َو . َلَ
َر َي ْأ ِلأ ح ٍد ِفي ُس ن ٍة
س ن ه ُلوسر ا
ِللها ﷺ .
Umar Bin Abdil Aziz menulis surat bahwasanya: “Tidak ada ra’yu bagi siapapun di dalam Kitab Suci. Ra’yu para imam itu hanya boleh diambil di dalam perkara yang mana tidak turun tentangnya Kitab Suci, dan tidak berlalu dengannya suatu Sunnah dari Rasulullah ﷺ. Dan tidak ada ra’yu bagi siapapun di dalam sunnah yang telah disunnahkan oleh Rasulullah ﷺ.”
(Diriwayatkan oleh Ad Darimiy di dalam “Sunan” no. (432) dan Al Khathib Al Baghdadiy dalam “Al Faqih Wal Mutafaqqih”
(548) dengan sanad yang shahih).
Dan atsar ini jelas sekali bahwasanya penggunaan ra’yu untuk menentang wahyu itu tidak perlu dipedulikan, sebagaimana pemakaian akal untuk menyelisihi dalil naqli tidak perlu ditoleh, dan sebagaimana penelitian untuk menyelisihi atsar adalah tidak mu’tabar.
Al Imam Ahmad Bin Hanbal Asy Syaibaniy الله همحر manakala disebutkan tipu daya yang dilakukan oleh para pengagung ra’yu, beliau berkata: “Mereka membuat tipu daya untuk membatalkan sunnah-sunnah Rasulullah ﷺ.
(“Masailul Imam Ahmad”/riwayat Abu Dawud As Sijistaniy/hal. 367).
Ini jelas bahwasanya ra’yu jika menyelisihi nash, maka sesungguhnya dia itu tertolak dan tercela, maka dia itu tidak dikatakan bahwasanya itu adalah khilaf yang mu’tabar.
Syamsul Aimmah (Matahari para imam) Muhammad Bin Ahmad As Sarkhasiy Al Hanafiy الله همحر berkata: “Ta’amul (pergaulan atau transaksi) yang menyelisihi nash adalah tidak mu’tabar (terpandang). Dan hanyalah yang terpandang itu ta’amul di dalam masalah yang tidak ada nashnya.” (“Al Mabsuth”/As Sakhasiy/12/hal. 358).
Beliau الله همحر juga berkata: “Hanyalah balwa (ujian atau bencana yang menyusahkan dan menuntut diadakannya keringanan –pen) itu terpandang di dalam perkara yang tidak ada nash di dalamnya. Adapun bersamaan dengan adanya nash (yang melarang –pen), maka balwa tadi tidak terpandang.” (“Al Mabsuth”/4/hal. 7).
Al Allamah Ibnu Aqil Al Hanbaliy الله همحر berkata:
“Maka jika perkara yang diperintahkan dan perkara yang dilarang itu telah dinashkan, maka tidak boleh ada ijtihad bersamaan dengan sudah adanya nash, berdasarkan apa yang telah kami terangkan.” (“Al Wadhih Fi Ushulil Fiqh”/Ibnu Aqil/5/hal. 371).
Al Imam Ibnu Abdil Barr Al Malikiy الله همحر berkata:
“Dan mayoritas ulama berkata: jika atsar telah shahih dari sisi sanadnya, batallah qiyas dan penelitian (yang bersifat menyelisihi atsar –pen).” (“Jami’ Bayanil Ilm”/Ibnu Abdil Barr/3/hal. 392).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah الله همحر berkata:
“Kemungkinan terjadinya kekeliruan pada ra’yu-ra’yu para ulama itu lebih banyak daripada kemungkinan terjadinya kekeliruan pada dalil-dalil syar’iyyah, karena dalil-dalil syar’iyyah adalah hujjah (argumentasi) Allah terhadap seluruh hamba-Nya, berbeda dengan ra’yu seorang alim.”
(“Raf’ul Malam ‘An Aimmatil A’lam”/Syaikhul Islam/hal. 36).
Beliau الله همحر juga berkata: “Engkau akan mendapati orang yang terbiasa menentang syariat dengan memakai ra’yu itu, keimanan tidak akan menetap di dalam hatinya.”
(“Dar’u Ta’arudhil ‘Aql Wan Naql”/Syaikhul Islam/1/hal. 115).
Dan Al Imam Ibnul Qayyim الله همحر berkata: “Dan dulu para Salaf; terasa berat bagi mereka penentangan nash-nash dengan memakai ra’yu-ra’yu para tokoh, dan mereka tidak membiarkan itu terjadi.” (“Ash Shawa’iqul Mursalah”/1/hal.
496).
Dan beliau الله همحر juga berkata: “Dan asal setiap bencana di alam ini adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad Asy Syahrastaniy: disebabkan oleh penentangan nash dengan memakai ra’yu, dan mendahulukan hawa nafsu daripada syariat.” (“Ash Shawa’iqul Mursalah”/2/hal.
6).
Maka rasio yang dibangun di atas qiyas atau yang lainnya di dalam menyelisihi wahyu atau menyelisihi nash;
maka rasio tadi tidak mu’tabar.
Al Khathib Al Baghdadiy الله همحر berkata: “Abu Hanifah juga mengucapkan suatu perkataan yang mencela qiyas, dan celaan beliau tadi dibawa kepada makna bahwasanya beliau
memaksudkan qiyas yang menyelisihi nash.” (“Al Faqih Wal Mutafaqqih”/2/hal. 113).
Abu Bakr Ibnu Mas’ud Al Kasaniy Al Hanafiy الله همحر berkata saat membantah sebagian pendapat yang terkait dengan masalah ukuran zakat: “... Padahal itu adalah qiyas yang berhadapan dengan nash, dan dia itu adalah batil.”
(“Bada’iush Shanai’ Fi Tartibisy Syarai’”/Al Kasaniy/2/hal. 18).
Al Imam Ibnu Qudamah Al Maqdasiy Al Hanbaliy همحر الله berkata saat membantah orang yang membolehkan pencampuran hewan piaraan yang dibiarkan bebas, dan yang terkait dengan pengaruhnya dalam zakat: “... Dan qiyas mereka bersamaan dengan penyelisihan terhadap nash itu tidak layak didengar.” (“Al Mughniy”/2/hal. 455).
Al Allamah Alauddin Al Bukhariy Al Hanafiy الله همحر berkata: “... Karena qiyas itu tidak terpandang jika berhadapan dengan nash.” (“Kasyful Asrar”/7/hal. 325).
Al Allamah Muhammad Amin Al Bukhariy Al Hanafiy الله همحر berkata tentang masalah qiyas: “ ... Karena dia itu tidak terpandang jika berhadapan dengan nash.” (“Taisirut Tahrir”/3/hal. 154).
Al Allamah Ahmad Ibnu Syakhinah Ats Tsaqafiy Al Hanafiy الله همحر berkata: “Qiyas itu jika berhadapan dengan nash dan ijma’ itu tidak terpandang.” (“Lisanul Hukkam”/Ibnusy Syakhinah/hal. 360).
Al Allamah Muhammad Bin Ahmad Al Gharnathiy الله همحر berkata: “Qiyas itu tidak terpandang bersamaan
dengan sudah adanya nash.” (“Taqribul Wushul Ila Ilmil Ushul”/Al Gharnathiy/hal. 186).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah الله همحر berkata: “Telah diketahui tentang wajibnya mendahulukan nash di atas ra’yu, dan mendahulukan syari’at di atas hawa nafsu. Maka dasar yang menyebabkan orang-orang yang beriman pada para Rasul itu berpecah dengan orang-orang yang menyelisihi para Rasul adalah: kaum Mukminin mendahulukan nash-nash para Rasul di atas ra’yu-ra’yu, dan kaum Mukminin mendahulukan syariat-syariat para Rasul di atas hawa nafsu-hawa nafsu. Dan asal keburukan adalah: mendahulukan ra’yu di atas nash, dan mendahulukan hawa nafsu di atas syariat.
Maka orang yang hatinya disinari oleh Allah, dia akan melihat kemaslahatan dan kebaikan yang ada pada nash dan syariat(38), karena jika tidak demikian; maka dia itu memang wajib mematuhi nash Rasulullah ﷺ dan syariat beliau, dan dia tidak berhak untuk menentangnya dengan rasionya dan hawa nafsunya.”
(Selesai dari “Minhajus Sunnah”/Ibnu Taimiyyah/8/hal. 214).
Al Imam Ibnul Qayyim Ad Dimasqiy الله همحر berkata:
“Dan qiyas jika berbenturan dan berlawanan dengan nash, maka dia adalah qiyas yang batil.” (“Ash Shawa’iqul Mursalah”/1/hal. 457).
(38) Abu Fairuz الله هقفو berkata: yaitu: sama saja dia mengetahui sisi kebaikan dan kemaslahatan yang ada di dalam nash dan syariat ataukah belum mengetahuinya.
Al Imam Muhammad Asy Syaukaniy الله همحر berkata tentang sebagian urusan penyembelihan: “... Itu adalah qiyas yang rusak i’tibarnya, karena dia berbenturan dengan nash- nash.” (“Nailul Authar”/5/hal. 120).
Al Imam Muhammad Ibnu Utsaimin الله همحر berkata tentang sebagian urusan perserikatan niaga: “ ... Dan dengan ini menjadi jelaslah bahwasanya qiyas tadi adalah rusak.
Pertama: karena dia berbenturan dengan nash. Dan setiap qiyas yang berbenturan dengan nash, maka sungguh dia itu tertolak.” (“Fathu Dzil Jalali Wal Ikram”/Al Utsaimin/4/hal.
241/cet. Al Maktabatul Islamiyyah).
Maka ra’yu seorang faqih semata-mata itu jika menyelisihi suatu nash, tidaklah ra’yu tadi terpandang.
Al Imam Sulaiman Ath Thufiy Al Hanbaliy الله همحر berkata: “Seperti ucapan orang yang berkata: “Sesungguhnya orang yang serba memiliki kemudahan, seperti raja dan sebagainya, dia wajib untuk berpuasa di dalam kaffarah menggauli istri di siang hari Ramadhan, dan dia tidak boleh diberi pilihan antara puasa, membebaskan hamba sahaya, dan memberikan makanan; karena faidah kaffarah adalah:
untuk menghardiknya dari melakukan jinayah (kejahatan) terhadap peribadatan. Dan orang semacam tadi tidak akan terhardik dengan beban pemerdekaan hamba ataupun memberikan makanan; karena harta dia itu banyak, sehingga mudah saja baginya untuk membebaskan hamba untuk menunaikan syahwatnya, padahal terkadang tidak akan mudah baginya untuk berpuasa sesaat saja. Maka jadilah puasa itu lebih mampu untuk menghardiknya, sehingga puasa itulah yang wajib dibebankan padanya.” Maka alasan ini dan
yang semacam itu harus dibuang, tidak terpandang, karena alasan semacam tadi merupakan usaha untuk merubah syariat dengan memakai ra’yu, dan itu adalah tidak boleh.
Seandainya syariat menginginkan yang demikian tadi pastilah dia telah menerangkannya atau memperingatkannya di dalam hadits orang badui ataupun yang lainnya(39), karena
(39) Abu Fairuz الله هللللقللللفو berkata: Di antaranya adalah hadits Abu Hurairah هنع الله يضر:
أ ر ن ُج أ ت ًلا لوسر ى
ِللها ﷺ ف ق لا ي: لوسر ا
ِللها ه، ل ُت ك . ق لا : َو« َْيُ
َك
» . ق لا و ق: ع ُت ع لى
ه أ ِلِّ
ِفي ر م ض نا . ق لا : « ْع ِت َأ َر ْق َق َب ًة
» . ق لا م: أ ا د ِج ها . ق لا : ُص« َف ْم ْه َش َر ْي ُم َت ِن َت َع ِبا ِ ْي
».
ق لا :
لا س أ ت ي ُع ِط . ق لا : « َف َأ ْط ْم ِع ِّت ِس َ ْي ْس ِم ْي ًان ِك
».
ق لا م: أ ا ُد ِج . ف ُأ ِت ع ِب ر ٍق ف ق لا : ُخ ُه ذ ف ت ص د ق
ِب ِه . ف ق لا ي: لوسر ا
ِللها
، ع أ لى
؟ا نِم ر ق ف أ ما ف
ين ب ٍت ي ب ُل ه أ ا ه ي ت ب لا ُر ق ف أ
ِم ن ي . ض ف ِح ك نلا ي ِب
ح ﷺ ب ى ت د ت أ ن ي ُبا ُه،
ق لا : ُخ« ُه ْذ َكَلاَيِع ْمِعْطَأَف
».
“Bahwasanya ada seorang lelaki yang mendatangi Rasulullah ﷺ seraya berkata: “Wahai Rasulullah, saya telah binasa”. Maka Nabi ﷺ bertanya: “Kasihan kamu”. Dia menjawab: “Saya menjima’i istri saya pada siang hari Ramadhan”, Maka beliau bersabda:
“Merdekakanlah seorang hamba sahaya”. Dia berkata: “Saya tidak mendapatkannya”. Beliau bersabda: “Maka berpuasalah dua bulan berturut-turut”. Dia berkata: “Saya tidak mendapatkannya”.
Beliau bersabda: “Maka berikanlah makanan untuk enam puluh orang miskin”. Dia berkata: “Saya tidak mendapatkannya”. Lalu dia duduk. Kemudian Nabi diberi seseorang satu keranjang (kurma), maka beliau bersabda: “Ambillah ini lalu bersedekahlah dengan
mengakhirkan keterangan dari waktu yang diperlukan adalah tidak boleh.” (“Syarhu Mukhtasharir Raudhah”/3/hal. 205- 206).
Al Imam Kamaluddin Muhammad Bin Abdil Wahid As Siwasiy yang terkenal sebagai Ibnul Humam الله همحر berkata:
“Dan perkawinan yang mutlak hanyalah menjadi pasti dengan adanya pernikahan yang sah. Dan syarat dukhul (persetubuhan) telah pasti dengan adanya siyarat dari nash, yaitu: perkawinan dibawa kepada makna persetubuhan, dalam rangka untuk membawa ucapan syariat kepada pemberian faidah, tanpa harus mengulang-ulang, karena istilah akad itu telah diketahui dari istilah “Suami” secara mutlak, atau ditambahkan kepada nash dengan hadits yang terkenal, yaitu sabda Nabi ملاسلاو ةلاصلا هيلع :