• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerima Manfaat Ekonomi (kategori UMKM)

BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN

C. Penerima Manfaat Ekonomi (kategori UMKM)

Apapun sukunya, tidak menjadi ukuran dalam hal pemberdayaan oleh YBM PLN UIW NTB, selama dia (calon penerima bantuan) layak dan benar-benar merupakan anggota 8 (delapan) ashnaf atau golongan penerima zakat (mustahik) maka itulah yang menjadi sasaran pemberdayaan.

C. Penerima Manfaat Ekonomi (kategori UMKM)

5 Fitria Handayani, dkk (Usaha Kelompok)

39 Pringgasela, LOTIM

Uang tunai Rp.

25.000.000

Rutin bulanan

6 Saparwadi 30 Tiwugalih, Praya, LOTENG

Gerobak berdaya dan uang tunai Rp.

1.000.000

Rutin bulanan

7 Hj. Pajariah 57 Dangiang, Kayangan, KLU

Uang tunai Rp.

1.000.000

Rutin bulanan

8 Wini Sari 32 Anyar, Bayan, KLU

Uang tunai Rp.

1.000.000

Rutin bulanan

9 Muradah 53 Anyar,

Bayan, KLU

Uang tunai Rp.

1.000.000

Rutin bulanan

10 Salimah 39 Anyar,

Bayan, KLU

Uang tunai Rp.

1.000.000

Rutin bulanan

11 Riska Wahyuni

20 Anyar, Bayan, KLU

Uang tunai Rp.

1.000.000

Rutin bulanan

12 Marunah 43 Anyar,

Bayan, KLU

Uang tunai Rp.

1.000.000

Rutin bulanan

13 Niah 32 Anyar,

Bayan, KLU

Uang tunai Rp.

1.000.000

Rutin bulanan

14 Hudaniah 52 Anyar, Bayan, KLU

Uang tunai Rp.

1.000.000

Rutin bulanan

15 Kuratul’am 31 Anyar, Bayan, KLU

Uang tunai Rp.

1.000.000

Rutin bulanan

16 Eli Kusmiati 24 Anyar, Bayan, KLU

Uang tunai Rp.

1.000.000

Rutin bulanan

17 Mahruni 42 Anyar,

Bayan, KLU

Uang tunai Rp.

1.000.000

Rutin bulanan

D. Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di NTB43

1. Jumlah dan skala usaha-usaha mikro; kecil, menengah, dan besar di Kabupaten/Kota se – NTB per 31 Desember 2018

Tabel 2

Jumlah dan Skala Usaha Mikro

NO KAB/KOTA

KLASIFIKASI USAHA

JUMLAH MIKRO KECIL MENENGAH BESAR

1. MATARAM 46.331 11.007 632 179 58.146

2. LOMBOK BARAT 110.325 10.286 461 34 121.103

3. LOMBOK UTARA 7.040 369 2 - 7.408

4. LOMBOK TENGAH 121.639 7,445 321 28 129.430

5. LOMBOK TIMUR 144.032 16.266 904 62 161.261

6. SUMBAWA BARAT 14.901 1.651 84 19 16.652

43 https://www.diskop.ntbprov.go.id

7. SUMBAWA 40.623 6.661 231 40 47.552

8. DOMPU 26.561 2.019 69 11 28.657

9. BIMA 48.955 4.535 107 17

53.611 25.167

10. KOTA BIMA 22.270 2.713 163 24

JUMLAH 582.647 62.952 2.974 414 648.987

2. Perkembangan Jumlah Usaha Mikro Kecil Menengah di Provinsi NTB menurut kabupaten/Kota per 31 Desember 2018

Tabel 3

Perkembangan Jumlah Usaha Mikro

NO KAB/KOTA

TAHUN PERKEMBANGAN

2015 2016 2017 2018 JUMLAH %

1 KOTA

MATARAM

57.948 58.026 58.139 58.146 12.048 4.33

2 LOMBOK

BARAT

120.747 120.945 121.096 121.103 12.497 2.11

3 LOMBOK

UTARA

7.237 7,315 7,401 7,408 7,408 25.23

4 LOMBOK

TENGAH

129.018 129.126 129.423 129.430 12.511 1.97

5 LOMBOK

TIMUR

160.790 161.078 161.254 161.261 17.090 2.17

6 SUMBAWA

BARAT

16.481 16.559 16.645 16.652 8.548 11.48

7 SUMBAWA 47.351 47.459 47.545 47.552 8.764 3.83 8 DOMPU 28.180 28.228 28.620 28.657 6.815 5.03 9 BIMA 52.980 53.088 53.574 53.611 11.101 4.34

10 KOTA BIMA 24.966 25.014 25.130 25.167 7.598 6.45

JUMLAH 645.698 646.838 648.827 648.987 104.380 16.09

3. Jumlah Usaha Mikro; kecil, menengah, dan besar di Provinsi NTB per 31 Desember 2018

Tabel 4

Jumlah Tingkatan Usaha Mikro

JENIS USAHA JUMLAH %

TENAGA

KERJA %

1 Usaha Besar 414 0.06 17.977 1.47

2 Usaha Menengah 2.974 0.46 45.885 3.75

3 Usaha Kecil 62.952 9.70 164.542 13.43

4 Usaha Mikro 582.677 0.89 996.628 81.36

Jumlah 649.017 100 1.225.032 100

4. Usaha Mikro Binaan Pemerintah Provinsi NTB

Sejak tahun 2011 sampai dengan tahun 2018 UKM yang dibina sejumlah 6.987 UMKM. Hal ini sesuai dengan jumlah anggaran yang tersedia yang tercantum pada Dana Dekonsentrasi yang dikelola Dinas Koperasi UMKM Provinsi NTB.44 Adapun rincian pembinaan UMKM per Kabupaten/Kota tercantum pada tabel dibawah ini.

Tabel 5

Perkembangan Jumlah UMKM Binaan Di Provinsi Nusa Tenggara Barat

Tahun 2011 – 2018

44https://www.diskop.ntbprov.go.id diakses pada tanggal 20 Juli 2020 pukul 05.56 WITA

N0 Kab/Kota/Prov

T A H U N

2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 JML 1 PRIVINSI 150 100 125 186 102 60 100 0 823 2 KOTA MATARAM 30 30 56 118 110 69 107 10 530 3 LOMBOK BARAT 30 35 62 126 85 224 104 10 676 4 LOMBOK UTARA 15 20 45 133 136 104 81 10 544 5 LOMBOK TENGAH 30 35 51 140 173 104 124 10 667 6 LOMBOK TIMUR 30 45 76 274 114 313 205 10 1.067 7 SUMBAWA BARAT 20 20 34 153 50 74 105 10 466

8 SUMBAWA 25 30 52 116 70 104 114 10 521

9 DOMPU 20 25 41 160 70 44 139 40 539

10 BIMA 25 30 52 165 70 104 138 40 624

11 KOTA BIMA 25 30 46 104 100 44 141 40 530 JUMLAH 400 400 640 1.675 1.080 1.244 1.358 190 6.987

Dari jumlah 6.954 unit UMKM yang dibina selama 8 (delapan) tahun sejak tahun 2011 s/d 2018, sebanyak 1.093 unit diantaranya adalah UMKM Perempuan. Rincian UMKM Perempuan yang dibina tahun 2018 seperti tercantum dalam tabel dibawah ini:

Tabel 6

Jumlah UMKM Perempuan Binaan Provinsi Nusa Tenggara Barat

Per 31 Desember 2018 NO Kabupaten/Kota/

Provinsi

Jml.

UMKM

Jml. UMKM Perempuan

Binaan

% Ket

1 PROVINSI 99 66 66.67

2 KOTA MATARAM 107 68 63.55

3 LOMBOK BARAT 104 76 73.08

4 LOMBOK TENGAH 124 107 86.29

5 LOMBOK TIMUR 205 147 71.71

6 LOMBOK UTARA 81 69 85.19

7 SUMBAWA BESAR 106 93 87.74

8 SUMBAWA 114 89 78.07

9 DOMPU 139 126 90.65

10 KAB. BIMA 138 120 86.96

11 KOTA BIMA 141 132 93.62 JUMLAH 1.358 1.093 80.49

Tabel 7

Rekapitulasi UMKM Perempuan Di Provinsi Nusa Tenggara Barat

Per 31 Desember 2018

NO KAB/KOTA JASA KONST .

BRG &

JASA

PENG.

MIKRO

PENGUS AHA KECIL

KOPERASI

WANITA JUMLAH

1 Kota Mataram 111 251 30 - 25 454

2 Lombok Barat 61 178 49 12 20 290

3 Lombok Tengah 100 157 53 - 21 313

4 Lombok T imur 64 58 107 - 20 200

5 Sumbawa Barat 11 12 58 10 15 55

6 Sumbawa Besar 84 121 55 29 18 317

7 Dompu 80 51 78 15 16 490

8 Bima 207 49 48 37 17 734

9 Kota Bima - - 89 - 9 9

10 Provinsi - - 8 - 4 4

Jumlah 718 877 575 103 165 2.438

5. Business Development Services

Untuk lebih efektifnya Pembinaan kepada UMKM sesuai pedoman dari Kementerian Koperasi dan UKM maka pada tahun 2001 sampai dengan 2005 dibentuklah Lembaga Pelayanan Bisnis/Business Development Service (LPD/BDS) Lembaga ini berfungsi sebagai pemberi layanan pembinaan dibidang Sumber Daya Manusia, Manajemen serta pemecahan masalah yang dihadapi UMKM dalam sentra-sentra kegiatan perekonomian.

Potensi sentra dan BDS yang ada di Kab/Kota sebanyak 78 Sentra dan 49 BDS/LPB yang tersebar pada 10 Kab/Kota dengan rincian sebagai berikut :

Tabel 8

Potensi Sentra dan BDS

Di Provinsi Nusa Tenggara Barat Per 31 Desember 2018

NO KAB/KOTA SENTRA BDS UKM JUMLAH TENAGA KERJA

1 Kota Mataram 7 3 653 1,580

2 Lombok Barat 10 5 814 2,558

3 Lombok Tengah 9 11 744 1,635

4 Lombok Timur 7 5 321 1,036

5 Sumbawa Barat 2 1 52 155

6 Sumbawa Besar 9 5 333 807

7 Dompu 2 11 327 1,183

8 Bima 16 3 395 1,000

9 Kota Bima 6 5 216 621

10 KLU 6

Jumlah 74 49 3,855 10,575

Dari jumlah potensi sentra dan BDS yang ada sebanyak 78 Sentra dan 49 BDS, yang dibina Dinas Koperasi UMKM Provinsi Nusa Tenggara Barat dari tahun anggaran 2001 - 2005 sebanyak 29 BDS. Dari data Sentra yang telah divalidasi Data sampai dengan Tahun 2016 jumlah Sentra yang masih aktif dibina berbasis koperasi sebanyak 60 sentra. Dan data Sentra yang sudah dibina pada Tahun 2016 sebanyak 8 Sentra dari target pembinaan/pengembangan Sentra sebanyak 10 Sentra.

6. Bantuan Penguatan Permodalan

Dalam upaya pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah di NTB, maka Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah melalui Kementerian Koperasi dan UKM dan Dinas Koperasi UMKM Provinsi NTB menyalurkan bantuan modal kepada UMKM sejak tahun 2003 s/d tahun 2007, dengan dana APBN sebesar Rp.1.665.000.000,- untuk 215 UMKM, sedangkan dana APBD dari tahun 2003 sampai

dengan tahun 2012 sebesar Rp. 4.395.000.000,- untuk 316 Kop/UKM, dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :

Tabel 9

Bantuan Permodalan Dana APBN dan APBD Di Provinsi Nusa Tenggara Barat

Per 31 Desember 2018

NO KAB/KOTA

TAHUN 2003-2007 TAHUN 2003-2012 TOTAL JMLH

DANA APBN (Rp.000)

JUMLAH JMLH DANA APBD (Rp.000)

JUMLAH JLH DANA (Rp.000)

JUMLAH

PK KLP. PK KLP PK KLP

1 Kota Mataram 917.000 115 6 1.075.000 76 37 1.992.000 191 43 2 Lombok Barat 282.000 36 - 540.000 13 25 822.000 49 25

3 Lombok Utara - - - 280.000 - 12 280.000 - 12

3 Lombok

Tengah 65.000 8 - 487.500 16 17 552.500 24 17

4 Lombok Timur 306.000 38 - 492.500 18 19 798.500 56 19

5 Sumbawa

Barat 25.000 3 - 280.000 - 13 305.000 3 13

6 Sumbawa

25.000 3 - 330.000 7 16 355.000 10 16

7 Dompu

15.000 2 - 310.000 2 15 325.000 4 15

8 Kota Bima

15.000 2 - 290.000 - 14 305.000 2 14

9 Bima

15.000 2 - 310.000 - 16 325.000 2 16

Jumlah 1.665.000 209 6 4.395.000 132 184 6.060.000 341 190

Secara keselurahan Bantuan Perkuatan Permodalan yang disalurkan kepada UMKM/Kelompok sebesar Rp. 6.060.000.000,- untuk 531 UKM/Klp.

7. Promosi dan Pameran

Dalam rangka meningkatkan akses pasar UMKM di daerah lain khususnya dibidang pemasaran produk, maka dilakukan promosi dan pameran. Promosi dan Pameran bertujuan agar UMKM dapat menjalin kerjasama atau kontak bisnis antara para UMKM NTB dengan para UMKM yang ada di daerah lain dalam rangka pengembangan usaha serta mendorong UMKM untuk memproduksi barang-barang unggulan yang diminati oleh konsumen dari daerah lain maupun Luar Negeri/Export.

Tahun 2018 Dinas Koperasi UMKM Provinsi NTB memfasilitasi UMKM mengikuti pameran sebanyak 1 event pameran dengan jumlah 10 stand dan diikuti oleh 10 KUKM, Adapun rincian UMKM peserta pameran pada setiap event adalah sebagai berikut :

Tabel 10

Jumlah UMKM Peserta Pameran Tahun 2018 Di Provinsi Nusa Tenggara Barat

Per 31 Desember 2018

NO KEGIATAN

PAMERAN LOKASI SUMBER DANA

JUMLAH WAKTU

PELAKSANAAN STAND PESERTA TRANSAKSI

(Rp.000)

1 NTB Expo Mataram APBD 10 10 254,800,000 Desember

Jumlah 10 10 254,800,000

Selain dilaksanakan promosi melalui event pameran, dilakasanakan pula promosi melalui display/expose produk unggulan KUKM di Provinsi NTB tepatnya di lantai XI Gedung Small Medium Enterprise (SME) Tower atau Gedung Smesco Jakarta yang berlokasi di Jalan Gatot Subroto Jakarta Selatan. Display produksi Galeri Paviliun Produksi NTB. di mulai sejak bulan Nopember Tahun 2011

sampai Tahun 2018 jumlah KUKM yang ikut mendisplay Produknya di Galeri Paviliun Provinsi sebanyak 35 KUKM dengan omset pada tahun 2018 sebesar Rp.166,312,416,-.

Display produk menampilkan produk-produk unggulan KUKM dengan luas ruang 100 meter persergi dengan dibantu oleh 3 (tiga) orang sales asisten dengan sistim sewa dan dikelola bersama melalui MOU Dinas Koperasi UKM Provinsi NTB dengan Lembaga Layanan Pemasaran (LLP) KUKM Kementerian Koperasi dan UKM RI.

8. NTB Expo

Seperti Daerah lain di Indonesia, Nusa Tenggara Barat yang kita cintai juga memiliki potensi sumber daya alam, keindahan alam serta produk unggulan yang sangat perlu dikembangkan. Sejumlah potensi Daerah NTB yang masih banyak belum diketahui oleh Daerah lain atau Negara lain sebagai Daerah/Negara pangsa pasar bagi produk-produk unggulan NTB.

Untuk lebih dikenalnya potensi NTB perlu diadakan promosi dan salah satu program yang dilaksanakan setiap tahun di Daerah NTB yakni kegiatan NTB EXPO yang merupakan ajang Promosi bagi produk-produk unggulan UMKM. NTB Expo telah dilaksanakan setiap tahun sejak tahun 2003 s/d 2018.

Adapun perkembangan pelaksanaan NTB Expo sejak tahun 2003 s/d 2018 adalah sebagai berikut:

Tabel 11

Pelaksanaan NTB EXPO 2003 – 2018

Di Provinsi Nusa Tenggara Barat

No Tahun Jumlah Stand (Unit)

Pengunjung

(Org)

Transaksi (Rp)

1. 2003 64 70.000 1,5 Milyar

2. 2004 135 75.000 1,627 Milyar

3. 2005 109 125.000 2 Milyar

4. 2006 102 127.350 2,05 Milyar

5. 2007 100 130.000 2,12 Milyar

6. 2008 88 110.000 2,25 Milyar

7. 2009 130 150.000 4,5 Milyar

8. 2010 128 170.000 4,7 Milyar

9. 2011 145 125.000 4,5 Milyar

10. 2012 105 125.000 4 Milyar

11. 2013 70 100.000 1,3 Milyar

12 2014 70 112.000 1,2 Milyar

13 2015 94 115.000 1,6 Milyar

14 2016 10 125.000 525.035.000

15 2017 10 175.000 685.000.000

16 2018 10 66.000 48.000.000

9. UMKM Berorientasi Export

UMKM yang berorientasi Export di NTB cukup banyak dengan jenis barang-barang yang beraneka ragam Pameran. Pembinaan UMKM yang berorientasi export dilakukan antara lain melalui

penyuluhan perdagangan luar negeri bekerjasama dengan instansi terkait, fasilitasi pameran dalam negeri maupun luar negeri. Jumlah UMKM yang berorientasi export sampai dengan tahun 2018 sebanyak 323 UMKM dan memiliki 1.985 tenaga kerja dengan jenis produk antara lain; Gerabah, Kerajinan Kayu/Cukli, Mutiara, Perak, Tenun, Anyaman Lontar, rotan, batu apung, kacang mete, rumput laut dan lain- lain. Jumlah UMKM yang berorientasi export tercantum pada tabel berikut :

Tabel 12

Jumlah UMKM Berorientasi Export Di Provinsi Nusa Tenggara Barat

Per 31 Desember 2018

No Kab/Kota Jumlah UKM Jumlah Tenaga Kerja

1. Kota Mataram 18 370

2. Lombok Barat 29 307

3. Lombok Tengah 56 145

4. Lombok Timur 15 415

5. Sumbawa Barat 17 80

6. Sumbawa 41 269

7. Dompu 6 185

8. Bima 41 78

9. Kota Bima 100 136

Jumlah 323 1.985

10. Penumbuhan Wirausaha Baru

Dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat untuk berpartisipasi mewujudkan ekonomi kerakyatan maka perlu penumbuhan wirausaha baru. Penumbuhan wirausaha baru ini untuk mendorong masyarakat yang belum memiliki usuha agar berusaha sesuai dengan bakat dan peluang usaha yang tersedia. Program penumbuhan wirausaha baru dilakukan dengan melihat jumlah penduduk, jumlah angkatan kerja dan angka pengangguran sesuai dengan data BPS yang ada.

Target penumbuhan Wirausaha Baru tahun 2018 sebesar 1.000 unit dan realisasi sebesar 190 atau 19,00% dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 13

Target dan Realisasi Penumbuhan Wirausaha Baru Tahun 2018 Di Provinsi Nusa Tenggara Barat

Per 31 Desember 2018

Kab/Kota

Tahun (2018)

Target Realisasi %

1 Kota Mataram 113 10 8.85

2 Lombok Barat 120 10 8.33

3 Lombok Utara 72 10 13.89

4 Lombok Tengah 121 10 8.26

5 Lombok Timur 165 10 6.06

6 Sumbawa Barat 84 10 11.90

7 Sumbawa 85 10 11.76

8 Dompu 63 40 63.49

9 Bima 104 40 38.46

10 Kota Bima 73 40 54.79

JUMLAH 1.000 190 19.00

Sedangkan target selama tahun 2014 s/d 2018 sebesar 5.000 unit dan realisasi tahun 2014 sebanyak 907 unit, tahun 2015 sebanyak 1.080 unit atau 108%, tahun 2017ntarget sebanyak 1.000 terealisasi sebanyak 1.240 (124 %) dan tahun 2018 target 1.000 terealisasi 160 (0,16) sehingga realisasi sampai dengan tahun 2018 sebanyak 4.617 unit atau 92,34 % dari target kumulatif sampai dengan tahun 2018, rincian target dan realisasi penumbuhan wirausaha baru.

Kegiatan yang dilakukan dalam rangka penumbuhan wirausaha baru dilakukan pembentukan Kelompok Kerja (POKJA), pembentukan Kader Penggerak Wirausaha Baru, Pembentukan Koordinator Kader Penggerak Wirausaha Baru, memberikan pelatihan di bidang Otomotif, Tata Boga, Tata Rias, Konveksi, dan pemberian bantuan Peralatan kepada wirausaha baru.

Tahun 2018 UKM yang difasilitasi untuk mendapat Bimbingan Teknis seperti tercantum pada tabel berikut :

Tabel 14

Jumlah UMKM yang difasilitasi memperoleh BIMTEK Di Provinsi Nusa Tenggara Barat

Per 31 Desember 2018

NO Jenis Bimtek Jmlh

Peserta Tempat 1 Bimtek Pengembangan Manajemen

Usaha bagi UKM dalam Sentra

30 Orang Kabupaten Bima 2 Bimtek Kreasi Fashion Tenun Nusa

Tenggara Barat

30 Orang Mataram 3 Bimtek Pengembangan Jaringan Usaha

dan Pola Kemitraan bagi UKM

30 Orang Dompu

4 Bimtek Pemasaran Online melalui Pemanfaatan Kampung UKM di Digital (KUD)

30 Orang Kota Bima

5 Bimtek Pemenuhan Standarisasi dan Sertifikasi Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Nusa Tenggara Barat

30 Orang Mataram

6 Temu Konsultasi Workshop

Pengembangan dan Pembinaan Sentra

40 Orang Mataram

Jumlah 190

orang

BAB III PEMBAHASAN

A. Efektivitas Manajemen Pengelolaan Zakat Profesi di YBM PLN UIW NTB

Handoko mengatakan, efektivitas adalah hasil yang dicapai pekerja dibandingkan dengan jumlah hasil produksi lain dengan jangka waktu tertentu.45 Jadi, efektivitas merupakan pencapaian target output yang diukur dengan cara membandingkan output anggaran atau seharusnya dengan output realisasi atau sesungguhnya. Dikatakan efektif jika output seharusnya lebih besar dari output sesungguhnya.

Terdapat empat rangkaian variabel yang memiliki pengaruh utama atas efektivitas organisasi, yaitu: karakteristik organisasi, karakteristik lingkungan, karakteristik pekerja, serta kebijakan dan praktik manajemen.46 Sedangkan kebijakan dan praktik manajemen terdiri atas enam bagian yaitu:

1. Penetapan tujuan strategis

Jika efektivitas berhubungan dengan kemampuan manajemen untuk mendapatkan dan mengatur sumber daya bagi tujuan organisasi, maka penetapan tujuan (baik yang operatif maupun operasional) menjadi faktor yang penting.

Pengertian penetapan tujuan meliputi identifikasi tujuan organisasi yang berlaku umum dan penetapan berbagai bagian,

45Handoko, T. Hani, Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia, (Yogyakarta:

BPFE UGM, 2000) h.105

46Steers, M. Richard, Efektivitas Organisasi, (Jakarta: Erlangga, 1985) h. 209

kelompok, dan individu dapat memberikan sumbangsih bagi tujuan- tujuan tersebut. Bila terdapat dukungan bersama untuk tujuan yang ditetapkan diantara pekerja, kemungkinan diperlukan tingkat usaha yang tinggi bagi tujuan ini.

2. Pencarian dan pemanfaatan sumber daya

Ada tiga hal yang mencakup pencarian dan pemanfaatan sumber daya; 1) Keharusan untuk mengintegrasikan dan mengoordinasikan berbagai subsistem organisasi (seperti subsistem produktif, pendukung, pemelihara, penyesuai, dan manajemen) sehingga setiap subsistem memiliki sumber daya yang diperlukan untuk melakukan tugas utamanya,47 2) penetapan, implementasi, dan pemeliharaan pedoman-pedoman kebijakan, 3) Harus ada serangkaian umpan balik dan lingkaran kendali demi menjamin agar organisasi tetap pada tergetnya.

3. Lingkungan prestasi

Lingkungan kerja yang kondusif, akan memberikan rasa aman dan memungkinkan para pegawai untuk dapat bekerja optimal.

Lingkungan kerja dapat mempengaruhi emosional pegawai. Jika pegawai senang terhadap lingkungan kerjanya, maka waktu kerja akan dipergunakan secara efektif dan optimis prestasi kerja pegawai akan tinggi.

47 Steers, M. Richard, Efektivitas Organisasi,,, h.212

Lingkungan kerja tersebut mencakup hubungan kerja yang terbentuk antarsesama pegawai dan hubungan antara bawahan dengan atasan serta lingkungan fisik tempat pegawai bekerja. Nitisemito mengatakan bahwa lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada di sekitar para pekerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang diembannya.48

4. Proses komunikasi

Komunikasi merupakan hal penting dalam sistem pengendalian manajemen yang merupakan alat untuk mengarahkan, memotivasi, memonitor atau mengamati, serta mengevaluasi pelaksanaan manajemen perusahaan yang mengarahkan pada tujuan organisasi. Tujuannya agar kinerja yang dilakukan oleh pihak manajemen perusahaan dapat berjalan efektif, yang dimonitor dalam sistem pengendalian manajemen adalah kinerja dari perilaku manajer dalam mengelola.

Untuk dapat membentuk suatu sistem team work yang baik, jelas diperlukan adanya komunikasi yang baik antar unsur-unsur yang ada dalam organisasi. Komunikasi yang baik akan menimbulkan saling pengertian dan kenyamanan dalam bekerja.

5. Kepemimpinan dan pengambilan keputusan

Kepemimpinan dapat diartikan sebagai proses mempengaruhi dan mengarahkan pegawai dalam melakukan pekerjaan yang telah

48Nitisemito, Alex S, Manajemen Personalia, (Jakarta: Ghalia, 2001) h.183

ditugaskan. Sebagaimana yang didefinisikan oleh Stoner, Freeman, dan Gilbert, kepemimpinan adalah “the process of directing and influencing the task related activities of group members”.49

Koontz, O’Donnel, dan Weihrich mendefinisikan kepemimpinan sebagai pengaruh, seni, atau proses mempengaruhi orang-orang sehingga mereka akan berusaha mencapai tujuan kelompok dengan kemauan dan antusias.50 Senada dengan hal itu, Kartono mendefinisikan kepemimpinan sebagai satu bentuk dominasi yang didasari oleh kapabilitas/kemampuan pribadi, yaitu mampu mendorong dan mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu guna mencapai tujuan bersama.51

Dalam perkembangan teori kepemimpinan, banyak ahli mengemukakan tentang teknik-teknik kepemimpinan. Pada umumnya, teknik kepemimpinan berhubungan erat dengan pengambilan keputusan. Yukl mengemukakan bahwa banyak dari aktivitas para pemimpin seperti administrator dan manajer menyangkut seputar pengambilan keputusan termasuk merencanakan pekerjaan, memecahkan masalah-masalah teknis, memilih para bawahan,

49Stoner, Freeman, dan Gilbert (1996) dalam Amir Syarifudin Kiwang, David D. W.

Pandie, dan Frans Gana, Analisis Kebijakan dan Efektivitas Organisasi, Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik Vol. 19 No. 1 Mei 2015 Universitas Nusa Tenggara, Kupang, h. 75

50Koontz, H,. C.O’Donnell, dan H. Weihrich, Manajemen, Jilid 1, (Jakarta: Erlangga, 1990) h.147

51Kartono Kartini, Kepemimpinan: Apakah Kepemimpinan Abnormal Itu?, (Jakarta: PT.

Rajagrafindo Persada, 2005) h.187

menentukan kenaikan upah, membuat penugasan kerja dan sebagainya.52

6. Adaptasi dan inovasi organisasi

Tiga perspektif umum adaptasi organisasional yaitu mencakup tiga hal53 :

1) Seleksi alamiah adalah merupakan proses penempatan diri (process of alignment) secara alamiah. Karakteristik struktur organisasi yang kompatibel atau sesuai dengan lingkungan itulah organisasi yang akan bertahan dan menunjukkan kinerja yang baik.

2) Seleksi rasional adalah merupakan proses penempatan diri (process of alignment) secara rasional. Manajer memilih, mengadopsi, dan meninggalkan struktur dan proses organisasi agar mendapat keseimbangan dengan lingkungan untuk tetap bertahan dan berkembang.

3) Pilihan strategis (strategic choice) adalah merupakan alternatif, dengan ciri-ciri :

1) Dominant coalition yaitu kelompok pengambilan keputusan dengan memiliki pengaruh yang terbesar (dominan)

2) Perceptions yaitu dominant coalition menciptakan lingkungan yang sesuai dengan organisasi

52Yukl, G., Kepemimpinan dalam Organisasi, Terj. Yusuf Udaya (Jakarta: Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Prehallindo, 1998) h.132

53Miles dan Snow (1978) dalam Amir Syarifudin Kiwang, David D. W. Pandie, dan Frans Gana, Analisis Kebijakan dan Efektivitas Organisasi,,, h.76

3) Segmentation yaitu dominant coalition bertanggung jawab memilah lingkungan dan menentukan komponen-komponen tersebut sesuai dengan subunit organisasi

4) Scanning activities yaitu dominant coalition bertanggung jawab untuk melakukan pengamatan (surveillance) elemen lingkungan yang kritikal terhadap organisasi, dan dynamic constraints yaitu kendala strategi, struktur, dan kinerja organisasi baik yang terdahulu maupun yang sedang berjalan berhadapan dengan keputusan yang diambil oleh dominant coalition.

Inovasi adalah suatu gagasan baru yang diterapkan untuk memprakarsai atau memperbaiki suatu produk, proses, atau jasa.54 Adanya hubungan yang jelas antara inovasi dan pengembangan keunggulan bersaing dan perolehan keuntungan di atas rata-rata, banyak perusahaan tertarik mempelajari bagaimana menghasilkan inovasi dan mengelola proses inovasi tersebut dengan efektif.55

Dalam industri, lingkungan yang dinamis telah menjadi kenyataan hidup. Inovasi pun menjadi erat kaitannya dengan keefektifan organisasi.56 Walaupun demikian, tidak mudah melahirkan ide-ide inovatif apalagi menerapkannya. Banyak faktor yang

54Van de Ven, A., Control Problem in the Management of Innovation. Management Science. 1986, h.590

55Lengnick-Hall, dalam Hitt, M.A., R.E. Hoskisson, dan H. Kim, International Diversification: Effects on Innovation and Firm Performance in Product-Diversified Firm, (Academy of Management Journal, 1997) h.383

56Robbins, Stephen, Organization Theory: Structure, Design, and Applications, (New York: Prentice-Hall, Inc., Englewood Clifs, 1990) h. 436

mempengaruhi penerapan inovasi organisasional secara efektif. Aspek struktural, budaya, dan sumber daya manusia merupakan karakteristik yang selalu muncul bila peneliti mempelajari organisasi yang inovatif.57 Hal ini ternyata didukung oleh suatu tinjauan menyeluruh atas persoalan inovasi yaitu struktur organik secara positif mempengaruhi inovasi.58

Struktur organik ini lebih rendah dalam diferensiasi vertikal, formalisasi, dan sentralisasi, organisasi organik mempermudah fleksibilitas, penyesuaian, dan interaksi silang yang membuat penerapan inovasi menjadi lebih mudah. Struktur organik juga mendorong terjadinya komunikasi antarunit yang tinggi, misalnya saja ada komite, satuan tugas, tim silang-fungsional, dan mekanisme lain yang mempermudah interaksi melintasi garis-garis departemental.59

Azra menyatakan bahwa potensi zakat terus meningkat setiap tahunnya dan hal ini menjadi kesempatan bagi lembaga amil zakat untuk menghimpun dan mengelola zakat.60 Pada tahun 2019, besaran potensi zakat di Indonesia mencapai 233.8 triliun Rupiah.61 Besarnya potensi tersebut diikuti oleh pertumbuhan pengumpulan zakat tiap tahunnya.

57Robbins, Stephen, Perilaku Organisasi: Konsep Kontroversi Aplikasi Edisi Kedua, (Jakarta: Prenhallindo, 1996) h.336

58Damanpour, F., Organizational Innovation: A Meta-Analysis of Effects of Determinants and Moderators, (Academy of Management Journal: 1991) h.557

59Monge, PR., M.D. Cozzens, dan NS. Contractor, Communication and Motivational Predictors of the Dynamics of Organizational Innovation, (Organization Science: 1992) h.250

60Azyumardi Azra, Negara dan Filantropi Islam (1). Diakses melalui https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/wakaf/14/05/19/negara-dan-filantropi-islam-1 pada 20 Juli 2020 pukul 04.23 WITA

61Pusat Kajian Strategis Badan Amil Zakat Nasional, Outlook Zakat Indonesia 2020.

(Jakarta: Badan Amil Zakat Nasional, 2019) h.9

Tahun 2020, BAZNAS mendata bahwa secara keseluruhan dalam tiga tahun terakhir (2015-2018), terjadi peningkatan yang besar dari pengumpulan zakat sebesar 122% atau sekitar Rp4,5 Triliun.

Meskipun mengalami peningkatan pengumpulan zakat tiap tahunnya, realisasi dari potensi yang ada masih sangat minim.

Berdasarkan Outlook Zakat Indonesia 2020 milik Puskas BAZNAS, realisasi pengumpulan zakat hanya sekitar 8,2 triliun rupiah di tahun 2018 atau hanya sekitar 3,51% dari total potensi sebesar 233 triliun rupiah.

Salah satu alasan rendahnya penghimpunan zakat di Indonesia ialah masih lemahnya kepercayaan masyarakat terhadap Badan atau Lembaga Amil Zakat di Indonesia.62 Akibatnya, masyarakat lebih percaya dengan menyalurkannya secara langsung kepada mustahik.

Dalam mengatasi kesenjangan potensi zakat dan realisasi zakat di Indonesia, di tahun 2014 pemerintah Indonesia melalui Inpres No. 3 Tahun 2014 menginstruksikan agar Organnisasi Pengelola Zakat (OPZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) di Indonesia bekerjasama dengan BAZNAS untuk mensosialisasikan mengenai kewajiban dan kesadaran menunaikan zakat kepada masyarakat yang berada dalam suatu institusi dan menunaikannya melalui OPZ dan LAZ yang ada di Indonesia.63

Lembaga zakat saat ini sudah semestinya melakukan tindakan strategis seperti kampanye zakat secara profesional berdasarkan data. Hal

62Hafidhuddin, D. (2011). Peran Strategis Organisasi Zakat dalam Menguatkan Zakat di Dunia. Jurnal Ekonomi Islam AlInfaq 2(2): 2087-2178.

63Pusat Kajian Strategis Badan Amil Zakat Nasional, Efektivitas Kampanye Zakat Terhadap Brand Lembaga dan Pengumpulan Zakat 2020. (Jakarta: Badan Amil Zakat Nasional, 2020) h.1