• Tidak ada hasil yang ditemukan

Adaptasi dan inovasi organisasi

BAB III PEMBAHASAN

6. Adaptasi dan inovasi organisasi

Tiga perspektif umum adaptasi organisasional yaitu mencakup tiga hal53 :

1) Seleksi alamiah adalah merupakan proses penempatan diri (process of alignment) secara alamiah. Karakteristik struktur organisasi yang kompatibel atau sesuai dengan lingkungan itulah organisasi yang akan bertahan dan menunjukkan kinerja yang baik.

2) Seleksi rasional adalah merupakan proses penempatan diri (process of alignment) secara rasional. Manajer memilih, mengadopsi, dan meninggalkan struktur dan proses organisasi agar mendapat keseimbangan dengan lingkungan untuk tetap bertahan dan berkembang.

3) Pilihan strategis (strategic choice) adalah merupakan alternatif, dengan ciri-ciri :

1) Dominant coalition yaitu kelompok pengambilan keputusan dengan memiliki pengaruh yang terbesar (dominan)

2) Perceptions yaitu dominant coalition menciptakan lingkungan yang sesuai dengan organisasi

52Yukl, G., Kepemimpinan dalam Organisasi, Terj. Yusuf Udaya (Jakarta: Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Prehallindo, 1998) h.132

53Miles dan Snow (1978) dalam Amir Syarifudin Kiwang, David D. W. Pandie, dan Frans Gana, Analisis Kebijakan dan Efektivitas Organisasi,,, h.76

3) Segmentation yaitu dominant coalition bertanggung jawab memilah lingkungan dan menentukan komponen-komponen tersebut sesuai dengan subunit organisasi

4) Scanning activities yaitu dominant coalition bertanggung jawab untuk melakukan pengamatan (surveillance) elemen lingkungan yang kritikal terhadap organisasi, dan dynamic constraints yaitu kendala strategi, struktur, dan kinerja organisasi baik yang terdahulu maupun yang sedang berjalan berhadapan dengan keputusan yang diambil oleh dominant coalition.

Inovasi adalah suatu gagasan baru yang diterapkan untuk memprakarsai atau memperbaiki suatu produk, proses, atau jasa.54 Adanya hubungan yang jelas antara inovasi dan pengembangan keunggulan bersaing dan perolehan keuntungan di atas rata-rata, banyak perusahaan tertarik mempelajari bagaimana menghasilkan inovasi dan mengelola proses inovasi tersebut dengan efektif.55

Dalam industri, lingkungan yang dinamis telah menjadi kenyataan hidup. Inovasi pun menjadi erat kaitannya dengan keefektifan organisasi.56 Walaupun demikian, tidak mudah melahirkan ide-ide inovatif apalagi menerapkannya. Banyak faktor yang

54Van de Ven, A., Control Problem in the Management of Innovation. Management Science. 1986, h.590

55Lengnick-Hall, dalam Hitt, M.A., R.E. Hoskisson, dan H. Kim, International Diversification: Effects on Innovation and Firm Performance in Product-Diversified Firm, (Academy of Management Journal, 1997) h.383

56Robbins, Stephen, Organization Theory: Structure, Design, and Applications, (New York: Prentice-Hall, Inc., Englewood Clifs, 1990) h. 436

mempengaruhi penerapan inovasi organisasional secara efektif. Aspek struktural, budaya, dan sumber daya manusia merupakan karakteristik yang selalu muncul bila peneliti mempelajari organisasi yang inovatif.57 Hal ini ternyata didukung oleh suatu tinjauan menyeluruh atas persoalan inovasi yaitu struktur organik secara positif mempengaruhi inovasi.58

Struktur organik ini lebih rendah dalam diferensiasi vertikal, formalisasi, dan sentralisasi, organisasi organik mempermudah fleksibilitas, penyesuaian, dan interaksi silang yang membuat penerapan inovasi menjadi lebih mudah. Struktur organik juga mendorong terjadinya komunikasi antarunit yang tinggi, misalnya saja ada komite, satuan tugas, tim silang-fungsional, dan mekanisme lain yang mempermudah interaksi melintasi garis-garis departemental.59

Azra menyatakan bahwa potensi zakat terus meningkat setiap tahunnya dan hal ini menjadi kesempatan bagi lembaga amil zakat untuk menghimpun dan mengelola zakat.60 Pada tahun 2019, besaran potensi zakat di Indonesia mencapai 233.8 triliun Rupiah.61 Besarnya potensi tersebut diikuti oleh pertumbuhan pengumpulan zakat tiap tahunnya.

57Robbins, Stephen, Perilaku Organisasi: Konsep Kontroversi Aplikasi Edisi Kedua, (Jakarta: Prenhallindo, 1996) h.336

58Damanpour, F., Organizational Innovation: A Meta-Analysis of Effects of Determinants and Moderators, (Academy of Management Journal: 1991) h.557

59Monge, PR., M.D. Cozzens, dan NS. Contractor, Communication and Motivational Predictors of the Dynamics of Organizational Innovation, (Organization Science: 1992) h.250

60Azyumardi Azra, Negara dan Filantropi Islam (1). Diakses melalui https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/wakaf/14/05/19/negara-dan-filantropi-islam-1 pada 20 Juli 2020 pukul 04.23 WITA

61Pusat Kajian Strategis Badan Amil Zakat Nasional, Outlook Zakat Indonesia 2020.

(Jakarta: Badan Amil Zakat Nasional, 2019) h.9

Tahun 2020, BAZNAS mendata bahwa secara keseluruhan dalam tiga tahun terakhir (2015-2018), terjadi peningkatan yang besar dari pengumpulan zakat sebesar 122% atau sekitar Rp4,5 Triliun.

Meskipun mengalami peningkatan pengumpulan zakat tiap tahunnya, realisasi dari potensi yang ada masih sangat minim.

Berdasarkan Outlook Zakat Indonesia 2020 milik Puskas BAZNAS, realisasi pengumpulan zakat hanya sekitar 8,2 triliun rupiah di tahun 2018 atau hanya sekitar 3,51% dari total potensi sebesar 233 triliun rupiah.

Salah satu alasan rendahnya penghimpunan zakat di Indonesia ialah masih lemahnya kepercayaan masyarakat terhadap Badan atau Lembaga Amil Zakat di Indonesia.62 Akibatnya, masyarakat lebih percaya dengan menyalurkannya secara langsung kepada mustahik.

Dalam mengatasi kesenjangan potensi zakat dan realisasi zakat di Indonesia, di tahun 2014 pemerintah Indonesia melalui Inpres No. 3 Tahun 2014 menginstruksikan agar Organnisasi Pengelola Zakat (OPZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) di Indonesia bekerjasama dengan BAZNAS untuk mensosialisasikan mengenai kewajiban dan kesadaran menunaikan zakat kepada masyarakat yang berada dalam suatu institusi dan menunaikannya melalui OPZ dan LAZ yang ada di Indonesia.63

Lembaga zakat saat ini sudah semestinya melakukan tindakan strategis seperti kampanye zakat secara profesional berdasarkan data. Hal

62Hafidhuddin, D. (2011). Peran Strategis Organisasi Zakat dalam Menguatkan Zakat di Dunia. Jurnal Ekonomi Islam AlInfaq 2(2): 2087-2178.

63Pusat Kajian Strategis Badan Amil Zakat Nasional, Efektivitas Kampanye Zakat Terhadap Brand Lembaga dan Pengumpulan Zakat 2020. (Jakarta: Badan Amil Zakat Nasional, 2020) h.1

tersebut membuat pengambilan keputusan menjadi lebih tepat sasaran sesuai dengan target kampanye zakat. Dalam proses kampanye zakat, lembaga zakat perlu melakukan evaluasi untuk mengukur seberapa efektif kampanye zakat yang telah dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat keberhasilan kampanye zakat tersebut. Tingkat efektivitas dapat diukur dengan menggunakan epic model yang dikembangkan oleh A.C. Nielsen dan terdiri dari empat faktor (Bram, 2005),64 yaitu:

1. Empathy (empati)

Dimensi empati adalah pendapat konsumen terhadap suatu produk yang dapat dilihat dari seberapa besar konsumen tersebut menyukai produk tersebut. Sehingga dimensi ini dapat menggambarkan tingkat efektifitas sebuah kampanye dari tingkat kesukaan konsumen terhadap suatu promosi.

2. Persuasion (persuasi)

Persuasi, sebagai tingkat lanjut dari empati, adalah dimensi yang menunjukan rasa ketertarikan dan keinginan konsumen untuk membeli suatu produk. Hal ini dapat dilihat dari informasi apa yang dapat diberikan suatu kampanye untuk meningkatkan nilai pembeli.

3. Impact (dampak)

Setelah ada ketertarikan, konsumen akan mulai membandingkan suatu produk dengan merek lain. Dimensi ini menunjukkan tingkat

64Bram, Y. F. Analisis Efektivitas Iklan sebagai Salah Satu Strategi Pemasaran Perusahaan Percetakan dan Penerbitan PT. Rambang dengan Menggunakan Metode EPIC Model.

Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya V o l . I I I (6). 2005. h.2

pengetahuan konsumen terhadap produk dan juga tingkat kreativitas iklan suatu produk dibandingkan merek lainnya.

4. Communication (komunikasi)

Dimensi terakhir ini melibatkan tiga hal. Pertama adalah kejelasan informasi. Kemudian, kemampuan suatu kampanye dalam mengkomunikasikan pesan. Dan yang terakhir adalah tingkat konsumen memahami serta mengingat suatu produk.

Melalui empat dimensi kritis yang dikenalkan oleh AC Nielsen ini, sebuah kampanye bisa dinilai sejauh mana pesan yang disampaikan dapat disukai, menarik perhatian, memberi dampak dan juga dipahami oleh sasarannya untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki.

Lebih jauh, untuk mendorong pengumpulan zakat, kampanye zakat perlu dilakukan secara efektif terhadap masyarakat. Penelitian Hafidhuddin mengenai Analisis Efektivitas Promosi Lembaga Amil Zakat dalam Penghimpunan Zakat Bagi Peningkatan Kesejahteraan Keluarga Dhuafa juga menggunakan EPIC model.65 Hasil riset menyatakan bahwa sosialisasi dan kampanye zakat memberikan hasil yang positif terhadap kesadaran masyarakat untuk berzakat yang kemudian berimplikasi kepada meningkatnya tingkat penghimpunan zakat.

B. Implikasi Kehadiran YBM PLN UIW NTB bagi Usaha Mikro di NTB