1945 di bawah naungan ridho Allah SWT.

Kita ini umat Islam yang lahir dan hidup di negara Republik Indonesia. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara itu kita semua telah berjuang untuk merebut kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan dari berbagai rongrongan dan tantangan, dari sekarang kita semua harus berjuang bahu membahu bersama

Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan 117 pemerintah dan segenap lapisan masyarakat untuk mengisi kemerdekaan melalui pembangunan.

Sebagai umat Islam, sudah jelas kita berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Sebagai warga negara kita berpegang pada falsafah dan ideologi negara, yaitu Pancasila. Bukan saatnya lagi kita memperdebatkan dan mempertentangkan ideologi, karena Pancasila tidak bertentangan dengan ajaran Islam bahkan seyogyanya kita bertekad untuk menghayati, mengamalkan dan mempertahankan Pancasila yang jelas- jelas telah dapat mempersatukan bangsa.

Bapak presiden Soeharto seringkali menegaskan bahwa Pancasila bukan agama, Pancasila tidak dapat menggantikan agama dan sebaliknya agama tidak dapat menggantikan Pancasila. Mengenai Pancasila sebagai azas tunggal dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang sekarang sedang digodok di DPR untuk menjadi undang-undang organisasi keormasan, bukanlah untuk mencampuri urusan agama masing-masing, tetapi justru untuk memperkuat kehidupan keagamaan dalam azas kebersamaan dan semangat toleransi yang positif guna memperkokoh kesatuan dan persatuan bangsa.

PENUTUP

Demikianlah uraian yang dapat saya sampaikan dalam Majelis yang mulia ini, semoga ada manfaatnya. Mudah-mudahan Musyawarah intern Umat Islam sekarang ini dapat menghasilkan keputusan yang bermanfaat guna memantapkan Ukhuwah Islamiyah demi kepentingan agama, nusa dan bangsa. Keputusan yang disepakati itu perlu dilaksanakan seraya bertawakkal kepada Allah SWT sebagaimana firman-Nya:

الله َلََػ ْ ّكّ ََْذَف َتْمَََغ اَذٕإ َف

Akhirnya kita panjatkan do’a semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua dan meridho’i usaha ini. Aamiin.