• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGANTAR

Dengan keluarnya peraturan Mahkamah Agung No. 1/77 tentang Peradilan Agama tingkat kasasi pada Mahkamah Agung, Pemimpin Redaksi majalah “MIMBAR ULAMA” mengemukakan kepada saya beberapa pertanyaan dalam hubungan adanya kasasi Hukum Islam pada Mahkamah Agung RI itu, seperti yang dimaksud oleh Undang-Undang No. 14/70.

Pertanyaan-pertanyaan itu sebagai berikut:

1. Di Indonesia ada peradilan umum, Peradilan Militer, Peradilan Administrasi dan Peradilan Agama. Keputusan Pengadilan Agama mempunyai kekuatan hukum setelah dikukuhkan oleh Pengadilan Negeri. Sampai sejauh mana wewenang Pengadilan Agama?

2. Kalau pengadilan Agama menghadapi kasus, dan kasus itu tidak dapat diputuskan bagaimana penyelesaiannya, apakah ke Pengadilan Negeri atau ke Mahkamah Islam Tinggi?

3. Kalau kasus tersebut sudah diputuskan oleh Mahkamah Islam Tinggi tetapi keliru bagaimana penyelesaiannya? Apakah diajukan kasasi pada Mahkamah Agung? Padahal di Mahkamah Agung sebagai Pengadilan Kasasi belum terdapat Kamar bagi hukum Islam.

4. Mengingat hal-hal tersebut di atas, bagaimana kemungkinan terbentuknya Kamar Islam dalam lingkungan Mahkamah Agung?

Untuk sekedar mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, saya uraikan problematika dan pemecahannya seperti di bawah ini.

A. WEWENANG PENGADILAN AGAMA DI INDONESIA

Oleh karena di Indonesia hukum Islam tidak berlaku keseluruhannya, tetapi hanya terbatas pada sebagian dari hukum-hukum perkawinan (munakahat) saja, maka wewenang Pengadilan Agama dibatasi dan diatur begitu rupa menurut perundang- undangan yang berlaku.

Di zaman VOC hukum Perkawinan Umat Islam diatur dalam “Compendium freijer”, yakni kitab hukum yang berisi aturan-aturan hukum kawin dan hukum waris menurut ketentuan hukum Islam. Compendium Freijer inilah yang dipakai oleh Pengadilan VOC.

Compendium Freijer tersebut dicabut dengan berangsur-angsur pada abad ke XIX, sedang bagian hukum waris dicabut pada tahun 1913 dengan STBL. 1913 No. 354.

Ketika Burgerlijk Wet Boek (B.W.) disusun tahun 1848, lahirlah masa baru bagi sejarah hukum Pemerintah Hindia Belanda, dimana B.W. dan lain-lain peraturan, secara hukum tertulis lahir. Tetapi justru sebaliknya, hukum bagi umat Islam yang tertuang dalam Compendium Freijer itu malah dihapuskan, dan diganti dengan STBL. No. 198 dan Pasal RR 1854.

92 Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan

Setelah merdeka, masalah-masalah yang timbul dari perkawinan umat Islam yang diselesaikan lewat peradilan yang dulu namanya Landraad, rad van Justitie, kini pengadilan negeri dan bagi umat Islam Pengadilan Agama. Dalam Pasal 144 Konstitusi R.I.S. tercantum tentang adanya Pengadilan Agama tetapi pada UUDS maupun dalam UUD 1945, tidak disebutkan sama sekali.

Dalam undang-undang No.14 tahun 1970 tentang “ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan kehakiman” disebutkan bahwa “kekuasaan kehakiman dilakukan oleh Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha Negara” (Pasal 10 ayat 1). Dalam mengatasi putusan-putusan yang diberikan tingkat akhir oleh Pengadilan-Pengadilan lain dari Mahkamah Agung, kasasi dapat dimintakan kepada Mahkamah Agung. (Pasal 10 ayat 3).1

Jelaslah bahwa dalam Undang-Undang di atas, eksistensi Peradilan agama (Islam) diakui dan dikukuhkan oleh Undang-Undang, di mana kekuasaan dan wewenangnya diatur dalam Undang-Undang tersendiri (Pasal 12).2

Peraturan Menteri Agama No. 3 Tahun 1975 tentang kewajiban Pegawai Pencatat Nikah dan tata-kerja Pengadilan Agama dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan perkawinan bagi yang beragama Islam, kiranya sudah cukup jelas mengatur hak dan wewenang Pengadilan Agama. Yang berlaku sekarang adalah Undang-Undang No.1 Tahun 1974 yang terkenal sekarang dengan “Undang-Undang Perkawinan Republik Indonesia”. Dalam undang-Undang ini kekuasaan dan wewenang pengadilan agama adalah sebagai berikut:

1. Izin untuk beristri lebih dari seorang (Pasal 3 ayat 2)

2. Izin melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 tahun, bila orang tuanya, wali atau keluarganya dalam hubungan garis lurus ada perbedaan pendapat (Pasal 6 ayat 5).

3. Penyimpangan dari ketentuan umur minimum (Pria 19, wanita 16) (Pasal 7 ayat 2)

4. Memutus permohonan tentang pencegahan perkawinan (Pasal 17-18).

5. Permohonan para pihak yang perkawinanya ditolak oleh pegawai pencatat perkawinan (Pasal 21)

6. Permohonan pembatalan perkawinan (Pasal 25, 28).

7. Gugatan tentang kelalaian kewajiban suami atau istri (Pasal 34 ayat 3) 8. Perceraian (Pasal 39, 40)

9. Akibat perceraian (Pasal 41) 10. Sah/tidaknya anak (Pasal 44)

1 Adapun undang-undang yang berlaku sekarang adalah UU No.48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.

2 Adapun yang berlaku dalam Pengadilan Agama saat ini adalah UU No.7 tahun 1989, revisi No.3 tahun 2006 dan No.50 tahun 2009.

Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan 93 11. Penetapan asal-usul seorang anak sebagai pengganti akte kelahiran (Pasal 55

ayat 2)

12. Keputusan tentang soal apakah penolakan untuk melangsungkan perkawinan campuran oleh pegawai pencatat pernikahan beralasan atau tidak.

Seperti disebutkan di atas, bahwa UU No. 14 tahun 1970 tentang kekuasaan kehakiman membagi kekuasaan kehakiman itu dalam empat lingkungan: Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Militer dan Peradilan tata-usaha negara. Tetapi dalam Pasal 63 UU No. 1/1974 tentang perkawinan menegaskan bahwa yang dimaksud dengan pengadilan dalam Undang-Undang Perkawinan tersebut adalah “Pengadilan Agama bagi mereka yang beragama Islam, dan Pengadilan Umum bagi yang lainnya.”

Oleh Pasal 12 UU No. 14/1970 mengenai susunan dan kekuasaan peradilan (antara lain Peradilan Agama) akan ditetapkan dengan Undang-Undang, sedangkan Undang- Undang yang dimaksud belum dikeluarkan, maka dengan sendirinya wewenang dari kekuasaan Pengadilan Agama yang tercantum dalam Pasal 2 a STBL 1937 No. 610 dan 116, STBL.1940 No.3, STBL. 1937 No. 638 Jo 636 Pasal 3 serta Pasal 4 PP 45 tahun 1957 masih tetap berlaku.

Ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Stablaad tersebut antara lain adalah:

Pasal 2 a (untuk Jawa dan Madura)

(I) Raad agama itu semata-mata hanya berkuasa memeriksa perselisihan antara suami isteri yang beragama Islam dan perkara lain tentang nikah, talak, rujuk dan perceraian antara orang yang beragama Islam yang memerlukan perantara Hakim Agama, dan berkuasa memutuskan perceraian dan menyatakan bahwa syarat untuk jatuhnya talak yang digantungkan sudah ada; akan tetapi dalam perselisihan dan perkara-perkara tersebut semua tuntunan pembayaran uang dan pemberian benda-benda atau barang-barang yang tertentu, harus diperiksa dan diputuskan oleh Hakim biasa, kecuali tuntutan tentang maskawin (mahar) dan tentang kehidupan isteri yang menjadi tanggungan suami (nafkah) yang segenapnya diperiksa dan diputuskan oleh Raad Agama.

Pasal 3 (Untuk Kalimantan Selatan dan Timur)

(I) Kerapatan Qadli itu semata-mata berkuasa memeriksa perselisihan- perselisihan antara suami isteri yang beragama Islam dan perkara-perkara lain tentang nikah, talak, rujuk dan perceraian antara orang-orang beragama Islam yang memerlukan perantaraan hakim agama, dan berkuasa memutuskan perceraian dan menyatakan bahwa syarat untuk jatuhnya talak yang digantungkan sudah ada; akan tetapi dalam perselisihan-perselisihan dan perkara-perkara tersebut semua tuntutan pembayaran uang dan pemberian benda-benda atau barang-barang yang tertentu, harus diperiksa dan diputuskan oleh hakim biasa, kecuali tuntutan tentang maskawin (mahar) dan tentang keperluan kehidupan isteri yang menjadi tanggungan suami yang segenapnya diperiksa dan diputuskan oleh Kerapatan Qadli.

94 Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan Pasal 4 (untuk Pengadilan agama di luar Jawa-Madura)

(I) Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyyah memeriksa yang beragama Islam, dan segala perkara yang menurut hukum yang hidup diputuskan menurut Hukum Agama Islam yang berkenaan dengan nikah, talak, fasak, nafkah, maskawin (mahar), tempat kediaman (maskan), mut’ah, dan sebagainya, hadlanah, perkara waris mal waris, wakaf, hibah, sadaqah, baitul mal dan lain-lain yang berhubungan dengan itu, demikian juga memutuskan perkara perceraian dan mengesahkan bahwa syarat ta’lik sudah berlaku.

Guna memenuhi ketentuan pasal 63 ayat (2) dari Undang-Undang Perkawinan, maka putusan Pengadilan Agama mengenai perceraian itu harus dikukuhkan oleh Pengadilan Negeri. Pengukuhan itu dilakukan apabila putusan Pengadilan Agama itu telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Pengukuhan tersebut bersifat administratif, oleh karena itu Pengadilan Negeri tidak lagi akan mengadakan pemeriksaan ulang terhadap perkara yang telah diputus oleh Pengadilan Agama.

Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan:

“Wewenang dan kekuasaan Pengadilan Agama menurut hukum positif yang berlaku di Indonesia adalah sepanjang apa yang diatur oleh STBL pasal 2 a 1937 No.610 dan 116 dan STBL 1940 No.3 serta STBL 1937 No.638, Jo 636, Pasal 3 dan juga pasal 4 PP 45 tahun 1957, sebelum Undang-Undang yang mengatur susunan dan kekuasaan peradilan (dalam hal ini Pengadilan Agama) dikeluarkan, kecuali wewenang dan kekuasaan yang telah diatur oleh Undang-Undang Perkawinan Republik Indonesia tahun 1974 (Undang-Undang No. I/1974) dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 9 tahun 1975 tentang pelaksanaan Undang-Undang No.1 tahun 1974 tentang perkawinan”.

B. KASUS YANG TIDAK DAPAT DIPUTUSKAN OLEH PENGADILAN AGAMA

Bila ada kasus (perkara) yang tidak dapat diputuskan oleh Pengadilan Agama, maka hal itu mungkin disebabkan oleh:

a. Pengadilan Agama memang tidak berwewenang untuk mengadili perkara yang diajukan itu, atau

b. Karena hakim yang ditunjuk itu tidak cakap menjalankan tugasnya atau terjadi ketidakberesan dalam Kantor Pengadilan Agama itu.

Undang-undang No.14 tahun 1970 tentang ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman3 menegaskan:

“Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa dan mengadili sesuatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya.” (Pasal 14 ayat 1).

Di dalam penjelasan pasal ini disebutkan bawah, hakim sebagai organ pengadilan dianggap memahami hukum. Pencari keadilan datang padanya untuk memohon keadilan. Andaikata ia tidak menemukan hukum tertulis, ia wajib menggali

3 Saat ini yang berlaku Undang-Undang No.48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.

Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan 95 hukum tidak tertulis untuk memutus beradasarkan hukum sebagai seorang yang bijaksana dan bertanggung jawab penuh kepada Tuhan YME, diri sendiri, masyarakat, Bangsa dan Negara.

Dengan demikian jelaslah, bahwa seorang hakim dalam Pengadilan Agama (yang juga diatur kekuasaannya dalam Undang-Undang di atas), wajib menyelesaikan dan memutuskan perkara yang diajukan dan tidak boleh menolak, sepanjang perkara tersebut berada dalam wewenangnya.

Seandainya memang ada perkara yang tidak/belum diputuskan Hakim Pengadilan Agama oleh karena perkara tersebut di luar wewenangnya atau terjadi ketidakberesan dalam Pengadilan Agama tersebut, maka seharusnya Pengadilan Agama menyatakan dirinya tidak berwewenang untuk mengadili perkara tersebut dan menyarankan agar perkara tersebut diajukan ke Pengadilan Negeri untuk dapat diselesaikan, atau diselesaikan dengan jalan perdamaian, seperti dimaksudkan oleh pasal 14 ayat (2) Undang-Undang tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman.

C. MASALAH KASASI PENGADILAN AGAMA/MAHKAMAH ISLAM TINGGI

Bila suatu kasus diputuskan oleh Mahkamah Islam Tinggi (untuk seterusnya disebut MIT) akan tetapi terdakwa atau masyarakat merasa tidak puas karena MIT dianggap keliaru dalam menetapkan keputusannya, maka menurut peraturan Mahkamah Agung No. 1/77 kasus yang terjadi di lingkungan Pengadilan Agama (MIT) itu dapat diajukan dalam tingkat kasasi ke Mahkamah Agung guna dimintakan keputusannya.

Oleh karena di Mahkamah Agung sendiri belum tersedia “Kamar Islam” yang khusus mengadili perkara-perkara yang terjadi di Pengadilan Agama dalam tingkat kasasi, maka hendaklah ditempuh alternatif sebagai berikut:

a. UU No.14/70 dan peraturan Mahkamah Agung No.I/1977 menghendaki adanya Hakim Islam tersendiri yang qualified, yang ahli dan berpengetahuan luas tentang hukum Islam. Sementara orangnya belum ada, sebaiknya ditunjuk Hakim pengganti yang didampingi oleh penasehat ahli (dalam hukum Islam) yang dikemukakan oleh Menteri Agama; atau

b. Mahkamah Islam Tinggi (MIT) mengadakan revisi (pembetulan) oleh karena adanya reaksi dari tokoh-tokoh masyarakat atau ahli agama dan meninjau kembali putusannya; atau

c. Mahkamah Islam Tinggi (MIT) membekukan buat seentara keputusan yang telah diambilnya atas kasus yang bersangkutan menunggu kasasi Mahkamah Agung; atau

d. Mengambil kebijaksanaan untuk menghindarkan akibat keputusan MIT tersebut.

Sebagai contoh dari alternatif yang terakhir ini ialah keputusan MIT Solo yang pernah dihebohkan oleh sebagian Surat Kabar Ibukota tentang Pernikahan seorang laki-laki yang sudah punya anak 5 orang yang dikawinkan oleh wali hakim, dengan saksi-saksi yang memenuhi syarat yang telah berlangsung 15 tahun yang lalu; setelah

96 Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan

laki-laki itu meninggal maka barulah isteri pertama menggugat. Gugatan istri pertema tersebut ditolak oleh Pengadilan Agama Istimewa Jakarta Raya, dan menetapkan sahnya perkawinan mendiang suaminya dengan istri yang kedua meskipun terdapat cacat administratif. Setelah naik banding, MIT membatalkan putusan Pengadilan Agama Istimewa Jakarta Raya itu.

Kemudian berhubung adanya surat Penjelasan dari MIT tentang keputusan MIT itu yang berarti “fasidnya nikah mendiang suaminya itu”, dan orang awam mengambil pengertian bahwa 5 orang anak yang dihasilkan (dari perkawinannya yang kedua) adalah anak yang dilahirkan di luar nikah, maka istri dan anak-anak tersebut kehilangan hak sebagai ahli waris, pengertian ini tidak benar. Karena menurut hukum Islam tiap-tiap anak yang dilahirkan dari pernikahan meskipun setelahnya pernikahan itu dibatalkan status anak tetap sah. Mengenai istri selaku ahli waris masalahnya Khilafiyah manakala pembatalan nikah tersebut ditetapkan setelah wafatnya suaminya karena yang dituju adalah untuk menggugurkan hak warisnya. Hal mana menunjukkan tidak jujur.

Putusan MIT tentu keliru karena didasarkan atas cacat administratif yaitu tidak terdapat tanda tangan pada buku model A, tidak ada persetujuan istri pertama, dan tidak ada laporan kepada lurah di mana sang suami tinggal, dengan berpegang kepada buku “Bughyatul Mutarsyidin” hal. 291 yang berbunyi:

ِٔل َن َكَ ْنٕإَف حكاِّيلا ِتَِِّم َلََػ ٌةٔأْرَم ْتَغْدٔأ َّْٔأ ََِْيَػ نٓلا َىٕا ِِاَا َظََّ ََِِدََََّح َََُُْْث ْنٔأ إَُإََََ َاا دعلا ِِْجْ

َْْغدلدا ِقْفََّ َلََػ ٌَََُُْب إَِل ْتَاِِ َص اذٕإَف ًلاَثَم َُُذََ ََّْز َنَٔأََّ َتإَمََّ َاًََِْح ْنٔأ داُب لاَف ِثْرٕلا ِِْجْٔ ِل

ُةدَِِ َّْدَلا ْتَدَبَز ى