• Tidak ada hasil yang ditemukan

رطلا َعا

Dalam dokumen Asrama Di Pondok Wanita (Halaman 146-152)

َة َم ِف ْع َي ِة ِص

ِللها . ِإ رن َمَ

رطلا َعا ُة ِف ْا َل ُر ْع ْو ِف

».

“Tidak ada ketaatan di dalam kemaksiatan kepada Allah.

Hanyalah ketaatan itu boleh terjadi pada perkara yang ma’ruf.” (HR. Al Bukhariy (7257) dan Muslim (1840) dan ini adalah lafazh Muslim).

Dan diriwayatkan dari Abdurrahman Bin Mahdiy: dari Zubaid: dari Sa’d Bin Ubaidah: dari Abu Abdirrahman As Sulamiy: dari Ali Bin Abi Thalib هنع الله يضر: dari Rasulullah ﷺ yang bersabda:

« َلَ

َعا َط َة ْخ َِل ْو ُل ٍق َم ِف ْع َي ِة ِص ِللها ّزع - ّلجو -

» .

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk di dalam kemaksiatan kepada Allah لجو زع.” (HR. Abdullah Bin Al Imam Ahmad, sebagaimana di dalam “Musnad Al Imam Ahmad” (1095/ cet.

Ar Risalah), dengan sanad yang shahih).

Dan dari Imran Bin Hushain امهنع الله يضر: bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

« َلَ

َعا َط َة ْخ َِل ْو ُل ٍق َم ِف ْع َي ِة ِص ِللها

» .

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk di dalam kemaksiatan kepada Allah.” (HR. Al Imam Ahmad dalam “Musnad” (2056),

Ath Thabraniy dalam “Al Kabir” (571) dan Al Harits sebagaimana dalam “Al Bughyah” (601), dengan sanad yang shahih).

Al Imam Ahmad الله همحر juga meriwayatkan itu dalam hadits Al Hakam Bin Amr Al Ghifariy هنع الله يضر (Sebagaimana dalam “Al Musnad” (20653/ cet. Ar Risalah), dengan sanad yang shahih).

Al Allamah Ibnu Nujaim Al Hanafiy الله همحر berkata:

“Hanyalah tradisi (adat manusia –pen) itu tidak mu’tabar di dalam perkara yang dinashkan.” (“Al Asybah Wan Nazhair”/Ibnu Nujaim/hal. 116).

Maka khilaf yang mu’tabar dan boleh dilakukan adalah khilaf di dalam pandangan-pandangan para fuqaha di dalam masalah yang mana tidak ada di dalamnya dalil yang jelas.

Adapun di dalam masalah yang mana sudah ada nash di dalamnya, maka tidak boleh ada ikhtilaf di dalamnya, karena yang wajib adalah: kita mengikuti dalil, dalam rangka menaati Allah ta’ala dan Rasulullah ﷺ.

Syamsul Aimmah As Sarkhasiy الله همحر berkata: “Dan bersamaan dengan sudah adanya nash, maka ikhtilaf para ulama itu tidak mu’tabar.” (“Al Mabsuth”/As Sarkhasiy/11/hal. 195).

Al Imam Abu Ishaq Musa Bin Ibrahim Asy Syathibiy Al Malikiy الله همحر berkata di dalam membantah pendalilan sebagian ahli bid’ah: “Dan yang seringkali kejahilan terhadap bahasa Arab itu menjerumuskan orang ke dalam kehinaan yang tidak diridhai oleh orang yang berakal. Kita berlindung kepada Allah dengan karunia-Nya; dari kejahilan dan

pengamalannya. Maka pendalilan yang semacam itu tidak perlu dipedulikan. Dan gugurlah pembicaraan dengan para pemegang pendalilan macam tadi. Dan khilaf dari orang- orang yang semacam mereka itu tidak dinilai sebagai khilaf.

Kemudian pendalilan apapun yang mereka pakai di dalam hukum-hukum percabangan ataupun prinsipil; maka dia itu adalah kebid’ahan itu sendiri, karena dia itu keluar dari rute bahasa Arab menuju kepada hawa nafsu.” (“Al I’tisham”/Asy Syathibiy/2/hal. 49-50).

Beliau الله همحر juga berkata dalam menukilkan ucapan para ulama Zhahiriyyah: “Maka setiap pendapat yang menyelisihi nash-nash adalah tidak mu’tabar.” (“Al Muwafaqat”/Asy Syathibiy/4/hal. 230).

Al Imam Abdullathif Bin Abdirrahman Alusy Syaikh الله همحر berkata tentang orang yang menjadikan setiap khilaf sebagai syubhat (kesamaran -pen) yang mana dengan itu hudud (hukuman fisik –pen) harus ditolak: “Khilaf itu bukanlah syubhat(41), dan khilaf itu tidak perlu ditoleh jika

(41) Abu Fairuz الله هقفو berkata: yang dimaksudkan dengan syubhat di sini adalah: suatu kesamaran yang memang mungkin ada, bukannya segala jenis kesamaran.

Maka dari itu Asy Syaikh Al Allamah Muhammad Abdirrahman Al Mubarakfuriy اللههمحر berkata: “... Disyariatkannya menolak hudud dengan adanya syubhat-syubhat yang memang mungkin ada, bukannya semua syubhat.” (“Tuhfatul Ahwadziy”

/4/hal. 574).

menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah atau ijma’. Dan masalah ini telah disepakati oleh kaum Muslimin, tidak ada kerumitan kecuali bagi orang-orang yang tolol (sangat bodoh).

Pemutlakan ucapan bahwasanya “Khilaf adalah kesamaran”

akan menghantam balik dan membatalkan serta meruntuhkan Islam.”(42) (“Minhajut Ta’sis Wat Taqdis”/

Abdullathif/1/hal. 83).

Beliau الله همحر juga berkata: “Maka jarang sekali ada suatu hukum dari hukum-hukum ijtihadiyyah kecuali di dapatkan di dalamnya khilaf. Dan termasuk perkara yang telah diketahui bahwasanya telah datang berita dari Nabi ﷺ bahwasanya umat ini akan terpecah-belah menjadi tujuh

Al Allamah Al Munawiy الله همحر berkata: “Dengan syubuhat, yaitu: kesamaran, sebagaimana di dalam “Al Qamus”.”. (“Faidhul Qadir”/1/hal. 227).

(42) Abu Fairuz الله هلللقفو berkata: Ini jelas sekali bahwasanya orang yang menjadikan setiap khilaf sebagai dalil bahwasanya syariat Islam di dalam masalah tadi masih senantiasa tersamarkan bagi semua umat manusia, lalu dia membolehkan untuk setiap orang memilih di dalam masalah tadi pendapat yang disukainya, sehingga dia menghalalkan atau mengharamkan sesuai kesukaannya, maka sesungguhnya dia itu jahil atau pengekor hawa nafsu, dia tidak mengikuti syariat Islam kecuali yang sesuai dengan hawa nafsunya.

puluh tiga kelompok(43). Mereka berselisih di dalam agama mereka.

Dan para ulama telah bersepakat tentang pendapat ini, dan bahwasanya tidak boleh menoleh kepada setiap khilaf, terutama khilaf yang menyelisihi nash-nash dan ijma’.”

(Selesai dari “Minhajut Ta’sis Wat Taqdis”/1/hal. 84).

Beliau الله همحر juga berkata: “Seandainya ribuan orang berfatwa dengan suatu fatwa yang menyelisihi nash-nash, maka mereka ada di suatu sisi, sedangkan nash ada di sisi yang lain, sekalipun nash dan hujjah menyertai satu orang saja dibandingkan dengan ribuan orang tadi.

Al Fudhail Bin Iyadh berkata: “Janganlah engkau merasa kesepian di jalan ini karena sedikitnya orang yang berjalan (di atasnya), dan janganlah engkau terpedaya dengan kebatilan karena banyaknya orang-orang yang binasa (mengikuti kebatilan –pen).”

Dan yang lebih bagus dari itu dan lebih menunjukkan pada makna tadi adalah firman Allah ta’ala:

للها ِليِب َس ْنَع َكوهل ِضُي ِضْرَ ْلأا ِف ْنَم َرَثْكَأ ْعِطُت ْنِإَو ﴿

] :ماعنلأا 224

[.

(43) Abu Fairuz الله هقفو berkata: takhrij hadits yang diisyaratkan itu telah berlalu.

Dan jika kamu menaati kebanyakan orang-orang yang di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.

Maka batallah pendalilan dengan memakai mayoritas orang, di dalam masalah prinsip dan masalah cabang. Dan alangkah bagusnya yang dikatakan:

َو َل ْي َس ُك هل ِخ َلَ

َج ٍف َءا ُم ْع َب َت ًا * ِإ رلَ

ِخ َلَ

ف ُه َل َح ٌّظ َن ِم رنلا َظ ِر .

“Dan tidaklah setiap khilaf itu datang dalam keadaan mu’tabar, kecuali khilaf yang memiliki hazhzh (bagian yang diidzinkan) di dalam penelitian.”

(Selesai dari “Minhajut Ta’sis Wat Taqdis”/1/hal. 84).

Maka ini jelas sekali bahwasanya khilaf yang mu’tabar adalah khilaf di dalam suatu perkara yang tidak ada nash di dalamnya, sehingga para ulama boleh untuk berijtihad di dalamnya, maka setiap mujtahid punya suatu bagian dari kuatnya hujjah. Kemudian: kita mengikuti hasil ijtihad yang nampak bagi kita lebih dekat kepada salah satu dari dasar syariat, dan kita memaafkan ulama yang keliru di dalam ijtihadnya, dan kita tidak mengikuti kesalahannya tadi.

Adapun jika di dalam masalah tadi sudah ada nashnya, maka wajiblah bagi setiap hamba dari hamba-hamba Allah untuk menaati nash tadi, dan dia tidak boleh berikhtilaf di dalamnya, karena khilaf tadi tidak mu’tabar.

Al Allamah Shiddiq Hasan Khan At Tanukhiy الله همحر berkata: “Ikhtilaf (perselisihan) di dalam masalah furu

(cabang-cabang syariat –pen) itu biasa terjadi, sebagaimana di dalam masdzhab-madzhab yang empat. Dan orang-orang yang berselisih di dalamnya terpuji karena mengikuti ijtihad mereka (imam madzhab-madzhab tadi –pen), selama tidak menyelisihi nash.” (“Qathfuts Tsamar Fi Aqidati Ahlil Atsar”/Shiddin Hasan/hal. 144).

Para ulama Lajnah Daimah yang dipimpin oleh Al Imam Ibnu Baz الله همحر berkata: “Allah ta’ala berfirman:

َلََف ا َهَقرلَط ْنِإَف﴿

َحاَن ُج َلََف اَهَقرلَط ْنِإَف ُهَ ْيَْغ ا ًجْوَز َحِكْنَت ىرت َح ُدْعَب ْنِم ُهَل هلِ ََ

للها َدو ُد ُح َمَيِقُي ْنَأ ارنَظ ْنِإ اَع َجاَ َتََي ْنَأ َمَِهْيَلَع

﴾ ] ةرقبلا : 320 [ .

“Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia (si wanita) kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya menyangka akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah.”

Dan barangsiapa berpendapat seIain ini, maka khilaf dia tidak terpandang dan tidak teranggap, karena dia keluar dari ijma’ ulama dan menyelisihi nash. Dan ijtihad itu tidak terpandang bersamaan dengan sudah adanya nash.

Dalam dokumen Asrama Di Pondok Wanita (Halaman 146-152)