• Tidak ada hasil yang ditemukan

ِ ا َ ٰلَ

ِ ا ٓ َلَّ َٗذهَأ َِْيَم ِ ا ْٓ ِح ْوُه ذلَّ ِ ا ٍلْو ُسذر ْنِم َ ِلِْبَك ْنِم اَيْو َسْرَأ ٓاَمَو ِن ْوُدُبْغاَف

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku maka sembahlah Aku.

Ayat ini menegaskan bahwa pokok aqidah agama yang dibawa oleh para nabi/rasul itu adalah sama, yaitu bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah dan untuk periode zaman terakhir ini nabinya ialah Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi, sepanjang sejarah perjuangan menegakkan agama Allah di muka bumi ini, tantangan umat yang dihadapi oleh para nabi/rasul cukup berat, sehingga memerlukan keyakinan yang teguh dan kekuatan mental yang baja. Demikian pula yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW.

Dalam kaitan ini, peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW mengandung beberapa maksud dan hikmah antara lain:

1. Memperkuat mental Nabi sebagai manusia yang dipersiapkan untuk mengemban titah ilahi dalam memimpin umat untuk menuju kebahagiaan lahir batin, dunia akhirat yang sudah dipastikan akan menghadapi tantangan yang cukup berat.

2. Memperlihatkan kebesaran Allah sebagai Pencipta, Pengatur dan Penguasa alam semesta yang beredar di atas landasan hukum yang berdasarkan kodrat dan iradat ilahi.

Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan 65 3. Menguji keyakinan umat terhadap prinsip-prinsip dasar agama yang harus

diimaninya, sehingga dalam hidupnya tidak mempunyai pamrih lain, kecuali hanya mengharapkan ridha Allah semata.

4. Mendapat perintah shalat untuk para umatnya sebagai bentuk ibadah yang ketentuannya sudah digariskan oleh Allah sendiri, sehingga cara-cara beribadah yang merupakan reka-rekaan dan kira-kiraan yang dibuat oleh manusia tidak akan terjadi. Oleh karena itu, perintah shalat inilah terjadinya Isra Mi’raj menjadi amat penting.

HIKMAH SHALAT

Pelaksanaan shalat di samping sebagai suatu bentuk ibadah kepada Allah SWT juga mengandung hikmah dan manfaat yang cukup besar bagi manusia, baik ditinjau dari segi kesehatan, kejiwaan, kemasyarakatan dan lain sebagainya.

Dari segi Kesehatan

Dr. Alexis Carrel, seorang ahli biologi dan pemegang nobel pernah mengemukakan pendapatnya bahwa sembahyang adalah suatu bentuk energi yang paling kuat yang dapat digerakkan oleh manusia. Sebagai pembenaran terhadap kata dokter, saya telah melihat orang-orang yang setelah segala pengobatan lainnya tidak berhasil, akhirnya dapat terbebas dari penyakit dan melankoli dengan usaha murni daripada sembahyang.

Selain itu, seorang dokter bangsa Indonesia, yaitu dr. Saboe, pernah menulis hikmah shalat bagi kesehatan yang antara lain membahas tentang berdiri, ruku’, sujud dan duduk dalam shalat. Saboe menulis: “Dengan melaksanakan sikap ruku’, maka tulang belakang (vertabrae) akan tetap berada dalam kondisi yang baik karena persediaan di antara badan-badan ruas tulang belakang (corpus vertabrae) tetap tinggal lembut dan lemah lentur serta menghilangkan ruas-ruas palsu yang telah terjadi, misalnya melekatnya tulang ke belakang (ossacrum) dan tulang tungging (oscoccygeus) yang mana dapat mengakibatkan kesulitan, terutama bagi wanita yang hendak melahirkan anak. Jika tulang belakang dan tulang tungging ini telah melekat erat satu sama lain yang mengakibatkan persediaan di antara tulang itu telah menjadi kaku, maka ruang panggul keluar relatif menjadi kecil dan sempit.”

Selanjutnya dr. Saboe mengatakan bahwa berkembangnya otot-otot dada bagi wanita penting sekali, sebab hal itu bukan saja membentuk postur tubuh yang langsing, padat dan berisi, akan tetapi juga mengakibatkan kelenjar-kelenjar susu (saluran air susu) menjadi lebih besar dan lebar, sehingga produksi air susu akan menjadi lebih banyak demi kepentingan bayi yang disusuinya. Salah satu yang menakjubkan dari kata dr. Saboe adalah sikap sujud secara ilmiah yang ditinjau dari sudut ilmu kesehatan adalah bentuk sirkulasi aliran darah di dalam otak sehingga orang itu relatif menjadi lebih cerdas.

66 Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan Dari segi Kejiwaan

Salah satu dari hikmah Isra’ Mi’raj ialah mengisyaratkan bahwa kewajiban shalat berbeda dengan kewajiban-kewajiban yang lain seperti zakat, puasa, haji dan sebagainya. Karena pada mulanya kewajiban shalat disampaikan Allah secara langsung kepada Nabi Muhammad SAW tidak melalui Malaikat Jibril. Hal ini menunjukkan bahwa shalat mengandung beberapa keistimewaan. Shalat merupakan tiang agama, sebagaimana ditegaskan oleh Hadis Nabi:

َمَو ، َنيِّلا َماَكٔأ ْدَلَف اََِماَكٔأ ْنَم ، ِنيِّلا ُداَ ِعِ ُةلً ذصما َنيِّلا َمَدَُ ْدَلَف اََِمَدَُ ْن

Sholat merupakan tiang agama, barang siapa yang menegakkan shalat, maka dia telah menegakkan agamanya dan barangsiapa yang merobohkannya, berarti ia telah merobohkan agamanya.”

Manusia sebagai hamba Allah yang diciptakan untuk membina kemajuan dan kemakmuran alam semesta ini, semestinya tidak patut melepaskan hubungannya dengan Allah yang telah diwujudkan dalam bentuk shalat. Apalagi kalau diingat bahwa shalat merupakan benteng dan sarana pembinaan mental dan watak, sehingga dengan shalat akan terbinalah kualitas nilai kerohanian seorang manusia.

Dalam perjalanan Isra’ Mi’raj, Allah menunjukkan secara visual kepada Rasul akibat dari segala macam bentuk kejahatan yang pernah dilakukan oleh manusia di mana segala macam bentuk kejahatan itu sebenarnya tidak akan terjadi apabila seseorang membentengi dirinya dengan shalat sebagaimana semestinya.

Sebelum mengerjakan shalat, seseorang diperhatikan dalam hal berwudhu’

berupa membasuh muka, tangan, sebagian kepala dan kaki. Pada muka terdapat mulut, hidung dan mata. Mulut mempunyai peranan penting dalam melakukan kejahatan, tapi sebaiknya mulut juga peranan besar dalam melakukan perbuatan yang baik dan terpuji. Begitu juga mata, tangan, dan kaki mempunyai peranan dalam rangka tindakan manusia, baik untuk kebaikan maupun kejahatan. Selain itu, dalam berwudhu’ orang diwajibkan pula membasuh sebagian kepala yang di dalamnya terdapat otak sebagai sumber perencanaan segala perbuatan. Semua anggota badan yang diwajibkan untuk dibasuh dalam berwudhu merupakan praktek simbolik kejiwaan yang sasarannya adalah bersifat batiniyah. Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh akan mendapatkan pahala yang tiada putusnya.

Shalat dikerjakan dalam keadaan dan suasana yang serba bersih dan suci.

Badan, pakaian dan tempat shalat semuanya harus suci dari hadas dan najis. Lebih dari itu shalat harus ditunaikan dengan hati yang bersih dan suci pula; dengan hati ikhlas dan khusyu’. Setelah itu, kita menghadap kepada Allah untuk melakukan shalat yang isinya adalah permohonan petunjuk, perlindungan, pertolongan, kasih sayang dan ampunan dari segala perbuatan yang salah. Hal semacam ini dilakukan oleh setiap muslim lima kali dalam sehari semalam sebagai pagar penahan nafsu amarah.

Dengan melaksanakan shalat menurut cara dan makna ynag sebenarnya serta penuh penghayatan, maka akan dapat diharapkan terbentuknya pribadi-pribadi manusia yang baik dan berakhlak tinggi sehingga manusia akan selamat dan tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan. Dengan melaksanakan shalat, diharapkan segala

Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan 67 macam bentuk kejahatan dan pelanggaran akan dapat dihindarkan. Dengan melaksanakan shalat, akan terbentuk suatu masyarakat baik yang memiliki mental tangguh dan kuat serta sanggup membentengi dirinya dari hanya sekedar memperturutkan hawa nafsu.

Islam dengan shalatnya tidak dimaksudkan untuk membasmi nafsu manusia, akan tetapi dimaksudkan untuk membentengi dan menyalurkan sesuai dengan cara- cara yang dapat dibenarkan. Hal ini dilakukan demi menjaga martabat manusia sebgai mahluk yang paling utama ini tidak terjatuh ke martabat hewan. Dalam hal ini Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat At-Tin ayat 4-6:

مٍْيِوْلَث ِن َسْحَأ ْٓ ِف َنا َسْو ِ ْلَّا اٌَْلَوَخ ْدَلَم نَ ْيِوِفا َس َلَف ْسَأ َُٰهْدَدَر ذ ُثُ

اْوٌَُمٰا َنْيِ ذلَّا ذلَّ ا ِ ُ ْيَغ ٌرْجَأ ْمَُِوَف ِتٰحِو ّٰصما اوُوِ َعَِو

ٍۗن ْوُيْمَم .

(4) Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, (5) Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya,

(6) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya.

Bagi segi Kemasyarakatan

Pelaksanaan shalat sangat dianjurkan untuk berjama’ah (secara bersama-sama) dengan anak istri di rumah atau dengan muslim lainnya baik di surau maupun masjid.

Sebab hal ini akan melahirkan rasa kebersamaan baik dalam kerangka persamaan derajat maupun pembinaan persatuan yang dilandasi rasa persaudaraan yang ikhlas.

Selain dari sembahyang berjamaah setiap waktu dan setiap hari, diperintah pula sekali dalam seminggu untuk mengerjakan sembahyang Jum’at. Dengan demikian, ruang lingkup persaudaraan semakin meluas. Pembinaan ini kemudian semakin diperluas pula dengan disunatkannya melaksanakan shalat idul fitri setelah menunaikan ibadah puasa dengan kewajiban mengeluarkan zakat fitrah bagi yang mampu kepada fakir miskin dan shalat idul adha yang dilaksanakan bertepatan dengan pelaksanaan ibadah haji serta kewajiban berkurban bagi yang mampu untuk dibagikan kepada fakir dan miskin pula. Dengan demikian, ibadah shalat bukan saja merupakan bentuk pendekatan diri kepada Allah, melainkan juga sekaligus mempunyai fungsi sosial, sarana pembinaan persaudraan dan persatuan.

FADHILAH (KEUTAMAAN) SHALAT

Ibadah shalat juga merupakan jalan yang terbaik dalam rangka memenuhi hajat dan kebutuhan jiwa manusia yang secara naluriah senantiasa ingin mengabdi dan bertemu karena rindu kepada Tuhan. Dengan demikian, shalat adalah kebutuhan manusia yang harus dipenuhi. Apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi maka jiwa manusia akan menjadi hampa dan miskin serta penuh ketegangan dan kegoncangan hidup. Sebaliknya, apabila dalam perkembangan seseorang dapat terbentuk dari unsur- unsur rohani yang terdiri dari pengalaman-pengalaman batin yang dapat menentramkan jiwa, maka tentunya manusia akan memiliki kepribadian yang harmonis dan mampu mengendalikan diri. Dalam hubungan ini ada baiknya kalau kita

68 Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan

merenungkan pendapat Prof. Gunning Peter yang mengatakan: “kalau ada orang yang bertanya kepadaku dengan apa gerakan aku mendidik anakku ke arah ketuhanan?

Maka aku hanya dapat menjawab ialah dengan shalat”.

Melaksanakan shalat berarti membiasakan diri untuk berbuat baik dan mencegah berbuat buruk, karena dengan shalat seseorang akan dibiasakan menjaga kebersihan dan kesucian jiwa yang sangat penting baik kesehatan yang bersifat jasmani maupun rohani. Dalam Al-Qur’an surat Al-Ma’arij, Allah menyebutkan adanya pengaruh shalat guna mendidik manusia untuk membersihkan diri dari bibit-bibit kejahatan yang akan merusak pribadi.

ناًػْوُوَُ َقِوُخ َنا َسْوِ ْلَّا ذن ا ِ ناًػ ْوُزَج ُّ ذشَّما َُ ذسَم اَذ ا ِ .

ناًػْوٌَُم ُ ْيَخْما َُ ذسَم اَذ .

ِ اذو نَ ْيِّو َصُمْما ذلَّ ا ِ .

ٰلَٰػ ْ ُهُ َنْيِ ذلَّا .

م َن ْوُم ِ ىۤاَد ْمِ ِتِ َلً َص .

(19) Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh.

(20) Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, (21) Dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir, (22) Kecuali orang-orang yang melaksanakan salat,

(23) Mereka yang tetap setia melaksanakan salatnya.

KESIMPULAN

1. Sesuai dengan amanat Presiden RI pada saat menerima para peserta Rakernas MUI tanggal 10 maret 1982 di Istana Negara di mana beliau mengatakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius dan kita bangga dengan itu agar terus meningkatkan usaha untuk menyemarakkan kehidupan beragama di tanah air serta sesuai pula dengan hakekat shalat sebagai tiang agama, marilah kita bangun masyarakat melalui ajaran shalat.

2. Sebagai bangsa yang mempunyai falsafah Pancasila, menegakkan shalat adalah merupakan ciri dari menegakkan Pancasila.

SENYUM TAKWA UNTUK HARI DEPAN