BAB I PENDAHULUAN
F. Kerangka Teori
3) Decisional roles
Terdapat empat macam peran yang harus dilakukan manajer dalam membuat pilihan yaitu; peran sebagai enterpreneur (wirausaha), disturbance handler (menyelesaikan masalah), resources allocator (mengalokasikan sumber daya), dan negotiator (juru runding).
Dalam berperan sebagai enterpreneur, manajer berinisiatif dan melihat kesempatan proyek baru yang akan dapat memperbaiki kinerja organisasi. Sebagai disturbance handler manajer melakukan tindakan koreksi dan mengatasi masalah sebagai respon terhadap masalah yang tidak terduga. Sebagai resources allocator, manajer bertanggung jawab mengalokasikan sumber daya manusia, fisik, dan dana sesuai kebutuhan organisasi secara efisien dan efektif. Dalam peran sebagai negotiator, manajer mendiskusikan masalah dan merundingkan atau membuat kesepakatan dengan unit atau pihak lain untuk mendapatkan manfaat bagi unit kerjanya.
d. Keterampilan Management
Untuk menjalankan fungsi dan peran manajemen, diperlukan penguasaan atas keterampilan tertentu. Robert Katz
mengidentifikasi tiga ketampilan yang harus dikuasai seorang manajer yaitu20:
1) Technical skills (keterampilan teknis)
Technical skills merupakan kemampuan pekerjaan yang bersifat psikomotorik. Technical skills dapat diperoleh melalui kursus, pelatihan, atau dari pekerjaan. Pemahaman akan technical skills mengandung pengertian bahwa seorang manajer, benar-benar mengetahui bagaimana bawahannya menjalankan tugas-tugas teknis.
2) Human skills (keterampilan kemanusiaan)
Human skills menunjukkan kemampuan bekerja dengan memahami dan memotivasi orang lain, baik secara individu maupun kelompok. Banyak yang mempunyai keterampilan teknis, namun secara interpersonal tidak kompeten.
3) Conceptual skills (keterampilan membuat konsep)
Conceptual skills merupakan kemampuan mental untuk menganalisis, dan mendiagnosis situasi yang kompleks serta merumuskan konsep.
Dubrin mengatakan bahwa di samping memiliki technical skills, human skills, dan conceptual skills, manajer juga perlu
20Robert Kartz dalam Robbins, ins, Stephen, Organization Theory: Structure, Design, and Applications…h.6
mempunyai keterampilan lain yang dinamakan diagnostic skill dan political skill.21
4) Diagnostic skills (keterampilan mendiagnosis)
Manajer seringkali diminta untuk melakukan investigasi masalah, memutuskan, dan mengimplementasikan perbaikan.
Diagnostic skill dalam penerapannya seringkali tumpang tindih dan terkait atau dipadukan dengan semua keterampilan yang ada.
5) Political skills (keterampilan politis)
Political skill merupakan kemampuan untuk memperoleh kekuasaan yang diperlukan untuk mencapai tujuan.
Keterampilan politis lain adalah menciptakan koneksi yang benar dan memberikan kesan baik kepada orang yang tepat.
Sementara itu Griffin dan Ebert mengemukakan di samping perlunya technical skills, human skills, dan conceptual skills, ia menambahkan beberapa keterampilan lain yang harus dimiliki manajer yaitu; decision-making skills dan time management skills. 22
6) Decision-Making skills (keterampilan mmutuskan)
Keterampilan memutuskan merupakan keterampilan dalam mendefinisikan masalah dan menyeleksi cara untuk melakukan tindakan terbaik.
21Dubrin, Andrew J., Essensial of Management,,,h.22
22Griffin, Ricky W., and Ronald J. Ebert, Business, (New Jersey: Prentice Hall International Inc., 1999) h.121
Terdapat tiga langkah dasar yang dapat dilakukan untuk membuat keputusan yaitu; 1) mendefinisikan masalah, mengumpulkan fakta, dan mengidentifikasi alternatif solusi, 2) mengevaluasi masing-masing alternatif dan memilih salah satu yang terbaik, dan 3) mengimplementasikan alternatif yang dipilih, secara periodik menindaklanjuti dan mengevaluasi efektivitas dari pilihan tersebut.
7) Time management skills (keterampilan manajemen waktu) Keterampilan mengelola waktu merupakan keterampilan yang berkaitan dengan penggunaan waktu secara produktif sebab penggunaan waktu yang tidak produktif akan menyebabkan biaya dan memboroskan proiduktivitas.
e. Hierarki Management
Kedudukan manager terdapat beberapa tingkatan. Pada tingkat tertinggi organisasi sering disebut sebagai top manager (top-level management), selanjutnya di bawahnya adalah middle manager (middle management), dan lower level management (first level management). Ada pula yang melanjutkan ke bawah sebagai operational manager.
Dalam kaitannya dengan keterampilan yang harus dimiliki oleh masing-masing tingkatan manajemen, pada hakikatnya harus memiliki ketujuh keterampilan di atas, namun dengan bobot yang berbeda. Semakin tinggi tingkatan manajemen harus memiliki
bobot keterampilan terbesar pada conceptual skills. Manajemen menengah lebih mengutamakan bobot human skills. Sementara itu, semakin rendah tingkatan manajemen, lebih banyak menguasai technical skills.
f. Tantangan Management
Manajer cenderung akan bekerja sekuat tenaga dengan mengerahkan segenap potensinya dan menggerakkan semua bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi. Namun, untuk mencapai tujuan organisasi tidaklah mudah dan tentu akan menghadapi banyak tentangan. Tantangan yang dihadapi manager berkembang sesuai dengan perkembangan lingkungan, termasuk semakin kuatnya tekanan global dan kompetisi. Tantangan manajer dapat berupa tantangan internal maupun eksternal.
Tantangan eksternal bersumber dari faktor di luar organisasi dan di luar kendali manajer. Sementara itu, tantangan internal berasal dari dalam organisasi dimana manajer berpeluang untuk mengendalikan.23
Stoner dan Freeman mencirikan ada empat tantangan penting yang dihadapi dalam manajemen, yaitu sebagai berikut24: 1) The Need for Vision (perlunya visi)
Diperlukan adanya visi dari seorang manajer yang menunjukkan arah yang harus dicapai organisasi. Oleh karena
23Wibowo, Manajemen Perubahan, Edisi Ketiga,,,h.26
24Stoner, James A. and R. Edward Freeman, Management,,,h.16
itu, manajer perlu memiliki pandangan jauh ke depan tentang perusahaan, tujuannya, dan apa yang harus dilakukan untuk mencapainya. Visi ini akan menjadi acuan bersama bagi segenap sumber daya manusia dalam organisasi. Tanpa adanya visi yang jelas, setiap orang dapat bekerja dengan arah yang berbeda-beda.
2) The Need for Ethics (perlunya etika)
Manajer menjalankan fungsinya dengan bekerja sama dengan banyak pihak. dalam bekerja sama semacam itu terdapat nilai-nilaiyang diakui dan dihormati bersama dalam menjalankannya. Manajer perlu mempertimbangkan praktik kerja tentang apa yang secara etis dinyatakan sebagai benar dan tidak benar.
3) The Need for Cultural Diversity (perlunya keberagaman budaya)
Kenyataan menunjukkan bahwa sumber daya organisasi semakin beragam. Organisasi menghadapi keberagaman budaya dari sumber daya manusianya. Manajer perlu menunjukkan komitmen yang kuat untuk memberikan kesamaan perlakuan pada pekerja tanpa memandang perbedaan ras, budaya, dan jenis kelamin. Keberagaman kultural merupakan kenyataan yang harus semakin dipertimbangkan dalam kebijakan manajemen. Tugas seorang
manajer adalah bagaimana memanfaatkan keberagaman kultural tersebut justru menjadi kekuatan.
4) The Need for Training (perlunya pelatihan)
Manajer yang ingin berhasil dalam memimpin organisasi perlu menyadari akan pentingnya pengembangan diri tentang masalah-masalah yang sedang berkembang melalui training yang dilakukan di dalam dan di luar organisasi.
Manajemen menyangkut proses, fungsi, peran, keterampilan, hierarki, dan tantangan seperti diuraikan di atas merupakan teknik dan alat analisis yang penting. Akan tetapi, manajemen berdasar evolusinya ternyata lebih dari itu. Manajemen adalah tentang manusia.25 Manajemen tugasnya adalah mampu membuat orang bekerja bersama, membuat efektif kekuatannya dan kelemahannya menjadi tidak relevan.
Sederhananya, pekerjaan seorang manajer adalah memikirkan, menetapkan, dan menyederhanakan nilai-nilai, tujuan, dan sasaran.
Manajer juga harus memberikan kesempatan pada anggotanya untuk berkembang, artinya setiap organisasi harus menjadi wadah pembelajaran. Setiap organisasi terdiri dari orang-orang dengan keterampilan dan pengetahuan yang berbeda dalam melakukan pekerjaan. Oleh karena itu, harus dibangun berdasarkan komunikasi dan tanggung jawab individual.
25Drucker, Peter, F., Managing in a Time of the Great Change, (Oxford: Butterworth- Heinemann, Ltd., 2003) h.172
2. Manajemen Pengelolaan Zakat26
Dalam konteks manajemen pengelolaan zakat secara modern, zakat dikelola dengan mengacu pada tahapan manajemen planning, organizing, actuating, dan monitoring. Secara konseptual perencanaan merupakan sebuah proses pemikiran penentuan sasaran dan tujuan, pelaksanaan lapangan, kelembagaan, dan para eksekutor lapangan yang bertanggung jawab atas kegiatan yang dikehendaki suatu lembaga.
Perencanaan zakat meliputi beberapa hal di antaranya; a) menetapkan sasaran dan tujuan zakat sebagaimana tuntutan Islam, b) menetapkan bentuk dan struktur kelembagaan zakat yang sesuai dengan peraturan positif yang ada, c) menetapkan dan merencanakan tata cara penghimpunan, pengelolaan, pencatatan, pendistribusian, dan tata kelola yang baik (good governance), d) menentukan waktu penghimpunan dan pendistribusian dengan tepat, e) menetapkan petugas zakat (amil) yang kompeten, komitmen, berintegritas, profesional dan memahami tentang zakat dan aspek terkait, f) menetapkan sistem pengawasan terhadap perencanaan, strategi, pengelolaan, pelaksanaan, pengembangan, serta evaluasi yang berkesinambungan, dan berkelanjutan.
Guna merealisasikan perencanaan zakat, maka diperlukan pengorganisasian yang bisa dilakukan dengan pendekatan struktural
26Pusat Kajian Strategis - Badan Amil Zakat Nasional (PUSKAS-BAZNAS), Manajemen Risiko Pengelolaan Zakat, (Jakarta Pusat : 2018) h. 10, E-book ini diunduh melalui situs resmi https://www.puskasbaznas.com lihat juga https://www.baznas.go.id
seperti bagan organisasi. Dimulai dengan pimpinan dan dewan penasehat, dewan pengawas dan fatwa, kepala divisi, manajer, tim pelaksana dan lainnya. Setiap jabatan diturunkan dalam bentuk tugas, kewajiban, tanggung jawab, wewenang, batasan dan uraian jabatan (job description). Pengorganisasian lembaga zakat harus berdasarkan kepercayaan dan kemitraan sehingga jalinan yang terjadi terdapat unsur tolong menolong dan tanggung jawab satu sama lain. Semakin tinggi jabatan yang dipangku, maka tanggung jawabpun demikian.
Penugasan amil dalam struktur dan lapangan haruslah sesuai dengan kompetensi masing-masing dan menjadikan kompetensi khusus yang harus dimiliki baik pimpinan paling atas maupun amil lapangan berupa pengetahuan zakat dan hal-hal terkait.
Penentuan amil sangat menentukan keberhasilan lembaga zakat, baik kelembagaan, organisasi maupun tujuan utama yaitu mengurangi tingkat kemiskinan dan membantu kaum lemah. Terdapat tiga tahapan dalam pelaksanaan lembaga zakat, di antaranya; 1) seleksi dan penentuan kriteria pelaksana zakat/amil, 2) penggalian sumber dana zakat semisal membentuk unit/konter zakat pada tempat- tempat tertentu, pelatihan dan dakwah zakat, membuka kerja sama penghimpunan zakat dengan masjid dan lembaga lain, dan membuka akun bank syariah dan sebagainya, 3) penyaluran dana zakat dengan membuat skala prioritas, pengalokasian distribusi, pencatatan mustahik.
Monitoring atau controlling dilakukan untuk mengukur, memperbaiki dan mengembangkan kinerja lembaga zakat secara keseluruhan. Dimulai dengan kelembagaan baik struktural maupun fungsional di semua tingkat wilayah kerja dan terlebih fokus pada kinerja amil. Pola pengawasan dapat dilakukan sebagai berikut : a) menetapkan sistem dan standar operasional sesuai dengan ketentuan syariah dan perundang – undangan seperti pelaporan, audit dan publikasi, b) mengukur kinerja dengan pencapaian – pencapaian sesuai dengan standar deskripsi pekerjaan, c) memperbaiki penyimpangan dan kesalahan sesuai dengan ketetapan yang telah ditentukan dalam lembaga zakat.
G. Metode Penelitian
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan yang disebut juga desain penelitian adalah segala proses yang dibutuhkan dalam penerapan dan perencanaan penelitian, untuk memperoleh serta menganalisis data dalam rangka penulisan sebuah karya ilmiah (tesis).27 Maka sesuai dengan permasalahan yang dikaji serta dengan memperhatikan tujuan dan manfaat, maka pendekatan yang penulis gunakan adalah pendekatan disiplin ilmu sosiologi.
Menurut Hassan Shadily, dalam bukunya Sosiologi Masyarakat Indonesia menyebutkan bahwa sosiologi adalah ilmu yang
27Lexi J Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006) h.4
mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan – ikatan antarmanusia yang menjalani kehidupan itu. Selain itu, Soerjono Soekanto mempersingkat definisi sosiologi sebagai ilmu sosial yang kategoris, murni, abstrak, berusaha mencari pengertian – pengertian umum, rasional dan empiris, serta bersifat umum.28
Secara umum, ciri – ciri sosiologi yaitu; 1) sebagai ilmu yang mengkaji interaksi manusia dengan manusia lain, 2) dalam kelompok (keluarga, kelas sosial atau masyarakat), dan 3) produk – produk yang timbul dari interaksi tersebut, seperti nilai, norma, serta kebiasaan – kebiasaan yang dianut oleh kelompok atau masyarakat tersebut.
Sedangkan jenis penilitian ini adalah penelitian kualitatif dengan analisis deskriptif. Karena data yang diperoleh lebih banyak dalam bentuk realita yang ada dilapangan dan tidak dapat dikuantifikasi.
Oleh karena itu pada penelitian ini penulis berupaya mendeskripsikan segala hal yang berkaitan dengan judul yang dijadikan fokus dalam penelitian ini, yakni tentang “Studi Manajemen Pengelolaan Zakat Profesi di Yayasan Baitul Mal (YBM) Perusahaan Listrik Negara Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Barat (PLN UIW NTB) dan Implikasinya terhadap Usaha Mikro NTB”.
2. Kehadiran Peneliti
Kehadiran peneliti berperan sebagai pengumpul data, penafsir data, pelapor hasil penelitian, serta sebagai instrument penentu atau
28Hassan Sadily dan Soerjono Soekanto dalam Basrowi, Pengantar Sosiologi, (Bogor:
Galia Indonesia, 2014) h. 11
kunci keseluruhan di lapangan untuk menghasilkan data-data yang dibutuhkan. Kehadiran peneliti bukan ditujukan untuk mempengaruhi obyek yang diteliti, melainkan untuk memperoleh data serta informasi yang akurat selama melakukan penelitian. Karena tujuan utama kehadiran peneliti di lapangan adalah untuk menghasilkan data-data yang dibutuhkan.
Dengan demikian, peneliti bisa mengetahui informasi dan kejadian-kejadian yang sebenarnya, serta dapat memperoleh data-data yang benar-benar valid dan relevan dengan melihat keadaan atau realita yang sebenarnya, sehingga tidak akan menyimpang dari keadaan dan bisa di pertanggung jawabkan secara logis dan ilmiah.29 Berkenaan dengan hal tersebut maka yang harus dilakukan peneliti di lapangan adalah:
a. Mengkaji referensi yang ada terlebih dahulu sebelum terjun ke lapangan seperti mencari teori-teori untuk mengukur bagaimana manajemen zakat profesi yang dilaksanakan oleh Yayasan Baitul Mal (YBM) PLN UIW NTB dan implikasinya terhadap usaha mikro NTB.
b. Melakukan pendekatan dengan menggunakan teknik observasi dan wawancara secara langsung dengan pihak-pihak yang terkait di lapangan.
29Suhartono Kurtodirjo, Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Pendekatan Sejarah, (Jakarta : PT Gramedia pustaka utama, 1992) h.4
c. Di samping melakukan observasi dan wawancara, yang dilakukan peneliti adalah pencatatan (dokumentasi) mengenai data dan informasi yang diperoleh secara langsung berkenaan dengan masalah yang sedang diteliti, kemudian menganalisis kembali data- data yang sudah terkumpul, dan selanjutnya mengkonfirmasikan pada sumber lainnya.
3. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Yayasan Baitul Mal (YBM) PLN UIW NTB dengan pertimbangan sebagai berikut:
a. YBM PLN UIW NTB merupakan lembaga penghimpun sekaligus sebagai penyalur (distributor) zakat, infaq dan sedekah yang berskala nasional dan bersentuhan langsung dengan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yaitu Perusahaan Listrik Nasional (PLN). Secara tidak langsung, di manapun ada PLN, di situ pula ada YBM.
b. Persoalan mengenai zakat profesi masih menjadi perdebatan di kalangan para ulama’ khususnya di Indonesia, misalnya pada proses penghitungan nishab-nya, zakat profesi boleh dikeluarkan jika harta telah terkumpul selama satu tahun dan disetarakan dengan 85 gram emas. Penerapannya, di YBM PLN UIW NTB, zakat profesi dihimpun secara otomatis (auto-debet) setiap bulan dari gaji seluruh karyawan muslim di lingkungan PLN.
c. Pentingnya sinergi seluruh elemen masyarakat tidak hanya pemerintah provinsi NTB namun juga lembaga zakat dalam meningkatkan taraf ekonomi umat guna mengentaskan kemiskinan di wilayah NTB.
4. Sumber Data
Setiap penelitian memerlukan data dan informasi dari berbagai sumber yang dapat di percaya, agar data dan informasi tersebut dapat digunakan untuk menjawab masalah dalam penelitian. Lofland berpendapat dalam Moleong bahwa dalam penelitian kualitatif, sumber data utama adalah tindakan dan kata-kata, sedangkan sumber lainnya adalah data-data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.30 Sehingga dalam penelitian ini yang dimaksud dengan sumber data adalah subyek darimana data diperoleh.31 Dalam penelitian ini dibutuhkan dua jenis data, yaitu:
a. Data primer
Data primer adalah sumber yang secara langsung dapat memberikan data terhadap fokus kajian terkait dengan hal ini peneliti melakukan pendekatan melalui penelitian lansung ke lapangan dengan observasi dan wawancara untuk menggali informasi yang berkaitan dengan penelitian.32 Data primer diperoleh dari hasil observasi dan wawancara secara lansung
30Lexi J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif,,, h.157
31Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: PT.
Mahasatya, 2006) h.29
32Soejono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: Rineka Cipta, 1986) h.12
dengan subyek penelitian yaitu subyek yang menjadi sasaran dan pusat penelitian.
Proses observasi yang dilakukan oleh peneliti adalah pada proses manajemen (pengelolaan), dan implikasinya terhadap pelaku usaha mikro di NTB. Adapun sumber data (informan) yang dijadikan telaah dalam penelitian ini diantaranya adalah:
1) Ketua YBM PLN UIW NTB 2) Sekretaris YBM PLN UIW NTB 3) Bendahara YBM PLN UIW NTB 4) Amil YBM PLN UIW NTB
5) Perwakilan penerima manfaat zakat dari YBM PLN UIW NTB b. Data sekunder
Data Sekunder dari tesis ini bersumber dari, foto, infografis, buku, majalah, artikel, jurnal, dan data dokumen yang kiranya dapat diperoleh dari situs resmi YBM pusat maupun YBM PLN UIW NTB.
5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah suatu cara yang dipergunakan dalam upaya meperoleh dan mengumpulkan data yang akan di gunakan dalam penelitian. Untuk memperoleh data yang diinginkan sesuai dengan tujuan peneliti, maka diperlukan sebuah cara yang efektif. Oleh karena itu metode atau teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan adalah:
a. Metode Observasi
Metode observasi merupakan metode atau teknik pengumpulan data yang paling ilmiah dan paling banyak di gunakan tidak hanya dalam dunia keilmuan, tetapi juga dalam berbagai aktifitas kehidupan. Secara umum observasi berarti pengamatan dan pengelihatan. Sedangkan secara khusus dalam dunia penelitian observasi adalah mengamati dan mendengar dalam rangka memahami, mencari jarak, mencari bukti terhadap penomena sosial (perilaku, kejadian) dengan merekam atau mencatat dan memotret penomena tersebut guna penemuan data statistik.33
Pendapat lain mengatakan bahwa observasi merupakan suatu cara mengumpulkan data dimana penulis mengadakan pengamatan terhadap gejala-gejala atau peristiwa yang terjadi pada obyek yang diteliti.34 Adapun teknik pengamatan yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah pengamatan terbuka, hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan situasi yang alamiah sehingga data yang diperoleh akuntabel dan realistis.35 Sehingga alasan peneliti menggunakan metode observasi ini adalah karena memiliki beberapa keunggulan diantaranya:
33Margono, Metode Penelitian Kualitatif, (Malang: YA3, 1990) h.24
34Sutrisno Hadi, Metodologi Riserch, Jilid II (Yogyakarta:Fak Psikologi UGM,1980) h.136
35S. Nasution, Metode Penelitian Naturalistik Kuwalitatif (Bandung: Tarcito, 1998) h.2
1) Dengan tekhnik observasi ini maka peneliti dapat mengetahui keadaan sosial yang sedang terjadi langsung di lokasi penelitian.
2) Dengan teknik ini peneliti dapat secara langsung mengamati dan memungkinkan peneliti kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya.36
Teknik observasi secara umum dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu: observasi sistematik dan nonsistematik.
1) Observasi Sistematik
Observasi sistematik adalah observasi yang dibuat dengan menentukan secara sistematik faktor-faktor yang akan di observasi lengkap dengan kategorinya. Artinya ruang lingkup atau wilayah observasi secara tegas dibatasi sesuai dengan problem dan tujuan penelitian.
2) Observasi non Sistematik
Adalah pengamatan yang dilakukan tanpa mempersiapkan terlebih dahulu dan membatasi kerangka yang akan diamati.37Oleh karena itu terkait hal ini, peneliti menggunakan observasi sistematis dalam melakukan penelitian, sebab peneliti melakukan secara langsung penelitian terhadap objek dengan menggunakan pedoman observasi. Sehingga data yang bisa peneliti proleh seperti mengetahui jumlah, mengetahui keadaan
36Lexi J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif,,, h.175
37Margono, Metodologi Penelitian,,, h.62
langsung objek penelitian dalam hal ini proses manajemen dari pelaksanaan penghimpunan hingga distribusinya dan impilkasi zakat profesi tersebut terhadap pelaku usaha mikro di NTB.
b. Metode wawancara (interview)
Wawancara merupakan cara pengumpulan data dengan sistem tanya jawab yang dikerjakan dengan berlandasan tujuan penelitian dan di kemas secara sistematis. Pengertian tersebut senada dengan pendapat yang mengatakan bahwa metode wawancara adalah percakapan yang dilakukan dengan tujuan tertentu. Percakapan tersebut dilakukan oleh dua pihak yaitu:
pewawancara dan yang diwawancara.38
Sedangkan menurut Margono, interview adalah sebuah cara pengumpulan data dengan melontarkan beberapa pertanyaan secara lisan, dan dijawab pula dengan lisan. Kemudian interview dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu interview terstruktur dan interview tidak terstruktur.
1) Interview terstruktur
Dalam interview terstruktur, alternatif jawaban pada pertanyaan yang diberikan kepada yang diwawancarai telah disusun dan ditetapkan terlebih dahulu sebelum wawancara tersebut dilakukan.
2) Interview tidak terstruktur.
38Moleong, Metodologi Penelitian,,,h.186
Interview ini lebih bersifat informal, pertanyaan-pertanyaan tentang pandangan hidup, sikap, keyakinan subyek atau tentang keterangan-keterangan lain yang dapat di ajukan secara bebas terhadap subyek.39
Dengan demikian, peneliti kemudian menggunakan jenis wawancara terstruktur. Karena dengan jenis wawancara ini peneliti bisa bertanya secara terarah sesuai dengan apa yang ingin dicapai dengan susunan pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Adapun data yang akan diperoleh secara umum adalah mengenai lingkungan kerja YBM PLN UIW NTB atau manajemen SDM yang terdapat di dalamnya, mekanisme penghimpunan, pencatatan, hingga distribusi serta kesan dari penerima manfaat zakat (mustahik) dan implikasinya terhadap pelaku usaha mikro di NTB.
c. Dokumentasi
Yaitu laporan secara tertulis yang didapatkan dari sejumlah peristiwa yang berisi tentang pemikiran dan penjelasan terhadap peristiwa tersebut, serta sengaja ditulis untuk menyiapkan atau meneruskan keterangan dari peristiwa tersebut.40
Adapaun data dokumentasi yang dimaksud adalah seputar proses penelitian yang dilaksanakan peneliti di lapangan misalnya dokumentasi proses distribusi zakat oleh YBM PLN UIW NTB,
39Margono, Metodologi Penelitian, h.167
40Winarno Surahmad, Dasar dan Teknik Research dengan Metodologi Ilmiah, (Bandung:
Tarsito, 1986), h.125
surat keputusan Direksi PLN, infografis pencapaian, struktur organisasi, dan lain-lain yang terkait dengan lingkup penelitian.
6. Keabsahan Data
Setelah peneliti melakukan analisis terhadap data yang telah terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah menguji kesahihan data yang bertujuan untuk mengetahui dan mebuktikan bahwa apa yang diamati oleh peneliti sesuai dengan apa yang ada di lapangan. Apakah benar adanya data yang dituangkan peneliti dalam penelitian ini sesuai dengan yang terjadi sebenarnya.
7. Teknik Analisis Data
Setelah data-data terkumpul dari proses pengumpulan data, maka perlu ada pemilahan data yang selanjutnya akan dianalisis secara sistematis, agar diperoleh kesimpulan yang objektif dari masalah yang diteliti sehingga menggunakan pengertian menurut Bogdan dan Biklen.
Menurut Imam Suprayoga dan Tobrani menjelaskan, analisa data adalah rangkaian kegiatan penelaahan, pengelompokan, sistematisasi, verifikasi dan penafsiran data agar sebuah fenomena memiliki nilai- nilai sosial, akademisi, dan ilmiah.41
Data-data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan cermat dan teliti, sehingga akan dapat menemukan kesimpulan yang objektif dalam penelitian tersebut. Dalam penelitian ini Pendekatan yang digunakan bersifat kualitatif dengan teknik analisis induktif,
41 Imam Prayoga, Metodologi Penelitian, h.191