BAB I PENDAHULUAN
E. Penelitian Terdahulu yang Relevan
Untuk mengetahui lebih jelas tentang penelitian ini, kiranya penting untuk mengetahui penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian ini, sebagai acuan peneliti dalam melakukan penelitian baik secara teori maupun kontribusi keilmuan, dan mengetahui sejauh mana perbedaan atau persamaan dengan penelitian lainnya. Penelitian yang dimaksud antara lain :
1. Penelitian oleh Muhammad Zen seorang akademisi (dosen) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan judul “Zakat Profesi sebagai Distribusi Pendapatan Ekonomi Islam” jurnal HUMAN FALAH:
Volume 1, No. 1 Januari – Juni 2014.
Dalam penelitiannya, muhammad zen mengemukakan fokus masalahnya yaitu distribusi adalah sektor paling penting dalam kegiatan ekonomi. Termasuk dalam ekonomi Islam, studi mengenai distribusi pendapatan dari zakat profesi sangat menarik perhatian para ekonom muslim karena dapat memberi dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan model analisis deduktif yaitu metode analisa umum atau generalisasi yang diuraikan menjadi contoh-contoh kongkrit atau fakta-fakta untuk menarik kesimpulan tentang bagaimana seharusnya distribusi zakat profesi menjadi efektif.
Kesimpulan dalam penelitian ini adalah zakat profesi memiliki peranan strategis dan penting dalam distribusi ekonomi Islam sebagai upaya pengentasan kemiskinan dan pembangunan ekonomi umat. Hal ini karena zakat menurutnya akan dapat mencegah terjadinya akumulasi harta pada satu tangan. Sehingga muzakki dengan adanya zakat profesi akan menolong, membantu, dan membina mustahik kepada kehidupan yang lebih baik.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilaksanakan oleh peneliti adalah pada pokok kajian dan tujuannya.
Penelitian oleh Muhammad Zen lebih menitik beratkan pada teori-teori distribusi untuk mencari korelasi dengan aplikasi dari zakat profesi dalam kehidupan umat. Sedangkan penelitian yang akan dilaksanakan peneliti lebih fokus kepada manajemen pengelolaan zakat profesi yang dilakukan oleh Yayasan Baitul Mal (YBM) PLN NTB.
2. Penelitian oleh Muhammad Adiguna Bimasakti seorang praktisi Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Makassar dengan judul
“Menunjau Zakat Penghasilan pada Fatwa MUI No. 3 Tahun 2003 dan Ijtihad Yusuf Qardhawy” jurnal Hukum Islam, Volume XVIII No. 2 Desember 2018.
Pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah; 1) Apakah dasar pengambilan hukum dan penghukuman terhadap zakat penghasilan yang digunakan dan diambil dalam fatwa MUI No.3 tahun 2003 tersebut sama dengan ijtihad Yusuf Qardhawy yang dijadikan
rujukan dalam fatwa tersebut ? dan, 2) Apakah pengenaan zakat profesi ini sesuai dengan tuntunan syariah Islam ?
Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi komparatif antara fatwa MUI No.3 tahun 2003 dengan ijtihad Yusuf Qardhawy tentang zakat profesi/penghasilan. Hal-hal yang dibandingkan adalah seputar unsur-unsur dalam zakat berdasarkan syariat Islam, ketentuan MUI tentang zakat penghasilan dengan hasil ijtihad Yusuf Qardhawy.
Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah; 1) Hukum mengenai suatu objek zakat harus disarkan pada dalil naqli yang jelas dan tuntunan langsung dari Allah SWT, Rasulullah SAW, dan Ijtihad para sahabat, 2) Yusuf Qardhawy dalam Kitab Fiqh Zakat menentukan bahwa nishab zakat penghasilan diambil dari sisa konsumsi, dengan ukuran nishab zakat uang / nuqud yakni 85 gram emas. Sedangkan untuk haul, Yusuf Qardhawy menyatakan tidak ada haul untuk zakat profesi karena ia sama dengan zakat penyewa tanah pertanian yang dikeluarkan setiap kali panen yaitu 2,5% dari penghasilan, 3) Zakat profesi menurut Yusuf Qardhawy tidak diambil dari harta konsumsi / digunakan sehari-hari (harus berupa simpanan) melainkan sisa konsumsi yang dikumpulkan sampai memenuhi nishab, dan 4) Fatwa MUI No.3 tahun 2003 mengenai nishab penghasilan masih tercampur dengan harta konsumsi atau kebutuhan sehari-hari, dan haulnya tidak dihitung dengan ketentuan hadis. Yusuf Qardhawy sudah
mengantisipasi hal ini dengan memisahkan kebutuhan sehari-hari dan harta yang menjadi objek zakat profesi.
Perbedaan penelitian di atas dengan yang akan dilaksanakan peneliti adalah pada substansi kajian. Penelitian Muhammad Adiguna Bimasakti lebih kepada kajian normatif zakat profesi sedangkan penelitian yang akan dilaksanakan peneliti lebih kepada lembaga amil zakat yaitu YBM-PLN NTB.
3. Penelitian oleh Ali Trigiyatno (akademisi IAIN Pekalongan) dengan judul “Zakat Profesi antara Pendukung dan Penentangnya” jurnal Hukum Islam, Volume 14, No.2, Desember 2016.
Fokus masalah pada penelitian ini adalah wacana zakat profesi yang masih menyisakan pendukung dan penentangnya. Pendukung zakat profesi terdiri dari MUI, Pemerintah, NU, Muhammadiyah, Hidayatullah, dan lain-lain. Sementara yang tidak sependapat umumnya dari kalangan yang berkiblat ke ulama Saudi, Salafi, Persis, dan lain-lain.
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode studi komparasi (perbandingan). Perbandingan yang dikaji adalah pada dalil-dalil, dan argumentasi dari masing-masing kelompok yang mendukung dan menentang wacana zakat profesi. Ketiadaan literatur yang terang dan eksplisit tentang zakat profesi di masa lalu mengakibatkan timbulnya pro dan kontra tentang wajibnya zakat profesi di kalangan kaum muslimin tak terkecuali di Indonesia sendiri.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah kendati masih menyisakan keberatan di sebagian ulama, namun zakat profesi semakin berkembang dan diakui di berbagai kalangan. Posisinya di Indonesia juga semakin kuat dengan masukknya zakat profesi dalam UU pengelolaan zakat. Sebelumnya, MUI juga telah mengeluarkan fatwa wajibnya zakat profesi yang didukung oleh ormas-ormas besar seperti Muhammadiyah dan NU. Perbedaan pendukung dan penentangnya sangat tipis dan tidak substansial, yaitu hanya terdapat pada persoalan nishab, haul, dan sebutan zakat. Kalau disebut infak atau sedekah profesi, tentunya kelompok penentang tidak keberatan. Dengan bahasa lain, kedua kelompok sepakat akan perlu dan pentingnya orang kaya menyisihkan sebagian kekayaan untuk golongan lain yang kurang mampu walau dengan sebutan yang tidak sama.
Perbedaan dengan penelitian yang akan dilaksanakan peneliti adalah pada substansi penelitiannya. Peneliti hanya akan mengkaji terapan dari ketentuan zakat profesi yang sudah ada dan berkembang di masyarakat, dan lebih khusus, pada YBM-PLN NTB.
4. Penelitian oleh Asmuni (dosen pascasarjana Universitas Islam Indonesia Yogyakarta) dengan judul “Zakat Profesi dan Upaya Menuju Kesejahteraan Sosial” Jurnal Ekonomi Islam La Riba Volume 1, No. 1, Juli 2007.
Fokus masalah pada penelitian ini adalah analisa tentang zakat profesi dan peranannya dalam mengupayakan kesejahteraan sosial.
Menurut hemat peneliti, perlu adanya sebuah trobosan alternatif untuk memangkas mata rantai kemiskinan. Tanpa bermaksud menafikan upaya pemerintah dalam menurunkan tingkat kemiskinan, namun dalam konteks ini, zakat profesi perlu dilirik sebagai sebuah solusi alternatif yang cukup efisien untuk mewujudkan cita-cita kesejahteraan sosial.
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode analisis deduktif yaitu dari teori umum ke khusus. Secara spesisifik, penulis menyatakan dirinya berupaya mengkombinasikan nalar ta’lil as-sababi (enumerasi sebab) dengan nalar ta’lil al-ga’I (enumerasi tujuan) dalam upaya merealisasikan kemaslahatan ritual, kemaslahatan intelektual, dan kemaslahatan material bagi masyarakat muslim yang muhsinin.
Pada bagian penutup, penulis mengemukakan bahwa meski dikategorikan sebagai zakat jenis baru, namun jika dikelola secara serius serta aktif disosialisasikan, zakat profesi akan mampu menekan laju kemiskinan dan mewujudkan kesejahteraan sosial.
Berbeda dengan penelitian yang akan dilaksanakan peneliti, efektivitas distribusi zakat profesi yang akan diteliti lebih nyata dan dipaparkan dengan detail nantinya pada pemaparan data penelitian, misalnya dengan mencantumkan infografis persebaran zakat profesi oleh YBM PLN UIW NTB. Tentunya lingkupnya akan lebih kecil karena mengacu kepada wilayah regional khsusnya di NTB.