• Tidak ada hasil yang ditemukan

120 Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan

Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan 121 bangsa. Hal ini perlu kita pahami dan hayati secara mendalam. Mengapa demikian?

sebab di dalam sejarah perjuangan kemerdekaan, para ulama itu memegang peranan yang amat dominan, menjadi pelopor dan pemimpin yang mampu membangkitkan semangat perjuangan umat melawan penjajah. Lahirlah di mana-mana ulama pahlawan dan pahlawan ulama dengan jiwa aqidah Islamiyah mereka berjuang sampai akhir hayat demi tegaknya kemerdekaan tanah air Indonesia. Dalam mengisi kemerdekaan pun, para harus pada untuk pembangunan sesuai dengan tuntunan ajaran Islam agar bekerja keras untuk kepentingan duniawi dan memperbanyak amal saleh untuk kepentingan ukhrawi.

Ulama dan pimpinan pemerintah atau Umara tak dapat dipisahkan tak ubahnya bagaikan air dengan ikan. Keduanya harus bekerja sama bahu-membahu membimbing dan mengasuh umat, karena baik buruknya kehidupan masyarakat sangat tergantung pada ulama dan umara’ sebagaimana sabda Rasul SAW:

Ada dua golongan dari manusia. Bila baik kedua golongan itu maka baiklah seluruh manusia. dan bila buruk kedua golongan itu maka buruk pula masyarakat seluruhnya, kedua golongan itu adalah ulama dan umara’.”

Ulama dan umara’ adalah panutan umat, apa yang dikatakan ulama dan umara’, itulah yang dikatakan umat, dan apa yang dilakukan mereka itu pula yang dilakukan umat. Oleh karena itu kita harus senantiasa memberikan suri tauladan yang baik. Nabi Muhammad SAW menempatkan ulama sebagai “misbahul ardhi” pelita di muka bumi yang dapat memberikan penerangan, menyampaikan soal-soal kepentingan kepada masyarakat, memberikan nasihat, memberikan obor penerang bagi orang dalam kegelapan untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan lahir batin dan dunia akhirat.

Ulama adalah “khalifah Nabi-Nabi” dalam menunaikan misinya untuk menggerakkan ummat guna membangun diri, keluarga dan masyarakat baik rohani ataupun jasmani, menyempurnakan akhlak budi pekerti. Ulama adalah “waratsatul anbiya” (pewaris para Nabi), manusia yang memiliki sifat-sifat terpuji, membimbing dan menuntun umat ke jalan yang benar, jalan yang diridhoi Allah menuju kesempurnaan hidup. Ulama adalah “Amnaullahi ‘ala Khalqihi” (Kepercayaan Allah atas makhlukNya), membawa dan menunjukkan manusia ke jalan yang lurus, jalan yang baik dan bermanfaat tanpa membedakan kelompok atau golongan. Ulama juga adalah “kaukab fi sama” (Bintang di langit) yang menerangi makhluk Allah di muka bumi, membangkitkan gairah hidup dan penuh rasa optimis menatap masa depan.

Imam Malik bin Anas menyebutkan “Ulama Siraju Zamanihi” (pelita di zamannya), menjadi penerang bagi orang yang dalam kegelapan, menyadarkan orang dalam kesesatan, menjadi pelipur lara bagi orang yang duka.

Mudah-mudahan usaha yang kita lakukan dengan penuh keikhlasan itu akan membuahkan manusia muslim yang tebal imannya, meningkat amal ibadahnya, luhur akhlaknya dan meningkat taraf hidupnya dalam suasana kehidupan yang aman, tenteram dan sejahtera lahir batin. Oleh karena itu, betapa pentingnya kerjasama ulama dan umara yang saling mengisi dan saling bahu-membahu dalam kebajikan dan bahu-membahu dalam mencegah kemungkaran. Allah berfirman: “Dan bertolong

122 Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan

menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa dan jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.”

Majelis Ulama adalah organisasi keulamaan. Sejak berdirinya tanggal 26 Juli 1975 yang lalu, Majelis Ulama mengemban tugas dan harapan dari berbagai pihak, baik pihak pemerintah dan pihak umat. Majelis Ulama diharapkan dapat menghimpun para ulama guna mewujudkan kesamaan bahasa dan tindakan dalam menangani masalah keagamaan dan kemasyarakatan sehingga membawa ketentraman dan kesejukan bagi umat. Majelis Ulama diharapkan pula dapat menyampaikan aspirasi umat kepada pemerintah sehingga terjadi komunikasi timbal balik dan hubungan harmonis antara umat pemerintah.

Kini Majelis Ulama Indonesia telah menginjak usia yang ke 11 tahun. Pada bulan Juli yang lalu telah mengadakan Munasnya yang ke-III. Dalam Munas tersebut diperoleh kesepakan untuk meningkatkan bobot, fungsi dan peranan Majelis Ulama Indonesia di masa yang akan datang, terutama dalam keikutsertaannya menciptakan kerangka menuju tinggal landas pembangunan. Munas tersebut telah berhasil menyempurnakan Pedoman Dasar, menyusun program kerja, menyusun pengurus untuk periode 1985/1990 dan beberapa keputusan lainnya. Dalam Pedoman Dasar disebutkan bahwa MUI adalah wadah musyawarah para ulama, zu’ama dan cendekiawan muslim, berakidah Islamiyah dan berasaskan Pancasila. Majelis Ulama Indonesia melaksanakan usaha-usaha:

1. Memberikan bimbingan dan tuntunan kepada umat Islam dalam mewujudkan kehidupan beragama dan bermasyarakat yang diridhoi oleh Allah SWT.

2. Memberikan nasihat dan fatwa mengenai masalah keagamaan dan kemasyarakatan kepada Pemerintah dan masyarakat.

3. Meningkatkan kegiatan bagi terwujudnya ukhuwah Islamiyah dan kerukunan antar ummat beragama dalam memantapkan persatuan dan kesatuan bangsa.

4. Menjadi penghubung antara ulama dan umara’ (pemerintah) dan penerjemah timbal balik antara pemerintah dan ummat guna mensukseskan pembangunan nasional.

5. Meningkatkan hubungan serta kerjasama antara organisasi, lembaga Islam dan cendekiawan muslim.

6. Mewakili ummat Islam dalam hubungan dan konsultasi antar ummat beragama.

7. Usaha lainnya yang sesuai dengan tujuan organisasi.

Sesuai dengan usaha tersebut Munas telah menyusun program kerja yang mencakup berbagai hal diantaranya: pembinaan dan bimbingan ummat; fatwa;

nasihat dan hukum; ukhuwah Islamiyah; konsultasi antar umat beragama; kerjasama ulama dan umara’; kesejahteraan umat dan partisipasi dalam pembangunan;

pengkajian pemecahkan masalah-masalah agama; pembinaan calon ulama; dan konsolidasi organisasi. Dalam kepengurusannya telah diakui oleh berbagai pihak

Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan 123 sebagai pengurus MUI yang mencerminkan berbagai unsur dalam masyarakat. Di dalamnya terdapat unsur ulama, unsur organisasi Islam, unsur zu’ama, unsur cendekiawan muslim dan ada pula unsur umara’nya. Dalam melaksanakan tugas dan merealisasikan fungsi itu, sebenarnya Majelis Ulama Daerah lah yang diharapkan dapat berperan oleh karena sebagian besar umat Islam berada di pedesaan dan Majelis Ulama Daerah itulah yang langsung berhubungan dengan umat. Dengan terselenggaranya Musyawarah Daerah ini saya sambut dengan gembira karena adanya usaha dari pengurus Majelis Ulama Indonesia Daerah Tingkat I Bengkulu untuk meningkatkan fungsi dan peranannya. Yang jelas, terselenggaranya musyawarah ini menunjukkan adanya usaha dari Pengurus Majelis Ulama dengan Pimpinan Daerah.

Oleh karena itu, sekali lagi saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Gubernur atas bantuannya hingga terselenggaranya musyawarah ini.

SISTEM HUKUM PANCASILA DITINJAU DARI SUDUT HUKUM ISLAM

LATAR BELAKANG

Sebagaimana telah kita maklumi bersama Pancasila bukan saja merupakan pandangan hidup dan filsafat bangsa Indonesia. Akan tetapi, Pancasila juga merupakan dasar negara Republik Indonesia. Oleh karena itu, kita selalu mengungkapkan bahwa negara Republik Indonesia adalah berdasarkan Pancasila dan UUD ‘45. Konsekuensinya, tiap-tiap tindakan yang diambil oleh pemerintah baik berupa instruksi, peraturan perundang-undangan dan penetapan GBHN haruslah Selaras dan sejalan serta tidak boleh bertentangan dengan Pancasila dan UUD ‘45. Dari sini dapat kita tegaskan bahwa Pancasila dan UUD ‘45 adalah merupakan sumber hukum dan dalam negara Republik Indonesia. Dalam hal ini kita patut bersyukur, karena Pancasila selaku sumber hukum nasional kini telah bertambah kokoh dan mantap dengan keluarnya undang-undang No. 8/1985 yang mengharuskan setiap organisasi politik (Orpol) organisasi kemasyarakatan (Ormas) mencantumkan Pancasila sebagai satu-satunya asas.

Kini yang menjadi pertanyaan ialah sampai Sejauh manakah keabsahan sistem hukum Pancasila itu dilihat dari kacamata hukum Islam? sebab bagaimanapun Pancasila yang menjadi sumber hukum nasional itu adalah ciptaan manusia.

Selanjutnya, bagaimanakah seharusnya hukum nasional yang bersumberkan Pancasila itu kita rumuskan? Hal ini memang perlu kita dudukkan secara proporsional.

Mengingat bahwa diakui atau tidak mayoritas bangsa Indonesia adalah terdiri dari umat Islam. Dengan demikian, dapat diharapkan umat Islam akan mempunyai pemahaman dan wawasan yang tepat dan benar dalam menatap sistem hukum Pancasila ini sepanjang hukum agamanya. Apabila hal ini sudah dapat kita dudukan secara tepat maka apa yang selama ini kita dambakan yaitu terwujudnya hukum nasional yang sehat insyaAllah akan segera menjadi kenyataan.

124 Pemikiran dan Pandangan Ibrahim Hosen tentang Kemasyarakatan TINJAUAN FILOSOFIS

Sebagaimana telah kita maklumi Pancasila dan UUD ‘45 adalah buatan manusia. Atas dasar ini, maka menurut kacamata ilmu siyasah syar'iyah (sebagian dari ilmu fikih) Pancasila dan UUD ‘45 termasuk ke dalam kategori Siyasah Wadl’iyah. Akan tetapi kalau kita lihat bahwa tiap-tiap sila dari Pancasila dan tiap-tiap pasal dari UUD

‘45 itu tidak ada yang bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum Islam yang bersifat kully (general) yang berhubungan dengan Hablum Minan Nas, yaitu:

 Musyawarah/permusyawaratan yang mempunyai ikatan dengan keimanan terhadap pencipta/Allah,

 Tidak memberatkan/mempermudah (Raf’ul Haraj)

 Tidak membawa kepada Jalan maksiat (Saddudz Dzari’ah)

 Mewujudkan keadilan yang merata (Al-’Adalah)

maka dari segi tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip tersebut, Pancasila dan UUD

‘45 dapat kita kategorikan ke dalam siyasah syar'iyah. Dalam hubungan ini Imam Ibnu Aqil berkata:

ُة َسإَ ِّ سلا ُْْكٍَ ًلاْؼِف َن َكَ إَم

ََُؼَم ُن