BAB III PEMBAHASAN
B. Implikasi Kehadiran YBM PLN UIW NTB bagi Usaha Mikro
1. Pentingnya Sinergi Semua Pihak Dalam Pemberdayaan
pengetahuan konsumen terhadap produk dan juga tingkat kreativitas iklan suatu produk dibandingkan merek lainnya.
4. Communication (komunikasi)
Dimensi terakhir ini melibatkan tiga hal. Pertama adalah kejelasan informasi. Kemudian, kemampuan suatu kampanye dalam mengkomunikasikan pesan. Dan yang terakhir adalah tingkat konsumen memahami serta mengingat suatu produk.
Melalui empat dimensi kritis yang dikenalkan oleh AC Nielsen ini, sebuah kampanye bisa dinilai sejauh mana pesan yang disampaikan dapat disukai, menarik perhatian, memberi dampak dan juga dipahami oleh sasarannya untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki.
Lebih jauh, untuk mendorong pengumpulan zakat, kampanye zakat perlu dilakukan secara efektif terhadap masyarakat. Penelitian Hafidhuddin mengenai Analisis Efektivitas Promosi Lembaga Amil Zakat dalam Penghimpunan Zakat Bagi Peningkatan Kesejahteraan Keluarga Dhuafa juga menggunakan EPIC model.65 Hasil riset menyatakan bahwa sosialisasi dan kampanye zakat memberikan hasil yang positif terhadap kesadaran masyarakat untuk berzakat yang kemudian berimplikasi kepada meningkatnya tingkat penghimpunan zakat.
B. Implikasi Kehadiran YBM PLN UIW NTB bagi Usaha Mikro di NTB
Jumlah penduduk miskin di Nusa Tenggara Barat pada bulan Maret 2019 sebesar 735,96 ribu orang, sedangkan pada September 2018 sebesar 735,62 ribu orang atau bertambah sekitar 340 orang.
Adapun persentase penduduk miskin pada periode September 2018- Maret 2019 mengalami penurunan sebesar 0,07 persen poin dari 14,63 persen menjadi 14,56 persen. Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2018 sebesar 15,66 persen, naik menjadi 15,74 persen pada Maret 2019. Sebaliknya, porsentase penduduk miskin di daerah perdesaan turun dari 13,69 persen pada September 2018 menjadi 13,45 persen pada Maret 2019.
Tabel 15
Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin NTB Menurut Daerah, September 2018 dan Maret 201966
Daerah/Tahun Jumlah Penduduk Miskin (ribu)
Porsentase Penduduk Miskin Perkotaan
September 2018 375,12 15,66
Maret 2019 384,65 15,74
Pedesaan
September 2018 360,50 13,69
Maret 2019 351,31 13,45
Kota + Desa
September 2018 735,62 14,63
Maret 2019 735,96 14,56
66Badan Pusat Statistik NTB, Data Susenas September 2018 dan Maret 2019 dirilis tanggal 15 Juli 2019. Lihat https://www.ntb.bps.go.id/pressrelease/2019/07/15/602 diakses pada 21 Juli 2020 Pukul 10:45 WITA
Mengamati tabel diatas, perkembangan jumlah dan persentase penduduk miskin Provinsi Nusa Tenggara Barat terus mengalami penurunan. Namun kalau diamati setiap periode, penurunan penduduk miskin bersifat fluktuatif dan poin penurunannya bervariasi.
Sejak tahun 2009 sampai 2019 persentase penduduk miskin terus mengalami penurunan kecuali pada keadaan periode Bulan September 2014 – Bulan Maret 2015 dan Bulan September 2016 – Bulan Maret 2017. Penurunan angka kemiskinan pada periode Bulan Maret 2017 - Bulan September 2017 merupakan yang tertinggi semenjak penghitungan angka kemiskinan dilakukan sebanyak 2 kali setahun pada tahun 2012.
Tabel 16
Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Di Provinsi NTB Tahun 2009 – Maret 2019 Tahun
Jumlah Penduduk
Miskin
Persentase Penduduk
Miskin
Perubahan
2009 1.050.948 22.78 - 1,03 point
Maret 2010 1.009.352 21.55 - 1,23 point
Maret 2011 900.573 19.73 - 1,82 point
Maret 2012 862.516 18.63 - 1,10 point
September 2012 840.108 18.02 - 0,61 point
Maret 2013 843.660 17.97 - 0,05 point
September 2013 815.501 17.25 - 0,72 point
Maret 2014 820.818 17.24 - 0,01 point
September 2014 816.621 17.05 - 0,19 point
Maret 2015 823.890 17.10 0,05 point
September 2015 802.290 16.54 - 0,56 point
Maret 2016 804.45 16.48 - 0,06 point
September 2016 786.58 16.02 - 0,46 point
Maret 2017 793.78 16.07 0,05 point
September 2017 748.12 15.05 - 1,02 point
Maret 2018 737.46 14.75 - 0,30 point
September 2018 735.62 14.63 - 0,12 point
Maret 2019 735.96 14.56 - 0,07 point
Garis Kemiskinan dipergunakan sebagai batas menentukan miskin atau tidaknya seseorang. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan. Pada Tabel di atas memperlihatkan besarnya Garis Kemiskinan di Nusa Tenggara Barat.
Selama September 2018 dan Maret 2019, Garis Kemiskinan mengalami kenaikan, yaitu dari Rp 373.566 ,- per kapita per bulan pada September 2018 menjadi Rp 384.880,- per kapita per bulan pada Maret 2019. Dengan memperhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK) yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM), terlihat bahwa peranan komoditi makanan masih jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Pada Maret 2019 sumbangan GKM terhadap GK sebesar 74,54 persen.
Tabel 17
Garis Kemiskinan dan Perubahannya Menurut Daerah, September 2018 dan Maret 2019
Daerah/Tahun
Garis Kemiskinan (Rp/Kapita/Bln)
Makanan Bukan
Makanan Total Perkotaan
September 2018 284.496 99.983 384.479
Maret 2019 294.223 102.473 396.696
Perubahan dari September 2018 – Maret 2019 (%)
3.42 2.49 3.18
Pedesaan
September 2018 272.120 91.635 363.755
Maret 2019 280.270 93.853 374.123
Perubahan dari September 2018 – Maret 2019 (%)
2.99 2.42 2.85
Perkotaan + Pedesaan
September 2018 277.943 95.623 373.566
Maret 2019 286.871 98.009 384.880
Perubahan dari September 2018 – Maret 2019 (%)
3.21 2.50 3.03
Pada Maret 2019, lima komoditi makanan yang memberi sumbangan terbesar pada Garis Kemiskinan adalah pertama komoditi beras memberikan sumbangan sebesar 21,41 persen di perkotaan dan 27,65 persen di perdesaan, rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua kepada Garis Kemiskinan (11,95 persen di perkotaan
dan 8,83 persen di perdesaan). Telur ayam ras menjadi komoditi ketiga yang memberikan sumbangan terbesar dengan share 3,31 persen di daerah perkotaan dan 3,08 persen di daerah perdesaan. Komoditi keempat yang memberikan sumbangan terbesar di perkotaan adalah daging ayam ras sebesar 2,60 persen, sedangkan komoditi keempat yang memberikan sumbangan terbesar di perdesaan adalah roti sebesar 2,61 persen. Komoditi kelima yang memberikan sumbangan terbesar di perkotaan adalah roti sebesar 2,55 persen, sedangkan komoditi kelima yang memberikan sumbangan terbesar di perdesaan adalah mie instan sebesar 2,32 persen.
Untuk komoditi non makanan, komoditi yang memberi sumbangan terbesar pada Garis Kemiskinan adalah pertama komoditi perumahan memberikan sumbangan sebesar 8,59 di perkotaan dan 9,55 persen di perdesaan. Komoditi kedua yang memberikan sumbangan terbesar di perkotaan adalah pendidikan, sedangkan di perdesaan adalah bensin dengan sumbangan masing-masing sebesar 2,29 persen dan 1,71 persen. Komoditi ketiga yang memberikan sumbangan terbesar di perkotaan adalah bensin, sedangkan di perdesaan adalah pendidikan dengan sumbangan masing-masing sebesar 2,00 persen dan 1,54 persen. Komoditi keempat yang memberikan sumbangan terbesar di perkotaan adalah listrik sebesar 1,63 persen sedangkan di perdesaan adalah perlengkapan mandi dengan sumbangan sebesar 1,32 persen. Komoditi kelima yang
memberikan sumbangan terbesar di perkotaan adalah perlengkapan mandi sedangkan di perdesaan adalah listrik dengan sumbangan masing-masing sebesar 1,43 persen dan 1,26 persen.
Tabel 18
Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Menurut Daerah,
September 2018, dan Maret 2019
Tahun Kota Desa Kota + Desa
Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1)
September 2018 2.346 2.411 2.380
Maret 2019 2.500 2.166 2.327
Indeks Keparahan Kemiskinan (P2)
September 2018 0.509 0.589 0.551
Maret 2019 0.451 0.504 0.478
Persoalan kemiskinan bukan hanya sekadar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan. Selain upaya memperkecil jumlah penduduk miskin, kebijakan penanggulangan kemiskinan juga terkait dengan bagaimana mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan. Nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan nilai Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) dapat dilihat pada tabel di atas.
Pada periode September 2018 – Maret 2019, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) mengalami penurunan. Indeks Kedalaman Kemiskinan turun dari 2,380 pada September 2018 menjadi 2,327 pada Maret 2019. Penurunan nilai indeks ini berarti rata-rata pengeluaran
penduduk miskin makin mendekati Garis Kemiskinan. Demikian juga, Indeks Keparahan Kemiskinan mengalami penurunan dari 0,551 pada September 2018 menjadi 0,478 pada Maret 2019. Ini berarti ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin semakin menurun.
Nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) di daerah perkotaan mengalami peningkatan sedangkan di pedesaan mengalami penurunan.
Di daerah perkotaan, P1 September 2018 sebesar 2,346 meningkat menjadi 2,500 pada Maret 2019. Sedangkan di daerah perdesaan, P1 mengalami penurunan dari 2,411 pada September 2018 menjadi 2,166 pada Maret 2019.
Untuk nilai Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) mengalami penurunan baik di daerah perkotaan maupun di perdesaan. Di daerah perkotaan, P2 September 2018 sebesar 0,509 menurun menjadi 0,451 pada Maret 2019. Sedangkan di daerah perdesaan, P2 juga mengalami penurunan dari 0,589 pada September 2018 menjadi 0,504 pada Maret 2019.
Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach).
Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran.
Dengan pendekatan ini, dapat dihitung Headcount Index, yaitu persentase penduduk miskin terhadap total penduduk.
Metode yang digunakan adalah menghitung Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari dua komponen yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan-Makanan (GKBM).
Penghitungan Garis Kemiskinan dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan perdesaan. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan.
Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2100 kalori per kapita perhari. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh sekitar 52 jenis komoditi (padi-padian, umbi- umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah- buahan, minyak dan lemak, dan lain lain).
Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan.
Paket komoditi kebutuhan dasar non-makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di pedesaan.
Zakat yang merupakan salah satu instrumen filantropi Islam sesungguhnya dapat digunakan untuk membantu pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan. Ajaran zakat mengingatkan kepada pemeluknya untuk tidak menimbun harta yang hanya bisa digunakan
untuk diri sendiri. Sebab, zakat bertujuan untuk menjadi sarana pendistribusian harta dari orang-orang yang terkena wajib zakat atau
biasa disebut dengan muzakki kepada orang-orang yang diwajibkan oleh Allah menerima harta zakat atau dikenal dengan istilah
mustahik.67
Proses penyaluran zakat tersebut dapat dilakukan dengan dua cara yaitu konsumtif dan produktif. Zakat yang disalurkan secara konsumtif adalah zakat yang beursaha membantu mustahik untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Sementara itu, zakat produktif adalah zakat yang diberikan dengan tujuan pemberdayaan sehingga dalam jangka panjang mustahik tersebut dapat meningkatkan kualitas hidupnya serta berubah status menjadi muzakki.
Konsep ekonomi makro Islami menekankan bahwa kekayaan dan pendapatan harus terdistribusikan secara merata, sehingga diharapkan peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) tidak boleh hanya terpusat di kelompok kaya saja, tetapi harus menyentuh masyarakat dengan tingkat kemiskinan absolut. Idealnya kenaikan PDB harus diikuti dengan pengurangan jumlah kemiskinan dan ketimpangan, agar kualitas pertumbuhan ekonomi bisa dirasakan oleh semua lapisan masyarkat. Oleh sebab itu, kehadiran zakat harus menjadi kontrol untuk peningkatkan PDB melalui peningkatan konsumsi dan investasi serta menjadi kontrol untuk pemerataan PDB
67Pusat Kajian Strategis Badan Amil Zakat Nasional, Potret Pengelolaan Zakat untuk Menurunkan Tingkat Kemiskinan di Indonesia Wilayah I. (Jakarta: Badan Amil Zakat Nasional, 2020) h. 13
secara adil dan merata untuk menanggulangi masalah kemiskinan dan ketimpangan di Indonesia.68
Pengaruh zakat dalam perekonomian dapat meningkatkan kapasitas dan daya beli mustahik, mendorong investasi dengan pengurangan akumulasi modal yang tidak produktif, sehingga secara agregat akan meningkatkan produktifitas yang berimbas pada penyerapan tenaga kerja serta pendapatan negara dari pajak korporasi.
Bantuan konsumtif diharapkan akan meningkatkan konsumsi mustahik secara agregat. Sedangkan bantuan produktif diharapkan akan meningkatkan kapasitas produksi mustahik dan pada akhirnya akan meningkatkan output nasional yang tergambar dalam PDB.
Dengan demikian, secara umum zakat akan memberikan dampak positif pada pertumbuhan PDB.
2. Peran YBM PLN UIW NTB Dalam Membentuk Usaha Mikro Baru di